
Ilustrasi dibuat dengan AI. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Dalam situasi ekonomi seperti sekarang ini, sudah banyak himbauan agar kita yang kelas mendangmending, menengah ke bawah banyak ke bawahnya ini, untuk berhemat sebisanya. Inflasi terus naik, penghasilan nggak naik, bahkan nilainya makin nyungsep karena kenaikan harga-harga barang kebutuhan dasar.
Mereka yang lama jadi freelancer seperti saya, mungkin sedikit terbiasa dengan segala barang “mahal” dan “non subsidi”. Jadi yo wes biasa saja dengan situasi yang nggak ringan begini.
Dalam beberapa tulisan saya tentang keuangan saya juga menyebutkan ada proyek dengan penghasilan besar atau hanya gaweyan dengan cuan imut-imut, saya wes ikut saja hidup standar normal yang saya tentukan. Versi saya cukup, nggak pelit tapi juga nggak foya-foya dalam penggunaan pendapatan. Ada masa paceklik non penghasilan yang nggak akan dimengerti oleh mereka yang non freelancer.
Sekarang ini saya akan menuliskan tentang
“uang-uang nggak jelas”. Hal ini menarik karena dekat dengan kehidupan saya atau mungkin juga kita sehari-hari: uang yang sebenarnya sudah disiapkan untuk satu kebutuhan, tapi kebutuhan itu tiba-tiba terpenuhi dari sumber lain. Daripada merasa uangnya “hilang” atau langsung habis untuk hal lain, uang tersebut sengaja saya kumpulkan sebagai tabungan kecil yang baru dibuka untuk kebutuhan besar.
Itulah yang saya maksudkan dengan uang-uang nggak jelas. Bukan uang haram. Bukan pula uang hasil korupsi. Ini justru uang yang datang dari keberuntungan-keberuntungan kecil dalam kehidupan sehari-hari.
Misalnya, pada list anggaran bulanan sudah menyiapkan uang Rp120 ribu untuk membeli daging satu kg. Tiba-tiba saudara datang mengirimkan dua ekor ikan gurame yang masih segar. Rencana membeli daging pun batal.
Nah, uang Rp120 ribu itu nggak lalu saya anggap sebagai uang lebih yang boleh langsung dibelanjakan. Uang itu saya masukkan ke tabungan “nggak jelas” atau “lain-lain”.
Berikutnya ada anggaran Rp50 ribu yang seharusnya untuk membeli camilan, ternyata nggak jadi karena ada teman yang membawa oleh-oleh. Masukkan lagi ke tabungan.
Minggu berikutnya, sudah nyiapin Rp200 ribu untuk makan di luar, tapi ternyata ada acara keluarga dan makan sudah disediakan. Masukkan lagi ke tabungan lain-lain.
Begitu juga uang parkir yang ternyata gratis, ongkos kirim yang mendapat potongan, uang belanja yang ternyata lebih murah dari perkiraan, atau anggaran beli sesuatu yang akhirnya nggak jadi karena mendapatkan barang serupa dari saudara atau teman.
Semua uang itulah yang masuk tabungan “nggak jelas” atau lain-lain. Dan yang versi saya menyenangkan di sini, kita nggak perlu merasa sedang menabung.
Sebab uang itu memang sejak awal sudah “hilang” dari perhitungan keuangan kita. Kalau Rp120 ribu untuk daging ternyata nggak jadi digunakan, kita nggak perlu memasukkannya kembali ke anggaran bulanan. Anggap saja kebutuhan daging sudah tergantikan oleh gurame.
Uangnya punya kehidupan baru. Masukkan ke rekening atau celengan khusus bernama “uang nggak jelas”. Jangan diambil untuk membeli kopi, baju, makanan, atau barang yang sebenarnya nggak penting atau sudah ada anggarannya. Biarkan ia mengendap. Setahun kemudian, baru dibuka. Bisa jadi kita akan terkejut.
Uang Rp120 ribu dari daging. Rp50 ribu dari camilan. Rp75 ribu dari ongkos yang nggak jadi keluar. Rp200 ribu dari makan di luar yang batal. Rp100 ribu karena mendapatkan barang gratis. Sedikit demi sedikit, uang-uang yang nggak jelas itu ternyata menjadi jelas juga tujuannya.
Di sinilah keuntungan kita. Uang itu bisa untuk kepentingan besar. Bisa untuk bayar pajak kendaraan. Memperbaiki rumah. Membeli peralatan kerja. Bayar biaya sekolah anak. Beli tiket piknik. Bisa untuk membantu keluarga. Bisa untuk investasi atau dana darurat ketika ada kebutuhan yang nggak bisa ditunda.
Kuncinya hanya satu: jangan merasa punya uang itu. Sebab begitu kita merasa punya, biasanya uang itu segera menemukan alasan untuk keluar. Padahal, uang “nggak jelas” justru bisa jadi salah satu tabungan paling menyenangkan. Kita nggak merasa kehilangan, nggak merasa sedang berhemat, tapi tiba-tiba memiliki sejumlah uang ketika membutuhkannya.
Kadang-kadang, rezeki memang nggak selalu datang dalam bentuk uang tambahan. Bisa saja ia datang dalam bentuk daging yang tidak jadi dibeli karena mendapat gurame dua kg dari saudara. Dari situlah kita belajar satu hal sederhana: jangan buru-buru menghabiskan uang yang batal kita keluarkan. Bisa jadi, itulah tabungan masa depan yang diam-diam sedang tumbuh.
Bagaimana dengan pengalaman keuanganmu? Pernah mengalami hal yang setipe atau sama? Share dong…!
Ari Kinoysan Wulandari
