Flyer pendampingan penulisan buku. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Ingin punya karya tulis sendiri tapi sering bingung mulai dari mana? Atau sudah mulai menulis tapi belum selesai-selesai?
Yuk, ikut program “1 Bulan 1 Naskah”
Program intensif yang dirancang khusus untuk membantu Anda MENYELESAIKAN tulisan, bukan sekadar memulai!
Apa yang akan Anda dapatkan?
✔️ 8x pertemuan (masing-masing 30 menit)
✔️ Materi praktis & aplikatif
✔️ Diskusi interaktif
✔️ Pendampingan langsung sampai naskah jadi
Jadwal: Sabtu & Minggu (menyesuaikan permintaan peserta dan kesepakatan)
Pukul: 09.00 – 09.30 WIB Mentor: Ari Kinoysan Wulandari
Investasi: Rp1.500.000/orang
Transfer: Ari Wulandari BCA 0480013956
Kuota terbatas: hanya 10 peserta!
Pendampingan naskah terpisah satu per satu tiap peserta.
Segera daftar & konfirmasi: WA: +62 813-8000-1149
Jangan tunda lagi; wujudkan naskah Anda dalam 1 bulan! Mulai bulan April 2026. Segera daftar sebelum kuota penuh. Karena menulis bukan soal bakat, tapi proses yang didampingi dengan tepat.
Gambar hanya sebagai ilustrasi, biar banyak uang banyak rezeki berkah. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Menjelang Ramadan tahun ini, jujur saja saya sempat ragu. Kondisi tubuh sedang tidak benar-benar sehat. Dalam hati saya bertanya-tanya: bisa enggak ya menjalani puasa penuh seperti biasanya? Tapi Ramadan selalu punya daya panggil yang kuat. Rasanya sayang kalau tidak mencoba. Jadi saya mulai saja dulu. Niat, bismillah, dan berharap Allah memberi kekuatan.
Tiga hari pertama puasa terasa sangat berat. Lapar sekali rasanya. Tubuh seperti terus mengingatkan bahwa kondisinya sedang tidak baik-baik saja. Beberapa kali muncul pikiran untuk membatalkan saja. Rasanya sangat manusiawi. Setiap kali keinginan itu muncul, hati saya juga berbisik, sayang sekali kalau batal.
Akhirnya saya bertahan. Hari demi hari lewat. Alhamdulillah, saya masih bisa melanjutkan puasa. Namun, tubuh punya batasnya sendiri. Di puasa ke-20, saya benar-benar drop. Kali ini tidak bisa dipaksakan lagi. Demi kesehatan, saya akhirnya menurut nasihat dokter: berhenti puasa sampai kondisi sehat kembali. Ada rasa sedih tentu saja, tapi saya juga percaya bahwa Allah Maha Baik. Dalam ibadah pun, Allah tidak pernah menghendaki hamba-Nya memaksakan diri.
Karena alasan kesehatan itu juga, Ramadan tahun ini saya banyak mengurangi aktivitas. Saya tidak menghadiri banyak undangan buka bersama, bahkan undangan dari adik dan ipar sendiri pun harus saya lewatkan. Mohon maaf untuk semua yang sudah mengundang. Praktis, saya hanya menghadiri bukber yang benar-benar dekat dan ketika kondisi tubuh sedang cukup sehat.
Hal lain yang berbeda tahun ini adalah soal parsel Lebaran. Biasanya saya cukup repot menyiapkan sembako atau parsel untuk dibagikan ke banyak orang (sesuai kemampuan keuangan saya), termasuk kerabat sahabat nun jauh-jauh di luar Jogja. Tahun ini rasanya energi dan tenaga tidak memungkinkan.
Jadi saya memilih cara yang lebih sederhana: angpao saja. Masukkan uang ke amplop, antar, selesai. Bahkan banyak yang saya transfer untuk lebih memudahkan karena tidak perlu mengantarkan ke ybs. Urusan jadi lebih cepat, lebih sunyi, dan tidak melelahkan. Tidak perlu belanja, packing, dan gotong-gotong yang biasanya cukup menguras tenaga dan waktu. Dan ternyata, cara ini juga terasa lebih praktis bagi yang menerima. Mereka bisa menyesuaikan sendiri dengan kebutuhan masing-masing.
Karena itu, saya sempat berpikir, mungkin tahun ini saya juga akan absen menerima parsel Lebaran. Lha saya nggak berbagi ke yang jauh-jauh. Lho ternyata tidak.🙈Syukurlah, masih ada kiriman parsel-parsel yang sampai ke rumah saya. Rasanya adem sekali di hati. Karena itu seperti tanda bahwa saya masih diingat sebagai penulis, sebagai relasi. Ada kiriman dari beberapa penerbit, dari dua PH, dan dari beberapa mantan klien.
Alhamdulillah, yang datang bukan makanan; malah hampir tidak ada makanan. Orang-orang mungkin sudah mulai berpikir memberi parsel yang praktis dan lebih bermanfaat. Jujurly, kalau makanan –apalagi makanan basah, sudah pasti harus saya bagikan lagi, terutama kalau jumlahnya cukup banyak. Karena nggak mungkin saya makan semuanya dan nggak mungkin disimpan terlalu lama; biasanya 3-7 hari wes nggak enak lagi atau berbeda rasa, aromanya (kalaupun disimpan di dalam kulkas).
Isi parsel yang saya terima kali ini justru beragam; berupa barang-barang yang bisa dipakai lama. Ada yang benar-benar bikin saya surprise: laptop. Wah, sangat bermanfaat ini. Selain itu ada tas tangan, kerudung, mukena dan sajadah, kipas angin duduk, minyak kelapa dan madu, minyak pijat ukuran besar, satu set mangkuk mie lengkap dengan sumpitnya, dan sepasang cangkir.
Dan yang paling bikin saya penasaran pas mau buka itu mini karpet ukuran 1 x 1,5 meter. Saya sempat mikir, ini isinya apa ya?Tertawalah saya saat tahu isinya 😀 Selain parsel dari PH, saya juga menerima dua angpao Lebaran dari dua produser. Alhamdulillah. Terimakasih ya Allah.😇
Di tengah Ramadan yang nggak sepenuhnya bisa saya jalani dengan maksimal, semua itu terasa seperti pengingat diri bahwa Allah benar-benar Maha Baik. Selalu ada cara-Nya menghadirkan rasa hangat, rasa syukur, dan rasa disayangi ❤️ Terima kasih untuk semuanya. Semoga Allah menggantinya dengan kebaikan berlipat berkah. Amin YRA.
Selamat menyelesaikan ibadah Ramadan. Sebisa mungkin mari kita pol-polan ibadahnya di hari-hari terakhir Ramadan ini. Selamat mudik. Selamat berlebaran. Mohon maaf lahir dan batin.🙏
Display jajanan di toko oleh-oleh Banyuwangi. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Disclaimer: Catatan ini mungkin nggak “nyambung” untuk Teman-teman non Soul Community (Soul Com), non warga Soulmates. Saya berasal dari Soul Com Joglosemar, Jogja🙏
Setelah menengok Mas Adin di RS, kami melanjutkan perjalanan ke toko oleh-oleh. Pas hari ke-2 saya sempat menanyakan ini ke Mas Robert. Lalu dia mengatakan bisa dikondisikan. Mbak Tika malah nanya ke saya (tempat) oleh-oleh mana. Saya menyebut 2 nama dan dipilihlah 1 sesuai SM.
Turun dari bus, saya wes tahu harus beli apa. Hitung jumlah tetangga kiri kanan, keluarga, dan orang-orang dekat. Wes begitu saja, masuk-masukin keranjang, didus, bayar. Di sini layanannya lumayan cepet, barang-barang terdisplay dengan baik; meskipun harganya yo lumayan 😂 Lha dus packingan standar untuk oleh-oleh tuh di Jogja, di mana saja mung 3 rb, lha di sini 8 rb 😁
Hihi, namanya juga perempuan. Mo punya duit pun tetep itungan. Lha selisih barang belanjaan 500 perak bae kita milih ke toko seberang kok. Padahal ke seberang itu butuh effort, bensin, waktu, dll. Tapi ya itulah istimewanya perempuan. No debat😁😂
Pas mau ke bus saya baru ingat, minuman manis habis. Jadi saya balik ke toko untuk ambil minuman. Harganya 5 rb an, waduh gakbisa QRIS ini. Harus pakai cash. Bu Rai malah meneriaki, “Sudah Mbak, saya bayarin saja (minumnya). Sini.”
“Wah, terima kasih banyak ya, Bu.” Nggak repot ambil cash di bus saya 🙈🙏
Di Ardial toko oleh-oleh ini lumayan komplit isi jajanannya. Tapi souvenir macam kaos, topi, ganci, batik, dll ora ono. Mung jajanan. Dan syukur alhamdulillah nya ada kopi-kopi asli Banyuwangi. Cobain deh kopinya. Enak lho. Nggak kalah sama kopi-kopi daerah lain di Nusantara 😁
Usai beres beli oleh-oleh, kami ke tempat makan malam. Saat itu diinfo oleh Mas Robert kalau perjalanan berubah arah, nggak lewat tol; tapi via Jember Lumajang. Saya langsung bilang alhamdulillah.
Beberapa teman saat makan malam. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Pertama, jelas dengan lewat jalan standar, tiba di Jogja wes padang njingglang, saya tenang aja mo turun di mana. Kalau lewat tol, mungkin masih dini hari jam 2 lewat sudah sampai Jogja; saya rada mikir kalau turun sendirian di jalan. Mungkin ya perlu thenguk-thenguk dulu di center. Kedua, menghemat biaya. Jelas non bayar tol duit masih ada sisa; dan beneran makan malam itu teman-teman nggak perlu bayar (lagi) sesuai tanggungan masing-masing.
Saya lupa nama warung makannya. Saya ikut turun tapi nggak makan. Selain karena masih kenyang bakso, SM saya kok kecil banget. Lhah ya, masakan pedas, porsi besar, dan model olahannya untuk seafood nggak bisa saya makan. Jadi saya mung thenguk-thenguk nemenin orang makan sambil lihat jalanan yang cukup ramai.
Setelah itu, kami balik ke bus dan lanjut perjalanan. Wes saya nggak inget lewat mana saja. Tidur. Tahu-tahu ki wes di Madiun. Subhanallah, nyenyak tenan saya tidur. Nggak terganggu situasi dll yang kurang bersahabat saat di jalan. Berasa laper. Turun cari makan minum sama Zaka, malah warung banyak yang tutup. Untung ada yang buka.
Standar kalau masuk warung makan di areal wisata atau manapun nggak ada daftar harga, nanya dulu daripada berantem di belakang. Coffeemix 10 rb. Soto 30 rb. Kerupuk 10 rb. Biyuuu, semua kok 2-3x lipat dari Jogja gitu😁 Saya mung senyum bae. Laper Ri, kamu nggak makan bisa ribet nanti. Jadi saya memesan semuanya. Alhamdulillah enak dan daging sotonya lumayan banyak.😀
Habis itu nyambung perjalanan ke Jogja. Kami berhenti di Sukoharjo saat Mbak Tika turun. Ngepos minum kopi lagi. Wes terang benderang di sini. Saya yo wes lumayan bugar sehat karena tidur nyenyak. Oh haha… pernah ada yang nanyain saya, bagaimana cara biar di acara setelah perjalanan jauh tetap sehat dan fokus.
Tidurlah saat di kendaraan . Kalau pas waktunya tidur, ya tidur. Jangan dipakai aktivitas lain. Ngobrol seperlunya, lalu tidur. Kecuali sampeyan bertugas penjagaan, dll ya beda urusan. Tidur di malam hari versi saya adalah istirahat yang nggak bisa diganti dengan apapun, termasuk dengan tidur siang. Kualitasnya beda.
Alhamdulillah, saya turun di imigrasi bandara Adisutjipto. Teman-teman lanjut ke Soul Center. Nggak lama saya sudah dapat mobil online dan pulang ke rumah. Seluruh acara SC10 wes rampung dengan membawa kebahagiaan dan kebaikan bagi saya.
Sarapan dini hari (karena nggak puasa). Kerupuknya lupa dipotret. Di rest area Madiun. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Perjalanan SC10 di Banyuwangi bukan sekadar agenda, bukan pula sekadar perpindahan raga dari satu kota ke kota lain. Ini adalah perjalanan pulang kepada diri sendiri, kepada makna, dan kepada rasa syukur yang sering kita simpan terlalu dalam.
Bersama teman-teman Joglosemar, setiap langkah dari sejak berangkat terasa ringan; meski ditempuh dengan jarak dan waktu yang tidak singkat. Kami berasal dari latar yang berbeda, membawa cerita hidup masing-masing. Namun di Banyuwangi semua melebur menjadi satu irama: irama belajar, bertumbuh, dan saling menguatkan.
Di tanah yang kaya akan budaya dan kearifan lokal itu, kami belajar bahwa spiritualitas nggak selalu hadir dalam keheningan yang sunyi. Ia justru muncul dalam rona tawa dan kegembiraan di sela perjalanan, dalam obrolan sederhana, dalam saling menunggu, dan saling memahami.
Setiap sesi SC10 membuka ruang batin yang membuat kita berani jujur pada diri sendiri, mengakui bahwa kita lelah, sekaligus menyalakan kembali semangat dan cahaya yang sempat redup.
Banyuwangi mengajarkan kita tentang kesederhanaan yang bermakna. Tentang bagaimana alam, budaya, dan manusia bisa selaras ketika hati mau mendengar. Dan teman-teman Joglosemar menjadi saksi bahwa perjalanan spiritual nggak harus dijalani sendiri. Justru, kebersamaanlah yang membuat setiap pelajaran terasa lebih dalam dan membekas.
Terima kasih untuk setiap senyum, sapaan, pelukan, bantuan, dan doa yang diam-diam dipanjatkan. Terima kasih untuk ruang aman yang tercipta, tempat kita bisa menjadi diri sendiri tanpa topeng. Terima kasih telah berjalan bersama, bukan untuk menjadi sama, tapi untuk saling menemani dalam proses pulang.
Semoga energi SC10 di Banyuwangi nggak berhenti di sana. Semoga semangatnya terus hidup dalam langkah kita setelah ini; dalam setiap keputusan yang lebih sadar, hati yang lebih lapang, dan jiwa yang semakin berani bertumbuh.
Terimakasih untuk Teman-teman Soul Joglosemar. Terimakasih Mas Robert, Mbak Tika, Mbak Fefty, Mas Sodam, Mbak Rischa, Mbak Zaka, Bu Rai, Dik Hana, Mbak Ririn, Bu Nyoman, dan semua teman seperjakanan Jogja Banyuwangi Pp. Terimakasih untuk Bunda Arsaningsih (spesial guru saya). Terimakasih untuk guru-guru yang lain; Pak Gede, Bu Iin, dr. Rastho, Bu Adek, Pak Agung, Bu Mariam, dr. Tya, Bu Gung, Mbak Rina, dll kru Soul panitia penyelenggara SC10. Terimakasih untuk seluruh teman Soul Community di manapun berada. Love you all. Mari terus bertumbuh menyeluruh.❤️ Teriring mohon maaf lahir batin kalau ada salah kata, salah tindak perbuatan atau salah tulis dalam catatan ini. 🙏 Sampai jumpa di Soul Conference berikutnya. 🤩💪🙏
Saya dan Zaka sebelum meninggalkan De Djawatan. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Disclaimer: Catatan ini mungkin nggak “nyambung” untuk Teman-teman non Soul Community (Soul Com), non warga Soulmates. Saya berasal dari Soul Com Joglosemar, Jogja🙏
Usai acara pembelajaran di De Djawatan, kami masih foto-foto, salaman, peluk cium, pamitan dengan kawan-kawan lainnya. Sebagian masih mengobrol. Sebagian ke toilet. Sebagian jajan. Saya dan Zaka bergegas mencari Bunda Arsaningsih karena mau foto bersama. Rupanya beliau sudah meninggalkan tempat. Kami pun ke toilet sebelum bergabung dengan teman-teman di bus yang akan membawa kami kembali ke Jogja.
Acara perjalanan hari itu sekurangnya, menengok Mas Adin di RS, pergi ke tempat oleh-oleh dan makan malam. Perjalanan dari De Djawatan ke RS cukup makan waktu. Ada beberapa teman yang memutuskan ikut bergabung menengok ke RS. Saya tanya Zaka apa ikut turun (menengok), dia bilang enggak karena SM nya kecil.
Dalam hati saya juga nggak ada niat menengok. Ingat kata dokter jangan pecicilan (terlalu capek, memporsir energi) dan jangan berada di sekitaran orang sakit (termasuk berada di RS, menengok orang yang sakit parah). Baiklah saya SM dulu, kayaknya saya wes sehat. Karena hasil kecil, saya mengekori Zaka memutuskan nanti nggak turun dari bus.
Dari 3 hari acara SC10 baru kali ini saya duduk sebelahan dengan Zaka di bus dan bisa ngobrol cukup panjang. Karena sebelumnya mung selintas-selintas dan nggak fokus. “Saya pikir ada di list peserta kok nggak kelihatan pas saya ikut bus rombongan dari Jogja.”
“Itu Mbak, sampai jelang akhir tuh aku belum punya duit, tapi dari SM ini kok besar. Makanya aku berani daftar. Ternyata belakangan aku dapat rezeki. Pekerjaan-pekerjaan yang kukira nggak dibayar, ternyata ada bayarnya dan lumayan besar. Terus ada juga beberapa dana yang tahu-tahu cair. Baru setelah itu aku bisa bayar-bayar, urus tiket, dll.” Begitu lebih kurang kata Zaka.
Ya, meskipun dia sebagai dosen PNS di kampus negeri yang total pendapatan bulanannya pasti lebih besar daripada bulanan yang saya terima dari kampus tempat saya mengajar; tapi mengandalkan gaji dosen saja jelas nggak mungkin dalam waktu singkat menyediakan begitu banyak pendanaan untuk SC10; kecuali mungkin sudah guru besar ditambah full tunjangan-tunjangan.
Saya pribadi mengacungi jempol ke kawan lama saya ini karena jalan cepatnya mengikuti program-program di Soul. “Karena tiap kali ikut program itu, Mbak, ada masalahku yang (baru) kebuka lagi dan bisa diselesaikan.”
Ya betul, tiap tingkat kelayakan ilmu di bidang apapun itu biasanya untuk menyelesaikan masalah tertentu; baik itu kita sadari atau tidak. Saya lupa pernah mencatatkan di bagian sharing tentang Soul yang mana; tapi pas awal mengikuti Soul itu, saya beneran nggak ada atau nggak merasa ada problem tertentu dalam diri saya.
Betul, ada masalah ekonomi yang cukup ruwet saat saya ditinggal bapak (meninggal) dengan ibu yang nggak bekerja dan 5 saudara yang masih kemruwet biaya sekolah/kuliah, ditambah tanggungan banyak hutang dari almarhum bapak. Itu pun satu-satunya rumah ibu statusnya diagunkan ke bank. Beneran nyesek untuk saya sebagai anak sulung. Apalagi saat itu saya sudah sarjana. Ngebayangin adik-adik saya nggak sekolah aja, wes berontak hati. Sekurangnya mereka harus sama sarjananya dengan saya agar bisa mengakses pekerjaan yang lebih layak secara finansial.
Toh ya, itu sudah saya selesaikan bersama-sama dengan saudara-saudara bergandengan tangan, bahu membahu lebih kurang 15 tahun. Adik saya semua sarjana dari kampus negeri, bekerja baik dan mapan, hutang bapak sudah terbayar lunas, rumah ibu juga terselamatkan dari sitaan bank, dan mereka semua juga sudah menikah dengan situasi keluarga baik-baik saja. Alhamdulillah.
Setelah itu, saya wes hidup untuk diri saya sendiri. Saya bisa sekolah S2 dan S3 non beasiswa. Alhamdulilah, bisa beli rumah dll kategori biaya besar dengan cash. Bisa piknik ke berbagai negara dengan gembira tanpa perlu mikir saat bayar. Mungkin bagi mereka yang ekonomi mapan, itu bukan prestasi atau hal-hal yang perlu diceritakan. Tapi bagi saya yang pernah begitu gelap berada di kungkungan masalah ekonomi; bahkan ketika gaji saya puluhan juta pun, menyisihkan 200 rb saja begitu sulit; itu semua adalah hal luar biasa yang nggak pernah saya pikirkan. Tugas menanggung biaya hidup ibu setiap bulan setelah itu; bukan dari saya saja, tapi seluruh saudara. Versi saya mudahlah itu, dibandingkan saat saya harus berjibaku melawan lelah, stres, depresi karena tuntutan deadline, dll. agar semua urusan keuangan keluarga tercukupi.
Teman-teman Joglosemar. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Jadi hidup saya saat jumpa Bunda dan Soul itu sudah relatif aman, damai, sejahtera, sehat fisik mental. Saat ukur SM pertama oleh Bunda, kemarahan saya itu 0 😀🙏 Hebat tenan 🙈 Bayangkan, saya dengan tetahunan jatuh bangun begitu rupa gegara banyak anggota keluarga, nggak ada simpan kemarahan sama sekali. Sementara ada banyak yang bareng saya saat itu (SR –Soul Reflection, dulu workshopnya terpisah; SR dulu baru SM) kemarahannya sampai 10 lebih (saking besarnya).
Saya lupa apa saja yang diukur dari emosi negatif, tapi saya ingat tentang kemarahan ya karena 0 bulet itu. Terus bahagia saya saat itu 8,5. Berarti pada dasarnya saya yo wes happy-happy saja menjalani hidup. Kesehatan, kemakmuran, spiritual semua diukur. Saya lupa persisnya, tapi rerata di atas 7 dan saat uji konsentrasi; hanya butuh beberapa detik otak saya wes rileks, fokus, tenang. Sementara ada banyak orang sampai 2 menit masih ke sana sini gelombang otaknya alias nggak fokus.
Secara umum, hidup saya baik-baik saja. Pas ada pemurnian yang cukup dalam, baru saya tahu di lapisan-lapisan jiwa yang lebih dalam; ada kemarahan kepada orang tua, saudara, ipar, keluarga; luka batin yang berkaitan dengan uang (kemakmuran), sakit berulang (kesehatan), cinta (hubungan), bahkan Tuhan (spiritual).
Dengan hati yang sudah lebih bersih, saya bisa melihat betapa banyak “masalah” yang tinggal di kedalaman jiwa saya. Dan itulah yang membuat saya bersyukur bertemu Soul. Termasuk dengan Soul pula pertanyaan lama saya terjawab. Kenapa dengan si A, si B, niy baru jumpa pertama bawaan saya emosi jiwa aja. Sementara pada si X si Y, baru jumpa malah cocok kek sudah puluhan tahun mengenal. Ya karena ada karma saya dengan mereka. Termasuk dengan tempat, kejadian, benda-benda, dll. Itu semua masalah yang berusaha saya bereskan dengan Soul. Meskipun jalan lamban, tapi saya tahu bahwa hidup dan jiwa saya jauh lebih baik dibandingkan sebelum mengenal Soul.
Dari cerita Zaka tadi saya menangkap bahwa kalau kita sudah ada niat, ndilalah biasanya juga ada jalan. Tahu-tahu terselesaikan sendiri. Tentu, ingat lagi, jangan memaksakan diri; terutama kalau hasil SM-mu rendah. Wes jangan dilawan itu, karena energi menghitung radiasi lebih pasti daripada logikamu yang kadang penuh ambisi.
Saat kami sampai di RS, beberapa teman turun untuk menengok Mas Adin. Sebagian jajan. Sebagian ke toilet. Sebagian turun ngobrol di halaman RS. Saya masih ngobrol dengan Zaka di bus.
Ternyata yang di RS dll yang di luar bus, cukup lama kembalinya. Saya sudah mulai lapar. Kami pun keluar bus dengan Bu Nyoman dan Hana. Niatnya mau ke toilet numpang di gereja, karena Bu Nyoman nggak bisa pake toilet RS. Di seberang, saya baru ingat kalau toilet gereja (kadang) nggak diizinkan untuk orang non jamaah.
Saya sempat mau pinjam toilet di Dinkes, tapi disarankan ke masjid sebelah RS. Akhirnya kami berpisah. Bu Nyoman dan Hana ke Indomaret, saya dan Zaka ke mesjid. Wah tahu toilet mesjidnya boleh untuk mandi, mestinya tadi saya bawa baju ganti sekalian. Tapi lumayanlah saya bisa sibinan nggebyur badan, meskipun nggak ganti baju 😅🙈
Karena lapar saya memesan bakso dan dibungkus saja. Takutnya ntar kelamaan ditungguin teman-teman di bus. Lha beneran sudah cukup banyak yang di bus. Tinggal menunggu Bu Nyoman dan Hana yang dari supermarket. Oalah ada drama antri toilet soalnya, makanya jadi lama. Namanya juga bukan toilet pribadi 😅😁 Setelah itu barulah bus melanjutkan perjalanan.
Bunda Arsaningsih dengan Ilham di De Djawatan. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Disclaimer: Catatan ini mungkin nggak “nyambung” untuk Teman-teman non Soul Community (Soul Com), non warga Soulmates. Saya berasal dari Soul Com Joglosemar, Jogja🙏
Saya nggak tahu kapan Bunda datang di De Djawatan. Ya mungkin pas saya mider keliling. Nah, pas saya balik ke lokasi areal panggung, Bunda Arsaningsih sudah ada di atas panggung dengan bocil pakai baju seniman rakyat. Saya njur menyimak percakapan mereka berdua sekaligus heran kenapa orang-orang hilir mudik ke depan panggung ngisi kotak. Oalah ngisi kotak saweran untuk Ilham. Dia ini anak SD yang kerjaannya ngamen untuk biaya sekolah dan ngurusi neneknya.
Ya ampun, hidupnya lebih “horor” dari yang saya alami soal ekonomi. Mestinya itu kan Dinsos yo tanggap to ngurusi kek gini. Tapi embuhlah, kadang saya emeng juga sama orang orang pemerintah ini. Banyak betul bantuan-bantuan yang salah sasaran.
Saat Bunda Arsaningsih mulai memberikan pembelajaran. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Bunda menceritakan saat berada di KFC bocah ini nanya apakah nasinya boleh dibawa pulang; katanya untuk neneknya. Hadeuh, bocah sekecil ini… Jadi karena dibawa Bunda ke lokasi Pembelajaran di Alam, Ilham bisa dapat bantuan saweran dari warga Soul Com hari itu cukup banyak. Nggak tahu jumlahnya.
Kata Ilham mau untuk beli sepatu. Sama Bunda diminta untuk biaya sekolah. Betapa kita masih lebih beruntung daripada si kecil ini yang belia sudah harus berjuang mencari nafkah, bukan untuk dirinya sendiri tapi juga untuk neneknya. Mudah-mudahan ada orang baik yang bisa membiayai sekolahnya.
Lalu ada banyak lagi doorprize yang dibagi-bagikan. SC10 ini memang banyak sekali doorprizenya. Semoga bermanfaat untuk yang menerima dan berkah untuk yang memberikan ❤️
Sebagian dari mereka yang menerima doorprize berfoto dengan Bunda Arsaningsih. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Oh iya di sini kami dapat snack berat rebusan, makan KFC, dan minuman komplit. Wes lebih dari kenyang untuk saya. Menyimak pembelajaran dari Bunda dengan lebih ringan hati.
Selanjutnya materi pembelajaran dari Bunda Arsaningsih. Biyuuu, waktu ada diminta peserta naik ke panggung; itu ada seseembak yang larinya kencang dan langsung lompat ke panggung. Ya ampun, setinggi itu dengan enteng saja, sampai nggak inget pakai sepatu; saking pinginnya jumpa Bunda 😀 Luar biasa.
Seperti apa situasi pembelajaran di alam kali ini? Yach, De Djawatan bukan sekadar destinasi wisata alam, melainkan ruang belajar yang sunyi dan penuh makna. Deretan pohon trembesi raksasa yang menjulang tinggi seolah menjadi saksi perjalanan waktu, mengingatkan manusia betapa kecilnya diri kita di hadapan alam.
Dua MC yang bertugas nonstop dari hari ke-1 sd ke-3 siang malam. Di SC10. Terimakasih Mas-mas MC yang sering kocak. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Dalam pembelajaran di alam De Djawatan ini, Bunda Arsaningsih mengajak kami berjalan menyusuri hutan secara energi sebagai bagian dari proses pembentukan kesadaran untuk belajar rendah hati. Manusia hanyalah bagian kecil dari ciptaan Tuhan Yang Maha Esa. Bisa jadi saat kita memasuki De Djawatan ada perasaan kagum sekaligus bangga; merasa sebagai pengunjung yang bebas menikmati keindahan.
Namun, langkah demi langkah di bawah kanopi pohon tua perlahan pasti mengubah cara pandang kita. Akar-akar besar yang mencuat di tanah memaksa kita berjalan pelan, menundukkan kepala, dan lebih berhati-hati. Di sinilah alam mulai “mengajarkan” sikap rendah hati: manusia nggak bisa berkuasa atas segalanya, melainkan hanya bagian kecil dari ekosistem semesta yang lebih besar.
Keheningan De Djawatan juga memainkan peran penting. Nggak ada suara mesin atau hiruk pikuk kota, hanya desir angin dan kicau burung. Dalam sunyi itu, kita belajar mendengarkan; bukan hanya suara alam, tetapi juga suara hati kita sendiri.
Situasi sebelum pembelajaran bersama. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Rendah hati hadir ketika kita menyadari bahwa selama ini terlalu sering merasa tahu, merasa benar, dan jarang memberi ruang untuk diam dan belajar. Pohon-pohon trembesi yang telah hidup ratusan tahun menjadi simbol keteguhan tanpa kesombongan.
Mereka tumbuh besar tanpa meminta perhatian, memberi keteduhan tanpa memilih siapa yang berlindung di bawahnya. Dari sini, kita bisa menyadari bahwa kerendahan hati tidak selalu hadir dalam hal-hal kecil atau sederhana, tapi justru tumbuh dari kekuatan besar yang tenang dan bermanfaat bagi sekitarnya.
Pada sesi sebelum meditasi bersama untuk pembersihan karma di De Djawatan, Bunda Arsaningsih sengaja menghadirkan tokoh penguasa hutan tersebut. Bagi mereka yang peka energi, mata batin terbuka, dan ilmu pembelajaran Soulnya sudah lanjut pasti bisa merasakan dan melihat kehadirannya di sisi Bunda dan pembicaraan mereka; hingga akhirnya sang penguasa kembali ke tempatnya.
Plooong… Lega sekali hati saya setelah pembelajaran di De Djawatan ini. Alhamdulillah. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Beruntung saya sudah menandai tempat-tempat saya berkarma dan energi cukup tinggi; sehingga pas meditasi itu bisa sekaligus menyertakan untuk beberes karma. Karena energi Tuhan yang diterima Bunda sangat besar, jadi bisa ikut mengcover tempat yang sangat luas, termasuk tempat-tempat yang saya tandai. Ploong… lega rasanya hati saya. Besok-besok kalau ada kesempatan ke sini lagi; pasti lebih plong tanpa beban karma lagi. Alhamdulillah.
Pembelajaran di alam De Djawatan dengan Bunda Arsaningsih; bukan sekedar menaklukkan hutan atau berfoto-foto ria, melainkan tentang menata ulang sikap batin kita. Alam mengajak manusia untuk berjalan lebih pelan, berbicara lebih sedikit, dan merasa cukup dengan keberadaannya. Dari De Djawatan, kita diajak pulang dengan satu pelajaran penting: semakin dekat dengan alam, semakin manusia belajar untuk rendah hati.
Catatan: Pembelajaran dari Bunda Arsaningsih di De Djawatan sepertinya tidak menyebut “rendah hati” secara eksplisit, tapi itu adalah penafsiran saya pribadi secara keseluruhan selama mengikuti pembelajaran dan meditasi bersama. Cmiiw 🙏
Jajanan pasar saat sarapan pagi hari ke-3 di villa kami menginap. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Soul Conference 10 (SC10) [7]: Jangan Memaksakan Diri
Disclaimer: Catatan ini mungkin nggak “nyambung” untuk Teman-teman non Soul Community (Soul Com), non warga Soulmates. Saya berasal dari Soul Com Joglosemar, Jogja🙏
Pada saat hari ke-2 SC10 karena full pembelajaran, mungkin saking saya fokus belajar dan konsentrasi, atau pas saya ke toilet; saya beneran nggak tahu kalau Mas Adin (teman kami dari rombongan Jogja) hari itu jatuh dan dibawa ke RS; ditungguin oleh Bu Rai. Itu kenapa saya bingung saat malam usai pentas seni; Mbak Tika, Mas Robert, Mbak Fefty, dan Mas Sodam masih berembug tentang menengok dan mengurus Mas Adin. Namun katanya sudah ada juga orang dari Tim Soul yang datang.
Saya menyimak saja, karena nggak tahu kejelasannya. Saya hanya tahu sejak berangkat kondisi Mas Adin nggak fit. Karena duduknya cukup dekat dengan saya, sedari awal saya juga wes krubut-krubut baju maskeran agar nggak ketarik energi sakitnya. Apalagi Bu Ririn yang di samping saya, pas awal-awal juga sempat kurang sehat. Wees… kudu pasang “jarak” secara energi. Alhamdulillah saya sehat dan happy terus sepanjang SC10🙏
Kami di dekat areal parkir De Djawatan. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Setelah mereka berempat yang menggawangi rombongan Jogja beres rembugan, barulah kami balik ke villa. Beberapa teman berniat untuk ikut serta ke RS menengok Mas Adin. Saya nggak tahu siapa saja yang ikut malam itu.
Bus sampai di parkiran villa. Saya meminta bantuan Zaka untuk menemani cari (Pop)mie dan minuman instan; karena saya kok wes merasa lapar. Sementara kiri kanan villa yang jualan makanan masak sudah tutup. Kami jalan dari parkiran sampai ketemu toko kelontong. Lumayan juga jaraknya euy. Gobyooos berkeringat karena jalanan cukup menanjak😁 Terimakasih ya, Zaka 😀🙏
Saat sampai di villa, Mbak Tika dan Mas Robert masih duduk-duduk nungguin Teman-teman lain yang mau ikut ke RS. Beberapa teman lainnya justru berenang di kolam renang villa. Saya dan Zaka pun pamitan masuk ke kamar masing-masing.
Baru sadar saya kalau kami satu angkatan waktu WSM. Tapi ketiganya sudah jalan cepat ke pembelajaran-pembelajaran Soul yang lebih tinggi. Saya jalannya paling lamban. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Sampai di kamar, ternyata Hana sudah bersiap-siap mau renang. Saya? Merebus air untuk bikin (pop)mie dan minuman panas. Usai makan, barulah saya beberes mandi, sholat, njur tidur. Urusan jaga diri begini saya cukup tertib saat di perjalanan. Apalagi kalau ada banyak kegiatan. Sadar diri, kurang tidur bisa bikin nggak konsens, badan lemes, dll.
Pagi itu sarapan kami berbeda. Ada setampah besar jajanan tradisional untuk kami yang disediakan pengelola villa secara free. Wah, alhamdulillah. Dan pagi itu kami sekalian check out dari villa menuju De Djawatan. Selanjutnya nanti dari De Djawatan kami akan terus kembali ke Jogja.
Kami nggak mampir lagi ke hotel tempat SC10. Mas Adin tentu nggak ikut bersama kami. Bu Rai sudah bergabung dengan kami. Ceritanya banyak tentang Mas Adin. Saya menyimak saja dengan diam. Mengurus atau menunggu orang sakit nggak mudah. Apalagi kalau nggak tahu latar belakang penyakitnya. Saya bisa memaklumi kekhawatiran Bu Rai saat petugas RS minta keterangan dan tanda tangan. Terlebih kalau kita bukan orang dekat, yang juga nggak tahu riwayat keluarganya. Namun sungguh luar biasa kebesaran hati Bu Rai, bersedia meninggalkan jam kelas untuk menunggui Mas Adin. Berbalaslah dengan banyak kebaikan, Bu Rai 🥰
Usai mider-mider beberapa lokasi di De Djawatan, depan panggung. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Versi saya, kita ini memang jangan main-main dengan energi. Karena seberapapun kuatnya niat, tekad untuk mengikuti SC10 atau kegiatan Soul lainnya; kalau kelayakan energi via hitung SM belum cukup, sebaiknya legowo. Ikhlaskan saja. Nggak usah memaksakan diri.
Saya pernah mendiskusikan hal ini dengan Bunda Arsaningsih. Tentang kawan-kawan yang jalan cepat serasa lewat tol mengikuti semua kegiatan pembelajaran di Soul. Seolah nggak ada masalah apapun dari urusan waktu, jarak, biaya, dll. Sementara saya tiap kali ada sesi pemurnian, itu pake ngedropnya bisa seminggu nggak bisa kerja aktivitas seperti biasa. Usai WSM dan update saja, saya kudu rela prei nggak kerja gegara dampaknya ke fisik. Saya harus bolak-balik ke toilet untuk buang air besar berulang kali dalam sehari.
Bunda Arsaningsih menjelaskan dengan singkat; di Soul itu pembelajarannya seperti perjalanan ke suatu tujuan. Semua orang memiliki tujuan yang sama, misalnya di Titik A. Nah untuk mencapai titik tersebut, setiap orang caranya berbeda-beda. Ada yang jalan kaki. Ada yang berlari. Ada yang naik sepeda, motor, mobil, perahu, kapal laut, pesawat, dll. Tentu tiba di tujuannya juga tidak sama. Tidak apa-apa perjalanannya lambat, asal tidak berhenti. Terus bergerak semampunya.
Sebagian Teman-teman Joglosemar. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Legalah hati saya. Jadi saya ukur-ukur diri sendiri. Kalau waktunya, energinya, biayanya, dll saya sanggup; nggak usah disuruh saya pasti berangkat. Kalau pun diajak tapi saya nggak siap; duitnya kurang, waktunya nggak pas, kesehatan juga ndatndutan (nggak fit), dll masih kurang, saya pilih nggak berangkat.
Terus karena ilmu di Soul itu sifatnya konversi energi; kalau duitmu masih kurang untuk biaya-biaya kegiatan atau program tertentu, weslah ngikut periode berikutnya saja. Nggak ada yang memaksa kita harus ikut sekarang atau periode berikutnya. Kalau memaksa dengan utang-utang atau minta diskonan, ntar kalau “ditagih” dengan konversi energi lainnya, bisa lebih horor akibatnya. Bisa saja boleh diskon atau bayar kurang, tapi njur kesehatan drop, atau hubungan keluarga jadi ribut, dll.
Jadi Teman-teman Soul Com yang saya sayangi di manapun berada, kalau mau ikut kegiatan Soul; tapi hitung energinya SM begini begitu di angka kecil; weslah nggak usah memaksakan diri. Sebaliknya juga jangan cuek nggak usaha. Misalnya sudah tahu mau ikut SC11 berikutnya dan biayanya besar, malah berborosria. Nabung dong. Itung-itungan sendiri berapa keperluannya.
Sebagian Teman-teman Joglosemar di sisi lain De Djawatan. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Saya diberitahu Hana kalau ada Soul Finance yang bisa membantu mengelola tabungan untuk kegiatan di Soul. Silakan cek-cek ke admin atau petugas internal Soul yang berkaitan. Atau ya nabung sendiri seperti saya. Cuman kalau begini, kudu ketat disiplinnya. Duit itu cair, bisa diambil sana-sini, tahu-tahu habis. Di rumah aja tuh, sekarang kita bisa habis duit lho. Lha itu marketplace yang obral diskon; tahu-tahu kita check out ini itu, padahal nggak butuh-butuh amat.
Pokoknya carilah cara yang paling mudah dan gampang untuk diri sendiri. Ada juga kok yang ambil dari pinjaman dengan bunga 0 persen, lalu dia nyicilin tiap bulan dengan ringan. 12 juta terasa berat, tapi 1 juta per bulan ya terasa jauh lebih ringan. Kalau yang wes sugih yo gakusah diceritakan. Cincailah mereka mo duit berapa aja😁
Ini lumayan komplit personil Soul Com Joglosemar. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Dari cerita-cerita sana sini, sampailah kami di De Djawatan. Saya sudah beberapa kali ke sini. Karma saya cukup banyak di sini. Berulang saya bersihkan dan kali ini saya datang lagi, berarti masih ada urusan karma yang belum rampung.
Saat kami datang sudah banyak teman Soul Com daerah lain yang ada di De Djawatan. Jelas wes sibuk berfoto ria sana sini. Tempat ini memang luar biasa cantik. Pohon-pohon ratusan tahun tumbuh besar dengan gagahnya. Semua terasa adem. Hati-hati saja, ada banyak energi makhluk berkeliaran di sembarang tempat dengan penguasanya. Dan nggak semuanya baik atau positif. Lha ya tempatnya sekitar 10-an hektar berwujud hutan belantara sejak ratusan tahun lalu. Kebayang betapa banyak “penghuninya”.
Terus gitu kalau di sini juga perlu hati-hati dengan gerumbulan daun-daun atau semak-semak, terutama di lokasi yang sepi dan jauh dari jangkauan manusia. Takutnya ntar malah kita mengganggu atau memijak sarang ular. Bisa ribetlah. Intinya hati hati saja kalau di sini atau areal hutan seperti ini. Dan seperti kata Bunda, kalau tiba di tempat baru, ya jangan cuma piknik atau wisata. Tapi juga bersih-bersih karma, meradiasikan cinta untuk seluruh makhluk bumi di tempat itu, dan menebarkan semangat merawat bumi seisinya via energi.
...dengan Bu Adek. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Begitu selesai foto-foto dengan teman-teman, saya wes mider mencari beberapa sisi lokasi untuk bebersih karma. Setelah itu saya duduk saja njegrek di depan panggung dengan Zaka. Dua MC di depan entah ngomong apa, saya nggak terlalu perhatiin. Sementara Teman-teman Joglosemar banyak yang ikut nyanyi dan joged di sisi belakang kami. Eeh, beneran saya cukup lelah juga wirawiri tadi😁😅
Nggak lama saya bilang mau keliling dulu ke Zaka. Dia pun terus ketemu teman-temannya dari Kalimantan. Saat itu saya merasa ada energi kuat yang menarik saya ke beberapa sisi tempat. Yach, weslah saya turuti. Dan ya cukup melegakan hati saya ketika jiwa-jiwa sudah saling memaafkan dan minta maaf. Untuk urusan ini pun saya nggak berani memaksakan diri. Ada beberapa sisi tempat yang terasa energinya terlalu kuat. Jadi nanti saja, tunggu saat ada Bunda Arsaningsih. 🙏
Teman-teman di Soul Center Jogja selepas meditasi bersama. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Disclaimer: Catatan ini mungkin nggak “nyambung” untuk Teman-teman non Soul Community (Soul Com), non warga Soulmates. Saya berasal dari Soul Com Joglosemar, Jogja🙏
Ada beberapa teman yang meminta saya menuliskan lagi kisah lainnya tentang penggunaan SM. Jadi saya sisipkan sebagai intermezo pengalaman SM yang belum saya tuliskan, sebelum saya lanjutkan cerita tentang SC10. 🙏
Sekitar bulan Agustus 2023, saya pernah kehilangan gelang emas kadar 22 karat seberat 20 gram. Saya tahunya saat wes di rumah setelah seharian di kampus. Sudah leyeh-leyeh malam hari jelang tidur. Ya Allah, sungguh paniklah saya dan njering (sedih, bingung, stres) beneran.
Itu duit yang nggak sedikit. Terus gelang itu bayarnya saya cicil sedikit demi sedikit selama setahun. Ketika itu saya masih kerja kantoran di Jakarta (2000 s/d 2011) dan jadi generasi sandwich yang menanggung hidup dan sekolah/kuliah banyak saudara, mengurus orang tua yang terpuruk gegara hutang.
Walaupun saat itu gaji saya 2 digit dalam jumlah besar, sungguh nyisihin 200 rb aja, bukan hal yang mudah. Ada saja urusan keluarga yang bikin saldo limit nggak bisa diambil lagi. Akhirnya saya memilih untuk membayar cicilan emas ini lebih dulu tiap bulan saat gajian, baru mengatur untuk semua keperluan.
Harga emas masih rerata 85-100 rb per gram. Jadi total harga 20 gram dengan ongkos buat perhiasan ya 2 juta. Saya nyicilnya 200rb an per bulan selama 10 bulan dengan tenggang 2 bulan (tanpa bunga karena nyicilnya di toko emas langganan). Kalau saya pas ada banyak rezeki, biasanya saya transfer lebih banyak biar lebih cepat lunas.
Saat itu saya belum mengenal model investasi emas batangan. Versi saya, beli emas dan punya emas itu sama aja bawa cash dan (pasti) nggak dicuil-cuil atau dikurangi, ditarik untuk ini itu seperti kalau kita ada uang di rekening. Emas mudah diuangkan di mana-mana, digadaikan pun tetap punya nilai tinggi.
Tenan malam itu saya semlengeren dan sampai lama nggak bisa tidur. Saya mencoba mengingat-ingat ke mana aja seharian itu dan kira-kira gelangnya jatuh di mana. Karena di tahun 2023 harga emas per gram sudah 1,1 sd 1,2 juta. 20 juta kok hilang begitu saja tanpa saya tahu di mana jatuhnya atau hilangnya.
Saya melacak dengan SM berkali-kali dan merujuk kalau gelang itu ada di rumah. Ya wes, besok libur saya cari. Toh gelang itu nggak ketemu sampai berminggu-minggu. Akhirnya saya mupus, ya wes mungkin ada kekurangan sedekah saya yang njur diambil dari emas itu. Kalau enggak dan karena jelas asal usul dan kehalalan duit untuk belinya, pasti gelang itu akan kembali ke tangan saya.
Mbak Hanik, penjaga gawang Soul Center Jogja. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Kemudian nggak sengaja saya lihat buku tentang SM. Membaca ulang. Saya seperti tersadarkan lagi. Oh makin spesifik atau jelas pertanyaannya, makin jelas pula jawabannya. Saya pun SM lagi. Kali ini saya menggunakan pertanyaan yang spesifik tempat.
Dan ya Allah… tahu enggak gelang itu di mana? Tergeletak begitu saja di pot tanaman depan rumah. Pasti gelang sudah berminggu-minggu di situ. Persis SM saya di rumah bagian mana, ketika saya tanya apakah di tempat tanaman, radiasi energinya 10 😂 Sadarlah saya kenapa kemarin-kemarin gelang itu nggak ketemu. Bukan SM nya yang bermasalah, tapi pertanyaannya yang kurang jelas atau kurang spesifik😁😂
Mungkin kunci gelang terlepas saat saya beberes tanaman njur jatuh dan saya nggak sadar. Setelah itu nggak saya pakai lagi. Kapok ngerasain semlengeren nyaris semalaman gegara kehilangan nilai uang sebanyak itu. Apalagi kalau sekarang ya, emas sudah tembus 3 juta per gram. Beuuh, bisa gulung koming nangisnya. Untung ada SM 🥰🥰
Teman-teman yang sudah tahu SM dan punya pengalaman-pengalaman seru, boleh juga dong share-share. Meskipun nggak di forum macam SC10, kalau punya sosmed pribadi, ya share saja di sana. Kalau menuliskan pengalaman pribadi itu juga akan membantu mengurangi beban otak kita untuk mengingat macam-macam detail; yang seharusnya sudah kita letakkan (nggak diingat-ingat lagi).
Mencatat pengalaman pribadi selain untuk mengingat secara personal, juga sebagai sarana membantu menyebarluaskan tentang Soul. Iya dong, jangan sampai manfaat Soul berhenti di kita saja. Siapa tahu di luar sana ada banyak orang yang sebenarnya sangat membutuhkan Soul untuk menyelamatkan jiwa raganya. 🙏
Biar orang-orang di luar sana juga bisa lebih banyak mengenal dan tidak menyalahpahami tentang Soul. Karena ini bukan ilmu klenik, bukan magis. Soul itu ilmu tentang pengenalan jati diri manusia secara utuh berbasis energi dengan menyandarkan diri pada kekuatan dan energi Tuhan. Pasti relate dengan semua budaya, semua agama. Nggak ada sajen-sajen, dupa-dupa, ritual-ritual, atau aliran tertentu yang nggak berdasar.
Untuk Teman-teman non Soul Com yang kebetulan membaca catatan saya ini, coba cek saja youtube Bunda Arsaningsih yang berkaitan dengan meditasi online setiap hari Rabu. Atau ya diskusi dan kuliah-kuliah Bunda Arsaningsih lainnya di youtube. Coba ikuti saja itu dulu sebagai bentuk kenalan dengan Soul. Kalau cocok ya bergabunglah, siapa tahu segala problem hidupmu bisa terselesaikan lewat Soul. Sama seperti slogannya: Soul is Solution. 😀
Nah itu intermezo tentang salah satu pengalaman saya dengan SM. Pada bagian berikutnya saya akan kembali mengulas kelanjutan SC10. Tunggu ya…