Surga di Wakatobi (5): 1000-an Orang di Siang Bolong?

Gambar-gambar seperti itu banyak di berbagai tempat di Wakatobi jelang acara Wakatobi WAVE 2025. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Sebelum masuk ke areal acara Wakatobi WAVE 2025, kami makan siang. Ada juga lho di Wakatobi ini yang jualan bakso dan mie ayam. Yang jualan orang Jawa. Dan nggak seperti bakso atau mie ayam di Jawa, di sini porsinya super besar. Pokmen kalau saya yang doyan makan aja bilang porsi super besar, wes pasti banyaknya di atas rata-rata. Kayaknya semua makanan di sini “porsi besar”. 😁😂

Sambil makan saya melihat lalu lalang penari-penari yang akan berpartisipasi di acara Wakatobi WAVE, orang-orang yang mau nonton, hilir mudik orang-orang membawa aneka piranti pentas, kendaraan motor mobil melintas silih berganti. Di sudut yang lain banyak pula rombongan orang dengan pakaian adat turun dari pick up atau mobil, lalu foto-foto di bawah pohon. Motor-motor dan mobil-mobil sebagian ada yang parkir di seberang jalan kami makan. Tanda bahwa ada kegiatan besar di sekitar tempat itu.

Saya nggak tahan untuk nggak melihat apa saja isian “menara” di atas kepala penari ini, yang ternyata hasil laut. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Sebenarnya jalan dari parkiran ke lokasi acara itu deket banget. Tapi ya ampun karena panas matahari jam 14-an Wakatobi beneran terik menyengat kulit dan saya seperti melihat tangan saya berasap (air menguap dari dalam tubuh); yang dekat pun rasanya nggak sampai-sampai. Belum lagi kalau Pak Ode harus berhenti-berhenti karena sapa-sapa temen-temennya (yang jumlahnya banyak itu).

Saya berusaha tutup mata kalau harus berhenti di panasan, karena beneran bikin kepala terasa nyut-nyutan. Minum air bolak-balik agar nggak dehidrasi. Kalau situasi seperti ini di Madinah atau Mekah sudah saya guyur kepala dengan air zamzam. Kalau sampai dehidrasi, hipertermia, panjang urusannya. Biasanya sebentar saja wes kering lagi itu kerudung meskipun diguyur basah air.

Di gerbang masuk Wakatobi WAVE 2025. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Saya lupa ngecek berapa derajat itu suhu udara Wakatobi saat itu, tapi pasti di atas 38 derajat saking panasnya. Di sini saya yo nggak mengguyur kepala dengan air. Lha bawa air minum aja cuman sebotol, habis dong kalau diguyurkan. Lebih bagus diminum berulang. 😂😁

Kami masuk areal Wakatobi WAVE bersama dengan banyak orang yang lalu lalang. Bertemu orang-orang dengan aneka dandanan. Sebagian peserta pendukung kegiatan ini masih terlihat hilir mudik. Tentu dengan beragam dandanan dan pirantinya yang beragam.

Saya melihat di semua sisi yang disediakan tempat untuk warga wes penuh. Termasuk kursi-kursi untuk mereka warga undangan atau perwakilan. Saya berhitung cepat, mereka yang ada di kursi kursi itu dari jumlah deret ke samping dan ke belakang, pasti lebih dari 200 orang. Kalau ada 4 sisi yang ada di lapangan ini, yach lebih kurang 800-900an orang. Belum lagi jumlah tamu undangan dan pejabat-pejabat di panggung utama; mungkin sekitar 80-100 an orang. Ya lebih kurang 1000 an orang (cmiiw) di siang bolong itu yang sudah memenuhi areal Marina Togo atau Maritime Center ini.

Salah satu sisi tempat di lapangan Marina Togo yang penuh peserta. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Sementara saya mendengar perwakilan peserta karnaval dan pendukung acara dari tiap kecamatan untuk kegiatan ini lebih kurang 200-300 orang. Kalau ada 8 kecamatan di Wakatobi, hitung cepat jumlah perwakilan saja wes 1600 s/d 2400 orang.

Dan pasti jumlah 1000-an orang yang sudah ada di lapangan itu akan bertambah kalau peserta karnaval bergabung duduk-duduk selepas acara. Belum lagi warga yang terus berdatangan untuk melihat acara. Pantaslah udara yang wes panas terik di tengah laut, tambah panas karena banyaknya orang di areal tersebut.

Orang sebanyak itu pun, versi mayoritas warga lokal disebut masih “sepi” karena tahun ini yang berpartisipasi hanya perwakilan setiap kecamatan. Sementara tahun sebelumnya, yang berpartisipasi seluruh desa yang ada di Wakatobi. Kebayang meriahnya. Yach, karena ada efisiensi anggaran.

Jangan selalu percaya foto, karena senyum saya ini untuk menghormati orang yang mau salaman; dengan menahan kepala yang rasanya wes nyut-nyutan gegara panas. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Versi saya, hal itu sebenarnya nggak perlu mengubah partisipasi desa dan warganya. Kan yang efisiensi itu mung dana dari pemerintahnya. Kalau kita warga, rakyat, wah urusan budaya begitu biasanya dana swadaya dan kekuatan mandiri masyarakat tetap kuat dan solid. Karena saya melihat di Jawa, perayaan Agustusan di desa-desa non bantuan dana pemerintah pun, begitu besar dan meriah. Dananya yo jelas swadaya mandiri warga desa. Apalagi event sebesar Wakatobi, pasti mereka mau berpartisipasi. Namun kalau event besarnya banyak atau berulang kali, nah itu baru jadi masalah buat warga. Malez juga kalau bolak-balik iuran dana sosial dan kerja bakti massal😆😂

Kepala saya mulai terasa pusingnya. Wes kalau sudah begitu, sulit bagi saya untuk “beramahtamah” pada orang-orang nggak dikenal. Jadi langkahnya rada cepat untuk menuju lokasi. Begitu saya duduk di tempat undangan, minum obat dulu biar nggak sampai pingsan. Areal tribun VIP dan VVIP ini pas kami datang, belum penuh dan nggak terasa panas.

Baru ada beberapa tamu undangan di situ. Ada yang ribet foto-foto di depan background. Njur pergi. Tapi ada rombongan bapak-bapak itu sudah tahu mereka lho foto di situ, dan orang-orang masih antri nungguin untuk foto, mereka malah ngobrol di situ dan nggak pergi-pergi.

Pak Ode dengan para figurannya. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Karena nggak kenal, ya kami nggak bisa mengusir atau menyuruh mereka pergi. Terus mikir juga kalau ntar mereka pejabat dan tersinggung kan bisa panjang urusannya. Qkqk… jadilah fotonya Pak Ode dengan banyak figuran 😁😜 Saya bae emoh difoto dengan background mereka. Jadi yo nggak punya foto di tribun itu.

Setelah itu Pak Ode pergi entah ke mana, lha kan dia temannya banyak di tempat kelahiran. Saya masih berusaha menetralkan sakit kepala saya gegara panas matahari. Melihat lalu lalang ibu-ibu pejabat yang datang dengan dandanan menor (eh tapi itu nanti pasti luntur deh kena panas), keribetan ajudan yang juragannya minta dibawain ini itu, cipika-cipiki keramahan “standar” antar pejabat, dll.

Saya wes duduk anteng nggak nyapa-nyapa orang karena kepala masih berat. Setelah sudah reda sakit kepala, baru saya mau menyapa seorang ibu paruh baya di seberang yang bolak-balik ngelihatin saya bae. Jelas kelihatan kalau saya bukan orang lokal dan asing, makanya dia kepo. Kami ngobrol lama. Lumayan menghabiskan waktu; karena tahu sendiri acara seremonial kek gitu kan nunggu pejabatnya datang. Mana ini ada menteri-menteri (atau yang mewakili), gubernur (atau yang mewakili), bupati dll pejabat penting undangan lain-lain.

Dan beredar kabar bupati Wakatobi sempat dadakan dipanggil ke Jakarta. Saya nggak tahu saat itu sudah di Wakatobi atau belum, tapi yang jelas bupati itu sudah ada di panggung sebelum pembukaan Wakatobi WAVE.

Bersambung
Ari Kinoysan Wulandari

Surga di Wakatobi (4): Sumber Mata Air Abadi

Sejuk segar sumber airnya. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Nggak banyak orang yang mau berbesar hati, terutama menghadapi kekalahan, kegagalan, ketidakberuntungan, kesialan, musibah, dll sebutan yang setipe. Postingan saya kemarin tentang gagalnya snorkeling, banyak respon japri ke saya.

“Sayang Ri, mestinya kamu balik aja ganti alat-alat kembali dan turun lagi.”

“Kalau aku masih di situ, pasti balik dan turun lagi, Ri. Ongkosnya ke sana kan nggak murah.”

“Bisa-bisanya kamu sesantai itu pergi ke Wakatobi nggak lihat bawah laut.”

Dll. yang intinya menyayangkan, menyesalkan apa yang saya lakukan atau alami di Sombu. Saya terima aja dengan baik. Kan mereka nggak ada di posisi saya. Nggak tahu jadwal acara saya. Nggak tahu situasi saya di sana. Dan terlebih nggak tahu kondisi fisik tubuh saya.

Sebagai orang yang nggak belia lagi, sudah banyak hal jatuh bangun kehidupan saya lewati. Lebih dari 30 tahun, saya sudah nggak pernah berharap atau punya ekspektasi tertentu pada apapun, siapapun. Dengan begitu, semua hal yang terjadi bisa saya terima dengan mudah, tanpa penyesalan. Terlebih kalau saya sudah mengusahakan terbaik (versi saya), ya wes. Mungkin itu bukan rezeki saya. Dan saya akan melanjutkan progres atau urusan lainnya.

Anak-anak gembira saja naik turun sumber itu. Banyak yang wes jago renang dan nyelam. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Pembelajaran itu saya peroleh ketika saya baru fresh graduated, sarjana, mati-matian melamar gaweyan di Kompas Gramedia (KG). Semua proses lolos sampai ke wawancara terakhir. Oh, saya wes pede bakal diterima karena saya tahu orang-orang kunci di situ mayoritas lulusan Sastra dan Psikologi UGM. Ada 2 kandidat terakhir, saya dari UGM dan satu lainnya dari UI. Hambok yakin, mereka kalau misalnya nilai saya saat test kerja itu ada kurang-kurang dikit pun pasti akan tetap memilih yang satu almamater. Sudah bukan rahasia lagi hal seperti ini di dunia kerja.

Ealah, dadakan saya demam tinggi, badan sakit nggak jelas, nggak bisa datang ke wawancara terakhir. Dan gagallah saya jadi bagian KG itu. Saya terpuruk, 3 hari nggak mau masuk keluar rumah. Ternyata itulah cara Allah untuk mencegah saya masuk ke bidang yang nggak terlalu saya suka. Editor tulisan, tentu saya bisa. Njelimeti satu per satu kata di balik meja malem-malem pula (karena dulu koran terbit pagi) itu jelas nggak menyenangkan bagi saya. Saya lebih senang berkeliaran di luar ruangan.

Ternyata Allah menggantinya dengan yang jauh lebih baik. Menarik saya ke Multivision Plus Jakarta tanpa test, datang tinggal urus kontrak kerja dan kesepakatan waktu kerja, bekerja dengan orang-orang yang luar biasa, iklim kerja yang kondusif, sarpras perfilman yang terbaik dan termaju pada masanya, kawan-kawan yang support, dll yang luar biasa.

Dua remaja di sumber air kedua. Airnya lebih hijau lebih jernih, tapi lebih dalam. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Jadi orang yang diminta bergabung, berasa “gagah” saya, minta ini itu fasilitas selengkapnya. Dan baru saya sadari kemudian, kalau saya di KG gaji saya jauh dari cukup untuk memback-up urusan saudara-saudara dan orang tua saya. Kalau di sini, duit saya masih turah banyak, saya masih bisa hidup baik, piknik sana sini tanpa rasa bersalah.

Sejak itu, saya belajar bahwa Allah lebih tahu dan lebih baik mengurusi hidup saya daripada saya atur begini begitu. Wes saya tinggal menjalani saja sebaik-baiknya, nggak perlu punya harapan begini begitu. Toh semuanya malah lebih ringan dijalani. Marah, kesal, kecewa, sakit hati ya itu bagian dari warna kehidupan. Tapi begitu sadar, ya wes saya maafkan dan terima, lalu terlupa begitu saja.

Apalagi hanya urusan kecil soal gagal snorkeling. Lain waktu bisa datang lagi. Kalau nggak, ya berarti itu bukan rezeki saya. Nggak menyesalinya karena wes saya usahakan sebisa saya semampunya.

Versi saya, kalau sampeyan ingin hidup bebas penyesalan; berhentilah berharap pada apapun dan siapapun. Cukup bergantung dan tawakal sama Allah. Atur dan program hidupmu, jalani dan usahakan sebaik-baiknya, lalu biar Tuhan mengurus lainnya. Nanti hidupmu akan terasa enteng, baik, indah, menyenangkan, banyak senyum, banyak syukur, dan banyak happy. 🥰

Pohon-pohon besar yang melingkupi areal sumber mata air. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Oke, itu intermezzo panjang merespon tanggapan kemarin. Sekarang saya lanjut cerita di Wakatobi. Cuaca panas di tempat ini sangat ekstrem. Gosong. Harus banyak minum, tapi biasanya nggak banyak buang air kecil karena menguap bersama keringat. Kadang saya merasa “air” di tubuh saya ikut menguap ke udara saking panasnya.

Setelah dari Sombu, kami ke Wambuliga sebentar dan niatnya terus balik hotel. Karena acara pembukaan Wakatobi WAFE nanti jam 14-an. Saat itu wes jelang siang, hampir waktunya Jumatan.

Nah, di dekat hotel saya menginap itu ada sumber mata air di pinggir jalan. Pas baru datang, saya sudah dikasih tahu untuk mandi-mandi di situ; karena akses gampang dan airnya sangat jernih sejuk.

Orang-orang sekitar menggunakan tempat ini mandi sehari-hari. Mulai dari anak-anak, remaja, dewasa. Anak-anak pulang sekolah pun, taruh tas ganti seragam langsung loncat-loncat terjun mandi di air. Kami pun belok arah ke tempat itu.

Ada 3 sumber mata air besar di situ. Tempat pertama paling kecil, paling dangkal meskipun kedalaman bagian tengah ya 2 meteran, tapi kiri kanannya sumber air banyak batu besar untuk duduk-duduk dan pegangan. Tempat ini isinya cenderung anak-anak kecil dan ibunya yang mengawasi.

Sumber mata air kedua lebih besar, lebih lebar dan lebih dalam antara 4-6 meter. Di sekitar juga banyak batu besar untuk pegangan. Anak-anak remaja tanggung lebih suka pakai sumber air ini. Mereka berloncatan sambil berteriakan heboh. Seru sekali melihat kegembiraan mereka. Masuk tempat ini gratis, nggak ada charge bayar. Masuk semua areal pantai juga nggak bayar. Tapi parkir tetep bayar 😄

Batu nama di areal jalan depan sumber mata air. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Sumber mata air ketiga posisinya agak di sudut, tapi jarang dipakai orang. Tentu airnya juga tetap jernih seperti sumber mata air lainnya. Mungkin terlalu dalam, jadi nggak banyak yang mau pakai. Kita kan kalau akses fasilitas yang paling gampang aja.

Versi warga sekitar sumber mata air sudah ada sejak lama banget. Leluhur-leluhurnya juga sudah mengenal adanya sumber mata air itu. Sumber mata air ini terus mengalir dengan debit air yang stabil sepanjang waktu. Bahkan di musim kemarau yang sangat panjang, sumber air ya tetap segitu gitu aja. Jernih, segar, menyehatkan. Orang-orang mandi mandi, ya minum-minum air juga di situ. Deskripsinya berasa kek penjelasan tentang air zamzam di Mekkah saja. Mata air abadi. Tapi ya itulah keajaiban sumber mata air ini.

Saya nyebur, mandi sepuasnya. Segar banget airnya. Melihat muka anak-anak yang gembira ria, saya kok ya ikut senang. Ya kegembiraan juga seperti virus, menular dengan cepat. Anak-anak itu adalah bagian dari wajah masa depan bangsa ini. Semoga mereka tetap gembira dan semangat menjemput tantangan zaman yang semakin nggak ringan.

Dalam hati saya menyebut, untung ini sumber mata air lokasinya di Wakatobi. Kalau di Jawa sudah dikomersialkan dan “disajeni”. Terlebih sumber-sumber mata air itu terletak di tempat strategis pinggir jalan, di bawah naungan banyak pohon besar berumur lewat ratusan tahun. Konon etnis Jawa memang paling “pintar” kalau urusan komersialisasi dan sakralisasi tempat dengan sesajen dan aneka ritual 😁😂

Puas mandi mandi dan ciblon, saya balik hotel. Mandi bersih, lalu tidur 😂 Ya ampun, orang-orang sekitaran saya pada heran dengan gampangnya saya tidur dan sekaligus bangunnya, tanpa rasa pusing. Haha… mungkin karena saya nggak ada beban batin atau pikiran apa-apa. Selesai satu urusan wes gak saya pikir lagi 😂😁

Jam 13.30 an saya wes rapi bersiap ke Marina Togo atau Maritime Center untuk pembukaan Wakatobi WAFE. Wah lihat list acaranya, kayaknya sampai malem itu. Dan saya ikut semangat karena dengar orang-orang di hotel juga rerata datang untuk diving dan lihat acara Wakatobi WAFE. Pasti seru ini, pikir saya antusias. Wes terlupa saja urusan snorkeling. 😁😂

Bersambung.
Ari Kinoysan Wulandari

Surga di Wakatobi (3): Kalau Snorkeling Nggak Mengikuti Ritualnya

Sisi depan tempat masuk areal Sombu. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Alhamdulillah. Saya jenis orang yang gampang makan, gampang tidur, gampang ketawa, gampang happy dengan hal-hal kecil, gampang pula bekerja. Di berbagai tempat dalam beragam situasi yang nggak biasa.

Saya juga lumayan gampang beradaptasi dengan berbagai sikon yang nggak menentu. Wakatobi beneran “asing” buat saya. Orang-orangnya. Bahasanya. Makanannya. Model-model rumahnya. Lingkungannya. Cuacanya yang panas ekstrem.

Toh mengingat “belum tentu saya ke sini lagi”, saya berusaha mengenali semuanya baik-baik. Menikmati makanan lokal sebisa saya. Berbincang dengan sekitaran semampu saya. Mengingat detail lingkungan setelitinya. Semua terasa ringan dan happy saja.

Usai makan malam dan wes balik hotel, saya merampungkan beberapa artikel populer yang deadline. Setelah itu saya tidur. Sebentar saja saya sudah lelap. Sempat terbangun dini hari sebentar, dan sudah pules lagi sampai Shubuh.

Ujung jembatan sebelum turun ke laut. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Pagi hari saya sarapan dengan gembira. Mau nyebur laut. Itu aja yang ada di ingatan saya. Gambaran yang menyenangkan hati. Apalagi wes “tahu” dari referensi betapa cantiknya bawah laut Wakatobi.

Sampai lokasi pusat diving Wambuliga, saya mengambil pelampung, alat snorkeling, kaki katak, sama nungguin guide dan fotografer. Begitu semua wes siap, kami motoran menuju spot diving di Sombu. Saya nyaris lupa; ganti baju renang tuh di sini atau di seberang ya? Kayaknya ganti di basecamp diving itu deh. Pokoknya bebaslah kalau soal ganti baju, ada banyak tempat.

Pak Ode ngingetin agar perhiasan (emas) yang saya pakai dilepas. Cuman karena biasanya mo turun bawah laut ya gitu-gitu aja (maksudnya nggak pernah copot pasang perhiasan), saya nggak mau. Ribetlah copot pasang gitu dan saya yakin cukup aman, atau perhiasan itu nggak akan terlepas kalaupun saya berada di bawah air.

Suasana di Sombu masih sepi saat kami datang. Pemandangan laut begitu cantik. Air jernih berkilauan ditimpa mentari pagi seperti perak terhampar di lautan luas. Riak-riak air kecil bergulung lembut ringan di mata. Bikin hati tuh langsung adem, ayem, tentrem, berasa hilang deh semua beban hidup… hihi… Kalau kamu keluar dari laut Sombu dan beban hidupmu yo balik lagi, itu jelas salah dan dosamu sendiri… qkqk…

Sisi lain jembatan tepian Sombu. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Lagi-lagi Pak Ode ngingetin saya untuk melepas perhiasan. Saya ya tetep ngeyel bilang nggak apa-apa dan nggak mencopot perhiasan. Saat kaki saya menyentuh air laut, terasa hangat. Saya wes berasa senang.

Yang nggak saya pikirkan terjadi. Begitu masuk laut sebentar saja, saya langsung glagep glagep terminum air laut dan sesak. Alat napas saya lepas-lepas terus. Kemudian pelampung berasa naik-naik sampai kepala nggak pas di badan dan punggung saya. Kaki kataknya juga kurang nyaman di kaki saya.

Menyerah? Belum. Kaki katak saya lepaskan, nggak saya pakai. Seingat saya, di beberapa tempat, saya nyebur dengan kaki telanjang; ada yang pakai sepatu kecil tapi ekornya nggak sepanjang itu. Saya mencoba lagi turun, dan ya ampuuun habislah nafas saya gegara alatnya lepas-lepas melulu. Hadeuh.

Saya masih berusaha nggak panik. Nggak pakai alat nafas cukup bisa 5-10 detik lihat bawah laut dan naik lagi. Jadinya yang saya lihat yo mung ikan-ikan bergerombol biru hijau di sekitar laut tepian.

Pagi nggak terlalu ramai di Sombu. Hanya kami dan orang-orang di belakang itu. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Ampuun tenan…. Apa yang salah ya? Saya bukan orang yang gampang nyerah. Dan ini bukan hal baru buat saya, nyebur udah berapa kali ke laut? Kok ini malah pas air lautnya jenis hangat dan bersahabat gini nggak bisa turun. Kesian kan guide sama fotografer nya, jadi nggak kerja. Padahal keduanya ya mung mengawal saya doang. Sabar banget pula mereka.

Ingatan saya ke kepala desa yang kemarin mrmberi ulasan tentang bawah laut Wakatobi. Kayaknya saya sudah berdoa, “permisi”, dan nggak do something bad deh… pikir saya. Jadi pasti bukan karena itu. Saya juga nggak menangkap energi “buruk” di sekitaran areal tersebut.

Tiba-tiba guide saya nanya, kapan terakhir saya nyebur laut… Bhadalaaah…. Ya Gusti Allah, baru sadar… saya terakhir nyebur laut wes 2 tahun yang lalu di Karimun Jawa. Setelah itu nggak pernah turun laut lagi.

Tahun ini saya blas belum nyebur laut. Di Pantai Kasap (Pacitan) enggak turun, di Pantai Bama (Banyuwangi) yo mager, di Lovina (Bali) mung duduk-duduk di perahu liat si lumba-lumba. Haish, pantes air laut jadi berasa “asing” lagi buat saya yang bukan anak laut ini.

Habis ciblon, naik saja daripada terminum air laut melulu. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Guide saya mengatakan ngggak apa-apa. Perlu beradaptasi lagi dan menyarankan agar saya lebih sering turun bawah laut biar terbiasa (yang jelas pasti nggak akan saya turuti). Di Jawa, turun ke laut itu butuh effort tersendiri. Saya langsung memaklumi diri, tapi masih pingin nyebur laut lagi. Dan jelas tetep nyebur lagi saya, biyuuu…. malah terminum air laut lagi lebih banyak.

Astaga, dari banyak kali nyebur laut-laut, ini beneran pengalaman saya paling payah di tempat yang (mestinya) paling indah di Nusantara. Keseeel beuuut saya… tapi memaksa turun lagi, wes pasti cuman beberapa detik gitu… dan akhirnya merasa sesak gegara terminum air laut.

Pas ngelihat alat nafas snorkeling itulah saya menyadari “kebodohan spontan” yang terlewat sebelumnya. Pas di basecamp diving, saya nggak nyobain alat nafas. Alat yang saya pake ukurannya terlalu besar untuk mulut saya, makanya lepas-lepas terus. Di basecamp juga nggak memasang pelampung dengan benar, sehingga nggak sadar kalau ukuran terlalu kecil. Kaki katak juga nggak pas betul, sehingga terasa nggak nyaman di kaki saya.

Menyadari itu semua, saya memutuskan segera naik saja. Sudah cukup lama ciblon di laut. Dan orang-orang juga sudah mulai rame berdatangan. Jujurly saat itu saya agak malas berinteraksi sapa-sapa sekedar senyum dan say hello pada orang yang bersinggungan di lokasi. Mudah-mudahan ada lain waktu untuk datang lagi.

Di belakang saya itu basecampnya diving Wambuliga. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Apa saya menyesal dengan kegagalan ngeliat bawah laut Wakatobi? Tentu aja enggak. I do my best untuk urusan ini. Nggak bisa lihat bawah laut karena faktor X yang sudah saya identifikasi di atas, ya itu murni keteledoran saya. Kudune cek-cek semuanya dengan teliti dan memastikan semua alat nyaman saya gunakan.

Kemudian saya sadari juga, ada ritual yang (lupa) nggak saya patuhi. Biasanya sebelum snorkeling itu, saya nggak akan makan apapun (lhah itu pagi saya malah sarapan kenyang-kenyang 😂😁). Pantas saja nafas saya seperti ilang-ilangan; energinya habis untuk mencerna dan mengolah sarapan itu. Ya ampun….

Terus yang kedua, sebelum snorkeling tuh biasanya 15-30 menit saya jalan atau lari. Lalu istirahat sejenak, baru nyebur. Lari atau jalan itu fungsinya “mengaktifkan” seluruh tubuh saya, sehingga gerak dan nafas di dalam air jadi lebih mudah. Pas itu saya nggak jalan atau lari, nggak pemanasan pula… lha yo pantes. Weslah gpp, saya tetap senang ciblon di laut luas.

Pohon kelapa tumbuh rendah mengarah ke laut di Wambuliga. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Toh saya keseeel beut pas Pak Ode bilang kalau saya nggak bisa turun itu karena saya pakai perhiasan emas. Mitosnya memang nggak boleh pakai emas kalau mau turun bawah laut Wakatobi. Begitu saya pakai emas di laut, njur seperti terhalang untuk turun menikmati pemandangan bawah laut. Mungkin penguasa bawah lautnya nggak mau kesaingan kalau ada yang pakai emas 😁

“Lha Pak Ode kok nggak bilang?”

“Kan sudah saya ingetin, itu (perhiasan) nggak dilepas? Saya bilang berapa kali tadi?”

“Dua kali,” jawab saya masih keseel. Lha saya kan mikirnya disuruh lepas perhiasan karena dikhawatirkan perhiasan jatuh, lepas, atau hilang di laut. Kalau itu siy aman aja; karena perhiasan saya nempel pas seukurannya jadi sulit lepas kalau nggak sengaja dilepas. Kalau dibilang mitosnya gitu kan pasti saya lepasin. Haizh…

Bersambung
Ari Kinoysan Wulandari

Surga di Wakatobi (2): Wah, Ikaaan…!

Menurunkan sepeda motor dari kapal. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Tiba di Pelabuhan Wakatobi sudah terang. Saya agak lama di sini mengambil foto-foto, melihat orang-orang turun dari kapal, barang-barang besar diturunkan dari kapal (termasuk sepeda motor). Lalu lalang hilir mudik orang-orang. Riuhnya tawaran jasa ojek dan mobil. Rerame keluarga menjemput mereka yang baru datang.

Buruh buruh panggul yang menggotong barang sampai gerobak dorong yang membawa banyak muatan kebutuhan rumah tangga. Semua menjadi warna khas pelabuhan Wakatobi saat kapal sandar. Warna aktivitas yang baru sekali ini saya lihat di negeri yang jauh dari tanah kelahiran.

Saya cukup takjub melihat air laut yang jernih di tepian dermaga dengan ikan-ikan bergerombol sangat banyak. Ya ampun, disiruk aja kena semua itu. Saya pikir, hanya akan melihat yang begini di laut-laut dan sungai-sungai di Papua, oh di Wakatobi pun begitu. Berasa menyesal kok nggak lebih awal datang ke tempat ini.

Setelah cukup puas, baru kami pergi dengan mobil. Buat teman-teman yang mau ke sini, tawar saja kalau harus pake ojek atau mobil. Namanya juga di areal umum, suka-suka mereka nawarin harga. Jadi kita yang harus memastikan dari awal.

Tempat jual pisang goreng dan ubi goreng di pasar. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Tujuan kami ke rumah Pak Ode. Hotel tempat saya menginap, check in nya sekitar jam 12. Jadi masih siang nanti. Nggak lama wes tiba di tujuan. Sebentar banget karena mung 3 km-an. Bisa siy jalan kaki, tapi dengan barang bawaan jelas saya emoh ribet 😁🙈

Rumah itu modelnya memanjang ke belakang dengan banyak ruang atau kamar. Ciri khas rumah untuk keluarga besar banyak saudara. Ibu Pak Ode sudah sepuh. Saya pun nggak mudeng apa yang dibicarakan dalam bahasa lokal. Saya bisa menangkap nada sapaan ramahnya.

Pak Ode juga tipe anak laki-laki yang berbakti pada ibunya. Pulang bawain oleh-oleh, baju, kasih uang. Kalau ada istilah sejenis menarik sejenis, saya dan teman-teman dekat, semuanya juga berperilaku sangat baik pada ibu bapak kami. Semoga tetap seperti itu sepanjang hayat kami. Amin.

Jalanan di tengah pasar yang lengang. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Pagi itu ada juga kakak dan keponakannya, tapi nggak tinggal di situ. Datang menengok ibu dan neneknya, njur pulang. Rumah mereka berdekatan. Lebih kurang begitu yang saya ingat. Lalu saya mengikuti Pak Ode jalan untuk ambil motor. Tempatnya di rumah kakaknya yang lain.

Jalanan di Wakatobi cenderung lengang, meskipun kiri kanan padat dengan rumah-rumah penduduk. Cukup bersih dan teratur. Oh yang paling saya ingat, udara segar dengan aroma laut dan langit yang sebagian begitu biru.

Usai ambil motor, kami ke pasar. Makan pisang goreng, dan ubi goreng. Dan yang jualan itu (kakak) atau (adiknya) Pak Ode yang lain. Ya ampun, saya agak sulit mengingat mereka karena face atau wajahnya mirip-mirip.🙏

Jalanan lengang di Wakatobi. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Oh iya, pasar ini konon pasar awal di daerah tersebut. Setelah ada pasar-pasar baru, banyak los, kios-kios, ruko-ruko yang kosong melompong di pasar ini. Pedagang pun hanya sedikit. Areal jalanan pasar kalau siang sore jadi ajang anak-anak main bola atau lelarian. Mungkin pemerintah dan pihak terkait perlu merevitalisasi lagi pasar ini biar lebih banyak manfaatnya (kembali) untuk masyarakat.

Di areal pasar itu juga ada tempat jualan ikan segar. Wah ikaaan…. Senang lihat ikan besar kecil, beragam jenis, bermacam warna. Rame orang beli ikan di tempat ini. Rerata kalau beli sekaligus dibersihkan. Nggak ada ukuran kiloan di sini, tapi sekelompok-sekelompok ikan dengan harga tertentu; mulai dari 20, 50, 100, 200 rb dst.

Di seberang tempat jualan ikan itu (entah sisi mana arahnya) langsung laut. Ada banyak perahu tertambat di sekitar. Pas saya tengok, laah ikan-ikan pun bergerombol di tepian. Ya ampun banyak betul ikan di sini.

Sebagian ikan-ikan yang dijual di pasar ikan. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Setelah Pak Ode membeli ikan dan menitipkan pada kakaknya untuk dimasak, kami pergi. Sebentar, saya agak lupa ke mana pergi setelah itu. Oh, kami ke pusat diving di Wambuliga. Karena pas ditanya mo snorkeling atau diving, saya jawabnya iya banget. Kalau soal pede, saya kelewat ndableg. Pokokmen kalau kayaknya bisa, iya aja dulu… ntar gimana ya dipikir nanti 😁😂

Di Wambuliga nanya jadwal, sewa alat dll. Ya karena di Wakatobi ada event besar WAFE 2025 itu dan kabar ramenya Bu Sherly (Sherly Laos, Gub Malut) mau datang untuk diving. Jadi hari Sabtu sampai Minggu semua jadwal dan spot diving wes full dipesan. Saya disarankan memilih besok pagi (Jumat) mumpung masih selow dan nggak banyak spot terpakai. Ya wes, besok janji saya ke mereka.

Di sini sewa alat snorkeling, plus guide dan dokumentasi 600rb untuk full payment. Tapi pas promosi, saya kena charge 250rb bae full fasilitas 😁😂 Kalau paket diving, berapa ya harganya? Saya lupa persisnya, sekitar 1,5 jt an. Saya jumpa dengan kepala desa yang menasihati saya kalau mau turun laut (snorkeling atau diving), saya harus jadi orang baik. Maksudnya saya nggak boleh ngomong dengan kosakata buruk, kalau lihat sesuatu di bawah laut yang “aneh-aneh” nggak boleh berkomentar, harus “permisi”, dan nggak boleh membuat keributan di laut.

Salah satu ikan yang versi saya “ajaib” di Wakatobi. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Saya menyanggupi. Bagaimanapun buat mereka yang mata batinnya hidup terbuka, bawah laut memang bukan sekedar ikan-ikan, makhluk laut, terumbu karang ataupun air laut; tapi banyak juga “kerajaan-kerajaan bawah laut” yang tak kasat mata oleh pandangan biasa. Dan saya yang besar di Tanah Jawa dengan segala mitos atau legenda laut, wes paham betul nggak boleh macam-macam di tempat yang bukan “ambah-ambahan” atau bukan “daerah kekuasaan kita”.

Lama berbincang tentang laut di sini, kami pun melanjutkan jalan dan mider lagi. Ada beberapa pantai yang kami singgahi, tapi wes nggak keurus dan sepi dari pengunjung. Jadi saya lupa nama-namanya😂😁 Tapi tetep pantainya indah dan cantik-cantik, meskipun sarpras ke TKP kudu direhab total.

Kemudian kami mampir ke rumah Bu Tuti dan Pak Damrin. Singgah sejenak dan diundang datang lagi lain hari. Saya nggak merespon karena belum tahu bisa enggaknya. Setelah itu kami pergi ke pantai lagi dan balik pulang. Saya nggak inget sepanjang jalan, Pak Ode beli jajanan khas apa saja. Bentuknya lucu-lucu, namanya pun unik-unik; dan hampir nggak ada yang saya hafal. Sudah dikasih tahu, ingat sebentar, njur lupa 😂🙈

Pohon kelapa kembar di Wambuliga. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Karena sudah panas banget, kami memutuskan pulang. Beuh, gosong tenan saya di Tanah Laut itu. Sudah berhari-hari di Jawa pun kaki, tangan, muka gelap belang hitam saya belum ilang. Padahal yo wes dikasih sunscreen lho sebelumnya, tapi nggak mempan. 😂

Saya makan siang di rumah Pak Ode. Tentu dengan olahan ikan. Menyenangkan sekali makan ikan di sini. Ikan segar, jadi gurih dagingnya berasa. Setelah itu, baru saya masuk hotel. Namanya Wisma Maharani, yang punya namanya Ismail (bikin saya inget si Mail ponakan saya yang lucu beut). Langsunglah saya mandi puas-puas dan tidur puas-puas 😁

Panasnya ampun, AC 16 derajat gak berasa dingin. Bangun tidur saya kek orang habis lari, keringetan meskipun ruang pake AC. Saya mandi lagi. Kemudian beberes gaweyan. Baru keluar makan malam.

Kalau dibablaske dolan malam itu pasti ngopinya sampe pagi. Saya memilih pulang, tidur. Besok pagi mo nyebur laut. Butuh banyak energi.

Bersambung.
Ari Kinoysan Wulandari

Surga di Wakatobi (1): Perjalanan Panjang

Bandara Halu Oleo, Kendari. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Nggak seperti Sanur, Kuta, Tanjung Benoa, Bunaken, Raja Ampat, Derawan, Karimun Jawa, Losari, Pahawang, dll tempat wisata laut yang populer; saya yang lahir dan besar di dataran rendah Tulungagung, Jawa Timur; nggak mengenal kata Wakatobi. Kosakata itu baru saya kenali jelang akhir tahun 2013 saat studi S-3 UGM.

Ada mahasiswa La Ode Rabani (saya memanggilnya Pak Ode) yang memperkenalkan diri, termasuk menyebut kata Wakatobi itu. Di mana ya itu? Pikir saya berkerut. Rada niat, sepulang kuliah bukannya nanya ke ybs tapi malah ngecek di peta. Oalah, Sulawesi Tenggara. Jauh. Googling sejenak saya bisa mendapatkan sedikit info tentang surga bawah laut Wakatobi. Dari 750 spesies di dunia, lebih kurang 500 spesies bawah laut (cmiiw) ada di Wakatobi. Belum terumbu karang yang luar biasa cantik. Wah, boleh juga kalau main ke sana.

Seperti kebanyakan orang dari negeri pelaut, Pak Ode juga berwajah keras (cenderung serem kalau nggak kenal, serius banget kalau lagi kerja). Sampai beberapa bulan di kelas, saya mung tahu namanya Pak Ode dan nyaris tanpa interaksi. Lha saya datang ke kampus 5 menit sebelum kuliah, usai kuliah ya pulang untuk ngurusin gaweyan.

Baru ketika ada kegiatan pengabdian masyarakat dari studi S-3 Ilmu-ilmu Humaniora UGM di Gunung Kidul, kami mulai ngobrol ini itu. Saya yo nanyain tentang Wakatobi dll biaya ke tkp. Besar. Dan keinginan ke tempat itu nggak kesampaian sampai saya lulus S-3 di 2016. Lalu saya wes sibuk gegaweyan, Pak Ode masih lanjut kuliahnya sampai lulus di 2021.

Salah satu sisi dalam Bandara Halu Oleo, Kendari. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Sepanjang ingatan saya selanjutnya, Pak Ode ini baik banget. Rajin nengokin temen-temen yang sakit, rajin silaturahmi, rajin membantu siapa saja. Dan saya kalau dicolek WA, “Ari ayo ikut ke sini, ke rumah si ini, tengok si itu,” dll.; pokokmen saya bisa, saya yo ikut aja. Pernah saya menegurnya keras karena terlalu baik nolongin orang, dianya sendiri malah repot.

Sebelum bergabung jadi dosen, saya nggak tahu pentingnya “sertifikat seminar” untuk kelangsungan hidup dosen (untuk memenuhi BKD semesteran). Singkat ceritanya Pak Ode ini membantu teman yang nggak hadir seminar untuk memintakan sertifikat (yo karena panitia penyelenggara juga konco-konco Pak Ode). Wes dapet sertifikat itu lho, nggak diambil sama yang minta tolong malah Pak Ode disuruh nganterin sertifikat ke rektorat jelang maghrib. Haish… kebaikannya kebangetan. Yang ditolong mbuh nggak tahu saya, bilang terimakasih atau enggak.

Kalau saya catatkan kebaikan sahabat saya itu, bisa panjang sekali. Karena kami masih bersambung baik komunikasi, meskipun saya sudah lulus lama. Mungkin benar kata Pak Ode, saya nggak baperan, gampang diajak urusan ini itu mo dolan atau gaweyan.

Saya, Pak Erens, Pak Ode, Gus Jalil di rumah makan Maros, by pass Kendari. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Tahun berlalu, saya wes nyaris lupa dengan keinginan ke Wakatobi. Ada beberapa open trip ke tempat ini, tapi karena tahu perjalanan panjang dan berisiko, saya nggak pernah mendaftar. Beberapa kali kalau Pak Ode pulang kampung, saya yo pingin ikut; tapi itung-itungan budget saya kok nggak cukup. Yo lewatlah sudah. Meskipun doyan dolan, sebagai penulis profesional dengan model freelancer; saya punya manajemen keuangan yang ketat. Jangan sampai gegara piknik njur nanggung utang nggak perlu.

Tahu-tahu pas Juni 2025, saat saya memenuhi undangan DSBK (Dialog Serantau Borneo Kalimantan 2025 untuk tiga negara, Indonesia-Malaysia-Brunei Darussalam) di Samarinda, Kalimantan Timur; Pak Ode nyeletuk di grup piknik kalau mau ke Wakatobi bulan Agustus atau September via laut. Wes, saya nggak pake lama bilang mau ikut, tapi menawar agar bisa lewat udara.

Tahun 2025, saya memang sudah niat kalau duit nggak cukup untuk piknik jauh-jauh ke luar negeri; akan saya bereskan piknik-piknik domestik yang belum saya penuhi, termasuk Wakatobi. Dari Januari sampai bulan ini, catatan piknik saya dalam negeri semua. Nggak selalu lebih murah dari piknik luar negeri, tapi sekurangnya aman terjangkau di kantong saya.

Juli saya jumpa Pak Ode di Jogja, untuk cek ricek jadwal dll. Agustus atau September, dia bilang pulang ke Wakatobi karena ada keluarga yang menikah. Dia minta saya pergi lain waktu, juga pertimbangan ombak laut. Kalau ada acara keluarga, pasti dia nggak bisa nganterin saya keliling piknik. Saya bilang oke menunggu kabar saja.

Situasi di salah satu sisi Pelabuhan Kendari. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Akhirnya kami sepakat untuk pergi bulan Oktober. Itu saya masih di Lovina, Bali. Saya bilang akan urus tiket dll setelah piknik dari Bali. Saya masih berpikir bahwa ini trip pribadi tanpa ada acara official. Ya wes ben gpp, sudah niat pikir saya.

Ternyata saya dapat undangan dari Bupati Wakatobi untuk Wakatobi WAVE 2025 (Pameran Budaya dan Expo UMKM) tanggal 3-5 Oktober. Malah kebetulan. Alhamdulillah. Kemudian kami chitchat soal waktu dll keberangkatan, termasuk sharing penulisan di Universitas Halu Oleo. Saya wes manut saja saran-saran Pak Ode; karena memang ngeblank belum pernah ke sana.

Belum sampai pertengahan September, tiket-tiket sudah beres. Dan saya masih sibuk kerja seperti biasa sampai akhir bulan, bahkan lembur bikin rekaman-rekaman perkuliahan dan tugas-tugas pengganti. Mestinya siy seminggu cukup, tapi dari hitung Soul Meter (SM) saya, kayaknya bakal 2 minggu nggak bisa tatap muka langsung.

Tanggal 1 Oktober, sejak jam 03 dini hari saya wes bangun. Siap-siap dan packing. Jam 05 ke Stasiun Tugu, Jogja untuk kereta pagi jam 06 lewat dengan Sancaka. Jam 11.00 sudah sampai Stasiun Gubeng, Surabaya. Di sini saya jumpa Pak Ode dan berangkat bersama ke Bandara Juanda. Lumayan jalanan agak selow, tapi panasnya kota buaya tetap menyengat. Kami masih sempat ishoma di bandara, sebelum terbang jam 13 WIB ke Kendari dengan Super Air Jet.

Kapal Uki Raya yang membawa kami dari Kendari ke Wakatobi. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Jam 16.30 an WITA sampai Bandara Halu Oleo Kendari. Wes, mulai beresahan karena Pak Erens yang jemput kami nggak datang-datang. Baru setelah 40 an menit Pak Erens datang dengan Gus Jalil. Itu juga gegaranya versi Pak Erens, Pak Ode nelpon baru tadi siang pas di Bandara Juanda, kan mestinya sehari sebelumnya atau lebih lama lagi. Hehe, kami ini bukan tipikal orang-orang yang mau ngerepotin teman. Tapi kalau nggak dikontak pas kami ada di TKP, wah bisa diomelin panjang nanti kalau jumpa lagi.😁😂

Senang sekali saya jumpa Pak Erens yang juga kawan S-3 tapi beberapa tahun di atas saya; rasanya seperti baru kemarin aja kami beribetan urusan disertasi dengan segala intrik dan polemiknya. Sebenarnya kalau diteruskan, bisa saja semalem sepagian kami ngobrol. Jadwal berangkat kapal yang membatasi pertemuan kami, termasuk waktu makan. Karena kalau nunggu ikan segar dibersihin dan dimasak, makan waktu dan bisa-bisa ketinggalan kapal. Untung ada Gus Jalil yang bisa memilihkan tempat makan ikan sudah langsung masak, nggak perlu menunggu. Begitu kami datang, memilih menu, makan, bayar, dan lanjut ke pelabuhan.

Di Pelabuhan Kendari, baru juga kami duduk di warung kopi, suara peluit kapal (cmiiw) sudah bunyi. Jadi terpaksa kami bergegas mendekat kapal. Pak Ode yang masih mengurus tiket kapal, masih nggak tampak batang hidungnya. Gus Jalil memanggil meneriakinya, dan kami bergegas menemuinya. Ooh, rupanya baterai HP Pak Ode hampir drop, jadi nggak bisa ditelpon atau menelepon. Untung Pak Erens awas mata, karena katanya Pak Ode orangnya unik gampang dikenali.

Akhirnya kami berpisah di tangga kapal dan janji akan jumpa lagi ngopi Kendari. Saya dan Pak Ode melanjutkan perjalan nyeberang pakai kapal Uki Raya jam 19.30 an WITA. Kapal besar terasa penuh sesak. Semua bagian terisi orang. Lalu lalang dan berisikan obrolan dengan suara kencang terdengar di mana-mana. Jelas nggak saya mengerti, karena mereka mayoritas bicara dengan bahasa daerah setempat.

Sudah bangun usai Shubuh di dalam kapal. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Pedagang lalu lalang hilir mudik menawarkan aneka dagangan; dari makanan, minuman, buah-buahan, obat-obatan, permen, dll. Pak Ode berulang nanyain saya, sudah cukup bawa air, permen, jajanan, dan obat mabuk laut. Saya ngikik. Air dan permen sudah. Jajanan nggak perlu karena wes kenyang. Obat mabuk laut?

Seingat saya seumur-umur naik perahu atau kapal ya nggak pernah mabuk. Belakangan pas sudah di Jawa itu Pak Ode bilang sangat khawatir kalau saya nggak nyaman naik kapal karena sangat lama. Lha saya mikirnya nyeberang ke Wakatobi itu mung 2 jam, bhadalah 8-9 jam. Ya ampun, terbang ke Jeddah dong saya 😁😂

Wes pokmen kapal itu ramai banget. Dan karena beli tiket last minute, gakbisa milih tempat. Tahu sendiri di bawah ribet ramenya orang lalu lalang dengan suara gedebukan kaki-kaki —yang ampun sampai jauh malam bikin saya belum tidur. Belum suara mesin yang bikin telinga saya nging-nging rada nyeri.

Oh iya, di kapal ini sarpras cukup memadai. Mushola ada, meskipun cukup untuk dua orang saja. Toilet banyak. Ruang terbuka banyak. Tempat-tempat barang memadai. Saya bertanya ke Pak Ode, apa barang-barang aman bergelatakan begitu saja dengan banyak orang yang nggak dikenali. Katanya aman ya sudah, meskipun saya sempat khawatir juga lha laptop dll piranti kerja di situ kalau ilang, biyuuu…. ampun.

Alhamdulillah, akhirnya sampai juga di (Pelabuhan) Wakatobi yang jauh di sana. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Sempat lihat laut di luar, tapi versi saya karena banyak orang merokok, jadi udara terasa sesak. Saya memilih segera balik ke tempat tidur. Mungkin karena sudah lelah, selepas sholat isya (entah jam berapa) saya wes tidur pules. Sempat terbangun sejenak jam 02.30 dini hari, saya njur berdoa saja dan tidur lagi.

Nyenyak betul saya tidur, sampai nggak dengar lagi langkah orang lalu lalang. Saya dibangunin Pak Ode jelang kapal sandar. Katanya kalau sudah dibagi teh, berarti sudah mau sampai. Oh bagus juga dikasih teh panas biar melek. Saya njur bebersih, sholat Shubuh, dan balik lagi ke tempat. Sekitar 05.30 WITA (keesokan harinya) barulah kapal sampai di pelabuhan Wakatobi.

Ya ampun, sekali jalan lebih dari sehari semalam. Jauhnya tempat yang bernama Wakatobi ini. Itu pun baru sampai pelabuhannya. Toh saya berulang mengucap alhamdulillah, sudah menjejak tanah surga ini. Saya wes bisa senyum lebar lagi, karena mungkin sudah cukup tidur; meskipun kalau disuruh tidur lagi, sampai siang pun masih mau😁😂

Oh iya, untuk harga tiket-tiket, Teman-teman silakan cek di marketplace langganan ya. Yang jelas kalau di Kendari mobil online tersedia 24 jam, tapi di Wakatobi nggak ada layanan aplikasi online. Kudu sudah pesan atau ada yang antar jemput ke mana-mana. Selanjutnya akan saya ceritakan apa saja yang saya lakukan dan alami selama trip Wakatobi ini.

Bersambung.
Ari Kinoysan Wulandari

Menyoal Tata Bahasa untuk Penulisan

Jadi Penulis Produktif. Perlu buku cetak wa.me/6281380001149. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Penulis paling ahli pun sesekali membuat kesalahan tata bahasa. Masalahnya, kesalahan kecil ini dapat merusak kredibilitas Anda dan mengganggu aliran pembacaan. Pembaca yang terusik oleh typo dan tata bahasa yang salah akan kesulitan fokus pada ide besar Anda.

Mengedit tata bahasa adalah tentang disiplin. Berikut adalah tujuh kesalahan paling umum dalam penulisan bahasa Indonesia (dan tip praktis untuk menghindarinya).

  1. Penggunaan Preposisi Di dan Ke yang Terpisah dan Bersambung
    Ini mungkin adalah kesalahan tata bahasa yang paling sering terlihat, terutama dalam penulisan online.

Aturan: Preposisi (kata depan) yang menunjukkan tempat atau arah harus dipisah. Imbuhan pembentuk kata kerja pasif harus disambung.

Contoh Salah: Disana (seharusnya di sana), di tempel (seharusnya ditempel).

Cara Menghindari: Jika Anda bisa mengganti kata tersebut dengan “di samping,” pisahkan. Jika tidak bisa, sambung.

di sana (bisa diganti di samping), di kantor (bisa diganti di samping).

ditulis (tidak bisa diganti di samping tulis).

  1. Penulisan Partikel -Pun dan -Per
    Banyak penulis bingung kapan partikel ini harus digabung atau dipisah.

Partikel -Pun: Ditulis terpisah kecuali untuk 12 kata yang sudah baku (misalnya: adapun, meskipun, walaupun, biarpun, ataupun, kalaupun, kendatipun, siapapun, bagaimanapun, sungguhpun, jangankan, dan sekalipun).

Contoh: Anda pun bisa berhasil. (Pun berarti ‘juga’).

Partikel -Per: Partikel per yang berarti “mulai,” “demi,” atau “tiap” harus dipisah.

Contoh: Mereka bertemu per hari Kamis. Harga naik per dua minggu.

  1. Penggunaan Tanda Koma (,) yang Keliru
    Koma adalah jeda penting dalam kalimat; menggunakannya secara berlebihan atau kurang dapat mengacaukan makna.

Fungsi Koma: Memisahkan unsur-unsur dalam pemerincian (Saya suka kopi, teh, dan susu). Memisahkan anak kalimat dari induk kalimat jika anak kalimat mendahului induk kalimat (Karena sakit, ia tidak masuk).

Kesalahan Umum: Meletakkan koma untuk memisahkan subjek dan predikat yang tidak terlalu panjang (Ani, sedang membaca buku – SALAH).

  1. Kesalahan Penggunaan Kata Di dan Adalah Secara Berlebihan
    Beberapa penulis cenderung menggunakan di (sebagai kata kerja pasif) atau adalah secara berlebihan, yang membuat kalimat terasa pasif dan lemah.

Hindari: “Pekerjaan itu adalah untuk membersihkan.”

Perbaiki: “Pekerjaan itu membersihkan.” (Gunakan kata kerja aktif)

  1. Penulisan Huruf Kapital pada Istilah Unik
    Penulis sering tergoda untuk menggunakan huruf kapital pada setiap istilah yang mereka anggap penting.

Aturan: Gunakan huruf kapital hanya untuk nama diri, nama geografis, singkatan resmi, dan awal kalimat. Jangan gunakan huruf kapital untuk istilah umum, bahkan jika itu adalah istilah kunci dalam tulisan Anda.

Contoh Salah: “Kami membahas tentang Karya Tulis Ilmiah.”

Contoh Benar: “Kami membahas tentang karya tulis ilmiah.”

  1. Penggunaan Kata Penghubung Ganda (Double Conjunctions)
    Kesalahan ini terjadi ketika penulis menggunakan dua kata penghubung yang memiliki fungsi serupa dalam satu kalimat, menyebabkan pemborosan kata (redundancy).

Contoh Salah: “Meskipun dia gagal, tetapi dia akan mencoba lagi.”

Perbaiki: Pilih salah satu. “Meskipun dia gagal, dia akan mencoba lagi.” ATAU “Dia gagal, tetapi dia akan mencoba lagi.”

  1. Penggunaan Tanda Hubung (-) untuk Menghubungkan Semua Kata
    Tanda hubung digunakan untuk menghubungkan unsur yang memiliki hubungan erat atau mengulang kata. Penulis sering salah menggunakannya untuk semua gabungan kata.

Gunakan untuk: Kata ulang (berlari-lari), gabungan unsur dengan imbuhan () di-PHK), atau untuk memperjelas makna (ibu-bapak vs ibu bapak).

Hindari: Menggunakan tanda hubung untuk semua gabungan kata yang sudah padu.

Tata bahasa yang benar adalah bentuk penghormatan kepada pembaca Anda. Dengan secara rutin memeriksa tujuh kesalahan umum ini saat mengedit, Anda akan memastikan bahwa tulisan Anda tidak hanya brilian secara ide, tetapi juga bersih, profesional, dan sangat mudah dipahami.

Ari Kinoysan Wulandari

Menulis, Seperti Curhat Tanpa, “Sabar, yaa…!”

Wakatobi, Sulawesi Tenggara. Menulis itu seperti piknik, healing untuk kesehatan mental. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Kamu pernah nggak sih ngerasa kepala lagi penuh banget sama pikiran, hati kayak sesak, tapi bingung mau curhat ke siapa? Kadang kalau cerita ke orang lain, ujung-ujungnya cuma dikasih kalimat klasik: “Sabar ya,” atau “Udah, jangan dipikirin.”. Padahal otak lagi mumet banget, kan? Nah, di titik inilah menulis bisa jadi sahabat terbaik kamu.

Menulis itu bukan cuma soal bikin karya sastra, novel, atau caption Instagram estetik. Lebih dari itu, menulis bisa jadi healing tool alias alat terapi buat kesehatan mental.

Kenapa Menulis Bisa Jadi Terapi? Kayak curhat, tapi aman. Kertas atau layar HP nggak bakal nge-judge kamu. Mau nulis hal receh, marah-marah, atau nangis dalam kata-kata, semuanya bisa. Kamu bebas banget.

Melepas beban pikiran. Kadang isi kepala tuh kayak tabungan yang udah overload. Begitu ditulis, rasanya kayak dipindahin ke luar otak. Lebih plong!

Self-awareness naik level. Dengan nulis, kamu jadi lebih kenal diri sendiri. Apa sih yang bikin kamu sedih, marah, atau bahagia? Dari situ kamu bisa pelan-pelan ngerti cara nge-handle diri.

Jadi memori keeper. Nulis juga bikin kamu inget perjalanan diri sendiri. Kadang baca lagi tulisan lama bikin sadar, “Wah, ternyata aku udah kuat banget ya bisa lewatin masa itu.”

Cara Asik Mulai Menulis Buat Healing: Nggak usah ribet mikir format. Nulis aja kayak lagi curhat sama temen deket. Nggak perlu mikir EYD, tanda baca, apalagi gaya bahasa baku.

Coba journaling. Tulis tiap hari 5–10 menit. Bisa soal apa yang kamu rasain hari itu, hal-hal kecil yang bikin kamu bersyukur, atau sekadar keluhan receh.

Bikin “surat tak terkirim”. Pernah pengen ngomong sesuatu ke orang tapi nggak bisa? Tulis aja surat buat dia (meski nggak dikirim). Trust me, rasanya lega banget.

Gunain HP atau buku. Kamu tim ngetik di notes HP atau tim nulis tangan di buku? Dua-duanya oke, pilih aja yang bikin nyaman.

Efek positif nulis buat kesehatan mental: Tidur bisa lebih nyenyak karena isi kepala udah “dituangin” sebelum tidur.

Stress bisa turun karena kamu punya outlet buat buang energi negatif. Rasa percaya diri bisa naik, soalnya kamu jadi terbiasa jujur sama diri sendiri.

Jadi, kalau kamu lagi ngerasa hidup berat, jangan buru-buru nyalahin diri atau mikirin omongan orang. Coba deh ambil pena atau buka notes di HP, terus tulis semua yang numpuk di pikiran.

Anggep aja menulis itu kayak “spa buat otak” atau piknik untuk healing kesehatan mental. Menulis itu murah meriah, gampang, tapi efeknya bisa bikin jiwa kamu lebih sehat. Karena kadang, yang kita butuhin bukan kata “sabar”, tapi ruang buat cerita. Dan menulis bisa jadi ruang kita cerita tanpa harus melibatkan orang lain.

Ari Kinoysan Wulandari