Surga di Wakatobi (2): Wah, Ikaaan…!

Menurunkan sepeda motor dari kapal. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Tiba di Pelabuhan Wakatobi sudah terang. Saya agak lama di sini mengambil foto-foto, melihat orang-orang turun dari kapal, barang-barang besar diturunkan dari kapal (termasuk sepeda motor). Lalu lalang hilir mudik orang-orang. Riuhnya tawaran jasa ojek dan mobil. Rerame keluarga menjemput mereka yang baru datang.

Buruh buruh panggul yang menggotong barang sampai gerobak dorong yang membawa banyak muatan kebutuhan rumah tangga. Semua menjadi warna khas pelabuhan Wakatobi saat kapal sandar. Warna aktivitas yang baru sekali ini saya lihat di negeri yang jauh dari tanah kelahiran.

Saya cukup takjub melihat air laut yang jernih di tepian dermaga dengan ikan-ikan bergerombol sangat banyak. Ya ampun, disiruk aja kena semua itu. Saya pikir, hanya akan melihat yang begini di laut-laut dan sungai-sungai di Papua, oh di Wakatobi pun begitu. Berasa menyesal kok nggak lebih awal datang ke tempat ini.

Setelah cukup puas, baru kami pergi dengan mobil. Buat teman-teman yang mau ke sini, tawar saja kalau harus pake ojek atau mobil. Namanya juga di areal umum, suka-suka mereka nawarin harga. Jadi kita yang harus memastikan dari awal.

Tempat jual pisang goreng dan ubi goreng di pasar. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Tujuan kami ke rumah Pak Ode. Hotel tempat saya menginap, check in nya sekitar jam 12. Jadi masih siang nanti. Nggak lama wes tiba di tujuan. Sebentar banget karena mung 3 km-an. Bisa siy jalan kaki, tapi dengan barang bawaan jelas saya emoh ribet 😁🙈

Rumah itu modelnya memanjang ke belakang dengan banyak ruang atau kamar. Ciri khas rumah untuk keluarga besar banyak saudara. Ibu Pak Ode sudah sepuh. Saya pun nggak mudeng apa yang dibicarakan dalam bahasa lokal. Saya bisa menangkap nada sapaan ramahnya.

Pak Ode juga tipe anak laki-laki yang berbakti pada ibunya. Pulang bawain oleh-oleh, baju, kasih uang. Kalau ada istilah sejenis menarik sejenis, saya dan teman-teman dekat, semuanya juga berperilaku sangat baik pada ibu bapak kami. Semoga tetap seperti itu sepanjang hayat kami. Amin.

Jalanan di tengah pasar yang lengang. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Pagi itu ada juga kakak dan keponakannya, tapi nggak tinggal di situ. Datang menengok ibu dan neneknya, njur pulang. Rumah mereka berdekatan. Lebih kurang begitu yang saya ingat. Lalu saya mengikuti Pak Ode jalan untuk ambil motor. Tempatnya di rumah kakaknya yang lain.

Jalanan di Wakatobi cenderung lengang, meskipun kiri kanan padat dengan rumah-rumah penduduk. Cukup bersih dan teratur. Oh yang paling saya ingat, udara segar dengan aroma laut dan langit yang sebagian begitu biru.

Usai ambil motor, kami ke pasar. Makan pisang goreng, dan ubi goreng. Dan yang jualan itu (kakak) atau (adiknya) Pak Ode yang lain. Ya ampun, saya agak sulit mengingat mereka karena face atau wajahnya mirip-mirip.🙏

Jalanan lengang di Wakatobi. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Oh iya, pasar ini konon pasar awal di daerah tersebut. Setelah ada pasar-pasar baru, banyak los, kios-kios, ruko-ruko yang kosong melompong di pasar ini. Pedagang pun hanya sedikit. Areal jalanan pasar kalau siang sore jadi ajang anak-anak main bola atau lelarian. Mungkin pemerintah dan pihak terkait perlu merevitalisasi lagi pasar ini biar lebih banyak manfaatnya (kembali) untuk masyarakat.

Di areal pasar itu juga ada tempat jualan ikan segar. Wah ikaaan…. Senang lihat ikan besar kecil, beragam jenis, bermacam warna. Rame orang beli ikan di tempat ini. Rerata kalau beli sekaligus dibersihkan. Nggak ada ukuran kiloan di sini, tapi sekelompok-sekelompok ikan dengan harga tertentu; mulai dari 20, 50, 100, 200 rb dst.

Di seberang tempat jualan ikan itu (entah sisi mana arahnya) langsung laut. Ada banyak perahu tertambat di sekitar. Pas saya tengok, laah ikan-ikan pun bergerombol di tepian. Ya ampun banyak betul ikan di sini.

Sebagian ikan-ikan yang dijual di pasar ikan. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Setelah Pak Ode membeli ikan dan menitipkan pada kakaknya untuk dimasak, kami pergi. Sebentar, saya agak lupa ke mana pergi setelah itu. Oh, kami ke pusat diving di Wambuliga. Karena pas ditanya mo snorkeling atau diving, saya jawabnya iya banget. Kalau soal pede, saya kelewat ndableg. Pokokmen kalau kayaknya bisa, iya aja dulu… ntar gimana ya dipikir nanti 😁😂

Di Wambuliga nanya jadwal, sewa alat dll. Ya karena di Wakatobi ada event besar WAFE 2025 itu dan kabar ramenya Bu Sherly (Sherly Laos, Gub Malut) mau datang untuk diving. Jadi hari Sabtu sampai Minggu semua jadwal dan spot diving wes full dipesan. Saya disarankan memilih besok pagi (Jumat) mumpung masih selow dan nggak banyak spot terpakai. Ya wes, besok janji saya ke mereka.

Di sini sewa alat snorkeling, plus guide dan dokumentasi 600rb untuk full payment. Tapi pas promosi, saya kena charge 250rb bae full fasilitas 😁😂 Kalau paket diving, berapa ya harganya? Saya lupa persisnya, sekitar 1,5 jt an. Saya jumpa dengan kepala desa yang menasihati saya kalau mau turun laut (snorkeling atau diving), saya harus jadi orang baik. Maksudnya saya nggak boleh ngomong dengan kosakata buruk, kalau lihat sesuatu di bawah laut yang “aneh-aneh” nggak boleh berkomentar, harus “permisi”, dan nggak boleh membuat keributan di laut.

Salah satu ikan yang versi saya “ajaib” di Wakatobi. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Saya menyanggupi. Bagaimanapun buat mereka yang mata batinnya hidup terbuka, bawah laut memang bukan sekedar ikan-ikan, makhluk laut, terumbu karang ataupun air laut; tapi banyak juga “kerajaan-kerajaan bawah laut” yang tak kasat mata oleh pandangan biasa. Dan saya yang besar di Tanah Jawa dengan segala mitos atau legenda laut, wes paham betul nggak boleh macam-macam di tempat yang bukan “ambah-ambahan” atau bukan “daerah kekuasaan kita”.

Lama berbincang tentang laut di sini, kami pun melanjutkan jalan dan mider lagi. Ada beberapa pantai yang kami singgahi, tapi wes nggak keurus dan sepi dari pengunjung. Jadi saya lupa nama-namanya😂😁 Tapi tetep pantainya indah dan cantik-cantik, meskipun sarpras ke TKP kudu direhab total.

Kemudian kami mampir ke rumah Bu Tuti dan Pak Damrin. Singgah sejenak dan diundang datang lagi lain hari. Saya nggak merespon karena belum tahu bisa enggaknya. Setelah itu kami pergi ke pantai lagi dan balik pulang. Saya nggak inget sepanjang jalan, Pak Ode beli jajanan khas apa saja. Bentuknya lucu-lucu, namanya pun unik-unik; dan hampir nggak ada yang saya hafal. Sudah dikasih tahu, ingat sebentar, njur lupa 😂🙈

Pohon kelapa kembar di Wambuliga. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Karena sudah panas banget, kami memutuskan pulang. Beuh, gosong tenan saya di Tanah Laut itu. Sudah berhari-hari di Jawa pun kaki, tangan, muka gelap belang hitam saya belum ilang. Padahal yo wes dikasih sunscreen lho sebelumnya, tapi nggak mempan. 😂

Saya makan siang di rumah Pak Ode. Tentu dengan olahan ikan. Menyenangkan sekali makan ikan di sini. Ikan segar, jadi gurih dagingnya berasa. Setelah itu, baru saya masuk hotel. Namanya Wisma Maharani, yang punya namanya Ismail (bikin saya inget si Mail ponakan saya yang lucu beut). Langsunglah saya mandi puas-puas dan tidur puas-puas 😁

Panasnya ampun, AC 16 derajat gak berasa dingin. Bangun tidur saya kek orang habis lari, keringetan meskipun ruang pake AC. Saya mandi lagi. Kemudian beberes gaweyan. Baru keluar makan malam.

Kalau dibablaske dolan malam itu pasti ngopinya sampe pagi. Saya memilih pulang, tidur. Besok pagi mo nyebur laut. Butuh banyak energi.

Bersambung.
Ari Kinoysan Wulandari

Surga di Wakatobi (1): Perjalanan Panjang

Bandara Halu Oleo, Kendari. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Nggak seperti Sanur, Kuta, Tanjung Benoa, Bunaken, Raja Ampat, Derawan, Karimun Jawa, Losari, Pahawang, dll tempat wisata laut yang populer; saya yang lahir dan besar di dataran rendah Tulungagung, Jawa Timur; nggak mengenal kata Wakatobi. Kosakata itu baru saya kenali jelang akhir tahun 2013 saat studi S-3 UGM.

Ada mahasiswa La Ode Rabani (saya memanggilnya Pak Ode) yang memperkenalkan diri, termasuk menyebut kata Wakatobi itu. Di mana ya itu? Pikir saya berkerut. Rada niat, sepulang kuliah bukannya nanya ke ybs tapi malah ngecek di peta. Oalah, Sulawesi Tenggara. Jauh. Googling sejenak saya bisa mendapatkan sedikit info tentang surga bawah laut Wakatobi. Dari 750 spesies di dunia, lebih kurang 500 spesies bawah laut (cmiiw) ada di Wakatobi. Belum terumbu karang yang luar biasa cantik. Wah, boleh juga kalau main ke sana.

Seperti kebanyakan orang dari negeri pelaut, Pak Ode juga berwajah keras (cenderung serem kalau nggak kenal, serius banget kalau lagi kerja). Sampai beberapa bulan di kelas, saya mung tahu namanya Pak Ode dan nyaris tanpa interaksi. Lha saya datang ke kampus 5 menit sebelum kuliah, usai kuliah ya pulang untuk ngurusin gaweyan.

Baru ketika ada kegiatan pengabdian masyarakat dari studi S-3 Ilmu-ilmu Humaniora UGM di Gunung Kidul, kami mulai ngobrol ini itu. Saya yo nanyain tentang Wakatobi dll biaya ke tkp. Besar. Dan keinginan ke tempat itu nggak kesampaian sampai saya lulus S-3 di 2016. Lalu saya wes sibuk gegaweyan, Pak Ode masih lanjut kuliahnya sampai lulus di 2021.

Salah satu sisi dalam Bandara Halu Oleo, Kendari. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Sepanjang ingatan saya selanjutnya, Pak Ode ini baik banget. Rajin nengokin temen-temen yang sakit, rajin silaturahmi, rajin membantu siapa saja. Dan saya kalau dicolek WA, “Ari ayo ikut ke sini, ke rumah si ini, tengok si itu,” dll.; pokokmen saya bisa, saya yo ikut aja. Pernah saya menegurnya keras karena terlalu baik nolongin orang, dianya sendiri malah repot.

Sebelum bergabung jadi dosen, saya nggak tahu pentingnya “sertifikat seminar” untuk kelangsungan hidup dosen (untuk memenuhi BKD semesteran). Singkat ceritanya Pak Ode ini membantu teman yang nggak hadir seminar untuk memintakan sertifikat (yo karena panitia penyelenggara juga konco-konco Pak Ode). Wes dapet sertifikat itu lho, nggak diambil sama yang minta tolong malah Pak Ode disuruh nganterin sertifikat ke rektorat jelang maghrib. Haish… kebaikannya kebangetan. Yang ditolong mbuh nggak tahu saya, bilang terimakasih atau enggak.

Kalau saya catatkan kebaikan sahabat saya itu, bisa panjang sekali. Karena kami masih bersambung baik komunikasi, meskipun saya sudah lulus lama. Mungkin benar kata Pak Ode, saya nggak baperan, gampang diajak urusan ini itu mo dolan atau gaweyan.

Saya, Pak Erens, Pak Ode, Gus Jalil di rumah makan Maros, by pass Kendari. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Tahun berlalu, saya wes nyaris lupa dengan keinginan ke Wakatobi. Ada beberapa open trip ke tempat ini, tapi karena tahu perjalanan panjang dan berisiko, saya nggak pernah mendaftar. Beberapa kali kalau Pak Ode pulang kampung, saya yo pingin ikut; tapi itung-itungan budget saya kok nggak cukup. Yo lewatlah sudah. Meskipun doyan dolan, sebagai penulis profesional dengan model freelancer; saya punya manajemen keuangan yang ketat. Jangan sampai gegara piknik njur nanggung utang nggak perlu.

Tahu-tahu pas Juni 2025, saat saya memenuhi undangan DSBK (Dialog Serantau Borneo Kalimantan 2025 untuk tiga negara, Indonesia-Malaysia-Brunei Darussalam) di Samarinda, Kalimantan Timur; Pak Ode nyeletuk di grup piknik kalau mau ke Wakatobi bulan Agustus atau September via laut. Wes, saya nggak pake lama bilang mau ikut, tapi menawar agar bisa lewat udara.

Tahun 2025, saya memang sudah niat kalau duit nggak cukup untuk piknik jauh-jauh ke luar negeri; akan saya bereskan piknik-piknik domestik yang belum saya penuhi, termasuk Wakatobi. Dari Januari sampai bulan ini, catatan piknik saya dalam negeri semua. Nggak selalu lebih murah dari piknik luar negeri, tapi sekurangnya aman terjangkau di kantong saya.

Juli saya jumpa Pak Ode di Jogja, untuk cek ricek jadwal dll. Agustus atau September, dia bilang pulang ke Wakatobi karena ada keluarga yang menikah. Dia minta saya pergi lain waktu, juga pertimbangan ombak laut. Kalau ada acara keluarga, pasti dia nggak bisa nganterin saya keliling piknik. Saya bilang oke menunggu kabar saja.

Situasi di salah satu sisi Pelabuhan Kendari. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Akhirnya kami sepakat untuk pergi bulan Oktober. Itu saya masih di Lovina, Bali. Saya bilang akan urus tiket dll setelah piknik dari Bali. Saya masih berpikir bahwa ini trip pribadi tanpa ada acara official. Ya wes ben gpp, sudah niat pikir saya.

Ternyata saya dapat undangan dari Bupati Wakatobi untuk Wakatobi WAVE 2025 (Pameran Budaya dan Expo UMKM) tanggal 3-5 Oktober. Malah kebetulan. Alhamdulillah. Kemudian kami chitchat soal waktu dll keberangkatan, termasuk sharing penulisan di Universitas Halu Oleo. Saya wes manut saja saran-saran Pak Ode; karena memang ngeblank belum pernah ke sana.

Belum sampai pertengahan September, tiket-tiket sudah beres. Dan saya masih sibuk kerja seperti biasa sampai akhir bulan, bahkan lembur bikin rekaman-rekaman perkuliahan dan tugas-tugas pengganti. Mestinya siy seminggu cukup, tapi dari hitung Soul Meter (SM) saya, kayaknya bakal 2 minggu nggak bisa tatap muka langsung.

Tanggal 1 Oktober, sejak jam 03 dini hari saya wes bangun. Siap-siap dan packing. Jam 05 ke Stasiun Tugu, Jogja untuk kereta pagi jam 06 lewat dengan Sancaka. Jam 11.00 sudah sampai Stasiun Gubeng, Surabaya. Di sini saya jumpa Pak Ode dan berangkat bersama ke Bandara Juanda. Lumayan jalanan agak selow, tapi panasnya kota buaya tetap menyengat. Kami masih sempat ishoma di bandara, sebelum terbang jam 13 WIB ke Kendari dengan Super Air Jet.

Kapal Uki Raya yang membawa kami dari Kendari ke Wakatobi. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Jam 16.30 an WITA sampai Bandara Halu Oleo Kendari. Wes, mulai beresahan karena Pak Erens yang jemput kami nggak datang-datang. Baru setelah 40 an menit Pak Erens datang dengan Gus Jalil. Itu juga gegaranya versi Pak Erens, Pak Ode nelpon baru tadi siang pas di Bandara Juanda, kan mestinya sehari sebelumnya atau lebih lama lagi. Hehe, kami ini bukan tipikal orang-orang yang mau ngerepotin teman. Tapi kalau nggak dikontak pas kami ada di TKP, wah bisa diomelin panjang nanti kalau jumpa lagi.😁😂

Senang sekali saya jumpa Pak Erens yang juga kawan S-3 tapi beberapa tahun di atas saya; rasanya seperti baru kemarin aja kami beribetan urusan disertasi dengan segala intrik dan polemiknya. Sebenarnya kalau diteruskan, bisa saja semalem sepagian kami ngobrol. Jadwal berangkat kapal yang membatasi pertemuan kami, termasuk waktu makan. Karena kalau nunggu ikan segar dibersihin dan dimasak, makan waktu dan bisa-bisa ketinggalan kapal. Untung ada Gus Jalil yang bisa memilihkan tempat makan ikan sudah langsung masak, nggak perlu menunggu. Begitu kami datang, memilih menu, makan, bayar, dan lanjut ke pelabuhan.

Di Pelabuhan Kendari, baru juga kami duduk di warung kopi, suara peluit kapal (cmiiw) sudah bunyi. Jadi terpaksa kami bergegas mendekat kapal. Pak Ode yang masih mengurus tiket kapal, masih nggak tampak batang hidungnya. Gus Jalil memanggil meneriakinya, dan kami bergegas menemuinya. Ooh, rupanya baterai HP Pak Ode hampir drop, jadi nggak bisa ditelpon atau menelepon. Untung Pak Erens awas mata, karena katanya Pak Ode orangnya unik gampang dikenali.

Akhirnya kami berpisah di tangga kapal dan janji akan jumpa lagi ngopi Kendari. Saya dan Pak Ode melanjutkan perjalan nyeberang pakai kapal Uki Raya jam 19.30 an WITA. Kapal besar terasa penuh sesak. Semua bagian terisi orang. Lalu lalang dan berisikan obrolan dengan suara kencang terdengar di mana-mana. Jelas nggak saya mengerti, karena mereka mayoritas bicara dengan bahasa daerah setempat.

Sudah bangun usai Shubuh di dalam kapal. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Pedagang lalu lalang hilir mudik menawarkan aneka dagangan; dari makanan, minuman, buah-buahan, obat-obatan, permen, dll. Pak Ode berulang nanyain saya, sudah cukup bawa air, permen, jajanan, dan obat mabuk laut. Saya ngikik. Air dan permen sudah. Jajanan nggak perlu karena wes kenyang. Obat mabuk laut?

Seingat saya seumur-umur naik perahu atau kapal ya nggak pernah mabuk. Belakangan pas sudah di Jawa itu Pak Ode bilang sangat khawatir kalau saya nggak nyaman naik kapal karena sangat lama. Lha saya mikirnya nyeberang ke Wakatobi itu mung 2 jam, bhadalah 8-9 jam. Ya ampun, terbang ke Jeddah dong saya 😁😂

Wes pokmen kapal itu ramai banget. Dan karena beli tiket last minute, gakbisa milih tempat. Tahu sendiri di bawah ribet ramenya orang lalu lalang dengan suara gedebukan kaki-kaki —yang ampun sampai jauh malam bikin saya belum tidur. Belum suara mesin yang bikin telinga saya nging-nging rada nyeri.

Oh iya, di kapal ini sarpras cukup memadai. Mushola ada, meskipun cukup untuk dua orang saja. Toilet banyak. Ruang terbuka banyak. Tempat-tempat barang memadai. Saya bertanya ke Pak Ode, apa barang-barang aman bergelatakan begitu saja dengan banyak orang yang nggak dikenali. Katanya aman ya sudah, meskipun saya sempat khawatir juga lha laptop dll piranti kerja di situ kalau ilang, biyuuu…. ampun.

Alhamdulillah, akhirnya sampai juga di (Pelabuhan) Wakatobi yang jauh di sana. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Sempat lihat laut di luar, tapi versi saya karena banyak orang merokok, jadi udara terasa sesak. Saya memilih segera balik ke tempat tidur. Mungkin karena sudah lelah, selepas sholat isya (entah jam berapa) saya wes tidur pules. Sempat terbangun sejenak jam 02.30 dini hari, saya njur berdoa saja dan tidur lagi.

Nyenyak betul saya tidur, sampai nggak dengar lagi langkah orang lalu lalang. Saya dibangunin Pak Ode jelang kapal sandar. Katanya kalau sudah dibagi teh, berarti sudah mau sampai. Oh bagus juga dikasih teh panas biar melek. Saya njur bebersih, sholat Shubuh, dan balik lagi ke tempat. Sekitar 05.30 WITA (keesokan harinya) barulah kapal sampai di pelabuhan Wakatobi.

Ya ampun, sekali jalan lebih dari sehari semalam. Jauhnya tempat yang bernama Wakatobi ini. Itu pun baru sampai pelabuhannya. Toh saya berulang mengucap alhamdulillah, sudah menjejak tanah surga ini. Saya wes bisa senyum lebar lagi, karena mungkin sudah cukup tidur; meskipun kalau disuruh tidur lagi, sampai siang pun masih mau😁😂

Oh iya, untuk harga tiket-tiket, Teman-teman silakan cek di marketplace langganan ya. Yang jelas kalau di Kendari mobil online tersedia 24 jam, tapi di Wakatobi nggak ada layanan aplikasi online. Kudu sudah pesan atau ada yang antar jemput ke mana-mana. Selanjutnya akan saya ceritakan apa saja yang saya lakukan dan alami selama trip Wakatobi ini.

Bersambung.
Ari Kinoysan Wulandari

Menyoal Tata Bahasa untuk Penulisan

Jadi Penulis Produktif. Perlu buku cetak wa.me/6281380001149. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Penulis paling ahli pun sesekali membuat kesalahan tata bahasa. Masalahnya, kesalahan kecil ini dapat merusak kredibilitas Anda dan mengganggu aliran pembacaan. Pembaca yang terusik oleh typo dan tata bahasa yang salah akan kesulitan fokus pada ide besar Anda.

Mengedit tata bahasa adalah tentang disiplin. Berikut adalah tujuh kesalahan paling umum dalam penulisan bahasa Indonesia (dan tip praktis untuk menghindarinya).

  1. Penggunaan Preposisi Di dan Ke yang Terpisah dan Bersambung
    Ini mungkin adalah kesalahan tata bahasa yang paling sering terlihat, terutama dalam penulisan online.

Aturan: Preposisi (kata depan) yang menunjukkan tempat atau arah harus dipisah. Imbuhan pembentuk kata kerja pasif harus disambung.

Contoh Salah: Disana (seharusnya di sana), di tempel (seharusnya ditempel).

Cara Menghindari: Jika Anda bisa mengganti kata tersebut dengan “di samping,” pisahkan. Jika tidak bisa, sambung.

di sana (bisa diganti di samping), di kantor (bisa diganti di samping).

ditulis (tidak bisa diganti di samping tulis).

  1. Penulisan Partikel -Pun dan -Per
    Banyak penulis bingung kapan partikel ini harus digabung atau dipisah.

Partikel -Pun: Ditulis terpisah kecuali untuk 12 kata yang sudah baku (misalnya: adapun, meskipun, walaupun, biarpun, ataupun, kalaupun, kendatipun, siapapun, bagaimanapun, sungguhpun, jangankan, dan sekalipun).

Contoh: Anda pun bisa berhasil. (Pun berarti ‘juga’).

Partikel -Per: Partikel per yang berarti “mulai,” “demi,” atau “tiap” harus dipisah.

Contoh: Mereka bertemu per hari Kamis. Harga naik per dua minggu.

  1. Penggunaan Tanda Koma (,) yang Keliru
    Koma adalah jeda penting dalam kalimat; menggunakannya secara berlebihan atau kurang dapat mengacaukan makna.

Fungsi Koma: Memisahkan unsur-unsur dalam pemerincian (Saya suka kopi, teh, dan susu). Memisahkan anak kalimat dari induk kalimat jika anak kalimat mendahului induk kalimat (Karena sakit, ia tidak masuk).

Kesalahan Umum: Meletakkan koma untuk memisahkan subjek dan predikat yang tidak terlalu panjang (Ani, sedang membaca buku – SALAH).

  1. Kesalahan Penggunaan Kata Di dan Adalah Secara Berlebihan
    Beberapa penulis cenderung menggunakan di (sebagai kata kerja pasif) atau adalah secara berlebihan, yang membuat kalimat terasa pasif dan lemah.

Hindari: “Pekerjaan itu adalah untuk membersihkan.”

Perbaiki: “Pekerjaan itu membersihkan.” (Gunakan kata kerja aktif)

  1. Penulisan Huruf Kapital pada Istilah Unik
    Penulis sering tergoda untuk menggunakan huruf kapital pada setiap istilah yang mereka anggap penting.

Aturan: Gunakan huruf kapital hanya untuk nama diri, nama geografis, singkatan resmi, dan awal kalimat. Jangan gunakan huruf kapital untuk istilah umum, bahkan jika itu adalah istilah kunci dalam tulisan Anda.

Contoh Salah: “Kami membahas tentang Karya Tulis Ilmiah.”

Contoh Benar: “Kami membahas tentang karya tulis ilmiah.”

  1. Penggunaan Kata Penghubung Ganda (Double Conjunctions)
    Kesalahan ini terjadi ketika penulis menggunakan dua kata penghubung yang memiliki fungsi serupa dalam satu kalimat, menyebabkan pemborosan kata (redundancy).

Contoh Salah: “Meskipun dia gagal, tetapi dia akan mencoba lagi.”

Perbaiki: Pilih salah satu. “Meskipun dia gagal, dia akan mencoba lagi.” ATAU “Dia gagal, tetapi dia akan mencoba lagi.”

  1. Penggunaan Tanda Hubung (-) untuk Menghubungkan Semua Kata
    Tanda hubung digunakan untuk menghubungkan unsur yang memiliki hubungan erat atau mengulang kata. Penulis sering salah menggunakannya untuk semua gabungan kata.

Gunakan untuk: Kata ulang (berlari-lari), gabungan unsur dengan imbuhan () di-PHK), atau untuk memperjelas makna (ibu-bapak vs ibu bapak).

Hindari: Menggunakan tanda hubung untuk semua gabungan kata yang sudah padu.

Tata bahasa yang benar adalah bentuk penghormatan kepada pembaca Anda. Dengan secara rutin memeriksa tujuh kesalahan umum ini saat mengedit, Anda akan memastikan bahwa tulisan Anda tidak hanya brilian secara ide, tetapi juga bersih, profesional, dan sangat mudah dipahami.

Ari Kinoysan Wulandari

Menulis, Seperti Curhat Tanpa, “Sabar, yaa…!”

Wakatobi, Sulawesi Tenggara. Menulis itu seperti piknik, healing untuk kesehatan mental. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Kamu pernah nggak sih ngerasa kepala lagi penuh banget sama pikiran, hati kayak sesak, tapi bingung mau curhat ke siapa? Kadang kalau cerita ke orang lain, ujung-ujungnya cuma dikasih kalimat klasik: “Sabar ya,” atau “Udah, jangan dipikirin.”. Padahal otak lagi mumet banget, kan? Nah, di titik inilah menulis bisa jadi sahabat terbaik kamu.

Menulis itu bukan cuma soal bikin karya sastra, novel, atau caption Instagram estetik. Lebih dari itu, menulis bisa jadi healing tool alias alat terapi buat kesehatan mental.

Kenapa Menulis Bisa Jadi Terapi? Kayak curhat, tapi aman. Kertas atau layar HP nggak bakal nge-judge kamu. Mau nulis hal receh, marah-marah, atau nangis dalam kata-kata, semuanya bisa. Kamu bebas banget.

Melepas beban pikiran. Kadang isi kepala tuh kayak tabungan yang udah overload. Begitu ditulis, rasanya kayak dipindahin ke luar otak. Lebih plong!

Self-awareness naik level. Dengan nulis, kamu jadi lebih kenal diri sendiri. Apa sih yang bikin kamu sedih, marah, atau bahagia? Dari situ kamu bisa pelan-pelan ngerti cara nge-handle diri.

Jadi memori keeper. Nulis juga bikin kamu inget perjalanan diri sendiri. Kadang baca lagi tulisan lama bikin sadar, “Wah, ternyata aku udah kuat banget ya bisa lewatin masa itu.”

Cara Asik Mulai Menulis Buat Healing: Nggak usah ribet mikir format. Nulis aja kayak lagi curhat sama temen deket. Nggak perlu mikir EYD, tanda baca, apalagi gaya bahasa baku.

Coba journaling. Tulis tiap hari 5–10 menit. Bisa soal apa yang kamu rasain hari itu, hal-hal kecil yang bikin kamu bersyukur, atau sekadar keluhan receh.

Bikin “surat tak terkirim”. Pernah pengen ngomong sesuatu ke orang tapi nggak bisa? Tulis aja surat buat dia (meski nggak dikirim). Trust me, rasanya lega banget.

Gunain HP atau buku. Kamu tim ngetik di notes HP atau tim nulis tangan di buku? Dua-duanya oke, pilih aja yang bikin nyaman.

Efek positif nulis buat kesehatan mental: Tidur bisa lebih nyenyak karena isi kepala udah “dituangin” sebelum tidur.

Stress bisa turun karena kamu punya outlet buat buang energi negatif. Rasa percaya diri bisa naik, soalnya kamu jadi terbiasa jujur sama diri sendiri.

Jadi, kalau kamu lagi ngerasa hidup berat, jangan buru-buru nyalahin diri atau mikirin omongan orang. Coba deh ambil pena atau buka notes di HP, terus tulis semua yang numpuk di pikiran.

Anggep aja menulis itu kayak “spa buat otak” atau piknik untuk healing kesehatan mental. Menulis itu murah meriah, gampang, tapi efeknya bisa bikin jiwa kamu lebih sehat. Karena kadang, yang kita butuhin bukan kata “sabar”, tapi ruang buat cerita. Dan menulis bisa jadi ruang kita cerita tanpa harus melibatkan orang lain.

Ari Kinoysan Wulandari

Mempersiapkan Dana untuk Pendidikan Tinggi

Wisuda doktor, GSP, UGM. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Pendidikan itu penting banget, gengs. Apalagi kalau udah ngomongin kuliah S-1, lanjut S-2, bahkan S-3. Tapi jujur aja, biaya kuliah sekarang nggak murah. Dari uang pangkal, UKT (Uang Kuliah Tunggal), biaya hidup, sampai print tugas tebel-tebel; semuanya butuh duit. Nah, biar nggak kaget pas waktunya tiba, kita perlu strategi buat nyiapin dana pendidikan tinggi. Yuk, kita bahas tuntas.

Kenapa dana pendidikan harus dipersiapin dari awal? Ya, bayangin deh, biaya kuliah tiap tahun itu naik kayak harga cabe waktu lebaran. Kalau kita nggak punya perencanaan, bisa-bisa stress duluan sebelum sidang skripsi. Nyiapin dana pendidikan dari awal bikin kita lebih tenang, nggak gampang panik, dan yang paling penting: masa depan pendidikan nggak ketunda gara-gara masalah finansial.

Berikut ini ada tips persiapan untuk dana pendidikan tinggi, yang boleh kamu coba.

Pertama, mulai nabung sejak dini. Jangan nunggu “nanti kalau ada rezeki lebih” baru nabung. Percaya deh, kalau nunggu lebih, ujung-ujungnya malah abis buat jajan atau nongkrong.

Mulailah dari kecil; misalnya tiap bulan sisihin 10% dari gaji/uang jajan khusus buat tabungan pendidikan. Kalau konsisten, lama-lama jadi bukit.

Kedua, bedain pabungan pendidikan sama tabungan jajan. Ini penting banget. Jangan campur aduk antara tabungan buat beli sneakers baru sama tabungan buat biaya kuliah.

Bikin rekening terpisah atau pakai aplikasi keuangan biar lebih gampang tracking. Jadi, dana pendidikan aman dari godaan impulsif.

Ketiga, investasi yang ringan-ringan. Kalau mau lebih serius, coba belajar investasi. Nggak perlu langsung ke saham yang ribet, bisa mulai dari reksa dana atau deposito. Return-nya lumayan buat ngimbangin inflasi biaya pendidikan. Tapi inget, jangan asal ikut-ikutan. Pelajari dulu risikonya biar nggak nyesel.

Keempat, cari info beasiswa. Siapa bilang semua biaya kuliah harus ditanggung sendiri? Banyak kok beasiswa dari kampus, pemerintah, bahkan swasta. Mulai dari beasiswa prestasi, penelitian, sampai beasiswa khusus bidang tertentu. Jadi, sambil nyiapin dana, jangan males riset peluang beasiswa.

Kelima, jangan malu kerja sampingan. Buat yang udah S-1 atau lanjut S-2/S-3, kerja sampingan bisa jadi solusi. Misalnya freelance desain, ngajar les, jadi content creator, atau jualan online. Lumayan banget buat nambahin dana pendidikan tanpa ngerepotin orang tua.

Keenam, diskusiin bareng keluarga. Klau kamu masih di tahap rencana, jangan sungkan ngobrol sama keluarga. Bisa aja ada dukungan finansial atau ide dari mereka. Ingat, pendidikan itu investasi keluarga juga, jadi ngobrolin dari awal bikin lebih ringan.

Ketujuh, potong pengeluaran nggak penting. Ngopi cantik tiap hari? Scroll marketplace terus checkout barang nggak urgent? Coba tahan dulu. Alihin sebagian budget gaya hidup ke tabungan pendidikan. Bukan berarti anti jajan, tapi belajar prioritas.

Kedelapan, manfaatkan teknologi. Sekarang banyak aplikasi finansial yang bisa bantu atur duit, bahkan ada fitur khusus nabung buat pendidikan. Gunain fitur auto-debet biar nggak ada alasan lupa nabung tiap bulan.

Nah, kamu bisa memulai program siap-siap dana pendidikan dengan mengetahui tingkat pendidikan yang ingin kamu tempuh. Mari kita cek. S-1, S-2, atau S-3: itu bedanya apa?

  • S-1: Biaya kuliah biasanya masih bisa dicari part-time, tapi tetep butuh persiapan, apalagi kalau ngekos.
  • S-2: Lebih mahal, tapi biasanya waktunya lebih singkat. Beasiswa S-2 banyak banget, jadi jangan males apply.
  • S-3: Ini level dewa, gengs. Biayanya tinggi banget, tapi banyak juga sponsor dari kampus luar negeri. Kalau minat, persiapannya harus lebih matang dan panjang.

Jadi, boleh dibilang nyiapin dana pendidikan itu kayak nge-build karakter di game. Kalau kamu konsisten nabung, pintar atur duit, dan rajin cari peluang (beasiswa atau kerja sampingan), jalan menuju S-1, S-2, bahkan S-3 bakal lebih mulus. Ingat, pendidikan itu bukan sekadar gelar, tapi investasi jangka panjang buat masa depan.

Dan, jangan tunggu besok untuk siap-siap. Mulai hari ini juga. Karena masa depan kamu nggak bisa nunggu saldo rekening penuh dulu baru dijalanin.

Ari Kinoysan Wulandari

Dana Pensiun untuk Freelancer, Pentingkah?

Kutai Kartanegara. Fleksibilitas waktu adalah salah satu keunggulan jadi freelancer. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Kalau ngomongin pensiun, kebanyakan orang langsung mikirnya pegawai kantoran yang tiap bulan dipotong BPJS atau punya dana pensiun dari perusahaan. Tapi gimana kabar para freelancer? Yup, kamu yang kerjanya bebas, bisa di mana aja, jam kerja fleksibel, tapi… nggak ada jaminan pensiun dari kantor.

Pertanyaannya: “Freelancer butuh dana pensiun nggak sih?” Jawabannya: WAJIB BANGET! Karena kalau bukan kamu yang nyiapin, siapa lagi?

Kenapa freelancer harus nyiapin dana pensiun?

Pertama, nggak ada jatah pensiun dari kantor. Karyawan kantor biasanya masih ada pesangon atau tunjangan pensiun. Freelancer? Nggak ada. Duit masuk ya tergantung proyek. Jadi, harus bikin “kantor versi pribadi” yang nyiapin masa depan.

Kedua, pendapatan nggak stabil. Freelancer itu kayak roller coaster: bulan ini bisa banyak proyek, bulan depan bisa sepi. Kalau dari sekarang nggak disiplin nabung, bisa-bisa masa tua malah pusing mikirin dapur.

Ketiga, hidup terus jalan, umur nggak bisa bohong. Sekuat apapun kamu sekarang ngerjain desain, nulis, coding, atau project lain, suatu hari tenaga bakal berkurang. Nah, di situlah dana pensiun jadi penyelamat.

Berikut ini tips menyiapkan dana pensiun ala freelancer.

Paling basic tapi penting, jangan campur aduk duit kerjaan sama duit buat hidup sehari-hari. Bikin rekening khusus “dana pensiun” biar lebih aman dari godaan belanja impulsif.

Terapkan sistem “Bayar Diri Sendiri Dulu”. Begitu ada uang masuk dari klien, langsung sisihin minimal 10–20% buat tabungan pensiun. Jangan tunggu sisa, karena kalau nunggu sisa biasanya habis duluan.

Belajar investasi. Tabungan doang nggak cukup, gengs. Inflasi bisa bikin nilai duit makin kecil. Coba alihin sebagian ke instrumen investasi: reksa dana, emas, atau saham blue chip. Nggak perlu sok jago, mulai kecil-kecilan dulu sambil belajar.

Ikut program pensiun mandiri. Sekarang ada banyak pilihan kayak DPLK (Dana Pensiun Lembaga Keuangan) atau bahkan BPJS Ketenagakerjaan yang bisa diikuti freelancer. Jadi walau nggak kerja kantoran, kamu tetap punya tabungan hari tua yang resmi.

Cari passive income. Selain dari project, coba pikirin cara bikin duit ngalir tanpa harus kerja tiap hari. Bisa dari bikin kelas online, jual template desain, bikin e-book, atau bahkan kontrakan kos-kosan kalau modal ada. Passive income = tabungan pensiun berjalan.

Jangan lupa asuransi. Pensiun nggak cuma soal duit tabungan, tapi juga jaga-jaga kesehatan. Bayar rumah sakit tanpa asuransi bisa bikin tabungan pensiun ludes. Jadi, masukin asuransi kesehatan ke dalam rencana.

Tentuin target pensiun. Bayangin gaya hidup yang kamu mau pas pensiun. Mau hidup tenang di kampung dengan kebun, atau pensiun tetap di kota dengan nongkrong tiap minggu? Dari situ bisa ketahuan berapa besar dana yang harus dikumpulin.

Misal kamu pengen punya dana pensiun Rp1 miliar buat hidup nyaman di umur 60. Kalau kamu mulai nabung/investasi dari umur 30, berarti ada waktu 30 tahun. Dengan nabung rata-rata Rp2-3 juta per bulan (tergantung instrumen investasi), target itu bisa tercapai. Kuncinya: konsisten.

Intinya… jangan karena status freelancer bikin kamu cuek soal pensiun. Justru karena penghasilan nggak stabil, perencanaan pensiun harus lebih rapih daripada pegawai kantor. Anggap aja kamu punya “perusahaan pribadi”, dan kamu sendiri yang harus mikirin masa depan “karyawan utama”: yaitu diri kamu sendiri.

Jadi, mulai sekarang jangan cuma mikirin deadline project, tapi juga deadline masa depan. Karena pensiun nyaman itu bukan buat orang kaya doang, tapi buat siapa aja yang mau disiplin nyiapin dari sekarang.

Ari Kinoysan Wulandari

Biaya Piknik, Pemborosan atau Investasi?

Raja Ampat. Makin jauh piknikmu, makin banyak biaya yang diperlukan. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Piknik alias jalan-jalan udah jadi kebutuhan banyak orang zaman sekarang. Tapi, nggak jarang muncul dilema: kalau kita keluar duit buat liburan, itu masuk kategori pemborosan atau justru investasi?

Bayangin deh, kamu kerja seminggu penuh, penuh deadline, ketemu orang-orang yang bikin kepala panas, atau urusan rumah tangga yang nggak ada habisnya. Pas weekend datang, pengen healing, tapi langsung kepikiran, “Duh, duitnya abis dong kalau buat piknik.”

Nah, pertanyaan besar pun muncul: sebenernya piknik itu buang duit atau justru bikin hidup lebih valuable?

Banyak orang nganggep piknik cuma sekadar buang-buang duit: ongkos transport, tiket masuk, makan, sampai belanja oleh-oleh. Padahal, esensi piknik bukan cuma soal tempat, tapi juga soal nge-refresh diri. Sama kayak gadget, otak kita juga butuh di-charge. Jadi, biaya piknik itu bisa dilihat sebagai service fee buat diri sendiri.

Kalau ngomongin investasi, orang biasanya mikir saham, emas, atau properti. Padahal, investasi paling mahal tuh justru kesehatan mental. Stres yang nggak diolah bisa bikin produktivitas jeblok, mood amburadul, bahkan kesehatan fisik juga kena. Piknik bisa jadi bentuk self-care: keluar sebentar dari rutinitas, nyerap energi baru, dan balik lagi dengan pikiran lebih segar.

Kalau pikniknya bareng keluarga, pasangan, atau sahabat, ada nilai plus yang nggak bisa diukur dengan angka. Ada tawa, obrolan ringan, sampai momen konyol yang bakal jadi cerita bertahun-tahun ke depan. Uang bisa dicari lagi, tapi waktu kebersamaan nggak bisa diulang kayak tombol replay. Jadi, biaya piknik sebenarnya bisa jadi “harga” untuk kenangan.

Sering nggak sih, pas piknik ke tempat baru, kita jadi belajar sesuatu yang nggak ada di buku? Entah itu budaya lokal, makanan khas, atau bahkan sekadar ngobrol sama orang baru. Itu semua masuk kategori investasi pengalaman. Ingat ya, pengalaman nggak pernah basi.

Nah, biar piknik beneran jadi investasi, bukan boros, kita harus tahu batasnya. Kalau piknik cuma buat gaya-gayaan di Instagram, ya jelas jatohnya pemborosan. Tapi kalau niatnya buat recharge, nambah ilmu, atau bonding bareng orang tersayang, jelas itu investasi.

Nah, biar makin mantap, ada beberapa trik biar piknik tetep seru tanpa bikin saldo e-wallet nangis:

Pertama, pilih destinasi sesuai kantong. Healing nggak harus ke luar negeri. Indonesia punya banyak hidden gem murah meriah tapi vibes-nya juara. Pantai lokal, gunung deket kota, atau taman kota juga bisa jadi tempat piknik hemat tapi asik.

Kedua, manfaatkan promo dan diskon. Sekarang banyak banget aplikasi travel atau transportasi yang kasih promo tiket. Jangan gengsi jadi pemburu diskon, karena ini cara paling gampang hemat budget.

Ketiga, bawa bekal sendiri kalau memungkinkan. Selain lebih irit, bawa bekal juga bikin suasana piknik makin seru. Bisa sambil lesehan bareng, ala-ala piknik di film.

Keempat, jangan terjebak beli oleh-oleh. Hal ini sering jadi biang kerok kantong jebol. Beli secukupnya aja buat orang terdekat. Ingat, piknik itu buat kamu, bukan buat “pamer” ke orang lain.

Kelima, traveling bareng-bareng atau piknik rame-rame itu lebih hemat karena bisa patungan biaya transport, sewa villa, atau makanan. Bonusnya, lebih rame, lebih seru!

Keenam, fokus ke pengalaman, bukan gengsi. Healing nggak harus di tempat fancy. Yang penting suasana hati, bukan seberapa mahal destinasi. Kadang sunset di bukit kecil deket rumah bisa lebih bahagia daripada kafe hits yang mahal.

Jadi, piknik itu pemborosan atau investasi?Jawabannya tergantung cara kamu memandangnya. Kalau cuma buat pamer, ya jatohnya boros. Tapi kalau niatnya buat recharge energi, nambah pengalaman, memperkuat hubungan, dan menjaga kewarasan, jelas piknik itu investasi berharga.

Ingat, hidup bukan cuma tentang kerja, tabungan, atau tagihan. Kadang kita butuh berhenti sejenak, tarik napas, dan nikmatin momen. Jadi, lain kali ada yang bilang, “Ngapain piknik, buang-buang duit. Bikin boros aja,” kamu bisa senyum sambil jawab, “Boros? Nggak dong, ini investasi buat hidup gue!”

Ari Kinoysan Wulandari