Danau Situ Patenggang: Kawasan Tenang di Bandung

Penampakan Danau Situ Patenggang dari sisi depan. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Ada perjalanan yang direncanakan dengan sangat matang, tapi ada pula perjalanan yang terasa istimewa justru karena kita menikmatinya dengan santai. Begitulah perjalanan saya dari Kawah Putih menuju Situ Patenggang, Bandung Selatan.

Setelah puas menikmati Kawah Putih, meskipun saya sebenarnya masih ingin berlama-lama. Suasananya begitu khas. Udara dingin, kabut yang kadang turun, dan pemandangan kawah dengan air berwarna putih biru kehijauan membuat tempat ini selalu memiliki daya tarik tersendiri. Namun, perjalanan hari itu belum selesai. Tujuan berikutnya adalah Situ Patenggang.

Saya pun melanjutkan perjalanan. Perlahan suasana Kawah Putih berganti dengan hamparan perkebunan teh yang menghijau. Jalan berkelok-kelok menjadi bagian dari perjalanan. Di kanan dan kiri, pemandangan hijau seolah tidak habis-habisnya. Sesekali terlihat kabut tipis menyelimuti perbukitan.

Sisi lain Danau Situ Patenggang. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Saya menikmati perjalanan itu tanpa terburu-buru. Ada sesuatu yang menyenangkan dari perjalanan di daerah pegunungan. Udara terasa lebih bersih, suhu lebih sejuk, dan mata seperti mendapat kesempatan untuk beristirahat dari pemandangan yang itu-itu saja.

Di tengah perjalanan, saya kembali menyadari bahwa menikmati wisata nggak selalu berarti harus mengejar banyak tempat. Kadang-kadang, perjalanan menuju sebuah tempat justru menjadi bagian yang paling menyenangkan.

Nggak lama kemudian, kami sudah tiba di kawasan Situ Patenggang. Matahari sedang berada di tengah kepala. Panas membara. Mood saya sebenarnya sudah lumayan drop begitu tahu waktunya nggak bersahabat. Belum lagi masih harus berjalan cukup jauh untuk sampai TKP.

Di jembatan gantung dari pintu masuk untuk menuju Laju Kemudi Phinisi, tempat restoran dan spot foto. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Toh saya jalan juga. Sudah sampai sini, masa hanya ngopi. Dengan payung dan topi, sekurangnya serapan panas bisa dikurangi. Masuk areal Situ Patenggang, pemandangan yang saya lihat terasa berbeda dari Kawah Putih. Jika Kawah Putih memberikan kesan unik dan dramatis, Situ Patenggang menawarkan ketenangan. Danau yang luas dikelilingi perbukitan hijau. Airnya terlihat tenang, sementara udara dingin khas kawasan Ciwidey membuat suasana semakin nyaman.

Saya memilih untuk santai-santai saja. Hari itu memang saya niatkan untuk piknik. Bagi saya, piknik nggak harus selalu identik dengan sesuatu yang besar dan komplit. Piknik bisa sesederhana duduk bersama, menikmati makanan, ngobrol, ketawa-ketiwi bersama, dan memandang alam tanpa memikirkan pekerjaan untuk beberapa saat.

Saya menikmati jajanan yang saya beli dadakan di TKP sambil sesekali memandang danau. Rasanya sederhana, dan di situlah letak kenikmatannya. Makanan yang mungkin terasa biasa ketika disantap di rumah, jadi terasa berbeda ketika dinikmati di tengah udara pegunungan dan pemandangan alam.

Di dekat anjungan 1 Laju Kemudi Phinisi. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Saya juga menyempatkan diri mengambil beberapa foto. Tentu saja, sayang kalau pemandangan seindah itu nggak diabadikan. Namun, saya berusaha nggak terlalu sibuk dengan kamera. Ada kalanya sebuah perjalanan harus benar-benar dinikmati dengan mata jiwa, bukan hanya melalui layar telepon.

Saya berjalan pelan di sekitar kawasan danau. Melihat pepohonan, perbukitan, air yang luas, dan orang-orang yang datang bersama keluarga atau teman. Lalu naik ke anjungan satu dan dua untuk melihat replika kapal.

Ajakan teman-teman untuk keliling danau dengan perahu saya tolak karena panasnya luar biasa. Toh dengan berkeliling ini saya sudah bisa melihat semua sudut danau dengan leluasa. Apalagi dari anjungan tiga, seluruh sisi danau terlihat sepenuhnya.

Sisi samping Laju Kemudi Phinisi. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Di sini orang juga bisa sekedar datang untuk makan atau bersantai. Restorannya cukup representatif. Cocok untuk yang malas jalan tspi ingin menikmati keindahan danau dari atas.

Saya datang untuk mencari jeda. Rutinitas sehari-hari terkadang bikin kita lupa bahwa tubuh dan pikiran juga perlu waktu untuk berhenti. Pekerjaan, berbagai tanggung jawab, dan kegiatan yang nggak pernah benar-benar selesai serasa mrmbuat hari-hari berjalan begitu cepat. Jadinya jeda kecil seperti ini bisa jadi kesempatan untuk mengambil napas lebih panjang.

Duduk di tepi danau sambil menikmati udara dingin bercampur panas ternyata cukup untuk membuat pikiran terasa lebih ringan. Saya ingat perjalanan dari Kawah Putih. Dua tempat itu memiliki karakter yang berbeda, tapi justru jadi pasangan perjalanan yang menyenangkan. Kawah Putih menghadirkan pemandangan yang kuat dan memukau, sedangkan Situ Patenggang memberikan ruang untuk menikmati ketenangan.

Depan restoran di Laju Kemudi Phinisi. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Perjalanan dari satu tempat ke tempat lainnya pun nggak kalah bikin takjub. Hamparan kebun teh, jalan pegunungan, kabut, pepohonan, dan udara sejuk menjadi bagian dari pengalaman yang nggak boleh dilewatkan begitu saja.

Kadang-kadang kita terlalu fokus pada tujuan, sehingga lupa menikmati perjalanan. Padahal, ada banyak hal menarik yang bisa ditemukan di sepanjang jalan. Menjelang sore, suasana Situ Patenggang terasa semakin tenang. Udara jadi lebih dingin. Saya pun mulai bersiap meninggalkan tempat itu.

Ada sedikit rasa enggan ketika harus pulang. Rasanya baru sebentar duduk dan menikmati suasana, tapi waktu ternyata sudah berjalan cukup jauh. Mungkin memang begitu perjalanan yang menyenangkan. Kita pulang ketika hati masih ingin tinggal sedikit lebih lama.

Di anjungan 3 Laju Kemudi Phinisi. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Dalam perjalanan kembali, saya melihat lagi hamparan perkebunan teh yang sebelumnya kami lewati. Pemandangan itu terasa berbeda ketika dilihat dalam perjalanan pulang. Saya merasa lebih tenang dan lebih ringan.

Hari itu saya belajar satu hal sederhana: kita nggak selalu butuh piknik jauh untuk merasa bahagia. Kadang-kadang, perjalanan dari satu tempat ke tempat lain, secangkir minuman hangat, makanan sederhana, udara dingin, dan pemandangan hijau sudah cukup untuk membuat hati kembali segar. Kawah Putih memberi saya kekaguman. Situ Patenggang memberi saya ketenangan. Dan perjalanan di antara keduanya memberi saya kenangan.

Saya pulang bukan hanya membawa foto-foto dari Bandung Selatan, tapi juga membawa perasaan bahwa sesekali kita memang perlu berhenti sejenak dari rutinitas. Sebab hidup bukan hanya tentang menyelesaikan pekerjaan dan mengejar tujuan. Ada saatnya kita duduk, melihat danau, menikmati udara dingin, lalu berbisik, “Hidup harus kita nikmati dan syukuri.”

Sampai jumpa lagi di catatan perjalanan saya berikutnya.

Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *