
Tempat transit sebelum ke Kawah Putih. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Saya lupa persisnya, hari Jumat itu saya seharian di kampus, njur harus ke Solo untuk membereskan tulisan klien yang nggak bisa saya akses secara online. Jadi ketemu orang per orang, membereskan tulisan di lokasi maunya seperti apa.
Salah satu tantangan penulis kalau ketemu generasi sesepuh yang bisanya serba “saya bicara, tuliskan, saya cek langsung, kurang cocok betulkan di tempat”. Waktu jadi lebih lama karena saya nggak tahu seberapa banyak revisinya.
Untunglah nggak terlalu lama revisi dan acc. Jujurly, saya sudah lelah banget saat berbalik arah ke Jogja. Nggak inget saya ada program ke Bandung. Inget saya itu hari Sabtu keesokan harinya. Saya baru sadar ketika ditelpon-telpon. Haaah? Malam itu juga saya beberes packing, jam delapan malam sudah keluar lagi dari areal Jogja.

Sisi atas Kawah Putih. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Jangan tanya kelakuan saya. Begitu masuk kendaraan, memastikan siapa saja tim saya; minum multivitamin, berdoa, selimutan njur tidur. Wes to pokoknya pules saking lelahnya. Yach, mo dapet duit besar nggak mau capek itu jelas nonsense. Kecuali sampeyan pewaris konglomerat.
Perjalanan dari Jogja menuju Kawah Putih, Bandung cukup panjang. Biasanya saya menikmati bagian-bagian kecil yang sering kali terlewat ketika orang terlalu sibuk menghitung jarak dan waktu: pemandangan dari balik kaca kendaraan, perubahan suasana kota menjadi pedesaan, obrolan sepanjang perjalanan, hingga kegembiraan ketika tempat yang dituju semakin dekat. Tapi kali ini saya beneran melewatkan semuanya. Tidur sampai pagi.
Saya bangun ketika sudah mendekati Bandung. Saya melongok ke luar, suasana sudah berubah. Bentang alam mulai menunjukkan karakter pegunungan. Jalan berkelok, pepohonan yang semakin banyak.

Sisi Kawah Putih yang di bagian tepi. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Begitu sampai tempat transit, itu lupa saya jam berapa. Tapi masih gelap, belum adzan Shubuh. Saya di sini langsung merasakan suasana yang berbeda. Sejuk cenderung dingin. Areal resort ini cukup luas dengan berbagai tipe layanan penginapan; hotel, guest house, pavilyun, layanan mandi plus ishoma non inap, mandi air panas di kolam yang super luas.
Cuman sayangnya di sini campur aduk dari anak-anak, remaja, perempuan, lelaki —jadi saya nggak mandi air panas di sini, taman bermain, oleh-oleh khas, dll. Saya mandi (tentu dengan air panas), sholat shubuh, dan tidur lagi. Sarapan masih nanti jam tujuh pagi dan kami akan ke Kawah Putih sekira jam sembilan saat pintu wisata dibuka.
Namanya saja Kawah Putih. Saya wes membayangkan medannya akan seberat kawah Bromo atau kawah Ijen. Beuh, kalau nurutin capek; saya maunya tidur bae seharian itu. Syukurlah, ternyata Kawah Putih ini di areal yang cukup landai.

Tampak keseluruhan Kawah Putih dari sisi depan. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Dari resort kami naik jeep dengan naik turun belak-belok sekira setengah jam normally, kalau macet karena ramai ya bisa lebih lama. Teriakan boleh bebas di sini, melepaskan stres. Turun dari jeep yo tetep kudu masih jalan kaki sekira setengah jam. Alhamdulillah jalanan landai dan nggak terlalu menguras energi. Semua umur dari anak 8-10 tahun bisa ke areal ini.
Alhamdulillah. Subhanallah. Versi saya Kawah Putih punya daya tarik yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Warna air kawah yang khas, dikelilingi tebing dan pepohonan, menciptakan pemandangan yang terasa unik. Kabut tipis yang kadang turun justru membuat suasananya semakin dramatis.
Saya memilih eksplore ke seluruh areal. Ada jembatan yang menjorok ke tengah kawah yang keren untuk foto-foto. Ke sini kita kena charge lagi; lupa saya berapa. Sekira 25 atau 35 rebon di luar tiket masuk dan parkir kendaraan. Ada jasa foto profesional juga per file 10 rebon. Saya beneran menikmati tempat itu. Menghirup udara pegunungan, memandang kawah, merasakan dinginnya udara, dan memperhatikan bagaimana alam membentuk ruang yang begitu indah.

Lewat jembatan inilah kita bisa berada di tengah-tengah Kawah Putih. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Alhamdulillah, ada rasa syukur yang muncul ketika berada di tempat ini. Eeh, saya yang kemarin berlarian hectic Jogja Solo pp, balik lagi keluar Jogja, pagi ini sudah di Bandung; ratusan kilometer dari kota gudeg tercinta.
Dan syukurlah kaki-kaki saya cukup kompromi nggak protes diajak jalan. Alam Kawah Putih sungguh indah. Kita sering menganggap alam sebagai sesuatu yang biasa. Namun saat ketika datang dan melihatnya dari dekat, kita baru menyadari betapa luar biasanya ciptaan Tuhan.
Sekira dua jam saya keliling mider areal Kawah Putih. Dasar keilmuan saya Linguistik Antropologis; peneliti lapangan. Tanpa rencana pun saya pun sempat mewawancarai spontan sekira 10 orang lokal tentang Kawah Putih. Wooh, ada mitosnya; ada legendanya; ada kisah-kisah seru dll. Kawah Putih membuka mata saya; bahwa lokasi kawah nggak selalu perlu energi dan tenaga ekstrem seperti ke Kawah Ijen. Ada yang ringan bae seperti kawah di Bandung ini.

Di tengah jembatan apung. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Saya makin percaya bahwa piknik nggak selalu harus tentang mengejar banyak tempat. Kadang satu tempat saja sudah cukup, asalkan kita benar-benar menikmatinya. Nggak perlu selalu membuat jadwal yang terlalu padat, nggak harus berpindah dari satu objek wisata ke objek wisata lainnya. Ada kalanya kita hanya perlu duduk, melihat pemandangan, berbincang, tertawa, dan membiarkan waktu berjalan.
Setelah eksplore, kembali ke resort dengan naik jeep lagi. Tapi kali ini nggak langsung di resort, saya diturunkan di areal UMKM yang diberdayakan untuk menyediakan aneka oleh-oleh. Ya ampun, dari sini jalan ke resort berasa lama saking lumayan luas areal oleh-olehnya.
Perjalanan dari Jogja ke Kawah Putih mengingatkan saya bahwa hidup juga seperti perjalanan panjang. Kita sering terlalu fokus pada tujuan akhir sampai lupa menikmati proses menuju ke sana. Padahal, di sepanjang perjalanan itulah banyak cerita, pertemuan, pemandangan, dan pengalaman yang kelak justru menjadi kenangan paling berharga.

Duduk sejenak di atas spot apung Kawah Putih. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Kembali dari Kawah Putih, saya membawa lebih dari sekadar foto-foto. Saya membawa kesegaran pikiran, pengalaman baru, dan satu kesadaran sederhana: perjalanan yang menyenangkan bukan hanya tentang ke mana kita pergi, tapi tentang bagaimana kita menikmati setiap langkah untuk sampai ke sana.
Sampai jumpa pada tulisan perjalanan saya berikutnya: Danau Situ Patenggang.
Ari Kinoysan Wulandari
