Surga di Wakatobi (8): Pantai Cantik di Mana-mana

Pantai Cemara. Ciri khasnya ada banyak pohon cemara. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Di Pulau Wangi-wangi, setiap hembusan angin membawa aroma laut yang pekat. Udara terasa berbeda: bersih, asin, dan sejuk sekaligus. Pulau ini juga disebut gerbang menuju Wakatobi, surga bawah laut di Indonesia.

Jujurly, saya nggak bisa mengingat detail seluruh pantai yang sudah saya kunjungi di pulau itu. Sepertinya dari satu pantai ke pantai lain itu hanya bersambungan dan berjarak pendek, tapi semuanya indah dan cantik. Saya berusaha mencatat beberapa pantai sesuai ingatan. Kalau ada salah sebut, ya mohon dimaklumi. Terlebih untuk nama-nama pantai yang terdengar asing di telinga saya 😁

Pertama, Pantai Cemara. Jalan menuju ke sana dihiasi rumah-rumah kayu dan pohon kelapa yang bergerak lembut. Sesampainya di pantai, hamparan pasir putih menyambut seperti lembaran kain sutra. Deretan pohon cemara laut menciptakan bayangan yang menenangkan.

Pantai Untu Waode. Areal ini banyak pohon kelapa. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Ada beberapa gazebo untuk duduk-duduk, menikmati semilir angin dan suara ombak kecil yang datang berirama. Rasanya, semua lelah perjalanan hilang begitu saja. Sayangnya, sarpras di tempat ini wes nggak terurus. Pantai ini pun sunyi sepi seperti nggak pernah dikunjungi orang.

Kedua, Pantai Untu Waode. Pantai ini letaknya nggak jauh dari Pantai Cemara. Ciri khas yang saya ingat, pohon kelapa sangat banyak di sini. Seperti areal perkebunan kelapa yang luas. Pasir putih nya juga menghampar luas. Di seberang ada pulau di tengah laut yang nggak berpenghuni. Seperti juga Pantai Cemara, pantai ini sunyi seolah sudah bertahun-tahun nggak ditengok orang. Gazebo-gazebonya wes “reyot” sewaktu-waktu bisa ambruk, roboh.

Ketiga, Pantai Waha. Ini salah satu spot diving. Konon jadi spot favorit para penyelam. Saya nggak ingat pasti, ke sini atau enggak. Karena melintasi Desa Waha, mestinya saya yo mampir ke pantai ini.

Pantai Wambuliga. Di sini ada basecamp layanan snorkeling dan diving. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Saya hanya ingat kepala desa sempat mengatakan di pantai ini air laut sebening kristal; karang-karang masih alami dan berwarna cerah. “Kalau beruntung, bisa lihat kuda laut.” Oh, itu saat saya datang awal sekali di Wambuliga, cari info tentang snorkeling.

Keempat, Pantai Wambuliga. Pantai ini masih alami dan jarang tersentuh wisata massal. Pantai ini dikenal karena suasananya yang tenang serta keindahan alam yang masih murni. Pantai Wambuliga memiliki hamparan pasir putih yang lembut dan air laut yang jernih bergradasi dari biru muda hingga biru tua. Di beberapa bagian, terlihat karang-karang kecil yang muncul saat air laut surut. Pemandangan lautnya sangat memanjakan mata.

Suasana di Pantai Wambuliga relatif sepi dan damai. Angin laut bertiup lembut membawa aroma asin khas pantai, ditemani suara deburan ombak yang menenangkan. Di pinggiran pantai, tumbuh deretan pohon kelapa dan beberapa semak hijau yang memberikan kesan tropis alami. Penduduk setempat sering memanfaatkan area sekitar pantai untuk mencari ikan atau rumput laut.

Model pantai-pantai di Wakatobi mirip-mirip. Pasir putih menghampar. Air laut sebening kristal, mulai dari warna jernih, putih, hijau muda, tosca, biru muda, biru gelap, sampai kehitaman (nun jauh di sana) yang menandakan lautan semakin dalam dan air semakin dingin. Kiri kanannya pun terasa setipe. Pohon kelapa tinggi menjulang di sepanjang tepian pantai dengan model yang terasa “seragam”.

Pantai Marina. Di sini ada Maritime Center. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Kelima, Pantai Sombu; ikon diving Pulau Wangi-wangi. Dari dermaga kayunya kita bisa melihat orang-orang yang bersiap snorkeling atau diving. Pemandangan di bawah laut ini konon seperti taman surgawi. Terumbu karang membentuk labirin warna-warni, ikan-ikan melintas di antara sinar matahari yang menembus air. Dunia bawah laut Sombu sering dilukiskan sebagai kehidupan yang tenang, indah, damai, dan nyaris sempurna.

Keenam, Pantai Patuno; kawasan resor yang menawarkan pemandangan tropis nan lembut. Pasirnya putih lembut seperti gula, air lautnya hijau kebiruan. Di kejauhan, perahu nelayan berlayar pelan. Laut luas di depan mata. Begitu tiba di Pantai Patuno, kita akan langsung disambut oleh hamparan pasir putih yang halus dan memanjang sejauh mata memandang. Air lautnya jernih kebiruan, dengan gradasi warna yang memikat, mulai dari tosca di tepi pantai hingga biru tua di bagian dalam.

Suasananya tenang dan bersih, dikelilingi oleh pepohonan kelapa dan vegetasi hijau tropis yang menambah kesan damai. Angin laut yang lembut membuat siapa pun betah berlama-lama di sini; entah hanya berjalan di tepi pantai, duduk menikmati ombak, atau sekadar mendengarkan desir angin di antara daun kelapa.

Ketujuh, Pantai Marina. Lokasi untuk acara Wakatobi WAVE kemarin. Pantai Marina terkenal dengan pasir putihnya yang halus seperti tepung dan air lautnya yang jernih kebiruan hingga kehijauan. Dari kejauhan, gradasi warna laut tampak seperti lukisan alami; biru muda di tepi pantai, lalu perlahan berubah menjadi biru tua di bagian yang lebih dalam. Suara ombaknya lembut, berpadu dengan semilir angin laut yang menenangkan.

Pantai Liya Mawi. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Kedelapan, Pantai Liya Mawi. Ini ada kantor desanya di tengah laut. Pantai Liya Mawi menawarkan hamparan pasir putih bersih dengan butiran lembut di bawah kaki. Air lautnya bergradasi dari biru tosca ke biru tua, jernih hingga dasar laut terlihat jelas dari permukaan. Di sini juga bisa melihat gerombolan ikan-ikan kecil di tepian dengan sangat jelas. Beberapa ekor ikan besar kadang terlihat terperangkap di tepian di batu-batuan pantai.

Garis pantainya panjang dan tenang, dikelilingi karang alami dan pepohonan kelapa yang menambah kesan tropis dan damai. Pantai ini masih tergolong sepi dan alami, sehingga cocok bagi wisatawan yang mencari suasana sunyi untuk menenangkan diri atau menikmati keindahan alam tanpa gangguan keramaian.

Kesembilan, Pantai Liya Bahari. Pantai ini dikenal luas karena menjadi pusat budidaya rumput laut. Saat melewati kawasan ini, kita akan melihat ratusan tali-tali rumput laut yang membentang di atas permukaan air, terikat rapi pada pelampung-pelampung kecil.

Rumput laut yang dijemur di tepi Pantai Liya Bahari. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Pantai Liya Bahari. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Warga Liya Bahari sudah turun-temurun membudidayakan rumput laut berwarna merah. Saya cek-cek ini jenis spesies Eucheuma cottonii (cmiiw). Rumput laut ini dijemur sampai kering di pinggir pantai dan dijual sebagai bahan baku kosmetik, makanan, hingga obat-obatan.

Pemandangan saat para petani memanen dan menjemur rumput laut di bawah terik matahari menjadi daya tarik tersendiri. Warnanya yang kontras dengan birunya laut; menghadirkan nuansa pesisir yang asli dan fotogenik.

Melihat pantai dan laut-laut Wakatobi itu, ada banyak rasa syukur saya. Kalaupun jauh banget dari Jogja, hampir seluruh pulau ini diwarnai keindahan. Pulau Wangi-wangi seperti lukisan alam yang hidup. Tempat daratan, lautan dan langit bertemu dalam keheningan yang menenangkan.

Setiap pantainya punya karakter tersendiri: ada yang teduh, ada yang unik, ada yang memanjakan mata dan jiwa. Jika ada surga yang bisa dijangkau dengan kapal kecil dengan wajah-wajah senyum penduduk lokal, mungkin Wangi-wangi adalah jawabannya.

Bersambung
Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us:

Surga di Wakatobi (7): Pasar Pelangi Marina, Apa Aja Ada

Manado, years ago, dengan ketiga kakak saya. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Pak Ode setipe dua kakak saya lainnya, Pak Budi, dan Bu Mariam (Mbak Ety). Tiga orang dari Sulawesi, berbeda etnis, beda agama, punya keluarga masing-masing, tapi semuanya sangat baik pada saya.

Kalau saya sudah mulai nggak mau makan, pertanyaan beruntun terus. Saya mau makan apa, pingin apa, atau kenapa, sakit atau apa. Karena mereka tahunya saya doyan makan dan gampang lapar. Padahal kalau wes kenyang atau nggak mood makan, saya yo nggak mau makan.

Malem itu juga, karena saya di pameran UMKM hanya makan jajanan (porsi berat) dan jus (yang kelewat banyak), njur pertanyaan Pak Ode banyak beut sambil nyeberang ke Pasar Pelangi di seberang Marina Togo. Kalau malez jawab ya saya diem aja. Perut saya memang wes penuh banget gegara jajanan dan jus itu. Sudah nggak ada keinginan makan lagi.

Sisi depan Pasar Pelangi. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

“Ari, kamu belum makan nasi seharian.”

“Ada roti.” Iya, di perjalanan biasanya saya juga sedia roti basah yang cukup tahan lama untuk kondisi darurat, kadang ya sampe kebawa pulang lagi.

Saya mengekori saja Pak Ode yang terus masuk ke pasar di seberang jalan. Hampir semua pedagang disapanya. Sepertinya di pulau ini semua orang kenal sama dia. Saya nggak paham kalau mereka ngomong bahasa lokal, tapi tentu nada sapaan hangat akrab itu terasa di telinga saya.

Saya memahaminya. Saya lupa kapan, kayaknya Pak Ode pernah cerita kalau masa kecil, masa sekolahnya sering telat karena dia harus jaga toko, ngurusin dagangan, harus ambil barang di pasar atau nungguin barang yang datang ke toko. Saudara-saudaranya juga banyak yang pedagang. Pasar tentu jadi sesuatu yang dekat dengan kesehariannya.

Ikan pun ada dijual di Pasar Pelangi. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Setiap kali Pak Ode bilang apa saja malam itu, sebenarnya saya wes nggak terlalu mudeng. Otak saya wes cenderung “tidur” daripada memikirkan hal lain. Toh saya masih cukup melek untuk melihat dan memperhatikan bahwa areal pasar ini cukup besar dan luas. Isi barang dagangan pun kayaknya cukup lengkap. Mulai dari sayur mayur, bumbu bumbu dapur, hingga buah-buahan. Ada pula aneka jajanan dan masakan tradisional, aneka jualan minuman dan es.

Bolak-balik saya ditanyain mau apa saat melewati aneka makanan dan masakan tradisional. Sampai bosen juga saya jawab nggak mau. Westalah saat itu saya mungkin jadi orang yang nyebelin karena ditawarin makan minum apa-apa nggak mau. Sory ya, Pak Ode 😁

Ada aneka ikan segar di sudut yang agak ke dalam. Di sisi lainnya ada banyak pula yang jual ikan kering dengan aneka bumbu masakan kemasan. Ada pula yang jual perabot dapur dan rumah tangga yang ringan.

Kios kawan Pak Ode, dagangannya cukup beragam. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Oh di dalam pasar kami sempat berhenti lama di salah satu kios. Karena ini yang jualan suami istri, kawannya Pak Ode. Saya lupa namanya. Mendengar meriahnya dialog, saya cukup tahu kalau mereka dekat. Ada banyak yang begitu, termasuk di pasar awal yang sekarang sudah sepi itu. Ada banyak orang yang dikenali baik oleh Pak Ode.

Pedagang di sini sangat heterogen. Ada laki-laki dan perempuan. Ada yang masih remaja, ibu-ibu, bapak-bapak sampai simbok-simbok tetua yang cukup umur. Transaksi rerata dengan uang tunai. Pedagang juga sama seperti di pasar-pasar tradisional lainnya, ramai menawarkan dagangan saat melihat orang lewat.

Di situ juga begitu. Reramai orang menawarkan dagangan, dengan bahasa lokal mereka. Saya mung senyum-senyum bae. Nggak paham apa yang mereka sampaikan. Pasti menarik kalau ada yang mengkaji bahasa pasar mereka sebagai literatur linguistik. Saya? Haish, nggak kepikiran. Biar orang-orang lokal saja yang menelitinya. 😁😂

Sayuran dan bahan obat. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Saya nggak tahu Pak Ode beli apa saja, pokoknya seingetnya saya dibawain jajanan untuk jaga-jaga kalau saya laper tengah malam. Kebiasaan buruk yang nggak saya senangi, tapi kadang-kadang yo begitu. Biasanya kalau nggak disiapkan itu malah lapar, tapi kalau wes siap-siap malah tidur tanpa terjaga sampai pagi.

Yang jelas hari itu energi saya memang cukup terkuras. Mata saya masih melek tapi mung segaris saja. Dari pagi-pagi turun ke laut, ciblon di sumber mata air, ke Wakatobi WAVE dari siang sampai malam, hingga muterin pasar tradisional di malam hari. Perjalanan yang terasa panjang dan melelahkan, tapi sungguh menyenangkan. Hal-hal baru yang mungkin nggak akan saya dapatkan di tempat lain.

Bersambung.
Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us:

Surga di Wakatobi (6): Tari Kolosal yang Luar Biasa

Tanda pembukaan resmi acara Wakatobi WAVE 2025. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Alhamdulillah jam 15 an lebih acara wes dimulai. Panas membara sepertinya nggak mempengaruhi animo masyarakat dan peserta. Usai MC mewartakan urutan kegiatan Wakatobi WAVE, karnaval dari tiap kecamatan berparade bergantian sesuai urutan sampai memberikan penghormatan di panggung utama. Karena panas dan jarak saya ke peserta itu jauh (mereka di seberang kanan jalan), jadi saya memperhatikan dari layar besar di belakang.

Dan embuh sungguh membagongkan piye itu panitia kok meletakkan layar besar di belakang tamu undangan. Bukannya kayak begitu biasanya (atau lebih tepat) di sisi depan audiens? Jadi kami semua harus balik arah, putar kursi untuk bisa melihat atraksi, dandanan, dan aneka bawaan khas peserta karnaval.

Panas makin menyengat. Kursi-kursi tamu di tribun utama pun kepanasan dan tamu-tamu bergeser sana sini untuk menghindari panas. Saya lupa itu Pak Ode sudah balik atau belum; tapi kayaknya belum deh karena saya masih duduk sama ibu tadi dan bergeser ke tempat yang nggak kepanasan.

Pidato Bupati Wakatobi. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Entah sudah sampai karnaval dari kecamatan mana waktu Pak Ode balik. Saat mendengar Pak Ode berbicara dengan orang lain, si ibu tadi mengenali logat bicaranya sebagai orang lokal. Saya ngikik aja, mendengarnya bertanya asal usul Pak Ode. Hehe… pasti tadi dia juga mengenali saya sebagai orang asing non lokal dari logat bicara saya.

Pokoknya ini acara seru banget kalau nggak keganggu panas yang nggak kira-kira. Lalu kami pindah di sisi depan, maksudnya biar nggak kepanasan. Ya masih sama aja panasnya malah harus berdiri karena nggak ada kursi di sisi kameramen ambil gambar. Cuman ya nonton atraksi bisa langsung, lebih jelas.

Saya diseru ibu-ibu panitia agar duduk bersama mereka di sisi ujung. Aiiih saya sedang malas ditanya-tanya. Karena satu ibu yang tadi aja pertanyaannya banyak, apalagi kerumunan ibu-ibu gitu. Jawab pertanyaan itu bisa bikin capek lho kalau moodmu sedang naik turun gitu. Terlebih kalau pertanyaan aneh-aneh nggak terduga 😁😜 Dengan situasi panas udara yang bisa bikin orang gampang emosi jiwa. Jadi saya nggak mau pindah. Sampai seluruh acara selesai.

Pidato Wagub Sulawesi Tenggara. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Seremonial gini yang nyebelin yo sambutan-sambutan pejabat itu lho. Suwe. Pamer. Numpang tenar. Biasanya gitu. Lho kan beneran 😜😁 Satu persatu embuh wes berapa pejabat yang bicara. Belum kiriman video-video sambutan pejabat yang ikut ditayangkan pula. 😁😜

Duuh, ini tradisi rutinan berbagai event yang saya kenali di mana-mana, tapi tetep aja nggerundel kalau kelamaan. Padahal bagi pejabatnya, ini kesempatan tampil, pamer, eksis. Kalau bisa pidatonya suwe dan semua disampaikan. Padahal makin suwe makin bikin malez 😁😂

Ada juga isi pidato mereka yang mampir di kuping saya. Kalau Wakatobi tahun ini ada 2 event besar, tahun depan ada 9 event. Embuh apa saja ntar saya tanya Pak Ode. Terus flight langsung dari Kendari Wakatobi dibuka kembali tanggal 5 atau 10 Oktober. Sekarang wes dibuka, tiketnya antara 800-850 rb, cek di marketplace langganan masing-masing ya. Bu Sherly (Gub Malut) belum datang ke acara itu karena belum ada penerbangan langsungnya.

Fashion show di lapangan. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Terus acara Wakatobi WAVE 2025 ini termasuk event terbaik di Indonesia. Sudah 5x (cmiiw) berturut-turut mendapatkan penghargaan nasional. Apalagi ya? Oh, biota laut di seluruh dunia ada 750 spesies dan 500 spesies nya ada di Wakatobi. Sama harapan-harapan standar pejabat agar Wakatobi lebih baik, rakyat lebih sejahtera, bla-bla-bla….

Selesai pidato-pidato, nah ini acara nabuh gong pembukaan acara. Alhamdulillah wes dibuka secara resmi. Semua pejabat tinggi yang ikut menabuh gong. Berarti sebentar lagi acara tari kolosal. Versi banyak orang dari yang saya dengar ini acara paling ditunggu-tunggu.

Eh ternyata belum mulai tari kolosal juga. Masih ada acara fashion show ditambah atraksi tari mereka yang dandan superbesar. Hihi… saya sampai ngikik lihat mereka. Mulai dandan dari jam berapa ya mereka itu? Dan ya sungguh kuat banget mereka membawa “beban” berat di kepala sesiangan sampai malem lho. Apalagi pas malem masih dimintain foto-foto banyak orang, termasuk saya 😁😜 Hebat tenan mereka.

Sebagian penari dengan kostum “berat” dan “besar”. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Saya wes duduk saja, menghabiskan jajanan dan minuman sambil menikmati acara. Panas masih cetar, tapi sudah nggak sepanas jam 14 tadi. Itu sudah jam 17 lewat. Seingat saya pas tari kolosal dimulai, langit sudah berganti warna. Ada yang lebih gelap di beberapa bagian. Namun sepertinya warga yang datang semakin banyak.

Pertunjukan hebat Tari Kolosal lebih kurang 40 menit ini memang luar biasa. Semua penari (lebih kurang 1000-an, cmiiw) bergantian memenuhi lapangan Marina Togo dengan beragam kostum dan gerakan yang berbeda-beda. Tari Kolosal yang disajikan sungguh mahakarya yang istimewa. Setiap kelompok tari menggunakan kostum dan atribut yang berbeda-beda. Ada beragam jenis tari yang semuanya menggambarkan kekayaan alam dan adat budaya Wakatobi. Tari Kolosal itu versi saya sebagian dari bentuk riil cinta masyarakat etnis terhadap warisan kekayaan budaya leluhur.

Ini di Wakatobi lho, dengan jumlah penduduk yang pasti nggak sebanyak kabupaten-kabupaten di Jawa. Tentu saja anggaran pemerintah juga sesuai dengan jumlah dan komposisi penduduk. Pasti nggak banyak. Budaya bukan proyek mercusuar pemerintah. Mayoritas didanai mandiri oleh masyarakat etnisnya. Dari pertunjukan itu saya melihat semangat swadaya masyarakat yang luar biasa. Nggak mungkin atraksi sebesar itu kalau nggak karena semangat masyarakat etnis untuk melestarikan, mengembangkan seni dan budaya mereka. Sungguh luar biasa.

Sebagian atraksi penari dalam Tari Kolosal. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Wah, menyenangkan sekali saya dapat kesempatan melihat acara besar begini. Budaya kita memang luar biasa. Dari ujung ke ujung Nusantara semua indah, besar, megah. Tinggal kita saja mau atau enggak nguri-uri melestarikannya untuk kemajuan bangsa.

Acara berakhir sekitar jam 19 malam. Ramai orang berfoto di berbagai spot ikonik Wakatobi WAVE 2025. Ada yang foto-foto dengan para penari. Ada yang foto-foto dengan beragam piranti pendukung acara. Ramai lalu lalang orang di tengah keriuhan suasana. Sebagian sudah dengan membawa belanjaan dan tentengan makanan minuman.

Ada juga warga yang berlarian ke tribun utama untuk salaman dan foto-foto dengan pejabat. Suasana yang mengingatkan saya pada seremonial rutinan upacara kemerdekaan di istana negara. Byuuk, nggak peduli siapapun kalau bisa salaman dan foto-foto dengan pejabat negara. Eeh, saya enggak lho 😁😂

Sungguh elok dengan kostum berat dan atraksi sejak siang s/d malam, mereka tetap senyum saat dimintain foto. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Kami malah segera melipir ke pameran UMKM untuk cari makan minum. Mengitari area pameran, melihat aneka produk yang disajikan di situ. Ada makanan,minuman, souvenir, oleh-oleh, aneka baju adat, produk laut, dll yang dihasilkan UMKM di seluruh Wakatobi. Tentu kami harus berbagi jalanan dengan banyak orang. Ada remaja yang pingsan juga dan ditandu cepat untuk dibawa ke ambulans. Biyuuu…..

Agak lama kami di sini. Melihat kerumunan orang di tengah gerahnya udara malam, saya wes memilih segera keluar saja dari areal itu. Usai makan minum, ditawari makan minum lainnya yang banyak dijual di pameran, sudah menggeleng enggak. Disuruh foto-foto di spot-spot ikonik pun sudah malez saya, karena kudu antri panjang. Bahasa simpelnya, kaki saya wes pegel dan perut sudah kenyang. Jelas kan kalau itu, maunya mandi terus tidur😁😜

Bersambung
Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us:

Surga di Wakatobi (5): 1000-an Orang di Siang Bolong?

Gambar-gambar seperti itu banyak di berbagai tempat di Wakatobi jelang acara Wakatobi WAVE 2025. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Sebelum masuk ke areal acara Wakatobi WAVE 2025, kami makan siang. Ada juga lho di Wakatobi ini yang jualan bakso dan mie ayam. Yang jualan orang Jawa. Dan nggak seperti bakso atau mie ayam di Jawa, di sini porsinya super besar. Pokmen kalau saya yang doyan makan aja bilang porsi super besar, wes pasti banyaknya di atas rata-rata. Kayaknya semua makanan di sini “porsi besar”. 😁😂

Sambil makan saya melihat lalu lalang penari-penari yang akan berpartisipasi di acara Wakatobi WAVE, orang-orang yang mau nonton, hilir mudik orang-orang membawa aneka piranti pentas, kendaraan motor mobil melintas silih berganti. Di sudut yang lain banyak pula rombongan orang dengan pakaian adat turun dari pick up atau mobil, lalu foto-foto di bawah pohon. Motor-motor dan mobil-mobil sebagian ada yang parkir di seberang jalan kami makan. Tanda bahwa ada kegiatan besar di sekitar tempat itu.

Saya nggak tahan untuk nggak melihat apa saja isian “menara” di atas kepala penari ini, yang ternyata hasil laut. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Sebenarnya jalan dari parkiran ke lokasi acara itu deket banget. Tapi ya ampun karena panas matahari jam 14-an Wakatobi beneran terik menyengat kulit dan saya seperti melihat tangan saya berasap (air menguap dari dalam tubuh); yang dekat pun rasanya nggak sampai-sampai. Belum lagi kalau Pak Ode harus berhenti-berhenti karena sapa-sapa temen-temennya (yang jumlahnya banyak itu).

Saya berusaha tutup mata kalau harus berhenti di panasan, karena beneran bikin kepala terasa nyut-nyutan. Minum air bolak-balik agar nggak dehidrasi. Kalau situasi seperti ini di Madinah atau Mekah sudah saya guyur kepala dengan air zamzam. Kalau sampai dehidrasi, hipertermia, panjang urusannya. Biasanya sebentar saja wes kering lagi itu kerudung meskipun diguyur basah air.

Di gerbang masuk Wakatobi WAVE 2025. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Saya lupa ngecek berapa derajat itu suhu udara Wakatobi saat itu, tapi pasti di atas 38 derajat saking panasnya. Di sini saya yo nggak mengguyur kepala dengan air. Lha bawa air minum aja cuman sebotol, habis dong kalau diguyurkan. Lebih bagus diminum berulang. 😂😁

Kami masuk areal Wakatobi WAVE bersama dengan banyak orang yang lalu lalang. Bertemu orang-orang dengan aneka dandanan. Sebagian peserta pendukung kegiatan ini masih terlihat hilir mudik. Tentu dengan beragam dandanan dan pirantinya yang beragam.

Saya melihat di semua sisi yang disediakan tempat untuk warga wes penuh. Termasuk kursi-kursi untuk mereka warga undangan atau perwakilan. Saya berhitung cepat, mereka yang ada di kursi kursi itu dari jumlah deret ke samping dan ke belakang, pasti lebih dari 200 orang. Kalau ada 4 sisi yang ada di lapangan ini, yach lebih kurang 800-900an orang. Belum lagi jumlah tamu undangan dan pejabat-pejabat di panggung utama; mungkin sekitar 80-100 an orang. Ya lebih kurang 1000 an orang (cmiiw) di siang bolong itu yang sudah memenuhi areal Marina Togo atau Maritime Center ini.

Salah satu sisi tempat di lapangan Marina Togo yang penuh peserta. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Sementara saya mendengar perwakilan peserta karnaval dan pendukung acara dari tiap kecamatan untuk kegiatan ini lebih kurang 200-300 orang. Kalau ada 8 kecamatan di Wakatobi, hitung cepat jumlah perwakilan saja wes 1600 s/d 2400 orang.

Dan pasti jumlah 1000-an orang yang sudah ada di lapangan itu akan bertambah kalau peserta karnaval bergabung duduk-duduk selepas acara. Belum lagi warga yang terus berdatangan untuk melihat acara. Pantaslah udara yang wes panas terik di tengah laut, tambah panas karena banyaknya orang di areal tersebut.

Orang sebanyak itu pun, versi mayoritas warga lokal disebut masih “sepi” karena tahun ini yang berpartisipasi hanya perwakilan setiap kecamatan. Sementara tahun sebelumnya, yang berpartisipasi seluruh desa yang ada di Wakatobi. Kebayang meriahnya. Yach, karena ada efisiensi anggaran.

Jangan selalu percaya foto, karena senyum saya ini untuk menghormati orang yang mau salaman; dengan menahan kepala yang rasanya wes nyut-nyutan gegara panas. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Versi saya, hal itu sebenarnya nggak perlu mengubah partisipasi desa dan warganya. Kan yang efisiensi itu mung dana dari pemerintahnya. Kalau kita warga, rakyat, wah urusan budaya begitu biasanya dana swadaya dan kekuatan mandiri masyarakat tetap kuat dan solid. Karena saya melihat di Jawa, perayaan Agustusan di desa-desa non bantuan dana pemerintah pun, begitu besar dan meriah. Dananya yo jelas swadaya mandiri warga desa. Apalagi event sebesar Wakatobi, pasti mereka mau berpartisipasi. Namun kalau event besarnya banyak atau berulang kali, nah itu baru jadi masalah buat warga. Malez juga kalau bolak-balik iuran dana sosial dan kerja bakti massal😆😂

Kepala saya mulai terasa pusingnya. Wes kalau sudah begitu, sulit bagi saya untuk “beramahtamah” pada orang-orang nggak dikenal. Jadi langkahnya rada cepat untuk menuju lokasi. Begitu saya duduk di tempat undangan, minum obat dulu biar nggak sampai pingsan. Areal tribun VIP dan VVIP ini pas kami datang, belum penuh dan nggak terasa panas.

Baru ada beberapa tamu undangan di situ. Ada yang ribet foto-foto di depan background. Njur pergi. Tapi ada rombongan bapak-bapak itu sudah tahu mereka lho foto di situ, dan orang-orang masih antri nungguin untuk foto, mereka malah ngobrol di situ dan nggak pergi-pergi.

Pak Ode dengan para figurannya. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Karena nggak kenal, ya kami nggak bisa mengusir atau menyuruh mereka pergi. Terus mikir juga kalau ntar mereka pejabat dan tersinggung kan bisa panjang urusannya. Qkqk… jadilah fotonya Pak Ode dengan banyak figuran 😁😜 Saya bae emoh difoto dengan background mereka. Jadi yo nggak punya foto di tribun itu.

Setelah itu Pak Ode pergi entah ke mana, lha kan dia temannya banyak di tempat kelahiran. Saya masih berusaha menetralkan sakit kepala saya gegara panas matahari. Melihat lalu lalang ibu-ibu pejabat yang datang dengan dandanan menor (eh tapi itu nanti pasti luntur deh kena panas), keribetan ajudan yang juragannya minta dibawain ini itu, cipika-cipiki keramahan “standar” antar pejabat, dll.

Saya wes duduk anteng nggak nyapa-nyapa orang karena kepala masih berat. Setelah sudah reda sakit kepala, baru saya mau menyapa seorang ibu paruh baya di seberang yang bolak-balik ngelihatin saya bae. Jelas kelihatan kalau saya bukan orang lokal dan asing, makanya dia kepo. Kami ngobrol lama. Lumayan menghabiskan waktu; karena tahu sendiri acara seremonial kek gitu kan nunggu pejabatnya datang. Mana ini ada menteri-menteri (atau yang mewakili), gubernur (atau yang mewakili), bupati dll pejabat penting undangan lain-lain.

Dan beredar kabar bupati Wakatobi sempat dadakan dipanggil ke Jakarta. Saya nggak tahu saat itu sudah di Wakatobi atau belum, tapi yang jelas bupati itu sudah ada di panggung sebelum pembukaan Wakatobi WAVE.

Bersambung
Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us:

Surga di Wakatobi (4): Sumber Mata Air Abadi

Sejuk segar sumber airnya. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Nggak banyak orang yang mau berbesar hati, terutama menghadapi kekalahan, kegagalan, ketidakberuntungan, kesialan, musibah, dll sebutan yang setipe. Postingan saya kemarin tentang gagalnya snorkeling, banyak respon japri ke saya.

“Sayang Ri, mestinya kamu balik aja ganti alat-alat kembali dan turun lagi.”

“Kalau aku masih di situ, pasti balik dan turun lagi, Ri. Ongkosnya ke sana kan nggak murah.”

“Bisa-bisanya kamu sesantai itu pergi ke Wakatobi nggak lihat bawah laut.”

Dll. yang intinya menyayangkan, menyesalkan apa yang saya lakukan atau alami di Sombu. Saya terima aja dengan baik. Kan mereka nggak ada di posisi saya. Nggak tahu jadwal acara saya. Nggak tahu situasi saya di sana. Dan terlebih nggak tahu kondisi fisik tubuh saya.

Sebagai orang yang nggak belia lagi, sudah banyak hal jatuh bangun kehidupan saya lewati. Lebih dari 30 tahun, saya sudah nggak pernah berharap atau punya ekspektasi tertentu pada apapun, siapapun. Dengan begitu, semua hal yang terjadi bisa saya terima dengan mudah, tanpa penyesalan. Terlebih kalau saya sudah mengusahakan terbaik (versi saya), ya wes. Mungkin itu bukan rezeki saya. Dan saya akan melanjutkan progres atau urusan lainnya.

Anak-anak gembira saja naik turun sumber itu. Banyak yang wes jago renang dan nyelam. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Pembelajaran itu saya peroleh ketika saya baru fresh graduated, sarjana, mati-matian melamar gaweyan di Kompas Gramedia (KG). Semua proses lolos sampai ke wawancara terakhir. Oh, saya wes pede bakal diterima karena saya tahu orang-orang kunci di situ mayoritas lulusan Sastra dan Psikologi UGM. Ada 2 kandidat terakhir, saya dari UGM dan satu lainnya dari UI. Hambok yakin, mereka kalau misalnya nilai saya saat test kerja itu ada kurang-kurang dikit pun pasti akan tetap memilih yang satu almamater. Sudah bukan rahasia lagi hal seperti ini di dunia kerja.

Ealah, dadakan saya demam tinggi, badan sakit nggak jelas, nggak bisa datang ke wawancara terakhir. Dan gagallah saya jadi bagian KG itu. Saya terpuruk, 3 hari nggak mau masuk keluar rumah. Ternyata itulah cara Allah untuk mencegah saya masuk ke bidang yang nggak terlalu saya suka. Editor tulisan, tentu saya bisa. Njelimeti satu per satu kata di balik meja malem-malem pula (karena dulu koran terbit pagi) itu jelas nggak menyenangkan bagi saya. Saya lebih senang berkeliaran di luar ruangan.

Ternyata Allah menggantinya dengan yang jauh lebih baik. Menarik saya ke Multivision Plus Jakarta tanpa test, datang tinggal urus kontrak kerja dan kesepakatan waktu kerja, bekerja dengan orang-orang yang luar biasa, iklim kerja yang kondusif, sarpras perfilman yang terbaik dan termaju pada masanya, kawan-kawan yang support, dll yang luar biasa.

Dua remaja di sumber air kedua. Airnya lebih hijau lebih jernih, tapi lebih dalam. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Jadi orang yang diminta bergabung, berasa “gagah” saya, minta ini itu fasilitas selengkapnya. Dan baru saya sadari kemudian, kalau saya di KG gaji saya jauh dari cukup untuk memback-up urusan saudara-saudara dan orang tua saya. Kalau di sini, duit saya masih turah banyak, saya masih bisa hidup baik, piknik sana sini tanpa rasa bersalah.

Sejak itu, saya belajar bahwa Allah lebih tahu dan lebih baik mengurusi hidup saya daripada saya atur begini begitu. Wes saya tinggal menjalani saja sebaik-baiknya, nggak perlu punya harapan begini begitu. Toh semuanya malah lebih ringan dijalani. Marah, kesal, kecewa, sakit hati ya itu bagian dari warna kehidupan. Tapi begitu sadar, ya wes saya maafkan dan terima, lalu terlupa begitu saja.

Apalagi hanya urusan kecil soal gagal snorkeling. Lain waktu bisa datang lagi. Kalau nggak, ya berarti itu bukan rezeki saya. Nggak menyesalinya karena wes saya usahakan sebisa saya semampunya.

Versi saya, kalau sampeyan ingin hidup bebas penyesalan; berhentilah berharap pada apapun dan siapapun. Cukup bergantung dan tawakal sama Allah. Atur dan program hidupmu, jalani dan usahakan sebaik-baiknya, lalu biar Tuhan mengurus lainnya. Nanti hidupmu akan terasa enteng, baik, indah, menyenangkan, banyak senyum, banyak syukur, dan banyak happy. 🥰

Pohon-pohon besar yang melingkupi areal sumber mata air. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Oke, itu intermezzo panjang merespon tanggapan kemarin. Sekarang saya lanjut cerita di Wakatobi. Cuaca panas di tempat ini sangat ekstrem. Gosong. Harus banyak minum, tapi biasanya nggak banyak buang air kecil karena menguap bersama keringat. Kadang saya merasa “air” di tubuh saya ikut menguap ke udara saking panasnya.

Setelah dari Sombu, kami ke Wambuliga sebentar dan niatnya terus balik hotel. Karena acara pembukaan Wakatobi WAFE nanti jam 14-an. Saat itu wes jelang siang, hampir waktunya Jumatan.

Nah, di dekat hotel saya menginap itu ada sumber mata air di pinggir jalan. Pas baru datang, saya sudah dikasih tahu untuk mandi-mandi di situ; karena akses gampang dan airnya sangat jernih sejuk.

Orang-orang sekitar menggunakan tempat ini mandi sehari-hari. Mulai dari anak-anak, remaja, dewasa. Anak-anak pulang sekolah pun, taruh tas ganti seragam langsung loncat-loncat terjun mandi di air. Kami pun belok arah ke tempat itu.

Ada 3 sumber mata air besar di situ. Tempat pertama paling kecil, paling dangkal meskipun kedalaman bagian tengah ya 2 meteran, tapi kiri kanannya sumber air banyak batu besar untuk duduk-duduk dan pegangan. Tempat ini isinya cenderung anak-anak kecil dan ibunya yang mengawasi.

Sumber mata air kedua lebih besar, lebih lebar dan lebih dalam antara 4-6 meter. Di sekitar juga banyak batu besar untuk pegangan. Anak-anak remaja tanggung lebih suka pakai sumber air ini. Mereka berloncatan sambil berteriakan heboh. Seru sekali melihat kegembiraan mereka. Masuk tempat ini gratis, nggak ada charge bayar. Masuk semua areal pantai juga nggak bayar. Tapi parkir tetep bayar 😄

Batu nama di areal jalan depan sumber mata air. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Sumber mata air ketiga posisinya agak di sudut, tapi jarang dipakai orang. Tentu airnya juga tetap jernih seperti sumber mata air lainnya. Mungkin terlalu dalam, jadi nggak banyak yang mau pakai. Kita kan kalau akses fasilitas yang paling gampang aja.

Versi warga sekitar sumber mata air sudah ada sejak lama banget. Leluhur-leluhurnya juga sudah mengenal adanya sumber mata air itu. Sumber mata air ini terus mengalir dengan debit air yang stabil sepanjang waktu. Bahkan di musim kemarau yang sangat panjang, sumber air ya tetap segitu gitu aja. Jernih, segar, menyehatkan. Orang-orang mandi mandi, ya minum-minum air juga di situ. Deskripsinya berasa kek penjelasan tentang air zamzam di Mekkah saja. Mata air abadi. Tapi ya itulah keajaiban sumber mata air ini.

Saya nyebur, mandi sepuasnya. Segar banget airnya. Melihat muka anak-anak yang gembira ria, saya kok ya ikut senang. Ya kegembiraan juga seperti virus, menular dengan cepat. Anak-anak itu adalah bagian dari wajah masa depan bangsa ini. Semoga mereka tetap gembira dan semangat menjemput tantangan zaman yang semakin nggak ringan.

Dalam hati saya menyebut, untung ini sumber mata air lokasinya di Wakatobi. Kalau di Jawa sudah dikomersialkan dan “disajeni”. Terlebih sumber-sumber mata air itu terletak di tempat strategis pinggir jalan, di bawah naungan banyak pohon besar berumur lewat ratusan tahun. Konon etnis Jawa memang paling “pintar” kalau urusan komersialisasi dan sakralisasi tempat dengan sesajen dan aneka ritual 😁😂

Puas mandi mandi dan ciblon, saya balik hotel. Mandi bersih, lalu tidur 😂 Ya ampun, orang-orang sekitaran saya pada heran dengan gampangnya saya tidur dan sekaligus bangunnya, tanpa rasa pusing. Haha… mungkin karena saya nggak ada beban batin atau pikiran apa-apa. Selesai satu urusan wes gak saya pikir lagi 😂😁

Jam 13.30 an saya wes rapi bersiap ke Marina Togo atau Maritime Center untuk pembukaan Wakatobi WAFE. Wah lihat list acaranya, kayaknya sampai malem itu. Dan saya ikut semangat karena dengar orang-orang di hotel juga rerata datang untuk diving dan lihat acara Wakatobi WAFE. Pasti seru ini, pikir saya antusias. Wes terlupa saja urusan snorkeling. 😁😂

Bersambung.
Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us:

Surga di Wakatobi (3): Kalau Snorkeling Nggak Mengikuti Ritualnya

Sisi depan tempat masuk areal Sombu. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Alhamdulillah. Saya jenis orang yang gampang makan, gampang tidur, gampang ketawa, gampang happy dengan hal-hal kecil, gampang pula bekerja. Di berbagai tempat dalam beragam situasi yang nggak biasa.

Saya juga lumayan gampang beradaptasi dengan berbagai sikon yang nggak menentu. Wakatobi beneran “asing” buat saya. Orang-orangnya. Bahasanya. Makanannya. Model-model rumahnya. Lingkungannya. Cuacanya yang panas ekstrem.

Toh mengingat “belum tentu saya ke sini lagi”, saya berusaha mengenali semuanya baik-baik. Menikmati makanan lokal sebisa saya. Berbincang dengan sekitaran semampu saya. Mengingat detail lingkungan setelitinya. Semua terasa ringan dan happy saja.

Usai makan malam dan wes balik hotel, saya merampungkan beberapa artikel populer yang deadline. Setelah itu saya tidur. Sebentar saja saya sudah lelap. Sempat terbangun dini hari sebentar, dan sudah pules lagi sampai Shubuh.

Ujung jembatan sebelum turun ke laut. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Pagi hari saya sarapan dengan gembira. Mau nyebur laut. Itu aja yang ada di ingatan saya. Gambaran yang menyenangkan hati. Apalagi wes “tahu” dari referensi betapa cantiknya bawah laut Wakatobi.

Sampai lokasi pusat diving Wambuliga, saya mengambil pelampung, alat snorkeling, kaki katak, sama nungguin guide dan fotografer. Begitu semua wes siap, kami motoran menuju spot diving di Sombu. Saya nyaris lupa; ganti baju renang tuh di sini atau di seberang ya? Kayaknya ganti di basecamp diving itu deh. Pokoknya bebaslah kalau soal ganti baju, ada banyak tempat.

Pak Ode ngingetin agar perhiasan (emas) yang saya pakai dilepas. Cuman karena biasanya mo turun bawah laut ya gitu-gitu aja (maksudnya nggak pernah copot pasang perhiasan), saya nggak mau. Ribetlah copot pasang gitu dan saya yakin cukup aman, atau perhiasan itu nggak akan terlepas kalaupun saya berada di bawah air.

Suasana di Sombu masih sepi saat kami datang. Pemandangan laut begitu cantik. Air jernih berkilauan ditimpa mentari pagi seperti perak terhampar di lautan luas. Riak-riak air kecil bergulung lembut ringan di mata. Bikin hati tuh langsung adem, ayem, tentrem, berasa hilang deh semua beban hidup… hihi… Kalau kamu keluar dari laut Sombu dan beban hidupmu yo balik lagi, itu jelas salah dan dosamu sendiri… qkqk…

Sisi lain jembatan tepian Sombu. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Lagi-lagi Pak Ode ngingetin saya untuk melepas perhiasan. Saya ya tetep ngeyel bilang nggak apa-apa dan nggak mencopot perhiasan. Saat kaki saya menyentuh air laut, terasa hangat. Saya wes berasa senang.

Yang nggak saya pikirkan terjadi. Begitu masuk laut sebentar saja, saya langsung glagep glagep terminum air laut dan sesak. Alat napas saya lepas-lepas terus. Kemudian pelampung berasa naik-naik sampai kepala nggak pas di badan dan punggung saya. Kaki kataknya juga kurang nyaman di kaki saya.

Menyerah? Belum. Kaki katak saya lepaskan, nggak saya pakai. Seingat saya, di beberapa tempat, saya nyebur dengan kaki telanjang; ada yang pakai sepatu kecil tapi ekornya nggak sepanjang itu. Saya mencoba lagi turun, dan ya ampuuun habislah nafas saya gegara alatnya lepas-lepas melulu. Hadeuh.

Saya masih berusaha nggak panik. Nggak pakai alat nafas cukup bisa 5-10 detik lihat bawah laut dan naik lagi. Jadinya yang saya lihat yo mung ikan-ikan bergerombol biru hijau di sekitar laut tepian.

Pagi nggak terlalu ramai di Sombu. Hanya kami dan orang-orang di belakang itu. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Ampuun tenan…. Apa yang salah ya? Saya bukan orang yang gampang nyerah. Dan ini bukan hal baru buat saya, nyebur udah berapa kali ke laut? Kok ini malah pas air lautnya jenis hangat dan bersahabat gini nggak bisa turun. Kesian kan guide sama fotografer nya, jadi nggak kerja. Padahal keduanya ya mung mengawal saya doang. Sabar banget pula mereka.

Ingatan saya ke kepala desa yang kemarin mrmberi ulasan tentang bawah laut Wakatobi. Kayaknya saya sudah berdoa, “permisi”, dan nggak do something bad deh… pikir saya. Jadi pasti bukan karena itu. Saya juga nggak menangkap energi “buruk” di sekitaran areal tersebut.

Tiba-tiba guide saya nanya, kapan terakhir saya nyebur laut… Bhadalaaah…. Ya Gusti Allah, baru sadar… saya terakhir nyebur laut wes 2 tahun yang lalu di Karimun Jawa. Setelah itu nggak pernah turun laut lagi.

Tahun ini saya blas belum nyebur laut. Di Pantai Kasap (Pacitan) enggak turun, di Pantai Bama (Banyuwangi) yo mager, di Lovina (Bali) mung duduk-duduk di perahu liat si lumba-lumba. Haish, pantes air laut jadi berasa “asing” lagi buat saya yang bukan anak laut ini.

Habis ciblon, naik saja daripada terminum air laut melulu. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Guide saya mengatakan ngggak apa-apa. Perlu beradaptasi lagi dan menyarankan agar saya lebih sering turun bawah laut biar terbiasa (yang jelas pasti nggak akan saya turuti). Di Jawa, turun ke laut itu butuh effort tersendiri. Saya langsung memaklumi diri, tapi masih pingin nyebur laut lagi. Dan jelas tetep nyebur lagi saya, biyuuu…. malah terminum air laut lagi lebih banyak.

Astaga, dari banyak kali nyebur laut-laut, ini beneran pengalaman saya paling payah di tempat yang (mestinya) paling indah di Nusantara. Keseeel beuuut saya… tapi memaksa turun lagi, wes pasti cuman beberapa detik gitu… dan akhirnya merasa sesak gegara terminum air laut.

Pas ngelihat alat nafas snorkeling itulah saya menyadari “kebodohan spontan” yang terlewat sebelumnya. Pas di basecamp diving, saya nggak nyobain alat nafas. Alat yang saya pake ukurannya terlalu besar untuk mulut saya, makanya lepas-lepas terus. Di basecamp juga nggak memasang pelampung dengan benar, sehingga nggak sadar kalau ukuran terlalu kecil. Kaki katak juga nggak pas betul, sehingga terasa nggak nyaman di kaki saya.

Menyadari itu semua, saya memutuskan segera naik saja. Sudah cukup lama ciblon di laut. Dan orang-orang juga sudah mulai rame berdatangan. Jujurly saat itu saya agak malas berinteraksi sapa-sapa sekedar senyum dan say hello pada orang yang bersinggungan di lokasi. Mudah-mudahan ada lain waktu untuk datang lagi.

Di belakang saya itu basecampnya diving Wambuliga. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Apa saya menyesal dengan kegagalan ngeliat bawah laut Wakatobi? Tentu aja enggak. I do my best untuk urusan ini. Nggak bisa lihat bawah laut karena faktor X yang sudah saya identifikasi di atas, ya itu murni keteledoran saya. Kudune cek-cek semuanya dengan teliti dan memastikan semua alat nyaman saya gunakan.

Kemudian saya sadari juga, ada ritual yang (lupa) nggak saya patuhi. Biasanya sebelum snorkeling itu, saya nggak akan makan apapun (lhah itu pagi saya malah sarapan kenyang-kenyang 😂😁). Pantas saja nafas saya seperti ilang-ilangan; energinya habis untuk mencerna dan mengolah sarapan itu. Ya ampun….

Terus yang kedua, sebelum snorkeling tuh biasanya 15-30 menit saya jalan atau lari. Lalu istirahat sejenak, baru nyebur. Lari atau jalan itu fungsinya “mengaktifkan” seluruh tubuh saya, sehingga gerak dan nafas di dalam air jadi lebih mudah. Pas itu saya nggak jalan atau lari, nggak pemanasan pula… lha yo pantes. Weslah gpp, saya tetap senang ciblon di laut luas.

Pohon kelapa tumbuh rendah mengarah ke laut di Wambuliga. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Toh saya keseeel beut pas Pak Ode bilang kalau saya nggak bisa turun itu karena saya pakai perhiasan emas. Mitosnya memang nggak boleh pakai emas kalau mau turun bawah laut Wakatobi. Begitu saya pakai emas di laut, njur seperti terhalang untuk turun menikmati pemandangan bawah laut. Mungkin penguasa bawah lautnya nggak mau kesaingan kalau ada yang pakai emas 😁

“Lha Pak Ode kok nggak bilang?”

“Kan sudah saya ingetin, itu (perhiasan) nggak dilepas? Saya bilang berapa kali tadi?”

“Dua kali,” jawab saya masih keseel. Lha saya kan mikirnya disuruh lepas perhiasan karena dikhawatirkan perhiasan jatuh, lepas, atau hilang di laut. Kalau itu siy aman aja; karena perhiasan saya nempel pas seukurannya jadi sulit lepas kalau nggak sengaja dilepas. Kalau dibilang mitosnya gitu kan pasti saya lepasin. Haizh…

Bersambung
Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us:

Surga di Wakatobi (2): Wah, Ikaaan…!

Menurunkan sepeda motor dari kapal. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Tiba di Pelabuhan Wakatobi sudah terang. Saya agak lama di sini mengambil foto-foto, melihat orang-orang turun dari kapal, barang-barang besar diturunkan dari kapal (termasuk sepeda motor). Lalu lalang hilir mudik orang-orang. Riuhnya tawaran jasa ojek dan mobil. Rerame keluarga menjemput mereka yang baru datang.

Buruh buruh panggul yang menggotong barang sampai gerobak dorong yang membawa banyak muatan kebutuhan rumah tangga. Semua menjadi warna khas pelabuhan Wakatobi saat kapal sandar. Warna aktivitas yang baru sekali ini saya lihat di negeri yang jauh dari tanah kelahiran.

Saya cukup takjub melihat air laut yang jernih di tepian dermaga dengan ikan-ikan bergerombol sangat banyak. Ya ampun, disiruk aja kena semua itu. Saya pikir, hanya akan melihat yang begini di laut-laut dan sungai-sungai di Papua, oh di Wakatobi pun begitu. Berasa menyesal kok nggak lebih awal datang ke tempat ini.

Setelah cukup puas, baru kami pergi dengan mobil. Buat teman-teman yang mau ke sini, tawar saja kalau harus pake ojek atau mobil. Namanya juga di areal umum, suka-suka mereka nawarin harga. Jadi kita yang harus memastikan dari awal.

Tempat jual pisang goreng dan ubi goreng di pasar. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Tujuan kami ke rumah Pak Ode. Hotel tempat saya menginap, check in nya sekitar jam 12. Jadi masih siang nanti. Nggak lama wes tiba di tujuan. Sebentar banget karena mung 3 km-an. Bisa siy jalan kaki, tapi dengan barang bawaan jelas saya emoh ribet 😁🙈

Rumah itu modelnya memanjang ke belakang dengan banyak ruang atau kamar. Ciri khas rumah untuk keluarga besar banyak saudara. Ibu Pak Ode sudah sepuh. Saya pun nggak mudeng apa yang dibicarakan dalam bahasa lokal. Saya bisa menangkap nada sapaan ramahnya.

Pak Ode juga tipe anak laki-laki yang berbakti pada ibunya. Pulang bawain oleh-oleh, baju, kasih uang. Kalau ada istilah sejenis menarik sejenis, saya dan teman-teman dekat, semuanya juga berperilaku sangat baik pada ibu bapak kami. Semoga tetap seperti itu sepanjang hayat kami. Amin.

Jalanan di tengah pasar yang lengang. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Pagi itu ada juga kakak dan keponakannya, tapi nggak tinggal di situ. Datang menengok ibu dan neneknya, njur pulang. Rumah mereka berdekatan. Lebih kurang begitu yang saya ingat. Lalu saya mengikuti Pak Ode jalan untuk ambil motor. Tempatnya di rumah kakaknya yang lain.

Jalanan di Wakatobi cenderung lengang, meskipun kiri kanan padat dengan rumah-rumah penduduk. Cukup bersih dan teratur. Oh yang paling saya ingat, udara segar dengan aroma laut dan langit yang sebagian begitu biru.

Usai ambil motor, kami ke pasar. Makan pisang goreng, dan ubi goreng. Dan yang jualan itu (kakak) atau (adiknya) Pak Ode yang lain. Ya ampun, saya agak sulit mengingat mereka karena face atau wajahnya mirip-mirip.🙏

Jalanan lengang di Wakatobi. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Oh iya, pasar ini konon pasar awal di daerah tersebut. Setelah ada pasar-pasar baru, banyak los, kios-kios, ruko-ruko yang kosong melompong di pasar ini. Pedagang pun hanya sedikit. Areal jalanan pasar kalau siang sore jadi ajang anak-anak main bola atau lelarian. Mungkin pemerintah dan pihak terkait perlu merevitalisasi lagi pasar ini biar lebih banyak manfaatnya (kembali) untuk masyarakat.

Di areal pasar itu juga ada tempat jualan ikan segar. Wah ikaaan…. Senang lihat ikan besar kecil, beragam jenis, bermacam warna. Rame orang beli ikan di tempat ini. Rerata kalau beli sekaligus dibersihkan. Nggak ada ukuran kiloan di sini, tapi sekelompok-sekelompok ikan dengan harga tertentu; mulai dari 20, 50, 100, 200 rb dst.

Di seberang tempat jualan ikan itu (entah sisi mana arahnya) langsung laut. Ada banyak perahu tertambat di sekitar. Pas saya tengok, laah ikan-ikan pun bergerombol di tepian. Ya ampun banyak betul ikan di sini.

Sebagian ikan-ikan yang dijual di pasar ikan. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Setelah Pak Ode membeli ikan dan menitipkan pada kakaknya untuk dimasak, kami pergi. Sebentar, saya agak lupa ke mana pergi setelah itu. Oh, kami ke pusat diving di Wambuliga. Karena pas ditanya mo snorkeling atau diving, saya jawabnya iya banget. Kalau soal pede, saya kelewat ndableg. Pokokmen kalau kayaknya bisa, iya aja dulu… ntar gimana ya dipikir nanti 😁😂

Di Wambuliga nanya jadwal, sewa alat dll. Ya karena di Wakatobi ada event besar WAFE 2025 itu dan kabar ramenya Bu Sherly (Sherly Laos, Gub Malut) mau datang untuk diving. Jadi hari Sabtu sampai Minggu semua jadwal dan spot diving wes full dipesan. Saya disarankan memilih besok pagi (Jumat) mumpung masih selow dan nggak banyak spot terpakai. Ya wes, besok janji saya ke mereka.

Di sini sewa alat snorkeling, plus guide dan dokumentasi 600rb untuk full payment. Tapi pas promosi, saya kena charge 250rb bae full fasilitas 😁😂 Kalau paket diving, berapa ya harganya? Saya lupa persisnya, sekitar 1,5 jt an. Saya jumpa dengan kepala desa yang menasihati saya kalau mau turun laut (snorkeling atau diving), saya harus jadi orang baik. Maksudnya saya nggak boleh ngomong dengan kosakata buruk, kalau lihat sesuatu di bawah laut yang “aneh-aneh” nggak boleh berkomentar, harus “permisi”, dan nggak boleh membuat keributan di laut.

Salah satu ikan yang versi saya “ajaib” di Wakatobi. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Saya menyanggupi. Bagaimanapun buat mereka yang mata batinnya hidup terbuka, bawah laut memang bukan sekedar ikan-ikan, makhluk laut, terumbu karang ataupun air laut; tapi banyak juga “kerajaan-kerajaan bawah laut” yang tak kasat mata oleh pandangan biasa. Dan saya yang besar di Tanah Jawa dengan segala mitos atau legenda laut, wes paham betul nggak boleh macam-macam di tempat yang bukan “ambah-ambahan” atau bukan “daerah kekuasaan kita”.

Lama berbincang tentang laut di sini, kami pun melanjutkan jalan dan mider lagi. Ada beberapa pantai yang kami singgahi, tapi wes nggak keurus dan sepi dari pengunjung. Jadi saya lupa nama-namanya😂😁 Tapi tetep pantainya indah dan cantik-cantik, meskipun sarpras ke TKP kudu direhab total.

Kemudian kami mampir ke rumah Bu Tuti dan Pak Damrin. Singgah sejenak dan diundang datang lagi lain hari. Saya nggak merespon karena belum tahu bisa enggaknya. Setelah itu kami pergi ke pantai lagi dan balik pulang. Saya nggak inget sepanjang jalan, Pak Ode beli jajanan khas apa saja. Bentuknya lucu-lucu, namanya pun unik-unik; dan hampir nggak ada yang saya hafal. Sudah dikasih tahu, ingat sebentar, njur lupa 😂🙈

Pohon kelapa kembar di Wambuliga. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Karena sudah panas banget, kami memutuskan pulang. Beuh, gosong tenan saya di Tanah Laut itu. Sudah berhari-hari di Jawa pun kaki, tangan, muka gelap belang hitam saya belum ilang. Padahal yo wes dikasih sunscreen lho sebelumnya, tapi nggak mempan. 😂

Saya makan siang di rumah Pak Ode. Tentu dengan olahan ikan. Menyenangkan sekali makan ikan di sini. Ikan segar, jadi gurih dagingnya berasa. Setelah itu, baru saya masuk hotel. Namanya Wisma Maharani, yang punya namanya Ismail (bikin saya inget si Mail ponakan saya yang lucu beut). Langsunglah saya mandi puas-puas dan tidur puas-puas 😁

Panasnya ampun, AC 16 derajat gak berasa dingin. Bangun tidur saya kek orang habis lari, keringetan meskipun ruang pake AC. Saya mandi lagi. Kemudian beberes gaweyan. Baru keluar makan malam.

Kalau dibablaske dolan malam itu pasti ngopinya sampe pagi. Saya memilih pulang, tidur. Besok pagi mo nyebur laut. Butuh banyak energi.

Bersambung.
Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us: