
Areal sekitar transit ke air terjun Tumpaksewu. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Saya masih antara iya atau enggak untuk berangkat ke Tumpaksewu ini. Gaweyan sedang banyak deadline yang cukup menguras energi. Secara umum saya wes ngerti; bahwa ke air terjun bukan sekedar berjalan. Butuh waktu, energi, dan stamina yang prima. Karena sudah merasa membayar lunas, saya pun memutuskan pergi saja. Nanti lihat kalau sudah di dekat TKP, cek-cek kondisi dan kaki-kaki.
Saya segera packing sesuai yang dilistkan biro. Rapi detail, sehingga saya nggak perlu mikir lagi apa saja yang perlu saya masukkan ke backpack. Saya masukkan keperluan pribadi saya sesuai list. Ada saran untuk menggunakan sandal gunung, pakaian ringan mudah kering, jas hujan/payung/topi, tas ringan tahan air untuk eksplore areal air terjun.

View cantik di depan tempat transit. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Oke, kecuali sandal gunung; semuanya saya siapkan. Jujurly saya ora duwe sandal gunung. Ke areal basah (air terjun, danau, pantai) biasanya nyeker alias nggak pakai alas kaki atau ya sandalan jepit. Dari review lokasi yang jauh, licin, basah, berbatu; saya berpikir untuk beli sandal gunung. Kalau piranti baru, kaki saya jelas butuh penyesuaian, belum kalau lecet karena gesekan…. wes malah nanti repot. Jadi saya memutuskan bawa sandal jepit yang alasnya bulat-bulat (nggak akan tergelincir, kepleset) yang biasa saya pakai. Alhamdulillah lancar pas eksplore. Untuk temen-temen yang mau ke Tumpaksewu, sebaiknya pakai sandal gunung yang sudah biasa dipake ya, jangan baru. Lebih aman, nggak khawatir lepas terbawa arus.
Sekitar jam sembilan malam, saya wes meninggalkan Jogja. Saya banyak tidur, jadi tahu-tahu wes sampai tempat transit di Lumajang saat jelang Shubuh. Standar di sini ya bebersih, olga singkat, sholat, istirahat, makan. Saya mulai ngitung kekuatan diri. Cukup enggaknya untuk ke air terjun. Kasak-kusuk cari info ke mereka yang sudah pernah ke air terjun. Wah, jalannya lumayan. Njur turun tangga ke lokasi air terjun, nggak lumayan lagi, tapi berat. Nanti naiknya, lebih berat lagi.
Lebih kurang 5-6 jam itu saya harus sanggup terus berjalan dengan medan yang nggak biasa (basah, licin, berbatu, arus deras, tangga turun naik). Mungkin hanya akan terjeda di 4-5 titik kumpul atau tempat istirahat.

Di areal pengecekan tiket masuk air terjun Tumpaksewu. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Piye Ri, sanggup ora? Mangkat ora? Saya menanyai diri sendiri. Ada keinginan untuk break saja; karena kaki saya habis recovery panjang setelah jatuh. Ntar kalau sakit lagi lebih repot. Tapi kalau sudah sampai sini, nggak berangkat, njur ngapain capek-capek tidur di perjalanan? Tidur di rumah saja enak nyaman. Bismillah, akhirnya saya memilih berangkat. Janji pada diri sendiri nanti kalau nggak kuat, ya mundur balik.
Jalanan awal ke areal panorama Tumpaksewu masih jalan darat, lempeng. Orang sudah banyak di lokasi meskipun saya berangkat pagi-pagi, sekitar 6.30 WIB. Tumpaksewu terkenal dengan aliran airnya yang melebar seperti tirai putih di antara tebing-tebing hijau. Dan begitu melihat secara langsung, Subhanallah saya nggak berhenti takjub memuji kebesaran sang Pencipta. Luar biasa indahnya. Matahari pagi membuat kilauan air seperti perak memutih nan elok rupawan.
Foto-foto dan video nggak cukup mudah di tempat ini. Karena banyak orang datang di akhir pekan, spot-spot foto harus antri dan kudu secepat kilat tanpa sempat ngecek hasilnya bagus atau enggak, sudah harus ganti orang; karena kapasitas tempatnya pun terbatas. Saya lebih banyak merekam dalam hati dan pikiran. Nggak cukup kata untuk menggambarkan keindahan tempat ini. Luar biasa…!

Di gerbang air terjun Tumpaksewu. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Setelah dari areal gerbang ini, barulah the real journey dimulai. Saya harus menuruni tangga tangga menurun yang masyaallah jumlahnya nggak terhitung, entahlah. Banyak sekali. Tapi prinsip saya cuma satu, melangkah dua kali. Kaki kiri, kaki kanan. Nggak terlalu berasa capek karena semburan air dari berbagai sisi air terjun terasa di mana-mana sejak mulai menuruni tangga.
Semakin dekat dengan air terjun Tumpaksewu, pemandangan di sekitar jalan semakin menarik. Pepohonan hijau, perbukitan, dan udara yang terasa lebih segar membuat perjalanan lebih enteng. Suara air mulai terdengar dari kejauhan. Awalnya samar. Semakin dekat, suara gemuruhnya semakin jelas.
Saya mulai nggak sabar. Dan akhirnya saya sampai di titik pandang. Saya terpesona. Di depan mata saya terbentang Tumpaksewu. Air yang jatuh dari tebing tampak seperti tirai putih raksasa. Alirannya begitu banyak dan melebar, sementara di sekelilingnya terdapat tebing dan pepohonan hijau. Pemandangan itu benar-benar berbeda ketika dilihat secara langsung. Saya bisa mendengar suara gemuruh airnya. Saya bisa merasakan udara sejuknya. Saya bisa melihat betapa luas dan megahnya alam di hadapan saya.

Areal bawah air terjun Tumpaksewu. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Saya berdiri cukup lama hanya untuk menikmati pemandangan. Rasanya seperti mendapatkan kesempatan untuk berhenti sejenak dari kesibukan sehari-hari.
Setelah puas menikmati pemandangan, saya mulai mengambil foto dan video. Namanya juga perjalanan ke tempat sebagus ini, rasanya sayang kalau nggak diabadikan. Tapi seperti yang saya bilang sebelumnya, foto-foto dan video di sini nggak mudah. Terlalu banyak orang, terlalu lama antrean.
Saya tertawa sendiri pas melihat banyak foto yang nggak sesuai harapan. Ada yang matanya merem. Ada yang posisinya kurang pas. Ada yang tiba-tiba figuran ukuran besar (orang lewat) di belakang. Tapi justru foto-foto seperti itulah yang nantinya menjadi kenangan paling menyenangkan. Saya juga mengambil foto pemandangan tanpa orang. Air terjun, tebing, pepohonan, dan langit menjadi satu kesatuan yang indah. Saya ingin menyimpan sebanyak mungkin suasana Tumpaksewu hari itu. Bukan hanya untuk dipamerkan, tapi untuk dikenang.

Areal bawah air terjun Tumpaksewu. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Setelah cukup lama berfoto, saya akhirnya berhenti. Saya hanya duduk dan memandangi air terjun. Nggak ambil foto. Hanya diam, menikmati suara air. Pada saat seperti itu saya kembali menyadari bahwa sesekali manusia memang perlu berhenti dari rutinitas. Kita terlalu sering sibuk mengejar sesuatu sampai lupa menikmati hidup. Sampai di areal bawah air terjun Tumpaksewu itu, sungguh bagi saya sesuatu yang amazing… alhamdulillah kaki-kaki saya kuat sampai di sini.
Di Tumpaksewu, saya belajar untuk menikmati perjalanan tanpa buru-buru. Saya juga tahu, mengukur kekuatan diri di medan-medan berat seperti ini sangat penting. Jujur pada diri sendiri. Kalau kuat, majulah. Kalau nggak sanggup, mundurlah dengan bijak. Kalau nanggung itu cuman merepotkan diri sendiri dan orang lain, juga mengganggu kenyamanan secara umum.
Perjalanan belum usai. Dari Tumpaksewu, saya ke seberang ke Goa Tetes. Tempat ini lebih sepi dari lokasi air terjun Tumpaksewu. Isinya lebih banyak bule-bule fakir miskin (baca: kurang baju)… haha… ya mestinya pakaian merekalah yang benar. Pakai bikini atau baju renang di areal air basah begini. Cuman format budaya timur kita yang masih terasa “aneh” melihat orang-orang jalan di tempat umum setengah telanjang. Oh ini hanya intermezzo, meskipun di Bali kadang saya juga masih berasa kenapa Indonesia nggak bikin “standar minimal” berbaju layak di seluruh areal umum, termasuk tempat wisata, bagi siapapun –warga lokal atau wisatawan domestik dan asing.

Di areal Goa Tetes. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Saya nggak terlalu lama di tempat ini. Jam 9.30 an WIB sudah mulai mendaki tangga, yang seriusan bikin saya menggos-menggos. Areal air, basah, arus juga bikin jalan saya makin lambat. Bayangin saya yang biasa jalan dan olga bae, ini berat. Sungguh bukan piknik yang disarankan untuk kaum mageran yang ke TKP hanya untuk pamer narsis dengan posting foto-foto di medsos.
Saya lelah banget. Pingin nyerah saja. Lemes rasanya, jalan terus dari pagi. Tapi di sini nggak ada jasa gendong, lift, eskalator, atau kabel tram yang bisa bawa saya langsung ke atas. Mau nggak mau, suka nggak suka, yo kudu jalan naik tangga sampai titik keberangkatan. Meskipun merambat ya tetap kaki kiri, kaki kanan saya naik. Tiap pos istirahat, saya berhenti dan pesan minum. Ya ampun, saya menolak makanan apapun sepanjang jalan karena menjaga kondisi perut agar nggak berulah. Wooh, durian gemuk-gemuk daging, katanya manis-manis, murah-murah tenan di sini. Butuh lebih dari kesadaran untuk menolak dan nggak makan durian bagi penggila durian seperti saya. Kondisi tubuh panas karena jalan mendaki, ditambah durian yang juga makanan panas… tubuh saya bisa meradang dadakan. Jadi saya pilih safe, nggak makan durian dulu.
Melanjutkan perjalanan yang seolah nggak pernah usai itu, bikin saya bolak-balik menyemangati diri. Ayo Ari, dua tangga lagi, dua tangga lagi… Bisa Ari, bisa, sudah berkurang dua tangga…. Dan setelah sejam lebih, saya sampai di titik kumpul awal. Alhamdulillah. Jalan sudah darat, aspal landai. Saya milih jasa ojek bae ke tempat transit. Lupa ya itu bayar 15 rebon kayaknya.

Di areal Goa Tetes. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Hampir jam 12 an saya tiba di tempat transit. Mandi. Segar dan enteng rasanya. Mengoleskan minyak zaitun ke seluruh tubuh (mencegah bengkak dan memar tubuh), makan siang dan minum p*racet*mol (ini versi saya sendiri, kalau habis aktivitas lapangan berat begitu untuk mencegah demam dan nyeri). Setelah sholat Dhuhur jamak, perjalanan pun dilanjutkan. Saya wes nggak terlalu ingat lagi, tertidur. Lelah fisik raga, tapi puas hati jiwa. Alhamdulillah.
Hingga saya menuliskan ini, sungguh saya masih takjub pada diri sendiri. Luar biasa, di usia yang nggak lagi belia; Allah masih memberi saya kesempatan untuk sampai di tempat wisata yang versi saya sungguh berat ini. Ke kawah Bromo nggak ringan. Ke kawah Ijen dan areal Blue Fire tantangannya 2x dari ke kawah Bromo. Ke Tumpaksewu butuh 2x energi lebih dari saat ke Kawah Ijen Blue Fire. Siapkan saja fisikmu yang sehat, langkah kakimu yang kuat sebelum gegayaan mo eksplore Tumpaksewu.

Air terjun Tumpaksewu dari kejauhan. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Oh iya, trip saya kali ini diatur dan diurusi oleh Lestari Wisata yang super. Ramah, profesional, bersahabat, nyaman, mudah, makan-minum-snack-buah-buahan full enak-enak sepanjang perjalanan, armada dan kru mantap, guide-fotografer-TL oke, dan yang pasti harga sangat terjangkau –pun bisa dicicil. Saya sangat terbantu dengan layanan full makan (wes nggak mikir mo makan apa, di mana, harga berapa —tenang kenyang) dan minuman mandiri. Di armada disediakan dispenser panas dingin netral, sendok-gelas sekali pakai, aneka jenis minuman instant.
Di perjalanan saya tetap banyak minum biar nggak dehidrasi. Kalau nggak ada ini, tiap perhentian atau rest area sekurangnya saya harus keluar uang 7 rb – 25 rb per cup/botol tergantung minuman dan tempat pembelian; dikalikan sekurangnya 10-12x untuk 2 malam 1 hari, wes gari ngitung uang yang keluar. Halah, namanya juga perempuan, mbok punya duit yo tetep petung😂
Untuk kontak Lestari Wisata, sampeyan bisa cari Kang Imam atau Mas Imam (begitu saya memanggil) di nomor 0856-2550-428. Rekomendasi layanan wisata dan berbagai kegiatan sejenis. Atau cari saja sosmednya ntar ketemu.
Sampai jumpa di trip berikutnya, yaitu catatan saya tentang Museum Angkut. Tunggu ya….
Ari Kinoysan Wulandari






