Dana Pensiun untuk Freelancer, Pentingkah?

Kutai Kartanegara. Fleksibilitas waktu adalah salah satu keunggulan jadi freelancer. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Kalau ngomongin pensiun, kebanyakan orang langsung mikirnya pegawai kantoran yang tiap bulan dipotong BPJS atau punya dana pensiun dari perusahaan. Tapi gimana kabar para freelancer? Yup, kamu yang kerjanya bebas, bisa di mana aja, jam kerja fleksibel, tapi… nggak ada jaminan pensiun dari kantor.

Pertanyaannya: “Freelancer butuh dana pensiun nggak sih?” Jawabannya: WAJIB BANGET! Karena kalau bukan kamu yang nyiapin, siapa lagi?

Kenapa freelancer harus nyiapin dana pensiun?

Pertama, nggak ada jatah pensiun dari kantor. Karyawan kantor biasanya masih ada pesangon atau tunjangan pensiun. Freelancer? Nggak ada. Duit masuk ya tergantung proyek. Jadi, harus bikin “kantor versi pribadi” yang nyiapin masa depan.

Kedua, pendapatan nggak stabil. Freelancer itu kayak roller coaster: bulan ini bisa banyak proyek, bulan depan bisa sepi. Kalau dari sekarang nggak disiplin nabung, bisa-bisa masa tua malah pusing mikirin dapur.

Ketiga, hidup terus jalan, umur nggak bisa bohong. Sekuat apapun kamu sekarang ngerjain desain, nulis, coding, atau project lain, suatu hari tenaga bakal berkurang. Nah, di situlah dana pensiun jadi penyelamat.

Berikut ini tips menyiapkan dana pensiun ala freelancer.

Paling basic tapi penting, jangan campur aduk duit kerjaan sama duit buat hidup sehari-hari. Bikin rekening khusus “dana pensiun” biar lebih aman dari godaan belanja impulsif.

Terapkan sistem “Bayar Diri Sendiri Dulu”. Begitu ada uang masuk dari klien, langsung sisihin minimal 10–20% buat tabungan pensiun. Jangan tunggu sisa, karena kalau nunggu sisa biasanya habis duluan.

Belajar investasi. Tabungan doang nggak cukup, gengs. Inflasi bisa bikin nilai duit makin kecil. Coba alihin sebagian ke instrumen investasi: reksa dana, emas, atau saham blue chip. Nggak perlu sok jago, mulai kecil-kecilan dulu sambil belajar.

Ikut program pensiun mandiri. Sekarang ada banyak pilihan kayak DPLK (Dana Pensiun Lembaga Keuangan) atau bahkan BPJS Ketenagakerjaan yang bisa diikuti freelancer. Jadi walau nggak kerja kantoran, kamu tetap punya tabungan hari tua yang resmi.

Cari passive income. Selain dari project, coba pikirin cara bikin duit ngalir tanpa harus kerja tiap hari. Bisa dari bikin kelas online, jual template desain, bikin e-book, atau bahkan kontrakan kos-kosan kalau modal ada. Passive income = tabungan pensiun berjalan.

Jangan lupa asuransi. Pensiun nggak cuma soal duit tabungan, tapi juga jaga-jaga kesehatan. Bayar rumah sakit tanpa asuransi bisa bikin tabungan pensiun ludes. Jadi, masukin asuransi kesehatan ke dalam rencana.

Tentuin target pensiun. Bayangin gaya hidup yang kamu mau pas pensiun. Mau hidup tenang di kampung dengan kebun, atau pensiun tetap di kota dengan nongkrong tiap minggu? Dari situ bisa ketahuan berapa besar dana yang harus dikumpulin.

Misal kamu pengen punya dana pensiun Rp1 miliar buat hidup nyaman di umur 60. Kalau kamu mulai nabung/investasi dari umur 30, berarti ada waktu 30 tahun. Dengan nabung rata-rata Rp2-3 juta per bulan (tergantung instrumen investasi), target itu bisa tercapai. Kuncinya: konsisten.

Intinya… jangan karena status freelancer bikin kamu cuek soal pensiun. Justru karena penghasilan nggak stabil, perencanaan pensiun harus lebih rapih daripada pegawai kantor. Anggap aja kamu punya “perusahaan pribadi”, dan kamu sendiri yang harus mikirin masa depan “karyawan utama”: yaitu diri kamu sendiri.

Jadi, mulai sekarang jangan cuma mikirin deadline project, tapi juga deadline masa depan. Karena pensiun nyaman itu bukan buat orang kaya doang, tapi buat siapa aja yang mau disiplin nyiapin dari sekarang.

Ari Kinoysan Wulandari

Biaya Piknik, Pemborosan atau Investasi?

Raja Ampat. Makin jauh piknikmu, makin banyak biaya yang diperlukan. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Piknik alias jalan-jalan udah jadi kebutuhan banyak orang zaman sekarang. Tapi, nggak jarang muncul dilema: kalau kita keluar duit buat liburan, itu masuk kategori pemborosan atau justru investasi?

Bayangin deh, kamu kerja seminggu penuh, penuh deadline, ketemu orang-orang yang bikin kepala panas, atau urusan rumah tangga yang nggak ada habisnya. Pas weekend datang, pengen healing, tapi langsung kepikiran, “Duh, duitnya abis dong kalau buat piknik.”

Nah, pertanyaan besar pun muncul: sebenernya piknik itu buang duit atau justru bikin hidup lebih valuable?

Banyak orang nganggep piknik cuma sekadar buang-buang duit: ongkos transport, tiket masuk, makan, sampai belanja oleh-oleh. Padahal, esensi piknik bukan cuma soal tempat, tapi juga soal nge-refresh diri. Sama kayak gadget, otak kita juga butuh di-charge. Jadi, biaya piknik itu bisa dilihat sebagai service fee buat diri sendiri.

Kalau ngomongin investasi, orang biasanya mikir saham, emas, atau properti. Padahal, investasi paling mahal tuh justru kesehatan mental. Stres yang nggak diolah bisa bikin produktivitas jeblok, mood amburadul, bahkan kesehatan fisik juga kena. Piknik bisa jadi bentuk self-care: keluar sebentar dari rutinitas, nyerap energi baru, dan balik lagi dengan pikiran lebih segar.

Kalau pikniknya bareng keluarga, pasangan, atau sahabat, ada nilai plus yang nggak bisa diukur dengan angka. Ada tawa, obrolan ringan, sampai momen konyol yang bakal jadi cerita bertahun-tahun ke depan. Uang bisa dicari lagi, tapi waktu kebersamaan nggak bisa diulang kayak tombol replay. Jadi, biaya piknik sebenarnya bisa jadi “harga” untuk kenangan.

Sering nggak sih, pas piknik ke tempat baru, kita jadi belajar sesuatu yang nggak ada di buku? Entah itu budaya lokal, makanan khas, atau bahkan sekadar ngobrol sama orang baru. Itu semua masuk kategori investasi pengalaman. Ingat ya, pengalaman nggak pernah basi.

Nah, biar piknik beneran jadi investasi, bukan boros, kita harus tahu batasnya. Kalau piknik cuma buat gaya-gayaan di Instagram, ya jelas jatohnya pemborosan. Tapi kalau niatnya buat recharge, nambah ilmu, atau bonding bareng orang tersayang, jelas itu investasi.

Nah, biar makin mantap, ada beberapa trik biar piknik tetep seru tanpa bikin saldo e-wallet nangis:

Pertama, pilih destinasi sesuai kantong. Healing nggak harus ke luar negeri. Indonesia punya banyak hidden gem murah meriah tapi vibes-nya juara. Pantai lokal, gunung deket kota, atau taman kota juga bisa jadi tempat piknik hemat tapi asik.

Kedua, manfaatkan promo dan diskon. Sekarang banyak banget aplikasi travel atau transportasi yang kasih promo tiket. Jangan gengsi jadi pemburu diskon, karena ini cara paling gampang hemat budget.

Ketiga, bawa bekal sendiri kalau memungkinkan. Selain lebih irit, bawa bekal juga bikin suasana piknik makin seru. Bisa sambil lesehan bareng, ala-ala piknik di film.

Keempat, jangan terjebak beli oleh-oleh. Hal ini sering jadi biang kerok kantong jebol. Beli secukupnya aja buat orang terdekat. Ingat, piknik itu buat kamu, bukan buat “pamer” ke orang lain.

Kelima, traveling bareng-bareng atau piknik rame-rame itu lebih hemat karena bisa patungan biaya transport, sewa villa, atau makanan. Bonusnya, lebih rame, lebih seru!

Keenam, fokus ke pengalaman, bukan gengsi. Healing nggak harus di tempat fancy. Yang penting suasana hati, bukan seberapa mahal destinasi. Kadang sunset di bukit kecil deket rumah bisa lebih bahagia daripada kafe hits yang mahal.

Jadi, piknik itu pemborosan atau investasi?Jawabannya tergantung cara kamu memandangnya. Kalau cuma buat pamer, ya jatohnya boros. Tapi kalau niatnya buat recharge energi, nambah pengalaman, memperkuat hubungan, dan menjaga kewarasan, jelas piknik itu investasi berharga.

Ingat, hidup bukan cuma tentang kerja, tabungan, atau tagihan. Kadang kita butuh berhenti sejenak, tarik napas, dan nikmatin momen. Jadi, lain kali ada yang bilang, “Ngapain piknik, buang-buang duit. Bikin boros aja,” kamu bisa senyum sambil jawab, “Boros? Nggak dong, ini investasi buat hidup gue!”

Ari Kinoysan Wulandari

Menulis Itu Menghidupkan Jiwa

Sharing pengalaman tentang penulisan di FIB, UNS, Solo. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Pernah nggak sih kamu ngerasa otak lagi penuh banget; kayak laptop kebanyakan tab, mau meledak? Nah, salah satu cara paling ampuh buat ngerapiin isi kepala itu ya… menulis.

Buat sebagian orang, menulis mungkin keliatan sepele. Tinggal ketik atau coret-coret di kertas. Tapi sebenarnya, menulis itu bukan cuma soal kata-kata. Menulis bisa jadi cara buat ngehidupin jiwa.

Menulis itu terapi murah meriah. Kalau lagi suntuk, capek, atau patah hati, coba deh tulis semua unek-unek. Bisa di buku harian, blog, atau notes HP. Ajaib banget, hati jadi lebih plong. Kayak lagi curhat, tapi sama kertas. Bedanya, kertas nggak bakal nge-judge kamu.

Menulis bikin kenangan nggak hilang. Ingat nggak momen pertama kali kamu jatuh cinta, atau waktu liburan seru bareng sahabat? Kalau cuma disimpen di kepala, lama-lama bisa pudar. Tapi kalau ditulis, kenangan itu bisa kamu “putar ulang” kapan aja. Jadi, menulis itu kayak mesin waktu versi personal.

Menulis berarti mengenal diri sendiri. Seringkali kita nggak sadar apa yang bener-bener kita rasain sampai ditulis. Pas baca ulang, baru deh mikir, “Oh ternyata ini yang aku rasain.” Jadi, menulis bisa jadi cermin buat ngerti siapa diri kita sebenarnya.

Menulis bikin ide jadi nyata. Pernah punya ide keren tiba-tiba, tapi ilang gitu aja karena nggak ditulis? Nah, menulis itu cara paling gampang buat ngabadikan ide. Siapa tahu dari coretan kecil, lahir karya besar: novel, lagu, bahkan bisnis.

Menulis itu warisan jiwa. Buku, blog, puisi, atau bahkan caption panjang di medsos; semua itu bisa jadi jejak yang ditinggalin. Bayangin deh, tulisan kamu bisa dibaca orang lain, bahkan setelah kamu udah nggak ada. Itu artinya, lewat tulisan, jiwa kamu tetap hidup.

Tips Biar Nulis Lebih Hidup

Pertama, nulis apa aja dulu; nggak usah mikirin bagus atau enggak. Tulis aja. Kedua, jangan takut typo; edit belakangan, yang penting ide keluar dulu. Ketiga, bawa notes/HP ke mana-mana; inspirasi suka datang tiba-tiba. Keempat, coba berbagai jenis; puisi, cerita pendek, blog, bahkan catatan random. Kelima, nikmatin proses; menulis itu bukan lomba, tapi perjalanan.

Intinya… Menulis itu bukan cuma aktivitas, tapi cara buat hidup lebih hidup. Setiap kata yang ditulis bisa jadi jalan buat nyembuhin luka, nyimpen kenangan, nemuin jati diri, bahkan ninggalin warisan jiwa.

Jadi, jangan nunggu “siap” dulu baru mulai nulis. Segera ambil kertas, buka laptop, atau ketik di HP. Karena setiap kali kamu menulis, sebenarnya kamu lagi ngasih “napas” baru buat jiwa kamu sendiri. Menulis itu menghidupkan jiwa. Dan jiwa yang hidup, selalu punya cerita.

Ari Kinoysan Wulandari

Kamu Berusaha Hemat atau (Sebenarnya) Pelit?

Piknik, salah satu sumber anggarannya dari penghematan. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Tulisan ini bermula dari pertanyaan, “Apa bedanya hemat dan pelit?”

Saya yang sudah biasa berhemat tanpa harus menjadi pelit, pun mikir: bagaimana cara menjelaskannya. Karena kriteria hemat, pelit itu beda-beda tipis dan tiap orang punya “persepsi” atau “pandangan” yang beragam tentang hitung-hitungan uang.

Mari kita ulik soal ini. Mungkin saat kamu berhemat agak ketat demi tujuan tertentu, kadang mikir: “Sebenarnya aku ini lagi hemat atau pelit siy? 🤔 Kadang garis tipis antara dua kata ini bikin kita bingung. Soalnya, hemat itu keliatan keren, pintar ngatur duit, bijak finansial. Tapi kalau udah kelewatan, bisa-bisa capnya langsung berubah jadi, “Uuh, dasar pelit!”

Kalau versi saya, hemat itu intinya me-manage duit biar kita tetap survive dan nggak bocor halus tiap akhir bulan. Terlebih bagi freelancer yang duitnya datang nggak menentu.

Misalnya:

  • Milih masak sendiri daripada beli masakan/makanan online tiap hari. Selain lebih sehat, puas, ternyata juga lebih irit banget.
  • Beli barang pas lagi diskon, terutama kalau bukan keperluan urgent. Diskon berapapun, tetap “uang” yang bisa dijumlahkan.
  • Nabung dikit-dikit buat goals masa depan. Kalau saya sudah pingin ke tempat A tanggal sekian, itu berarti saya kudu liat anggaran yang ada. Kalau masih kurang ya kudu nabung. Kadang target waktunya jadi molor, demi tersedianya budget. Nabung ini sering saya ambil dari budget “nongkrong” ganti suasana kerja. Biasanya sebulan 8x, wes cukup 2x aja.

Hemat tuh lebih ke strategi. Kita jadi ngerti mana kebutuhan, mana keinginan. Kita bijak menggunakan uang. Kita sadar mana prioritas yang lebih penting. Meskipun uang kita sendiri, tetap nggak bijak foya-foya.

Nah, kalau pelit beda cerita. Pelit biasanya udah masuk ke ranah, “Duh, segitunya. Pelit amat siy.”

Contohnya:

  • Nongkrong rame-rame, tapi pas bayar malah pura-pura sibuk cari dompet. Biar temen yang bayarin. Sekali dua kali oke, berkali-kali sampeyan akan ditinggalkan teman-teman.
  • Pakai barang sampe rusak parah, tapi nggak mau ganti padahal mampu. Ini siy kelewatan. Masa sama diri sendiri pelit?
  • Ngasih traktiran aja pake hitungan kayak kalkulator jalan. Heish, kalau ketemu orang yang itung-itungan parah itu emang nyebelin. Mendingan nggak usah terima traktirannya dan nggak usah ajakin kalau kita mo nongkrong atau jalan. Daripada beribet ntar pas bayarnya.

Kalau hemat bikin hidup lebih terkontrol, pelit justru bikin orang di sekitar jadi males. Bayangin gini deh: kamu lagi jalan bareng temen, terus dia ngajak makan di resto fancy. Kamu nolak karena budget terbatas dan nggak mau utang; itu hemat. Tapi kalau kamu nolak, padahal saldo tabungan gemuk dan pengen tetep gratis makan? Nah, itu baru pelit! 😅

Hemat biasanya dihormati orang: “Wih, dia pinter ngatur duit.” Pelit? Bisa-bisa kamu dihindarin. Orang males main bareng yang setiap nongkrong atau beli-beli malah ujung-ujungnya bikin ribet soal bayar.

Sah-sah aja hemat, malah harus banget! Tapi inget, hidup juga bukan cuma soal nabung terus. Kadang traktir temen, beliin hadiah kecil buat orang tersayang, atau sekadar bayar ongkos driver lebihin dikit, itu nggak bikin kamu miskin, justru bikin hati lega. Ini juga bikin kita happy.

Jadi lain kali kalau kamu ngaku, “Aku lagi hemat nih,” coba cek dulu… itu beneran hemat atau jangan-jangan kamu lagi pelit tapi nggak sadar? 😉

Ari Kinoysan Wulandari

Sekolah Memang (Nggak) Gampang

Wisuda S-3 di kampus FIB UGM tahun 2018. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Kasus dugaan ijazah palsu sang mantan Presiden Joko Widodo yang begitu heboh dan muncul beragam tudingan, fitnah, saling serang, dll disusul pula dugaan ijazah palsu sang putra mahkota yang jadi Wapres Gibran Rakabuming Raka pun ikut memanas. Belum lagi kasus-kasus setipe yang terjadi pada banyak pejabat dan petinggi negara dan banyak lagi kasus sejenis pada public figur dari beragam bidang kerja. Sesuatu yang menandakan bahwa dunia pendidikan kita memang “nggak baik-baik” saja.

Kalau ada yang bilang sekolah itu gampang, coba deh tanya lagi sama anak-anak yang tiap hari harus bangun pagi, ngantuk di kelas, PR numpuk, plus ulangan yang datang tanpa basa-basi. Sekolah tuh memang perjalanan panjang yang bikin capek, kadang bikin senyum, tapi malah sering kali bikin kita pengen teriak, “Kenapa sih susah (sulit) banget?”

Hal pertama yang bikin sekolah terasa ribet jelas soal tugas dan nilai. Matematika dengan rumus yang muter-muter, bahasa dengan esai yang panjang-panjang, IPA dan IPS dengan hafalan yang nggak ada habisnya. Padahal, nggak semua orang jago di bidang itu. Ada yang otaknya encer di Matematika tapi belepotan kalau disuruh bikin cerpen. Ada juga yang jago gambar, tapi mumet kalau ketemu tabel periodik.

Masalahnya, sistem sekolah kita memberi tuntutan agar siswa oke di semua mata pelajaran. Jadinya apa? Ya jelas, banyak anak yang ngerasa nggak cukup baik, padahal sebenarnya mereka punya bakat lain yang nggak kalah keren.

Selain tugas, dunia pertemanan juga punya cerita sendiri. Buat sebagian orang, sekolah itu tempat nemuin sahabat sejati, geng seru, atau partner kerja kelompok yang bisa diandalkan. Tapi, ada juga yang justru ngerasa sekolah jadi medan perang karena ada drama, gosip, bahkan bullying (perundingan).

Nggak heran, kadang ada yang bilang sekolah itu lebih melelahkan secara mental daripada pelajarannya. Bayangin, harus mikirin nilai yang udah bikin pusing, ditambah lagi drama sosial yang bikin hati panas dingin.

Jangan salah, bukan cuma murid yang pusing. Guru juga punya tantangan. Mereka harus ngadepin puluhan anak dalam satu kelas, dengan karakter yang beda-beda. Ada yang aktif banget, ada yang diem aja, ada juga yang sukanya bikin onar. Bagi guru, ngajarin anak-anak itu nggak sekadar nyampein materi, tapi juga butuh kesabaran ekstra.

Orang tua pun sering kebagian “PR tambahan”. Mereka harus nemenin anak belajar di rumah, ngelesin di luar (bimbel), keluar duit buat keperluan sekolah, dan kadang ikut stres kalau anaknya mulai ngeluh. Ada yang santai, ada juga yang justru makin nambah tekanan karena pengen anaknya selalu ranking satu.

Di balik semua drama itu, sekolah punya banyak momen seru. Main bola pas istirahat, ketawa bareng di kantin, sampai pengalaman pertama ikut lomba atau tampil di depan kelas. Hal-hal kecil kayak gitu justru sering jadi kenangan manis setelah lulus.

Sekolah juga ngajarin kita hal-hal penting di luar buku pelajaran. Dari belajar kerja sama pas bikin proyek, belajar ngadepin kegagalan waktu nilai jeblok, sampai belajar tanggung jawab kalau lupa bawa tugas. Semua itu bikin kita jadi lebih tangguh menghadapi dunia nyata.

Di tingkat pendidikan yang lebih tinggi (kuliah) juga lebih kurang setipe. Program sudah penjurusan, tapi semua studi masih harus meribetkan tetek bengek perkuliahan dasar (MKU) yang sebenarnya wes gak begitu relevan lagi untuk programnya. Tuntutan lulus banyak SKS, selain bikin mumet mahasiswa dan masa studi lama (yang berimbas pada banyak pengeluaran, mahal) membuat kuliah sering jadi momok bagi masyarakat menengah ke bawah.

Makin tinggi tingkat sekolahnya makin ruwet aturannya. Studi S-1, S-2, S-3 bukan hal yang menyenangkan bagi banyak orang karena tuntutan ekstrim agar “lulus” tepat waktu.

Nggak heran kalau banyak lulusan sekolah tinggi yang begitu jadi pejabat publik njur dipertanyakan soal kelulusannya, bahkan dikuliti ijazahnya, nilai-nilainya, sekolah/kampusnya, kawan-kawannya, dll. Ya karena mereka pejabat kok pahpoh, ngahngoh, bikin kebijakan geje, gakbisa bikin sambutan, gakbisa pidato, waton jeplak kalau bicara, dll yang sangat tidak mencerminkan mereka lulusan sekolah tinggi.

Jangan salah, gelar dari sekolah tinggi nggak selalu berarti seseorang bisa memiliki kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional, kecerdasan mental, dan kecerdasan spiritual yang tinggi pula. Karena itu semua baru bisa diperoleh atau didapatkan dari kesungguhan belajar, beradaptasi, mengikuti proses sekolah dengan wajar. Bukan tembak nilai, bayar beli ijazah dari kampus yang embuh pula status akreditasinya.

Saya wes melewati proses sekolah dari tingkat dasar sampai yang paling tinggi (S-3, Doktor) dari sekolah-sekolah dan kampus terbaik di dalam negeri, tahu betapa nggak user friendly-nya sistem pendidikan kita untuk peserta didik. Beruntung, saya bersaudara tumbuh di lingkungan yang nggak menganggap sekolah kudu nomor 1, kudu terbaik dengan cara apapun.

Wisuda S-3 di halaman Graha Sabha Permana UGM, Januari 2018. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Nggak ada orang tua kami begitu. Sekolah ya biasa saja bagi kami. Usahakan yang terbaik dengan cara yang baik dan menyenangkan. Jadi, saya sekolah nggak ada tuntutan kudu juara satu, kudu begini begitu. Jadinya, saya tahu bagian atau subjek pelajaran yang saya senang, nilainya tinggi. Yang nggak senang, nilai kebanyakan ya cukup standar saja untuk kelulusan atau naik kelas.

Lalu apakah dengan standar “sederhana” saat sekolah itu bikin hidup saya nggak baik? Yo enggak tuh. Malah banyak temen yang dulunya pinter-pinter jadi stres karena tuntutan berlebihan dari orang tuanya atau dirinya sendiri pada standar angka dan konversi nilai.

Sekolah saya pun jadi lebih menyenangkan. Semua saya lewati dengan cepat dan hasil terbaik, ya justru karena nggak ada beban. Tapi sekolah sesuai pilihan, yang saya senangi, dan keahlian saya pun terbentuk dengan lebih mudah karena ada kesadaran dari diri pribadi.

Bukan berarti saya bilang sistem pendidikan di negeri kita mudah ya. Sulit, bahkan termasuk sulit banget. Berat betul sekolah di Indonesia karena dituntut semua serba bisa, serba bagus sesuai standar “sama”. Padahal sudah jelas kemampuan dan bakat tiap orang berbeda.

Jadi, nggak heran kalau banyak yo nggak mau ribet, punya duit, dan mental ngaji mumpung, wesbayar saja untuk nilai-nilai dan ijazahnya. Ya bisa jadi memang nggak ada yang tahu. Apalagi kalau nggak jadi pejabat publik atau kerja formsl yang beribetan dengan nilai dan ijazah. Iya kan, kalau membohongi orang lain itu mudah. Yang nggak mudah itu kan kalau membohongi diri sendiri. Sampeyan tahu persis apa yang telah anda lakukan.

Solusinya bagaimana? Saya bukan akademisi yang dari awal usia produktif kerja nyemplung dunia pendidikan. Menjadi dosen juga baru seumur jagung. Tapi versi saya, kasus-kasus jual beli nilai, jual beli ijazah, ijazah palsu, jasa bikin skripsi, tesis, disertasi, dll publikasi untuk kepentingan pendidikan itu; nggak akan terjadi atau minim-lah kalau aturan main dan syarat kelulusan pendidikan atau sistem nya secara umum lebih ramah dan mengutamakan minat bakat pribadi, meskipun belajar secara kolektif.

Misalnya: PAUD-TK itu ya wes bermain, beradaptasi, bersosialisasi, seni praktis menari menyanyi, etika dasar. Nggak malah dibebani calistung yang kalau saya lihat pun mumet, apa lagi guru-guru dan muridnya.

Lalu SD-SMP nah di sini kasih keterampilan ilmu dasar calistung dan etika-etika atau budi pekerti untuk tingkat madya. Lalu di SMA baru persiapan untuk program penjurusan ke perguruan tinggi yang dituju. Ditambah pengetahuan etika yang lebih tinggi dan pengetahuan global (bahasa Internasional, teknologi informasi, public speaking, etika Internasional, dll nilai-nilai universal).

Di perguruan tinggi? Ya mestinya wes kuliah sesuai jurusannya saja, non MKU (ini hampir 1/3 lho dari total 144-156 SKS). Buang buang waktu dan nggak relevan. Apa coba relevansinya Pancasila, Pendidikan Agama untuk Jurusan Sastra Indonesia? Suruh bikin Sastra Pancasila? Yang bener aja…. ini sudah selesai mestinya saat anak wes menempuh PAUD s/d SMA. Nggak perlu ngulang lagi. Apamaneh kalau kurikulumnya gonta-ganti tiap kali menteri atau dirjennya lampu merah alias berhenti 😁

S-2 ya wes simpel saja, nggak perlu ada matkul umum lagi. Perlunya bikin laporan riset (tesis) atau studi terapan dengan produk. Jadi 1 tahun rampung dan nggak mengulang-ulang matkul S-1.

S-3 mestinya juga didesain lebih sederhana tapi komprehensif. Nggak perlu kuliah lagi. Ya wes tinggal laporan riset (disertasi) atau produk untuk studi terapan; tentu dengan standar yang lebih tinggi dari S-2. Jadi 1-2 tahun bisa kelar.

Mungkin kalau begitu, bisa jadi sekolah di Indonesia terasa lebih ringan, biaya lebih sedikit, waktu lebih sedikit, dan relatif nggak memusingkan yang mau sekolah.

Sekolah di Indonesia mau di tingkat dasar, madya, maupun tinggi memang (nggak) mudah. Dibandingkan sisi nyenenginnya, lebih banyak ribetnya. Kadang bikin nangis, kadang bikin berhenti aja saat beribetan dengan segala aturan yang terasa “nggak manusiawi”.

Tapi satu hal yang pasti: sekolah bukan cuma soal nilai dan ijazah, tapi juga tentang perjalanan yang membentuk siapa kita nanti. Kalau kita bisa nikmatin prosesnya, sekolah bakal jadi cerita seru yang suatu hari bakal kita kenang dengan senyum; meski dulu rasanya pengen cepat-cepat lulus.

Bagaimana cerita sekolahmu? Seru? Menyenangkan? Kamu termasuk orang yang beruntung.

Ari Kinoysan Wulandari

“Dalam Cerita, Kita Bicara”: Bedah Buku dan (Dadakan) Bimtek Kepenulisan

Flyer Bedah Buku “Dalam Cerita, Kita Bicara”. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Alhamdulillah, terimakasih kepada Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Gunung Kidul yang telah menyelenggarakan acara Festival Literasi 19-23 September 2025 dan bedah buku “Dalam Cerita, Kita Bicara” menjadi acara inti pembuka di hari Jumat yang mulia, 19 September 2025 jam 13.30 WIB sd 16.15 WIB.

Terimakasih Mbak Yuni dan Bu Purwati yang telah dengan baik mengurus dan mempersiapkan acara bedah buku tersebut. Terimakasih juga untuk dua pembedah yang luar biasa Mbak Ummi dan Mas Hariwijaya. Maturnuwun atas support luar biasanya. Terimakasih juga untuk sang Momod, Mas Imron yang telah memandu acara ini dengan baik.

Jujurly, saya nggak menyangka bahwa buku yang kami buat (ada 75 orang penulis, 3 dosen PBSI dan 72 mahasiswa prodi PBSI dan Manajemen UPY) dapat lolos terpilih untuk sesi bedah buku di acara istimewa ini.

Buku “Dalam Cerita, Kita Bicara”. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Penulisan buku itu sendiri versi saya nggak mudah. Mengumpulkan tulisan dari banyak orang yang mayoritas bukan penulis, sama sekali nggak ringan. Lebih kurang 6 bulan kami berjibaku mulai dari menulis naskah, mengumpulkan naskah, menggabungkan jadi satu file, mengeditkan naskah, baru kemudian membawa ke penerbit untuk diterbitkan.

Dananya? Tentu saja dana mandiri kami bersama-sama. Alhamdulillah, meskipun sempat nggak sinkron di urusan cover dan tata letak, akhirnya kami sepakat memilih versi buku seperti yang sudah tersaji covernya. Sungguh, proses yang nggak mudah buat saya yang mengkoordinir seluruh urusan. Syukurlah banyak teman mahasiswa yang membantu dari awal sampai akhir proses kerja. Maturnuwun.

Sesaat setelah pembukaan acara Festival Literasi oleh Kepala Dispusip Kabupaten Gunung Kidul. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Buku ini juga bukti, bahwa menulis bukanlah bakat. Menulis hanya perlu “ilmunya” dan kemudian membuat tulisan sampai rampung, meskipun sederhana. Ya, kami memilih pentigraf yang hanya 150-250 kata untuk satu cerita yang utuh. Alhamdulillah semua terpenuhi. Ada kurang ini itu, saya sebagai penulis dan dosen pun memakluminya. Mereka sudah luar biasa mengeluarkan effort agar tulisannya rampung dan ikut mejeng di buku tersebut.

Saya juga bergembira ketika Mas Hariwijaya memberikan nilai bahwa buku tersebut sudah sangat layak terbit dan kemasannya pun cantik menjual. Tinggal masalah uji pasar, apakah buku terjual atau enggak. Sekurangnya, saya perlu berterima kasih kepada Penerbit Literasi Nusantara, yang sudah sabar telaten mengurus naskah-naskah saya; yang kadang beribet minta ini itu agar “perfect” dan “cantik”. Kerjasama yang panjang, juga membuat kami lebih mudah komunikasi ini itu agar hasil kemasan buku maksimal. Nggak akan bikin malu siapapun yang menjadi penulis di dalamnya. Maturnuwun. Alhamdulillah.

Saat sang Momod memulai acara bedah buku. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Saya cukup terkejut, ketika sesi tanya jawab yang ditanyakan peserta banyak yang keluar dari urusan “bedah buku” tapi malah membahas banyak materi tentang “menulis” dan “penulisan”. Tapi yo sudah, yang ditanyakan ke saya ya tetap saya jawab semampunya. Dan luar biasa waktu 2,5 jam (ini beneran panjang lho), jadinya nggak terasa. Alhamdulillah.

Oh, saya ingat ada kata Mbak Ummi agar kalau menulis nggak cuma mikirin uang atau komersial tapi juga bermanfaat untuk generasi muda; sebagai respon saya untuk mencatat ide dan memilih yang versi saya bisa diuangkan “bisa dijual dan dapat duit” lebih dulu. Saya nggak mengcounter balik –waktu sudah habis. Tapi kalau membaca 145 judul buku saya yang seluruhnya terbit di penerbit mayor (Gramedia Grup, Mizan Grup, Andi Grup, Medpres Grup, Agromedia Grup) yang seluruh naskah sudah melewati seleksi ketat, urusan manfaat dan kualitas, saya anggap sudah lewat.

Mereka di penerbit sudah lebih ahli dari saya untuk menilai manfaat dan kualitas naskah, sehingga memutuskan untuk menerbitkan, menjualkan, mendistribusikan, dan memberikan royalti 10-15% secara berkala tiap 6 bulan. Hingga sekarang (saya mulai menerbitkan buku tahun 2006 di Gramedia Grup) masih ada 100-an judul buku saya yang aktif dijual dan ada sekitar 10-an judul yang sudah 19 tahun terus menerus memberikan royalti. Alhamdulillah.

Pesona seni tari gadis-gadis remaja Gunung Kidul. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Jadi urusan bikin naskah dan kualitas serta manfaat itu sudah pasti kewajiban saya, tapi kesadaran harus bikin materi yang laku, itu salah satu sebab buku saya tiap tahun bertambah. Alhamdulillah. Percayalah, penerbit juga nggak mau memodali naskah yang nggak laku di pasaran.

Beragam pertanyaan tentang penulisan itu membuat saya optimis, masih banyak orang yang “ingin bisa menulis” dan pasti kelas-kelas penulisan, bimtek penulisan juga akan terus diperlukan. Sungguh menarik ketika sebuah acara literasi bukan hanya sekadar bedah buku, tetapi juga bertransformasi menjadi ruang belajar menulis yang penuh kejutan.

Begitulah suasana dalam kegiatan “Dalam Cerita, Kita Bicara”, sebuah acara diskusi buku yang mendadak juga jadi ajang bimtek (bimbingan teknis) penulisan yang hadir secara dadakan, tapi justru terasa segar dan membekas. Untungnya baik Mas Hariwijaya maupun Mbak Ummi juga penulis, jadi bisa ikut menjawab pertanyaan para audiens.

Acara ini membuktikan bahwa literasi bukan sekadar tentang membaca buku tebal atau menulis panjang. Literasi adalah tentang membuka percakapan, berbagi makna, dan menemukan suara diri melalui kata-kata. Dalam satu forum blended ini ada sekitar 50-an peserta luring dan 57-an peserta daring, terjadi perjumpaan antara pembaca, penulis, dan calon penulis yang saling menginspirasi.

Setelah bedah buku, dengan Mbak Yuni dan Mbak Ummi. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

“Dalam Cerita, Kita Bicara” meninggalkan jejak: bahwa setiap orang punya cerita, dan setiap cerita layak dituliskan. Bedah buku ini bisa menjadi gerakan kecil yang menumbuhkan keberanian menulis. Karena pada akhirnya, cerita bukan hanya untuk dibaca, tetapi juga untuk dibicarakan dan dituliskan.

Sekali lagi, terimakasih untuk semua pihak yang telah membantu mensukseskan acara ini. Seperti biasa, saya nggak akan mengajak orang untuk jadi penulis (karena jatuh bangunnya nggak mudah), tapi saya akan selalu mendorong orang untuk menulis. Sekurangnya, menulislah 1 buku seumur hidup: boleh juga autobiografi (biografi diri sendiri) seperti anjuran Mas Hariwijaya. Maturnuwun.

Salam Literasi dan majulah Indonesia Raya.

Ari Kinoysan Wulandari

Jangan Malu Berbicara Tentang Uang

Bahkan untuk membicarakan buku saja (Bedah Buku), kita memerlukan uang. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering dihadapkan pada kenyataan bahwa uang adalah bagian penting untuk memenuhi kebutuhan. Namun, ada kalanya muncul perasaan malu atau gengsi untuk berkata jujur, “Saya perlu uang.”

Padahal, mengakui kebutuhan finansial bukanlah sebuah aib. Versi saya ini adalah hal yang lumrah. Perlu uang sebagai tanda bahwa kita manusia biasa yang punya kebutuhan, tanggung jawab, dan keterbatasan.

Banyak orang merasa gengsi karena takut dinilai lemah, nggak sukses, atau kurang mandiri. Ada juga yang khawatir akan dianggap hanya mengejar materi. Budaya “harus terlihat cukup”, seringkali membuat orang menutupi kenyataan finansialnya, meskipun sebenarnya sedang kesulitan.

Uang bukan segalanya, tapi segalanya butuh uang. Dari makan sehari-hari, pendidikan anak, hingga biaya kesehatan, semuanya berkaitan dengan finansial. Mengakui bahwa kita butuh uang bukan berarti mata duitan, melainkan menyadari realitas hidup.

Kesadaran diri itu membuat saya mudah kompromi dengan industri. Dalam menulis pun, saya sadar betul; menulis bagus dan berkualitas itu kewajiban, tapi bahwa buku-buku dan atau karya lainnya (sinetron, series, film, dokumenter, lagu, puisi, dll bentuk dari karya tulisan) itu harus bisa dijual syukur-syukur bestseller, hits, ranting, box office; itu adalah kesadaran penuh: bahwa hanya dengan menulis karya yang laku, saya bisa survive hidup sebagai penulis.

Jujur tentang kebutuhan finansial bisa menjadi langkah awal menuju solusi. Dan itu sudah menjadi kebiasaan saya bertahun-tahun sebagai penulis profesional. Begitu ketemu calon klien, maka standar kita kenalan (kalau belum kenal). Lalu membicarakan konsep dan pekerjaannya, termasuk kruncilan yang sering dianggap sepele (riset, ke lapangan, terjemahan, izin-izin, dll) yang versi banyak orang itu nggak perlu dibiayai–padahal realitanya itu bisa menyedot maksimal dari budget anggaran pengadaan buku.

Setelah sepakat semuanya, saya akan langsung bicara tentang uang. Berapa saya dibayar, sistemnya bagaimana, siapa penanggung jawab atau orang yang harus saya tagih, dll force majeur yang berkaitan dengan tugas tanggung jawab dan hak pembayaran yang harus saya terima.

Alhamdulillah, saya sering takjub ketemu klien yang wes nggak banyak ribet, transfer aja dan kita pun bekerja. Saya termasuk yang percaya, kalau petungnya mudah, hasilnya juga lempeng bagus. Tapi kalau dari awal wes ruwet (misal nggak tepat waktu, gonta-ganti tempat meeting, jam, mangkir ini itu), cenderungnya gaweyannya dan pembayarannya yo ribet.

Jadi kalau sudah ada tanda 1,2 kayak gitu, biasanya saya langsung pilih “nggak menerima”. Kalau nggak enak nolaknya, suruh manajer aja yang menolak. Kalau uang DP sudah dibayar, kembalikan saja biar nggak nyicrit ribut di sosmed. Duit bagi saya memang sangat penting, tapi kalau proses kerjanya nggak bikin happy, weslah cari kerjaan atau klien lainnya saja. Kesehatan jiwa raga fisik mental itu penting.

Dalam keluarga, terbuka soal kondisi keuangan dapat mencegah konflik. Dalam pekerjaan, berani menyebut kebutuhan gaji atau honor yang sesuai justru menunjukkan profesionalisme. Dalam pertemanan, jujur menolak ajakan nongkrong karena alasan finansial lebih baik daripada memaksakan diri.

Kita perlu mengubah perspektif: mengatakan “saya perlu uang” bukanlah kelemahan, tapi sebuah kejujuran. Sama halnya ketika kita mengatakan “saya lapar” atau “saya butuh istirahat.” Dengan mengakui kebutuhan, kita belajar merencanakan, mencari solusi, bahkan membuka peluang baru.

Nggak ada yang salah dengan kebutuhan finansial. Yang keliru adalah berpura-pura mampu saat kenyataannya nggak begitu. Jadi, jangan malu berkata: “Saya perlu uang.” Karena dari kejujuran itu, kita bisa belajar mengatur diri, mencari jalan keluar, dan tetap menjaga martabat tanpa harus terjebak dalam gengsi.

Sederhana saja, kalau nggak perlu uang, ngapain kita tiap hari capek-capek kerja dengan segala problematikanya yang kadang bikin emosi jiwa juga? Jawaban jujur sudah pasti sampeyan temukan di hati masing-masing. 😀

Ari Kinoysan Wulandari