
Ilustrasi dibuat dengan AI. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Kadang-kadang, sebagai penulis di tengah gempuran sosmed dan teknologi AI, saat hendak menulis di depan laptop, jari saya malah terhenti. Karakter sudah ada, ide sudah numpuk di kepala, tapi ada satu pertanyaan sederhana yang tiba-tiba membisik di telinga: “Sebenarnya, untuk siapa saya menulis ini?”
Sebagai seorang penulis, saya sering terjebak dalam pertanyaan itu. Di awal mula perjalanan menulis, jawaban saya sangat sederhana: saya menulis untuk diri sendiri. Menulis adalah ruang aman, tempat saya menumpahkan isi kepala yang riuh, merapikan emosi yang kacau, atau sekadar mengabadikan momen yang takut saya lupakan. Bagi saya saat itu, tulisan adalah cermin.
Namun, lambat laun, tulisan itu mulai melompati batas jurnal pribadi. Ia terbit di media massa, media sosial, blog, atau bahkan menjadi buku. Di sinilah dinamika itu berubah. Saat karya kita dibaca orang lain, perspektif saya meluas. Saya menyadari bahwa tulisan bukan lagi sekadar cermin, tapi juga jalan cerita panjang untuk belajar dan bertumbuh.
Lantas, jika ditanya kembali hari ini: Untuk siapa kita menulis? Menurut saya, jawabannya ada pada tiga lapisan ini.
Pertama, Untuk Diri Kita Sendiri. Sebelum menyentuh hati orang lain, tulisan itu harus jujur terlebih dahulu pada diri kita. Menulis untuk diri sendiri adalah bentuk terapi paling sunyi sekaligus paling berdampak. Kita menulis untuk memahami apa yang kita rasakan, menyusun cara berpikir kita, dan meninggalkan jejak bahwa kita pernah ada dan berjuang. Jika kita sendiri nggak tersentuh atau nggak bisa menikmati apa yang kita tulis, bagaimana mungkin orang lain bisa menyukainya?
Kedua, Untuk Satu Orang Pembaca Spesifik. Sering kali kita terjebak ingin menyukai atau menyenangkan semua orang. Padahal, mencoba menulis untuk semua orang sama saja dengan menulis bukan untuk siapa-siapa.
Kini, setiap kali saya mengetik baris demi baris kata, saya membayangkan satu orang spesifik. Mungkin seorang remaja yang sedang ragu pada masa depannya, seorang pekerja yang lelah di gerbong kereta malam, atau seseorang yang sedang patah hati dan membutuhkan teman bicara. Ketika kita membayangkan satu sosok nyata di balik layar pembaca, tulisan kita akan terasa jauh lebih hangat, personal, dan hidup.
Ketiga, Untuk Mereka yang Nggak Mampu Bersuara. Ada saat-saat tulisan kita menjadi wadah bagi perasaan atau pengalaman yang dialami banyak orang, tapi nggk semua dari mereka memiliki kata-kata untuk mengungkapkannya. Ketika seorang pembaca mengirim pesan dan berkata, “Terima kasih, tulisanmu mewakili apa yang selama ini saya rasakan tapi bingung cara menyampaikannya,” di situlah saya sadar bahwa menulis adalah sebuah privilege dan tanggung jawab.
Jadi, itulah alasan saya tetap menulis di tengah gempuran sosmed dan AI, di tengah hancurnya sistem komersial (honor, royalti, fee, bagi hasil dll) yang mengerikan di industri penulisan. Dengan mengetahui untuk siapa kita menulis, sekurangnya untuk diri sendiri, maka apapun keadaannya, saya tetap akan menulis. Ketika tulisan di sosmed sepi likes atau kritik datang menghampiri, kompas itulah yang menjaga saya agar nggak tersesat.
Kita nggak perlu jadi penulis besar yang karyanya dibaca jutaan orang untuk merasa berarti. Cukup pastikan bahwa tulisan itu jujur dari dalam diri, dan diniatkan untuk memberi pelukan hangat, meski hanya pada satu pembaca yang sedang membutuhkannya di luar sana.
Jadi, teruslah dan tetaplah menulis. Karena itulah yang mengabadikan jejak kita, hidup kita, suara hati, keterampilan, hingga pengalaman pengalaman hidup kita.
Ari Kinoysan Wulandari
