Lokakarya Publikasi Ilmiah, Selalu Ada Saat Pertama

Flyer lokakarya publikasi ilmiah. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Saya mengisi kelas atau workshop penulisan dari tahun 2000 hingga sekarang 2026, sudah nggak terhitung, sudah berkali-kali. Untuk berbagai kalangan dari anak-anak piyik SD, SMP, SMA, mahasiswa PTS/PTN, pesantren-pesantren, institusi swasta/pemerintah, hingga kalangan masyarakat umum dari berbagai komunitas. Sharing yang saya berikan beragam; bisa tentang penerbitan buku, menulis buku, menyunting naskah buku, menulis skenario, bimbingan teknis menulis, menulis beragam karya populer (cerpen, novel, novelet, sastra, artikel, esai), dll yang berkaitan dengan industri kreatif. Serasa wes tahu betul apa yang harus saya sampaikan karena jadi makanan sehari-hari saya. Dari kelas gratis, berbayar ringan, sedang hingga eksklusif sangat mahal yang per gundulnya saja bisa kena charge dua digit.

Lalu beberapa waktu lalu, datanglah WA dari sahabat saya, kawan waktu studi S3 tentang permintaan mengisi kelas. Saya baca betul, itu tentang penulisan dan publikasi karya ilmiah. What? Saya mikir untuk menolaknya. Betul, saya juga dosen dan melakukan publikasi ilmiah, tapi rasanya masih terlalu dini untuk boleh sharing.

Publikasi ilmiah saya masih ada di range 20-an artikel, itupun nggak semuanya sebagai penulis pertama. Ada publikasi internasional yang baru terindeks Copernicus, bukan Scopus. Sementara publikasi nasional saya tertinggi baru terindeks Sinta 2. Mayoritas Sinta 3,4,5,6. Versi saya masih jauh dari kapasitas untuk boleh “memberikan pengajaran”.

Memang siy kalau dihitung dengan waktu saya bergabung sebagai dosen yang baru 4 tahun; sebenarnya jumlah artikel publikasi itu memang sudah melampaui tuntutan umum per semester 1 publikasi atau per tahun 2 publikasi. Rerata saya publikasi artikel ilmiah 4-5 artikel per tahun atau 2-3 artikel per semester di jurnal terindeks layak secara nasional dan internasional.

Ya, sebenarnya wes patutlah sharing ke mereka yang belum pernah publikasi artikel ilmiah. Mungkin ini karena saya terbiasa menggunakan standar ekstrem, berguru pada ahlinya; sehingga kalau belum layak ki yo jangan sembarangan mengisi kelas. Begitulah pemikiran saya tentang menjadi narsum.

Namun mengingat bentuk kerja sama antar kampus dan dulu kawan ini juga sudah mengisi seminar di tempat saya, sungguh nggak etis menolak atau mengalihkan ke dosen lain. Akhirnya, bismillah saya memutuskan untuk menjawab iya.

Sejak menyanggupi itu, saya belajar serius untuk membuat materi yang berkaitan. Lebih kurang 20 slide. Satu ppt terlama yang saya buat; karena tiap slide materi saya pikirin betul, membaca berulang materi, merangkum, mengabstraksi, belajar menerangkan, dll sampai selesai. Butuh effort yang jauh lebih banyak dibandingkan mengisi kelas-kelas lainnya.

Alhamdulillah, selesai sudah ppt nya dan saya sekurangnya “pede” membawakan materi. Masalah kemudian muncul, ketika saya menerima link diskusinya Microsoft Team, ya ampun, itu aplikasi belum pernah saya pakai dan saya nggak familiar. Saya sudah minta ganti zoom, tapi itu ternyata langganan kampus Unram. Akhirnya saya belajar lagi, googling, nanya sana sini, dan yach kayaknya setipe saja dengan lainnya. Saya meminta ada operator untuk share slide karena ini masih bikin saya bingung.

Tiba hari H, ya ampun saya kek mahasiswa yang mau ujian. Masuk ruang online pagi betul, belum dibuka oleh host. Siap-siap kali ini lebih dari sejam saya. Mandi pagi-pagi, memilih baju terbaik, dandan rapi-rapi, sarapan cukup, menyiapkan minum manis di samping laptop saya agar nggak grogi. Astaga…. ya ampun Ari, ini bukan kali pertama kamu ngisi kelas online. Saya sampai buka dan baca berulang materi. Bismillah, ya Allah mudahkan.

Wah, saya agak tenang ketika wes mulai acara, sambutan. Hiperbola Pak Sahar tentang penghasilan saya dari PH ratusan juta (Amin YRA 🤩) bikin hati saya ketawa aja. Ya industri sinetron dan film itu memang bikin orang cepat kaya, sekaligus cepat nyungsep kalau manajemen diri dan manajemen keuangan nggak bagus. Dan saya agak grogi lagi ketika Bu Wadek FIB Unram menyebutkan peserta sekitar 170-an orang; biyuuu… Mudah-mudahan ntar nggak banyak yang tanya atau kalau tanya yang mudah-mudah saja jawabannya 😅😂🙈 Saya pun terkejut sendiri ketika disebutkan lagi bahwa Google Scholar saya indeks nya mencapai angka 19.

Apa maksudnya, hingga kini saya juga nggak terlalu paham. Jujurly saya nyaris nggak pernah buka-buka akun scholar. Versi saya, wes biasa saja karena berapapun angkanya nggak nambah cuan buat penulisnya. Haaaiish matre banget saya 😂🤣 Realitanya, indeks itu nggak bisa buat bayarin tiket pesawat saya piknik… Hehe…. ya weslah pokoknya berkarya terus sebaik-baiknya biar indeks di semua penghitungan saya naik setiap semester.

Dan jeng-jeng…. tibalah waktunya bagi saya untuk mendongeng. Tenan to, problem yang terjadi masalah sharing materi. Untung IT nya canggih sat-set langsung bantu share materi… wes aman lah. Meskipun saya masih berasa “kesal” dalam hati, karena sudah saya utak-atik pengaturannya tetep bae gambar saya burem…. Lah ya sudah dandan cantik-cantik jee, kok nggak bisa difoto 🤣🤣 Haizh, masih untunglah suara saya aman didengar teman-teman mahasiswa.

Rampung, selesai. Saya yakin cukup detail dan runtut. Saya siy berharap nggak ada pertanyaan, eh ternyata ada. Angil-angil pula… tiga pertanyaan yang mumetke, jadi saya kudu mikir buat jawab. Keren-kerenlah mahasiswa Unram. Dibuka sesi dua, doa saya kenceng jangan ada yang nanya lagi🙈🙏 Syukurlah, sudah nggak ada pertanyaan. Alhamdulillah rampung. Usai keluar ruangan, saya langsung tarik nafas panjang. Lega. Plong wes rampung. Alhamdulillah.

Saya wes nggak mikir lain-lain. Beberapa hari sebelumnya ada diminta Pak Sahar kirim foto KTP dan NPWP. Cuman karena nggak diminta no rek, saya yo wes nggak berpikir soal honor. Boleh tanya siapa saja yang mengundang saya, saya nggak pernah nanyain soal honor. Pokoknya kalau di luar kota apalagi luar pulau, saya memastikan tiket pp dan akomodasi wes aman, honor wes mengikuti saja. Bahkan kalau pun nggak ada honor nya hanya ditanggung tiket pp dan akomodasi; saya wes bilang sanggup bisa, ya tetep akan berangkat.

Itu bagian dari CSR saya sebagai penulis, kalau nggak ngajar ilmunya bisa makin tumpul. Karena mengajar itu berarti harus sudah belajar. Pernah ada yang meminta saya mengajar gratis. Terus saya bilangin, “Mas, jangan ngomong gratis. Ngomong aja nanti dicharge dengan makan bersama.” Ini untuk menjaga agar energi tetap seimbang. Versi saya, nggak ada makan siang gratis; harus ada saling transfer energi. Usai kelas, pas makan malam malah sahabat saya (yang kebetulan ikut nganter saya) yang mbayari makan malam saya dan rombongan 10 orang (peserta kelas). Jadi peserta untung ganda, belajar di kelas dengan saya dan ditraktir makan oleh sahabat saya😀

Lah kalau kelas online begini, saya lebih santai. Bisa dari rumah, wifi unlimited, sarpras wes ada komplet, ya cincailah. Wong cuma ngisi kelas sebentar bae. Lho bubar kelas diminta kirim no rek. Wah, alhamdulillah pikir saya. Setelah itu saya njur telponan dengan ponakan saya, karena pagi pada mau minta makan siang dengan saya di ayam crispy. Tapi karena jadwal nggak sinkron (sekarang tuh bocil-bocil pun bisa sibuk 😀), saya bilang ke mereka minta ibunya saja bawain ayam crispy pas pulang kantor atau pesan online.

Saya njur tidur. Beneran tidur pules. Nggak tahu honor wes dikirim dan baru sadar saat bangun terima bukti transfer. Alhamdulillah, terima kasih ya Allah. Terimakasih, Pak Sahar. Rezeki nggak terduga. Dan saya sudah nggak akan khawatir lagi kalau mengisi kelas-kelas publikasi karya ilmiah. Tantangan untuk saya, tinggal memperbanyak publikasi Sinta 1-2 dan Scopus Q1-Q4 agar nilai kuliah saya lebih berharga. Kan pede ngisi kelas kalau njur disebutkan publikasi Q1 sekian artikel, Q2 sekian artikel, Sinta 1 sekian artikel, Sinta 2 sekian artikel.

Ya seperti saya ringan saja kalau ngisi kelas tentang buku, karena buku saya di penerbit mayor wes ada 150 judul dengan 90 an judul masih aktif (beredar dan diperjualbelikan secara komersial). Saya yo tenang saja ngisi kelas skenario karena sudah ratusan skenario saya urusi dan masih terlibat aktif di bidang ini sampai sekarang. Saya nggak grogi ngisi kelas penyuntingan, karena wes ratusan buku saya edit. Nguji skripsi mahasiswa film dan televisi ya biasa aja, karena itu bidang yang saya tekuni lebih dari 10 tahun tanpa jeda. Intinya, versi saya mengajar dari pengalaman itu jauh lebih mudah daripada hanya sekedar menguasai teori.

Sekali lagi, maturnuwun Pak Sahar dkk Tim Dosen FKIP Unram. Terimakasih mahasiswa Bastrindo FKIP Unram. Sampai jumpa lagi.

Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us:

Pendampingan Penulisan Buku

Flyer pendampingan penulisan buku. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Ingin punya karya tulis sendiri tapi sering bingung mulai dari mana? Atau sudah mulai menulis tapi belum selesai-selesai?

Yuk, ikut program “1 Bulan 1 Naskah”

Program intensif yang dirancang khusus untuk membantu Anda MENYELESAIKAN tulisan, bukan sekadar memulai!

Apa yang akan Anda dapatkan?

✔️ 8x pertemuan (masing-masing 30 menit)

✔️ Materi praktis & aplikatif

✔️ Diskusi interaktif

✔️ Pendampingan langsung sampai naskah jadi

Jadwal: Sabtu & Minggu (menyesuaikan permintaan peserta dan kesepakatan)

Pukul: 09.00 – 09.30 WIB
Mentor: Ari Kinoysan Wulandari

Investasi: Rp1.500.000/orang

Transfer:
Ari Wulandari
BCA 0480013956

Kuota terbatas: hanya 10 peserta!

Pendampingan naskah terpisah satu per satu tiap peserta.

Segera daftar & konfirmasi:
WA: +62 813-8000-1149

Jangan tunda lagi; wujudkan naskah Anda dalam 1 bulan! Mulai bulan April 2026. Segera daftar sebelum kuota penuh. Karena menulis bukan soal bakat, tapi proses yang didampingi dengan tepat.

Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us:

“Dalam Cerita, Kita Bicara”: Bedah Buku dan (Dadakan) Bimtek Kepenulisan

Flyer Bedah Buku “Dalam Cerita, Kita Bicara”. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Alhamdulillah, terimakasih kepada Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Gunung Kidul yang telah menyelenggarakan acara Festival Literasi 19-23 September 2025 dan bedah buku “Dalam Cerita, Kita Bicara” menjadi acara inti pembuka di hari Jumat yang mulia, 19 September 2025 jam 13.30 WIB sd 16.15 WIB.

Terimakasih Mbak Yuni dan Bu Purwati yang telah dengan baik mengurus dan mempersiapkan acara bedah buku tersebut. Terimakasih juga untuk dua pembedah yang luar biasa Mbak Ummi dan Mas Hariwijaya. Maturnuwun atas support luar biasanya. Terimakasih juga untuk sang Momod, Mas Imron yang telah memandu acara ini dengan baik.

Jujurly, saya nggak menyangka bahwa buku yang kami buat (ada 75 orang penulis, 3 dosen PBSI dan 72 mahasiswa prodi PBSI dan Manajemen UPY) dapat lolos terpilih untuk sesi bedah buku di acara istimewa ini.

Buku “Dalam Cerita, Kita Bicara”. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Penulisan buku itu sendiri versi saya nggak mudah. Mengumpulkan tulisan dari banyak orang yang mayoritas bukan penulis, sama sekali nggak ringan. Lebih kurang 6 bulan kami berjibaku mulai dari menulis naskah, mengumpulkan naskah, menggabungkan jadi satu file, mengeditkan naskah, baru kemudian membawa ke penerbit untuk diterbitkan.

Dananya? Tentu saja dana mandiri kami bersama-sama. Alhamdulillah, meskipun sempat nggak sinkron di urusan cover dan tata letak, akhirnya kami sepakat memilih versi buku seperti yang sudah tersaji covernya. Sungguh, proses yang nggak mudah buat saya yang mengkoordinir seluruh urusan. Syukurlah banyak teman mahasiswa yang membantu dari awal sampai akhir proses kerja. Maturnuwun.

Sesaat setelah pembukaan acara Festival Literasi oleh Kepala Dispusip Kabupaten Gunung Kidul. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Buku ini juga bukti, bahwa menulis bukanlah bakat. Menulis hanya perlu “ilmunya” dan kemudian membuat tulisan sampai rampung, meskipun sederhana. Ya, kami memilih pentigraf yang hanya 150-250 kata untuk satu cerita yang utuh. Alhamdulillah semua terpenuhi. Ada kurang ini itu, saya sebagai penulis dan dosen pun memakluminya. Mereka sudah luar biasa mengeluarkan effort agar tulisannya rampung dan ikut mejeng di buku tersebut.

Saya juga bergembira ketika Mas Hariwijaya memberikan nilai bahwa buku tersebut sudah sangat layak terbit dan kemasannya pun cantik menjual. Tinggal masalah uji pasar, apakah buku terjual atau enggak. Sekurangnya, saya perlu berterima kasih kepada Penerbit Literasi Nusantara, yang sudah sabar telaten mengurus naskah-naskah saya; yang kadang beribet minta ini itu agar “perfect” dan “cantik”. Kerjasama yang panjang, juga membuat kami lebih mudah komunikasi ini itu agar hasil kemasan buku maksimal. Nggak akan bikin malu siapapun yang menjadi penulis di dalamnya. Maturnuwun. Alhamdulillah.

Saat sang Momod memulai acara bedah buku. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Saya cukup terkejut, ketika sesi tanya jawab yang ditanyakan peserta banyak yang keluar dari urusan “bedah buku” tapi malah membahas banyak materi tentang “menulis” dan “penulisan”. Tapi yo sudah, yang ditanyakan ke saya ya tetap saya jawab semampunya. Dan luar biasa waktu 2,5 jam (ini beneran panjang lho), jadinya nggak terasa. Alhamdulillah.

Oh, saya ingat ada kata Mbak Ummi agar kalau menulis nggak cuma mikirin uang atau komersial tapi juga bermanfaat untuk generasi muda; sebagai respon saya untuk mencatat ide dan memilih yang versi saya bisa diuangkan “bisa dijual dan dapat duit” lebih dulu. Saya nggak mengcounter balik –waktu sudah habis. Tapi kalau membaca 145 judul buku saya yang seluruhnya terbit di penerbit mayor (Gramedia Grup, Mizan Grup, Andi Grup, Medpres Grup, Agromedia Grup) yang seluruh naskah sudah melewati seleksi ketat, urusan manfaat dan kualitas, saya anggap sudah lewat.

Mereka di penerbit sudah lebih ahli dari saya untuk menilai manfaat dan kualitas naskah, sehingga memutuskan untuk menerbitkan, menjualkan, mendistribusikan, dan memberikan royalti 10-15% secara berkala tiap 6 bulan. Hingga sekarang (saya mulai menerbitkan buku tahun 2006 di Gramedia Grup) masih ada 100-an judul buku saya yang aktif dijual dan ada sekitar 10-an judul yang sudah 19 tahun terus menerus memberikan royalti. Alhamdulillah.

Pesona seni tari gadis-gadis remaja Gunung Kidul. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Jadi urusan bikin naskah dan kualitas serta manfaat itu sudah pasti kewajiban saya, tapi kesadaran harus bikin materi yang laku, itu salah satu sebab buku saya tiap tahun bertambah. Alhamdulillah. Percayalah, penerbit juga nggak mau memodali naskah yang nggak laku di pasaran.

Beragam pertanyaan tentang penulisan itu membuat saya optimis, masih banyak orang yang “ingin bisa menulis” dan pasti kelas-kelas penulisan, bimtek penulisan juga akan terus diperlukan. Sungguh menarik ketika sebuah acara literasi bukan hanya sekadar bedah buku, tetapi juga bertransformasi menjadi ruang belajar menulis yang penuh kejutan.

Begitulah suasana dalam kegiatan “Dalam Cerita, Kita Bicara”, sebuah acara diskusi buku yang mendadak juga jadi ajang bimtek (bimbingan teknis) penulisan yang hadir secara dadakan, tapi justru terasa segar dan membekas. Untungnya baik Mas Hariwijaya maupun Mbak Ummi juga penulis, jadi bisa ikut menjawab pertanyaan para audiens.

Acara ini membuktikan bahwa literasi bukan sekadar tentang membaca buku tebal atau menulis panjang. Literasi adalah tentang membuka percakapan, berbagi makna, dan menemukan suara diri melalui kata-kata. Dalam satu forum blended ini ada sekitar 50-an peserta luring dan 57-an peserta daring, terjadi perjumpaan antara pembaca, penulis, dan calon penulis yang saling menginspirasi.

Setelah bedah buku, dengan Mbak Yuni dan Mbak Ummi. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

“Dalam Cerita, Kita Bicara” meninggalkan jejak: bahwa setiap orang punya cerita, dan setiap cerita layak dituliskan. Bedah buku ini bisa menjadi gerakan kecil yang menumbuhkan keberanian menulis. Karena pada akhirnya, cerita bukan hanya untuk dibaca, tetapi juga untuk dibicarakan dan dituliskan.

Sekali lagi, terimakasih untuk semua pihak yang telah membantu mensukseskan acara ini. Seperti biasa, saya nggak akan mengajak orang untuk jadi penulis (karena jatuh bangunnya nggak mudah), tapi saya akan selalu mendorong orang untuk menulis. Sekurangnya, menulislah 1 buku seumur hidup: boleh juga autobiografi (biografi diri sendiri) seperti anjuran Mas Hariwijaya. Maturnuwun.

Salam Literasi dan majulah Indonesia Raya.

Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us:

Anak-anak Super Gunung Kidul

Anak-anak SMP Gunung Kidul setelah kelas penulisan. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.


Alhamdulillah, hari ke-2 Bimtek Kepenulisan Angkatan 2; Selasa s/d Kamis 20-22 Mei sudah terlewati dengan baik. Masih ada 1 hari ekstra esok yang pasti bikin pemateri kudu lebih sabar. Kelas yang bikin saya … haish, ini bocah dikasih tahu belum selesai wes nyicriiis nyolot jawab aja.
.
Ya ampun, hampir semua begitu. Dan saya terperangah bagaimana mereka merasa baik-baik aja; menjawab spontan seolah tanpa sensor dengan ngeyelannya yang aduhai itu… 🤣🤣
.
Tapi ya, itulah anak-anak (cucu atau mungkin cicit) SMP kita. Bandel, ngeyelan, tapi cerdas, kritis, dan sering nggak mau ngalah. Kalau ngomong sama siapa aja, kayaknya kudu menang. Apa aja yang nggak sesuai pikirannya, akan dilawannya.
.
Toh saya tetap mengapresiasi keseriusan mereka mengikuti kelas, mengerjakan tugas menulis, menyimak materi, dan tanya jawab 2 jam tanpa ngantuk di siang bolong yang terik 🤩🥰
.
Kalian semua hebat, mung perlu lebih menjaga sopan santun dan kepatutan bicara saja. Percayalah, nanti kalian akan tahu bahwa ngotot, ngeyel, kadang cuma membuat kita lelah jiwa raga 😄😁
.
Sampai jumpa di kelas-kelas penulisan atau workshop berikutnya 😀🤩
.

Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us:

Gunung Kidul Luar Biasa…!

Saya dengan Mbak Yuni dari Dispussip Gunung Kidul. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.


Bimtek Penulisan Angkatan 1. Rabu-Jumat, 14-16 Mei 2025. Tiga hari maraton. Full daya. Start jam 8 pagi selesai 14.30 sore. Ini hari kedua dengan peserta yang super. Alhamdulillah. Besok masih ada satu hari yang istimewa.

Saya berpartisipasi dengan literasi Gunung Kidul tuh wes lama banget. Tahun 2017 ketika Gus Hari –begitu saya memanggilnya; yang menggawangi salah satu penerbit dan pesantren, mencolek saya untuk ikut berbagi materi dan pengalaman sebagai penulis. Saya yang biasanya kalau waktu kosong, wes iyo iyo bae, kali ini memperjelas detail. Pesertanya siapa. Kalau minim peserta, saya belok kiri aja. Karena waktu yang diminta panjang.

Setelah diyakinkan kalau peserta cukup banyak 120 orang, saya baru iyo. Booom, saya kaget dengan ledakan semangat menulis peserta saat itu. Saya harus ekstra bekerja ngadepin orang-orang dengan semangat menulis 200%, alias super semangat ❤

Saya dengan peserta Bimtek Penulisan Angkatan 1 usai kelas. Rabu-Jumat, 14-16 Mei. Dispussip Gunung Kidul. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.


Lalu tahun-tahun berikutnya saya masih ikut serta kegiatan di Gunung Kidul; macem-macem bentuknya; sampai pandemi melanda. Semua pekerjaan saya berkaitan proyek penulisan (termasuk semua jadwal mengisi kelas, workshop, pelatihan, training, dll) di berbagai daerah di Indonesia; direschedule tanpa batas waktu. Bentuk halus dari kata dibatalkan. 😀

Tahu-tahu kemarin Februari, Mbak Yuni dari Dispussip Gunung Kidul yang menggawangi acara Bimtek ini mencolek saya untuk ikut lagi. Wah, setelah cocokan jadwal saya bilang oke. Senanglah saya kalau ketemu orang-orang yang semangatnya lebih kuat dari saya untuk menulis. Saya yo ketularan semangat. Saya tidak mengajar, tapi saya belajar menulis kembali bersama mereka ❤

Terimakasih untuk hari yang penuh semangat dan tertawa bersama. Sampai jumpa lagi 😀

Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us:

Menuntaskan Naskah-naskah Nanggung

Flyer. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Naskahmu banyak, tapi serba nanggung? Belum ada satu pun yang beres dan nggak bisa publish?

Padahal kamu sudah semangat banget untuk punya karya? Lalu apa masalahnya? Yuk cek-cek, mungkin:

  1. Malas.
  2. Bosan.
  3. Ceritanya kok klise.
  4. Struktur tulisan acak-acakan.
  5. Temanya jadi nggak jelas.
  6. Bingung apa yang mesti diperbaiki?
  7. Judul nggak oke.
  8. Tokoh kok nggak membumi.
  9. Settingnya malah jadi aneh.
  10. Alurnya belum bagus. Dll permasalahan yang bikin naskahmu nggak rampung.

Yuk ikutan kelas ini, dan kita akan sharing diskusi beragam hal yang bikin naskah nanggung serta solusi praktis untuk menuntaskannya.

Segera bergabung, mumpung masih ada kuota. 😍🙏

Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us:

Talkshow Menulis Buku Bestseller

Flyer Talkshow Ari Kinoysan Wulandari.

Hallo Sobat Andi,
Apakah Sobat Andi suka menulis? suka membaca?
Atau ingin menjadi penulis buku best seller?
Ayo bergabung bersama kita di Andi Writing Club.
Ikuti talkshownya Selasa, 23 April 2024 pukul 10.00 WIB, hanya di channel TV Andi melalui link berikut ini https://bit.ly/Bikin-BestSeller

Please follow and like us: