
Piknik kalau tidak direncanakan dan tidak dibudgetin, termasuk hal yang bisa merusak pengaturan keuangan. Kawah Putih. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Saya yakin tiap orang, tiap keluarga; punya role model pengaturan keuangan yang berbeda-beda. Semua pasti bertujuan agar uang cukup untuk semua kebutuhan, masih bisa menabung, investasi, dan ada dana darurat. Namun realitanya nggak selalu seperti harapan. Selama berkaitan dengan uang; yang lebih sering terjadi, pengeluaran lebih banyak daripada pemasukan. Besar pasak daripada tiang.
Pada awal menjadi freelancer, saya juga cukup stres dengan pengaturan uang ini. Penghasilan nggak menentu, jam kerja nggak pasti, kebutuhan sering nggak terduga, dll situasional yang rieweuh seperti kondangan, takziah, nyumbang, dll dana sosial; semakin bikin saya melongo. Uang saya beneran habis tanpa tahu ke mana saja perginya. Sementara penghasilan berikutnya masih akan datang dalam bulan depan; tentu dengan waktu (tanggal) yang nggak pasti juga.
Lalu mulailah saya duduk, menghitung, mencatat, mengatur, dan “meminjam” tabungan demi bulan itu saya bisa hidup dengan tenang. Satu bulan yang luar biasa, karena saya mencatat semua pengeluaran termasuk 2-5 ribuan untuk parkir. Setelah sebulan itulah saya menemukan angka stabil pengeluaran selama 1 bulan untuk seluruh kebutuhan. Saya juga memasukkan piknik sebagai kebutuhan dengan budget proporsional. Ditambah nabung, invest, dana darurat, dana sosial; ketemulah jumlah uang yang harus tersedia; baik kerja atau enggak, ada penghasilan atau enggak. Argo hidup tetap jalan terus.
Setelah ketemu angka itu, saya jadi lebih ringan menjalani hidup saya. Ada proyek duit besar, biaya hidup saya yo tetap segitu. Palingan ada-lah self reward-nya. Nggak ada duit besar pun, hidup saya yo nggak terus jadi mengkeret. Ternyata ituah yang bikin saya lebih stabil menjalani hari-hari, terutama saat berbulan-bulan nggak ada pemasukan besar. Batasan itu membuat saya lebih mudah menata dan mengatur kalau saya perlu uang besar, misal untuk liburan jauh, umroh, dll.
Nah, masing-masing orang atau keluarga tentu punya kebutuhan yang berbeda. Versi saya, berapapun pendapatanmu, tentukan dulu batasan kebutuhan sampeyan. Tentu dengan riil ya. Jangan menganggap pendapatan 5 juta boleh pengeluaran 15 juta (karena bisa paylater, pinjol, credit card dll) ya. Ingat itu semua komponen utang, bukan tambahan pendapatan.
Kalau misal duit saya 5 juta sebulan, maka pengeluaran total saya maksimal 3 juta. Wes embuh cara ngaturnya kudu ditata sana sini 😂 Lha 2 juta nya ke mana? Ya itu tadi; dana darurat, nabung, invest, dana sosial. Kalau misalnya ngotot tetap habis 5 juta sebulan, kudu cari tambahan 2 juta dengan sidejob. Kalau nggak, makin gulungkoming di hari-hari berikutnya.
Jadi, silakan itung-itungan sendiri seluruh kebutuhan, bahkan sampai itungan kopi secangkir, pesan makan online, parkir dan e-tol. Itu kelihatan sepele tapi banyak kali tinggal ngitung duit nya😂 Pastikan saat itung-itungan ini, semua kebutuhan sudah dimasukkan. Kalau biasa piknik, memasukkan dengan anggaran 100 atau 200 rb pun tetap boleh; karena nanti bisa digunakan per 6 bulan atau 1 tahun untuk piknik yang rada jauhan dikit. 😀
Di era serba cepat seperti sekarang, mengatur uang bukan hanya soal seberapa besar penghasilan yang kita miliki. Ini lebih tentang seberapa jelas batasan yang kita tetapkan terhadap penggunaan uang. Banyak orang merasa penghasilannya nggak pernah cukup. Masalahnya nggak selalu pada pemasukan, tapi cenderung karena nggak ada batas yang tegas dalam pengeluaran.
Menetapkan batasan keuangan itu bentuk kepedulian terhadap diri sendiri. Sama seperti kita punya batasan dalam hubungan sosial atau pekerjaan, kita juga harus ada batasan dalam mengelola uang. Tanpa batasan, kita mudah tergoda oleh diskon, tren media sosial, gaya hidup teman, atau keinginan sesaat.
Batasan keuangan dapat dimulai dari hal sederhana. Misalnya, menentukan berapa maksimal anggaran makan di luar setiap bulan, berapa jumlah uang yang boleh digunakan untuk belanja kebutuhan pribadi, atau berapa batas nominal untuk membeli barang yang nggak direncanakan.
Dengan adanya batas yang jelas, kita lebih mudah mengendalikan diri dan menghindari pengeluaran impulsif. Menetapkan batasan juga berarti berani bilang “tidak”. Menolak ajakan nongkrong yang terlalu sering, nggak beli sesuatu gegara rasa “kepo” atau komen “lucu ya” “bagus ya” dll., dan nggak membandingkan kehidupan kita dengan orang lain.
Kita nggak harus mengikuti semua tren agar terlihat berhasil. Keuangan yang sehat jauh lebih berharga daripada pengakuan sesaat dari lingkungan sekitar. Bagi freelancer, pekerja kreatif, maupun karyawan, batasan keuangan itu sangat penting. Saat ada penghasilan lebih, jangan langsung kalap belanja. Tetapkan porsi untuk tabungan, dana darurat, investasi, dan kebutuhan rutin lebih dulu. Sisanya barulah digunakan untuk hurahura.
Versi saya, batasan ini bukanlah pembatasan kebahagiaan. Batasan keuangan membantu kita menikmati hidup tanpa dihantui rasa bersalah. Kita tetap bisa beli kopi favorit, nonton film, beli baju baru yang sedang trend, atau berlibur, dll. sesuai dengan kemampuan. Dengan batasan kita juga nggak perlu khawatir setiap kali mengeluarkan uang. Semua sudah sesuai porsinya.
Nah, bagaimana cara pengaturan uangmu? Sudahkah kamu menetapkan batasan yang jelas terhadap penggunaan uangmu? Share dong ya…!
Ari Kinoysan Wulandari




















