
Jangan takut menampilkan dirimu yang “apa adanya” di sosial media. Kawah Putih. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Saya wes (nggak) belia lagi. Sepanjang umur, sudah begitu banyak jatuh bangun kehidupan yang saya alami. Wajah, tubuh, kekuatan fisik sudah banyak berubah. Pada sesi tertentu saat dandan ditangani MUA, saya selalu berpesan agar dibuat senatural mungkin. Jangan menutupi hal-hal yang normal atau wajar (dagu dobel, kerut-kerut di sekitar mata, kantong mata, pipi gembul, garis senyum tegas penanda kulit nggak lagi seelastis waktu muda, mata yang sipit nyaris nggak ada bulu mata, dll). Biar orang tetap “mengenali” saya, bukan pangling pas ketemu dan malah nanya-nanya itu siapa.
Saya (nggak) takut menjadi lebih tua dengan segala konsekuensinya. Termasuk bentuk tubuh yang melebar gemoy gegara metabolisme yang melambat. Tapi saya memastikan bahwa semangat, konsistensi, ketekunan masih sama seperti 3-4 dekade yang lalu. Dan bagi saya itu cukup untuk melewati hari-hari saat kekuatan fisik nggak lagi sama sebagai bentuk ekspresi bertambah usia.
Saya mencintai diri dengan sempurna, melakukan segalanya yang terbaik untuk hidup lebih bahagia. Semuanya saya lakukan dengan sewajarnya. Dengan segala bentuk make up di tangan MUA profesional, bisa saja saya minta semua kerutan, garis senyum, kantong mata, dagu dobel itu (nggak) nampak. Bahkan AI bisa sepersekian menit “mengedit” wajah saya menjadi “sangat cantik” tanpa biaya.
Tapi njur untuk apa itu semua? Versi saya itu hanya bentuk “perbaikan” yang bisa jadi bumerang ketika orang bertemu saya dan bilang, “Wah cantiknya cuman di foto doang, editnya kebangetan, nggak dandan ternyata nggak cantik.” Saya siy lebih senang kalau versi asli lebih cantik dari foto 😀
Yach, tiap orang punya cara yang berbeda untuk mengekspresikan cinta pada diri sendiri. Tiap orang juga punya pikiran dan pandangan berbeda tentang validasi dari orang lain. Apapun itu, pastikan cintai dirimu dengan sempurna, karena diri kitalah yang paling setia dalam kondisi apapun.
Sekarang ini di era media sosial, kita sering disuguhi berbagai gambaran tentang kehidupan yang tampak sempurna. Wajah cantik, tubuh ideal, karier cemerlang, keluarga harmonis, hingga pencapaian atau prestasi spektakuler. Tanpa sadar, kita pun mulai membandingkan diri dengan orang lain dan merasa kurang. Akibatnya, rasa syukur memudar, kepercayaan diri menurun, dan kita jadi sulit menerima diri sendiri.
Padahal, mencintai diri sendiri bukan berarti menganggap diri paling hebat atau menolak kritik. Mencintai diri sendiri berarti menerima seluruh bagian diri dengan utuh; semua kelebihan dan kekurangan, lalu berusaha jadi pribadi yang lebih baik.
Mencintai diri dengan sempurna bukan berarti menuntut diri untuk selalu sempurna. Sebaliknya, kita memahami bahwa kita memang nggak sempurna. Nggak ada seorang pun yang hidup tanpa kesalahan, kegagalan, atau kelemahan. Kesadaran ini bikin kita lebih ramah dan cinta pada diri sendiri saat menghadapi kesulitan atau hal yang nggak kita inginkan.

Mempercantik diri, itu wajib sebagai ekspresi mencintai diri sendiri, tapi jangan kehilangan “ciri normal” apalagi jati diri. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Sikap mencintai diri sewajarnya juga penting. Ada perbedaan antara mencintai diri sendiri dan mementingkan diri sendiri. Mencintai diri sendiri bikin kita menghargai diri sekaligus menghargai orang lain. Sikap cinta diri yang berlebihan dapat membuat seseorang merasa paling benar dan mengabaikan kebutuhan orang lain. Cinta pada diri sendiri harus seiring dengan kerendahan hati.
Salah satu bentuk cinta pada diri adalah menjaga kesehatan fisik dan mental. Tubuh yang kita miliki bekerja tanpa henti setiap hari. Ia membantu kita berjalan, berpikir, bekerja, dan berkarya. Memberikan waktu untuk beristirahat, makan bergizi, olahraga yang cukup, dan menjaga kesehatan mental itu bagian dari penghargaan terhadap diri sendiri. Kita nggak perlu menunggu sakit untuk mulai peduli pada tubuh dan pikiran kita.
Mencintai diri juga berarti memberi ruang bagi diri untuk bertumbuh. Ketika gagal, jangan langsung menyalahkan diri secara berlebihan. Kegagalan nggak selalu karena kita nggak mampu, tapi itu kesempatan untuk belajar. Orang yang mencintai dirinya akan melihat kesalahan sebagai bagian dari proses menuju kedewasaan.
Kita juga perlu belajar mengatakan “no”, “nggak” pada hal-hal yang merugikan diri sendiri. Nggak semua permintaan harus dipenuhi. Nggak semua kritik harus dipercaya. Nggak semua harapan orang lain harus kita wujudkan. Menetapkan batasan yang sehat itu cara kita untuk menjaga harga diri dan kesehatan mental.
Dengan segala kekurangan dan kelebihan, saya sudah sejak lama mencintai diri sendiri tanpa syarat. Saya tetap mencintai diri sendiri saat gagal atau sukses, saat gemuk atau langsing, saat tua atau muda, saat kurang uang atau banyak uang. Nggak perlu nunggu jadi sukses, kaya, langsing, cantik, dll sikon untuk mencintai diri sendiri. Nilai seseorang, termasuk diri saya nggak ditentukan semata-mata oleh penampilan, jabatan, atau jumlah pencapaiannya. Setiap orang berharga karena hidup itu luar biasa.
Mencintai diri dengan sempurna dan sewajarnya pada intinya tentang berdamai. Kita menerima siapa diri kita hari ini, sambil terus berusaha jadi lebih baik esok hari. Kita bersyukur atas kelebihan dan pencapaian, menerima kekurangan dengan lapang dada, dan tetap melangkah meskipun nggak selalu sempurna.
Ketika kita mampu mencintai diri sendiri dengan sehat, kita akan lebih mudah mencintai kehidupan, menghargai orang lain, dan menemukan kebahagiaan. Kebahagiaan yang tumbuh dari hati dengan menerima diri apa adanya.
Coba cek-cek, apa kamu sudah mencintai dirimu dengan sempurna dan sewajarnya? Salah satu indikasinya kalau kamu bisa mengatakan “nggak” pada permintaan orang lain yang mengganggu tanpa rasa bersalah; selamat, kamu sudah ada di jalur yang benar dalam mencintai dirimu.
Ari Kinoysan Wulandari

























