Surga di Wakatobi (1): Perjalanan Panjang

Bandara Halu Oleo, Kendari. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Nggak seperti Sanur, Kuta, Tanjung Benoa, Bunaken, Raja Ampat, Derawan, Karimun Jawa, Losari, Pahawang, dll tempat wisata laut yang populer; saya yang lahir dan besar di dataran rendah Tulungagung, Jawa Timur; nggak mengenal kata Wakatobi. Kosakata itu baru saya kenali jelang akhir tahun 2013 saat studi S-3 UGM.

Ada mahasiswa La Ode Rabani (saya memanggilnya Pak Ode) yang memperkenalkan diri, termasuk menyebut kata Wakatobi itu. Di mana ya itu? Pikir saya berkerut. Rada niat, sepulang kuliah bukannya nanya ke ybs tapi malah ngecek di peta. Oalah, Sulawesi Tenggara. Jauh. Googling sejenak saya bisa mendapatkan sedikit info tentang surga bawah laut Wakatobi. Dari 750 spesies di dunia, lebih kurang 500 spesies bawah laut (cmiiw) ada di Wakatobi. Belum terumbu karang yang luar biasa cantik. Wah, boleh juga kalau main ke sana.

Seperti kebanyakan orang dari negeri pelaut, Pak Ode juga berwajah keras (cenderung serem kalau nggak kenal, serius banget kalau lagi kerja). Sampai beberapa bulan di kelas, saya mung tahu namanya Pak Ode dan nyaris tanpa interaksi. Lha saya datang ke kampus 5 menit sebelum kuliah, usai kuliah ya pulang untuk ngurusin gaweyan.

Baru ketika ada kegiatan pengabdian masyarakat dari studi S-3 Ilmu-ilmu Humaniora UGM di Gunung Kidul, kami mulai ngobrol ini itu. Saya yo nanyain tentang Wakatobi dll biaya ke tkp. Besar. Dan keinginan ke tempat itu nggak kesampaian sampai saya lulus S-3 di 2016. Lalu saya wes sibuk gegaweyan, Pak Ode masih lanjut kuliahnya sampai lulus di 2021.

Salah satu sisi dalam Bandara Halu Oleo, Kendari. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Sepanjang ingatan saya selanjutnya, Pak Ode ini baik banget. Rajin nengokin temen-temen yang sakit, rajin silaturahmi, rajin membantu siapa saja. Dan saya kalau dicolek WA, “Ari ayo ikut ke sini, ke rumah si ini, tengok si itu,” dll.; pokokmen saya bisa, saya yo ikut aja. Pernah saya menegurnya keras karena terlalu baik nolongin orang, dianya sendiri malah repot.

Sebelum bergabung jadi dosen, saya nggak tahu pentingnya “sertifikat seminar” untuk kelangsungan hidup dosen (untuk memenuhi BKD semesteran). Singkat ceritanya Pak Ode ini membantu teman yang nggak hadir seminar untuk memintakan sertifikat (yo karena panitia penyelenggara juga konco-konco Pak Ode). Wes dapet sertifikat itu lho, nggak diambil sama yang minta tolong malah Pak Ode disuruh nganterin sertifikat ke rektorat jelang maghrib. Haish… kebaikannya kebangetan. Yang ditolong mbuh nggak tahu saya, bilang terimakasih atau enggak.

Kalau saya catatkan kebaikan sahabat saya itu, bisa panjang sekali. Karena kami masih bersambung baik komunikasi, meskipun saya sudah lulus lama. Mungkin benar kata Pak Ode, saya nggak baperan, gampang diajak urusan ini itu mo dolan atau gaweyan.

Saya, Pak Erens, Pak Ode, Gus Jalil di rumah makan Maros, by pass Kendari. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Tahun berlalu, saya wes nyaris lupa dengan keinginan ke Wakatobi. Ada beberapa open trip ke tempat ini, tapi karena tahu perjalanan panjang dan berisiko, saya nggak pernah mendaftar. Beberapa kali kalau Pak Ode pulang kampung, saya yo pingin ikut; tapi itung-itungan budget saya kok nggak cukup. Yo lewatlah sudah. Meskipun doyan dolan, sebagai penulis profesional dengan model freelancer; saya punya manajemen keuangan yang ketat. Jangan sampai gegara piknik njur nanggung utang nggak perlu.

Tahu-tahu pas Juni 2025, saat saya memenuhi undangan DSBK (Dialog Serantau Borneo Kalimantan 2025 untuk tiga negara, Indonesia-Malaysia-Brunei Darussalam) di Samarinda, Kalimantan Timur; Pak Ode nyeletuk di grup piknik kalau mau ke Wakatobi bulan Agustus atau September via laut. Wes, saya nggak pake lama bilang mau ikut, tapi menawar agar bisa lewat udara.

Tahun 2025, saya memang sudah niat kalau duit nggak cukup untuk piknik jauh-jauh ke luar negeri; akan saya bereskan piknik-piknik domestik yang belum saya penuhi, termasuk Wakatobi. Dari Januari sampai bulan ini, catatan piknik saya dalam negeri semua. Nggak selalu lebih murah dari piknik luar negeri, tapi sekurangnya aman terjangkau di kantong saya.

Juli saya jumpa Pak Ode di Jogja, untuk cek ricek jadwal dll. Agustus atau September, dia bilang pulang ke Wakatobi karena ada keluarga yang menikah. Dia minta saya pergi lain waktu, juga pertimbangan ombak laut. Kalau ada acara keluarga, pasti dia nggak bisa nganterin saya keliling piknik. Saya bilang oke menunggu kabar saja.

Situasi di salah satu sisi Pelabuhan Kendari. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Akhirnya kami sepakat untuk pergi bulan Oktober. Itu saya masih di Lovina, Bali. Saya bilang akan urus tiket dll setelah piknik dari Bali. Saya masih berpikir bahwa ini trip pribadi tanpa ada acara official. Ya wes ben gpp, sudah niat pikir saya.

Ternyata saya dapat undangan dari Bupati Wakatobi untuk Wakatobi WAVE 2025 (Pameran Budaya dan Expo UMKM) tanggal 3-5 Oktober. Malah kebetulan. Alhamdulillah. Kemudian kami chitchat soal waktu dll keberangkatan, termasuk sharing penulisan di Universitas Halu Oleo. Saya wes manut saja saran-saran Pak Ode; karena memang ngeblank belum pernah ke sana.

Belum sampai pertengahan September, tiket-tiket sudah beres. Dan saya masih sibuk kerja seperti biasa sampai akhir bulan, bahkan lembur bikin rekaman-rekaman perkuliahan dan tugas-tugas pengganti. Mestinya siy seminggu cukup, tapi dari hitung Soul Meter (SM) saya, kayaknya bakal 2 minggu nggak bisa tatap muka langsung.

Tanggal 1 Oktober, sejak jam 03 dini hari saya wes bangun. Siap-siap dan packing. Jam 05 ke Stasiun Tugu, Jogja untuk kereta pagi jam 06 lewat dengan Sancaka. Jam 11.00 sudah sampai Stasiun Gubeng, Surabaya. Di sini saya jumpa Pak Ode dan berangkat bersama ke Bandara Juanda. Lumayan jalanan agak selow, tapi panasnya kota buaya tetap menyengat. Kami masih sempat ishoma di bandara, sebelum terbang jam 13 WIB ke Kendari dengan Super Air Jet.

Kapal Uki Raya yang membawa kami dari Kendari ke Wakatobi. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Jam 16.30 an WITA sampai Bandara Halu Oleo Kendari. Wes, mulai beresahan karena Pak Erens yang jemput kami nggak datang-datang. Baru setelah 40 an menit Pak Erens datang dengan Gus Jalil. Itu juga gegaranya versi Pak Erens, Pak Ode nelpon baru tadi siang pas di Bandara Juanda, kan mestinya sehari sebelumnya atau lebih lama lagi. Hehe, kami ini bukan tipikal orang-orang yang mau ngerepotin teman. Tapi kalau nggak dikontak pas kami ada di TKP, wah bisa diomelin panjang nanti kalau jumpa lagi.😁😂

Senang sekali saya jumpa Pak Erens yang juga kawan S-3 tapi beberapa tahun di atas saya; rasanya seperti baru kemarin aja kami beribetan urusan disertasi dengan segala intrik dan polemiknya. Sebenarnya kalau diteruskan, bisa saja semalem sepagian kami ngobrol. Jadwal berangkat kapal yang membatasi pertemuan kami, termasuk waktu makan. Karena kalau nunggu ikan segar dibersihin dan dimasak, makan waktu dan bisa-bisa ketinggalan kapal. Untung ada Gus Jalil yang bisa memilihkan tempat makan ikan sudah langsung masak, nggak perlu menunggu. Begitu kami datang, memilih menu, makan, bayar, dan lanjut ke pelabuhan.

Di Pelabuhan Kendari, baru juga kami duduk di warung kopi, suara peluit kapal (cmiiw) sudah bunyi. Jadi terpaksa kami bergegas mendekat kapal. Pak Ode yang masih mengurus tiket kapal, masih nggak tampak batang hidungnya. Gus Jalil memanggil meneriakinya, dan kami bergegas menemuinya. Ooh, rupanya baterai HP Pak Ode hampir drop, jadi nggak bisa ditelpon atau menelepon. Untung Pak Erens awas mata, karena katanya Pak Ode orangnya unik gampang dikenali.

Akhirnya kami berpisah di tangga kapal dan janji akan jumpa lagi ngopi Kendari. Saya dan Pak Ode melanjutkan perjalan nyeberang pakai kapal Uki Raya jam 19.30 an WITA. Kapal besar terasa penuh sesak. Semua bagian terisi orang. Lalu lalang dan berisikan obrolan dengan suara kencang terdengar di mana-mana. Jelas nggak saya mengerti, karena mereka mayoritas bicara dengan bahasa daerah setempat.

Sudah bangun usai Shubuh di dalam kapal. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Pedagang lalu lalang hilir mudik menawarkan aneka dagangan; dari makanan, minuman, buah-buahan, obat-obatan, permen, dll. Pak Ode berulang nanyain saya, sudah cukup bawa air, permen, jajanan, dan obat mabuk laut. Saya ngikik. Air dan permen sudah. Jajanan nggak perlu karena wes kenyang. Obat mabuk laut?

Seingat saya seumur-umur naik perahu atau kapal ya nggak pernah mabuk. Belakangan pas sudah di Jawa itu Pak Ode bilang sangat khawatir kalau saya nggak nyaman naik kapal karena sangat lama. Lha saya mikirnya nyeberang ke Wakatobi itu mung 2 jam, bhadalah 8-9 jam. Ya ampun, terbang ke Jeddah dong saya 😁😂

Wes pokmen kapal itu ramai banget. Dan karena beli tiket last minute, gakbisa milih tempat. Tahu sendiri di bawah ribet ramenya orang lalu lalang dengan suara gedebukan kaki-kaki —yang ampun sampai jauh malam bikin saya belum tidur. Belum suara mesin yang bikin telinga saya nging-nging rada nyeri.

Oh iya, di kapal ini sarpras cukup memadai. Mushola ada, meskipun cukup untuk dua orang saja. Toilet banyak. Ruang terbuka banyak. Tempat-tempat barang memadai. Saya bertanya ke Pak Ode, apa barang-barang aman bergelatakan begitu saja dengan banyak orang yang nggak dikenali. Katanya aman ya sudah, meskipun saya sempat khawatir juga lha laptop dll piranti kerja di situ kalau ilang, biyuuu…. ampun.

Alhamdulillah, akhirnya sampai juga di (Pelabuhan) Wakatobi yang jauh di sana. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Sempat lihat laut di luar, tapi versi saya karena banyak orang merokok, jadi udara terasa sesak. Saya memilih segera balik ke tempat tidur. Mungkin karena sudah lelah, selepas sholat isya (entah jam berapa) saya wes tidur pules. Sempat terbangun sejenak jam 02.30 dini hari, saya njur berdoa saja dan tidur lagi.

Nyenyak betul saya tidur, sampai nggak dengar lagi langkah orang lalu lalang. Saya dibangunin Pak Ode jelang kapal sandar. Katanya kalau sudah dibagi teh, berarti sudah mau sampai. Oh bagus juga dikasih teh panas biar melek. Saya njur bebersih, sholat Shubuh, dan balik lagi ke tempat. Sekitar 05.30 WITA (keesokan harinya) barulah kapal sampai di pelabuhan Wakatobi.

Ya ampun, sekali jalan lebih dari sehari semalam. Jauhnya tempat yang bernama Wakatobi ini. Itu pun baru sampai pelabuhannya. Toh saya berulang mengucap alhamdulillah, sudah menjejak tanah surga ini. Saya wes bisa senyum lebar lagi, karena mungkin sudah cukup tidur; meskipun kalau disuruh tidur lagi, sampai siang pun masih mau😁😂

Oh iya, untuk harga tiket-tiket, Teman-teman silakan cek di marketplace langganan ya. Yang jelas kalau di Kendari mobil online tersedia 24 jam, tapi di Wakatobi nggak ada layanan aplikasi online. Kudu sudah pesan atau ada yang antar jemput ke mana-mana. Selanjutnya akan saya ceritakan apa saja yang saya lakukan dan alami selama trip Wakatobi ini.

Bersambung.
Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us:

Menulis, Seperti Curhat Tanpa, “Sabar, yaa…!”

Wakatobi, Sulawesi Tenggara. Menulis itu seperti piknik, healing untuk kesehatan mental. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Kamu pernah nggak sih ngerasa kepala lagi penuh banget sama pikiran, hati kayak sesak, tapi bingung mau curhat ke siapa? Kadang kalau cerita ke orang lain, ujung-ujungnya cuma dikasih kalimat klasik: “Sabar ya,” atau “Udah, jangan dipikirin.”. Padahal otak lagi mumet banget, kan? Nah, di titik inilah menulis bisa jadi sahabat terbaik kamu.

Menulis itu bukan cuma soal bikin karya sastra, novel, atau caption Instagram estetik. Lebih dari itu, menulis bisa jadi healing tool alias alat terapi buat kesehatan mental.

Kenapa Menulis Bisa Jadi Terapi? Kayak curhat, tapi aman. Kertas atau layar HP nggak bakal nge-judge kamu. Mau nulis hal receh, marah-marah, atau nangis dalam kata-kata, semuanya bisa. Kamu bebas banget.

Melepas beban pikiran. Kadang isi kepala tuh kayak tabungan yang udah overload. Begitu ditulis, rasanya kayak dipindahin ke luar otak. Lebih plong!

Self-awareness naik level. Dengan nulis, kamu jadi lebih kenal diri sendiri. Apa sih yang bikin kamu sedih, marah, atau bahagia? Dari situ kamu bisa pelan-pelan ngerti cara nge-handle diri.

Jadi memori keeper. Nulis juga bikin kamu inget perjalanan diri sendiri. Kadang baca lagi tulisan lama bikin sadar, “Wah, ternyata aku udah kuat banget ya bisa lewatin masa itu.”

Cara Asik Mulai Menulis Buat Healing: Nggak usah ribet mikir format. Nulis aja kayak lagi curhat sama temen deket. Nggak perlu mikir EYD, tanda baca, apalagi gaya bahasa baku.

Coba journaling. Tulis tiap hari 5–10 menit. Bisa soal apa yang kamu rasain hari itu, hal-hal kecil yang bikin kamu bersyukur, atau sekadar keluhan receh.

Bikin “surat tak terkirim”. Pernah pengen ngomong sesuatu ke orang tapi nggak bisa? Tulis aja surat buat dia (meski nggak dikirim). Trust me, rasanya lega banget.

Gunain HP atau buku. Kamu tim ngetik di notes HP atau tim nulis tangan di buku? Dua-duanya oke, pilih aja yang bikin nyaman.

Efek positif nulis buat kesehatan mental: Tidur bisa lebih nyenyak karena isi kepala udah “dituangin” sebelum tidur.

Stress bisa turun karena kamu punya outlet buat buang energi negatif. Rasa percaya diri bisa naik, soalnya kamu jadi terbiasa jujur sama diri sendiri.

Jadi, kalau kamu lagi ngerasa hidup berat, jangan buru-buru nyalahin diri atau mikirin omongan orang. Coba deh ambil pena atau buka notes di HP, terus tulis semua yang numpuk di pikiran.

Anggep aja menulis itu kayak “spa buat otak” atau piknik untuk healing kesehatan mental. Menulis itu murah meriah, gampang, tapi efeknya bisa bikin jiwa kamu lebih sehat. Karena kadang, yang kita butuhin bukan kata “sabar”, tapi ruang buat cerita. Dan menulis bisa jadi ruang kita cerita tanpa harus melibatkan orang lain.

Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us:

Mempersiapkan Dana untuk Pendidikan Tinggi

Wisuda doktor, GSP, UGM. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Pendidikan itu penting banget, gengs. Apalagi kalau udah ngomongin kuliah S-1, lanjut S-2, bahkan S-3. Tapi jujur aja, biaya kuliah sekarang nggak murah. Dari uang pangkal, UKT (Uang Kuliah Tunggal), biaya hidup, sampai print tugas tebel-tebel; semuanya butuh duit. Nah, biar nggak kaget pas waktunya tiba, kita perlu strategi buat nyiapin dana pendidikan tinggi. Yuk, kita bahas tuntas.

Kenapa dana pendidikan harus dipersiapin dari awal? Ya, bayangin deh, biaya kuliah tiap tahun itu naik kayak harga cabe waktu lebaran. Kalau kita nggak punya perencanaan, bisa-bisa stress duluan sebelum sidang skripsi. Nyiapin dana pendidikan dari awal bikin kita lebih tenang, nggak gampang panik, dan yang paling penting: masa depan pendidikan nggak ketunda gara-gara masalah finansial.

Berikut ini ada tips persiapan untuk dana pendidikan tinggi, yang boleh kamu coba.

Pertama, mulai nabung sejak dini. Jangan nunggu “nanti kalau ada rezeki lebih” baru nabung. Percaya deh, kalau nunggu lebih, ujung-ujungnya malah abis buat jajan atau nongkrong.

Mulailah dari kecil; misalnya tiap bulan sisihin 10% dari gaji/uang jajan khusus buat tabungan pendidikan. Kalau konsisten, lama-lama jadi bukit.

Kedua, bedain pabungan pendidikan sama tabungan jajan. Ini penting banget. Jangan campur aduk antara tabungan buat beli sneakers baru sama tabungan buat biaya kuliah.

Bikin rekening terpisah atau pakai aplikasi keuangan biar lebih gampang tracking. Jadi, dana pendidikan aman dari godaan impulsif.

Ketiga, investasi yang ringan-ringan. Kalau mau lebih serius, coba belajar investasi. Nggak perlu langsung ke saham yang ribet, bisa mulai dari reksa dana atau deposito. Return-nya lumayan buat ngimbangin inflasi biaya pendidikan. Tapi inget, jangan asal ikut-ikutan. Pelajari dulu risikonya biar nggak nyesel.

Keempat, cari info beasiswa. Siapa bilang semua biaya kuliah harus ditanggung sendiri? Banyak kok beasiswa dari kampus, pemerintah, bahkan swasta. Mulai dari beasiswa prestasi, penelitian, sampai beasiswa khusus bidang tertentu. Jadi, sambil nyiapin dana, jangan males riset peluang beasiswa.

Kelima, jangan malu kerja sampingan. Buat yang udah S-1 atau lanjut S-2/S-3, kerja sampingan bisa jadi solusi. Misalnya freelance desain, ngajar les, jadi content creator, atau jualan online. Lumayan banget buat nambahin dana pendidikan tanpa ngerepotin orang tua.

Keenam, diskusiin bareng keluarga. Klau kamu masih di tahap rencana, jangan sungkan ngobrol sama keluarga. Bisa aja ada dukungan finansial atau ide dari mereka. Ingat, pendidikan itu investasi keluarga juga, jadi ngobrolin dari awal bikin lebih ringan.

Ketujuh, potong pengeluaran nggak penting. Ngopi cantik tiap hari? Scroll marketplace terus checkout barang nggak urgent? Coba tahan dulu. Alihin sebagian budget gaya hidup ke tabungan pendidikan. Bukan berarti anti jajan, tapi belajar prioritas.

Kedelapan, manfaatkan teknologi. Sekarang banyak aplikasi finansial yang bisa bantu atur duit, bahkan ada fitur khusus nabung buat pendidikan. Gunain fitur auto-debet biar nggak ada alasan lupa nabung tiap bulan.

Nah, kamu bisa memulai program siap-siap dana pendidikan dengan mengetahui tingkat pendidikan yang ingin kamu tempuh. Mari kita cek. S-1, S-2, atau S-3: itu bedanya apa?

  • S-1: Biaya kuliah biasanya masih bisa dicari part-time, tapi tetep butuh persiapan, apalagi kalau ngekos.
  • S-2: Lebih mahal, tapi biasanya waktunya lebih singkat. Beasiswa S-2 banyak banget, jadi jangan males apply.
  • S-3: Ini level dewa, gengs. Biayanya tinggi banget, tapi banyak juga sponsor dari kampus luar negeri. Kalau minat, persiapannya harus lebih matang dan panjang.

Jadi, boleh dibilang nyiapin dana pendidikan itu kayak nge-build karakter di game. Kalau kamu konsisten nabung, pintar atur duit, dan rajin cari peluang (beasiswa atau kerja sampingan), jalan menuju S-1, S-2, bahkan S-3 bakal lebih mulus. Ingat, pendidikan itu bukan sekadar gelar, tapi investasi jangka panjang buat masa depan.

Dan, jangan tunggu besok untuk siap-siap. Mulai hari ini juga. Karena masa depan kamu nggak bisa nunggu saldo rekening penuh dulu baru dijalanin.

Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us:

Dana Pensiun untuk Freelancer, Pentingkah?

Kutai Kartanegara. Fleksibilitas waktu adalah salah satu keunggulan jadi freelancer. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Kalau ngomongin pensiun, kebanyakan orang langsung mikirnya pegawai kantoran yang tiap bulan dipotong BPJS atau punya dana pensiun dari perusahaan. Tapi gimana kabar para freelancer? Yup, kamu yang kerjanya bebas, bisa di mana aja, jam kerja fleksibel, tapi… nggak ada jaminan pensiun dari kantor.

Pertanyaannya: “Freelancer butuh dana pensiun nggak sih?” Jawabannya: WAJIB BANGET! Karena kalau bukan kamu yang nyiapin, siapa lagi?

Kenapa freelancer harus nyiapin dana pensiun?

Pertama, nggak ada jatah pensiun dari kantor. Karyawan kantor biasanya masih ada pesangon atau tunjangan pensiun. Freelancer? Nggak ada. Duit masuk ya tergantung proyek. Jadi, harus bikin “kantor versi pribadi” yang nyiapin masa depan.

Kedua, pendapatan nggak stabil. Freelancer itu kayak roller coaster: bulan ini bisa banyak proyek, bulan depan bisa sepi. Kalau dari sekarang nggak disiplin nabung, bisa-bisa masa tua malah pusing mikirin dapur.

Ketiga, hidup terus jalan, umur nggak bisa bohong. Sekuat apapun kamu sekarang ngerjain desain, nulis, coding, atau project lain, suatu hari tenaga bakal berkurang. Nah, di situlah dana pensiun jadi penyelamat.

Berikut ini tips menyiapkan dana pensiun ala freelancer.

Paling basic tapi penting, jangan campur aduk duit kerjaan sama duit buat hidup sehari-hari. Bikin rekening khusus “dana pensiun” biar lebih aman dari godaan belanja impulsif.

Terapkan sistem “Bayar Diri Sendiri Dulu”. Begitu ada uang masuk dari klien, langsung sisihin minimal 10–20% buat tabungan pensiun. Jangan tunggu sisa, karena kalau nunggu sisa biasanya habis duluan.

Belajar investasi. Tabungan doang nggak cukup, gengs. Inflasi bisa bikin nilai duit makin kecil. Coba alihin sebagian ke instrumen investasi: reksa dana, emas, atau saham blue chip. Nggak perlu sok jago, mulai kecil-kecilan dulu sambil belajar.

Ikut program pensiun mandiri. Sekarang ada banyak pilihan kayak DPLK (Dana Pensiun Lembaga Keuangan) atau bahkan BPJS Ketenagakerjaan yang bisa diikuti freelancer. Jadi walau nggak kerja kantoran, kamu tetap punya tabungan hari tua yang resmi.

Cari passive income. Selain dari project, coba pikirin cara bikin duit ngalir tanpa harus kerja tiap hari. Bisa dari bikin kelas online, jual template desain, bikin e-book, atau bahkan kontrakan kos-kosan kalau modal ada. Passive income = tabungan pensiun berjalan.

Jangan lupa asuransi. Pensiun nggak cuma soal duit tabungan, tapi juga jaga-jaga kesehatan. Bayar rumah sakit tanpa asuransi bisa bikin tabungan pensiun ludes. Jadi, masukin asuransi kesehatan ke dalam rencana.

Tentuin target pensiun. Bayangin gaya hidup yang kamu mau pas pensiun. Mau hidup tenang di kampung dengan kebun, atau pensiun tetap di kota dengan nongkrong tiap minggu? Dari situ bisa ketahuan berapa besar dana yang harus dikumpulin.

Misal kamu pengen punya dana pensiun Rp1 miliar buat hidup nyaman di umur 60. Kalau kamu mulai nabung/investasi dari umur 30, berarti ada waktu 30 tahun. Dengan nabung rata-rata Rp2-3 juta per bulan (tergantung instrumen investasi), target itu bisa tercapai. Kuncinya: konsisten.

Intinya… jangan karena status freelancer bikin kamu cuek soal pensiun. Justru karena penghasilan nggak stabil, perencanaan pensiun harus lebih rapih daripada pegawai kantor. Anggap aja kamu punya “perusahaan pribadi”, dan kamu sendiri yang harus mikirin masa depan “karyawan utama”: yaitu diri kamu sendiri.

Jadi, mulai sekarang jangan cuma mikirin deadline project, tapi juga deadline masa depan. Karena pensiun nyaman itu bukan buat orang kaya doang, tapi buat siapa aja yang mau disiplin nyiapin dari sekarang.

Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us:

Menulis Itu Menghidupkan Jiwa

Sharing pengalaman tentang penulisan di FIB, UNS, Solo. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Pernah nggak sih kamu ngerasa otak lagi penuh banget; kayak laptop kebanyakan tab, mau meledak? Nah, salah satu cara paling ampuh buat ngerapiin isi kepala itu ya… menulis.

Buat sebagian orang, menulis mungkin keliatan sepele. Tinggal ketik atau coret-coret di kertas. Tapi sebenarnya, menulis itu bukan cuma soal kata-kata. Menulis bisa jadi cara buat ngehidupin jiwa.

Menulis itu terapi murah meriah. Kalau lagi suntuk, capek, atau patah hati, coba deh tulis semua unek-unek. Bisa di buku harian, blog, atau notes HP. Ajaib banget, hati jadi lebih plong. Kayak lagi curhat, tapi sama kertas. Bedanya, kertas nggak bakal nge-judge kamu.

Menulis bikin kenangan nggak hilang. Ingat nggak momen pertama kali kamu jatuh cinta, atau waktu liburan seru bareng sahabat? Kalau cuma disimpen di kepala, lama-lama bisa pudar. Tapi kalau ditulis, kenangan itu bisa kamu “putar ulang” kapan aja. Jadi, menulis itu kayak mesin waktu versi personal.

Menulis berarti mengenal diri sendiri. Seringkali kita nggak sadar apa yang bener-bener kita rasain sampai ditulis. Pas baca ulang, baru deh mikir, “Oh ternyata ini yang aku rasain.” Jadi, menulis bisa jadi cermin buat ngerti siapa diri kita sebenarnya.

Menulis bikin ide jadi nyata. Pernah punya ide keren tiba-tiba, tapi ilang gitu aja karena nggak ditulis? Nah, menulis itu cara paling gampang buat ngabadikan ide. Siapa tahu dari coretan kecil, lahir karya besar: novel, lagu, bahkan bisnis.

Menulis itu warisan jiwa. Buku, blog, puisi, atau bahkan caption panjang di medsos; semua itu bisa jadi jejak yang ditinggalin. Bayangin deh, tulisan kamu bisa dibaca orang lain, bahkan setelah kamu udah nggak ada. Itu artinya, lewat tulisan, jiwa kamu tetap hidup.

Tips Biar Nulis Lebih Hidup

Pertama, nulis apa aja dulu; nggak usah mikirin bagus atau enggak. Tulis aja. Kedua, jangan takut typo; edit belakangan, yang penting ide keluar dulu. Ketiga, bawa notes/HP ke mana-mana; inspirasi suka datang tiba-tiba. Keempat, coba berbagai jenis; puisi, cerita pendek, blog, bahkan catatan random. Kelima, nikmatin proses; menulis itu bukan lomba, tapi perjalanan.

Intinya… Menulis itu bukan cuma aktivitas, tapi cara buat hidup lebih hidup. Setiap kata yang ditulis bisa jadi jalan buat nyembuhin luka, nyimpen kenangan, nemuin jati diri, bahkan ninggalin warisan jiwa.

Jadi, jangan nunggu “siap” dulu baru mulai nulis. Segera ambil kertas, buka laptop, atau ketik di HP. Karena setiap kali kamu menulis, sebenarnya kamu lagi ngasih “napas” baru buat jiwa kamu sendiri. Menulis itu menghidupkan jiwa. Dan jiwa yang hidup, selalu punya cerita.

Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us:

Kamu Berusaha Hemat atau (Sebenarnya) Pelit?

Piknik, salah satu sumber anggarannya dari penghematan. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Tulisan ini bermula dari pertanyaan, “Apa bedanya hemat dan pelit?”

Saya yang sudah biasa berhemat tanpa harus menjadi pelit, pun mikir: bagaimana cara menjelaskannya. Karena kriteria hemat, pelit itu beda-beda tipis dan tiap orang punya “persepsi” atau “pandangan” yang beragam tentang hitung-hitungan uang.

Mari kita ulik soal ini. Mungkin saat kamu berhemat agak ketat demi tujuan tertentu, kadang mikir: “Sebenarnya aku ini lagi hemat atau pelit siy? 🤔 Kadang garis tipis antara dua kata ini bikin kita bingung. Soalnya, hemat itu keliatan keren, pintar ngatur duit, bijak finansial. Tapi kalau udah kelewatan, bisa-bisa capnya langsung berubah jadi, “Uuh, dasar pelit!”

Kalau versi saya, hemat itu intinya me-manage duit biar kita tetap survive dan nggak bocor halus tiap akhir bulan. Terlebih bagi freelancer yang duitnya datang nggak menentu.

Misalnya:

  • Milih masak sendiri daripada beli masakan/makanan online tiap hari. Selain lebih sehat, puas, ternyata juga lebih irit banget.
  • Beli barang pas lagi diskon, terutama kalau bukan keperluan urgent. Diskon berapapun, tetap “uang” yang bisa dijumlahkan.
  • Nabung dikit-dikit buat goals masa depan. Kalau saya sudah pingin ke tempat A tanggal sekian, itu berarti saya kudu liat anggaran yang ada. Kalau masih kurang ya kudu nabung. Kadang target waktunya jadi molor, demi tersedianya budget. Nabung ini sering saya ambil dari budget “nongkrong” ganti suasana kerja. Biasanya sebulan 8x, wes cukup 2x aja.

Hemat tuh lebih ke strategi. Kita jadi ngerti mana kebutuhan, mana keinginan. Kita bijak menggunakan uang. Kita sadar mana prioritas yang lebih penting. Meskipun uang kita sendiri, tetap nggak bijak foya-foya.

Nah, kalau pelit beda cerita. Pelit biasanya udah masuk ke ranah, “Duh, segitunya. Pelit amat siy.”

Contohnya:

  • Nongkrong rame-rame, tapi pas bayar malah pura-pura sibuk cari dompet. Biar temen yang bayarin. Sekali dua kali oke, berkali-kali sampeyan akan ditinggalkan teman-teman.
  • Pakai barang sampe rusak parah, tapi nggak mau ganti padahal mampu. Ini siy kelewatan. Masa sama diri sendiri pelit?
  • Ngasih traktiran aja pake hitungan kayak kalkulator jalan. Heish, kalau ketemu orang yang itung-itungan parah itu emang nyebelin. Mendingan nggak usah terima traktirannya dan nggak usah ajakin kalau kita mo nongkrong atau jalan. Daripada beribet ntar pas bayarnya.

Kalau hemat bikin hidup lebih terkontrol, pelit justru bikin orang di sekitar jadi males. Bayangin gini deh: kamu lagi jalan bareng temen, terus dia ngajak makan di resto fancy. Kamu nolak karena budget terbatas dan nggak mau utang; itu hemat. Tapi kalau kamu nolak, padahal saldo tabungan gemuk dan pengen tetep gratis makan? Nah, itu baru pelit! 😅

Hemat biasanya dihormati orang: “Wih, dia pinter ngatur duit.” Pelit? Bisa-bisa kamu dihindarin. Orang males main bareng yang setiap nongkrong atau beli-beli malah ujung-ujungnya bikin ribet soal bayar.

Sah-sah aja hemat, malah harus banget! Tapi inget, hidup juga bukan cuma soal nabung terus. Kadang traktir temen, beliin hadiah kecil buat orang tersayang, atau sekadar bayar ongkos driver lebihin dikit, itu nggak bikin kamu miskin, justru bikin hati lega. Ini juga bikin kita happy.

Jadi lain kali kalau kamu ngaku, “Aku lagi hemat nih,” coba cek dulu… itu beneran hemat atau jangan-jangan kamu lagi pelit tapi nggak sadar? 😉

Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us:

Sekolah Memang (Nggak) Gampang

Wisuda S-3 di kampus FIB UGM tahun 2018. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Kasus dugaan ijazah palsu sang mantan Presiden Joko Widodo yang begitu heboh dan muncul beragam tudingan, fitnah, saling serang, dll disusul pula dugaan ijazah palsu sang putra mahkota yang jadi Wapres Gibran Rakabuming Raka pun ikut memanas. Belum lagi kasus-kasus setipe yang terjadi pada banyak pejabat dan petinggi negara dan banyak lagi kasus sejenis pada public figur dari beragam bidang kerja. Sesuatu yang menandakan bahwa dunia pendidikan kita memang “nggak baik-baik” saja.

Kalau ada yang bilang sekolah itu gampang, coba deh tanya lagi sama anak-anak yang tiap hari harus bangun pagi, ngantuk di kelas, PR numpuk, plus ulangan yang datang tanpa basa-basi. Sekolah tuh memang perjalanan panjang yang bikin capek, kadang bikin senyum, tapi malah sering kali bikin kita pengen teriak, “Kenapa sih susah (sulit) banget?”

Hal pertama yang bikin sekolah terasa ribet jelas soal tugas dan nilai. Matematika dengan rumus yang muter-muter, bahasa dengan esai yang panjang-panjang, IPA dan IPS dengan hafalan yang nggak ada habisnya. Padahal, nggak semua orang jago di bidang itu. Ada yang otaknya encer di Matematika tapi belepotan kalau disuruh bikin cerpen. Ada juga yang jago gambar, tapi mumet kalau ketemu tabel periodik.

Masalahnya, sistem sekolah kita memberi tuntutan agar siswa oke di semua mata pelajaran. Jadinya apa? Ya jelas, banyak anak yang ngerasa nggak cukup baik, padahal sebenarnya mereka punya bakat lain yang nggak kalah keren.

Selain tugas, dunia pertemanan juga punya cerita sendiri. Buat sebagian orang, sekolah itu tempat nemuin sahabat sejati, geng seru, atau partner kerja kelompok yang bisa diandalkan. Tapi, ada juga yang justru ngerasa sekolah jadi medan perang karena ada drama, gosip, bahkan bullying (perundingan).

Nggak heran, kadang ada yang bilang sekolah itu lebih melelahkan secara mental daripada pelajarannya. Bayangin, harus mikirin nilai yang udah bikin pusing, ditambah lagi drama sosial yang bikin hati panas dingin.

Jangan salah, bukan cuma murid yang pusing. Guru juga punya tantangan. Mereka harus ngadepin puluhan anak dalam satu kelas, dengan karakter yang beda-beda. Ada yang aktif banget, ada yang diem aja, ada juga yang sukanya bikin onar. Bagi guru, ngajarin anak-anak itu nggak sekadar nyampein materi, tapi juga butuh kesabaran ekstra.

Orang tua pun sering kebagian “PR tambahan”. Mereka harus nemenin anak belajar di rumah, ngelesin di luar (bimbel), keluar duit buat keperluan sekolah, dan kadang ikut stres kalau anaknya mulai ngeluh. Ada yang santai, ada juga yang justru makin nambah tekanan karena pengen anaknya selalu ranking satu.

Di balik semua drama itu, sekolah punya banyak momen seru. Main bola pas istirahat, ketawa bareng di kantin, sampai pengalaman pertama ikut lomba atau tampil di depan kelas. Hal-hal kecil kayak gitu justru sering jadi kenangan manis setelah lulus.

Sekolah juga ngajarin kita hal-hal penting di luar buku pelajaran. Dari belajar kerja sama pas bikin proyek, belajar ngadepin kegagalan waktu nilai jeblok, sampai belajar tanggung jawab kalau lupa bawa tugas. Semua itu bikin kita jadi lebih tangguh menghadapi dunia nyata.

Di tingkat pendidikan yang lebih tinggi (kuliah) juga lebih kurang setipe. Program sudah penjurusan, tapi semua studi masih harus meribetkan tetek bengek perkuliahan dasar (MKU) yang sebenarnya wes gak begitu relevan lagi untuk programnya. Tuntutan lulus banyak SKS, selain bikin mumet mahasiswa dan masa studi lama (yang berimbas pada banyak pengeluaran, mahal) membuat kuliah sering jadi momok bagi masyarakat menengah ke bawah.

Makin tinggi tingkat sekolahnya makin ruwet aturannya. Studi S-1, S-2, S-3 bukan hal yang menyenangkan bagi banyak orang karena tuntutan ekstrim agar “lulus” tepat waktu.

Nggak heran kalau banyak lulusan sekolah tinggi yang begitu jadi pejabat publik njur dipertanyakan soal kelulusannya, bahkan dikuliti ijazahnya, nilai-nilainya, sekolah/kampusnya, kawan-kawannya, dll. Ya karena mereka pejabat kok pahpoh, ngahngoh, bikin kebijakan geje, gakbisa bikin sambutan, gakbisa pidato, waton jeplak kalau bicara, dll yang sangat tidak mencerminkan mereka lulusan sekolah tinggi.

Jangan salah, gelar dari sekolah tinggi nggak selalu berarti seseorang bisa memiliki kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional, kecerdasan mental, dan kecerdasan spiritual yang tinggi pula. Karena itu semua baru bisa diperoleh atau didapatkan dari kesungguhan belajar, beradaptasi, mengikuti proses sekolah dengan wajar. Bukan tembak nilai, bayar beli ijazah dari kampus yang embuh pula status akreditasinya.

Saya wes melewati proses sekolah dari tingkat dasar sampai yang paling tinggi (S-3, Doktor) dari sekolah-sekolah dan kampus terbaik di dalam negeri, tahu betapa nggak user friendly-nya sistem pendidikan kita untuk peserta didik. Beruntung, saya bersaudara tumbuh di lingkungan yang nggak menganggap sekolah kudu nomor 1, kudu terbaik dengan cara apapun.

Wisuda S-3 di halaman Graha Sabha Permana UGM, Januari 2018. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Nggak ada orang tua kami begitu. Sekolah ya biasa saja bagi kami. Usahakan yang terbaik dengan cara yang baik dan menyenangkan. Jadi, saya sekolah nggak ada tuntutan kudu juara satu, kudu begini begitu. Jadinya, saya tahu bagian atau subjek pelajaran yang saya senang, nilainya tinggi. Yang nggak senang, nilai kebanyakan ya cukup standar saja untuk kelulusan atau naik kelas.

Lalu apakah dengan standar “sederhana” saat sekolah itu bikin hidup saya nggak baik? Yo enggak tuh. Malah banyak temen yang dulunya pinter-pinter jadi stres karena tuntutan berlebihan dari orang tuanya atau dirinya sendiri pada standar angka dan konversi nilai.

Sekolah saya pun jadi lebih menyenangkan. Semua saya lewati dengan cepat dan hasil terbaik, ya justru karena nggak ada beban. Tapi sekolah sesuai pilihan, yang saya senangi, dan keahlian saya pun terbentuk dengan lebih mudah karena ada kesadaran dari diri pribadi.

Bukan berarti saya bilang sistem pendidikan di negeri kita mudah ya. Sulit, bahkan termasuk sulit banget. Berat betul sekolah di Indonesia karena dituntut semua serba bisa, serba bagus sesuai standar “sama”. Padahal sudah jelas kemampuan dan bakat tiap orang berbeda.

Jadi, nggak heran kalau banyak yo nggak mau ribet, punya duit, dan mental ngaji mumpung, wesbayar saja untuk nilai-nilai dan ijazahnya. Ya bisa jadi memang nggak ada yang tahu. Apalagi kalau nggak jadi pejabat publik atau kerja formsl yang beribetan dengan nilai dan ijazah. Iya kan, kalau membohongi orang lain itu mudah. Yang nggak mudah itu kan kalau membohongi diri sendiri. Sampeyan tahu persis apa yang telah anda lakukan.

Solusinya bagaimana? Saya bukan akademisi yang dari awal usia produktif kerja nyemplung dunia pendidikan. Menjadi dosen juga baru seumur jagung. Tapi versi saya, kasus-kasus jual beli nilai, jual beli ijazah, ijazah palsu, jasa bikin skripsi, tesis, disertasi, dll publikasi untuk kepentingan pendidikan itu; nggak akan terjadi atau minim-lah kalau aturan main dan syarat kelulusan pendidikan atau sistem nya secara umum lebih ramah dan mengutamakan minat bakat pribadi, meskipun belajar secara kolektif.

Misalnya: PAUD-TK itu ya wes bermain, beradaptasi, bersosialisasi, seni praktis menari menyanyi, etika dasar. Nggak malah dibebani calistung yang kalau saya lihat pun mumet, apa lagi guru-guru dan muridnya.

Lalu SD-SMP nah di sini kasih keterampilan ilmu dasar calistung dan etika-etika atau budi pekerti untuk tingkat madya. Lalu di SMA baru persiapan untuk program penjurusan ke perguruan tinggi yang dituju. Ditambah pengetahuan etika yang lebih tinggi dan pengetahuan global (bahasa Internasional, teknologi informasi, public speaking, etika Internasional, dll nilai-nilai universal).

Di perguruan tinggi? Ya mestinya wes kuliah sesuai jurusannya saja, non MKU (ini hampir 1/3 lho dari total 144-156 SKS). Buang buang waktu dan nggak relevan. Apa coba relevansinya Pancasila, Pendidikan Agama untuk Jurusan Sastra Indonesia? Suruh bikin Sastra Pancasila? Yang bener aja…. ini sudah selesai mestinya saat anak wes menempuh PAUD s/d SMA. Nggak perlu ngulang lagi. Apamaneh kalau kurikulumnya gonta-ganti tiap kali menteri atau dirjennya lampu merah alias berhenti 😁

S-2 ya wes simpel saja, nggak perlu ada matkul umum lagi. Perlunya bikin laporan riset (tesis) atau studi terapan dengan produk. Jadi 1 tahun rampung dan nggak mengulang-ulang matkul S-1.

S-3 mestinya juga didesain lebih sederhana tapi komprehensif. Nggak perlu kuliah lagi. Ya wes tinggal laporan riset (disertasi) atau produk untuk studi terapan; tentu dengan standar yang lebih tinggi dari S-2. Jadi 1-2 tahun bisa kelar.

Mungkin kalau begitu, bisa jadi sekolah di Indonesia terasa lebih ringan, biaya lebih sedikit, waktu lebih sedikit, dan relatif nggak memusingkan yang mau sekolah.

Sekolah di Indonesia mau di tingkat dasar, madya, maupun tinggi memang (nggak) mudah. Dibandingkan sisi nyenenginnya, lebih banyak ribetnya. Kadang bikin nangis, kadang bikin berhenti aja saat beribetan dengan segala aturan yang terasa “nggak manusiawi”.

Tapi satu hal yang pasti: sekolah bukan cuma soal nilai dan ijazah, tapi juga tentang perjalanan yang membentuk siapa kita nanti. Kalau kita bisa nikmatin prosesnya, sekolah bakal jadi cerita seru yang suatu hari bakal kita kenang dengan senyum; meski dulu rasanya pengen cepat-cepat lulus.

Bagaimana cerita sekolahmu? Seru? Menyenangkan? Kamu termasuk orang yang beruntung.

Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us: