
Ilustrasi dibuat dengan AI. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Dulu, menulis membutuhkan waktu panjang. Kita harus mencari ide, membuka buku, mencatat berbagai informasi, menyusun kalimat, menghapus paragraf, lalu menulisnya kembali. Kini, sebuah tulisan dapat muncul dalam hitungan detik hanya dengan mengetikkan beberapa kalimat perintah kepada kecerdasan buatan atau AI.
Kemudahan ini tentu menyenangkan. Namun, bagi penulis, kehadiran AI sekaligus menghadirkan tantangan baru: kalau mesin bisa menulis, untuk apa kita menulis?
Pertanyaan itu, kayaknya siy nggak perlu dijawab dengan rasa takut atau khawatir. Justru di tengah gempuran AI, manusia makin punya alasan yang semakin kuat untuk tetap menulis.
AI dapat membantu kita untuk menemukan ide, membuat kerangka, merapikan bahasa, bahkan menyusun tulisan. Namun, AI nggak menjalani kehidupan seperti kita. Ia nggak mengalami kehilangan, jatuh cinta, kecewa, bahagia, gembira, menjadi istri, menjadi menantu, menjadi mertua, menjadi ibu, menghadapi kegagalan, menunggu seseorang pulang, atau menikmati secangkir teh pada sore hari sambil mengingat masa lalu. Kita mengalami dan merasakan banyak hal dalam kehidupan.
Di situlah kekuatan kita sebagai penulis. Ada ranah “ruh” tulisan yang hanya bisa dibuat oleh penulis manusia. AI nggak tahu apa-apa soal ini. AI nggak bisa mengidentifikasi senyum asli dan senyum palsu. AI nggak tahu mana makan untuk bertahan atau bertahan untuk makan. Wajarlah, dia medin buatan manusia.
Sebagai penulis, di tengah gempuran AI yang terasa makin sempurna, kita justru harus mengenali kekuatan dan kelemahannya; sehingga kita bisa memanfaatkan AI untuk memperlancar dan memperbaiki kualitas tulisan kita.
Tantangan pertama adalah mempertahankan karakter tulisan kita pribadi. Ketika kita terlalu sering menyerahkan pekerjaan penulisan pada AI, tulisan kita berisiko jadi seragam. Kalimatnya rapi, tapi kehilangan karakter. Padahal, pembaca sering kali nggak cuma cari informasi. Mereka cari pengalaman, sudut pandang, dan suara yang terasa manusiawi.
Tantangan kedua adalah kemampuan berpikir. AI dapat memberikan banyak jawaban, tapi penulis tetap harus menentukan pertanyaan yang tepat. Penulis perlu memilah mana informasi yang benar, mana yang perlu diverifikasi, dan mana yang nggak sesuai dengan konteks. Kemampuan berpikir kritis jadi semakin penting.
Tantangan ketiga adalah keaslian. Kemudahan menghasilkan tulisan membuat batas antara membantu dan menggantikan jadi semakin tipis. Menggunakan AI untuk mencari gagasan, membuat kerangka, atau memperbaiki tata bahasa tentu berbeda dengan menyerahkan seluruh proses berpikir dan kemudian mengakuinya sebagai karya pribadi.
Karena itu, mungkin sudah waktunya mengubah cara pandang terhadap AI. AI bukan musuh penulis. Ia dapat menjadi asisten, tapi bukan pengganti penulis. Biarkan AI membantu pekerjaan yang melelahkan. Biarkan manusia mengerjakan bagian yang paling berharga: mengalami, berpikir, merasakan, mempertanyakan, memilih, dan memberi makna.
Tantangan terbesar menulis di era AI bukanlah bagaimana mengalahkan mesin. Tantangannya adalah bagaimana tetap menjadi manusia ketika mesin semakin pandai menghasilkan kata-kata. Dan selama manusia masih memiliki cerita yang benar-benar dialaminya, selalu ada alasan untuk menulis.
Ari Kinoysan Wulandari
