Kisah Tentang Workshop Soul Meter

Saya dengan Bunda Arsaningsih. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

SRSM, Soul Reflection Soul Meter; Mengenali Diri Kita yang Utuh ❤💖 Workshop ini sekarang diganti dengan nama WSM (Workshop Soul Meter) dengan Soul Reflection dan Soul Meter dalam satu rangkaian kegiatan.

Tanggal 1 Februari 2019 saya ikut SR (Soul Reflection) di Jogja untuk bersih hati bersih jiwa. Setelah hati dan jiwa lebih bersih, fisik saya lemes semingguan. Buang racun dan kotoran tubuh. Setelah itu siy rasanya jadi lebih enteng, lebih tenang, lebih adem.

Juli atau Agustus ada program SM (Soul Meter) lanjutan dari SR. Saya langsung menolak karena jadwal kerja yang padat. Habis pembersihan, saya takut tepar lagi. Mbak Rina, pengelola kantor Soul Jogja meyakinkan saya kalau SM jauh lebih ringan. Bagaimana lebih ringan, wong ikut SM syaratnya kudu ikut SR dulu. 😃

Sampailah akhir tahun, info SR SM mau ada di Jogja. Saya berharap siy April sudah dekat puasa, biasa nya saya wes tidak ke lapangan. Eh ternyata Februari. Saya molet, antara iya dan tidak. Baca-baca testimoninya lho kok gitu; ukur energi, kepastian sesuatu tepat atau enggak. Kalau saya kan gak perlu ukur. Ada feeling, ada intuisi, ada istikharah. Hampir setiap putusan saya, saya ambil dengan legawa sadar konsekuensi. Takada penyesalan.

Saya uleng aja mo ikut atau enggak, sampai Mbak Rina bilang bisa ambil putusan di saat terdesak. Oh baguslah itu. Ya wes saya ikut, tanya rekening transfer dan sudah. Selesai beberapa menit. Njur saya lupa, malah sebelum hari H ke luar kota. Pas diingetin, yo pulang ke Jogja pagi pagi 😅 Zaka kawan saya sampai nyeletuk, “Mbak nggak dari rumah to?” “Haha… Iya.” Kalau dari rumah untuk ikut SM saya gak akan bawa backpack isinya macam alat perang 😂

Ketemu Bunda, dr Rastho, dr Tia, Mb Rina dan anaknya, yo senenglah. Materi berlangsung lebih fun, tapi njur pembersihan jiwa… saya sudah menetralkan pikiran perasaan, tapi sensitif is peka dan nggak boleh diingkari. Sebelum ikut SRSM saja saya bisa rasa kok orang itu beres atau enggak, bikin ruwet atau enggak. Apalagi setelah ikut SR. Ahamdulillah selama ini connecting nya orang-orang baik. Dan saya afirmasi terus semua baik.

Begitu pembersihan selesai, punggung kanan saya suakitnya ampuuun. Saya langsung bilang, “Bunda, punggung kanan saya sakit.” Bunda memeluk saya, “Tidak apa apa karena ini dibersihkan, sumbatan terbuka, jadi sakit. Nanti saya bantu healing.”

Saya lebih lega, tapi masih memegangi punggung saya yang nyutnyutan itu. Ya, memang berasa ada yang ditarik dari punggung saya. “Nggak apa-apa Ri, ini adaptasi. Nanti semua akan baik.” Saya menenangkan diri sendiri.

Terus sudah sampai akhir bahas karma dan reinkarnasi. Silakan cek youtube Bunda Arsaningsih, yang kepo cek aja di sana. Sudah ada banyak sekali episode beragam. Nggak usah nanya sama saya; karena saya pun masih terus belajar, berproses membersihkan diri; melunasi membayar hutang-hutang karma saya.

Wah, ternyata ada tujuh kehidupan sebelum saya hidup sekarang. Dan sejak lahir kalaupun saya Islam, saya orang Jawa yang besar di lingkungan Kejawen yo terima ajaran karma dan reinkarnasi. Kalau kamu buat baik karmamu juga baik, begitu pun sebaliknya. Islam punya istilah sendiri. Kalau jiwamu belum sempurna, maka jiwa kamu akan ngejawantah atau lahir kembali untuk proses penyempurnaan jiwamu. Jawa banget ini 😃 Yang belajar sangkan paraning dumadi pasti mudheng. Kalau Islam tidak mengajarkan reinkarnasi. Setiap jiwa lahir baru tanpa dosa atau karma asal. Sumonggo masing-masing, jangan ngajakin saya berdebat di sosmed 😁

Saya menerima keduanya karena sepanjang hidup saya berusaha be nice kepada siapa saja, dan hidup saya yo wes beginilah, lempeng saja. Alhamdulillah. Ada ini itu yang belum dikasih Tuhan, saya yo happy saja. Sadar tiap orang menjalani takdir hidupnya masing-masing. Sejak kecil saya mungkin sudah jauh dari sikap iri dengki srei usil penyinyir. Karena ibu bapak saya penyayang dan sabar. Yo terbawa ke saya, contoh langsung.

Kalau reinkarnasi, ini lebih pada pengalaman hidup. Kok saya baru sekali datang ke tempat asing tapi rasanya wes hafal banget lika-liku ujungnya. Orang orangnya juga kayaknya wes familiar. Sering juga pertama kali jumpa orang langsung deket. Padahal saya introvert murni. Kalau pake SM ternyata ketahuan, oh saya dulu tinggal di sana, dekat dengan ini itu, dst. Gak percaya boleh, tapi ikut WSM dulu lebih bagus, baru bilang gak percaya 😁 Lha perkara santet tenung gendam hipnotis aja kalian percaya kok energi gak percaya, mikirlah pake otak😃

Pulang saya masih sempat makan malam sama Zaka, Bu Pefty. Sampai rumah manasin air, mandi, sholat, tidur. Gak tidur tidur. Berasa punggung saya sakit. Saya blonyo minyak rempah agar lebih cepat tidur. Dini hari saya bangun, terasa ada energi hangat mengaliri punggung saya. Oh Bunda kirim energi untuk bantu healing. Ya sudah reda beneran. Gak sakit lagi. Nunggu Subuh, nulis, beberes kerjaan, njur lemes sehari semaleman. Sekarang pun belum pulih sepenuhnya. Untung saya sudah antisipasi “cuti” seminggu. Belajar dari pas SR.

Saya jadi tahu kenapa hidup saya begini begitu. Ndak ada protes sama sekali. Apa yang terjadi ya terjadilah. Kehendak Tuhan lebih gampang diikuti daripada bikin acara sendiri. Sejak tahun 2019 boleh dibilang saya kerja tidak ngotot lagi, duit saya kok yo tetep alhamdulillah tetap banyak. Sehat bugar, saya wes ndakpernah pijet😃 Hubungan yo baik baik aja, belum berjodoh ya sudah saya ikhlaskan. Lebih deket sama Tuhan ya jelas itu kerasa banget, biasane males baca Quran wes luwih rajin. 😍 Better life lah nggak terikat target-target.

Happy waktu dulu ikut SR 8, setahun mung nambah satu. Jadi 9 dalam hitung 0 s/d 10. Happy saya belum paripurna karena ada hal yang belum saya ikhlaskan. Bagi saya ngaku belum ikhlas lebih baik daripada muni ikhlas njur jadi penyakit. Karena dampak kerugian dari orang-orang ini ke mana mana. Bahkan kalau orang orangnya datang meminta maaf bayar kerugian pun, mungkin saya akan naboki sampe benjut dulu baru bisa memaafkan. Yo wes, pelan-pelan.🙏

Tidak menuntut diri saya langsung ikhlas. Saya manusia biasa, yang lebih utuh karena mengenali diri lebih baik. Tuhan sudah memberi saya banyak sekali hal terbaik dan keren-keren. Lah banyak orang yang pingin hidup seperti saya. Apalagi kalau postingan saya pas dolan piknik 😃 Percayalah, hidup saya di dunia nyata lebih menyenangkan 😍💖❤💕

Saya legawa, tugas saya mendarmabaktikan hidup sesuai dengan keahlian saya dengan penuh rasa syukur. Lalu Tuhan akan mencukupi semua kebutuhan saya dengan istimewa. Dengan cara Tuhan yang selalu ajaib dan penuh kejutan 😍😍

Terimakasih Tim Soul, terimakasih Bunda Arsaningsih, dr Rastho, dr Tia, Mb Rina, Anditya, dkk yang luar biasa. 😍😍

Saya hanya menshare pengalaman saya bersih bersih jiwa, karena sehat itu tak cuma sehat fisik tapi kudu paripurna sehat jiwa raganya.

*Disclaimer: tidak mengajak berdebat dan berantem, monggo dipikirkan sesuai pemahaman masing-masing. Cuman kalau pas baca ini, hidupmu lagi ruwet banyak masalah yang nggak beres beres, coba deh ikut WSM mana tahu karma burukmu terlalu banyak dan harus dibersihin. Ada banyak orang “merasa baik”, tapi nggak sadar sudah menyakiti dan merugikan orang dan makhluk lain. Kamu nganiaya kucing itu juga karma buruk, jangan anggap enteng balasannya pada hidupmu.

Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us:

Hal Penting dalam Menulis Cerita Anak

Gambar sebagian cover buku cerita anak karya Ari Wulandari. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Menulis cerita untuk anak, sedikit berbeda dengan penulisan fiksi lainnya. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan.

1. Ending cerita anak umumnya bahagia. Anak-anak memang cenderung sensng dengan cerita yang fun, happy, gembira, banyak kreativitas.

2. Anak-anak tidak senang membaca cerita dengan karakter favorit berakhir sedih atau buruk. Namun dengan berbagai pengolahan cerita, anak perlu dibawa mengerti hidup tidak selalu “seperti dongeng”.

3. Lihat dunia dengan perspektif anak. Artinya melihat semua hal dari sudut pandang anak. Pernah melihat anak tetap bergembira meski hujan deras? Mereka bermain seolah tak khawatir atau cemas. Ya semua hal tetap menggembirakan bagi anak-anak.

4. Jelaskan tempat-tempat dan karakter sehingga pembaca dapat membayangkan hal tersebut dengan “cara mereka sendiri”. Ajak anak berfantasi dengan kemampuan mereka melalui tulisan.

5. Sebisa mungkin gunakan kosakata yang riil dan mudah dipahami. Kosakata abstrak sangat menyulitkan anak, terutama anak-anak di usia dini.

6. Alam dan kehidupan dalam cerita anak sering digambarkan sebagai sesuatu yang “cerah, membahagiakan, warna-warni, optimis.”

7. Atribut atau unsur-unsur “gelap” dalam cerita anak, tetap diperbolehkan asal kemasannya menarik anak. Seperti cerita Where the Wild Things Are atau seri Goosebumps.

8. Judul biasanya sesuai isinya. Pastikan membuat judul dengan kosakata yang riil, agar mudah dipahami.

9. Kalimat biasanya pendek-pendek dan praktis. Panjang cerita pun tidak terlalu panjang karena umumnya disertai gambar yang menarik.

10. Jadikan anak-anak yang sesuai umur segmentasi naskah sebagai first reader. Perhatikan komentar mereka tentang cerita tersebut. Perbaikilah apa yang menurut mereka kurang atau tidak dimengerti.

Menulis buku cerita anak kadang lebih menantang dan perlu usaha lebih banyak dari penulis. Biasanya penulis yang sudah dewasa “perlu ekstra keras” untuk menyelami dunia anak. Masa kecil si penulis (di masa lalu) tentu sangat berbeda dengan masa kecil anak-anak di saat cerita ditulis (di masa sekarang).

Happy Writing, be a Good Writer 🙂

Ari Kinoysan Wulandari

#arikinoysanwulandari #ariwulandari #kinoysanstory #dibalikbuku #tipsproduktif

Please follow and like us:

Tantangan di Dunia Penulis

Gambar hanya sebagai ilustrasi. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

“Senang dong Mbak Ari jadi penulis. Banyak nganggur. Kerja bisa seenaknya. Jalan-jalan terus. Uang datang sendiri.”

Sebenarnya, saya sudah agak ‘naik emosi’ membaca pesannya. Saya singkirkan saja pesan tersebut. Dia bukan penulis. Tidak perlu direspon.

Ya, jadi penulis memang banyak senangnya. Setidaknya, kerja bisa di rumah. Tidak harus ke kantor dan termakan kemacetan jalanan. Waktu fleksibel. Lebih lentur bekerja. Bisa memilih jenis tulisan.

Kalau mau dapet duit banyak tinggal nulis lebih rajin. Belum lagi kalau bukunya tiba-tiba terpilih proyek yang nilainya besar. Atau buku dan scriptnya hits, megabestseller di pasaran, pasti banyak bonusnya.

Sungguh tidak benar kalau penulis banyak nganggurnya. Kerja bisa seenaknya. Uang datang sendiri. Penulis sebenarnya pekerjaan yang (tidak) ringan. Otak harus terus bekerja dengan kreatif.

Menulis juga harus sesuai dengan aturan dan kesepakatan-kesepakatan yang —sangat banyak— dan kadang-kadang sangat ribet dengan berulang kali revisi. Royalti walaupun dikirim langsung oleh penerbit, bukan diberikan secara gratis. Itu hasil kerja keras. (Tidak) sehari dua hari, tapi berbulan-bulan.

Ya, yang bukan penulis mungkin tidak pernah tahu, bagaimana kadang buku yang dikerjakan berbulan-bulan, di akhir periode laporan royalti uangnya tak lebih dari sekian puluh ribu saja.

Yang bukan penulis juga mungkin tak pernah tahu, skenario yang sudah digarap dan direvisi berulang-ulang, akhirnya gagal diproduksi dan tidak dibayar. Padahal penulisnya sudah banyak mengeluarkan energi, waktu, biaya, dan pemikiran. Siapa yang peduli? Tidak ada skenario yang beres, ya tidak dibayar.

Belum lagi kalau minta royalti ke penerbit atau nagih ke produsernya aja pakai ngotot-ngototan atau dipingpong sana-sini. Atau bahkan ada juga lho penerbit dan produser yang ngemplang royalti dan honornya penulis. Berbagai kesulitan teknis yang dihadapi penulis. Revisi berulang. Deadline yang ketat. Pajak yang tinggi.

Campur tangan berbagai pihak yang membonsai dan mengkerdilkan kreativitas. Macet menulis. Tidak bisa menulis. Naskah yang dihargai dengan sangat tidak layak. Kondisi kesehatan yang tidak prima tanpa ada penjamin biaya kesehatan.

Naskah-naskah yang digarap istimewa toh jeblok juga di pasaran. Belum lagi begitu banyaknya penulis yang terlibat utang dengan penerbit dan produser. Pasti bukan maunya, tapi lebih sering karena hasil menulis tidak mengcover seluruh kebutuhan hidupnya.

Sedih saya kalau mendengar cerita-cerita miris seputar kehidupan penulis. Apalagi kalau mendengar langsung dari penerbit atau produser yang menyebut si A, si B, si ini si itu terlilit utang hanya karena putusan yang tidak tepat.

Jadi, memang jadi penulis tidak hanya ada senangnya. Ada juga (tidak) senangnya. Jadi penulis harus hati-hati. Bijaksana. Memanajemeni uangnya dengan baik. Menimba pengetahuan dan mau terus belajar. Mau rendah hati dan mendengar kata orang lain. Biar tidak mengambil putusan-putusan yang akan memberatkan dirinya di kemudian hari.

Alhamdulillah, saya jadi penulis baik-baik saja. Jatuh bangunnya menjadi penulis hanya seputar penolakan naskah di masa belia. Saya bersyukur berulang-ulang pada Allah dipertemukan dengan media, penerbit, produser, dan klien yang baik-baik.

Menulis (tidak) selalu gampang. Kadang begitu melelahkan jiwa raga. Kadang menulis juga terasa menjadi sangat “rutinitas” yang ingin saya tinggalkan. Ada masanya saya sangat malas menyentuh laptop atau bahkan sekedar membalas email dan inbox-inbox seputar penulisan. Tapi itu semua harus diatasi dan diselesaikan.

Hidup terus berjalan. Biaya hidup tidak mungkin dihentikan. Tidak ada yang menjamin hidup penulis. Harus lebih banyak berkarya untuk simpanan masa pensiun.

Tetapi bahwa, ada pihak yang bisa saya tanya dengan mudah; ada yang memback up saya dengan segala totalitasnya, adalah anugerah yang tidak bisa saya nilai dengan uang. Tentu saja, termasuk pembayaran yang mudah.

Selalu ada pasang surut dalam penerimaan penghasilan. Yang saya yakini bahwa selama kita bekerja sebaik yang kita bisa, rezeki akan selalu datang dengan caranya yang ajaib.

Mari bijaksana memandang pekerjaan penulis. Ini seperti pekerjaan lainnya. Penuh aturan. Penuh kompetisi. Penuh kedinamisan. Yang bukan penulis, jangan asal bicara yang bikin merah telinga.

Percayalah, saya tidak akan merespon. Tapi anda tidak akan selalu bertemu dengan penulis yang “sudah kebal” dengan omongan orang seperti saya. Bisa saja omongan anda yang asal itu dibalas dengan omelan yang tak kalah sengit oleh penulis lainnya.

Happy Writing, Be A Good Writer 😍
*Jadi Penulis Fiksi? Gampang Kok!
*Jadi Penulis Skenario? Gampang Kok!
*Jadi Penulis Produktif? Gampang Koq!
*Jadi Penulis Nonfiksi? Gampang Kok!

Pesan buku wa.me/6281380001149.

Ari Kinoysan Wulandari

#ariwulandari #arikinoysanwulandari #kinoysanstory #dibalikbuku

Please follow and like us:

Aturan Main Kalau Kamu Mengadaptasi Naskah

Gambar hanya sebagai ilustrasi. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Adaptasi adalah hal yang biasa dalam dunia penulisan. Apa saja yang perlu kita perhatikan berkaitan dengan adaptasi.

1. Adaptasi dan menuliskan kembali itu boleh. Tetapi, yang mesti dihindari adalah menjiplak. Setiap kali kita menjiplak, maka Allah akan mengurangi satu pikiran kreatif kita. Makin sering menjiplak, makin bodohlah diri kita.

2. Aturan adaptasi lebih kurang seperti ini: a. Ide boleh sama, bisa dimiliki siapa saja.
b. Seluruh penulisan harus beda.
c. Karakter harus dimodifikasi.
d. Dialog juga tidak boleh sama.
e. Setting harus berbeda. Intinya: adaptasi untuk cerita adalah pada batasan ide yang sama, tetapi dalam segala hal dari tata cara, sudut pandang, model, karakter harus beda.

3. Ada yang memberi usulan adaptasi dengan cerita mirip-mirip boleh, tetapi batasannya 20 persen saja dari total seluruh naskah yang diadaptasi.

4. Ini berbeda dengan urusan pembelian copyright, lisensi. Banyak pula yang memang kontrak kerja samanya harus dialihkan dengan model (versi) Indonesia saja tanpa boleh mengganti apa pun, termasuk satu kata dialog sekali pun.

5. Kalau adaptasi saja bebas, boleh dalam batas-batas wajar. Tidak ada yang klaim. Permasalahan klaim mengklaim dan gugat menggugat ini biasanya kalau karya adaptasi BOOMING, maka yang terjadi pastilah heboh sampai seret-seretan ke pengadilan segala karena duitnya memang BANYAK.

6. Kalau adaptasinya hanya ide yang sama, sumber tak perlu disebutkan. Tetapi kalau banyak, ya disebutkan. Ada etika tak tertulis untuk memberi surat pemberitahuan pada PENULIS, PENERBIT. Tidak dipungut bayaran kok. Hanya untuk sopan santun saja.

7. Karya adaptasi sering juga sebagai PERSETUJUAN, BANTAHAN, SANGGAHAN, PENYEMPURNAAN suatu karya sebelumnya. Misalnya, Umar Kayam menulis karya legendaris PARA PRIYAYI itu sebetulnya modifikasi dan bantahan untuk karya CLIFFORD GERTZ yang bicara soal Priyayi, Santri Abangan, dan Kalangan Petani. Dan, tidak ada seorang pun yang mengklaim Para Priyayi itu sebagai bantahan untuk karya Gertz.

8. Menjiplak persis biasanya kalau untuk diri sendiri tidak ada yang klaim. Tetapi kalau sudah urusan komersial, diperdagangkan, disiarkan, diakui sebagai karya penjiplak; baru JADI MASALAH.

Sebenarnya, kalau mau curang sih bisa saja, asal tidak ketahuan. Tetapi kalau
ketahuan, — hari serba internet serba canggih begini, apa yang tidak ketahuan? — SIAP-SIAP saja. Itu MEMATIKAN MASA DEPAN sendiri.

Intinya, teman-teman, jangan takut MEMBUAT KARYA ORISINIL. Yang bagus itu tidak harus yang berbau luar negeri kok. Ayolah, kunjungi daerah-daerah Indonesia, berjalanlah. Pasti akan tahu, kita ini lebih kaya dari negeri-negeri
jiran di sekitar kita. Mari ciptakan kiblat, bukan berkiblat kepada negeri orang.

Happy Writing Be A Good Writer 🙂
Ari Kinoysan Wulandari

#arikinoysanwulandari #ariwulandari #arikinoysantips #dibalikbuku #kinoysanstory

Please follow and like us:

Eksis Sebagai Penulis

Gambar hanya sebagai ilustrasi. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Ini adalah tips khusus yang biasa saya gunakan untuk tetap eksis sebagai penulis dan terus menerus mau menulis, demi menghasilkan karya-karya baru.

1. Menjadikan menulis sebagai gaya hidup (life style). Menulis seperti kebutuhan kita akan makan. Kalau tidak makan kita lapar dan harus makan. Kalau tidak menulis, ada yang kurang.

2. Menuliskan apa saja yang bikin hati galau saat itu juga. Menulis termasuk terapi psikologis yang membuat orang lebih sehat, fokus, tidak mudah pikun, dan awet muda.

3. Tidak ada kata “mentok” untuk menulis. Selalu ada cara untuk menulis. Yang “mentok” biasanya pikiran kita. Apalagi sekarang, ada banyak fasilitas dan aplikasi yang bisa kita gunakan untuk membantu proses penulisan.

4. Tidak usah memikirkan teori penulisan secara berlebihan, menulis saja yang penting terbaca dan selesai. Tulisan buruk yang diselesaikan lebih bagus, daripada tulisan baik yang masih ada di “awang-awang” atau belum ditulis.

5. Biasakan mengendapkan tulisan yang sudah selesai, mengeditnya beberapa hari kemudian, dan segera mengirimkannya ke pihak yang dituju begitu selesai. Kalau tidak, kita akan tergoda untuk memperbaiki terus dan tidak akan pernah selesai.

6. Miliki mental baja. Kalau ada media, penerbit, PH menolak karya kita, hujani mereka terus menerus dengan karya kita sampai akhirnya mereka bosan untuk menolak kita. Hehe… tapi ingat, jaga kondisi tetap sehat agar bisa terus berkarya.

7. Jalin hubungan baik dengan semua pihak yang berurusan dengan industri kreatif. Kita tidak pernah tahu gunanya “satu nama” sebelum mengenalinya dengan baik.

8. Pada tiap karya yang kita kirimkan, pastikan CV dan contact kita sudah tertera dengan rapi, jelas, dan bisa dihubungi dengan mudah. Ada banyak karya bagus dicuekin karena CV dan alamat penulisnya ternyata antah berantah tidak jelas.

9. Jangan lupa mengarsip setiap karya yang sudah dipublikasikan, termasuk berbagai atribut/perlengkapan yang digunakan selama proses berkarya (notes, referensi, rekaman, peraga, dll). Mungkin nanti bisa pameran tunggal kan seru.

10. Kalau sudah terima honor, royalti, jangan dihabiskan. Investasikan sebagian untuk belajar, sekolah, kursus penulisan di Griya Kinoysan University, membeli buku-buku baru, nonton film-film terbaru, ikut acara-acara industri kreatif, piknik dan tentunya mentraktir saya, hehe… yang terakhir becanda, mumpung masih tahun baru ❤️🙏

Ari Kinoysan Wulandari

#ariwulandari #arikinoysanwulandari #dibalikbuku #kinoysanstory #happylife #happywriter #happywriting #selflove

Please follow and like us:

Kalau Kamu Mau Jadi Ghostwriter

Gambar hanya sebagai ilustrasi. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Salah satu pekerjaan penulisan yang cuannya cukup berasa, itu jadi ghostwriter. Ya, penulis hantu atau penulis bayangan. Sejatinya menulis, tapi tidak muncul di permukaan. Artinya, nama penulis itu hilang ditelan kegelapan dan tidak boleh woro woro atau klaim-klaim dia menulis ini itu bila sudah sepakat jadi ghostwriter pihak tertentu.

Jadi, alih alih sekedar mikirin cuannya yang tambun, yuk simak dulu lebih kurangnyam Biar kamu nggak nyesel dan paham betul apa hak dan tanggung jawabnya seorang ghostwriter.

1. Ghostwriter adalah penulis yang menuliskan sesuatu atas nama orang lain dan nama kita tidak dicantumkan.

2. Tidak ada nama di dalam tulisan yang kita buat itu sering kali jadi masalah ketika tulisan tersebut booming.

3. Naluri untuk mengatakan itu karya saya, cenderung sangat besar untuk mereka yang belum terbiasa jadi ghostwriter. Padahal ini sudah tercantum dalam kesepakatan ghostwriter tidak boleh menyebut dirinya menulis apa dan untuk siapa.

4. Oleh karena itu pikirkan betul ketika mau jadi ghostwriter, ikhlas, atau nggak rela kalau tulisannya diakui sebagai tulisan orang lain. Kalau tidak ikhlas jangan jadi ghostwriter.

5. Kalau bisa ikhlas baru deh kamu boleh menjajal posisi ghostwriter 😂 Karena sudah tidak pingin nama dan tidak pingin pengakuan bahwa itu karya anda.

6. Karena peliknya urusan nama, kalau saya menyarankan pastikan saja uang yang anda terima dari klien cukup layak mengganti keikhlasan anda. Negokan dengan baik, karena begitu anda lepas anda tak berhak apapun atas naskah itu.

7. Jangan juga egois karena hilang hak cipta, kamu terus jual jasa sangat mahal. Ntar nggak ada yang pakai jasa menulis kamu, njur stres pula. Yang penting menurut kamu biayanya sudah sesuai, ya terima saja.

8. Karenanya mau ada kerjaan ghostwriter, penulisan biografi atau tidak, saya tetap menulis. Sesibuk apapun urusan pas sekolah yang bikin so busy ya harus nulis, karena kalau kita punya naskah cadangan dan bisa terus terbit, kita bisa menaikkan posisi tawar kita.

9. Punya cukup banyak buku terbit juga membuat kita lebih tenang. Kalau royalti tidak banyak, kita juga bisa membantu mendagangkan buku. Hei, royalti penulis hanya 10% potong pajak 15%. Tapi jual buku sendiri, pastilah dapat untung 30%.

10. Jadi ghostwriter itu cara cepat punya duit banyak dari menulis, tapi ya itu lah yang terpenting kamu harus cukup ikhlas kalau tulisan kamu diakui sebagai milik orang lain. Dan ini tidak mudah lhooo 😀 Kalau saya ikhlas saja. Nanti untuk diri sendiri ya tulis lagi karya versi saya.

Ari Kinoysan Wulandari

#arikinoysanwulandari #arikinoysan #kinoysanstory #dibalikbuku #happywriter #happylife #happywriting #ghostwriter #biografi

Please follow and like us:

Kenapa Kita Perlu Mengatur Duit?

Gambar hanya sebagai ilustrasi. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Kenapa kita perlu mengatur duit? Ya kali kalau duit kita nggak berseri nomornya, kita bebas pakai semaunya. Perlu tinggal ambil, gesek, transfer, dll. Lha kalau duitnya tiap bulan mung UMR saja, sementara kebutuhan bejibun; ya kudu pinter-pinter mengatur duit; dan tentu saja mencari tambahan penghasilan biar tidak kolaps dengan utangan setiap bulannya. Apalagi bagi freelancer yang jelas nggak menentu penghasilannya. Kudu ekstra mengatur dengan cermat dibandingkan mereka yang gajian tiap bulan.

Manajemen duit itu bagian penting dalam kehidupan sehari-hari. Mengatur duit bukan hanya tentang menghitung pengeluaran, tetapi juga merencanakan masa depan finansial. Beneran lho, kalau kita secara finansial memadai, cukup, hidup sekurangnya lebih tenang. Saya bukan ngajarin orang untuk matre, tapi realistis itu wajib. Tidak semua hal bisa diselesaikan dengan uang, tapi percayalah semua masalah lebih gampang beres dengan adanya duit.

Inilah kira-kira yang bisa kita pertimbangkan kalau kita mau bikin manajemen duit yang bagus. Manajemen duit juga membuat kita tahu persis berapa pendapatan riil kita dan ke mana saja larinya duit-duit kita. Jangan hanya mengira oh duitku masih banyak; padahal itu besaran paylater, kartu kredit, dll bentuk utang —yang salah kaprahnya sering dianggap sebagai “pendapatan” kita.  

  1. Pakaian app tentang pencatatan uang. Boleh pilih mana saja yang kamu suka. Cari aja yang gratis. Ini biar mudah dan syukur syukur ada hitung kalkulasi tiap hari, minggu, bulan, tahun.
  2. Catat semua pemasukan, bahkan sekecil puluhan ribu pun catat. Karena itu minta bank juga nggak boleh.
  3. Catat semua pengeluaran, tetap dan tidak tetap. Keluar duit apapun urusannya, itu pengeluaran. Biar nggak ngomong, barusan gajian kok duit udah habis lagi. Barusan terima honor duit kok sudah nggak nampak lagi, dll.
  4. Jangan utang berlebihan di luar kemampuan. Saya bukan anti utang. Boleh saja. Asalkan bijak dan nggak membebani keuanganmu tiap bulan. Tapi untuk diri saya sendiri, ekstrim jangan utang. Mampu beli, belum mampu cari substitusinya yang sesuai kemampuan.
  5.  Dana darurat itu wajib. Ada banyak hal yang sering tidak terduga. Kiri kanan ada yang meninggal, apa iya kamu nggak layat? Datang melayat tentu nggak dengan tangan kosong kan?
  6. Tabungan dan investasi. Mau berapapun pendapatan, sisihkan untuk ini. Karena ini membuat hati lebih enteng. Saya percaya Tuhan kasih rezeki tanpa batas. Tapi kalau kamu punya “duit” yang anteng tidak dipakai ini, kerja, ibadah pun lebih tenang. Coba aja tanya mereka yang hidupnya dikejar kejar utang, bisa tidur nyenyak kah kalau DC berkeliaran ke rumah setiap saat? Rusuh. Jangan tanya rasanya, saya sudah pernah mengalami saat orang tua bangkrut.
  7. Manajemen duit bikin kita melek urusan “keuangan”, seperti rasio bunga bank, potongan biaya administrasi, pajak, risiko investasi, dll yang membuat kita bisa memilih mana yang terbaik dan cocok untuk urusan duit kita.
  8. Emosi orang yang duitnya anteng itu lebih stabil. Nggak gampang marah, nggak emosional, tenang, dan lebih sabar. Ya karena mereka sudah tahu, hidupnya sudah “terjamin” dalam sisi finansial. Kerja tenang, ibadah khusyuk, dolan riang, belajar yo happy, kehidupan sosial ya baik. Semua jadi lebih nyaman.
  9. Manajemen duit juga bisa membuat kita menentukan sejak dini, besaran dana pensiun yang kita perlukan. Lha ya, umur bertambah, kemampuan keahlian bertambah, tapi pasti fisik menurun. Sudah kodrat alam. Jadi ya siap siap saja dana untuk ini. Saya tidak berencana pensiun dari menulis, tapi membangun kestabilan dana saat saya tidak lagi prima, itu jelas dari muda. Bukan nanti nanti.
  10. Prinsip manajemen duit sebenarnya, hiduplah sesuai kemampuan. Jangan kebanyakan gaya, karena pasti jadi beban hidup. Ingat, beban hidupmu tidak dibiayai oleh gengsimu. Mereka yang solid secara ekonomi, biasanya sudah tidak memerlukan pengakuan-pengakuan “wah keren ya”, “wah kaya ya”, dll setipe pujian atau sanjungan semu dari orang lain. Mereka juga malas untuk sekedar kelihatan “branded” demi gengsi atau pansos.

Tujuan kita kerja itu menjadi kaya, bukan untuk terlihat kaya. Jadi tetapkan standar kaya versimu masing-masing, dan atur penuhilah standarmu itu dari kerjaan yang menghasilkan pendapatan.

Share ini bersifat personal. Kamu nggak harus kok begini kok begitu. Tiap orang beda pandangan. Tiap orang beda pemikiran. Jadi santai saja kalau aturan uangmu beda dengan saya. Selamat Mengatur duit duitmu agar hidupmu happy selalu.

Ari Kinoysan Wulandari

#ariwulandari #arikinoysanwulandari #kinoysanstory #manajemen #keuangan #duit #happywriter #happywriting #happylife

Please follow and like us: