Surga di Wakatobi (12): Bu Muna dan Kapota

Ini cappucino di kafe dekat Marina Togo. Saya merasakan aneka “rempah” tapi nggak bisa mengidentifikasi satu per satu; superenak, beda dengan cappucino yang biasa saya minum. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Usai dari menara mercusuar, saya menolak makan malam karena masih terlalu kenyang. Kami mampir kafe untuk ngopi. Wah, ternyata kopi racikan cappucino di sini enak banget. Ini namanya kafe apa ya? Lupa. Tempatnya nggak jauh dari Marina Togo. Kentang gorengnya juga super enak, entah apa bumbunya. Kenyang-kenyang pun saya masih bisa habis makan kentang goreng dua porsi. Kalau nggak cocok di lidah saya, pasti satu porsi pun nggak habis😁😂

Malamnya saya tidur nyenyak. Selama di Wakatobi saya tidur nyenyak tiap malam, bahkan siang pun kadang sempat tidur. Makan kenyang, tidur nyenyak, slow living banget. Hidup damai nggak mikirin gaweyan, nggak diribetin urusan ngajar, bimbingan, rapat-rapat yang membagongkan, teriakan koreksi atau revisi dari klien penulisan, cecaran deadline dari manajer, telpon produser, dll yang kadang bikin mata melotot dan kelapa pusing mendadak🤣

Pak Ode mengomentari, saya bisa begitu karena duitnya ada atau sudah nggak mikir duit 😁🙏 Haha… mana ada orang yang nggak mikirin duit. Saya yo mikir, tapi pas di sana memang nggak mikirin, karena anggarannya wes disiapin. Saya sempat bengong itu pas sampe Jogja, kenapa uang tunai masih cukup banyak 🤣 Biasanya kalau habis bepergian panjang dan jauh, uang tunai memang (selalu) sisa, tapi pasti nggak sebanyak itu 😁 Lihat sisa uang, bukannya segera ditabung, saya wes mikir mo pergi ke mana lagi ya 🤣

Dermaga di Wangi-wangi tempat sandar perahu yang bolak-balik ke Kapota. Di sisi lainnya banyak bersandar kapal-kapal besar untuk jarak jauh. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Keesokan harinya, pagi-pagi kami sudah jalan untuk ke Kapota. Saya mung iya saja, nggak tahu apa itu Kapota dan nggak kepikiran untuk Googling nyari info. Pokmen Wakatobi cocok banget untuk mereka yang mo berlibur dengan menikmati kehidupan yang santai-santai. Alam laut yang indah, warga (cenderung) ramah, makanan/minuman dan jajanan beraneka macam, jalanan serasa milik pribadi. Siapin aja anggaranmu sebanyak waktu yang ingin kamu habiskan di negeri para pelaut ini.

Saya nggak ingat pasti sebelum ke dermaga yang menuju Kapota itu, Pak Ode ke mana saja. Orang satu ini embuh, energinya kayak nggak pernah habis. Pokoknya kelihatan banget dia niat tenan menunjukkan berbagai tempat agar saya tahu detail semua wisata di daerahnya. Itu pun kami masih di Wangi-Wangi doang. Belum pulau-pulau lain di Wakatobi.

Pas ketemu saya lagi, Pak Ode bilang harus nunggu temannya yang dari Kapota. Dia masih belanja. Saya mengangguk saja, mengamati lalu lalang orang yang berdatangan dengan belanjaan mbriyut (banyak banget). Anak kecil, remaja, dewasa semua ada. Kapal-kapal di kejauhan banyak yang bersandar.

Pak Ode, Bu Muna, saya di dermaga Wangi-Wangi sebelum ke Kapota. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Nggak beberapa lama, Bu Muna (kawan Pak Ode) datang dengan belanjaannya (eh ini masih dibawa atau sudah diletakkan di kapal ya, saya nggak terlalu ingat). Beberapa waktu mereka berdua ngobrol akrab dengan bahasa lokal. Tentu saja saya nggak paham. Baru ketika mereka ngomong bahasa Indonesia, saya ngerti yang dibicarakan. Bu Muna akan telpon kawan lainnya karena ada kami berdua, biar bisa motoran keliling Kapota. Intinya begitulah.

Pas waktunya tiba, kami pun berangkat ke Kapota dengan perahu bermotor. Bercampur dengan orang-orang lokal dan semua barang belanjaan mereka. Perjalanan memerlukan waktu 15-20 menit untuk sampai di Kapota. Pulau ini salah satu pulau indah yang termasuk dalam gugusan Kepulauan Wakatobi, Sulawesi Tenggara. Pulau yang letaknya di sebelah barat daya Pulau Wangi-Wangi ini, menjadi bagian dari Kecamatan Wangi-Wangi Selatan. Meski ukurannya nggak terlalu besar; tapi kalau jalan mengelilingi pulau ini, ya butuh waktu seharian 😁

Kapota menawarkan pesona alam yang memikat dan suasana khas pulau tropis. Pulau ini dikelilingi oleh laut biru jernih dengan gradasi warna yang memukau; mulai dari biru muda di tepi pantai hingga biru tua di bagian laut dalam. Pasir putihnya halus dan bersih, cocok untuk bersantai atau bermain air. Di sekitarnya tumbuh pepohonan kelapa yang memberikan nuansa alami dan teduh. Dari tepi pantai, pengunjung bisa melihat dengan jelas Pulau Wangi-Wangi di kejauhan.

Saya dan Bu Muna di perahu motor dengan penumpang lain dan barang belanjaannya. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Seperti wilayah lain di Wakatobi, Pulau Kapota memiliki kekayaan terumbu karang dan biota laut yang luar biasa. Airnya yang jernih membuat snorkeling dan diving di sekitar pulau ini sangat menyenangkan. Ikan-ikan berwarna-warni, bintang laut, dan aneka karang keras maupun lunak menghiasi dasar lautnya.

Saya tahu cerita itu dari Bu Muna. Dan sebagian saya lihat langsung, termasuk ular laut; yang entah gimana, saya beruntung aja bisa melihatnya. Dalam versi cerita Mirna (kawan ngobrol di kapal pas saya balik ke Kendari, kalau sudah jumpa ular laut habis sudah takdir hidup). Ular ini bisanya jauh lebih ekstrem daripada ular kobra di daratan. Sekali gigit, habis sudah hidup.

Jadi para nelayan, penyelam lokal pun sudah tahu; kalau melihat ular laut di sekitaran mereka harus diam “seperti patung” sampai ular laut pergi dengan sendirinya. Kalau ada gerak dikit, ular akan terganggu dan langsung menyerang. Ya ampun, ngebayangin aja saya sudah merasa horor; diam di daratan mudah, diam di kedalaman lautan dengan mengatur nafas oksigen, biyuuu… wes mboten mawon. Jangan sampai deh jumpa ular laut di kedalaman lautan 😄😆

Salah satu sisi dermaga Kapota. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Versi saya, Bu Muna ini salah satu perempuan tangguh dari Kapota. Masa remajanya ketika sekolah SMA ya nyeberang laut tiap hari dari Kapota ke Wangi-Wangi, PP. Kalau sore sudah nggak kebagian perahu, dia akan minta teman-teman yang orang tuanya punya perahu untuk menyeberangkan. Lalu turun dari perahu masih harus jalan kaki sekira 3-4 km untuk sampai rumah. Besok paginya diulang lagi dari awal sampai lulus.

Biyu, hebat tenan. Saya di Jawa suruh sekolah jalan kaki 1 km saja (waktu SD) sudah teriak teriak minta sepeda. Lha ini, waah… sungguh besar tekadnya untuk sekolah. Sementara teman-teman sebayanya, lulus SMP lebih banyak yang memilih atau “dipaksa harus” menikah.

Sekarang sehari-hari Bu Muna membuka warung/toko pracangan (jual kebutuhan sehari-hari) di Kapota. Suaminya kerja di luar pulau. Tiga anaknya juga merantau di luar pulau. Praktis dia tinggal dengan satu anaknya yang berkebutuhan khusus; juga mertua dan orang tua (yang tinggal di sekitaran, tapi nggak satu rumah).

Pintu gerbang kawasan wisata Kapota. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Saya menangkap semangat untuk maju yang luar bisa dari sosok perempuan ini. Kalau di masa mudanya diberkahi kecukupan modal ekonomi untuk sekolah, saya yakin dia sudah terbang jauh melintasi batas untuk sekolah tinggi dan pasti jadi perempuan yang luar biasa. Sekarang pun dia seorang ibu yang hebat.

Sungguh dengan jujur ringan hati menerima keberadaan anaknya yang istimewa. Saya menangkap rasa keharuannya saat menunjukkenalkan anaknya ini pada saya. Hadeuh, tanpa sadar saya mengusap air mata yang bercampur keringat. Hanya ibu hebat yang bisa begini, sementara banyak orang tua yang “sengaja” menyembunyikan anak-anak begini karena dianggap bawa malu keluarga.

Doktrin budaya, adat, tradisi, dan orang tua yang masih menganggap anak perempuan nggak perlu sekolah tinggi, karena toh nanti yo menikah, ngurus anak dan suami di rumah; sungguh mengekang langkah perempuan. Di masa sekarang pun masih banyak modelan begitu yang membelenggu kaum perempuan.

Laut Kapota. Kalau kita melongok ke dalam air, akan terlihat gerombolan ikan-ikan kecil di tepiannya. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Saya senang bertemu dengannya, karena sepanjang pagi sesiangan menuju sore; Bu Muna menceritakan banyak hal pengalaman hidupnya. Hingga membuat saya bersyukur berulang kali. Alhamdulillah. Masyaallah hidup yang versi saya wes jatuh bangun jumpalitan itu keknya nggak ada apa-apanya dengan “kekerasan hidup” yang dialami perempuan asli Kapota ini.

Itu kenapa dalam banyak tulisan, saya sering berpihak pada perempuan (selain karena saya perempuan, juga karena saya masih sering menyaksikan banyaknya ketidakadilan pada perempuan di seluruh Nusantara atas nama gender); meskipun saya nggak sepakat sepenuhnya dengan aliran feminisme, tapi saya tahu masih banyak hak-hak dan kesetaraan perempuan vs laki-laki yang harus diperjuangkan.

Penduduk Pulau Kapota cenderung ramah dan hidup dalam komunitas kecil yang sebagian besar bekerja sebagai nelayan. Mereka masih mempertahankan tradisi dan budaya lokal, termasuk bahasa daerah dan kearifan dalam mengelola sumber daya laut. Beberapa warga juga terlibat dalam kegiatan pariwisata berbasis masyarakat, seperti menyediakan perahu kecil untuk wisatawan.

Sisi lain dermaga Kapota. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Selain menikmati keindahan pantainya, wisatawan bisa berjalan-jalan keliling desa, berinteraksi dengan warga, atau sekedar jalan-jalan di tepi laut. Kapota bisa dibilang sebagai permata tersembunyi yang belum terlalu ramai. Ya itulah daya tariknya: keindahan alami, kehidupan masyarakat yang bersahaja, dan laut yang masih terjaga.

Sebenarnya niat kami ke pulau ini hanya untuk melihat danau besar. Bu Muna justru membawa kami ke pantai Wisata Kolo, pemukiman baru etnis Bajo, dan Kapota Beach. “Bu Ari belum tentu ke sini lagi. Mumpung di sini, lihat-lihat yang bagus.” Begitu katanya saat saya bilang tujuan awalnya hanya ke danau.

Nanti akan saya ceritakan tempat wisata yang disebut di Kapota itu secara bergantian. Terimakasih banyak Bu Muna; yang sudah sharing cerita pengalaman hidupnya dan memboncengkan saya dari dermaga untuk keliling (hampir) seluruh Pulau Kapota.

Bersambung
Ari Kinoysan Wulandari

Surga di Wakatobi (11): Sumber Mata Air Jodoh

Pintu masuk mata air seratus (moli’i sahatu). Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Pas kami masih ngobrol, Bu Tuti nanyain saya sudah ke sumber mata air di seberang itu apa belum. Saya jawab belum. Lalu dia ngajak ke sana. Katanya itu disebut sumber mata air seratus (karena banyak) dan sering juga disebut sumber mata air jodoh. Konon yang mandi di situ bisa awet muda dan lekas dapat jodoh.

Saya ngikik sekilas, “Wah repot dong Bu, kalau jodohnya jauh di sini.”

“Ya ketemu jodohnya dari tempat lain, bukan di sini.”

Saya hanya bilang iya. Meskipun kalau soal mitos yang berkaitan dengan jodoh itu, tetahunan silam kayaknya sudah saya terima. Misal kalau di acara pengantin kita dapat buket bunga pengantin, nggak lama lagi kita akan menikah. Wes embuh berapa kali saya dapat, kok ya lewat saja.

Sumber mata air yang paling besar. Di belakang saya itu pantai dan air laut. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Terus katanya suruh ambil curi melati si pengantin perempuan, biar cepet menikah; kok ya lewat begitu saja. Belum lagi beberapa mitos Jawa, yang berkaitan dengan jodoh, kayaknya pernah juga kena di saya. Toh semuanya nggak mempan. Lalu saya pun wes nggak ambil pusing dengan segala mitos itu.

Terlebih setelah saya pikir-pikir, bisa jadi rezeki jodoh, pernikahan, rumah tangga itu nggak setiap orang boleh dapat seperti bentuk-bentuk rezeki lainnya. Dan kayaknya saya yo nggak apa-apa, baik-baik saja meskipun belum berjodoh, belum menikah. Saya juga nggak berpikir menjalani hidup bahagia kudu ikut patokan aturan umum, menikah, berkeluarga, punya anak-anak.

Sudah lebih dari 10 tahun pula, saya wes melepaskan diri dari keinginan mencari jodoh dan pernikahan. Toh saya hidup baik-baik saja. Kadang-kadang masalah “lajang”, “sendiri” itu hanya terasa kalau saya kudu hadir kondangan. Awal-awal dulu itu sempat saya merasa nggak enak hati, nggak nyaman dengan pertanyaan, “Datang sama siapa?”

Saya dengan Bu Tuti di bebatuan pantai areal sumber mata air seratus. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Toh lama-lama yo biasa saja. Setelah itu saya menormalisasi pergi sendiri; karena kewajiban seseorang itu kalau diundang ya datang, kecuali ada udzur yang kuat. Apalagi kalau yang mengundang kita kenal baik.

Waktu itu Bu Tuti dan suaminya balik ke rumahnya dulu. Lalu menjemput kami lagi untuk bersama-sama ke mata air seratus ini. Yach, mata air ini juga salah satu keajaiban yang ada di Wakatobi. Sumber air tawar yang jernih ini berada di garis pantai, di tepi laut. Segaris dengan air laut, tapi tetap tawar, nggak bercampur air laut. Letaknya di tepi jalan, tapi untuk mencapai lokasinya, kita harus menuruni batu-batu terjal yang cukup butuh perjuangan.

Pak Ode, saya, Bu Tuti dan suaminya (Pak Damrin) di sekitaran resor pantai. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Saat melewati bebatuan ini, saya ingat saat pergi ke Pegunungan Bintang (Papua), ya ampuuun menuruni bebatuan lancip-lancip tajam dengan kemiringan hampir 60 derajat dengan jarak yang lumayan bikin kaki saya gemeteran. Memang benar, di Indonesia semua tempat wisata bagus, sering butuh effort yang nggak kira kira secara fisik dan mental. Untunglah menuruni batu-batu di sini nggak sepanjang ke Pegunungan Bintang itu.

Ada banyak sumber air di sini, makanya disebut mata air seratus. Salah satu yang sangat besar, biasa digunakan orang lokal untuk mandi-mandi dan aktivitas harian seperti mencuci. Percayalah airnya jernih, segar, dan kalau diminum seperti air mineral kemasan itu. Menghilangkan dahaga. Tentu saya mandi-mandi di situ. Bukan gegara mitos soal jodoh, tapi ya memang airnya sungguh menyegarkan. Tentu menyenangkan pula kalau saya awet muda 😁😂 Soal dapat jodoh gegara mandi air tawar di situ, kayaknya lebih ringan kalau saya bilang “nggak percaya” 😁

Kami berjalan dari satu sumber mata air ke sumber mata air lainnya. Sesukanya saya berhenti, ya berhenti. Mo jalan ya jalan lagi. Sore itu hanya ada kami berempat. Westalah berasa milik pribadi tenan. Nggak ada orang lalu lalang. Boleh sepuasnya menikmati seluruh pemandangan di pantai itu. Nggak ada yang mengganggu.

Pasir pantai di sini berwarna putih di sepanjang garis tepinya. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Kami terus berjalan sampai dekat areal resor. Di sini pasir putih terlihat lebih luas. Namun karena khawatir mengganggu tamu-tamu resor, kami nggak pergi lebih jauh. Bu Tuti menerangkan kalau seluas jarak laut di belakang resor itu sudah jadi “milik” resor karena memang begitulah aturan di situ.

Orang membeli tanah, maka bagian laut di belakang tanah itu (secara otomatis) menjadi miliknya. Wah, saya agak bengong dengar aturan ini. Apa memang begitu? Lha kalau di belakangnya itu laut dengan pulau-pulau, apakah otomatis juga jadi milik si pembeli tanah? Entahlah. Ntar kalau ada yang ngerti soal hukum ini, saya mo nanya banyak.

Usai dari sana, kami balik lagi ke jalan masuk tadi. Kami melewati lagi areal sumber-sumber mata air. Kalau nggak inget sudah sore, mungkin saya masih betah di tempat ini. Pas keluar dari tempat ini, kami harus jalan naik melewati batu-batu yang sebelumnya arah menurun.

Menara mercusuar. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Ya ampun, karena wes capek, berasa beut rada menggos-menggos saya jalan naik. Ampun, semangat boleh sama, menurunnya kekuatan fisik dengan bertambahnya umur, jelas nggak bisa dilawan. Jadinya saya butuh waktu lebih lama sampai ke parkiran.

Setelah itu mampir ke rumah Bu Tuti karena saya minta cangkang-cangkang keong (yang cantik). Masih dibawain oleh-oleh (lupa sebutannya), tapi makanan pengganti nasi itu bisa tahan 2 bulan. Mantap betul. Makanannya itu sampai sekarang masih tersimpan di kulkas rumah saya. Belum sempat memakannya 😀

Setelah makan minum (ringan), kami pamit. Itupun masih ditawari mandi dan makan dulu (lagi). Saya menggeleng karena nggak bawa baju ganti. Dan baju saya berasa wes kering sebelum sampai hotel. Itu gegara Pak Ode ngajak ke menara mercusuar dulu sebelum mengantar saya balik ke hotel.

Ya ampun jalanannya ke mercusuar itu… naik turun belak-belok… heizh, kadang saya heran ke mana perginya semangat petualangan saya tetahunan silam. Sekarang tuh, kalau jalan pakai “ribet” dan “capek” dikit, kalau nggak penting-penting amat, saya kok wes pilih enggak. Hemat energi biar panjang umur.

Bersambung
Ari Kinoysan Wulandari

Surga di Wakatobi (10): Makan Besar, Kita…

Bersama Bu Tuti dan Pak Damrin. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Pas hari pertama datang di Wakatobi itu, saya wes jumpa Bu Tuti dan suaminya (Pak Damrin). Kawannya Pak Ode jugalah. Kayaknya mayoritas orang di pulau itu kalau nggak saudara, keluarga, ya teman-temannya Pak Ode.

Saya ngikik aja pas kami nyampe rumah Pak Damrin dan Pak Ode bilang, kalau mobilnya di rumah, orangnya pasti ada di rumah. Pemikiran yang jelas nggak relevan di tempat saya tinggal. Kami biasa dan sering juga pergi, tapi mobil tinggal di rumah.

Lha ternyata beneran Pak Damrin dan istrinya ada di rumah. Pasangan suami istri yang ramah dan baik. Kalau diteruskan pas pertama datang itu ngobrol, bisa lama banget. Karena waktu itu mau ke pantai, kami nggak lama di situ.

Menu makan kami di rumah Bu Tuti. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Baru beberapa hari berikutnya kami datang lagi untuk makan 😁😂 Ya ampun, sungguh tamu nggak tahu diri 🙈🙏 Datang-datang kok pas makan.😁 Rumah Bu Tuti ada di pinggir jalan. Tiga lantai yang nggak terlalu terlihat kalau nggak detail memperhatikan. Nah tempat untuk kami makan itu di lantai 3. Ya ampun saya ngelihat tanaman hidroponik di lantai 3, langsung keinget lantai atas rumah saya yang nggak terurus 😁😂

Dulu pas awal-awal tinggal sudah sempat saya tanamin cabe dan tomat. Dengan media tanam tanah di pot-pot. Wes panen juga dan semua tetangga kebagian. Njur karena saya terlalu sering pergi-pergi, adik saya lalai merawat, mati-matilah semuanya. Termasuk ikan lele di kolam plastik bekas tandon penampungan air.

Setelah itu wes gakpernah nanem ataupun pingin piara ikan lagi. Capek. Beli bae praktis, meskipun ya jelas beda lah rasa senengnya. Lihat hidroponik di tempat Bu Tuti langsung kepikiran untuk nanem lagi, tapi sampai sekarang yo masih belum saya kerjakan 😜🙈

Sayur “keong” sebutan saya sendiri, lupa nama lokalnya; salah satu yang bikin saya kekenyangan karena daging keongnya😀🫢 Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Makanan pengganti nasi, yang kelihatannya saja kecil; tapi bikin saya susah payah menghabiskan karena ternyata padat dan jadi banyak sekali. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Di tempat Bu Tuti ada tomat, cabe, kangkung, terong, dll sayuran yang tumbuh subur. Padahal itu langsung kena panas matahari. Pasti nyiraminnya kudu ekstra. Pas saya nanya, bikin dan ngurusnya sampai berbuah sekitar 2 bulan. Itu kerjaan Pak Damrin waktu libur kerja. Ya pantes, pikir saya. Jadi kalau mau beresin lantai atas rumah saya untuk bikin tanaman gitu, ya cuti saja 2 bulan 😂😜 Wahaha…. Bisa bisa saya diomelin dari kaprodi s/d rektor itu mah🤣

Yang bikin saya senang itu lantai 3 langsung menghadap laut. Kita bisa lihat laut dengan debur ombaknya dari tempat itu. Keiinget dulu sempat beribet sama adik laki-laki saya, karena mo beli rumah di Gunung Kidul yang langsung menghadap laut. Kalau jenuh, mager, writer’s block dari nulis, kan saya bisa langsung turun ke laut: ciblon, mandi-mandi air laut. Pasti langsung fresh lagi karena terbebas dari energi negatif.

Air garam (air laut) adalah pembersih energi negatif paling ampuh. Makanya mereka yang mengenal medis tradisional, sering menyarankan orang-orang yang “penyakitan” untuk sering mandi-mandi di laut biar bersih dari energi negatif dan tubuh lebih sehat.

Tanaman hidroponik di rumah Bu Tuti. Di seberang sana terlihat laut biru. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Adik saya cuman bilang, “Kalau Mbak Ari rumahnya Gunung Kidul beneran, nggak akan saya tengok-tengokin.” Waduuuh, saya yo jadi mikir juga kalau beneran gitu. Lha dua bocilnya itu kan sudah kayak anak saya sendiri, kalau nggak datang-datang, rindu dong saya 😁😂 Akhirnya nggak jadi beli rumah di Gunung Kidul.

Wah, pas sudah disajikan menu makanannya, biyuuu makan besar kita. Macam-macam masakannya. Dari aneka ikan sampai sayuran. Ada nasi sampai olahan pengganti nasi. Kemaruk saya, sok-sokan ngambil pengganti nasi satu bungkus. Saya kira sedikit, lah kok banyak beut.

Tenan, kalau nggak inget suara-suara bapak saya almarhum, wes saya taruh itu makanan nggak kuat ngabisinya. “Ambil ambil makan sendiri kok nggak dihabiskan, itu kan keterlaluan.” 😁😜 Beuh, jadi saya paling lambat selesai makan. Itu aja sama Bu Tuti masih mau ditambahkan ini itu. Wes nggak lah, klenger kekenyangan saya.

Tanaman hidroponik lainnya di rumah Bu Tuti. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Sempat saya paranoid kalau njur bolak-balik kamar mandi karena kekenyangan. Di mobil pas kami mau ke tempat teman Pak Ode lainnya, saya tepuk tepuk perut saya, “perutku baik-baik ya kamu. Kalau mo be-a-be ntar aja kalau wes di hotel, biar nggak ribet.”

Syukurlah perut saya nggak berulah dan sepertinya cocok-cocok saja dengan semua jenis makanan dan masakan baru hari itu. Alhamdulillah. Maturnuwun, Terimakasih ya Bu Tuti, Pak Damrin sudah menjamu kami makan besar 😍🥰

Usai makan itu, kami pergi ke rumah teman Pak Ode lainnya. Rumahnya langsung tepi pantai. Nyebur ke laut bisa dari halaman rumahnya. Luas betul rumahnya. Mungkin didesain untuk guest house dan penginapan. Seperti kebanyakan rumah-rumah penduduk Wakatobi lainnya, di situ juga ada gazebo luas untuk kami ngobrol.

Kawan Pak Ode. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Saya berbincang A-Z dengan Bu Tuti. Ngalor ngidul mulai dari gaweyan, anak-anak sekolah, orang tua, saudara keluarga, lingkungan masyarakat, dan banyak hal lainnya sampai jelang sore. Sungguh menyenangkan kalau kita ketemu orang yang bisa diajak bicara, berbagi tanpa menghakimi.

Kalau saat itu saya nggak senang hati, pasti saya wes tertidur. Lha gimana, makan sampe kekenyangan, duduk-duduk di gazebo dengan angin semilir sejuk menghadap laut, sesekali terdengar riuh gelombang. Ya ampun, model model rumah idaman saya banget untuk memanjakan sifat mager dan rebahan 😁

Makanya itu, meskipun wes tinggal menetap di rumah saya sekarang, tetep saya mau nabung untuk beli rumah yang ngadep laut. Nggak harus di Gunung Kidul, sekitaran Bantul juga gpp. Kelakonnya kapan, ya nggak tahu. Kan yang penting sudah ada niat; keinginan itu kadang-kadang terwujud begitu aja pas kita sudah lupa 😁😜

Pokmen terimakasih banyak untuk Pak Ode dan teman-temannya hari itu. Hadeuh, saya kepikiran akan ketemu jumpa mereka aja nggak pernah. Kepikiran ke Wakatobi aja wes sempat ilang dari agenda jalan saya. Tapi kayaknya Allah memang nggak pernah lupa sama doa-doa dan keinginan kita, meskipun sudah sangat lamaaa. Alhamdulillah, Terimakasih ya Allah 😇❤

Bersambung
Ari Kinoysan Wulandari

Surga di Wakatobi (9): Desa Wisata Liya Togo

Identitas Desa Wisata Liya Togo. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Jangan dibayangkan desa wisata (deswita) di Wakatobi seperti deswita di Jawa dan Bali ya. Kalau di Jawa Bali, deswita wes pasti ada tiket masuk, dipenuhi pengunjung, orang jualan, pengamen-pengemis-pencopet, tukang foto keliling, guide-guide nggak resmi, ojek-becak-delman yang rieuweuh nawarin jasa, tempat jualan souvenir, dll keramaian khas deswita.

Pas kami datang, Desa Wisata Liya Togo ini beneran sepi. Hanya ada seorang petugas sekuriti yang jaga dan menyambut kami. Setelah bertanya standar ini itu, petugas pun membiarkan kami masuk. Nggak ada tiket masuknya. Di Jawa Bali kalau deswita nggak pake tiket masuk, itu justru aneh😂😁

Rumah panggung di areal deswita Liya Togo. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Di areal utama deswita ini ada satu rumah panggung yang cukup besar. Tempat ini sekarang difungsikan sebagai tempat pertemuan, rapat, musyawarah, dll keperluan kampung. Pas saya naik ke rumah ini, arealnya cukup luas. Mampu menampung 200-300 orang dalam posisi duduk tanpa kursi. Mungkin memang untuk kegiatan desa.

Lalu di sisi kiri ada makam raja-raja (mungkin bangsawan tinggi, belum raja) dan juga para penyebar agama Islam di wilayah ini. Lagi lagi karena ini di Wakatobi, nggak ada sakralisasi makam. Makam ya sudah terbujur begitu saja, tanpa sajen, tanpa kemenyan atau benda-benda wewangian lainnya, ataupun bunga-bunga rampaian melati-mawar-kantil-kenanga di atas makam. Hanya untuk areal makam ini pada bagian pintu masuknya diberi tanda dilarang masuk.

Areal makam raja-raja (bangsawan) dan para penyebar agama Islam. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Setelah itu ada areal luas seperti padang rumput terbuka. Weish, kalau di Jawa tempat seluas itu di areal deswita pasti sudah penuh dengan pedagang kaki lima dan segala barang dagangannya. Atau mungkin digunakan untuk tempat atraksi-atraksi hiburan, semacam odong-odong atau sarpras wisata lainnya.

Salah satu hal yang sangat saya nikmati di Wakatobi, semua tempat wisata seolah milik pribadi. Nggak banyak orang lalu lalang atau berkeliaran. Kita bisa bebas ambil foto dari berbagai sisi sepuas-puasnya. Nggak ada yang beributan antri spot foto. Nggak ada teriakan tawaran makanan minuman ataupun jasa lainnya. Jalan sambil mikir bisa-lah, nggak bakalan nabrak atau ketabrak orang. Paling-paling kejeduk tiang kalau jalan sambil meleng, hihihi😁😂 Bener-bener menikmati tempat wisata dengan gaya slow motion banget.

Areal tanah rerumputan dan mesjid. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Di bagian ujung ada mesjid. Cukup besar dan hidup. Pas saya nengok bagian belakang, tempat wudu bersih, air mengalir lancar terjaga dan sangat jernih. Mesjid modern, lha kotak infaknya aja wes ada barcode QRIS nya. Ngisi kotak infak bisa pake uang tunai atau setoran QRIS. Jadi nggak ada alasan nggak ngisi kotak amal gegara nggak bawa uang tunai.

Dan seperti kebiasaan saya, ketemu mesjid atau mushola di manapun, pasti saya mampir sholat. Bahkan kalau itu waktunya lepas Ashar saat wes gak boleh ada sholat sunnah setelah Ashar, saya tetap akan mampir meskipun hanya sholat tahiyatul masjid. Sholat menghormati masjid.

Kebiasaan ini didorong pemahaman sederhana agar kelak di hari akhir lebih banyak bumi yang bersaksi saya pernah sujud (sholat) di tempat yang jauh-jauh, yang mungkin nggak bisa saya ingat lagi. Kadang-kadang pula kalau cukup waktu, saya suka ribet sendiri cari masjid agung kota tersebut ada di mana. Terutama kalau saya merasa di kota itu belum sholat di salah satu mesjid.

Gerbang masuk benteng Liya Togo. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Hadeuh saya teringat, karena berhari-hari sholat di hotel pas seminar di Manado, saya ngajak Pak Ode cari mesjid agung. Gegara Mbak Ety dan Pak Budi bilang kalau dari hotel tempat kami seminar (juga menginap) mesjidnya deket banget; kami pun jalan kaki. Ya ampun ternyata mesjidnya jauuuh, pakai lasak lusuk nanya-nanya pula, karena nggak setiap orang tahu di mana letak mesjid agung. Ya begitulah kalau kita di negeri muslim minoritas 😁😆

Pas sampai mesjid, harus melipir untuk sholat karena mesjidnya sedang dipakai acara akad nikah pula. Balik pun kami kudu jalan kaki kepanasan karena pesan mobil online, nggak datang-datang gegara terlalu dekat. Kalau pake mobil deket banget, kalau jalan kaki yo lumayan pegel kemeng betisnya😆😅

Dua kakak saya ngekek saja pas saya cerita soal ini. Karena dibilang dekat itu, nggak minta mereka antar ke mesjid pakai mobil. Beuuuh, ternyata jauuuh…. Gegara nyari mesjid agung pula, saya pernah kesasar-sasar waktu di Vietnam.

Sisi jalan benteng Liya Togo yang menuju ke luar. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Sudah tahu di negeri komunis, kok ya cari mesjid. Hihi…. lha itu gegara di map ada mesjid besar di sekitaran pemukiman Sungai Mekhong. Di Vietnam ada aplikasi goviet–punya gojek Indonesia, isinya yo sama seperti aplikasi kita mung tulisannya mlungker-mlungker huruf Vietkong bahasa Vietnam. Kalau pergi-pergi saya mengidentifikasi tempat dari peta yang ada gambar dan tulisan latinnya berbahasa Inggris. Nggak kepikiran kalau Sungai Mekhong itu panjang dan luas, kudu memastikan daerah pemukiman mana yang ada mesjidnya. Toh saya selamet juga. Sampai ke mesjidnya, sholat, makan, njur balik hotel. 😆😅

Nah, balik lagi ke deswita Liya Togo. Di sisi kanan dan kiri mesjid areal perumahan penduduk. Lalu di kiri mesjid itu ada areal benteng. Di dekat pintu masuk benteng, ada makam juga; tapi makam ini tidak bersambung dengan makam yang ada di dekat rumah panggung. Sepertinya makam ini untuk warga biasa, bukan untuk bangsawan atau tokoh penyebaran agama Islam.

Dari gerbang masuk benteng (sudah nggak dibuka untuk umum), pengunjung akan diarahkan untuk menuju jalan panjang (yang sudah baik sekali) sampai pintu luar di dekat parkiran lagi. Sepanjang jalan tersebut kiri kanannya banyak pohon besar, batu-batu besar. Cukup teduh, meskipun ya panasnya udara pesisir tetap terasa.

Buah lokal yang saya juga lupa namanya. Buah ini bisa dimakan dan banyak ditemukan di sekitar jalan benteng Liya Togo. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Mo foto-foto sakbosennya nggak ada yang melarang di sini. Mo duduk-duduk lama yo boleh. Mo ikut makan buah-buahan yang jauh di tempat itu yo bisa. Lumayanlah jaraknya, tapi nggak terasa bikin capek di kaki saya. Berarti cukup pendek meterannya 😂 Di sekitaran situ juga ada pohon kemiri, pohon jeruk, jambu monyet, dll.

Pas kami mau balik, ada rombongan ibu-ibu yang datang. Di parkiran juga sudah terlihat beberapa mobil dinas plat merah. Oh, berarti deswita ini sekurangnya masih “diurus” dan “dikunjungi”. Kalau nggak kan, berarti kami doang yang datang hari itu. Eman-eman, padahal sarpras bagus dan memadai banget.

Promosinya mungkin kurang atau ya orang lokal nggak banyak berkunjung. Saya aja kalau di Jogja yo belum tentu inguk-inguk deswita di Jogja. Jadi nggak usahlah saya ngomentarin orang lokal yang nggak datang ke tempat wisata daerahnya 😂😁

Bersambung
Ari Kinoysan Wulandari

Surga di Wakatobi (8): Pantai Cantik di Mana-mana

Pantai Cemara. Ciri khasnya ada banyak pohon cemara. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Di Pulau Wangi-wangi, setiap hembusan angin membawa aroma laut yang pekat. Udara terasa berbeda: bersih, asin, dan sejuk sekaligus. Pulau ini juga disebut gerbang menuju Wakatobi, surga bawah laut di Indonesia.

Jujurly, saya nggak bisa mengingat detail seluruh pantai yang sudah saya kunjungi di pulau itu. Sepertinya dari satu pantai ke pantai lain itu hanya bersambungan dan berjarak pendek, tapi semuanya indah dan cantik. Saya berusaha mencatat beberapa pantai sesuai ingatan. Kalau ada salah sebut, ya mohon dimaklumi. Terlebih untuk nama-nama pantai yang terdengar asing di telinga saya 😁

Pertama, Pantai Cemara. Jalan menuju ke sana dihiasi rumah-rumah kayu dan pohon kelapa yang bergerak lembut. Sesampainya di pantai, hamparan pasir putih menyambut seperti lembaran kain sutra. Deretan pohon cemara laut menciptakan bayangan yang menenangkan.

Pantai Untu Waode. Areal ini banyak pohon kelapa. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Ada beberapa gazebo untuk duduk-duduk, menikmati semilir angin dan suara ombak kecil yang datang berirama. Rasanya, semua lelah perjalanan hilang begitu saja. Sayangnya, sarpras di tempat ini wes nggak terurus. Pantai ini pun sunyi sepi seperti nggak pernah dikunjungi orang.

Kedua, Pantai Untu Waode. Pantai ini letaknya nggak jauh dari Pantai Cemara. Ciri khas yang saya ingat, pohon kelapa sangat banyak di sini. Seperti areal perkebunan kelapa yang luas. Pasir putih nya juga menghampar luas. Di seberang ada pulau di tengah laut yang nggak berpenghuni. Seperti juga Pantai Cemara, pantai ini sunyi seolah sudah bertahun-tahun nggak ditengok orang. Gazebo-gazebonya wes “reyot” sewaktu-waktu bisa ambruk, roboh.

Ketiga, Pantai Waha. Ini salah satu spot diving. Konon jadi spot favorit para penyelam. Saya nggak ingat pasti, ke sini atau enggak. Karena melintasi Desa Waha, mestinya saya yo mampir ke pantai ini.

Pantai Wambuliga. Di sini ada basecamp layanan snorkeling dan diving. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Saya hanya ingat kepala desa sempat mengatakan di pantai ini air laut sebening kristal; karang-karang masih alami dan berwarna cerah. “Kalau beruntung, bisa lihat kuda laut.” Oh, itu saat saya datang awal sekali di Wambuliga, cari info tentang snorkeling.

Keempat, Pantai Wambuliga. Pantai ini masih alami dan jarang tersentuh wisata massal. Pantai ini dikenal karena suasananya yang tenang serta keindahan alam yang masih murni. Pantai Wambuliga memiliki hamparan pasir putih yang lembut dan air laut yang jernih bergradasi dari biru muda hingga biru tua. Di beberapa bagian, terlihat karang-karang kecil yang muncul saat air laut surut. Pemandangan lautnya sangat memanjakan mata.

Suasana di Pantai Wambuliga relatif sepi dan damai. Angin laut bertiup lembut membawa aroma asin khas pantai, ditemani suara deburan ombak yang menenangkan. Di pinggiran pantai, tumbuh deretan pohon kelapa dan beberapa semak hijau yang memberikan kesan tropis alami. Penduduk setempat sering memanfaatkan area sekitar pantai untuk mencari ikan atau rumput laut.

Model pantai-pantai di Wakatobi mirip-mirip. Pasir putih menghampar. Air laut sebening kristal, mulai dari warna jernih, putih, hijau muda, tosca, biru muda, biru gelap, sampai kehitaman (nun jauh di sana) yang menandakan lautan semakin dalam dan air semakin dingin. Kiri kanannya pun terasa setipe. Pohon kelapa tinggi menjulang di sepanjang tepian pantai dengan model yang terasa “seragam”.

Pantai Marina. Di sini ada Maritime Center. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Kelima, Pantai Sombu; ikon diving Pulau Wangi-wangi. Dari dermaga kayunya kita bisa melihat orang-orang yang bersiap snorkeling atau diving. Pemandangan di bawah laut ini konon seperti taman surgawi. Terumbu karang membentuk labirin warna-warni, ikan-ikan melintas di antara sinar matahari yang menembus air. Dunia bawah laut Sombu sering dilukiskan sebagai kehidupan yang tenang, indah, damai, dan nyaris sempurna.

Keenam, Pantai Patuno; kawasan resor yang menawarkan pemandangan tropis nan lembut. Pasirnya putih lembut seperti gula, air lautnya hijau kebiruan. Di kejauhan, perahu nelayan berlayar pelan. Laut luas di depan mata. Begitu tiba di Pantai Patuno, kita akan langsung disambut oleh hamparan pasir putih yang halus dan memanjang sejauh mata memandang. Air lautnya jernih kebiruan, dengan gradasi warna yang memikat, mulai dari tosca di tepi pantai hingga biru tua di bagian dalam.

Suasananya tenang dan bersih, dikelilingi oleh pepohonan kelapa dan vegetasi hijau tropis yang menambah kesan damai. Angin laut yang lembut membuat siapa pun betah berlama-lama di sini; entah hanya berjalan di tepi pantai, duduk menikmati ombak, atau sekadar mendengarkan desir angin di antara daun kelapa.

Ketujuh, Pantai Marina. Lokasi untuk acara Wakatobi WAVE kemarin. Pantai Marina terkenal dengan pasir putihnya yang halus seperti tepung dan air lautnya yang jernih kebiruan hingga kehijauan. Dari kejauhan, gradasi warna laut tampak seperti lukisan alami; biru muda di tepi pantai, lalu perlahan berubah menjadi biru tua di bagian yang lebih dalam. Suara ombaknya lembut, berpadu dengan semilir angin laut yang menenangkan.

Pantai Liya Mawi. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Kedelapan, Pantai Liya Mawi. Ini ada kantor desanya di tengah laut. Pantai Liya Mawi menawarkan hamparan pasir putih bersih dengan butiran lembut di bawah kaki. Air lautnya bergradasi dari biru tosca ke biru tua, jernih hingga dasar laut terlihat jelas dari permukaan. Di sini juga bisa melihat gerombolan ikan-ikan kecil di tepian dengan sangat jelas. Beberapa ekor ikan besar kadang terlihat terperangkap di tepian di batu-batuan pantai.

Garis pantainya panjang dan tenang, dikelilingi karang alami dan pepohonan kelapa yang menambah kesan tropis dan damai. Pantai ini masih tergolong sepi dan alami, sehingga cocok bagi wisatawan yang mencari suasana sunyi untuk menenangkan diri atau menikmati keindahan alam tanpa gangguan keramaian.

Kesembilan, Pantai Liya Bahari. Pantai ini dikenal luas karena menjadi pusat budidaya rumput laut. Saat melewati kawasan ini, kita akan melihat ratusan tali-tali rumput laut yang membentang di atas permukaan air, terikat rapi pada pelampung-pelampung kecil.

Rumput laut yang dijemur di tepi Pantai Liya Bahari. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Pantai Liya Bahari. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Warga Liya Bahari sudah turun-temurun membudidayakan rumput laut berwarna merah. Saya cek-cek ini jenis spesies Eucheuma cottonii (cmiiw). Rumput laut ini dijemur sampai kering di pinggir pantai dan dijual sebagai bahan baku kosmetik, makanan, hingga obat-obatan.

Pemandangan saat para petani memanen dan menjemur rumput laut di bawah terik matahari menjadi daya tarik tersendiri. Warnanya yang kontras dengan birunya laut; menghadirkan nuansa pesisir yang asli dan fotogenik.

Melihat pantai dan laut-laut Wakatobi itu, ada banyak rasa syukur saya. Kalaupun jauh banget dari Jogja, hampir seluruh pulau ini diwarnai keindahan. Pulau Wangi-wangi seperti lukisan alam yang hidup. Tempat daratan, lautan dan langit bertemu dalam keheningan yang menenangkan.

Setiap pantainya punya karakter tersendiri: ada yang teduh, ada yang unik, ada yang memanjakan mata dan jiwa. Jika ada surga yang bisa dijangkau dengan kapal kecil dengan wajah-wajah senyum penduduk lokal, mungkin Wangi-wangi adalah jawabannya.

Bersambung
Ari Kinoysan Wulandari

Surga di Wakatobi (7): Pasar Pelangi Marina, Apa Aja Ada

Manado, years ago, dengan ketiga kakak saya. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Pak Ode setipe dua kakak saya lainnya, Pak Budi, dan Bu Mariam (Mbak Ety). Tiga orang dari Sulawesi, berbeda etnis, beda agama, punya keluarga masing-masing, tapi semuanya sangat baik pada saya.

Kalau saya sudah mulai nggak mau makan, pertanyaan beruntun terus. Saya mau makan apa, pingin apa, atau kenapa, sakit atau apa. Karena mereka tahunya saya doyan makan dan gampang lapar. Padahal kalau wes kenyang atau nggak mood makan, saya yo nggak mau makan.

Malem itu juga, karena saya di pameran UMKM hanya makan jajanan (porsi berat) dan jus (yang kelewat banyak), njur pertanyaan Pak Ode banyak beut sambil nyeberang ke Pasar Pelangi di seberang Marina Togo. Kalau malez jawab ya saya diem aja. Perut saya memang wes penuh banget gegara jajanan dan jus itu. Sudah nggak ada keinginan makan lagi.

Sisi depan Pasar Pelangi. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

“Ari, kamu belum makan nasi seharian.”

“Ada roti.” Iya, di perjalanan biasanya saya juga sedia roti basah yang cukup tahan lama untuk kondisi darurat, kadang ya sampe kebawa pulang lagi.

Saya mengekori saja Pak Ode yang terus masuk ke pasar di seberang jalan. Hampir semua pedagang disapanya. Sepertinya di pulau ini semua orang kenal sama dia. Saya nggak paham kalau mereka ngomong bahasa lokal, tapi tentu nada sapaan hangat akrab itu terasa di telinga saya.

Saya memahaminya. Saya lupa kapan, kayaknya Pak Ode pernah cerita kalau masa kecil, masa sekolahnya sering telat karena dia harus jaga toko, ngurusin dagangan, harus ambil barang di pasar atau nungguin barang yang datang ke toko. Saudara-saudaranya juga banyak yang pedagang. Pasar tentu jadi sesuatu yang dekat dengan kesehariannya.

Ikan pun ada dijual di Pasar Pelangi. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Setiap kali Pak Ode bilang apa saja malam itu, sebenarnya saya wes nggak terlalu mudeng. Otak saya wes cenderung “tidur” daripada memikirkan hal lain. Toh saya masih cukup melek untuk melihat dan memperhatikan bahwa areal pasar ini cukup besar dan luas. Isi barang dagangan pun kayaknya cukup lengkap. Mulai dari sayur mayur, bumbu bumbu dapur, hingga buah-buahan. Ada pula aneka jajanan dan masakan tradisional, aneka jualan minuman dan es.

Bolak-balik saya ditanyain mau apa saat melewati aneka makanan dan masakan tradisional. Sampai bosen juga saya jawab nggak mau. Westalah saat itu saya mungkin jadi orang yang nyebelin karena ditawarin makan minum apa-apa nggak mau. Sory ya, Pak Ode 😁

Ada aneka ikan segar di sudut yang agak ke dalam. Di sisi lainnya ada banyak pula yang jual ikan kering dengan aneka bumbu masakan kemasan. Ada pula yang jual perabot dapur dan rumah tangga yang ringan.

Kios kawan Pak Ode, dagangannya cukup beragam. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Oh di dalam pasar kami sempat berhenti lama di salah satu kios. Karena ini yang jualan suami istri, kawannya Pak Ode. Saya lupa namanya. Mendengar meriahnya dialog, saya cukup tahu kalau mereka dekat. Ada banyak yang begitu, termasuk di pasar awal yang sekarang sudah sepi itu. Ada banyak orang yang dikenali baik oleh Pak Ode.

Pedagang di sini sangat heterogen. Ada laki-laki dan perempuan. Ada yang masih remaja, ibu-ibu, bapak-bapak sampai simbok-simbok tetua yang cukup umur. Transaksi rerata dengan uang tunai. Pedagang juga sama seperti di pasar-pasar tradisional lainnya, ramai menawarkan dagangan saat melihat orang lewat.

Di situ juga begitu. Reramai orang menawarkan dagangan, dengan bahasa lokal mereka. Saya mung senyum-senyum bae. Nggak paham apa yang mereka sampaikan. Pasti menarik kalau ada yang mengkaji bahasa pasar mereka sebagai literatur linguistik. Saya? Haish, nggak kepikiran. Biar orang-orang lokal saja yang menelitinya. 😁😂

Sayuran dan bahan obat. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Saya nggak tahu Pak Ode beli apa saja, pokoknya seingetnya saya dibawain jajanan untuk jaga-jaga kalau saya laper tengah malam. Kebiasaan buruk yang nggak saya senangi, tapi kadang-kadang yo begitu. Biasanya kalau nggak disiapkan itu malah lapar, tapi kalau wes siap-siap malah tidur tanpa terjaga sampai pagi.

Yang jelas hari itu energi saya memang cukup terkuras. Mata saya masih melek tapi mung segaris saja. Dari pagi-pagi turun ke laut, ciblon di sumber mata air, ke Wakatobi WAVE dari siang sampai malam, hingga muterin pasar tradisional di malam hari. Perjalanan yang terasa panjang dan melelahkan, tapi sungguh menyenangkan. Hal-hal baru yang mungkin nggak akan saya dapatkan di tempat lain.

Bersambung.
Ari Kinoysan Wulandari

Surga di Wakatobi (6): Tari Kolosal yang Luar Biasa

Tanda pembukaan resmi acara Wakatobi WAVE 2025. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Alhamdulillah jam 15 an lebih acara wes dimulai. Panas membara sepertinya nggak mempengaruhi animo masyarakat dan peserta. Usai MC mewartakan urutan kegiatan Wakatobi WAVE, karnaval dari tiap kecamatan berparade bergantian sesuai urutan sampai memberikan penghormatan di panggung utama. Karena panas dan jarak saya ke peserta itu jauh (mereka di seberang kanan jalan), jadi saya memperhatikan dari layar besar di belakang.

Dan embuh sungguh membagongkan piye itu panitia kok meletakkan layar besar di belakang tamu undangan. Bukannya kayak begitu biasanya (atau lebih tepat) di sisi depan audiens? Jadi kami semua harus balik arah, putar kursi untuk bisa melihat atraksi, dandanan, dan aneka bawaan khas peserta karnaval.

Panas makin menyengat. Kursi-kursi tamu di tribun utama pun kepanasan dan tamu-tamu bergeser sana sini untuk menghindari panas. Saya lupa itu Pak Ode sudah balik atau belum; tapi kayaknya belum deh karena saya masih duduk sama ibu tadi dan bergeser ke tempat yang nggak kepanasan.

Pidato Bupati Wakatobi. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Entah sudah sampai karnaval dari kecamatan mana waktu Pak Ode balik. Saat mendengar Pak Ode berbicara dengan orang lain, si ibu tadi mengenali logat bicaranya sebagai orang lokal. Saya ngikik aja, mendengarnya bertanya asal usul Pak Ode. Hehe… pasti tadi dia juga mengenali saya sebagai orang asing non lokal dari logat bicara saya.

Pokoknya ini acara seru banget kalau nggak keganggu panas yang nggak kira-kira. Lalu kami pindah di sisi depan, maksudnya biar nggak kepanasan. Ya masih sama aja panasnya malah harus berdiri karena nggak ada kursi di sisi kameramen ambil gambar. Cuman ya nonton atraksi bisa langsung, lebih jelas.

Saya diseru ibu-ibu panitia agar duduk bersama mereka di sisi ujung. Aiiih saya sedang malas ditanya-tanya. Karena satu ibu yang tadi aja pertanyaannya banyak, apalagi kerumunan ibu-ibu gitu. Jawab pertanyaan itu bisa bikin capek lho kalau moodmu sedang naik turun gitu. Terlebih kalau pertanyaan aneh-aneh nggak terduga 😁😜 Dengan situasi panas udara yang bisa bikin orang gampang emosi jiwa. Jadi saya nggak mau pindah. Sampai seluruh acara selesai.

Pidato Wagub Sulawesi Tenggara. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Seremonial gini yang nyebelin yo sambutan-sambutan pejabat itu lho. Suwe. Pamer. Numpang tenar. Biasanya gitu. Lho kan beneran 😜😁 Satu persatu embuh wes berapa pejabat yang bicara. Belum kiriman video-video sambutan pejabat yang ikut ditayangkan pula. 😁😜

Duuh, ini tradisi rutinan berbagai event yang saya kenali di mana-mana, tapi tetep aja nggerundel kalau kelamaan. Padahal bagi pejabatnya, ini kesempatan tampil, pamer, eksis. Kalau bisa pidatonya suwe dan semua disampaikan. Padahal makin suwe makin bikin malez 😁😂

Ada juga isi pidato mereka yang mampir di kuping saya. Kalau Wakatobi tahun ini ada 2 event besar, tahun depan ada 9 event. Embuh apa saja ntar saya tanya Pak Ode. Terus flight langsung dari Kendari Wakatobi dibuka kembali tanggal 5 atau 10 Oktober. Sekarang wes dibuka, tiketnya antara 800-850 rb, cek di marketplace langganan masing-masing ya. Bu Sherly (Gub Malut) belum datang ke acara itu karena belum ada penerbangan langsungnya.

Fashion show di lapangan. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Terus acara Wakatobi WAVE 2025 ini termasuk event terbaik di Indonesia. Sudah 5x (cmiiw) berturut-turut mendapatkan penghargaan nasional. Apalagi ya? Oh, biota laut di seluruh dunia ada 750 spesies dan 500 spesies nya ada di Wakatobi. Sama harapan-harapan standar pejabat agar Wakatobi lebih baik, rakyat lebih sejahtera, bla-bla-bla….

Selesai pidato-pidato, nah ini acara nabuh gong pembukaan acara. Alhamdulillah wes dibuka secara resmi. Semua pejabat tinggi yang ikut menabuh gong. Berarti sebentar lagi acara tari kolosal. Versi banyak orang dari yang saya dengar ini acara paling ditunggu-tunggu.

Eh ternyata belum mulai tari kolosal juga. Masih ada acara fashion show ditambah atraksi tari mereka yang dandan superbesar. Hihi… saya sampai ngikik lihat mereka. Mulai dandan dari jam berapa ya mereka itu? Dan ya sungguh kuat banget mereka membawa “beban” berat di kepala sesiangan sampai malem lho. Apalagi pas malem masih dimintain foto-foto banyak orang, termasuk saya 😁😜 Hebat tenan mereka.

Sebagian penari dengan kostum “berat” dan “besar”. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Saya wes duduk saja, menghabiskan jajanan dan minuman sambil menikmati acara. Panas masih cetar, tapi sudah nggak sepanas jam 14 tadi. Itu sudah jam 17 lewat. Seingat saya pas tari kolosal dimulai, langit sudah berganti warna. Ada yang lebih gelap di beberapa bagian. Namun sepertinya warga yang datang semakin banyak.

Pertunjukan hebat Tari Kolosal lebih kurang 40 menit ini memang luar biasa. Semua penari (lebih kurang 1000-an, cmiiw) bergantian memenuhi lapangan Marina Togo dengan beragam kostum dan gerakan yang berbeda-beda. Tari Kolosal yang disajikan sungguh mahakarya yang istimewa. Setiap kelompok tari menggunakan kostum dan atribut yang berbeda-beda. Ada beragam jenis tari yang semuanya menggambarkan kekayaan alam dan adat budaya Wakatobi. Tari Kolosal itu versi saya sebagian dari bentuk riil cinta masyarakat etnis terhadap warisan kekayaan budaya leluhur.

Ini di Wakatobi lho, dengan jumlah penduduk yang pasti nggak sebanyak kabupaten-kabupaten di Jawa. Tentu saja anggaran pemerintah juga sesuai dengan jumlah dan komposisi penduduk. Pasti nggak banyak. Budaya bukan proyek mercusuar pemerintah. Mayoritas didanai mandiri oleh masyarakat etnisnya. Dari pertunjukan itu saya melihat semangat swadaya masyarakat yang luar biasa. Nggak mungkin atraksi sebesar itu kalau nggak karena semangat masyarakat etnis untuk melestarikan, mengembangkan seni dan budaya mereka. Sungguh luar biasa.

Sebagian atraksi penari dalam Tari Kolosal. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Wah, menyenangkan sekali saya dapat kesempatan melihat acara besar begini. Budaya kita memang luar biasa. Dari ujung ke ujung Nusantara semua indah, besar, megah. Tinggal kita saja mau atau enggak nguri-uri melestarikannya untuk kemajuan bangsa.

Acara berakhir sekitar jam 19 malam. Ramai orang berfoto di berbagai spot ikonik Wakatobi WAVE 2025. Ada yang foto-foto dengan para penari. Ada yang foto-foto dengan beragam piranti pendukung acara. Ramai lalu lalang orang di tengah keriuhan suasana. Sebagian sudah dengan membawa belanjaan dan tentengan makanan minuman.

Ada juga warga yang berlarian ke tribun utama untuk salaman dan foto-foto dengan pejabat. Suasana yang mengingatkan saya pada seremonial rutinan upacara kemerdekaan di istana negara. Byuuk, nggak peduli siapapun kalau bisa salaman dan foto-foto dengan pejabat negara. Eeh, saya enggak lho 😁😂

Sungguh elok dengan kostum berat dan atraksi sejak siang s/d malam, mereka tetap senyum saat dimintain foto. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Kami malah segera melipir ke pameran UMKM untuk cari makan minum. Mengitari area pameran, melihat aneka produk yang disajikan di situ. Ada makanan,minuman, souvenir, oleh-oleh, aneka baju adat, produk laut, dll yang dihasilkan UMKM di seluruh Wakatobi. Tentu kami harus berbagi jalanan dengan banyak orang. Ada remaja yang pingsan juga dan ditandu cepat untuk dibawa ke ambulans. Biyuuu…..

Agak lama kami di sini. Melihat kerumunan orang di tengah gerahnya udara malam, saya wes memilih segera keluar saja dari areal itu. Usai makan minum, ditawari makan minum lainnya yang banyak dijual di pameran, sudah menggeleng enggak. Disuruh foto-foto di spot-spot ikonik pun sudah malez saya, karena kudu antri panjang. Bahasa simpelnya, kaki saya wes pegel dan perut sudah kenyang. Jelas kan kalau itu, maunya mandi terus tidur😁😜

Bersambung
Ari Kinoysan Wulandari