
Ilustrasi kulkas penuh bahan makanan dan minuman. Bukan kulkas saya. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Tantangan terbesar kalau masak sendiri, belanja bahan mentah, itu kebocoran anggaran karena nggak ngecek ketersediaan bahan yang masih ada atau masih cukup. Biasanya karena kita langsung cuuuz…. belanja ke pasar, ke supermarket, bahkan ke gerai bahan tertentu tanpa persiapan.
Setiba di tempat belanja; laper mata, laper mulut, promo diskon, tawaran produk baru, bundling yang kayaknya lebih murah, dll godaan saat kita belanja; itu hal biasa. Nggak sedikit dari kita yang tergoda beli, meskipun pas sampai rumah njur: ngapain ya tadi dibeli? Lah ini ternyata saos kecapnya masih banyak. Udangnya masih ada juga.
Saya pun sering begitu. Sepulang dari tempat belanja dengan tas penuh, tapi saat buka kulkas justru menemukan sayuran yang masih segar, telur yang baru berkurang 2 butir dari wadah, atau aneka bumbu praktis yang ternyata masih cukup tersedia.
Akibatnya, bahan makanan njur numpuk. Sebagian nggak sempat dimasak, sebagian (harus merana) berakhir di tempat sampah. Kebiasaan sepele yang sering (saya) abaikan inilah yang bikin pengeluaran “makanan” membengkak tanpa saya sadari.
Belajar dari pengalaman itu, sebelum belanja, saya cek, buka kulkas dulu. Lihat apa saja yang masih tersedia, periksa tanggal kedaluwarsa, dan pisahkan bahan-bahan makanan yang harus segera diolah. Kadang kalau ngerasa dalam waktu tertentu, semua bahan makanan itu wajib habis, saya pilih nggak jadi belanja. Habiskan dulu. Karena kalau sudah ada bahan baru, kadang njur malez masak dan makan yang rada lama-lama di kulkas. Terus akhirnya dibuang juga 😂🙈
Kebiasaan ini ternyata membantu saya lebih sadar “kebutuhan” bukan “keinginan”. Buka kulkas juga bantu saya bikin daftar belanja yang lebih variatif. Nggak mengulang perbelanjaan bahan masakan sebelumnya, kecuali bumbu-bumbu dan bahan dasar.
Buka kulkas dulu juga mendorong kreativitas dalam memasak. Sepotong tahu, beberapa wortel, sedikit daging ayam, dan sawi mungkin tampak nggak berarti jika dilihat satu per satu. Dengan sedikit kreativitas, semuanya dapat dibuat jadi sup hangat, tumisan lezat, atau nasi goreng yang sesuai selera. Saya belajar memanfaatkan apa yang sudah ada sebelum membeli yang baru.
Selain menghemat uang, kebiasaan ini juga membantu mengurangi limbah makanan. Organisasi pangan dunia mencatat bahwa jutaan ton makanan masih layak konsumsi terbuang setiap tahun. Sebagian besar berasal dari rumah tangga yang membeli lebih banyak daripada yang benar-benar dibutuhkan. Padahal, setiap bahan makanan yang terbuang berarti ada air, energi, tenaga petani, dan biaya distribusi yang ikut terbuang. Dan tentu saja, uang kita… yang kita dapetin dengan kerja.
Cara sederhana ini juga baik bagi kesehatan. Saat mengetahui persediaan di rumah, bikin kita lebih mudah merencanakan menu yang seimbang. Kita nggak tergoda beli makanan instan atau camilan berlebihan. Belanja pun menjadi lebih terarah dan efisien.
Jadikan buka kulkas sebagai ritual sebelum berbelanja. Setelah itu, buat daftar kebutuhan dan usahakan untuk mematuhinya saat berada di toko. Dengan cara ini, isi kulkas lebih tertata, anggaran rumah tangga lebih terkendali, dan makanan yang kita beli benar-benar kita makan.
Ternyata, hidup hemat nggak selalu dimulai dari dompet. Bisa juga dari pintu kulkas yang kita buka beberapa menit sebelum berangkat belanja. Kebiasaan kecil ini mungkin terlihat sepele, tapi jika dilakukan secara konsisten, manfaatnya akan terasa bagi keuangan keluarga, kesehatan, dan juga lingkungan.
Oh iya, saya share pengalaman memasak secara mandiri kemarin dan tentang buka kulkas hari ini bukan untuk ngajak siapapun hidup bersulit-sulit diri, berhemat-hemat. Apalagi buat mereka yang duitnya berlebihan. Ini bagian dari lifestyle saya untuk tetap menikmati hidup, sehat, enak-nikmat berkelanjutan sesuai kemampuan.
Ibarat kata kalau dengan 20%-30% X saja dengan tambahan effort yang nggak terlalu banyak untuk mendapatkan Y, kenapa kita harus bayar 100% X untuk Y yang sama (dengan point tanpa effort)? Versi saya, kalau dalam kurun waktu tertentu kita nggak bisa dengan cepat menambah nilai penghasilan karena beragam kondisi dan inflasi, maka gaya hidup harus berubah.
Tentu saja, ubahlah gaya hidup dengan bijak tanpa mengurangi nilai, kesehatan, keselamatan, ketenangan, kebaikan jangka panjang. Jangan terlalu frontal juga, nanti malah stres. Misalnya biasa ngopi 4x-5x sebulan di kafe njur nggak sama sekali, percayalah sampeyan akan stres sendiri. Tapi kalau bertahap, 4x sebulan, 3x sebulan, 2x sebulan, 1x sebulan njur 0x sebulan; itu prosesnya lebih mudah.
Saya memilih belanja dan masak sendiri, beli sesekali karena pertimbangan budget pada awalnya gegara kenaikan pajak dll. Dan ya, membuat badan saya lebih sedikit banyak gerak di luar jadwal olahraga. Ternyata dengan sisa anggaran 70%-80% itu saya bisa berbagi lebih banyak, piknik deket-deket lebih sering karena enteng saja saya lakukan tanpa perlu menambahkan atau mengambil anggaran lain. Hidup memang pilihan dan pilihannya ada di tangan masing-masing.
Ari Kinoysan Wulandari







