Untuk Siapa Kita Menulis?

Ilustrasi dibuat dengan AI. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Kadang-kadang, sebagai penulis di tengah gempuran sosmed dan teknologi AI, saat hendak menulis di depan laptop, jari saya malah terhenti. Karakter sudah ada, ide sudah numpuk di kepala, tapi ada satu pertanyaan sederhana yang tiba-tiba membisik di telinga: “Sebenarnya, untuk siapa saya menulis ini?”

Sebagai seorang penulis, saya sering terjebak dalam pertanyaan itu. Di awal mula perjalanan menulis, jawaban saya sangat sederhana: saya menulis untuk diri sendiri. Menulis adalah ruang aman, tempat saya menumpahkan isi kepala yang riuh, merapikan emosi yang kacau, atau sekadar mengabadikan momen yang takut saya lupakan. Bagi saya saat itu, tulisan adalah cermin.

Namun, lambat laun, tulisan itu mulai melompati batas jurnal pribadi. Ia terbit di media massa, media sosial, blog, atau bahkan menjadi buku. Di sinilah dinamika itu berubah. Saat karya kita dibaca orang lain, perspektif saya meluas. Saya menyadari bahwa tulisan bukan lagi sekadar cermin, tapi juga jalan cerita panjang untuk belajar dan bertumbuh.

Lantas, jika ditanya kembali hari ini: Untuk siapa kita menulis? Menurut saya, jawabannya ada pada tiga lapisan ini.

Pertama, Untuk Diri Kita Sendiri. Sebelum menyentuh hati orang lain, tulisan itu harus jujur terlebih dahulu pada diri kita. Menulis untuk diri sendiri adalah bentuk terapi paling sunyi sekaligus paling berdampak. Kita menulis untuk memahami apa yang kita rasakan, menyusun cara berpikir kita, dan meninggalkan jejak bahwa kita pernah ada dan berjuang. Jika kita sendiri nggak tersentuh atau nggak bisa menikmati apa yang kita tulis, bagaimana mungkin orang lain bisa menyukainya?

Kedua, Untuk Satu Orang Pembaca Spesifik. Sering kali kita terjebak ingin menyukai atau menyenangkan semua orang. Padahal, mencoba menulis untuk semua orang sama saja dengan menulis bukan untuk siapa-siapa.

Kini, setiap kali saya mengetik baris demi baris kata, saya membayangkan satu orang spesifik. Mungkin seorang remaja yang sedang ragu pada masa depannya, seorang pekerja yang lelah di gerbong kereta malam, atau seseorang yang sedang patah hati dan membutuhkan teman bicara. Ketika kita membayangkan satu sosok nyata di balik layar pembaca, tulisan kita akan terasa jauh lebih hangat, personal, dan hidup.

Ketiga, Untuk Mereka yang Nggak Mampu Bersuara. Ada saat-saat tulisan kita menjadi wadah bagi perasaan atau pengalaman yang dialami banyak orang, tapi nggk semua dari mereka memiliki kata-kata untuk mengungkapkannya. Ketika seorang pembaca mengirim pesan dan berkata, “Terima kasih, tulisanmu mewakili apa yang selama ini saya rasakan tapi bingung cara menyampaikannya,” di situlah saya sadar bahwa menulis adalah sebuah privilege dan tanggung jawab.

Jadi, itulah alasan saya tetap menulis di tengah gempuran sosmed dan AI, di tengah hancurnya sistem komersial (honor, royalti, fee, bagi hasil dll) yang mengerikan di industri penulisan. Dengan mengetahui untuk siapa kita menulis, sekurangnya untuk diri sendiri, maka apapun keadaannya, saya tetap akan menulis. Ketika tulisan di sosmed sepi likes atau kritik datang menghampiri, kompas itulah yang menjaga saya agar nggak tersesat.

Kita nggak perlu jadi penulis besar yang karyanya dibaca jutaan orang untuk merasa berarti. Cukup pastikan bahwa tulisan itu jujur dari dalam diri, dan diniatkan untuk memberi pelukan hangat, meski hanya pada satu pembaca yang sedang membutuhkannya di luar sana.

Jadi, teruslah dan tetaplah menulis. Karena itulah yang mengabadikan jejak kita, hidup kita, suara hati, keterampilan, hingga pengalaman pengalaman hidup kita.

Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us:

Fokus Merampungkan Satu Naskah

Ilustrasi dibuat dengan AI. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Pernahkah kita mengalami keadaan ketika punya begitu banyak ide tulisan, tapi nggak satu pun benar-benar selesai? Di komputer ada beberapa dokumen dengan judul yang berbeda. Di buku catatan tersimpan puluhan gagasan. Di telepon genggam ada catatan pendek yang ditulis tengah malam karena tiba-tiba mendapatkan ide. Bahkan mungkin ada tulisan yang sudah mencapai tiga atau empat halaman, tapi kemudian ditinggalkan karena muncul gagasan baru yang terasa jauh lebih menarik.

Akhirnya, kita hanya punya banyak tulisan setengah jadi. Ada tulisan tentang pendidikan yang belum selesai. Ada tulisan tentang perempuan yang baru sampai pada paragraf ketiga. Ada tulisan tentang budaya yang sudah memiliki judul dan kerangka. Ada pula tulisan yang sebenarnya hampir selesai, tapi terus ditunda karena kita merasa masih perlu mencari data, memperbaiki kalimat, atau menunggu suasana hati yang tepat.

Kondisi seperti ini sangat umum terjadi pada penulis. Persoalannya bukan karena kita nggak produktif. Bisa jadi justru karena kita terlalu produktif dalam menghasilkan ide, tapi kurang disiplin dalam menyelesaikannya. Padahal, menulis bukan hanya kegiatan menemukan ide. Menulis adalah proses membawa sebuah ide sampai menjadi tulisan yang utuh.

Banyak ide, sedikit yang selesai. Memiliki banyak ide tentu merupakan sesuatu yang menyenangkan bagi seorang penulis. Ide bisa datang kapan saja. Ketika membaca berita, berbincang dengan seseorang, bepergian, mengajar, melihat peristiwa di sekitar, bahkan ketika sedang beristirahat.

Satu peristiwa sederhana dapat melahirkan banyak kemungkinan tulisan. Melihat seorang ibu mengantar anak ke sekolah, misalnya, bisa memunculkan ide tentang pendidikan keluarga. Dari sana muncul ide tentang perempuan dan kerja domestik. Kemudian berkembang menjadi tulisan tentang ibu bekerja, pembagian peran, pendidikan anak, hingga ketahanan keluarga.

Satu peristiwa dapat melahirkan lima atau sepuluh ide. Masalahnya, jika setiap ide langsung dikerjakan, perhatian kita akan terpecah. Kita berpindah dari satu tulisan ke tulisan lain sebelum tulisan sebelumnya selesai.

Akibatnya, energi mental terkuras bukan untuk menyelesaikan tulisan, tapi untuk terus memulai. Memulai memang menyenangkan. Ada perasaan bersemangat ketika membuka halaman kosong dan menuliskan judul baru. Kita merasa sedang menghasilkan sesuatu.

Namun, tantangan sesungguhnya bukan ketika memulai. Tantangan terbesar seorang penulis adalah menyelesaikan. Menyelesaikan lebih penting daripada terus memulai. Tulisan yang selesai memberikan sesuatu yang nggak bisa diberikan oleh sekadar ide: kesempatan untuk dibaca, diperiksa, diperbaiki, diterbitkan, dan memberikan manfaat kepada orang lain.

Sebaliknya, ide yang hanya tersimpan di buku catatan belum menjadi karya. Karena itu, kita perlu belajar membedakan antara produktif menghasilkan ide dan produktif menghasilkan karya. Keduanya sama-sama penting, tapi memiliki tahap yang berbeda.

Ide diperlukan sebagai bahan bakar. Namun, karya lahir ketika kita bersedia duduk, berkonsentrasi, menyusun kalimat, menghapus bagian yang nggak diperlukan, memperbaiki paragraf, melakukan penyuntingan, dan akhirnya mengatakan kepada diri sendiri, “Tulisan ini selesai.”

Nggak semua tulisan harus langsung menjadi karya besar. Kadang-kadang kita terlalu membebani sebuah tulisan sejak awal. Baru menulis beberapa paragraf, kita sudah berpikir tentang apakah tulisan itu cukup bagus, apakah akan dimuat media, apakah akan disukai pembaca, apakah bahasanya cukup indah, apakah judulnya menarik, dan sebagainya.

Pikiran-pikiran tersebut dapat membuat proses menulis menjadi berat. Lebih baik menyelesaikan tulisan terlebih dahulu. Setelah selesai, kita dapat memperbaikinya. Tulisan yang selesai dapat disunting. Tulisan yang belum selesai hanya dapat dibayangkan.

Satu tulisan pada satu waktu. Fokus merampungkan satu tulisan bukan berarti kita nggak boleh memiliki banyak ide. Justru seorang penulis sebaiknya tetap memiliki catatan ide. Jika muncul gagasan baru ketika sedang mengerjakan tulisan lain, jangan langsung meninggalkan tulisan yang sedang dikerjakan. Catat ide baru tersebut dalam satu daftar khusus.

Beri judul singkat. Tambahkan satu atau dua kalimat tentang gagasannya. Setelah itu, kembali kepada tulisan yang sedang dikerjakan. Dengan cara sederhana ini, kita nggak kehilangan ide baru sekaligus tidak kehilangan fokus. Kita bisa mengatakan kepada diri sendiri, “Ide ini penting. Saya simpan. Tapi saya akan menyelesaikan tulisan yang sedang saya kerjakan terlebih dahulu.”

Kebiasaan tersebut terlihat sederhana, tapi membutuhkan latihan. Sebab, manusia cenderung tertarik pada sesuatu yang baru. Tulisan baru terasa lebih menyenangkan karena belum memiliki masalah. Sebaliknya, tulisan lama mungkin sudah memasuki bagian yang sulit: data harus diperiksa, argumen harus diperkuat, paragraf harus disusun ulang, atau kesimpulan belum ditemukan.

Pada titik inilah disiplin diperlukan. Kita harus mampu mengatakan: saya nggak harus mengerjakan sesuatu yang baru hanya karena sesuatu yang lama terasa sulit.

Membagi tulisan menjadi langkah kecil. Salah satu alasan seseorang sulit menyelesaikan tulisan adalah karena melihat tulisan sebagai pekerjaan yang terlalu besar. Misalnya, kita mengatakan, “Hari ini saya harus menyelesaikan artikel.”

Kalimat tersebut terdengar sederhana, tapi bagi sebagian orang justru terasa berat. Cobalah menggantinya dengan target yang lebih kecil. Hari ini menyelesaikan judul dan pembuka. Besok menyelesaikan dua paragraf berikutnya. Lusa menulis bagian pembahasan. Hari berikutnya memeriksa data. Setelah itu melakukan penyuntingan.

Dengan membagi pekerjaan menjadi bagian-bagian kecil, tulisan nggak lagi terasa seperti gunung yang harus didaki sekaligus. Kita hanya perlu menempuh beberapa langkah setiap hari. Nggak harus selalu menulis dalam waktu berjam-jam. Bahkan tiga puluh menit yang benar-benar digunakan untuk menulis dapat menghasilkan kemajuan jika dilakukan secara konsisten. Yang penting bukan hanya lamanya waktu yang kita sediakan, tapi seberapa utuh perhatian kita selama waktu tersebut.

Jangan menunggu sempurna. Ada satu jebakan lain yang sering membuat tulisan nggak pernah selesai: keinginan untuk menghasilkan tulisan yang sempurna sejak awal. Kita ingin kalimat pertama langsung bagus. Setiap paragraf harus menarik. Semua data harus langsung lengkap. Nggak boleh ada kesalahan.

Keinginan tersebut sebenarnya baik, tapi jika muncul terlalu dini, dapat menghambat proses kreatif. Ketika menulis draf pertama, tugas utama kita adalah mengeluarkan gagasan. Jangan terlalu sibuk jadi editor ketika sedang jadi penulis.

Biarkan gagasan mengalir terlebih dahulu. Setelah draf selesai, barulah kita kembali sebagai editor untuk memeriksa struktur, logika, pilihan kata, tata bahasa, data, dan kelengkapan tulisan. Dengan membedakan proses menulis dan menyunting, pekerjaan menjadi lebih ringan. Tulisan nggak harus sempurna pada draf pertama. Yang penting, ia selesai terlebih dahulu.

Belajar menutup sebuah tulisan. Ada saat ketika kita harus berani mengatakan, “Cukup.” Nggak berarti tulisan tersebut sudah sempurna. Nggak berarti nggak ada lagi yang bisa diperbaiki. Namun, pada titik tertentu, kita harus berhenti menambahkan sesuatu dan menyelesaikannya.

Jika setiap tulisan terus dibuka kembali tanpa pernah ditutup, kita akan berada dalam lingkaran penyempurnaan yang nggak ada akhirnya. Karena itu, tentukan batas. Setelah isi lengkap, data diperiksa, struktur diperbaiki, bahasa disunting, dan tulisan dibaca kembali, nyatakan tulisan tersebut selesai.

Jika suatu hari ditemukan kekurangan, kita masih dapat memperbaikinya. Tapi jangan menjadikan kemungkinan adanya kekurangan sebagai alasan untuk nggak menyelesaikan. Satu tulisan yang selesai memberi energi baru. Menariknya, menyelesaikan satu tulisan sering kali justru membuat kita lebih produktif.

Ketika sebuah tulisan selesai, muncul rasa lega dan percaya diri. Kita mendapatkan bukti bahwa sebuah gagasan dapat diubah menjadi karya. Perasaan tersebut menjadi energi untuk mengerjakan tulisan berikutnya.

Sebaliknya, terlalu banyak tulisan yang terbengkalai dapat menimbulkan beban psikologis. Setiap kali membuka folder tulisan, kita melihat daftar pekerjaan yang belum selesai.

Lama-kelamaan, menulis terasa seperti pekerjaan yang nggak pernah selesai. Karena itu, sesekali kita perlu melakukan “bersih-bersih” tulisan. Lihat semua naskah yang pernah dibuat. Pilih mana yang masih relevan. Tentukan mana yang akan diselesaikan. Mana yang perlu diperbaiki. Dan mana yang memang lebih baik disimpan sebagai arsip ide.

Nggak semua tulisan harus diselesaikan. Namun, tulisan yang sudah kita pilih untuk dikerjakan sebaiknya diberi kesempatan untuk benar-benar selesai.

Fokus adalah bentuk penghargaan terhadap ide. Setiap ide yang kita miliki sebenarnya layak mendapatkan perhatian. Tapi perhatian kita terbatas. Karena itu, memilih satu tulisan untuk diselesaikan adalah bentuk penghargaan terhadap ide tersebut. Kita mengatakan kepada diri sendiri bahwa gagasan ini penting. Gagasan ini layak dikembangkan. Gagasan ini layak menjadi tulisan.

Nggak perlu tergesa-gesa mengejar banyak tulisan. Lebih baik memiliki beberapa tulisan yang selesai dan dapat dibaca daripada puluhan tulisan yang hanya berhenti sebagai konsep.

Menulis pada akhirnya bukan perlombaan tentang siapa yang paling banyak menghasilkan judul. Menulis adalah perjalanan mengubah pikiran menjadi kata, kata menjadi paragraf, paragraf menjadi tulisan, dan tulisan menjadi sesuatu yang memiliki arti bagi pembaca.

Maka, jika hari ini ada banyak ide di kepala, nggak perlu mengerjakan semuanya sekaligus. Pilih satu. Buka dokumennya. Lanjutkan paragraf yang tertunda. Selesaikan bagian yang belum selesai. Edit seperlunya. Kemudian tutup dengan perasaan lega.

Fokus pada satu tulisan sampai rampung. Sebab, satu tulisan yang selesai hari ini mungkin jauh lebih berarti daripada sepuluh tulisan yang terus kita niatkan untuk diselesaikan “nanti”. Dan mungkin, rahasia menjadi penulis yang produktif bukanlah selalu menemukan ide baru, tapi keberanian untuk berkata kepada diri sendiri: “Yang ini saya selesaikan dulu.”

Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us:

Mengapa Kita Harus Menulis?

Gambar hanya sebagai ilustrasi. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Saya menulis sejak belia. Biaya hidup saya mayoritas ditopang dari hasil menulis. Meskipun saya penulis, saya nggak pernah mendorong orang untuk jadi penulis karena itu banyak konsekuensinya; terutama dalam hal finansial. Tapi saya selalu menyarankan orang untuk menulis, syukur-syukur (sekurangnya) satu buku seumur hidupnya.

Di era yang serba cepat ini, menulis sering dianggap sebagai kegiatan yang nggak lagi penting. Banyak orang lebih suka bikin video pendek, mengunggah foto, atau kirim pesan suara daripada menuliskan pikirannya. Padahal, di balik kesederhanaannya, menulis adalah salah satu aktivitas yang paling berharga bagi perkembangan diri manusia.

Menulis bukan hanya urusan penulis, wartawan, atau akademisi. Menulis adalah kebutuhan setiap orang. Siapa pun yang memiliki pikiran, pengalaman, dan gagasan sebenarnya memiliki sesuatu yang layak dituliskan.

Sering kali kepala kita dipenuhi berbagai ide, rencana, kekhawatiran, dan perasaan yang bercampur aduk. Saat semuanya hanya berputar di dalam pikiran, kita sulit memahami apa yang sebenarnya kita rasakan atau pikirkan.

Menulis membantu mengurai keruwetan tersebut. Ketika menuangkan pikiran ke dalam kata-kata, kita dipaksa untuk menyusun ide secara lebih teratur. Hal-hal yang semula tampak rumit menjadi lebih mudah dipahami.

Nggak heran jika banyak orang menggunakan jurnal harian untuk membantu mengelola pikiran dan emosi mereka. Dengan menulis, kita dapat melihat masalah dari sudut pandang yang lebih objektif.

Pengalaman hidup sangat mudah terlupakan. Peristiwa yang hari ini terasa penting bisa saja memudar dalam ingatan beberapa tahun kemudian.

Menulis memungkinkan kita menyimpan kenangan, pelajaran, dan perjalanan hidup agar nggak hilang begitu saja. Catatan sederhana tentang pengalaman bekerja, mengasuh anak, mengajar, atau menghadapi kesulitan dapat menjadi harta berharga di masa depan.

Banyak buku besar lahir dari pengalaman pribadi yang awalnya hanya berupa catatan harian. Bahkan sejarah suatu bangsa sering kali bertahan karena ada orang-orang yang mau menuliskannya.

Ada ungkapan yang mengatakan, “Jika ingin benar-benar memahami sesuatu, cobalah menuliskannya.”

Ketika menulis, kita menyadari bagian mana yang sudah dipahami dan bagian mana yang masih membingungkan. Proses mencari data, membaca referensi, dan menyusun tulisan membuat pengetahuan kita semakin mendalam. Karena itu, menulis bukan sekadar hasil belajar, tapi juga bagian dari proses belajar.

Setiap orang memiliki pengalaman dan pengetahuan yang berbeda. Apa yang tampak biasa bagi kita bisa jadi informasi yang sangat berharga bagi orang lain.

Seorang guru dapat membagikan metode pembelajaran yang efektif. Seorang ibu dapat berbagi pengalaman mendampingi anak. Seorang petani dapat menceritakan praktik bertani yang berhasil. Seorang mahasiswa dapat membagikan strategi menyelesaikan skripsi. Melalui tulisan, pengalaman pribadi berubah jadi sumber inspirasi dan pembelajaran bagi banyak orang.

Ucapan akan hilang setelah didengar, tapi tulisan dapat bertahan lama. Seseorang mungkin nggak lagi berada di dunia ini, tapi gagasan dan pemikirannya tetap hidup melalui tulisan yang ditinggalkannya.

Kita mengenal banyak tokoh besar bukan karena pernah bertemu mereka, tapi karena membaca tulisan mereka. Tulisan memungkinkan seseorang memberi manfaat jauh melampaui ruang dan waktu. Karena itu, setiap tulisan yang baik sesungguhnya adalah bentuk warisan intelektual yang dapat terus mengalir manfaatnya.

Nggak semua tulisan lahir dalam sekali jadi. Menulis mengajarkan kita untuk bersabar, merevisi, memperbaiki kesalahan, dan terus belajar. Proses tersebut melatih kedisiplinan serta kemampuan menyelesaikan pekerjaan hingga tuntas. Semakin sering menulis, semakin terasah pula kemampuan berpikir kritis, berkomunikasi, dan memecahkan masalah. Keterampilan ini sangat dibutuhkan dalam berbagai bidang kehidupan, tidak hanya dalam dunia kepenulisan.

Salah satu alasan banyak orang enggan menulis adalah karena merasa nggak berbakat atau takut tulisannya jelek. Padahal, nggak ada penulis yang langsung mahir sejak awal.

Setiap penulis besar pernah menjadi pemula. Mereka berkembang karena berani memulai dan terus berlatih. Menulis bukan tentang menghasilkan karya sempurna, tapi tentang berani menuangkan apa yang ada dalam pikiran. Mulailah dari hal-hal sederhana: catatan harian, pengalaman pribadi, opini, atau cerita pendek. Yang terpenting adalah membangun semangat.

Menulis adalah cara berpikir, belajar, berbagi, dan meninggalkan jejak kehidupan. Melalui tulisan, kita nggak hanya mengembangkan diri, tapi juga memberikan manfaat kepada orang lain.

Kita mungkin nggak mampu mengubah dunia dalam semalam. Namun, satu tulisan yang ditulis dengan tulus bisa menginspirasi seseorang, memberi solusi bagi orang lain, atau menjadi sumber pengetahuan bagi generasi berikutnya.

Karena itu, jangan menunggu jadi ahli untuk mulai menulis. Menulislah sekarang, karena setiap tulisan adalah langkah kecil untuk membuat hidup lebih bermakna.

Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us:

Menyoal Tata Bahasa untuk Penulisan

Jadi Penulis Produktif. Perlu buku cetak wa.me/6281380001149. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Penulis paling ahli pun sesekali membuat kesalahan tata bahasa. Masalahnya, kesalahan kecil ini dapat merusak kredibilitas Anda dan mengganggu aliran pembacaan. Pembaca yang terusik oleh typo dan tata bahasa yang salah akan kesulitan fokus pada ide besar Anda.

Mengedit tata bahasa adalah tentang disiplin. Berikut adalah tujuh kesalahan paling umum dalam penulisan bahasa Indonesia (dan tip praktis untuk menghindarinya).

  1. Penggunaan Preposisi Di dan Ke yang Terpisah dan Bersambung
    Ini mungkin adalah kesalahan tata bahasa yang paling sering terlihat, terutama dalam penulisan online.

Aturan: Preposisi (kata depan) yang menunjukkan tempat atau arah harus dipisah. Imbuhan pembentuk kata kerja pasif harus disambung.

Contoh Salah: Disana (seharusnya di sana), di tempel (seharusnya ditempel).

Cara Menghindari: Jika Anda bisa mengganti kata tersebut dengan “di samping,” pisahkan. Jika tidak bisa, sambung.

di sana (bisa diganti di samping), di kantor (bisa diganti di samping).

ditulis (tidak bisa diganti di samping tulis).

  1. Penulisan Partikel -Pun dan -Per
    Banyak penulis bingung kapan partikel ini harus digabung atau dipisah.

Partikel -Pun: Ditulis terpisah kecuali untuk 12 kata yang sudah baku (misalnya: adapun, meskipun, walaupun, biarpun, ataupun, kalaupun, kendatipun, siapapun, bagaimanapun, sungguhpun, jangankan, dan sekalipun).

Contoh: Anda pun bisa berhasil. (Pun berarti ‘juga’).

Partikel -Per: Partikel per yang berarti “mulai,” “demi,” atau “tiap” harus dipisah.

Contoh: Mereka bertemu per hari Kamis. Harga naik per dua minggu.

  1. Penggunaan Tanda Koma (,) yang Keliru
    Koma adalah jeda penting dalam kalimat; menggunakannya secara berlebihan atau kurang dapat mengacaukan makna.

Fungsi Koma: Memisahkan unsur-unsur dalam pemerincian (Saya suka kopi, teh, dan susu). Memisahkan anak kalimat dari induk kalimat jika anak kalimat mendahului induk kalimat (Karena sakit, ia tidak masuk).

Kesalahan Umum: Meletakkan koma untuk memisahkan subjek dan predikat yang tidak terlalu panjang (Ani, sedang membaca buku – SALAH).

  1. Kesalahan Penggunaan Kata Di dan Adalah Secara Berlebihan
    Beberapa penulis cenderung menggunakan di (sebagai kata kerja pasif) atau adalah secara berlebihan, yang membuat kalimat terasa pasif dan lemah.

Hindari: “Pekerjaan itu adalah untuk membersihkan.”

Perbaiki: “Pekerjaan itu membersihkan.” (Gunakan kata kerja aktif)

  1. Penulisan Huruf Kapital pada Istilah Unik
    Penulis sering tergoda untuk menggunakan huruf kapital pada setiap istilah yang mereka anggap penting.

Aturan: Gunakan huruf kapital hanya untuk nama diri, nama geografis, singkatan resmi, dan awal kalimat. Jangan gunakan huruf kapital untuk istilah umum, bahkan jika itu adalah istilah kunci dalam tulisan Anda.

Contoh Salah: “Kami membahas tentang Karya Tulis Ilmiah.”

Contoh Benar: “Kami membahas tentang karya tulis ilmiah.”

  1. Penggunaan Kata Penghubung Ganda (Double Conjunctions)
    Kesalahan ini terjadi ketika penulis menggunakan dua kata penghubung yang memiliki fungsi serupa dalam satu kalimat, menyebabkan pemborosan kata (redundancy).

Contoh Salah: “Meskipun dia gagal, tetapi dia akan mencoba lagi.”

Perbaiki: Pilih salah satu. “Meskipun dia gagal, dia akan mencoba lagi.” ATAU “Dia gagal, tetapi dia akan mencoba lagi.”

  1. Penggunaan Tanda Hubung (-) untuk Menghubungkan Semua Kata
    Tanda hubung digunakan untuk menghubungkan unsur yang memiliki hubungan erat atau mengulang kata. Penulis sering salah menggunakannya untuk semua gabungan kata.

Gunakan untuk: Kata ulang (berlari-lari), gabungan unsur dengan imbuhan () di-PHK), atau untuk memperjelas makna (ibu-bapak vs ibu bapak).

Hindari: Menggunakan tanda hubung untuk semua gabungan kata yang sudah padu.

Tata bahasa yang benar adalah bentuk penghormatan kepada pembaca Anda. Dengan secara rutin memeriksa tujuh kesalahan umum ini saat mengedit, Anda akan memastikan bahwa tulisan Anda tidak hanya brilian secara ide, tetapi juga bersih, profesional, dan sangat mudah dipahami.

Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us:

Menulis, Seperti Curhat Tanpa, “Sabar, yaa…!”

Wakatobi, Sulawesi Tenggara. Menulis itu seperti piknik, healing untuk kesehatan mental. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Kamu pernah nggak sih ngerasa kepala lagi penuh banget sama pikiran, hati kayak sesak, tapi bingung mau curhat ke siapa? Kadang kalau cerita ke orang lain, ujung-ujungnya cuma dikasih kalimat klasik: “Sabar ya,” atau “Udah, jangan dipikirin.”. Padahal otak lagi mumet banget, kan? Nah, di titik inilah menulis bisa jadi sahabat terbaik kamu.

Menulis itu bukan cuma soal bikin karya sastra, novel, atau caption Instagram estetik. Lebih dari itu, menulis bisa jadi healing tool alias alat terapi buat kesehatan mental.

Kenapa Menulis Bisa Jadi Terapi? Kayak curhat, tapi aman. Kertas atau layar HP nggak bakal nge-judge kamu. Mau nulis hal receh, marah-marah, atau nangis dalam kata-kata, semuanya bisa. Kamu bebas banget.

Melepas beban pikiran. Kadang isi kepala tuh kayak tabungan yang udah overload. Begitu ditulis, rasanya kayak dipindahin ke luar otak. Lebih plong!

Self-awareness naik level. Dengan nulis, kamu jadi lebih kenal diri sendiri. Apa sih yang bikin kamu sedih, marah, atau bahagia? Dari situ kamu bisa pelan-pelan ngerti cara nge-handle diri.

Jadi memori keeper. Nulis juga bikin kamu inget perjalanan diri sendiri. Kadang baca lagi tulisan lama bikin sadar, “Wah, ternyata aku udah kuat banget ya bisa lewatin masa itu.”

Cara Asik Mulai Menulis Buat Healing: Nggak usah ribet mikir format. Nulis aja kayak lagi curhat sama temen deket. Nggak perlu mikir EYD, tanda baca, apalagi gaya bahasa baku.

Coba journaling. Tulis tiap hari 5–10 menit. Bisa soal apa yang kamu rasain hari itu, hal-hal kecil yang bikin kamu bersyukur, atau sekadar keluhan receh.

Bikin “surat tak terkirim”. Pernah pengen ngomong sesuatu ke orang tapi nggak bisa? Tulis aja surat buat dia (meski nggak dikirim). Trust me, rasanya lega banget.

Gunain HP atau buku. Kamu tim ngetik di notes HP atau tim nulis tangan di buku? Dua-duanya oke, pilih aja yang bikin nyaman.

Efek positif nulis buat kesehatan mental: Tidur bisa lebih nyenyak karena isi kepala udah “dituangin” sebelum tidur.

Stress bisa turun karena kamu punya outlet buat buang energi negatif. Rasa percaya diri bisa naik, soalnya kamu jadi terbiasa jujur sama diri sendiri.

Jadi, kalau kamu lagi ngerasa hidup berat, jangan buru-buru nyalahin diri atau mikirin omongan orang. Coba deh ambil pena atau buka notes di HP, terus tulis semua yang numpuk di pikiran.

Anggep aja menulis itu kayak “spa buat otak” atau piknik untuk healing kesehatan mental. Menulis itu murah meriah, gampang, tapi efeknya bisa bikin jiwa kamu lebih sehat. Karena kadang, yang kita butuhin bukan kata “sabar”, tapi ruang buat cerita. Dan menulis bisa jadi ruang kita cerita tanpa harus melibatkan orang lain.

Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us:

Mempersiapkan Dana untuk Pendidikan Tinggi

Wisuda doktor, GSP, UGM. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Pendidikan itu penting banget, gengs. Apalagi kalau udah ngomongin kuliah S-1, lanjut S-2, bahkan S-3. Tapi jujur aja, biaya kuliah sekarang nggak murah. Dari uang pangkal, UKT (Uang Kuliah Tunggal), biaya hidup, sampai print tugas tebel-tebel; semuanya butuh duit. Nah, biar nggak kaget pas waktunya tiba, kita perlu strategi buat nyiapin dana pendidikan tinggi. Yuk, kita bahas tuntas.

Kenapa dana pendidikan harus dipersiapin dari awal? Ya, bayangin deh, biaya kuliah tiap tahun itu naik kayak harga cabe waktu lebaran. Kalau kita nggak punya perencanaan, bisa-bisa stress duluan sebelum sidang skripsi. Nyiapin dana pendidikan dari awal bikin kita lebih tenang, nggak gampang panik, dan yang paling penting: masa depan pendidikan nggak ketunda gara-gara masalah finansial.

Berikut ini ada tips persiapan untuk dana pendidikan tinggi, yang boleh kamu coba.

Pertama, mulai nabung sejak dini. Jangan nunggu “nanti kalau ada rezeki lebih” baru nabung. Percaya deh, kalau nunggu lebih, ujung-ujungnya malah abis buat jajan atau nongkrong.

Mulailah dari kecil; misalnya tiap bulan sisihin 10% dari gaji/uang jajan khusus buat tabungan pendidikan. Kalau konsisten, lama-lama jadi bukit.

Kedua, bedain pabungan pendidikan sama tabungan jajan. Ini penting banget. Jangan campur aduk antara tabungan buat beli sneakers baru sama tabungan buat biaya kuliah.

Bikin rekening terpisah atau pakai aplikasi keuangan biar lebih gampang tracking. Jadi, dana pendidikan aman dari godaan impulsif.

Ketiga, investasi yang ringan-ringan. Kalau mau lebih serius, coba belajar investasi. Nggak perlu langsung ke saham yang ribet, bisa mulai dari reksa dana atau deposito. Return-nya lumayan buat ngimbangin inflasi biaya pendidikan. Tapi inget, jangan asal ikut-ikutan. Pelajari dulu risikonya biar nggak nyesel.

Keempat, cari info beasiswa. Siapa bilang semua biaya kuliah harus ditanggung sendiri? Banyak kok beasiswa dari kampus, pemerintah, bahkan swasta. Mulai dari beasiswa prestasi, penelitian, sampai beasiswa khusus bidang tertentu. Jadi, sambil nyiapin dana, jangan males riset peluang beasiswa.

Kelima, jangan malu kerja sampingan. Buat yang udah S-1 atau lanjut S-2/S-3, kerja sampingan bisa jadi solusi. Misalnya freelance desain, ngajar les, jadi content creator, atau jualan online. Lumayan banget buat nambahin dana pendidikan tanpa ngerepotin orang tua.

Keenam, diskusiin bareng keluarga. Klau kamu masih di tahap rencana, jangan sungkan ngobrol sama keluarga. Bisa aja ada dukungan finansial atau ide dari mereka. Ingat, pendidikan itu investasi keluarga juga, jadi ngobrolin dari awal bikin lebih ringan.

Ketujuh, potong pengeluaran nggak penting. Ngopi cantik tiap hari? Scroll marketplace terus checkout barang nggak urgent? Coba tahan dulu. Alihin sebagian budget gaya hidup ke tabungan pendidikan. Bukan berarti anti jajan, tapi belajar prioritas.

Kedelapan, manfaatkan teknologi. Sekarang banyak aplikasi finansial yang bisa bantu atur duit, bahkan ada fitur khusus nabung buat pendidikan. Gunain fitur auto-debet biar nggak ada alasan lupa nabung tiap bulan.

Nah, kamu bisa memulai program siap-siap dana pendidikan dengan mengetahui tingkat pendidikan yang ingin kamu tempuh. Mari kita cek. S-1, S-2, atau S-3: itu bedanya apa?

  • S-1: Biaya kuliah biasanya masih bisa dicari part-time, tapi tetep butuh persiapan, apalagi kalau ngekos.
  • S-2: Lebih mahal, tapi biasanya waktunya lebih singkat. Beasiswa S-2 banyak banget, jadi jangan males apply.
  • S-3: Ini level dewa, gengs. Biayanya tinggi banget, tapi banyak juga sponsor dari kampus luar negeri. Kalau minat, persiapannya harus lebih matang dan panjang.

Jadi, boleh dibilang nyiapin dana pendidikan itu kayak nge-build karakter di game. Kalau kamu konsisten nabung, pintar atur duit, dan rajin cari peluang (beasiswa atau kerja sampingan), jalan menuju S-1, S-2, bahkan S-3 bakal lebih mulus. Ingat, pendidikan itu bukan sekadar gelar, tapi investasi jangka panjang buat masa depan.

Dan, jangan tunggu besok untuk siap-siap. Mulai hari ini juga. Karena masa depan kamu nggak bisa nunggu saldo rekening penuh dulu baru dijalanin.

Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us:

Menulis Itu Menghidupkan Jiwa

Sharing pengalaman tentang penulisan di FIB, UNS, Solo. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Pernah nggak sih kamu ngerasa otak lagi penuh banget; kayak laptop kebanyakan tab, mau meledak? Nah, salah satu cara paling ampuh buat ngerapiin isi kepala itu ya… menulis.

Buat sebagian orang, menulis mungkin keliatan sepele. Tinggal ketik atau coret-coret di kertas. Tapi sebenarnya, menulis itu bukan cuma soal kata-kata. Menulis bisa jadi cara buat ngehidupin jiwa.

Menulis itu terapi murah meriah. Kalau lagi suntuk, capek, atau patah hati, coba deh tulis semua unek-unek. Bisa di buku harian, blog, atau notes HP. Ajaib banget, hati jadi lebih plong. Kayak lagi curhat, tapi sama kertas. Bedanya, kertas nggak bakal nge-judge kamu.

Menulis bikin kenangan nggak hilang. Ingat nggak momen pertama kali kamu jatuh cinta, atau waktu liburan seru bareng sahabat? Kalau cuma disimpen di kepala, lama-lama bisa pudar. Tapi kalau ditulis, kenangan itu bisa kamu “putar ulang” kapan aja. Jadi, menulis itu kayak mesin waktu versi personal.

Menulis berarti mengenal diri sendiri. Seringkali kita nggak sadar apa yang bener-bener kita rasain sampai ditulis. Pas baca ulang, baru deh mikir, “Oh ternyata ini yang aku rasain.” Jadi, menulis bisa jadi cermin buat ngerti siapa diri kita sebenarnya.

Menulis bikin ide jadi nyata. Pernah punya ide keren tiba-tiba, tapi ilang gitu aja karena nggak ditulis? Nah, menulis itu cara paling gampang buat ngabadikan ide. Siapa tahu dari coretan kecil, lahir karya besar: novel, lagu, bahkan bisnis.

Menulis itu warisan jiwa. Buku, blog, puisi, atau bahkan caption panjang di medsos; semua itu bisa jadi jejak yang ditinggalin. Bayangin deh, tulisan kamu bisa dibaca orang lain, bahkan setelah kamu udah nggak ada. Itu artinya, lewat tulisan, jiwa kamu tetap hidup.

Tips Biar Nulis Lebih Hidup

Pertama, nulis apa aja dulu; nggak usah mikirin bagus atau enggak. Tulis aja. Kedua, jangan takut typo; edit belakangan, yang penting ide keluar dulu. Ketiga, bawa notes/HP ke mana-mana; inspirasi suka datang tiba-tiba. Keempat, coba berbagai jenis; puisi, cerita pendek, blog, bahkan catatan random. Kelima, nikmatin proses; menulis itu bukan lomba, tapi perjalanan.

Intinya… Menulis itu bukan cuma aktivitas, tapi cara buat hidup lebih hidup. Setiap kata yang ditulis bisa jadi jalan buat nyembuhin luka, nyimpen kenangan, nemuin jati diri, bahkan ninggalin warisan jiwa.

Jadi, jangan nunggu “siap” dulu baru mulai nulis. Segera ambil kertas, buka laptop, atau ketik di HP. Karena setiap kali kamu menulis, sebenarnya kamu lagi ngasih “napas” baru buat jiwa kamu sendiri. Menulis itu menghidupkan jiwa. Dan jiwa yang hidup, selalu punya cerita.

Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us: