
Alhamdulillah. Si putih kiri itu sapi kurban saya tahun 2026. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Tahun 2026 nyaris tengah tahun, Mei sudah di ujung. Tapi sepanjang Desember 2025 hingga ke April 2026 ini, bagi saya pribadi rasanya waktu yang sangat panjang. Suwe banget. Masalah kesehatan yang sejak Desember Februari jatuh bangun terus, bikin semua program kerja saya “rusak”.
Dan saya harus ikhlas, berdamai bahwa saya memang harus istirahat, kerja sedikit yang pokok-pokok saja. Alhamdulillahnya itu, saya masih utuh dapat rezeki dari gaji menetap sebagai dosen; sehingga sekurangnya kebutuhan rumah tangga saya dan anak-anak asuh masih tercukupi dengan baik.
Maret di ujung takbiran, saya malah jatuh di kamar mandi. Hal ini nggak cuman bikin saya mandheg aktivitas kerja, tapi beneran bikin hari-hari saya terasa lama. Beneran 1 bulan Maret-April saya harus rehat, lha jalan aja susah payah. Masih harus terapi macam-macam sesuai anjuran dokter agar lekas sembuh pulih. Aktivitas saya seperti hanya makan, mandi, tidur, ibadah sebisanya; dan kerja praktis hanya mengajar dengan duduk.

Saya dengan mahasiswa PBSI UPY usai kelas. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Kondisi itulah yang bikin saya sadar, bahwa saya itu nggak sendirian. Ada keluarga, ada saudara, ipar, ponakan, sahabat-sahabat, tetangga, kerabat yang semuanya baik dan peduli. Bahkan produser, penerbit, media pun ada yang peduli. Semuanya terasa menghangatkan hati.
Saya begitu gembira ketika di pertengahan April pas saya periksa, dokter bilang sudah pulih dan bisa beraktivitas normal lagi. Tapi perlu bertahap biar nggak kaget. Dan pilihan saya pertama, ikut piknik dengan ibu-ibu RT. Nggak jauh, cuman ke Air Terjun Jumog dan Sky Hills Kemuning. Cukup mengukur kekuatan fisik dan kaki saya. Cukup membuat saya kembali tertawa lebar, alhamdulillah betapa nikmat bahagia bisa jalan, lari, loncat bebas dengan kaki sehat. Maafkan saya, kaki-kakiku kalau selama ini saya kurang peduli; padahal kamulah penopang tubuh dan hidupku. Saya berniat menjaganya dengan lebih baik.
Nggak lama, sahabat saya dari Medan datang dan kami pun pergi piknik lagi. Semula mau trip ke Pangandaran yang eksotis, tapi mengingat waktu, energi, dll kesiapan; kami berubah arah eksplore Gunung Kidul ke areal baru yang belum kami tengok. Pantai Timang dengan gondola dan jembatan gantung; On The Rock, dan Sea Obelix. Jalan lagi dan ngukur kekuatan fisik mental. Alhamdulillah, ternyata saya wes baik-baik saja. Ya Allah, betapa nikmatnya sehat.

Saya dan ibu ibu RT 10 CGI di gerbang Kemuning Sky Hills. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Di Sky Hills Kemuning. Dari atas, kota Karanganyar terlihat indah. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Saya syukuran tenan itu. Duit yang saya punya kayak saya hambur-hamburkan bagi sana sini, nyumbang ini itu, ngundhuh arisan yo makan-makan besar, dan embuh berasa nggak mikir. Pokoknya saya ngerasa duit saya masih banyak…. dan ujug-ujug saya bingung pas lhoh saldonya kok tinggal segini, hahaha… Tapi yo weslah, nanti cari uang lagi lebih banyak. Daripada uang untuk biaya terapi, bayar dokter, beli aneka obat pahit, saya lebih senang kalau uang dibagi-bagi, untuk makan-makan, syukuran, dolan-dolan.
Dan Mei, mulailah saya bekerja full speed lagi. Memenuhi tunggakan tulisan. Ngisi beragam workshop, mendampingi peserta penulisan intensif, mengajar, pengabdian, dll. Hari-hari berlalu dengan cepat. Saya juga menambah program belajar untuk bisa nulis artikel internasional, menambah program skill persiapan pensiun.
Mei waktunya dekat berkurban itu, saya sempat mikir nggak kurban. Kan saldo saya wes nipis-piiis… ya ampun, 5 bulan nggak kerja sebagai freelancer bisa beneran bikin saldo kurus kering 😅 Tapi saya yo tenang aja itu…. Alhamdulillah saya wes sehat, nggak ada lagi biaya kesehatan dll yang cukup menguras kantong. BPJS saya ada dan bayar rutin, tapi wes embuh karena biasa bayar dhewe dan nggak mau beribetan kudu rujukan ini itu, selama saya sakit semua mbayar mandiri; sehingga bisa dapat layanan terbaik; milih sesuai kemampuan.

Saya dan duo bocil di Air Terjun Jumog. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Saya dengan sebagian ibu-ibu di pintu masuk Air Terjun Jumog. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Terus kulkas saya penuh makanan 😂😅 Alhamdulillah kayaknya 3 bulan pun nggak habis. Rumah-listrik-wifi aman, air-melimpah gas-ada, baju baru (selesai jahit 3 stel, wes banyak itu), pit sepeda untuk wira wiri deket ada, anak-anak asuh wes diberesin, iuran-iuran dan kruncilan di kampung wes dibayar; apalagi yang perlu uang? Kayaknya nggak ada. Jadi tenang bae saldo kurus. Besok dapat kerja besar ya gendut lagi 😀
Njur saya ingat, lhoh kan saya wes nitipin uang ke adik sejak tahun lalu untuk kurban. Alhamdulillah, tinggal minta transfer balik dan masih kurban sapi. Rasanya kurban tahun ini beda di hati saya, lebih seperti Alhamdulillah saya masih hidup sampai saat ini. Karena pas sakit itu beneran, saya berulang kali mikir apa ini waktunya saya kembali pulang. Tapi setiap menyentuh kaki saya masih hangat, saya tahu belum saatnya.
Saya sungguh mensyukuri semuanya yang ada pada diri saya, pekerjaan saya, keluarga saya, lingkungan tetangga saya, relasi-relasi, persahabatan… Dan itu jadi panjang banget nyebutinnya. Bener ternyata, kalau kita bersyukur nggak akan cukup waktu menghitung semua karunia Tuhan.

Ngundhuh arisan ibu-ibu RT 10 CGI. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Lalu saya mendapatkan statemen bahwa kita juga wajib mensyukuri hak-hal yang belum (nggak) ada. Misalnya kita biasanya diajari untuk mensyukuri pasangan (suami/istri) kita, anak-anak kita (bagi mereka yang sudah punya) karena itu bisa jadi belum atau nggak dimiliki orang lain. Tapi yang belum atau nggak punya, ya tetep kudu bersyukur. Kok bisa?
Belum punya pasangan berarti bebas beribadah tanpa gangguan. Bisa berangkat bekerja tanpa diribetin urusan rumah tangga, anak-anak. Lajang-lajang juga bisa pergi bebas tanpa perlu izin. Mau tidur kapan saja nggak ada yang perlu merasa terabaikan. Uang hasil kerja mo dihabiskan sendiri yo gapapa. Mau sekolah atau belajar lainnya nggak harus izin ninggalin keluarga, dll. Intinya kalau kita bisa melihat segala sesuatu yang positif dari sesuatu yang nggak ada, kita pun nggak akan kehilangan syukur.


Terimakasih Teman-teman yang “menengok” saya pas sudah sembuh. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Itu beneran mengguncang hati saya. Oh iya ya, selama ini saya bisa begitu banyak kerja dan piknik jauh tanpa gangguan, salah satunya karena belum menikah, belum ada pasangan. Saya bebas melakukan semua urusan saya tanpa perlu kompromi dengan pihak lain.
Saya pun menangis sejadinya. Satu hal yang belum pernah saya syukuri adalah keberadaan saya yang lajang sekian lama itu. Seringkali saya merasa mereka (perempuan perempuan yang menikah) lebih bahagia daripada saya. Sekurangnya, kalau sedang jatuh sakit ada pasangan yang mengurus, ada anak-anak yang peduli.
Sementara saya dan juga perempuan lajang lainnya, mungkin harus berjuang sendirian. Apalagi kalau tipikal introvert yang sulit “meminta tolong” pada pihak terdekat sekalipun. Dalam pandangan sederhana saya, sekurang-kurangnya masalah kehidupan lebih mudah diselesaikan kalau 2 kepala yang memikirkan daripada ditanggung sendirian.

Saya dan sahabat jalan di jembatan gantung, Pantai Timang. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Sisi lain Pantai Timang. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Saya nyaris lupa, bahwa nggak pernah ada cerita perempuan lajang mandiri yang mati karena memilih sendiri atau nggak menikah. Namun begitu banyak perempuan mati (sekurangnya mati dalam hidupnya) karena berada dalam pernikahan dengan pasangan yang salah. Kasus-kasus KDRT, nggak dinafkahi, hidup dalam pernikahan punya suami tapi serasa janda yang pontang-panting sendiri, hidup dengan mertua-ipar yang buruk, dll kasus yang rasanya juga sering mampir di telinga saya.
Saya pun memutuskan untuk recharge energi lagi. Mensyukuri keberadaan lajang yang selama ini nyaris nggak pernah saya lakukan. Saya (kadang) menganggap lajang itu juga masalah dalam beberapa hal, terutama kalau harus datang ke kondangan, reunian, dll. undangan formal. Begitu banyak ujian, sindiran, cibiran, dll hal sejak paruh umur semestinya saya menikah. Selama ini yang membuat saya bertahan kuat, karena sadar saya nggak numpang hidup sama mereka. Selain itu, kata-kata setajam apapun hanya melukai hati kalau saya mengizinkan masuk. Kalau saya lewatkan, ya sudah tertiup angin.


Usai mengisi workshop penulisan di Disspusip Gunung Kidul. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Saya mulai berpikir serius ya saat sakit itu. Memang saya bisa bayar orang untuk jagain, urus ini itu, dll tapi apa iya akan begitu terus? Sempat terpikir begitu, sekarang saya ubah pandangan. Syukurlah, meskipun lajang, sakit, saya masih ada banyak rezeki untuk bayar orang ngurusin saya, terapi terbaik sehingga cepat sembuh, beli obat terbaik, konsultasi dengan mudah, dan masih ada pekerjaan yang memberi penghasilan. Juga masih begitu banyak cinta dari orang-orang terdekat. Bukankah lebih ngeri kalau wes lajang, sakit, nggak ada uang dan tergantung belas kasihan orang?
Saya syukuri saja apa-apa yang semula saya anggap sepele itu. Dan tiba-tiba hidup saya terasa lebih banyak bahagia, lebih banyak sukacita, lebih banyak tertawa yang membuat hati begitu ringan. Ya Allah, ternyata begitu banyak hal yang masih lupa saya syukuri. Mohon ampuni saya ya Allah. Mohon sehat lahir batin, selamat dunia akhirat. Amin YRA.
Jadi, kalau kamu belum atau nggak memiliki sesuatu seperti keumuman orang lain, ya wes syukuri saja. Lihat sisi positifnya. Temukan hal-hal baiknya. Dan rasakan hidupmu ternyata lebih banyak bahagianya.
Ari Kinoysan Wulandari

















