Umroh Istimewa (2): Usai Daftar Umroh, Ujian Pun Beruntun

Saya, Bu Sida, Bu Prapti, Bu Yaya waktu manasik ke-2. Masjid Suciati, 2025. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Dari pengalaman-pengalaman sebelumnya, saya wes “niteni” bahwa saat sudah niat dan daftar bayar untuk umroh, saat itu juga saya kudu siap dengan serangkaian ujian. Sudah bayar pun, kalau nggak dipanggil Allah, bisa nggak jadi umroh haji lho. Sudah banyak contohnya. Termasuk kasus gagal berangkatnya jamaah haji furoda (tanpa antri) dari Indonesia tahun 2025.

Itu beneran peristiwa yang menyadarkan saya, bahwa duitmu (yang banyak pun) nggak akan bisa membawamu ke Baitullah kalau Allah nggak memanggilmu. Jadi ya nggak usah berkecil hati kalau duitmu belum cukup untuk biaya umroh haji. Allah punya 1001 cara untuk memberangkatkan siapa saja yang dipanggil.

Bulan-bulan Januari s/d September saya beneran hectic gaweyan gak berhenti-berhenti. Memang duitnya jadi lebih banyak, tapi capeknya juga nggak kurang-kurang. Terus ketambahan beberapa masalah yang bikin emosi jiwa. Beberapa orang dekat yang biasanya baik-baik tiba tiba rusuh banyak masalah; mau nggak mau terimbas ke saya.

Akhir September saya wes berasa klenger banget. Oktober rencananya saya mung pergi ke Wakatobi 5 hari dan njur anteng siap-siap umroh awal November. Rencana tinggal angan-angan. Jalan Wakatobi itu butuh 8 hari karena perubahan jadwal pesawat dan kapal penyeberangan. Ngepos di rumah ibu di Tulungagung pun molor juga karena ada beberapa urusan.

Jamaah umroh saat manasik ke-2. Masjid Suciati, 2025. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Sedikit istirahat di Jogja, kakak saya dari Manado datang ke Surabaya dan nggak bisa ke Jogja. Karena sudah beberapa tahun nggak jumpa, saya ngalahi pergi ke Surabaya. Ketambahan urusan buku dengan klien di sekitaran Lamongan, Gresik, Tuban beneran bikin habis energi saya.

Selesai urusan? Belum. Tanggal 3 November, saya masih harus ngisi pendampingan dosen-dosen Teknik Informatika, UII Yogyakarta untuk nulis buku. Semula jadwalnya 2 hari, saya pangkas 1 hari saja, pagi sampai sore. Saya ada “kontrak” panjang dengan mereka sejak tahun lalu; mendampingi dosen-dosen dari nggak aktif nulis buku; tiap tahun sekurangnya harus terbit 4 buku (1 buku diisi 10 dosen).

Alhamdulillah tahun lalu wes tercapai target. Tahun ini targetnya 8 buku (1 buku ditulis 5 dosen). Tahun depan 16 buku, dst sampai tiap dosen bisa aktif sekurangnya publish 1 buku tiap 1 atau 2 tahun, nggak nulis keroyokan lagi. Gaweyan yang nggak bisa saya tolak karena wes terjadwal sejak lama.

Capek? Jangan ditanya. Lalu di kampus saya beribetan dengan beberapa mahasiswa urusan administratif, dll seputar urusan gaweyan dosen. Sudah tahu ini ujian dan kuat-kuatan mental sebelum berangkat umroh; saya nggak mengeluh. Weslah, anggap saja sudah selesai.

Dan gong yang bikin saya syok itu mendadak di Jumat pagi tanggal 7 November, gigi saya nyeri sakit luar biasa. Saya nyari klinik gigi terdekat yang buka pagi, zonk. Sementara ngisi kuliah nggak bisa saya tinggal. Wes gitu sore ada manasik umroh. Pokoknya saya wes pingin menyerah saja. Sakit jiwa raga. Lelah fisik mental.

Poli gigi di klinik Sembada yang buka sampai jam 8 malam. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Usai manasik kedua itu, saya nangis sendirian di sudut luar mesjid, sakit gigi saya ampuun. Fisik saya lelah banget. Kayaknya kalau mendadak ada pengumuman nggak jadi berangkat umroh besok lusa pun, akan saya terima dengan senang hati.

Saya masih bisa tersenyum dan terlihat baik-baik saja, itu sebagai penghormatan kepada kawan-kawan baru yang akan bersama saya mulai saat berangkat umroh nanti. Meskipun beneran sakit gigi saya nggak terkira. Baru kali ini sakit gigi begitu dalam 15 an tahun. Heish, sakit gigi bae kok yo nyelo-nyelo lagi repot gitu.

Tapi mengingat begitu banyak orang yang berjuang mati-matian bahkan ada yang menabung puluhan tahun demi ke Baitullah, semangat saya bangkit lagi. Kamu sudah memintanya, Ri. Ada ujian ini itu, Allah pasti tahu kamu sanggup melewatinya.

Saya pun ke RSGM UGM, lah kok wes tutup. Nyari-nyari dulu, baru ketemu klinik Sembada untuk poli gigi yang buka sampai jam 8 malam. Antri suwe. Pas sudah giliran saya, dokternya bilang nggak sanggup menangani masalah gigi saya dan harus ke RS. Gigi saya pecah di tengah dan dalam ke akarnya. Horor tenan.

Sebagian gigi tergantung-gantung, sebagian yang lain masih kokoh kuat tapi akarnya semrawut. Saya ngotot pada dokter untuk mengurus gigi saya dan embuh caranya malam ini harus nggak sakit dan nggak nyeri. Lalu dokter menjelaskan P3K gigi untuk kondisi saya.

Langsung saya bilang iya, iya. Dibersihkan, dibius, dicabut bagian gigi yang guncang atau tergantung-gantung. Saat disuntik bius pun saya wes gak merasa. Saya sadar pas tahu darah keluar banyak; kapas yang saya gigit harus diganti beberapa kali. Dampaknya saya langsung lemes lunglai.

“Bu Ari kalau nyetir sendiri harus istirahat setengah jam, minum air dingin dulu. Repot kalau di jalan ada apa-apa.”

Saya mengangguk saja dan njur pindah ke apotik ambil obat dan bayar, lalu thenguk-thenguk, menghabiskan banyak minuman dingin sampai berasa lebih kuat badan saya. Baru pulang.

Syukur alhamdulillah gigi wes nggak nyeri. Mandi, sholat, njur tidur. Terima kasih ya Allah, saya masih bisa melewati ujian hari ini. Itu beneran hari yang paling rusuh sepanjang hidup saya. Sudah berhenti sekali itu saja, nggak usah ada lain kali.

Bersambung
Ari Kinoysan Wulandari

Umroh Istimewa (1): Panggilan Allah (Semestinya) Kita Jemput

Pelataran depan Masjid Nabawi, Madinah. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Alhamdulillah, terima kasih ya Allah atas karunia-Mu perjalanan umroh yang istimewa tahun ini (9-20 November 2025). Allahumma sholi ala sayyidina Muhammad wa ala ali sayyidina Muhammad. Ya Rasulullah saya mohon syafaatmu kelak di hari Kiamat 🙏

Tahun lalu ketika duduk di depan Ka’bah, saya berdoa agar dipanggil (lagi) dengan kondisi dan fasilitas yang lebih baik. Dan percaya atau enggak, saya seperti mendengar jawaban, “Ya, Ari. Tahun depan kamu ke sini (lagi).”

Kenapa saya begitu (berjuang) untuk terus bisa datang umroh? Hanya saat umroh itulah, di Madinah dan Mekkah, saya merasa “hidup” sebagai ciptaan Allah yang patuh untuk beribadah. Di tempat itu, waktu “dunia” seperti terhenti. Serasa hanya menunggu dari saat sholat ke sholat berikutnya. Jeda waktu pun diisi dengan ibadah-ibadah. Dan saat di Madinah, Masyaallah hati begitu tenang, adem, damai. Nggak bisa saya ceritakan seperti apa harunya, sampeyan harus datang dan mengalami sendiri untuk bisa “memahami” apa yang saya rasakan.

Lalu begitu saja, muncul niat di hati, kalaupun saya harus memangkas semua agenda piknik untuk bisa ke sini lagi, itu akan saya lakukan. Semoga lebih dari cukup rezeki untuk semuanya.

Pulang umroh tahun lalu, kembali dengan aktivitas dan rutinitas yang bekejaran di akhir tahun. Desember sering jadi bulan paling sibuk bagi penulis profesional seperti saya. Tutup tahun. Rampungan dan oyak-oyakan deadline. Workshop-workshop penulisan super dadakan. Proyek buku-buku yang nyelo-nyelo. Company profile/film/video/series yang superkilat; dll gaweyan yang intinya program menghabiskan anggaran. Beuuh…

Dulu pas saya masih jadi sandwich generation yang memback up saudara saudara dan orang tua, saya iya-iya saja karena perlu uang yang sangat besar. Setelah urusan itu selesai, saya wes emoh menerima proyek dadakan yang bikin stres jiwa raga, meskipun duitnya gede.

Sudah lebih dari 10 tahun ini, hidup saya ala Jogja banget. Kerja kalem kalem, syukur syukur yang duitnya besar. Kalau enggak, yang penting wes cukup untuk hidup layak dengan seluruh tanggungan saya. Simpel banget. Hidup lebih tenang damai, nggak uber-uberan dan penuh teriakan deadline. Duit saya dengan kerja “santai” memang nggak banyak, tapi alhamdulillah selalu cukup untuk apa saja sesuai keperluan.

Desember tahun lalu pun, saya wes menghitung perkiraan duit saya di tahun 2025. Nggak banyak. Rencana piknik pun saya ganti domestik seluruhnya. Nggak selalu lebih murah daripada piknik luar negeri, tapi jelas lebih hemat waktu dan energi. Menyadari sepenuhnya, tampilan boleh muda belia, tapi saya nggak terlalu muda lagi. Kekuatan fisik wes berkurang.

Ngumpulin duit nggak selalu mudah. Nggak cuma bagi saya, tapi bagi kebanyakan orang. Jadi ketika niat umroh itu sudah muncul di hati, saya yo berusaha ngumpulin uang sekurangnya cukup nggo bayar DP dulu. Dari Nov 2024 baru di April 2025 saya selow uang 5 juta, dan langsung daftar ke Dewangga untuk November 2025.

Total biaya sekira 35-40 an juta; karena saya milih trip via Dubai dan Turki. Untuk yang hanya umroh biasanya dari Jogja sekira 25-30 jutaan. Teman-teman bisa memilih paket umroh yang sesuai dengan kondisi finansial masing-masing. Kalau baru bayar DP 5 juta, njur kekurangannya piye? Ya embuh, nanti sambil jalan.

Untuk Teman-teman yang belum pernah ke Tanah Suci, kalau sudah ada niat, nggak usah mikirin duit atau biayanya dulu. Tapi sambut dan jemput saja niat itu dengan sebaik-baiknya. Bahkan kalau saat itu hanya ada duit luang 10 rb, siapkan saja itu di celengan khusus dengan niat untuk umroh. Ikuti dengan persiapan lainnya. Misalnya nanti pas sudah ada duit 600 rb, urus paspor dulu. Karena ini nggak bisa sehari jadi dan masanya 10 tahun, jadi lumayan kalau sudah diurus. Lalu ya nabung lagi dst. Gpp sedikit demi sedikit. Tahun lalu saya jumpa suami istri (guru SD) berangkat umroh setelah menabung selama 28 tahun. Masyaallah.

Pelataran Kabah, Masjidil Haram, Mekkah, setelah thawaf umroh, 2025. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Karena sudah niat, saya bekerja lebih keras demi memenuhi anggaran untuk umroh. Beberapa gaweyan penulisan skenario, saya kerjakan lagi; termasuk jadi supervisi naskah untuk series. Alhamdulillah, memang Allah itu memampukan yang dipanggil, bukan memanggil yang mampu. Ada saja jalan rezekinya. Dan lebih sering nggak pernah saya pikirkan sebelumnya.

Dari Januari ke Oktober 2025 saya tetep full piknik. Hidup sewajarnya tetap dengan sedekah. Yo ngurusi anak-anak asuh. Dan alhamdulillah tetep bayar 5 jutaan cicil biaya umroh. Alhamdulilah. Jangan mikirin duit untuk ini dari gaji dosen di kampus swasta ya. Lha wes sekarat dari awal itu kalau saya itung-itung; untuk transport dan makan siang saya sebulan bae sering nombok😁🙈 Belum kalau kudu ngrewangi mahasiswa bayar atau nomboki kekurangan ini itu, wes… duit saya dari kampus bablas saja.

Jujurly pas pertama terima gaji sebagai dosen yang begitu rendah, padahal masuk dengan ijazah S-3 yang sekolahnya ya nggak murah, itu saya syok dan stres duluan. Tenan, saya wes berusaha ngotak-atik kalau uang saya mung segitu dari gaji dosen, bagaimana caranya mengatur duit untuk bisa hidup layak di Jogja?

Pokokmen kalau nggak inget-inget ibu yang pingin anaknya guru besar, saya wes belok kiri setelah 2 bulan diminta gabung di kampus tempat saya ngajar. Sekarang saya sudah berdamai, menerima gaweyan dosen sebagai tambahan rutinitas. Rasah diitung-itung duitnya. Versi saya kecil, tapi ada banyak orang yang mati-matian untuk bisa kerja sebagai dosen; dengan segala macam test dan prasyarat.

Saya bae yang ndilalah gaweyan ditawarin, datang sendiri, dan sering saya tolak pula kalau saya sedang nggak mood dengan kerjaannya. Prinsipnya kalau hidupmu sesuai kemampuan, nggak kebanyakan gaya, nggak ada utang atau cicilan beribet, kerja pun nggak perlu ngoyo dan bisa memilih yang “menyenangkan”.

Sekira bulan Juli bayar umroh saya wes lunas. Alhamdulilah, saat itu sekurangnya saya wes menjemput duluan panggilan Allah dari sisi biaya. Sekarang tinggal urusan fisik, mental, spiritual. Latihan fisik, olahraga lebih tertib. Umroh adalah salah satu ibadah yang membutuhkan fisik kuat. Perjalanan jauhnya, prosesi thawaf dan sai-nya, dll aktivitas untuk menyempurnakan rukun dan kewajiban umroh itu sungguh nggak ringan.

Persiapan mental jelas nggak boleh sombong, belagu. Diberi anugerah berangkat umroh tiap tahun itu beneran harus bikin saya makin menunduk patuh taat pada Allah, menyadari sepenuhnya dosa-dosa yang begitu besar, ibadah yang masih bolong-bolong, syukur yang masih kurang-kurang, dll.

Sering juga saya sudah niat sedekah, tergoda beli apa yang nggak penting tapi lucu gitu, njur ambyar. Mo ngaji 1 juz bae, malah milih nonton drakor duluan, dll. Sudah tahu punya anak-anak asuh yang kudu dibayarin biaya sekolahnya, kadang-kadang saya yo masih ngedumel geje. Apalagi kalau ngerasa kenapa ini duitnya jadi perlu banyak. Kadang masih iri sama rezeki dan pencapaian orang lain, merasa kok hidup saya mung gitu-gitu bae, dll.

Persiapan spiritual jelas, ibadah pol-polan biar “target ibadah” pribadi saya di Baitullah saat umroh bisa tercapai. Karena biasanya, seperti apa kita beribadah di rumah sebelum umroh; itu nanti yang terbawa saat kita sudah ada di Tanah Suci.

Akhirnya perlu saya ulang lagi, nggak usah kecil hati kalau kamu belum punya duit untuk umroh. Ada niat untuk pergi umroh aja, itu versi saya sudah bentuk panggilan Allah. Nah, tugas kita berikhtiar, menyempurnakan panggilan itu dengan memenuhi syarat-syaratnya. Berapa lama? Wallahu’alam. Pokoknya kalau belum kesampaian, perbarui terus niatmu dan doa yang banyak agar segera dipanggil ke Baitullah.

Bersambung
Ari Kinoysan Wulandari

Surga di Wakatobi (17): Terimakasih, Wakatobi…!

Makan kepiting, makan rusuh. Nggak cocok untuk yang suka jaim. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Alhamdulillah, sampai pelabuhan Kendari. Wes malam itu. Gerimis mengiringi yang bikin udara malah gerah. Di sini pas kapal sandar situasinya lebih riuh. Tukang tukang angkut barang, dengan semena-mena menarik barang bawaan kita untuk dibawakan dengan charge. Saya sempat kaget dan untung kebiasaan reflek memegang erat barang-barang saya. “Enggak, enggak. Terimakasih.”

Lha mereka nggak ada tanda pengenal, barang dibawa kabur pun saya nggak bisa mengidentifikasi wajah atau nama mereka. Tukang ojek dan mobil sewaan yang nawarin kendaraan pun sampai masuk ke ruang-ruang kapal.

Biyuuu, penumpang masih beribetan mau turun, wes disesaki tukang-tukang jual jasa. Tambah banyak orang. Untung Pak Ode cepat setuju dengan tawaran harga antar dengan mobil. Jadi kami pun cepat turun dan keluar dari keriuhan di kapal. Eh, tapi masih nungguin drivernya ambil barang titipan.

Kiri kanan tempat kami makan, dipenuhi pohon-pohon bakau. Seberang itu laut. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Dari pelabuhan Kendari sampai Horison, hotel kami menginap nggak jauh. Saya ki kalau habis bepergian wes ketemu tempat tidur, bawaannya ya tidur. Karena belum makan, lepas taruh barang-barang di hotel; kami keluar lagi untuk makan malam.

Janjian dengan Pak Erens di Senin malam terlewatkan; saya yang wes terlalu lelah. Tapi karena perubahan jadwal kapal dan pesawat, kami harus singgah lebih lama di Kendari. Besok masih bisa jumpa.

Oh ya, di Wakatobi saya nggak makan kepiting. Wah di Kendari malah jumpa. Ya ampun kayak dapat hadiah aja bisa makan kepiting besar tanpa gangguan. Masaknya mantap pula enaknya, haha…. Ari makan melulu yang diingat 😁🤣

Saya sampai menoleh serius ke Bu Rasiah, memastikan dia ini memang teman saya; saking lamanya nggak jumpa. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Kata Pak Ode pas sudah di Jawa, itu kalau orang punya asam urat, darah tinggi, atau kolesterol, bisa berhari hari nggak bangun gegara makan kepiting. Iya kan, kepiting tinggi purin dan full protein hewani. Bablas saja kalau orang yang tubuhnya sudah penuh purin dan kolesterol kok makan kepiting gitu 😁

Kalau saudara lelaki saya bilangnya, “Terberkatilah hidupmu sehat, Mbak. Masih bisa makan apa saja sepuasnya. Aku aja udah nggak berani makan seafood. Apalagi kepiting besar gitu.” Mungkin berat kepitingnya 6 ons lebih, hampir 3x lipat berat steak daging sapi yang baik 😀 Alhamdulillah, saya sehat.

Di kapal yang ribet riuh pun saat wes lelah, saya bisa tidur nyenyak. Apalagi di hotel yang nyaman dan sejuk. Pules sampai pagi. Sarapan di sini menyenangkan karena menunya macam-macam. Ada makanan tradisional, ada menu sehari-hari.

Lepas mengisi kelas di FIB Universitas Halu Oleo. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Yang paling saya ingat jamu populer minuman saya sehari-hari pun ada. Beras kencur dan kunyit. Haha… tentu bukan sekedar pengaruh Jawa, tapi di negeri Sulawesi kunyit dan kencur tumbuh subur dengan buah rimpang yang besar-besar. Beda dengan Jawa yang rimpangnya kecil-kecil.

Mengisi kelas di Halu Oleo. Ramah tamah dll. Karena hari itu Bu Rasiah ada tamu bule-bule, jadi warawiri mider ke sana ke mari, berbagi hati dan waktu hanya sebentar untuk kami. Hectic begitulah. Saya siy maklumi aja. Program yang termasuk dadakan ya begitu. Paling penting sebenarnya jumpa dengan kawan-kawan lama.

Siangnya karena masih harus beberes gaweyan, saya pun kudu ngajar online; kami balik ke hotel. Janjian jumpa makan malam dengan Bu Rasiah. Beres bekerja dan mengajar online, saya sempat tidur. Hidup damai begini memang menenangkan.

Bu Rasiah nggak bisa jumpa kami karena ada urusan. Usai makan malam, kami dijemput Pak Erens untuk ngopi sampai dini hari hampir jam 01. Wah kalau diteruskan bisa sampai pagi beneran itu 😀 Ah, kalau saya ngobrol dengan orang-orang positif siy nyantai aja. Tahu-tahu ide tulisan di kepala saya wes banyak banget.

Bersama Pak Erens dan teman-teman lainnya di Kendari. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Saya ingat cerita Pak Erens saat ngurus sertifikasi dosen. Ketika semua dosen masih beribetan koreksi ini itu (belum submit dan kunci permanen), Pak Erens yang merasa sudah rampung, ya langsung submit, kunci saja. Katanya saat itu, lolos alhamdulilah, tidak lolos ya tetap alhamdulilah; nanti diulang lagi, sekurangnya sudah menyelesaikan sebaik-baiknya.

Prinsip kerja yang sepertinya memotret cara kerja saya juga. Begitu ringan menjalani, nggak banyak pikiran. Toh lolos juga sertifikasi dosennya; dan berarti itu memang rezekinya. Karena banyak juga dosen yang berusaha mati-matian, bikin ulasan sesempurna mungkin; eh masih nggak lolos. Terimakasih banyak Erens sudah menemani dan membantu kami selama di Kendari. Sampai jumpa lagi.🙏

Keesokan paginya, Pak Ode mengisi kelas; saya thenguk-thenguk sambil merampungkan artikel-artikel di hotel. Jam 11 an lewat saya diinfo petugas hotel kalau nggak bisa extend kamar karena wes penuh. Saya bilang akan check out sesuai jadwal. Kendari memang jadi tempat lomba baca Al Quran nasional. Dan Hotel Horison berada di ring satu dari tempat penyelenggaraan lomba. Jadi pasti sudah penuh dipesan sampai acara selesai.

Saya kirim pesan ke Pak Ode agar segera balik untuk check out. Karena saya tahu, ngisi kelasnya di Prodi Sejarah; yang pasti akan molor dari jadwal. Selain jumpa teman-teman lamanya, pasti juga banyak diskusi ilmu terbaru atau hal update lainnya seputar sejarah. Dan seterusnya itu pasti bikin lupa waktu 😄😁

Kami makan siang dengan Pak Aslim (cmiiw). Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Pak Ode datang dengan Pak Aslim (cmiiw), seniornya di UGM. Kami check out hotel dengan masih menitipkan barang-barang dan akan kami ambil lagi saat mau ke bandara. Kami makan siang dengan ngobrol sana sini. Lupa saya kok nggak pesan ikan masak untuk dibawa pulang. Karena ingetnya tuh masih jalan panjang. Padahal Kendari Surabaya kan nggak sampai dua jam. Wes gakpapalah. Besok-besok bisa ke Kendari lagi. Kan nggak nyeberang-nyeberang laut kalau ini😆

Kami diantar sampai bandara. Dan masih cukup waktu untuk thenguk-thenguk, nggak buru-buru menunggu pesawat datang. Sholat juga dengan tenang. Lha itu Pak Ode, sempat-sempatnya beli jajanan 😁🤣 Ya ampun, saya bae wes gak kepikiran untuk makan lagi. Tapi tetep saya ikut ngabisin jajanan Pak Ode🙈

Terbang sebentar, tenang aman, alhamdulillah Surabaya. Wes di Jawa ini. Udara Surabaya yang panas, tapi berasa “lebih dingin” daripada Wakatobi. Alhamdulillah wes balik ke habitat asal saya.😀

Terimakasih Wakatobi. Terimakasih Pak Ode. Terimakasih Pak Erens. Terimakasih Bu Tuti. Terimakasih Bu Muna. Terimakasih semua teman yang membantu dan mewarnai perjalanan saya kali ini. Semoga Allah membalas semua kebaikan dengan berlimpah berkah. Mohon maaf bila ada kata, tindak, perbuatan atau catatan tulisan yang kurang berkenan. Catatan perjalanan saya ke Wakatobi, saya cukupkan sampai di sini. Sampai jumpa di catatan perjalanan saya berikutnya. 🙏

Tamat
Ari Kinoysan Wulandari

Surga di Wakatobi (16): Kapal ke Kendari

Penginepan tempat saya tinggal beberapa hari di Wakatobi. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Pas mau keluar dari penginepan itu, baru saya sadar wes beberapa hari saya di pulau ini, meskipun rasanya kok baru dateng aja. Iya mungkin karena perginya pagi malem, pagi malem terus. Masuk penginapan ibarat hanya untuk tidur.

Pulau Wangi-wangi cantik banget, indah alami, dan alhamdulillah saya baik-baik aja. Nggak beribetan dengan sakit, ngedrop fisik, dll. Udara laut oksigen bersih, jadi bikin orang lebih sehat. Lidah dan perut saya juga cukup beradaptasi dengan makanan dan kulinernya.

Seperti kebiasaan kalau saya ke tempat baru manapun, pas balik selalu bilang sambil menjejak kaki ke tanah; bawa saya ke sini lagi. Sampai jumpa lagi dalam keadaan terbaik ya. Ada beberapa tempat yang nggak pernah kembali, tapi rerata bisa balik lagi dalam berbagai urusan yang berbeda 😁

Suasana pelabuhan Wakatobi pagi itu nggak terlalu ramai. Banyak orang lalu lalang, tapi masih banyak ruang yang selow. Di kapal kali ini versi saya lebih nyaman. Di atas nggak beribetan dengan lalu lalang orang dengan kaki-kakinya. Beberapa tempat juga terlihat kosong. Beberapa penuh berderet. Ada yang ribet sarapan. Ada yang ngobrol sana sini. Ada yang wes tidur (atau belum bangun?).

Di sisi lain, ada yang bekerja dengan laptopnya. Ada yang sibuk dengan HP-nya. Anak-anak lelarian. Pedagang sana-sini keluar masuk menawarkan aneka dagangannya. Beberapa petugas berseragam hilir mudik, tapi tanpa aktivitas. Kesibukan khas di atas kapal sebelum berangkat.

Di kapal saya ngapain? Bersiap tidurlah 😁 Saya mungkin jenis orang yang nggak bisa “kerja” di tengah moda transportasi. Nonton, baca, bisa, tapi kalau suruh nulis dll yang lebih banyak mikir, sepertinya wes malez duluan. Pokoknya kalau jalan kerjaan saya baca, ngobrol atau tidur. Kerjaan, ya nanti saja😁🙏

Pak Ode masih ambil barang-barang. Pas datang di kapal, dia bawa jajanan macem-macem. Ntar biasanya saya yang makan dan menghabiskan 😄😆 Setelah meletakkan barang-barang dan tasnya, kayaknya Pak Ode keliling kapal. Kawannya banyak.

Di kapal, tempat di bagian atas lebih nyaman. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Saya wes mager bae nggak mau naik turun. Perjalanan pagi hari itu sampai sore. Tenang banget, nggak ada ombak, nggak ada angin. Lebih tenang, nggak berisikan suara mesin kapal. Tidur senyenyaknya tanpa mendengar gedebukan langkah-langkah kaki.

Di sini dapat makan minum, tapi pas masih banyak pedagang saya jajan. Sekurangnya mata saya melek karena hari terang, wes sempat tidur, nggak capek. Kapal juga nggak terlalu penuh orang. Nggak seperti pas berangkat ke Wakatobi. Ya ampun. Situasi kapal gelap (remang-remang). Kondisi saya lelah, bingung, kaget dengan segala situasi di kapal yang belum pernah saya alami.

Orang-orang tidur bergelimpangan laki-laki dan perempuan tanpa sekat. Barang-barang entah besar kecil bagus lusuh bergelatakan di semua sisi, tanpa nomor, tanpa identitas penanda. Anak kecil yang sempat terdengar tangisannya.

Beragam kumpulan orang yang ngobrol keras-keras dengan bahasa yang nggak saya pahami. Pedagang yang seru-seruan nawarin barang dagangan. Toilet dan mushola yang jauh dari tempat saya tidur. Panas gerahnya udara terasa banget.

Kalau perut saya nggak kenyang saat itu, saya pasti sudah uring-uringan dan (mungkin) memilih turun, nggak jadi berangkat. Stres duluan saya dengan keribetan dan kerieweuhan yang nggak pernah saya pikirin.

Untung wes biasa jalan, saya coba berdamai dengan semuanya. Wes sejauh ini, kudu sampai rampung. Meskipun agak lama menyesuaikan diri, akhirnya saya bisa tidur nyenyak sampai pagi. Kalau inget-inget itu, terima kasih tubuh fisikku yang “kuat” dan “cepat” beradaptasi.

Sekarang wes ada penerbangan langsung, tentu saya lebih memilih pesawat bae. Biayanya lebih mahal, tapi jelas nggak bikin saya stres dengan suasana kapal. Toh itu juga pengalaman seru bagi saya.

Karena masih terang, pulau-pulau yang dilewati dari Wakatobi ke Kendari masih terlihat. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Pas balik ke Kendari ini lumayan ringan versi saya. Kapal sempat singgah sandar sebentar terus lanjut lagi ke Kendari. Laut tenang. Gugusan pulau-pulau terlihat jelas. Jelang sore Pak Ode mendesak saya turun melihat luar kapal. Seharian saya mung mager dan tidur.

Pas turun, situasi laut tenang. Beberapa kali saya melihat ikan terbang, burung-burung laut terbang rendah. Saya nggak sempat motret karena lihat laut tenang itu justru pikiran saya ingat isinya yang luar biasa. Angin bertiup lembut. Gelombang mengalun pelan. Kelip-kelip lampu di kejauhan mulai terlihat. Pulau-pulau nggak bernama banyak terlewati.

Saat itu ada Mirna, mahasiswa di Kendari yang kuliah teknologi pengolahan ikan; cerita banyak hal pada saya tentang kehidupan laut yang dijalaninya. Menyelam, menangkap ikan, bolak-balik nyeberang laut.

Tentang cita-citanya sekolah maju di Jawa, dll. Saya ki kalau ada yang ngomong sekolah di Jawa (sebagai cita-cita) sering bengong sesaat, tapi baru sadar bahwa itu nggak mudah karena jauhnya lokasi dengan yang disebut Jawa. Dan itu berarti biaya-biaya yang nggak ringan.

Lalu dia pergi karena menurutnya dingin. Angin sudah mulai berat, pun gerimis membawa dingin. Saya masih di situ saja, nggak terusik. Memikirkan betapa beragamnya jenis kehidupan.

Di kapal saya juga ngobrol dengan dua bocah yang kelihatan tenang, tapi matanya berkabut. Pas saya tanya pergi dengan siapa, jawabnya pergi dengan ibunya. Bapaknya tidak ikut harus melaut biar dapat uang. Mereka bertiga harus ke Kendari karena neneknya (dari pihak ibu) meninggal mendadak tanpa sakit.

Apa yang tertangkap dari cerita itu? Nenek meninggal mendadak, dan pasti mereka (ibu bapak anak-anak ini) nggak punya uang darurat. Biaya naik kapal bertiga, mungkin dipinjam dadakan dari keluarga lain atau tetangga. Belum barang dan uang takziah yang harus dibawa.

Jadi bapaknya (yang meskipun turut berduka karena mertuanya meninggal, tetap kudu melaut agar punya duit untuk cepat bayar utangan). Ini persepsi saya pribadi, tapi jelas kasus setipe banyak terjadi di kalangan menengah ke bawah. Jangankan dana darurat, lha hidup sehari-hari tanpa hutang saja, wes alhamdulillah banget.

Nggak lama, dua bocah itu pamit balik ke kapal. Mirna datang lagi. Katanya dia melihat kawanan lumba-lumba dari sisi kapal tempat bawaan motor motor. Wah, sayang juga saya nggak mengekori dia pas pergi tadi. Ah saya memang nggak ada niat lihat lumba-lumba di sini.

Dan kehadiran dua bocah tadi, seperti menyentil lagi sisi nurani saya lainnya. Banyak orang di negeri kita yang hidupnya masih berada dalam belenggu kemiskinan. Siapa yang bisa memangkas rantainya? Ya diri kita sendiri.

Bersambung
Ari Kinoysan Wulandari

Surga di Wakatobi (15): Mau Ikan Apa?

Di pantai Wisata Kolo, Pulau Kapota. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Penampakan pantai Wisata Kolo di siang terik. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Kami di sisi lain pantai Wisata Kolo, menghindari panas. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Keindahan pantai di Kapota nggak usah saya ceritakan ya. Kedua pantai yang saya kunjungi (Pantai Wisata Kolo dan Kapota Beach, Pantai Kapota) juga setipe dengan pantai-pantai lain di Wakatobi. Keduanya memiliki pasir putih bersih dan air laut yang sangat jernih, dasar laut dangkalnya terlihat jelas dari tepian.

Suasana di pantai ini masih tenang dan alami, suara ombak kecil dan desir angin laut yang lembut. Di sepanjang garis pantai, tampak pohon kelapa dan semak hijau yang memberi kesan teduh. Cuman karena pas kami datang itu lagi panas-panasnya, yo nggak ada sejuk-sejuknya.

Penduduk sekitar beraktivitas di sini, seperti memancing, menjemur ikan, atau membawa perahu kecil ke laut. Pokoknya pemandangan lautnya cantik-cantik. Percaya deh sama saya. Kalau nggak percaya, yo dateng aja langsung ke Kapota.

Minimal harus dua orang, syukur-syukur ada orang lokal. Di sini belum ada penginapan, tapi sewa motor, perahu untuk keliling laut bisa. Rumah makan besar belum ada, tapi warung supermarket lokal cukup banyak. Toilet umum juga belum tersedia. 😀

Identitas Kapota Beach. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Jalanan di sepanjang Kapota Beach. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Waktu kami balik ke Wangi-Wangi, masih dengan perahu motor yang sama saat kami berangkat. Kali ini isi perahu longgar banget, penumpangnya hanya 10 orang dan nggak bawa belanjaan mbriyut aneka rupa seperti saat berangkat tadi. Perahu sempat berputar-putar karena gangguan akibat plastik atau sampah.

Saya mung ngikik ketika Pak Ode diteriakin tukang perahu, karena belum bayar ongkos. Lho itu tukang perahunya pas kami turun juga membantu, kok ya nggak minta ongkos. “Aku lupa, Ri. Kan tadi pagi bayarnya duluan pas naik.” Apa iya, kayaknya ongkos berangkat dibayar pas sudah nyampe Kapota deh, Pak Ode😁. Tapi itu jelas lupa, bukan kesengajaan; lha bayarnya ceban saja kok.

Saya nggak ingat Pak Ode pergi ke mana setelah itu. Saya beberapa waktu mung thenguk-thenguk ngelihatin anak-anak main bola di tengah lorong pasar yang sepi. Mereka gembira betul; nggak terpengaruh kondisi “miris” lingkungannya yang sunyi.

“Ri, kamu mau ikan apa?” Itu pertanyaan Pak Ode setelah kami tiba di tempat orang jual ikan kering. Duuh, saya ditanyain ikan, yo jelas ra mudeng. Dalam konsep saya yang tinggal di Jawa, makan dengan ikan apa saja boleh; asal nggak ayam. Orang-orang dekat dan kantor atau di gaweyan pun wes tahu, kalau Bu Ari jangan kasih ayam; kalau nggak terpaksa (laper) pasti ditaruh saja. Kecuali ayam ingkung dari Imogiri (lupa saya nama warungnya) dan ayam lodo Tulungagung. Versi saya itu masakan ayam yang superenak.

Anak-anak bermain bola di lorong pasar yang sepi. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Dagangan ikan asin di sini macam-macam. Dari yang kecil-kecilan sampai besar-besaran. Jangan nanya nama ikannya sama saya. Lupa semua. Pokmen dikasih tahu, ingat sebentar, njur lali 😁😂 Kebayang to, baru beberapa hari aja sudah begitu banyak hal detail yang saya lupa dari Wakatobi; apalagi tetahunan.

Dan menuliskan begini, sebenarnya bagian usaha pribadi saya untuk “melawan lupa”. Selain itu biar saya terus ingat ternyata begitu banyak nikmat yang Allah berikan pada saya lewat perjalanan. Biar nggak lupa bersyukur. Menyadari berkat Tuhan pada saya nggak selalu sama atau setipe dengan orang lain.

Biyuu, ngelihatin ikan-ikan besar itu, saya nyaris tergoda beli ini itu dan menghitung orang kiri kanan terdekat. Itu karena saya ngerasa duit tunai masih banyak, masih aman untuk beli-beli 😁🙈 Toh mikirin bawanya itu saya njur berasa malez. Gonta-ganti moda transportasi, belum bagasinya nanti.

Saya pun membeli secukupnya sekira ringan dibawa. Toh ya nggak ringan juga. Bagasinya yang pas berangkat nggak dipake, balik berubah dobel; dari 10 kg jadi 20.9 kg. Ngekek saya, mengambil semua jatah bagasi Pak Ode. Untung penerbangan domestik; overload nyaris 1 kg nya nggak didenda atau suruh bayar. Koper beranak sungguh biasa dalam piknik 😀👏

Aneka dagangan ikan kering. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Di sepanjang jalan ini banyak penjual ikan kering, dengan beragam jenis dan ukuran. Pedagang yo ramah-ramah. Ditanyain seputar ikan, dijawab dengan baik. Rerata harganya yo sama saja. Menawar? Boleh. Diberikan? Kayaknya enggak. Mungkin mereka sudah punya kesepakatan harga satu sama lain antar pedagang.

Untung ada Pak Ode. Kalau enggak, pasti saya juga nggak akan beli ikan kering. Lha itu ikan dijual lepasan tanpa kemasan. Ikannya kan harus dikemas box, dipacking rapi, baru bisa dibawa pergi. Kalau enggak, ya ampun baunya itu pasti bikin barang ditolak masuk bagasi. Terimakasih, Pak Ode.😀🙏

Setelah makan malam, kami beli oleh-oleh. Melihat aneka rupa jajanan tradisional (yang versi saya murah meriah), sudah langsung saya nunjuk ini itu. “Ari itu nggak kebanyakan?” usik Pak Ode. Oh iya, lagi-lagi masalah pindah-pindah moda transportasi dan bagasi, bikin saya hanya membeli secukupnya. Kadang muncul sifat impulsif kalau ketemu produk yang nggak ada di Jogja😁 Beneran itu kalau nggak dikurangi, saya juga repot dengan bawaan berat gitu.🙈

Pas sudah sampai hotel, entah gimana itu orang-orang yang nginep pada rame beribetan nyari tiket. Katanya tiket kapal dari Wakatobi ke Kendari untuk besok sudah habis terjual. Oh, tentu ikut paniklah saya. Lha kan di Kendari sudah ada banyak acara, kalau nggak ada tiket terus mundur, wah bisa beribet pula urusannya.

Dagangan lainnya yang juga tersedia. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Mungkin ini karena saya bukan orang lokal, nggak tahu persis situasinya. Saya lihat Pak Ode kayaknya biasa aja, nggak ada panik-paniknya sama sekali. Pak Ode juga baik banget; demi menenangkan saya, kami pun pergi ke pelabuhan. Cari tiket. Pas sudah sampai di sana, jumpa petugas kapal, ternyata tiket masih tersedia aman. Besok pagi bisa langsung beli di loket sebelum jam keberangkatan. Tiket masih tersedia sangat memadai, yang habis itu hanya tiket yang dijual secara online.

Oalah, jadi begitu ceritanya. Hiizh, itu orang-orang di hotel bikin saya ikutan panik bae. Saya bilang kalau bisa nggak di bawah yang penuh lalu lalang kaki-kaki orang. Karena masih banyak tiket, jadi bisa meminta tempat di atas yang lebih nyaman.

“Ri, seingatku naik kapal waktu lebaran pun tiket nggak pernah habis. Masa ini acara Wakatobi WAVE saja kehabisan tiket. Lebaran aku juga nggak pernah pesan tiket. Naik ya naik aja, nanti bayar tiketnya di kapal.”

Itu kayaknya penegasan mestinya tadi saya nggak usah ikutan panik. Hihi… Ya itu kan Pak Ode yang sudah biasa dengan perjalanan lautnya ke sana kemari, bukan saya😁 Dalam situasi ekstrem pun saya bukan penganut pembelian tiket go show, tiket bantingan, tiket cadangan, tiket calo, dll sebutan tiket non resmi atau standar.

Senyum ramah si penjual ikan kering. Ada ikan teri juga di sini, tapi rasanya justru manis pas digoreng. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Kalau sudah niat pergi, pasti semua sudah “terkondisikan aman” jauh hari sebelumnya. Pergi dadakan ke LN pun, begitu jadwal dll fix, semua tiket dan akomodasi langsung diurus (tidak peduli kalau harga jadi tinggi karena dadakan). Yo gpp itu konsekuensi pergi dadakan karena pekerjaan, kan wes ditanggung perusahaan.

Bagian kecil putusan yang menjadi prinsip hidup saya. Saya nggak akan melakukan penghematan besar-besaran atau pembelian nggak masuk akal (murahnya), yang bisa jadi akan membahayakan keselamatan atau justru akan saya sesali nantinya. Percayalah, saya berhitung, dengan manajemen uang ketat; tapi jelas saya orang yang royal, terutama pada diri sendiri. Saya hidup sederhana sewajarnya yang membawa damai dan happy.

Bersambung
Ari Kinoysan Wulandari

Surga di Wakatobi (14): Kampung Bajau dan Tantangan Air Bersih

Sisi dekat laut kampung baru Orang Bajau di Kapota. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Kami tiba di kampung baru orang Bajau di Pulau Kapota ini saat matahari bersinar sangat terik. Panasnya luar biasa. Air mineral yang saya minum rasanya cepat betul menguap diterpa keganasan sang surya.

Toh saya berkeliling juga di perkampungan Bajau ini. Rumah-rumah baru hibah dari pemerintah Wakatobi ini merupakan salah satu permukiman khas yang dihuni oleh orang Bajau. Secara umum, orang Bajau merupakan kelompok masyarakat maritim yang dikenal dengan kehidupan mereka yang sangat dekat dengan laut.

Kampung baru orang Bajau ini berada di pesisir yang tenang dengan pemandangan laut biru membentang luas. Rumah-rumah warga berdiri di atas tanah dengan tiang-tiang kayu yang kokoh. Rumah-rumah ini berada di tepi laut, yang cukup dekat untuk aktivitas orang-orang Bajau sebagai nelayan dan penyelam tradisional.

Rumah-rumah orang Bajau di Kapota. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Konsep rumah di kampung baru orang Bajau ini agak berbeda dengan rumah-rumah tradisional orang Bajau yang berdiri kokoh di atas air laut dan dihubungkan oleh jembatan papan sederhana; sehingga kalau dilihat dari kejauhan, permukiman orang Bajau tradisional tampak seperti terapung di atas laut. Gambaran sebuah panorama indah yang mencerminkan keakraban orang Bajau dengan alam bahari.

Di pemukiman ini telah berdiri lebih kurang 44 rumah (cmiiw) dan seperti kebanyakan lazimnya kehidupan orang Bajau, dalam setiap rumah biasanya ada 3-4 keluarga (cmiiw), maka dapat dihitung kira-kira bahwa warga Bajau di kampung itu cukup banyak.

Seperti kebiasaan etnis Bajau, warga di kampung baru itu pun bekerja sebagai nelayan dan penyelam tradisional. Aktivitas sehari-hari mereka selalu bersinggungan dengan laut, mulai dari menangkap ikan, mencari hasil laut, hingga memperbaiki perahu. Laut bukan sekadar sumber mata pencaharian, tapi sudah jadi bagian dari jati diri dan budaya mereka yang diwariskan secara turun-temurun.

Wadah-wadah penampungan air tawar (yang nggak bersih) di kampung Bajau. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Kampung baru orang Bajau terlihat seperti “replika indah” kehidupan orang Bajau dalam versi riil dan tertata. Namun di balik pesonanya, orang-orang Bajau di sini menghadapi tantangan besar dalam memperoleh air bersih. Letak kampung yang sebagian berdiri di atas tanah kapur Pulau Kapota, menyebabkan penggalian sumur jadi tidak mudah. Kalau pun bisa menggali sumur, air tanah yang ditemukan umumnya asin atau payau karena bercampur dengan air laut.

Mayoritas warga Bajau di sini mengandalkan air hujan yang ditampung dalam galon-galon atau wadah-wadah besar sebagai sumber utama untuk kebutuhan harian seperti memasak dan mencuci. Saat musim hujan, mereka merasa bersyukur karena dapat mengumpulkan banyak air.

Sebaliknya saat musim kemarau, situasi menjadi lebih sulit. Persediaan air cepat menipis. Sebagian warga harus membeli air bersih dari kampung lain di daratan Pulau Kapota dengan harga yang nggak murah. Kondisi ini menuntut mereka untuk hidup hemat air dan saling berbagi dengan tetangga.

Salah satu sumur galian yang belum selesai. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Pada saat kami datang, saya melihat teriakan dengan ekspresi gembira anak-anak dan juga orang-orang dewasa dari sisi yang agak jauh dari rumah-rumah tersebut. Mereka menemukan sumber air tawar, meskipun belum terlalu jernih. Sekurangnya hari itu ada tiga sumur (cmiiw) yang digali secara mandiri dan bergotong royong antar warga Bajau; yang semuanya menghasilkan air tawar.

Saat saya melongok ke salah satu galian sumur yang belum selesai, (versi saya) masih tercium aroma asin yang pekat dengan air yang masih sangat keruh. Mungkin kalau digali lebih dalam dan lebih lebar akan segera ketahuan itu air tawar atau air asin/payau.

Saya pikir, masyarakat Bajau di sini bisa mengatasi masalah air tawar/air bersih bersama pemerintah desa dan pihak terkait. Beberapa solusi terpikir oleh saya saat melihat situasi kesulitan air tersebut. Pertama, membangun tandon air hujan berukuran besar di beberapa titik kampung.

Anak-anak kampung Bajau yang gembira mengambil air bersih. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Kedua, menyalurkan bantuan air galon isi ulang bagi keluarga yang membutuhkan (dalam kondisi darurat). Ketiga, mencari sumber-sumber air tawar dengan menggali sumur-sumur menggunakan alat-alat modern, bukan sekedar tenaga manusia; sehingga bisa dilakukan dengan lebih cepat dan identifikasi air tawar lebih mudah.

Keempat, pemerintah dan atau lembaga sosial bisa membantu menyediakan filter air sederhana agar air payau bisa diolah menjadi “air tawar” yang lebih layak digunakan. Biasanya mahasiswa-mahasiswa KKN dari program-program lingkungan, bisa membantu menyediakan fasilitas ini. Kalau enggak, alat-alat ini sudah banyak dijual di marketplace dengan harga beragam mulai ratusan ribu hingga jutaan.

Kelima, desalinasi. Secara sederhana desalinasi adalah proses untuk menghilangkan garam dan mineral dari air laut agar bisa digunakan untuk minum, memasak, atau kebutuhan sehari-hari lainnya. Dengan cara ini pasti akan mencukupi kebutuhan air tawar untuk warga Bajau sepanjang masa, karena air laut yang sangat melimpah. Biaya produksi desalinasi saat ini masih cukup tinggi; 2,5-4 USD per meter kubik; artinya tiap meter kubik perlu 40-70 K.

Kami di kampung Bajau. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Sebenarnya dengan berbagai alternatif solusi itu, tanpa keterlibatan pemerintah pun, warga Bajau bisa mengatasi masalah dan tantangan air bersih ini secara swadaya mandiri. Mereka bisa memilih cara yang paling cocok dan sesuai dengan kemampuan finansial komunitas. Tentu akan lebih mudah kalau ada program pendampingan untuk masyarakat di sini.

Toh meskipun hidup dengan segala keterbatasan, masyarakat Bajau di kampung baru tetap menunjukkan semangat gotong royong dan kearifan lokal yang kuat. Mereka menjaga kebersihan lingkungan, saling membantu, dan terus beradaptasi dengan alam laut yang telah menjadi rumah mereka sejak lama.

Kampung baru orang Bajau bukan hanya permukiman nelayan, tetapi juga potret ketangguhan dan kebijaksanaan masyarakat pesisir yang hidup harmonis di tengah tantangan kondisi geografis wilayahnya.

Bersambung
Ari Kinoysan Wulandari

Surga di Wakatobi (13): Danau Kapota dan Legendanya

Pak Ode dengan kawan barunya di sekitaran Danau Kapota. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Wisata yang paling kondang di Pulau Kapota adalah danau besar. Keindahan alam danau ini masih belum banyak dikenal wisatawan. Danau ini terletak di tengah Pulau Kapota, beberapa kilometer dari pesisir. Danau ini menjadi bagian penting dari ekosistem pulau yang masih alami.

Akses ke danau cukup mudah. Dari parkiran depan, kita akan melihat masjid cukup luas dan terawat di sebelah kiri. Tapi piranti sholat (mukena dan sajadah-sajadah) seperti sudah lama nggak dicuci. Toilet dan tempat wudu ada, tapi saat itu dikunci dan nggak ada akses air.

Karena sudah waktunya Dhuhur, saya yo sholat di situ; sambung jamak Dhuhur Ashar dengan tayamum. Berdoa secukupnya dan melanjutkan aktivitas. Dari masjid untuk menuju danau, kita akan melewati gazebo-gazebo yang cukup banyak untuk kafe dan resto. Lalu menurun melingkar melewati jalan berpagar dan sampailah ke areal gazebo besar yang langsung menghadap danau.

Map Danau Kapota. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Permukaan danau tampak tenang dengan air yang jernih berwarna biru kehijauan, memantulkan langit dan pepohonan di sekitarnya. Di sekeliling danau tumbuh pepohonan hijau yang rimbun, termasuk mangrove dan vegetasi pantai lain yang memberikan suasana sejuk dan asri. Ketika angin bertiup pelan, permukaan air bergelombang lembut, menciptakan pemandangan yang menenangkan.

Danau ini menjadi tempat hidup berbagai jenis ikan air payau serta burung-burung yang sering hinggap di ranting pohon sekitar. Airnya berasal dari campuran sumber air tawar dan rembesan air laut, menjadikannya danau payau yang unik. Pada pagi hari dengan kondisi alamnya, (mestinya ada) kabut yang menyelimuti permukaan danau ini.

Bagi penduduk setempat, danau di Kapota bukan hanya keindahan alam, tetapi juga sumber kehidupan. Airnya digunakan untuk kebutuhan sehari-hari, dan di sekitarnya sering dijadikan tempat beristirahat atau bersantai. Meskipun belum banyak fasilitas wisata (tambahan), keaslian dan ketenangan danau ini menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung yang mencari suasana alami dan damai.

Masjid di areal depan Danau Kapota. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Kami berempat (saya, Pak Ode, Bu Muna, dan Pak Basri) datang ke danau saat matahari sudah sangat tinggi. Usai makan siang –bawa makan minum sendiri, yang kami beli pesan di bawah; karena di areal danau nggak ada orang jualan, saya wes berasa liyer-liyernya. Ngantuk banget dan sebentar saja wes tertidur pules. Alam Danau Kapota beneran bikin orang serasa hidup damai tanpa gangguan.

Dua adik lelaki saya pernah ngomeli saya gegara kebiasaan saya tidur di sembarang tempat begini. Pas kami makan malam (sudah larut) di kafe, usai makan mereka masih ngobrol seru, saya wes ngantuk dan tertidur dengan kepala di meja. Mereka terpaksa harus cepat pulang dan memapah saya ke mobil. Besoknya saya kena omel panjang lebar. Mereka menanyakan apa saya nggak khawatir (kalau pergi sendiri) ada orang jahat, begini begitu. Saya cuma tertawa pelan, orang jahat itu (biasanya justru) orang-orang dekat. Kalau nggak kenal seringnya malah dilewatkan begitu saja.

Kembali ke Danau Kapota, saat saya terbangun; sudah sedikit ramai karena ada rombongan keluarga yang datang. Saya sempat ngobrol random dengan mereka tentang danau tersebut. Tapi nggak ada sedikitpun informasi tentang asal usul Danau Kapota.

Jalan berpagar menuju Danau Kapota. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Di waktu yang lain setelah balik ke Jogja, saya berusaha mencari data-data tentang Danau Kapota ini. Berbagai danau yang saya kenali, antara lain Kastoba, Toba, Singkarak, Maninjau, Ranau, Kelimutu, Sentani, Poso,Tempe, Matano, Ranu Kumbolo, Labuan Cermin, Bedugul, dll. rasanya semuanya ada kisah legenda atau asal usulnya yang tersebar luas secara lisan. Lha masa Danau Kapota “yang ajaib” ini nggak ada kisah rakyatnya? Pas saya nanya Bu Muna sebagai orang lokal, nggak ada jawaban memuaskan.

Saya merangkum kisah danau ini dari googling berbagai sumber. Jadi untuk tahu kebenarannya masih memerlukan banyak riset dan data yang valid. Konon, dahulu kala danau itu bukanlah danau. Tempat ini berwujud lembah luas yang dihuni oleh sekelompok keluarga nelayan.

Di lembah itu tinggal seorang gadis bernama Wa Ndolu, yang terkenal karena kebaikan hati dan kecantikannya. Ia rajin membantu siapa pun yang membutuhkan, terutama para nelayan yang pulang melaut.

Sejauh mata memandang, air biru kehijauan di Danau Kapota. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Namun, suatu hari datanglah seorang pemuda “asing” atau non lokal yang jatuh cinta padanya. Pemuda itu nggak diketahui asal-usulnya, dan masyarakat setempat curiga bahwa ia bukan manusia biasa.

Wa Ndolu menolak lamaran pemuda itu dengan halus karena merasa ada sesuatu yang aneh atau nggak wajar padanya. Akibat penolakan tersebut, si pemuda ini tersinggung. Dia pun mengungkap jati dirinya sebagai jelmaan pemimpin kerajaan “makhluk bawah laut” dan mengutuk lembah tempat tinggal Wa Ndolu agar tenggelam.

Dalam sekejap, air keluar dari bawah tanah dan dari arah laut, menenggelamkan seluruh lembah. Hanya puncak-puncak bukit kecil di sekitarnya yang tersisa, sementara di tengahnya terbentuklah danau besar yang sekarang dikenal sebagai Danau Kapota.

Kami berempat di Danau Kapota. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Penduduk setempat percaya bahwa pada malam-malam tertentu, terutama saat bulan purnama, kadang terdengar suara perempuan bernyanyi lembut dari tengah danau. Masyarakat sekitaran di masa lampau percaya bahwa suara itu adalah suara Wa Ndolu, roh penjaga danau yang tetap setia melindungi keindahan Kapota.

Oleh karena kepercayaan itu, masyarakat setempat terus menjaga kelestarian danau. Mereka juga nggak sembarangan mengambil ikan atau merusak lingkungan di sekitarnya.

Bukankah kisah Danau Kapota tersebut agak mirip-mirip dengan legenda atau asal usul danau-danau lain di Indonesia, yang sudah saya sebutkan sebelumnya? Masalah kebenarannya, ya wallahua’lam saja.

Bersambung
Ari Kinoysan Wulandari