
Ilustrasi dibuat dengan AI. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Pernahkah kita mengalami keadaan ketika punya begitu banyak ide tulisan, tapi nggak satu pun benar-benar selesai? Di komputer ada beberapa dokumen dengan judul yang berbeda. Di buku catatan tersimpan puluhan gagasan. Di telepon genggam ada catatan pendek yang ditulis tengah malam karena tiba-tiba mendapatkan ide. Bahkan mungkin ada tulisan yang sudah mencapai tiga atau empat halaman, tapi kemudian ditinggalkan karena muncul gagasan baru yang terasa jauh lebih menarik.
Akhirnya, kita hanya punya banyak tulisan setengah jadi. Ada tulisan tentang pendidikan yang belum selesai. Ada tulisan tentang perempuan yang baru sampai pada paragraf ketiga. Ada tulisan tentang budaya yang sudah memiliki judul dan kerangka. Ada pula tulisan yang sebenarnya hampir selesai, tapi terus ditunda karena kita merasa masih perlu mencari data, memperbaiki kalimat, atau menunggu suasana hati yang tepat.
Kondisi seperti ini sangat umum terjadi pada penulis. Persoalannya bukan karena kita nggak produktif. Bisa jadi justru karena kita terlalu produktif dalam menghasilkan ide, tapi kurang disiplin dalam menyelesaikannya. Padahal, menulis bukan hanya kegiatan menemukan ide. Menulis adalah proses membawa sebuah ide sampai menjadi tulisan yang utuh.
Banyak ide, sedikit yang selesai. Memiliki banyak ide tentu merupakan sesuatu yang menyenangkan bagi seorang penulis. Ide bisa datang kapan saja. Ketika membaca berita, berbincang dengan seseorang, bepergian, mengajar, melihat peristiwa di sekitar, bahkan ketika sedang beristirahat.
Satu peristiwa sederhana dapat melahirkan banyak kemungkinan tulisan. Melihat seorang ibu mengantar anak ke sekolah, misalnya, bisa memunculkan ide tentang pendidikan keluarga. Dari sana muncul ide tentang perempuan dan kerja domestik. Kemudian berkembang menjadi tulisan tentang ibu bekerja, pembagian peran, pendidikan anak, hingga ketahanan keluarga.
Satu peristiwa dapat melahirkan lima atau sepuluh ide. Masalahnya, jika setiap ide langsung dikerjakan, perhatian kita akan terpecah. Kita berpindah dari satu tulisan ke tulisan lain sebelum tulisan sebelumnya selesai.
Akibatnya, energi mental terkuras bukan untuk menyelesaikan tulisan, tapi untuk terus memulai. Memulai memang menyenangkan. Ada perasaan bersemangat ketika membuka halaman kosong dan menuliskan judul baru. Kita merasa sedang menghasilkan sesuatu.
Namun, tantangan sesungguhnya bukan ketika memulai. Tantangan terbesar seorang penulis adalah menyelesaikan. Menyelesaikan lebih penting daripada terus memulai. Tulisan yang selesai memberikan sesuatu yang nggak bisa diberikan oleh sekadar ide: kesempatan untuk dibaca, diperiksa, diperbaiki, diterbitkan, dan memberikan manfaat kepada orang lain.
Sebaliknya, ide yang hanya tersimpan di buku catatan belum menjadi karya. Karena itu, kita perlu belajar membedakan antara produktif menghasilkan ide dan produktif menghasilkan karya. Keduanya sama-sama penting, tapi memiliki tahap yang berbeda.
Ide diperlukan sebagai bahan bakar. Namun, karya lahir ketika kita bersedia duduk, berkonsentrasi, menyusun kalimat, menghapus bagian yang nggak diperlukan, memperbaiki paragraf, melakukan penyuntingan, dan akhirnya mengatakan kepada diri sendiri, “Tulisan ini selesai.”
Nggak semua tulisan harus langsung menjadi karya besar. Kadang-kadang kita terlalu membebani sebuah tulisan sejak awal. Baru menulis beberapa paragraf, kita sudah berpikir tentang apakah tulisan itu cukup bagus, apakah akan dimuat media, apakah akan disukai pembaca, apakah bahasanya cukup indah, apakah judulnya menarik, dan sebagainya.
Pikiran-pikiran tersebut dapat membuat proses menulis menjadi berat. Lebih baik menyelesaikan tulisan terlebih dahulu. Setelah selesai, kita dapat memperbaikinya. Tulisan yang selesai dapat disunting. Tulisan yang belum selesai hanya dapat dibayangkan.
Satu tulisan pada satu waktu. Fokus merampungkan satu tulisan bukan berarti kita nggak boleh memiliki banyak ide. Justru seorang penulis sebaiknya tetap memiliki catatan ide. Jika muncul gagasan baru ketika sedang mengerjakan tulisan lain, jangan langsung meninggalkan tulisan yang sedang dikerjakan. Catat ide baru tersebut dalam satu daftar khusus.
Beri judul singkat. Tambahkan satu atau dua kalimat tentang gagasannya. Setelah itu, kembali kepada tulisan yang sedang dikerjakan. Dengan cara sederhana ini, kita nggak kehilangan ide baru sekaligus tidak kehilangan fokus. Kita bisa mengatakan kepada diri sendiri, “Ide ini penting. Saya simpan. Tapi saya akan menyelesaikan tulisan yang sedang saya kerjakan terlebih dahulu.”
Kebiasaan tersebut terlihat sederhana, tapi membutuhkan latihan. Sebab, manusia cenderung tertarik pada sesuatu yang baru. Tulisan baru terasa lebih menyenangkan karena belum memiliki masalah. Sebaliknya, tulisan lama mungkin sudah memasuki bagian yang sulit: data harus diperiksa, argumen harus diperkuat, paragraf harus disusun ulang, atau kesimpulan belum ditemukan.
Pada titik inilah disiplin diperlukan. Kita harus mampu mengatakan: saya nggak harus mengerjakan sesuatu yang baru hanya karena sesuatu yang lama terasa sulit.
Membagi tulisan menjadi langkah kecil. Salah satu alasan seseorang sulit menyelesaikan tulisan adalah karena melihat tulisan sebagai pekerjaan yang terlalu besar. Misalnya, kita mengatakan, “Hari ini saya harus menyelesaikan artikel.”
Kalimat tersebut terdengar sederhana, tapi bagi sebagian orang justru terasa berat. Cobalah menggantinya dengan target yang lebih kecil. Hari ini menyelesaikan judul dan pembuka. Besok menyelesaikan dua paragraf berikutnya. Lusa menulis bagian pembahasan. Hari berikutnya memeriksa data. Setelah itu melakukan penyuntingan.
Dengan membagi pekerjaan menjadi bagian-bagian kecil, tulisan nggak lagi terasa seperti gunung yang harus didaki sekaligus. Kita hanya perlu menempuh beberapa langkah setiap hari. Nggak harus selalu menulis dalam waktu berjam-jam. Bahkan tiga puluh menit yang benar-benar digunakan untuk menulis dapat menghasilkan kemajuan jika dilakukan secara konsisten. Yang penting bukan hanya lamanya waktu yang kita sediakan, tapi seberapa utuh perhatian kita selama waktu tersebut.
Jangan menunggu sempurna. Ada satu jebakan lain yang sering membuat tulisan nggak pernah selesai: keinginan untuk menghasilkan tulisan yang sempurna sejak awal. Kita ingin kalimat pertama langsung bagus. Setiap paragraf harus menarik. Semua data harus langsung lengkap. Nggak boleh ada kesalahan.
Keinginan tersebut sebenarnya baik, tapi jika muncul terlalu dini, dapat menghambat proses kreatif. Ketika menulis draf pertama, tugas utama kita adalah mengeluarkan gagasan. Jangan terlalu sibuk jadi editor ketika sedang jadi penulis.
Biarkan gagasan mengalir terlebih dahulu. Setelah draf selesai, barulah kita kembali sebagai editor untuk memeriksa struktur, logika, pilihan kata, tata bahasa, data, dan kelengkapan tulisan. Dengan membedakan proses menulis dan menyunting, pekerjaan menjadi lebih ringan. Tulisan nggak harus sempurna pada draf pertama. Yang penting, ia selesai terlebih dahulu.
Belajar menutup sebuah tulisan. Ada saat ketika kita harus berani mengatakan, “Cukup.” Nggak berarti tulisan tersebut sudah sempurna. Nggak berarti nggak ada lagi yang bisa diperbaiki. Namun, pada titik tertentu, kita harus berhenti menambahkan sesuatu dan menyelesaikannya.
Jika setiap tulisan terus dibuka kembali tanpa pernah ditutup, kita akan berada dalam lingkaran penyempurnaan yang nggak ada akhirnya. Karena itu, tentukan batas. Setelah isi lengkap, data diperiksa, struktur diperbaiki, bahasa disunting, dan tulisan dibaca kembali, nyatakan tulisan tersebut selesai.
Jika suatu hari ditemukan kekurangan, kita masih dapat memperbaikinya. Tapi jangan menjadikan kemungkinan adanya kekurangan sebagai alasan untuk nggak menyelesaikan. Satu tulisan yang selesai memberi energi baru. Menariknya, menyelesaikan satu tulisan sering kali justru membuat kita lebih produktif.
Ketika sebuah tulisan selesai, muncul rasa lega dan percaya diri. Kita mendapatkan bukti bahwa sebuah gagasan dapat diubah menjadi karya. Perasaan tersebut menjadi energi untuk mengerjakan tulisan berikutnya.
Sebaliknya, terlalu banyak tulisan yang terbengkalai dapat menimbulkan beban psikologis. Setiap kali membuka folder tulisan, kita melihat daftar pekerjaan yang belum selesai.
Lama-kelamaan, menulis terasa seperti pekerjaan yang nggak pernah selesai. Karena itu, sesekali kita perlu melakukan “bersih-bersih” tulisan. Lihat semua naskah yang pernah dibuat. Pilih mana yang masih relevan. Tentukan mana yang akan diselesaikan. Mana yang perlu diperbaiki. Dan mana yang memang lebih baik disimpan sebagai arsip ide.
Nggak semua tulisan harus diselesaikan. Namun, tulisan yang sudah kita pilih untuk dikerjakan sebaiknya diberi kesempatan untuk benar-benar selesai.
Fokus adalah bentuk penghargaan terhadap ide. Setiap ide yang kita miliki sebenarnya layak mendapatkan perhatian. Tapi perhatian kita terbatas. Karena itu, memilih satu tulisan untuk diselesaikan adalah bentuk penghargaan terhadap ide tersebut. Kita mengatakan kepada diri sendiri bahwa gagasan ini penting. Gagasan ini layak dikembangkan. Gagasan ini layak menjadi tulisan.
Nggak perlu tergesa-gesa mengejar banyak tulisan. Lebih baik memiliki beberapa tulisan yang selesai dan dapat dibaca daripada puluhan tulisan yang hanya berhenti sebagai konsep.
Menulis pada akhirnya bukan perlombaan tentang siapa yang paling banyak menghasilkan judul. Menulis adalah perjalanan mengubah pikiran menjadi kata, kata menjadi paragraf, paragraf menjadi tulisan, dan tulisan menjadi sesuatu yang memiliki arti bagi pembaca.
Maka, jika hari ini ada banyak ide di kepala, nggak perlu mengerjakan semuanya sekaligus. Pilih satu. Buka dokumennya. Lanjutkan paragraf yang tertunda. Selesaikan bagian yang belum selesai. Edit seperlunya. Kemudian tutup dengan perasaan lega.
Fokus pada satu tulisan sampai rampung. Sebab, satu tulisan yang selesai hari ini mungkin jauh lebih berarti daripada sepuluh tulisan yang terus kita niatkan untuk diselesaikan “nanti”. Dan mungkin, rahasia menjadi penulis yang produktif bukanlah selalu menemukan ide baru, tapi keberanian untuk berkata kepada diri sendiri: “Yang ini saya selesaikan dulu.”
Ari Kinoysan Wulandari
