Menyoal Tata Bahasa untuk Penulisan

Jadi Penulis Produktif. Perlu buku cetak wa.me/6281380001149. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Penulis paling ahli pun sesekali membuat kesalahan tata bahasa. Masalahnya, kesalahan kecil ini dapat merusak kredibilitas Anda dan mengganggu aliran pembacaan. Pembaca yang terusik oleh typo dan tata bahasa yang salah akan kesulitan fokus pada ide besar Anda.

Mengedit tata bahasa adalah tentang disiplin. Berikut adalah tujuh kesalahan paling umum dalam penulisan bahasa Indonesia (dan tip praktis untuk menghindarinya).

  1. Penggunaan Preposisi Di dan Ke yang Terpisah dan Bersambung
    Ini mungkin adalah kesalahan tata bahasa yang paling sering terlihat, terutama dalam penulisan online.

Aturan: Preposisi (kata depan) yang menunjukkan tempat atau arah harus dipisah. Imbuhan pembentuk kata kerja pasif harus disambung.

Contoh Salah: Disana (seharusnya di sana), di tempel (seharusnya ditempel).

Cara Menghindari: Jika Anda bisa mengganti kata tersebut dengan “di samping,” pisahkan. Jika tidak bisa, sambung.

di sana (bisa diganti di samping), di kantor (bisa diganti di samping).

ditulis (tidak bisa diganti di samping tulis).

  1. Penulisan Partikel -Pun dan -Per
    Banyak penulis bingung kapan partikel ini harus digabung atau dipisah.

Partikel -Pun: Ditulis terpisah kecuali untuk 12 kata yang sudah baku (misalnya: adapun, meskipun, walaupun, biarpun, ataupun, kalaupun, kendatipun, siapapun, bagaimanapun, sungguhpun, jangankan, dan sekalipun).

Contoh: Anda pun bisa berhasil. (Pun berarti ‘juga’).

Partikel -Per: Partikel per yang berarti “mulai,” “demi,” atau “tiap” harus dipisah.

Contoh: Mereka bertemu per hari Kamis. Harga naik per dua minggu.

  1. Penggunaan Tanda Koma (,) yang Keliru
    Koma adalah jeda penting dalam kalimat; menggunakannya secara berlebihan atau kurang dapat mengacaukan makna.

Fungsi Koma: Memisahkan unsur-unsur dalam pemerincian (Saya suka kopi, teh, dan susu). Memisahkan anak kalimat dari induk kalimat jika anak kalimat mendahului induk kalimat (Karena sakit, ia tidak masuk).

Kesalahan Umum: Meletakkan koma untuk memisahkan subjek dan predikat yang tidak terlalu panjang (Ani, sedang membaca buku – SALAH).

  1. Kesalahan Penggunaan Kata Di dan Adalah Secara Berlebihan
    Beberapa penulis cenderung menggunakan di (sebagai kata kerja pasif) atau adalah secara berlebihan, yang membuat kalimat terasa pasif dan lemah.

Hindari: “Pekerjaan itu adalah untuk membersihkan.”

Perbaiki: “Pekerjaan itu membersihkan.” (Gunakan kata kerja aktif)

  1. Penulisan Huruf Kapital pada Istilah Unik
    Penulis sering tergoda untuk menggunakan huruf kapital pada setiap istilah yang mereka anggap penting.

Aturan: Gunakan huruf kapital hanya untuk nama diri, nama geografis, singkatan resmi, dan awal kalimat. Jangan gunakan huruf kapital untuk istilah umum, bahkan jika itu adalah istilah kunci dalam tulisan Anda.

Contoh Salah: “Kami membahas tentang Karya Tulis Ilmiah.”

Contoh Benar: “Kami membahas tentang karya tulis ilmiah.”

  1. Penggunaan Kata Penghubung Ganda (Double Conjunctions)
    Kesalahan ini terjadi ketika penulis menggunakan dua kata penghubung yang memiliki fungsi serupa dalam satu kalimat, menyebabkan pemborosan kata (redundancy).

Contoh Salah: “Meskipun dia gagal, tetapi dia akan mencoba lagi.”

Perbaiki: Pilih salah satu. “Meskipun dia gagal, dia akan mencoba lagi.” ATAU “Dia gagal, tetapi dia akan mencoba lagi.”

  1. Penggunaan Tanda Hubung (-) untuk Menghubungkan Semua Kata
    Tanda hubung digunakan untuk menghubungkan unsur yang memiliki hubungan erat atau mengulang kata. Penulis sering salah menggunakannya untuk semua gabungan kata.

Gunakan untuk: Kata ulang (berlari-lari), gabungan unsur dengan imbuhan () di-PHK), atau untuk memperjelas makna (ibu-bapak vs ibu bapak).

Hindari: Menggunakan tanda hubung untuk semua gabungan kata yang sudah padu.

Tata bahasa yang benar adalah bentuk penghormatan kepada pembaca Anda. Dengan secara rutin memeriksa tujuh kesalahan umum ini saat mengedit, Anda akan memastikan bahwa tulisan Anda tidak hanya brilian secara ide, tetapi juga bersih, profesional, dan sangat mudah dipahami.

Ari Kinoysan Wulandari

Menulis, Seperti Curhat Tanpa, “Sabar, yaa…!”

Wakatobi, Sulawesi Tenggara. Menulis itu seperti piknik, healing untuk kesehatan mental. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Kamu pernah nggak sih ngerasa kepala lagi penuh banget sama pikiran, hati kayak sesak, tapi bingung mau curhat ke siapa? Kadang kalau cerita ke orang lain, ujung-ujungnya cuma dikasih kalimat klasik: “Sabar ya,” atau “Udah, jangan dipikirin.”. Padahal otak lagi mumet banget, kan? Nah, di titik inilah menulis bisa jadi sahabat terbaik kamu.

Menulis itu bukan cuma soal bikin karya sastra, novel, atau caption Instagram estetik. Lebih dari itu, menulis bisa jadi healing tool alias alat terapi buat kesehatan mental.

Kenapa Menulis Bisa Jadi Terapi? Kayak curhat, tapi aman. Kertas atau layar HP nggak bakal nge-judge kamu. Mau nulis hal receh, marah-marah, atau nangis dalam kata-kata, semuanya bisa. Kamu bebas banget.

Melepas beban pikiran. Kadang isi kepala tuh kayak tabungan yang udah overload. Begitu ditulis, rasanya kayak dipindahin ke luar otak. Lebih plong!

Self-awareness naik level. Dengan nulis, kamu jadi lebih kenal diri sendiri. Apa sih yang bikin kamu sedih, marah, atau bahagia? Dari situ kamu bisa pelan-pelan ngerti cara nge-handle diri.

Jadi memori keeper. Nulis juga bikin kamu inget perjalanan diri sendiri. Kadang baca lagi tulisan lama bikin sadar, “Wah, ternyata aku udah kuat banget ya bisa lewatin masa itu.”

Cara Asik Mulai Menulis Buat Healing: Nggak usah ribet mikir format. Nulis aja kayak lagi curhat sama temen deket. Nggak perlu mikir EYD, tanda baca, apalagi gaya bahasa baku.

Coba journaling. Tulis tiap hari 5–10 menit. Bisa soal apa yang kamu rasain hari itu, hal-hal kecil yang bikin kamu bersyukur, atau sekadar keluhan receh.

Bikin “surat tak terkirim”. Pernah pengen ngomong sesuatu ke orang tapi nggak bisa? Tulis aja surat buat dia (meski nggak dikirim). Trust me, rasanya lega banget.

Gunain HP atau buku. Kamu tim ngetik di notes HP atau tim nulis tangan di buku? Dua-duanya oke, pilih aja yang bikin nyaman.

Efek positif nulis buat kesehatan mental: Tidur bisa lebih nyenyak karena isi kepala udah “dituangin” sebelum tidur.

Stress bisa turun karena kamu punya outlet buat buang energi negatif. Rasa percaya diri bisa naik, soalnya kamu jadi terbiasa jujur sama diri sendiri.

Jadi, kalau kamu lagi ngerasa hidup berat, jangan buru-buru nyalahin diri atau mikirin omongan orang. Coba deh ambil pena atau buka notes di HP, terus tulis semua yang numpuk di pikiran.

Anggep aja menulis itu kayak “spa buat otak” atau piknik untuk healing kesehatan mental. Menulis itu murah meriah, gampang, tapi efeknya bisa bikin jiwa kamu lebih sehat. Karena kadang, yang kita butuhin bukan kata “sabar”, tapi ruang buat cerita. Dan menulis bisa jadi ruang kita cerita tanpa harus melibatkan orang lain.

Ari Kinoysan Wulandari

Mempersiapkan Dana untuk Pendidikan Tinggi

Wisuda doktor, GSP, UGM. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Pendidikan itu penting banget, gengs. Apalagi kalau udah ngomongin kuliah S-1, lanjut S-2, bahkan S-3. Tapi jujur aja, biaya kuliah sekarang nggak murah. Dari uang pangkal, UKT (Uang Kuliah Tunggal), biaya hidup, sampai print tugas tebel-tebel; semuanya butuh duit. Nah, biar nggak kaget pas waktunya tiba, kita perlu strategi buat nyiapin dana pendidikan tinggi. Yuk, kita bahas tuntas.

Kenapa dana pendidikan harus dipersiapin dari awal? Ya, bayangin deh, biaya kuliah tiap tahun itu naik kayak harga cabe waktu lebaran. Kalau kita nggak punya perencanaan, bisa-bisa stress duluan sebelum sidang skripsi. Nyiapin dana pendidikan dari awal bikin kita lebih tenang, nggak gampang panik, dan yang paling penting: masa depan pendidikan nggak ketunda gara-gara masalah finansial.

Berikut ini ada tips persiapan untuk dana pendidikan tinggi, yang boleh kamu coba.

Pertama, mulai nabung sejak dini. Jangan nunggu “nanti kalau ada rezeki lebih” baru nabung. Percaya deh, kalau nunggu lebih, ujung-ujungnya malah abis buat jajan atau nongkrong.

Mulailah dari kecil; misalnya tiap bulan sisihin 10% dari gaji/uang jajan khusus buat tabungan pendidikan. Kalau konsisten, lama-lama jadi bukit.

Kedua, bedain pabungan pendidikan sama tabungan jajan. Ini penting banget. Jangan campur aduk antara tabungan buat beli sneakers baru sama tabungan buat biaya kuliah.

Bikin rekening terpisah atau pakai aplikasi keuangan biar lebih gampang tracking. Jadi, dana pendidikan aman dari godaan impulsif.

Ketiga, investasi yang ringan-ringan. Kalau mau lebih serius, coba belajar investasi. Nggak perlu langsung ke saham yang ribet, bisa mulai dari reksa dana atau deposito. Return-nya lumayan buat ngimbangin inflasi biaya pendidikan. Tapi inget, jangan asal ikut-ikutan. Pelajari dulu risikonya biar nggak nyesel.

Keempat, cari info beasiswa. Siapa bilang semua biaya kuliah harus ditanggung sendiri? Banyak kok beasiswa dari kampus, pemerintah, bahkan swasta. Mulai dari beasiswa prestasi, penelitian, sampai beasiswa khusus bidang tertentu. Jadi, sambil nyiapin dana, jangan males riset peluang beasiswa.

Kelima, jangan malu kerja sampingan. Buat yang udah S-1 atau lanjut S-2/S-3, kerja sampingan bisa jadi solusi. Misalnya freelance desain, ngajar les, jadi content creator, atau jualan online. Lumayan banget buat nambahin dana pendidikan tanpa ngerepotin orang tua.

Keenam, diskusiin bareng keluarga. Klau kamu masih di tahap rencana, jangan sungkan ngobrol sama keluarga. Bisa aja ada dukungan finansial atau ide dari mereka. Ingat, pendidikan itu investasi keluarga juga, jadi ngobrolin dari awal bikin lebih ringan.

Ketujuh, potong pengeluaran nggak penting. Ngopi cantik tiap hari? Scroll marketplace terus checkout barang nggak urgent? Coba tahan dulu. Alihin sebagian budget gaya hidup ke tabungan pendidikan. Bukan berarti anti jajan, tapi belajar prioritas.

Kedelapan, manfaatkan teknologi. Sekarang banyak aplikasi finansial yang bisa bantu atur duit, bahkan ada fitur khusus nabung buat pendidikan. Gunain fitur auto-debet biar nggak ada alasan lupa nabung tiap bulan.

Nah, kamu bisa memulai program siap-siap dana pendidikan dengan mengetahui tingkat pendidikan yang ingin kamu tempuh. Mari kita cek. S-1, S-2, atau S-3: itu bedanya apa?

  • S-1: Biaya kuliah biasanya masih bisa dicari part-time, tapi tetep butuh persiapan, apalagi kalau ngekos.
  • S-2: Lebih mahal, tapi biasanya waktunya lebih singkat. Beasiswa S-2 banyak banget, jadi jangan males apply.
  • S-3: Ini level dewa, gengs. Biayanya tinggi banget, tapi banyak juga sponsor dari kampus luar negeri. Kalau minat, persiapannya harus lebih matang dan panjang.

Jadi, boleh dibilang nyiapin dana pendidikan itu kayak nge-build karakter di game. Kalau kamu konsisten nabung, pintar atur duit, dan rajin cari peluang (beasiswa atau kerja sampingan), jalan menuju S-1, S-2, bahkan S-3 bakal lebih mulus. Ingat, pendidikan itu bukan sekadar gelar, tapi investasi jangka panjang buat masa depan.

Dan, jangan tunggu besok untuk siap-siap. Mulai hari ini juga. Karena masa depan kamu nggak bisa nunggu saldo rekening penuh dulu baru dijalanin.

Ari Kinoysan Wulandari

Dana Pensiun untuk Freelancer, Pentingkah?

Kutai Kartanegara. Fleksibilitas waktu adalah salah satu keunggulan jadi freelancer. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Kalau ngomongin pensiun, kebanyakan orang langsung mikirnya pegawai kantoran yang tiap bulan dipotong BPJS atau punya dana pensiun dari perusahaan. Tapi gimana kabar para freelancer? Yup, kamu yang kerjanya bebas, bisa di mana aja, jam kerja fleksibel, tapi… nggak ada jaminan pensiun dari kantor.

Pertanyaannya: “Freelancer butuh dana pensiun nggak sih?” Jawabannya: WAJIB BANGET! Karena kalau bukan kamu yang nyiapin, siapa lagi?

Kenapa freelancer harus nyiapin dana pensiun?

Pertama, nggak ada jatah pensiun dari kantor. Karyawan kantor biasanya masih ada pesangon atau tunjangan pensiun. Freelancer? Nggak ada. Duit masuk ya tergantung proyek. Jadi, harus bikin “kantor versi pribadi” yang nyiapin masa depan.

Kedua, pendapatan nggak stabil. Freelancer itu kayak roller coaster: bulan ini bisa banyak proyek, bulan depan bisa sepi. Kalau dari sekarang nggak disiplin nabung, bisa-bisa masa tua malah pusing mikirin dapur.

Ketiga, hidup terus jalan, umur nggak bisa bohong. Sekuat apapun kamu sekarang ngerjain desain, nulis, coding, atau project lain, suatu hari tenaga bakal berkurang. Nah, di situlah dana pensiun jadi penyelamat.

Berikut ini tips menyiapkan dana pensiun ala freelancer.

Paling basic tapi penting, jangan campur aduk duit kerjaan sama duit buat hidup sehari-hari. Bikin rekening khusus “dana pensiun” biar lebih aman dari godaan belanja impulsif.

Terapkan sistem “Bayar Diri Sendiri Dulu”. Begitu ada uang masuk dari klien, langsung sisihin minimal 10–20% buat tabungan pensiun. Jangan tunggu sisa, karena kalau nunggu sisa biasanya habis duluan.

Belajar investasi. Tabungan doang nggak cukup, gengs. Inflasi bisa bikin nilai duit makin kecil. Coba alihin sebagian ke instrumen investasi: reksa dana, emas, atau saham blue chip. Nggak perlu sok jago, mulai kecil-kecilan dulu sambil belajar.

Ikut program pensiun mandiri. Sekarang ada banyak pilihan kayak DPLK (Dana Pensiun Lembaga Keuangan) atau bahkan BPJS Ketenagakerjaan yang bisa diikuti freelancer. Jadi walau nggak kerja kantoran, kamu tetap punya tabungan hari tua yang resmi.

Cari passive income. Selain dari project, coba pikirin cara bikin duit ngalir tanpa harus kerja tiap hari. Bisa dari bikin kelas online, jual template desain, bikin e-book, atau bahkan kontrakan kos-kosan kalau modal ada. Passive income = tabungan pensiun berjalan.

Jangan lupa asuransi. Pensiun nggak cuma soal duit tabungan, tapi juga jaga-jaga kesehatan. Bayar rumah sakit tanpa asuransi bisa bikin tabungan pensiun ludes. Jadi, masukin asuransi kesehatan ke dalam rencana.

Tentuin target pensiun. Bayangin gaya hidup yang kamu mau pas pensiun. Mau hidup tenang di kampung dengan kebun, atau pensiun tetap di kota dengan nongkrong tiap minggu? Dari situ bisa ketahuan berapa besar dana yang harus dikumpulin.

Misal kamu pengen punya dana pensiun Rp1 miliar buat hidup nyaman di umur 60. Kalau kamu mulai nabung/investasi dari umur 30, berarti ada waktu 30 tahun. Dengan nabung rata-rata Rp2-3 juta per bulan (tergantung instrumen investasi), target itu bisa tercapai. Kuncinya: konsisten.

Intinya… jangan karena status freelancer bikin kamu cuek soal pensiun. Justru karena penghasilan nggak stabil, perencanaan pensiun harus lebih rapih daripada pegawai kantor. Anggap aja kamu punya “perusahaan pribadi”, dan kamu sendiri yang harus mikirin masa depan “karyawan utama”: yaitu diri kamu sendiri.

Jadi, mulai sekarang jangan cuma mikirin deadline project, tapi juga deadline masa depan. Karena pensiun nyaman itu bukan buat orang kaya doang, tapi buat siapa aja yang mau disiplin nyiapin dari sekarang.

Ari Kinoysan Wulandari

Biaya Piknik, Pemborosan atau Investasi?

Raja Ampat. Makin jauh piknikmu, makin banyak biaya yang diperlukan. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Piknik alias jalan-jalan udah jadi kebutuhan banyak orang zaman sekarang. Tapi, nggak jarang muncul dilema: kalau kita keluar duit buat liburan, itu masuk kategori pemborosan atau justru investasi?

Bayangin deh, kamu kerja seminggu penuh, penuh deadline, ketemu orang-orang yang bikin kepala panas, atau urusan rumah tangga yang nggak ada habisnya. Pas weekend datang, pengen healing, tapi langsung kepikiran, “Duh, duitnya abis dong kalau buat piknik.”

Nah, pertanyaan besar pun muncul: sebenernya piknik itu buang duit atau justru bikin hidup lebih valuable?

Banyak orang nganggep piknik cuma sekadar buang-buang duit: ongkos transport, tiket masuk, makan, sampai belanja oleh-oleh. Padahal, esensi piknik bukan cuma soal tempat, tapi juga soal nge-refresh diri. Sama kayak gadget, otak kita juga butuh di-charge. Jadi, biaya piknik itu bisa dilihat sebagai service fee buat diri sendiri.

Kalau ngomongin investasi, orang biasanya mikir saham, emas, atau properti. Padahal, investasi paling mahal tuh justru kesehatan mental. Stres yang nggak diolah bisa bikin produktivitas jeblok, mood amburadul, bahkan kesehatan fisik juga kena. Piknik bisa jadi bentuk self-care: keluar sebentar dari rutinitas, nyerap energi baru, dan balik lagi dengan pikiran lebih segar.

Kalau pikniknya bareng keluarga, pasangan, atau sahabat, ada nilai plus yang nggak bisa diukur dengan angka. Ada tawa, obrolan ringan, sampai momen konyol yang bakal jadi cerita bertahun-tahun ke depan. Uang bisa dicari lagi, tapi waktu kebersamaan nggak bisa diulang kayak tombol replay. Jadi, biaya piknik sebenarnya bisa jadi “harga” untuk kenangan.

Sering nggak sih, pas piknik ke tempat baru, kita jadi belajar sesuatu yang nggak ada di buku? Entah itu budaya lokal, makanan khas, atau bahkan sekadar ngobrol sama orang baru. Itu semua masuk kategori investasi pengalaman. Ingat ya, pengalaman nggak pernah basi.

Nah, biar piknik beneran jadi investasi, bukan boros, kita harus tahu batasnya. Kalau piknik cuma buat gaya-gayaan di Instagram, ya jelas jatohnya pemborosan. Tapi kalau niatnya buat recharge, nambah ilmu, atau bonding bareng orang tersayang, jelas itu investasi.

Nah, biar makin mantap, ada beberapa trik biar piknik tetep seru tanpa bikin saldo e-wallet nangis:

Pertama, pilih destinasi sesuai kantong. Healing nggak harus ke luar negeri. Indonesia punya banyak hidden gem murah meriah tapi vibes-nya juara. Pantai lokal, gunung deket kota, atau taman kota juga bisa jadi tempat piknik hemat tapi asik.

Kedua, manfaatkan promo dan diskon. Sekarang banyak banget aplikasi travel atau transportasi yang kasih promo tiket. Jangan gengsi jadi pemburu diskon, karena ini cara paling gampang hemat budget.

Ketiga, bawa bekal sendiri kalau memungkinkan. Selain lebih irit, bawa bekal juga bikin suasana piknik makin seru. Bisa sambil lesehan bareng, ala-ala piknik di film.

Keempat, jangan terjebak beli oleh-oleh. Hal ini sering jadi biang kerok kantong jebol. Beli secukupnya aja buat orang terdekat. Ingat, piknik itu buat kamu, bukan buat “pamer” ke orang lain.

Kelima, traveling bareng-bareng atau piknik rame-rame itu lebih hemat karena bisa patungan biaya transport, sewa villa, atau makanan. Bonusnya, lebih rame, lebih seru!

Keenam, fokus ke pengalaman, bukan gengsi. Healing nggak harus di tempat fancy. Yang penting suasana hati, bukan seberapa mahal destinasi. Kadang sunset di bukit kecil deket rumah bisa lebih bahagia daripada kafe hits yang mahal.

Jadi, piknik itu pemborosan atau investasi?Jawabannya tergantung cara kamu memandangnya. Kalau cuma buat pamer, ya jatohnya boros. Tapi kalau niatnya buat recharge energi, nambah pengalaman, memperkuat hubungan, dan menjaga kewarasan, jelas piknik itu investasi berharga.

Ingat, hidup bukan cuma tentang kerja, tabungan, atau tagihan. Kadang kita butuh berhenti sejenak, tarik napas, dan nikmatin momen. Jadi, lain kali ada yang bilang, “Ngapain piknik, buang-buang duit. Bikin boros aja,” kamu bisa senyum sambil jawab, “Boros? Nggak dong, ini investasi buat hidup gue!”

Ari Kinoysan Wulandari

Menulis Itu Menghidupkan Jiwa

Sharing pengalaman tentang penulisan di FIB, UNS, Solo. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Pernah nggak sih kamu ngerasa otak lagi penuh banget; kayak laptop kebanyakan tab, mau meledak? Nah, salah satu cara paling ampuh buat ngerapiin isi kepala itu ya… menulis.

Buat sebagian orang, menulis mungkin keliatan sepele. Tinggal ketik atau coret-coret di kertas. Tapi sebenarnya, menulis itu bukan cuma soal kata-kata. Menulis bisa jadi cara buat ngehidupin jiwa.

Menulis itu terapi murah meriah. Kalau lagi suntuk, capek, atau patah hati, coba deh tulis semua unek-unek. Bisa di buku harian, blog, atau notes HP. Ajaib banget, hati jadi lebih plong. Kayak lagi curhat, tapi sama kertas. Bedanya, kertas nggak bakal nge-judge kamu.

Menulis bikin kenangan nggak hilang. Ingat nggak momen pertama kali kamu jatuh cinta, atau waktu liburan seru bareng sahabat? Kalau cuma disimpen di kepala, lama-lama bisa pudar. Tapi kalau ditulis, kenangan itu bisa kamu “putar ulang” kapan aja. Jadi, menulis itu kayak mesin waktu versi personal.

Menulis berarti mengenal diri sendiri. Seringkali kita nggak sadar apa yang bener-bener kita rasain sampai ditulis. Pas baca ulang, baru deh mikir, “Oh ternyata ini yang aku rasain.” Jadi, menulis bisa jadi cermin buat ngerti siapa diri kita sebenarnya.

Menulis bikin ide jadi nyata. Pernah punya ide keren tiba-tiba, tapi ilang gitu aja karena nggak ditulis? Nah, menulis itu cara paling gampang buat ngabadikan ide. Siapa tahu dari coretan kecil, lahir karya besar: novel, lagu, bahkan bisnis.

Menulis itu warisan jiwa. Buku, blog, puisi, atau bahkan caption panjang di medsos; semua itu bisa jadi jejak yang ditinggalin. Bayangin deh, tulisan kamu bisa dibaca orang lain, bahkan setelah kamu udah nggak ada. Itu artinya, lewat tulisan, jiwa kamu tetap hidup.

Tips Biar Nulis Lebih Hidup

Pertama, nulis apa aja dulu; nggak usah mikirin bagus atau enggak. Tulis aja. Kedua, jangan takut typo; edit belakangan, yang penting ide keluar dulu. Ketiga, bawa notes/HP ke mana-mana; inspirasi suka datang tiba-tiba. Keempat, coba berbagai jenis; puisi, cerita pendek, blog, bahkan catatan random. Kelima, nikmatin proses; menulis itu bukan lomba, tapi perjalanan.

Intinya… Menulis itu bukan cuma aktivitas, tapi cara buat hidup lebih hidup. Setiap kata yang ditulis bisa jadi jalan buat nyembuhin luka, nyimpen kenangan, nemuin jati diri, bahkan ninggalin warisan jiwa.

Jadi, jangan nunggu “siap” dulu baru mulai nulis. Segera ambil kertas, buka laptop, atau ketik di HP. Karena setiap kali kamu menulis, sebenarnya kamu lagi ngasih “napas” baru buat jiwa kamu sendiri. Menulis itu menghidupkan jiwa. Dan jiwa yang hidup, selalu punya cerita.

Ari Kinoysan Wulandari

Kamu Berusaha Hemat atau (Sebenarnya) Pelit?

Piknik, salah satu sumber anggarannya dari penghematan. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Tulisan ini bermula dari pertanyaan, “Apa bedanya hemat dan pelit?”

Saya yang sudah biasa berhemat tanpa harus menjadi pelit, pun mikir: bagaimana cara menjelaskannya. Karena kriteria hemat, pelit itu beda-beda tipis dan tiap orang punya “persepsi” atau “pandangan” yang beragam tentang hitung-hitungan uang.

Mari kita ulik soal ini. Mungkin saat kamu berhemat agak ketat demi tujuan tertentu, kadang mikir: “Sebenarnya aku ini lagi hemat atau pelit siy? 🤔 Kadang garis tipis antara dua kata ini bikin kita bingung. Soalnya, hemat itu keliatan keren, pintar ngatur duit, bijak finansial. Tapi kalau udah kelewatan, bisa-bisa capnya langsung berubah jadi, “Uuh, dasar pelit!”

Kalau versi saya, hemat itu intinya me-manage duit biar kita tetap survive dan nggak bocor halus tiap akhir bulan. Terlebih bagi freelancer yang duitnya datang nggak menentu.

Misalnya:

  • Milih masak sendiri daripada beli masakan/makanan online tiap hari. Selain lebih sehat, puas, ternyata juga lebih irit banget.
  • Beli barang pas lagi diskon, terutama kalau bukan keperluan urgent. Diskon berapapun, tetap “uang” yang bisa dijumlahkan.
  • Nabung dikit-dikit buat goals masa depan. Kalau saya sudah pingin ke tempat A tanggal sekian, itu berarti saya kudu liat anggaran yang ada. Kalau masih kurang ya kudu nabung. Kadang target waktunya jadi molor, demi tersedianya budget. Nabung ini sering saya ambil dari budget “nongkrong” ganti suasana kerja. Biasanya sebulan 8x, wes cukup 2x aja.

Hemat tuh lebih ke strategi. Kita jadi ngerti mana kebutuhan, mana keinginan. Kita bijak menggunakan uang. Kita sadar mana prioritas yang lebih penting. Meskipun uang kita sendiri, tetap nggak bijak foya-foya.

Nah, kalau pelit beda cerita. Pelit biasanya udah masuk ke ranah, “Duh, segitunya. Pelit amat siy.”

Contohnya:

  • Nongkrong rame-rame, tapi pas bayar malah pura-pura sibuk cari dompet. Biar temen yang bayarin. Sekali dua kali oke, berkali-kali sampeyan akan ditinggalkan teman-teman.
  • Pakai barang sampe rusak parah, tapi nggak mau ganti padahal mampu. Ini siy kelewatan. Masa sama diri sendiri pelit?
  • Ngasih traktiran aja pake hitungan kayak kalkulator jalan. Heish, kalau ketemu orang yang itung-itungan parah itu emang nyebelin. Mendingan nggak usah terima traktirannya dan nggak usah ajakin kalau kita mo nongkrong atau jalan. Daripada beribet ntar pas bayarnya.

Kalau hemat bikin hidup lebih terkontrol, pelit justru bikin orang di sekitar jadi males. Bayangin gini deh: kamu lagi jalan bareng temen, terus dia ngajak makan di resto fancy. Kamu nolak karena budget terbatas dan nggak mau utang; itu hemat. Tapi kalau kamu nolak, padahal saldo tabungan gemuk dan pengen tetep gratis makan? Nah, itu baru pelit! 😅

Hemat biasanya dihormati orang: “Wih, dia pinter ngatur duit.” Pelit? Bisa-bisa kamu dihindarin. Orang males main bareng yang setiap nongkrong atau beli-beli malah ujung-ujungnya bikin ribet soal bayar.

Sah-sah aja hemat, malah harus banget! Tapi inget, hidup juga bukan cuma soal nabung terus. Kadang traktir temen, beliin hadiah kecil buat orang tersayang, atau sekadar bayar ongkos driver lebihin dikit, itu nggak bikin kamu miskin, justru bikin hati lega. Ini juga bikin kita happy.

Jadi lain kali kalau kamu ngaku, “Aku lagi hemat nih,” coba cek dulu… itu beneran hemat atau jangan-jangan kamu lagi pelit tapi nggak sadar? 😉

Ari Kinoysan Wulandari