Gambar hanya sebagai ilustrasi. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Ini cerita lama. Tapi kalau ingat lagi, saya kok ya geli gimana gitu. Orang sekolahan ternyata belum tentu terdidik dengan baik.
Beliau selalu mengaku kepada saya dan (mungkin) kepada orang lain, soal pendidikannya yang dapat dua doktor sekaligus dan kehidupannya yang termasuk makmur.
Kadang-kadang beliau “mencela” saya yang dianggap menulis sekedarnya; “mencela” saya pula karena peduli duit recehan tak seberapa dari kelas-kelas Griya Kinoysan University yang saya dirikan dan saya kelola. Kadang-kadang pula “mencela” cara dagang buku saya yang dianggapnya tidak elit.🙏
Sebagai kepatutan karena beliau penulis senior profesional yang ngakunya dibayar puluhan juta dan jadi pembicara di mana-mana itu —saya hanya mengiyakan kehebatannya, dan tidak protes dengan celaannya. Saya tahu, nilai prioritas dari segala sesuatu yang saya kerjakan.
Saya tidak harus mendebatnya. Saya tahu apa yang dicelanya itu tidak benar. Saya yang menghitung dengan pasti berapa uang yang dihasilkan dari pekerjaan yang dianggapnya remeh temeh.
Beliau mungkin lupa, saya ini penulis yang dididik dan dibesarkan di lingkungan universitas terbaik, lama menulis di media, lama bekerja di penerbitan solid, lama menetap di PH yang sangat industrialis kapitalis; lha kok cuma diomongbesari soal bayaran penulis dan gelar pendidikan.
Ealaaah, lha kok jebulane ujung-ujungnya cuma mau ngutaaang 🤣🙈
Weekend telah tiba. Menikmati waktu lebih rileks. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Sebenarnya setiap diri kita itu ada “brand” nya di mata orang lain. Entah baik atau buruk, itu kita tidak bisa mendikte pemikiran orang lain. Versi saya, kalau ingin diidentifikasi sebagai pribadi yang baik, ya kita harus jadi orang baik sesuai standar dan aturan yang berlaku secara umum di tempat kita masing-masing.
Mari kita ingat produk-produk berikut ini. Biasanya kita selalu “salah” menyebutkan identitas mereka 😀
Semua pasta gigi: Odol
Semua kendaraan bermotor: Honda
Semua mie instant: Indomie
Semua pompa air: Sanyo
Semua air mineral kemasan: Aqua
Semua ikan kalengan: Sarden
Semua susu kemasan: Indomilk
Semua pembalut wanita: Softex
Dst.
Ada lagi 🤔 Pasti masih ada banyak ya brand-brand yang digunakan sebagai penyebutan “produk” seperti Aqua Le Mineral… Odol Pepsodent, dll. Tapi apapun itu, sebenarnya ini adalah keberhasilan brand mengangkat dirinya sebagai pelopor produk yang tidak tergantikan, meski pesaingnya terus bermunculan; toh mereka tetap eksis.
Kita pun setipe. Kalau kita bisa membranding diri sebagai orang yang baik, insyaallah hidup kita juga akan lempeng saja. Jadi terkenal (mungkin) penting, tapi dikenali dan diidentifikasi sebagai orang baik, versi saya jauh lebih penting. “Identifikasi baik” adalah modal yang tidak bisa dialihpindahkan ataupun dicuri oleh orang lain.😊🙏
Pesan buku cetak dan bertandatangan bisa wa.me/6281380001149.
Sebenarnya, setiap guru selalu memiliki keunikan. Beragam guru yang saya ikuti, selalu saja berbeda caranya satu sama lain dalam menulis. Namun pada intinya, mereka menginginkan hal yang sama: TULISAN BAGUS dan DISUKAI sehingga memiliki NILAI JUAL TINGGI. Berikut ini beberapa tips yang mungkin juga cocok untuk kita.
Miliki buku catatan. Bukan sekedar “Buku Catatan”, tapi pastikan yang berkualitas sesuai dengan kesenangan anda. Milikilah beberapa buku catatan yang secara khusus hanya membahas satu hal.
Misalnya ada buku catatan khusus tentang IDE, anda bisa mencatat semua ide tersebut di buku A, misalnya. Ketika anda menggarap satu cerita, catatlah semua hal tersebut di buku B, misalnya; dan seterusnya. Bila anda memiliki banyak proyek penulisan, sediakan sejumlah buku yang berbeda.
Pilih topik dan mulailah menulis. Topik bukan sekedar ide. Anda harus melengkapinya dengan sekitar konflik, plot, setting, dll. Tidak harus kompleks dan rumit. Topik sederhana pun bisa jadi bagus, asal penggarapan luar biasa.
Buatlah garis besar, sinopsis global, kerangka karangan. Untuk mendapatkan hasil yang baik, anda harus menyempurnakan topik dengan mengisi karakter utama, lokasi, waktu, suasana hati, dll.
Mulai menulis draft pertama. Ini biasa disebut tulisan “ceroboh” atau asal jadi, asal selesai. Biarkan saja. Tidak pernah ada cerita, tulisan yang besar dan menginspirasi, mega bestseller, ditonton jutaan manusia yang dibuat dan diselesaikan hanya dalam draft pertama. Jadi, santai saja. Selesaikan cepat tulisan anda. Seceroboh apapun, tidak jadi masalah.
Jangan takut dengan ide baru. Ketika sedang menulis draft pertama, mungkin saja tiba-tiba anda memiliki ide cemerlang tentang bagaimana ending cerita tersebut.
Berhentilah sejenak menulis draft awal anda, dan tuliskan ide ending tersebut di buku ide. Jangan biarkan ide sia-sia.
Biarkan cerita membimbing anda. Ini draft pertama. Segala sesuatu bisa saja tidak terduga, tetapi menjadi sangat menarik. Biarkan saja. Tulislah sampai selesai.
Selesaikan draft pertama sesegera mungkin. Ini sangat penting agar anda tidak kehilangan “mood” untuk menyelesaikannya. Naskah yang terlalu lama, sering membuat kita malas untuk kembali menyentuhnya.
Rincian cerita. Setelah selesai draft pertama, anda bisa membaca dan merinci semua cerita. Anda yang akan membuat karakter lebih nyata dan terpercaya. Tulislah sampai akhir.
Pada saat anda selesai dengan draft kedua, anda akan memiliki semua informasi tentang cerita, karakter, plot utama, dan subplot.
Bacalah dengan objektif. Ada banyak penulis yang TAKUT membaca karyanya. Padahal, ini sangat membantu untuk MENYEMPURNAKAN tulisan.
Kalau tidak bisa objektif, carilah orang terpercaya yang pendapatnya anda hormati dan anda terima dengan senang hati.
Menulis draft akhir. Menurut sebagian guru saya, sebaiknya naskah sebelum diserahkan kepada pihak lain (media, penerbit, PH, klien, dll) seharusnya lebih kurang sudah disempurnakan tiga kali dalam penulisannya; draft 1 asal selesai, draft 2 untuk merinci dan membenarkan kesalahan cerita, draft 3 untuk penyempurnaan terbaik.
Baru setelah draft 3 itulah naskah boleh diserahkan kepada pihak lain untuk kepentingan komersial. Jangan pernah sekali-kali menyerahkan draft 1 anda kepada pihak lain untuk kepentingan komersial, pasti banyak DITOLAK karena banyaknya lubang (kekurangan) dalam naskah.
Selamat menulis. Semakin banyak anda menulis semakin banyak anda berlatih, keterampilan menulis anda akan semakin baik.
Pesan buku cetak dan bertandatangan bisa wa.me/6281380001149.
“Jualan buku?”
Begitu tanya seorang Bapak ketika saya di kereta mengeluarkan buku-buku. Niatnya mau saya pindahsatukan ke tas yang lain. Biar lebih ringkas dan bisa saya letakkan di kompartemen atas kursi.
“Oh iya, Pak. Bapak mau lihat-lihat?”
Saya balik bertanya dan mengeluarkan semua buku yang saya bawa. Satu per satu dan saya mulai menceritakan isi materinya; kelebihan-kelebihan dan harganya.
Beliau menunjuk beberapa dan bertanya apa bisa transfer. Jual beli terjadi. Saya tidak menyebut sama sekali kalau saya penulisnya.
Tapi yang saya ingat adalah komentarnya, “Biasanya orang jual buku nggak ngerti apa isi bukunya.” Sampai kami berpisah, beliau tidak tahu kalau saya penulisnya. Tidak apa-apa. Karena yang terpenting beliau membeli buku saya😀
Saya sudah lebih sering menutup mulut untuk menyebut bahwa saya penulis buku tertentu saat berhadapan dengan calon pembeli. Karena itu “sering kali” tidak penting bagi pembaca dan atau pembeli buku. Bagi penerbit pun kadang yang terpenting, bukunya laris atau tidak.
Yach, saya menjadi penulis sedari belia hingga sekarang. Menekuni ruang sunyi demi hasil karya terbaik. Menulis memanglah kerja tenang yang tidak beribetan dengan pihak lain.
Industri membuat saya harus keluar dari kesunyian itu. Berbicara, mengajar, melatih, menjual, menceritakan, mendongeng, mempresentasikan, mempromosikan, dll demi semua produk terjual dengan baik. Karena mau sehebat apapun karya kita, tulisan kita, kalau ia tidak terjual pasti akan mematikan kreatornya. Penulis termasuk di antaranya.
Kesadaran itulah yang membuat saya membawa buku ke mana-mana; bahkan saat saya tidak niat jualan. Dan mungkin itu juga sebabnya dari sekian banyak penulis, alhamdulillah saya bertahan lempeng di tengah gempuran ekstrim kecanggihan kerja AI yang bisa mematikan semua kreativitas dan porak porandanya industri perbukuan cetak kita.
Toh selalu ada sisi baik. Versi saya itu kemudahan dan kecanggihan yang membantu kinerja. Dan tentu saja, saya tetap menulis, tetap mempromosikan buku, menjual buku, terus mengisi kelas, belajar mengajar, book signing, berbagi tips penulisan lewat media massa, teve, radio, medsos dll sebagai bagian kerja penulis profesional.
Bagaimana dengan kamu? Sudah pernah membawa dan menjual bukumu ke mana saja? Oh iya, kalau kamu jadi penulis buku, pesan saya jangan alergi jualan buku. Kamu nggak harus jadi ahli marketing kok.
Cukup ceritakan saja bukumu pada pihak pihak yang tertarik. Kamu hanya perlu lebih rajin menampakkan bukumu pada pihak lain. Caranya juga nggak harus hard selling, bisa dengan mengisi kelas, lomba resensi, bedah buku, book signing, menceritakan kembali, dll. Mereka membeli atau tidak, itu bukan hal yang perlu kita jadikan beban. Sayang kan kalau misalnya ada orang yang pingin beli bukumu, tapi nggak tahu di mana caranya? Tugas penulis saat menulis memang bertenang diri, tapi saat karyanya sudah jadi harus beramai diri untuk promosi 😀 .
Gambar hanya sebagai ilustrasi. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Dari hari ke hari, platform sosmed kita semakin beragam. Banyak pilihan, banyak fasilitas, banyak kemudahan. Pemerintah yang membebaskan kita mengakses semua platform itu nyaris tanpa kontrol, membuat ruang sosmed seperti hutan belantara. Penuh potensi, sekaligus penuh bahaya. Kita sendirilah yang harus memilih jalan aman dan selamat.
Sosmed itu ruang publik yang bebas. Siapa saja bisa ngomong, posting, komentar tanpa sensor. Toh bebas itu bukan berarti tanpa aturan. Siapa saja yang bebas kebablasan pasti ujungnya bermasalah. 😃
Jadi, tugas kita sebenarnya itu melakukan sensor mandiri atas postingan kita, teman kita, hingga komen-komen yang mampir di rumah kita. Kita yang berhak menentukan model postingan apa yang mau kita lihat dan ikuti 😊
Pada awalnya, saya mengkonfirmasi siapa saja yang berteman, membebaskan orang mengirimkan apapun lewat beranda. Tapi lama-lama kok saya jadi ikutan capek hati melihat segala energi negatif (kemarahan, keluhan, kenyinyiran, fitnah, hoax, ujaran kebencian, dll).
Pelan-pelan saya mulai bersih-bersih dengan fasilitas blokir. Termasuk tidak mau ada energi negatif di komentar. Bahkan untuk mereka yang saya kenal di dunia nyata, kalau sibuk ngajak perang di sosmed, mending nggak berteman 🙏 *Eh, kalau kamu ngelakuin ini pastikan kamu nggak punya utang ya 😂
Dan akhirnya sosmed saya menjadi lebih ramah, lebih positif. Saya lebih senang melihat postingan gembira orang piknik, olahan masakan, piaraan, tanaman, prestasi, karya-karya, kenaikan karir-pangkat jabatan, dll hal bahagia.
Mereka pamer? Ya biar to… kan itu di sosmed mereka sendiri. Kenapa kamu yang ribet 😄😅 Senang lihat, like, komen. Nggak senang, yo lewatkan aja.
Kalau saya, asal positif kebanyakan saya like… soalnya pas like saya ikutan berdoa; Tuhan kasih saya juga yang baik seperti itu 😍😍 Dan ada banyak yang sudah dikabulkan Tuhan.
Sama-sama mikir, nulis, ngomong, yang baik baik ajalah. Kalau terwujud jadinya enak dan senang 😍
Bagaimana dengan sosmedmu? Sudah kamu bersih-bersihin? 🤔 . Ari Kinoysan Wulandari
Selepas talkshow Menulis Buku Bestseller. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Kemarin lepas ngisi talkshow di Penerbit Andi, saya sempat ngobrol dengan Mbak Anna dan Mbak Nita tentang kerieweuhan industri buku sekarang ini. Model dan gaya baca buku yang sudah berubah. Aneka platform baca non komersial. Aneka platform penulisan yang nggak berbayar. Monopoli toko pasar. Kebijakan perusahaan. Kelakuan penulis. Dan banyak hal.
Ya, dunia industri kreatif buku telah berubah. Saya masih mengalami zaman keemasan sebagai penulis kesayangan; itu bisa lho begitu tanda tangan kontrak cetak buku langsung 25 ribu eksemplar. Beberapa bahkan ada yang 50 ribu eksemplar dan langsung ilang dari display dalam sebulan saja; itu berarti harus cetak ulang lagi.
Lalu beranjak mulai pasar fiksi turun, tapi ya nggak ngedrop banget. Sekurangnya tiap tanda tangan kontrak saya dengan penerbit, sekali cetak 5 atau 10 ribu eksemplar masih kepegang. Dan jumlah cetakan inilah yang selanjutnya jadi acuan umum penerbit besar untuk setiap kontrak penerbitan buku massal.
Model, selera pasar berubah. Fiksi yang jenuh itu mendorong penerbit mengeksplorasi pasar nonfiksi habis-habisan. Saya dengan mainstream fiksi, pun harus belajar cepat nulis nonfiksi. Untuk bisa menulis buku nonfiksi yang bagus. Untuk dapat uang baru. Untuk survive. Dan ya kemudian saya beradaptasi cepat dengan segala perubahan industri perbukuan; termasuk kalau harus “menulis yang tidak sehati” dalam beberapa kasus.
Saya mendengar banyak penulis yang “to much” permintaannya macem macem pada penerbit. Masih bagus kalau bukunya laku, lha kebanyakan yang berulah itu justru yang buku bukunya jeblok di pasaran. Jadinya kan penerbit ya males ngurusin naskah mereka. Apalagi kalau penerbitan jalur standar dibiayai penerbit.
Penulis berulah itu kayak apa siy? Banyak. Di antaranya tidak terima dengan perubahan sistem. Sekarang buku diterbitkan, dicetak terbatas (50-200 eks), lalu ada sistem POD, ebook, nggak masuk toko buku mayor itu sebenarnya hal biasa. Tapi penulis yang nggak paham teriak teriak penerbit mayor kok sistem POD.
Lha kalau dicetak ribuan eks nggak laku, kamu mau gantiin duitnya? Mikir dong. Wes gitu penulisnya lempeng pula nggak mau bantuin promosi. Haish, saya bae sebel sama penulis yang begitu. Apalagi penerbit yang ngeluarin duit.
Makanya saya waktu diminta ditanya, apakah mengizinkan seluruh buku saya diformat versi ebook dan pembaruan kontrak? Saya langsung bilang oke. Nyetak buku itu gampang, njualnya itu lho yang nggak mudah. Dan versi ebook adalah salah satu cara yang lebih mudah, lebih murah memasarkan buku.
Penulis berulah juga minta minta honor untuk jatah promosi. Piye to… nggak tahu ya kalau penerbit bikin acara itu wes modal buat bantuin ngiklanin bukunya, situ malah minta honor. Eeh situ waras? 😆😅
Penulis berulah juga ngejar ngejar terus kapan naskahnya terbit. Biyuuu… nggak tahu ya ada naskah saya antri 7 tahun baru terbit? Kenapa? Ya karena penerbit harus duluin buku buku yang sudah jelas duitnya. Bayar pegawai itu pake duit, bukan pake daun…
Penulis berulah banyaklah jenisnya; ntar bisa sebuku sendiri nyeritain kelakuan minus penulis pada penerbit. Dan itu semuanya bikin orang di penerbitan kesal. Biasanya males beribet ya wes blacklist saja dari penerbit. Kalau nggak bayar biayaiin sendiri no publish. Yach versi saya siy serem.
Saya mungkin bukan penulis yang seluruh bukunya hits di rangking teratas. Saya belum pernah terima royalti 1 milyar. Tapi jelas buku buku saya banyak yang bertahan lebih dari 10 tahun dengan terus menerus memberi uang penjualan. Dan masih bisa dengan enteng menyambung menerbitkan buku buku baru.
Percayalah itu tidak akan pernah terjadi kalau saya jenis penulis yang berulah. Saya sadar betul bahwa industri itu tentang perolehan uang. Dan hukum pasar berlaku, siapa yang menguntungkan itu yang akan terus kita ikuti.
Jadi penulis masuk industri, ya kita harus kompromi, membantu, mengikuti sistem. Bukan sakarepe dhewe. Kalau mo terbitan pake duitmu sendiri siy terserah, tapi kalau pake duit penerbit, distribusi juga, marketing iya, dll itu ya ikuti aja aturan mainnya.
Harus saya sampaikan kepada para penulis, yang pengin buku bukumu laris bestseller itu nggak cuma kamu penulisnya; tapi semua komponen industri penerbitan. Karena kalau bukumu laris, itu mensupport banyak orang yang bekerja di balik layar. Jadi baik baiklah, kompromi, kerja sama, membantu promosi, itu bagian dari tugas penulis buku-buku bestseller.
Saya dan Kartini. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Sejak lama, banyak pihak mempertanyakan kenapa harus Kartini yang dipilih sebagai pahlawan kemajuan perempuan Indonesia. Dan kenapa hanya Kartini yang hari lahirnya diperingati sebagai “hari kemajuan perempuan” Indonesia?
Kenapa bukan Cut Nyak Dien, Dewi Sartika, Christina Martha Tiahahu, atau Nyi Ageng Serang, dll yang menurut banyak versi lebih banyak kiprahnya bagi kaum perempuan Indonesia
Betul, Kartini memang tidak melakukan hal-hal besar dalam bentuk perubahan atau peperangan fisik seperti perempuan perempuan hebat yang disebutkan.
Kartini hanya menulis surat kepada sahabat-sahabatnya di Eropa, berkaitan dengan pemikirannya tentang perempuan. Surat-surat itulah yang dikumpulkan oleh J.H Abendanon dalam buku “Door Duisternis tot Licht” (1911) yang kemudian diterjemahkan oleh Arminj Pane dengan judul “Habis Gelap Terbitlah Terang” Balai Pustaka (1922).
Sejak itulah pemikiran Kartini tentang perempuan tersebar luas di Nusantara dan kemudian dengan Keputusan Presiden No 108 Tahun 1964, tanggal 2 Mei 1964, Presiden Soekarno menetapkan Kartini sebagai salah satu pahlawan nasional dan jadilah 21 April hari kelahiran Kartini diperingati sebagai hari nasional.
Bagaimana dengan perempuan hebat lainnya yang disebutkan oleh berbagai versi? Tentu saja, mereka tidak menulis. Oleh karena itu, apa yang mereka lakukan hanya bisa dikenali dari identifikasi yang dilakukan orang lain, yang sangat beragam dan tidak otentik pemikiran pribadi masing-masing perempuan hebat tersebut.
Nyatanya itu tidak cukup kuat untuk menyebut mereka sebagai peletak dasar kemajuan pemikiran perempuan Indonesia. Rekam jejak tertulis sebagai bukti otentik pemikiran mereka tidak ada.
Lalu, kenapa TIDAK MENULIS? Apapun pekerjaan anda, MENULISLAH. REKAM JEJAK SEJARAH anda pribadi agar segala sesuatu yang berharga, bisa dinikmati dan dimanfaatkan banyak orang di masa mendatang. Ilmu seluas apapun, kalau tidak anda tulis dan tidak anda sebarluaskan, akan hancur musnah begitu anda mati.
Jadi, masih beralasan juga untuk TIDAK MENULIS? Tidak usah khawatir terhadap segala sesuatu yang tidak anda tahu. MENULIS simpel saja seperti sehari-hari menulis di media yang anda gunakan untuk berkomunikasi.