Umroh Istimewa (16): Kalau Saya Kuat….

Di depan areal Masjidil Haram. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Jujurly, saat nulis bagian ini; saya wes rindu banget dengan Tanah Suci. Padahal baru beberapa hari rasanya balik Jogja. Memang secandu itu ya Baitullah. Tenan, tempat yang mo disuruh bolak-balik beberapa kali setahun pun kayaknya saya akan iya iya aja 🤩 Ya Allah, panggil saya lagi ke rumahMu segera dengan kondisi dan fasilitas terbaik. Amin YRA.

Usai umroh kedua, jamaah diminta istirahat lagi sehari. Sebagian ibadah lebih banyak di Masjidil Haram. Sebagian berbelanja. Sebagian umroh lagi. Sebagian Thawaf dan Sai sunnah. Sebagian beberes packingan. Macem-macem kegiatan karena esok harinya kami akan mulai perjalanan panjang balik ke Tanah Air.

Bu Yaya dan Bu Prapti sungguh luar biasa hebat semangatnya. Yang saya ingat mereka beberes barang banyak banget; karena termasuk mengurus packingan bagasi suami mereka. Terlebih sudah diwarning oleh TL kalau bagasi di Tanah Air hanya 25 kg, sementara internasional 30 kg. Jadi kalau nggak mau boncos bayar bagasi ya kudu ditata ulang.

Kami di pelataran Masjidil Haram. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Saya nggak banyak beberes. Begitu mandi ganti baju; biasanya baju yang kotor saya angin-anginkan seharian atau semalaman. Setelah itu lipat ringkas rapi masuk kantong pakaian kotor dan dimasukkan lagi ke koper bagasi. Jadi ya nyaris nggak banyak ribet. Biasanya orang-orang masih beberes, saya wes tidur duluan.

Bu Sida, entah ke mana. Ibu muda ini paling rajin ke sana kemari. Macam-macam barang yang dibelinya untuk banyak orang di lingkungan keluarganya. Beuh, saya salut betul dengan semangat luar biasa mereka bertiga.

Pada titik tertentu saya merasa pasti sudah akan “melambaikan tangan” give up untuk mengikuti semua aktivitas fisik mereka. Bahkan saat di Madinah, saat mereka mau belanja via pintu 338 Masjid Nabawi, saya memilih balik hotel. Bukan nggak pingin belanja, tapi kalau saya paksakan jalan belanja, bisa ambyar urusan ibadah saya.

Kami di dalam areal Masjidil Haram. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Usai sarapan, Bu Yaya dan Bu Prapti bilang kalau usai beberes akan ke masjid sampai usai Dhuhur waktunya makan siang. Saya yang saat itu merasa sehat kuat juga ikut berangkat ke masjid. Saya bilang akan mengajak mereka berdua untuk thawaf sunnah, dengan catatan kalau saya kuat….

Kondisi tubuh yang sedang nggak fit, apalagi saat sedang berada di Tanah Suci, memang membawa beban emosional yang berat. Ada rasa rindu yang membuncah untuk menyentuh Baitullah, tapi raga seolah nggak sinkron dengan semangat jiwa. Untunglah saya wes mengikhlaskan saja. Sesuk baleni maneh, besok kembali lagi 🤩💪

Bu Yaya dan Bu Prapti, dua jempol untuk mereka. Semangat tenan. Luar biasa. Sehat-sehat terus ya, Bu-Ibu ❤️ Dan mereka bilang ada satu kakaknya, yang belum bisa ikut umroh. Kalau saja mereka ada uang lebih banyak, pasti kakaknya itu diajaknya serta. Sampai di sini saya merasa seperti Allah sedang mengajak saya berbicara, “Itu lho Ari, ada banyak yang pingin ke sini, tapi belum bisa datang. Jadi kamu kudu semangat, nggak boleh menyerah sama lelahmu.”

Di dalam areal Masjidil Haram. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Dan ya, memang saya jadi lebih semangat; meskipun setiap langkah menuju Masjidil Haram terasa jauh lebih panjang dari biasanya. Ada rasa sesak di dada melihat ribuan jamaah lain berduyun-duyun menuju Ka’bah, sementara saya hanya bisa sholat, beribadah di dalam masjid. Itupun tetap saya syukuri sepenuhnya.

Bagi mereka yang nggak fit, memandang Ka’bah dari lantai atas atau melalui jendela seringkali menjadi obat sementara. Ada getaran hebat saat melihat arus manusia yang berputar tanpa henti seperti pusaran air yang tenang. Di saat itulah muncul doa yang paling tulus: “Labbaik Allahumma Labbaik. Ya Allah, aku datang memenuhi panggilan-Mu, meski langkahku tertatih, meski ibadah terjeda. Mohon beri ampunan yang luas dan pahala yang sempurna.”

Niat baik itu penting, tapi nggak setiap niat baik bisa terwujud. Usai sholat bermacam dan doa panjang di Masjidil Haram, saya mulai merasa ngedrop kembali. Keringat dingin sudah mulai terasa di punggung dan pelipis saya. Jangankan untuk thawaf, saat itu saya wes mikir bagaimana kalau nggak sanggup jalan pulang ke hotel.

Bagian langit-langit Masjidil Haram yang tinggi, bikin adem. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Begitu saja saya memohon agar rasa sakit dan lelah diangkat sementara waktu; demi bisa menyelesaikan sholat jamaah Dhuhur dengan sempurna menyambung sholat bakdiyah dan sholat jenazah, hingga kembali ke hotel dengan baik.

Saya meyakini bahwa Allah Maha Tahu isi hati. Jika pun fisik benar-benar nggak mampu, pahala niat sudah dicatat dengan sempurna. Saya menyadari bahwa bersabar dalam sakit saat di Tanah Suci juga merupakan bentuk ketaatan yang bernilai pahala besar. Jika kondisi memang nggak memungkinkan untuk jalan kaki, saya wes mikir untuk minta bantuan kursi roda sampai hotel.

Syukurlah itu nggak terjadi. Meskipun lamban dan tertatih-tatih melawan lemas, saya kembali ke hotel jalan kaki bersama Bu Yaya dan Bu Prapti. Alhamdulillah. Usai makan siang, saya wes langsung terkapar. Minum obat dan tidur.

Semoga jika sampeyan sedang dalam kondisi seperti ini di Tanah Suci, tetep rileks, terus ikhlaskan saja. Mohon Allah segera angkat penyakitnya, berikan kesembuhan yang paripurna, dan mudahkan langkah untuk mendekap Ka’bah dalam thawaf yang khusyuk. Karena nggak menerima kondisi, hanya bikin kita mau protes saja sama Allah. Padahal pasti ada hikmah di balik sesuatu yang kelihatannya nggak baik.

Bersambung
Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us:

2 Balasan untuk “Umroh Istimewa (16): Kalau Saya Kuat….”

  1. Terima kasih mbak Ari yg selalu membersamai saya dan kakak saya, jempol untuk mbak Ari yg selalu bersyukur serta ikhlas menerima ujian, yg indah pada waktunya

Tinggalkan Balasan ke Ari Kinoysan Wulandari Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *