Prof Chamamah yang Saya Kenal

Berita duka. Dokumentasi kagama.id.

Saya mengenali Prof Chamamah, begitu beliau dipanggil, saat masuk S1 Sastra Indonesia UGM tahun 1997. Wow sekali versi saya; perempuan, guru besar, Dekan Fak Sastra UGM, ketua umum Aisyiah. Super sekali. Hebat betul perempuan ini.

Saya nggak banyak bersinggungan dengan beliau, karena saya memilih konsentrasi yang praktis, cepet lulus: Linguistik (sebenarnya ini juga sulit, tapi versi saya; dibandingkan Sastra dan Filologi jauh lebih mudah). Sementara beliau ahli Filologi, yang jelas bikin saya mumet dengan pembacaan kitab-kitab kuno yang njelimet.

Interaksi saya agak intens ketika pengurus BEM (lupa saya itu tahun berapa, tapi saya ikut kepengurusan BEM selama 2 tahun) kudu bolak-balik mengawal kawan-kawan D3 (Arsip, Pariwisata) waktu itu yang protes keras karena biaya kuliah mereka per semester, jauh lebih mahal daripada kami yang studi S1. (Beuh mumetke bae, pikir saya waktu itu. Ya kalau kuliah mahal kan mestinya nggak kuliah di D3 UGM, kan bisa milih yang lain). Cuman sebagai pengurus BEM saya nggak bisa ngomong gitu ke temen-temen D3, bisa dikrawus warasan 😂😂

Tapi ya beliau itu sungguh bisa memposisikan diri sebagai seorang ibu, dekan, sahabat, kawan untuk mahasiswa. Jadi tiap kali kami mau ketemu dan beliau nggak bisa hadir, pasti wakilnya atau siapa suruh nemuin kami, dan kami dijamu makan-makan sekenyangnya 😂 Suwe-suwe mahasiswane lali dhewe mau protes apaan (diplomasi meja makan)😂🙈

Akhirnya ketika beliau mau menemui kami, dengan gamblang beliau menjelaskan kalau program D3 itu kuliah mbayar dhewe semuanya, nggak ada yang disubsidi negara seperti kami yang program S1. Dan itu (program D3) diadakan juga atas permintaan masyarakat.

Intinya program D3 itu semacam program kuliah swasta yang numpang nama tenar bernaung di bawah bendera UGM (cmiiw). Njur piye? Yo wes begitu saja, semua teman D3 terima penjelasan dan nggak protes lagi. Sudah kalah sama kekenyangan makan beberapa kali 😂

Pas wisuda saya, beliau wes gakjadi dekan diganti Prof Syafrie Syairin. Kemudian saya seperti terlepas dari kampus karena kerja di PH Jakarta, nggak tahu lagi tentang beliau. Sampai pas main ke Jogja, temen saya yang S2 dengan pembimbing tesis beliau cerita, kalau nyaris nggak bisa ikut ujian tesis karena nggak bisa bayar SPP. Pas sowan Prof Chamamah dan cerita, beliau nyuruh pembantunya untuk mengambilkan tas kresek hitam dan memberikan pada temen saya itu. Suruh hitung untuk bayar SPP, kalau kurang suruh lapor. Uangnya ternyata lebih dan diminta pake saja, pas hendak dikembalikan sejumlah yang sama (setelah dia punya uang); beliau menolak.

Wah, kalau saya siy bisa dengan mudah menunjukkan bagaimana kebaikan dan kepedulian dosen-dosen FIB UGM pada mahasiswa. Lha saya sendiri sejak S1, S2, S3 (istiqomah banget saya di UGM 😂, ponakan saya nyebutnya sarjana 3x, wisuda 3x) sudah bolak-balik menerima bentuk kepedulian dosen pada mahasiswa. Nggak selalu tentang uang, tapi bisa juga tentang studi, sistem kurikulum, dll. Jadi mendengar cerita kawan saya itu, ya berasa melihat potret yang terasa wajar saja di FIB UGM.

Nah pas studi S3, saya bener-bener dibuat bengong dengan kebaikan Prof Chamamah. Pas saya masuk studi S3, Kaprodi nya (Prof Bambang Purwanto) membuat program sapu bersih. Mahasiswa-mahasiswa S3 yang sudah nyaris lewat masa studi, beneran diopyak-opyak untuk segera lulus atau mengundurkan diri (bahasa halus untuk DO).

Dampaknya biyuuu… bikin banyak mahasiswa sesepuh (senior) kalang kabut, termasuk para promotornya. Saking seriusnya program itu, seingat saya seminggu itu bisa dengar kabar nyaris setiap hari ada ujian tertutup dan ujian terbuka untuk S3 semua konsentrasi. Saya yang masih maba S3 dan hanya mengikuti perkuliahan persiapan penelitian, berasa kenyang betul makan-makan tiap hadir ujian terbuka. 😀

Suatu ketika, saya sedang mengurutkan halaman materi yang sudah difotokopi, ketika mendengar suara, “Mas, ini tolong printke. Ngesakne anakku kalau sampai DO. Bocah apik iki. Berapa lama?” Lebih kurang begitu. Saya menoleh. Prof Chamamah.

Sudah nyaris 13 tahun saya nggak pernah jumpa, melihatnya masih begitu tegas, berwibawa dan sehat, saya malah terbengong nggak sempat menyapa. Beliau langsung pergi setelah dapat jawaban lebih kurang sejam. Karena kepo saya tanya si tukang ngeprint, naskah apa dan punya siapa. Naskah disertasi, lupa nama mahasiswanya. Oh, ini juga mahasiswa yang kena program sapu bersih.

Sebenarnya saya yo wes mau pulang, tapi lupa waktu itu kenapa kok masih berkeliaran di kampus. Njur tahu-tahu Prof Chamamah sudah datang lagi dan menenteng itu print disertasi ke bagian administrasi S3.

Wes saya mengekori saja dan belum menyapa, takut mengganggu konsentrasinya. Di admin, saya mendengar beliau bilang wanti wanti agar mahasiswa itu tetap bisa ujian setelah sembuh dari sakitnya. Masyaallah. Begitu baiknya to promotor pada mahasiswanya.❤️

Lepas beliau keluar dari ruangan, baru saya berani menyapa dan berbincang beberapa hal. Pesannya, jangan lama-lama studi S3, karena makin lama aturannya makin ketat dan beragam.

Sudah, sepertinya itu terakhir kali saya jumpa beliau; karena saya lulus 2016 dan wisuda 2018 (usai jurnal nasional dan internasional saya publish). Dan saya yakin ada begitu banyak kebaikan beliau torehkan untuk banyak orang.

Selamat jalan, Prof Chamamah. Insyaallah husnul khotimah dan turut bermohon surga terbaik untuk beliau. Amin YRA.

Ari Kinoysan Wulandari

Hadapi Situasinya, Jangan Keluhkan Keadaannya

Kalau berani hadapi tantangannya, kalau takut nggak usah coba-coba. Pantai Timang. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Setiap orang pasti punya masalah. Namun nggak setiap orang mau curhat, apalagi mengeluh tentang masalahnya kepada orang lain. Itulah sebabnya ada orang yang kelihatannya “baik-baik saja” karena dia memendam atau menahan masalah untuk dirinya sendiri.

Saat menghadapi masalah pelik, kadang kita langsung membatin: “Kenapa harus aku?”
“Kalau saja keadaannya berbeda.”
“Andai hidupku lebih mudah.”

Spontanitas, mengeluh kadang terasa jadi jalan paling mudah untuk meluapkan rasa kecewa. Sayangnya, keluhan yang terus-menerus jarang membawa kita pada solusi. Ada perbedaan besar antara mengakui bahwa keadaan sedang sulit dengan terus-menerus mengeluhkan keadaan. Mengakui masalah bikin kita sadar bahwa tantangan memang ada. Sebaliknya, mengeluh tanpa henti hanya menguras energi.

Lalu, apa yang sebaiknya kita lakukan? Pertama, mengakui dengan sadar bahwa kita sedang mengalami masalah. Petakan, jelaskan, konkretkan, kalau perlu tulis masalah kita dengan jelas.

Kedua, fokus pada point-point yang bisa kita kendalikan. Nggak semua hal berada dalam kendali kita. Kita nggak bisa ngatur cuaca, putusan orang lain, kondisi ekonomi, atau perubahan yang terjadi begitu cepat. Namun, kita bisa menentukan kendali diri pada cara kita merespons masalah.

Ketika proyek dibatalkan, kita bisa cari peluang baru. Saat mengalami kegagalan, kita bisa melakukan evaluasi. Jika rencana nggak sesuai harapan, kita bisa pilih jalan berbeda. Orang yang tangguh bukanlah mereka yang nggak mengalami kesulitan, tapi mereka yang tetap bergerak meski keadaan belum sempurna.

Ketiga, sadari sepenuhnya mengeluh sesekali wajar. Namun, kalau jadi kebiasaan, kita justru terjebak dalam lingkaran negatif. Semakin sering mengeluh, semakin besar fokus kita pada masalah, bukan pada solusi.

Bayangkan seseorang yang menghabiskan satu jam untuk mengeluhkan pekerjaannya. Setelah satu jam berlalu, pekerjaannya masih tetap ada. Berbeda jika satu jam itu digunakan untuk menyusun daftar prioritas, berdiskusi dengan rekan kerja, atau mempelajari keterampilan baru. Pekerjaan mungkin nggak langsung beres, tapi langkah menuju rampung sudah dimulai.

Keempat, setiap masalah yang kita bereskan, itu akan jadi pengalaman dan guru terbaik. Hampir setiap keberhasilan lahir dari serangkaian tantangan. Pengusaha sukses pernah mengalami kerugian. Penulis terkenal pernah menerima penolakan naskah. Atlet berprestasi pernah mengalami kekalahan.

Mereka nggak menghabiskan waktunya untuk meratapi keadaan. Mereka belajar, memperbaiki diri, lalu mencoba lagi. Setiap masalah menyimpan pelajaran. Bisa jadi kesabaran, ketelitian, kemampuan beradaptasi, atau keberanian mengambil keputusan.

Kelima, bertanya dengan tepat. Saat menghadapi kesulitan, cobalah mengubah pertanyaan dalam diri. “Apa yang bisa kupelajari dari situasi ini?”
“Langkah pertama apa yang bisa kulakukan hari ini?”
“Siapa yang bisa membantuku menemukan solusi?”

Pertanyaan yang tepat akan mengarahkan pikiran kita pada tindakan dan solusi.

Keenam, mulailah dari langkah kecil. Nggak semua masalah dapat diselesaikan sekaligus. Namun, hampir semua masalah dapat dihadapi selangkah demi selangkah.

Mulailah dengan membuat daftar prioritas. Selesaikan satu pekerjaan terlebih dahulu. Hubungi orang yang dapat membantu. Pelajari keterampilan yang dibutuhkan. Sisihkan waktu untuk berpikir jernih sebelum mengambil keputusan.

Langkah kecil yang dilakukan secara konsisten sering kali menghasilkan perubahan besar. Yach, hidup memang nggak selalu memberikan keadaan yang kita inginkan. Ada masa ketika rencana gagal, peluang hilang, atau tantangan datang tanpa diundang. Namun, masa depan nggak ditentukan oleh seberapa sering kita mengeluh, tapi oleh seberapa berani kita menghadapi kenyataan.

Keadaan nggak selalu bisa kita pilih. Namun, sikap dalam menghadapinya selalu menjadi pilihan. Hadapi situasinya, jangan habiskan waktu mengeluhkan keadaannya. Sebab setiap langkah yang diambil untuk mencari solusi lebih berharga daripada seribu keluhan yang (justru) terasa membuat masalah makin berat.

Kamu sedang ada masalah? Selamat, ujian keberhasilan telah tiba. Hadapi saja, nggak usah mengeluh. Cari solusinya.

Ari Kinoysan Wulandari

Mengatur Uang, Tetapkan Batasanmu

Piknik kalau tidak direncanakan dan tidak dibudgetin, termasuk hal yang bisa merusak pengaturan keuangan. Kawah Putih. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Saya yakin tiap orang, tiap keluarga; punya role model pengaturan keuangan yang berbeda-beda. Semua pasti bertujuan agar uang cukup untuk semua kebutuhan, masih bisa menabung, investasi, dan ada dana darurat. Namun realitanya nggak selalu seperti harapan. Selama berkaitan dengan uang; yang lebih sering terjadi, pengeluaran lebih banyak daripada pemasukan. Besar pasak daripada tiang.

Pada awal menjadi freelancer, saya juga cukup stres dengan pengaturan uang ini. Penghasilan nggak menentu, jam kerja nggak pasti, kebutuhan sering nggak terduga, dll situasional yang rieweuh seperti kondangan, takziah, nyumbang, dll dana sosial; semakin bikin saya melongo. Uang saya beneran habis tanpa tahu ke mana saja perginya. Sementara penghasilan berikutnya masih akan datang dalam bulan depan; tentu dengan waktu (tanggal) yang nggak pasti juga.

Lalu mulailah saya duduk, menghitung, mencatat, mengatur, dan “meminjam” tabungan demi bulan itu saya bisa hidup dengan tenang. Satu bulan yang luar biasa, karena saya mencatat semua pengeluaran termasuk 2-5 ribuan untuk parkir. Setelah sebulan itulah saya menemukan angka stabil pengeluaran selama 1 bulan untuk seluruh kebutuhan. Saya juga memasukkan piknik sebagai kebutuhan dengan budget proporsional. Ditambah nabung, invest, dana darurat, dana sosial; ketemulah jumlah uang yang harus tersedia; baik kerja atau enggak, ada penghasilan atau enggak. Argo hidup tetap jalan terus.

Setelah ketemu angka itu, saya jadi lebih ringan menjalani hidup saya. Ada proyek duit besar, biaya hidup saya yo tetap segitu. Palingan ada-lah self reward-nya. Nggak ada duit besar pun, hidup saya yo nggak terus jadi mengkeret. Ternyata ituah yang bikin saya lebih stabil menjalani hari-hari, terutama saat berbulan-bulan nggak ada pemasukan besar. Batasan itu membuat saya lebih mudah menata dan mengatur kalau saya perlu uang besar, misal untuk liburan jauh, umroh, dll.

Nah, masing-masing orang atau keluarga tentu punya kebutuhan yang berbeda. Versi saya, berapapun pendapatanmu, tentukan dulu batasan kebutuhan sampeyan. Tentu dengan riil ya. Jangan menganggap pendapatan 5 juta boleh pengeluaran 15 juta (karena bisa paylater, pinjol, credit card dll) ya. Ingat itu semua komponen utang, bukan tambahan pendapatan.

Kalau misal duit saya 5 juta sebulan, maka pengeluaran total saya maksimal 3 juta. Wes embuh cara ngaturnya kudu ditata sana sini 😂 Lha 2 juta nya ke mana? Ya itu tadi; dana darurat, nabung, invest, dana sosial. Kalau misalnya ngotot tetap habis 5 juta sebulan, kudu cari tambahan 2 juta dengan sidejob. Kalau nggak, makin gulungkoming di hari-hari berikutnya.

Jadi, silakan itung-itungan sendiri seluruh kebutuhan, bahkan sampai itungan kopi secangkir, pesan makan online, parkir dan e-tol. Itu kelihatan sepele tapi banyak kali tinggal ngitung duit nya😂 Pastikan saat itung-itungan ini, semua kebutuhan sudah dimasukkan. Kalau biasa piknik, memasukkan dengan anggaran 100 atau 200 rb pun tetap boleh; karena nanti bisa digunakan per 6 bulan atau 1 tahun untuk piknik yang rada jauhan dikit. 😀

Di era serba cepat seperti sekarang, mengatur uang bukan hanya soal seberapa besar penghasilan yang kita miliki. Ini lebih tentang seberapa jelas batasan yang kita tetapkan terhadap penggunaan uang. Banyak orang merasa penghasilannya nggak pernah cukup. Masalahnya nggak selalu pada pemasukan, tapi cenderung karena nggak ada batas yang tegas dalam pengeluaran.

Menetapkan batasan keuangan itu bentuk kepedulian terhadap diri sendiri. Sama seperti kita punya batasan dalam hubungan sosial atau pekerjaan, kita juga harus ada batasan dalam mengelola uang. Tanpa batasan, kita mudah tergoda oleh diskon, tren media sosial, gaya hidup teman, atau keinginan sesaat.

Batasan keuangan dapat dimulai dari hal sederhana. Misalnya, menentukan berapa maksimal anggaran makan di luar setiap bulan, berapa jumlah uang yang boleh digunakan untuk belanja kebutuhan pribadi, atau berapa batas nominal untuk membeli barang yang nggak direncanakan.

Dengan adanya batas yang jelas, kita lebih mudah mengendalikan diri dan menghindari pengeluaran impulsif. Menetapkan batasan juga berarti berani bilang “tidak”. Menolak ajakan nongkrong yang terlalu sering, nggak beli sesuatu gegara rasa “kepo” atau komen “lucu ya” “bagus ya” dll., dan nggak membandingkan kehidupan kita dengan orang lain.

Kita nggak harus mengikuti semua tren agar terlihat berhasil. Keuangan yang sehat jauh lebih berharga daripada pengakuan sesaat dari lingkungan sekitar. Bagi freelancer, pekerja kreatif, maupun karyawan, batasan keuangan itu sangat penting. Saat ada penghasilan lebih, jangan langsung kalap belanja. Tetapkan porsi untuk tabungan, dana darurat, investasi, dan kebutuhan rutin lebih dulu. Sisanya barulah digunakan untuk hurahura.

Versi saya, batasan ini bukanlah pembatasan kebahagiaan. Batasan keuangan membantu kita menikmati hidup tanpa dihantui rasa bersalah. Kita tetap bisa beli kopi favorit, nonton film, beli baju baru yang sedang trend, atau berlibur, dll. sesuai dengan kemampuan. Dengan batasan kita juga nggak perlu khawatir setiap kali mengeluarkan uang. Semua sudah sesuai porsinya.

Nah, bagaimana cara pengaturan uangmu? Sudahkah kamu menetapkan batasan yang jelas terhadap penggunaan uangmu? Share dong ya…!

Ari Kinoysan Wulandari

Menghadapi Hari-Hari yang (Nggak) Mudah

Senyum lebar bikin masalah terasa lebih ringan. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Ada hari-hari yang terasa ringan. Bangun pagi dengan semangat, pekerjaan berjalan lancar, keluarga sehat, dan hati terasa tenang. Namun, ada juga hari-hari yang sebaliknya. Hari ketika alarm berbunyi tapi tubuh terasa berat untuk beranjak. Hari ketika pekerjaan menumpuk, rencana nggak sesuai harapan, atau kabar yang menambah beban pikiran. Begitulah hidup. Nggak selalu mudah, tapi juga nggak selalu sulit.

Sering kali kita tumbuh dengan anggapan bahwa hidup yang baik itu hidup yang bebas dari masalah. Padahal, hidup yang baik bukan hidup tanpa kesulitan, tapi hidup yang membuat kita mampu bertahan, belajar, dan terus melangkah di tengah kesulitan.

Salah satu sumber kelelahan terbesar adalah tuntutan untuk selalu baik-baik saja. Kita ingin jadi orang tua yang sempurna, pasangan yang sempurna, pekerja yang sempurna, atau teman yang selalu hadir untuk semua orang. Ketika kenyataan nggak sesuai dengan harapan, kita merasa gagal.

Padahal, menjadi manusia berarti memiliki keterbatasan. Ada hari ketika kita produktif. Ada hari ketika kita hanya mampu menyelesaikan satu tugas kecil. Ada hari ketika kita mampu tersenyum dan menghibur orang lain. Ada pula hari ketika kita sendiri membutuhkan pelukan dan dukungan. Nilai diri kita nggak ditentukan oleh seberapa sempurna kita menjalani hari. Kadang-kadang, keberhasilan terbesar itu tetap bertahan dan nggak berhenti atau menyerah.

Banyak orang berusaha kuat dengan cara menekan perasaan. Sedih disembunyikan. Kecewa dipendam. Marah diabaikan. Perasaan yang nggak diberi ruang sering kali kembali dalam bentuk kelelahan, kecemasan, atau kehilangan semangat hidup. Menghadapi hari-hari yang nggak mudah bukan berarti menolak emosi. Sebaliknya, kita perlu mengakui bahwa perasaan itu ada. Bilang, “Hari ini aku lelah,” bukan tanda kelemahan.

Menjauh sejenak dari sumber masalah, bisa jadi solusi menghadapi hari-hari yang (nggak) mudah. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Mengakui, “Aku sedang kecewa,” bukan berarti kita nggak bersyukur. Menerima perasaan adalah langkah pertama untuk memulihkan diri. Ketika masalah terasa terlalu besar, kita sering kali terjebak memikirkan sekaligus. Akibatnya, kita semakin cemas dan nggak tahu harus mulai dari mana. Cobalah kembali pada langkah kecil. Jika pekerjaan menumpuk, selesaikan satu tugas dulu.

Jika rumah terasa berantakan, rapikan satu sudut ruangan. Jika hati sedang penuh, tarik napas perlahan dan beri waktu untuk beristirahat. Langkah kecil mungkin terlihat sederhana, tapi kalau konsisten akan membawa kita keluar dari masa-masa sulit. Kadang kita berpikir meminta bantuan itu tanda nggak mampu. Padahal, manusia diciptakan untuk hidup bersama dan saling menguatkan.

Berbicaralah dengan pasangan, sahabat, keluarga, atau orang yang dipercaya. Nggak selalu untuk cari solusi. Kadang-kadang, kita hanya membutuhkan seseorang yang mau mendengarkan tanpa menghakimi. Beban yang dipikul bersama terasa lebih ringan daripada dipendam sendirian. Jika saat ini Anda sedang berada dalam masa yang berat, ingatlah satu hal: badai pasti berlalu.

Malam panjang akan berganti pagi. Hujan deras akan reda. Luka yang dirawat akan sembuh. Mungkin masalah yang sedang dihadapi belum selesai hari ini. Mungkin jawabannya belum terlihat. Namun, bukan berarti nggak harapan. Teruslah melangkah, meskipun perlahan. Teruslah percaya, meskipun belum melihat hasilnya. Teruslah menjaga diri dengan baik. Anda berharga bukan hanya pada hari-hari terbaik, tapi juga pada hari-hari yang paling sulit.

Menghadapi hari-hari yang (nggak) mudah bukan tentang menjadi kuat setiap saat. Ini tentang keberanian untuk tetap berjalan ketika langkah terasa berat, tetap berharap ketika keadaan belum berubah, dan tetap mencintai diri sendiri ketika hidup nggak sesuai rencana. Pada akhirnya, bukan hari-hari mudah yang paling membentuk kita. Justru hari-hari yang penuh tantanganlah yang mengajarkan arti ketangguhan, kesabaran, dan rasa syukur yang sesungguhnya. Jika hari ini terasa berat, cukup lakukan satu hal: bertahanlah. Besok mungkin belum selesai; tapi selalu ada kesempatan untuk memulai lagi.

Ari Kinoysan Wulandari

Mencintai Diri Sendiri dengan Sempurna dan Sewajarnya

Jangan takut menampilkan dirimu yang “apa adanya” di sosial media. Kawah Putih. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Saya wes (nggak) belia lagi. Sepanjang umur, sudah begitu banyak jatuh bangun kehidupan yang saya alami. Wajah, tubuh, kekuatan fisik sudah banyak berubah. Pada sesi tertentu saat dandan ditangani MUA, saya selalu berpesan agar dibuat senatural mungkin. Jangan menutupi hal-hal yang normal atau wajar (dagu dobel, kerut-kerut di sekitar mata, kantong mata, pipi gembul, garis senyum tegas penanda kulit nggak lagi seelastis waktu muda, mata yang sipit nyaris nggak ada bulu mata, dll). Biar orang tetap “mengenali” saya, bukan pangling pas ketemu dan malah nanya-nanya itu siapa.

Saya (nggak) takut menjadi lebih tua dengan segala konsekuensinya. Termasuk bentuk tubuh yang melebar gemoy gegara metabolisme yang melambat. Tapi saya memastikan bahwa semangat, konsistensi, ketekunan masih sama seperti 3-4 dekade yang lalu. Dan bagi saya itu cukup untuk melewati hari-hari saat kekuatan fisik nggak lagi sama sebagai bentuk ekspresi bertambah usia.

Saya mencintai diri dengan sempurna, melakukan segalanya yang terbaik untuk hidup lebih bahagia. Semuanya saya lakukan dengan sewajarnya. Dengan segala bentuk make up di tangan MUA profesional, bisa saja saya minta semua kerutan, garis senyum, kantong mata, dagu dobel itu (nggak) nampak. Bahkan AI bisa sepersekian menit “mengedit” wajah saya menjadi “sangat cantik” tanpa biaya.

Tapi njur untuk apa itu semua? Versi saya itu hanya bentuk “perbaikan” yang bisa jadi bumerang ketika orang bertemu saya dan bilang, “Wah cantiknya cuman di foto doang, editnya kebangetan, nggak dandan ternyata nggak cantik.” Saya siy lebih senang kalau versi asli lebih cantik dari foto 😀

Yach, tiap orang punya cara yang berbeda untuk mengekspresikan cinta pada diri sendiri. Tiap orang juga punya pikiran dan pandangan berbeda tentang validasi dari orang lain. Apapun itu, pastikan cintai dirimu dengan sempurna, karena diri kitalah yang paling setia dalam kondisi apapun.

Sekarang ini di era media sosial, kita sering disuguhi berbagai gambaran tentang kehidupan yang tampak sempurna. Wajah cantik, tubuh ideal, karier cemerlang, keluarga harmonis, hingga pencapaian atau prestasi spektakuler. Tanpa sadar, kita pun mulai membandingkan diri dengan orang lain dan merasa kurang. Akibatnya, rasa syukur memudar, kepercayaan diri menurun, dan kita jadi sulit menerima diri sendiri.

Padahal, mencintai diri sendiri bukan berarti menganggap diri paling hebat atau menolak kritik. Mencintai diri sendiri berarti menerima seluruh bagian diri dengan utuh; semua kelebihan dan kekurangan, lalu berusaha jadi pribadi yang lebih baik.

Mencintai diri dengan sempurna bukan berarti menuntut diri untuk selalu sempurna. Sebaliknya, kita memahami bahwa kita memang nggak sempurna. Nggak ada seorang pun yang hidup tanpa kesalahan, kegagalan, atau kelemahan. Kesadaran ini bikin kita lebih ramah dan cinta pada diri sendiri saat menghadapi kesulitan atau hal yang nggak kita inginkan.

Mempercantik diri, itu wajib sebagai ekspresi mencintai diri sendiri, tapi jangan kehilangan “ciri normal” apalagi jati diri. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Sikap mencintai diri sewajarnya juga penting. Ada perbedaan antara mencintai diri sendiri dan mementingkan diri sendiri. Mencintai diri sendiri bikin kita menghargai diri sekaligus menghargai orang lain. Sikap cinta diri yang berlebihan dapat membuat seseorang merasa paling benar dan mengabaikan kebutuhan orang lain. Cinta pada diri sendiri harus seiring dengan kerendahan hati.

Salah satu bentuk cinta pada diri adalah menjaga kesehatan fisik dan mental. Tubuh yang kita miliki bekerja tanpa henti setiap hari. Ia membantu kita berjalan, berpikir, bekerja, dan berkarya. Memberikan waktu untuk beristirahat, makan bergizi, olahraga yang cukup, dan menjaga kesehatan mental itu bagian dari penghargaan terhadap diri sendiri. Kita nggak perlu menunggu sakit untuk mulai peduli pada tubuh dan pikiran kita.

Mencintai diri juga berarti memberi ruang bagi diri untuk bertumbuh. Ketika gagal, jangan langsung menyalahkan diri secara berlebihan. Kegagalan nggak selalu karena kita nggak mampu, tapi itu kesempatan untuk belajar. Orang yang mencintai dirinya akan melihat kesalahan sebagai bagian dari proses menuju kedewasaan.

Kita juga perlu belajar mengatakan “no”, “nggak” pada hal-hal yang merugikan diri sendiri. Nggak semua permintaan harus dipenuhi. Nggak semua kritik harus dipercaya. Nggak semua harapan orang lain harus kita wujudkan. Menetapkan batasan yang sehat itu cara kita untuk menjaga harga diri dan kesehatan mental.

Dengan segala kekurangan dan kelebihan, saya sudah sejak lama mencintai diri sendiri tanpa syarat. Saya tetap mencintai diri sendiri saat gagal atau sukses, saat gemuk atau langsing, saat tua atau muda, saat kurang uang atau banyak uang. Nggak perlu nunggu jadi sukses, kaya, langsing, cantik, dll sikon untuk mencintai diri sendiri. Nilai seseorang, termasuk diri saya nggak ditentukan semata-mata oleh penampilan, jabatan, atau jumlah pencapaiannya. Setiap orang berharga karena hidup itu luar biasa.

Mencintai diri dengan sempurna dan sewajarnya pada intinya tentang berdamai. Kita menerima siapa diri kita hari ini, sambil terus berusaha jadi lebih baik esok hari. Kita bersyukur atas kelebihan dan pencapaian, menerima kekurangan dengan lapang dada, dan tetap melangkah meskipun nggak selalu sempurna.

Ketika kita mampu mencintai diri sendiri dengan sehat, kita akan lebih mudah mencintai kehidupan, menghargai orang lain, dan menemukan kebahagiaan. Kebahagiaan yang tumbuh dari hati dengan menerima diri apa adanya.

Coba cek-cek, apa kamu sudah mencintai dirimu dengan sempurna dan sewajarnya? Salah satu indikasinya kalau kamu bisa mengatakan “nggak” pada permintaan orang lain yang mengganggu tanpa rasa bersalah; selamat, kamu sudah ada di jalur yang benar dalam mencintai dirimu.

Ari Kinoysan Wulandari

Mengapa Kita Harus Menulis?

Gambar hanya sebagai ilustrasi. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Saya menulis sejak belia. Biaya hidup saya mayoritas ditopang dari hasil menulis. Meskipun saya penulis, saya nggak pernah mendorong orang untuk jadi penulis karena itu banyak konsekuensinya; terutama dalam hal finansial. Tapi saya selalu menyarankan orang untuk menulis, syukur-syukur (sekurangnya) satu buku seumur hidupnya.

Di era yang serba cepat ini, menulis sering dianggap sebagai kegiatan yang nggak lagi penting. Banyak orang lebih suka bikin video pendek, mengunggah foto, atau kirim pesan suara daripada menuliskan pikirannya. Padahal, di balik kesederhanaannya, menulis adalah salah satu aktivitas yang paling berharga bagi perkembangan diri manusia.

Menulis bukan hanya urusan penulis, wartawan, atau akademisi. Menulis adalah kebutuhan setiap orang. Siapa pun yang memiliki pikiran, pengalaman, dan gagasan sebenarnya memiliki sesuatu yang layak dituliskan.

Sering kali kepala kita dipenuhi berbagai ide, rencana, kekhawatiran, dan perasaan yang bercampur aduk. Saat semuanya hanya berputar di dalam pikiran, kita sulit memahami apa yang sebenarnya kita rasakan atau pikirkan.

Menulis membantu mengurai keruwetan tersebut. Ketika menuangkan pikiran ke dalam kata-kata, kita dipaksa untuk menyusun ide secara lebih teratur. Hal-hal yang semula tampak rumit menjadi lebih mudah dipahami.

Nggak heran jika banyak orang menggunakan jurnal harian untuk membantu mengelola pikiran dan emosi mereka. Dengan menulis, kita dapat melihat masalah dari sudut pandang yang lebih objektif.

Pengalaman hidup sangat mudah terlupakan. Peristiwa yang hari ini terasa penting bisa saja memudar dalam ingatan beberapa tahun kemudian.

Menulis memungkinkan kita menyimpan kenangan, pelajaran, dan perjalanan hidup agar nggak hilang begitu saja. Catatan sederhana tentang pengalaman bekerja, mengasuh anak, mengajar, atau menghadapi kesulitan dapat menjadi harta berharga di masa depan.

Banyak buku besar lahir dari pengalaman pribadi yang awalnya hanya berupa catatan harian. Bahkan sejarah suatu bangsa sering kali bertahan karena ada orang-orang yang mau menuliskannya.

Ada ungkapan yang mengatakan, “Jika ingin benar-benar memahami sesuatu, cobalah menuliskannya.”

Ketika menulis, kita menyadari bagian mana yang sudah dipahami dan bagian mana yang masih membingungkan. Proses mencari data, membaca referensi, dan menyusun tulisan membuat pengetahuan kita semakin mendalam. Karena itu, menulis bukan sekadar hasil belajar, tapi juga bagian dari proses belajar.

Setiap orang memiliki pengalaman dan pengetahuan yang berbeda. Apa yang tampak biasa bagi kita bisa jadi informasi yang sangat berharga bagi orang lain.

Seorang guru dapat membagikan metode pembelajaran yang efektif. Seorang ibu dapat berbagi pengalaman mendampingi anak. Seorang petani dapat menceritakan praktik bertani yang berhasil. Seorang mahasiswa dapat membagikan strategi menyelesaikan skripsi. Melalui tulisan, pengalaman pribadi berubah jadi sumber inspirasi dan pembelajaran bagi banyak orang.

Ucapan akan hilang setelah didengar, tapi tulisan dapat bertahan lama. Seseorang mungkin nggak lagi berada di dunia ini, tapi gagasan dan pemikirannya tetap hidup melalui tulisan yang ditinggalkannya.

Kita mengenal banyak tokoh besar bukan karena pernah bertemu mereka, tapi karena membaca tulisan mereka. Tulisan memungkinkan seseorang memberi manfaat jauh melampaui ruang dan waktu. Karena itu, setiap tulisan yang baik sesungguhnya adalah bentuk warisan intelektual yang dapat terus mengalir manfaatnya.

Nggak semua tulisan lahir dalam sekali jadi. Menulis mengajarkan kita untuk bersabar, merevisi, memperbaiki kesalahan, dan terus belajar. Proses tersebut melatih kedisiplinan serta kemampuan menyelesaikan pekerjaan hingga tuntas. Semakin sering menulis, semakin terasah pula kemampuan berpikir kritis, berkomunikasi, dan memecahkan masalah. Keterampilan ini sangat dibutuhkan dalam berbagai bidang kehidupan, tidak hanya dalam dunia kepenulisan.

Salah satu alasan banyak orang enggan menulis adalah karena merasa nggak berbakat atau takut tulisannya jelek. Padahal, nggak ada penulis yang langsung mahir sejak awal.

Setiap penulis besar pernah menjadi pemula. Mereka berkembang karena berani memulai dan terus berlatih. Menulis bukan tentang menghasilkan karya sempurna, tapi tentang berani menuangkan apa yang ada dalam pikiran. Mulailah dari hal-hal sederhana: catatan harian, pengalaman pribadi, opini, atau cerita pendek. Yang terpenting adalah membangun semangat.

Menulis adalah cara berpikir, belajar, berbagi, dan meninggalkan jejak kehidupan. Melalui tulisan, kita nggak hanya mengembangkan diri, tapi juga memberikan manfaat kepada orang lain.

Kita mungkin nggak mampu mengubah dunia dalam semalam. Namun, satu tulisan yang ditulis dengan tulus bisa menginspirasi seseorang, memberi solusi bagi orang lain, atau menjadi sumber pengetahuan bagi generasi berikutnya.

Karena itu, jangan menunggu jadi ahli untuk mulai menulis. Menulislah sekarang, karena setiap tulisan adalah langkah kecil untuk membuat hidup lebih bermakna.

Ari Kinoysan Wulandari

Ciptakan “Surgamu” Sendiri

Berada di alam juga salah satu “surga” yang biasa saya ciptakan. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Hidup nggak selalu mudah. Pasang surut kehidupan selalu kita alami. Kadang kesulitan lebih sering menghampiri dibandingkan kemudahan. Kecuali bagi mereka yang sudah dari kakek moyangnya golongan konglomerat, mungkin nggak kenal kata kesulitan.

Hampir setengah abad, hidup saya pun beragam warna. Mudah, senang, bahagia, beriringan dengan segala masalah dan tantangannya. Namun di tengah-tengah kesulitan itu, saya biasa menciptakan “surga” untuk diri sendiri.

Bagi saya, ketika sudah lelah bekerja membereskan banyak urusan; lalu bisa duduk nyaman mojok di perpus, rumah, atau kafe selama lebih kurang 2 jam baca novel tanpa gangguan hingga selesai, bagi saya itu “surga”. Atau boleh nonton film terbaru di bioskop tanpa direcoki siapapun, itu juga “surga”.

Hal-hal yang membawa kegembiraan dan kebahagiaan, bagi saya adalah “surga” yang harus kita ciptakan, di tengah hiruk pikuk kehidupan. Mungkin saja, bagi orang lain surga itu bercengkerama dengan pasangan, bermain bebas dengan anak tanpa gangguan telepon kantor, mengajak si anjing piaraan keliling komplek, memasak roti dengan resep terbaru, menjahit baju, berenang, dll yang saya yakin tiap orang punya kebiasaan berbeda.

“Kalau nanti masalah ini selesai, aku akan bahagia.”

Kalimat itu mungkin pernah terlintas di benak kita. Kita sering nungguin gaji naik, anak lulus sekolah, utang lunas, kesehatan membaik, atau keadaan jadi lebih mudah. Kita sering kali menunda kebahagiaan sampai semua persoalan selesai. Sayangnya, hidup jarang berjalan seperti itu.

Saat satu masalah selesai, masalah lain datang menyapa. Setelah satu tujuan tercapai, muncul tujuan berikutnya. Jika kebahagiaan selalu ditaruh di ujung perjalanan, kita bisa menghabiskan hidup dengan terus menunggu.

Padahal, kebahagiaan nggak selalu ditemukan ketika semua keadaan sempurna. Sering kali, kebahagiaan lahir dari kemampuan menciptakan “surga kecil” di tengah hidup yang nggak sempurna.

Setiap orang memiliki beban dan ujian yang berbeda. Ada yang sedang berjuang membayar cicilan. Ada yang menghadapi konflik keluarga. Ada yang bekerja keras tapi penghasilannya pas-pasan. Ada yang bergumul dengan penyakit. Ada pula yang tampak tersenyum di luar, tapi diam-diam menyimpan kesedihan yang nggak diketahui siapa pun.

Kesulitan adalah bagian dari kehidupan manusia. Nggak ada seorang pun yang benar-benar bebas darinya. Namun, yang membedakan seseorang bukanlah ada atau enggaknya masalah, tapi bagaimana cara dia menjalani hidup di tengah masalah tersebut.

Ada orang yang tetap mampu tertawa meskipun hidupnya nggak mudah. Ada pula yang memiliki banyak kemudahan tapi merasa hidupnya hampa. Kebahagiaan ternyata nggak selalu ditentukan oleh kondisi luar. Bahagia justru ditentukan oleh cara kita memandang dan menjalani kehidupan.

Menciptakan surga sendiri bukan berarti berpura-pura bahwa hidup baik-baik saja. Bukan pula menolak kenyataan bahwa kita sedang menghadapi kesulitan. Menciptakan surga sendiri berarti menemukan hal-hal yang masih layak disyukuri di tengah keterbatasan.

Saat hujan masalah datang bertubi-tubi, kita sering hanya melihat apa yang hilang. Kita lupa melihat apa yang masih kita miliki, seperti masih bisa bernapas dengan lega, masih memiliki keluarga yang peduli,
masih mampu berjalan, bekerja, membaca, dan belajar; masih diberi kesempatan untuk memperbaiki kesalahan.

Hal-hal yang tampak biasa itu sebenarnya merupakan anugerah yang luar biasa. Syukur memang nggak menghilangkan masalah, tapi bikin hati lebih lapang.

Kita hidup di zaman yang sering mengajarkan bahwa kebahagiaan harus besar, mewah, dan spektakuler. Padahal, banyak kebahagiaan justru bersembunyi dalam hal-hal sederhana; secangkir kopi hangat di pagi hari, obrolan ringan dengan sahabat, tawa anak-anak di rumah, baca buku yang disukai, menikmati angin sore setelah seharian bekerja, memandang langit senja yang perlahan berubah warna.

Semua itu nggak membutuhkan biaya mahal. Namun, sering kali justru di situlah letak ketenangan yang sesungguhnya. Orang yang mampu menikmati hal-hal sederhana memiliki cadangan kebahagiaan yang nggak mudah habis. Ia nggak perlu liburan mewah atau pencapaian besar untuk merasa hidupnya berharga.

Kesalahan yang sering kita lakukan adalah membiarkan satu masalah mendominasi seluruh kehidupan. Ketika mengalami satu kegagalan, kita merasa hidup sepenuhnya gagal. Ketika menghadapi konflik, kita merasa nggak ada lagi yang baik dalam hidup.

Padahal, hidup selalu lebih luas daripada satu persoalan. Mungkin pekerjaan sedang sulit, tapi keluarga masih mendukung. Mungkin kesehatan sedang menurun, tapi persahabatan tetap menguatkan. Mungkin keuangan sedang terbatas, tapi masih ada kemampuan untuk berkarya dan belajar.

Kesulitan memang nyata, tapi jangan biarkan kesulitan menjadi satu-satunya cerita yang kita baca dari kehidupan. Masih ada halaman-halaman lain yang menyimpan harapan.

Media sosial sering membuat kita merasa hidup orang lain lebih indah daripada hidup kita. Kita melihat foto liburan mewah mereka, pencapaian prestasi mereka, rumah indah mereka, keluarga mereka, dan keberhasilan mereka. Yang nggak kita lihat adalah perjuangan, air mata, kegagalan, dan kecemasan yang mungkin juga mereka alami.

Ketika terlalu sering membandingkan diri, kita kehilangan kemampuan menikmati apa yang ada di depan mata. Kita sibuk mengagumi taman milik orang lain sampai lupa merawat taman sendiri. Padahal, surga yang kita cari mungkin sedang tumbuh perlahan di halaman kehidupan kita. Banyak orang menghabiskan energi untuk mengubah keadaan, tapi lupa merawat hati.

Padahal, hati yang damai sering kali lebih berharga daripada keadaan yang sempurna. Merawat hati bisa dilakukan dengan banyak cara:

  • Berdoa dan mendekatkan diri kepada Tuhan.
  • Membaca buku yang menginspirasi.
  • Menulis jurnal syukur.
  • Berolahraga secara teratur.
  • Mengurangi paparan hal-hal yang membuat pikiran negatif.
  • Menjalin hubungan dengan orang-orang yang membawa energi positif.

Hati yang terawat akan lebih kuat menghadapi badai kehidupan. Banyak orang mengira kebahagiaan adalah hadiah yang datang begitu saja. Padahal, kebahagiaan juga merupakan keterampilan yang perlu dilatih.

Mungkin saat ini hidupmu belum ideal. Masih ada tagihan yang harus dibayar. Masih ada masalah yang belum selesai. Masih ada doa yang belum terjawab. Tetap, ciptakan surgamu sendiri. Temukan alasan untuk tersenyum meskipun hidup belum sempurna. Nikmati secangkir teh hangat, peluk orang-orang yang kamu sayangi, syukuri napas yang masih diberikan, dan rayakan langkah-langkah kecil yang berhasil kamu lalui.

Karena sesungguhnya, surga kecil dalam kehidupan bukanlah tempat tanpa masalah. Surga kecil itu adalah kemampuan untuk tetap menemukan keindahan, makna, dan rasa syukur di tengah segala keterbatasan. Dan ketika kita mampu melakukannya, hidup yang sederhana pun dapat terasa begitu kaya.

Ari Kinoysan Wulandari