Museum Angkut Malang: Menembus Ruang dan Waktu

Areal depan Museum Angkut. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Usai makan siang, saya wes tidur bae di bus. Beberapa kali terbangun, yo tidur lagi. Mulailah sebagian badan terasa pegel-pegel lepas eksplore Tumpaksewu. Saya bangun lagi ketika bus berhenti di Museum Angkut, Batu, Malang. Pinginnya lanjut tidur, lah tapi semua orang turun. Saya pun belum pernah ke tempat ini. Melongok halamannya yang kayaknya luas itu, beuh, kaki maunya mager bae.

Toh saya turun juga. Yang saya ingat diberi waktu sampai jam 8 malam. Sekarang nyaris jam 5. Sebenarnya 3 jam bukan waktu yang panjang untuk menjelajah tempat sebesar itu. Tapi selama 3 jam jalan maning, belum tentu kaki saya mau. Apalagi kalau di dalam banyak tempat duduk dan kafe, wes jelas akan beda haluan nanti😂

Udara Batu yang sejuk masih terasa saat masuk areal musem. Matahari sudah mulai turun, tapi hari belum benar-benar gelap. Saya masuk sambil mikir, kira-kira sempat lihat apa saja sampai jam 8 nanti?

Saya nggak tahu harga tiketnya, yang jelas jarene lumayan. Cek sendiri aja ya. Begitu dapat gelang tiket dari biro, saya njur nanya petugas jaga alur keliling dari mana ke mana dan yang paling harus saya lihat bagian mana. Eh Mbak-mbake yang cantik-cantik itu cukup detail dan ramah njelasinnya. Oke, saya akan ikuti petunjuk untuk hemat waktu.

Mobil dan helikopter kesayangan Bung Karno. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Rombongan saya, wes embuh saya nggak lihat lagi. Mungkin sudah nggak sabar eksplore duluan. Tapi ini bukan areal wisata berat atau berbahaya, biar saja yang sudah berkeliling, nanti juga ketemu lagi.

Begitu masuk ruang pertama, saya langsung disambut berbagai kendaraan yang dipajang dengan sangat menarik. Bukan hanya kendaraan yang diletakkan di satu ruangan, tapi dibuat dalam suasana dan latar yang berbeda-beda.

Saya jadi ngerasa nggak sedang berada di museum. Saya seperti diajak berjalan-jalan melewati berbagai zaman, menembus ruang dan waktu. Eh di sisi kiri ada kendaraan kesayangan Bung Karno (sang Proklamator) juga. Waaah, mantap…!

Ada mobil-mobil tua yang membuat saya berhenti cukup lama. Bentuknya unik, sebagian terlihat berbeda banget dengan kendaraan yang biasa kita lihat sekarang. Saya memperhatikan detailnya sambil sesekali mengambil foto.

Salah satu kendaraan di Museum Angkut. Ford model A tahun 1929. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Dalam hati saya mikir, kendaraan yang bagi kita sekarang itu hanya benda museum, pada masanya mungkin merupakan kendaraan yang bergengsi dan membanggakan. Mungkin juga hanya golongan pejabat atau bangsawan tinggi yang bisa memilikinya.

Ya, sejarah ternyata bisa dilihat dari sebuah kendaraan. Dan itu menarik. Saya berjalan lagi.
Satu sudut belum selesai saya nikmati, sudah ada sudut lain yang bikin saya ingin berhenti. Jadinya saya biarkan begitu saja: saya jalan, melihat-lihat, berhenti, foto, jalan lagi, lalu berhenti lagi.

Kalau ada yang mengatakan 3 jam cukup untuk eksplore museum, saya rasa cukup untuk melihat-lihat. Tapi untuk benar-benar menikmati, apalagi kalau ikutan baca keterangannya, rasanya masih kurang lama.

Jam 6 lewat, suasana mulai berubah. Langit semakin gelap. Lampu-lampu mulai menyala. Museum yang tadi terlihat terang dengan nuansa sore perlahan berubah menjadi lebih dramatis.

Bentuk kendaraan di satu sisi Museum Angkut. Modalnya seperti Mercedes pertama milik Paku Buwono X dari Solo. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Nah, bagian ini yang saya suka. Kalau tadi saya lebih banyak memperhatikan kendaraan, sekarang saya mulai memperhatikan suasananya. Di areal luar museum beneran terlihat cantik.

Saya cari tempat yang bagus untuk berfoto. Kadang saya berdiri sebentar hanya untuk mencari sudut yang pas. Maklum, kalau sudah menemukan latar yang bagus, rasanya sayang kalau nggak diabadikan.

Habis itu, saya sampai di kawasan Gangster Town. Suasananya berbeda lagi. Bangunan dan latarnya dibuat seperti kawasan kota lama. Ketika lampu mulai menyala, tempat ini terasa semakin hidup. Saya seperti sedang masuk ke sebuah kota dari masa lalu.

Di sinilah saya mulai sadar bahwa Museum Angkut bukan sekadar tempat untuk melihat koleksi kendaraan. Yang membuat menarik justru bagaimana kendaraan-kendaraan tersebut ditempatkan dalam satu cerita yang utuh.

Mobil Ford model T di Museum Angkut. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Ada suasana kota. Ada bangunan. Ada kendaraan. Ada pencahayaan. Ada orang-orang. Ada kantor-kantor. Ada aktivitas. Semuanya seperti dirancang agar kita nggak hanya melihat benda, tapi juga membayangkan kehidupan pada masanya.

Semuanya itu di Museum Angkut mencakup moda transportasi darat, laut, dan udara. Di darat kita bisa melihat moda angkutan hewan, manusia (buruh gendong), manusia-hewan (kereta kuda, kereta sapi, dll), sepeda, gerobak, motor, mobil, dll. Untuk areal udara, ada beragam jenis pesawat dari sipil, militer, dan darurat; komersial dan non komersial.

Sementara untuk moda transportasi air atau laut jelas ada gethek, sampan, perahu, kapal dengan beragam bentuk, ukuran dan dari zaman yang berbeda-beda. Perahu (Jung) Majapahit pun ada. Perahu replika dari Dinasti Syailendra (pahatan di Candi Borobudur) pun ada. Komplitlah dengan detail keterangan. Tiketnya lumayan ya wajarlah….

Gerbang areal Pelabuhan Sunda Kelapa di Museum Angkut. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Saya menikmati areal itu pelan-pelan. Nggak ada orang lain. Nggak perlu terburu-buru. Potret sana sini benda-benda dan catatan keterangannya, tahu-tahu sudah nyaris jam 7 malam. Lho, kok cepat banget. Padahal rasanya baru sebentar saya masuk.

Ini memang salah satu penyakit kalau sedang jalan-jalan: waktu terasa jauh lebih cepat dibandingkan ketika sedang kerja. Saya pun mempercepat langkah. Masih ada beberapa sudut yang ingin saya lihat.

Usai dari areal pesawat, saya masuk areal balap mobil untuk nonton. Lho operatornya sudah nggak ada. Akhirnya saya keluar dan menuju areal Pelabuhan Sunda Kelapa. Sejarah zaman Majapahit hingga VOC cukup komplit di kawasan ini.

Habis itu saya bergeser ke mobil-mobil Amerika dan Eropa. Beranjak ke seberangnya di Barbie view, lalu mider kembali ke areal depan. Mengambil ulang beberapa foto yang masih saya rasa kurang.

Mobil-mobil jenis Chevrolet di Museum Angkut. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Dan tentu saja, saya nggak ingin pulang tanpa menikmati suasana malam Museum Angkut. Lampu-lampu semakin terlihat bercahaya. Beberapa kawasan menjadi lebih cantik ketika malam. Saya kembali mengambil foto, kali ini dengan suasana yang berbeda dari ketika pertama datang.

Saya senang datang sore. Kalau datang terlalu siang, mungkin saya hanya mendapatkan suasana terang. Dengan datang sekira jam 5, saya mendapatkan 2 suasana sekaligus: senja dan malam.

Seusai melewati kawasan Hollywood, saya naik kereta api di Stasiun Lama. Hahaha… dasar ndeso, saya pikir begitu masuk pintu, saya akan naik kereta api beneran. Oalah ternyata replika kereta dan bagian bawah (lantai) dibuat bergerak-gerak beneran dengan suara-suara persis seperti kalau kita naik pramex atau KRL.

Keluar dari situ saya njur ngapain ya itu? Oh melewati kafe-kafe dan tempat jualan aneka rupa jajan dan souvenir. Saya lupa diajak siapa untuk naik perahu atau bebek besar…. tapi saya menolaknya. Karena inget belum sholat, saya bergegas ke mesjid. Beuh, di mesjid maunya langsung rebahan dan tidur.😂

Mobil koleksi Barbie di Museum Angkut. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Saya mulai sadar bahwa waktu kunjungan tinggal sedikit. Usai sholat jamak Maghrib Isya, saya berjalan menuju bagian akhir. Sesekali melihat kembali tempat-tempat yang tadi saya lewati. Ada perasaan sedikit sayang. Belum puas. Kaki-kaki saya alhamdulillah nggak protes. Lempeng saja jalannya. Mungkin memang begitu rasanya kalau menikmati perjalanan. Ringan dan ada rasa ingin tinggal lebih lama.

Setelah beneran puas memandangi tempat-tempat di belakang saya, saya pun keluar dari Museum Angkut. 3 jam sudah saya habiskan. Saya masuk museum ketika matahari masih menyisakan cahaya sore. Saya keluar museum ketika malam sudah benar-benar turun.

Saya seperti melakukan perjalanan melewati ruang dan waktu. Saya melihat kendaraan dari berbagai zaman, menikmati bangunan dan suasana yang dibuat berbeda-beda, berfoto, berjalan santai, dan sesekali hanya berdiri menikmati tempat.

Tanda cinta Barbie di Museum Angkut. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Kalau ditanya apa yang paling saya suka dari Museum Angkut? Bukan satu kendaraan tertentu. Bukan pula satu spot foto tertentu. Saya lebih suka pengalaman berjalan dari satu suasana ke suasana lainnya. Dari sore menuju malam. Dari kendaraan lama menuju kendaraan yang lebih modern. Dari satu kawasan ke kawasan lain. Dan yang paling menyenangkan, saya bisa menikmati semuanya dengan cara saya sendiri.

Nggak perlu buru-buru. Nggak perlu mengejar terlalu banyak tempat. Cukup berjalan, melihat, membaca, mengambil foto, lalu menyimpan kenangannya. Ternyata 3 jam di Museum Angkut bisa menjadi perjalanan kecil yang cukup panjang untuk dikenang. Alhamdulillah.

Datanglah ke sana ya Friend… Kenali sejarah bangsamu lewat moda transportasi. Pastikan fisikmu sehat, waktumu cukup, memori kamera/hp mu leluasa untuk bisa menikmati seluruh areal, koleksi, dan kenangannya.

Oh iya, trip saya ini juga masih diorganize oleh Lestari Wisata. Sampeyan bisa hubungi Mas Imam di 0856-2550-428 atau cari sosmednya saja nanti ketemu. Trip bersama Lestari Wisata bagi saya serasa trip privat. Banyak kemudahan dan pengaturan waktu yang terencana dengan baik.

Kawasan Hollywood di Museum Angkut. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Saya dengan kondisi yang sudah lelah dari Tumpaksewu, toh masih sanggup jalan mider 3 jam, oh itu sungguh hebat. Berarti saya sebenarnya sudah cukup istirahat dari rentang waktu dan jarak antara Tumpaksewu ke Museum Angkut. Kalau nggak nyaman dan beneran tepar, biasanya saya akan memilih safety. Tetap di bus tidur atau ya njogrog saja duduk di kafe menikmati makan minum.

Saya doyan dolan, bahkan ke daerah-daerah ekstrem; tapi di luar itu semua saya memastikan fisik mental saya sanggup, ada pemandu profesional, dan tempat-lingkungan-alam-orang secara umum aman. Biar kata orang gampang aman pun, kalau versi saya nggak nyaman, saya akan mundur. Itu standar keselamatan pribadi. Feeling personal yang hanya saya yang tahu.

Sampai jumpa lagi di catatan trip saya berikutnya. Kawah Putih dan Danau Situ Patenggang.

Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *