Ilmu Parenting, Buku Istimewa

Buku parenting versi Dad dan versi Mom. Pesan buku wa.me/6281380001149.

Sekira bulan Juli 2024, saya dihubungi Mbak Ana apakah bisa menggarap buku parenting. Lalu saya tanya narsum nya siapa. Mbak Verlita dan Mas Ivan. Dengan menjelaskan sedikit latar belakang. Nggak banyak tanya, saya bilang oke.

Mulailah kami bekerja. Saya menyusun kerangka acuan buku secara keseluruhan dan rinci per bab. Kemudian membahas detail dengan Mbak Ana sampai oke. Baru deh kami kirim ke Mbak Verlita dan Mas Ivan. Oke ada beberapa perbaikan dan mulailah agenda berikutnya.

Wawancara via zoom yang lebih sering malam-malam karena kesibukan narsum. Saya siy karena biasa kerja di Jakarta ya biasa aja. Untunglah Mbak Ana dan Tim Andi pun bisa menyesuaikan jam malam, yang jelas di luar jam kerja umum Jogja, 8-16 tiap hari. Dan cenderungnya no lembur lembur😂

Wawancara adalah proses yang lama. Selain karena kesibukan narsum, jadwal saya pun sering bentrok. Bikin urusan wawancara yang mestinya kelar sebulan, jadi molor panjang sampai di bulan November.

Untunglah saya ki terbiasa kerja sedikit demi sedikit. Jadi dari setiap wawancara yang sudah ada, saya minta bantuan asisten untuk mentransripsikan dan menandai point point penting. Dari sana saya mulai mengolah, menata, mengatur, memparafrasekan semua hasil wawancara sesuai standar penulisan buku.

Hal yang agak berat bagi saya mencari rujukan yang sesuai dengan materi yang sedang dibicarakan. Tapi ya sedikit demi sedikit ketemu juga. Proses yang harus dinikmati.

Parenting versi Dad karya Ivan Saba. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Oke, Bab 1 pun meluncur ke tangan Mbak Ana. Dan salah 😄 Maksudnya saya menulis dengan versi buku biografi, tapi yang diminta itu versi buku referensi, buku ilmu dan pengetahuan. Saya langsung sadar dan bilang akan menulis ulang Bab 1.

Setelah beres saya kirimkan lagi dan begitu dibilang oke, saya teruskan menggarap bab bab berikutnya sambil menunggu jadwal wawancara materi. Sekitar bulan November wes rampungan. Desember koreksi-koreksi dari narsum.

Saya meminta Mbak Verlita dan Mas Ivan untuk mencatat saja apa yang tidak cocok dan mau diganti seperti apa. Mas Ivan cukup cepat merespon. Menandai dan mencatat koreksi dan perbaikannya apa. Mbak Verlita, embuh belum dikirim-kirim 😁 Saya tagih ke Mbak Ana, belum juga katanya. Lho piye to.

Pas wes jelang liburan Nataru itu Mbak Verlita bilang mau ketemu biar koreksian langsung beres. Penerbit Andi dan tentu mayoritas perusahaan ya sedang libur panjang. Saya di Jogja, bisa jumpa Mbak Verlita dan Mas Ivan. Tapi saya emoh kalau nggak ada Tim Penerbit, kalau eyel-eyelan nggak ada penengahnya. Mas Yezky sang owner meyakinkan saya gak apa-apa karena revisi minor.

Saya bersikukuh tetap harus ada orang penerbit, karena revisi minor bagi orang non penulis, itu bisa jadi bukan revisi minor bagi penulis. Misalnya dalam cerita dari awal ditulis neneknya masih hidup; ternyata neneknya itu sudah mati.

Bagi orang non penulis, ya gampang aja kan tinggal mengganti kalimat dengan neneknya sudah mati. Tapi bagi penulis dengan naskah yang sudah jadi, itu berartti mengganti semua elemen di setiap halaman yang ada unsur cerita berkaitan dengan nenek masih hidup dan menyesuaikan kembali. Kalau halaman jumlahnya 150 ya wes jelas bukan revisi minor lagi 😁

Syukurlah pas wes disepakati jumpa di Jogja di tengah musim Nataru, Mbak Ana dan Tim Andi bisa mengawal. Mbak Verlita dan Mas Ivan orang yang tertib, tepat waktu. Janjian jam 14 an, jam 13 an kurang mereka sudah di hotel, tapi belum bisa masuk karena kamar belum ready.

Parenting versi Mom karya Verlita Evelyn. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Liburan Nataru, sulit cari kamar kosong di Jogja. Kamar itu tersedia tapi harus nunggu tamu sebelumnya check out, baru bisa dibersihkan, dan setelah itu barulah bisa dipakai tamu berikutnya. Begitulah lebih kurang yang dialami Mbak Verlita dan keluarganya.

Saya wes datang jam 13.30 an. Jadi nunggu mereka siap dulu. Dan lebih kurang jam 14.30 saya dengan Mbak Verlita wes ngurusi koreksi. Mbak Ana dan Tim Andi yo wes datang.

Beuuh, lama kami diskusi koreksi satu naskah buku. Sampai jam 20 an kami baru beres urusan satu buku. Njur makan malam. Saya pulang sekira jam 22 an. Besoknya kami mulai kerja lagi jam 19 an sampai jam 00.30 an. Biyuuu… ya begitulah kalau kerja menulis sedang marathon. Jangan dikira enteng-enteng bae. 😁

Setelah itu Tim Penerbit yang menyesuaikan perbaikan, melakukan setting ulang, mendesain lagi bagian cover dll urusan buku; sampai dummy buku pun siap. Dan horeee…. alhamdulillah, bukunya pun segera bisa sampeyan semua nikmati. Proses parenting berdasarkan pengalaman riil Verlita Evelyn dan Ivan Saba.

Harga nya sungguh ringan dibandingkan dengan pengalaman berharga mengurusi “rumah tangga” dengan “anak-anak” di era digital yang penuh tantangan. Bahwa zaman selalu berubah, anak-anak berubah, orang tua juga harus berubah. Demi kebaikan dan masa depan anak-anak penerus masa depan bangsa.

Monggo Teman-teman yang mau membaca lebih awal, bisa pesan langsung bukunya ke saya via wa.me/6281380001149 atau langsung ke andipublisher.com

Maturnuwun dan semoga menginspirasi serta memotivasi semua orang tua di luar sana untuk tumbuh berkembang bersama anak-anak tercinta dengan kebahagiaan yang utuh.

Ari Kinoysan Wulandari

Oh, TPDA Saya….

Gambar hanya sebagai ilustrasi. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Salah satu konsekuensi kalau jadi dosen itu ya belajar terus, sekolah terus, update ilmu terus. Dan itulah yang harus saya alami begitu saya memutuskan bergabung menetap sebagai dosen UPY. Setiap langkah kemajuan menuntut proses belajar… yang kadang yo njelehi juga.

Masuk jadi dosen di paruh 2021, saya wes diminta ngurus jafung 2023 dan rilis keluar di tahun yang sama. Alhamdulillah. Njur diminta ngurus sertifikasi dosen atau biasa disebut serdos. Yungalaah, makanan jenis apalagi itu.

Syarat dasarnya sertifikat Pekerti, TKBI (sebangsa Toefl, Acept, dll) dan TKDA (sejenis TPA, PaPS, dll). Biyuuu… saya wes langsung bayar daftar pelatihan pekerti, selama 2 minggu online full Senin s/d Jumat jam 07.00 s/d 17.00 WIB nggak boleh blank, ngilang kamera dipanggilin satu per satu. Sabtu Minggu nggo bikin tugas tugas.

Bayare lupa 2 atau 2.5 juta per program. Wes bikin saya klenger bae…. ampun Gusti, ijazah S3 saya serasa nggak ada gunanya kek gitu…. njur saya break karena gaweyan administratif kampus yang ngujubileh banyaknya.

Saya pikir ya wes, alon alon waton kelakon bae. Rada selow, saya daftar TKBI. Saya rada pesimis karena teman-teman yang sudah ikut, banyak yang bolak-balik tes baru lulus. Maklum, bahasa Inggris bukan bahasa kita. Weeh… alhamdulillah saya kok sekali tes njur langsung gol, lolos. 400 an rb saja duit untuk daftarnya.

Sampailah waktunya TPDA. Biyuuu, bikin mumet tenan. Terutama bagian tes gambar-gambar kubus dan dimensi tiga itu. Ambyaar… ya wes gapapa. Saya yo tetap daftar dan ikut tes. Tiap tes lebih kurang bayar 400 an rb. Dan sampai yang ke-4 kali skor saya mung kurang 3 s/d 5. Beuuuh nggemesin tenan. Saya wes hampir nyerah. Karena skor yang bikin kurang itu ya gambar-gambar yang dibolak-balik, diputar-putar gitu.

Akhirnya saya cari mentor. Saya minta dia ngajarin gimana memecahkan masalah saya. Tentu saya wes daftar lagi ujian TPDA yang ke-5. Dapat hari Kamis. Jadi Rabu seharian saya sinau mung bagian gambar-gambar. Karena verbal dan aritmatika itu terhitung cincay, gampang lah versi saya. Mo semua nya bener, kalau tes bagian ketiga figural jebluk, ya rerata nya jadi nggak memenuhi syarat minimal.

Karena wes sinau tenanan, ya wes lebih dari 3x, saya terima pasrah bae, sebisanya. Kamis saya mangkat ujian TPDA. Begitu selesai, saya nggak lihat skor, malah ngurusin tas yang harus diperbaiki dan ATM yang nggak bisa dipakai. Njur tidur. Karepmu. Lulus atau enggaknya saya nggak mikir. Toh kalau belum lulus, yo tetep kudu ujian lagi sampai lulus.

Sesudah bangun tidur, beberes, mandi dll, saya baru inget ngecek skor TPDA (mestinya abiz ujian udah bisa) cuman saya malez kecewa di jalan, jadi nggak saya buka dulu. Saya lihat skor, njur nelpon penyelenggara berapa skor minimal serdos. Pas dijawab, saya ragu, khawatir kalau salah lihat. Saya kirim forward dan tanya lagi wes lulus belum. Dijawab sudah… alhamdulillah 😀😁

Ya, segala sesuatu itu memang ada ilmunya, ada gurunya. Di tangan guru yang tepat, soal sulit pun jadi mudah. Nggak bisa awuran. Alhamdulillah saya kok masih sempat nyadar tentang itu. 5x tes TPDA, 2x saya ngeblank karena sakit pas ujian. Jadi praktis yang tenanan tes 3x, tapi mbayar 5x… Jelas mbayar dhewe ora diijoli kampus (termasuk biaya Pekerti dan TKBI), tapi kalau nggak cepet ngurus serdos diopyaki kampus juga😂

Kalau dari awal saya cepet cari mentor, pasti nggak sampai tes TPDA 5x 😁😂 Ya kadang-kadang, dengar kata belajar bae wes bikin saya malaz duluan. Terus gitu, belajar ki ya butuh waktu dan usaha tersendiri untuk berhasil.

Wes alhamdulillah. Ini satu tahap lagi beres. Tinggal syarat kruncilan lainnya yang masih sekeranjang banyaknya. Ya Gusti… kenapa jadi dosen begitu banyak urusan administratif yang bikin… hiiih… apalagi ini😁😂

Jadi, ya kudune gaji dosen itu sak dos alias banyak, ora malah gajinya sak sen alias cuilik biangeeet😁😂

Ari Kinoysan Wulandari

Sensasi Benjol 🤣

Gambar hanya sebagai ilustrasi. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.


Produk-produk atau barang-barang yang dijual online itu bisa terlihat bagus-bagus dan keren-keren. Bikin kita laper mata, gatal tangan pingin beli semuanya. Terus gitu proses benjol (belanja online) itu kan tinggal pilih-pilih, transfer, debit, QRIS, atau ngutang dulu juga bisa (pake kartu kredit, paylater, dll model perpanjangan utang), barang langsung cuuz sampai rumah. Enak betul 😍🙏 Ada yang COD pula, barang datang barulah kita bayar.
.
Ntar yang bayar ya biar suami saja 🤣😎 Jadi, ngeh deh kenapa ada istri-istri, ibu-ibu yang di rumah pun sampe gila rajin banget benjol🤣 Sensasinya itu ternyata bikin orang happy dan (bisa bikin) kecanduan atau ketagihan. Apalagi kalau ngerasa dapat diskonan, gratis ongkir, beli 1 dapat 3, beli 2 dapat 5… Biyuu 😄

Eh, btw ini bukan saya lho 😅😄 Kebutuhan saya belum banyak dan toko sini situ dekat rumah masih ada semua barang keperluan saya. Cuman ya benjol pun lumayan sering, kalau diitung-itung jatuhnya lebih murah. Mana benjolnya bisa sambil rebahan pula. Gampang banget. Tapi ya masih seperlunya aja.
.
Pas scrolling sering banget saya masuk-masukin barang ini itu ke keranjang belanja. Njur kesela deadline atau tugas kerjaan, langsung saya tinggal. Eh, pas ditengok lagi… lah barangnya sudah abis, atau program promonya sudah ilang, udah nggak free ongkir, dll yang intinya kudu bayar penuh plus ongkir, plus admin, plus pajak… weslah, saya langsung belok kiri, nggak jadi beli. Haha… 😂
.
Lalu saya mikir, itu saya masukin barang ke keranjang belanja niatnya apaan ya? Beneran butuh atau ikut laper mata gegara program promo-promo? Atau rindu sensasi benjol aza?
.
Apalagi kalau pas di rumah denger teriakan kang paket, penasaran dan kepo; ntar barangnya seindah “fotonya” atau enggak? Atau malah “barang ajaib” yang nggak nyambung sama deskripsi produk yang kita beli. Aneka rasa lah. Kapusan, kecewa, barang nggak dikirim-kirim njur dibatalin sesukanya, barang nggak sesuai foto, dll. Entahlah.
.
Biar pun kek gitu, ya tetep bae suka benjol. Pas milih barang via benjol, ternyata bisa ngilangin stres. Masalah ntar jadi beli atau nggak ya tergantung duitnya 😂😂
.
Ari Kinoysan Wulandari

Kalau Kamu Kirim Naskah ke Penerbit

Gambar hanya sebagai ilustrasi. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Untuk penulis pemula, biasanya setelah menyelesaikan naskahnya, mereka sering merasa kebingungan bagaimana cara mengirim naskah ke penerbit. Padahal sekarang sudah banyak akses dan jauh lebih mudah mengenali penerbit. Sekurangnya, buka-bukalah web dan sosmednya. Paling enggak, pasti ketemu model-model naskah yang sudah dipublikasikan dan diperjualbelikan.

Berikut ini adalah uraian singkat agar naskah bisa sampai ke tangan penerbit dengan aman dan tidak disalahgunakan.

1. Bila sampeyan sama sekali baru dan hendak mengirimkan naskah ke penerbit, siapkan print out NASKAH yang disertai dengan SINOPSIS, kalau bisa dilengkapi PROPOSAL NASKAH, dan jangan lupa BIODATA singkat dilengkapi alamat dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

Ini akan mempermudah pihak penerbit membaca naskah sampeyan, karena mereka nggak perlu ngeprint. Kalau mereka mengizinkan untuk mengirim naskah via email dengan softcopy, ya lakukan saja. Lebih mudah, praktis, nggak banyak biaya.

2. Bila sampeyan mengirimkan naskah lewat pos atau ekspedisi pengiriman, pastikan sampeyan mengisi semua daftar kolom isian untuk pengirim dan penerima. Hal ini untuk melacak bila terjadi sesuatu dengan naskah anda. Misalnya, naskah nggak sampai ke tujuan.

3. Bila sampeyan hendak menyerahkan NASKAH printout langsung pada penerbit, mintalah tanda bukti penyerahan naskah dan tanyakan kepada siapa nantinya mengurus follow up naskah tersebut dan berapa lama akan dapat kabar. Biasanya lebih kurang 3-6 bulan. Makin besar penerbit yang anda tuju, makin lama pula waktu untuk menerima kabar diterima atau ditolak.

Ini bisa lama banget lho. Naskah saya ada yang antrian sampai tujuh atau delapan tahun, sampai saya pun wes lupa. Tapi kalau naskah timeless siy biasanya aman, mo terbit kapan aja tetap “baru”.

4. Bagi yang sudah terbiasa menulis atau bekerja sama dengan penerbit tentu tidak masalah untuk mengirimkan via email karena cepat dan mudah, dan lebih praktis. Kemungkinan untuk disalahgunakan juga kecil karena sudah saling kenal.

5. Kalau sampeyan sudah mengirimkan naskah, selama tiga bulan tidak ada kabar, tanyakan tentang naskah tersebut. Ada penerbit yang kadang-kadang sudah tahu jawaban penolakan, tapi karena banyaknya pengiriman surat penolakan itu biasanya dibarengkan dengan penolakan naskah-naskah lainnya.

6. Apakah etis menyerahkan atau mengirimkan satu naskah ke beberapa penerbit yang berbeda-beda dalam satu waktu? Jawabannya, bisa beragam.

Menurut saya pribadi, tidak etis. Lebih baik mengirimkan naskah ke satu penerbit lebih dulu baru ketika ditolak, anda bisa tawarkan ke penerbit lain.

Lebih ribet juga kalau misalnya anda menyerahkan kedua penerbit sekaligus, beruntung kalau keduanya menolak, anda bisa menawarkan ke penerbit yang lain; bagaimana kalau keduanya berniat menerbitkan? Bagaimana anda akan bicara kepada keduanya? Tidak mudah kan?

7. Apakah benar ada penyalahgunaan naskah yang dikirim dikatakan tidak diterbitkan lalu diolah, diubah sana sini lalu diterbitkan dengan nama lain? Selama ini, kasus seperti itu jarang terjadi. Karena menulis itu sulit, mengubah segala sesuatu juga sulit. Waspada dan hati-hati memang perlu, tapi tidak perlu takut.

8. Ke mana dikirimkan? Ada banyak penerbit di Indonesia, anda bisa mencari sendiri alamat-alamat penerbit dan melihat jenis buku terbitannya di toko-toko buku, untuk melihat apakah jenis tulisan anda cocok untuk anda kirimkan ke penerbit tersebut. Cek di buku JADI PENULIS FIKSI? GAMPANG KOK!

Gampang saja toh ternyata untuk mengirimkan naskah? Percayalah, urusan teknis lebih mudah daripada urusan menyelesaikan naskah 🙂

    Selamat menulis dan mengirimkan naskah.
    Semoga bermanfaat.

    Ari Kinoysan Wulandari

    Adaptasi Naskah

    Prinsip-Prinsip Penyuntingan Naskah. Pesan buku wa.me/6281380001149. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

    Adaptasi adalah hal yang biasa dalam dunia penulisan dan industri kreatif secara umum. Apa saja yang perlu kita perhatikan berkaitan dengan adaptasi?

    1. Adaptasi dan menuliskan kembali itu boleh. Tetapi, yang mesti dihindari adalah menjiplak. Setiap kali kita menjiplak, maka Allah akan mengurangi satu pikiran kreatif kita. Makin sering menjiplak, makin bodohlah diri kita.

    2. Aturan adaptasi lebih kurang seperti ini:
    a. Ide boleh sama, bisa dimiliki siapa saja.
    b. Seluruh penulisan harus beda.
    c. Karakter harus dimodifikasi.
    d. Dialog juga tidak boleh sama.
    e. Setting harus berbeda.

      Intinya: adaptasi untuk cerita adalah pada batasan ide yang sama, tetapi dalam segala hal dari tata cara, sudut pandang, model, karakter harus beda.

      3. Ada yang memberi usulan adaptasi dengan cerita mirip-mirip boleh, tetapi batasannya 10 persen saja dari total seluruh naskah yang diadaptasi.

      4. Ini berbeda dengan urusan pembelian copyright, lisensi. Banyak pula yang memang kontrak kerja samanya harus dialihkan dengan model (versi) Indonesia saja tanpa boleh mengganti apa pun, termasuk satu kata dialog sekali pun.

      5. Kalau adaptasi saja bebas, boleh dalam batas-batas wajar. Tidak ada yang klaim. Permasalahan klaim mengklaim dan gugat menggugat ini biasanya kalau karya adaptasi BOOMING, maka yang terjadi pastilah heboh sampai seret-seretan ke pengadilan segala karena duitnya memang BANYAK.

      6. Kalau adaptasinya hanya ide yang sama, sumber tak perlu disebutkan. Tetapi kalau banyak, ya disebutkan. Ada etika tak tertulis untuk memberi surat pemberitahuan pada PENULIS, PENERBIT. Tidak dipungut bayaran kok. Hanya untuk sopan santun saja.

      7. Karya adaptasi sering juga sebagai PERSETUJUAN, BANTAHAN, SANGGAHAN, PENYEMPURNAAN suatu karya sebelumnya. Misalnya, Umar Kayam menulis karya legendaris PARA PRIYAYI itu sebetulnya modifikasi dan bantahan untuk karya CLIFFORD GERTZ yang bicara soal Priyayi, Santri Abangan, dan Kalangan Petani. Dan, tidak ada seorang pun yang mengklaim Para Priyayi itu sebagai bantahan untuk karya Gertz.

      8. Menjiplak persis biasanya kalau untuk diri sendiri tidak ada yang klaim. Tetapi kalau sudah urusan komersial, diperdagangkan, disiarkan, diakui sebagai karya penjiplak; baru JADI MASALAH.

      9. Sebenarnya, kalau mau curang sih bisa saja, asal tidak ketahuan. Tetapi kalau ketahuan, — hari serba internet serba canggih begini, apa yang tidak ketahuan? — SIAP-SIAP saja. Itu MEMATIKAN MASA DEPAN sendiri.

      10. Intinya, teman-teman, jangan takut MEMBUAT KARYA ORISINIL. Yang bagus itu tidak harus yang berbau luar negeri kok. Ayolah, kunjungi daerah-daerah Indonesia, berjalanlah. Pasti akan tahu, kita ini lebih kaya dari negeri-negeri jiran di sekitar kita. Mari ciptakan kiblat, bukan berkiblat kepada negeri orang.

        Happy Writing, Be A Good Writer 🙂

        Ari Kinoysan Wulandari
        Griya Kinoysan University

        Jurnal Predator dan Sedekah Pagi

        Gambar hanya sebagai ilustrasi. Diambil semena-mena dari internet. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

        Tadi malam sebelum tidur, saya sudah ngelist apa yang mau saya kerjakan hari ini. Penulisan. Revisi naskah. Pembayaran. Ketemu orang. Mengirimkan pakaian sangat layak pakai (saya wes gak bisa pakai lagi semata gegara tambah gemoy🤣).

        Pagi-pagi saya wes beberes, berbenah. Menulis beberapa yang harus dibereskan. Lalu beralih ke baju-baju yang mau saya sedekahkan, saya masukkan dus sampai penuh. RT tempat saya tinggal sedang ada acara sambut Ramadan; pengumpulan macam-macam untuk baksos (pakaian dll piranti rumah tangga layak pakai, sembako, uang, dll keperluan) dari awal Januari s/d 7 Februari nanti.

        Saya ya wes ikut serta ngumpulin baju itu 2x sebelumnya, ya lebih kurang 2 dus. Sithik-sithik ben gak capek bongkar lemari. Beneran malah sama bebersih lemari baju yang embuh kok rasanya nggak muat teruz 🤣 Hari ini pun demikian. Wes cukup penuh dusnya, langsung saya kirim ke tempat pengumpulan.

        Nginguk kulkas, inget ada nasi tadi malam. Saya ambil lagi untuk dikasih ke ayam (tetangga). Ayam-ayam di sini yo pinter-pinter. Kalau nasi atau makanan basi yang dikasih, mereka tuh nggak mau makan. Jadi kalau ngasih nasi ya kudu yang sehat, masih layak makan. Saya (kadang) malez bae manasin lagi, lebih memilih masak nasi baru. Dan ayam-ayam itulah penampungnya😂

        Saya sempat inguk-inguk sosmed. Beuuh, iklan piknik dari mana-mana muncul 😆😅 Saya sampai mikir, mungkin enak betul ya kalau duit nggak ada serinya tinggal ambil, transfer, debit, nggak pernah habis bisa untuk piknik bebas sepuasnya ke 200-an negara dengan fasilitas dan kondisi terbaik 😃🤩 Hadeuh, suka banget siy saya mimpi di siang bolong 🙈

        Aiih, lupakan sejenak urusan piknik yang belum ada duitnya😅😂 Saya pun menelepon CS bank untuk menanyakan beberapa hal berkaitan dengan pembayaran publikasi artikel di jurnal internasional. Terlebih karena pembayaran pakai USD, beda benua, pasti ada banyak syarat dan ketentuan, termasuk charge pengiriman.

        Ya, setelah menunggu beberapa bulan, tentu saya happy banget dong pas terima surat penerimaan artikel. Termasuk pemberitahuan pembayaran, rekening bank, waktu publikasi. Noted, pada saat submit artikel, saya sudah berusaha memastikan bahwa ini jurnal kredibel, terakreditasi internasional, dll pengecekan standar.

        Mbak CS yang suaranya renyah seperti keripik emping melinjo itu, menginfokan beberapa hal yang perlu saya siapkan untuk transfer uang; baik menggunakan rek IDR atau rek USD. Saya nggak perlu ke bank. Kalau kesulitan nanti bisa telpon atau WA untuk dibantu. Kalau mau lebih jelas, saya bisa ke bank.

        Wah, saya nyicil ayem. Lumayan gampang prosesnya. Saya mikir akan ke bank saja dan membereskan semuanya hari ini. Ben ndang rampung, sisan cetha kalau duit tabungan saya itu berkurang, ojo mung mikirin piknik bae, Riii… Isih banyak yang perlu duit dan kudu bayar-bayar 😁

        Lalu si Mbak CS ini nanya saya lagi, akan mau mengirim ke siapa (apakah institusi atau perseorangan), no rek berapa, berapa USD yang akan ditransfer, dan untuk keperluan apa. Dia akan membantu melakukan pengecekan bahwa si penerima adalah “real”. Mungkin kalau sesama bank bisa melakukan crosscheck ya satu sama lain untuk mendapatkan info yang benar.

        Saya lalu memberikan detail info yang diminta. Si Mbak CS meminta saya menutup telpon dulu dan nanti maksimal 30 menit akan telpon saya. Teng tong… nggak sampai 15 menit, si Mbak wes telpon lagi.

        “Bu Ari, ini nama sama, tapi alamat dan no rek berubah-ubah terindikasi penipuan. Silakan cek link jurnal yang saya kirim via WA, itu yang benar. Link yang ibu kirim untuk cc tembusan alamat pengiriman, itu link palsu yang dibuat sama persis seperti aslinya; hanya beda alamat. Kalau tidak cermat, pasti ketipu. Ibu tidak usah kirim uang karena jurnalnya abal-abal. Jurnal aslinya nama sama, dengan alamat link yang saya kirim, Bu. Itu link yang terintegrasi dengan penerbit dan universitas yang menaunginya.”

        Saya wes langsung lemas, bengong beberapa saat. Ya Allah, betapa baiknya Engkau❤❤Maturnuwun atas pertolonganMu❤❤ Kalau saya nggak nanya-nanya dulu, pasti bablas kirim uang via non bank sesuai permintaan officer jurnal abal-abal ini dan sesudah kirim uangnya, pasti gak bisa ditarik balik. Amblazlah uang itu.

        Jujurly, saya kecewa dan sedih lho sampai beberapa menit. Ya Allah, saya wes hati-hati saja masih nyaris kena jurnal abal-abal gini. Apalagi mereka yang serampangan buru-buru kemrungsung pokok publikasi njur akhirnya menangis darah kehilangan puluhan juta, duit utangan pula 😭Tapi ya sudah, saya pilih mensyukuri saja kebaikannya. Sekurangnya duit hampir 1000 USD itu terselamatkan. Alhamdulillah.❤

        Saya yakin ini bukan karena “kehatian-hatian” saja, tapi jelas lebih karena sedekah pagi-pagi yang saya lakukan. Ikhlas tenan. Dan seperti terngiang-ngiang kata Ustadzah di depan Masjid Nabawi ketika kami berhasil ke Raudah dan selow 30 menitan lebih di areal rumah Nabi Muhammad SAW hingga puas doa, ibadah, nangis-nangis. “Pasti uang yang dipakai berasal dari sumber rezeki yang halal. Kalau uang halal itu mudah untuk ibadah dan biasanya bertahan lama, nggak mudah habis atau hilang.” Wallahua’lam.

        Saya njur mikir, publikasi artikel internasional ke mana lagi ya yang waktunya nggak perlu tetahunan dan biayanya (sekurangnya masih cukup sanggup) saya bayar tanpa beribetan dengan sistem administrasi keuangan kampus? Heish, minta ganti charge publikasi ke kampus, laporannya sebejibun mumet, duitnya cair itu embuh kapan suka-suka mereka bae. Pasti diberikan, tapi waktunya itu yang embuh kapan 😅

        Eh tapi yang begini, saya yakin nggak cuma kampus saya aja kok. Ada banyak yang lebih parah. Jadi saya slow motion tenan, pilih pilih publikasi internasional yang charge ringan dan kalau kampus menggantinya embuh kapan itu, nggak bikin budgeting saya rieweuh sana sini. Hidup kadang memang mung soal petang-petung uang kan 🤣

        Ari Kinoysan Wulandari

        Jadikan Rumahmu Berkah

        Melati Belanda depan rumah. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.


        Pas pemilik rumah datang setelah rumahnya saya beli, beliau bilang, “Rumahnya jadi adem, Mbak Ari.”
        .
        Pikir saya beliau berdua dari luar di siang terik. Walau bermobil AC, tetap beda dengan duduk di rumah dengan pintu jendela terbuka.❤
        .
        Berbanyak kawan datang, pun begitu.
        Adik saya, “Sebelum Mbak Ari tinggal,
        aku takut ke sini. Serem dan bikin emosi. Sekarang adem, aku bisa tidur pules.”❤
        .
        Alhamdulillah. Dulu, dengan keadaan seadanya dan perabotan urgent, saya pindah. Lha wes beli rumah mosok nggak ditinggali. Tanpa pagar depan, gersang pasir, lantai atas pun terbuka. Orang loncat genteng bisa masuk rumah. Mesin sumur rusak, lampu ndak ada, korden ndak ada, kunci-kunci nggak fungsi dan banyak lagi yang kudu diberesi. Itu semua berarti pengeluaran.😃
        .
        Kok saya beli ndak mikir ini. Belum lagi omongan tetangga tentang kisah horor. Rumah sebelah kosong 10 tahun, bikin saya makin jiper 😆 Saya pun bismillah. Minta perlindungan Gusti Allah.❤
        .
        Pas saya mo beli taneman, nanya temen-temen deket yang harga murah. Mereka bilang nggak usah beli dan janji bawain dari rumahnya. Begitulah tanaman dari mereka tumbuh subur. Beberapa saya minta pas ke rumah teman (tanemannya melimpah dan nggak jualan taneman), beberapa saya barter.❤
        .
        Sedikit demi sedikit saya masang pagar, pelindung lantai atas, pengaman tangga, dll. Isi rumah? Ya diisi pas ada rezeki. Tapi ya gitu, ada temen datang njur beliin meja makan. Ada yang nanya mau rak buku besar dan mengirim. Ada klien dateng, lalu transfer dan minta saya beli kursi teras; dll. Rumah ini seperti memberesi dirinya sendiri.❤
        .
        Rumah saya njelik ndeso, tapi menteri, bupati, rektor, guru besar, dll orang penting datang berkaitan dengan gaweyan saya. Rezeki sering datang tidak terduga. Tetangga pun baik. Alhamdulillah ❤
        .
        Adik saya tanya, rumahnya dikasih apa kok berkah. Saya bilang: selalu bersyukur, dipakai sholat, ngaji; kalau ada orang bertamu, mereka kudu pulang dengan tangan berisi.❤
        .
        Bagaimana dengan rumahmu? Jadikan rumahmu berkah dengan bersyukur tiap saat. Biar rezeki mudah datang. Para penghuni rumah pun sehat dan happy ❤

        Ari Kinoysan Wulandari