Mensyukuri Hal-Hal yang Belum (Nggak) Ada

Alhamdulillah. Si putih kiri itu sapi kurban saya tahun 2026. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Tahun 2026 nyaris tengah tahun, Mei sudah di ujung. Tapi sepanjang Desember 2025 hingga ke April 2026 ini, bagi saya pribadi rasanya waktu yang sangat panjang. Suwe banget. Masalah kesehatan yang sejak Desember Februari jatuh bangun terus, bikin semua program kerja saya “rusak”.

Dan saya harus ikhlas, berdamai bahwa saya memang harus istirahat, kerja sedikit yang pokok-pokok saja. Alhamdulillahnya itu, saya masih utuh dapat rezeki dari gaji menetap sebagai dosen; sehingga sekurangnya kebutuhan rumah tangga saya dan anak-anak asuh masih tercukupi dengan baik.

Maret di ujung takbiran, saya malah jatuh di kamar mandi. Hal ini nggak cuman bikin saya mandheg aktivitas kerja, tapi beneran bikin hari-hari saya terasa lama. Beneran 1 bulan Maret-April saya harus rehat, lha jalan aja susah payah. Masih harus terapi macam-macam sesuai anjuran dokter agar lekas sembuh pulih. Aktivitas saya seperti hanya makan, mandi, tidur, ibadah sebisanya; dan kerja praktis hanya mengajar dengan duduk.

Saya dengan mahasiswa PBSI UPY usai kelas. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Kondisi itulah yang bikin saya sadar, bahwa saya itu nggak sendirian. Ada keluarga, ada saudara, ipar, ponakan, sahabat-sahabat, tetangga, kerabat yang semuanya baik dan peduli. Bahkan produser, penerbit, media pun ada yang peduli. Semuanya terasa menghangatkan hati.

Saya begitu gembira ketika di pertengahan April pas saya periksa, dokter bilang sudah pulih dan bisa beraktivitas normal lagi. Tapi perlu bertahap biar nggak kaget. Dan pilihan saya pertama, ikut piknik dengan ibu-ibu RT. Nggak jauh, cuman ke Air Terjun Jumog dan Sky Hills Kemuning. Cukup mengukur kekuatan fisik dan kaki saya. Cukup membuat saya kembali tertawa lebar, alhamdulillah betapa nikmat bahagia bisa jalan, lari, loncat bebas dengan kaki sehat. Maafkan saya, kaki-kakiku kalau selama ini saya kurang peduli; padahal kamulah penopang tubuh dan hidupku. Saya berniat menjaganya dengan lebih baik.

Nggak lama, sahabat saya dari Medan datang dan kami pun pergi piknik lagi. Semula mau trip ke Pangandaran yang eksotis, tapi mengingat waktu, energi, dll kesiapan; kami berubah arah eksplore Gunung Kidul ke areal baru yang belum kami tengok. Pantai Timang dengan gondola dan jembatan gantung; On The Rock, dan Sea Obelix. Jalan lagi dan ngukur kekuatan fisik mental. Alhamdulillah, ternyata saya wes baik-baik saja. Ya Allah, betapa nikmatnya sehat.

Saya dan ibu ibu RT 10 CGI di gerbang Kemuning Sky Hills. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Di Sky Hills Kemuning. Dari atas, kota Karanganyar terlihat indah. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Saya syukuran tenan itu. Duit yang saya punya kayak saya hambur-hamburkan bagi sana sini, nyumbang ini itu, ngundhuh arisan yo makan-makan besar, dan embuh berasa nggak mikir. Pokoknya saya ngerasa duit saya masih banyak…. dan ujug-ujug saya bingung pas lhoh saldonya kok tinggal segini, hahaha… Tapi yo weslah, nanti cari uang lagi lebih banyak. Daripada uang untuk biaya terapi, bayar dokter, beli aneka obat pahit, saya lebih senang kalau uang dibagi-bagi, untuk makan-makan, syukuran, dolan-dolan.

Dan Mei, mulailah saya bekerja full speed lagi. Memenuhi tunggakan tulisan. Ngisi beragam workshop, mendampingi peserta penulisan intensif, mengajar, pengabdian, dll. Hari-hari berlalu dengan cepat. Saya juga menambah program belajar untuk bisa nulis artikel internasional, menambah program skill persiapan pensiun.

Mei waktunya dekat berkurban itu, saya sempat mikir nggak kurban. Kan saldo saya wes nipis-piiis… ya ampun, 5 bulan nggak kerja sebagai freelancer bisa beneran bikin saldo kurus kering 😅 Tapi saya yo tenang aja itu…. Alhamdulillah saya wes sehat, nggak ada lagi biaya kesehatan dll yang cukup menguras kantong. BPJS saya ada dan bayar rutin, tapi wes embuh karena biasa bayar dhewe dan nggak mau beribetan kudu rujukan ini itu, selama saya sakit semua mbayar mandiri; sehingga bisa dapat layanan terbaik; milih sesuai kemampuan.

Saya dan duo bocil di Air Terjun Jumog. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Saya dengan sebagian ibu-ibu di pintu masuk Air Terjun Jumog. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Terus kulkas saya penuh makanan 😂😅 Alhamdulillah kayaknya 3 bulan pun nggak habis. Rumah-listrik-wifi aman, air-melimpah gas-ada, baju baru (selesai jahit 3 stel, wes banyak itu), pit sepeda untuk wira wiri deket ada, anak-anak asuh wes diberesin, iuran-iuran dan kruncilan di kampung wes dibayar; apalagi yang perlu uang? Kayaknya nggak ada. Jadi tenang bae saldo kurus. Besok dapat kerja besar ya gendut lagi 😀

Njur saya ingat, lhoh kan saya wes nitipin uang ke adik sejak tahun lalu untuk kurban. Alhamdulillah, tinggal minta transfer balik dan masih kurban sapi. Rasanya kurban tahun ini beda di hati saya, lebih seperti Alhamdulillah saya masih hidup sampai saat ini. Karena pas sakit itu beneran, saya berulang kali mikir apa ini waktunya saya kembali pulang. Tapi setiap menyentuh kaki saya masih hangat, saya tahu belum saatnya.

Saya sungguh mensyukuri semuanya yang ada pada diri saya, pekerjaan saya, keluarga saya, lingkungan tetangga saya, relasi-relasi, persahabatan… Dan itu jadi panjang banget nyebutinnya. Bener ternyata, kalau kita bersyukur nggak akan cukup waktu menghitung semua karunia Tuhan.

Ngundhuh arisan ibu-ibu RT 10 CGI. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Lalu saya mendapatkan statemen bahwa kita juga wajib mensyukuri hak-hal yang belum (nggak) ada. Misalnya kita biasanya diajari untuk mensyukuri pasangan (suami/istri) kita, anak-anak kita (bagi mereka yang sudah punya) karena itu bisa jadi belum atau nggak dimiliki orang lain. Tapi yang belum atau nggak punya, ya tetep kudu bersyukur. Kok bisa?

Belum punya pasangan berarti bebas beribadah tanpa gangguan. Bisa berangkat bekerja tanpa diribetin urusan rumah tangga, anak-anak. Lajang-lajang juga bisa pergi bebas tanpa perlu izin. Mau tidur kapan saja nggak ada yang perlu merasa terabaikan. Uang hasil kerja mo dihabiskan sendiri yo gapapa. Mau sekolah atau belajar lainnya nggak harus izin ninggalin keluarga, dll. Intinya kalau kita bisa melihat segala sesuatu yang positif dari sesuatu yang nggak ada, kita pun nggak akan kehilangan syukur.

Terimakasih Teman-teman yang “menengok” saya pas sudah sembuh. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Itu beneran mengguncang hati saya. Oh iya ya, selama ini saya bisa begitu banyak kerja dan piknik jauh tanpa gangguan, salah satunya karena belum menikah, belum ada pasangan. Saya bebas melakukan semua urusan saya tanpa perlu kompromi dengan pihak lain.

Saya pun menangis sejadinya. Satu hal yang belum pernah saya syukuri adalah keberadaan saya yang lajang sekian lama itu. Seringkali saya merasa mereka (perempuan perempuan yang menikah) lebih bahagia daripada saya. Sekurangnya, kalau sedang jatuh sakit ada pasangan yang mengurus, ada anak-anak yang peduli.

Sementara saya dan juga perempuan lajang lainnya, mungkin harus berjuang sendirian. Apalagi kalau tipikal introvert yang sulit “meminta tolong” pada pihak terdekat sekalipun. Dalam pandangan sederhana saya, sekurang-kurangnya masalah kehidupan lebih mudah diselesaikan kalau 2 kepala yang memikirkan daripada ditanggung sendirian.

Saya dan sahabat jalan di jembatan gantung, Pantai Timang. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Sisi lain Pantai Timang. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Saya nyaris lupa, bahwa nggak pernah ada cerita perempuan lajang mandiri yang mati karena memilih sendiri atau nggak menikah. Namun begitu banyak perempuan mati (sekurangnya mati dalam hidupnya) karena berada dalam pernikahan dengan pasangan yang salah. Kasus-kasus KDRT, nggak dinafkahi, hidup dalam pernikahan punya suami tapi serasa janda yang pontang-panting sendiri, hidup dengan mertua-ipar yang buruk, dll kasus yang rasanya juga sering mampir di telinga saya.

Saya pun memutuskan untuk recharge energi lagi. Mensyukuri keberadaan lajang yang selama ini nyaris nggak pernah saya lakukan. Saya (kadang) menganggap lajang itu juga masalah dalam beberapa hal, terutama kalau harus datang ke kondangan, reunian, dll. undangan formal. Begitu banyak ujian, sindiran, cibiran, dll hal sejak paruh umur semestinya saya menikah. Selama ini yang membuat saya bertahan kuat, karena sadar saya nggak numpang hidup sama mereka. Selain itu, kata-kata setajam apapun hanya melukai hati kalau saya mengizinkan masuk. Kalau saya lewatkan, ya sudah tertiup angin.

Usai mengisi workshop penulisan di Disspusip Gunung Kidul. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Saya mulai berpikir serius ya saat sakit itu. Memang saya bisa bayar orang untuk jagain, urus ini itu, dll tapi apa iya akan begitu terus? Sempat terpikir begitu, sekarang saya ubah pandangan. Syukurlah, meskipun lajang, sakit, saya masih ada banyak rezeki untuk bayar orang ngurusin saya, terapi terbaik sehingga cepat sembuh, beli obat terbaik, konsultasi dengan mudah, dan masih ada pekerjaan yang memberi penghasilan. Juga masih begitu banyak cinta dari orang-orang terdekat. Bukankah lebih ngeri kalau wes lajang, sakit, nggak ada uang dan tergantung belas kasihan orang?

Saya syukuri saja apa-apa yang semula saya anggap sepele itu. Dan tiba-tiba hidup saya terasa lebih banyak bahagia, lebih banyak sukacita, lebih banyak tertawa yang membuat hati begitu ringan. Ya Allah, ternyata begitu banyak hal yang masih lupa saya syukuri. Mohon ampuni saya ya Allah. Mohon sehat lahir batin, selamat dunia akhirat. Amin YRA.

Jadi, kalau kamu belum atau nggak memiliki sesuatu seperti keumuman orang lain, ya wes syukuri saja. Lihat sisi positifnya. Temukan hal-hal baiknya. Dan rasakan hidupmu ternyata lebih banyak bahagianya.

Ari Kinoysan Wulandari

Piknik Bersama, Prioritaskan Diri dan Keselamatanmu

Sebelum berangkat piknik Ibu-ibu RT 10 CGI. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Ini pengalaman waktu saya ikut piknik ibu-ibu RT 10 di lingkungan rumah. Wah, baru sekali ini ikut. Jadi saya nyimak betul uraian detail acara. Tujuan utama: Sky Hills Kemuning dan Air Terjun Jumog. Wah, biar cuman di Karanganyar situ saya belum pernah ke sana. Jalan di jembatan kaca di ketinggian dan ciblon di air terjun. Tentu saya bersiap diri. Membayar biaya. Nyiapin dresscode, nyiapin baju ganti untuk ciblon, nyiapin biaya Sky Hills (non tanggungan panitia), dll. persiapan pribadi.

Saya ngekor saja mengikuti acara sesuai yang ditetapkan panitia. Pas berangkat telat 2 menit karena saya memilih sarapan dulu, daripada laper di jalan. Kalau tahu nasi box makan siang dibagikan saat berangkat, pasti saya memilih sarapan di bus. Tapi better sudah sarapan daripada kelaparan di jalan. Ingat, kalau pingsan bikin repot banyak orang.

Gerbang pintu masuk Sky Hills Kemuning. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Karena sudah tahu tujuan, begitu tiba di lokasi, foto-foto di sekitaran, saya yo langsung bergegas naik ke Sky Hills Kemuning. Semula saya wes hopeless karena nggak ada ibu-ibu yang mau ikut naik. Ya ke sini, butuh biaya (lagi), sikap berani, nggak singunen (takut ketinggian), sehat jiwa raga, dan tahu manajemen gerak langkah biar nggak tantrum jerit-jerit di tengah jembatan 😂😅

Serius lho, untuk wahana-wahana yang agak ekstrem, sampeyan kudu jujur pada diri sendiri. Kalau berani ya maju, kalau takut mundur saja. Jangan nanggung yang bikin repot banyak orang. Untung ada Bude Dwi dan Mbak Rini mau ikut naik. Alhamdulillah, ada teman dan ada yang gantian motret. 😂😅 Pikiran saya itu saja, karena tempat ini ternyata nggak seekstrem bayangan saya.

Mungkin karena saya pernah melewati jembatan kaca di atas laut lepas yang sewaktu-waktu ikan hiu, paus, lumba-lumba bisa nongol seolah-olah deket banget mo memakan kita 🤣 Horor tenan dan untuk model wisata ekstrem kita ya memang kudu belajar dari negeri jiran Malaysia dan Vietnam.

Di salah satu sisi Sky Hills Kemuning. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Syukurlah Bude Dwi dan Mbak Rini itu strong women; wes lancar jaya jalan dari awal sampai ujung PP. Lumayan panjang sekira 600 meter sekali jalan, PP ya 1200 meter di atas jembatan kaca yang lumayan tinggi dan selamat tanpa pusing. Alhamdulillah.

Saya happy karena satu wahana wes saya bereskan. Untuk ukuran ekstrem skala 0-10, ini versi saya hanya 3, bolehlah yang penasaran asal sehat, kuat, nggak phobia ketinggian, ada temannya, mencoba wahana ini. Tiketnya seharga segelas kopi branded saja per gundul. Foto 1 file seharga 1 sachet kopi juga 😂 Saya nggak merekomendasikan wahana ini untuk Teman-teman yang sudah biasa main wahana ekstrem di Sapa Vietnam dengan skor 8-10 🤣 Kebanting nanti rasa kecewanya.

Bude Dwi, saya, Mbak Rini di Sky Hills Kemuning. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Perjalanan kami berikutnya ke air terjun Jumog. Beuh, saya wes gembira dari awal. Main air, ciblon itu bagi saya seperti membuang seluruh penyakit jiwa. Melepas semua lelah mental dengan berteriakan di tengah air yang mengalir deras. Jadi saya yo wes prepared baju ganti sepiranti mandi untuk ke sini; meskipun celana renangnya ketinggalan di rumah 😂😅 Gpp yang penting baju gantinya komplit.😀

Pas di bus saya tanyain ada beberapa ibu yang mau ikut turun. Lah pas di lokasinya, yang tetua turun mung saya. Ditambah dua bocil Fida dan Aruna. Cuman karena wes niat ciblon, saya yo tetap saja menghabiskan waktu 2 jam lebih di air. Puas tenan. Airnya dingin 16-18 derajat. Adem banget buat yang nggak biasa main air. Cuman karena dangkal mung 30-50 cm dan dikavling pendek-pendek, nggak bisa buat berenang orang dewasa. Mandi-mandi, ciblon, main air saja😂🤣

Hanya kami berdelapan yang jalan ke Sky Hills Kemuning. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Usai beberes mandi dll saya bergabung lagi dengan ibu-ibu lain. Ahaha, banyak yang komentar nyesel mo turun tp lupa bawa ganti, gak mau ribet ganti, antri mandi, dingin, dll. Wah kl itu nggak akan terjadi pada saya. Ya ribet sedikit tapi pengalamannya seru. 😂😅

Cuman tetep perlu jaga diri ya kalau main air. Di air nggak berasa capek, jadi ukur kemampuan kekuatan diri. Jangan terlalu lama. Hati-hati juga masalah licin, terpeleset. Patuhi aturan, kalau ada tanda larangan berenang, jangan ngeyel. Kalau areal tertentu ditutup untuk umum, jangan maksa nyebur. Pokoknya mo senang-senang tetep kudu safety first.

Kalau kemudian foto-foto saya begitu bebas dan hidup, karena saya menikmati semuanya dengan total. Nggak ada penyesalan karena belum ngelakuin ini itu di tempat wisata tertentu. Kalau nggak sempat ke sana lagi, yo wes. Saya sudah I do my best di tempat itu.

Sebagian kami di pintu masuk Air Terjun Jumog. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Nah, bagaimana pengalaman piknikmu bersama orang-orang yang kamu kenal? Semoga seru-seru dan menyenangkan. Saya coba mencatat beberapa hal yang penting, agar nanti kalau sampeyan piknik lagi bisa lebih seru pengalamannya.

Pertama, sering kali kita ngerasa nggak enak hati jika harus mengatakan sedang nggak fit. Ada rasa takut dianggap merusak suasana atau merepotkan. Padahal, memprioritaskan kondisi tubuh bukanlah sikap egois. Jika tubuh terasa lelah, kurang tidur, atau nggak sehat, beristirahat sejenak sebelum berangkat lebih bijak dibanding memaksakan diri. Atau sekalian saja izin break, istirahat di tempat tanpa ke lokasi yang dituju.

Kedua, perjalanan yang aman dimulai dari kondisi fisik yang siap. Menunda keberangkatan beberapa menit demi sarapan, minum cukup air, atau sekadar menenangkan diri bisa membuat perjalanan jauh lebih nyaman. Pastikan kalau dengan pesawat, kereta api, KRL, dll yang ada waktunya, sudah diperhatikan dengan baik.

Ciblon atau main air. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Ketiga, banyak orang terlalu fokus pada destinasi hingga lupa bahwa perjalanan adalah bagian penting dari pengalaman piknik. Karena itu, keselamatan harus menjadi prioritas utama. Jaga diri baik-baik. Kenali kesehatanmu. Kalau berasa nggak sehat, stop saja, jangan memaksakan diri. Patuhi semua aturan terutama di wahana-wahana ekstrem.

Keempat, bawa obat pribadi dan perlengkapan darurat. Masing-masing orang beda kebutuhan, silakan sesuaikan. Topi, kacamata, slyer, payung, sepatu-sandal, make up kit, alat ibadah, dll.

Kelima, dana keperluan pribadi. Untuk oleh-oleh, jajanan, tips guide di lokasi, foto-foto, souvenir, dll yang nggak ditanggung dalam biaya piknik. Siapkan secukupnya, nggak usah berlebihan. Di wisata domestik, sampeyan tetep kudu siap uang tunai. Nggak semua tempat bisa pake uang digital.

Piknik yang menyenangkan bukan tentang datang paling cepat atau mengunjungi tempat paling banyak. Kebersamaan terasa lebih bermakna ketika setiap orang merasa didengar dan diperhatikan.

Saya dengan duo bocil, Fida dan Aruna. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Saat hujan turun di tengah perjalanan, misalnya, berteduh bersama sambil menikmati minuman hangat bisa menjadi kenangan yang lebih berharga dibanding memaksakan diri menerobos jalan licin. Ketika seseorang merasa lelah lalu teman-temannya mendukung untuk beristirahat, di situlah arti perjalanan bersama sebenarnya muncul.

Piknik yang baik bukan hanya soal tujuan, tapi tentang bagaimana semua orang bisa menikmati prosesnya dengan aman dan nyaman. Banyak orang masih merasa bersalah ketika memilih menjaga dirinya sendiri terlebih dahulu. Padahal, menjaga keselamatan dan kesehatan adalah bentuk tanggung jawab, baik untuk diri sendiri maupun orang-orang yang ikut bepergian bersama kita.

Memprioritaskan diri bukan berarti mengurangi kepedulian terhadap orang lain. Justru dengan kondisi yang sehat dan aman, kita dapat menikmati momen bersama secara lebih utuh. Pada akhirnya, piknik terbaik bukan hanya menghadirkan foto indah atau cerita seru, tapi memastikan semua orang dapat pulang dengan selamat dan membawa kenangan indah.

Alhamdulillah, kami semua pulang dengan selamat. Terimakasih Ibu-ibu Panitia. Terimakasih Sponsor Bus. Terimakasih Ibu-ibu satu perjalanan. Sampai jumpa lagi.

Happy Piknik. Long weekend sudah usai. Mari kembali bersiap semangat kerja. Karena piknik pun butuh biaya 😂😅

Ari Kinoysan Wulandari

Manajemen Duit

Masakan ibu saya. Gambar hanya sebagai ilustrasi. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

“Ri, piyo yo ben rezekiku tambah akeh?”

Sebagai penulis freelancer yang tahu dia kerja kantoran mapan dengan jabatan mentereng– versi saya kekayaannya jelas banyak dia; tentu bikin heran. Belum saya jawab. Pesannya muncul lagi.

“Duitku banyak, gaji besar, bonus juga banyak; kok tetep saja aku kebobolan. Masih kudu ngutang ini itu, pake cc (credit card), paylater. Belum tengah bulan serasa wes sekarat.”

“Kalau kamu mau ngutang, aku gakbisa. (Ekstrem saya 😄). Ini kebiasaanku soal duit, coba cek mungkin cocok.”

Pertama, bikin catetan; duit masuk, duit keluar. Biar tahu ke mana larinya uang yang gak berasa; kopi kafe harian, jajanan, makan siang/malam di mall/resto, e-tol, bensin dan parkir, members klub nggak dipake, beli barang gegara diskon dll, pemborosan listrik-air-gas, dll. Catatan bisa pake aplikasi gratis.

Kedua, bikin rencana keuangan; 1 tahun, 6 bulan, 3 bulan, 1 bulan, 1 mingguan, dan 1 harian. Banyak aplikasi gratis yang bisa dipilih.

Ketiga, kalau mau lebih terpercaya, bayar konsultan keuangan. (Tapi inget, ini ada bunyi harganya; jadi pastikan total duitmu sudah banyak). Biasanya mereka punya saran investasi dll hal urgent keuangan, seperti dana darurat, pensiun, asuransi, dll.

Keempat, ikuti rencana keuangan yang sudah dibuat; gak laper mata, gak tergoda diskonan; gak mumpung murah, gak baperan, dst.

Kelima, mau lebih banyak (mudah) rezeki, versiku cek lagi: hatimu (kudu baik), sholatmu, ngajimu, sedekahmu, silaturahmimu. Kalau itu sudah beres, biasanya duit datang sesukanya. Tiap orang beda. Kalau rezeki aku nggak berlebihan, tapi selalu lebih dari cukup untuk semua kebutuhan dan bisa nabung. Alhamdulillah ❤❤

Keenam, bersyukur. Rasah sambat, rasah ngomel, rasah kemrungsung, rasah merinan; teman beli mobil baru njur maksain. Inget, pujian pada mobilmu gakbisa bayarin cicilan 😂😅

Ketujuh, hidup sederhana dengan bahagia. Kita punya hidup untuk dilakoni, dinikmati, dan disyukuri; bukan untuk mengesankan orang lain 😅 Omongan dan validasi orang, sering bikin kita jungkir balik mengatur uang.

*Pict di atas, meski nggak beraturan, seadanya; itu masakan mewah karena dibuat ibu saya dengan cinta. Rasanya? Selalu enak😋❤

Ari Kinoysan Wulandari

Lebaran Kali Ini: Sabar Menghadapi Hal Nggak Terduga

Foto sebagian anggota keluarga. Lebaran Maret 2026. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari. Photos Dita Kusuma.

Lebaran selalu identik dengan riuh kegembiraan dan keakraban keluarga, sanak saudara, handai taulan, kawan kerabat, tetangga jauh dekat, dan semua relasi. Di rumah ibu saya pun begitu. Tawa riang yang bersahut-sahutan, suara piring beradu di dapur, aroma aneka masakan (non opor kupat yang sudah mainstream) menguar sejak pagi. Dan tentu saja obrolan panjang pendek yang kadang nggak penting, tapi terasa menghangatkan hati.

Namun, di tengah semua itu, ada satu sudut yang sering sunyi, tempat biasa saya berdiri, sebagai perempuan lajang yang sudah terbiasa dengan kehidupan sendiri. Bukan hal baru, sebenarnya. Dari tahun ke tahun, saya sudah paham ritmenya. Pertanyaan yang sama, candaan yang setipe, tatapan yang kadang terasa mengasihani atau mungkin saya yang terlalu baper. Saya sudah lama menormalisasi keadaan yang nggak sama dengan orang lain.

Saya sudah ahli belajar untuk tersenyum, mengalihkan pembicaraan ke hal-hal yang umum, dan tetap berada di antara keluarga besar tanpa merasa kecil hati. Karena saya sadar betul, setiap orang menjalani takdirnya masing-masing. Dan bagi saya, perempuan matang belum menikah atau bahkan mereka yang memutuskan nggak menikah itu bukan kesalahan atau dosa sosial, tapi pilihan hidup yang bisa dijalani dengan bertanggung jawab.

Itu kenapa saya nggak sepakat dengan mereka yang memutuskan untuk nggak kumpul keluarga besar saat lebaran, kumpulan trah, tahun baru, dll karena belum menikah, belum punya anak, belum kerja (mapan), belum punya rumah/mobil, dll standar umum. Selain semakin menjauhkan diri dari keluarga besar, juga membuat akses silaturahmi terputus. Dan juga nggak menyelesaikan masalah. Kalau belum menikah njur nggak ikut kumpul-kumpul keluarga, juga nggak langsung ujug-ujug menikah.

Versi saya, hidup itu kuncinya ya menghadapi semua masalah dengan lapang hati. Percayalah, kadang omongan atau pertanyaan orang-orang itu nggak sepribadi yang kita kira. Mung waton atau asal ngomong daripada nggak bicara. Jadi ya nggak usah terlalu dimasukin hati. Cuman ya untuk bisa begitu, butuh keluasan hati.

Tapi Lebaran kali ini berbeda. Bukan karena suasana keluarga yang berubah, tapi karena tubuh yang tiba-tiba memaksa saya untuk berhenti. Malam takbiran itu seharusnya sama seperti biasanya. Saya membersihkan diri lebih awal, bersiap menyambut hari kemenangan dengan hati yang ringan. Namun, satu langkah yang tergelincir di kamar mandi mengubah segalanya. Bunyi jatuh itu masih terngiang; berdebum keras, tiba-tiba, dan diikuti rasa nyeri yang menjalar ke seluruh tubuh. Sejak saat itu, semuanya melambat. Bahkan nyaris berhenti.

Pagi Lebaran datang tanpa semangat yang biasa. Saya hanya bisa terbaring, dengan tubuh yang menolak diajak bergerak. Di luar kamar, suara salam-salaman, gelak tawa, dan langkah kaki tamu yang datang silih berganti. Kadang pintu kamar saya diketuk, wajah-wajah muncul dengan ekspresi khawatir, lalu pergi lagi dengan cepat, kembali ke keramaian yang nggak bisa saya ikuti.

Saya tersenyum setiap kali ada yang datang. “Cepat sembuh ya,” kata mereka. Saya mengangguk. Seolah sesederhana itu. Hari-hari berikutnya terasa lebih sunyi. Keluarga besar piknik ke pantai, tradisi lebaran yang selalu dinanti. Saya bisa membayangkan semuanya: angin laut yang hangat, suara ombak, anak-anak berlarian, dan sesi foto yang nggak boleh absen.

Kali ini, saya harus terima piket jaga rumah, karena kaki pun sakit luar biasa untuk digerakkan. Dari kamar tidur ke kamar mandi saja, sudah butuh perjuangan ekstra dengan jalan merambat. Dan piknik kali ini, saya hanya menjadi penonton dari cerita yang dibawa pulang dalam bentuk foto dan video di grup keluarga.

Di layar ponsel saya, mereka terlihat begitu bahagia. Seperti lebaran-lebaran yang lalu, setelah nyaris 20 tahun kami kehilangan bapak —yang meninggal di hari pertama Idul Fitri. Alfatehah untuk beliau. Damailah sukacita di surga dalam perlindungan Allah, Bapak. Amiiin YRA ❤️

Dan saya ikut senang dengan kegembiraan mereka. Sungguh. Hanya saja, ada ruang kecil di hati yang terasa berbeda, kekosongan karena nggak bisa beraktivitas, bercengkerama, atau sekadar duduk bersama. Baru kali ini saya merasa lebaran begitu sunyi dan sendiri. Lebaran tanpa gangguan aktivitas yang berarti. Membuat saya punya banyak waktu mengingat perjalanan hidup yang sudah berlalu. Membuat saya tetap bersyukur. Sepanjang hidup, baru kali ini lebaran dengan hadiah sakit.

Lebaran kali ini saya lewati dalam diam. Mengirim, membalas pesan Idul Fitri pun nggak bisa saya lakukan dengan leluasa. Selain badan nyeri, kaki sakit, tangan kanan pun sakit untuk beragam aktivitas fisik yang terlalu berat. Oh membuka botol minuman air mineral pun harus minta bantuan orang lain. Sungguh nikmat berkahlah mereka yang hidup dengan sehat.❤️

Namun, di tengah diam itu, saya belajar lagi. Tentang menerima. Tentang sabar menghadapi hal-hal yang nggak pernah kita rencanakan. Tentang menyadari bahwa kesendirian nggak selalu berarti kesepian, meski kadang sepi ya terasa begitu dekat. Terutama kalau habis banyak orang di rumah, lalu kembali sunyi setelah mereka pulang.

Saya mulai menikmati dan memperhatikan hal-hal kecil lainnya: cahaya matahari yang masuk dari jendela kamar, suara takbir yang masih terdengar samar dari kejauhan, dan waktu yang akhirnya memberi saya jeda; untuk benar-benar beristirahat tanpa gangguan, bernapas lebih lega, dan bisa lebih cermat mendengarkan keinginan dan harapan diri sendiri.

Lebaran kali ini mungkin nggak seperti adatnya. Nggak ada tawa panjang yang saya ikuti di ruang tamu, nggak ada jejak kaki di pasir pantai, nggak ada foto bersama keluarga, nggak ada keriuhan reribetan makan bersama, dll keakraban. Tapi ada pelajaran yang saya catat, bahwa hidup nggak selalu berjalan sesuai rencana, dan itu ternyata ya nggak apa-apa. Semua tetap baik-baik saja.

Saya masih di sini. Masih belajar sabar. Masih percaya bahwa setiap hal yang tertunda, mungkin sedang disiapkan dengan cara yang lebih baik. Dan Lebaran kali ini bukan tentang keramaian. Tapi tentang menerima, dengan hati yang pelan-pelan menjadi lebih lapang. Alhamdulillah.

Selamat berlebaran. Mohon maaf lahir dan batin. Mohon maaf untuk pesan-pesan lebaran yang lambat berbalas atau bahkan belum saya kirim. Tapi dengan sungguh hati, saya telah memaafkan semua orang yang saya kenal dan meminta maaf secara batin kepada semuanya. Semoga semua sehat, damai, sejahtera, panjang umur berkah dan bertemu dengan Ramadan dan Lebaran tahun berikutnya. Amin YRA.

Ari Kinoysan Wulandari

Pendampingan Penulisan Buku

Flyer pendampingan penulisan buku. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Ingin punya karya tulis sendiri tapi sering bingung mulai dari mana? Atau sudah mulai menulis tapi belum selesai-selesai?

Yuk, ikut program “1 Bulan 1 Naskah”

Program intensif yang dirancang khusus untuk membantu Anda MENYELESAIKAN tulisan, bukan sekadar memulai!

Apa yang akan Anda dapatkan?

✔️ 8x pertemuan (masing-masing 30 menit)

✔️ Materi praktis & aplikatif

✔️ Diskusi interaktif

✔️ Pendampingan langsung sampai naskah jadi

Jadwal: Sabtu & Minggu (menyesuaikan permintaan peserta dan kesepakatan)

Pukul: 09.00 – 09.30 WIB
Mentor: Ari Kinoysan Wulandari

Investasi: Rp1.500.000/orang

Transfer:
Ari Wulandari
BCA 0480013956

Kuota terbatas: hanya 10 peserta!

Pendampingan naskah terpisah satu per satu tiap peserta.

Segera daftar & konfirmasi:
WA: +62 813-8000-1149

Jangan tunda lagi; wujudkan naskah Anda dalam 1 bulan! Mulai bulan April 2026. Segera daftar sebelum kuota penuh. Karena menulis bukan soal bakat, tapi proses yang didampingi dengan tepat.

Ari Kinoysan Wulandari

Ramadan Tahun Ini: Allah Maha Baik

Gambar hanya sebagai ilustrasi, biar banyak uang banyak rezeki berkah. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Menjelang Ramadan tahun ini, jujur saja saya sempat ragu. Kondisi tubuh sedang tidak benar-benar sehat. Dalam hati saya bertanya-tanya: bisa enggak ya menjalani puasa penuh seperti biasanya? Tapi Ramadan selalu punya daya panggil yang kuat. Rasanya sayang kalau tidak mencoba. Jadi saya mulai saja dulu. Niat, bismillah, dan berharap Allah memberi kekuatan.

Tiga hari pertama puasa terasa sangat berat. Lapar sekali rasanya. Tubuh seperti terus mengingatkan bahwa kondisinya sedang tidak baik-baik saja. Beberapa kali muncul pikiran untuk membatalkan saja. Rasanya sangat manusiawi. Setiap kali keinginan itu muncul, hati saya juga berbisik, sayang sekali kalau batal.

Akhirnya saya bertahan. Hari demi hari lewat. Alhamdulillah, saya masih bisa melanjutkan puasa. Namun, tubuh punya batasnya sendiri. Di puasa ke-20, saya benar-benar drop. Kali ini tidak bisa dipaksakan lagi. Demi kesehatan, saya akhirnya menurut nasihat dokter: berhenti puasa sampai kondisi sehat kembali. Ada rasa sedih tentu saja, tapi saya juga percaya bahwa Allah Maha Baik. Dalam ibadah pun, Allah tidak pernah menghendaki hamba-Nya memaksakan diri.

Karena alasan kesehatan itu juga, Ramadan tahun ini saya banyak mengurangi aktivitas. Saya tidak menghadiri banyak undangan buka bersama, bahkan undangan dari adik dan ipar sendiri pun harus saya lewatkan. Mohon maaf untuk semua yang sudah mengundang. Praktis, saya hanya menghadiri bukber yang benar-benar dekat dan ketika kondisi tubuh sedang cukup sehat.

Hal lain yang berbeda tahun ini adalah soal parsel Lebaran. Biasanya saya cukup repot menyiapkan sembako atau parsel untuk dibagikan ke banyak orang (sesuai kemampuan keuangan saya), termasuk kerabat sahabat nun jauh-jauh di luar Jogja. Tahun ini rasanya energi dan tenaga tidak memungkinkan.

Jadi saya memilih cara yang lebih sederhana: angpao saja. Masukkan uang ke amplop, antar, selesai. Bahkan banyak yang saya transfer untuk lebih memudahkan karena tidak perlu mengantarkan ke ybs. Urusan jadi lebih cepat, lebih sunyi, dan tidak melelahkan. Tidak perlu belanja, packing, dan gotong-gotong yang biasanya cukup menguras tenaga dan waktu. Dan ternyata, cara ini juga terasa lebih praktis bagi yang menerima. Mereka bisa menyesuaikan sendiri dengan kebutuhan masing-masing.

Karena itu, saya sempat berpikir, mungkin tahun ini saya juga akan absen menerima parsel Lebaran. Lha saya nggak berbagi ke yang jauh-jauh. Lho ternyata tidak.🙈Syukurlah, masih ada kiriman parsel-parsel yang sampai ke rumah saya. Rasanya adem sekali di hati. Karena itu seperti tanda bahwa saya masih diingat sebagai penulis, sebagai relasi. Ada kiriman dari beberapa penerbit, dari dua PH, dan dari beberapa mantan klien.

Alhamdulillah, yang datang bukan makanan; malah hampir tidak ada makanan. Orang-orang mungkin sudah mulai berpikir memberi parsel yang praktis dan lebih bermanfaat. Jujurly, kalau makanan –apalagi makanan basah, sudah pasti harus saya bagikan lagi, terutama kalau jumlahnya cukup banyak. Karena nggak mungkin saya makan semuanya dan nggak mungkin disimpan terlalu lama; biasanya 3-7 hari wes nggak enak lagi atau berbeda rasa, aromanya (kalaupun disimpan di dalam kulkas).

Isi parsel yang saya terima kali ini justru beragam; berupa barang-barang yang bisa dipakai lama. Ada yang benar-benar bikin saya surprise: laptop. Wah, sangat bermanfaat ini. Selain itu ada tas tangan, kerudung, mukena dan sajadah, kipas angin duduk, minyak kelapa dan madu, minyak pijat ukuran besar, satu set mangkuk mie lengkap dengan sumpitnya, dan sepasang cangkir.

Dan yang paling bikin saya penasaran pas mau buka itu mini karpet ukuran 1 x 1,5 meter. Saya sempat mikir, ini isinya apa ya?Tertawalah saya saat tahu isinya 😀 Selain parsel dari PH, saya juga menerima dua angpao Lebaran dari dua produser. Alhamdulillah. Terimakasih ya Allah.😇

Di tengah Ramadan yang nggak sepenuhnya bisa saya jalani dengan maksimal, semua itu terasa seperti pengingat diri bahwa Allah benar-benar Maha Baik. Selalu ada cara-Nya menghadirkan rasa hangat, rasa syukur, dan rasa disayangi ❤️ Terima kasih untuk semuanya. Semoga Allah menggantinya dengan kebaikan berlipat berkah. Amin YRA.

Selamat menyelesaikan ibadah Ramadan.
Sebisa mungkin mari kita pol-polan ibadahnya di hari-hari terakhir Ramadan ini. Selamat mudik. Selamat berlebaran. Mohon maaf lahir dan batin.🙏

Ari Kinoysan Wulandari

Soul Conference 10 (SC10) [10] Tamat: Alhamdulillah. Terimakasih, Teman-teman Joglosemar

Display jajanan di toko oleh-oleh Banyuwangi. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Disclaimer:
Catatan ini mungkin nggak “nyambung” untuk Teman-teman non Soul Community (Soul Com), non warga Soulmates. Saya berasal dari Soul Com Joglosemar, Jogja🙏

Setelah menengok Mas Adin di RS, kami melanjutkan perjalanan ke toko oleh-oleh. Pas hari ke-2 saya sempat menanyakan ini ke Mas Robert. Lalu dia mengatakan bisa dikondisikan. Mbak Tika malah nanya ke saya (tempat) oleh-oleh mana. Saya menyebut 2 nama dan dipilihlah 1 sesuai SM.

Turun dari bus, saya wes tahu harus beli apa. Hitung jumlah tetangga kiri kanan, keluarga, dan orang-orang dekat. Wes begitu saja, masuk-masukin keranjang, didus, bayar. Di sini layanannya lumayan cepet, barang-barang terdisplay dengan baik; meskipun harganya yo lumayan 😂 Lha dus packingan standar untuk oleh-oleh tuh di Jogja, di mana saja mung 3 rb, lha di sini 8 rb 😁

Hihi, namanya juga perempuan. Mo punya duit pun tetep itungan. Lha selisih barang belanjaan 500 perak bae kita milih ke toko seberang kok. Padahal ke seberang itu butuh effort, bensin, waktu, dll. Tapi ya itulah istimewanya perempuan. No debat😁😂

Pas mau ke bus saya baru ingat, minuman manis habis. Jadi saya balik ke toko untuk ambil minuman. Harganya 5 rb an, waduh gakbisa QRIS ini. Harus pakai cash. Bu Rai malah meneriaki, “Sudah Mbak, saya bayarin saja (minumnya). Sini.”

“Wah, terima kasih banyak ya, Bu.” Nggak repot ambil cash di bus saya 🙈🙏

Di Ardial toko oleh-oleh ini lumayan komplit isi jajanannya. Tapi souvenir macam kaos, topi, ganci, batik, dll ora ono. Mung jajanan. Dan syukur alhamdulillah nya ada kopi-kopi asli Banyuwangi. Cobain deh kopinya. Enak lho. Nggak kalah sama kopi-kopi daerah lain di Nusantara 😁

Usai beres beli oleh-oleh, kami ke tempat makan malam. Saat itu diinfo oleh Mas Robert kalau perjalanan berubah arah, nggak lewat tol; tapi via Jember Lumajang. Saya langsung bilang alhamdulillah.

Beberapa teman saat makan malam. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Pertama, jelas dengan lewat jalan standar, tiba di Jogja wes padang njingglang, saya tenang aja mo turun di mana. Kalau lewat tol, mungkin masih dini hari jam 2 lewat sudah sampai Jogja; saya rada mikir kalau turun sendirian di jalan. Mungkin ya perlu thenguk-thenguk dulu di center. Kedua, menghemat biaya. Jelas non bayar tol duit masih ada sisa; dan beneran makan malam itu teman-teman nggak perlu bayar (lagi) sesuai tanggungan masing-masing.

Saya lupa nama warung makannya. Saya ikut turun tapi nggak makan. Selain karena masih kenyang bakso, SM saya kok kecil banget. Lhah ya, masakan pedas, porsi besar, dan model olahannya untuk seafood nggak bisa saya makan. Jadi saya mung thenguk-thenguk nemenin orang makan sambil lihat jalanan yang cukup ramai.

Setelah itu, kami balik ke bus dan lanjut perjalanan. Wes saya nggak inget lewat mana saja. Tidur. Tahu-tahu ki wes di Madiun. Subhanallah, nyenyak tenan saya tidur. Nggak terganggu situasi dll yang kurang bersahabat saat di jalan. Berasa laper. Turun cari makan minum sama Zaka, malah warung banyak yang tutup. Untung ada yang buka.

Standar kalau masuk warung makan di areal wisata atau manapun nggak ada daftar harga, nanya dulu daripada berantem di belakang. Coffeemix 10 rb. Soto 30 rb. Kerupuk 10 rb. Biyuuu, semua kok 2-3x lipat dari Jogja gitu😁 Saya mung senyum bae. Laper Ri, kamu nggak makan bisa ribet nanti. Jadi saya memesan semuanya. Alhamdulillah enak dan daging sotonya lumayan banyak.😀

Habis itu nyambung perjalanan ke Jogja. Kami berhenti di Sukoharjo saat Mbak Tika turun. Ngepos minum kopi lagi. Wes terang benderang di sini. Saya yo wes lumayan bugar sehat karena tidur nyenyak. Oh haha… pernah ada yang nanyain saya, bagaimana cara biar di acara setelah perjalanan jauh tetap sehat dan fokus.

Tidurlah saat di kendaraan . Kalau pas waktunya tidur, ya tidur. Jangan dipakai aktivitas lain. Ngobrol seperlunya, lalu tidur. Kecuali sampeyan bertugas penjagaan, dll ya beda urusan. Tidur di malam hari versi saya adalah istirahat yang nggak bisa diganti dengan apapun, termasuk dengan tidur siang. Kualitasnya beda.

Alhamdulillah, saya turun di imigrasi bandara Adisutjipto. Teman-teman lanjut ke Soul Center. Nggak lama saya sudah dapat mobil online dan pulang ke rumah. Seluruh acara SC10 wes rampung dengan membawa kebahagiaan dan kebaikan bagi saya.

Sarapan dini hari (karena nggak puasa). Kerupuknya lupa dipotret. Di rest area Madiun. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Perjalanan SC10 di Banyuwangi bukan sekadar agenda, bukan pula sekadar perpindahan raga dari satu kota ke kota lain. Ini adalah perjalanan pulang kepada diri sendiri, kepada makna, dan kepada rasa syukur yang sering kita simpan terlalu dalam.

Bersama teman-teman Joglosemar, setiap langkah dari sejak berangkat terasa ringan; meski ditempuh dengan jarak dan waktu yang tidak singkat. Kami berasal dari latar yang berbeda, membawa cerita hidup masing-masing. Namun di Banyuwangi semua melebur menjadi satu irama: irama belajar, bertumbuh, dan saling menguatkan.

Di tanah yang kaya akan budaya dan kearifan lokal itu, kami belajar bahwa spiritualitas nggak selalu hadir dalam keheningan yang sunyi. Ia justru muncul dalam rona tawa dan kegembiraan di sela perjalanan, dalam obrolan sederhana, dalam saling menunggu, dan saling memahami.

Setiap sesi SC10 membuka ruang batin yang membuat kita berani jujur pada diri sendiri, mengakui bahwa kita lelah, sekaligus menyalakan kembali semangat dan cahaya yang sempat redup.

Banyuwangi mengajarkan kita tentang kesederhanaan yang bermakna. Tentang bagaimana alam, budaya, dan manusia bisa selaras ketika hati mau mendengar. Dan teman-teman Joglosemar menjadi saksi bahwa perjalanan spiritual nggak harus dijalani sendiri. Justru, kebersamaanlah yang membuat setiap pelajaran terasa lebih dalam dan membekas.

Terima kasih untuk setiap senyum, sapaan, pelukan, bantuan, dan doa yang diam-diam dipanjatkan. Terima kasih untuk ruang aman yang tercipta, tempat kita bisa menjadi diri sendiri tanpa topeng. Terima kasih telah berjalan bersama, bukan untuk menjadi sama, tapi untuk saling menemani dalam proses pulang.

Semoga energi SC10 di Banyuwangi nggak berhenti di sana. Semoga semangatnya terus hidup dalam langkah kita setelah ini; dalam setiap keputusan yang lebih sadar, hati yang lebih lapang, dan jiwa yang semakin berani bertumbuh.

Terimakasih untuk Teman-teman Soul Joglosemar. Terimakasih Mas Robert, Mbak Tika, Mbak Fefty, Mas Sodam, Mbak Rischa, Mbak Zaka, Bu Rai, Dik Hana, Mbak Ririn, Bu Nyoman, dan semua teman seperjakanan Jogja Banyuwangi Pp. Terimakasih untuk Bunda Arsaningsih (spesial guru saya). Terimakasih untuk guru-guru yang lain; Pak Gede, Bu Iin, dr. Rastho, Bu Adek, Pak Agung, Bu Mariam, dr. Tya, Bu Gung, Mbak Rina, dll kru Soul panitia penyelenggara SC10. Terimakasih untuk seluruh teman Soul Community di manapun berada. Love you all. Mari terus bertumbuh menyeluruh.❤️ Teriring mohon maaf lahir batin kalau ada salah kata, salah tindak perbuatan atau salah tulis dalam catatan ini. 🙏 Sampai jumpa di Soul Conference berikutnya. 🤩💪🙏

Tamat
Ari Kinoysan Wulandari