Umroh Istimewa (13): Masjid Bir Ali, Toko Buku Dar Alzaman, dan Kereta Api Cepat

Di pelataran masjid Bir Ali. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Setelah beberapa hari di Madinah, rombongan kami melanjutkan perjalanan ke Mekkah untuk umroh. Sebelum ke Mekkah kami akan mengambil miqat di masjid Bir Ali. Masjid ini juga dikenal sebagai Masjid Dzul Hulaifah adalah salah satu tempat yang paling dikenang oleh jamaah haji dan umrah.

Di sinilah para jamaah yang berangkat dari Madinah mengambil miqat dan mulai berniat ihram. Suasananya khas: tenang, luas, dengan arsitektur modern yang sederhana tetapi kokoh. Jaraknya sekitar 11 km dari Masjid Nabawi, sehingga biasanya menjadi pemberhentian pertama sebelum rombongan menuju Makkah.

Ustadz Faqih yang selalu banyak senyum dan siap membantu. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Begitu tiba, kita akan melihat hamparan pohon-pohon kurma dan dataran luas Madinah yang gersang tapi menenangkan. Di dalam masjid, area shalat sangat luas dan teratur. Fasilitas wudhunya banyak dan bersih, sementara area luar masjid selalu ramai oleh jamaah yang memakai pakaian ihram putih-putih.

Ada perasaan haru tersendiri ketika berada di Bir Ali: seolah pintu menuju perjalanan spiritual terbuka, dan setiap langkah setelah itu adalah bagian dari ritual suci yang telah dijalani jutaan orang sepanjang sejarah.

Di areal dalam masjid Bir Ali setelah sholat. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Setelah urysan miqat selesai, kami meneruskan perjalanan dengan bus terlebih dahulu untuk menuju stasiun kereta api cepat. Di sinilah yang terbengong dengan “ketidakefektifan” pengaturan transportasi Dewangga versi saya.

Lha kita membayar 1 juta untuk kereta api cepat, sementara bus tetap berjalan melaju mengikuti rombongan (yang naik kereta api cepat) karena membawa koper-koper bagasi. Lha mbok sudah seluruh jamaah naik bus aja seluruhnya. Biaya 1 juta versi saya malah terasa “sia-sia” “sayang” untuk sekedar naik kereta api cepat. Ini sekedar ngudarasa, karena bisa jadi pertimbangan Dewangga untuk jamaah adalah “pengalaman baru” naik kereta api cepat.

Di bus yang membawa kami dari hotel di Madinah hingga ke stasiun kereta api cepat. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Sesampai di stasiun kereta api cepat, semua wes dengan urusan masing-masing. Ada yang ke toilet. Ada yang duduk duduk karena capek. Ada yang foto-foto. Ada yang wira wiri. Ada yang ngobrol dan sibuk dengan HP-nya. Saya melipir berkeliling areal stasiun. Tempat ini cukup luas. Ada banyak sisi bagus dan wah…. ada toko buku.

Toko Buku Dar Alzaman di Madinah menjadi persinggahan favorit bagi siapa pun yang mencintai buku islami, manuskrip, kitab-kitab klasik, dan terjemahan kontemporer. Berbeda dari toko suvenir biasa, Dar Alzaman memiliki suasana “ilmiah”, seperti rak-rak tinggi penuh kitab bersampul tebal, aroma kertas baru yang kuat, serta pengunjung yang terlihat asyik membuka halaman-halaman kitab seperti menemukan harta karun.

Di salah satu sisi stasiun kereta api cepat. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Di toko buku ini ternyata bisa menemukan:

  • Kitab-kitab turats (klasik) versi terbaik
  • Mushaf dalam berbagai ukuran dan edisi
  • Buku-buku sejarah Islam
  • Ensiklopedia, tafsir, dan hadits
  • Buku anak-anak edukatif
  • Souvenir ilmiah khas Madinah dan Mekkah

Pantas saja toko ini sering direkomendasikan oleh mahasiswa Universitas Islam Madinah maupun jamaah haji yang ingin membawa pulang oleh-oleh penuh manfaat. Harganya cenderung lebih terjangkau dibanding toko-toko besar di area Masjid Nabawi. Berjalan di antara rak-raknya memberi sensasi seperti memasuki perpustakaan kuno yang hidup kembali di tengah kota suci.

Beberapa sisi bagian Toko Buku Dar Alzaman. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Seterusnya setelah tiba waktunya, kami naik kereta api cepat. Perjalanan dari Madinah ke Jeddah ini bisa menjadi pengalaman yang sangat menyenangkan bagi yang belum pernah; karena lebih cepat. Haramain High-Speed Railway, kereta cepat modern yang menghubungkan Madinah–KAEC (King Abdullah Economic City)–Jeddah–Makkah.

Kereta ini benar-benar memberikan pengalaman baru untuk jamaah umrah dan pelancong:

  • Kecepatan hingga 300 km/jam
  • Gerbongnya bersih, nyaman, dan tenang
  • Kursinya empuk dengan ruang kaki lega
  • Ada meja lipat, colokan listrik, dan ruang bagasi luas
  • Layanan yang tertib dan tepat waktu

Saya di dalam kereta api cepat. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Perjalanan yang dulunya bisa memakan waktu 5–6 jam dengan bus, kini hanya 1 jam 45 menit menggunakan kereta cepat. Pemandangannya dramatis: hamparan gurun cokelat keemasan yang seperti tidak berujung, garis langit yang bersih, serta deretan bukit batu khas Hijaz yang mengiringi perjalanan.

Stasiun-stasiunnya pun megah dan modern—terutama Stasiun Madinah yang sangat luas, didominasi warna putih dan desain futuristik. Kita diajak merasakan perpaduan unik antara kesucian perjalanan ibadah dan kemudahan teknologi modern.

Bersambung
Ari Kinoysan Wulandari

Umroh Istimewa (12): Raudhah Selalu Punya Cerita

Di pelataran Masjid Nabawi, sekitar Kubah Hijau untuk antri ke Raudhah. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Raudhah atau Raudhah Syarifah (Taman Mulia) adalah area di dalam Masjid Nabawi di Madinah, Arab Saudi. Area ini memiliki keutamaan yang sangat besar, karena Rasulullah Muhammad SAW bersabda, “Apa yang ada di antara rumahku dan mimbarku adalah salah satu taman (Riyadh) dari taman-taman surga.”

Kalau ada tempat duduk yang selow, ya pakai saja. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Mayoritas orang yang datang ke Masjid Nabawi pasti sangat ingin masuk ke Raudhah, salah satu tempat yang mustajab untuk berdoa. Seingat saya, dulu masuk tempat ini bebas saja keluar masuk asal selow dan ya bisa masuk. Secara umum, semua umat Muslim yang berada di Masjid Nabawi berhak untuk masuk dan beribadah di Raudhah, baik laki-laki maupun perempuan, selama mereka mematuhi aturan dan jadwal yang berlaku.

Namun, karena Raudhah adalah area yang sangat kecil dan menjadi rebutan jutaan jemaah dari seluruh dunia, Pemerintah Arab Saudi dan pengelola Masjid Nabawi dari tahun ke tahun menerapkan sistem yang ketat untuk mengaturnya, terutama terkait: kuota dan jadwal khusus. Saat ini, masuk ke Raudhah (khususnya untuk shalat dan ziarah ke makam Nabi Muhammad SAW) diatur menggunakan sistem janji temu (reservasi) melalui aplikasi resmi pemerintah Saudi.

Antrian kami menuju Raudhah. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Bagi jamaah umroh Indonesia yang mengikuti biro resmi, sudah ada tasreh dan biasanya satu kali kedatangan untuk umroh, jamaah juga didaftarkan satu kali untuk bisa datang beribadah di Raudhah ini. Jadwal kunjungan antara jemaah pria dan wanita dibedakan, tidak di waktu yang sama. Begitupun dengan akses pintu masuknya juga dibedakan untuk mempermudah proses dan pengawasan.

Dari tahun ke tahun syukur alhamdulillah, masuk tempat ini versi saya termasuk mudah. Apalagi pas umroh tahun ini. Sungguh, lempeng banget masuk Raudhah. Kami di antrian itu bagian belakangan, tapi entah bagaimana tahu-tahu kami bisa di barisan depan dan diberi kesempatan cukup luang waktu untuk sholat dan berdoa. Padahal biasanya setiap orang/rombongan diberi waktu terbatas (15 menit) di dalam Raudhah agar jemaah lain juga mendapatkan kesempatan.

Di dalam Raudhah usai sholat, berdoa, dan bertangisan. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Dan entah ya, meskipun sebelum ke Raudhah itu saya sudah berniat nanti mau berdoa ini itu, mendoakan sini situ, pas di Raudhah itu bisa lho tiba-tiba ambyar semua karena keburu menangis meledak, saking harunya. Masyaallah, rasanya nggak terkira bahagianya seolah-olah berhadapan dengan Rasulullah SAW.

Jadi biasanya, sebelum tangis saya makin menjadi-jadi; saya tetap mengingat doa sapu jagad, doa keselamatan dunia akhirat, doa mati yang husnul khotimah, dan doa “Ya Allah, kabulkan semua doa orang-orang yang menitipkan doanya padaku sesuai dengan kelayakan masing-masing. Amin YRA.”

Rombongan kami setelah keluar dari Raudhah. Doa saya, kembali lagi tahun depan ke tempat ini. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Dengan begitu saya tetap berdoa menyeluruh dan telah mengirimkan doa yang dititipkan orang dengan sempurna. Karena jangankan membaca satu per satu, mengingat bahwa ini masih dunia aja; kadang terabaikan. Raudhah itu energinya halus, lembut, dan damai sekali. Saya pribadi bisa merasakan ini seperti oase sejuk yang menenangkan. Damai banget dan seolah-olah membuat hati tuh langsung bahagia. Nggak ada perlu apa-apa lagi. Sampeyan harus datang sendiri ke tempat ini, untuk bisa merasakan apa yang saya ceritakan.

Salah satu hal yang bikin saya (rela berjuang) ngumpulin uang untuk ke sini (umroh dan umroh lagi) mungkin adalah perasaan happy yang sulit digambarkan. Weslah, mungkin karena Raudhah bagian dari surga, jadi (saya pikir) di surga pun kelak akan begitu. Tenang, damai, sejuk, bahagia, dan nggak perlu apa-apa lagi. Sungguh menyenangkan dan menenangkan jiwa. Wallahu’alam.

Bersambung
Ari Kinoysan Wulandari

Umroh Istimewa (11): Tentang Masjid Quba dan Kebun Kurma

Saya di pelataran Masjid Quba. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Selain memperbanyak ibadah di Masjid Nabawi, rombongan umroh kami juga ada city tour Madinah; ke Masjid Quba, Kebun Kurma, dan Jabal Uhud. Namun karena keterbatasan waktu dan keterlambatan jamaah berkumpul sebelum pergi, pikniknya hanya ke Masjid Quba dan Kebun Kurma, tempat membeli oleh-oleh.

Masjid Quba memiliki kedudukan yang sangat penting dalam sejarah Islam; karena ini masjid pertama yang dibangun oleh Rasulullah SAW setelah beliau hijrah dari Makkah ke Madinah. Pembangunannya dimulai pada tahun 1 Hijriah (622 Masehi). Kedua, dalam Al-Qur’an, Masjid Quba disebut sebagai masjid yang didirikan atas dasar takwa sejak hari pertama, sebagaimana disebutkan dalam Surat At-Taubah ayat 108.

Saya dengan Bu Sida, Bu Prapti dan Bu Yaya di pelataran Masjid Quba. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Salah satu keistimewaan besar Masjid Quba adalah pahala sholat di dalamnya. Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa bersuci (berwudu) di rumahnya kemudian mendatangi Masjid Quba dan sholat di dalamnya, maka ia akan mendapatkan pahala seperti pahala umrah.” (HR. Ibnu Majah).

Rasulullah SAW biasa mengunjungi Masjid Quba dan melaksanakan sholat di sana, terutama setiap hari Sabtu, baik dengan berkendara maupun berjalan kaki. Masjid ini terletak di Quba, sekitar 5 km di sebelah tenggara Kota Madinah (atau sekitar 4-5 km dari Masjid Nabawi).

Rombongan kami di Kebun Kurma. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Pada awalnya, masjid ini dibangun di atas kebun kurma dan proses pembangunannya melibatkan Rasulullah SAW dan para sahabat secara gotong royong. Bangunan awalnya menggunakan tiang dari pohon kurma dan atap dari pelepah daun kurma bercampur tanah liat. Saat ini, masjid ini telah direnovasi dan diperluas menjadi sangat megah, mampu menampung hingga 20 ribu jemaah.

Kebun kurma adalah salah satu destinasi yang tidak terpisahkan dari kunjungan ke Madinah, terutama karena lokasinya yang dekat dengan Masjid Quba. Tempat ini sekarang jadi tempat belanja oleh-oleh yang paling terkenal di antara janaah umroh dan haji dari Indonesia.

Hanin si bocil termuda dalam rombongan kami beserta keluarganya. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Perkebunan kurma diyakini telah ada sejak masa sebelum hijrahnya Nabi ke Madinah. Kota Madinah sendiri dikenal sebagai tempat yang ideal untuk budi daya kurma karena kondisi tanah dan udaranya yang sejuk.

Kebun Kurma yang sering dikunjungi jemaah haji dan umrah umumnya berlokasi sekitar 15 menit perjalanan dari Masjid Quba. Tempat ini tidak hanya menawarkan pemandangan pohon kurma, tetapi juga menjadi pusat bagi para jemaah untuk berbelanja berbagai jenis kurma Madinah yang terkenal.

Saya, Mas Donni, Bu Neli, Bu Nunu, dan Bu Yuli menikmati bakso (bukan unta 😅) di Kebun Kurma. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Beberapa jenis kurma yang populer di Madinah antara lain: kurma Ajwa dikenal sebagai “Kurma Nabi” karena merupakan salah satu makanan kesukaan Rasulullah SAW dan diyakini memiliki keutamaan sebagai obat dari racun dan sihir. Ada juga kurma Sukkarri, kurma yang sangat terkenal karena teksturnya yang juicy dan rasanya yang sangat manis, sering berwarna cokelat keemasan. Ada juga kurma Safawi, Ambar, dan Khalas yang merupakan jenis-jenis kurma berkualitas tinggi dengan cita rasa khas masing-masing.

Karena sudah beberapa kali ke tempat ini, saya lebih memilih menikmati bakso di sini daripada berbelanja. Saya hanya membeli beberapa jenis manisan buah yang sesuai lidah saya. Oh ya, kelebihan tempat ini selain jenis dagangan beragam, di sini orang boleh ngicipin semua makanan dengan gratis. Sepuasnya, asal nggak dikantongin. Pokoknya kalau cuman ndableg makan apa saja bisa sepiasnya dan nggak ada yang melarang atau menegur. Yach, meskipun harga belanjaan di sini juga sedikit bunyi (lebih mahal) dibandingkan tempat-tempat lainnya.

Ustadz Faqih yang baik hati, bawain belanjaan jamaah 😅 Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Bagi saya pribadi, kunjungan ke Masjid Quba dan Kebun Kurma memberikan pengalaman spiritual dan wisata sejarah yang mendalam. Kedua tempat ini mengingatkan pada perjuangan awal Islam dan kekayaan alam Kota Nabi.

Bersambung
Ari Kinoysan Wulandari

Umroh Istimewa (10): Suatu Pagi di Madinah

Kami setelah makan malam sebelum terbang ke Madinah. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Usai kami dari komplek Istana Sultan Mehmed, kami kembali ke bus dan melanjutkan perjalanan. Sore itu kami makan di Nusantara, sebelum pergi ke bandara. Makanan di resto ini isinya makanan Nusantara; ada soto, gorengan, mie goreng, kerupuk, ikan goreng, ayam goreng, dll yang jelas-jelas makanan Indonesia.

Setelah itu kami melanjutkan perjalanan dengan bus ke bandara Turki untuk melanjutkan ke Madinah. Kami menggunakan maskapai Ajet Air. Saya lupa saat di Ajet Air ini duduk dengan siapa. Karena sebentar saja penerbangan dari Istanbul ke Madinah. Ya, dan betul sebentar saja kami sudah sampai bandara Madinah. Nggak terlalu lama di bus, kami sudah sampai di hotel kami di Madinah.

Saya dan Mbak Yuli di bandara Turki sebelum terbang ke Madinah. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Ustadz Faqih di sini sudah mulai dibantu Ustadz Gilang yang jadi muthhowwib kami, selama di Madinah dan Mekkah. Di dalam bus, kami diberitahu kalau akan sampai duluan dibandingkan koper bagasi. Jadi kami bisa masuk kamar dulu, tapi semua piranti ganti baju masih di koper.

Saya satu kamar berempat dengan Bu Sida, Bu Yaya, dan Bu Prapti. Mereka sungguh ibu-ibu yang luar biasa. Semangat ibadahnya sungguh patut diacungi jempol. Pas sudah masuk kamar, sebenarnya kami masih mau nunggu koper. Tapi karena koper belum datang juga, saya menanyakan apakah kami mau sholat Shubuh di Mesjid Nabawi atau di kamar saja. Mereka memilih ke mesjid. Yo wes saya pun ikut dengan mereka.

Identitas di pintu depan hotel kami di Madinah. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Bersiap dengan alat sholat, kami melangkah dengan semangat ke Mesjid Nabawi. Setelah tiba di mesjid, kami segera menunaikan sholat. Dan…. jangankan Bu Sida, Bu Prapti, atau Bu Yaya yang baru kali ini datang ke mesjid Nabawi, saya bae usai sholat ya menangis (meledak). Haru nya nggak bisa saya katakan.

Seolah-olah melihat Nabi Muhammad SAW di hadapan, diterima disambut saat datang, itu beneran bikin hati sesak oleh tangis haru. Ya Rasulullah SAW kami nantikan syafaatmu di hari Kiamat kelak. Mohon undang kami lagi ke mesjid dan tanah negerimu yang Mulia ini. Amin YRA.

Saya bersama teman sekamar, Bu Yaya, Bu Prapti, Bu Sida pagi hari saat menuju Mesjid Nabawi. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Sampeyan mungkin pernah mendengar ungkapan, “Raga bisa kembali, tapi hati akan menetap.” Setelah menyelesaikan ibadah umroh beberapa waktu lalu, ungkapan itu terasa begitu nyata menghujam kalbu saya. Jika ditanya di mana bagian terpenting dari diri saya berada saat ini, jawabannya hanya satu: tertinggal di Madinah. Selalu begitu setiap kali usai umroh. Dan Madinah adalah kota yang versi saya, sungguh nggak bisa dilupakan dan selalu bikin rindu tiada akhir.

Sebelum tiba di sana untuk pertama kalinya, bagi saya Madinah hanyalah sebuah nama kota suci. Dan saya tidak percaya bahwa sekali kita umroh, datang ke Madinah dan Mekkah, seterusnya kita akan rindu yang nggak pernah berakhir. Mosok iyo, pikir saya. Ada berbagai tempat yang saya kunjungi, seindah apapun; nggak ada keinginan untuk datang lagi ke tempat yang sama, kecuali ada kepentingan di tempat itu.

Situasi di dalam Mesjid Nabawi saat pagi kami datang. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Namun, begitu melangkah keluar dari pesawat dan menghirup udara Madinah saat pertama kali datang, saya tahu ini adalah tempat yang berbeda. Madinah adalah kota yang tenang, damai, dan auranya terasa begitu lembut, seperti pelukan dari seorang ibu kepada anak-anaknya. Energi Nabi Muhammad SAW sungguh energi lembut damai yang menenangkan. Sepanas apapun kota ini di siang bolong, bisa 52 derajat Celcius, tapi rasanya tetap adem ayem karena seolah-olah ada kabut tipis yang membayangi sinar matahari ke bumi. Bagi mereka yang memiliki sensitivitas energi, biasanya bisa merasakan hal ini.

Jadi, bukan hanya karena kota ini adalah tempat suci yang menjadi tempat tinggal Nabi Muhammad SAW sewaktu hidup dan jadi makam Nabi Muhammad SAW setelah wafat, tapi versi saya ada sesuatu yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Mungkin itu adalah kedamaian yang menenangkan, atau mungkin kerinduan mendalam yang tersembunyi di setiap sudut kota.

Kami berempat usai Shubuh di Mesjid Nabawi. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Momen yang paling magis, dan yang paling mengunci hati saya di Madinah khususnyaMesjid Nabawi, tentu saja adalah ketika saya berkesempatan memasuki Raudhah Syarifah. Area ini dikenal sebagai salah satu taman surga. Berada di dalamnya adalah sebuah anugerah, tempat di mana doa-doa terasa begitu dekat untuk diijabah.

Setiap langkah menuju Raudhah terasa seperti berjalan menuju pertemuan yang telah lama dinantikan. Ketika akhirnya saya bisa berdiri dan bersujud di karpet hijaunya, tangis sungguh nggak tertahankan lagi. Bukan tangis kesedihan, melainkan tangis haru dan rasa syukur yang meluap-luap. Di sanalah, saya merasa hati saya “dilepaskan” dari segala beban dunia, dan memilih untuk berdiam di taman surga itu.

Selain Raudhah, setiap momen di Madinah jadi pengikat rindu abadi untuk saya. Saat kita bisa menatap Kubah Hijau yang ikonik dari Masjid Nabawi itu serasa terapi jiwa. Warnanya yang sejuk seperti menenangkan segala kegelisahan.

Saya di halaman Mesjid Nabawi. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Saya sangat bersyukur saat di Madinah ini nyaris bisa full beribadah wajib. Sekali saja saya absen saat sholat Ashar, itu rasanya sudah bikin saya nyesel banget. Ya karena di tanah ini, rasanya hidup saya terhenti hanya untuk beribadah, menunggu dari satu waktu sholat ke sholat berikutnya.

Dan benar saat meninggalkan tempat ini, beneran bikin saya berbisik dalam hati, “Saya akan kembali lagi.” Saat ini, di tengah rutinitas harian di tanah air, saya sering mendapati diri saya mengingat kembali tentang kota Nabi Muhammad SAW ini. Hati saya yang tertinggal di Madinah kini menjadi kompas. Madinah selalu menunjuk pada satu arah: kebaikan, ketenangan, dan ketaatan.

Kerinduan ini menjadi sebuah motivasi. Motivasi untuk menjaga ibadah, memperbaiki diri, dan bekerja keras agar Allah SWT kembali mengundang raga ini untuk menyusul hati yang telah menetap di kota penuh berkah itu. Amin YRA.

Bersambung
Ari Kinoysan Wulandari

Umroh Istimewa (9): Jejak Sejarah Konstantinopel

Petunjuk arah tempat di areal Istana Sultan Ahmed (Mehmed). Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Saya break menulis cerita umroh ini, karena kok ya ngedrop cukup lama. Alhamdulillah kini sudah lumayan baik, jadi saya teruskan kembali tulisannya. Jangan berhenti membaca dan menengok blog pribadi saya yes 😀

Usai makan siang (oh ternyata nama restoran tempat kami makan kuliner khas Turki adalah Bukhara Resto). Siang itu di Istanbul terasa tenang, meski selalu ada denyut kehidupan yang nggak pernah benar-benar berhenti. Udara cukup bersahabat siang itu, nggak terlalu panas; masih ada sisa-sisa dingin hujan dari pagi harinya.

Universitas Marmara, Istanbul. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Dari restoran kami berjalan kaki menuju komplek istana Sultan Ahmed (Mehmed). Jalannya semua berbatu rapi. Ketika sudah mulai masuk areal bersejarah ini, ada penanda, petunjuk jalan. Di sisi yang lain, saya melihat identitas kampus: Universitas Marmara.

Udara sejuk menguar bercampur aroma roti simit dari pedagang yang baru membuka gerobak. Saya menarik napas, menatap jalan berbatu yang menurun sedikit, lalu mulai melangkah. Mengikuti teman-teman rombongan. Sebagian masih berfoto. Sebagian duduk-duduk lelah. Oh ya, habis makan biasanya memang ngantuk dan enaknya tidur. Sebagian berjalan saja menuju tempat wisatanya.

Saya dan Bu Yuli di jalur pedestrian menuju lokasi wisata komplek istana Sultan Ahmed (Mehmed). Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Jlur pedestrian yang saya ikuti dikelilingi bangunan-bangunan kuno bergaya Ottoman; jendela kayu dengan kusen gelap, kafe kecil dengan meja besi, dan toko suvenir yang penuh gantungan mata biru nazar. Setiap 50- an langkah, terdengar logat bahasa yang berbeda (sekurangnya yang bisa saya identifikasi ada bahasa): Inggris, Arab, Jepang, Perancis, Jerman, Belanda dan tentu saja Turki yang dilafalkan tegas tapi hangat.

Saat mendekat ke kawasan Sultanahmet, Masjid Biru menjulang di kejauhan, kubahnya berlapis-lapis seakan memanggil. Ada ramai orang berfoto di sini. Saya sempat terpesona dengan masjid cantik ini. Hingga diingatkan Gus Faqih mengikuti rombongan. Kalau nggak, mungkin saya lebih lama di tempat ini. Masjid, versi saya memang punya daya tarik tersendiri bagi saya pribadi. Setiap piknik, saya pasti berusaha mencari masjid. Bahkan di negeri-negeri komunis seperti Vietnam dan China; mesjid terasa seperti oase yang menyejukkan hati.❤

Areal Mesjid Biru yang sedang pada tahap renovasi. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Di areal Masjid Biru itu, versi saya ada satu bangunan yang tampak paling mendominasi cakrawala: Hagia Sophia, tempat yang terlihat megah, teduh, dan misterius dalam satu pandangan.

Begitu tiba di halaman depan Hagia Sophia, saya terdiam. Antrian mengular karena ini nanti orang mau sholat berjamaah. Dari luar, bangunan ini seperti buku sejarah raksasa yang belum selesai dibaca: minaret (mercusuar, menara; bahasa Arab) Ottoman berdiri tegak, tapi dinding-dinding berwarna merah kusam yang masih menyimpan sentuhan Bizantium.

Pelataran tempat wisata sebelum masuk ke areal mesjid besar di Hagia Sophia. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Antrean wisatawan semakin ramai, tapi suasananya tetap tenang. Cahaya matahari memantul lembut di kubah emas, membuatnya tampak menyala dari dalam.Masuk ke dalam Hagia Sophia terasa seperti memasuki dunia lain; karena ada beberapa hal.

Pertama, pilar marmer yang menjulang seperti hutan batu. Kedua, kaligrafi bundar berukuran raksasa tergantung anggun di dinding. Ketiga, mozaik emas Bizantium yang bersinar samar menjadi pengingat masa ketika tempat ini masih menjadi gereja kerajaan.

Saya di pintu masuk dan tempat wudu di mesjid agung Hagia Sophia. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Setiap kali ada yang melangkah di lantai marmernya; seolah terdengar gema halus di telinga saya, seolah ribuan kisah dari abad ke-6 hingga kini berbisik dalam diam yang dinamis.

Di satu sisi ruangan, saya melihat sinar jatuh dari deretan jendela kubah. Boleh jadi itu cahaya yang sama yang pernah menerangi pasukan Sultan Mehmed II saat pertama kali memasuki gereja ini pada 1453.

Saya, Bu Sida, Bu Yuli di areal dalam mesjid agung, Hagia Sophia. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Keluar dari Hagia Sophia, saya melangkah mengikuti kerumunan ke arah taman hijau. Sebenarnya tujuan berikutnya adalah Istana Topkapi. Namun karena kami hanya photostop di tempat ini, jadi saya tidak tahu isinya dan nggak ada pengalaman tentang ini. Saya cek harga tiket masuk di marketplace sekitar 1.2-1.5 juta IDR. Saya kira bukan hanya masalah pertimbangan harga kami nggak ke sini, tapi juga masalah waktu karena luasnya istana itu.

Jadi di sini saya catatkan dari berbagai referensi tentang Istana Topkapi. Tempat ini hanya 3–5 menit berjalan kaki dari lokasi saya berada. Iya, sebuah gerbang megah dengan ukiran emas tampak di depan: Bab-ı Hümayun, gerbang kekaisaran menuju Istana Topkapi, istana pertama Dinasti Ottoman setelah penaklukan Konstantinopel. Konon, kalau memasuki kompleks ini seperti memasuki dunia Sultan Mehmed Sang Penakluk: hening, luas, dan penuh simbol kekuasaan.

Sisi lain halaman Hagia Sophia, masih dalam proses renovasi; jadi nggak semua tempat boleh dimasuki wisatawan. Alhamdulillah, sampai juga saya di Turki. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Pada halaman pertama, pepohonan tua menaungi jalur setapak. Burung-burung camar melintas, sementara para pengunjung duduk di bangku taman. Pada halaman kedua, terdapat dapur istana dan ruang dewan. Aroma masa lalu terasa kuat, seakan suara para penasihat dan janissari (pasukan khusus yang dibentuk pada masa Kesultanan Ustmaniyyah abad 14 Masehi) masih bergema di menara keadilan.

Oh iya, untuk bisa menikmati wisata sejarah di areal ini, saya sarankan teman-teman sebelum datang ke sini, sudah punya gambaran tentang Sultan Ahmed 2 (Mehmed 2) dengan penaklukan Konstantinopel…. paling nggak bisa nyambung dengan alur perjalanan wisata yang saya ceritakan ini. Sayang siy memang di tour ini nggak ada guide lokalnya, jadi nggak bisa ditanya-tanya.

Saya dan Bu Yuli di areal taman, sisi lain, Hagia Sophia. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Termasuk ketika saya merasa ada “gap” dari gambaran sejarah dan apa yang saya lihat saat berada di lokasi. Ya, seperti bangunan sejarah lainnya; tentu ada yang rusak, dialihfungsikan, direhab, atau bahkan dihilangkan dari jejak sejarah. Bisa jadi yang ada di sini pun begitu; tapi saya nggak bisa menunjukkan atau menceritakan yang mana saja, karena nggak ada informan valid.

Catatan saya di bagian ini saya rujuk dari perjalanan di lokasi dan data-data yang saya catat dan tandai dari buku-buku, jurnal-jurnal, dan web yang membahas Konstantinopel. Bagian Harem pada saat ini adalah lorong-lorong sempit dengan ubin biru Iznik (ubin dari tembukar yang dibuat di Iznik, kota sebelah barat Anatolia, Turki) pintu lengkung emas, dan jendela kecil yang mengintip ke taman pribadi. Semuanya terasa akrab sekaligus misterius, seperti rahasia yang sengaja disembunyikan oleh kerajaan selama berabad-abad.

Saya, Bu Ening, Bu Atmudah, Bu Neli, Bu Nunu, Bu Yuli di halaman depan Hagia Sophia menuju pintu keluar. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Selanjutnya pada halaman ketiga dan keempat; merupakan ruang relik suci. Terasa hening sekali. Lalu di paviliun taman di halaman terakhir, angin Bosphorus membawa aroma laut yang segar. Dari sini, Istanbul tampak tenang dan damai; padahal di bawahnya tersimpan sejarah penaklukan, peperangan, dan kebangkitan yang memukau.

Saat matahari mulai condong ke barat, saya kembali berjalan perlahan ke luar, melewati pepohonan dan gerbang besar istana. Dari Hagia Sophia, ke tempat Sultan Mehmed memimpin kekaisarannya, hingga ke areal Universitas Marmara.

Perjalanan singkat ini bukan sekadar wisata.
Ini seperti menapaki garis waktu: dari Bizantium, ke Ottoman, hingga Istanbul modern yang kini menyatukan semuanya. Di kota ini, sejarah seolah nggak hanya diceritakan. Sejarah berabad ini bisa sampeyan sentuh, lihat, hirup, dan rasakan dengan langkah-langkah kaki dan gerak tangan sampeyan sendiri.

Bersambung
Ari Kinoysan Wulandari

Umroh Istimewa (8): No, Tambah 50 Ribu Lagi…

Sisi depan toko tempat beli oleh-oleh di Istanbul. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Di Turki mata uangnya Lira. Tapi kalau kamu piknik ke sini, mata uang apa aja diterima. USD, Riyal, IDR, debit Visa Mastercard bahkan kartu kredit di beberapa gerai. Belanja memang gampang dan lebih menyenangkan lagi “menghabiskan uang” 😀

Saat di Indonesia saya nggak menukar Lira karena mikir nggak belanja. Hanya tukar USD dan Riyal secukupnya. Beneran saya nggak ada niat belanja. Oleh-oleh umroh wes dikompliti di rumah diurus saudara saya. Biar nggak berat di bagasi dan saya pun nggak ribet gotong-gotong oleh-oleh.

Tenan, kalau sudah lelah dari perjalanan jauh itu, bawa diri sendiri bae bisa terasa berat. Apalagi masih kudu narik bawa koper berat. Weizh… saya siy ogah. Ada porter yang bisa kita minta bantuan; tapi pada titik-titik tertentu tetep kita sendiri yang harus beresin.

Mendengarkan kuliah bakul manisan asli Turki. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Setelah dari Bosphorus, kami mampir ke pusat oleh-oleh khas Turki. Komplit di sini untuk semua makanan tradisional dan khas yang wes diolah dan dikemas modern. Setipe dengan Kebun Kurma di Madinah, mereka juga menyediakan aneka tester gratis ambil bebas makan dan minum. Termasuk cokelat, manisan, aneka teh, dll.

Di sini tuh toko jualan kek-nya seperti kewajiban ada presentasi dulu. Ada orang yang jelasin tentang produk-produknya dengan rinci detail, lalu memberi tester. Wes mengadopsi cara dagang China banget, terutama di areal wisata. Bahkan di China ada program wisata shopping. Ya piknik, tapi lebih fokus ke belanja produk dari satu perusahaan ke perusahaan lainnya. Pokmen masuk toko/mall/perusahaan wisman kudu dengerin kuliah dulu; dan biasanya yang dipajang tuh ganteng-ganteng atau cantik-cantik 😂 Setelah itu kita kudu belanja. Kalau sampeyan nggak belanja, haizh bisa dikejar-kejar sampai beli pokoknya 🤣

Di Indonesia? Kayaknya sudah hampir semua tempat pariwisata Indonesia wes saya jelajahi; baik dengan trip mandiri, private trip, atau open trip, tapi belum ada aturan model begini. Hanya beberapa saja yang melakukan dan itu kebijakan internal perusahaan mereka. Di Bali, beberapa toko yang sudah begitu. Di Magelang, justru beberapa UMKM yang begitu. Wisatawan disambut, dikuliahi produk produk dan cara produksinya termasuk masuk ke unit-unit pembuatannya, lalu ke showroom jualan produk mereka. Di Lombok ada beberapa yang begitu.

Niat nggak belanja boleh aja, tapi perempuan pasti tetap beli-beli. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Daerah-daerah lainnya di Indonesia kok belum dan pemerintah kayaknya juga tidak (cmiiw) mewajibkan model begini. Padahal ini jelas presentadi begitu bisa mendongkrak omzet penjualan. Karena kalau kita paham manfaat produknya, kecenderungan beli lebih besar.

Di sini saya ada membeli beberapa jajanan dan souvenir untuk kepentingan pribadi. Pas bayar itu saya tahu harga manisannya 388 rb IDR. Jadi saya kasih uang 350 rb IDR. Kasirnya bilang, “No, tambah 50 rb lagi.” Kebetulan saat itu uang saya 50 ribuan.

Saya ngikik, lah ini kasir nya kok mudheng hitung duit. Saya pun kasi 50 rb lagi dan sampeyan tahu, kembalian 12 rb itu berupa recehan 2 ribuan sebanyak 6 lembar. Biyu… Sereceh itu pun mereka punya uang kita. Ketahuan kan kalau pasti banyak turisman Indonesia yang belanja di sini dengan mata uang IDR 😁😆

Setelah itu kami makan siang. Sik lali saya nama restonya apa ya? Itu di dekat areal perbelanjaan oleh-oleh, tapi makanannya khas Turki banget. Ya nanti kalau ada fotonya saya sebut namanya.

Saya, Bu Yuli, Pak Bambang, Bu Ening; saat makan siang di sekitaran tempat belanja oleh-oleh. Saya lupa nama tempatnya dan jangan tanya nama menu makanannya, ora ngerti 😁Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Usai makan… Cuuuz… Kami jalan ke areal Sultan Mehmed, areal Hagia Sophia. Tempat wisata ikonik di Turki. Pokmen kalau sampeyan ke sini, itu formasi atau struktur tempat dan bangunannya setipe dengan areal Malioboro ke arah istana Jogja. Inget-inget areal pariwisata seputar titik 0 km Jogja wes. Ada keraton/istana, mesjid, kaki lima (Malioboro), museum, dan taman-taman😁😅

Tenan, model atau struktur tata letaknya ya mirip-mirip gitulah. Kalau kita rujuk sejarah tata kota di Indonesia, jelas warisan kolonial (Belanda, Eropa). Nah, Turki ini kiblatnya yo Eropa, meskipun sebagian yo Asia kek kita (tapi mereka lebih senang kalau “dianggap, diakui” sebagai bagian Eropa. Kalau ada komparasi sejarah bangunan, mungkin lebih banyak persamaannya antara Istanbul dengan Jogja daripada perbedaannya.

Lha wong yang jualan jagung rebus sama galundeng (roti goreng) pun ada di sini 😁😆 Saya beli jajanan itu? Jelas enggak. Rasanya jagung rebus, westalah di mana-mana podho bae. Daripada makan jagung rebus jauh-jauh ke Turki, ke rumah saya bae bisa taksuguh munyukan komplet (kacang, kedelai, jagung, ubi, ketela, pisang —semua direbus) bisa makan sakkemenge, sekenyangnya.😁 Belum jalan mider keliling, saya merasa Istanbul nggak asing-asing atau beda banget dari Jogja🤣

Bersambung

Ari Kinoysan Wulandari

Umroh Istimewa (7): Iki Bosphorus atau Mahakam Siy?

Salah satu sisi Bosphorus. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Hujan turun lumayan deras saat kami meninggalkan Best Fashion. Tujuan kami selanjutnya ke Bosphorus. Salah satu ikonik pariwisata di Turki. Kami akan naik kapal keliling untuk melihat keindahan salah satu tempat unik di dunia ini. Karena separoh wilayahnya sangat Asia, dan separoh lainnya sangat Eropa; tapi menyatu dalam satu laut di negara yang sama: Turki.

Karena hujan, jalan-jalan di sini terasa sedikit berbeda. Kudu payungan, jaketan, bahkan banyak orang di lokasi perahu atau kapal yang krubut-krubut pake jas hujan. Saya pun ke sini dengan jaketan dan payungan. Kalau masih bulan November di sini belum turun salju, tapi udara sudah lumayan dingin dan sering turun hujan.

Ada gunanya juga saya bawa payung. Areal kapal sandar, Bosphorus. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Nanti kalau Desember akhir, salju-salju cantik bisa dilihat di banyak tempat di wilayah ini. Konon bagi warga di berbagai negara empat musim, kalau menyaksikan salju pertama kali turun kudu cepet-cepetan make a wish; bikin harapan, doa; karena katanya doa dan harapan itu lebih cepat terkabul atau terwujudnya. Wallahu’alam.

Naik kapal, karena hujan cukup riuh kami nggak bisa di atas dek yang langsung outdoor. Di atas kapal yo boleh siy, tapi jelas kehujanan. Dan itu bukan pilihan yang disarankan untuk trip panjang begini. Saya duduk-duduk saja di sisi jendela kapal dengan Bu Yuli menikmati pemandangan.

Saya dengan Bu Yuli. Di dalam kapal untuk keliling Bosphorus. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Di seberang sisi kanan saya ada Mas Donni dan Mas Indra. Entah mereka berdua heboh cerita apa dengan Mas Issam, si fotografer di Turki sampai ketawa lepas begitu. Saya lebih fokus ke pemandangan di luar jendela kapal dan tentu nggak nyimak obrolan mereka. Saya juga nggak terlalu perhatian pada aktivitas orang-orang saat itu. Kayaknya ya biasa saja. Foto-foto, makan-makan, ngobrol, ngelamun, balesin WA, dll.

Di sini ada dijual makanan minuman aneka macam. Popmie pun ada 😁😅 Yungalaah, jauh-jauh ke Turki kok makan popmie 50 rb. Di Jogja mung 5 rb wes dimasakin. Sama seperti saat saya ngetawain temen-temen deket yang ke Eropa Barat non biro wisata. Lha jauh-jauh ke Eropa kok mung makan ayam McD berulang, mbok di rumah bae sepuasnya. Katanya takut nggak halal karena semua identitas makanan pake bahasa yang nggak mereka kenal 😄😁

Lepas betul ketawa mereka. Mas Donni, Mas Indra, Mas Issam (fotografer di Turki). Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Kalau versi saya siy, dolan itu ya termasuk menikmati seluruh makanan lokalnya (yang halal). Kalau perlu membaur dengan kehidupan orang-orang setempat; agar kenangan dan pengalamanmu tentang tempat asing itu lebih berwarna.

Hal kek gitu biasanya yang bikin piknik atau private trip saya jadi lama. Apalagi kalau merasa sedang banyak uang dan partner saya itu sahabat yang juga doyan dolan. Klop sudah. Mblayang suwe gakpapa. Uang habis ya nanti kita cari lagi 😁🙏 Menurut saya pengalaman itu jauh lebih berharga daripada kepemilikan atas barang-barang.

Orang-orang sibuk dengan aktivitas masing-masing saat di dalam kapal. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Pengalaman hidup, ilmu dan keahlian, mindset positif, karakter baik, kemampuan beradaptasi dan berkomunikasi dengan baik; itu adalah hal-hal yang melekat pada setiap personal, yang mo diapakan juga tetap nggak bisa dicuri orang lain. Dicontoh, direduplikasi bisa, tapi diambil dicuri, jelas nggak mungkin.

Beda dengan mobil bagus, produk produk branded dll barang bisa dengan mudah diambil atau dicuri orang. Bisa rusak, bisa terbakar, hancur kena bencana, dll. Jadi pilih-pilih dengan apa yang hendak kamu klaim sebagai milikmu.

Oh ya, soal popmie dan McD tadi bukan berarti nggak boleh makan yang sudah biasa lho ya. Lha wong di Madinah bae saya yo jajan popmie kok. Di Jakarta transit malah makan indomie rebus dengan Mas Donnie dan Mas Indra. Tapi ya itu karena pingin dan rindu aja, bukan menu harian. Trip umroh kali ini embuh saya kok nggak minat beli McD atau KFC 😁

Sisi lain view Bosphorus. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Di kapal ini juga ada layanan foto langsung jadi. Ning larang iki. Masa 3 foto 5R aja 350 rb. Ada bingkai bagus siy, jadi kelihatan mewah. Saya tawar 100 rb gak boleh, ya wassalam wes. Saya pikir fotonya saja, rasah dibingkai berat gitu nambahin beban bagasi bae😆😅

Pokoknya di Bosphorus ini berasanya saya kek tour Sungai Mahakam dari Samarinda sampai Kutai Kartanegara pp (silakan sampeyan baca catatan saya DSBK dari awal sampai rampung). Ada jembatannya pula di tengah-tengah pelayaran saat di Bosphorus ini.

Beuuuh, jadi berasa persis, mung Mahakam nggak ada bangunan super kuno dan megah kek di Bosphorus; tapi Mahakam dengan bangunan rumah-rumah panggung berdiri di atas air juga nggak kalah eksotisnya. Ditambah kapal kapal batu bara dan pasir besi yang hilir mudik. Mahakam air tawar. Bosphorus air laut.

Jembatan melintas di atas laut Bosphorus. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Foto-foto sakkemengmu sakbosenmu di sini. Kanan kiri semua oke viewnya. Ini kalau matahari cerah pasti bagus banget di kamera. Cuman karena hari hujan, jadi banyak warna abu-abu. Yo weslah terima saja dengan syukur. Saya toh juga tetep ambil foto-foto sesuka, semampunya.

Eh beneran lho, kalau kamu jago motret, pasti ada ratusan foto yang bisa kamu jual via aplikasi online. Setiap sudut Bosphorus ini memancarkan kekuatan sejarah dan tradisi yang kental. Burung-burung terbang rendah begitu cantik. Rintik hujan dan mendung pekat, seolah nggak menghalangi mereka menjemput rezekinya masing-masing.

Burung-burung yang mengajarkan kita bahwa rezeki sudah dijamin oleh sang Pencipta. Mereka berangkat dengan perut lapar di pagi hari, pulang dengan perut kenyang di sore hari. Tanpa menyimpan makanan, mengingatkan kita ojo serakah. Keperluan kita dalam hidup ini sebenarnya nggak banyak-banyak amat kok.😄

Burung-burung terbang rendah di areal Bosphorus. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Situasi di kapal cukup adem, tapi karena saya wes jaketan ya hangat. Temaram cuaca bikin hati rindu sinar mentari yang benderang. Belum belum saya wes rindu Jogja yang hangat sepanjang tahun.

Kami turun dari kapal masih lanjut perjalanan berikutnya. Saya agak lupa dari sini tuh terus ke mana ya? Nanti saya lihat lagi foto-fotonya. Trip panjang bikin ingatan saya terdistraksi; apalagi setelah mulai beribetan dengan teriakan deadline akhir tahun 😁 Dan saya bukan jenis orang yang terniyat mencatat agenda piknik dengan tertib saat berada di lapangan.

Bersambung
Ari Kinoysan Wulandari