Museum Angkut Malang: Menembus Ruang dan Waktu

Areal depan Museum Angkut. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Usai makan siang, saya wes tidur bae di bus. Beberapa kali terbangun, yo tidur lagi. Mulailah sebagian badan terasa pegel-pegel lepas eksplore Tumpaksewu. Saya bangun lagi ketika bus berhenti di Museum Angkut, Batu, Malang. Pinginnya lanjut tidur, lah tapi semua orang turun. Saya pun belum pernah ke tempat ini. Melongok halamannya yang kayaknya luas itu, beuh, kaki maunya mager bae.

Toh saya turun juga. Yang saya ingat diberi waktu sampai jam 8 malam. Sekarang nyaris jam 5. Sebenarnya 3 jam bukan waktu yang panjang untuk menjelajah tempat sebesar itu. Tapi selama 3 jam jalan maning, belum tentu kaki saya mau. Apalagi kalau di dalam banyak tempat duduk dan kafe, wes jelas akan beda haluan nanti😂

Udara Batu yang sejuk masih terasa saat masuk areal musem. Matahari sudah mulai turun, tapi hari belum benar-benar gelap. Saya masuk sambil mikir, kira-kira sempat lihat apa saja sampai jam 8 nanti?

Saya nggak tahu harga tiketnya, yang jelas jarene lumayan. Cek sendiri aja ya. Begitu dapat gelang tiket dari biro, saya njur nanya petugas jaga alur keliling dari mana ke mana dan yang paling harus saya lihat bagian mana. Eh Mbak-mbake yang cantik-cantik itu cukup detail dan ramah njelasinnya. Oke, saya akan ikuti petunjuk untuk hemat waktu.

Mobil dan helikopter kesayangan Bung Karno. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Rombongan saya, wes embuh saya nggak lihat lagi. Mungkin sudah nggak sabar eksplore duluan. Tapi ini bukan areal wisata berat atau berbahaya, biar saja yang sudah berkeliling, nanti juga ketemu lagi.

Begitu masuk ruang pertama, saya langsung disambut berbagai kendaraan yang dipajang dengan sangat menarik. Bukan hanya kendaraan yang diletakkan di satu ruangan, tapi dibuat dalam suasana dan latar yang berbeda-beda.

Saya jadi ngerasa nggak sedang berada di museum. Saya seperti diajak berjalan-jalan melewati berbagai zaman, menembus ruang dan waktu. Eh di sisi kiri ada kendaraan kesayangan Bung Karno (sang Proklamator) juga. Waaah, mantap…!

Ada mobil-mobil tua yang membuat saya berhenti cukup lama. Bentuknya unik, sebagian terlihat berbeda banget dengan kendaraan yang biasa kita lihat sekarang. Saya memperhatikan detailnya sambil sesekali mengambil foto.

Salah satu kendaraan di Museum Angkut. Ford model A tahun 1929. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Dalam hati saya mikir, kendaraan yang bagi kita sekarang itu hanya benda museum, pada masanya mungkin merupakan kendaraan yang bergengsi dan membanggakan. Mungkin juga hanya golongan pejabat atau bangsawan tinggi yang bisa memilikinya.

Ya, sejarah ternyata bisa dilihat dari sebuah kendaraan. Dan itu menarik. Saya berjalan lagi.
Satu sudut belum selesai saya nikmati, sudah ada sudut lain yang bikin saya ingin berhenti. Jadinya saya biarkan begitu saja: saya jalan, melihat-lihat, berhenti, foto, jalan lagi, lalu berhenti lagi.

Kalau ada yang mengatakan 3 jam cukup untuk eksplore museum, saya rasa cukup untuk melihat-lihat. Tapi untuk benar-benar menikmati, apalagi kalau ikutan baca keterangannya, rasanya masih kurang lama.

Jam 6 lewat, suasana mulai berubah. Langit semakin gelap. Lampu-lampu mulai menyala. Museum yang tadi terlihat terang dengan nuansa sore perlahan berubah menjadi lebih dramatis.

Bentuk kendaraan di satu sisi Museum Angkut. Modalnya seperti Mercedes pertama milik Paku Buwono X dari Solo. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Nah, bagian ini yang saya suka. Kalau tadi saya lebih banyak memperhatikan kendaraan, sekarang saya mulai memperhatikan suasananya. Di areal luar museum beneran terlihat cantik.

Saya cari tempat yang bagus untuk berfoto. Kadang saya berdiri sebentar hanya untuk mencari sudut yang pas. Maklum, kalau sudah menemukan latar yang bagus, rasanya sayang kalau nggak diabadikan.

Habis itu, saya sampai di kawasan Gangster Town. Suasananya berbeda lagi. Bangunan dan latarnya dibuat seperti kawasan kota lama. Ketika lampu mulai menyala, tempat ini terasa semakin hidup. Saya seperti sedang masuk ke sebuah kota dari masa lalu.

Di sinilah saya mulai sadar bahwa Museum Angkut bukan sekadar tempat untuk melihat koleksi kendaraan. Yang membuat menarik justru bagaimana kendaraan-kendaraan tersebut ditempatkan dalam satu cerita yang utuh.

Mobil Ford model T di Museum Angkut. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Ada suasana kota. Ada bangunan. Ada kendaraan. Ada pencahayaan. Ada orang-orang. Ada kantor-kantor. Ada aktivitas. Semuanya seperti dirancang agar kita nggak hanya melihat benda, tapi juga membayangkan kehidupan pada masanya.

Semuanya itu di Museum Angkut mencakup moda transportasi darat, laut, dan udara. Di darat kita bisa melihat moda angkutan hewan, manusia (buruh gendong), manusia-hewan (kereta kuda, kereta sapi, dll), sepeda, gerobak, motor, mobil, dll. Untuk areal udara, ada beragam jenis pesawat dari sipil, militer, dan darurat; komersial dan non komersial.

Sementara untuk moda transportasi air atau laut jelas ada gethek, sampan, perahu, kapal dengan beragam bentuk, ukuran dan dari zaman yang berbeda-beda. Perahu (Jung) Majapahit pun ada. Perahu replika dari Dinasti Syailendra (pahatan di Candi Borobudur) pun ada. Komplitlah dengan detail keterangan. Tiketnya lumayan ya wajarlah….

Gerbang areal Pelabuhan Sunda Kelapa di Museum Angkut. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Saya menikmati areal itu pelan-pelan. Nggak ada orang lain. Nggak perlu terburu-buru. Potret sana sini benda-benda dan catatan keterangannya, tahu-tahu sudah nyaris jam 7 malam. Lho, kok cepat banget. Padahal rasanya baru sebentar saya masuk.

Ini memang salah satu penyakit kalau sedang jalan-jalan: waktu terasa jauh lebih cepat dibandingkan ketika sedang kerja. Saya pun mempercepat langkah. Masih ada beberapa sudut yang ingin saya lihat.

Usai dari areal pesawat, saya masuk areal balap mobil untuk nonton. Lho operatornya sudah nggak ada. Akhirnya saya keluar dan menuju areal Pelabuhan Sunda Kelapa. Sejarah zaman Majapahit hingga VOC cukup komplit di kawasan ini.

Habis itu saya bergeser ke mobil-mobil Amerika dan Eropa. Beranjak ke seberangnya di Barbie view, lalu mider kembali ke areal depan. Mengambil ulang beberapa foto yang masih saya rasa kurang.

Mobil-mobil jenis Chevrolet di Museum Angkut. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Dan tentu saja, saya nggak ingin pulang tanpa menikmati suasana malam Museum Angkut. Lampu-lampu semakin terlihat bercahaya. Beberapa kawasan menjadi lebih cantik ketika malam. Saya kembali mengambil foto, kali ini dengan suasana yang berbeda dari ketika pertama datang.

Saya senang datang sore. Kalau datang terlalu siang, mungkin saya hanya mendapatkan suasana terang. Dengan datang sekira jam 5, saya mendapatkan 2 suasana sekaligus: senja dan malam.

Seusai melewati kawasan Hollywood, saya naik kereta api di Stasiun Lama. Hahaha… dasar ndeso, saya pikir begitu masuk pintu, saya akan naik kereta api beneran. Oalah ternyata replika kereta dan bagian bawah (lantai) dibuat bergerak-gerak beneran dengan suara-suara persis seperti kalau kita naik pramex atau KRL.

Keluar dari situ saya njur ngapain ya itu? Oh melewati kafe-kafe dan tempat jualan aneka rupa jajan dan souvenir. Saya lupa diajak siapa untuk naik perahu atau bebek besar…. tapi saya menolaknya. Karena inget belum sholat, saya bergegas ke mesjid. Beuh, di mesjid maunya langsung rebahan dan tidur.😂

Mobil koleksi Barbie di Museum Angkut. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Saya mulai sadar bahwa waktu kunjungan tinggal sedikit. Usai sholat jamak Maghrib Isya, saya berjalan menuju bagian akhir. Sesekali melihat kembali tempat-tempat yang tadi saya lewati. Ada perasaan sedikit sayang. Belum puas. Kaki-kaki saya alhamdulillah nggak protes. Lempeng saja jalannya. Mungkin memang begitu rasanya kalau menikmati perjalanan. Ringan dan ada rasa ingin tinggal lebih lama.

Setelah beneran puas memandangi tempat-tempat di belakang saya, saya pun keluar dari Museum Angkut. 3 jam sudah saya habiskan. Saya masuk museum ketika matahari masih menyisakan cahaya sore. Saya keluar museum ketika malam sudah benar-benar turun.

Saya seperti melakukan perjalanan melewati ruang dan waktu. Saya melihat kendaraan dari berbagai zaman, menikmati bangunan dan suasana yang dibuat berbeda-beda, berfoto, berjalan santai, dan sesekali hanya berdiri menikmati tempat.

Tanda cinta Barbie di Museum Angkut. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Kalau ditanya apa yang paling saya suka dari Museum Angkut? Bukan satu kendaraan tertentu. Bukan pula satu spot foto tertentu. Saya lebih suka pengalaman berjalan dari satu suasana ke suasana lainnya. Dari sore menuju malam. Dari kendaraan lama menuju kendaraan yang lebih modern. Dari satu kawasan ke kawasan lain. Dan yang paling menyenangkan, saya bisa menikmati semuanya dengan cara saya sendiri.

Nggak perlu buru-buru. Nggak perlu mengejar terlalu banyak tempat. Cukup berjalan, melihat, membaca, mengambil foto, lalu menyimpan kenangannya. Ternyata 3 jam di Museum Angkut bisa menjadi perjalanan kecil yang cukup panjang untuk dikenang. Alhamdulillah.

Datanglah ke sana ya Friend… Kenali sejarah bangsamu lewat moda transportasi. Pastikan fisikmu sehat, waktumu cukup, memori kamera/hp mu leluasa untuk bisa menikmati seluruh areal, koleksi, dan kenangannya.

Oh iya, trip saya ini juga masih diorganize oleh Lestari Wisata. Sampeyan bisa hubungi Mas Imam di 0856-2550-428 atau cari sosmednya saja nanti ketemu. Trip bersama Lestari Wisata bagi saya serasa trip privat. Banyak kemudahan dan pengaturan waktu yang terencana dengan baik.

Kawasan Hollywood di Museum Angkut. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Saya dengan kondisi yang sudah lelah dari Tumpaksewu, toh masih sanggup jalan mider 3 jam, oh itu sungguh hebat. Berarti saya sebenarnya sudah cukup istirahat dari rentang waktu dan jarak antara Tumpaksewu ke Museum Angkut. Kalau nggak nyaman dan beneran tepar, biasanya saya akan memilih safety. Tetap di bus tidur atau ya njogrog saja duduk di kafe menikmati makan minum.

Saya doyan dolan, bahkan ke daerah-daerah ekstrem; tapi di luar itu semua saya memastikan fisik mental saya sanggup, ada pemandu profesional, dan tempat-lingkungan-alam-orang secara umum aman. Biar kata orang gampang aman pun, kalau versi saya nggak nyaman, saya akan mundur. Itu standar keselamatan pribadi. Feeling personal yang hanya saya yang tahu.

Sampai jumpa lagi di catatan trip saya berikutnya. Kawah Putih dan Danau Situ Patenggang.

Ari Kinoysan Wulandari

Air Terjun Tumpaksewu, Siapkan Kakimu untuk Menikmati Keindahannya

Areal sekitar transit ke air terjun Tumpaksewu. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Saya masih antara iya atau enggak untuk berangkat ke Tumpaksewu ini. Gaweyan sedang banyak deadline yang cukup menguras energi. Secara umum saya wes ngerti; bahwa ke air terjun bukan sekedar berjalan. Butuh waktu, energi, dan stamina yang prima. Karena sudah merasa membayar lunas, saya pun memutuskan pergi saja. Nanti lihat kalau sudah di dekat TKP, cek-cek kondisi dan kaki-kaki.

Saya segera packing sesuai yang dilistkan biro. Rapi detail, sehingga saya nggak perlu mikir lagi apa saja yang perlu saya masukkan ke backpack. Saya masukkan keperluan pribadi saya sesuai list. Ada saran untuk menggunakan sandal gunung, pakaian ringan mudah kering, jas hujan/payung/topi, tas ringan tahan air untuk eksplore areal air terjun.

View cantik di depan tempat transit. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Oke, kecuali sandal gunung; semuanya saya siapkan. Jujurly saya ora duwe sandal gunung. Ke areal basah (air terjun, danau, pantai) biasanya nyeker alias nggak pakai alas kaki atau ya sandalan jepit. Dari review lokasi yang jauh, licin, basah, berbatu; saya berpikir untuk beli sandal gunung. Kalau piranti baru, kaki saya jelas butuh penyesuaian, belum kalau lecet karena gesekan…. wes malah nanti repot. Jadi saya memutuskan bawa sandal jepit yang alasnya bulat-bulat (nggak akan tergelincir, kepleset) yang biasa saya pakai. Alhamdulillah lancar pas eksplore. Untuk temen-temen yang mau ke Tumpaksewu, sebaiknya pakai sandal gunung yang sudah biasa dipake ya, jangan baru. Lebih aman, nggak khawatir lepas terbawa arus.

Sekitar jam sembilan malam, saya wes meninggalkan Jogja. Saya banyak tidur, jadi tahu-tahu wes sampai tempat transit di Lumajang saat jelang Shubuh. Standar di sini ya bebersih, olga singkat, sholat, istirahat, makan. Saya mulai ngitung kekuatan diri. Cukup enggaknya untuk ke air terjun. Kasak-kusuk cari info ke mereka yang sudah pernah ke air terjun. Wah, jalannya lumayan. Njur turun tangga ke lokasi air terjun, nggak lumayan lagi, tapi berat. Nanti naiknya, lebih berat lagi.
Lebih kurang 5-6 jam itu saya harus sanggup terus berjalan dengan medan yang nggak biasa (basah, licin, berbatu, arus deras, tangga turun naik). Mungkin hanya akan terjeda di 4-5 titik kumpul atau tempat istirahat.

Di areal pengecekan tiket masuk air terjun Tumpaksewu. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Piye Ri, sanggup ora? Mangkat ora? Saya menanyai diri sendiri. Ada keinginan untuk break saja; karena kaki saya habis recovery panjang setelah jatuh. Ntar kalau sakit lagi lebih repot. Tapi kalau sudah sampai sini, nggak berangkat, njur ngapain capek-capek tidur di perjalanan? Tidur di rumah saja enak nyaman. Bismillah, akhirnya saya memilih berangkat. Janji pada diri sendiri nanti kalau nggak kuat, ya mundur balik.

Jalanan awal ke areal panorama Tumpaksewu masih jalan darat, lempeng. Orang sudah banyak di lokasi meskipun saya berangkat pagi-pagi, sekitar 6.30 WIB. Tumpaksewu terkenal dengan aliran airnya yang melebar seperti tirai putih di antara tebing-tebing hijau. Dan begitu melihat secara langsung, Subhanallah saya nggak berhenti takjub memuji kebesaran sang Pencipta. Luar biasa indahnya. Matahari pagi membuat kilauan air seperti perak memutih nan elok rupawan.

Foto-foto dan video nggak cukup mudah di tempat ini. Karena banyak orang datang di akhir pekan, spot-spot foto harus antri dan kudu secepat kilat tanpa sempat ngecek hasilnya bagus atau enggak, sudah harus ganti orang; karena kapasitas tempatnya pun terbatas. Saya lebih banyak merekam dalam hati dan pikiran. Nggak cukup kata untuk menggambarkan keindahan tempat ini. Luar biasa…!

Di gerbang air terjun Tumpaksewu. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Setelah dari areal gerbang ini, barulah the real journey dimulai. Saya harus menuruni tangga tangga menurun yang masyaallah jumlahnya nggak terhitung, entahlah. Banyak sekali. Tapi prinsip saya cuma satu, melangkah dua kali. Kaki kiri, kaki kanan. Nggak terlalu berasa capek karena semburan air dari berbagai sisi air terjun terasa di mana-mana sejak mulai menuruni tangga.

Semakin dekat dengan air terjun Tumpaksewu, pemandangan di sekitar jalan semakin menarik. Pepohonan hijau, perbukitan, dan udara yang terasa lebih segar membuat perjalanan lebih enteng. Suara air mulai terdengar dari kejauhan. Awalnya samar. Semakin dekat, suara gemuruhnya semakin jelas.

Saya mulai nggak sabar. Dan akhirnya saya sampai di titik pandang. Saya terpesona. Di depan mata saya terbentang Tumpaksewu. Air yang jatuh dari tebing tampak seperti tirai putih raksasa. Alirannya begitu banyak dan melebar, sementara di sekelilingnya terdapat tebing dan pepohonan hijau. Pemandangan itu benar-benar berbeda ketika dilihat secara langsung. Saya bisa mendengar suara gemuruh airnya. Saya bisa merasakan udara sejuknya. Saya bisa melihat betapa luas dan megahnya alam di hadapan saya.

Areal bawah air terjun Tumpaksewu. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Saya berdiri cukup lama hanya untuk menikmati pemandangan. Rasanya seperti mendapatkan kesempatan untuk berhenti sejenak dari kesibukan sehari-hari.
Setelah puas menikmati pemandangan, saya mulai mengambil foto dan video. Namanya juga perjalanan ke tempat sebagus ini, rasanya sayang kalau nggak diabadikan. Tapi seperti yang saya bilang sebelumnya, foto-foto dan video di sini nggak mudah. Terlalu banyak orang, terlalu lama antrean.

Saya tertawa sendiri pas melihat banyak foto yang nggak sesuai harapan. Ada yang matanya merem. Ada yang posisinya kurang pas. Ada yang tiba-tiba figuran ukuran besar (orang lewat) di belakang. Tapi justru foto-foto seperti itulah yang nantinya menjadi kenangan paling menyenangkan. Saya juga mengambil foto pemandangan tanpa orang. Air terjun, tebing, pepohonan, dan langit menjadi satu kesatuan yang indah. Saya ingin menyimpan sebanyak mungkin suasana Tumpaksewu hari itu. Bukan hanya untuk dipamerkan, tapi untuk dikenang.

Areal bawah air terjun Tumpaksewu. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Setelah cukup lama berfoto, saya akhirnya berhenti. Saya hanya duduk dan memandangi air terjun. Nggak ambil foto. Hanya diam, menikmati suara air. Pada saat seperti itu saya kembali menyadari bahwa sesekali manusia memang perlu berhenti dari rutinitas. Kita terlalu sering sibuk mengejar sesuatu sampai lupa menikmati hidup. Sampai di areal bawah air terjun Tumpaksewu itu, sungguh bagi saya sesuatu yang amazing… alhamdulillah kaki-kaki saya kuat sampai di sini.

Di Tumpaksewu, saya belajar untuk menikmati perjalanan tanpa buru-buru. Saya juga tahu, mengukur kekuatan diri di medan-medan berat seperti ini sangat penting. Jujur pada diri sendiri. Kalau kuat, majulah. Kalau nggak sanggup, mundurlah dengan bijak. Kalau nanggung itu cuman merepotkan diri sendiri dan orang lain, juga mengganggu kenyamanan secara umum.

Perjalanan belum usai. Dari Tumpaksewu, saya ke seberang ke Goa Tetes. Tempat ini lebih sepi dari lokasi air terjun Tumpaksewu. Isinya lebih banyak bule-bule fakir miskin (baca: kurang baju)… haha… ya mestinya pakaian merekalah yang benar. Pakai bikini atau baju renang di areal air basah begini. Cuman format budaya timur kita yang masih terasa “aneh” melihat orang-orang jalan di tempat umum setengah telanjang. Oh ini hanya intermezzo, meskipun di Bali kadang saya juga masih berasa kenapa Indonesia nggak bikin “standar minimal” berbaju layak di seluruh areal umum, termasuk tempat wisata, bagi siapapun –warga lokal atau wisatawan domestik dan asing.

Di areal Goa Tetes. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Saya nggak terlalu lama di tempat ini. Jam 9.30 an WIB sudah mulai mendaki tangga, yang seriusan bikin saya menggos-menggos. Areal air, basah, arus juga bikin jalan saya makin lambat. Bayangin saya yang biasa jalan dan olga bae, ini berat. Sungguh bukan piknik yang disarankan untuk kaum mageran yang ke TKP hanya untuk pamer narsis dengan posting foto-foto di medsos.

Saya lelah banget. Pingin nyerah saja. Lemes rasanya, jalan terus dari pagi. Tapi di sini nggak ada jasa gendong, lift, eskalator, atau kabel tram yang bisa bawa saya langsung ke atas. Mau nggak mau, suka nggak suka, yo kudu jalan naik tangga sampai titik keberangkatan. Meskipun merambat ya tetap kaki kiri, kaki kanan saya naik. Tiap pos istirahat, saya berhenti dan pesan minum. Ya ampun, saya menolak makanan apapun sepanjang jalan karena menjaga kondisi perut agar nggak berulah. Wooh, durian gemuk-gemuk daging, katanya manis-manis, murah-murah tenan di sini. Butuh lebih dari kesadaran untuk menolak dan nggak makan durian bagi penggila durian seperti saya. Kondisi tubuh panas karena jalan mendaki, ditambah durian yang juga makanan panas… tubuh saya bisa meradang dadakan. Jadi saya pilih safe, nggak makan durian dulu.

Melanjutkan perjalanan yang seolah nggak pernah usai itu, bikin saya bolak-balik menyemangati diri. Ayo Ari, dua tangga lagi, dua tangga lagi… Bisa Ari, bisa, sudah berkurang dua tangga…. Dan setelah sejam lebih, saya sampai di titik kumpul awal. Alhamdulillah. Jalan sudah darat, aspal landai. Saya milih jasa ojek bae ke tempat transit. Lupa ya itu bayar 15 rebon kayaknya.

Di areal Goa Tetes. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Hampir jam 12 an saya tiba di tempat transit. Mandi. Segar dan enteng rasanya. Mengoleskan minyak zaitun ke seluruh tubuh (mencegah bengkak dan memar tubuh), makan siang dan minum p*racet*mol (ini versi saya sendiri, kalau habis aktivitas lapangan berat begitu untuk mencegah demam dan nyeri). Setelah sholat Dhuhur jamak, perjalanan pun dilanjutkan. Saya wes nggak terlalu ingat lagi, tertidur. Lelah fisik raga, tapi puas hati jiwa. Alhamdulillah.

Hingga saya menuliskan ini, sungguh saya masih takjub pada diri sendiri. Luar biasa, di usia yang nggak lagi belia; Allah masih memberi saya kesempatan untuk sampai di tempat wisata yang versi saya sungguh berat ini. Ke kawah Bromo nggak ringan. Ke kawah Ijen dan areal Blue Fire tantangannya 2x dari ke kawah Bromo. Ke Tumpaksewu butuh 2x energi lebih dari saat ke Kawah Ijen Blue Fire. Siapkan saja fisikmu yang sehat, langkah kakimu yang kuat sebelum gegayaan mo eksplore Tumpaksewu.

Air terjun Tumpaksewu dari kejauhan. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Oh iya, trip saya kali ini diatur dan diurusi oleh Lestari Wisata yang super. Ramah, profesional, bersahabat, nyaman, mudah, makan-minum-snack-buah-buahan full enak-enak sepanjang perjalanan, armada dan kru mantap, guide-fotografer-TL oke, dan yang pasti harga sangat terjangkau –pun bisa dicicil. Saya sangat terbantu dengan layanan full makan (wes nggak mikir mo makan apa, di mana, harga berapa —tenang kenyang) dan minuman mandiri. Di armada disediakan dispenser panas dingin netral, sendok-gelas sekali pakai, aneka jenis minuman instant.

Di perjalanan saya tetap banyak minum biar nggak dehidrasi. Kalau nggak ada ini, tiap perhentian atau rest area sekurangnya saya harus keluar uang 7 rb – 25 rb per cup/botol tergantung minuman dan tempat pembelian; dikalikan sekurangnya 10-12x untuk 2 malam 1 hari, wes gari ngitung uang yang keluar. Halah, namanya juga perempuan, mbok punya duit yo tetep petung😂

Untuk kontak Lestari Wisata, sampeyan bisa cari Kang Imam atau Mas Imam (begitu saya memanggil) di nomor 0856-2550-428. Rekomendasi layanan wisata dan berbagai kegiatan sejenis. Atau cari saja sosmednya ntar ketemu.

Sampai jumpa di trip berikutnya, yaitu catatan saya tentang Museum Angkut. Tunggu ya….

Ari Kinoysan Wulandari

Buka Dulu Kulkasmu…!

Ilustrasi kulkas penuh bahan makanan dan minuman. Bukan kulkas saya. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Tantangan terbesar kalau masak sendiri, belanja bahan mentah, itu kebocoran anggaran karena nggak ngecek ketersediaan bahan yang masih ada atau masih cukup. Biasanya karena kita langsung cuuuz…. belanja ke pasar, ke supermarket, bahkan ke gerai bahan tertentu tanpa persiapan.

Setiba di tempat belanja; laper mata, laper mulut, promo diskon, tawaran produk baru, bundling yang kayaknya lebih murah, dll godaan saat kita belanja; itu hal biasa. Nggak sedikit dari kita yang tergoda beli, meskipun pas sampai rumah njur: ngapain ya tadi dibeli? Lah ini ternyata saos kecapnya masih banyak. Udangnya masih ada juga.

Saya pun sering begitu. Sepulang dari tempat belanja dengan tas penuh, tapi saat buka kulkas justru menemukan sayuran yang masih segar, telur yang baru berkurang 2 butir dari wadah, atau aneka bumbu praktis yang ternyata masih cukup tersedia.

Akibatnya, bahan makanan njur numpuk. Sebagian nggak sempat dimasak, sebagian (harus merana) berakhir di tempat sampah. Kebiasaan sepele yang sering (saya) abaikan inilah yang bikin pengeluaran “makanan” membengkak tanpa saya sadari.

Belajar dari pengalaman itu, sebelum belanja, saya cek, buka kulkas dulu. Lihat apa saja yang masih tersedia, periksa tanggal kedaluwarsa, dan pisahkan bahan-bahan makanan yang harus segera diolah. Kadang kalau ngerasa dalam waktu tertentu, semua bahan makanan itu wajib habis, saya pilih nggak jadi belanja. Habiskan dulu. Karena kalau sudah ada bahan baru, kadang njur malez masak dan makan yang rada lama-lama di kulkas. Terus akhirnya dibuang juga 😂🙈

Kebiasaan ini ternyata membantu saya lebih sadar “kebutuhan” bukan “keinginan”. Buka kulkas juga bantu saya bikin daftar belanja yang lebih variatif. Nggak mengulang perbelanjaan bahan masakan sebelumnya, kecuali bumbu-bumbu dan bahan dasar.

Buka kulkas dulu juga mendorong kreativitas dalam memasak. Sepotong tahu, beberapa wortel, sedikit daging ayam, dan sawi mungkin tampak nggak berarti jika dilihat satu per satu. Dengan sedikit kreativitas, semuanya dapat dibuat jadi sup hangat, tumisan lezat, atau nasi goreng yang sesuai selera. Saya belajar memanfaatkan apa yang sudah ada sebelum membeli yang baru.

Selain menghemat uang, kebiasaan ini juga membantu mengurangi limbah makanan. Organisasi pangan dunia mencatat bahwa jutaan ton makanan masih layak konsumsi terbuang setiap tahun. Sebagian besar berasal dari rumah tangga yang membeli lebih banyak daripada yang benar-benar dibutuhkan. Padahal, setiap bahan makanan yang terbuang berarti ada air, energi, tenaga petani, dan biaya distribusi yang ikut terbuang. Dan tentu saja, uang kita… yang kita dapetin dengan kerja.

Cara sederhana ini juga baik bagi kesehatan. Saat mengetahui persediaan di rumah, bikin kita lebih mudah merencanakan menu yang seimbang. Kita nggak tergoda beli makanan instan atau camilan berlebihan. Belanja pun menjadi lebih terarah dan efisien.

Jadikan buka kulkas sebagai ritual sebelum berbelanja. Setelah itu, buat daftar kebutuhan dan usahakan untuk mematuhinya saat berada di toko. Dengan cara ini, isi kulkas lebih tertata, anggaran rumah tangga lebih terkendali, dan makanan yang kita beli benar-benar kita makan.

Ternyata, hidup hemat nggak selalu dimulai dari dompet. Bisa juga dari pintu kulkas yang kita buka beberapa menit sebelum berangkat belanja. Kebiasaan kecil ini mungkin terlihat sepele, tapi jika dilakukan secara konsisten, manfaatnya akan terasa bagi keuangan keluarga, kesehatan, dan juga lingkungan.

Oh iya, saya share pengalaman memasak secara mandiri kemarin dan tentang buka kulkas hari ini bukan untuk ngajak siapapun hidup bersulit-sulit diri, berhemat-hemat. Apalagi buat mereka yang duitnya berlebihan. Ini bagian dari lifestyle saya untuk tetap menikmati hidup, sehat, enak-nikmat berkelanjutan sesuai kemampuan.

Ibarat kata kalau dengan 20%-30% X saja dengan tambahan effort yang nggak terlalu banyak untuk mendapatkan Y, kenapa kita harus bayar 100% X untuk Y yang sama (dengan point tanpa effort)? Versi saya, kalau dalam kurun waktu tertentu kita nggak bisa dengan cepat menambah nilai penghasilan karena beragam kondisi dan inflasi, maka gaya hidup harus berubah.

Tentu saja, ubahlah gaya hidup dengan bijak tanpa mengurangi nilai, kesehatan, keselamatan, ketenangan, kebaikan jangka panjang. Jangan terlalu frontal juga, nanti malah stres. Misalnya biasa ngopi 4x-5x sebulan di kafe njur nggak sama sekali, percayalah sampeyan akan stres sendiri. Tapi kalau bertahap, 4x sebulan, 3x sebulan, 2x sebulan, 1x sebulan njur 0x sebulan; itu prosesnya lebih mudah.

Saya memilih belanja dan masak sendiri, beli sesekali karena pertimbangan budget pada awalnya gegara kenaikan pajak dll. Dan ya, membuat badan saya lebih sedikit banyak gerak di luar jadwal olahraga. Ternyata dengan sisa anggaran 70%-80% itu saya bisa berbagi lebih banyak, piknik deket-deket lebih sering karena enteng saja saya lakukan tanpa perlu menambahkan atau mengambil anggaran lain. Hidup memang pilihan dan pilihannya ada di tangan masing-masing.

Ari Kinoysan Wulandari

Masak Sendiri, Berhemat yang Sehat dan Nikmat

Makanan dengan semua bahan frozen digoreng cepat, kecuali nasi, jus sirsak, dan es teh. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

“Bu Ari siy gampang. Nggak usah masak, beli makan online pun jadi. Nggak banyak orang yang perlu makan.”

Itu sebagian komentar yang biasa saya terima dari sekitaran. Betul, saya pengguna jasa makanan online cukup lama karena alasan kepraktisan. Bahkan dulu sebelum ada layanan tersebut, saya juga sudah biasa langganan katering tertentu 2x perhari terus menerus nonstop. Tapi saat layanan makanan online mengenakan tambahan charge, pajak, kurir, parkir, packaging yang nggak ringan itu; sejak Des 2024 ketika aturan pajak makanan 11% diberlakukan, saya mulai mengurangi porsi pembelian makanan secara online. Beli makanan bawa pulang, makan di tempat, atau beli bahan mentah dan masak di rumah.

Hampir 2 tahun ini kok ya baik-baik saja dan bisa nabung sebagian dari alokasi budget makanan. Sadar saya saat kemarin ditanya petugas sensus, berapa alokasi anggaran makanan sebulan. Saya harus ngecek catatan dan menghitungnya, lalu sempat terkejut ketika jumlah belanja bahan pangan ternyata hanya 25-30 persen dari total kalau saya penuh beli makanan online.

Kemudian saya ingat-ingat selama metode masak ini, saya merasa lebih sehat. Makan juga nggak berpikir, kok porsinya sedikit. Tahu kan ya, kalau beli makanan matang, kadang porsi nggak sesuai ekspektasi kita. Kadang sedikit, tapi ada juga yang terlalu banyak.

Kalau masak sendiri, saya boleh makan sesuai porsi yang saya inginkan atau perlukan. Nggak khawatir dengan segala kualitas masakan dan kebersihannya. Karena semua bahan ya wes saya pilih terbaik versi saya. Saat mengolah wes saya bersihkan sesuai standar. Saat memasak wes matang sesuai keperluan.

Saya pun nggak ragu membawa bekal ke kampus atau kantor, saat tahu bahwa hari itu saya harus kerja nonstop. Nggak ada khawatir kudu beli ini itu lagi saat bekerja. Semua terasa memudahkan. Makan sehat dan enak juga bikin hati nyaman, kerja terasa lebih ringan.

Iya siy, kadang saya juga malas, lelah, stres dengan deadline, dan beli makanan online terasa lebih gampang. Kalau ini, saya atasi dengan menyediakan makanan olahan frozen food yang praktis. Dengan begitu, kalau sudah ada nasi, tinggal goreng, panaskan, kukus, rebus bahan lauk atau sayurnya dan jadilah sudah. Bahkan buah-buahan pun sekarang banyak tersedia versi frozen, bikin jus tinggal tambah air dan gula. Nggak perlu beribetan macam-macam.

Urusan makan 1x memang terlihat sepele. Tapi percayalah, makan itu (kita umumnya) sehari 3x dengan jumlah keluarga yang berbeda-beda, coba cek pengeluaran makan bisa jadi yang menghabiskan budget terbesar harian kita dibandingkan kebutuhan lainnya. Dulu saya nggak percaya, tapi melihat data hitungan lhoh ternyata benar. Dan makan itu, kita kerja nggak kerja, ada duit atau enggak, tetap harus disediakan kalau nggak ingin kelaparan yang berujung masalah kesehatan.

Jadi, berhemat budget konsumsi makanan dengan masak sendiri itu jelas benar. Keuntungannya jelas, selain hemat, masak sendiri juga nikmat dan sehat. Kalau ibu rumah tangga dengan anak-anak masak sendiri itu sudah biasa, tapi kalau kamu perempuan lajang, sekali-kali dalam kurun 1 bulan saja cobain cara saya; nanti ketemu “uang nganggur” agak banyak, yang bisa untuk alokasi lain tanpa mengorbankan urusan makan kenyang, enak, sehat, dan nikmat.

Cuman ya, kudu agak sedikit ekstra waktu dan energi ya. Paling enggak belanja bahan mentah, memasak, cuci-cuci piranti dapur, dan pandai mix match aneka bahan pangan agar menu makanan bisa variatif setiap hari. Belum lagi kalau nggak pernah turun ke dapur, rasa masakan juga belum tentu langsung sesuai harapan. Keasinan, gosong, terlalu manis, kurang matang, dll. Tapi seiring proses ntar ketemu “resep ala saya” yang pas di lidah kita.

Percayalah, di bulan pertama saya niat bikin program masak sendiri; itu membingungkan. Antara maju mundur. Tapi karena budget saya waktu itu nggak cukup untuk anggaran beli makanan online sepenuhnya, ya kudu mencoba. Dengan bantuan mbah google yang canggih, ternyata masak sendiri dan bikin menu mingguan nggak seribet bikin ending episode 1 series yang kejar tayang. Dan saya baik-baik saja menikmati masakan sendiri, artinya secara rasa dan kualitas wes memenuhi standar lidah saya. Kamu mau mencoba masak sendiri?

Ari Kinoysan Wulandari

Lokakarya Publikasi Ilmiah, Selalu Ada Saat Pertama

Flyer lokakarya publikasi ilmiah. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Saya mengisi kelas atau workshop penulisan dari tahun 2000 hingga sekarang 2026, sudah nggak terhitung, sudah berkali-kali. Untuk berbagai kalangan dari anak-anak piyik SD, SMP, SMA, mahasiswa PTS/PTN, pesantren-pesantren, institusi swasta/pemerintah, hingga kalangan masyarakat umum dari berbagai komunitas. Sharing yang saya berikan beragam; bisa tentang penerbitan buku, menulis buku, menyunting naskah buku, menulis skenario, bimbingan teknis menulis, menulis beragam karya populer (cerpen, novel, novelet, sastra, artikel, esai), dll yang berkaitan dengan industri kreatif. Serasa wes tahu betul apa yang harus saya sampaikan karena jadi makanan sehari-hari saya. Dari kelas gratis, berbayar ringan, sedang hingga eksklusif sangat mahal yang per gundulnya saja bisa kena charge dua digit.

Lalu beberapa waktu lalu, datanglah WA dari sahabat saya, kawan waktu studi S3 tentang permintaan mengisi kelas. Saya baca betul, itu tentang penulisan dan publikasi karya ilmiah. What? Saya mikir untuk menolaknya. Betul, saya juga dosen dan melakukan publikasi ilmiah, tapi rasanya masih terlalu dini untuk boleh sharing.

Publikasi ilmiah saya masih ada di range 20-an artikel, itupun nggak semuanya sebagai penulis pertama. Ada publikasi internasional yang baru terindeks Copernicus, bukan Scopus. Sementara publikasi nasional saya tertinggi baru terindeks Sinta 2. Mayoritas Sinta 3,4,5,6. Versi saya masih jauh dari kapasitas untuk boleh “memberikan pengajaran”.

Memang siy kalau dihitung dengan waktu saya bergabung sebagai dosen yang baru 4 tahun; sebenarnya jumlah artikel publikasi itu memang sudah melampaui tuntutan umum per semester 1 publikasi atau per tahun 2 publikasi. Rerata saya publikasi artikel ilmiah 4-5 artikel per tahun atau 2-3 artikel per semester di jurnal terindeks layak secara nasional dan internasional.

Ya, sebenarnya wes patutlah sharing ke mereka yang belum pernah publikasi artikel ilmiah. Mungkin ini karena saya terbiasa menggunakan standar ekstrem, berguru pada ahlinya; sehingga kalau belum layak ki yo jangan sembarangan mengisi kelas. Begitulah pemikiran saya tentang menjadi narsum.

Namun mengingat bentuk kerja sama antar kampus dan dulu kawan ini juga sudah mengisi seminar di tempat saya, sungguh nggak etis menolak atau mengalihkan ke dosen lain. Akhirnya, bismillah saya memutuskan untuk menjawab iya.

Sejak menyanggupi itu, saya belajar serius untuk membuat materi yang berkaitan. Lebih kurang 20 slide. Satu ppt terlama yang saya buat; karena tiap slide materi saya pikirin betul, membaca berulang materi, merangkum, mengabstraksi, belajar menerangkan, dll sampai selesai. Butuh effort yang jauh lebih banyak dibandingkan mengisi kelas-kelas lainnya.

Alhamdulillah, selesai sudah ppt nya dan saya sekurangnya “pede” membawakan materi. Masalah kemudian muncul, ketika saya menerima link diskusinya Microsoft Team, ya ampun, itu aplikasi belum pernah saya pakai dan saya nggak familiar. Saya sudah minta ganti zoom, tapi itu ternyata langganan kampus Unram. Akhirnya saya belajar lagi, googling, nanya sana sini, dan yach kayaknya setipe saja dengan lainnya. Saya meminta ada operator untuk share slide karena ini masih bikin saya bingung.

Tiba hari H, ya ampun saya kek mahasiswa yang mau ujian. Masuk ruang online pagi betul, belum dibuka oleh host. Siap-siap kali ini lebih dari sejam saya. Mandi pagi-pagi, memilih baju terbaik, dandan rapi-rapi, sarapan cukup, menyiapkan minum manis di samping laptop saya agar nggak grogi. Astaga…. ya ampun Ari, ini bukan kali pertama kamu ngisi kelas online. Saya sampai buka dan baca berulang materi. Bismillah, ya Allah mudahkan.

Wah, saya agak tenang ketika wes mulai acara, sambutan. Hiperbola Pak Sahar tentang penghasilan saya dari PH ratusan juta (Amin YRA 🤩) bikin hati saya ketawa aja. Ya industri sinetron dan film itu memang bikin orang cepat kaya, sekaligus cepat nyungsep kalau manajemen diri dan manajemen keuangan nggak bagus. Dan saya agak grogi lagi ketika Bu Wadek FIB Unram menyebutkan peserta sekitar 170-an orang; biyuuu… Mudah-mudahan ntar nggak banyak yang tanya atau kalau tanya yang mudah-mudah saja jawabannya 😅😂🙈 Saya pun terkejut sendiri ketika disebutkan lagi bahwa Google Scholar saya indeks nya mencapai angka 19.

Apa maksudnya, hingga kini saya juga nggak terlalu paham. Jujurly saya nyaris nggak pernah buka-buka akun scholar. Versi saya, wes biasa saja karena berapapun angkanya nggak nambah cuan buat penulisnya. Haaaiish matre banget saya 😂🤣 Realitanya, indeks itu nggak bisa buat bayarin tiket pesawat saya piknik… Hehe…. ya weslah pokoknya berkarya terus sebaik-baiknya biar indeks di semua penghitungan saya naik setiap semester.

Dan jeng-jeng…. tibalah waktunya bagi saya untuk mendongeng. Tenan to, problem yang terjadi masalah sharing materi. Untung IT nya canggih sat-set langsung bantu share materi… wes aman lah. Meskipun saya masih berasa “kesal” dalam hati, karena sudah saya utak-atik pengaturannya tetep bae gambar saya burem…. Lah ya sudah dandan cantik-cantik jee, kok nggak bisa difoto 🤣🤣 Haizh, masih untunglah suara saya aman didengar teman-teman mahasiswa.

Rampung, selesai. Saya yakin cukup detail dan runtut. Saya siy berharap nggak ada pertanyaan, eh ternyata ada. Angil-angil pula… tiga pertanyaan yang mumetke, jadi saya kudu mikir buat jawab. Keren-kerenlah mahasiswa Unram. Dibuka sesi dua, doa saya kenceng jangan ada yang nanya lagi🙈🙏 Syukurlah, sudah nggak ada pertanyaan. Alhamdulillah rampung. Usai keluar ruangan, saya langsung tarik nafas panjang. Lega. Plong wes rampung. Alhamdulillah.

Saya wes nggak mikir lain-lain. Beberapa hari sebelumnya ada diminta Pak Sahar kirim foto KTP dan NPWP. Cuman karena nggak diminta no rek, saya yo wes nggak berpikir soal honor. Boleh tanya siapa saja yang mengundang saya, saya nggak pernah nanyain soal honor. Pokoknya kalau di luar kota apalagi luar pulau, saya memastikan tiket pp dan akomodasi wes aman, honor wes mengikuti saja. Bahkan kalau pun nggak ada honor nya hanya ditanggung tiket pp dan akomodasi; saya wes bilang sanggup bisa, ya tetep akan berangkat.

Itu bagian dari CSR saya sebagai penulis, kalau nggak ngajar ilmunya bisa makin tumpul. Karena mengajar itu berarti harus sudah belajar. Pernah ada yang meminta saya mengajar gratis. Terus saya bilangin, “Mas, jangan ngomong gratis. Ngomong aja nanti dicharge dengan makan bersama.” Ini untuk menjaga agar energi tetap seimbang. Versi saya, nggak ada makan siang gratis; harus ada saling transfer energi. Usai kelas, pas makan malam malah sahabat saya (yang kebetulan ikut nganter saya) yang mbayari makan malam saya dan rombongan 10 orang (peserta kelas). Jadi peserta untung ganda, belajar di kelas dengan saya dan ditraktir makan oleh sahabat saya😀

Lah kalau kelas online begini, saya lebih santai. Bisa dari rumah, wifi unlimited, sarpras wes ada komplet, ya cincailah. Wong cuma ngisi kelas sebentar bae. Lho bubar kelas diminta kirim no rek. Wah, alhamdulillah pikir saya. Setelah itu saya njur telponan dengan ponakan saya, karena pagi pada mau minta makan siang dengan saya di ayam crispy. Tapi karena jadwal nggak sinkron (sekarang tuh bocil-bocil pun bisa sibuk 😀), saya bilang ke mereka minta ibunya saja bawain ayam crispy pas pulang kantor atau pesan online.

Saya njur tidur. Beneran tidur pules. Nggak tahu honor wes dikirim dan baru sadar saat bangun terima bukti transfer. Alhamdulillah, terima kasih ya Allah. Terimakasih, Pak Sahar. Rezeki nggak terduga. Dan saya sudah nggak akan khawatir lagi kalau mengisi kelas-kelas publikasi karya ilmiah. Tantangan untuk saya, tinggal memperbanyak publikasi Sinta 1-2 dan Scopus Q1-Q4 agar nilai kuliah saya lebih berharga. Kan pede ngisi kelas kalau njur disebutkan publikasi Q1 sekian artikel, Q2 sekian artikel, Sinta 1 sekian artikel, Sinta 2 sekian artikel.

Ya seperti saya ringan saja kalau ngisi kelas tentang buku, karena buku saya di penerbit mayor wes ada 150 judul dengan 90 an judul masih aktif (beredar dan diperjualbelikan secara komersial). Saya yo tenang saja ngisi kelas skenario karena sudah ratusan skenario saya urusi dan masih terlibat aktif di bidang ini sampai sekarang. Saya nggak grogi ngisi kelas penyuntingan, karena wes ratusan buku saya edit. Nguji skripsi mahasiswa film dan televisi ya biasa aja, karena itu bidang yang saya tekuni lebih dari 10 tahun tanpa jeda. Intinya, versi saya mengajar dari pengalaman itu jauh lebih mudah daripada hanya sekedar menguasai teori.

Sekali lagi, maturnuwun Pak Sahar dkk Tim Dosen FKIP Unram. Terimakasih mahasiswa Bastrindo FKIP Unram. Sampai jumpa lagi.

Ari Kinoysan Wulandari

Prof Chamamah yang Saya Kenal

Berita duka. Dokumentasi kagama.id.

Saya mengenali Prof Chamamah, begitu beliau dipanggil, saat masuk S1 Sastra Indonesia UGM tahun 1997. Wow sekali versi saya; perempuan, guru besar, Dekan Fak Sastra UGM, ketua umum Aisyiah. Super sekali. Hebat betul perempuan ini.

Saya nggak banyak bersinggungan dengan beliau, karena saya memilih konsentrasi yang praktis, cepet lulus: Linguistik (sebenarnya ini juga sulit, tapi versi saya; dibandingkan Sastra dan Filologi jauh lebih mudah). Sementara beliau ahli Filologi, yang jelas bikin saya mumet dengan pembacaan kitab-kitab kuno yang njelimet.

Interaksi saya agak intens ketika pengurus BEM (lupa saya itu tahun berapa, tapi saya ikut kepengurusan BEM selama 2 tahun) kudu bolak-balik mengawal kawan-kawan D3 (Arsip, Pariwisata) waktu itu yang protes keras karena biaya kuliah mereka per semester, jauh lebih mahal daripada kami yang studi S1. (Beuh mumetke bae, pikir saya waktu itu. Ya kalau kuliah mahal kan mestinya nggak kuliah di D3 UGM, kan bisa milih yang lain). Cuman sebagai pengurus BEM saya nggak bisa ngomong gitu ke temen-temen D3, bisa dikrawus warasan 😂😂

Tapi ya beliau itu sungguh bisa memposisikan diri sebagai seorang ibu, dekan, sahabat, kawan untuk mahasiswa. Jadi tiap kali kami mau ketemu dan beliau nggak bisa hadir, pasti wakilnya atau siapa suruh nemuin kami, dan kami dijamu makan-makan sekenyangnya 😂 Suwe-suwe mahasiswane lali dhewe mau protes apaan (diplomasi meja makan)😂🙈

Akhirnya ketika beliau mau menemui kami, dengan gamblang beliau menjelaskan kalau program D3 itu kuliah mbayar dhewe semuanya, nggak ada yang disubsidi negara seperti kami yang program S1. Dan itu (program D3) diadakan juga atas permintaan masyarakat.

Intinya program D3 itu semacam program kuliah swasta yang numpang nama tenar bernaung di bawah bendera UGM (cmiiw). Njur piye? Yo wes begitu saja, semua teman D3 terima penjelasan dan nggak protes lagi. Sudah kalah sama kekenyangan makan beberapa kali 😂

Pas wisuda saya, beliau wes gakjadi dekan diganti Prof Syafrie Syairin. Kemudian saya seperti terlepas dari kampus karena kerja di PH Jakarta, nggak tahu lagi tentang beliau. Sampai pas main ke Jogja, temen saya yang S2 dengan pembimbing tesis beliau cerita, kalau nyaris nggak bisa ikut ujian tesis karena nggak bisa bayar SPP. Pas sowan Prof Chamamah dan cerita, beliau nyuruh pembantunya untuk mengambilkan tas kresek hitam dan memberikan pada temen saya itu. Suruh hitung untuk bayar SPP, kalau kurang suruh lapor. Uangnya ternyata lebih dan diminta pake saja, pas hendak dikembalikan sejumlah yang sama (setelah dia punya uang); beliau menolak.

Wah, kalau saya siy bisa dengan mudah menunjukkan bagaimana kebaikan dan kepedulian dosen-dosen FIB UGM pada mahasiswa. Lha saya sendiri sejak S1, S2, S3 (istiqomah banget saya di UGM 😂, ponakan saya nyebutnya sarjana 3x, wisuda 3x) sudah bolak-balik menerima bentuk kepedulian dosen pada mahasiswa. Nggak selalu tentang uang, tapi bisa juga tentang studi, sistem kurikulum, dll. Jadi mendengar cerita kawan saya itu, ya berasa melihat potret yang terasa wajar saja di FIB UGM.

Nah pas studi S3, saya bener-bener dibuat bengong dengan kebaikan Prof Chamamah. Pas saya masuk studi S3, Kaprodi nya (Prof Bambang Purwanto) membuat program sapu bersih. Mahasiswa-mahasiswa S3 yang sudah nyaris lewat masa studi, beneran diopyak-opyak untuk segera lulus atau mengundurkan diri (bahasa halus untuk DO).

Dampaknya biyuuu… bikin banyak mahasiswa sesepuh (senior) kalang kabut, termasuk para promotornya. Saking seriusnya program itu, seingat saya seminggu itu bisa dengar kabar nyaris setiap hari ada ujian tertutup dan ujian terbuka untuk S3 semua konsentrasi. Saya yang masih maba S3 dan hanya mengikuti perkuliahan persiapan penelitian, berasa kenyang betul makan-makan tiap hadir ujian terbuka. 😀

Suatu ketika, saya sedang mengurutkan halaman materi yang sudah difotokopi, ketika mendengar suara, “Mas, ini tolong printke. Ngesakne anakku kalau sampai DO. Bocah apik iki. Berapa lama?” Lebih kurang begitu. Saya menoleh. Prof Chamamah.

Sudah nyaris 13 tahun saya nggak pernah jumpa, melihatnya masih begitu tegas, berwibawa dan sehat, saya malah terbengong nggak sempat menyapa. Beliau langsung pergi setelah dapat jawaban lebih kurang sejam. Karena kepo saya tanya si tukang ngeprint, naskah apa dan punya siapa. Naskah disertasi, lupa nama mahasiswanya. Oh, ini juga mahasiswa yang kena program sapu bersih.

Sebenarnya saya yo wes mau pulang, tapi lupa waktu itu kenapa kok masih berkeliaran di kampus. Njur tahu-tahu Prof Chamamah sudah datang lagi dan menenteng itu print disertasi ke bagian administrasi S3.

Wes saya mengekori saja dan belum menyapa, takut mengganggu konsentrasinya. Di admin, saya mendengar beliau bilang wanti wanti agar mahasiswa itu tetap bisa ujian setelah sembuh dari sakitnya. Masyaallah. Begitu baiknya to promotor pada mahasiswanya.❤️

Lepas beliau keluar dari ruangan, baru saya berani menyapa dan berbincang beberapa hal. Pesannya, jangan lama-lama studi S3, karena makin lama aturannya makin ketat dan beragam.

Sudah, sepertinya itu terakhir kali saya jumpa beliau; karena saya lulus 2016 dan wisuda 2018 (usai jurnal nasional dan internasional saya publish). Dan saya yakin ada begitu banyak kebaikan beliau torehkan untuk banyak orang.

Selamat jalan, Prof Chamamah. Insyaallah husnul khotimah dan turut bermohon surga terbaik untuk beliau. Amin YRA.

Ari Kinoysan Wulandari

Hadapi Situasinya, Jangan Keluhkan Keadaannya

Kalau berani hadapi tantangannya, kalau takut nggak usah coba-coba. Pantai Timang. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Setiap orang pasti punya masalah. Namun nggak setiap orang mau curhat, apalagi mengeluh tentang masalahnya kepada orang lain. Itulah sebabnya ada orang yang kelihatannya “baik-baik saja” karena dia memendam atau menahan masalah untuk dirinya sendiri.

Saat menghadapi masalah pelik, kadang kita langsung membatin: “Kenapa harus aku?”
“Kalau saja keadaannya berbeda.”
“Andai hidupku lebih mudah.”

Spontanitas, mengeluh kadang terasa jadi jalan paling mudah untuk meluapkan rasa kecewa. Sayangnya, keluhan yang terus-menerus jarang membawa kita pada solusi. Ada perbedaan besar antara mengakui bahwa keadaan sedang sulit dengan terus-menerus mengeluhkan keadaan. Mengakui masalah bikin kita sadar bahwa tantangan memang ada. Sebaliknya, mengeluh tanpa henti hanya menguras energi.

Lalu, apa yang sebaiknya kita lakukan? Pertama, mengakui dengan sadar bahwa kita sedang mengalami masalah. Petakan, jelaskan, konkretkan, kalau perlu tulis masalah kita dengan jelas.

Kedua, fokus pada point-point yang bisa kita kendalikan. Nggak semua hal berada dalam kendali kita. Kita nggak bisa ngatur cuaca, putusan orang lain, kondisi ekonomi, atau perubahan yang terjadi begitu cepat. Namun, kita bisa menentukan kendali diri pada cara kita merespons masalah.

Ketika proyek dibatalkan, kita bisa cari peluang baru. Saat mengalami kegagalan, kita bisa melakukan evaluasi. Jika rencana nggak sesuai harapan, kita bisa pilih jalan berbeda. Orang yang tangguh bukanlah mereka yang nggak mengalami kesulitan, tapi mereka yang tetap bergerak meski keadaan belum sempurna.

Ketiga, sadari sepenuhnya mengeluh sesekali wajar. Namun, kalau jadi kebiasaan, kita justru terjebak dalam lingkaran negatif. Semakin sering mengeluh, semakin besar fokus kita pada masalah, bukan pada solusi.

Bayangkan seseorang yang menghabiskan satu jam untuk mengeluhkan pekerjaannya. Setelah satu jam berlalu, pekerjaannya masih tetap ada. Berbeda jika satu jam itu digunakan untuk menyusun daftar prioritas, berdiskusi dengan rekan kerja, atau mempelajari keterampilan baru. Pekerjaan mungkin nggak langsung beres, tapi langkah menuju rampung sudah dimulai.

Keempat, setiap masalah yang kita bereskan, itu akan jadi pengalaman dan guru terbaik. Hampir setiap keberhasilan lahir dari serangkaian tantangan. Pengusaha sukses pernah mengalami kerugian. Penulis terkenal pernah menerima penolakan naskah. Atlet berprestasi pernah mengalami kekalahan.

Mereka nggak menghabiskan waktunya untuk meratapi keadaan. Mereka belajar, memperbaiki diri, lalu mencoba lagi. Setiap masalah menyimpan pelajaran. Bisa jadi kesabaran, ketelitian, kemampuan beradaptasi, atau keberanian mengambil keputusan.

Kelima, bertanya dengan tepat. Saat menghadapi kesulitan, cobalah mengubah pertanyaan dalam diri. “Apa yang bisa kupelajari dari situasi ini?”
“Langkah pertama apa yang bisa kulakukan hari ini?”
“Siapa yang bisa membantuku menemukan solusi?”

Pertanyaan yang tepat akan mengarahkan pikiran kita pada tindakan dan solusi.

Keenam, mulailah dari langkah kecil. Nggak semua masalah dapat diselesaikan sekaligus. Namun, hampir semua masalah dapat dihadapi selangkah demi selangkah.

Mulailah dengan membuat daftar prioritas. Selesaikan satu pekerjaan terlebih dahulu. Hubungi orang yang dapat membantu. Pelajari keterampilan yang dibutuhkan. Sisihkan waktu untuk berpikir jernih sebelum mengambil keputusan.

Langkah kecil yang dilakukan secara konsisten sering kali menghasilkan perubahan besar. Yach, hidup memang nggak selalu memberikan keadaan yang kita inginkan. Ada masa ketika rencana gagal, peluang hilang, atau tantangan datang tanpa diundang. Namun, masa depan nggak ditentukan oleh seberapa sering kita mengeluh, tapi oleh seberapa berani kita menghadapi kenyataan.

Keadaan nggak selalu bisa kita pilih. Namun, sikap dalam menghadapinya selalu menjadi pilihan. Hadapi situasinya, jangan habiskan waktu mengeluhkan keadaannya. Sebab setiap langkah yang diambil untuk mencari solusi lebih berharga daripada seribu keluhan yang (justru) terasa membuat masalah makin berat.

Kamu sedang ada masalah? Selamat, ujian keberhasilan telah tiba. Hadapi saja, nggak usah mengeluh. Cari solusinya.

Ari Kinoysan Wulandari