

Foto sebagian anggota keluarga. Lebaran Maret 2026. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari. Photos Dita Kusuma.
Lebaran selalu identik dengan riuh kegembiraan dan keakraban keluarga, sanak saudara, handai taulan, kawan kerabat, tetangga jauh dekat, dan semua relasi. Di rumah ibu saya pun begitu. Tawa riang yang bersahut-sahutan, suara piring beradu di dapur, aroma aneka masakan (non opor kupat yang sudah mainstream) menguar sejak pagi. Dan tentu saja obrolan panjang pendek yang kadang nggak penting, tapi terasa menghangatkan hati.
Namun, di tengah semua itu, ada satu sudut yang sering sunyi, tempat biasa saya berdiri, sebagai perempuan lajang yang sudah terbiasa dengan kehidupan sendiri. Bukan hal baru, sebenarnya. Dari tahun ke tahun, saya sudah paham ritmenya. Pertanyaan yang sama, candaan yang setipe, tatapan yang kadang terasa mengasihani atau mungkin saya yang terlalu baper. Saya sudah lama menormalisasi keadaan yang nggak sama dengan orang lain.
Saya sudah ahli belajar untuk tersenyum, mengalihkan pembicaraan ke hal-hal yang umum, dan tetap berada di antara keluarga besar tanpa merasa kecil hati. Karena saya sadar betul, setiap orang menjalani takdirnya masing-masing. Dan bagi saya, perempuan matang belum menikah atau bahkan mereka yang memutuskan nggak menikah itu bukan kesalahan atau dosa sosial, tapi pilihan hidup yang bisa dijalani dengan bertanggung jawab.
Itu kenapa saya nggak sepakat dengan mereka yang memutuskan untuk nggak kumpul keluarga besar saat lebaran, kumpulan trah, tahun baru, dll karena belum menikah, belum punya anak, belum kerja (mapan), belum punya rumah/mobil, dll standar umum. Selain semakin menjauhkan diri dari keluarga besar, juga membuat akses silaturahmi terputus. Dan juga nggak menyelesaikan masalah. Kalau belum menikah njur nggak ikut kumpul-kumpul keluarga, juga nggak langsung ujug-ujug menikah.
Versi saya, hidup itu kuncinya ya menghadapi semua masalah dengan lapang hati. Percayalah, kadang omongan atau pertanyaan orang-orang itu nggak sepribadi yang kita kira. Mung waton atau asal ngomong daripada nggak bicara. Jadi ya nggak usah terlalu dimasukin hati. Cuman ya untuk bisa begitu, butuh keluasan hati.
Tapi Lebaran kali ini berbeda. Bukan karena suasana keluarga yang berubah, tapi karena tubuh yang tiba-tiba memaksa saya untuk berhenti. Malam takbiran itu seharusnya sama seperti biasanya. Saya membersihkan diri lebih awal, bersiap menyambut hari kemenangan dengan hati yang ringan. Namun, satu langkah yang tergelincir di kamar mandi mengubah segalanya. Bunyi jatuh itu masih terngiang; berdebum keras, tiba-tiba, dan diikuti rasa nyeri yang menjalar ke seluruh tubuh. Sejak saat itu, semuanya melambat. Bahkan nyaris berhenti.
Pagi Lebaran datang tanpa semangat yang biasa. Saya hanya bisa terbaring, dengan tubuh yang menolak diajak bergerak. Di luar kamar, suara salam-salaman, gelak tawa, dan langkah kaki tamu yang datang silih berganti. Kadang pintu kamar saya diketuk, wajah-wajah muncul dengan ekspresi khawatir, lalu pergi lagi dengan cepat, kembali ke keramaian yang nggak bisa saya ikuti.
Saya tersenyum setiap kali ada yang datang. “Cepat sembuh ya,” kata mereka. Saya mengangguk. Seolah sesederhana itu. Hari-hari berikutnya terasa lebih sunyi. Keluarga besar piknik ke pantai, tradisi lebaran yang selalu dinanti. Saya bisa membayangkan semuanya: angin laut yang hangat, suara ombak, anak-anak berlarian, dan sesi foto yang nggak boleh absen.
Kali ini, saya harus terima piket jaga rumah, karena kaki pun sakit luar biasa untuk digerakkan. Dari kamar tidur ke kamar mandi saja, sudah butuh perjuangan ekstra dengan jalan merambat. Dan piknik kali ini, saya hanya menjadi penonton dari cerita yang dibawa pulang dalam bentuk foto dan video di grup keluarga.
Di layar ponsel saya, mereka terlihat begitu bahagia. Seperti lebaran-lebaran yang lalu, setelah nyaris 20 tahun kami kehilangan bapak —yang meninggal di hari pertama Idul Fitri. Alfatehah untuk beliau. Damailah sukacita di surga dalam perlindungan Allah, Bapak. Amiiin YRA ❤️
Dan saya ikut senang dengan kegembiraan mereka. Sungguh. Hanya saja, ada ruang kecil di hati yang terasa berbeda, kekosongan karena nggak bisa beraktivitas, bercengkerama, atau sekadar duduk bersama. Baru kali ini saya merasa lebaran begitu sunyi dan sendiri. Lebaran tanpa gangguan aktivitas yang berarti. Membuat saya punya banyak waktu mengingat perjalanan hidup yang sudah berlalu. Membuat saya tetap bersyukur. Sepanjang hidup, baru kali ini lebaran dengan hadiah sakit.
Lebaran kali ini saya lewati dalam diam. Mengirim, membalas pesan Idul Fitri pun nggak bisa saya lakukan dengan leluasa. Selain badan nyeri, kaki sakit, tangan kanan pun sakit untuk beragam aktivitas fisik yang terlalu berat. Oh membuka botol minuman air mineral pun harus minta bantuan orang lain. Sungguh nikmat berkahlah mereka yang hidup dengan sehat.❤️
Namun, di tengah diam itu, saya belajar lagi. Tentang menerima. Tentang sabar menghadapi hal-hal yang nggak pernah kita rencanakan. Tentang menyadari bahwa kesendirian nggak selalu berarti kesepian, meski kadang sepi ya terasa begitu dekat. Terutama kalau habis banyak orang di rumah, lalu kembali sunyi setelah mereka pulang.
Saya mulai menikmati dan memperhatikan hal-hal kecil lainnya: cahaya matahari yang masuk dari jendela kamar, suara takbir yang masih terdengar samar dari kejauhan, dan waktu yang akhirnya memberi saya jeda; untuk benar-benar beristirahat tanpa gangguan, bernapas lebih lega, dan bisa lebih cermat mendengarkan keinginan dan harapan diri sendiri.
Lebaran kali ini mungkin nggak seperti adatnya. Nggak ada tawa panjang yang saya ikuti di ruang tamu, nggak ada jejak kaki di pasir pantai, nggak ada foto bersama keluarga, nggak ada keriuhan reribetan makan bersama, dll keakraban. Tapi ada pelajaran yang saya catat, bahwa hidup nggak selalu berjalan sesuai rencana, dan itu ternyata ya nggak apa-apa. Semua tetap baik-baik saja.
Saya masih di sini. Masih belajar sabar. Masih percaya bahwa setiap hal yang tertunda, mungkin sedang disiapkan dengan cara yang lebih baik. Dan Lebaran kali ini bukan tentang keramaian. Tapi tentang menerima, dengan hati yang pelan-pelan menjadi lebih lapang. Alhamdulillah.
Selamat berlebaran. Mohon maaf lahir dan batin. Mohon maaf untuk pesan-pesan lebaran yang lambat berbalas atau bahkan belum saya kirim. Tapi dengan sungguh hati, saya telah memaafkan semua orang yang saya kenal dan meminta maaf secara batin kepada semuanya. Semoga semua sehat, damai, sejahtera, panjang umur berkah dan bertemu dengan Ramadan dan Lebaran tahun berikutnya. Amin YRA.
Ari Kinoysan Wulandari
