Bali Lovina (10): Budget dan Review

Tersenyumlah yang lebar agar rezekimu melimpah ruah. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Ikut OT dengan Sering Travel versi saya menyenangkan secara umum. Budget untuk 4D3N Bali Lovina (hanya) 1,250 juta plus 50 rb untuk upgrade bus. Total 1,3 jt wes hampir semua tercover untuk mereka yang baru pertama kali ke Bali. Rasah keluar duit lagi kecuali untuk keperluan pribadi.

Seperti yang saya tulis sebelumnya, kalau ikut OT berarti saya nyiapin 100-150% dana dari sejumlah biaya bayar tripnya. Ini demi “rasa aman” saya pribadi. Kalau biaya OT 1,3 jt; berarti saya nyiapin (lagi) lebih kurang 2 jt; dalam bentuk cash dan uang digital. Untuk apa saja dana itu? Silakan cek-cek. Ingat ya, tiap orang bisa berbeda-beda anggaran dana dan penggunaannya. Tinggal menyesuaikan saja dengan keperluan masing-masing.

Pantai Pandawa. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

  1. Biaya transport dari rumah ke mepo PP @60 rb = 120 rb
  2. Biaya sarapan hari pertama 60 rb (optional sesuai keperluan masing-masing; saya perlu sarapan di luar karena lembur gaweyan dan baru beres saat mau berangkat)
  3. Bayar makan yang nggak ditanggung biro 2x atau 3x makan (sesuai keperluan) @50-60 rb an = 180 rb (terbesar kepake di resto seafood)
  4. Biaya sewa pakaian adat @50 rb = 50 rb
  5. Biaya tiket tari kecak @100 rb = 100 rb
  6. Biaya beli minuman permen 4 hari @30-50 rb per hari = 200 rb (di bus Sering Travel ada dispenser, bisa dimanfaatkan bagi yang mau hemat atau skip anggaran beli minum kemasan)
  7. Biaya ke toilet (sesuaikan keperluan masing-masing) @2-10 rb × 4-5 kali × 4 hari = 80 rb s/d 100 rb. Beberapa toilet gratis, beberapa bayar 10 rb.😜 Khusus bagian ini siapin uang receh 2 rb, 5 rb dan 10 rb. Daripada dibilang nggak ada kembalian dan 10 rb mu melayang, padahal kudunya cuman bayar 2 rb 😁
  8. Beli oleh-oleh (optional, sesuaikan keperluan). Kali ini saya beli cukup banyak. Tetangga kiri kanan sudah serasa keluarga dan juga untuk teman-teman kantor. Versi saya, lebih gampang memberikan makanan habis pergi –ada alasan berbagi). Cek-cek nota pembelian ada 750 rb an (ini ukuran saya cukup besar, di Jogja bisa untuk biaya makan 1 keluarga 15 hari 😄). Tentu banyak juga oleh-oleh untuk diri sendiri. Untuk berbagi ini, kalau saya sedang banyak keperluan dan budget tipis, saya skip. Hanya beli oleh-oleh yang betul-betul saya kepingin dan hanya ada di tempat itu. Nggak bawa oleh-oleh bukan hal yang tabu bagi saya setelah bepergian. Lha memangnya situ mau gantiin uangnya? 😜 Syukur alhamdulillah, di sekitar saya juga bukan tipikal orang-orang usilan minta oleh-oleh. Semua sadar, bepergian, piknik bukan berarti duit kita (selalu) berlebihan.
  9. Lain-lain sosial; isi kotak mesjid, isi kotak toilet non charge, dll. = 50 rb
  10. Dana darurat @50 rb per hari = 200 rb (nggak terpakai).

Tanjung Benoa. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Total 1.810.000 (nggak terpakai 200 rb; pengeluaran 1.610.000). Duit yang saya siapin 2 juta; jadi masih tersisa 390 rb an. Ya masih aman to? Bisa ditabung lagi untuk OT berikutnya. Saya happy, nggak ngirit-ngirit banget, juga nggak boros dan wes memenuhi semua prioritas keinginan saya pas ikut OT ini. Alhamdulillah. Wes kesampaian ke Pantai Lovina liat lumba-lumba dan ke Desa Panglipuran. Kalau trip pribadi dan ngurus sendiri? Beuh bisa berlipat pengeluarannya; transportnya aja pasti pesawat atau kalau bus ya sleeper yang nyaman 😆

Secara pribadi dari angka 0 sd 5 saya memberi nilai 4,5 untuk Sering Travel. Nyaris sempurna ya, nggak ada banyak kekurangan. Layanan bagus, armada bus adem nyaman, makanan enak terjamin cukup, waktu ishoma cukup, hotel nyaman dan pelayanan ramah, tertib mengatur waktu; TL, local guide, photographer, driver, bus helper: have done their work profesionally. Luar biasa. Terimakasih.

Kekurangan yang sempat saya rasakan, bisa jadi nggak dialami orang lain. Pertama masalah sandaran kaki, mungkin bisa dipertimbangkan untuk versi ruang lega non sandaran.

Senja di Tanah Lot. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Kedua, masalah nggak ada penyebutan secara eksplisit bagian exclude pembayaran ini bisa bikin salah persepsi. Random saya bertanya, nggak ada yang bayar tips karena disebut sukarela. Ada baiknya biro eksplisit saja, biar gampang misal tips 5-10% dari total trip atau kalau di trip ini 65rb-130 rb diberikan cash setelah trip atau yo include saja saat bayar. Gampang mikirnya.

Waktu saya nanya Kak Bebe pas bayar charge tambahan 50 rb, ada biaya apalagi; dijawab nggak ada. Saya njur nggak pikiran. Saya pikir its ok aja kok biro menarik tips, mayoritas biro juga begitu. Apalagi biro-biro piknik luar negeri dan durasi lebih dari 10 hari. Malah kepenak. Sekarang tuh layanan jasa wes gak zamannya lagi makin murah makin laris. Jadi bisa dipertimbangkan agar konsumen ya wes mikir biayanya; biro dan kru juga nggak dirugikan karena njur nggak pada bayar dengan alasan sukarela. Nggak rela berarti nggak bayar dong😁😜

Masalah nggak tercantum harga seperti sewa baju, tiket wahana water sport, tiket tari kecak, itu juga jadi kekurangan point bagi Sering Travel. Saya yakin banyak peserta yang pingin ikut, tapi karena nggak mengira sebanyak itu –jadi milih nggak ikut. Eksplisit bikin semua terang dan mudah kalau urusan perduitan gini.

Karang Bolong? (Saya lupa nama tempat ini, tapi masih di sekitaran Tanah Lot). Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Masalah ketiga, ada sesi makan malam di salah satu resto seafood. Lha wong di Jogja bae wes muni regane apalagi di Denpasar. Waktu itu saya banyak sekali mendengar gerundelan terutama ibu-ibu karena harganya “bunyi”. Saya pribadi sempat berhitung kenapa charge makan dan minum saya jadi over, beda dari perkiraan harga yang harus saya bayar? Oalah ada tambahan PPN 10%, layanan 5%, biaya packing karena saya tenteng bungkus kelebihannya. Wes gitu antrinya 1 jam lebih sampai saya kelaparan. Padahal mung pesen nasi goreng seafood dan secangkir lemon tea. 😁

Ada baiknya seluruh makan dari berangkat di mepo balik pulang ke mepo itu wes include diurus biro yang lebih praktis murah (tentu dengan charge). Intinya siy, ada baiknya makan wes dijamin. Biar nggak rieuweuh dan biaya makan jadi bengkak. Ingat ya di Jogja UMR rerata 1,7 sd 2,2 jt. Jadi makan dan minum simpel seporsi hampir 100 rb, di benak ibu-ibu itu serasa ngabisin biaya jatah makan 1 keluarga untuk 2 hari 😁😅

Keempat, masalahnya bukan di saya. Tapi seseorang menegur Kak Bebe karena kalau memotret nggak mengarahkan. “Bilang to Mas, saya tuh harus gimana, gaya apa,” lebih kurang begitu. Saya mung senyum-senyum mendengarnya.

Desa Panglipuran. Kalau ikut OT dan pas liburan, jarang bisa foto tanpa background orang-orang. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Saya tahu kalau Kak Bebe ini bukan fotografer dan mungkin yo wes capek bin lelah bin bosen juga (kalau sudah bolak-balik ngawal trip ke Bali), jadinya milih aman bin selamet; segaya-gayanya peserta pokokmen difoto. Hasilnya ya tergantung keberuntungan untuk bagus buruknya 😁😜 Kak Mancay? Saya jarang melihatnya. Karena begitu lepas dari Pantai Lovina dan trip dikendalikan Mbokde Saori, entah di mana dia berada😁😅

Yach itu aja siy komenan untuk Sering Travel. Terimakasih untuk semua layanan primanya. Terimakasih banyak untuk seluruh teman-teman yang telah bersama-sama menjaga satu sama lain. Sampai jumpa lagi di trip-trip berikutnya. Saya cukupkan catatan Bali Lovina di bagian 10 ini.

Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us:

Bali Lovina (9): Hal-hal di Luar Program, Sesuaikan dengan Kemampuanmu

Topeng-topeng unik dan berkarakter khas Bali. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Selepas pandemi, saya lebih sering ikut open trip (OT) daripada mengatur trip pribadi. Mengikuti OT lebih praktis dan seru; biaya sangat terjangkau, destinasi sudah jelas, jadwal sudah diatur rapi, teman perjalanan bertambah, nggak ribet dengan birokrasi perizinan. Tapi, sebagai orang yang doyan dolan sejak belia, saya tahu persis bahwa budget yang dianggarkan oleh biro travel sering kali hanya pengeluaran di permukaan. Banyak komponen yang belum ditanggung.

Biasanya saya menyediakan dana 100-150% dari besaran biaya yang saya bayarkan untuk OT; untuk oleh-oleh dan berbagai hal. Wes itu, hitungan paling gampang dan bikin saya merasa nyaman aja ikut OT. Nanti akan saya spill anggaran dan penggunaannya. Dan tiap orang bisa saja sangat berbeda ya keperluan dananya, tergantung tujuan dan penggunaannya.

Contoh oleh-oleh dari Bali. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Di luar program yang sudah ditentukan biro, ada banyak hal kecil yang bisa bikin perjalanan OT makin berkesan. Biar tetap hemat dan sesuai kantong, penting untuk menyiapkan budget tambahan dan tahu prioritasmu. Ingat ya, list prioritasmu dan sesuaikan dengan budgetmu. Bukan ikut-ikutan orang lain. Berikut ini beberapa hal yang bisa kamu lakukan di luar agenda OT, untuk memberi acuan dalam mengatur budget.

Pertama, cicipi kuliner lokal. OT biasanya menyediakan makanan standar, tapi jangan lewatkan kesempatan mencicipi hidangan khas daerah. Bagi yang pertama kali ke Bali, sisihkan budget khusus untuk kuliner (misalnya Rp100.000 sd 200.000 per hari). Cari rekomendasi warung lokal atau street food. Utamakan makanan khas yang sulit ditemui di kotamu.

Contoh souvenir dari Bali. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Kalau sudah bolak-balik ke Bali ya nggak usah. Atau kalau kamu nggak sreg dengan makanannya, yo nggak usah sok familiar bisa makan apa saja. Perutmu sakit nggak ditanggung biro! Atau kalau makanannya kayak enak, tapi harganya nggak sesuai budgetmu, coba cari rekomendasi yang lebih sesuai dengan kantong.

Kedua, belanja oleh-oleh seperlunya. Oleh-oleh memang menyenangkan, tapi jangan sampai jadi beban. Tentukan anggaran khusus (misalnya maksimal 30-50% dari total budget). Pilih oleh-oleh praktis: makanan kering, kopi, kerajinan kecil. Batasi belanja hanya untuk keluarga inti atau teman dekat.

Sisi depan pusat oleh-oleh Joger. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Ikut OT dengan Sering Travel ini kita diajak ke pusat oleh-oleh Djoger, Krisna, dan Dewata Agung (pusat produksi pie susu). Tentu di sini macem-macem jenis oleh-olehnya. Kalau sampeyan memang perlu dan budgetnya ada atau sesuai, ya belilah. Tapi kalau nggak beli, tenang aja, kamu nggak perlu berkecil hati dengan mereka yang belanja-belinji. Kamu nggak minta uang mereka dan bisa jadi tujuan piknikmu memang beda dengan mereka yang belanja banyak oleh-oleh.

Aturan ini sudah saya pake secara ketat untuk diri sendiri. Jadinya saya nggak pernah nanyain teman sebangku, sekamar, seperjalanan dalam OT belanja apa saja, makan apa saja. Itu urusan mereka, bukan urusan saya. Dan saya disiplin sekali pada diri sendiri agar nggak kepoan, julidan, nyinyiran pada orang lain. Karena saya juga nggak demen orang lain berlaku begitu pada saya.

Prinsip hidup di areal Joger. Jahid, jakup, jamul, jamat, japer, jagim. Intinya agar hidup selamat setiap orang harus jaga hidung, jaga kuping, jaga mulut, jaga mata, jaga perasaan, dan jaga iman. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Itu prinsip sederhana yang aman untuk semua perjalanan dengan beragam orang dari berbagai latar belakang dan tingkatan sosial ekonomi yang berbeda. Kecuali, mereka nanya minta bantuan sebaiknya beli oleh-oleh apa, di mana, dll. Kalau saya tahu, saya jawab. Kalau nggak, nanya TL atau guidenya.

Ketiga, eksplorasi waktu luang. Gunakan jeda waktu kosong untuk melihat sisi lain destinasi. Pada saat kami sudah check in hotel, saya tahu banyak yang masih keluar lagi berkeliaran untuk tujuan masing-masing. Ada yang cari makanan, oleh-oleh, pergi ke tempat wisata lain, dlsb.

Kadang mereka yang begini juga cari spot sekitar penginapan untuk jalan santai, berinteraksi dengan warga lokal (bisa dapat cerita unik), hunting foto atau video tanpa harus keluar uang. Ini memang bagus dan menyenangkan.

Bagi penggila cokelat, Bali sudah punya banyak signature-nya. Pilih-pilihlah yang sesuai. Rerata nggak pahit meskipun porsi cokelatnya 65%. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Tapi kalau dirimu nggak sekuat mereka, sudah lelah, dan hanya ingin segera tidur istirahat, ya tidur saja. Nggak usah sok-sokan tenggang rasa sama mereka yang masih cukup energi (dan uang) untuk ubyang-ubyung. Ingat, kalau kamu sakit mendadak atau anggaranmu jebol, mereka nggak ikut menanggung.

Keempat, ikut aktivitas opsional. Banyak OT menawarkan tambahan kegiatan. Seperti OT ini saat di Panglipuran ada sewa baju adat Bali, di Tanjung Benoa ada macem-macem wahana water sport, di Tanah Lot ada nonton Tari Kecak. Helooo… kalau ada rupa-rupa begini, pastikan tanya harga aktivitas opsional sebelum ikut. Pilih yang sesuai minat (jangan ikut hanya karena teman ikut). Pastikan budget nggak mengganggu kebutuhan utama. Pokoknya urus prioritasmu, cek-cek budgetmu.

Kelima, nikmati hiburan sederhana. Nggak semua kesenangan butuh biaya mahal. Coba nikmati sunset atau sunrise gratis di spot terbuka. Dengarkan musik jalanan atau tontonan lokal. Nikmati ngobrol santai dengan teman-teman baru.

Tempat pembelian oleh-oleh paling hits di Bali. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Keenam, dokumentasikan perjalanan. Kenangan perjalanan bisa abadi lewat foto dan video. Meskipun dari biro sudah ada dokumentasi, tetap gunakan kamera ponsel untuk dokumentasi sederhana. Simpan file di cloud/drive agar nggak hilang. Jika ada budget lebih, pertimbangkan sewa fotografer lokal untuk foto-foto dan dokumentasi yang lebih baik.

Intinya, ikut OT nggak akan mengcover seluruh keinginan piknikmu. Siapkan dana tambahan sekurangnya 30-60% dari biaya OT untuk hal-hal di luar program. Pastikan kamu tahu prioritas dan fleksibel. Pilih aktivitas dan pembelian sesuai dengan keinginan dan kemampuanmu, bukan sekadar ikut-ikutan.

Ari Kinoysan Wulandari
Bersambung

Please follow and like us:

Bali Lovina (7): Tanah Lot, Air Suci dan Penunggunya

Penanda pura di Tanah Lot dimuliakan, dianggap luhur. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Kunjungan kami berikutnya ke Tanah Lot. Terletak di Kabupaten Tabanan, sekitar 20 km dari Denpasar, Tanah Lot menjulang kokoh di atas batu karang yang besar. Saat air pasang, pura ini tampak seperti mengapung di tengah laut. Keindahan panorama matahari terbenam di balik siluet pura membuatnya menjadi ikon Bali yang mendunia. Tanah Lot bukan sekadar destinasi wisata. Ini adalah pusat spiritual, tempat di mana mitos, alam, dan keyakinan berpadu.

Sejarah Tanah Lot nggak bisa dilepaskan dari kisah Dang Hyang Nirartha, seorang pendeta dari Jawa yang menyebarkan ajaran Hindu ke Bali pada abad ke-16. Dikisahkan, Nirartha melakukan perjalanan spiritual dan sampai di sebuah pantai dengan batu karang besar yang menjorok ke laut.

Tanah Lot di belakang saya. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Sang Pendeta merasakan aura kesucian di tempat itu, sehingga memutuskan untuk mendirikan pura di atas karang tersebut. Namun, raja setempat saat itu merasa terganggu dan mencoba mengusir Nirartha. Konon, dengan kekuatan spiritualnya, pendeta sakti ini berhasil memindahkan karang ke tengah laut. Selanjutnya karang tersebut menjadi pulau kecil yang kini dikenal sebagai Tanah Lot; yang berarti “tanah di tengah laut”.

Di kaki karang Tanah Lot terdapat sebuah mata air yang unik. Meski dikelilingi air lautan asin, airnya tetap tawar. Umat Hindu percaya air ini adalah tirta suci, lambang pemurnian lahir batin. Saat upacara keagamaan, air suci ini digunakan sebagai sarana penyucian. Sementara wisatawan kerap merasakan kesegarannya dengan membasuh wajah atau meminumnya sedikit. Keajaiban air ini menjadi salah satu bukti bahwa Tanah Lot bukan sekadar tempat wisata, melainkan ruang sakral yang dijaga oleh alam itu sendiri.

Selain air suci, Tanah Lot dikenal dengan ular laut sucinya. Ular-ular ini hidup di celah karang dekat mata air, dipercaya sebagai jelmaan selendang Nirartha. Mereka dianggap sebagai penjaga pura dari energi negatif dan gangguan roh jahat. Meski berwujud ular berbisa, masyarakat meyakini ular ini nggak berbahaya, kecuali diganggu. Keberadaannya justru memperkuat aura mistis sekaligus kesakralan Tanah Lot.

Gua tempat tinggal ular suci di Tanah Lot. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Tanah Lot bukan hanya keindahan yang memanjakan mata, tapi juga kisah spiritual yang menyentuh jiwa. Laut, karang, air tawar, dan ular laut bersatu dalam harmoni, menghadirkan sebuah ruang sakral yang melampaui sekadar panorama.

Inilah sebabnya Tanah Lot nggak pernah kehilangan pesonanya. Ia bukan sekadar tempat untuk menikmati matahari terbit atau terbenam, tapi juga perjalanan batin; sebagai pertemuan antara manusia, alam, dan yang ilahi.

Pada saat kami di sini, suasana ramai sekali. Tumplek byuk orang-orang dari berbagai tempat di penjuru negeri. Antrian di depan tempat air suci mengular panjang. Sementara beberapa orang terlihat di depan sisi gua tempat “ular suci” konon bermukim.

Keramaian Tanah Lot saat kami datang. Makin sore makin penuh. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Saya, selain sudah cukup lelah, keramaian orang juga sering membuat pening mendadak (kekurangan oksigen bersih). Karenanya saya sadar diri, nggak cari perkara dengan urusan kesehatan. Begitu selesai minta foto-foto dari Kak Bebe, mider di beberapa sudut untuk ambil foto. Njur minum dan thenguk-thenguk saja menyaksikan orang lalu lalang dengan aneka dandanan rupa-rupa.

Sebenarnya ada keinginan untuk melihat ular sakti di gua dan antri air suci. Dulu-dulu saya nggak pernah kepikiran tentang dua hal ini. Ke Tanah Lot, datang ya datang aja. Motret sunrise atau sunset, mider keliling, njur pulang. Cuma gegara cerita Mbokde Saori tentang spirit “berkah rezeki dan kebaikan” via pertemuan dengan ular sakti dan minum air suci, saya jadi tergoda.

Iya dong, kalau kamu doyan dolan nggak cukup sekedar “katanya” atau mendengar cerita. Datang dan buktikan keberadaannya. Cuma karena energi saya sudah lumayan tipis, saya mundur teratur. Apalagi ini jelang maghrib, energi “kaum tak nampak” begitu jauh lebih besar daripada kita. Makanya orang Jawa punya istilah “kesurupan” yang berarti dimasuki “makhluk asing” saat surup “maghrib”.

Jelang maghrib menuju tempat pertunjukan Tari Kecak. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Urusan-urusan nggak kasat mata begini, bisa ribet bermasalah kalau kita nggak sedang full energi. Kita bisa kalah lawan kekuatan gaib. Lha celaka kalau kita bisa masuk dunia mereka, nggak bisa balik. Kalau energi kita sedang full siy, aman-aman aja. Kita menang, karena kita “berjiwa dan berfisik”. Versi saya, ternyata menarik juga mendengar kisah-kisah orang lokal Bali tentang betapa sakti dan bertuahnya si ular dan air suci Tanah Lot ini. Wallahu a’lam tergantung mereka yang meyakininya.

Ari Kinoysan Wulandari
Bersambung

Please follow and like us:

Bali Lovina (6): Tanjung Benoa, Siapkan Energi dan Cuanmu

Jet ski salah satu wahana water sport di Tanjung Benoa. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Dari Pantai Pandawa, kami bergerak ke Tanjung Benoa. Tempat ini adalah surganya water sport di Indonesia. Sarprasnya paling lengkap, wahananya paling beragam, standar keamanan secara umum sudah mengikuti standar internasional. Kalau kamu belum pernah ikut water sport di sini, datang lagi ke Bali dan cobalah pengalaman serunya.

Dari Sering Travel, di Tanjung Benoa hanya untuk foto-foto dan makan siang. Seluruh wahana water sport exclude biaya yang dibayarkan. Jadi kalau sampeyan mau memanfaatkan waktu 3 jam di sini untuk ikut wahana, semua kudu bayar dhewe. Dan seperti kebanyakan orang tahu, wahana water sport lumayan ada harganya. Foto-foto yang saya posting di sini bukan dokumentasi saat ikut trip dengan Sering Travel. Tapi dokumentasi trip pribadi setahun sebelumnya.

Bali memang nggak hanya dikenal dengan pura, pantai, dan budaya yang memikat, tapi juga dengan segudang atraksi wisata airnya. Salah satu destinasi favorit untuk pecinta adrenalin sekaligus rekreasi keluarga ya water sport di Tanjung Benoa ini. Pantai ini terletak di ujung tenggara Pulau Dewata, dekat Nusa Dua.

Dikenal dengan garis pantainya yang panjang, ombaknya yang relatif tenang, serta pasir putih yang lembut, Tanjung Benoa menjadi pusat water sport yang mendunia. Hampir setiap hari, kawasan ini ramai dikunjungi wisatawan yang ingin mencoba berbagai aktivitas seru, mulai dari yang santai hingga yang memacu jantung.

Mari kita ulik, beberapa wahana water sport yang populer di Tanjung Benoa. Siapa tahu kamu tertarik untuk mencobanya, bisa siap-siap energi dan uang sebanyak wahana yang ingin kamu coba.

Pertama, jet ski
Ingin mengendarai kendaraan air seperti motor di daratan? Jet ski memberikan kebebasan untuk melaju kencang di atas permukaan laut. Aktivitas ini cocok untuk mereka yang suka kecepatan sekaligus menikmati percikan air laut.

Versi saya, ini wahana water sport paling gampang digunakan. Kalau kamu biasa pake motor matic, ya wes bayangkan saja seperti itu tapi jalanannya (medannya) air laut. Seru, di sini kita bisa teriakan bebas melepas penat. Satu jet ski bisa untuk berdua, tapi pastikan berat kalian nggak lebih dari kapasitas yang diizinkan. Bisa oleng nggoling jet skinya kalau kelebihan beban. Harga sewanya berapa, googling aja secara mandiri.

Sekarang sudah ada generasi barunya, namanya car ski. Namun wahana ini di Tanjung Benoa belum tersedia. 1 car ski bisa muat 4 orang. Di Indonesia baru tersedia di perairan Batam, dengan charge 1 juta per mobil selama 20 menit (tahun 2025).

Kedua, banana boat
Wahana ini menjadi favorit keluarga dan rombongan sahabat. Dengan bentuk perahu pisang yang ditarik speedboat, pengunjung akan diajak berkeliling laut sambil merasakan sensasi digoyang ombak. Tawa dan jeritan seru sudah pasti terdengar sepanjang perjalanan. Versi saya, ini wahana yang pas untuk seru-seruan saja, nggak perlu takut. Chargenya pun lumayan murah.

Parasailing di Tanjung Benoa. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Ketiga, parasailing
Bagi yang ingin merasakan sensasi terbang, parasailing adalah pilihan tepat. Dengan payung parasut berwarna-warni, wisatawan akan ditarik speedboat hingga melayang tinggi di udara. Dari atas, pemandangan birunya laut dan hamparan pantai Tanjung Benoa terlihat begitu indah.

Pake wahana ini kamu perlu “mental berani” dan nggak takut suara ombak besar, nggak takut ketinggian. Biayanya lumayan. Satu wahana bisa untuk dua orang. Kalau kamu penakut, jantungan, asma atau sesak nafas, ngeri lihat air bergelombang dan ketinggian, wes mending nggak usah coba-coba. Bisa merepotkan banyak orang.

Ini wahana yang versi saya sangat menyenangkan. Bisa teriakan bebas sampai suara habis tanpa perlu takut didengar orang. Mo maki-maki marah-marahin orang dari ketinggian, juga nggak ada yang dengar😄😁 Dari ketinggian, kita bisa dibuat sadar; betapa kecilnya kita di antara lautan luas, daratan yang membentang, dan langit yang menghampar seolah tanpa batas. Subhanallah. Maha Suci Allah dengan segala ciptaanNya.❤

Keempat, flyboard
Biyuuu… ini atraksi “horor” versi saya. Jatuh bangun, jatuh bangun, tetep aja nggak bisa berdiri tegak, apalagi atraksi seperti superhero; nehi, nehi…. nggak gampang. Toh atraksi ini justru banyak “digilai” anak muda. Makin ekstrem, makin seru.

Ya memang wahana ini seru banget, tapi capeknya juga nggak kira-kira. Dan yang pasti, ini wahana yang nggak cuma butuh duitmu; tapi kesiapan fisik mentalmu, energimu, keberanianmu, keseimbangan tubuh, kesabaran dan ketenanganmu sekaligus. Pastikan kamu sehat prima fisik mental saat pake alat ini. Kalau masih ada ragu begini begitu, wes rausah coba-coba.

Nah, kalau kita pake wahana ini; nanti dengan alat khusus yang terhubung ke mesin jet ski, kita bisa melayang di atas air, bahkan melakukan berbagai gaya ekstrem layaknya superhero. Butuh sedikit keseimbangan, tapi sensasi yang didapat benar-benar luar biasa. Tapi percayalah, jatuh bangunnya lebih sering daripada sekedar bisa berdiri tegak seimbang. Jian, atraksi membagongkan tapi yo saya jajal 😄😁

Kelima, rolling donut
Kalau versi saya ini mah, wahana untuk seru-seruan bae. Nggak ada tantangannya. Mirip banana boat, tapi bentuknya bulat menyerupai donat. Wahana ini bisa berputar-putar di lautan saat ditarik speedboat, membuatnya jadi salah satu permainan paling banyak diminati pengunjung di Tanjung Benoa.

Keenam, seawalker (Bali Ocean Walker)
Yuhuuu… ini wahana yang bikin hati happy. Nggak banyak effort, tapi kita bisa melihat keindahan bawah laut. Nggak perlu bisa menyelam atau berenang untuk menikmati keindahan bawah laut. Dengan helm khusus berisi oksigen, wisatawan bisa berjalan di dasar laut sambil memberi makan ikan-ikan berwarna-warni. Cocok untuk anak-anak hingga orang dewasa.

Seperti namanya seawalker, setelah kita pake helm oksigen, tinggal jalan-jalan aja di bawah air. Kedalamannya antara 5-10 meter di bawah laut. Jadi aman banget untuk mereka yang normal, sehat, nggak takut air.

Di bawah air kita ngapain? Lihat ikan dll binatang, terumbu karang, ngasih makan ikan, dan foto-foto. Sewa layanan ini nggak include dokumentasi bawah air. Jadi pastikan sampeyan sudah pesan bayar dokumentasi nya. Versi saya, seru banget rasanya pas lihat ikan kemruyuk di sekitar saya, bisa menyentuhnya dan wow… “beneran ikan ini…” Haha… kadang kalau ketemu hal baru yang “ajaib”, norak juga saya sebagai ekspresi takjub.

Seawalker di Tanjung Benoa. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Ketujuh, snorkeling dan diving
Di banyak tempat di Indonesia, snorkeling dan diving sudah jadi andalan pariwisata laut. Namun kalau kamu sudah biasa snorkeling dan diving di medan-medan yang kondang keren bawah lautnya; di sini bisa sedikit kecewa. Karena ya tentu nggak sebagus di Karimun Jawa, Bunaken, Wakatobu, Maluku, Raja Ampat, dll. Tapi kalau belum banyak turun ke bawah laut dan just for fun tempat ini sangat boleh dicoba. Lautnya tenang, nggak dingin, dan lumayan banyak yang bisa dilihat. Terumbu karang yang masih asri dan ikan-ikan tropis menjadi daya tarik tersendiri.

Kedelapan, glass bottom boat & turtle island
Bagi wisata keluarga, naik perahu dengan kaca bening di bagian bawah menjadi pengalaman menarik untuk melihat kehidupan laut tanpa harus basah-basahan.

Biasanya paket ini dilanjutkan dengan kunjungan ke Pulau Penyu, tempat penangkaran penyu hijau, burung langka, dan berbagai satwa lainnya. Kalau ini versi saya wahana “santai-santai bae”. Tinggal ikutin aja arahan guide tanpa kita perlu do something yang berat. Buat anak-anak dan keluarga sangat cocok 😀

Lebih kurang itu siy, water sport yang kondang populer di Tanjung Benoa. Soal harga sampeyan bisa googling mandiri. Di tempat ini ada banyak pemyedia layanan jasa water sport. Silakan pilih-pilih yang menurut sampeyan cocok. Program dan durasi pun beragam. Pilih yang sesuai kemampuan dan budgetmu. Pastikan pula jelas apa yang harus kamu bayar dan dapatkan, durasi, jenis, dokumentasi, asuransi, dll kalau ada force majeur siapa yang bertanggung jawab.

Tanjung Benoa sudah terkenal dengan pelayanan profesional, peralatan yang terawat, dan harga paket yang beragam sesuai kebutuhan. Lokasinya yang strategis, hanya sekitar 20 menit dari Bandara Ngurah Rai, membuatnya mudah diakses. Seluruh layanan kendaraan online bisa langsung tiba di tempat. Makanan beragam juga bisa dipilih di sini. Sungguh tempat ini serasa kombinasi panorama indah, suasana pantai yang hangat, dan adrenalin dari berbagai water sport yang menjadikan Tanjung Benoa sebagai destinasi yang nggak boleh dilewatkan ketika berlibur di Bali.

Saat ditawari oleh Mbokde Saori untuk ikut ini itu di Tanjung Benoa, saya menggeleng. Nggak ikut. Karena semua sudah pernah saya lakukan. Butuh 3-4 harian untuk menikmati seluruh wahana water sport di sini dengan santai-santai, kalem-kalem. Sehari cukup 2-3 wahana saja.

Bisa siy langsungan seharian dari pagi sampai sore. Tapi ya kemrungsung dan capek juga. Kalau santai-santai bisa enjoy, happy; cuman ya jelas makin lama durasi penggunaan, tentu makin banyak cuan yang harus dikeluarkan.

Bagi saya pribadi, pas menikmati wahana di sini yo sudah disiapkan jauh-jauh dan saat itu saya memang ada waktu cukup lama untuk pekerjaan di Bali. Jadi nggak mikirin lagi soal akomodasi, tinggal datang aja ke sini dan pilih-pilih wahana yang sesuai.

Bagaimana, kamu tertarik untuk mencoba water sport di Tanjung Benoa? Kalau kamu menggunakan layanan di sini, pastikan sudah include dokumentasi, termasuk dokumentasi bawah air ya; karena itu ada charge yang nilainya hampir setara dengan harga layanan wahananya. Pinter-pinter nego saja. Apalagi kalau kamu datang berombongan.

Ari Kinoysan Wulandari
Bersambung

Please follow and like us:

Bali Lovina (5): Pantai Pandawa dan Upacara Melasti

Kami di gerbang Pantai Pandawa. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Pada hari berikutnya, tibalah kami di Pantai Pandawa. Ini salah satu pantai yang populer di Bali. Seperti sudah tercermin pada namanya, asal usul pantai ini nggak dapat dilepaskan dari kisah Pandawa dalam cerita Mahabarata.

Dahulu kala, pantai ini sebut dengan Pantai Kutuh, sesuai nama desanya. Pantai indah ini tersembunyi di balik tebing kapur yang menjulang tinggi. Pantai itu begitu sunyi, seakan bersembunyi dari dunia luar, sehingga orang-orang menyebutnya “pantai rahasia”.

Namun, masyarakat Desa Kutuh percaya bahwa pantai itu dijaga oleh roh kesatria agung, yaitu Pandawa Lima dari kisah Mahabharata: Yudistira, Bima, Arjuna, Nakula, dan Sadewa. Mereka diyakini hadir untuk melindungi pantai, menjaga kesucian laut, dan memberikan berkah kepada siapa saja yang menghormati alam.

Di gerbang Pantai Pandawa. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Seiring waktu, masyarakat ingin membuka akses ke pantai itu agar keindahannya dapat dinikmati oleh semua orang. Tetapi tebing kapur yang besar menghalangi jalan. Mereka bekerja siang dan malam, menebas tebing batu, seperti halnya Pandawa Lima yang harus berjuang melewati rintangan dan berperang melawan angkara murka dalam hidup mereka.

Konon, saat masyarakat mulai lelah, mereka mendengar bisikan gaib, “Jangan takut. Kami akan selalu bersamamu. Tebaslah tebing ini, bukalah jalan, karena keindahan yang tersembunyi harus dibagikan untuk semua umat manusia.”

Bisikan itu diyakini sebagai suara Pandawa. Semangat masyarakat desa pun kembali berkobar, dan akhirnya jalan menuju pantai berhasil dibuka. Sebagai tanda terima kasih, masyarakat memahat patung raksasa Pandawa Lima di tebing batu, seolah-olah para ksatria itu menjaga pintu masuk menuju pantai.

Salah satu kecantikan Pantai Pandawa: air biru jernih dan pasir putih menghampar. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Sejak saat itu, pantai tersebut dikenal sebagai Pantai Pandawa, bukan lagi pantai rahasia atau Pantai Kutuh. Kini, siapa pun yang datang ke Pantai Pandawa, nggak hanya disuguhi hamparan pasir putih dan birunya laut, tapi juga diingatkan akan kisah ksatria Pandawa: tentang perjuangan, keberanian, dan kesetiaan, yang diwariskan untuk generasi setelahnya.

Saat tiba di pantai ini, saya foto beberapa kali njur thenguk-thenguk melihat lalu lalang orang yang hilir mudik. Sudah terlalu panas di jam 10-an pagi itu. Lagipula ini pantai sudah berkali-kali saya tengok. Jadi berasa biasa, meskipun tentu (versi saya) tetap lebih bagus dibandingkan dengan pantai-pantai di sekitaran Jogja; terutama birunya air yang sejernih kristal dan putihnya lautan pasir yang begitu bersih.🤩

Iring-iringan warga Hindu Bali untuk upacara Melasti saat baru datang. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Wah, pas kami di sini ternyata ketemu rombongan warga Hindu Bali yang menyelenggarakan acara adat Pelasti, Melasti. Saya mendengar cukup banyak uraian tentang Melasti dari warga lokal yang duduk-duduk di sekitar saya.

Yang pertama saya lihat adalah orang-orang Hindu Bali berjalan beriringan menuju pantai atau sumber mata air. Pakaian adat berwarna putih, bau harum dupa, tabuhan gamelan, umbul-umbul warna-warni, serta aroma sesajian yang mengaur lembut tertiup angin menjadi pemandangan yang begitu magis. Itulah penampakan langsung Upacara Melasti, salah satu tradisi sakral umat Hindu di Bali.

Melasti berasal dari kata “lasti” yang berarti menyucikan. Upacara ini dilakukan dengan tujuan utama membersihkan diri lahir dan batin, sekaligus menyucikan berbagai benda sakral milik pura yang disebut pralingga dan pratima. Semua benda itu diarak menuju laut atau danau sebagai simbol kembali ke sumber kehidupan.

Rombongan peserta upacara Melasti ketika lebih dekat pantai. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Bagi masyarakat Bali, air adalah elemen suci yang menyimbolkan kehidupan. Itu sebabnya, laut, danau, atau mata air dipilih sebagai tempat upacara. Di sana, umat Hindu Bali memohon penyucian diri dari segala kotoran duniawi (mala) agar siap menyongsong sesuatu yang baru dengan hati bersih. Melasti juga mengajarkan harmoni antara manusia, alam, dan Tuhan; sebuah konsep yang sejalan dengan Tri Hita Karana.

Suasana upacara Melasti sangat meriah sekaligus khidmat. Umat Hindu berjalan beriringan dari pura desa menuju pantai dengan membawa sesajen, payung hias, umbul-umbul, serta barisan penabuh gamelan. Aroma dupa berpadu dengan deburan ombak menambah nuansa spiritual yang begitu kuat. Banyak wisatawan yang ikut terpesona dan mengabadikan momen itu.

Melasti bukan sekadar ritual keagamaan, tapi juga warisan budaya yang layak dihargai. Bagi wisatawan, menyaksikan Melasti menjadi kesempatan langka untuk melihat bagaimana masyarakat Bali menjaga tradisi leluhur. Sda baiknya tetap menghormati jalannya upacara: berpakaian sopan, nggak menghalangi prosesi, dan menjaga ketenangan.

Melasti adalah cerminan kearifan lokal Bali yang memadukan spiritualitas, alam, dan kehidupan sosial. Lebih dari sekadar ritual, Melasti mengingatkan kita semua bahwa membersihkan hati sama pentingnya dengan membersihkan tubuh, dan menjaga alam sama pentingnya dengan menjaga diri.

Saya cuma senyum bae ketika membaca chat di grup WA agar kami segera ke bus, karena kalau nungguin selesainya Melasti bisa sampai sore. Waktunya melanjutkan perjalanan.

Ari Kinoysan Wulandari
Bersambung

Please follow and like us:

Bali Lovina (4): Desa Panglipuran, Menyusuri Keindahan Adat dan Tradisi

Kami di gerbang Desa Panglipuran. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Usai dari Bedugul, kami mampir dulu ke pusat oleh-oleh Djoger. Soal belanja saya tuliskan nanti saja bersamaan dengan dua tempat wisata belanja lainnya. Selanjutnya kami ke tempat yang paling saya tunggu lainnya: Desa Panglipuran.

Alhamdulillah, dua tempat yang belum pernah saya datangi akhirnya terwujud di hari itu. Pantai Lovina dan Desa Panglipuran. Sementara tinggal satu tempat yang belum saya tengok, Desa Adat Pegringsingan.

Begitu masuk di areal ini, saya wes antri di seberang gerbang itu untuk foto. Walah antriannya suwe tenan; karena ada rombongan dari Surabaya foto di situ satu per satu. Beuh, akhirnya saya mlipir usai foto-foto grup ya jalan.

Saya berempat dengan Mas Adi, Kak Bebe dan Mbak Maria memakai baju adat Bali. Di sini banyak pilihan banyak tempat. Kalau mau pake baju adat sebaiknya dari awal sehingga bisa dipakai dalam waktu yang lama untuk foto. Sewa baju 50 ribu per set, tapi nggak ada sandalnya, untuk perempuan nggak ada hiasan kepalanya. Di tempat itu ada perlengkapannya tapi kudu beli dan tentu nggak worth it untuk dipakai 30 menitan aja 😁 Toh dengan baju adat yang sebenarnya “seadanya” itu foto kami tetap keren-keren kok.

Mendadak Bali. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Oh iya, nama baju adat untuk perempuan itu kebaya atau kamen dengan kain dan selendang; sementara untuk laki-laki disebut udeng dan kamen (baju dan sarung). Berfoto dengan latar gerbang rumah tradisional atau di jalan utama desa dengan balutan busana adat akan memberikan pengalaman yang nggak terlupakan. Yach sejenak saja “mendadak Bali” seolah benar-benar menyatu dengan suasana Bali tempo dulu. Alhamdulillah. Terimakasih ya Allah atas kesempatan melihat menikmati tempat indah ini.❤️

Bali memang nggak pernah kehabisan cara untuk memikat hati. Desa Panglipuran ini merupakan sebuah desa adat di Kabupaten Bangli yang terkenal dengan keindahan, keteraturan, serta kearifan lokal yang masih terjaga. Saat memasuki desa ini, kita seolah-olah diajak melangkah mundur ke masa lalu, menyaksikan kehidupan Bali yang begitu dekat dengan harmoni dan tradisi leluhur.

Nama Panglipuran diyakini berasal dari kata “pangeling” dan “pura”, yang berarti “tempat untuk mengenang para leluhur.” Warga desa percaya, Panglipuran adalah wujud penghormatan terhadap nenek moyang mereka yang berasal dari daerah Bayung Gede. Hingga kini, masyarakat Panglipuran masih menjaga tata ruang desa berdasarkan filosofi Tri Hita Karana; keseimbangan antara manusia, alam, dan Tuhan. Konsep kosmologi yang mengutamakan keseimbangan dan keselarasan. Kalau orang Jawa bilang “memayu hayuning bawana”.

Foto awal sebelum turun untuk jalan-jalan di lorong Panglipuran. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Konon, ada pula legenda yang menceritakan bahwa keteraturan rumah-rumah di Panglipuran adalah simbol kesatuan warga desa. Nggak ada tembok tinggi yang membatasi antar rumah, melainkan gerbang-gerbang serupa yang sejajar, menandakan kesetaraan dan persaudaraan.

Begitu memasuki area desa, kita akan disambut oleh jalan utama yang rapi dan bersih, diapit rumah-rumah tradisional dengan arsitektur khas Bali. Hampir setiap halaman rumah memiliki taman kecil yang asri. Biasanya kalau pas ada kegiatan atau ritual keagamaan rumah-rumah ini akan dilengkapi dengan penjor-penjor yang cantik (hiasan bambu khas upacara Bali) yang menjulang anggun. Nggak heran, kalau Panglipuran pernah mendapat penghargaan sebagai salah satu desa terbersih di dunia.

Selain berjalan-jalan menikmati suasana, di sini kita juga bisa mencicipi loloh cemcem, minuman herbal khas Desa Panglipuran yang segar dan menyehatkan. Namun buat mereka yang nggak biasa minum jamu, yo gakusah. Karena akan terasa aneh di lidah. Bahan dasarnya kunyit, temulawak, dan kedondong hutan. Yach mirip dengan kunyit asam tapi ini lebih pekat. Sekitar 2018-an saya pernah minum ini karena ada kawan yang bawain. Khasiatnya untuk kesegaran badan dan menghilangkan pegal-pegal atau capek. Kali ini saya nggak mampir ke warung untuk cari minuman itu, wong versi saya itu asam kedondongnya lebih dominan😁

Foto-foto di jalan utama Desa Panglipuran. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Selain jalan-jalan di lorong utama desa, sebenarnya kita bisa mengunjungi hutan bambu yang menjadi bagian nggak terpisahkan dari kehidupan warganya. Di sini, versi orang-orang lokal kita bisa menyaksikan atau bahkan ikut serta dalam aktivitas budaya jika kebetulan bertepatan dengan hari upacara adat. Saya pikir, kaki sudah terlalu pegel untuk jalan dari hulu ke hilir Panglipuran. Jalan dari gerbang sampai ujung.

Meskipun berasa capek, mengunjungi Desa Panglipuran bukan hanya soal melihat keindahan visual. Di sini kita diajak belajar menghargai filosofi hidup sederhana, kebersamaan, dan cinta lingkungan. Dari legenda asal usulnya hingga keramahan warganya, Panglipuran seakan memberi pesan bahwa keindahan sejati lahir dari harmoni antara manusia dan alam.

Jadi bukan hal aneh pula kalau kamu berkunjung di sini ketemu anjing dan kucing berkeliaran secara bebas. Tenang, mereka memang liar (nggak ada pemiliknya), tapi semuanya jinak dan nggak ada yang mengganggu wisatawan, kecuali mungkin kalau kamu jail melemparinya dengan batu… Nah, itu saya nggak tahu risikonya😄😅

Ari Kinoysan Wulandari
Bersambung

Please follow and like us:

Bali Lovina (3): Danau Beratan, Panen Yang Nggak Pernah Habis

Salah satu sisi penampakan Pura Ulun Danu dan Danau Beratan di Bedugul. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Destinasi berikutnya adalah Pura Ulun Danu di Bedugul. Salah satu tujuan wisata yang kondang di Bali karena keindahan alam dan udaranya yang sejuk. Tahukah kamu, Bedugul adalah salah satu tempat dengan kualitas oksigen terbaik di dunia; termasuk satu jenis kualitas dengan oksigen di Swiss dan Hawai.

Itu kenapa kalau ada orang sakit dengan beragam keluhan pernapasan, dokter-dokter yang mempelajari ilmu medis tradisional sering menyarankan untuk “tinggal” di sini beberapa waktu sampai sembuh.

Di Indonesia, tempat yang memiliki kualitas oksigen terbaik lainnya adalah kawasan Candi Gedong Songo, Jawa Tengah; dan Pulau Gili, Sumenep, Madura. Silakan cek-cek masyarakat di ketiga daerah tersebut nyaris nggak pernah sakit. 🤩👍

Rombongan kami di Bedugul. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Mumpung di Bedugul, saya memasukkan oksigen ke thumbler yang saya bawa dan menutupnya. Pas sampai rumah, lagi capek-capeknya, menghirup udara dari thumbler itu langsung lebih fresh. Boleh dicoba lhoooh kalau ke sana lagi atau ke tempat lain yang oksigennya sangat bagus.

Begitu sampai tempat ini, dan teman-teman sudah foto-foto saya merasa kayaknya baru kemarin deh ke sini. Setelah cek agenda, oh sudah Desember 2023. Sudah dua tahun lalu. Perasaan kita memang “berbahaya” kalau nggak dikontrol, suka ke mana-mana. Makanya sering banget kita dengar, “jangan baperan” 😁 Perasaanmu belum tentu mencerminkan realita sesungguhnya.

Saya senang ke tempat ini lagi. Kali ini bunga di mana-mana dan banyak yang sedang mekar. Beuh, kalau saya nggak malu akan minta foto di setiap sisi bunga-bunganya. Lha iya dong, masa kamu bangga pamer bunga tulipnya Amsterdam tapi nggak bangga dengan bunga-bunga Nusantara, eh bunga Bedugul😁

Berbunga-bunga di Bedugul. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Berbagai sisi tempat ini lebih tertata artistik. Beberapa bangunan saya lihat sudah selesai dibenahi. Penambahan ring penanda penjagaan juga lebih terlihat agar kita para pengunjung nggak pecicilan keluar masuk tempat suci seenaknya. Pokmen keren lah.

Air Danau Beratan juga terlihat indah keperakan diterpa matahari pagi. Cantik banget. Memang benar, kalau Jogja terbuat dari rindu dan angkringan; Bali terbuat dari adat tradisi dan keindahan alam. Semua sudut sisi Bali adalah keindahan kecantikan alamiah dan adat budaya yang sangat eksis.

Ada yang tahu awal mula terjadinya Danau Beratan di Bedugul ini? Konon tempat ini dulunya terkena abu vulkanik letusan gunung api. Masyarakat sudah lama mengungsi menghindari bencana letusan gunung api.

Kisah asal mula Danau Beratan terpampang pada ilustrasi timbul di belakang saya. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Setelah letusan gunung mereda, masyarakat yang mengungsi kembali ke daerah ini. Tanahnya ternyata sangat subur. Mereka pun menanam padi dan tanaman pangan lainnya. Hasilnya sangat melimpah. Panen padi dilakukan secara gotong royong, para wanita memanen padi, sementara para pria mengangkutnya ke lumbung.

Namun, terjadi keanehan. Setiap kali mereka selesai memanen di satu area, padi di area lain sudah tumbuh lagi dan siap dipanen. Fenomena ini terjadi berulang-ulang, seolah-olah padi itu nggak pernah habis. Penduduk desa merasa kewalahan karena padi terus tumbuh tanpa henti.

Karena mereka terus-menerus memanen dan nggak ada habisnya, ladang-ladang mereka mulai tergenang oleh air yang meluap dari dalam tanah. Air ini terus bertambah hingga akhirnya menenggelamkan seluruh ladang, mengubahnya menjadi sebuah danau besar.

Bunga-bunga lainnya di Bedugul. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Penduduk desa pun terpaksa pindah dan mencari tempat tinggal baru. Danau yang terbentuk dari kejadian ini kemudian dikenal sebagai Danau Beratan.

Beberapa tahun setelah danau terbentuk, seorang raja Bali yang sedang bermeditasi di Gunung Mangu, nggak jauh dari danau, mendapatkan petunjuk. Ia melihat cahaya di tepi danau yang menandakan bahwa tempat itu suci dan harus didirikan sebuah pura. Raja Bali itu memerintahkan rakyatnya untuk membangun pura di tepi Danau Beratan.

Pura tersebut diberi nama Pura Ulun Danu Beratan, yang secara harfiah berarti “kepala danau” atau “penguasa danau”. Pura ini dibangun sebagai wujud rasa syukur dan penghormatan kepada Dewi Danu, dewi air, sungai, dan danau, yang dipercaya sebagai dewi kesuburan dan kemakmuran.

Bambu kuning (jelmaan atau perwujudan padi), Dewi Danu, di areal yang dilingkari (dijaga atau di bawah kekuasaan) dua naga. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Hingga kini, Danau Beratan dan Pura Ulun Danu menjadi simbol penting bagi masyarakat Bali, terutama dalam menjaga keseimbangan antara manusia dan alam. Bahkan, rumpun bambu kuning yang tumbuh di sisi selatan pura dipercaya sebagai jelmaan dari tangkai padi yang dahulu ditancapkan saat panen, menjadi saksi bisu dari legenda tersebut.

Menarik kan kisahnya? Yach begitu negeri kita, setiap tempat istimewa pasti ada legenda dan asal usulnya. Bahkan mitos-mitosnya.

Di tempat itu juga ada 2 naga melingkari bambu kuning dan Dewi Danu. Saya kurang mengerti makna simbolis ini dalam versi Hindu Bali dan nggak ada yang ditanyai pula. Mbokde Saori (guide lokal Bali) entah ke mana; beberapa orang lokal yang saya tanyai nggak paham tentang naga itu.

Bunga-bunga lainnya. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Secara umum di Nusantara, kita memiliki legenda naga dengan warna “hijau” dan “biru” yang sebenarnya sama saja: sisi kiri dan kanan; sebagai simbol penguasa Nusantara (maritim, khatulistiwa) yang harus kokoh berdiri tegak kuat menjaga Nusantara, terutama dari ancaman naga merah, naga api (kekaisaran Tiongkok, China).

Hal ini sudah terjadi sejak zaman Kertanegara memotong kuping, rambut, merusak wajah utusan China (Meng Ki) yang meminta Singosari tunduk dan mengirim upeti kepada China. Perlakuan itu bentuk simbolis perlawanan dan penolakan. Hingga sekarang pun sebenarnya kita sedang “perang” dalam bentuk yang lain dengan negeri tirai bambu ini.

Kalau sampeyan sering ke mana-mana, pasti akan menemukan simbol-simbol naga biru, hijau, atau emas di seluruh Nusantara. Simbol penguasa yang berdaulat dan menjaga kesejahteraan dan kedamaian rakyatnya dengan melingkari seluruh arealnya menggunakan seluruh badan hingga ekornya.

Ini hanya interpretasi saya pribadi. Butuh sumber dan validasi ahli untuk mengetahui secara pasti makna simbolis dua naga yang melingkari bambu kuning dan perwujudan Dewi Danu.

Sisi lain pura yang banyak dipakai orang foto-foto. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Di sini kami makan siang di areal restoran. Kenyang, enak. Oh iya, untuk Teman-teman muslim yang ikut trip ini, sampeyan kudu secara mandiri mengatur waktu sholat dan mencari tempat sholat ya. Karena ini trip umum, bukan khusus moslem friendly.

Begitu ada waktu istirahat, makan, di rest area; carilah waktu dan tempat untuk sholat. Jangan nungguin teman lainnya. Urusan sama Allah urusanmu pribadi, bukan urusan travel atau orang lain.

Sepanjang trip, saya menggunakan fasilitas kemudahan sholat sebagai musafir (dijamak, diqashar, sholat di bus, di tempat yang saya anggap bersih, dll) sesuai situasi dan keadaan.

Ari Kinoysan Wulandari
Bersambung

Please follow and like us: