Puja Dharma Bhakti Waisak. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Saya baru sadar ini liburan Waisak, hari besar Umat Budha. Selamat merayakan bagi kaum Budhis. Lha mikirnya, pokok libur panjang ya ikut workshop yang manfaat, dolan, atau mudik.😀 . Tahun lalu saya ikut Puja Dharma Bhakti Waisak di Borobudur dengan rangkaian trip panjang Sleman Kulon Progo; sejak pagi jam 06 WIB di titik kumpul Malioboro I, sampai kembali pulang di tempat yang sama jam 03 dini hari keesokan harinya. Capek, kaki gempor, ngantuk, rupa rupa rasanya; tapi puas dan happy banget 🥰 . Bagi kamu yang doyan piknik dan belum pernah ikut acara ini, sekali seumur hidup cobalah ikut. Ini acara pelepasan lampion terbesar di Asia Tenggara yang diadakan setiap hari Raya Waisak di Borobudur. . Tiket masuk beragam dan nggak terlalu murah untuk wisata domestik; tapi jadi serasa nggak ada nilainya dibandingkan dengan seluruh kegembiraan dan pengalaman istimewanya. Dari tahun ke tahun harga tiketnya terus naik; karena animo wisatawan domestik dan mancanegara besar sekali. . Saran saya kalau mau ikut acara ini tahun depan, pesan tiket jauh jauh hari dari agen resmi dan pilih yang VIP atau VVIP, biar dapat di barisan depan dan antriannya nggak sampai lama banget. Kalau masih jauh hari, harganya umumnya normal dan nggak berlipat ❤ . Tahun ini, liburan panjang saya di rumah saja. Bebersih ruang kerja. Sesuk masih libur sehari, mo baca dua novel yang sudah dibeli jauh hari 😀 Sudah lama rasanya nggak sesantai ini. Iyalah, empat hari nggo leda-lede nonton drakor pun sampai tamat 2 series 40-an episode. Terimakasih atas perayaan Waisak yang bikin saya ikut menikmati libur panjang 🤩 . Ari Kinoysan Wulandari
Meja kerja yang sudah saya bersihkan. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Biasanya meja kerja saya nggak “sebersih” di foto tersebut. Kertas kerja, memo, post it, catatan, dll. numpuk ngumpul di meja kerja. Sering ada jajanan, cangkir kopi, dll minuman. Apalagi kalau sedang deadline oyak-oyakan. Wes pasti nggak ada ruang kosong tersisa di meja. Penuh sesak. 😆😅 . Long weekend yang nggak jadi liburan ke Bandung karena beberapa sebab, memberi saya waktu “luang”. Saya bisa membersihkan meja kerja, membongkar menata ulang rak, dan menyisihkan buku-buku yang wes gak bakalan saya baca lagi. . Capek juga ternyata bebersih ngurusin isi ruang yang mung 3×3 meter itu. Lumayan ada dua dus buku yang bisa saya singkirkan; menyisakan ruang rak, sehingga nggak muwel numpuk seperti biasanya. Saya membuang banyak sekali kertas dan kruncilan nggak berguna. Hati saya kok ya terasa lebih lega 😀 . Haish, saya juga punya kebiasaan buruk. Beli buku-buku baru, njur entah lupa bacanya kapan. Kadang ada yang dobel pula. Saking “pinginnya” baca, pokok beli dulu njur ada kesibukan ini itu, terlupakan. . Pokmen kalau nggak ditargetkan, sekarang baca buku itu ternyata yo nggak mudah 😁😆 Tiap kali janji nggak akan gitu lagi, ealah yo masih beberapa kali kebobolan beli buku-buku baru dan belum sempat baca.😅🙈 . Kalau kamu long weekend ngapain aja? Hidup memang sering nggak sesuai rencana, tapi kalau kita lihat sisi positif; pasti selalu “ada baiknya” dalam setiap kejadian. . . Ari Kinoysan Wulandari
Maluku. Gambar hanya sebagai ilustrasi. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Pernah nggak siy kamu duduk termenung dan merasa hidupmu berjalan begitu-begitu aja? Bangun pagi, beraktivitas, kerja, makan, tidur, ulangi lagi.
Nggak ada hal luar biasa yang terjadi, nggak ada pencapaian besar, dan rasanya kamu hanya bertahan hidup dari hari ke hari. Kalau kamu sedang merasakannya, kamu nggak sendiri.
Saya pun mengalaminya. Sempat terpikir, kok hidup saya gitu gitu aja. Nggak ada pencapaian tertentu, apalagi prestasi besar. Apa yang salah?
Banyak orang yang mungkin sama seperti saya, ngerasa hidupnya biasa-biasa aja. Nggak terlalu sukses, tapi juga nggak terlalu gagal. Mungkin nggak terlalu bahagia, tapi juga nggak benar-benar menderita. Berada di dunia “tengah”, sekelompok kaum mendang mending kalau dibandingkan dengan golongan bawah atau kismin.
Seolah kita niy sedang berada di zona netral yang bikin semuanya terasa datar. Namun, apa iya hidup yang biasa-biasa aja nggak bagus? Saya jadi mikir banyak untuk introspeksi.
Setelah lama bengong ngelamun, saya seperti diingatkan. Oh, hidup yang biasa-biasa aja itu wajar kok. Nggak semua orang ditakdirkan jadi tokoh besar, artis, publik figur, atau influencer dengan jutaan pengikut. Mayoritas dari kita ini ya orang-orang yang hidup dalam ritme sederhana. Dan pastinya kisah kita nggak mungkin ditulis dalam buku sejarah (makanya nulis dong😀), tapi hidup kita jelas punya arti yang mendalam.
Media sosial seringkali bikin kita ngerasa tertinggal. Kita lihat teman-teman flexing pencapaian, liburan, atau gaya hidup glamor, dan tiba-tiba hidup kita terasa membosankan. Padahal, apa yang terlihat di layar hanyalah potongan kecil dari kehidupan orang lain—biasanya bagian terbaiknya saja.
Oh haha, sebagai contoh saya nggak mungkin toh memposting betapa “berdarahdarahnya” capek lelah nyaris putus asanya saat studi lanjut? Yang diposting kan seremoni ujian dan wisuda. Senang-senangnya, happynya, bengepnya nggak diceritakan. Pun untuk buku buku bestseller saya, nggak mungkin banget saya posting bolak-balik revisinya, tengah malam harus bangun untuk wawancara tokoh yang di belahan dunia siang sementara kita malam, dll. Ini hanya bagian kecil sudut pandang pengalaman yang nggak terdokumentasi sosmed.😃
Saya pikir, yang bikin hidup terasa ‘biasa’ sebenarnya bukan rutinitasnya, tapi kurangnya penghargaan yang kita berikan pada rutinitas itu. Bangun pagi bisa terasa membosankan kalau kamu melihatnya sebagai ‘kewajiban’. Tapi bisa terasa berharga kalau kamu memulainya dengan rasa syukur bahwa kamu masih diberi satu hari lagi untuk hidup. Eh, di detik yang sama banyak lho orang mati. Alhamdulillah kita masih hidup.
Saya coba perhatikan kembali hidup sehari-hari yang saya jalani dan bertanya:
Apa saya sudah benar-benar hadir dalam setiap aktivitas?
Apa saya menikmati sarapan atau hanya menelannya sambil memikirkan tugas kantor?
Apa saya mendengarkan orang-orang yang berbicara dengan saya atau sekadar menunggu giliran bicara?
Oh ternyata perubahan kecil dalam cara memandang ini bisa bikin kita ngelihat hal-hal biasa terasa luar biasa. Ada kutipan terkenal dari Fred Rogers: “You don’t have to do anything sensational to be loved.”
Ini mengingatkan kita bahwa jadi berarti nggak selalu datang dari hal-hal besar. Merawat keluarga, menjadi pendengar yang baik, membantu teman, atau sekadar menyapa orang lain dengan senyuman—itu semua adalah hal kecil yang berdampak besar.
Mungkin kita bukan CEO perusahaan besar. Tapi kita bisa jadi seseorang yang selalu ada untuk sahabat kita saat dia butuh. Mungkin kita belum meraih mimpi-mimpi besar. Tapi bisa jadi kita adalah alasan seseorang tertawa bahagia hari ini. Dan itu rasanya sudah cukup.
Di sisi lain, jika kamu merasa hidup biasa-biasa saja karena kamu menyimpan potensi yang belum dikeluarkan, maka itu pertanda baik. Artinya ada api kecil yang masih menyala di dalam dirimu, menandakan bahwa kamu ingin lebih dari sekadar bertahan hidup.
Kamu ingin tumbuh. Kamu ingin berkembang. Kamu ingin menjalani hidup yang lebih penuh.
Pertanyaannya sekarang: Apa yang bisa kamu lakukan untuk menyalakan kembali semangat itu? Jawabannya bisa panjang banget.
Kita sering terjebak dalam pola yang sama setiap hari: kerja, pulang, tidur. Cobalah hal baru, sekecil apa pun. Baca buku di luar genre favoritmu. Ikut kelas online. Berkenalan dengan orang baru. Lakukan sesuatu yang memecah rutinitas.
Kamu nggak perlu langsung mengejar mimpi besar. Cukup mulai dengan tujuan sederhana: berolahraga tiga kali seminggu, baca satu buku per bulan, atau menulis jurnal harian. Tujuan kecil yang konsisten bisa membawa perubahan besar dalam jangka panjang.
Ingatlah, hidup nggak hanya tentang sampai ke tujuan, tapi juga tentang siapa kamu selama perjalanan itu. Jangan menunggu hidup jadi luar biasa baru kamu bahagia. Bahagialah dalam proses menjadikannya luar biasa.
Kadang, hidup yang terasa biasa menyimpan pelajaran luar biasa. Hidup yang nggak dipenuhi gemerlap dan sorotan justru bisa lebih tenang, lebih stabil, dan lebih damai. Dalam hidup yang sederhana, kita belajar bersyukur. Dalam rutinitas yang tenang, kita belajar mengenal diri.
Jangan remehkan kekuatan hidup yang sederhana. Orang yang hidupnya ‘biasa’ pun bisa jadi inspirasi—justru karena ia tahu cara bertahan, cara mencintai tanpa koar-koar, cara memberi tanpa pamrih.
Selalu ingat bahwa hidup bukan perlombaan. Ini bukan tentang siapa yang lebih dulu sukses, siapa yang lebih terkenal, atau siapa yang lebih ‘wah’. Kita semua hidup di jalan yang berbeda, pada waktu yang berbeda, dan dengan tantangan yang berbeda pula. Kamu nggak terlambat. Kamu hanya sedang berada di titik istirahat sebelum melangkah lagi.
Kalau hidupmu terasa biasa-biasa aja, mungkin itu bukan pertanda kegagalan. Mungkin itu justru ruang kosong yang bisa kamu isi dengan makna, syukur, dan harapan.
Bukan soal seberapa banyak sorotan yang kamu dapat. Tapi seberapa dalam kamu menikmati dan mensyukuri dirimu sendiri, lalu membagikan kebaikan di sekitarmu.
Karena sesungguhnya, hidup yang tenang, stabil, dan penuh cinta adalah salah satu bentuk hidup paling luar biasa yang bisa dimiliki manusia.
Buku sarana belajar yang praktis, mudah, dan bisa dibawa ke mana-mana. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Setiap tanggal 2 Mei, kita memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) sebagai momen penting untuk mengenang jasa Ki Hadjar Dewantara dan perjuangannya dalam membangun kesadaran akan pentingnya pendidikan.
Namun, peringatan ini mestinya bukan sekadar seremoni. Hardiknas seharusnya menjadi refleksi pribadi dan masyarakat: Sudahkah kita benar-benar memahami makna pendidikan?
Dengan beragam hiruk-pikuk membenahi sistem, kurikulum, dan fasilitas, kita kerap lupa bahwa pendidikan sejati tidak hanya berlangsung di ruang kelas dan ruang koridor pendidikan formal. Pendidikan dimulai dari dalam diri setiap individu.
Sebelum menjadi guru bagi orang lain, sebelum menuntut anak untuk belajar, sebelum menyalahkan generasi muda yang dinilai “kurang sopan” atau “kurang rajin”—tanya diri kita: Sudahkah aku mendidik diriku lebih dulu?
Ki Hadjar Dewantara berkata, “Ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani.” Kalimat ini menegaskan bahwa pemimpin sejati memberi teladan. Dan memberi teladan hanya bisa dilakukan jika kita telah menempa diri terlebih dahulu.
Mendidik diri berarti mengasah kesabaran, membentuk karakter, menumbuhkan empati, serta menjadi pembelajar seumur hidup. Pendidikan bukan hanya soal buku dan angka, melainkan tentang menjadi manusia yang utuh—yang berpikir jernih, berperilaku bijak, dan berkontribusi bagi sesama dan semesta.
Di tengah perkembangan teknologi dan derasnya arus informasi, anak-anak kita menghadapi tantangan yang berbeda dari masa lalu. Mereka butuh bukan hanya guru dan orang tua yang pandai, tapi sosok dan figur yang mampu menjadi panutan hidup.
Maka, sebelum kita menuntut anak untuk rajin membaca, mari kita lebih dulu membaca hati dan pikiran sendiri. Sebelum menyuruh anak berperilaku baik, mari kita koreksi tindakan dan kata-kata kita sehari-hari.
Hardiknas adalah saat yang tepat untuk kembali ke akar: bahwa pendidikan bukan tentang siapa yang diajar dan mengajar, tapi siapa yang mau terus belajar. Dan murid terbaik adalah mereka yang terus belajar dari kesalahan, memperbaiki diri, dan menginspirasi perubahan lewat tindakan nyata. Pun guru terbaik adalah mereka yang memberi kontribusi nyata perbaikan dengan teladan.
Jadi, dalam semangat Hardiknas ini, mari kita mulai dengan satu langkah sederhana tapi berarti: didik dirimu lebih dulu. Karena dari sanalah, perubahan besar bisa dimulai.
Gambar hanya sebagai ilustrasi. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Kapan itu saya sempat chitchat dengan Bu Monitz tentang postingan lebih kurang pernikahan tanpa pesta, yang ternyata direspon banyak oleh fansnya dengan kebaperan pertanyaan, “Apakah menikah tidak boleh pesta?”
Saya tertawa. Niy yang bertanya pasti tidak melihat sesuatu secara objektif. Bahwa postingan itu menceritakan pernikahan sesuai kemampuan. Semuanya terasa lebih mudah dan tidak merepotkan banyak pihak.
Kalau kamu menikah dan mau pesta geden (bahkan sampai ngutang-ngutang dan atau minta sumbangan sana sini) ya itu urusanmu, sakarepmu. Dan ini biasanya terjadi karena perasaan “nggak enak” sama keluarga, tetangga, orang-orang; keinginan tampil wah, nggak mau kalah dari si A, si B, dll.
Lha memang kalau kamu sulit ekonomi gegara duitmu habis untuk pesta, mereka ikut nanggung biaya hidupmu? Tentu enggak kan? Hari gini, yang realistis aja urusan perduitan.
Saya termasuk yang netral dalam hal ini. Menikah dengan pesta, itu versi saya boleh dan wajib asal sesuai kemampuan. Syukuran pernikahan agar banyak orang datang, banyak doa berkat kehidupan.
Cuman kalau sampai ngutang, minta sana sini, jelas big no. Karena pernikahan yang mestinya happy, habis pesta mumet mikirin tagihan jelas bukan hal yang menyenangkan. Habis menikah ki ya senang-senang. Bulan madu. Piknik. Ke mana-mana menikmati hidup dengan pasangan tanpa keribetan finansial.
Di dunia ini, kita banyak melihat orang yang merasa hidupnya penuh tekanan. Uang selalu kurang, waktu terasa sempit, pikiran lelah terus, dan bahagia seperti barang langka. Tapi benarkah hidup ini sesulit itu? Atau jangan-jangan, yang bikin rumit adalah gaya hidup kita sendiri?
Ingin Terlihat “Wow” di Mata Orang Lain
Media sosial sering kali membuat kita merasa harus hidup dengan standar tertentu—punya barang branded, nongkrong di kafe hits, liburan mewah, dan sebagainya. Padahal, tidak semua itu perlu.
Banyak orang rela berutang demi pencitraan, padahal hatinya sendiri kosong. Hidup jadi berat bukan karena kebutuhan, tapi karena gengsi. Makan tuh gengsi!
Beli Bukan Karena Butuh, Tapi Karena Ingin
Godaan diskon dan belanja impulsif sering jadi jebakan. Kita merasa bahagia sesaat setelah membeli sesuatu, lalu menyesal setelah tagihan datang. Gaya hidup konsumtif ini seringkali membuat keuangan berantakan. Padahal, kebutuhan hidup sebenarnya cukup sederhana.
Kurang Bersyukur, Selalu Membandingkan
Kita sering membandingkan hidup kita dengan orang lain yang tampak lebih sukses, lebih kaya, lebih bahagia.
Padahal, setiap orang punya perjalanan hidup masing-masing. Kurang bersyukur membuat kita merasa hidup ini tidak adil, padahal mungkin kita sudah punya cukup banyak.
Terlalu Sibuk Mengejar “Lebih”
Tidak salah punya ambisi, tapi kalau sampai melupakan kesehatan, keluarga, dan kebahagiaan pribadi, apakah itu layak?
Kadang kita terlalu sibuk mengejar sesuatu yang sebenarnya tidak kita butuhkan. Akhirnya, hidup terasa seperti perlombaan tanpa garis akhir.
Tidak Punya Prioritas
Saat semua hal ingin dilakukan dan semua keinginan terasa wajib dipenuhi, akhirnya kita kewalahan sendiri.
Padahal, dengan memilah mana yang penting dan mana yang bisa ditunda, hidup bisa lebih ringan. Fokus pada hal yang benar-benar berarti akan mengurangi beban yang tidak perlu.
Sederhanakan, Nikmati, Syukuri
Hidup sebenarnya tidak serumit yang kita bayangkan. Jika kita bisa menyesuaikan gaya hidup dengan kemampuan dan kebutuhan, menurunkan ekspektasi yang tidak realistis, serta lebih banyak bersyukur, maka hidup bisa jadi lebih tenang dan bahagia.
Jadi, sepertinya bukan hidup yang sulit. Mungkin, gaya hidup kita yang terlalu ribet. Hidup itu mudah kalau sesuai kemampuan kita. Yang bikin sulit itu kalau kita hidup di luar batas kemampuan.
Di Masjidil Haram. Umroh November 2024. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Beberapa hari belakangan ini, entah kenapa saya sering banget bersinggungan dengan pertanyaan; bagaimana caranya biar kita bisa (segera) atau cepat umroh. Pertanyaan sederhana, tapi jawabnya pun versi saya harus mikir. Karena bagi saya, umroh dan haji itu seperti rahasia Allah, yang kalau belum sampai di sana, ya belum bisa dipastikan keberangkatannya.
Lha banyak orang yang sudah daftar lunas, eh pas hari H nggak bisa berangkat karena sakit, tahu-tahu paspornya ilang, ada urusan yang mendesak, keluarga meninggal, atau bahkan ybs itu yang meninggal. Ada banyak hal yang masih jadi rahasia.
Sementara ada orang yang nggak punya duit, tahu-tahu bisa berangkat karena dibayarin, dapat hadiah, dapat rezeki nomplok, dll. Ada yang berangkat sehat, pulang sakit dan sebaliknya. Semuanya rahasia Allah.
Dari pengalaman, berikut yang bisa saya share. Bisa jadi prinsip dan pengalaman saya tentang umroh haji ini, sangat berbeda dengan orang lain.
1. Niat yang Bener
Mo sampeyan punya duit, dalam kondisi sehat, atau sebaliknya; ketika berasa ada niat untuk umroh atau haji, langsung saja ambil air wudu, sholat hajat 2 rakaat, lalu berniat sungguh-sungguh untuk diberangkatkan umroh atau haji dengan kondisi terbaik, situasi terbaik, fasilitas terbaik, dan orang-orang terbaik.
2. Sebagai bentuk ikhtiar lahir kita, lakukan sesuatu yang mudah dulu. Kalau belum punya paspor, segera bikin paspor. Harga paspor berbeda beda; yang non elektronik 5 tahun, itu 350 rb. Yang non elektronik 10 tahun, seharga 650 rb. Paspor elektronik 5 tahun, seharga 650 rb. Silakan cek-cek di web imigrasi.
Karena pengurusan paspor ini nggak bisa sehari dua hari jadi (kecuali percepatan dengan menambahkan 1 juta biaya), alangkah baiknya mengusahakan ini terlebih dahulu. Apalagi kalau ada berkas identitas (KTP, KK, akta lahir, dll) yang beda, itu harus disamakan dulu.
Jadi lebih baik kalau sudah ada rezeki dan waktu luang, segera bikin paspornya. Kalau yang ingin diajak umroh satu keluarga, bikinnya bisa satu per satu, nggak sekaligus. Biar ringan. Misalnya tahun ini target kelar semua anggota keluarga punya paspor.
3. Menabung Kebaikan
Saya termasuk yang percaya hukum tabur tuai, apa yang kau tanam itu yang kau tuai. Kebaikan berbalas kebaikan, pun sebaliknya. Jadi sejak niat umroh, meskipun belum ada biayanya, setiap ada hal baik yang saya lakukan, saya menambahkan doa, ya Allah mudahkan untuk pergi ke Baitullah. Ini bisa beragam cara untuk berbuat baik ya, nggak harus sedekah uang atau benda.
4. Buka Celengan atau Tabungan
Berikutnya usaha untuk memenuhi dana umroh. Kalau sehari-hari saja hidup kita cukup, tidak ngutang, itu sudah syukur banget, bagaimana kita bisa menabung untuk umroh?
Taruh aja celengan di rumah, ditandai atau dilabeli Tabungan Umroh. Lalu mulailah menabung, meskipun sehari hanya seribu rupiah. Karena saya mendengar kisah juga suami istri guru, selama 30 tahun menabung baru bisa berangkat umroh. Nabungnya ya sedikit demi sedikit.
Kalau pas ada duit besar ya isikan lebih besar. Nanti cukup 50 rb boleh disetor ke bank atau tabungan emas. Atau boleh juga kalau membiarkan uang di celengan selama 1 tahun, baru disetor ke bank. Mana saja yang sesuai dengan kondisi masing masing.
5. Mencari Cara Berhemat
Omong kosong kalau kita punya niat besar, nggak mau berhemat. Kalau sudah ada tujuan, biasanya kita cenderung skip atau meniadakan hal-hal yang nggak penting, pemborosan. Saya pun begitu.
Saya tahu saya mau umroh, budget sekian, ya tetep pengeluaran yang nggak penting banget saya hilangkan agar uangnya bisa masuk celengan umroh. Biaya-biaya pemakaian air, listrik, pulsa, kuota, sabun, deterjen, nonton, piknik, jajan, makan sehari-hari, biaya antar jemput anak, biaya sekolah anak, biaya atau dana sosial, dll itu nanti otomatis terkoreksi agar lebih hemat tanpa mengurangi keperluan dan rasa happynya. Ya jangan sekaligus.
Misalnya kita biasa ngopi atau makan siang di luar 10x dalam sebulan, njur blas nggak sama sekali, itu bisa bikin stres. Ya dikurangi, jadi 6x dalam sebulan. Bawa saja thumbler isi kopi atau bekal makan siang dari rumah. Uang hematnya lumayan. Nanti akan ketemu sendiri pola yang sesuai.
6. Cari Penghasilan Tambahan
Kalau kita punya keperluan uang lebih besar, itu biasanya jadi cerdas melihat peluang. Jual saja secara preloved barang-barang yang baik tapi wes nggak dipakai. Cek isi gudang. Mungkin ada sepeda, sepatu, baju-baju, aneka souvenir, mainan anak, dll. Tawarkan secara online, dan masukkan semua hasilnya ke rekening tabungan umroh.
Kalau perlu cari penghasilan tambahan sesuai keahlian. Entah bikin kue, membuka kelas pelajaran, dagang reseller atau dropship, membuka penitipan anak balita, dll yang sesuai. Ingat, pastikan uangnya fokus untuk menabung biaya umroh.
7. Berdoa dan Memperbanyak Ibadah
Iya, segala sesuatu sangat bergantung ridho Allah. Dengan memperbanyak doa dan ibadah, nanti tahu-tahu ada rezeki nomplok, ada banyak kemudahan untuk berangkat umroh atau haji.
Kita ya manusia, kadang kalau ada maunya sama Allah, ibadahnya njur rajin beut. Tapi saya yakin Allah Maha Penyayang dan tetap memberikan segala sesuatu untuk kita sesuai kelayakan kita masing-masing. Jadi berusahalah melayakkan diri kita sebagai orang yang akan dipanggil ke Baitullah.
8. Mendaftar Umroh atau Haji
Sekarang ini ada banyak biro umroh atau haji yang dengan DP 1 juta saja orang sudah terdaftar untuk berangkat umroh. Nah, pilihlah yang seperti ini dengan jangka waktu pembayaran sesuai kemampuan anda. Kalau misalnya biaya umroh 30 juta dan tiap bulan hanya bisa menyisihkan kisaran 500rb atau kurang ya, pilih yang waktu pelunasan panjang.
Nanti biasanya jelang keberangkatan ada penyesuaian dengan kurs dolar atau biaya riilnya. Iya dong, kalau tambah waktu pasti biaya umroh haji ya sudah naik. Perlu disesuaikan.
9. Mempersiapkan Diri
Boleh jadi kita nggak tahu kapan berangkat umroh atau haji. Tapi baik juga kalau kita mempersiapkan diri. Belajar ilmu tentang haji dan umroh. Menjaga kebugaran fisik mental, terutama kekuatan kaki; karena haji umroh ibadah fisik, jalan dalam waktu yang lama. Jadi perlu olga rutin, sekurangnya 1/2 jam jalan kaki tiap hari.
Mempersiapkan baju-baju harian yang dirasakan sesuai dan pas untuk haji dan atau umroh. Biasanya kalau saya karena menjahitkan baju, kainnya saya beli dulu satu per satu. Kalau sudah fix berangkatnya kapan, baru saya jahitkan.
10. Berbaik Sangka pada Allah
Tidak selalu mudah bagi kita yang ngumpulin duit sedikit demi sedikit untuk umroh, lalu kita melihat orang lain kok bolak-balik umroh, berangkat umroh melulu. Padahal kita kan tidak tahu usaha seperti apa yang dilakukannya.
Mungkin saja dia hidupnya lebih hemat, ibadahnya lebih kuat, dll. Intinya, kita harus fokus ke diri sendiri. Kalau sudah usaha maksimal, belum dipanggil, ya berarti kita kudu tawakal dan berbaik sangka pada Allah. Nanti pasti diberikan pada saat terbaik. Amin YRA.
Mari kita berlomba lomba menata diri agar dapat segera (lebih cepat) berangkat umroh. Ini memang panggilan Allah yang bersifat rahasia. Kalau kita sudah mempersiapkan diri, sekurangnya itu bukti bahwa kita menyambut panggilan Allah itu dengan sebaik-baiknya ikhtiar.
Wisuda Sarjana, Fakultas Sastra, UGM; 22 November 2000. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Kasus dugaan ijazah palsu masih terus ramai dan banyak alumni UGM yang posting ijazahnya. Bikin penuh timeline bae. Percayalah kalau kamu bukan publik figur, nggak ada kok yang nanyain ijazahmu 🤣
Saya jadi penulis sejak belia. Masuk industri kreatif sebelum lulus sarjana. Ra nganggo ijazah. Patokannya karya-karya saya yang sudah dimuat di berbagai media dan novel yang sudah terbit pada waktu itu; termasuk beragam penghargaan nasional tentang penulisan. Begitu wisuda, terima ijazah S-1 dll, masuk lemari. Begitupun pas dapat ijazah S-2 dan S-3.
Wisuda Master, FIB, UGM; 25 April 2013. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Suatu ketika produser AB tanya ke saya, SS singkatan apa. Saya yang biasa terima memo internal dengan singkatan nama AW (Ari Wulandari), menjawab itu pasti nama produser SS. Produser AB bilang, bukan; karena itu melekat di belakang nama saya. Ari Wulandari, S.S.
Saya bingung dan mendekat, memeriksa. Rupanya itu kontrak saya sebagai wakil PH dengan pihak lain. Saya baru ingat, itu Sarjana Sastra. Gelar S-1. Saya juga baru ingat setelah bertahun-tahun di dunia sinetron, kalau saya punya gelar, ijazah dan transkrip nilainya. Semua itu di industri kreatif, nggak terlalu penting. Kamu sebagai pekerja kreatif dihargai berdasar kreativitas dan payu enggaknya karyamu sesuai standar yang berlaku.
Wisuda Doktor, FIB, UGM, 24 Januari 2018. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Ijazah-ijazah itu baru saya buka lagi, fotocopy, legalisir, ketika bergabung jadi dosen UPY akhir tahun 2021. Baru tahu saya, kalau ada piagam penghargaan sebagai lulusan tercepat, lulusan terbaik. Walaupun saya tukang dolan, ternyata dapat piagam itu. Pasti bukan karena saya pinter, tapi bejo. Kalau kamu kuliah mbayar dhewe dari uang hasil kerjamu, pasti akan berusaha lulus cepat.
Ternyata di dunia kerja, ijazah itu penting nggak penting. Kita tetap harus kerja, nggak kerja ya ketinggalan. Saya berharap siy dugaan ijazah palsu itu segera beres dan melegakan semua pihak.