Surga di Wakatobi (1): Perjalanan Panjang

Bandara Halu Oleo, Kendari. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Nggak seperti Sanur, Kuta, Tanjung Benoa, Bunaken, Raja Ampat, Derawan, Karimun Jawa, Losari, Pahawang, dll tempat wisata laut yang populer; saya yang lahir dan besar di dataran rendah Tulungagung, Jawa Timur; nggak mengenal kata Wakatobi. Kosakata itu baru saya kenali jelang akhir tahun 2013 saat studi S-3 UGM.

Ada mahasiswa La Ode Rabani (saya memanggilnya Pak Ode) yang memperkenalkan diri, termasuk menyebut kata Wakatobi itu. Di mana ya itu? Pikir saya berkerut. Rada niat, sepulang kuliah bukannya nanya ke ybs tapi malah ngecek di peta. Oalah, Sulawesi Tenggara. Jauh. Googling sejenak saya bisa mendapatkan sedikit info tentang surga bawah laut Wakatobi. Dari 750 spesies di dunia, lebih kurang 500 spesies bawah laut (cmiiw) ada di Wakatobi. Belum terumbu karang yang luar biasa cantik. Wah, boleh juga kalau main ke sana.

Seperti kebanyakan orang dari negeri pelaut, Pak Ode juga berwajah keras (cenderung serem kalau nggak kenal, serius banget kalau lagi kerja). Sampai beberapa bulan di kelas, saya mung tahu namanya Pak Ode dan nyaris tanpa interaksi. Lha saya datang ke kampus 5 menit sebelum kuliah, usai kuliah ya pulang untuk ngurusin gaweyan.

Baru ketika ada kegiatan pengabdian masyarakat dari studi S-3 Ilmu-ilmu Humaniora UGM di Gunung Kidul, kami mulai ngobrol ini itu. Saya yo nanyain tentang Wakatobi dll biaya ke tkp. Besar. Dan keinginan ke tempat itu nggak kesampaian sampai saya lulus S-3 di 2016. Lalu saya wes sibuk gegaweyan, Pak Ode masih lanjut kuliahnya sampai lulus di 2021.

Salah satu sisi dalam Bandara Halu Oleo, Kendari. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Sepanjang ingatan saya selanjutnya, Pak Ode ini baik banget. Rajin nengokin temen-temen yang sakit, rajin silaturahmi, rajin membantu siapa saja. Dan saya kalau dicolek WA, “Ari ayo ikut ke sini, ke rumah si ini, tengok si itu,” dll.; pokokmen saya bisa, saya yo ikut aja. Pernah saya menegurnya keras karena terlalu baik nolongin orang, dianya sendiri malah repot.

Sebelum bergabung jadi dosen, saya nggak tahu pentingnya “sertifikat seminar” untuk kelangsungan hidup dosen (untuk memenuhi BKD semesteran). Singkat ceritanya Pak Ode ini membantu teman yang nggak hadir seminar untuk memintakan sertifikat (yo karena panitia penyelenggara juga konco-konco Pak Ode). Wes dapet sertifikat itu lho, nggak diambil sama yang minta tolong malah Pak Ode disuruh nganterin sertifikat ke rektorat jelang maghrib. Haish… kebaikannya kebangetan. Yang ditolong mbuh nggak tahu saya, bilang terimakasih atau enggak.

Kalau saya catatkan kebaikan sahabat saya itu, bisa panjang sekali. Karena kami masih bersambung baik komunikasi, meskipun saya sudah lulus lama. Mungkin benar kata Pak Ode, saya nggak baperan, gampang diajak urusan ini itu mo dolan atau gaweyan.

Saya, Pak Erens, Pak Ode, Gus Jalil di rumah makan Maros, by pass Kendari. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Tahun berlalu, saya wes nyaris lupa dengan keinginan ke Wakatobi. Ada beberapa open trip ke tempat ini, tapi karena tahu perjalanan panjang dan berisiko, saya nggak pernah mendaftar. Beberapa kali kalau Pak Ode pulang kampung, saya yo pingin ikut; tapi itung-itungan budget saya kok nggak cukup. Yo lewatlah sudah. Meskipun doyan dolan, sebagai penulis profesional dengan model freelancer; saya punya manajemen keuangan yang ketat. Jangan sampai gegara piknik njur nanggung utang nggak perlu.

Tahu-tahu pas Juni 2025, saat saya memenuhi undangan DSBK (Dialog Serantau Borneo Kalimantan 2025 untuk tiga negara, Indonesia-Malaysia-Brunei Darussalam) di Samarinda, Kalimantan Timur; Pak Ode nyeletuk di grup piknik kalau mau ke Wakatobi bulan Agustus atau September via laut. Wes, saya nggak pake lama bilang mau ikut, tapi menawar agar bisa lewat udara.

Tahun 2025, saya memang sudah niat kalau duit nggak cukup untuk piknik jauh-jauh ke luar negeri; akan saya bereskan piknik-piknik domestik yang belum saya penuhi, termasuk Wakatobi. Dari Januari sampai bulan ini, catatan piknik saya dalam negeri semua. Nggak selalu lebih murah dari piknik luar negeri, tapi sekurangnya aman terjangkau di kantong saya.

Juli saya jumpa Pak Ode di Jogja, untuk cek ricek jadwal dll. Agustus atau September, dia bilang pulang ke Wakatobi karena ada keluarga yang menikah. Dia minta saya pergi lain waktu, juga pertimbangan ombak laut. Kalau ada acara keluarga, pasti dia nggak bisa nganterin saya keliling piknik. Saya bilang oke menunggu kabar saja.

Situasi di salah satu sisi Pelabuhan Kendari. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Akhirnya kami sepakat untuk pergi bulan Oktober. Itu saya masih di Lovina, Bali. Saya bilang akan urus tiket dll setelah piknik dari Bali. Saya masih berpikir bahwa ini trip pribadi tanpa ada acara official. Ya wes ben gpp, sudah niat pikir saya.

Ternyata saya dapat undangan dari Bupati Wakatobi untuk Wakatobi WAVE 2025 (Pameran Budaya dan Expo UMKM) tanggal 3-5 Oktober. Malah kebetulan. Alhamdulillah. Kemudian kami chitchat soal waktu dll keberangkatan, termasuk sharing penulisan di Universitas Halu Oleo. Saya wes manut saja saran-saran Pak Ode; karena memang ngeblank belum pernah ke sana.

Belum sampai pertengahan September, tiket-tiket sudah beres. Dan saya masih sibuk kerja seperti biasa sampai akhir bulan, bahkan lembur bikin rekaman-rekaman perkuliahan dan tugas-tugas pengganti. Mestinya siy seminggu cukup, tapi dari hitung Soul Meter (SM) saya, kayaknya bakal 2 minggu nggak bisa tatap muka langsung.

Tanggal 1 Oktober, sejak jam 03 dini hari saya wes bangun. Siap-siap dan packing. Jam 05 ke Stasiun Tugu, Jogja untuk kereta pagi jam 06 lewat dengan Sancaka. Jam 11.00 sudah sampai Stasiun Gubeng, Surabaya. Di sini saya jumpa Pak Ode dan berangkat bersama ke Bandara Juanda. Lumayan jalanan agak selow, tapi panasnya kota buaya tetap menyengat. Kami masih sempat ishoma di bandara, sebelum terbang jam 13 WIB ke Kendari dengan Super Air Jet.

Kapal Uki Raya yang membawa kami dari Kendari ke Wakatobi. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Jam 16.30 an WITA sampai Bandara Halu Oleo Kendari. Wes, mulai beresahan karena Pak Erens yang jemput kami nggak datang-datang. Baru setelah 40 an menit Pak Erens datang dengan Gus Jalil. Itu juga gegaranya versi Pak Erens, Pak Ode nelpon baru tadi siang pas di Bandara Juanda, kan mestinya sehari sebelumnya atau lebih lama lagi. Hehe, kami ini bukan tipikal orang-orang yang mau ngerepotin teman. Tapi kalau nggak dikontak pas kami ada di TKP, wah bisa diomelin panjang nanti kalau jumpa lagi.😁😂

Senang sekali saya jumpa Pak Erens yang juga kawan S-3 tapi beberapa tahun di atas saya; rasanya seperti baru kemarin aja kami beribetan urusan disertasi dengan segala intrik dan polemiknya. Sebenarnya kalau diteruskan, bisa saja semalem sepagian kami ngobrol. Jadwal berangkat kapal yang membatasi pertemuan kami, termasuk waktu makan. Karena kalau nunggu ikan segar dibersihin dan dimasak, makan waktu dan bisa-bisa ketinggalan kapal. Untung ada Gus Jalil yang bisa memilihkan tempat makan ikan sudah langsung masak, nggak perlu menunggu. Begitu kami datang, memilih menu, makan, bayar, dan lanjut ke pelabuhan.

Di Pelabuhan Kendari, baru juga kami duduk di warung kopi, suara peluit kapal (cmiiw) sudah bunyi. Jadi terpaksa kami bergegas mendekat kapal. Pak Ode yang masih mengurus tiket kapal, masih nggak tampak batang hidungnya. Gus Jalil memanggil meneriakinya, dan kami bergegas menemuinya. Ooh, rupanya baterai HP Pak Ode hampir drop, jadi nggak bisa ditelpon atau menelepon. Untung Pak Erens awas mata, karena katanya Pak Ode orangnya unik gampang dikenali.

Akhirnya kami berpisah di tangga kapal dan janji akan jumpa lagi ngopi Kendari. Saya dan Pak Ode melanjutkan perjalan nyeberang pakai kapal Uki Raya jam 19.30 an WITA. Kapal besar terasa penuh sesak. Semua bagian terisi orang. Lalu lalang dan berisikan obrolan dengan suara kencang terdengar di mana-mana. Jelas nggak saya mengerti, karena mereka mayoritas bicara dengan bahasa daerah setempat.

Sudah bangun usai Shubuh di dalam kapal. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Pedagang lalu lalang hilir mudik menawarkan aneka dagangan; dari makanan, minuman, buah-buahan, obat-obatan, permen, dll. Pak Ode berulang nanyain saya, sudah cukup bawa air, permen, jajanan, dan obat mabuk laut. Saya ngikik. Air dan permen sudah. Jajanan nggak perlu karena wes kenyang. Obat mabuk laut?

Seingat saya seumur-umur naik perahu atau kapal ya nggak pernah mabuk. Belakangan pas sudah di Jawa itu Pak Ode bilang sangat khawatir kalau saya nggak nyaman naik kapal karena sangat lama. Lha saya mikirnya nyeberang ke Wakatobi itu mung 2 jam, bhadalah 8-9 jam. Ya ampun, terbang ke Jeddah dong saya 😁😂

Wes pokmen kapal itu ramai banget. Dan karena beli tiket last minute, gakbisa milih tempat. Tahu sendiri di bawah ribet ramenya orang lalu lalang dengan suara gedebukan kaki-kaki —yang ampun sampai jauh malam bikin saya belum tidur. Belum suara mesin yang bikin telinga saya nging-nging rada nyeri.

Oh iya, di kapal ini sarpras cukup memadai. Mushola ada, meskipun cukup untuk dua orang saja. Toilet banyak. Ruang terbuka banyak. Tempat-tempat barang memadai. Saya bertanya ke Pak Ode, apa barang-barang aman bergelatakan begitu saja dengan banyak orang yang nggak dikenali. Katanya aman ya sudah, meskipun saya sempat khawatir juga lha laptop dll piranti kerja di situ kalau ilang, biyuuu…. ampun.

Alhamdulillah, akhirnya sampai juga di (Pelabuhan) Wakatobi yang jauh di sana. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Sempat lihat laut di luar, tapi versi saya karena banyak orang merokok, jadi udara terasa sesak. Saya memilih segera balik ke tempat tidur. Mungkin karena sudah lelah, selepas sholat isya (entah jam berapa) saya wes tidur pules. Sempat terbangun sejenak jam 02.30 dini hari, saya njur berdoa saja dan tidur lagi.

Nyenyak betul saya tidur, sampai nggak dengar lagi langkah orang lalu lalang. Saya dibangunin Pak Ode jelang kapal sandar. Katanya kalau sudah dibagi teh, berarti sudah mau sampai. Oh bagus juga dikasih teh panas biar melek. Saya njur bebersih, sholat Shubuh, dan balik lagi ke tempat. Sekitar 05.30 WITA (keesokan harinya) barulah kapal sampai di pelabuhan Wakatobi.

Ya ampun, sekali jalan lebih dari sehari semalam. Jauhnya tempat yang bernama Wakatobi ini. Itu pun baru sampai pelabuhannya. Toh saya berulang mengucap alhamdulillah, sudah menjejak tanah surga ini. Saya wes bisa senyum lebar lagi, karena mungkin sudah cukup tidur; meskipun kalau disuruh tidur lagi, sampai siang pun masih mau😁😂

Oh iya, untuk harga tiket-tiket, Teman-teman silakan cek di marketplace langganan ya. Yang jelas kalau di Kendari mobil online tersedia 24 jam, tapi di Wakatobi nggak ada layanan aplikasi online. Kudu sudah pesan atau ada yang antar jemput ke mana-mana. Selanjutnya akan saya ceritakan apa saja yang saya lakukan dan alami selama trip Wakatobi ini.

Bersambung.
Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us:

4 Balasan untuk “Surga di Wakatobi (1): Perjalanan Panjang”

Tinggalkan Balasan ke Indah Novita Dewi Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *