
Makanan dengan semua bahan frozen digoreng cepat, kecuali nasi, jus sirsak, dan es teh. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
“Bu Ari siy gampang. Nggak usah masak, beli makan online pun jadi. Nggak banyak orang yang perlu makan.”
Itu sebagian komentar yang biasa saya terima dari sekitaran. Betul, saya pengguna jasa makanan online cukup lama karena alasan kepraktisan. Bahkan dulu sebelum ada layanan tersebut, saya juga sudah biasa langganan katering tertentu 2x perhari terus menerus nonstop. Tapi saat layanan makanan online mengenakan tambahan charge, pajak, kurir, parkir, packaging yang nggak ringan itu; sejak Des 2024 ketika aturan pajak makanan 11% diberlakukan, saya mulai mengurangi porsi pembelian makanan secara online. Beli makanan bawa pulang, makan di tempat, atau beli bahan mentah dan masak di rumah.
Hampir 2 tahun ini kok ya baik-baik saja dan bisa nabung sebagian dari alokasi budget makanan. Sadar saya saat kemarin ditanya petugas sensus, berapa alokasi anggaran makanan sebulan. Saya harus ngecek catatan dan menghitungnya, lalu sempat terkejut ketika jumlah belanja bahan pangan ternyata hanya 25-30 persen dari total kalau saya penuh beli makanan online.
Kemudian saya ingat-ingat selama metode masak ini, saya merasa lebih sehat. Makan juga nggak berpikir, kok porsinya sedikit. Tahu kan ya, kalau beli makanan matang, kadang porsi nggak sesuai ekspektasi kita. Kadang sedikit, tapi ada juga yang terlalu banyak.
Kalau masak sendiri, saya boleh makan sesuai porsi yang saya inginkan atau perlukan. Nggak khawatir dengan segala kualitas masakan dan kebersihannya. Karena semua bahan ya wes saya pilih terbaik versi saya. Saat mengolah wes saya bersihkan sesuai standar. Saat memasak wes matang sesuai keperluan.
Saya pun nggak ragu membawa bekal ke kampus atau kantor, saat tahu bahwa hari itu saya harus kerja nonstop. Nggak ada khawatir kudu beli ini itu lagi saat bekerja. Semua terasa memudahkan. Makan sehat dan enak juga bikin hati nyaman, kerja terasa lebih ringan.
Iya siy, kadang saya juga malas, lelah, stres dengan deadline, dan beli makanan online terasa lebih gampang. Kalau ini, saya atasi dengan menyediakan makanan olahan frozen food yang praktis. Dengan begitu, kalau sudah ada nasi, tinggal goreng, panaskan, kukus, rebus bahan lauk atau sayurnya dan jadilah sudah. Bahkan buah-buahan pun sekarang banyak tersedia versi frozen, bikin jus tinggal tambah air dan gula. Nggak perlu beribetan macam-macam.
Urusan makan 1x memang terlihat sepele. Tapi percayalah, makan itu (kita umumnya) sehari 3x dengan jumlah keluarga yang berbeda-beda, coba cek pengeluaran makan bisa jadi yang menghabiskan budget terbesar harian kita dibandingkan kebutuhan lainnya. Dulu saya nggak percaya, tapi melihat data hitungan lhoh ternyata benar. Dan makan itu, kita kerja nggak kerja, ada duit atau enggak, tetap harus disediakan kalau nggak ingin kelaparan yang berujung masalah kesehatan.
Jadi, berhemat budget konsumsi makanan dengan masak sendiri itu jelas benar. Keuntungannya jelas, selain hemat, masak sendiri juga nikmat dan sehat. Kalau ibu rumah tangga dengan anak-anak masak sendiri itu sudah biasa, tapi kalau kamu perempuan lajang, sekali-kali dalam kurun 1 bulan saja cobain cara saya; nanti ketemu “uang nganggur” agak banyak, yang bisa untuk alokasi lain tanpa mengorbankan urusan makan kenyang, enak, sehat, dan nikmat.
Cuman ya, kudu agak sedikit ekstra waktu dan energi ya. Paling enggak belanja bahan mentah, memasak, cuci-cuci piranti dapur, dan pandai mix match aneka bahan pangan agar menu makanan bisa variatif setiap hari. Belum lagi kalau nggak pernah turun ke dapur, rasa masakan juga belum tentu langsung sesuai harapan. Keasinan, gosong, terlalu manis, kurang matang, dll. Tapi seiring proses ntar ketemu “resep ala saya” yang pas di lidah kita.
Percayalah, di bulan pertama saya niat bikin program masak sendiri; itu membingungkan. Antara maju mundur. Tapi karena budget saya waktu itu nggak cukup untuk anggaran beli makanan online sepenuhnya, ya kudu mencoba. Dengan bantuan mbah google yang canggih, ternyata masak sendiri dan bikin menu mingguan nggak seribet bikin ending episode 1 series yang kejar tayang. Dan saya baik-baik saja menikmati masakan sendiri, artinya secara rasa dan kualitas wes memenuhi standar lidah saya. Kamu mau mencoba masak sendiri?
Ari Kinoysan Wulandari








