Soul Conference 10 (SC10) [7]: Jangan Memaksakan Diri

Jajanan pasar saat sarapan pagi hari ke-3 di villa kami menginap. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Soul Conference 10 (SC10) [7]: Jangan Memaksakan Diri

Disclaimer:
Catatan ini mungkin nggak “nyambung” untuk Teman-teman non Soul Community (Soul Com), non warga Soulmates. Saya berasal dari Soul Com Joglosemar, Jogja🙏

Pada saat hari ke-2 SC10 karena full pembelajaran, mungkin saking saya fokus belajar dan konsentrasi, atau pas saya ke toilet; saya beneran nggak tahu kalau Mas Adin (teman kami dari rombongan Jogja) hari itu jatuh dan dibawa ke RS; ditungguin oleh Bu Rai. Itu kenapa saya bingung saat malam usai pentas seni; Mbak Tika, Mas Robert, Mbak Fefty, dan Mas Sodam masih berembug tentang menengok dan mengurus Mas Adin. Namun katanya sudah ada juga orang dari Tim Soul yang datang.

Saya menyimak saja, karena nggak tahu kejelasannya. Saya hanya tahu sejak berangkat kondisi Mas Adin nggak fit. Karena duduknya cukup dekat dengan saya, sedari awal saya juga wes krubut-krubut baju maskeran agar nggak ketarik energi sakitnya. Apalagi Bu Ririn yang di samping saya, pas awal-awal juga sempat kurang sehat. Wees… kudu pasang “jarak” secara energi. Alhamdulillah saya sehat dan happy terus sepanjang SC10🙏

Kami di dekat areal parkir De Djawatan. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Setelah mereka berempat yang menggawangi rombongan Jogja beres rembugan, barulah kami balik ke villa. Beberapa teman berniat untuk ikut serta ke RS menengok Mas Adin. Saya nggak tahu siapa saja yang ikut malam itu.

Bus sampai di parkiran villa. Saya meminta bantuan Zaka untuk menemani cari (Pop)mie dan minuman instan; karena saya kok wes merasa lapar. Sementara kiri kanan villa yang jualan makanan masak sudah tutup. Kami jalan dari parkiran sampai ketemu toko kelontong. Lumayan juga jaraknya euy. Gobyooos berkeringat karena jalanan cukup menanjak😁 Terimakasih ya, Zaka 😀🙏

Saat sampai di villa, Mbak Tika dan Mas Robert masih duduk-duduk nungguin Teman-teman lain yang mau ikut ke RS. Beberapa teman lainnya justru berenang di kolam renang villa. Saya dan Zaka pun pamitan masuk ke kamar masing-masing.

Baru sadar saya kalau kami satu angkatan waktu WSM. Tapi ketiganya sudah jalan cepat ke pembelajaran-pembelajaran Soul yang lebih tinggi. Saya jalannya paling lamban. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Sampai di kamar, ternyata Hana sudah bersiap-siap mau renang. Saya? Merebus air untuk bikin (pop)mie dan minuman panas. Usai makan, barulah saya beberes mandi, sholat, njur tidur. Urusan jaga diri begini saya cukup tertib saat di perjalanan. Apalagi kalau ada banyak kegiatan. Sadar diri, kurang tidur bisa bikin nggak konsens, badan lemes, dll.

Pagi itu sarapan kami berbeda. Ada setampah besar jajanan tradisional untuk kami yang disediakan pengelola villa secara free. Wah, alhamdulillah. Dan pagi itu kami sekalian check out dari villa menuju De Djawatan. Selanjutnya nanti dari De Djawatan kami akan terus kembali ke Jogja.

Kami nggak mampir lagi ke hotel tempat SC10. Mas Adin tentu nggak ikut bersama kami. Bu Rai sudah bergabung dengan kami. Ceritanya banyak tentang Mas Adin. Saya menyimak saja dengan diam. Mengurus atau menunggu orang sakit nggak mudah. Apalagi kalau nggak tahu latar belakang penyakitnya. Saya bisa memaklumi kekhawatiran Bu Rai saat petugas RS minta keterangan dan tanda tangan. Terlebih kalau kita bukan orang dekat, yang juga nggak tahu riwayat keluarganya. Namun sungguh luar biasa kebesaran hati Bu Rai, bersedia meninggalkan jam kelas untuk menunggui Mas Adin. Berbalaslah dengan banyak kebaikan, Bu Rai 🥰

Usai mider-mider beberapa lokasi di De Djawatan, depan panggung. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Versi saya, kita ini memang jangan main-main dengan energi. Karena seberapapun kuatnya niat, tekad untuk mengikuti SC10 atau kegiatan Soul lainnya; kalau kelayakan energi via hitung SM belum cukup, sebaiknya legowo. Ikhlaskan saja. Nggak usah memaksakan diri.

Saya pernah mendiskusikan hal ini dengan Bunda Arsaningsih. Tentang kawan-kawan yang jalan cepat serasa lewat tol mengikuti semua kegiatan pembelajaran di Soul. Seolah nggak ada masalah apapun dari urusan waktu, jarak, biaya, dll. Sementara saya tiap kali ada sesi pemurnian, itu pake ngedropnya bisa seminggu nggak bisa kerja aktivitas seperti biasa. Usai WSM dan update saja, saya kudu rela prei nggak kerja gegara dampaknya ke fisik. Saya harus bolak-balik ke toilet untuk buang air besar berulang kali dalam sehari.

Bunda Arsaningsih menjelaskan dengan singkat; di Soul itu pembelajarannya seperti perjalanan ke suatu tujuan. Semua orang memiliki tujuan yang sama, misalnya di Titik A. Nah untuk mencapai titik tersebut, setiap orang caranya berbeda-beda. Ada yang jalan kaki. Ada yang berlari. Ada yang naik sepeda, motor, mobil, perahu, kapal laut, pesawat, dll. Tentu tiba di tujuannya juga tidak sama. Tidak apa-apa perjalanannya lambat, asal tidak berhenti. Terus bergerak semampunya.

Sebagian Teman-teman Joglosemar. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Legalah hati saya. Jadi saya ukur-ukur diri sendiri. Kalau waktunya, energinya, biayanya, dll saya sanggup; nggak usah disuruh saya pasti berangkat. Kalau pun diajak tapi saya nggak siap; duitnya kurang, waktunya nggak pas, kesehatan juga ndatndutan (nggak fit), dll masih kurang, saya pilih nggak berangkat.

Terus karena ilmu di Soul itu sifatnya konversi energi; kalau duitmu masih kurang untuk biaya-biaya kegiatan atau program tertentu, weslah ngikut periode berikutnya saja. Nggak ada yang memaksa kita harus ikut sekarang atau periode berikutnya. Kalau memaksa dengan utang-utang atau minta diskonan, ntar kalau “ditagih” dengan konversi energi lainnya, bisa lebih horor akibatnya. Bisa saja boleh diskon atau bayar kurang, tapi njur kesehatan drop, atau hubungan keluarga jadi ribut, dll.

Jadi Teman-teman Soul Com yang saya sayangi di manapun berada, kalau mau ikut kegiatan Soul; tapi hitung energinya SM begini begitu di angka kecil; weslah nggak usah memaksakan diri. Sebaliknya juga jangan cuek nggak usaha. Misalnya sudah tahu mau ikut SC11 berikutnya dan biayanya besar, malah berborosria. Nabung dong. Itung-itungan sendiri berapa keperluannya.

Sebagian Teman-teman Joglosemar di sisi lain De Djawatan. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Saya diberitahu Hana kalau ada Soul Finance yang bisa membantu mengelola tabungan untuk kegiatan di Soul. Silakan cek-cek ke admin atau petugas internal Soul yang berkaitan. Atau ya nabung sendiri seperti saya. Cuman kalau begini, kudu ketat disiplinnya. Duit itu cair, bisa diambil sana-sini, tahu-tahu habis. Di rumah aja tuh, sekarang kita bisa habis duit lho. Lha itu marketplace yang obral diskon; tahu-tahu kita check out ini itu, padahal nggak butuh-butuh amat.

Pokoknya carilah cara yang paling mudah dan gampang untuk diri sendiri. Ada juga kok yang ambil dari pinjaman dengan bunga 0 persen, lalu dia nyicilin tiap bulan dengan ringan. 12 juta terasa berat, tapi 1 juta per bulan ya terasa jauh lebih ringan. Kalau yang wes sugih yo gakusah diceritakan. Cincailah mereka mo duit berapa aja😁

Ini lumayan komplit personil Soul Com Joglosemar. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Dari cerita-cerita sana sini, sampailah kami di De Djawatan. Saya sudah beberapa kali ke sini. Karma saya cukup banyak di sini. Berulang saya bersihkan dan kali ini saya datang lagi, berarti masih ada urusan karma yang belum rampung.

Saat kami datang sudah banyak teman Soul Com daerah lain yang ada di De Djawatan. Jelas wes sibuk berfoto ria sana sini. Tempat ini memang luar biasa cantik. Pohon-pohon ratusan tahun tumbuh besar dengan gagahnya. Semua terasa adem. Hati-hati saja, ada banyak energi makhluk berkeliaran di sembarang tempat dengan penguasanya. Dan nggak semuanya baik atau positif. Lha ya tempatnya sekitar 10-an hektar berwujud hutan belantara sejak ratusan tahun lalu. Kebayang betapa banyak “penghuninya”.

Terus gitu kalau di sini juga perlu hati-hati dengan gerumbulan daun-daun atau semak-semak, terutama di lokasi yang sepi dan jauh dari jangkauan manusia. Takutnya ntar malah kita mengganggu atau memijak sarang ular. Bisa ribetlah. Intinya hati hati saja kalau di sini atau areal hutan seperti ini. Dan seperti kata Bunda, kalau tiba di tempat baru, ya jangan cuma piknik atau wisata. Tapi juga bersih-bersih karma, meradiasikan cinta untuk seluruh makhluk bumi di tempat itu, dan menebarkan semangat merawat bumi seisinya via energi.

...dengan Bu Adek. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Begitu selesai foto-foto dengan teman-teman, saya wes mider mencari beberapa sisi lokasi untuk bebersih karma. Setelah itu saya duduk saja njegrek di depan panggung dengan Zaka. Dua MC di depan entah ngomong apa, saya nggak terlalu perhatiin. Sementara Teman-teman Joglosemar banyak yang ikut nyanyi dan joged di sisi belakang kami. Eeh, beneran saya cukup lelah juga wirawiri tadi😁😅

Nggak lama saya bilang mau keliling dulu ke Zaka. Dia pun terus ketemu teman-temannya dari Kalimantan. Saat itu saya merasa ada energi kuat yang menarik saya ke beberapa sisi tempat. Yach, weslah saya turuti. Dan ya cukup melegakan hati saya ketika jiwa-jiwa sudah saling memaafkan dan minta maaf. Untuk urusan ini pun saya nggak berani memaksakan diri. Ada beberapa sisi tempat yang terasa energinya terlalu kuat. Jadi nanti saja, tunggu saat ada Bunda Arsaningsih. 🙏

Bersambung
Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us:

Soul Conference 10 (SC10) [6]: Intermezo, SM Juga Bisa Menemukan Emas Yang Hilang

Teman-teman di Soul Center Jogja selepas meditasi bersama. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Disclaimer:
Catatan ini mungkin nggak “nyambung” untuk Teman-teman non Soul Community (Soul Com), non warga Soulmates. Saya berasal dari Soul Com Joglosemar, Jogja🙏

Ada beberapa teman yang meminta saya menuliskan lagi kisah lainnya tentang penggunaan SM. Jadi saya sisipkan sebagai intermezo pengalaman SM yang belum saya tuliskan, sebelum saya lanjutkan cerita tentang SC10. 🙏

Sekitar bulan Agustus 2023, saya pernah kehilangan gelang emas kadar 22 karat seberat 20 gram. Saya tahunya saat wes di rumah setelah seharian di kampus. Sudah leyeh-leyeh malam hari jelang tidur. Ya Allah, sungguh paniklah saya dan njering (sedih, bingung, stres) beneran.

Itu duit yang nggak sedikit. Terus gelang itu bayarnya saya cicil sedikit demi sedikit selama setahun. Ketika itu saya masih kerja kantoran di Jakarta (2000 s/d 2011) dan jadi generasi sandwich yang menanggung hidup dan sekolah/kuliah banyak saudara, mengurus orang tua yang terpuruk gegara hutang.

Walaupun saat itu gaji saya 2 digit dalam jumlah besar, sungguh nyisihin 200 rb aja, bukan hal yang mudah. Ada saja urusan keluarga yang bikin saldo limit nggak bisa diambil lagi. Akhirnya saya memilih untuk membayar cicilan emas ini lebih dulu tiap bulan saat gajian, baru mengatur untuk semua keperluan.

Harga emas masih rerata 85-100 rb per gram. Jadi total harga 20 gram dengan ongkos buat perhiasan ya 2 juta. Saya nyicilnya 200rb an per bulan selama 10 bulan dengan tenggang 2 bulan (tanpa bunga karena nyicilnya di toko emas langganan). Kalau saya pas ada banyak rezeki, biasanya saya transfer lebih banyak biar lebih cepat lunas.

Saat itu saya belum mengenal model investasi emas batangan. Versi saya, beli emas dan punya emas itu sama aja bawa cash dan (pasti) nggak dicuil-cuil atau dikurangi, ditarik untuk ini itu seperti kalau kita ada uang di rekening. Emas mudah diuangkan di mana-mana, digadaikan pun tetap punya nilai tinggi.

Tenan malam itu saya semlengeren dan sampai lama nggak bisa tidur. Saya mencoba mengingat-ingat ke mana aja seharian itu dan kira-kira gelangnya jatuh di mana. Karena di tahun 2023 harga emas per gram sudah 1,1 sd 1,2 juta. 20 juta kok hilang begitu saja tanpa saya tahu di mana jatuhnya atau hilangnya.

Saya melacak dengan SM berkali-kali dan merujuk kalau gelang itu ada di rumah. Ya wes, besok libur saya cari. Toh gelang itu nggak ketemu sampai berminggu-minggu. Akhirnya saya mupus, ya wes mungkin ada kekurangan sedekah saya yang njur diambil dari emas itu. Kalau enggak dan karena jelas asal usul dan kehalalan duit untuk belinya, pasti gelang itu akan kembali ke tangan saya.

Mbak Hanik, penjaga gawang Soul Center Jogja. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Kemudian nggak sengaja saya lihat buku tentang SM. Membaca ulang. Saya seperti tersadarkan lagi. Oh makin spesifik atau jelas pertanyaannya, makin jelas pula jawabannya. Saya pun SM lagi. Kali ini saya menggunakan pertanyaan yang spesifik tempat.

Dan ya Allah… tahu enggak gelang itu di mana? Tergeletak begitu saja di pot tanaman depan rumah. Pasti gelang sudah berminggu-minggu di situ. Persis SM saya di rumah bagian mana, ketika saya tanya apakah di tempat tanaman, radiasi energinya 10 😂 Sadarlah saya kenapa kemarin-kemarin gelang itu nggak ketemu. Bukan SM nya yang bermasalah, tapi pertanyaannya yang kurang jelas atau kurang spesifik😁😂

Mungkin kunci gelang terlepas saat saya beberes tanaman njur jatuh dan saya nggak sadar. Setelah itu nggak saya pakai lagi. Kapok ngerasain semlengeren nyaris semalaman gegara kehilangan nilai uang sebanyak itu. Apalagi kalau sekarang ya, emas sudah tembus 3 juta per gram. Beuuh, bisa gulung koming nangisnya. Untung ada SM 🥰🥰

Teman-teman yang sudah tahu SM dan punya pengalaman-pengalaman seru, boleh juga dong share-share. Meskipun nggak di forum macam SC10, kalau punya sosmed pribadi, ya share saja di sana. Kalau menuliskan pengalaman pribadi itu juga akan membantu mengurangi beban otak kita untuk mengingat macam-macam detail; yang seharusnya sudah kita letakkan (nggak diingat-ingat lagi).

Mencatat pengalaman pribadi selain untuk mengingat secara personal, juga sebagai sarana membantu menyebarluaskan tentang Soul. Iya dong, jangan sampai manfaat Soul berhenti di kita saja. Siapa tahu di luar sana ada banyak orang yang sebenarnya sangat membutuhkan Soul untuk menyelamatkan jiwa raganya. 🙏

Biar orang-orang di luar sana juga bisa lebih banyak mengenal dan tidak menyalahpahami tentang Soul. Karena ini bukan ilmu klenik, bukan magis. Soul itu ilmu tentang pengenalan jati diri manusia secara utuh berbasis energi dengan menyandarkan diri pada kekuatan dan energi Tuhan. Pasti relate dengan semua budaya, semua agama. Nggak ada sajen-sajen, dupa-dupa, ritual-ritual, atau aliran tertentu yang nggak berdasar.

Untuk Teman-teman non Soul Com yang kebetulan membaca catatan saya ini, coba cek saja youtube Bunda Arsaningsih yang berkaitan dengan meditasi online setiap hari Rabu. Atau ya diskusi dan kuliah-kuliah Bunda Arsaningsih lainnya di youtube. Coba ikuti saja itu dulu sebagai bentuk kenalan dengan Soul. Kalau cocok ya bergabunglah, siapa tahu segala problem hidupmu bisa terselesaikan lewat Soul. Sama seperti slogannya: Soul is Solution. 😀

Nah itu intermezo tentang salah satu pengalaman saya dengan SM. Pada bagian berikutnya saya akan kembali mengulas kelanjutan SC10. Tunggu ya…

Bersambung
Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us:

Soul Conference 10 (SC10) [5]: Siapkan Dirimu untuk Ilmu Baru

Pemandangan pagi hari di depan kamar saya, di villa kami menginap. Gak perlu nyari-nyari sunrise😀 Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Disclaimer:
Catatan ini mungkin nggak “nyambung” untuk Teman-teman non Soul Community (Soul Com), non warga Soulmates. Saya berasal dari Soul Com Joglosemar, Jogja🙏

Selamat Tahun Baru 2026 untuk seluruh keluarga, kawan, sahabat, kerabat, relasi, tetangga, dan semua sahabat Soul Community di manapun berada. Bertambah sehat, damai, sejahtera, bahagia dan panjang umur kita semua. 😍😘

Akhir tahun saya dibuat terkaget-kaget dengan “tambahan” gaweyan yang bikin hectic. Niat saya menulis SC10 sempat tertunda. Tetap saya usahakan untuk bisa menuliskan semua moment dari awal hingga akhir. 💪

Full energi untuk belajar penuh di hari ke-2. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Pada saat balik ke villa, saya biasa saja. Mandi, bebersih, sholat dan beranjak tidur. Hana bilang mau ngopi-ngopi dengan kawan-kawan lainnya. Saya meneruskan niat tidur. Dan ya, Hana balik ke kamar sudah jam 2 atau 3 dini hari (cmiiw).

Keesokan paginya, aktivitas standar. Kami siap-siap, sarapan, berangkat ke SC10. Oh ya, di hari pertama saya sudah ketemu Zaka, tapi karena masih sana-sini, kami belum sempat ngobrol banyak. Kamar dia pun saya lupa ada di lantai bawah atau atas.

Saya dengan Zaka yang sekarang jadi anggota Soul Com Kalimantan. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Hari kedua adalah core atau inti acara SC10. Kegiatan dimulai dari pagi sampai malam. Begitupun kegiatan kali ini. Saya sudah agak niat cari kursi di barisan tengah. Biar nanti bisa jumpa Bunda Arsaningsih dan pelukan lagi 😀

Jadi waktu disuruh pindah ke depan pinggir sama panitia, saya geleng-geleng aja. Kemarin saya di sana, wes bablaz nggak foto-foto sama narasumber. Sekarang wes di sini ajalah. Kalau bolak-balik ke toilet juga nggak jauh dari pintu.

Bu Dokter (Bu Desak) di samping saya ini sudah punya cucu. Awet muda ya? Dari tahun ke tahun saya ngelihatnya segitu-gitu aja. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Pokoknya hari itu saya yakin siap banget belajar. Beuuh semua diukurin kudu Bahagia 10 dulu. Kalau nggak suruh genepin dulu. Saya? Lha ya wes jelas happy teruz. Semalam tidur nyenyak, mandi air hangat, shubuh dengan tenang, sarapan enak, berangkat SC10 tinggal duduk manis di bus, ketemu teman-teman yang luar biasa baik. Alhamdulillah. Coba ingat-ingat itu Ari. “Fabi ayyi aalaa-i robbikumaa tukazzibaan; maka nikmat Tuhan manakah yang engkau dustakan.” (QS Ar Rahman)

Yach, SC10 kali ini temanya bertumbuh menyeluruh. Ya, setiap fase hidup selalu datang membawa undangan sunyi: sudah siapkah kita bertumbuh lebih luas, lebih baik dari kemarin?

Ilmu baru nggak selalu hadir dalam bentuk buku tebal atau ruang kelas formal. Kadang ia datang lewat perjumpaan, percakapan, dan keberanian untuk membuka diri. Termasuk dalam kegiatan SC10 ini.

Mbak Dyah yang sekarang jadi anggota Soul Community Lombok. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Perjalanan SC10 hari kedua ini dimulai dari sharing tentang penggunaan SM (Soul Meter) alat refleksi diri yang membantu kita membaca, menghitung radiasi energi. SM versi saya adalah metode yang luar biasa. Dengan SM masing-masing kita sesungguhnya diminta untuk menyadari: di titik mana energi kita berada, luka atau emosi negatif apa saja yang masih tersimpan, dan potensi apa yang perlu dibangunkan. SM mengajarkan satu hal penting: mengenali jati diri adalah langkah awal menuju perubahan yang utuh.

Saya menyimak ada banyak orang dari beragam latar belakang yang menggunakan SM untuk berbagai kepentingan. Semuanya mengarah pada satu hal: kemudahan hidup dengan hitungan energi yang lebih pasti.

Saya pribadi menggunakan SM bolak-balik untuk beragam keperluan. Teman-teman silakan cek catatan saya tentang SM di blog ini juga. Ada banyak kisah, ada banyak wooow… kok bisa begitu ya?

...dr. Tya. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

SM ini menyelamatkan saya dari banjir di Bali sekitar Juni lalu. Dua hari sebelum banjir, saya ada di Bali. Sudah rencana mau tinggal untuk meneruskan piknik ke Pagringsingan. Dengan situasi terang benderang, panas membara, non prediksi hujan deras, SM saya dari lokasi nginep ke TKP kecil-kecil bahkan ada yang O koma. Beuh nuruti logika, saya tinggal. Ngikuti SM, saya balik. Selamatlah saya nggak terjebak banjir; kalau tinggal, area tempat saya nginap juga kebanjiran. Subhanallah. Energi nggak pernah bohong.

Saya masih sering takjub dan kagum dengan Bunda Arsaningsih. Lha ilmu sehebat dan sekeren itu, diajarkan dengan begitu mudah ke siapa saja yang mau belajar dan sudah memenuhi prosedur kelayakan energinya. Pokoknya love you, Bunda. ❤️❤️ Terimakasih atas ilmunya yang luar biasa ini.

Jadi saya bisa memahami kalau Teman-teman yang sharing di panggung SC10 ceritanya adalah cerita tentang kekagetan, surprise, ketakjuban, kekaguman pada betapa “ajaibnya” SM ini. Saya yakin mereka yang sudah mengenal ilmu ini, pasti punya segudang pengalaman seru kalau diceritakan.

… dr. Rastho. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Nah, setelah itu ada sharing tentang logo SC10. Ternyata itu diambil dari gambaran gajah, dan filosofi yang diambil berasal dari “gajah oling” yang ternyata artinya gajah eling, gajah yang ingat. Haha… dulu saya pikir gajah oling ki gajah nggoling atau gajah yang terjatuh😂😁

Filosofi gajah oling ini merupakan simbol kearifan lokal (Banyuwangi) yang menyimpan pesan mendalam tentang kesadaran dan kelenturan jiwa. Gajah oling nggak mengajarkan perlawanan, melainkan eling; kesadaran untuk kembali ke pusat diri. Konsep ini mengingatkan kita bahwa kekuatan sejati bukan pada kerasnya langkah, tapi pada kebijaksanaan dalam menapaki hidup.

Selanjutnya sharing tentang ilmu jiwa yang disajikan dr. Rastho. Meskipun berusaha menegakkan kuping dan pikiran (konsentrasi), bagi saya tetap nggak mudah memahaminya. Mutlak itu karena saya nggak ada basic pengetahuan ilmu jiwa. Sayangnya peserta nggak diberi copy ppt dari pemateri. Kalau nggak mudeng atau nggak di lokasi, ya wes bablas lah…😆😅 Mungkin ada baiknya dishare bentuk pdf ke masing-masing peserta oleh admin seperti memberitahu urutan absen via WA itu. Sekurangnya bisa dibaca lagi.

Bu Gung dengan pengalaman hidup yang luar biasa. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Setelah itu sharing Pak Agung. Saya agak lupa urutannya, dr. Rastho atau Pak Agung yang lebih dulu, cmiiw. Sharing Pak Agung juga berkaitan dengan ilmu jiwa, internal Soul, dan sebagian ilmu marketing. Antara ilmu jiwa dan ilmu marketing ini sering dianggap bertolak belakang, padahal sejatinya saling melengkapi. Marketing bukan sekadar menjual produk, tapi memahami manusia secara utuh: emosi, kebutuhan, dan nilai.

Itulah yang saya tangkap sebagai konsep dasar yang ada di Soul, memahami manusia secara utuh. Ketika jiwa dipahami, strategi menjadi lebih beretika, lebih jujur, dan lebih bermakna. Di sinilah pertumbuhan nggak lagi parsial, melainkan bertumbuh secara menyeluruh: pikiran, perasaan, dan tindakan berjalan searah.

Bunda Arsaningsih mengulas banyak tentang bertumbuh menyeluruh ini. Bahasa Bunda sederhana dan nggak njelimet penuh istilah “asing”. Sambil leyeh-leyeh pun kalau mendengarkan kuliah Bunda, saya bisa memahaminya. Cuman kalau Bunda yang bicara (dari nyimak banyak materi di youtube), saya malah kayak dininabobokkan njur ngantuk dan tertidur😂 Untung pas SC10 nggak tertidur. Sadar diri dan saya melek karena malamnya tidur nyenyak.

...Mbak Nana, anggota Soul Community Bali yang saat SC8, kami banyak sekali sharing. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Pas Bunda memberi materi, banyak orang yang berebutan naik ke panggung. Karena mau diukur-ukur dengan SM untuk berbagai kepentingan “contoh” mereka yang biasa saja, yang sudah upgrade, dll tingkatan dalam menyelesaikan beragam masalah atau mengetahui kecepatan dan kekuatan menerima energi Tuhan. Bunda juga membahas tentang Jonathan (Jo, putra Bu Iin) yang mengikuti Soul sejak anak-anak (Soul Kids) dengan kondisi khusus yang membuat orang tuanya harus ekstra merawat, lalu tumbuh lebih baik, lebih wajar seperti orang lainnya hingga sekarang. Beuh, mata saya mengembun saat Jo dan Bu Iin cerita tentang pengalaman dengan Soul yang membuat hidup lebih berharga dan lebih bijak. Proud of you, Bu Iin 😍❤ Dan turut berduka cita atas meninggalnya suami tercinta 🙏

Puncak dari proses belajar hari ini adalah meditasi dituntun Bunda Arsaningsih. Tujuannya untuk membuka cakra mahkota lebih luas agar kita bisa menerima energi Tuhan lebih banyak. Kalau lebih banyak energi Tuhan yang kita terima, hidup kita bisa lebih sehat, lebih damai, lebih makmur berkelimpahan, lebih selaras harmonis dengan sesama dan semesta. Dengan demikian kita bisa memberikan lebih banyak manfaat untuk diri sendiri, sesama manusia, dan semesta.

Dalam hening, setiap peserta diajak melampaui kebisingan pikiran, menyentuh ruang kesadaran tertinggi, dan merasakan keterhubungan dengan Tuhan, sang sumber kehidupan. Nggak ada paksaan, nggak ada standar persamaan. Meditasi di sini menjadi suatu pengalaman personal yang jujur dan membumi.

...Megu, saya menyebutnya seksi heboh Tim Soul, warawiri sanasini 😀 Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Duh, saya merinding merasakan energi lembut yang begitu hangat dan memenuhi ruangan SC10. Energi yang menyejukkan dan menenangkan jiwa. Adem banget di hati. Bunda Arsaningsih seperti dikelilingi cahaya lembut yang berpendar cantik dan indah, begitu terang, tapi nggak menyilaukan mata. Subhanallah ❤️

Saya yakin Teman-teman yang ada di ruangan SC10 saat itu dan tahapan belajar ilmunya di Soul sudah lebih tinggi tingkatan daripada saya atau yang memang mata batinnya terbuka, pasti bisa melihat dan merasakan hal ini dengan terang. Hati dan jiwa pun menjadi tenang. Hidup seolah sudah begitu mudah dan nggak dipenuhi dengan aneka keinginan-keinginan di luar jangkauan. Karena sejatinya kita hidup ya tinggal menjalani takdir dengan sebaik-baiknya.

Situasi saat di ruangan sisi kiri dari jalan tengah. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Semua persoalan hidup seolah ikut “menghilang” berganti dengan kepasrahan pada Tuhan untuk menyelesaikan atau memberikan solusi pada semua urusan kehidupan. Seolah-olah Tuhan sedang berbicara dengan lembut, “Tenanglah, HambaKu. Mari sini dekat denganKu! Akan Kuselesaikan semua urusanmu.”

Jika kita mendekati Allah dengan berjalan (berupaya mendekat melalui ibadah dan ketaatan), maka Allah akan mendekati kita dengan berlari (memberikan rahmat, ampunan, dan balasan yang jauh lebih cepat dan besar). Ini sesuai hadits Qudsi yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim.

Tim pentas Joglosemar yang memakai baju adat. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Usai meditasi kami break makan malam. Selanjutnya ruang ekspresi dibuka melalui pentas seni budaya dari masing-masing Soul Community; Joglosemar, Bali, Lombok, Jakarta, dll. Tarian, musik, puisi, dan simbol-simbol tradisi tampil bukan sebagai hiburan semata, tapi sebagai bahasa jiwa. Di sanalah ilmu menjelma menjadi rasa hati, yang menemukan wujudnya.

Hakikat dari SC10 ini pada akhirnya memang bukan tentang siapa yang paling tercerahkan, tapi tentang keberanian untuk belajar kembali: dari diri sendiri, dari sesama, dari budaya, dan dari semesta. SC10 mengajarkan untuk terus belajar dengan rendah hati dan sikap terbuka. Dengan demikian kita bisa menyerap ilmu lebih banyak dari mana saja. Dan setelah itu jangan berhenti, tapi sebarkan, teruskan agar menjadi ilmu yang bermanfaat bagi orang lain. Sejatinya sebaik-baiknya manusia adalah mereka yang banyak memberi manfaat pada sesama dan semesta.

Atas dengan teman-teman Soul Community Joglosemar. Bawah dengan Teman-teman Soul Community Bali. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Malam itu ruangan SC10 jadi meriah dengan ekspresi kegembiraan. Menyanyi, menari, berjoged, tertawa bersama, berfoto ria, dll demi memeriahkan acara. Saya berangkat sebagai peserta SC10, pulang menjadi banyak kawan dan saudara. Soul mengajaekan cara-cara sederhana agar hidup lebih mudah, lebih bermanfaat, dan lebih berharga. Bergembiralah, berbahagialah, bersyukurlah, maka hal-hal baik akan datang dengan mudah dalam hidupmu.

Jadi, kalau kamu mau mendapatkan ilmu baru di manapun, siapkan dirimu. Guru atau sarana medianya akan datang kalau dirimu sudah siap belajar dan membuka diri. 🤩💪

Bersambung
Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us:

Soul Conference 10 (SC10) [4]: Bunda Arsaningsih Di Mana?

Kelihatan ya betapa happynya kami 😍 Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Disclaimer:
Catatan ini mungkin nggak “nyambung” untuk Teman-teman non Soul Community (Soul Com), non warga Soulmates. Saya berasal dari Soul Com Joglosemar, Jogja 🙏

Setelah saya ingat-ingat, sepertinya usai Pak Wabup Banyuwangi dan Pak GP undur dari forum dengan diantar Pak Agung dan beberapa orang lainnya, itu panggung diurusi Dokter Rastho yang meminta Bunda Arsaningsih kembali naik ke panggung (cmiiw). Itu kita meditasi ya kayaknya? Bebersih Banyuwangi secara umum. Cmiiw.

Setelah itu, saya keluar mo ke toilet. Ya, betul. Dan karena toiletnya antri, rada lama saya di luar. Setelah dari toilet itulah, saya jumpa Pak Agung yang nanyain soal foto dengan Pak GP itu. Maafkan saya belum sempat foto dengan Pak GP ya, Pak Agung 🙏 Jadi nggak enak karena berasanya Pak Agung berharap saya bisa foto dengan Pak GP; biar sempat ngobrol. Tenang, insyaallah masih banyak kesempatan lain, Pak Agung🙏

Lepas itu sebenarnya saya mo langsung masuk ruang konferensi lagi; tapi kok ya haus dan agak segan saya keluar masuk ruangan kalau pas ada yang bicara di depan. Saya njur ngepos, ngeteh dulu di restoran. Saya pikir acaranya masih selow santai, kan bagi-bagi doorprize dan nyanyi-nyanyi. Besok baru acara inti. Usai ngeteh, saya lihat ada beberapa panitia SC10 nganggur, jadi saya minta difotoin di photo booth itu. Hehe, lumayanlah ada foto sendiri dan nggak ada figuran lalu lalang kek biasanya 😁

Pas saya mau masuk ruang konferensi lagi, kok wes sepi ya? Kayaknya nggak ada suara pembicara di panggung. Waduh, bahaya ini! Lha Bunda Arsaningsih di mana? Jangan-jangan beliau sudah balik istirahat. Kan saya belum jumpa… Haiizh, saya pun bergegas. Masuk ruangan, nggak ngelihat Bunda Arsaningsih di depan, tapi di sebelah kiri ruangan ada banyak orang bergerombol. Mungkin di sana beliau.

“Buuun…., ” begitu usik saya. Dan hei, kami jadi seperti heboh sendiri. Ngobrol, berpelukan, cipika-cipiki, menepuk-nepuk punggung dan tangan; tanda rindu yang mendalam. Love you, Bunda ❤️❤️ Terimakasih untuk siapapun yang mengambilkan foto kami 🙏

Kalau diteruskan bisa lama itu kami ngobrolnya dan saya cukup tahu diri; karena masih banyak teman lain yang antri foto dan mau jumpa Bunda Arsaningsih atau nanyain ngobrolin sesuatu yang penting. Saat itulah saya mendengar Bunda Arsaningsih memberikan semangat ke Mas Adin (kawan kami dari Jogja) agar sehat dan sembuh.

Teman-teman pasti tahu ya, kalau aura energi Bunda Arsaningsih itu adem, halus, lembut, dan bikin hati tenang banget. Kayaknya tuh kita datang dengan banyak masalah pun, belum cerita apa-apa, jumpa Bunda tuh masalah sudah ilang dengan sendirinya 😁

Saya pun rasanya begitu. Jumpa Bunda, langsung berasa lebih enteng hidup saya😅 Padahal lho, saya berangkat nggak ada beban apapun. Biasalah kalau ada ini itu intrik atau polemik gaweyan. Bukan hal besar. Makanan sehari-hari orang kerja. Makin banyak pencapaian biasanya memang makin banyak yang merusuh😁😆

Dulu pertama kali jumpa beliau di Belitung, sebagai orang yang sangat peka energi; saya langsung tahu. Wah beliau power energinya besar. Kalau sudah begitu, saya nggak bisa “melihat” kedalaman jiwanya. Nggak bisa menembus warna auranya. Kalah awu, kalah power.

Kalau mereka yang energinya kecil-kecil atau lebih kecil, biasanya saya wes langsung bisa “mengukur”, “mengulik” karakter dan tahu siapa dia secara cepat. Beruntunglah energi besar Bunda Arsaningsih itu energi kebaikan dan positif, jadi energi saya juga nggak berulah. Karena pernah saya jumpa orang dengan power besar tapi negatif, langsung kek serasa perang itu lho. Biarpun energi saya lebih kecil, tapi nggak terima kalau ada yang sebar-sebar keburukan. Ribut rame, perang nggak tampak. Beneran bikin saya geram, marah, sakit, lemes, tepar, teler klenger juga. Syukurlah akhirnya dia pergi sendiri; karena orang-orang di sekitaran saya mayoritas energinya baik.

Waktu itu Bunda Arsaningsih sempat cerita panjang lebar tentang perjalanan hidupnya. Jatuh bangun mengenali dirinya yang dianggap aneh sejak kecil, proses belajar dan bertumbuh, ngurusin orang-orang sebagai healer, masalah keluarga dan sekitaran orang-orang dekat, sampai saat terkena stroke 2x hingga sembuh kembali. Wes, saya merinding mendengarkan semuanya, termasuk urusan kena strokenya itu.

Saya yang besar di lingkungan medis tradisional Jawa, turun temurun dari 6 generasi di atas saya itu, punya keahlian pengobatan bawaan. Saya misalnya, nggak belajar medis tradisional pun, seperti sudah tahu obat dari penyakit X; harus ramuan ini itu, lelakunya begini begitu biar sembuh, ritualnya perlu ini itu, dll. Entah apa namanya, pokoknya begitulah.

Cuman saya nggak menekuni medis tradisional itu karena almarhum bapak saya melarang. Saya takut juga kalau njur merasa “seolah-olah” jadi Tuhan karena bisa mengatur hidup dan mati orang gegara penyakit. Serem… apalagi yang berkaitan dengan penyakit non medis, macam teluh, santet, dll itu. Cuman dalam kondisi darurat, nggak ada orang lain yang bisa nyelametin pasien yang mengalami kegawatdaruratan, saya tetap kudu bertindak. Kalau nggak gitu yo wes, woles saja 😆

Teman-teman Joglosemar yang berpakaian adat itu yang akan pentas tampil di acara persembahan. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Kembali ke cerita tentang stroke Bunda Arsaningsih tadi. Saya tahu persis ada 3 penyakit yang versi pengobatan tradisional Jawa nggak bisa disembuhkan (kecuali atas anugerah dan berkat Tuhan): owah pikir (edan, gemblung, gendheng, enyengen, dhonggleng, dll sebutan Jawa; modern: gila), rajasinga (sifilis, HIV, penyakit kelamin, gonorhoe, dll sebutan modern), dan owah raga (perot, cangkem mlese, dll sebutan Jawa atau stroke dalam sebutan modern).

Jadi kalau Bunda Arsaningsih stroke sampai 2x dan sembuh total seperti nggak pernah stroke, itu pasti ada lelaku luar biasa yang dilakukannya. Ya, berserah dan pasrah sepenuhnya pada Tuhan. Itu pasti tirakat laku batinnya beneran menembus langit. Dan itu jelas hanya bisa dilakukan oleh orang-orang istimewa atau pilihan. Orang biasa wes jelas nggak bisa.

Saat itu Bunda juga cerita bagaimana fokus switch mode (beralih mode) dari jadi healer (menyembuhkan orang dengan energi dirinya) berganti jadi teacher (guru yang mengajarkan proses atau caranya agar siapapun yang belajar bisa menyembuhkan dirinya sendiri atau membereskan masalah-masalahnya). Saat jumpa itu (2018) beliau nggak ada sebut-sebut tentang Soul, meskipun Soul itu sendiri sudah ada dari 2012 (cmiiw).

Saat itu karena kami ngobrol dekat dan nggak ada boundaries (sekat, jarak, pembatas) saya bisa melihat kedalaman pemikiran dan visionernya Bunda Arsaningsih. Pemikiran-pemikiran beliau seperti masuk ke hati saya. Karena energi itu menularnya cepat sekali, secepat kita berpikir. Saya seolah melihat “cahaya” yang mengitarinya, pelan-pelan turut menghangatkan hati dan jiwa saya.

Jadi kalau dengan Bunda Arsaningsih aja saya bisa begini rupa rasa tenangnya, teman-teman bisa bayangin betapa haru birunya hati saya ketika di Raudhah, Masjid Nabawi, Madinah. Duduk bersimpuh berada di sekitaran Makam Rasulullah Muhammad SAW. Sosok manusia paling mulia sepanjang masa. Itu nggak bisa dikatakan rasanya. Adem tenang banget dengan aliran udara sejuk seperti di luar “dunia fana”. Saat berada di situ, hidup saya seperti terhenti dengan indah. Jiwa saya seolah terduduk di hamparan oase yang menyejukkan.

Kalau tempat itu disebut Taman Surga, mungkin ya begitulah suasana surga kelak. Wallahu’alam. Jadi kalau ada teman yang nyinyirin, kenapa saya rela (dan mati-matian mengusahakan) untuk bolak-balik umroh, ya karena pengalaman spiritual pribadi saya yang nggak mungkin sama dengan pengalaman orang lain. Apalagi bagi mereka yang belum pernah ke sana. Setipe dengan betapa sulitnya kita orang-orang Soul Com untuk menjelaskan SM ke orang yang belum pernah ikut WSM. Nonsense, nggak masuk akal, bagaimana merasakan energi, dll.

Teman-teman kalau memperhatikan lingkungan sekitar, coba cek. Itu lho pastur, pendeta, psikiater, psikolog, bahkan dokter-dokter spesialis untuk penyakit-penyakit berat; kalau sedang menerima pasien (untuk urusan pertobatan, pengakuan dosa, cerita masalah, cerita penyakit, dll) di antara dirinya dan pasien pasti ada kain, sekat pembatas, atau sekurangnya baju tertutup dengan hanya kelihatan mata; itu bukan untuk gegayaan model fashion. Ada maksudnya. Biar energi mereka tetap terjaga baik, nggak terkontaminasi energi negatif dari pasien-pasien yang datang.

Begitu orang berinteraksi lewat suara tanpa sekat, langsung berbaur tuh energinya. Dalam kasus-kasus penipuan online via suara HP, itu ada kiriman energi; sehingga si korban nurut-nurut saja ketika disuruh transfer uang seolah tanpa sadar. Ya, si korban wes jelas dihipnotis dengan memasukkan energi suara si penipu agar korbannya patuh. Makanya hati-hati dengan lingkungan sekitar kita. Pilih-pilihlah orang-orang dan lingkungan yang energinya baik. Karena akan sangat mempengaruhi hidup dan masa depan kita.

Saat itu saya bisa memahami pemikiran Bunda Arsaningsih. Ya, kalau jadi healer hanya beliau yang capek dan energinya pun tergerus. Kalau jadi teacher, jelas tetap capek tapi nggak merusak energi dirinya. Terserah muridnya mau pake ilmunya atau enggak, mau sembuh atau enggak, mau beresin masalahnya atau enggak, itu terlepas dari gurunya. Tentu sebagai guru, beliau akan terus mendorong kebaikan tanpa perlu dirinya ikut terlibat.

Intinya beliau nggak ingin jadi lilin yang menerangi terus hancur, tapi mau bertransformasi jadi bola lampu listrik yang menerangi dan tetap kokoh kuat. Kita pun juga harus begitu. Menolong orang, menguatkan orang, kita juga tetap harus kokoh kuat.

Kami break untuk makan malam. Setelah itu ada wejangan singkat Bunda Arsaningsih tentang bertumbuh menyeluruh. Terus bagi-bagi doorprize lagi. Pokoknya banyak benerlah doorprize acara SC10 kali ini. Saya nggak dapet pun turut gembira melihat mereka yang beruntung mendapatkan.

Mungkin tahun depan, pada SC11 perlu ada satu sesi berbagi kado silang untuk seluruh peserta. Misalnya ditetapkan harga kado antara 70-100 rb isi bebas, dibungkus koran, dan dibagi tukar pas hari pertama atau terakhir. Tentu lebih menyenangkan.

Selesai acara malam itu, banyak teman yang bergerombol di sekitar panggung untuk gladi bersih. Mereka besok malam akan tampil pentas budaya sebagai persembahan masing-masing Soul Com daerah.

Kami yang dari Jogja pun menunggu kawan-kawan yang gladi bersih, ngecek blocking panggung, dan baru pulang ke villa. Alhamdulillah hari pertama SC10 selesai. Alhamdulillah, lega tenan jumpa Bunda Arsaningsih ❤️

Bersambung
Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us:

Soul Conference 10 (SC10) [3]: Konferensi atau Reuni?

Salah satu sisi depan tempat SC10 yang banyak dipake untuk foto-foto. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Disclaimer:
Catatan ini mungkin nggak “nyambung” untuk Teman-teman non Soul Community (Soul Com), non warga Soulmates. Saya berasal dari Soul Com Joglosemar, Jogja🙏

Usai makan siang, kami ke Hotel Ast*n tempat konferensi. Turun dari bus, saya mulai menangkap “kekurangberesan” layanan hotel ini. Sudah jelas 3 hari dipakai penuh untuk acara SC10 dengan lebih kurang 550 orang (500 peserta, 50 tim kru internal SC10 dll pendukung, cmiiw), kamar-kamar penuh dipakai peserta SC10, lhah kok nggak ada 1 pun petugas hotel di lobi atau sisi depan yang manggakke (menerima tamu) kami.

Jangan salah paham, saya (dkk Soul lain yang datang) jelas nggak harus disambut; tapi untuk hotel (sing nganggo bintang lebih dari 3) itu bagian standar layanan yang nggak boleh ditinggalkan. Dan saya (juga beberapa kawan dari Jogja) malah kudu nanya-nanya sendiri ke sesama teman Soul Com daerah lain yang sudah duluan datang, di mana tempat registrasinya.

…dengan Bu Iin. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Kedua, untuk kegiatan sebesar SC10 yang semua urusan tempat-makan-minum-snack-kamar kayak diborongkan ke Ast*n; bisa-bisanya mikrophone, pengeras suara bolak-balik error; nggak bisa dipake, sering mati. Petugasnya kurang training po itu? Atau kalau memang wes rusak nggak bagus, ya dibeliin baru dong.

Ketiga, snack box nya jian nggak bikin orang teringat selain ketidakseriusan mengurusinya. Kotak terlalu besar untuk isian yang nggak penuh. Mbokya tuku dus yang lebih pas dengan isinya. Terus nggak ada air mineralnya, hiiszh piye toh iki? Selain itu ada 1 atau 2 sesi, peserta nggak terima snack box pas acara karena keterlambatan datang. Kuy yang bertanggung jawab ngurus lagi bobok-bobok cantik po?

... dengan Pak Gede. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Keempat, nasi box dengan beragam isian; bisa-bisanya dikasih buah macam pir besar ngglundhung yang nggak dikupas. Dikira kita mongki yang bisa makan buah sekulitnya? 😂Dik Hana sampai bawa tuh buah pirnya balik ke Wonosobo. “Ntar mau aku lelang, Mbak. Buah pir paling mahal. Itung aja berapa biaya aku dari Wonosobo ke Banyuwangi.” Sungguh truwelu, mbokya mikir to itu bagian katering. Kalau apel, kayaknya masih masuk akal. Kita biasa makan apel sekulitnya dengan mencuci bersih. Lhah buah pir? Ampun….

Kelima, saya terganggu ketika petugas nggak dengan cepat menunjukkan cara praktis ke mushola. Saya tahu di hotel ini naik turun lift pakai card (yang hanya bisa diberikan pada tamu kamar hotel), tapi mosok ke mushola nggak bisa dibantu pakai card petugas untuk naik turun? Pakai tangga cuy….🤣 Beuuh, musholanya di lantai 2 yang karena gelap, tersembunyi dan sepi, malah bikin deg-degan. Usai sholat saya wes langsung kabur turun😂

...dengan Pak Agung. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Keenam, kekurangsopanan petugas resto. Saat saya makan dengan Bu Nyoman, di depan saya ada sepasang suami istri sudah sepuh (peserta SC10 juga, tapi saya lupa dari mana). Ya karena makan di meja situ ada sendok garpu dan nasi box sendoknya plastik, beliau berdua hendak menggunakan sendok garpu. Dan apa yang terjadi? Seseorang langsung menegurnya dan hendak mengambil paksa sendok garpu itu. “Bu jangan pakai, itu punya resto! Sendok makan ada di dus!” serunya dengan nada cukup tinggi.

Saya langsung menyeru, “Pinjem dulu itu, Mbak. Nanti dikembalikan.” Lalu si petugas entah ngomong apa, terus pergi. “Pakai aja, Bu, Bapak. Nanti biar dicuci.” Ya ampun, itu lho sendok garpu punya resto (yang juga ada di hotel) dan jelas bisa dicuci nggak akan dicolong pula…

...dengan Bu Adek. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Ketujuh, saya nggak tahu manajemen karyawan hotel. Setiap kali saya ke toilet itu ada 4 atau 5 (kadang lebih) karyawan hotel yang entah ngapain bergerombol di depan toilet. Pakai ribet rame ngerumpi pula. 🤣 Astaga, manajemen nya piye itu kok sampai ada banyak karyawan bisa thenguk-thenguk di jam kerja dan terang-terangan di depan peserta tamu; yang notabenenya pakai bayar layanan hotel. Btw, itu yang saya alami saja yes. Mungkin Teman-teman lain beda pengalaman nya.

Sekarang balik ke SC10 nya. Usai registrasi, terima logistik konferensi; saya mulai mider cari temen-temen yang saya kenali. Iya dong, masa enggak? Satu per satu ketemulah. Dengan Mbak Rina, Pak Gede, Bu Iin, Pak Agung, Bu Adek, Bu Pingky (alias Bu Eni Mariam 🙏), dkk lainnya.

...dengan Bu Pingky. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Pokokmen konferensi untuk belajar dan bebersih hati jiwa itu ya penting, tapi kayaknya lebih penting reuninya… 😁😂 Ketemu temen-temen dan bisa ngelihat mereka baik-baik saja, ngobrol, foto-foto; haha hihi nggak jelas ngerumpi ngalor ngidul… Maafkan saya sajalah, Bunda Arsaningsih; kalau niatnya datang ke konferensi ada belak-belok nya dikit 😂🙏

Terus usai foto-foto saya wes duduk manis seperti arahan panitia SC10. Jan-jane ini tempat duduk saya kok nggak strategis gini ya? Di tepi pinggir sisi depan, nggak di sisi tengah yang biasanya dipake narasumber lewat sebelum ke panggung; termasuk Bunda Arsaningsih. Biar bisa foto-foto cepat 😂 Lha tenan to Bunda Arsaningsih dll narasumber lewatnya jalur tengah. Ah sudahlah, nanti juga jumpa. 😀🙏

...dengan Mbak Rina. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Acara wes mulai dengan prapembukaan, nyanyi-nyanyi, tarian, sambutan-sambutan, njur sambutan Wakil Bupati Banyuwangi. Biyuu, nyadar juga beliau kalau mikrophone bermasalah. Wes ben kalau beliau yang protes mestinya direspon. Karena di hari kedua (cmiiw) kayaknya Bunda Arsaningsih cerita kalau tim SC10 sudah meminta membereskan urusan itu, tapi nggak ada respon. Baru setelah Pak Wabup yang nyebut baru direspon.😂😁 Kadang kita perlu membiarkan saja masalah untuk selesai dengan sendirinya (lewat orang lain, atau jalan lain).

Pak Wabup ini mengulas banyak tentang kemajuan Banyuwangi. Ya, kota ini meraih penghargaan beragam untuk urusan pemerintahan dan pariwisata. Dengan tagline Banyuwangi Njenggirat Tangi. Lah, njenggirat tangi itu bukannya kaget, terkejut? Seperti orang tidur dikagetin gitulah njur njenggirat tangi 😂😁🙈

...dengan teman-teman Soul Com Jogja. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

...Teman-teman Soul Com Joglosemar, yang belum semuanya saya hafal namanya. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Duuh, saya kok langsung ketawa tapi takut dosa gitu ya.🙈 Kalau maksudnya bangkit semangat berjuang berkarya, kenapa nggak pake Gumregah Bangun Jiwa? Haizzh, kenapa saya yang malah mikirin slogannya orang Banyuwangi siy? 😁😂

Setelah itu yang sharing Pak Ganjar Pranowo. Ulasannya tentang pentingnya mendengarkan dan didengarkan. Iyes, nggak setiap kita lho bisa atau mau “mendengarkan” dan banyak dari kita yang bahkan sering merasa nggak “didengarkan”. Hayo ngaku…. 😂 Kalau di Soul kayaknya semua bisa mendengarkan dan pasti didengarkan asal berada pada waktu, tempat, dan dengan orang yang tepat.

...dengan teman-teman yang random asal daerah. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Pak GP lebih banyak mengulas sisi kesehatan mental dengan kedua hal itu. Yach, memang siy kadang masalah kita seberat apapun itu bisa selesai dengan sendirinya kalau “didengarkan” karena kita hanya perlu merasa “diterima”, “dimengerti”, “dipahami”, dan “didukung”; sekaligus kesadaran riil bahwa kita nggak sendirian. Ada lho orang yang bisa support.

Begitulah. Kemudian sesi foto-foto dan bagi-bagi souvenir. Setelah itu kayaknya Pak Wabup dan Pak GP njur meninggalkan ruangan. Nah tenan to, karena saya duduk di pinggiran gitu nggak bisa salaman atau foto dengan keduanya. Wes malez juga saya bergerak ngejar mereka. Di tengah kerumunan orang yang juga pasti mau foto-foto dan salaman😂🙈

Setelah itu apa ya acaranya? Bagi-bagi doorprize siy kayaknya. Ada nyanyi-nyanyi dan joget juga. Lupa saya detailnya. Tapi acara hari pertama ini sampai malem. Nah malemnya itu ngapain aja ya kami? Sik saya inget-inget dulu lah. 😂😁

Bersambung
Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us:

Soul Conference 10 (SC10) [2]: Kesejenisan yang Indah

Sebagian dari Soul Com Jogja, usai makan siang. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Disclaimer:
Catatan ini mungkin nggak “nyambung” untuk Teman-teman non Soul Community (Soul Com), non warga Soulmates. Saya berasal dari Soul Com Joglosemar, Jogja🙏

Jujurly, hari berangkat ke Banyuwangi itu saya beneran lelah. Pagi ke kampus dengan ragaman gaweyan yang tahu-tahu saja sudah Dhuhur. Saya langsung pergi dengan beberapa gaweyan yang jadi pe-er.

Sampai rumah beberes dan packing, mandi, sholat njur berangkat. Untung saya wes biasa pergi, jadi packing cepat dan praktis. Nggak sampai sejam wes rampung untuk pergi 5 hari.

Saat sampai SPBU Adisutjipto depan Lombok Ijo itu saya sempat telpon Mas Robert memastikan pick up saya. Lho ternyata SPBU bandara, saya salah ambil titik mobil online. Ya wes tinggal nambah charge saja. Sesampai di sini saya makan minum di gerai donat dan beli bakpao untuk bekal.

Nggak lama dari itu, bus rombongan sudah datang. Kalau kita ketemu teman-teman Soul Com itu auranya memang beda ya. Adem dan menenangkan. Saya menyalami dan menyapa semuanya, tapi beneran nggak semua nama saya ingat. Ketahuan saya anggota Soul yang nggak rajin ke center buat meditasi bersama 😂🙈🙏

Begitu di bus saya celingak-celinguk nyariin si Zaka, kawan saya pas S-2 di UGM, katanya ikut kok nggak kelihatan batang hidungnya. Bu Rai bilang dia masih di Samarinda dan akan nyusul besok. Ooh begitu. Saya pun ngobrol beberapa hal dengan Bu Rai dan Mbak Ririn. Setelah beberapa waktu, pamitan tidur.

Wajah-wajah semangat mo belajar. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Saya nggak ingat berapa kali bus berhenti, tapi sadar pas di rest area Surabaya. Makan malam. Ya ampun, saya ki pingin makan ayam KFC tapi kok ada yang dumeling (seperti muncul di hati); aah nanti di SC10 juga dapat, ngapain beli. Di sini ayamnya kecil-kecil, mahal pula😂 Akhirnya saya belok arah, makan bakso komplit sekenyangnya. Saya duduk dengan Bu Nyoman yang makan pecel (cmiiw).🙏

Dan ya, Subhanallah hari 1, hari 2, makan di hotel Aston tentu nggak ada ayam KFC. Lhah pas di Djawatan jeeng-jeeng…., dibagikan makan nasi box. Lho tenan ayam KFC dengan nasi sauprit (kecil), sementara ayam crispynya segede gaban 😂 Saya pas dapat 2 potong lagi. Puas betul rasanya… 😋🥰

Jadi beneran lho kalau hati kita pas bersih tuh, keinginan kita pun kayak langsung “dikasih tahu” ini baik, itu buruk, jangan begini, ikut itu saja, dll. Dan dari pengalaman saya hampir 7 tahun mengenal Soul, itu sudah berulang kali terjadi. 🥰

Sepanjang jalan saya lebih banyak tidur. Terbangun lagi di rest area sebelum masuk hutan Situbondo, dan tahu-tahu sudah sampai villa tempat kami menginap. Jadi, maafkan kalau saya nggak bisa cerita banyak tentang perjalanan saat berangkat. Meskipun rerame teman-teman cerita, saya tetap tidur dan nggak tahu mereka ngobrol apa saja.

Alhamdulillah. Villanya luas dan bersih. Saya satu kamar dengan Dik Hana. Beuh dia ini perjuangannya lebih banyak. Dari Wonosobo ke Jogja, lalu berangkat bersama rombongan ke Banyuwangi. Begitu sampai hotel saya beberes mandi, ganti pakaian tidur. Usai Shubuh, saya terkapar lagi: tidur.

Oh ya, untuk Teman-teman Muslim yang ikut acara Soul, karena ini lintas agama lintas budaya; silakan atur urus sendiri waktu sholatmu. Saya biasanya memanfaatkan keringanan ibadah saat perjalanan. Kalau ketemu masjid bagus dan bisa sholat jamak (gabung Dhuhur Ashar atau Maghrib Isya) ya saya lakukan. Tapi kalau nggak kondusif, biasanya saya sholat di kendaraan. Begitupun dengan Shubuh, pokoknya di manapun tetaplah terhubung dengan Tuhan sesuai agama dan kepercayaanmu masing-masing.

Saya tidur sampai matahari benderang. Oh ya, kamar saya cukup luas. Standar hotel bintang 3. AC, air panas dingin, wifi, air minum, teko pemasak air, dll cukup komplet. Cuman nggak ada peralatan mandi. Saya karena wes bawa, nggak ribet lagi soal itu. Dan terimakasih Mas Robert, Mbak Tika yang sudah nyariin kami villa bagus tur murah.😀

Lontong kupang yang kelihatannya enak dan full kerang, tapi nggak bisa saya makan. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Pagi itu kami wes diopyaki sarapan oleh Mbak Rischa dan itu bikin saya bengong. Kan acara jam 14 an nanti, kenapa heboh betul pagi-pagi? Oh iya, ibu-ibu biasa pagi-pagi sibuk siap-siap kerja, masak, nyiapin anak sekolah, nganterin pula. Jadi wes jelas biasa bangun pagi-pagi.

Saya turun makan dengan Dik Hana. Tapi masih dengan setengah nyawa saya. Ya Allah, kok masih lelah ya. Usai sarapan saya naik ke kamar lagi (kamar saya di lantai 2). Niat tidur lewat karena cerita-cerita dengan Dik Hana. Ya pengalaman spiritual setiap orang beda. Alasan bergabung ke Soul pun beragam. Tapi kesejenisannya adalah memperbaiki diri untuk hidup sehat tenang damai sejahtera, kembali kepada Tuhan dengan sempurna.

Jam 12 an kami diminta siap-siap; karena harus makan dulu sebelum ke acara. Saya wes sadar diri gakbawa kaos Soul is Solution karena itu di Tulungagung dan nggak sempat pulang ambil. Saya wes niat saja pakai kaos putih celana merah. Praktis. Tenang, nggak diusir kok nggak pake kaos Soul. Mung beda aja sama kawan-kawan lainnya.

Pas mau keluar lha kok Mbak Rischa ngaruhke. “Mbak kaosmu neng ndi?” “Di Tulungagung nggak sempat ambil.” “Pakai kaosku aja! Sik, tapi ukurane muat ora? Coba ya.” Dia terus ke kamar dan langsung balik bawa kaos Soul. Diberikan pada saya dan langsung saya rangkap saja begitu. Agak ketat, tapi ya wes ben.

Dia bilang selain bawa 2 kaos, juga bawa 2 jaket dan kepake semua. Jaketnya dipinjamkan Bu Ririn, kaosnya dipinjamkan ke saya. Terniyaaat😂😅 Maturnuwun ya, Mbak.. Tapi ya itu hal biasa di Soul. Orang orang yang penuh kasih sayang, saling membantu, saling berbagi, saling memberi, saling support.

Pokokmen kalau jiwamu nggak penuh kasih dan senang berbagi, sebentar aja pasti ketendang sendiri dari Soul, ya karena nggak sejenis. Nggak satu frekuensi, beda channel. Kalau nggak satu frekuensi kan pasti nggak nyambung. Burung-burung aja selalu terbang dengan kawanannya. Serupa betul, meskipun sebenarnya nggak sama. Di Soul pun begitu. Orangnya beda-beda, fisiknya beragam, tapi jiwanya setipe; satu model kebaikan untuk semesta.

Kami makan siang di foodcourt dengan aneka makanan. Salah satunya lontong kupang. Di Surabaya saya makan jenis olahan ini dan senang karena enak. Bumbunya banyak, isian nya udang kecil-kecil yang melimpah. Bayangan itu yang bikin saya memesan di sini. Bhadalah Gusti Allah, nggak sesuai impian saya. Isinya kerang-kerang (selain saya rada paranoid karena pernah keracunan kerang); sungguh ini versi saya, amis, kotor, dan kalau saya paksa teruskan mencium aromanya bae wes bikin mual; maafkan🙏

Jadi saya sorongkan ke tengah meja setelah saya makan lontongnya. Mider keliling mo pesan (indo)mie goreng atau rebus saja. Ndilalah bakule wes gakmau melayani. Ya ampun, akhirnya saya membeli jajanan itu ini yang sekira berat cukup untuk mengisi perut. Yach begitulah, ada yang nggak berkenan di hati saya. Makanya hitung SM saya pas ke SC10 ini nggak sempurna 10, karena ada beberapa hal yang bolong.

Bersambung
Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us:

Soul Conference 10, Banyuwangi (SC10) [1]: Antara Iya Atau Enggak

Saya kebagian duduk paling belakang di bus; dengan Bu Ririn, Mbak Fefti, dan Bu Rai. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Disclaimer:
Catatan ini mungkin “nggak nyambung” untuk Teman-teman non Soul Community (Soul Com), non warga Soulmates. Saya berasal dari Soul Com Joglosemar, Jogja🙏

Saya lupa bulan apa melihat pengumuman SC10 di Banyuwangi, 5-7 Desember 2025. Waktu itu saya langsung nanya Mbak Rina, tentang syarat apakah harus member SDP (Soul Development Program); karena tahun sebelumnya saya nggak bisa ikut SC9 gegara tagline khusus anggota SDP itu jelas-jelas ada di program SC9 di Jakarta.

Agak lama nggak mendapatkan respon karena kesibukan Mbak Rina, di bulan Oktober saya mendapat info detail tentang SC10 di Banyuwangi; termasuk urusan daftar dan bayar. Saya berhitung cepat, biaya SC10 itu per orang 5,5 juta (IDR) non akomodasi dan transport. Kalau acara 3 hari, saya harus menghitung 5 hari (tambahan 1 hari berangkat, 1 hari pulang) PP dari Jogja Banyuwangi. Berhitung praktis, charge hotel, akomodasi, jajan, tiket wisata, transport lokal, oleh-oleh, dll. itu perlu uang min 10-12 juta. Mahal atau murah? Relatif untuk tiap orang. Mereka yang sudah berada di Soul Com biasanya sudah nyiapin dari awal tahun.

Dan versi saya, kalaupun nanti totalnya sekira 12 juta; itu jadi berasa kecil dibandingkan manfaatnya untuk kesehatan mental, hati, dan jiwa. Daripada kamu stres depresi bolak-balik ke layanan medis psikis; konsultasi, suruh cerita berulang-ulang masalahmu (tapi nggak beres-beres juga) lebih bagus ikut SC aja. Nggak usah cerita-ceriti, tahu-tahu beres masalahmu. Jiwamu langsung tenang damai lah, cieeee…. 😀🥰 Cuman ya syarat untuk ikut SC sekurangnya kudu sudah ikut WSM (Workshop Soul Meter).

Makanya Pak Ganjar Pranowo (Pak GP, mantan capres, mantan ketum Kagama) meski jadi pembicara di acara SC10 ini pun, nggak bisa ikut SC10 karena belum WSM. WSM dulu aja, Pak GP; biar tahun depan bisa ikutan SC11… hehe… biar saya bisa foto bareng-lah, Pak GP. Tahun ini saya nggak ikutan foto dengan beliau di SC10, gegara posisi jauh dan malez pulalah mengejar beliau yang langkah kaki panjang-panjang itu😂

Sampai Pak Agung (suami Bu Adek) pas sore atau malemnya di SC10 itu nanyain lepas Pak GP pergi, “Ari tadi kamu sudah foto sama Pak GP?” “Enggak, belom, Pak.” …begini begitu, saya ngelez menjawab pertanyaan Pak Agung dan (mungkin) rasa penasarannya; karena banyak yang minta foto sama Pak GP.

Saya siy cuek bebek, kalau lagi malez foto ya mager bae meskipun ada publik figur. Eh, tapi Pak GP bukanlah sosok asing untuk warga Kagama. Saya kan yo pernah satu frame dengan beliau pas ngisi workshop penulisan untuk Maba UGM dan peluncuran buku baru warga Kagama; tapi wes lali tahun berapa. Yach pokoknya pas beliau masih jadi Ketum Kagama. 😂🙏

Elok tenan kan program-program Soul Bunda Arsaningsih ini. Siapapun ya kudu patuh aturan dan prosedurnya. Nggak bisa instan. Proses bertumbuh itu kudu dilakoni dengan sabar, setahap demi setahap. Versi saya 5,5 juta itu, alhamdulillah kok jadi berasa enteng bae.

Oktober beneran bulan yang supersibuk untuk saya. Berasa habis tenan energi saya saat itu. Untungnya semua happy jadi nggak terlalu berasa capeknya. Wakatobi, Kendari, Surabaya, Gresik-Tuban, Lamongan-Bojonegoro, Tulungagung, Purworejo. Ada yang dolan, tapi gaweyannya lebih banyak berurusan dengan buku, film, dll proyek penulisan. Ada juga seminar akademis urusan kampus.

Full tenan aktivitasnya, sampai saya serasa lupa kalau jadi “dosen” di kampus offline; saking semua pembelajaran satu bulan itu nyaris online. Pun masalah kesehatan sempat bikin saya ragu, berangkat atau enggak ke SC10 ini. Daftar sekarang atau nanti sepulang umroh.

Di awal November, saya mikir serius soal SC10 ini. Itu pas saya melatih dan mendampingi penulisan buku referensi untuk dosen-dosen Teknik Informatika, Teknik Industri UII, Jogja. Rencana program 2 hari, saya minta dipangkas saja 1 hari full day pagi sampai sore. Untung lah pekerjaan kek gini menyenangkan. Happy-happy aja saya.

Kami Soul Com Joglosemar yang ikut bus ke Banyuwangi. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Balik lagi saya mikirin SC10 tadi. Duit untuk program SC10, alhamdulillah ada. Kalau saya daftar dan bayar, ntar meskipun badan rada riwil dikit (batpil, flu ringan, atau lainnya), saya pasti tetap akan berangkat. Kalau nggak bayar, bisa jadi ada aja alasannya untuk nggak berangkat. Hitung SM (Soul Meter) kok tinggi, ya wes langsung bayar. Jian saya memang rada malez kalau ngisi-ngisi form. Mbak Rina yang isikan ini itu sesuai data saya; dan saya tinggal minta no rek untuk bayar. Beres sudah. Bismillah, saya datang ke SC10 untuk bersih hati, bersih jiwa, lebih sehat fisik mental, bahagia lahir batin, selamat dunia akhirat. Amiin YRA.

Dan waah, Soul Com Joglosemar yang berangkat ke SC10 lumayan banyak. Jadi ada Mas Robert yang sukarela dan baik sekali koordinir urusan villa dan transport. Wes nggak pake mikir, saya bilang ikut dan bayar. Berapa ya iurannya? Lupa persisnya, sekira 2 juta saja untuk 3 hari nginap, pp transport Jogja-Banyuwangi, dan wira wiri transport lokal Banyuwangi, termasuk beberapa kali sarapan. Alhamdulillah, budget saya turah banyak. Aman jiwa tenang hati kalau pergi dolan sangunya banyak 😀🙏 Sekarang saya tinggal fokus nyiapin urusan berangkat umroh.

Sampai akhirnya, kesehatan saya sempat drop rada payah. Drama sebelum umroh dan perjalanannya sudah saya catat di Umroh Istimewa, silakan aja lihat dan baca di blog arikinoysan.com ini. Teman-teman juga bisa follow sosmed saya di IG/Twitter/Thread @arikinoysan atau FB Ari Kinoysan Wulandari. Mana saja yang gampang diakses.

Pulang umroh dengan segala pengalaman barunya, saya masih sehat penuh. Tapi 2 hari kemudian, sekitar tanggal 25 November saya beneran ambruk. Dokter sudah keras betul meminta agar saya istirahat, ora pecicilan dolan ke medan-medan berat yang menguras energi. Iyo, saya patuh saja disuruh istirahat, minum obat, vitamin, sempat infus juga, terapi infra red, bekam, pijat, dan nggak dolan…

Hehe… ya pas nggak ada jadwal ke luar kota. Yang saya pikir niy, sekira 7 harian lagi saya wes sehat, bisa ke Banyuwangi jalan darat jauh gitu atau terpaksa absen? Beuuh, gaweyan kampus ya sebajeek banyaknya jelang akhir semester. Jadi saya sedang recovery, tetap kudu ke kampus beberes gaweyan.

Alhamdulillah, awal Desember saya ke dokter wes boleh aktivitas, jangan porsir energi. Tentu saya iyain aja, tapi di SC ya nggak mungkin diem-dieman mager. Jalan, gerak, joget, wirawiri wisata alam. Lha piye, sehat fisik mental itu kuncinya badan kudu aktif gerak😂😁🙏

Dan finally, alhamdulillah saya berangkat ke SC10 Banyuwangi. Ngepos dulu di SPBU Bandara Adisutjipto, jajan donat dan minuman panas dong. Lha hujan kok saat saya berangkat itu. Meskipun wes kenyang, saya kok ya masih laper mulut, pake beli bakpao menul-menul di depan gerai donat. Doyan jajan gitu kok mau langsing, piye ceritanya to Ri, Ari 😆😂

Oke, Teman-teman Soulmates, Soul Com, dkk lainnya; ikuti serunya acara SC10 Banyuwangi secara bersambung lewat tulisan di blog saya ini nggih. Sampai jumpa di tulisan berikutnya.

Bersambung
Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us: