Kawah Putih: Kawah Di Daerah Landai

Tempat transit sebelum ke Kawah Putih. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Saya lupa persisnya, hari Jumat itu saya seharian di kampus, njur harus ke Solo untuk membereskan tulisan klien yang nggak bisa saya akses secara online. Jadi ketemu orang per orang, membereskan tulisan di lokasi maunya seperti apa.

Salah satu tantangan penulis kalau ketemu generasi sesepuh yang bisanya serba “saya bicara, tuliskan, saya cek langsung, kurang cocok betulkan di tempat”. Waktu jadi lebih lama karena saya nggak tahu seberapa banyak revisinya.

Untunglah nggak terlalu lama revisi dan acc. Jujurly, saya sudah lelah banget saat berbalik arah ke Jogja. Nggak inget saya ada program ke Bandung. Inget saya itu hari Sabtu keesokan harinya. Saya baru sadar ketika ditelpon-telpon. Haaah? Malam itu juga saya beberes packing, jam delapan malam sudah keluar lagi dari areal Jogja.

Sisi atas Kawah Putih. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Jangan tanya kelakuan saya. Begitu masuk kendaraan, memastikan siapa saja tim saya; minum multivitamin, berdoa, selimutan njur tidur. Wes to pokoknya pules saking lelahnya. Yach, mo dapet duit besar nggak mau capek itu jelas nonsense. Kecuali sampeyan pewaris konglomerat.

Perjalanan dari Jogja menuju Kawah Putih, Bandung cukup panjang. Biasanya saya menikmati bagian-bagian kecil yang sering kali terlewat ketika orang terlalu sibuk menghitung jarak dan waktu: pemandangan dari balik kaca kendaraan, perubahan suasana kota menjadi pedesaan, obrolan sepanjang perjalanan, hingga kegembiraan ketika tempat yang dituju semakin dekat. Tapi kali ini saya beneran melewatkan semuanya. Tidur sampai pagi.

Saya bangun ketika sudah mendekati Bandung. Saya melongok ke luar, suasana sudah berubah. Bentang alam mulai menunjukkan karakter pegunungan. Jalan berkelok, pepohonan yang semakin banyak.

Sisi Kawah Putih yang di bagian tepi. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Begitu sampai tempat transit, itu lupa saya jam berapa. Tapi masih gelap, belum adzan Shubuh. Saya di sini langsung merasakan suasana yang berbeda. Sejuk cenderung dingin. Areal resort ini cukup luas dengan berbagai tipe layanan penginapan; hotel, guest house, pavilyun, layanan mandi plus ishoma non inap, mandi air panas di kolam yang super luas.

Cuman sayangnya di sini campur aduk dari anak-anak, remaja, perempuan, lelaki —jadi saya nggak mandi air panas di sini, taman bermain, oleh-oleh khas, dll. Saya mandi (tentu dengan air panas), sholat shubuh, dan tidur lagi. Sarapan masih nanti jam tujuh pagi dan kami akan ke Kawah Putih sekira jam sembilan saat pintu wisata dibuka.

Namanya saja Kawah Putih. Saya wes membayangkan medannya akan seberat kawah Bromo atau kawah Ijen. Beuh, kalau nurutin capek; saya maunya tidur bae seharian itu. Syukurlah, ternyata Kawah Putih ini di areal yang cukup landai.

Tampak keseluruhan Kawah Putih dari sisi depan. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Dari resort kami naik jeep dengan naik turun belak-belok sekira setengah jam normally, kalau macet karena ramai ya bisa lebih lama. Teriakan boleh bebas di sini, melepaskan stres. Turun dari jeep yo tetep kudu masih jalan kaki sekira setengah jam. Alhamdulillah jalanan landai dan nggak terlalu menguras energi. Semua umur dari anak 8-10 tahun bisa ke areal ini.

Alhamdulillah. Subhanallah. Versi saya Kawah Putih punya daya tarik yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Warna air kawah yang khas, dikelilingi tebing dan pepohonan, menciptakan pemandangan yang terasa unik. Kabut tipis yang kadang turun justru membuat suasananya semakin dramatis.

Saya memilih eksplore ke seluruh areal. Ada jembatan yang menjorok ke tengah kawah yang keren untuk foto-foto. Ke sini kita kena charge lagi; lupa saya berapa. Sekira 25 atau 35 rebon di luar tiket masuk dan parkir kendaraan. Ada jasa foto profesional juga per file 10 rebon. Saya beneran menikmati tempat itu. Menghirup udara pegunungan, memandang kawah, merasakan dinginnya udara, dan memperhatikan bagaimana alam membentuk ruang yang begitu indah.

Lewat jembatan inilah kita bisa berada di tengah-tengah Kawah Putih. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Alhamdulillah, ada rasa syukur yang muncul ketika berada di tempat ini. Eeh, saya yang kemarin berlarian hectic Jogja Solo pp, balik lagi keluar Jogja, pagi ini sudah di Bandung; ratusan kilometer dari kota gudeg tercinta.

Dan syukurlah kaki-kaki saya cukup kompromi nggak protes diajak jalan. Alam Kawah Putih sungguh indah. Kita sering menganggap alam sebagai sesuatu yang biasa. Namun saat ketika datang dan melihatnya dari dekat, kita baru menyadari betapa luar biasanya ciptaan Tuhan.

Sekira dua jam saya keliling mider areal Kawah Putih. Dasar keilmuan saya Linguistik Antropologis; peneliti lapangan. Tanpa rencana pun saya pun sempat mewawancarai spontan sekira 10 orang lokal tentang Kawah Putih. Wooh, ada mitosnya; ada legendanya; ada kisah-kisah seru dll. Kawah Putih membuka mata saya; bahwa lokasi kawah nggak selalu perlu energi dan tenaga ekstrem seperti ke Kawah Ijen. Ada yang ringan bae seperti kawah di Bandung ini.

Di tengah jembatan apung. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Saya makin percaya bahwa piknik nggak selalu harus tentang mengejar banyak tempat. Kadang satu tempat saja sudah cukup, asalkan kita benar-benar menikmatinya. Nggak perlu selalu membuat jadwal yang terlalu padat, nggak harus berpindah dari satu objek wisata ke objek wisata lainnya. Ada kalanya kita hanya perlu duduk, melihat pemandangan, berbincang, tertawa, dan membiarkan waktu berjalan.

Setelah eksplore, kembali ke resort dengan naik jeep lagi. Tapi kali ini nggak langsung di resort, saya diturunkan di areal UMKM yang diberdayakan untuk menyediakan aneka oleh-oleh. Ya ampun, dari sini jalan ke resort berasa lama saking lumayan luas areal oleh-olehnya.

Perjalanan dari Jogja ke Kawah Putih mengingatkan saya bahwa hidup juga seperti perjalanan panjang. Kita sering terlalu fokus pada tujuan akhir sampai lupa menikmati proses menuju ke sana. Padahal, di sepanjang perjalanan itulah banyak cerita, pertemuan, pemandangan, dan pengalaman yang kelak justru menjadi kenangan paling berharga.

Duduk sejenak di atas spot apung Kawah Putih. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Kembali dari Kawah Putih, saya membawa lebih dari sekadar foto-foto. Saya membawa kesegaran pikiran, pengalaman baru, dan satu kesadaran sederhana: perjalanan yang menyenangkan bukan hanya tentang ke mana kita pergi, tapi tentang bagaimana kita menikmati setiap langkah untuk sampai ke sana.

Sampai jumpa pada tulisan perjalanan saya berikutnya: Danau Situ Patenggang.

Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us:

Museum Angkut Malang: Menembus Ruang dan Waktu

Areal depan Museum Angkut. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Usai makan siang, saya wes tidur bae di bus. Beberapa kali terbangun, yo tidur lagi. Mulailah sebagian badan terasa pegel-pegel lepas eksplore Tumpaksewu. Saya bangun lagi ketika bus berhenti di Museum Angkut, Batu, Malang. Pinginnya lanjut tidur, lah tapi semua orang turun. Saya pun belum pernah ke tempat ini. Melongok halamannya yang kayaknya luas itu, beuh, kaki maunya mager bae.

Toh saya turun juga. Yang saya ingat diberi waktu sampai jam 8 malam. Sekarang nyaris jam 5. Sebenarnya 3 jam bukan waktu yang panjang untuk menjelajah tempat sebesar itu. Tapi selama 3 jam jalan maning, belum tentu kaki saya mau. Apalagi kalau di dalam banyak tempat duduk dan kafe, wes jelas akan beda haluan nanti😂

Udara Batu yang sejuk masih terasa saat masuk areal musem. Matahari sudah mulai turun, tapi hari belum benar-benar gelap. Saya masuk sambil mikir, kira-kira sempat lihat apa saja sampai jam 8 nanti?

Saya nggak tahu harga tiketnya, yang jelas jarene lumayan. Cek sendiri aja ya. Begitu dapat gelang tiket dari biro, saya njur nanya petugas jaga alur keliling dari mana ke mana dan yang paling harus saya lihat bagian mana. Eh Mbak-mbake yang cantik-cantik itu cukup detail dan ramah njelasinnya. Oke, saya akan ikuti petunjuk untuk hemat waktu.

Mobil dan helikopter kesayangan Bung Karno. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Rombongan saya, wes embuh saya nggak lihat lagi. Mungkin sudah nggak sabar eksplore duluan. Tapi ini bukan areal wisata berat atau berbahaya, biar saja yang sudah berkeliling, nanti juga ketemu lagi.

Begitu masuk ruang pertama, saya langsung disambut berbagai kendaraan yang dipajang dengan sangat menarik. Bukan hanya kendaraan yang diletakkan di satu ruangan, tapi dibuat dalam suasana dan latar yang berbeda-beda.

Saya jadi ngerasa nggak sedang berada di museum. Saya seperti diajak berjalan-jalan melewati berbagai zaman, menembus ruang dan waktu. Eh di sisi kiri ada kendaraan kesayangan Bung Karno (sang Proklamator) juga. Waaah, mantap…!

Ada mobil-mobil tua yang membuat saya berhenti cukup lama. Bentuknya unik, sebagian terlihat berbeda banget dengan kendaraan yang biasa kita lihat sekarang. Saya memperhatikan detailnya sambil sesekali mengambil foto.

Salah satu kendaraan di Museum Angkut. Ford model A tahun 1929. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Dalam hati saya mikir, kendaraan yang bagi kita sekarang itu hanya benda museum, pada masanya mungkin merupakan kendaraan yang bergengsi dan membanggakan. Mungkin juga hanya golongan pejabat atau bangsawan tinggi yang bisa memilikinya.

Ya, sejarah ternyata bisa dilihat dari sebuah kendaraan. Dan itu menarik. Saya berjalan lagi.
Satu sudut belum selesai saya nikmati, sudah ada sudut lain yang bikin saya ingin berhenti. Jadinya saya biarkan begitu saja: saya jalan, melihat-lihat, berhenti, foto, jalan lagi, lalu berhenti lagi.

Kalau ada yang mengatakan 3 jam cukup untuk eksplore museum, saya rasa cukup untuk melihat-lihat. Tapi untuk benar-benar menikmati, apalagi kalau ikutan baca keterangannya, rasanya masih kurang lama.

Jam 6 lewat, suasana mulai berubah. Langit semakin gelap. Lampu-lampu mulai menyala. Museum yang tadi terlihat terang dengan nuansa sore perlahan berubah menjadi lebih dramatis.

Bentuk kendaraan di satu sisi Museum Angkut. Modalnya seperti Mercedes pertama milik Paku Buwono X dari Solo. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Nah, bagian ini yang saya suka. Kalau tadi saya lebih banyak memperhatikan kendaraan, sekarang saya mulai memperhatikan suasananya. Di areal luar museum beneran terlihat cantik.

Saya cari tempat yang bagus untuk berfoto. Kadang saya berdiri sebentar hanya untuk mencari sudut yang pas. Maklum, kalau sudah menemukan latar yang bagus, rasanya sayang kalau nggak diabadikan.

Habis itu, saya sampai di kawasan Gangster Town. Suasananya berbeda lagi. Bangunan dan latarnya dibuat seperti kawasan kota lama. Ketika lampu mulai menyala, tempat ini terasa semakin hidup. Saya seperti sedang masuk ke sebuah kota dari masa lalu.

Di sinilah saya mulai sadar bahwa Museum Angkut bukan sekadar tempat untuk melihat koleksi kendaraan. Yang membuat menarik justru bagaimana kendaraan-kendaraan tersebut ditempatkan dalam satu cerita yang utuh.

Mobil Ford model T di Museum Angkut. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Ada suasana kota. Ada bangunan. Ada kendaraan. Ada pencahayaan. Ada orang-orang. Ada kantor-kantor. Ada aktivitas. Semuanya seperti dirancang agar kita nggak hanya melihat benda, tapi juga membayangkan kehidupan pada masanya.

Semuanya itu di Museum Angkut mencakup moda transportasi darat, laut, dan udara. Di darat kita bisa melihat moda angkutan hewan, manusia (buruh gendong), manusia-hewan (kereta kuda, kereta sapi, dll), sepeda, gerobak, motor, mobil, dll. Untuk areal udara, ada beragam jenis pesawat dari sipil, militer, dan darurat; komersial dan non komersial.

Sementara untuk moda transportasi air atau laut jelas ada gethek, sampan, perahu, kapal dengan beragam bentuk, ukuran dan dari zaman yang berbeda-beda. Perahu (Jung) Majapahit pun ada. Perahu replika dari Dinasti Syailendra (pahatan di Candi Borobudur) pun ada. Komplitlah dengan detail keterangan. Tiketnya lumayan ya wajarlah….

Gerbang areal Pelabuhan Sunda Kelapa di Museum Angkut. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Saya menikmati areal itu pelan-pelan. Nggak ada orang lain. Nggak perlu terburu-buru. Potret sana sini benda-benda dan catatan keterangannya, tahu-tahu sudah nyaris jam 7 malam. Lho, kok cepat banget. Padahal rasanya baru sebentar saya masuk.

Ini memang salah satu penyakit kalau sedang jalan-jalan: waktu terasa jauh lebih cepat dibandingkan ketika sedang kerja. Saya pun mempercepat langkah. Masih ada beberapa sudut yang ingin saya lihat.

Usai dari areal pesawat, saya masuk areal balap mobil untuk nonton. Lho operatornya sudah nggak ada. Akhirnya saya keluar dan menuju areal Pelabuhan Sunda Kelapa. Sejarah zaman Majapahit hingga VOC cukup komplit di kawasan ini.

Habis itu saya bergeser ke mobil-mobil Amerika dan Eropa. Beranjak ke seberangnya di Barbie view, lalu mider kembali ke areal depan. Mengambil ulang beberapa foto yang masih saya rasa kurang.

Mobil-mobil jenis Chevrolet di Museum Angkut. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Dan tentu saja, saya nggak ingin pulang tanpa menikmati suasana malam Museum Angkut. Lampu-lampu semakin terlihat bercahaya. Beberapa kawasan menjadi lebih cantik ketika malam. Saya kembali mengambil foto, kali ini dengan suasana yang berbeda dari ketika pertama datang.

Saya senang datang sore. Kalau datang terlalu siang, mungkin saya hanya mendapatkan suasana terang. Dengan datang sekira jam 5, saya mendapatkan 2 suasana sekaligus: senja dan malam.

Seusai melewati kawasan Hollywood, saya naik kereta api di Stasiun Lama. Hahaha… dasar ndeso, saya pikir begitu masuk pintu, saya akan naik kereta api beneran. Oalah ternyata replika kereta dan bagian bawah (lantai) dibuat bergerak-gerak beneran dengan suara-suara persis seperti kalau kita naik pramex atau KRL.

Keluar dari situ saya njur ngapain ya itu? Oh melewati kafe-kafe dan tempat jualan aneka rupa jajan dan souvenir. Saya lupa diajak siapa untuk naik perahu atau bebek besar…. tapi saya menolaknya. Karena inget belum sholat, saya bergegas ke mesjid. Beuh, di mesjid maunya langsung rebahan dan tidur.😂

Mobil koleksi Barbie di Museum Angkut. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Saya mulai sadar bahwa waktu kunjungan tinggal sedikit. Usai sholat jamak Maghrib Isya, saya berjalan menuju bagian akhir. Sesekali melihat kembali tempat-tempat yang tadi saya lewati. Ada perasaan sedikit sayang. Belum puas. Kaki-kaki saya alhamdulillah nggak protes. Lempeng saja jalannya. Mungkin memang begitu rasanya kalau menikmati perjalanan. Ringan dan ada rasa ingin tinggal lebih lama.

Setelah beneran puas memandangi tempat-tempat di belakang saya, saya pun keluar dari Museum Angkut. 3 jam sudah saya habiskan. Saya masuk museum ketika matahari masih menyisakan cahaya sore. Saya keluar museum ketika malam sudah benar-benar turun.

Saya seperti melakukan perjalanan melewati ruang dan waktu. Saya melihat kendaraan dari berbagai zaman, menikmati bangunan dan suasana yang dibuat berbeda-beda, berfoto, berjalan santai, dan sesekali hanya berdiri menikmati tempat.

Tanda cinta Barbie di Museum Angkut. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Kalau ditanya apa yang paling saya suka dari Museum Angkut? Bukan satu kendaraan tertentu. Bukan pula satu spot foto tertentu. Saya lebih suka pengalaman berjalan dari satu suasana ke suasana lainnya. Dari sore menuju malam. Dari kendaraan lama menuju kendaraan yang lebih modern. Dari satu kawasan ke kawasan lain. Dan yang paling menyenangkan, saya bisa menikmati semuanya dengan cara saya sendiri.

Nggak perlu buru-buru. Nggak perlu mengejar terlalu banyak tempat. Cukup berjalan, melihat, membaca, mengambil foto, lalu menyimpan kenangannya. Ternyata 3 jam di Museum Angkut bisa menjadi perjalanan kecil yang cukup panjang untuk dikenang. Alhamdulillah.

Datanglah ke sana ya Friend… Kenali sejarah bangsamu lewat moda transportasi. Pastikan fisikmu sehat, waktumu cukup, memori kamera/hp mu leluasa untuk bisa menikmati seluruh areal, koleksi, dan kenangannya.

Oh iya, trip saya ini juga masih diorganize oleh Lestari Wisata. Sampeyan bisa hubungi Mas Imam di 0856-2550-428 atau cari sosmednya saja nanti ketemu. Trip bersama Lestari Wisata bagi saya serasa trip privat. Banyak kemudahan dan pengaturan waktu yang terencana dengan baik.

Kawasan Hollywood di Museum Angkut. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Saya dengan kondisi yang sudah lelah dari Tumpaksewu, toh masih sanggup jalan mider 3 jam, oh itu sungguh hebat. Berarti saya sebenarnya sudah cukup istirahat dari rentang waktu dan jarak antara Tumpaksewu ke Museum Angkut. Kalau nggak nyaman dan beneran tepar, biasanya saya akan memilih safety. Tetap di bus tidur atau ya njogrog saja duduk di kafe menikmati makan minum.

Saya doyan dolan, bahkan ke daerah-daerah ekstrem; tapi di luar itu semua saya memastikan fisik mental saya sanggup, ada pemandu profesional, dan tempat-lingkungan-alam-orang secara umum aman. Biar kata orang gampang aman pun, kalau versi saya nggak nyaman, saya akan mundur. Itu standar keselamatan pribadi. Feeling personal yang hanya saya yang tahu.

Sampai jumpa lagi di catatan trip saya berikutnya. Kawah Putih dan Danau Situ Patenggang.

Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us:

Air Terjun Tumpaksewu, Siapkan Kakimu untuk Menikmati Keindahannya

Areal sekitar transit ke air terjun Tumpaksewu. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Saya masih antara iya atau enggak untuk berangkat ke Tumpaksewu ini. Gaweyan sedang banyak deadline yang cukup menguras energi. Secara umum saya wes ngerti; bahwa ke air terjun bukan sekedar berjalan. Butuh waktu, energi, dan stamina yang prima. Karena sudah merasa membayar lunas, saya pun memutuskan pergi saja. Nanti lihat kalau sudah di dekat TKP, cek-cek kondisi dan kaki-kaki.

Saya segera packing sesuai yang dilistkan biro. Rapi detail, sehingga saya nggak perlu mikir lagi apa saja yang perlu saya masukkan ke backpack. Saya masukkan keperluan pribadi saya sesuai list. Ada saran untuk menggunakan sandal gunung, pakaian ringan mudah kering, jas hujan/payung/topi, tas ringan tahan air untuk eksplore areal air terjun.

View cantik di depan tempat transit. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Oke, kecuali sandal gunung; semuanya saya siapkan. Jujurly saya ora duwe sandal gunung. Ke areal basah (air terjun, danau, pantai) biasanya nyeker alias nggak pakai alas kaki atau ya sandalan jepit. Dari review lokasi yang jauh, licin, basah, berbatu; saya berpikir untuk beli sandal gunung. Kalau piranti baru, kaki saya jelas butuh penyesuaian, belum kalau lecet karena gesekan…. wes malah nanti repot. Jadi saya memutuskan bawa sandal jepit yang alasnya bulat-bulat (nggak akan tergelincir, kepleset) yang biasa saya pakai. Alhamdulillah lancar pas eksplore. Untuk temen-temen yang mau ke Tumpaksewu, sebaiknya pakai sandal gunung yang sudah biasa dipake ya, jangan baru. Lebih aman, nggak khawatir lepas terbawa arus.

Sekitar jam sembilan malam, saya wes meninggalkan Jogja. Saya banyak tidur, jadi tahu-tahu wes sampai tempat transit di Lumajang saat jelang Shubuh. Standar di sini ya bebersih, olga singkat, sholat, istirahat, makan. Saya mulai ngitung kekuatan diri. Cukup enggaknya untuk ke air terjun. Kasak-kusuk cari info ke mereka yang sudah pernah ke air terjun. Wah, jalannya lumayan. Njur turun tangga ke lokasi air terjun, nggak lumayan lagi, tapi berat. Nanti naiknya, lebih berat lagi.
Lebih kurang 5-6 jam itu saya harus sanggup terus berjalan dengan medan yang nggak biasa (basah, licin, berbatu, arus deras, tangga turun naik). Mungkin hanya akan terjeda di 4-5 titik kumpul atau tempat istirahat.

Di areal pengecekan tiket masuk air terjun Tumpaksewu. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Piye Ri, sanggup ora? Mangkat ora? Saya menanyai diri sendiri. Ada keinginan untuk break saja; karena kaki saya habis recovery panjang setelah jatuh. Ntar kalau sakit lagi lebih repot. Tapi kalau sudah sampai sini, nggak berangkat, njur ngapain capek-capek tidur di perjalanan? Tidur di rumah saja enak nyaman. Bismillah, akhirnya saya memilih berangkat. Janji pada diri sendiri nanti kalau nggak kuat, ya mundur balik.

Jalanan awal ke areal panorama Tumpaksewu masih jalan darat, lempeng. Orang sudah banyak di lokasi meskipun saya berangkat pagi-pagi, sekitar 6.30 WIB. Tumpaksewu terkenal dengan aliran airnya yang melebar seperti tirai putih di antara tebing-tebing hijau. Dan begitu melihat secara langsung, Subhanallah saya nggak berhenti takjub memuji kebesaran sang Pencipta. Luar biasa indahnya. Matahari pagi membuat kilauan air seperti perak memutih nan elok rupawan.

Foto-foto dan video nggak cukup mudah di tempat ini. Karena banyak orang datang di akhir pekan, spot-spot foto harus antri dan kudu secepat kilat tanpa sempat ngecek hasilnya bagus atau enggak, sudah harus ganti orang; karena kapasitas tempatnya pun terbatas. Saya lebih banyak merekam dalam hati dan pikiran. Nggak cukup kata untuk menggambarkan keindahan tempat ini. Luar biasa…!

Di gerbang air terjun Tumpaksewu. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Setelah dari areal gerbang ini, barulah the real journey dimulai. Saya harus menuruni tangga tangga menurun yang masyaallah jumlahnya nggak terhitung, entahlah. Banyak sekali. Tapi prinsip saya cuma satu, melangkah dua kali. Kaki kiri, kaki kanan. Nggak terlalu berasa capek karena semburan air dari berbagai sisi air terjun terasa di mana-mana sejak mulai menuruni tangga.

Semakin dekat dengan air terjun Tumpaksewu, pemandangan di sekitar jalan semakin menarik. Pepohonan hijau, perbukitan, dan udara yang terasa lebih segar membuat perjalanan lebih enteng. Suara air mulai terdengar dari kejauhan. Awalnya samar. Semakin dekat, suara gemuruhnya semakin jelas.

Saya mulai nggak sabar. Dan akhirnya saya sampai di titik pandang. Saya terpesona. Di depan mata saya terbentang Tumpaksewu. Air yang jatuh dari tebing tampak seperti tirai putih raksasa. Alirannya begitu banyak dan melebar, sementara di sekelilingnya terdapat tebing dan pepohonan hijau. Pemandangan itu benar-benar berbeda ketika dilihat secara langsung. Saya bisa mendengar suara gemuruh airnya. Saya bisa merasakan udara sejuknya. Saya bisa melihat betapa luas dan megahnya alam di hadapan saya.

Areal bawah air terjun Tumpaksewu. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Saya berdiri cukup lama hanya untuk menikmati pemandangan. Rasanya seperti mendapatkan kesempatan untuk berhenti sejenak dari kesibukan sehari-hari.
Setelah puas menikmati pemandangan, saya mulai mengambil foto dan video. Namanya juga perjalanan ke tempat sebagus ini, rasanya sayang kalau nggak diabadikan. Tapi seperti yang saya bilang sebelumnya, foto-foto dan video di sini nggak mudah. Terlalu banyak orang, terlalu lama antrean.

Saya tertawa sendiri pas melihat banyak foto yang nggak sesuai harapan. Ada yang matanya merem. Ada yang posisinya kurang pas. Ada yang tiba-tiba figuran ukuran besar (orang lewat) di belakang. Tapi justru foto-foto seperti itulah yang nantinya menjadi kenangan paling menyenangkan. Saya juga mengambil foto pemandangan tanpa orang. Air terjun, tebing, pepohonan, dan langit menjadi satu kesatuan yang indah. Saya ingin menyimpan sebanyak mungkin suasana Tumpaksewu hari itu. Bukan hanya untuk dipamerkan, tapi untuk dikenang.

Areal bawah air terjun Tumpaksewu. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Setelah cukup lama berfoto, saya akhirnya berhenti. Saya hanya duduk dan memandangi air terjun. Nggak ambil foto. Hanya diam, menikmati suara air. Pada saat seperti itu saya kembali menyadari bahwa sesekali manusia memang perlu berhenti dari rutinitas. Kita terlalu sering sibuk mengejar sesuatu sampai lupa menikmati hidup. Sampai di areal bawah air terjun Tumpaksewu itu, sungguh bagi saya sesuatu yang amazing… alhamdulillah kaki-kaki saya kuat sampai di sini.

Di Tumpaksewu, saya belajar untuk menikmati perjalanan tanpa buru-buru. Saya juga tahu, mengukur kekuatan diri di medan-medan berat seperti ini sangat penting. Jujur pada diri sendiri. Kalau kuat, majulah. Kalau nggak sanggup, mundurlah dengan bijak. Kalau nanggung itu cuman merepotkan diri sendiri dan orang lain, juga mengganggu kenyamanan secara umum.

Perjalanan belum usai. Dari Tumpaksewu, saya ke seberang ke Goa Tetes. Tempat ini lebih sepi dari lokasi air terjun Tumpaksewu. Isinya lebih banyak bule-bule fakir miskin (baca: kurang baju)… haha… ya mestinya pakaian merekalah yang benar. Pakai bikini atau baju renang di areal air basah begini. Cuman format budaya timur kita yang masih terasa “aneh” melihat orang-orang jalan di tempat umum setengah telanjang. Oh ini hanya intermezzo, meskipun di Bali kadang saya juga masih berasa kenapa Indonesia nggak bikin “standar minimal” berbaju layak di seluruh areal umum, termasuk tempat wisata, bagi siapapun –warga lokal atau wisatawan domestik dan asing.

Di areal Goa Tetes. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Saya nggak terlalu lama di tempat ini. Jam 9.30 an WIB sudah mulai mendaki tangga, yang seriusan bikin saya menggos-menggos. Areal air, basah, arus juga bikin jalan saya makin lambat. Bayangin saya yang biasa jalan dan olga bae, ini berat. Sungguh bukan piknik yang disarankan untuk kaum mageran yang ke TKP hanya untuk pamer narsis dengan posting foto-foto di medsos.

Saya lelah banget. Pingin nyerah saja. Lemes rasanya, jalan terus dari pagi. Tapi di sini nggak ada jasa gendong, lift, eskalator, atau kabel tram yang bisa bawa saya langsung ke atas. Mau nggak mau, suka nggak suka, yo kudu jalan naik tangga sampai titik keberangkatan. Meskipun merambat ya tetap kaki kiri, kaki kanan saya naik. Tiap pos istirahat, saya berhenti dan pesan minum. Ya ampun, saya menolak makanan apapun sepanjang jalan karena menjaga kondisi perut agar nggak berulah. Wooh, durian gemuk-gemuk daging, katanya manis-manis, murah-murah tenan di sini. Butuh lebih dari kesadaran untuk menolak dan nggak makan durian bagi penggila durian seperti saya. Kondisi tubuh panas karena jalan mendaki, ditambah durian yang juga makanan panas… tubuh saya bisa meradang dadakan. Jadi saya pilih safe, nggak makan durian dulu.

Melanjutkan perjalanan yang seolah nggak pernah usai itu, bikin saya bolak-balik menyemangati diri. Ayo Ari, dua tangga lagi, dua tangga lagi… Bisa Ari, bisa, sudah berkurang dua tangga…. Dan setelah sejam lebih, saya sampai di titik kumpul awal. Alhamdulillah. Jalan sudah darat, aspal landai. Saya milih jasa ojek bae ke tempat transit. Lupa ya itu bayar 15 rebon kayaknya.

Di areal Goa Tetes. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Hampir jam 12 an saya tiba di tempat transit. Mandi. Segar dan enteng rasanya. Mengoleskan minyak zaitun ke seluruh tubuh (mencegah bengkak dan memar tubuh), makan siang dan minum p*racet*mol (ini versi saya sendiri, kalau habis aktivitas lapangan berat begitu untuk mencegah demam dan nyeri). Setelah sholat Dhuhur jamak, perjalanan pun dilanjutkan. Saya wes nggak terlalu ingat lagi, tertidur. Lelah fisik raga, tapi puas hati jiwa. Alhamdulillah.

Hingga saya menuliskan ini, sungguh saya masih takjub pada diri sendiri. Luar biasa, di usia yang nggak lagi belia; Allah masih memberi saya kesempatan untuk sampai di tempat wisata yang versi saya sungguh berat ini. Ke kawah Bromo nggak ringan. Ke kawah Ijen dan areal Blue Fire tantangannya 2x dari ke kawah Bromo. Ke Tumpaksewu butuh 2x energi lebih dari saat ke Kawah Ijen Blue Fire. Siapkan saja fisikmu yang sehat, langkah kakimu yang kuat sebelum gegayaan mo eksplore Tumpaksewu.

Air terjun Tumpaksewu dari kejauhan. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Oh iya, trip saya kali ini diatur dan diurusi oleh Lestari Wisata yang super. Ramah, profesional, bersahabat, nyaman, mudah, makan-minum-snack-buah-buahan full enak-enak sepanjang perjalanan, armada dan kru mantap, guide-fotografer-TL oke, dan yang pasti harga sangat terjangkau –pun bisa dicicil. Saya sangat terbantu dengan layanan full makan (wes nggak mikir mo makan apa, di mana, harga berapa —tenang kenyang) dan minuman mandiri. Di armada disediakan dispenser panas dingin netral, sendok-gelas sekali pakai, aneka jenis minuman instant.

Di perjalanan saya tetap banyak minum biar nggak dehidrasi. Kalau nggak ada ini, tiap perhentian atau rest area sekurangnya saya harus keluar uang 7 rb – 25 rb per cup/botol tergantung minuman dan tempat pembelian; dikalikan sekurangnya 10-12x untuk 2 malam 1 hari, wes gari ngitung uang yang keluar. Halah, namanya juga perempuan, mbok punya duit yo tetep petung😂

Untuk kontak Lestari Wisata, sampeyan bisa cari Kang Imam atau Mas Imam (begitu saya memanggil) di nomor 0856-2550-428. Rekomendasi layanan wisata dan berbagai kegiatan sejenis. Atau cari saja sosmednya ntar ketemu.

Sampai jumpa di trip berikutnya, yaitu catatan saya tentang Museum Angkut. Tunggu ya….

Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us:

Hadapi Situasinya, Jangan Keluhkan Keadaannya

Kalau berani hadapi tantangannya, kalau takut nggak usah coba-coba. Pantai Timang. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Setiap orang pasti punya masalah. Namun nggak setiap orang mau curhat, apalagi mengeluh tentang masalahnya kepada orang lain. Itulah sebabnya ada orang yang kelihatannya “baik-baik saja” karena dia memendam atau menahan masalah untuk dirinya sendiri.

Saat menghadapi masalah pelik, kadang kita langsung membatin: “Kenapa harus aku?”
“Kalau saja keadaannya berbeda.”
“Andai hidupku lebih mudah.”

Spontanitas, mengeluh kadang terasa jadi jalan paling mudah untuk meluapkan rasa kecewa. Sayangnya, keluhan yang terus-menerus jarang membawa kita pada solusi. Ada perbedaan besar antara mengakui bahwa keadaan sedang sulit dengan terus-menerus mengeluhkan keadaan. Mengakui masalah bikin kita sadar bahwa tantangan memang ada. Sebaliknya, mengeluh tanpa henti hanya menguras energi.

Lalu, apa yang sebaiknya kita lakukan? Pertama, mengakui dengan sadar bahwa kita sedang mengalami masalah. Petakan, jelaskan, konkretkan, kalau perlu tulis masalah kita dengan jelas.

Kedua, fokus pada point-point yang bisa kita kendalikan. Nggak semua hal berada dalam kendali kita. Kita nggak bisa ngatur cuaca, putusan orang lain, kondisi ekonomi, atau perubahan yang terjadi begitu cepat. Namun, kita bisa menentukan kendali diri pada cara kita merespons masalah.

Ketika proyek dibatalkan, kita bisa cari peluang baru. Saat mengalami kegagalan, kita bisa melakukan evaluasi. Jika rencana nggak sesuai harapan, kita bisa pilih jalan berbeda. Orang yang tangguh bukanlah mereka yang nggak mengalami kesulitan, tapi mereka yang tetap bergerak meski keadaan belum sempurna.

Ketiga, sadari sepenuhnya mengeluh sesekali wajar. Namun, kalau jadi kebiasaan, kita justru terjebak dalam lingkaran negatif. Semakin sering mengeluh, semakin besar fokus kita pada masalah, bukan pada solusi.

Bayangkan seseorang yang menghabiskan satu jam untuk mengeluhkan pekerjaannya. Setelah satu jam berlalu, pekerjaannya masih tetap ada. Berbeda jika satu jam itu digunakan untuk menyusun daftar prioritas, berdiskusi dengan rekan kerja, atau mempelajari keterampilan baru. Pekerjaan mungkin nggak langsung beres, tapi langkah menuju rampung sudah dimulai.

Keempat, setiap masalah yang kita bereskan, itu akan jadi pengalaman dan guru terbaik. Hampir setiap keberhasilan lahir dari serangkaian tantangan. Pengusaha sukses pernah mengalami kerugian. Penulis terkenal pernah menerima penolakan naskah. Atlet berprestasi pernah mengalami kekalahan.

Mereka nggak menghabiskan waktunya untuk meratapi keadaan. Mereka belajar, memperbaiki diri, lalu mencoba lagi. Setiap masalah menyimpan pelajaran. Bisa jadi kesabaran, ketelitian, kemampuan beradaptasi, atau keberanian mengambil keputusan.

Kelima, bertanya dengan tepat. Saat menghadapi kesulitan, cobalah mengubah pertanyaan dalam diri. “Apa yang bisa kupelajari dari situasi ini?”
“Langkah pertama apa yang bisa kulakukan hari ini?”
“Siapa yang bisa membantuku menemukan solusi?”

Pertanyaan yang tepat akan mengarahkan pikiran kita pada tindakan dan solusi.

Keenam, mulailah dari langkah kecil. Nggak semua masalah dapat diselesaikan sekaligus. Namun, hampir semua masalah dapat dihadapi selangkah demi selangkah.

Mulailah dengan membuat daftar prioritas. Selesaikan satu pekerjaan terlebih dahulu. Hubungi orang yang dapat membantu. Pelajari keterampilan yang dibutuhkan. Sisihkan waktu untuk berpikir jernih sebelum mengambil keputusan.

Langkah kecil yang dilakukan secara konsisten sering kali menghasilkan perubahan besar. Yach, hidup memang nggak selalu memberikan keadaan yang kita inginkan. Ada masa ketika rencana gagal, peluang hilang, atau tantangan datang tanpa diundang. Namun, masa depan nggak ditentukan oleh seberapa sering kita mengeluh, tapi oleh seberapa berani kita menghadapi kenyataan.

Keadaan nggak selalu bisa kita pilih. Namun, sikap dalam menghadapinya selalu menjadi pilihan. Hadapi situasinya, jangan habiskan waktu mengeluhkan keadaannya. Sebab setiap langkah yang diambil untuk mencari solusi lebih berharga daripada seribu keluhan yang (justru) terasa membuat masalah makin berat.

Kamu sedang ada masalah? Selamat, ujian keberhasilan telah tiba. Hadapi saja, nggak usah mengeluh. Cari solusinya.

Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us:

Mengatur Uang, Tetapkan Batasanmu

Piknik kalau tidak direncanakan dan tidak dibudgetin, termasuk hal yang bisa merusak pengaturan keuangan. Kawah Putih. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Saya yakin tiap orang, tiap keluarga; punya role model pengaturan keuangan yang berbeda-beda. Semua pasti bertujuan agar uang cukup untuk semua kebutuhan, masih bisa menabung, investasi, dan ada dana darurat. Namun realitanya nggak selalu seperti harapan. Selama berkaitan dengan uang; yang lebih sering terjadi, pengeluaran lebih banyak daripada pemasukan. Besar pasak daripada tiang.

Pada awal menjadi freelancer, saya juga cukup stres dengan pengaturan uang ini. Penghasilan nggak menentu, jam kerja nggak pasti, kebutuhan sering nggak terduga, dll situasional yang rieweuh seperti kondangan, takziah, nyumbang, dll dana sosial; semakin bikin saya melongo. Uang saya beneran habis tanpa tahu ke mana saja perginya. Sementara penghasilan berikutnya masih akan datang dalam bulan depan; tentu dengan waktu (tanggal) yang nggak pasti juga.

Lalu mulailah saya duduk, menghitung, mencatat, mengatur, dan “meminjam” tabungan demi bulan itu saya bisa hidup dengan tenang. Satu bulan yang luar biasa, karena saya mencatat semua pengeluaran termasuk 2-5 ribuan untuk parkir. Setelah sebulan itulah saya menemukan angka stabil pengeluaran selama 1 bulan untuk seluruh kebutuhan. Saya juga memasukkan piknik sebagai kebutuhan dengan budget proporsional. Ditambah nabung, invest, dana darurat, dana sosial; ketemulah jumlah uang yang harus tersedia; baik kerja atau enggak, ada penghasilan atau enggak. Argo hidup tetap jalan terus.

Setelah ketemu angka itu, saya jadi lebih ringan menjalani hidup saya. Ada proyek duit besar, biaya hidup saya yo tetap segitu. Palingan ada-lah self reward-nya. Nggak ada duit besar pun, hidup saya yo nggak terus jadi mengkeret. Ternyata ituah yang bikin saya lebih stabil menjalani hari-hari, terutama saat berbulan-bulan nggak ada pemasukan besar. Batasan itu membuat saya lebih mudah menata dan mengatur kalau saya perlu uang besar, misal untuk liburan jauh, umroh, dll.

Nah, masing-masing orang atau keluarga tentu punya kebutuhan yang berbeda. Versi saya, berapapun pendapatanmu, tentukan dulu batasan kebutuhan sampeyan. Tentu dengan riil ya. Jangan menganggap pendapatan 5 juta boleh pengeluaran 15 juta (karena bisa paylater, pinjol, credit card dll) ya. Ingat itu semua komponen utang, bukan tambahan pendapatan.

Kalau misal duit saya 5 juta sebulan, maka pengeluaran total saya maksimal 3 juta. Wes embuh cara ngaturnya kudu ditata sana sini 😂 Lha 2 juta nya ke mana? Ya itu tadi; dana darurat, nabung, invest, dana sosial. Kalau misalnya ngotot tetap habis 5 juta sebulan, kudu cari tambahan 2 juta dengan sidejob. Kalau nggak, makin gulungkoming di hari-hari berikutnya.

Jadi, silakan itung-itungan sendiri seluruh kebutuhan, bahkan sampai itungan kopi secangkir, pesan makan online, parkir dan e-tol. Itu kelihatan sepele tapi banyak kali tinggal ngitung duit nya😂 Pastikan saat itung-itungan ini, semua kebutuhan sudah dimasukkan. Kalau biasa piknik, memasukkan dengan anggaran 100 atau 200 rb pun tetap boleh; karena nanti bisa digunakan per 6 bulan atau 1 tahun untuk piknik yang rada jauhan dikit. 😀

Di era serba cepat seperti sekarang, mengatur uang bukan hanya soal seberapa besar penghasilan yang kita miliki. Ini lebih tentang seberapa jelas batasan yang kita tetapkan terhadap penggunaan uang. Banyak orang merasa penghasilannya nggak pernah cukup. Masalahnya nggak selalu pada pemasukan, tapi cenderung karena nggak ada batas yang tegas dalam pengeluaran.

Menetapkan batasan keuangan itu bentuk kepedulian terhadap diri sendiri. Sama seperti kita punya batasan dalam hubungan sosial atau pekerjaan, kita juga harus ada batasan dalam mengelola uang. Tanpa batasan, kita mudah tergoda oleh diskon, tren media sosial, gaya hidup teman, atau keinginan sesaat.

Batasan keuangan dapat dimulai dari hal sederhana. Misalnya, menentukan berapa maksimal anggaran makan di luar setiap bulan, berapa jumlah uang yang boleh digunakan untuk belanja kebutuhan pribadi, atau berapa batas nominal untuk membeli barang yang nggak direncanakan.

Dengan adanya batas yang jelas, kita lebih mudah mengendalikan diri dan menghindari pengeluaran impulsif. Menetapkan batasan juga berarti berani bilang “tidak”. Menolak ajakan nongkrong yang terlalu sering, nggak beli sesuatu gegara rasa “kepo” atau komen “lucu ya” “bagus ya” dll., dan nggak membandingkan kehidupan kita dengan orang lain.

Kita nggak harus mengikuti semua tren agar terlihat berhasil. Keuangan yang sehat jauh lebih berharga daripada pengakuan sesaat dari lingkungan sekitar. Bagi freelancer, pekerja kreatif, maupun karyawan, batasan keuangan itu sangat penting. Saat ada penghasilan lebih, jangan langsung kalap belanja. Tetapkan porsi untuk tabungan, dana darurat, investasi, dan kebutuhan rutin lebih dulu. Sisanya barulah digunakan untuk hurahura.

Versi saya, batasan ini bukanlah pembatasan kebahagiaan. Batasan keuangan membantu kita menikmati hidup tanpa dihantui rasa bersalah. Kita tetap bisa beli kopi favorit, nonton film, beli baju baru yang sedang trend, atau berlibur, dll. sesuai dengan kemampuan. Dengan batasan kita juga nggak perlu khawatir setiap kali mengeluarkan uang. Semua sudah sesuai porsinya.

Nah, bagaimana cara pengaturan uangmu? Sudahkah kamu menetapkan batasan yang jelas terhadap penggunaan uangmu? Share dong ya…!

Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us:

Menghadapi Hari-Hari yang (Nggak) Mudah

Senyum lebar bikin masalah terasa lebih ringan. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Ada hari-hari yang terasa ringan. Bangun pagi dengan semangat, pekerjaan berjalan lancar, keluarga sehat, dan hati terasa tenang. Namun, ada juga hari-hari yang sebaliknya. Hari ketika alarm berbunyi tapi tubuh terasa berat untuk beranjak. Hari ketika pekerjaan menumpuk, rencana nggak sesuai harapan, atau kabar yang menambah beban pikiran. Begitulah hidup. Nggak selalu mudah, tapi juga nggak selalu sulit.

Sering kali kita tumbuh dengan anggapan bahwa hidup yang baik itu hidup yang bebas dari masalah. Padahal, hidup yang baik bukan hidup tanpa kesulitan, tapi hidup yang membuat kita mampu bertahan, belajar, dan terus melangkah di tengah kesulitan.

Salah satu sumber kelelahan terbesar adalah tuntutan untuk selalu baik-baik saja. Kita ingin jadi orang tua yang sempurna, pasangan yang sempurna, pekerja yang sempurna, atau teman yang selalu hadir untuk semua orang. Ketika kenyataan nggak sesuai dengan harapan, kita merasa gagal.

Padahal, menjadi manusia berarti memiliki keterbatasan. Ada hari ketika kita produktif. Ada hari ketika kita hanya mampu menyelesaikan satu tugas kecil. Ada hari ketika kita mampu tersenyum dan menghibur orang lain. Ada pula hari ketika kita sendiri membutuhkan pelukan dan dukungan. Nilai diri kita nggak ditentukan oleh seberapa sempurna kita menjalani hari. Kadang-kadang, keberhasilan terbesar itu tetap bertahan dan nggak berhenti atau menyerah.

Banyak orang berusaha kuat dengan cara menekan perasaan. Sedih disembunyikan. Kecewa dipendam. Marah diabaikan. Perasaan yang nggak diberi ruang sering kali kembali dalam bentuk kelelahan, kecemasan, atau kehilangan semangat hidup. Menghadapi hari-hari yang nggak mudah bukan berarti menolak emosi. Sebaliknya, kita perlu mengakui bahwa perasaan itu ada. Bilang, “Hari ini aku lelah,” bukan tanda kelemahan.

Menjauh sejenak dari sumber masalah, bisa jadi solusi menghadapi hari-hari yang (nggak) mudah. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Mengakui, “Aku sedang kecewa,” bukan berarti kita nggak bersyukur. Menerima perasaan adalah langkah pertama untuk memulihkan diri. Ketika masalah terasa terlalu besar, kita sering kali terjebak memikirkan sekaligus. Akibatnya, kita semakin cemas dan nggak tahu harus mulai dari mana. Cobalah kembali pada langkah kecil. Jika pekerjaan menumpuk, selesaikan satu tugas dulu.

Jika rumah terasa berantakan, rapikan satu sudut ruangan. Jika hati sedang penuh, tarik napas perlahan dan beri waktu untuk beristirahat. Langkah kecil mungkin terlihat sederhana, tapi kalau konsisten akan membawa kita keluar dari masa-masa sulit. Kadang kita berpikir meminta bantuan itu tanda nggak mampu. Padahal, manusia diciptakan untuk hidup bersama dan saling menguatkan.

Berbicaralah dengan pasangan, sahabat, keluarga, atau orang yang dipercaya. Nggak selalu untuk cari solusi. Kadang-kadang, kita hanya membutuhkan seseorang yang mau mendengarkan tanpa menghakimi. Beban yang dipikul bersama terasa lebih ringan daripada dipendam sendirian. Jika saat ini Anda sedang berada dalam masa yang berat, ingatlah satu hal: badai pasti berlalu.

Malam panjang akan berganti pagi. Hujan deras akan reda. Luka yang dirawat akan sembuh. Mungkin masalah yang sedang dihadapi belum selesai hari ini. Mungkin jawabannya belum terlihat. Namun, bukan berarti nggak harapan. Teruslah melangkah, meskipun perlahan. Teruslah percaya, meskipun belum melihat hasilnya. Teruslah menjaga diri dengan baik. Anda berharga bukan hanya pada hari-hari terbaik, tapi juga pada hari-hari yang paling sulit.

Menghadapi hari-hari yang (nggak) mudah bukan tentang menjadi kuat setiap saat. Ini tentang keberanian untuk tetap berjalan ketika langkah terasa berat, tetap berharap ketika keadaan belum berubah, dan tetap mencintai diri sendiri ketika hidup nggak sesuai rencana. Pada akhirnya, bukan hari-hari mudah yang paling membentuk kita. Justru hari-hari yang penuh tantanganlah yang mengajarkan arti ketangguhan, kesabaran, dan rasa syukur yang sesungguhnya. Jika hari ini terasa berat, cukup lakukan satu hal: bertahanlah. Besok mungkin belum selesai; tapi selalu ada kesempatan untuk memulai lagi.

Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us:

Mencintai Diri Sendiri dengan Sempurna dan Sewajarnya

Jangan takut menampilkan dirimu yang “apa adanya” di sosial media. Kawah Putih. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Saya wes (nggak) belia lagi. Sepanjang umur, sudah begitu banyak jatuh bangun kehidupan yang saya alami. Wajah, tubuh, kekuatan fisik sudah banyak berubah. Pada sesi tertentu saat dandan ditangani MUA, saya selalu berpesan agar dibuat senatural mungkin. Jangan menutupi hal-hal yang normal atau wajar (dagu dobel, kerut-kerut di sekitar mata, kantong mata, pipi gembul, garis senyum tegas penanda kulit nggak lagi seelastis waktu muda, mata yang sipit nyaris nggak ada bulu mata, dll). Biar orang tetap “mengenali” saya, bukan pangling pas ketemu dan malah nanya-nanya itu siapa.

Saya (nggak) takut menjadi lebih tua dengan segala konsekuensinya. Termasuk bentuk tubuh yang melebar gemoy gegara metabolisme yang melambat. Tapi saya memastikan bahwa semangat, konsistensi, ketekunan masih sama seperti 3-4 dekade yang lalu. Dan bagi saya itu cukup untuk melewati hari-hari saat kekuatan fisik nggak lagi sama sebagai bentuk ekspresi bertambah usia.

Saya mencintai diri dengan sempurna, melakukan segalanya yang terbaik untuk hidup lebih bahagia. Semuanya saya lakukan dengan sewajarnya. Dengan segala bentuk make up di tangan MUA profesional, bisa saja saya minta semua kerutan, garis senyum, kantong mata, dagu dobel itu (nggak) nampak. Bahkan AI bisa sepersekian menit “mengedit” wajah saya menjadi “sangat cantik” tanpa biaya.

Tapi njur untuk apa itu semua? Versi saya itu hanya bentuk “perbaikan” yang bisa jadi bumerang ketika orang bertemu saya dan bilang, “Wah cantiknya cuman di foto doang, editnya kebangetan, nggak dandan ternyata nggak cantik.” Saya siy lebih senang kalau versi asli lebih cantik dari foto 😀

Yach, tiap orang punya cara yang berbeda untuk mengekspresikan cinta pada diri sendiri. Tiap orang juga punya pikiran dan pandangan berbeda tentang validasi dari orang lain. Apapun itu, pastikan cintai dirimu dengan sempurna, karena diri kitalah yang paling setia dalam kondisi apapun.

Sekarang ini di era media sosial, kita sering disuguhi berbagai gambaran tentang kehidupan yang tampak sempurna. Wajah cantik, tubuh ideal, karier cemerlang, keluarga harmonis, hingga pencapaian atau prestasi spektakuler. Tanpa sadar, kita pun mulai membandingkan diri dengan orang lain dan merasa kurang. Akibatnya, rasa syukur memudar, kepercayaan diri menurun, dan kita jadi sulit menerima diri sendiri.

Padahal, mencintai diri sendiri bukan berarti menganggap diri paling hebat atau menolak kritik. Mencintai diri sendiri berarti menerima seluruh bagian diri dengan utuh; semua kelebihan dan kekurangan, lalu berusaha jadi pribadi yang lebih baik.

Mencintai diri dengan sempurna bukan berarti menuntut diri untuk selalu sempurna. Sebaliknya, kita memahami bahwa kita memang nggak sempurna. Nggak ada seorang pun yang hidup tanpa kesalahan, kegagalan, atau kelemahan. Kesadaran ini bikin kita lebih ramah dan cinta pada diri sendiri saat menghadapi kesulitan atau hal yang nggak kita inginkan.

Mempercantik diri, itu wajib sebagai ekspresi mencintai diri sendiri, tapi jangan kehilangan “ciri normal” apalagi jati diri. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Sikap mencintai diri sewajarnya juga penting. Ada perbedaan antara mencintai diri sendiri dan mementingkan diri sendiri. Mencintai diri sendiri bikin kita menghargai diri sekaligus menghargai orang lain. Sikap cinta diri yang berlebihan dapat membuat seseorang merasa paling benar dan mengabaikan kebutuhan orang lain. Cinta pada diri sendiri harus seiring dengan kerendahan hati.

Salah satu bentuk cinta pada diri adalah menjaga kesehatan fisik dan mental. Tubuh yang kita miliki bekerja tanpa henti setiap hari. Ia membantu kita berjalan, berpikir, bekerja, dan berkarya. Memberikan waktu untuk beristirahat, makan bergizi, olahraga yang cukup, dan menjaga kesehatan mental itu bagian dari penghargaan terhadap diri sendiri. Kita nggak perlu menunggu sakit untuk mulai peduli pada tubuh dan pikiran kita.

Mencintai diri juga berarti memberi ruang bagi diri untuk bertumbuh. Ketika gagal, jangan langsung menyalahkan diri secara berlebihan. Kegagalan nggak selalu karena kita nggak mampu, tapi itu kesempatan untuk belajar. Orang yang mencintai dirinya akan melihat kesalahan sebagai bagian dari proses menuju kedewasaan.

Kita juga perlu belajar mengatakan “no”, “nggak” pada hal-hal yang merugikan diri sendiri. Nggak semua permintaan harus dipenuhi. Nggak semua kritik harus dipercaya. Nggak semua harapan orang lain harus kita wujudkan. Menetapkan batasan yang sehat itu cara kita untuk menjaga harga diri dan kesehatan mental.

Dengan segala kekurangan dan kelebihan, saya sudah sejak lama mencintai diri sendiri tanpa syarat. Saya tetap mencintai diri sendiri saat gagal atau sukses, saat gemuk atau langsing, saat tua atau muda, saat kurang uang atau banyak uang. Nggak perlu nunggu jadi sukses, kaya, langsing, cantik, dll sikon untuk mencintai diri sendiri. Nilai seseorang, termasuk diri saya nggak ditentukan semata-mata oleh penampilan, jabatan, atau jumlah pencapaiannya. Setiap orang berharga karena hidup itu luar biasa.

Mencintai diri dengan sempurna dan sewajarnya pada intinya tentang berdamai. Kita menerima siapa diri kita hari ini, sambil terus berusaha jadi lebih baik esok hari. Kita bersyukur atas kelebihan dan pencapaian, menerima kekurangan dengan lapang dada, dan tetap melangkah meskipun nggak selalu sempurna.

Ketika kita mampu mencintai diri sendiri dengan sehat, kita akan lebih mudah mencintai kehidupan, menghargai orang lain, dan menemukan kebahagiaan. Kebahagiaan yang tumbuh dari hati dengan menerima diri apa adanya.

Coba cek-cek, apa kamu sudah mencintai dirimu dengan sempurna dan sewajarnya? Salah satu indikasinya kalau kamu bisa mengatakan “nggak” pada permintaan orang lain yang mengganggu tanpa rasa bersalah; selamat, kamu sudah ada di jalur yang benar dalam mencintai dirimu.

Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us: