
Saya bersama keluarga adik saya di Balikpapan. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Kebiasaan yang sering saya lakukan saat menginap di tempat asing, berkeliaran di waktu malam (lepas jam 12 malam sampai sebelum Shubuh). Ngapain? Ya lihat situasi malam kota tersebut.
Di Samarinda dengan energi yang belum sepenuhnya pulih, saya nyaris membatalkan rencana tersebut. Cuman karena wes pesen mobil dan driver, saya yo tetep mider. Sudah lumayan pulih, kalaupun belum bisa pecicilan lagi: ambil foto, minta foto, nanya dan nyapa-nyapa orang, memeriksa detail tempat, dll.
Samarinda di waktu malam, nggak lagi sesepi dulu. Masih ramai. Di beberapa tempat banyak berdiri kafe yang masih benderang. Kota ini nggak lagi “sunyi”. Sisa-sisa deras hujan masih ada di berbagai sudut.
Ke mana tujuan saya? Nggak ada. Yo mung keliling begitu aja. Tapi karena terbiasa, kecenderungannya saya itu “seperti langsung tahu” harus ke sini, pergi ke situ, dll. Versi saya pribadi, dengan jalan begitu bisa untuk melengkapi tulisan saya bila harus menggambarkan situasi yang nggak biasa.
2 jam kurang saya mider mengikuti jalan karena ngantuuuknya kok ampun. Jadi saya meminta driver segera balik. Bahkan saya menolak pengembalian uang karena hanya sebentar saja keliling. Masuk kamar wes langsung tidur. Pules betul dan kebangun saat alarm Shubuh. Kali ini saya merasa sudah pulih total. Usai mandi pagi, saya wes packing untuk ke Balikpapan.
Pagi itu kami masih sarapan di hotel. Jumpa Mas Amien dengan istrinya. Juga beberapa kawan lain yang masih ikut sarapan. Sebagian sudah pergi sejak semalem atau pagi pagi buta. Saya dengan istri Mas Amien sempat rerasan tentang bermacam lomba penulisan buku anak-anak tingkat nasional. Versi saya pribadi, persyaratan teknisnya wes bikin mumet dan kadang rada membagongkan. Penulis kok dibebani begitu banyak hal teknis yang nggak masuk akal.
Karenanya meskipun saya penulis buku anak, ada lebih dari 30 judul buku anak di penerbit mayor dan sebagian besar masih memberikan royalti hingga saat ini; alhamdulillah; ketambahan saya juga peraih Anugerah Kebudayaan sebagai penulis buku anak yang berdedikasi pada kebudayaan; nggak pernah sekalipun ikut lomba itu. Lha pikir saya, menulis hal cerita singkat tapi kok menghabiskan waktu gegara masalah teknis yang biasanya diurus layouter.
Selain itu slentingan kurang baik ya wes saya dengar sejak bertahun silam. Tentang penentuan juri yang nggak fair, sampai dari tahun ke tahun juri jurinya ya itu itu saja, sehingga pemenangnya bertahun-tahun juga itu itu saja. Mungkin selalu ada siy satu dua penulis baru, tapi silakan cermati pemenangnya dari tahun ke tahun ya kok itu itu saja namanya.
Jadi saya nggak mau habis waktu, bersangka buruk, kesal jengkel kalau ikut lomba lomba ini. Itu sebabnya saya belok kiri, wes gak usah melu-melu. Saya nulis untuk penerbit atau klien bae. Cuman kalau ada praktik-praktik nggak fair kayak gitu, padahal duit yang dipake juga duit negara yang berarti duit rakyat, gemas juga saya. Mudah-mudahan kalau ada pejabat atau pihak berwenang yang membaca tulisan saya ini; bisa meninjau ulang semua kebijakan tentang lomba penulisan buku anak (juga buku-buku lainnya), sehingga menghasilkan buku-buku berkualitas tanpa bikin aturan-aturan yang membagongkan dan menyulitkan banyak penulis. Akhirnya ya kek gitu, penulis penulis yang berkualitas malah hengkang nggak berpartisipasi. Haizh…
Pagi itu saya tahu rombongan peserta DSBK XVI dari Malaysia berangkat dan perginya lewat bandara Balikpapan. Jadi mereka masih banyak yang ikut sarapan pagi itu. Dari mereka saya juga tahu, kalau rombongan Malaysia memberi dua jempol untuk panitia. Versi mereka kalau di Malaysia mereka nggak akan mau menanggung full biaya dari makan, hotel, beragam acara, publikasi, seragam, ATK, s/d uang harian. Bebas biaya publikasi mungkin, tapi keseluruhan jelas tidak.
Dalam hati saya tertawa. Ya jelas kalian orang Malaysia nggak akan mau menanggung kami. Kalian cuma 15 orang, kami 185 orang kok. Lha apa nggak tekor bandar itu kalau menanggung seluruh biaya kami 😂 Entah saya yang baper atau memang begitu adanya, saya menangkap ungkapan rasa iri kawan-kawan Malaysia ini dengan situasi dan keberadaan sastrawan kita di Kaltim. Apapun itu, saya juga sangat mengapresiasi seluruh panitia dalam acara DSBK XVI 2025 ini.
Duit yang saya anggarkan dari Januari 2025, lumayan banyak tersisa; bisa untuk foya-foya selama di Kaltim 😀😁 Itu sebabnya saya mau balik YK dari BPN. Karena ketemu ponakan-ponakan saya, makan-makan dengan mereka pun jelas pakai uang. Angpao pun dengan uang lah bukan kertas 😁😂
Ya begitulah, saya pamitan ke Mas Amien dkk yang masih ketemu hari itu. Dengan mobil charter saya langsung ke BPN, meski sempat pakai drama. Drivernya nggak biasa lewat tol, jadi sempat nyasar, muter-muter. Mestinya kalau lewat tol 2 jam saja, ini ya 3 jam.
Saya jumpa adik, ipar dan trio keponakan yang super pintar. Mereka juara juara di sekolahnya. Hafalan Qurannya juga rerata di atas 5 juz. Alhamdulillah. Semula mereka mo ngajak makan seafood di areal pantai. Tapi mengingat pertimbangan waktu, akhirnya kami memutuskan makan kepiting di sekitaran terdekat.
Saya sempat khawatir nanti kalau nggak enak, bagaimana. Karena sepanjang beberapa kali makan kepiting di BPN jujugan saya pasti ke Da*nd*t*. Jelas enaknya ning harganya juga bunyi 😁😂 Tapi karena adik saya bilang tempat itu rekomendasi, jadi saya ngikut saja. Karena penyuka kepiting dan bukan itu lidahnya beda. Syukurlah masakannya oke, tempat bersih, layanan cepat dan harga cukup bersahabat.
Adik saya masih mau ngajak jalan, saya wes nyerah. Karena nanti malam masih perjalanan panjang. Besok paginya saya ada dua kelas jam 9-11 dan 13-15. Jadi kudu simpan energi. Kami akhirnya ngobrol saja. Terus sempat saya tidur sebentar, sebelum balik ke bandara BPN. Terbang 2 jam, saya tidur. Bangun wes di YIA. Sampai rumah jam 22 malam. Lega. Plong. Alhamdulillah. Beres semua urusan saya di Kaltim.
Terimakasih untuk Mas Amien dan seluruh panitia penyelenggara acara DSBK XVI 2025. Terimakasih untuk seluruh peserta dan pendukung acara ini. Terimakasih untuk seluruh teman, sahabat, relasi, keluarga, dan berbagai pihak di Kaltim yang telah mengawal, membantu, menemani saya selama ada di Kaltim. Semoga semua jadi amalan kebaikan berlimpah berkah. Amin YRA. Sampai jumpa lagi.
Selesai.
Ari Kinoysan Wulandari



























