Surga di Wakatobi (14): Kampung Bajau dan Tantangan Air Bersih

Sisi dekat laut kampung baru Orang Bajau di Kapota. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Kami tiba di kampung baru orang Bajau di Pulau Kapota ini saat matahari bersinar sangat terik. Panasnya luar biasa. Air mineral yang saya minum rasanya cepat betul menguap diterpa keganasan sang surya.

Toh saya berkeliling juga di perkampungan Bajau ini. Rumah-rumah baru hibah dari pemerintah Wakatobi ini merupakan salah satu permukiman khas yang dihuni oleh orang Bajau. Secara umum, orang Bajau merupakan kelompok masyarakat maritim yang dikenal dengan kehidupan mereka yang sangat dekat dengan laut.

Kampung baru orang Bajau ini berada di pesisir yang tenang dengan pemandangan laut biru membentang luas. Rumah-rumah warga berdiri di atas tanah dengan tiang-tiang kayu yang kokoh. Rumah-rumah ini berada di tepi laut, yang cukup dekat untuk aktivitas orang-orang Bajau sebagai nelayan dan penyelam tradisional.

Rumah-rumah orang Bajau di Kapota. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Konsep rumah di kampung baru orang Bajau ini agak berbeda dengan rumah-rumah tradisional orang Bajau yang berdiri kokoh di atas air laut dan dihubungkan oleh jembatan papan sederhana; sehingga kalau dilihat dari kejauhan, permukiman orang Bajau tradisional tampak seperti terapung di atas laut. Gambaran sebuah panorama indah yang mencerminkan keakraban orang Bajau dengan alam bahari.

Di pemukiman ini telah berdiri lebih kurang 44 rumah (cmiiw) dan seperti kebanyakan lazimnya kehidupan orang Bajau, dalam setiap rumah biasanya ada 3-4 keluarga (cmiiw), maka dapat dihitung kira-kira bahwa warga Bajau di kampung itu cukup banyak.

Seperti kebiasaan etnis Bajau, warga di kampung baru itu pun bekerja sebagai nelayan dan penyelam tradisional. Aktivitas sehari-hari mereka selalu bersinggungan dengan laut, mulai dari menangkap ikan, mencari hasil laut, hingga memperbaiki perahu. Laut bukan sekadar sumber mata pencaharian, tapi sudah jadi bagian dari jati diri dan budaya mereka yang diwariskan secara turun-temurun.

Wadah-wadah penampungan air tawar (yang nggak bersih) di kampung Bajau. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Kampung baru orang Bajau terlihat seperti “replika indah” kehidupan orang Bajau dalam versi riil dan tertata. Namun di balik pesonanya, orang-orang Bajau di sini menghadapi tantangan besar dalam memperoleh air bersih. Letak kampung yang sebagian berdiri di atas tanah kapur Pulau Kapota, menyebabkan penggalian sumur jadi tidak mudah. Kalau pun bisa menggali sumur, air tanah yang ditemukan umumnya asin atau payau karena bercampur dengan air laut.

Mayoritas warga Bajau di sini mengandalkan air hujan yang ditampung dalam galon-galon atau wadah-wadah besar sebagai sumber utama untuk kebutuhan harian seperti memasak dan mencuci. Saat musim hujan, mereka merasa bersyukur karena dapat mengumpulkan banyak air.

Sebaliknya saat musim kemarau, situasi menjadi lebih sulit. Persediaan air cepat menipis. Sebagian warga harus membeli air bersih dari kampung lain di daratan Pulau Kapota dengan harga yang nggak murah. Kondisi ini menuntut mereka untuk hidup hemat air dan saling berbagi dengan tetangga.

Salah satu sumur galian yang belum selesai. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Pada saat kami datang, saya melihat teriakan dengan ekspresi gembira anak-anak dan juga orang-orang dewasa dari sisi yang agak jauh dari rumah-rumah tersebut. Mereka menemukan sumber air tawar, meskipun belum terlalu jernih. Sekurangnya hari itu ada tiga sumur (cmiiw) yang digali secara mandiri dan bergotong royong antar warga Bajau; yang semuanya menghasilkan air tawar.

Saat saya melongok ke salah satu galian sumur yang belum selesai, (versi saya) masih tercium aroma asin yang pekat dengan air yang masih sangat keruh. Mungkin kalau digali lebih dalam dan lebih lebar akan segera ketahuan itu air tawar atau air asin/payau.

Saya pikir, masyarakat Bajau di sini bisa mengatasi masalah air tawar/air bersih bersama pemerintah desa dan pihak terkait. Beberapa solusi terpikir oleh saya saat melihat situasi kesulitan air tersebut. Pertama, membangun tandon air hujan berukuran besar di beberapa titik kampung.

Anak-anak kampung Bajau yang gembira mengambil air bersih. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Kedua, menyalurkan bantuan air galon isi ulang bagi keluarga yang membutuhkan (dalam kondisi darurat). Ketiga, mencari sumber-sumber air tawar dengan menggali sumur-sumur menggunakan alat-alat modern, bukan sekedar tenaga manusia; sehingga bisa dilakukan dengan lebih cepat dan identifikasi air tawar lebih mudah.

Keempat, pemerintah dan atau lembaga sosial bisa membantu menyediakan filter air sederhana agar air payau bisa diolah menjadi “air tawar” yang lebih layak digunakan. Biasanya mahasiswa-mahasiswa KKN dari program-program lingkungan, bisa membantu menyediakan fasilitas ini. Kalau enggak, alat-alat ini sudah banyak dijual di marketplace dengan harga beragam mulai ratusan ribu hingga jutaan.

Kelima, desalinasi. Secara sederhana desalinasi adalah proses untuk menghilangkan garam dan mineral dari air laut agar bisa digunakan untuk minum, memasak, atau kebutuhan sehari-hari lainnya. Dengan cara ini pasti akan mencukupi kebutuhan air tawar untuk warga Bajau sepanjang masa, karena air laut yang sangat melimpah. Biaya produksi desalinasi saat ini masih cukup tinggi; 2,5-4 USD per meter kubik; artinya tiap meter kubik perlu 40-70 K.

Kami di kampung Bajau. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Sebenarnya dengan berbagai alternatif solusi itu, tanpa keterlibatan pemerintah pun, warga Bajau bisa mengatasi masalah dan tantangan air bersih ini secara swadaya mandiri. Mereka bisa memilih cara yang paling cocok dan sesuai dengan kemampuan finansial komunitas. Tentu akan lebih mudah kalau ada program pendampingan untuk masyarakat di sini.

Toh meskipun hidup dengan segala keterbatasan, masyarakat Bajau di kampung baru tetap menunjukkan semangat gotong royong dan kearifan lokal yang kuat. Mereka menjaga kebersihan lingkungan, saling membantu, dan terus beradaptasi dengan alam laut yang telah menjadi rumah mereka sejak lama.

Kampung baru orang Bajau bukan hanya permukiman nelayan, tetapi juga potret ketangguhan dan kebijaksanaan masyarakat pesisir yang hidup harmonis di tengah tantangan kondisi geografis wilayahnya.

Bersambung
Ari Kinoysan Wulandari

Surga di Wakatobi (13): Danau Kapota dan Legendanya

Pak Ode dengan kawan barunya di sekitaran Danau Kapota. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Wisata yang paling kondang di Pulau Kapota adalah danau besar. Keindahan alam danau ini masih belum banyak dikenal wisatawan. Danau ini terletak di tengah Pulau Kapota, beberapa kilometer dari pesisir. Danau ini menjadi bagian penting dari ekosistem pulau yang masih alami.

Akses ke danau cukup mudah. Dari parkiran depan, kita akan melihat masjid cukup luas dan terawat di sebelah kiri. Tapi piranti sholat (mukena dan sajadah-sajadah) seperti sudah lama nggak dicuci. Toilet dan tempat wudu ada, tapi saat itu dikunci dan nggak ada akses air.

Karena sudah waktunya Dhuhur, saya yo sholat di situ; sambung jamak Dhuhur Ashar dengan tayamum. Berdoa secukupnya dan melanjutkan aktivitas. Dari masjid untuk menuju danau, kita akan melewati gazebo-gazebo yang cukup banyak untuk kafe dan resto. Lalu menurun melingkar melewati jalan berpagar dan sampailah ke areal gazebo besar yang langsung menghadap danau.

Map Danau Kapota. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Permukaan danau tampak tenang dengan air yang jernih berwarna biru kehijauan, memantulkan langit dan pepohonan di sekitarnya. Di sekeliling danau tumbuh pepohonan hijau yang rimbun, termasuk mangrove dan vegetasi pantai lain yang memberikan suasana sejuk dan asri. Ketika angin bertiup pelan, permukaan air bergelombang lembut, menciptakan pemandangan yang menenangkan.

Danau ini menjadi tempat hidup berbagai jenis ikan air payau serta burung-burung yang sering hinggap di ranting pohon sekitar. Airnya berasal dari campuran sumber air tawar dan rembesan air laut, menjadikannya danau payau yang unik. Pada pagi hari dengan kondisi alamnya, (mestinya ada) kabut yang menyelimuti permukaan danau ini.

Bagi penduduk setempat, danau di Kapota bukan hanya keindahan alam, tetapi juga sumber kehidupan. Airnya digunakan untuk kebutuhan sehari-hari, dan di sekitarnya sering dijadikan tempat beristirahat atau bersantai. Meskipun belum banyak fasilitas wisata (tambahan), keaslian dan ketenangan danau ini menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung yang mencari suasana alami dan damai.

Masjid di areal depan Danau Kapota. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Kami berempat (saya, Pak Ode, Bu Muna, dan Pak Basri) datang ke danau saat matahari sudah sangat tinggi. Usai makan siang –bawa makan minum sendiri, yang kami beli pesan di bawah; karena di areal danau nggak ada orang jualan, saya wes berasa liyer-liyernya. Ngantuk banget dan sebentar saja wes tertidur pules. Alam Danau Kapota beneran bikin orang serasa hidup damai tanpa gangguan.

Dua adik lelaki saya pernah ngomeli saya gegara kebiasaan saya tidur di sembarang tempat begini. Pas kami makan malam (sudah larut) di kafe, usai makan mereka masih ngobrol seru, saya wes ngantuk dan tertidur dengan kepala di meja. Mereka terpaksa harus cepat pulang dan memapah saya ke mobil. Besoknya saya kena omel panjang lebar. Mereka menanyakan apa saya nggak khawatir (kalau pergi sendiri) ada orang jahat, begini begitu. Saya cuma tertawa pelan, orang jahat itu (biasanya justru) orang-orang dekat. Kalau nggak kenal seringnya malah dilewatkan begitu saja.

Kembali ke Danau Kapota, saat saya terbangun; sudah sedikit ramai karena ada rombongan keluarga yang datang. Saya sempat ngobrol random dengan mereka tentang danau tersebut. Tapi nggak ada sedikitpun informasi tentang asal usul Danau Kapota.

Jalan berpagar menuju Danau Kapota. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Di waktu yang lain setelah balik ke Jogja, saya berusaha mencari data-data tentang Danau Kapota ini. Berbagai danau yang saya kenali, antara lain Kastoba, Toba, Singkarak, Maninjau, Ranau, Kelimutu, Sentani, Poso,Tempe, Matano, Ranu Kumbolo, Labuan Cermin, Bedugul, dll. rasanya semuanya ada kisah legenda atau asal usulnya yang tersebar luas secara lisan. Lha masa Danau Kapota “yang ajaib” ini nggak ada kisah rakyatnya? Pas saya nanya Bu Muna sebagai orang lokal, nggak ada jawaban memuaskan.

Saya merangkum kisah danau ini dari googling berbagai sumber. Jadi untuk tahu kebenarannya masih memerlukan banyak riset dan data yang valid. Konon, dahulu kala danau itu bukanlah danau. Tempat ini berwujud lembah luas yang dihuni oleh sekelompok keluarga nelayan.

Di lembah itu tinggal seorang gadis bernama Wa Ndolu, yang terkenal karena kebaikan hati dan kecantikannya. Ia rajin membantu siapa pun yang membutuhkan, terutama para nelayan yang pulang melaut.

Sejauh mata memandang, air biru kehijauan di Danau Kapota. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Namun, suatu hari datanglah seorang pemuda “asing” atau non lokal yang jatuh cinta padanya. Pemuda itu nggak diketahui asal-usulnya, dan masyarakat setempat curiga bahwa ia bukan manusia biasa.

Wa Ndolu menolak lamaran pemuda itu dengan halus karena merasa ada sesuatu yang aneh atau nggak wajar padanya. Akibat penolakan tersebut, si pemuda ini tersinggung. Dia pun mengungkap jati dirinya sebagai jelmaan pemimpin kerajaan “makhluk bawah laut” dan mengutuk lembah tempat tinggal Wa Ndolu agar tenggelam.

Dalam sekejap, air keluar dari bawah tanah dan dari arah laut, menenggelamkan seluruh lembah. Hanya puncak-puncak bukit kecil di sekitarnya yang tersisa, sementara di tengahnya terbentuklah danau besar yang sekarang dikenal sebagai Danau Kapota.

Kami berempat di Danau Kapota. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Penduduk setempat percaya bahwa pada malam-malam tertentu, terutama saat bulan purnama, kadang terdengar suara perempuan bernyanyi lembut dari tengah danau. Masyarakat sekitaran di masa lampau percaya bahwa suara itu adalah suara Wa Ndolu, roh penjaga danau yang tetap setia melindungi keindahan Kapota.

Oleh karena kepercayaan itu, masyarakat setempat terus menjaga kelestarian danau. Mereka juga nggak sembarangan mengambil ikan atau merusak lingkungan di sekitarnya.

Bukankah kisah Danau Kapota tersebut agak mirip-mirip dengan legenda atau asal usul danau-danau lain di Indonesia, yang sudah saya sebutkan sebelumnya? Masalah kebenarannya, ya wallahua’lam saja.

Bersambung
Ari Kinoysan Wulandari

Surga di Wakatobi (12): Bu Muna dan Kapota

Ini cappucino di kafe dekat Marina Togo. Saya merasakan aneka “rempah” tapi nggak bisa mengidentifikasi satu per satu; superenak, beda dengan cappucino yang biasa saya minum. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Usai dari menara mercusuar, saya menolak makan malam karena masih terlalu kenyang. Kami mampir kafe untuk ngopi. Wah, ternyata kopi racikan cappucino di sini enak banget. Ini namanya kafe apa ya? Lupa. Tempatnya nggak jauh dari Marina Togo. Kentang gorengnya juga super enak, entah apa bumbunya. Kenyang-kenyang pun saya masih bisa habis makan kentang goreng dua porsi. Kalau nggak cocok di lidah saya, pasti satu porsi pun nggak habis😁😂

Malamnya saya tidur nyenyak. Selama di Wakatobi saya tidur nyenyak tiap malam, bahkan siang pun kadang sempat tidur. Makan kenyang, tidur nyenyak, slow living banget. Hidup damai nggak mikirin gaweyan, nggak diribetin urusan ngajar, bimbingan, rapat-rapat yang membagongkan, teriakan koreksi atau revisi dari klien penulisan, cecaran deadline dari manajer, telpon produser, dll yang kadang bikin mata melotot dan kelapa pusing mendadak🤣

Pak Ode mengomentari, saya bisa begitu karena duitnya ada atau sudah nggak mikir duit 😁🙏 Haha… mana ada orang yang nggak mikirin duit. Saya yo mikir, tapi pas di sana memang nggak mikirin, karena anggarannya wes disiapin. Saya sempat bengong itu pas sampe Jogja, kenapa uang tunai masih cukup banyak 🤣 Biasanya kalau habis bepergian panjang dan jauh, uang tunai memang (selalu) sisa, tapi pasti nggak sebanyak itu 😁 Lihat sisa uang, bukannya segera ditabung, saya wes mikir mo pergi ke mana lagi ya 🤣

Dermaga di Wangi-wangi tempat sandar perahu yang bolak-balik ke Kapota. Di sisi lainnya banyak bersandar kapal-kapal besar untuk jarak jauh. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Keesokan harinya, pagi-pagi kami sudah jalan untuk ke Kapota. Saya mung iya saja, nggak tahu apa itu Kapota dan nggak kepikiran untuk Googling nyari info. Pokmen Wakatobi cocok banget untuk mereka yang mo berlibur dengan menikmati kehidupan yang santai-santai. Alam laut yang indah, warga (cenderung) ramah, makanan/minuman dan jajanan beraneka macam, jalanan serasa milik pribadi. Siapin aja anggaranmu sebanyak waktu yang ingin kamu habiskan di negeri para pelaut ini.

Saya nggak ingat pasti sebelum ke dermaga yang menuju Kapota itu, Pak Ode ke mana saja. Orang satu ini embuh, energinya kayak nggak pernah habis. Pokoknya kelihatan banget dia niat tenan menunjukkan berbagai tempat agar saya tahu detail semua wisata di daerahnya. Itu pun kami masih di Wangi-Wangi doang. Belum pulau-pulau lain di Wakatobi.

Pas ketemu saya lagi, Pak Ode bilang harus nunggu temannya yang dari Kapota. Dia masih belanja. Saya mengangguk saja, mengamati lalu lalang orang yang berdatangan dengan belanjaan mbriyut (banyak banget). Anak kecil, remaja, dewasa semua ada. Kapal-kapal di kejauhan banyak yang bersandar.

Pak Ode, Bu Muna, saya di dermaga Wangi-Wangi sebelum ke Kapota. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Nggak beberapa lama, Bu Muna (kawan Pak Ode) datang dengan belanjaannya (eh ini masih dibawa atau sudah diletakkan di kapal ya, saya nggak terlalu ingat). Beberapa waktu mereka berdua ngobrol akrab dengan bahasa lokal. Tentu saja saya nggak paham. Baru ketika mereka ngomong bahasa Indonesia, saya ngerti yang dibicarakan. Bu Muna akan telpon kawan lainnya karena ada kami berdua, biar bisa motoran keliling Kapota. Intinya begitulah.

Pas waktunya tiba, kami pun berangkat ke Kapota dengan perahu bermotor. Bercampur dengan orang-orang lokal dan semua barang belanjaan mereka. Perjalanan memerlukan waktu 15-20 menit untuk sampai di Kapota. Pulau ini salah satu pulau indah yang termasuk dalam gugusan Kepulauan Wakatobi, Sulawesi Tenggara. Pulau yang letaknya di sebelah barat daya Pulau Wangi-Wangi ini, menjadi bagian dari Kecamatan Wangi-Wangi Selatan. Meski ukurannya nggak terlalu besar; tapi kalau jalan mengelilingi pulau ini, ya butuh waktu seharian 😁

Kapota menawarkan pesona alam yang memikat dan suasana khas pulau tropis. Pulau ini dikelilingi oleh laut biru jernih dengan gradasi warna yang memukau; mulai dari biru muda di tepi pantai hingga biru tua di bagian laut dalam. Pasir putihnya halus dan bersih, cocok untuk bersantai atau bermain air. Di sekitarnya tumbuh pepohonan kelapa yang memberikan nuansa alami dan teduh. Dari tepi pantai, pengunjung bisa melihat dengan jelas Pulau Wangi-Wangi di kejauhan.

Saya dan Bu Muna di perahu motor dengan penumpang lain dan barang belanjaannya. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Seperti wilayah lain di Wakatobi, Pulau Kapota memiliki kekayaan terumbu karang dan biota laut yang luar biasa. Airnya yang jernih membuat snorkeling dan diving di sekitar pulau ini sangat menyenangkan. Ikan-ikan berwarna-warni, bintang laut, dan aneka karang keras maupun lunak menghiasi dasar lautnya.

Saya tahu cerita itu dari Bu Muna. Dan sebagian saya lihat langsung, termasuk ular laut; yang entah gimana, saya beruntung aja bisa melihatnya. Dalam versi cerita Mirna (kawan ngobrol di kapal pas saya balik ke Kendari, kalau sudah jumpa ular laut habis sudah takdir hidup). Ular ini bisanya jauh lebih ekstrem daripada ular kobra di daratan. Sekali gigit, habis sudah hidup.

Jadi para nelayan, penyelam lokal pun sudah tahu; kalau melihat ular laut di sekitaran mereka harus diam “seperti patung” sampai ular laut pergi dengan sendirinya. Kalau ada gerak dikit, ular akan terganggu dan langsung menyerang. Ya ampun, ngebayangin aja saya sudah merasa horor; diam di daratan mudah, diam di kedalaman lautan dengan mengatur nafas oksigen, biyuuu… wes mboten mawon. Jangan sampai deh jumpa ular laut di kedalaman lautan 😄😆

Salah satu sisi dermaga Kapota. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Versi saya, Bu Muna ini salah satu perempuan tangguh dari Kapota. Masa remajanya ketika sekolah SMA ya nyeberang laut tiap hari dari Kapota ke Wangi-Wangi, PP. Kalau sore sudah nggak kebagian perahu, dia akan minta teman-teman yang orang tuanya punya perahu untuk menyeberangkan. Lalu turun dari perahu masih harus jalan kaki sekira 3-4 km untuk sampai rumah. Besok paginya diulang lagi dari awal sampai lulus.

Biyu, hebat tenan. Saya di Jawa suruh sekolah jalan kaki 1 km saja (waktu SD) sudah teriak teriak minta sepeda. Lha ini, waah… sungguh besar tekadnya untuk sekolah. Sementara teman-teman sebayanya, lulus SMP lebih banyak yang memilih atau “dipaksa harus” menikah.

Sekarang sehari-hari Bu Muna membuka warung/toko pracangan (jual kebutuhan sehari-hari) di Kapota. Suaminya kerja di luar pulau. Tiga anaknya juga merantau di luar pulau. Praktis dia tinggal dengan satu anaknya yang berkebutuhan khusus; juga mertua dan orang tua (yang tinggal di sekitaran, tapi nggak satu rumah).

Pintu gerbang kawasan wisata Kapota. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Saya menangkap semangat untuk maju yang luar bisa dari sosok perempuan ini. Kalau di masa mudanya diberkahi kecukupan modal ekonomi untuk sekolah, saya yakin dia sudah terbang jauh melintasi batas untuk sekolah tinggi dan pasti jadi perempuan yang luar biasa. Sekarang pun dia seorang ibu yang hebat.

Sungguh dengan jujur ringan hati menerima keberadaan anaknya yang istimewa. Saya menangkap rasa keharuannya saat menunjukkenalkan anaknya ini pada saya. Hadeuh, tanpa sadar saya mengusap air mata yang bercampur keringat. Hanya ibu hebat yang bisa begini, sementara banyak orang tua yang “sengaja” menyembunyikan anak-anak begini karena dianggap bawa malu keluarga.

Doktrin budaya, adat, tradisi, dan orang tua yang masih menganggap anak perempuan nggak perlu sekolah tinggi, karena toh nanti yo menikah, ngurus anak dan suami di rumah; sungguh mengekang langkah perempuan. Di masa sekarang pun masih banyak modelan begitu yang membelenggu kaum perempuan.

Laut Kapota. Kalau kita melongok ke dalam air, akan terlihat gerombolan ikan-ikan kecil di tepiannya. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Saya senang bertemu dengannya, karena sepanjang pagi sesiangan menuju sore; Bu Muna menceritakan banyak hal pengalaman hidupnya. Hingga membuat saya bersyukur berulang kali. Alhamdulillah. Masyaallah hidup yang versi saya wes jatuh bangun jumpalitan itu keknya nggak ada apa-apanya dengan “kekerasan hidup” yang dialami perempuan asli Kapota ini.

Itu kenapa dalam banyak tulisan, saya sering berpihak pada perempuan (selain karena saya perempuan, juga karena saya masih sering menyaksikan banyaknya ketidakadilan pada perempuan di seluruh Nusantara atas nama gender); meskipun saya nggak sepakat sepenuhnya dengan aliran feminisme, tapi saya tahu masih banyak hak-hak dan kesetaraan perempuan vs laki-laki yang harus diperjuangkan.

Penduduk Pulau Kapota cenderung ramah dan hidup dalam komunitas kecil yang sebagian besar bekerja sebagai nelayan. Mereka masih mempertahankan tradisi dan budaya lokal, termasuk bahasa daerah dan kearifan dalam mengelola sumber daya laut. Beberapa warga juga terlibat dalam kegiatan pariwisata berbasis masyarakat, seperti menyediakan perahu kecil untuk wisatawan.

Sisi lain dermaga Kapota. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Selain menikmati keindahan pantainya, wisatawan bisa berjalan-jalan keliling desa, berinteraksi dengan warga, atau sekedar jalan-jalan di tepi laut. Kapota bisa dibilang sebagai permata tersembunyi yang belum terlalu ramai. Ya itulah daya tariknya: keindahan alami, kehidupan masyarakat yang bersahaja, dan laut yang masih terjaga.

Sebenarnya niat kami ke pulau ini hanya untuk melihat danau besar. Bu Muna justru membawa kami ke pantai Wisata Kolo, pemukiman baru etnis Bajo, dan Kapota Beach. “Bu Ari belum tentu ke sini lagi. Mumpung di sini, lihat-lihat yang bagus.” Begitu katanya saat saya bilang tujuan awalnya hanya ke danau.

Nanti akan saya ceritakan tempat wisata yang disebut di Kapota itu secara bergantian. Terimakasih banyak Bu Muna; yang sudah sharing cerita pengalaman hidupnya dan memboncengkan saya dari dermaga untuk keliling (hampir) seluruh Pulau Kapota.

Bersambung
Ari Kinoysan Wulandari

Surga di Wakatobi (11): Sumber Mata Air Jodoh

Pintu masuk mata air seratus (moli’i sahatu). Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Pas kami masih ngobrol, Bu Tuti nanyain saya sudah ke sumber mata air di seberang itu apa belum. Saya jawab belum. Lalu dia ngajak ke sana. Katanya itu disebut sumber mata air seratus (karena banyak) dan sering juga disebut sumber mata air jodoh. Konon yang mandi di situ bisa awet muda dan lekas dapat jodoh.

Saya ngikik sekilas, “Wah repot dong Bu, kalau jodohnya jauh di sini.”

“Ya ketemu jodohnya dari tempat lain, bukan di sini.”

Saya hanya bilang iya. Meskipun kalau soal mitos yang berkaitan dengan jodoh itu, tetahunan silam kayaknya sudah saya terima. Misal kalau di acara pengantin kita dapat buket bunga pengantin, nggak lama lagi kita akan menikah. Wes embuh berapa kali saya dapat, kok ya lewat saja.

Sumber mata air yang paling besar. Di belakang saya itu pantai dan air laut. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Terus katanya suruh ambil curi melati si pengantin perempuan, biar cepet menikah; kok ya lewat begitu saja. Belum lagi beberapa mitos Jawa, yang berkaitan dengan jodoh, kayaknya pernah juga kena di saya. Toh semuanya nggak mempan. Lalu saya pun wes nggak ambil pusing dengan segala mitos itu.

Terlebih setelah saya pikir-pikir, bisa jadi rezeki jodoh, pernikahan, rumah tangga itu nggak setiap orang boleh dapat seperti bentuk-bentuk rezeki lainnya. Dan kayaknya saya yo nggak apa-apa, baik-baik saja meskipun belum berjodoh, belum menikah. Saya juga nggak berpikir menjalani hidup bahagia kudu ikut patokan aturan umum, menikah, berkeluarga, punya anak-anak.

Sudah lebih dari 10 tahun pula, saya wes melepaskan diri dari keinginan mencari jodoh dan pernikahan. Toh saya hidup baik-baik saja. Kadang-kadang masalah “lajang”, “sendiri” itu hanya terasa kalau saya kudu hadir kondangan. Awal-awal dulu itu sempat saya merasa nggak enak hati, nggak nyaman dengan pertanyaan, “Datang sama siapa?”

Saya dengan Bu Tuti di bebatuan pantai areal sumber mata air seratus. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Toh lama-lama yo biasa saja. Setelah itu saya menormalisasi pergi sendiri; karena kewajiban seseorang itu kalau diundang ya datang, kecuali ada udzur yang kuat. Apalagi kalau yang mengundang kita kenal baik.

Waktu itu Bu Tuti dan suaminya balik ke rumahnya dulu. Lalu menjemput kami lagi untuk bersama-sama ke mata air seratus ini. Yach, mata air ini juga salah satu keajaiban yang ada di Wakatobi. Sumber air tawar yang jernih ini berada di garis pantai, di tepi laut. Segaris dengan air laut, tapi tetap tawar, nggak bercampur air laut. Letaknya di tepi jalan, tapi untuk mencapai lokasinya, kita harus menuruni batu-batu terjal yang cukup butuh perjuangan.

Pak Ode, saya, Bu Tuti dan suaminya (Pak Damrin) di sekitaran resor pantai. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Saat melewati bebatuan ini, saya ingat saat pergi ke Pegunungan Bintang (Papua), ya ampuuun menuruni bebatuan lancip-lancip tajam dengan kemiringan hampir 60 derajat dengan jarak yang lumayan bikin kaki saya gemeteran. Memang benar, di Indonesia semua tempat wisata bagus, sering butuh effort yang nggak kira kira secara fisik dan mental. Untunglah menuruni batu-batu di sini nggak sepanjang ke Pegunungan Bintang itu.

Ada banyak sumber air di sini, makanya disebut mata air seratus. Salah satu yang sangat besar, biasa digunakan orang lokal untuk mandi-mandi dan aktivitas harian seperti mencuci. Percayalah airnya jernih, segar, dan kalau diminum seperti air mineral kemasan itu. Menghilangkan dahaga. Tentu saya mandi-mandi di situ. Bukan gegara mitos soal jodoh, tapi ya memang airnya sungguh menyegarkan. Tentu menyenangkan pula kalau saya awet muda 😁😂 Soal dapat jodoh gegara mandi air tawar di situ, kayaknya lebih ringan kalau saya bilang “nggak percaya” 😁

Kami berjalan dari satu sumber mata air ke sumber mata air lainnya. Sesukanya saya berhenti, ya berhenti. Mo jalan ya jalan lagi. Sore itu hanya ada kami berempat. Westalah berasa milik pribadi tenan. Nggak ada orang lalu lalang. Boleh sepuasnya menikmati seluruh pemandangan di pantai itu. Nggak ada yang mengganggu.

Pasir pantai di sini berwarna putih di sepanjang garis tepinya. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Kami terus berjalan sampai dekat areal resor. Di sini pasir putih terlihat lebih luas. Namun karena khawatir mengganggu tamu-tamu resor, kami nggak pergi lebih jauh. Bu Tuti menerangkan kalau seluas jarak laut di belakang resor itu sudah jadi “milik” resor karena memang begitulah aturan di situ.

Orang membeli tanah, maka bagian laut di belakang tanah itu (secara otomatis) menjadi miliknya. Wah, saya agak bengong dengar aturan ini. Apa memang begitu? Lha kalau di belakangnya itu laut dengan pulau-pulau, apakah otomatis juga jadi milik si pembeli tanah? Entahlah. Ntar kalau ada yang ngerti soal hukum ini, saya mo nanya banyak.

Usai dari sana, kami balik lagi ke jalan masuk tadi. Kami melewati lagi areal sumber-sumber mata air. Kalau nggak inget sudah sore, mungkin saya masih betah di tempat ini. Pas keluar dari tempat ini, kami harus jalan naik melewati batu-batu yang sebelumnya arah menurun.

Menara mercusuar. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Ya ampun, karena wes capek, berasa beut rada menggos-menggos saya jalan naik. Ampun, semangat boleh sama, menurunnya kekuatan fisik dengan bertambahnya umur, jelas nggak bisa dilawan. Jadinya saya butuh waktu lebih lama sampai ke parkiran.

Setelah itu mampir ke rumah Bu Tuti karena saya minta cangkang-cangkang keong (yang cantik). Masih dibawain oleh-oleh (lupa sebutannya), tapi makanan pengganti nasi itu bisa tahan 2 bulan. Mantap betul. Makanannya itu sampai sekarang masih tersimpan di kulkas rumah saya. Belum sempat memakannya 😀

Setelah makan minum (ringan), kami pamit. Itupun masih ditawari mandi dan makan dulu (lagi). Saya menggeleng karena nggak bawa baju ganti. Dan baju saya berasa wes kering sebelum sampai hotel. Itu gegara Pak Ode ngajak ke menara mercusuar dulu sebelum mengantar saya balik ke hotel.

Ya ampun jalanannya ke mercusuar itu… naik turun belak-belok… heizh, kadang saya heran ke mana perginya semangat petualangan saya tetahunan silam. Sekarang tuh, kalau jalan pakai “ribet” dan “capek” dikit, kalau nggak penting-penting amat, saya kok wes pilih enggak. Hemat energi biar panjang umur.

Bersambung
Ari Kinoysan Wulandari

Surga di Wakatobi (10): Makan Besar, Kita…

Bersama Bu Tuti dan Pak Damrin. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Pas hari pertama datang di Wakatobi itu, saya wes jumpa Bu Tuti dan suaminya (Pak Damrin). Kawannya Pak Ode jugalah. Kayaknya mayoritas orang di pulau itu kalau nggak saudara, keluarga, ya teman-temannya Pak Ode.

Saya ngikik aja pas kami nyampe rumah Pak Damrin dan Pak Ode bilang, kalau mobilnya di rumah, orangnya pasti ada di rumah. Pemikiran yang jelas nggak relevan di tempat saya tinggal. Kami biasa dan sering juga pergi, tapi mobil tinggal di rumah.

Lha ternyata beneran Pak Damrin dan istrinya ada di rumah. Pasangan suami istri yang ramah dan baik. Kalau diteruskan pas pertama datang itu ngobrol, bisa lama banget. Karena waktu itu mau ke pantai, kami nggak lama di situ.

Menu makan kami di rumah Bu Tuti. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Baru beberapa hari berikutnya kami datang lagi untuk makan 😁😂 Ya ampun, sungguh tamu nggak tahu diri 🙈🙏 Datang-datang kok pas makan.😁 Rumah Bu Tuti ada di pinggir jalan. Tiga lantai yang nggak terlalu terlihat kalau nggak detail memperhatikan. Nah tempat untuk kami makan itu di lantai 3. Ya ampun saya ngelihat tanaman hidroponik di lantai 3, langsung keinget lantai atas rumah saya yang nggak terurus 😁😂

Dulu pas awal-awal tinggal sudah sempat saya tanamin cabe dan tomat. Dengan media tanam tanah di pot-pot. Wes panen juga dan semua tetangga kebagian. Njur karena saya terlalu sering pergi-pergi, adik saya lalai merawat, mati-matilah semuanya. Termasuk ikan lele di kolam plastik bekas tandon penampungan air.

Setelah itu wes gakpernah nanem ataupun pingin piara ikan lagi. Capek. Beli bae praktis, meskipun ya jelas beda lah rasa senengnya. Lihat hidroponik di tempat Bu Tuti langsung kepikiran untuk nanem lagi, tapi sampai sekarang yo masih belum saya kerjakan 😜🙈

Sayur “keong” sebutan saya sendiri, lupa nama lokalnya; salah satu yang bikin saya kekenyangan karena daging keongnya😀🫢 Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Makanan pengganti nasi, yang kelihatannya saja kecil; tapi bikin saya susah payah menghabiskan karena ternyata padat dan jadi banyak sekali. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Di tempat Bu Tuti ada tomat, cabe, kangkung, terong, dll sayuran yang tumbuh subur. Padahal itu langsung kena panas matahari. Pasti nyiraminnya kudu ekstra. Pas saya nanya, bikin dan ngurusnya sampai berbuah sekitar 2 bulan. Itu kerjaan Pak Damrin waktu libur kerja. Ya pantes, pikir saya. Jadi kalau mau beresin lantai atas rumah saya untuk bikin tanaman gitu, ya cuti saja 2 bulan 😂😜 Wahaha…. Bisa bisa saya diomelin dari kaprodi s/d rektor itu mah🤣

Yang bikin saya senang itu lantai 3 langsung menghadap laut. Kita bisa lihat laut dengan debur ombaknya dari tempat itu. Keiinget dulu sempat beribet sama adik laki-laki saya, karena mo beli rumah di Gunung Kidul yang langsung menghadap laut. Kalau jenuh, mager, writer’s block dari nulis, kan saya bisa langsung turun ke laut: ciblon, mandi-mandi air laut. Pasti langsung fresh lagi karena terbebas dari energi negatif.

Air garam (air laut) adalah pembersih energi negatif paling ampuh. Makanya mereka yang mengenal medis tradisional, sering menyarankan orang-orang yang “penyakitan” untuk sering mandi-mandi di laut biar bersih dari energi negatif dan tubuh lebih sehat.

Tanaman hidroponik di rumah Bu Tuti. Di seberang sana terlihat laut biru. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Adik saya cuman bilang, “Kalau Mbak Ari rumahnya Gunung Kidul beneran, nggak akan saya tengok-tengokin.” Waduuuh, saya yo jadi mikir juga kalau beneran gitu. Lha dua bocilnya itu kan sudah kayak anak saya sendiri, kalau nggak datang-datang, rindu dong saya 😁😂 Akhirnya nggak jadi beli rumah di Gunung Kidul.

Wah, pas sudah disajikan menu makanannya, biyuuu makan besar kita. Macam-macam masakannya. Dari aneka ikan sampai sayuran. Ada nasi sampai olahan pengganti nasi. Kemaruk saya, sok-sokan ngambil pengganti nasi satu bungkus. Saya kira sedikit, lah kok banyak beut.

Tenan, kalau nggak inget suara-suara bapak saya almarhum, wes saya taruh itu makanan nggak kuat ngabisinya. “Ambil ambil makan sendiri kok nggak dihabiskan, itu kan keterlaluan.” 😁😜 Beuh, jadi saya paling lambat selesai makan. Itu aja sama Bu Tuti masih mau ditambahkan ini itu. Wes nggak lah, klenger kekenyangan saya.

Tanaman hidroponik lainnya di rumah Bu Tuti. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Sempat saya paranoid kalau njur bolak-balik kamar mandi karena kekenyangan. Di mobil pas kami mau ke tempat teman Pak Ode lainnya, saya tepuk tepuk perut saya, “perutku baik-baik ya kamu. Kalau mo be-a-be ntar aja kalau wes di hotel, biar nggak ribet.”

Syukurlah perut saya nggak berulah dan sepertinya cocok-cocok saja dengan semua jenis makanan dan masakan baru hari itu. Alhamdulillah. Maturnuwun, Terimakasih ya Bu Tuti, Pak Damrin sudah menjamu kami makan besar 😍🥰

Usai makan itu, kami pergi ke rumah teman Pak Ode lainnya. Rumahnya langsung tepi pantai. Nyebur ke laut bisa dari halaman rumahnya. Luas betul rumahnya. Mungkin didesain untuk guest house dan penginapan. Seperti kebanyakan rumah-rumah penduduk Wakatobi lainnya, di situ juga ada gazebo luas untuk kami ngobrol.

Kawan Pak Ode. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Saya berbincang A-Z dengan Bu Tuti. Ngalor ngidul mulai dari gaweyan, anak-anak sekolah, orang tua, saudara keluarga, lingkungan masyarakat, dan banyak hal lainnya sampai jelang sore. Sungguh menyenangkan kalau kita ketemu orang yang bisa diajak bicara, berbagi tanpa menghakimi.

Kalau saat itu saya nggak senang hati, pasti saya wes tertidur. Lha gimana, makan sampe kekenyangan, duduk-duduk di gazebo dengan angin semilir sejuk menghadap laut, sesekali terdengar riuh gelombang. Ya ampun, model model rumah idaman saya banget untuk memanjakan sifat mager dan rebahan 😁

Makanya itu, meskipun wes tinggal menetap di rumah saya sekarang, tetep saya mau nabung untuk beli rumah yang ngadep laut. Nggak harus di Gunung Kidul, sekitaran Bantul juga gpp. Kelakonnya kapan, ya nggak tahu. Kan yang penting sudah ada niat; keinginan itu kadang-kadang terwujud begitu aja pas kita sudah lupa 😁😜

Pokmen terimakasih banyak untuk Pak Ode dan teman-temannya hari itu. Hadeuh, saya kepikiran akan ketemu jumpa mereka aja nggak pernah. Kepikiran ke Wakatobi aja wes sempat ilang dari agenda jalan saya. Tapi kayaknya Allah memang nggak pernah lupa sama doa-doa dan keinginan kita, meskipun sudah sangat lamaaa. Alhamdulillah, Terimakasih ya Allah 😇❤

Bersambung
Ari Kinoysan Wulandari

Surga di Wakatobi (9): Desa Wisata Liya Togo

Identitas Desa Wisata Liya Togo. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Jangan dibayangkan desa wisata (deswita) di Wakatobi seperti deswita di Jawa dan Bali ya. Kalau di Jawa Bali, deswita wes pasti ada tiket masuk, dipenuhi pengunjung, orang jualan, pengamen-pengemis-pencopet, tukang foto keliling, guide-guide nggak resmi, ojek-becak-delman yang rieuweuh nawarin jasa, tempat jualan souvenir, dll keramaian khas deswita.

Pas kami datang, Desa Wisata Liya Togo ini beneran sepi. Hanya ada seorang petugas sekuriti yang jaga dan menyambut kami. Setelah bertanya standar ini itu, petugas pun membiarkan kami masuk. Nggak ada tiket masuknya. Di Jawa Bali kalau deswita nggak pake tiket masuk, itu justru aneh😂😁

Rumah panggung di areal deswita Liya Togo. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Di areal utama deswita ini ada satu rumah panggung yang cukup besar. Tempat ini sekarang difungsikan sebagai tempat pertemuan, rapat, musyawarah, dll keperluan kampung. Pas saya naik ke rumah ini, arealnya cukup luas. Mampu menampung 200-300 orang dalam posisi duduk tanpa kursi. Mungkin memang untuk kegiatan desa.

Lalu di sisi kiri ada makam raja-raja (mungkin bangsawan tinggi, belum raja) dan juga para penyebar agama Islam di wilayah ini. Lagi lagi karena ini di Wakatobi, nggak ada sakralisasi makam. Makam ya sudah terbujur begitu saja, tanpa sajen, tanpa kemenyan atau benda-benda wewangian lainnya, ataupun bunga-bunga rampaian melati-mawar-kantil-kenanga di atas makam. Hanya untuk areal makam ini pada bagian pintu masuknya diberi tanda dilarang masuk.

Areal makam raja-raja (bangsawan) dan para penyebar agama Islam. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Setelah itu ada areal luas seperti padang rumput terbuka. Weish, kalau di Jawa tempat seluas itu di areal deswita pasti sudah penuh dengan pedagang kaki lima dan segala barang dagangannya. Atau mungkin digunakan untuk tempat atraksi-atraksi hiburan, semacam odong-odong atau sarpras wisata lainnya.

Salah satu hal yang sangat saya nikmati di Wakatobi, semua tempat wisata seolah milik pribadi. Nggak banyak orang lalu lalang atau berkeliaran. Kita bisa bebas ambil foto dari berbagai sisi sepuas-puasnya. Nggak ada yang beributan antri spot foto. Nggak ada teriakan tawaran makanan minuman ataupun jasa lainnya. Jalan sambil mikir bisa-lah, nggak bakalan nabrak atau ketabrak orang. Paling-paling kejeduk tiang kalau jalan sambil meleng, hihihi😁😂 Bener-bener menikmati tempat wisata dengan gaya slow motion banget.

Areal tanah rerumputan dan mesjid. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Di bagian ujung ada mesjid. Cukup besar dan hidup. Pas saya nengok bagian belakang, tempat wudu bersih, air mengalir lancar terjaga dan sangat jernih. Mesjid modern, lha kotak infaknya aja wes ada barcode QRIS nya. Ngisi kotak infak bisa pake uang tunai atau setoran QRIS. Jadi nggak ada alasan nggak ngisi kotak amal gegara nggak bawa uang tunai.

Dan seperti kebiasaan saya, ketemu mesjid atau mushola di manapun, pasti saya mampir sholat. Bahkan kalau itu waktunya lepas Ashar saat wes gak boleh ada sholat sunnah setelah Ashar, saya tetap akan mampir meskipun hanya sholat tahiyatul masjid. Sholat menghormati masjid.

Kebiasaan ini didorong pemahaman sederhana agar kelak di hari akhir lebih banyak bumi yang bersaksi saya pernah sujud (sholat) di tempat yang jauh-jauh, yang mungkin nggak bisa saya ingat lagi. Kadang-kadang pula kalau cukup waktu, saya suka ribet sendiri cari masjid agung kota tersebut ada di mana. Terutama kalau saya merasa di kota itu belum sholat di salah satu mesjid.

Gerbang masuk benteng Liya Togo. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Hadeuh saya teringat, karena berhari-hari sholat di hotel pas seminar di Manado, saya ngajak Pak Ode cari mesjid agung. Gegara Mbak Ety dan Pak Budi bilang kalau dari hotel tempat kami seminar (juga menginap) mesjidnya deket banget; kami pun jalan kaki. Ya ampun ternyata mesjidnya jauuuh, pakai lasak lusuk nanya-nanya pula, karena nggak setiap orang tahu di mana letak mesjid agung. Ya begitulah kalau kita di negeri muslim minoritas 😁😆

Pas sampai mesjid, harus melipir untuk sholat karena mesjidnya sedang dipakai acara akad nikah pula. Balik pun kami kudu jalan kaki kepanasan karena pesan mobil online, nggak datang-datang gegara terlalu dekat. Kalau pake mobil deket banget, kalau jalan kaki yo lumayan pegel kemeng betisnya😆😅

Dua kakak saya ngekek saja pas saya cerita soal ini. Karena dibilang dekat itu, nggak minta mereka antar ke mesjid pakai mobil. Beuuuh, ternyata jauuuh…. Gegara nyari mesjid agung pula, saya pernah kesasar-sasar waktu di Vietnam.

Sisi jalan benteng Liya Togo yang menuju ke luar. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Sudah tahu di negeri komunis, kok ya cari mesjid. Hihi…. lha itu gegara di map ada mesjid besar di sekitaran pemukiman Sungai Mekhong. Di Vietnam ada aplikasi goviet–punya gojek Indonesia, isinya yo sama seperti aplikasi kita mung tulisannya mlungker-mlungker huruf Vietkong bahasa Vietnam. Kalau pergi-pergi saya mengidentifikasi tempat dari peta yang ada gambar dan tulisan latinnya berbahasa Inggris. Nggak kepikiran kalau Sungai Mekhong itu panjang dan luas, kudu memastikan daerah pemukiman mana yang ada mesjidnya. Toh saya selamet juga. Sampai ke mesjidnya, sholat, makan, njur balik hotel. 😆😅

Nah, balik lagi ke deswita Liya Togo. Di sisi kanan dan kiri mesjid areal perumahan penduduk. Lalu di kiri mesjid itu ada areal benteng. Di dekat pintu masuk benteng, ada makam juga; tapi makam ini tidak bersambung dengan makam yang ada di dekat rumah panggung. Sepertinya makam ini untuk warga biasa, bukan untuk bangsawan atau tokoh penyebaran agama Islam.

Dari gerbang masuk benteng (sudah nggak dibuka untuk umum), pengunjung akan diarahkan untuk menuju jalan panjang (yang sudah baik sekali) sampai pintu luar di dekat parkiran lagi. Sepanjang jalan tersebut kiri kanannya banyak pohon besar, batu-batu besar. Cukup teduh, meskipun ya panasnya udara pesisir tetap terasa.

Buah lokal yang saya juga lupa namanya. Buah ini bisa dimakan dan banyak ditemukan di sekitar jalan benteng Liya Togo. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Mo foto-foto sakbosennya nggak ada yang melarang di sini. Mo duduk-duduk lama yo boleh. Mo ikut makan buah-buahan yang jauh di tempat itu yo bisa. Lumayanlah jaraknya, tapi nggak terasa bikin capek di kaki saya. Berarti cukup pendek meterannya 😂 Di sekitaran situ juga ada pohon kemiri, pohon jeruk, jambu monyet, dll.

Pas kami mau balik, ada rombongan ibu-ibu yang datang. Di parkiran juga sudah terlihat beberapa mobil dinas plat merah. Oh, berarti deswita ini sekurangnya masih “diurus” dan “dikunjungi”. Kalau nggak kan, berarti kami doang yang datang hari itu. Eman-eman, padahal sarpras bagus dan memadai banget.

Promosinya mungkin kurang atau ya orang lokal nggak banyak berkunjung. Saya aja kalau di Jogja yo belum tentu inguk-inguk deswita di Jogja. Jadi nggak usahlah saya ngomentarin orang lokal yang nggak datang ke tempat wisata daerahnya 😂😁

Bersambung
Ari Kinoysan Wulandari

Surga di Wakatobi (8): Pantai Cantik di Mana-mana

Pantai Cemara. Ciri khasnya ada banyak pohon cemara. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Di Pulau Wangi-wangi, setiap hembusan angin membawa aroma laut yang pekat. Udara terasa berbeda: bersih, asin, dan sejuk sekaligus. Pulau ini juga disebut gerbang menuju Wakatobi, surga bawah laut di Indonesia.

Jujurly, saya nggak bisa mengingat detail seluruh pantai yang sudah saya kunjungi di pulau itu. Sepertinya dari satu pantai ke pantai lain itu hanya bersambungan dan berjarak pendek, tapi semuanya indah dan cantik. Saya berusaha mencatat beberapa pantai sesuai ingatan. Kalau ada salah sebut, ya mohon dimaklumi. Terlebih untuk nama-nama pantai yang terdengar asing di telinga saya 😁

Pertama, Pantai Cemara. Jalan menuju ke sana dihiasi rumah-rumah kayu dan pohon kelapa yang bergerak lembut. Sesampainya di pantai, hamparan pasir putih menyambut seperti lembaran kain sutra. Deretan pohon cemara laut menciptakan bayangan yang menenangkan.

Pantai Untu Waode. Areal ini banyak pohon kelapa. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Ada beberapa gazebo untuk duduk-duduk, menikmati semilir angin dan suara ombak kecil yang datang berirama. Rasanya, semua lelah perjalanan hilang begitu saja. Sayangnya, sarpras di tempat ini wes nggak terurus. Pantai ini pun sunyi sepi seperti nggak pernah dikunjungi orang.

Kedua, Pantai Untu Waode. Pantai ini letaknya nggak jauh dari Pantai Cemara. Ciri khas yang saya ingat, pohon kelapa sangat banyak di sini. Seperti areal perkebunan kelapa yang luas. Pasir putih nya juga menghampar luas. Di seberang ada pulau di tengah laut yang nggak berpenghuni. Seperti juga Pantai Cemara, pantai ini sunyi seolah sudah bertahun-tahun nggak ditengok orang. Gazebo-gazebonya wes “reyot” sewaktu-waktu bisa ambruk, roboh.

Ketiga, Pantai Waha. Ini salah satu spot diving. Konon jadi spot favorit para penyelam. Saya nggak ingat pasti, ke sini atau enggak. Karena melintasi Desa Waha, mestinya saya yo mampir ke pantai ini.

Pantai Wambuliga. Di sini ada basecamp layanan snorkeling dan diving. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Saya hanya ingat kepala desa sempat mengatakan di pantai ini air laut sebening kristal; karang-karang masih alami dan berwarna cerah. “Kalau beruntung, bisa lihat kuda laut.” Oh, itu saat saya datang awal sekali di Wambuliga, cari info tentang snorkeling.

Keempat, Pantai Wambuliga. Pantai ini masih alami dan jarang tersentuh wisata massal. Pantai ini dikenal karena suasananya yang tenang serta keindahan alam yang masih murni. Pantai Wambuliga memiliki hamparan pasir putih yang lembut dan air laut yang jernih bergradasi dari biru muda hingga biru tua. Di beberapa bagian, terlihat karang-karang kecil yang muncul saat air laut surut. Pemandangan lautnya sangat memanjakan mata.

Suasana di Pantai Wambuliga relatif sepi dan damai. Angin laut bertiup lembut membawa aroma asin khas pantai, ditemani suara deburan ombak yang menenangkan. Di pinggiran pantai, tumbuh deretan pohon kelapa dan beberapa semak hijau yang memberikan kesan tropis alami. Penduduk setempat sering memanfaatkan area sekitar pantai untuk mencari ikan atau rumput laut.

Model pantai-pantai di Wakatobi mirip-mirip. Pasir putih menghampar. Air laut sebening kristal, mulai dari warna jernih, putih, hijau muda, tosca, biru muda, biru gelap, sampai kehitaman (nun jauh di sana) yang menandakan lautan semakin dalam dan air semakin dingin. Kiri kanannya pun terasa setipe. Pohon kelapa tinggi menjulang di sepanjang tepian pantai dengan model yang terasa “seragam”.

Pantai Marina. Di sini ada Maritime Center. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Kelima, Pantai Sombu; ikon diving Pulau Wangi-wangi. Dari dermaga kayunya kita bisa melihat orang-orang yang bersiap snorkeling atau diving. Pemandangan di bawah laut ini konon seperti taman surgawi. Terumbu karang membentuk labirin warna-warni, ikan-ikan melintas di antara sinar matahari yang menembus air. Dunia bawah laut Sombu sering dilukiskan sebagai kehidupan yang tenang, indah, damai, dan nyaris sempurna.

Keenam, Pantai Patuno; kawasan resor yang menawarkan pemandangan tropis nan lembut. Pasirnya putih lembut seperti gula, air lautnya hijau kebiruan. Di kejauhan, perahu nelayan berlayar pelan. Laut luas di depan mata. Begitu tiba di Pantai Patuno, kita akan langsung disambut oleh hamparan pasir putih yang halus dan memanjang sejauh mata memandang. Air lautnya jernih kebiruan, dengan gradasi warna yang memikat, mulai dari tosca di tepi pantai hingga biru tua di bagian dalam.

Suasananya tenang dan bersih, dikelilingi oleh pepohonan kelapa dan vegetasi hijau tropis yang menambah kesan damai. Angin laut yang lembut membuat siapa pun betah berlama-lama di sini; entah hanya berjalan di tepi pantai, duduk menikmati ombak, atau sekadar mendengarkan desir angin di antara daun kelapa.

Ketujuh, Pantai Marina. Lokasi untuk acara Wakatobi WAVE kemarin. Pantai Marina terkenal dengan pasir putihnya yang halus seperti tepung dan air lautnya yang jernih kebiruan hingga kehijauan. Dari kejauhan, gradasi warna laut tampak seperti lukisan alami; biru muda di tepi pantai, lalu perlahan berubah menjadi biru tua di bagian yang lebih dalam. Suara ombaknya lembut, berpadu dengan semilir angin laut yang menenangkan.

Pantai Liya Mawi. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Kedelapan, Pantai Liya Mawi. Ini ada kantor desanya di tengah laut. Pantai Liya Mawi menawarkan hamparan pasir putih bersih dengan butiran lembut di bawah kaki. Air lautnya bergradasi dari biru tosca ke biru tua, jernih hingga dasar laut terlihat jelas dari permukaan. Di sini juga bisa melihat gerombolan ikan-ikan kecil di tepian dengan sangat jelas. Beberapa ekor ikan besar kadang terlihat terperangkap di tepian di batu-batuan pantai.

Garis pantainya panjang dan tenang, dikelilingi karang alami dan pepohonan kelapa yang menambah kesan tropis dan damai. Pantai ini masih tergolong sepi dan alami, sehingga cocok bagi wisatawan yang mencari suasana sunyi untuk menenangkan diri atau menikmati keindahan alam tanpa gangguan keramaian.

Kesembilan, Pantai Liya Bahari. Pantai ini dikenal luas karena menjadi pusat budidaya rumput laut. Saat melewati kawasan ini, kita akan melihat ratusan tali-tali rumput laut yang membentang di atas permukaan air, terikat rapi pada pelampung-pelampung kecil.

Rumput laut yang dijemur di tepi Pantai Liya Bahari. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Pantai Liya Bahari. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Warga Liya Bahari sudah turun-temurun membudidayakan rumput laut berwarna merah. Saya cek-cek ini jenis spesies Eucheuma cottonii (cmiiw). Rumput laut ini dijemur sampai kering di pinggir pantai dan dijual sebagai bahan baku kosmetik, makanan, hingga obat-obatan.

Pemandangan saat para petani memanen dan menjemur rumput laut di bawah terik matahari menjadi daya tarik tersendiri. Warnanya yang kontras dengan birunya laut; menghadirkan nuansa pesisir yang asli dan fotogenik.

Melihat pantai dan laut-laut Wakatobi itu, ada banyak rasa syukur saya. Kalaupun jauh banget dari Jogja, hampir seluruh pulau ini diwarnai keindahan. Pulau Wangi-wangi seperti lukisan alam yang hidup. Tempat daratan, lautan dan langit bertemu dalam keheningan yang menenangkan.

Setiap pantainya punya karakter tersendiri: ada yang teduh, ada yang unik, ada yang memanjakan mata dan jiwa. Jika ada surga yang bisa dijangkau dengan kapal kecil dengan wajah-wajah senyum penduduk lokal, mungkin Wangi-wangi adalah jawabannya.

Bersambung
Ari Kinoysan Wulandari