Bahkan untuk membicarakan buku saja (Bedah Buku), kita memerlukan uang. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering dihadapkan pada kenyataan bahwa uang adalah bagian penting untuk memenuhi kebutuhan. Namun, ada kalanya muncul perasaan malu atau gengsi untuk berkata jujur, “Saya perlu uang.”
Padahal, mengakui kebutuhan finansial bukanlah sebuah aib. Versi saya ini adalah hal yang lumrah. Perlu uang sebagai tanda bahwa kita manusia biasa yang punya kebutuhan, tanggung jawab, dan keterbatasan.
Banyak orang merasa gengsi karena takut dinilai lemah, nggak sukses, atau kurang mandiri. Ada juga yang khawatir akan dianggap hanya mengejar materi. Budaya “harus terlihat cukup”, seringkali membuat orang menutupi kenyataan finansialnya, meskipun sebenarnya sedang kesulitan.
Uang bukan segalanya, tapi segalanya butuh uang. Dari makan sehari-hari, pendidikan anak, hingga biaya kesehatan, semuanya berkaitan dengan finansial. Mengakui bahwa kita butuh uang bukan berarti mata duitan, melainkan menyadari realitas hidup.
Kesadaran diri itu membuat saya mudah kompromi dengan industri. Dalam menulis pun, saya sadar betul; menulis bagus dan berkualitas itu kewajiban, tapi bahwa buku-buku dan atau karya lainnya (sinetron, series, film, dokumenter, lagu, puisi, dll bentuk dari karya tulisan) itu harus bisa dijual syukur-syukur bestseller, hits, ranting, box office; itu adalah kesadaran penuh: bahwa hanya dengan menulis karya yang laku, saya bisa survive hidup sebagai penulis.
Jujur tentang kebutuhan finansial bisa menjadi langkah awal menuju solusi. Dan itu sudah menjadi kebiasaan saya bertahun-tahun sebagai penulis profesional. Begitu ketemu calon klien, maka standar kita kenalan (kalau belum kenal). Lalu membicarakan konsep dan pekerjaannya, termasuk kruncilan yang sering dianggap sepele (riset, ke lapangan, terjemahan, izin-izin, dll) yang versi banyak orang itu nggak perlu dibiayai–padahal realitanya itu bisa menyedot maksimal dari budget anggaran pengadaan buku.
Setelah sepakat semuanya, saya akan langsung bicara tentang uang. Berapa saya dibayar, sistemnya bagaimana, siapa penanggung jawab atau orang yang harus saya tagih, dll force majeur yang berkaitan dengan tugas tanggung jawab dan hak pembayaran yang harus saya terima.
Alhamdulillah, saya sering takjub ketemu klien yang wes nggak banyak ribet, transfer aja dan kita pun bekerja. Saya termasuk yang percaya, kalau petungnya mudah, hasilnya juga lempeng bagus. Tapi kalau dari awal wes ruwet (misal nggak tepat waktu, gonta-ganti tempat meeting, jam, mangkir ini itu), cenderungnya gaweyannya dan pembayarannya yo ribet.
Jadi kalau sudah ada tanda 1,2 kayak gitu, biasanya saya langsung pilih “nggak menerima”. Kalau nggak enak nolaknya, suruh manajer aja yang menolak. Kalau uang DP sudah dibayar, kembalikan saja biar nggak nyicrit ribut di sosmed. Duit bagi saya memang sangat penting, tapi kalau proses kerjanya nggak bikin happy, weslah cari kerjaan atau klien lainnya saja. Kesehatan jiwa raga fisik mental itu penting.
Dalam keluarga, terbuka soal kondisi keuangan dapat mencegah konflik. Dalam pekerjaan, berani menyebut kebutuhan gaji atau honor yang sesuai justru menunjukkan profesionalisme. Dalam pertemanan, jujur menolak ajakan nongkrong karena alasan finansial lebih baik daripada memaksakan diri.
Kita perlu mengubah perspektif: mengatakan “saya perlu uang” bukanlah kelemahan, tapi sebuah kejujuran. Sama halnya ketika kita mengatakan “saya lapar” atau “saya butuh istirahat.” Dengan mengakui kebutuhan, kita belajar merencanakan, mencari solusi, bahkan membuka peluang baru.
Nggak ada yang salah dengan kebutuhan finansial. Yang keliru adalah berpura-pura mampu saat kenyataannya nggak begitu. Jadi, jangan malu berkata: “Saya perlu uang.” Karena dari kejujuran itu, kita bisa belajar mengatur diri, mencari jalan keluar, dan tetap menjaga martabat tanpa harus terjebak dalam gengsi.
Sederhana saja, kalau nggak perlu uang, ngapain kita tiap hari capek-capek kerja dengan segala problematikanya yang kadang bikin emosi jiwa juga? Jawaban jujur sudah pasti sampeyan temukan di hati masing-masing. 😀
Saya di salah satu sisi areal Tanah Lot, Bali. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Rencana awal saya, selepas ikut trip dengan Sering Travel (catatan trip bisa Teman-teman baca di Bali Lovina (1) sd (10) di blog saya ini); memisahkan diri dari rombongan dan menginap di sekitar bandara. Tujuannya untuk melanjutkan trip mandiri ke Desa Adat Pegringsingan, melihat tenun khas daerah tersebut dan mengamati dari dekat kehidupan masyarakatnya.
Saya pikir itu rencana yang mudah. Karena ke desa ini nggak perlu nyebrang laut atau pergi ke pulau lain. Jarak dari bandara juga hanya sekitar 75 km saja. Artinya dengan menyewa mobil seharian sudah memadai.
Saya bisa pergi pagi-pagi, perjalanan sekitar 2 jam, lalu selama 3-4 jam di lokasi, dan kembali lagi sekira 2 jam. Selanjutnya saya bisa langsung njujug bandara untuk balik Jogja. Saya memikirkan rencana sempurna itu karena sudah di Bali; menghemat waktu dan biaya kedatangan. Sekaligus saya bisa “menutup” catatan bahwa semua tempat wisata di Bali wes saya tengok.
Dan begitu merasa ini adalah gaweyan sendirian, saya langsung menghitung dengan Soul Meter (SM). Kalau sendirian saya harus bertanggung jawab penuh pada keselamatan dan keamanan pribadi. Nggak ada orang lain. Segala sesuatunya menjadi urusan saya.
Saya itung-itung, tentang tinggal atau balik; pada posisi balik angkanya besar –yang berarti menyuruh balik. Pada posisi tinggal, angkanya kecil berarti “sebaiknya” nggak tinggal. Saya ukur-ukur untuk pergi ke Desa Pegringsingan di tanggal 9 September hasilnya angka kecil.
Trip Sering Travel berakhir tanggal 6 September malam, kalau saya tinggal, dengan fisik lelah begitu butuh istirahat; berarti 7 September mageran aja, 8 September karena ada kelas-kelas online saya wajib mengisi; dan baru bisa aktivitas 9 September untuk rencana jalan panjang.
Hasilnya nggak terduga sama sekali, angka kecil bahkan nyaris mendekati 0. Hitung hitung lagi di tanggal yang berbeda sampai beberapa hari kemudian, hasilnya tetap kecil. Jujurly, saya sempat berpikir connecting saya nggak bener. Mungkin karena saya capek, kurang fokus, atau kemrungsung. Saya ulang beberapa kali, dan hasilnya tetep aja segitu gitu rendah aja nilainya.
Saya njur menyerah. Mengikuti saja hasil SM, karena yakin connecting, pertanyaan, hitung radiasi, dll yang saya lakukan wes benar. Jadi, dari pengalaman pribadi saya menggunakan SM bertahun-tahun, hasil itu sudah pasti valid. Meskipun ada tanda tanya besar di hati saya, kenapa kok nggak bisa ya? Kelihatannya semua kan baik-baik saja?
Saya juga sehat, waktu ada, duit untuk biaya alhamdulillah ada, jadi apa masalahnya? Saya nggak ada pikiran atau dugaan apapun, kenapa hasilnya tetap rendah atau nggak mengizinkan saya tinggal. Belum bisa ke Desa Adat Pegringsingan.
Akhirnya, sesuai hasil SM saya tetap balik ikut rombongan bus Sering Travel. Perjalanan panjang lewat darat yang lebih banyak saya isi dengan tidur. Sampai tiba di Jogja, standar bebersih, membagi oleh-oleh, njur tidur lagi. Dan kemudian sesuai jadwal aktivitas, saya wes mulai bekerja lagi.
Tahu-tahu ibu saya menelepon di tanggal 9 September, menanyakan posisi saya di mana, sudah balik dari Bali atau belum. Saudara saya juga memastikan saya sudah di Jogja atau belum. Innalillahi, ternyata Bali banjir besar di beberapa titik.
Saat itulah, secara sederhana saya pahami, bahwa beberapa titik itu pasti akan saya lewati kalau pergi ke Desa Adat Pegringsingan. Lha kalau banjir begitu, ya wes jelas gakbisa lewat. Subhanallah, ternyata ini jawabannya kenapa angka-angka hitung SM begitu rendah dan nyaris 0 untuk rencana saya itu.
Alhamdulillah, maturnuwun ya Allah menyelamatkan saya via hitung SM. Terimakasih Bunda Arsaningsih yang telah mengajarkan “berkat” luar biasa ini kepada banyak orang. Sungguh, semoga jadi amal kebaikan beliau yang nggak pernah putus sepanjang masa.
Teriring doa untuk Bali agar segera pulih dan normal kembali aktivitas harian dan pariwisatanya. Juga berharap pemerintah Bali dan (pemerintah) daerah-daerah lain di seluruh Indonesia untuk sungguh-sungguh mengurus sampah dan tata kelola kotanya. Karena begitu hal ini “abai” atau “lalai” bencana banjir siap datang mengancam nyawa dan kehidupan kapan saja.
Tersenyumlah yang lebar agar rezekimu melimpah ruah. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Ikut OT dengan Sering Travel versi saya menyenangkan secara umum. Budget untuk 4D3N Bali Lovina (hanya) 1,250 juta plus 50 rb untuk upgrade bus. Total 1,3 jt wes hampir semua tercover untuk mereka yang baru pertama kali ke Bali. Rasah keluar duit lagi kecuali untuk keperluan pribadi.
Seperti yang saya tulis sebelumnya, kalau ikut OT berarti saya nyiapin 100-150% dana dari sejumlah biaya bayar tripnya. Ini demi “rasa aman” saya pribadi. Kalau biaya OT 1,3 jt; berarti saya nyiapin (lagi) lebih kurang 2 jt; dalam bentuk cash dan uang digital. Untuk apa saja dana itu? Silakan cek-cek. Ingat ya, tiap orang bisa berbeda-beda anggaran dana dan penggunaannya. Tinggal menyesuaikan saja dengan keperluan masing-masing.
Pantai Pandawa. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Biaya transport dari rumah ke mepo PP @60 rb = 120 rb
Biaya sarapan hari pertama 60 rb (optional sesuai keperluan masing-masing; saya perlu sarapan di luar karena lembur gaweyan dan baru beres saat mau berangkat)
Bayar makan yang nggak ditanggung biro 2x atau 3x makan (sesuai keperluan) @50-60 rb an = 180 rb (terbesar kepake di resto seafood)
Biaya sewa pakaian adat @50 rb = 50 rb
Biaya tiket tari kecak @100 rb = 100 rb
Biaya beli minuman permen 4 hari @30-50 rb per hari = 200 rb (di bus Sering Travel ada dispenser, bisa dimanfaatkan bagi yang mau hemat atau skip anggaran beli minum kemasan)
Biaya ke toilet (sesuaikan keperluan masing-masing) @2-10 rb × 4-5 kali × 4 hari = 80 rb s/d 100 rb. Beberapa toilet gratis, beberapa bayar 10 rb.😜 Khusus bagian ini siapin uang receh 2 rb, 5 rb dan 10 rb. Daripada dibilang nggak ada kembalian dan 10 rb mu melayang, padahal kudunya cuman bayar 2 rb 😁
Beli oleh-oleh (optional, sesuaikan keperluan). Kali ini saya beli cukup banyak. Tetangga kiri kanan sudah serasa keluarga dan juga untuk teman-teman kantor. Versi saya, lebih gampang memberikan makanan habis pergi –ada alasan berbagi). Cek-cek nota pembelian ada 750 rb an (ini ukuran saya cukup besar, di Jogja bisa untuk biaya makan 1 keluarga 15 hari 😄). Tentu banyak juga oleh-oleh untuk diri sendiri. Untuk berbagi ini, kalau saya sedang banyak keperluan dan budget tipis, saya skip. Hanya beli oleh-oleh yang betul-betul saya kepingin dan hanya ada di tempat itu. Nggak bawa oleh-oleh bukan hal yang tabu bagi saya setelah bepergian. Lha memangnya situ mau gantiin uangnya? 😜 Syukur alhamdulillah, di sekitar saya juga bukan tipikal orang-orang usilan minta oleh-oleh. Semua sadar, bepergian, piknik bukan berarti duit kita (selalu) berlebihan.
Dana darurat @50 rb per hari = 200 rb (nggak terpakai).
Tanjung Benoa. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Total 1.810.000 (nggak terpakai 200 rb; pengeluaran 1.610.000). Duit yang saya siapin 2 juta; jadi masih tersisa 390 rb an. Ya masih aman to? Bisa ditabung lagi untuk OT berikutnya. Saya happy, nggak ngirit-ngirit banget, juga nggak boros dan wes memenuhi semua prioritas keinginan saya pas ikut OT ini. Alhamdulillah. Wes kesampaian ke Pantai Lovina liat lumba-lumba dan ke Desa Panglipuran. Kalau trip pribadi dan ngurus sendiri? Beuh bisa berlipat pengeluarannya; transportnya aja pasti pesawat atau kalau bus ya sleeper yang nyaman 😆
Secara pribadi dari angka 0 sd 5 saya memberi nilai 4,5 untuk Sering Travel. Nyaris sempurna ya, nggak ada banyak kekurangan. Layanan bagus, armada bus adem nyaman, makanan enak terjamin cukup, waktu ishoma cukup, hotel nyaman dan pelayanan ramah, tertib mengatur waktu; TL, local guide, photographer, driver, bus helper: have done their work profesionally. Luar biasa. Terimakasih.
Kekurangan yang sempat saya rasakan, bisa jadi nggak dialami orang lain. Pertama masalah sandaran kaki, mungkin bisa dipertimbangkan untuk versi ruang lega non sandaran.
Senja di Tanah Lot. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Kedua, masalah nggak ada penyebutan secara eksplisit bagian exclude pembayaran ini bisa bikin salah persepsi. Random saya bertanya, nggak ada yang bayar tips karena disebut sukarela. Ada baiknya biro eksplisit saja, biar gampang misal tips 5-10% dari total trip atau kalau di trip ini 65rb-130 rb diberikan cash setelah trip atau yo include saja saat bayar. Gampang mikirnya.
Waktu saya nanya Kak Bebe pas bayar charge tambahan 50 rb, ada biaya apalagi; dijawab nggak ada. Saya njur nggak pikiran. Saya pikir its ok aja kok biro menarik tips, mayoritas biro juga begitu. Apalagi biro-biro piknik luar negeri dan durasi lebih dari 10 hari. Malah kepenak. Sekarang tuh layanan jasa wes gak zamannya lagi makin murah makin laris. Jadi bisa dipertimbangkan agar konsumen ya wes mikir biayanya; biro dan kru juga nggak dirugikan karena njur nggak pada bayar dengan alasan sukarela. Nggak rela berarti nggak bayar dong😁😜
Masalah nggak tercantum harga seperti sewa baju, tiket wahana water sport, tiket tari kecak, itu juga jadi kekurangan point bagi Sering Travel. Saya yakin banyak peserta yang pingin ikut, tapi karena nggak mengira sebanyak itu –jadi milih nggak ikut. Eksplisit bikin semua terang dan mudah kalau urusan perduitan gini.
Karang Bolong? (Saya lupa nama tempat ini, tapi masih di sekitaran Tanah Lot). Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Masalah ketiga, ada sesi makan malam di salah satu resto seafood. Lha wong di Jogja bae wes muni regane apalagi di Denpasar. Waktu itu saya banyak sekali mendengar gerundelan terutama ibu-ibu karena harganya “bunyi”. Saya pribadi sempat berhitung kenapa charge makan dan minum saya jadi over, beda dari perkiraan harga yang harus saya bayar? Oalah ada tambahan PPN 10%, layanan 5%, biaya packing karena saya tenteng bungkus kelebihannya. Wes gitu antrinya 1 jam lebih sampai saya kelaparan. Padahal mung pesen nasi goreng seafood dan secangkir lemon tea. 😁
Ada baiknya seluruh makan dari berangkat di mepo balik pulang ke mepo itu wes include diurus biro yang lebih praktis murah (tentu dengan charge). Intinya siy, ada baiknya makan wes dijamin. Biar nggak rieuweuh dan biaya makan jadi bengkak. Ingat ya di Jogja UMR rerata 1,7 sd 2,2 jt. Jadi makan dan minum simpel seporsi hampir 100 rb, di benak ibu-ibu itu serasa ngabisin biaya jatah makan 1 keluarga untuk 2 hari 😁😅
Keempat, masalahnya bukan di saya. Tapi seseorang menegur Kak Bebe karena kalau memotret nggak mengarahkan. “Bilang to Mas, saya tuh harus gimana, gaya apa,” lebih kurang begitu. Saya mung senyum-senyum mendengarnya.
Desa Panglipuran. Kalau ikut OT dan pas liburan, jarang bisa foto tanpa background orang-orang. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Saya tahu kalau Kak Bebe ini bukan fotografer dan mungkin yo wes capek bin lelah bin bosen juga (kalau sudah bolak-balik ngawal trip ke Bali), jadinya milih aman bin selamet; segaya-gayanya peserta pokokmen difoto. Hasilnya ya tergantung keberuntungan untuk bagus buruknya 😁😜 Kak Mancay? Saya jarang melihatnya. Karena begitu lepas dari Pantai Lovina dan trip dikendalikan Mbokde Saori, entah di mana dia berada😁😅
Yach itu aja siy komenan untuk Sering Travel. Terimakasih untuk semua layanan primanya. Terimakasih banyak untuk seluruh teman-teman yang telah bersama-sama menjaga satu sama lain. Sampai jumpa lagi di trip-trip berikutnya. Saya cukupkan catatan Bali Lovina di bagian 10 ini.
Topeng-topeng unik dan berkarakter khas Bali. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Selepas pandemi, saya lebih sering ikut open trip (OT) daripada mengatur trip pribadi. Mengikuti OT lebih praktis dan seru; biaya sangat terjangkau, destinasi sudah jelas, jadwal sudah diatur rapi, teman perjalanan bertambah, nggak ribet dengan birokrasi perizinan. Tapi, sebagai orang yang doyan dolan sejak belia, saya tahu persis bahwa budget yang dianggarkan oleh biro travel sering kali hanya pengeluaran di permukaan. Banyak komponen yang belum ditanggung.
Biasanya saya menyediakan dana 100-150% dari besaran biaya yang saya bayarkan untuk OT; untuk oleh-oleh dan berbagai hal. Wes itu, hitungan paling gampang dan bikin saya merasa nyaman aja ikut OT. Nanti akan saya spill anggaran dan penggunaannya. Dan tiap orang bisa saja sangat berbeda ya keperluan dananya, tergantung tujuan dan penggunaannya.
Contoh oleh-oleh dari Bali. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Di luar program yang sudah ditentukan biro, ada banyak hal kecil yang bisa bikin perjalanan OT makin berkesan. Biar tetap hemat dan sesuai kantong, penting untuk menyiapkan budget tambahan dan tahu prioritasmu. Ingat ya, list prioritasmu dan sesuaikan dengan budgetmu. Bukan ikut-ikutan orang lain. Berikut ini beberapa hal yang bisa kamu lakukan di luar agenda OT, untuk memberi acuan dalam mengatur budget.
Pertama, cicipi kuliner lokal. OT biasanya menyediakan makanan standar, tapi jangan lewatkan kesempatan mencicipi hidangan khas daerah. Bagi yang pertama kali ke Bali, sisihkan budget khusus untuk kuliner (misalnya Rp100.000 sd 200.000 per hari). Cari rekomendasi warung lokal atau street food. Utamakan makanan khas yang sulit ditemui di kotamu.
Contoh souvenir dari Bali. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Kalau sudah bolak-balik ke Bali ya nggak usah. Atau kalau kamu nggak sreg dengan makanannya, yo nggak usah sok familiar bisa makan apa saja. Perutmu sakit nggak ditanggung biro! Atau kalau makanannya kayak enak, tapi harganya nggak sesuai budgetmu, coba cari rekomendasi yang lebih sesuai dengan kantong.
Kedua, belanja oleh-oleh seperlunya. Oleh-oleh memang menyenangkan, tapi jangan sampai jadi beban. Tentukan anggaran khusus (misalnya maksimal 30-50% dari total budget). Pilih oleh-oleh praktis: makanan kering, kopi, kerajinan kecil. Batasi belanja hanya untuk keluarga inti atau teman dekat.
Sisi depan pusat oleh-oleh Joger. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Ikut OT dengan Sering Travel ini kita diajak ke pusat oleh-oleh Djoger, Krisna, dan Dewata Agung (pusat produksi pie susu). Tentu di sini macem-macem jenis oleh-olehnya. Kalau sampeyan memang perlu dan budgetnya ada atau sesuai, ya belilah. Tapi kalau nggak beli, tenang aja, kamu nggak perlu berkecil hati dengan mereka yang belanja-belinji. Kamu nggak minta uang mereka dan bisa jadi tujuan piknikmu memang beda dengan mereka yang belanja banyak oleh-oleh.
Aturan ini sudah saya pake secara ketat untuk diri sendiri. Jadinya saya nggak pernah nanyain teman sebangku, sekamar, seperjalanan dalam OT belanja apa saja, makan apa saja. Itu urusan mereka, bukan urusan saya. Dan saya disiplin sekali pada diri sendiri agar nggak kepoan, julidan, nyinyiran pada orang lain. Karena saya juga nggak demen orang lain berlaku begitu pada saya.
Prinsip hidup di areal Joger. Jahid, jakup, jamul, jamat, japer, jagim. Intinya agar hidup selamat setiap orang harus jaga hidung, jaga kuping, jaga mulut, jaga mata, jaga perasaan, dan jaga iman. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Itu prinsip sederhana yang aman untuk semua perjalanan dengan beragam orang dari berbagai latar belakang dan tingkatan sosial ekonomi yang berbeda. Kecuali, mereka nanya minta bantuan sebaiknya beli oleh-oleh apa, di mana, dll. Kalau saya tahu, saya jawab. Kalau nggak, nanya TL atau guidenya.
Ketiga, eksplorasi waktu luang. Gunakan jeda waktu kosong untuk melihat sisi lain destinasi. Pada saat kami sudah check in hotel, saya tahu banyak yang masih keluar lagi berkeliaran untuk tujuan masing-masing. Ada yang cari makanan, oleh-oleh, pergi ke tempat wisata lain, dlsb.
Kadang mereka yang begini juga cari spot sekitar penginapan untuk jalan santai, berinteraksi dengan warga lokal (bisa dapat cerita unik), hunting foto atau video tanpa harus keluar uang. Ini memang bagus dan menyenangkan.
Bagi penggila cokelat, Bali sudah punya banyak signature-nya. Pilih-pilihlah yang sesuai. Rerata nggak pahit meskipun porsi cokelatnya 65%. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Tapi kalau dirimu nggak sekuat mereka, sudah lelah, dan hanya ingin segera tidur istirahat, ya tidur saja. Nggak usah sok-sokan tenggang rasa sama mereka yang masih cukup energi (dan uang) untuk ubyang-ubyung. Ingat, kalau kamu sakit mendadak atau anggaranmu jebol, mereka nggak ikut menanggung.
Keempat, ikut aktivitas opsional. Banyak OT menawarkan tambahan kegiatan. Seperti OT ini saat di Panglipuran ada sewa baju adat Bali, di Tanjung Benoa ada macem-macem wahana water sport, di Tanah Lot ada nonton Tari Kecak. Helooo… kalau ada rupa-rupa begini, pastikan tanya harga aktivitas opsional sebelum ikut. Pilih yang sesuai minat (jangan ikut hanya karena teman ikut). Pastikan budget nggak mengganggu kebutuhan utama. Pokoknya urus prioritasmu, cek-cek budgetmu.
Kelima, nikmati hiburan sederhana. Nggak semua kesenangan butuh biaya mahal. Coba nikmati sunset atau sunrise gratis di spot terbuka. Dengarkan musik jalanan atau tontonan lokal. Nikmati ngobrol santai dengan teman-teman baru.
Tempat pembelian oleh-oleh paling hits di Bali. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Keenam, dokumentasikan perjalanan. Kenangan perjalanan bisa abadi lewat foto dan video. Meskipun dari biro sudah ada dokumentasi, tetap gunakan kamera ponsel untuk dokumentasi sederhana. Simpan file di cloud/drive agar nggak hilang. Jika ada budget lebih, pertimbangkan sewa fotografer lokal untuk foto-foto dan dokumentasi yang lebih baik.
Intinya, ikut OT nggak akan mengcover seluruh keinginan piknikmu. Siapkan dana tambahan sekurangnya 30-60% dari biaya OT untuk hal-hal di luar program. Pastikan kamu tahu prioritas dan fleksibel. Pilih aktivitas dan pembelian sesuai dengan keinginan dan kemampuanmu, bukan sekadar ikut-ikutan.
Salah satu adegan di Tari Kecak. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Usai acara foto-foto dan mider-mider di Tanah Lot, acaranya bebas. Sebagian duduk-duduk, sebagian masih keliling, sebagian bersiap nonton pertunjukan Tari Kecak di areal Tanah Lot. Cuman ya, jalannya lumayan cuy dari bukit karang ke lokasi pertunjukan. Rada gemper sithik kakinya😁😜
Tari Kecak tentu sudah pernah saya tonton. Di Bali, ini jenis tari yang populer dan bisa dipentaskan di banyak tempat. Mung yo kuwi, saya nontonnya belum pernah seniat dan sekomplitnya seperti pas ikut Sering Travel. Mungkin karena di sini ruang penonton lebih lega, jadi lebih enak suasananya. Datang lebih awal juga bisa mengkavling tempat yang versi saya paling nyaman untuk nonton.
Adegan lain Tari Kecak. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Oh ya, di sini tiketnya (kayaknya) paling murah dibandingkan tempat lain. Cukup 100 rb per gundul untuk nonton dari lebih kurang jam 18.30 s/d 19.30 WITA. Ini nggak ditanggung biro yes. Sampeyan nonton, ya bayar dhewe maning 😁🙏 Worth it bangetlah, dibanding sampeyan beli secangkir kopi dan seporsi kue di gerai branded. Sementara tiket Tari Kecak di Pantai Melasti 125 rb, di GWK (Garuda Wisnu Kencana) 150 rb, di Uluwatu 200 rb sd 400 rb, di Ubud lebih kurang 600 rb untuk 2 orang termasuk tiket masuk dan shuttle (cmiiw)🙏
Usai beli tiket, saya wes duduk manis di barisan paling depan. Baru sadar, air minum saya habis. Jadi saya keluar lagi untuk beli minuman. Terimakasih Bali, yang nggak ada mark up harga berlebihan untuk semua barang dagangan di tempat wisata. Saya beli air berion 600 ml cukup 10 rb, dari harga normal di tempat saya 8 rb an (nggak sebut merek, nggak sedang mengendorse atau iklan). Minuman-minuman lain sejak awal saya menjejak Bali, ya sekira 5-6 rb an dari harga normal sekitar 3-4 rb.
Tokoh Rama dan Sinta dalam Tari Kecak. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Saya duduk barisan depan titik rendah, dan mulai konsentrasi nonton. Matahari senja perlahan tenggelam di ufuk barat. Langit memerah jingga. Riuh rendah terdengar ombak bergemuruh menghantam karang. Dan di saat yang sama terdengar suara “caaak-caaak-caaak” dari puluhan penari laki-laki bergema, membentuk harmoni yang mengguncang jiwa. Itulah momen ketika seni, alam, dan kepercayaan berpadu menjadi satu kesatuan magis.
Tari Kecak dikenal sebagai “tari sanghyang” atau tarian ritual yang awalnya digunakan untuk mengusir roh jahat. Namun dalam perkembangannya, tarian ini menjadi seni pertunjukan khas Bali yang menceritakan epos Ramayana; khususnya kisah Rama, Sinta, dan Hanoman melawan Rahwana.
Tokoh Lesmana dalam Tari Kecak. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Nggak ada musik gamelan yang mengiringi, hanya suara koor para penari yang duduk melingkar, membentuk irama khas yang membuat bulu kuduk berdiri. Saat senja, penonton seakan terhanyut oleh suasana mistis: cahaya matahari yang meredup, suara ombak, dan gemuruh koor penari berpadu dalam satu harmoni alam dan budaya.
Bagi saya pribadi, menyaksikan Tari Kecak di Tanah Lot bukan sekadar hiburan, melainkan pengalaman spiritual dan budaya. Pertunjukan ini memperlihatkan cara masyarakat Bali menjaga tradisi leluhur sambil tetap membuka diri bagi dunia. Nggak heran, pertunjukan ini menjadi salah satu agenda wajib bagi mereka yang berkunjung ke Bali, terutama bagi pecinta budaya.
Tokoh Jatayu dalam Tari Kecak. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Lbih dalam lagi, Tari Kecak di Tanah Lot bisa dipandang sebagai simbol filosofi Bali: Tri Hita Karana, keseimbangan antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan sesama, dan manusia dengan alam. Lingkaran para penari melambangkan persatuan, sementara lokasi di tepi laut dan pura menegaskan hubungan manusia dengan alam dan spiritualitas.
Saat cahaya obor menyala, suara “caaak-caaak-caaak” semakin cepat, dan kisah Ramayana mencapai klimaksnya, hati kita seakan terikat pada satu hal: Bali memang sebuah pulau yang hidup dalam tarian, doa mantra, dan keindahan.
Tokoh Hanoman dalam Tari Kecak. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Seperti pakemnya cerita Sinta diculik Rahwana dan diselamatkan oleh (H)Anoman, cerita di Bali ini ada penambahan karakter dibandingkan dengan kisah sejenis di Jawa. Di sini Rahwana ada asistennya atau raksasa yang bantu-bantuin dia gitu. Jadi tokoh utamanya ada 6: Rama, Lesmana, Dewi Sinta, Rahwana, Asisten Rahwana, dan Anoman. Terus saat mau menculik Dewi Sinta, Rahwana berubah wujud jadi aki-aki suci (pendeta) yang lemah dan butuh bantuan.
Usai pertunjukan banyak yang minta foto-foto pada tokoh-tokohnya ini. Sementara puluhan penari latar, wes nggak kelihatan lagi. Padahal seru juga kalau foto sama mereka. Karena mereka ini lintas generasi. Saya lihat pemainnya mulai dari anak-anak, remaja, bapak-bapak, simbah-simbah, bahkan ada yang (saya pikir) cukup tua, tapi sangat energik saat menari.
Saya sangat senang bisa menyimak tari ini dengan lengkap dari awal sampai akhir tanpa gangguan. Tanpa keribetan terpotong konsentrasi. Mungkin di sini tempat nonton Tari Kecak yang paling saya rekomendasikan dibandingkan tempat lainnya di Bali.
Penanda pura di Tanah Lot dimuliakan, dianggap luhur. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Kunjungan kami berikutnya ke Tanah Lot. Terletak di Kabupaten Tabanan, sekitar 20 km dari Denpasar, Tanah Lot menjulang kokoh di atas batu karang yang besar. Saat air pasang, pura ini tampak seperti mengapung di tengah laut. Keindahan panorama matahari terbenam di balik siluet pura membuatnya menjadi ikon Bali yang mendunia. Tanah Lot bukan sekadar destinasi wisata. Ini adalah pusat spiritual, tempat di mana mitos, alam, dan keyakinan berpadu.
Sejarah Tanah Lot nggak bisa dilepaskan dari kisah Dang Hyang Nirartha, seorang pendeta dari Jawa yang menyebarkan ajaran Hindu ke Bali pada abad ke-16. Dikisahkan, Nirartha melakukan perjalanan spiritual dan sampai di sebuah pantai dengan batu karang besar yang menjorok ke laut.
Tanah Lot di belakang saya. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Sang Pendeta merasakan aura kesucian di tempat itu, sehingga memutuskan untuk mendirikan pura di atas karang tersebut. Namun, raja setempat saat itu merasa terganggu dan mencoba mengusir Nirartha. Konon, dengan kekuatan spiritualnya, pendeta sakti ini berhasil memindahkan karang ke tengah laut. Selanjutnya karang tersebut menjadi pulau kecil yang kini dikenal sebagai Tanah Lot; yang berarti “tanah di tengah laut”.
Di kaki karang Tanah Lot terdapat sebuah mata air yang unik. Meski dikelilingi air lautan asin, airnya tetap tawar. Umat Hindu percaya air ini adalah tirta suci, lambang pemurnian lahir batin. Saat upacara keagamaan, air suci ini digunakan sebagai sarana penyucian. Sementara wisatawan kerap merasakan kesegarannya dengan membasuh wajah atau meminumnya sedikit. Keajaiban air ini menjadi salah satu bukti bahwa Tanah Lot bukan sekadar tempat wisata, melainkan ruang sakral yang dijaga oleh alam itu sendiri.
Selain air suci, Tanah Lot dikenal dengan ular laut sucinya. Ular-ular ini hidup di celah karang dekat mata air, dipercaya sebagai jelmaan selendang Nirartha. Mereka dianggap sebagai penjaga pura dari energi negatif dan gangguan roh jahat. Meski berwujud ular berbisa, masyarakat meyakini ular ini nggak berbahaya, kecuali diganggu. Keberadaannya justru memperkuat aura mistis sekaligus kesakralan Tanah Lot.
Gua tempat tinggal ular suci di Tanah Lot. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Tanah Lot bukan hanya keindahan yang memanjakan mata, tapi juga kisah spiritual yang menyentuh jiwa. Laut, karang, air tawar, dan ular laut bersatu dalam harmoni, menghadirkan sebuah ruang sakral yang melampaui sekadar panorama.
Inilah sebabnya Tanah Lot nggak pernah kehilangan pesonanya. Ia bukan sekadar tempat untuk menikmati matahari terbit atau terbenam, tapi juga perjalanan batin; sebagai pertemuan antara manusia, alam, dan yang ilahi.
Pada saat kami di sini, suasana ramai sekali. Tumplek byuk orang-orang dari berbagai tempat di penjuru negeri. Antrian di depan tempat air suci mengular panjang. Sementara beberapa orang terlihat di depan sisi gua tempat “ular suci” konon bermukim.
Keramaian Tanah Lot saat kami datang. Makin sore makin penuh. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Saya, selain sudah cukup lelah, keramaian orang juga sering membuat pening mendadak (kekurangan oksigen bersih). Karenanya saya sadar diri, nggak cari perkara dengan urusan kesehatan. Begitu selesai minta foto-foto dari Kak Bebe, mider di beberapa sudut untuk ambil foto. Njur minum dan thenguk-thenguk saja menyaksikan orang lalu lalang dengan aneka dandanan rupa-rupa.
Sebenarnya ada keinginan untuk melihat ular sakti di gua dan antri air suci. Dulu-dulu saya nggak pernah kepikiran tentang dua hal ini. Ke Tanah Lot, datang ya datang aja. Motret sunrise atau sunset, mider keliling, njur pulang. Cuma gegara cerita Mbokde Saori tentang spirit “berkah rezeki dan kebaikan” via pertemuan dengan ular sakti dan minum air suci, saya jadi tergoda.
Iya dong, kalau kamu doyan dolan nggak cukup sekedar “katanya” atau mendengar cerita. Datang dan buktikan keberadaannya. Cuma karena energi saya sudah lumayan tipis, saya mundur teratur. Apalagi ini jelang maghrib, energi “kaum tak nampak” begitu jauh lebih besar daripada kita. Makanya orang Jawa punya istilah “kesurupan” yang berarti dimasuki “makhluk asing” saat surup “maghrib”.
Jelang maghrib menuju tempat pertunjukan Tari Kecak. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Urusan-urusan nggak kasat mata begini, bisa ribet bermasalah kalau kita nggak sedang full energi. Kita bisa kalah lawan kekuatan gaib. Lha celaka kalau kita bisa masuk dunia mereka, nggak bisa balik. Kalau energi kita sedang full siy, aman-aman aja. Kita menang, karena kita “berjiwa dan berfisik”. Versi saya, ternyata menarik juga mendengar kisah-kisah orang lokal Bali tentang betapa sakti dan bertuahnya si ular dan air suci Tanah Lot ini. Wallahu a’lam tergantung mereka yang meyakininya.
Jet ski salah satu wahana water sport di Tanjung Benoa. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Dari Pantai Pandawa, kami bergerak ke Tanjung Benoa. Tempat ini adalah surganya water sport di Indonesia. Sarprasnya paling lengkap, wahananya paling beragam, standar keamanan secara umum sudah mengikuti standar internasional. Kalau kamu belum pernah ikut water sport di sini, datang lagi ke Bali dan cobalah pengalaman serunya.
Dari Sering Travel, di Tanjung Benoa hanya untuk foto-foto dan makan siang. Seluruh wahana water sport exclude biaya yang dibayarkan. Jadi kalau sampeyan mau memanfaatkan waktu 3 jam di sini untuk ikut wahana, semua kudu bayar dhewe. Dan seperti kebanyakan orang tahu, wahana water sport lumayan ada harganya. Foto-foto yang saya posting di sini bukan dokumentasi saat ikut trip dengan Sering Travel. Tapi dokumentasi trip pribadi setahun sebelumnya.
Bali memang nggak hanya dikenal dengan pura, pantai, dan budaya yang memikat, tapi juga dengan segudang atraksi wisata airnya. Salah satu destinasi favorit untuk pecinta adrenalin sekaligus rekreasi keluarga ya water sport di Tanjung Benoa ini. Pantai ini terletak di ujung tenggara Pulau Dewata, dekat Nusa Dua.
Dikenal dengan garis pantainya yang panjang, ombaknya yang relatif tenang, serta pasir putih yang lembut, Tanjung Benoa menjadi pusat water sport yang mendunia. Hampir setiap hari, kawasan ini ramai dikunjungi wisatawan yang ingin mencoba berbagai aktivitas seru, mulai dari yang santai hingga yang memacu jantung.
Mari kita ulik, beberapa wahana water sport yang populer di Tanjung Benoa. Siapa tahu kamu tertarik untuk mencobanya, bisa siap-siap energi dan uang sebanyak wahana yang ingin kamu coba.
Pertama, jet ski Ingin mengendarai kendaraan air seperti motor di daratan? Jet ski memberikan kebebasan untuk melaju kencang di atas permukaan laut. Aktivitas ini cocok untuk mereka yang suka kecepatan sekaligus menikmati percikan air laut.
Versi saya, ini wahana water sport paling gampang digunakan. Kalau kamu biasa pake motor matic, ya wes bayangkan saja seperti itu tapi jalanannya (medannya) air laut. Seru, di sini kita bisa teriakan bebas melepas penat. Satu jet ski bisa untuk berdua, tapi pastikan berat kalian nggak lebih dari kapasitas yang diizinkan. Bisa oleng nggoling jet skinya kalau kelebihan beban. Harga sewanya berapa, googling aja secara mandiri.
Sekarang sudah ada generasi barunya, namanya car ski. Namun wahana ini di Tanjung Benoa belum tersedia. 1 car ski bisa muat 4 orang. Di Indonesia baru tersedia di perairan Batam, dengan charge 1 juta per mobil selama 20 menit (tahun 2025).
Kedua, banana boat Wahana ini menjadi favorit keluarga dan rombongan sahabat. Dengan bentuk perahu pisang yang ditarik speedboat, pengunjung akan diajak berkeliling laut sambil merasakan sensasi digoyang ombak. Tawa dan jeritan seru sudah pasti terdengar sepanjang perjalanan. Versi saya, ini wahana yang pas untuk seru-seruan saja, nggak perlu takut. Chargenya pun lumayan murah.
Parasailing di Tanjung Benoa. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Ketiga, parasailing Bagi yang ingin merasakan sensasi terbang, parasailing adalah pilihan tepat. Dengan payung parasut berwarna-warni, wisatawan akan ditarik speedboat hingga melayang tinggi di udara. Dari atas, pemandangan birunya laut dan hamparan pantai Tanjung Benoa terlihat begitu indah.
Pake wahana ini kamu perlu “mental berani” dan nggak takut suara ombak besar, nggak takut ketinggian. Biayanya lumayan. Satu wahana bisa untuk dua orang. Kalau kamu penakut, jantungan, asma atau sesak nafas, ngeri lihat air bergelombang dan ketinggian, wes mending nggak usah coba-coba. Bisa merepotkan banyak orang.
Ini wahana yang versi saya sangat menyenangkan. Bisa teriakan bebas sampai suara habis tanpa perlu takut didengar orang. Mo maki-maki marah-marahin orang dari ketinggian, juga nggak ada yang dengar😄😁 Dari ketinggian, kita bisa dibuat sadar; betapa kecilnya kita di antara lautan luas, daratan yang membentang, dan langit yang menghampar seolah tanpa batas. Subhanallah. Maha Suci Allah dengan segala ciptaanNya.❤
Keempat, flyboard Biyuuu… ini atraksi “horor” versi saya. Jatuh bangun, jatuh bangun, tetep aja nggak bisa berdiri tegak, apalagi atraksi seperti superhero; nehi, nehi…. nggak gampang. Toh atraksi ini justru banyak “digilai” anak muda. Makin ekstrem, makin seru.
Ya memang wahana ini seru banget, tapi capeknya juga nggak kira-kira. Dan yang pasti, ini wahana yang nggak cuma butuh duitmu; tapi kesiapan fisik mentalmu, energimu, keberanianmu, keseimbangan tubuh, kesabaran dan ketenanganmu sekaligus. Pastikan kamu sehat prima fisik mental saat pake alat ini. Kalau masih ada ragu begini begitu, wes rausah coba-coba.
Nah, kalau kita pake wahana ini; nanti dengan alat khusus yang terhubung ke mesin jet ski, kita bisa melayang di atas air, bahkan melakukan berbagai gaya ekstrem layaknya superhero. Butuh sedikit keseimbangan, tapi sensasi yang didapat benar-benar luar biasa. Tapi percayalah, jatuh bangunnya lebih sering daripada sekedar bisa berdiri tegak seimbang. Jian, atraksi membagongkan tapi yo saya jajal 😄😁
Kelima, rolling donut Kalau versi saya ini mah, wahana untuk seru-seruan bae. Nggak ada tantangannya. Mirip banana boat, tapi bentuknya bulat menyerupai donat. Wahana ini bisa berputar-putar di lautan saat ditarik speedboat, membuatnya jadi salah satu permainan paling banyak diminati pengunjung di Tanjung Benoa.
Keenam, seawalker (Bali Ocean Walker) Yuhuuu… ini wahana yang bikin hati happy. Nggak banyak effort, tapi kita bisa melihat keindahan bawah laut. Nggak perlu bisa menyelam atau berenang untuk menikmati keindahan bawah laut. Dengan helm khusus berisi oksigen, wisatawan bisa berjalan di dasar laut sambil memberi makan ikan-ikan berwarna-warni. Cocok untuk anak-anak hingga orang dewasa.
Seperti namanya seawalker, setelah kita pake helm oksigen, tinggal jalan-jalan aja di bawah air. Kedalamannya antara 5-10 meter di bawah laut. Jadi aman banget untuk mereka yang normal, sehat, nggak takut air.
Di bawah air kita ngapain? Lihat ikan dll binatang, terumbu karang, ngasih makan ikan, dan foto-foto. Sewa layanan ini nggak include dokumentasi bawah air. Jadi pastikan sampeyan sudah pesan bayar dokumentasi nya. Versi saya, seru banget rasanya pas lihat ikan kemruyuk di sekitar saya, bisa menyentuhnya dan wow… “beneran ikan ini…” Haha… kadang kalau ketemu hal baru yang “ajaib”, norak juga saya sebagai ekspresi takjub.
Seawalker di Tanjung Benoa. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Ketujuh, snorkeling dan diving Di banyak tempat di Indonesia, snorkeling dan diving sudah jadi andalan pariwisata laut. Namun kalau kamu sudah biasa snorkeling dan diving di medan-medan yang kondang keren bawah lautnya; di sini bisa sedikit kecewa. Karena ya tentu nggak sebagus di Karimun Jawa, Bunaken, Wakatobu, Maluku, Raja Ampat, dll. Tapi kalau belum banyak turun ke bawah laut dan just for fun tempat ini sangat boleh dicoba. Lautnya tenang, nggak dingin, dan lumayan banyak yang bisa dilihat. Terumbu karang yang masih asri dan ikan-ikan tropis menjadi daya tarik tersendiri.
Kedelapan, glass bottom boat & turtle island Bagi wisata keluarga, naik perahu dengan kaca bening di bagian bawah menjadi pengalaman menarik untuk melihat kehidupan laut tanpa harus basah-basahan.
Biasanya paket ini dilanjutkan dengan kunjungan ke Pulau Penyu, tempat penangkaran penyu hijau, burung langka, dan berbagai satwa lainnya. Kalau ini versi saya wahana “santai-santai bae”. Tinggal ikutin aja arahan guide tanpa kita perlu do something yang berat. Buat anak-anak dan keluarga sangat cocok 😀
Lebih kurang itu siy, water sport yang kondang populer di Tanjung Benoa. Soal harga sampeyan bisa googling mandiri. Di tempat ini ada banyak pemyedia layanan jasa water sport. Silakan pilih-pilih yang menurut sampeyan cocok. Program dan durasi pun beragam. Pilih yang sesuai kemampuan dan budgetmu. Pastikan pula jelas apa yang harus kamu bayar dan dapatkan, durasi, jenis, dokumentasi, asuransi, dll kalau ada force majeur siapa yang bertanggung jawab.
Tanjung Benoa sudah terkenal dengan pelayanan profesional, peralatan yang terawat, dan harga paket yang beragam sesuai kebutuhan. Lokasinya yang strategis, hanya sekitar 20 menit dari Bandara Ngurah Rai, membuatnya mudah diakses. Seluruh layanan kendaraan online bisa langsung tiba di tempat. Makanan beragam juga bisa dipilih di sini. Sungguh tempat ini serasa kombinasi panorama indah, suasana pantai yang hangat, dan adrenalin dari berbagai water sport yang menjadikan Tanjung Benoa sebagai destinasi yang nggak boleh dilewatkan ketika berlibur di Bali.
Saat ditawari oleh Mbokde Saori untuk ikut ini itu di Tanjung Benoa, saya menggeleng. Nggak ikut. Karena semua sudah pernah saya lakukan. Butuh 3-4 harian untuk menikmati seluruh wahana water sport di sini dengan santai-santai, kalem-kalem. Sehari cukup 2-3 wahana saja.
Bisa siy langsungan seharian dari pagi sampai sore. Tapi ya kemrungsung dan capek juga. Kalau santai-santai bisa enjoy, happy; cuman ya jelas makin lama durasi penggunaan, tentu makin banyak cuan yang harus dikeluarkan.
Bagi saya pribadi, pas menikmati wahana di sini yo sudah disiapkan jauh-jauh dan saat itu saya memang ada waktu cukup lama untuk pekerjaan di Bali. Jadi nggak mikirin lagi soal akomodasi, tinggal datang aja ke sini dan pilih-pilih wahana yang sesuai.
Bagaimana, kamu tertarik untuk mencoba water sport di Tanjung Benoa? Kalau kamu menggunakan layanan di sini, pastikan sudah include dokumentasi, termasuk dokumentasi bawah air ya; karena itu ada charge yang nilainya hampir setara dengan harga layanan wahananya. Pinter-pinter nego saja. Apalagi kalau kamu datang berombongan.