
Berita duka. Dokumentasi kagama.id.
Saya mengenali Prof Chamamah, begitu beliau dipanggil, saat masuk S1 Sastra Indonesia UGM tahun 1997. Wow sekali versi saya; perempuan, guru besar, Dekan Fak Sastra UGM, ketua umum Aisyiah. Super sekali. Hebat betul perempuan ini.
Saya nggak banyak bersinggungan dengan beliau, karena saya memilih konsentrasi yang praktis, cepet lulus: Linguistik (sebenarnya ini juga sulit, tapi versi saya; dibandingkan Sastra dan Filologi jauh lebih mudah). Sementara beliau ahli Filologi, yang jelas bikin saya mumet dengan pembacaan kitab-kitab kuno yang njelimet.
Interaksi saya agak intens ketika pengurus BEM (lupa saya itu tahun berapa, tapi saya ikut kepengurusan BEM selama 2 tahun) kudu bolak-balik mengawal kawan-kawan D3 (Arsip, Pariwisata) waktu itu yang protes keras karena biaya kuliah mereka per semester, jauh lebih mahal daripada kami yang studi S1. (Beuh mumetke bae, pikir saya waktu itu. Ya kalau kuliah mahal kan mestinya nggak kuliah di D3 UGM, kan bisa milih yang lain). Cuman sebagai pengurus BEM saya nggak bisa ngomong gitu ke temen-temen D3, bisa dikrawus warasan 😂😂
Tapi ya beliau itu sungguh bisa memposisikan diri sebagai seorang ibu, dekan, sahabat, kawan untuk mahasiswa. Jadi tiap kali kami mau ketemu dan beliau nggak bisa hadir, pasti wakilnya atau siapa suruh nemuin kami, dan kami dijamu makan-makan sekenyangnya 😂 Suwe-suwe mahasiswane lali dhewe mau protes apaan (diplomasi meja makan)😂🙈
Akhirnya ketika beliau mau menemui kami, dengan gamblang beliau menjelaskan kalau program D3 itu kuliah mbayar dhewe semuanya, nggak ada yang disubsidi negara seperti kami yang program S1. Dan itu (program D3) diadakan juga atas permintaan masyarakat.
Intinya program D3 itu semacam program kuliah swasta yang numpang nama tenar bernaung di bawah bendera UGM (cmiiw). Njur piye? Yo wes begitu saja, semua teman D3 terima penjelasan dan nggak protes lagi. Sudah kalah sama kekenyangan makan beberapa kali 😂
Pas wisuda saya, beliau wes gakjadi dekan diganti Prof Syafrie Syairin. Kemudian saya seperti terlepas dari kampus karena kerja di PH Jakarta, nggak tahu lagi tentang beliau. Sampai pas main ke Jogja, temen saya yang S2 dengan pembimbing tesis beliau cerita, kalau nyaris nggak bisa ikut ujian tesis karena nggak bisa bayar SPP. Pas sowan Prof Chamamah dan cerita, beliau nyuruh pembantunya untuk mengambilkan tas kresek hitam dan memberikan pada temen saya itu. Suruh hitung untuk bayar SPP, kalau kurang suruh lapor. Uangnya ternyata lebih dan diminta pake saja, pas hendak dikembalikan sejumlah yang sama (setelah dia punya uang); beliau menolak.
Wah, kalau saya siy bisa dengan mudah menunjukkan bagaimana kebaikan dan kepedulian dosen-dosen FIB UGM pada mahasiswa. Lha saya sendiri sejak S1, S2, S3 (istiqomah banget saya di UGM 😂, ponakan saya nyebutnya sarjana 3x, wisuda 3x) sudah bolak-balik menerima bentuk kepedulian dosen pada mahasiswa. Nggak selalu tentang uang, tapi bisa juga tentang studi, sistem kurikulum, dll. Jadi mendengar cerita kawan saya itu, ya berasa melihat potret yang terasa wajar saja di FIB UGM.
Nah pas studi S3, saya bener-bener dibuat bengong dengan kebaikan Prof Chamamah. Pas saya masuk studi S3, Kaprodi nya (Prof Bambang Purwanto) membuat program sapu bersih. Mahasiswa-mahasiswa S3 yang sudah nyaris lewat masa studi, beneran diopyak-opyak untuk segera lulus atau mengundurkan diri (bahasa halus untuk DO).
Dampaknya biyuuu… bikin banyak mahasiswa sesepuh (senior) kalang kabut, termasuk para promotornya. Saking seriusnya program itu, seingat saya seminggu itu bisa dengar kabar nyaris setiap hari ada ujian tertutup dan ujian terbuka untuk S3 semua konsentrasi. Saya yang masih maba S3 dan hanya mengikuti perkuliahan persiapan penelitian, berasa kenyang betul makan-makan tiap hadir ujian terbuka. 😀
Suatu ketika, saya sedang mengurutkan halaman materi yang sudah difotokopi, ketika mendengar suara, “Mas, ini tolong printke. Ngesakne anakku kalau sampai DO. Bocah apik iki. Berapa lama?” Lebih kurang begitu. Saya menoleh. Prof Chamamah.
Sudah nyaris 13 tahun saya nggak pernah jumpa, melihatnya masih begitu tegas, berwibawa dan sehat, saya malah terbengong nggak sempat menyapa. Beliau langsung pergi setelah dapat jawaban lebih kurang sejam. Karena kepo saya tanya si tukang ngeprint, naskah apa dan punya siapa. Naskah disertasi, lupa nama mahasiswanya. Oh, ini juga mahasiswa yang kena program sapu bersih.
Sebenarnya saya yo wes mau pulang, tapi lupa waktu itu kenapa kok masih berkeliaran di kampus. Njur tahu-tahu Prof Chamamah sudah datang lagi dan menenteng itu print disertasi ke bagian administrasi S3.
Wes saya mengekori saja dan belum menyapa, takut mengganggu konsentrasinya. Di admin, saya mendengar beliau bilang wanti wanti agar mahasiswa itu tetap bisa ujian setelah sembuh dari sakitnya. Masyaallah. Begitu baiknya to promotor pada mahasiswanya.❤️
Lepas beliau keluar dari ruangan, baru saya berani menyapa dan berbincang beberapa hal. Pesannya, jangan lama-lama studi S3, karena makin lama aturannya makin ketat dan beragam.
Sudah, sepertinya itu terakhir kali saya jumpa beliau; karena saya lulus 2016 dan wisuda 2018 (usai jurnal nasional dan internasional saya publish). Dan saya yakin ada begitu banyak kebaikan beliau torehkan untuk banyak orang.
Selamat jalan, Prof Chamamah. Insyaallah husnul khotimah dan turut bermohon surga terbaik untuk beliau. Amin YRA.
Ari Kinoysan Wulandari








