Ketika Hidup Terasa (Nggak) Mudah

Ilustrasi dibuat dengan AI. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Setiap orang, setiap keluarga pasti ada masanya menghadapi hari-hari yang nggak mudah. Hari-hari yang terasa panjang karena banyaknya urusan yang menggerus hati. Langkah kaki terasa sedikit lebih berat dari biasanya.

Kamu pernah nggak, berada di satu titik atau fase di mana rasanya semua hal datang bersamaan? Pekerjaan menumpuk. Ekspektasi dari orang sekitar terasa menyesakkan. Di kepala tuh isinya suara-suara kecil terus berbisik, “Aku sanggup nggak ya?”

Kalau hari ini kamu sedang merasakannya, tenang, coba tarik napas dulu. Pelan-pelan. Saya beberapa kali mengalaminya. Terduduk sunyi sendiri menekuri hidup. Jam sudah menunjukkan lewat 11 malam. Ruangan di sekitar saya sudah sunyi, lampu meja kerja jadi satu-satunya sumber cahaya yang setia menemani. Di layar laptop, dokumen yang belum selesai masih terbuka, seolah menertawakan lelah saya yang sudah di ujung kening.

Saya berusaha bersandar di kursi, memijat pelipis yang mulai berdenyut. Pikiran kadang melompat ke mana-mana: Kenapa orang lain jalan-jalan di tempat yang mulus, sementara jalanku masih berbatu? Apa usahaku selama ini kurang keras? Atau memang Allah lagi pengen menguji seberapa kuat pundak ini menopang semuanya?

Rasa lelah itu bukan cuma fisik. Itu lelah mental. Lelah karena harus terlihat baik-baik saja di depan orang lain. Lelah karena harus terus kuat padahal di dalam, ada bagian dari diri saya yang rasanya mau pecah. Di detik itu, rasanya gampang banget buat nyerah. Rasanya ingin bilang, “Cukup, aku pengen berhenti sebentar.”

Tapi, setelah saya lihat-lihat lagi, di tengah rasa lelah itu, saya yang pernah mikir nggak bakal sanggup ngelewatin minggu lalu, nyatanya berhasil melewatinya juga. Saya yang sempat merasa pundak ini terlalu kecil, ternyata masih bisa berdiri sampai hari ini.

Hidup memang nggak pernah menjanjikan jalan yang selalu mulus. Kadang, hidup justru terasa seperti teka-teki silang yang kotaknya kosong semua. Ya, ada yang bikin pusing, bikin frustrasi, dan bikin kita pengen coret-coret kertasnya.

Tapi kemudian saya tahu, rasa lelah itu bukan tanda kita lemah. Itu tanda bahwa kita manusia. Itu tanda bahwa kita peduli dengan proses hidup. Itu bukti bahwa kita sedang berjuang mati-matian untuk sesuatu yang kita yakini.

Kalau hidup lagi nggak mudah, jangan paksa dirimu untuk langsung jadi superhero. Nggak apa-apa kalau hari ini kita cuma bisa bertahan hidup (surviving), bukan berkembang (thriving).

Ternyata yo nggak apa-apa kalau air mata mau tumpah. Boleh-boleh saja kalau target hari ini nggak semuanya centang hijau. Yang penting, kita nggak memutuskan untuk berhenti.

Tutup laptopmu sebentar. Minum air hangat. Ucapkan terima kasih pada diri sendiri. Pada tangan yang sudah mengetik. Pada kaki yang sudah melangkah. Pada hati yang masih sabar menahan lelah. Pada keseluruhan jiwa raga yang sudah bekerja sepenuh hati.

Besok pagi, matahari akan tetap terbit. Dan kita akan coba lagi, dengan cara kita sendiri, pelan-pelan. Bergembiralah karena kita sudah berjuang sejauh ini. Dan ada kebiasaan saya sebagai muslim, yang terus saya jaga selama hari-hari terasa nggak mudah. Cekidot ya….

Ini siy bukan nasihat. Tapi yang saya lakukan pas hidup terasa begitu berat. Cek sholat wajib qablyah-bakdiyah, dhuha, dan tahajud. Kemudian cek-cek ngajinya. Kalau biasa 1 juz perhari pertahankan, tambah Qs Yasin, Ar Rahman, Waqiah, Al Mulk. Terpenting juga cek-cek hubungan dengan ortu-mertua-saudara-ipar-anak-ponakan (terutama yang tinggal 1 rumah). Periksa juga urusan silaturahmi dengan tetangga, teman-teman kerja, lingkungan.

Jangan lupakan sedekah harian, ini nggak selalu duit. Nolong orang tua nyeberang di jalan ramai juga sedekah. Perbanyak dzikir dan sholawat harian. Kalau biasa puasa sunah tambahkan niat dan doa biar masalah rampung. Sudah itu saja yang saya benerin. Tahu-tahu masalah-masalah rampung sendiri. Cuman ya nggak simsalabim lho😂 Kadang lama, sering lebih cepat rampung dari perkiraan.

Versi saya, selama kita deket Allah, apa aja jadi mudah. Apalagi kalau urusan yang bisa diukur dengan duit. Bukan nyepelein urusan uang, tapi ini bisa dihitung, dikalkulasi ulang, dirembug, ditunda, dibebaskan, dialihtanggungjawabkan, dll. Semangat dan happy riang gembira 🤩💪

Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *