Manajemen Duit

Masakan ibu saya. Gambar hanya sebagai ilustrasi. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

“Ri, piyo yo ben rezekiku tambah akeh?”

Sebagai penulis freelancer yang tahu dia kerja kantoran mapan dengan jabatan mentereng– versi saya kekayaannya jelas banyak dia; tentu bikin heran. Belum saya jawab. Pesannya muncul lagi.

“Duitku banyak, gaji besar, bonus juga banyak; kok tetep saja aku kebobolan. Masih kudu ngutang ini itu, pake cc (credit card), paylater. Belum tengah bulan serasa wes sekarat.”

“Kalau kamu mau ngutang, aku gakbisa. (Ekstrem saya 😄). Ini kebiasaanku soal duit, coba cek mungkin cocok.”

Pertama, bikin catetan; duit masuk, duit keluar. Biar tahu ke mana larinya uang yang gak berasa; kopi kafe harian, jajanan, makan siang/malam di mall/resto, e-tol, bensin dan parkir, members klub nggak dipake, beli barang gegara diskon dll, pemborosan listrik-air-gas, dll. Catatan bisa pake aplikasi gratis.

Kedua, bikin rencana keuangan; 1 tahun, 6 bulan, 3 bulan, 1 bulan, 1 mingguan, dan 1 harian. Banyak aplikasi gratis yang bisa dipilih.

Ketiga, kalau mau lebih terpercaya, bayar konsultan keuangan. (Tapi inget, ini ada bunyi harganya; jadi pastikan total duitmu sudah banyak). Biasanya mereka punya saran investasi dll hal urgent keuangan, seperti dana darurat, pensiun, asuransi, dll.

Keempat, ikuti rencana keuangan yang sudah dibuat; gak laper mata, gak tergoda diskonan; gak mumpung murah, gak baperan, dst.

Kelima, mau lebih banyak (mudah) rezeki, versiku cek lagi: hatimu (kudu baik), sholatmu, ngajimu, sedekahmu, silaturahmimu. Kalau itu sudah beres, biasanya duit datang sesukanya. Tiap orang beda. Kalau rezeki aku nggak berlebihan, tapi selalu lebih dari cukup untuk semua kebutuhan dan bisa nabung. Alhamdulillah ❤❤

Keenam, bersyukur. Rasah sambat, rasah ngomel, rasah kemrungsung, rasah merinan; teman beli mobil baru njur maksain. Inget, pujian pada mobilmu gakbisa bayarin cicilan 😂😅

Ketujuh, hidup sederhana dengan bahagia. Kita punya hidup untuk dilakoni, dinikmati, dan disyukuri; bukan untuk mengesankan orang lain 😅 Omongan dan validasi orang, sering bikin kita jungkir balik mengatur uang.

*Pict di atas, meski nggak beraturan, seadanya; itu masakan mewah karena dibuat ibu saya dengan cinta. Rasanya? Selalu enak😋❤

Ari Kinoysan Wulandari

Lebaran Kali Ini: Sabar Menghadapi Hal Nggak Terduga

Foto sebagian anggota keluarga. Lebaran Maret 2026. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari. Photos Dita Kusuma.

Lebaran selalu identik dengan riuh kegembiraan dan keakraban keluarga, sanak saudara, handai taulan, kawan kerabat, tetangga jauh dekat, dan semua relasi. Di rumah ibu saya pun begitu. Tawa riang yang bersahut-sahutan, suara piring beradu di dapur, aroma aneka masakan (non opor kupat yang sudah mainstream) menguar sejak pagi. Dan tentu saja obrolan panjang pendek yang kadang nggak penting, tapi terasa menghangatkan hati.

Namun, di tengah semua itu, ada satu sudut yang sering sunyi, tempat biasa saya berdiri, sebagai perempuan lajang yang sudah terbiasa dengan kehidupan sendiri. Bukan hal baru, sebenarnya. Dari tahun ke tahun, saya sudah paham ritmenya. Pertanyaan yang sama, candaan yang setipe, tatapan yang kadang terasa mengasihani atau mungkin saya yang terlalu baper. Saya sudah lama menormalisasi keadaan yang nggak sama dengan orang lain.

Saya sudah ahli belajar untuk tersenyum, mengalihkan pembicaraan ke hal-hal yang umum, dan tetap berada di antara keluarga besar tanpa merasa kecil hati. Karena saya sadar betul, setiap orang menjalani takdirnya masing-masing. Dan bagi saya, perempuan matang belum menikah atau bahkan mereka yang memutuskan nggak menikah itu bukan kesalahan atau dosa sosial, tapi pilihan hidup yang bisa dijalani dengan bertanggung jawab.

Itu kenapa saya nggak sepakat dengan mereka yang memutuskan untuk nggak kumpul keluarga besar saat lebaran, kumpulan trah, tahun baru, dll karena belum menikah, belum punya anak, belum kerja (mapan), belum punya rumah/mobil, dll standar umum. Selain semakin menjauhkan diri dari keluarga besar, juga membuat akses silaturahmi terputus. Dan juga nggak menyelesaikan masalah. Kalau belum menikah njur nggak ikut kumpul-kumpul keluarga, juga nggak langsung ujug-ujug menikah.

Versi saya, hidup itu kuncinya ya menghadapi semua masalah dengan lapang hati. Percayalah, kadang omongan atau pertanyaan orang-orang itu nggak sepribadi yang kita kira. Mung waton atau asal ngomong daripada nggak bicara. Jadi ya nggak usah terlalu dimasukin hati. Cuman ya untuk bisa begitu, butuh keluasan hati.

Tapi Lebaran kali ini berbeda. Bukan karena suasana keluarga yang berubah, tapi karena tubuh yang tiba-tiba memaksa saya untuk berhenti. Malam takbiran itu seharusnya sama seperti biasanya. Saya membersihkan diri lebih awal, bersiap menyambut hari kemenangan dengan hati yang ringan. Namun, satu langkah yang tergelincir di kamar mandi mengubah segalanya. Bunyi jatuh itu masih terngiang; berdebum keras, tiba-tiba, dan diikuti rasa nyeri yang menjalar ke seluruh tubuh. Sejak saat itu, semuanya melambat. Bahkan nyaris berhenti.

Pagi Lebaran datang tanpa semangat yang biasa. Saya hanya bisa terbaring, dengan tubuh yang menolak diajak bergerak. Di luar kamar, suara salam-salaman, gelak tawa, dan langkah kaki tamu yang datang silih berganti. Kadang pintu kamar saya diketuk, wajah-wajah muncul dengan ekspresi khawatir, lalu pergi lagi dengan cepat, kembali ke keramaian yang nggak bisa saya ikuti.

Saya tersenyum setiap kali ada yang datang. “Cepat sembuh ya,” kata mereka. Saya mengangguk. Seolah sesederhana itu. Hari-hari berikutnya terasa lebih sunyi. Keluarga besar piknik ke pantai, tradisi lebaran yang selalu dinanti. Saya bisa membayangkan semuanya: angin laut yang hangat, suara ombak, anak-anak berlarian, dan sesi foto yang nggak boleh absen.

Kali ini, saya harus terima piket jaga rumah, karena kaki pun sakit luar biasa untuk digerakkan. Dari kamar tidur ke kamar mandi saja, sudah butuh perjuangan ekstra dengan jalan merambat. Dan piknik kali ini, saya hanya menjadi penonton dari cerita yang dibawa pulang dalam bentuk foto dan video di grup keluarga.

Di layar ponsel saya, mereka terlihat begitu bahagia. Seperti lebaran-lebaran yang lalu, setelah nyaris 20 tahun kami kehilangan bapak —yang meninggal di hari pertama Idul Fitri. Alfatehah untuk beliau. Damailah sukacita di surga dalam perlindungan Allah, Bapak. Amiiin YRA ❤️

Dan saya ikut senang dengan kegembiraan mereka. Sungguh. Hanya saja, ada ruang kecil di hati yang terasa berbeda, kekosongan karena nggak bisa beraktivitas, bercengkerama, atau sekadar duduk bersama. Baru kali ini saya merasa lebaran begitu sunyi dan sendiri. Lebaran tanpa gangguan aktivitas yang berarti. Membuat saya punya banyak waktu mengingat perjalanan hidup yang sudah berlalu. Membuat saya tetap bersyukur. Sepanjang hidup, baru kali ini lebaran dengan hadiah sakit.

Lebaran kali ini saya lewati dalam diam. Mengirim, membalas pesan Idul Fitri pun nggak bisa saya lakukan dengan leluasa. Selain badan nyeri, kaki sakit, tangan kanan pun sakit untuk beragam aktivitas fisik yang terlalu berat. Oh membuka botol minuman air mineral pun harus minta bantuan orang lain. Sungguh nikmat berkahlah mereka yang hidup dengan sehat.❤️

Namun, di tengah diam itu, saya belajar lagi. Tentang menerima. Tentang sabar menghadapi hal-hal yang nggak pernah kita rencanakan. Tentang menyadari bahwa kesendirian nggak selalu berarti kesepian, meski kadang sepi ya terasa begitu dekat. Terutama kalau habis banyak orang di rumah, lalu kembali sunyi setelah mereka pulang.

Saya mulai menikmati dan memperhatikan hal-hal kecil lainnya: cahaya matahari yang masuk dari jendela kamar, suara takbir yang masih terdengar samar dari kejauhan, dan waktu yang akhirnya memberi saya jeda; untuk benar-benar beristirahat tanpa gangguan, bernapas lebih lega, dan bisa lebih cermat mendengarkan keinginan dan harapan diri sendiri.

Lebaran kali ini mungkin nggak seperti adatnya. Nggak ada tawa panjang yang saya ikuti di ruang tamu, nggak ada jejak kaki di pasir pantai, nggak ada foto bersama keluarga, nggak ada keriuhan reribetan makan bersama, dll keakraban. Tapi ada pelajaran yang saya catat, bahwa hidup nggak selalu berjalan sesuai rencana, dan itu ternyata ya nggak apa-apa. Semua tetap baik-baik saja.

Saya masih di sini. Masih belajar sabar. Masih percaya bahwa setiap hal yang tertunda, mungkin sedang disiapkan dengan cara yang lebih baik. Dan Lebaran kali ini bukan tentang keramaian. Tapi tentang menerima, dengan hati yang pelan-pelan menjadi lebih lapang. Alhamdulillah.

Selamat berlebaran. Mohon maaf lahir dan batin. Mohon maaf untuk pesan-pesan lebaran yang lambat berbalas atau bahkan belum saya kirim. Tapi dengan sungguh hati, saya telah memaafkan semua orang yang saya kenal dan meminta maaf secara batin kepada semuanya. Semoga semua sehat, damai, sejahtera, panjang umur berkah dan bertemu dengan Ramadan dan Lebaran tahun berikutnya. Amin YRA.

Ari Kinoysan Wulandari

Pendampingan Penulisan Buku

Flyer pendampingan penulisan buku. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Ingin punya karya tulis sendiri tapi sering bingung mulai dari mana? Atau sudah mulai menulis tapi belum selesai-selesai?

Yuk, ikut program “1 Bulan 1 Naskah”

Program intensif yang dirancang khusus untuk membantu Anda MENYELESAIKAN tulisan, bukan sekadar memulai!

Apa yang akan Anda dapatkan?

✔️ 8x pertemuan (masing-masing 30 menit)

✔️ Materi praktis & aplikatif

✔️ Diskusi interaktif

✔️ Pendampingan langsung sampai naskah jadi

Jadwal: Sabtu & Minggu (menyesuaikan permintaan peserta dan kesepakatan)

Pukul: 09.00 – 09.30 WIB
Mentor: Ari Kinoysan Wulandari

Investasi: Rp1.500.000/orang

Transfer:
Ari Wulandari
BCA 0480013956

Kuota terbatas: hanya 10 peserta!

Pendampingan naskah terpisah satu per satu tiap peserta.

Segera daftar & konfirmasi:
WA: +62 813-8000-1149

Jangan tunda lagi; wujudkan naskah Anda dalam 1 bulan! Mulai bulan April 2026. Segera daftar sebelum kuota penuh. Karena menulis bukan soal bakat, tapi proses yang didampingi dengan tepat.

Ari Kinoysan Wulandari

Ramadan Tahun Ini: Allah Maha Baik

Gambar hanya sebagai ilustrasi, biar banyak uang banyak rezeki berkah. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Menjelang Ramadan tahun ini, jujur saja saya sempat ragu. Kondisi tubuh sedang tidak benar-benar sehat. Dalam hati saya bertanya-tanya: bisa enggak ya menjalani puasa penuh seperti biasanya? Tapi Ramadan selalu punya daya panggil yang kuat. Rasanya sayang kalau tidak mencoba. Jadi saya mulai saja dulu. Niat, bismillah, dan berharap Allah memberi kekuatan.

Tiga hari pertama puasa terasa sangat berat. Lapar sekali rasanya. Tubuh seperti terus mengingatkan bahwa kondisinya sedang tidak baik-baik saja. Beberapa kali muncul pikiran untuk membatalkan saja. Rasanya sangat manusiawi. Setiap kali keinginan itu muncul, hati saya juga berbisik, sayang sekali kalau batal.

Akhirnya saya bertahan. Hari demi hari lewat. Alhamdulillah, saya masih bisa melanjutkan puasa. Namun, tubuh punya batasnya sendiri. Di puasa ke-20, saya benar-benar drop. Kali ini tidak bisa dipaksakan lagi. Demi kesehatan, saya akhirnya menurut nasihat dokter: berhenti puasa sampai kondisi sehat kembali. Ada rasa sedih tentu saja, tapi saya juga percaya bahwa Allah Maha Baik. Dalam ibadah pun, Allah tidak pernah menghendaki hamba-Nya memaksakan diri.

Karena alasan kesehatan itu juga, Ramadan tahun ini saya banyak mengurangi aktivitas. Saya tidak menghadiri banyak undangan buka bersama, bahkan undangan dari adik dan ipar sendiri pun harus saya lewatkan. Mohon maaf untuk semua yang sudah mengundang. Praktis, saya hanya menghadiri bukber yang benar-benar dekat dan ketika kondisi tubuh sedang cukup sehat.

Hal lain yang berbeda tahun ini adalah soal parsel Lebaran. Biasanya saya cukup repot menyiapkan sembako atau parsel untuk dibagikan ke banyak orang (sesuai kemampuan keuangan saya), termasuk kerabat sahabat nun jauh-jauh di luar Jogja. Tahun ini rasanya energi dan tenaga tidak memungkinkan.

Jadi saya memilih cara yang lebih sederhana: angpao saja. Masukkan uang ke amplop, antar, selesai. Bahkan banyak yang saya transfer untuk lebih memudahkan karena tidak perlu mengantarkan ke ybs. Urusan jadi lebih cepat, lebih sunyi, dan tidak melelahkan. Tidak perlu belanja, packing, dan gotong-gotong yang biasanya cukup menguras tenaga dan waktu. Dan ternyata, cara ini juga terasa lebih praktis bagi yang menerima. Mereka bisa menyesuaikan sendiri dengan kebutuhan masing-masing.

Karena itu, saya sempat berpikir, mungkin tahun ini saya juga akan absen menerima parsel Lebaran. Lha saya nggak berbagi ke yang jauh-jauh. Lho ternyata tidak.🙈Syukurlah, masih ada kiriman parsel-parsel yang sampai ke rumah saya. Rasanya adem sekali di hati. Karena itu seperti tanda bahwa saya masih diingat sebagai penulis, sebagai relasi. Ada kiriman dari beberapa penerbit, dari dua PH, dan dari beberapa mantan klien.

Alhamdulillah, yang datang bukan makanan; malah hampir tidak ada makanan. Orang-orang mungkin sudah mulai berpikir memberi parsel yang praktis dan lebih bermanfaat. Jujurly, kalau makanan –apalagi makanan basah, sudah pasti harus saya bagikan lagi, terutama kalau jumlahnya cukup banyak. Karena nggak mungkin saya makan semuanya dan nggak mungkin disimpan terlalu lama; biasanya 3-7 hari wes nggak enak lagi atau berbeda rasa, aromanya (kalaupun disimpan di dalam kulkas).

Isi parsel yang saya terima kali ini justru beragam; berupa barang-barang yang bisa dipakai lama. Ada yang benar-benar bikin saya surprise: laptop. Wah, sangat bermanfaat ini. Selain itu ada tas tangan, kerudung, mukena dan sajadah, kipas angin duduk, minyak kelapa dan madu, minyak pijat ukuran besar, satu set mangkuk mie lengkap dengan sumpitnya, dan sepasang cangkir.

Dan yang paling bikin saya penasaran pas mau buka itu mini karpet ukuran 1 x 1,5 meter. Saya sempat mikir, ini isinya apa ya?Tertawalah saya saat tahu isinya 😀 Selain parsel dari PH, saya juga menerima dua angpao Lebaran dari dua produser. Alhamdulillah. Terimakasih ya Allah.😇

Di tengah Ramadan yang nggak sepenuhnya bisa saya jalani dengan maksimal, semua itu terasa seperti pengingat diri bahwa Allah benar-benar Maha Baik. Selalu ada cara-Nya menghadirkan rasa hangat, rasa syukur, dan rasa disayangi ❤️ Terima kasih untuk semuanya. Semoga Allah menggantinya dengan kebaikan berlipat berkah. Amin YRA.

Selamat menyelesaikan ibadah Ramadan.
Sebisa mungkin mari kita pol-polan ibadahnya di hari-hari terakhir Ramadan ini. Selamat mudik. Selamat berlebaran. Mohon maaf lahir dan batin.🙏

Ari Kinoysan Wulandari

Soul Conference 10 (SC10) [10] Tamat: Alhamdulillah. Terimakasih, Teman-teman Joglosemar

Display jajanan di toko oleh-oleh Banyuwangi. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Disclaimer:
Catatan ini mungkin nggak “nyambung” untuk Teman-teman non Soul Community (Soul Com), non warga Soulmates. Saya berasal dari Soul Com Joglosemar, Jogja🙏

Setelah menengok Mas Adin di RS, kami melanjutkan perjalanan ke toko oleh-oleh. Pas hari ke-2 saya sempat menanyakan ini ke Mas Robert. Lalu dia mengatakan bisa dikondisikan. Mbak Tika malah nanya ke saya (tempat) oleh-oleh mana. Saya menyebut 2 nama dan dipilihlah 1 sesuai SM.

Turun dari bus, saya wes tahu harus beli apa. Hitung jumlah tetangga kiri kanan, keluarga, dan orang-orang dekat. Wes begitu saja, masuk-masukin keranjang, didus, bayar. Di sini layanannya lumayan cepet, barang-barang terdisplay dengan baik; meskipun harganya yo lumayan 😂 Lha dus packingan standar untuk oleh-oleh tuh di Jogja, di mana saja mung 3 rb, lha di sini 8 rb 😁

Hihi, namanya juga perempuan. Mo punya duit pun tetep itungan. Lha selisih barang belanjaan 500 perak bae kita milih ke toko seberang kok. Padahal ke seberang itu butuh effort, bensin, waktu, dll. Tapi ya itulah istimewanya perempuan. No debat😁😂

Pas mau ke bus saya baru ingat, minuman manis habis. Jadi saya balik ke toko untuk ambil minuman. Harganya 5 rb an, waduh gakbisa QRIS ini. Harus pakai cash. Bu Rai malah meneriaki, “Sudah Mbak, saya bayarin saja (minumnya). Sini.”

“Wah, terima kasih banyak ya, Bu.” Nggak repot ambil cash di bus saya 🙈🙏

Di Ardial toko oleh-oleh ini lumayan komplit isi jajanannya. Tapi souvenir macam kaos, topi, ganci, batik, dll ora ono. Mung jajanan. Dan syukur alhamdulillah nya ada kopi-kopi asli Banyuwangi. Cobain deh kopinya. Enak lho. Nggak kalah sama kopi-kopi daerah lain di Nusantara 😁

Usai beres beli oleh-oleh, kami ke tempat makan malam. Saat itu diinfo oleh Mas Robert kalau perjalanan berubah arah, nggak lewat tol; tapi via Jember Lumajang. Saya langsung bilang alhamdulillah.

Beberapa teman saat makan malam. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Pertama, jelas dengan lewat jalan standar, tiba di Jogja wes padang njingglang, saya tenang aja mo turun di mana. Kalau lewat tol, mungkin masih dini hari jam 2 lewat sudah sampai Jogja; saya rada mikir kalau turun sendirian di jalan. Mungkin ya perlu thenguk-thenguk dulu di center. Kedua, menghemat biaya. Jelas non bayar tol duit masih ada sisa; dan beneran makan malam itu teman-teman nggak perlu bayar (lagi) sesuai tanggungan masing-masing.

Saya lupa nama warung makannya. Saya ikut turun tapi nggak makan. Selain karena masih kenyang bakso, SM saya kok kecil banget. Lhah ya, masakan pedas, porsi besar, dan model olahannya untuk seafood nggak bisa saya makan. Jadi saya mung thenguk-thenguk nemenin orang makan sambil lihat jalanan yang cukup ramai.

Setelah itu, kami balik ke bus dan lanjut perjalanan. Wes saya nggak inget lewat mana saja. Tidur. Tahu-tahu ki wes di Madiun. Subhanallah, nyenyak tenan saya tidur. Nggak terganggu situasi dll yang kurang bersahabat saat di jalan. Berasa laper. Turun cari makan minum sama Zaka, malah warung banyak yang tutup. Untung ada yang buka.

Standar kalau masuk warung makan di areal wisata atau manapun nggak ada daftar harga, nanya dulu daripada berantem di belakang. Coffeemix 10 rb. Soto 30 rb. Kerupuk 10 rb. Biyuuu, semua kok 2-3x lipat dari Jogja gitu😁 Saya mung senyum bae. Laper Ri, kamu nggak makan bisa ribet nanti. Jadi saya memesan semuanya. Alhamdulillah enak dan daging sotonya lumayan banyak.😀

Habis itu nyambung perjalanan ke Jogja. Kami berhenti di Sukoharjo saat Mbak Tika turun. Ngepos minum kopi lagi. Wes terang benderang di sini. Saya yo wes lumayan bugar sehat karena tidur nyenyak. Oh haha… pernah ada yang nanyain saya, bagaimana cara biar di acara setelah perjalanan jauh tetap sehat dan fokus.

Tidurlah saat di kendaraan . Kalau pas waktunya tidur, ya tidur. Jangan dipakai aktivitas lain. Ngobrol seperlunya, lalu tidur. Kecuali sampeyan bertugas penjagaan, dll ya beda urusan. Tidur di malam hari versi saya adalah istirahat yang nggak bisa diganti dengan apapun, termasuk dengan tidur siang. Kualitasnya beda.

Alhamdulillah, saya turun di imigrasi bandara Adisutjipto. Teman-teman lanjut ke Soul Center. Nggak lama saya sudah dapat mobil online dan pulang ke rumah. Seluruh acara SC10 wes rampung dengan membawa kebahagiaan dan kebaikan bagi saya.

Sarapan dini hari (karena nggak puasa). Kerupuknya lupa dipotret. Di rest area Madiun. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Perjalanan SC10 di Banyuwangi bukan sekadar agenda, bukan pula sekadar perpindahan raga dari satu kota ke kota lain. Ini adalah perjalanan pulang kepada diri sendiri, kepada makna, dan kepada rasa syukur yang sering kita simpan terlalu dalam.

Bersama teman-teman Joglosemar, setiap langkah dari sejak berangkat terasa ringan; meski ditempuh dengan jarak dan waktu yang tidak singkat. Kami berasal dari latar yang berbeda, membawa cerita hidup masing-masing. Namun di Banyuwangi semua melebur menjadi satu irama: irama belajar, bertumbuh, dan saling menguatkan.

Di tanah yang kaya akan budaya dan kearifan lokal itu, kami belajar bahwa spiritualitas nggak selalu hadir dalam keheningan yang sunyi. Ia justru muncul dalam rona tawa dan kegembiraan di sela perjalanan, dalam obrolan sederhana, dalam saling menunggu, dan saling memahami.

Setiap sesi SC10 membuka ruang batin yang membuat kita berani jujur pada diri sendiri, mengakui bahwa kita lelah, sekaligus menyalakan kembali semangat dan cahaya yang sempat redup.

Banyuwangi mengajarkan kita tentang kesederhanaan yang bermakna. Tentang bagaimana alam, budaya, dan manusia bisa selaras ketika hati mau mendengar. Dan teman-teman Joglosemar menjadi saksi bahwa perjalanan spiritual nggak harus dijalani sendiri. Justru, kebersamaanlah yang membuat setiap pelajaran terasa lebih dalam dan membekas.

Terima kasih untuk setiap senyum, sapaan, pelukan, bantuan, dan doa yang diam-diam dipanjatkan. Terima kasih untuk ruang aman yang tercipta, tempat kita bisa menjadi diri sendiri tanpa topeng. Terima kasih telah berjalan bersama, bukan untuk menjadi sama, tapi untuk saling menemani dalam proses pulang.

Semoga energi SC10 di Banyuwangi nggak berhenti di sana. Semoga semangatnya terus hidup dalam langkah kita setelah ini; dalam setiap keputusan yang lebih sadar, hati yang lebih lapang, dan jiwa yang semakin berani bertumbuh.

Terimakasih untuk Teman-teman Soul Joglosemar. Terimakasih Mas Robert, Mbak Tika, Mbak Fefty, Mas Sodam, Mbak Rischa, Mbak Zaka, Bu Rai, Dik Hana, Mbak Ririn, Bu Nyoman, dan semua teman seperjakanan Jogja Banyuwangi Pp. Terimakasih untuk Bunda Arsaningsih (spesial guru saya). Terimakasih untuk guru-guru yang lain; Pak Gede, Bu Iin, dr. Rastho, Bu Adek, Pak Agung, Bu Mariam, dr. Tya, Bu Gung, Mbak Rina, dll kru Soul panitia penyelenggara SC10. Terimakasih untuk seluruh teman Soul Community di manapun berada. Love you all. Mari terus bertumbuh menyeluruh.❤️ Teriring mohon maaf lahir batin kalau ada salah kata, salah tindak perbuatan atau salah tulis dalam catatan ini. 🙏 Sampai jumpa di Soul Conference berikutnya. 🤩💪🙏

Tamat
Ari Kinoysan Wulandari

Soul Conference 10 (SC10) [9]: Di Mana Ada Niat, Di Situ Ada Jalan

Saya dan Zaka sebelum meninggalkan De Djawatan. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Disclaimer:
Catatan ini mungkin nggak “nyambung” untuk Teman-teman non Soul Community (Soul Com), non warga Soulmates. Saya berasal dari Soul Com Joglosemar, Jogja🙏

Usai acara pembelajaran di De Djawatan, kami masih foto-foto, salaman, peluk cium, pamitan dengan kawan-kawan lainnya. Sebagian masih mengobrol. Sebagian ke toilet. Sebagian jajan. Saya dan Zaka bergegas mencari Bunda Arsaningsih karena mau foto bersama. Rupanya beliau sudah meninggalkan tempat. Kami pun ke toilet sebelum bergabung dengan teman-teman di bus yang akan membawa kami kembali ke Jogja.

Acara perjalanan hari itu sekurangnya, menengok Mas Adin di RS, pergi ke tempat oleh-oleh dan makan malam. Perjalanan dari De Djawatan ke RS cukup makan waktu. Ada beberapa teman yang memutuskan ikut bergabung menengok ke RS. Saya tanya Zaka apa ikut turun (menengok), dia bilang enggak karena SM nya kecil.

Dalam hati saya juga nggak ada niat menengok. Ingat kata dokter jangan pecicilan (terlalu capek, memporsir energi) dan jangan berada di sekitaran orang sakit (termasuk berada di RS, menengok orang yang sakit parah). Baiklah saya SM dulu, kayaknya saya wes sehat. Karena hasil kecil, saya mengekori Zaka memutuskan nanti nggak turun dari bus.

Dari 3 hari acara SC10 baru kali ini saya duduk sebelahan dengan Zaka di bus dan bisa ngobrol cukup panjang. Karena sebelumnya mung selintas-selintas dan nggak fokus. “Saya pikir ada di list peserta kok nggak kelihatan pas saya ikut bus rombongan dari Jogja.”

“Itu Mbak, sampai jelang akhir tuh aku belum punya duit, tapi dari SM ini kok besar. Makanya aku berani daftar. Ternyata belakangan aku dapat rezeki. Pekerjaan-pekerjaan yang kukira nggak dibayar, ternyata ada bayarnya dan lumayan besar. Terus ada juga beberapa dana yang tahu-tahu cair. Baru setelah itu aku bisa bayar-bayar, urus tiket, dll.” Begitu lebih kurang kata Zaka.

Ya, meskipun dia sebagai dosen PNS di kampus negeri yang total pendapatan bulanannya pasti lebih besar daripada bulanan yang saya terima dari kampus tempat saya mengajar; tapi mengandalkan gaji dosen saja jelas nggak mungkin dalam waktu singkat menyediakan begitu banyak pendanaan untuk SC10; kecuali mungkin sudah guru besar ditambah full tunjangan-tunjangan.

Saya pribadi mengacungi jempol ke kawan lama saya ini karena jalan cepatnya mengikuti program-program di Soul. “Karena tiap kali ikut program itu, Mbak, ada masalahku yang (baru) kebuka lagi dan bisa diselesaikan.”

Ya betul, tiap tingkat kelayakan ilmu di bidang apapun itu biasanya untuk menyelesaikan masalah tertentu; baik itu kita sadari atau tidak. Saya lupa pernah mencatatkan di bagian sharing tentang Soul yang mana; tapi pas awal mengikuti Soul itu, saya beneran nggak ada atau nggak merasa ada problem tertentu dalam diri saya.

Betul, ada masalah ekonomi yang cukup ruwet saat saya ditinggal bapak (meninggal) dengan ibu yang nggak bekerja dan 5 saudara yang masih kemruwet biaya sekolah/kuliah, ditambah tanggungan banyak hutang dari almarhum bapak. Itu pun satu-satunya rumah ibu statusnya diagunkan ke bank. Beneran nyesek untuk saya sebagai anak sulung. Apalagi saat itu saya sudah sarjana. Ngebayangin adik-adik saya nggak sekolah aja, wes berontak hati. Sekurangnya mereka harus sama sarjananya dengan saya agar bisa mengakses pekerjaan yang lebih layak secara finansial.

Toh ya, itu sudah saya selesaikan bersama-sama dengan saudara-saudara bergandengan tangan, bahu membahu lebih kurang 15 tahun. Adik saya semua sarjana dari kampus negeri, bekerja baik dan mapan, hutang bapak sudah terbayar lunas, rumah ibu juga terselamatkan dari sitaan bank, dan mereka semua juga sudah menikah dengan situasi keluarga baik-baik saja. Alhamdulillah.

Setelah itu, saya wes hidup untuk diri saya sendiri. Saya bisa sekolah S2 dan S3 non beasiswa. Alhamdulilah, bisa beli rumah dll kategori biaya besar dengan cash. Bisa piknik ke berbagai negara dengan gembira tanpa perlu mikir saat bayar. Mungkin bagi mereka yang ekonomi mapan, itu bukan prestasi atau hal-hal yang perlu diceritakan. Tapi bagi saya yang pernah begitu gelap berada di kungkungan masalah ekonomi; bahkan ketika gaji saya puluhan juta pun, menyisihkan 200 rb saja begitu sulit; itu semua adalah hal luar biasa yang nggak pernah saya pikirkan. Tugas menanggung biaya hidup ibu setiap bulan setelah itu; bukan dari saya saja, tapi seluruh saudara. Versi saya mudahlah itu, dibandingkan saat saya harus berjibaku melawan lelah, stres, depresi karena tuntutan deadline, dll. agar semua urusan keuangan keluarga tercukupi.

Teman-teman Joglosemar. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Jadi hidup saya saat jumpa Bunda dan Soul itu sudah relatif aman, damai, sejahtera, sehat fisik mental. Saat ukur SM pertama oleh Bunda, kemarahan saya itu 0 😀🙏 Hebat tenan 🙈 Bayangkan, saya dengan tetahunan jatuh bangun begitu rupa gegara banyak anggota keluarga, nggak ada simpan kemarahan sama sekali. Sementara ada banyak yang bareng saya saat itu (SR –Soul Reflection, dulu workshopnya terpisah; SR dulu baru SM) kemarahannya sampai 10 lebih (saking besarnya).

Saya lupa apa saja yang diukur dari emosi negatif, tapi saya ingat tentang kemarahan ya karena 0 bulet itu. Terus bahagia saya saat itu 8,5. Berarti pada dasarnya saya yo wes happy-happy saja menjalani hidup. Kesehatan, kemakmuran, spiritual semua diukur. Saya lupa persisnya, tapi rerata di atas 7 dan saat uji konsentrasi; hanya butuh beberapa detik otak saya wes rileks, fokus, tenang. Sementara ada banyak orang sampai 2 menit masih ke sana sini gelombang otaknya alias nggak fokus.

Secara umum, hidup saya baik-baik saja. Pas ada pemurnian yang cukup dalam, baru saya tahu di lapisan-lapisan jiwa yang lebih dalam; ada kemarahan kepada orang tua, saudara, ipar, keluarga; luka batin yang berkaitan dengan uang (kemakmuran), sakit berulang (kesehatan), cinta (hubungan), bahkan Tuhan (spiritual).

Dengan hati yang sudah lebih bersih, saya bisa melihat betapa banyak “masalah” yang tinggal di kedalaman jiwa saya. Dan itulah yang membuat saya bersyukur bertemu Soul. Termasuk dengan Soul pula pertanyaan lama saya terjawab. Kenapa dengan si A, si B, niy baru jumpa pertama bawaan saya emosi jiwa aja. Sementara pada si X si Y, baru jumpa malah cocok kek sudah puluhan tahun mengenal. Ya karena ada karma saya dengan mereka. Termasuk dengan tempat, kejadian, benda-benda, dll. Itu semua masalah yang berusaha saya bereskan dengan Soul. Meskipun jalan lamban, tapi saya tahu bahwa hidup dan jiwa saya jauh lebih baik dibandingkan sebelum mengenal Soul.

Dari cerita Zaka tadi saya menangkap bahwa kalau kita sudah ada niat, ndilalah biasanya juga ada jalan. Tahu-tahu terselesaikan sendiri. Tentu, ingat lagi, jangan memaksakan diri; terutama kalau hasil SM-mu rendah. Wes jangan dilawan itu, karena energi menghitung radiasi lebih pasti daripada logikamu yang kadang penuh ambisi.

Saat kami sampai di RS, beberapa teman turun untuk menengok Mas Adin. Sebagian jajan. Sebagian ke toilet. Sebagian turun ngobrol di halaman RS. Saya masih ngobrol dengan Zaka di bus.

Ternyata yang di RS dll yang di luar bus, cukup lama kembalinya. Saya sudah mulai lapar. Kami pun keluar bus dengan Bu Nyoman dan Hana. Niatnya mau ke toilet numpang di gereja, karena Bu Nyoman nggak bisa pake toilet RS. Di seberang, saya baru ingat kalau toilet gereja (kadang) nggak diizinkan untuk orang non jamaah.

Saya sempat mau pinjam toilet di Dinkes, tapi disarankan ke masjid sebelah RS. Akhirnya kami berpisah. Bu Nyoman dan Hana ke Indomaret, saya dan Zaka ke mesjid. Wah tahu toilet mesjidnya boleh untuk mandi, mestinya tadi saya bawa baju ganti sekalian. Tapi lumayanlah saya bisa sibinan nggebyur badan, meskipun nggak ganti baju 😅🙈

Karena lapar saya memesan bakso dan dibungkus saja. Takutnya ntar kelamaan ditungguin teman-teman di bus. Lha beneran sudah cukup banyak yang di bus. Tinggal menunggu Bu Nyoman dan Hana yang dari supermarket. Oalah ada drama antri toilet soalnya, makanya jadi lama. Namanya juga bukan toilet pribadi 😅😁 Setelah itu barulah bus melanjutkan perjalanan.

Bersambung
Ari Kinoysan Wulandari

Soul Conference 10 (SC10) [8]: Pembelajaran di Alam, Belajar Rendah Hati

Bunda Arsaningsih dengan Ilham di De Djawatan. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Disclaimer:
Catatan ini mungkin nggak “nyambung” untuk Teman-teman non Soul Community (Soul Com), non warga Soulmates. Saya berasal dari Soul Com Joglosemar, Jogja🙏

Saya nggak tahu kapan Bunda datang di De Djawatan. Ya mungkin pas saya mider keliling. Nah, pas saya balik ke lokasi areal panggung, Bunda Arsaningsih sudah ada di atas panggung dengan bocil pakai baju seniman rakyat. Saya njur menyimak percakapan mereka berdua sekaligus heran kenapa orang-orang hilir mudik ke depan panggung ngisi kotak. Oalah ngisi kotak saweran untuk Ilham. Dia ini anak SD yang kerjaannya ngamen untuk biaya sekolah dan ngurusi neneknya.

Ya ampun, hidupnya lebih “horor” dari yang saya alami soal ekonomi. Mestinya itu kan Dinsos yo tanggap to ngurusi kek gini. Tapi embuhlah, kadang saya emeng juga sama orang orang pemerintah ini. Banyak betul bantuan-bantuan yang salah sasaran.

Saat Bunda Arsaningsih mulai memberikan pembelajaran. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Bunda menceritakan saat berada di KFC bocah ini nanya apakah nasinya boleh dibawa pulang; katanya untuk neneknya. Hadeuh, bocah sekecil ini… Jadi karena dibawa Bunda ke lokasi Pembelajaran di Alam, Ilham bisa dapat bantuan saweran dari warga Soul Com hari itu cukup banyak. Nggak tahu jumlahnya.

Kata Ilham mau untuk beli sepatu. Sama Bunda diminta untuk biaya sekolah. Betapa kita masih lebih beruntung daripada si kecil ini yang belia sudah harus berjuang mencari nafkah, bukan untuk dirinya sendiri tapi juga untuk neneknya. Mudah-mudahan ada orang baik yang bisa membiayai sekolahnya.

Lalu ada banyak lagi doorprize yang dibagi-bagikan. SC10 ini memang banyak sekali doorprizenya. Semoga bermanfaat untuk yang menerima dan berkah untuk yang memberikan ❤️

Sebagian dari mereka yang menerima doorprize berfoto dengan Bunda Arsaningsih. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Oh iya di sini kami dapat snack berat rebusan, makan KFC, dan minuman komplit. Wes lebih dari kenyang untuk saya. Menyimak pembelajaran dari Bunda dengan lebih ringan hati.

Selanjutnya materi pembelajaran dari Bunda Arsaningsih. Biyuuu, waktu ada diminta peserta naik ke panggung; itu ada seseembak yang larinya kencang dan langsung lompat ke panggung. Ya ampun, setinggi itu dengan enteng saja, sampai nggak inget pakai sepatu; saking pinginnya jumpa Bunda 😀 Luar biasa.

Seperti apa situasi pembelajaran di alam kali ini? Yach, De Djawatan bukan sekadar destinasi wisata alam, melainkan ruang belajar yang sunyi dan penuh makna. Deretan pohon trembesi raksasa yang menjulang tinggi seolah menjadi saksi perjalanan waktu, mengingatkan manusia betapa kecilnya diri kita di hadapan alam.

Dua MC yang bertugas nonstop dari hari ke-1 sd ke-3 siang malam. Di SC10. Terimakasih Mas-mas MC yang sering kocak. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Dalam pembelajaran di alam De Djawatan ini, Bunda Arsaningsih mengajak kami berjalan menyusuri hutan secara energi sebagai bagian dari proses pembentukan kesadaran untuk belajar rendah hati. Manusia hanyalah bagian kecil dari ciptaan Tuhan Yang Maha Esa. Bisa jadi saat kita memasuki De Djawatan ada perasaan kagum sekaligus bangga; merasa sebagai pengunjung yang bebas menikmati keindahan.

Namun, langkah demi langkah di bawah kanopi pohon tua perlahan pasti mengubah cara pandang kita. Akar-akar besar yang mencuat di tanah memaksa kita berjalan pelan, menundukkan kepala, dan lebih berhati-hati. Di sinilah alam mulai “mengajarkan” sikap rendah hati: manusia nggak bisa berkuasa atas segalanya, melainkan hanya bagian kecil dari ekosistem semesta yang lebih besar.

Keheningan De Djawatan juga memainkan peran penting. Nggak ada suara mesin atau hiruk pikuk kota, hanya desir angin dan kicau burung. Dalam sunyi itu, kita belajar mendengarkan; bukan hanya suara alam, tetapi juga suara hati kita sendiri.

Situasi sebelum pembelajaran bersama. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Rendah hati hadir ketika kita menyadari bahwa selama ini terlalu sering merasa tahu, merasa benar, dan jarang memberi ruang untuk diam dan belajar. Pohon-pohon trembesi yang telah hidup ratusan tahun menjadi simbol keteguhan tanpa kesombongan.

Mereka tumbuh besar tanpa meminta perhatian, memberi keteduhan tanpa memilih siapa yang berlindung di bawahnya. Dari sini, kita bisa menyadari bahwa kerendahan hati tidak selalu hadir dalam hal-hal kecil atau sederhana, tapi justru tumbuh dari kekuatan besar yang tenang dan bermanfaat bagi sekitarnya.

Pada sesi sebelum meditasi bersama untuk pembersihan karma di De Djawatan, Bunda Arsaningsih sengaja menghadirkan tokoh penguasa hutan tersebut. Bagi mereka yang peka energi, mata batin terbuka, dan ilmu pembelajaran Soulnya sudah lanjut pasti bisa merasakan dan melihat kehadirannya di sisi Bunda dan pembicaraan mereka; hingga akhirnya sang penguasa kembali ke tempatnya.

Plooong… Lega sekali hati saya setelah pembelajaran di De Djawatan ini. Alhamdulillah. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Beruntung saya sudah menandai tempat-tempat saya berkarma dan energi cukup tinggi; sehingga pas meditasi itu bisa sekaligus menyertakan untuk beberes karma. Karena energi Tuhan yang diterima Bunda sangat besar, jadi bisa ikut mengcover tempat yang sangat luas, termasuk tempat-tempat yang saya tandai. Ploong… lega rasanya hati saya. Besok-besok kalau ada kesempatan ke sini lagi; pasti lebih plong tanpa beban karma lagi. Alhamdulillah.

Pembelajaran di alam De Djawatan dengan Bunda Arsaningsih; bukan sekedar menaklukkan hutan atau berfoto-foto ria, melainkan tentang menata ulang sikap batin kita. Alam mengajak manusia untuk berjalan lebih pelan, berbicara lebih sedikit, dan merasa cukup dengan keberadaannya. Dari De Djawatan, kita diajak pulang dengan satu pelajaran penting: semakin dekat dengan alam, semakin manusia belajar untuk rendah hati.

Catatan: Pembelajaran dari Bunda Arsaningsih di De Djawatan sepertinya tidak menyebut “rendah hati” secara eksplisit, tapi itu adalah penafsiran saya pribadi secara keseluruhan selama mengikuti pembelajaran dan meditasi bersama. Cmiiw 🙏

Bersambung
Ari Kinoysan Wulandari