Hidup Itu (Mudah), Gaya Hidupmu yang Bikin (Susah)

Gambar hanya sebagai ilustrasi. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Kapan itu saya sempat chitchat dengan Bu Monitz tentang postingan lebih kurang pernikahan tanpa pesta, yang ternyata direspon banyak oleh fansnya dengan kebaperan pertanyaan, “Apakah menikah tidak boleh pesta?”

Saya tertawa. Niy yang bertanya pasti tidak melihat sesuatu secara objektif. Bahwa postingan itu menceritakan pernikahan sesuai kemampuan. Semuanya terasa lebih mudah dan tidak merepotkan banyak pihak.

Kalau kamu menikah dan mau pesta geden (bahkan sampai ngutang-ngutang dan atau minta sumbangan sana sini) ya itu urusanmu, sakarepmu. Dan ini biasanya terjadi karena perasaan “nggak enak” sama keluarga, tetangga, orang-orang; keinginan tampil wah, nggak mau kalah dari si A, si B, dll.

Lha memang kalau kamu sulit ekonomi gegara duitmu habis untuk pesta, mereka ikut nanggung biaya hidupmu? Tentu enggak kan? Hari gini, yang realistis aja urusan perduitan.

Saya termasuk yang netral dalam hal ini. Menikah dengan pesta, itu versi saya boleh dan wajib asal sesuai kemampuan. Syukuran pernikahan agar banyak orang datang, banyak doa berkat kehidupan.

Cuman kalau sampai ngutang, minta sana sini, jelas big no. Karena pernikahan yang mestinya happy, habis pesta mumet mikirin tagihan jelas bukan hal yang menyenangkan. Habis menikah ki ya senang-senang. Bulan madu. Piknik. Ke mana-mana menikmati hidup dengan pasangan tanpa keribetan finansial.

Di dunia ini, kita banyak melihat orang yang merasa hidupnya penuh tekanan. Uang selalu kurang, waktu terasa sempit, pikiran lelah terus, dan bahagia seperti barang langka. Tapi benarkah hidup ini sesulit itu? Atau jangan-jangan, yang bikin rumit adalah gaya hidup kita sendiri?

  1. Ingin Terlihat “Wow” di Mata Orang Lain

Media sosial sering kali membuat kita merasa harus hidup dengan standar tertentu—punya barang branded, nongkrong di kafe hits, liburan mewah, dan sebagainya. Padahal, tidak semua itu perlu.

Banyak orang rela berutang demi pencitraan, padahal hatinya sendiri kosong. Hidup jadi berat bukan karena kebutuhan, tapi karena gengsi. Makan tuh gengsi!

  1. Beli Bukan Karena Butuh, Tapi Karena Ingin

Godaan diskon dan belanja impulsif sering jadi jebakan. Kita merasa bahagia sesaat setelah membeli sesuatu, lalu menyesal setelah tagihan datang. Gaya hidup konsumtif ini seringkali membuat keuangan berantakan. Padahal, kebutuhan hidup sebenarnya cukup sederhana.

  1. Kurang Bersyukur, Selalu Membandingkan

Kita sering membandingkan hidup kita dengan orang lain yang tampak lebih sukses, lebih kaya, lebih bahagia.

Padahal, setiap orang punya perjalanan hidup masing-masing. Kurang bersyukur membuat kita merasa hidup ini tidak adil, padahal mungkin kita sudah punya cukup banyak.

  1. Terlalu Sibuk Mengejar “Lebih”

Tidak salah punya ambisi, tapi kalau sampai melupakan kesehatan, keluarga, dan kebahagiaan pribadi, apakah itu layak?

Kadang kita terlalu sibuk mengejar sesuatu yang sebenarnya tidak kita butuhkan. Akhirnya, hidup terasa seperti perlombaan tanpa garis akhir.

  1. Tidak Punya Prioritas

Saat semua hal ingin dilakukan dan semua keinginan terasa wajib dipenuhi, akhirnya kita kewalahan sendiri.

Padahal, dengan memilah mana yang penting dan mana yang bisa ditunda, hidup bisa lebih ringan. Fokus pada hal yang benar-benar berarti akan mengurangi beban yang tidak perlu.

Sederhanakan, Nikmati, Syukuri

Hidup sebenarnya tidak serumit yang kita bayangkan. Jika kita bisa menyesuaikan gaya hidup dengan kemampuan dan kebutuhan, menurunkan ekspektasi yang tidak realistis, serta lebih banyak bersyukur, maka hidup bisa jadi lebih tenang dan bahagia.

Jadi, sepertinya bukan hidup yang sulit. Mungkin, gaya hidup kita yang terlalu ribet. Hidup itu mudah kalau sesuai kemampuan kita. Yang bikin sulit itu kalau kita hidup di luar batas kemampuan.

Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us:

Biar Kita Bisa (Segera) Umroh

Di Masjidil Haram. Umroh November 2024. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Beberapa hari belakangan ini, entah kenapa saya sering banget bersinggungan dengan pertanyaan; bagaimana caranya biar kita bisa (segera) atau cepat umroh. Pertanyaan sederhana, tapi jawabnya pun versi saya harus mikir. Karena bagi saya, umroh dan haji itu seperti rahasia Allah, yang kalau belum sampai di sana, ya belum bisa dipastikan keberangkatannya.

Lha banyak orang yang sudah daftar lunas, eh pas hari H nggak bisa berangkat karena sakit, tahu-tahu paspornya ilang, ada urusan yang mendesak, keluarga meninggal, atau bahkan ybs itu yang meninggal. Ada banyak hal yang masih jadi rahasia.

Sementara ada orang yang nggak punya duit, tahu-tahu bisa berangkat karena dibayarin, dapat hadiah, dapat rezeki nomplok, dll. Ada yang berangkat sehat, pulang sakit dan sebaliknya. Semuanya rahasia Allah.

Dari pengalaman, berikut yang bisa saya share. Bisa jadi prinsip dan pengalaman saya tentang umroh haji ini, sangat berbeda dengan orang lain.

1. Niat yang Bener

Mo sampeyan punya duit, dalam kondisi sehat, atau sebaliknya; ketika berasa ada niat untuk umroh atau haji, langsung saja ambil air wudu, sholat hajat 2 rakaat, lalu berniat sungguh-sungguh untuk diberangkatkan umroh atau haji dengan kondisi terbaik, situasi terbaik, fasilitas terbaik, dan orang-orang terbaik.

2. Sebagai bentuk ikhtiar lahir kita, lakukan sesuatu yang mudah dulu. Kalau belum punya paspor, segera bikin paspor. Harga paspor berbeda beda; yang non elektronik 5 tahun, itu 350 rb. Yang non elektronik 10 tahun, seharga 650 rb. Paspor elektronik 5 tahun, seharga 650 rb. Silakan cek-cek di web imigrasi.

Karena pengurusan paspor ini nggak bisa sehari dua hari jadi (kecuali percepatan dengan menambahkan 1 juta biaya), alangkah baiknya mengusahakan ini terlebih dahulu. Apalagi kalau ada berkas identitas (KTP, KK, akta lahir, dll) yang beda, itu harus disamakan dulu.

Jadi lebih baik kalau sudah ada rezeki dan waktu luang, segera bikin paspornya. Kalau yang ingin diajak umroh satu keluarga, bikinnya bisa satu per satu, nggak sekaligus. Biar ringan. Misalnya tahun ini target kelar semua anggota keluarga punya paspor.

3. Menabung Kebaikan

Saya termasuk yang percaya hukum tabur tuai, apa yang kau tanam itu yang kau tuai. Kebaikan berbalas kebaikan, pun sebaliknya. Jadi sejak niat umroh, meskipun belum ada biayanya, setiap ada hal baik yang saya lakukan, saya menambahkan doa, ya Allah mudahkan untuk pergi ke Baitullah. Ini bisa beragam cara untuk berbuat baik ya, nggak harus sedekah uang atau benda.

4. Buka Celengan atau Tabungan

Berikutnya usaha untuk memenuhi dana umroh. Kalau sehari-hari saja hidup kita cukup, tidak ngutang, itu sudah syukur banget, bagaimana kita bisa menabung untuk umroh?

Taruh aja celengan di rumah, ditandai atau dilabeli Tabungan Umroh. Lalu mulailah menabung, meskipun sehari hanya seribu rupiah. Karena saya mendengar kisah juga suami istri guru, selama 30 tahun menabung baru bisa berangkat umroh. Nabungnya ya sedikit demi sedikit.

Kalau pas ada duit besar ya isikan lebih besar. Nanti cukup 50 rb boleh disetor ke bank atau tabungan emas. Atau boleh juga kalau membiarkan uang di celengan selama 1 tahun, baru disetor ke bank. Mana saja yang sesuai dengan kondisi masing masing.

5. Mencari Cara Berhemat

Omong kosong kalau kita punya niat besar, nggak mau berhemat. Kalau sudah ada tujuan, biasanya kita cenderung skip atau meniadakan hal-hal yang nggak penting, pemborosan. Saya pun begitu.

Saya tahu saya mau umroh, budget sekian, ya tetep pengeluaran yang nggak penting banget saya hilangkan agar uangnya bisa masuk celengan umroh. Biaya-biaya pemakaian air, listrik, pulsa, kuota, sabun, deterjen, nonton, piknik, jajan, makan sehari-hari, biaya antar jemput anak, biaya sekolah anak, biaya atau dana sosial, dll itu nanti otomatis terkoreksi agar lebih hemat tanpa mengurangi keperluan dan rasa happynya. Ya jangan sekaligus.

Misalnya kita biasa ngopi atau makan siang di luar 10x dalam sebulan, njur blas nggak sama sekali, itu bisa bikin stres. Ya dikurangi, jadi 6x dalam sebulan. Bawa saja thumbler isi kopi atau bekal makan siang dari rumah. Uang hematnya lumayan. Nanti akan ketemu sendiri pola yang sesuai.

6. Cari Penghasilan Tambahan

Kalau kita punya keperluan uang lebih besar, itu biasanya jadi cerdas melihat peluang. Jual saja secara preloved barang-barang yang baik tapi wes nggak dipakai. Cek isi gudang. Mungkin ada sepeda, sepatu, baju-baju, aneka souvenir, mainan anak, dll. Tawarkan secara online, dan masukkan semua hasilnya ke rekening tabungan umroh.

Kalau perlu cari penghasilan tambahan sesuai keahlian. Entah bikin kue, membuka kelas pelajaran, dagang reseller atau dropship, membuka penitipan anak balita, dll yang sesuai. Ingat, pastikan uangnya fokus untuk menabung biaya umroh.

7. Berdoa dan Memperbanyak Ibadah

Iya, segala sesuatu sangat bergantung ridho Allah. Dengan memperbanyak doa dan ibadah, nanti tahu-tahu ada rezeki nomplok, ada banyak kemudahan untuk berangkat umroh atau haji.

Kita ya manusia, kadang kalau ada maunya sama Allah, ibadahnya njur rajin beut. Tapi saya yakin Allah Maha Penyayang dan tetap memberikan segala sesuatu untuk kita sesuai kelayakan kita masing-masing. Jadi berusahalah melayakkan diri kita sebagai orang yang akan dipanggil ke Baitullah.

8. Mendaftar Umroh atau Haji

Sekarang ini ada banyak biro umroh atau haji yang dengan DP 1 juta saja orang sudah terdaftar untuk berangkat umroh. Nah, pilihlah yang seperti ini dengan jangka waktu pembayaran sesuai kemampuan anda. Kalau misalnya biaya umroh 30 juta dan tiap bulan hanya bisa menyisihkan kisaran 500rb atau kurang ya, pilih yang waktu pelunasan panjang.

Nanti biasanya jelang keberangkatan ada penyesuaian dengan kurs dolar atau biaya riilnya. Iya dong, kalau tambah waktu pasti biaya umroh haji ya sudah naik. Perlu disesuaikan.

9. Mempersiapkan Diri

Boleh jadi kita nggak tahu kapan berangkat umroh atau haji. Tapi baik juga kalau kita mempersiapkan diri. Belajar ilmu tentang haji dan umroh. Menjaga kebugaran fisik mental, terutama kekuatan kaki; karena haji umroh ibadah fisik, jalan dalam waktu yang lama. Jadi perlu olga rutin, sekurangnya 1/2 jam jalan kaki tiap hari.

Mempersiapkan baju-baju harian yang dirasakan sesuai dan pas untuk haji dan atau umroh. Biasanya kalau saya karena menjahitkan baju, kainnya saya beli dulu satu per satu. Kalau sudah fix berangkatnya kapan, baru saya jahitkan.

10. Berbaik Sangka pada Allah

Tidak selalu mudah bagi kita yang ngumpulin duit sedikit demi sedikit untuk umroh, lalu kita melihat orang lain kok bolak-balik umroh, berangkat umroh melulu. Padahal kita kan tidak tahu usaha seperti apa yang dilakukannya.

Mungkin saja dia hidupnya lebih hemat, ibadahnya lebih kuat, dll. Intinya, kita harus fokus ke diri sendiri. Kalau sudah usaha maksimal, belum dipanggil, ya berarti kita kudu tawakal dan berbaik sangka pada Allah. Nanti pasti diberikan pada saat terbaik. Amin YRA.

Mari kita berlomba lomba menata diri agar dapat segera (lebih cepat) berangkat umroh. Ini memang panggilan Allah yang bersifat rahasia. Kalau kita sudah mempersiapkan diri, sekurangnya itu bukti bahwa kita menyambut panggilan Allah itu dengan sebaik-baiknya ikhtiar.

Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us:

Saya (bahkan pernah lupa) Kalau Punya Ijazah

Wisuda Sarjana, Fakultas Sastra, UGM; 22 November 2000. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Kasus dugaan ijazah palsu masih terus ramai dan banyak alumni UGM yang posting ijazahnya. Bikin penuh timeline bae. Percayalah kalau kamu bukan publik figur, nggak ada kok yang nanyain ijazahmu 🤣

Saya jadi penulis sejak belia. Masuk industri kreatif sebelum lulus sarjana. Ra nganggo ijazah. Patokannya karya-karya saya yang sudah dimuat di berbagai media dan novel yang sudah terbit pada waktu itu; termasuk beragam penghargaan nasional tentang penulisan. Begitu wisuda, terima ijazah S-1 dll, masuk lemari. Begitupun pas dapat ijazah S-2 dan S-3.

Wisuda Master, FIB, UGM; 25 April 2013. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Suatu ketika produser AB tanya ke saya, SS singkatan apa. Saya yang biasa terima memo internal dengan singkatan nama AW (Ari Wulandari), menjawab itu pasti nama produser SS. Produser AB bilang, bukan; karena itu melekat di belakang nama saya. Ari Wulandari, S.S.

Saya bingung dan mendekat, memeriksa. Rupanya itu kontrak saya sebagai wakil PH dengan pihak lain. Saya baru ingat, itu Sarjana Sastra. Gelar S-1. Saya juga baru ingat setelah bertahun-tahun di dunia sinetron, kalau saya punya gelar, ijazah dan transkrip nilainya. Semua itu di industri kreatif, nggak terlalu penting. Kamu sebagai pekerja kreatif dihargai berdasar kreativitas dan payu enggaknya karyamu sesuai standar yang berlaku.

Wisuda Doktor, FIB, UGM, 24 Januari 2018. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Ijazah-ijazah itu baru saya buka lagi, fotocopy, legalisir, ketika bergabung jadi dosen UPY akhir tahun 2021. Baru tahu saya, kalau ada piagam penghargaan sebagai lulusan tercepat, lulusan terbaik. Walaupun saya tukang dolan, ternyata dapat piagam itu. Pasti bukan karena saya pinter, tapi bejo. Kalau kamu kuliah mbayar dhewe dari uang hasil kerjamu, pasti akan berusaha lulus cepat.

Ternyata di dunia kerja, ijazah itu penting nggak penting. Kita tetap harus kerja, nggak kerja ya ketinggalan. Saya berharap siy dugaan ijazah palsu itu segera beres dan melegakan semua pihak.

Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us:

Allah Begitu Baik

Empek-empek kiriman Bu Anna. Alhamdulillah. Maturnuwun. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.


Sejak balik dari mudik, kondisi kesehatan saya memang nggak baik-baik saja. Dokter menyuruh saya menambah istirahat. Dan ya, tahu sendiri kalau badan nggak sehat, semua makanan terasa nggak enak. Demi tetap makan dan minum obat, saya membeli atau membuat makanan yang bisa masuk di mulut saya; bakso, mie goreng, roti lembut, ropang, gorengan, dan pizza. Nggak makan nasi karena berasane kok mual mencium aroma nasi.🙈

Hari ini, saya mau makan empek-empek. Wes pesan di tempat langganan; tapi ternyata habis. Saya wes arep memesan online, tapi inget rasanya belum pasti dan jelas kena ppn ongkir parkir packing dll itu, saya nggak jadi pesan. Makanan lain di rumah masih banyak dan mikir, besok pagi-pagi saya akan pesan biar langsung diantar.
.
Tapi Allah begitu baik. Sore-sore Mbak Annis mengirim pesan nanyain saya kapan ke kampus lagi. Ada kiriman paket dari Bu Anna untuk saya. Yo, karena masih minggu depan, paket dikirimkan ke rumah. Maafkan, kalau rumah tinggal saya saking ndesonya layanan paxel saja nggak ada 😆 sehingga saya sering diomeli keluarga, sahabat, kerabat yang nggak bisa kirim-kirim sebangsa frozenan atau makanan basah.

Jadi karena paketnya ini makanan basah, oleh Bu Anna dikirim ke Mbak Annis dulu baru disampaikan ke saya. Haish, jadi repot. Maturnuwun Mbak Annis. 🥰🙏 Dan tahu enggak, makanan frozenan yang dikirim Bu Anna itu empek-empek komplit dan banyak. ❤

Duh, saya speechless. Allah seperti sedang bilang, “Ari kamu nggak usah beli empek-empek, niy AKU antar langsung.”

Itu kenapa kalau sesuatu nggak jadi, nggak ada, atau belum, saya wes nggak pernah memaksakan diri lagi. Karena seringnya ya begini, tahu-tahu Allah kirim. Allah urus semuanya. Lebih baik, lebih komplit, lebih tepat. ❤

Alhamdulillah. Maturnuwun Bu @annavincentia

Maturnuwun Mbak @novaheswari
Vincentia Anna Annis Novaheswari

Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us:

Lebaran (Tanpa) Persiapan, Tapi Tetap Berkesan

Saya lima bersaudara dengan Ibunda dan si bocil termuda (sementara) di keluarga kami. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Lebaran tahun ini terasa sangat berbeda bagi saya. Kalau tahun-tahun sebelumnya saya cenderung mempersiapkan banyak hal untuk lebaran, kali ini tidak seperti itu.

Gangguan kesehatan dengan batuk yang parah selama 10 hari awal puasa, beneran nyaris bikin saya menyerah dengan puasa Ramadan. Sungguh berat. Sungguh nggak mudah. Tarawih yang biasanya saya lari dengan semangat, bolong-bolong. Ngaji yang biasanya 1 hari 1 juz, hanya bisa saya simak membatin tanpa bersuara.

Untunglah kita umat Islam diberi kemudahan punya banyak dan beragam ibadah ringan yang bisa membantu menutup kebolongan-kebolongan ibadah besar; seperti doa, dzikir, sholawat, sedekah, berbagi, menyebarkan salam, menyebarkan ilmu, dll.

Tugas saya seperti tahun-tahun sebelumnya di lebaran; menyiapkan seragam keluarga besar dengan aneka kruncilan ukuran yang nggak sama, untunglah sudah selesai sebelum Ramadan datang. Mengirimkan per keluarga ke rumah masing-masing tinggal urusan mudah. Selain itu, wes saya yo gak beli baju baru. Padahal biasanya yo beli satu atau dua stel baju sebagai penanda hari baru, hidup baru. Eh tapi ya baik-baik aja ternyata tanpa baju baru di hari lebaran 😁

Menyiapkan angpao sekurangnya 100 pax untuk bocil-bocil (yang tidak dikenal) yang datang ke rumah ibu, sudah jadi kebiasaan dan tugas saya sejak lama.

Iya, kami semua berbagi tugas kalau lebaran di rumah ibu. Ada yang nyiapin kue kue dan seribetannya. Ada yang menanggung makan kami saat pulang lebaran. Ada yang sukarela menanggung biaya piknik kami. Sesuai kemampuan masing-masing dan rasanya sudah begitu sejak lama, setelah kami semua bekerja (alhamdulillah) mapan.

Tentu saya juga menyiapkan angpao untuk sekurangnya 20 orang keluarga inti, yang tentu tidak ringan. Biasanya saya cukup rapi dengan amplop lucu-lucu; memberi nama satu per satu.

Tapi kali ini hanya sempat menarik uangnya dan membagikan tanpa amplop. Keponakan saya berkelakar, yang penting warnanya merah-merah Bude 😁😅

Kalau urusan angpao ini dari kami berlima semua menyiapkan. Tapi besaran dan jumlahnya tidak sama. Ada yang cuma memberi bocil-bocil. Ada yang memberi sebagian saudara dan ipar. Pokoknya bebas sesuai kesanggupan masing-masing. Saya pun beberapa kali yo kebagian angpao dari saudara dan ipar. Pokmen senang aja kalau lebaran.

Waktu libur kerja yang lebih lambat daripada lainnya, juga membuat saya sempat lelah di saat-saat terakhir Ramadan. Undangan undangan bukber banyak yang saya skip. Termasuk undangan bukber dari kampus. Tahun ini 5x saja saya ikut bukber. 3x di areal tetangga perumahan, 2x dengan orang-orang dekat. Lainnya beneran saya abaikan.

Kalau tetap diminta serkileran (sumbangan) ya saya bayar, tapi saya absen. Selain karena kondisi kesehatan yang tidak prima, saya juga sedang berusaha menabung untuk kembali umroh. Rindunya menjadi-jadi kalau ingat Tanah Suci.

Jadi hal-hal yang nggak urgen dan random, tapi kudu menggunakan uang, lebih sering saya skip sejak awal tahun. Karena kalau datang bukber itu, pasti keluar biaya transportasi lebih banyak. Terlebih kalau tempatnya jauh. Belum nanti tahu-tahu laper mata, pingin ini itu, beli ini itu akhirnya nggak kemakan atau kepake. Wes, nyeselnya itu kalau sudah dibeli😁

Kalau nggak beneran ada orang-orang yang saya kenali, saya wes mulai absen di beragam acara kumpulan rerame orang. Kadang jumpa orang-orang juga malah tambah beban pikiran saya, kalau dengar begini begitu yang nggak mengenakkan hati. Meskipun sudah berusaha mengabaikannya. Introvert kadang-kadang memang terlalu banyak OVT nya.

Bayar zakat, sedekah, berbagi, sumbangan sosial, nyangoni orang orang sekitaran yang kerja dengan saya, tentu kewajiban yang nggak bisa diabaikan. Tapi karena wes rutinitas ya biasa saja, wes disiapkan jauh hari. Jadi nggak berasa sebagai tambahan pengeluaran seperti aneka bukber itu.

Pulang ke rumah ibu, berasa banget kalau saya lelah. Ibu saya meminta agar saya banyak istirahat. Tapi puasa masih dua hari saat itu. Beneran berasa tidak ringan puasa tahun ini. Saya tetap bersyukur aja nggak sampai opname dan bolak-balik rumah sakit.

Lepas sholat Ied, bermohonmaafan dengan ibu dan keluarga adik bungsu, saya beneran terkapar. Tidur seperti orang mati, nggak bisa dibangunkan sampai siang. Praktis ibu saya menemui tamu-tamu lebaran sendiri tanpa saya. Sementara si bungsu wes ura pergi ke rumah mertuanya dengan suami dan anak-anaknya.

Syukurlah, tamu-tamu keluarga maklum dan tidak mengusik saya yang tidur. Baru di sore hari saya bisa melek mata, njagongi tamu-tamu yang datang hilir mudik. Maklum, ibu termasuk sesepuh di lingkungannya.

Saudara dan ipar serta ponakan saya dll keluarga nya belum pada datang. Mereka baru datang di hari kedua. Maklum mereka ada di Jogja, Balikpapan, dan Jakarta. Kalau si bungsu wira wiri sesukanya. Kadang di rumah ibu, kadang di rumahnya, kadang ya di rumah mertua. Semua di Tulungagung.

Lebaran menjadi meriah ketika semua saudara saya dan keluarganya sudah datang. Bocil-bocil bikin rumah ibu seperti kapal pecah. Kami tidur seperti ikan pindang dijejer, di sembarang tempat di lantai dengan karpet-karpet. Rame sekali ada bocil-bocil itu. Rumah ibu meriah betul. Mengingatkan saya akan masa kecil tetahunan silam.

Kondisi saya masih naik turun drop beberapa kali, sampai tidak bisa berdiri karena badan terasa begitu lemas. Acara unjung-unjung tetangga kiri kanan rumah ibu pun saya skip. Absen. Untung banyak yang sudah bermaafan saat mereka datang ke rumah ibu.

Acara piknik keluarga, saya juga absen. Acara unjung-unjung keluarga dan sesepuh, absen juga. Praktis lebaran kali ini saya mung bertapa memulihkan diri di rumah ibu. Sungguh bohong kalau umur itu hanya angka.

Makin ke sini kok saya rasa, ada banyak sekali perbedaan kekuatan daripada 20 tahun yang lalu. Jadi saya yo wes kudu legawa tidak semena-mena menggunakan energi fisik kalau nggak mau tumbang-tumbang melulu.

Bagaimanapun, meskipun tanpa banyak persiapan, saya tetap senang lebaran tahun ini. Alhamdulillah. Keluarga berkumpul. Jajanan dan aneka makanan di mana-mana. Baju baju baru. Foto foto. Makan-makan. Bercanda tawa gembira. Kunjung kunjung. Piknik wisata. Kumpul trah. Berbagi oleh-oleh. Berbagi angpao. Berbagi souvenir. Berbagi kue-kue. Semua gembira, semua bersukacita. Apalagi bocil-bocil dengan angpao yang jutaan. Senang betul mereka.

Dan saya tahu, lebaran selalu beda di hati kami bersaudara. Karena nyaris 20 tahun lalu ayah almarhum meninggalkan kami semua di hari nan fitri. Al Fatihah, semoga surga untukmu, Ayah.

Nah bagaimana dengan lebaranmu? Semoga menyenangkan ya. Mohon maaf lahir dan batin. Semoga semangat fitri hari lebaran membawa semangat baru dalam hidup kita semua.

Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us:

Pakailah Baju Terbaikmu Saat ke Masjid

Di Masjidil Haram Desember 2024. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Dulu saya nggak terlalu ambil pusing dengan pakaian yang saya kenakan saat ke masjid. Terlebih kalau atasan mukena dipakai dari rumah, bajunya kan tidak terlihat. Kadang pakaian untuk beribetan di rumah pun tetap dipakai.

Namun setelah umroh pertama dulu, saya jadi mikir soal baju tuh kalau ke masjid. Bukan apa-apa siy, tapi saya merasa kok saya berani sekali menemui sang pemilik hidup dengan baju sekadarnya.

Lha wong saya mau ketemu teman, ketemu relasi, ketemu klien, dll yang sama-sama orang saja, saya berpakaian sebaik-baiknya. Sejak itu, meskipun ke masjidnya hanya sebentar, saya berusaha memakai pakaian terbaik saya. Dan jelas bukan baju rumahan untuk tidur.

Masjid adalah tempat ibadah yang suci bagi umat Islam. Versi saya sebagai bentuk penghormatan, kita semestinya mengenakan pakaian terbaik saat memasuki masjid, terutama ketika melaksanakan sholat berjamaah. Berpakaian dengan baik bukan hanya mencerminkan adab dan kesopanan, tapi juga membantu meningkatkan kekhusyukan dalam beribadah.

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an: “Wahai anak cucu Adam! Pakailah perhiasanmu (pakaian yang baik) di setiap (memasuki) masjid…” (QS. Al-A’raf: 31)

Ayat ini menegaskan bahwa mengenakan pakaian yang bersih dan rapi saat ke masjid adalah bagian dari adab yang dianjurkan dalam Islam.

Masjid adalah tempat suci yang digunakan untuk beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah. Berpakaian sopan dan rapi menunjukkan rasa hormat terhadap rumah Allah dan orang-orang yang beribadah di dalamnya.

Pakaian yang bersih dan nyaman dapat membantu seseorang lebih fokus dalam sholat dan ibadah lainnya. Sebaliknya, pakaian yang kotor, bau, atau nggak pantas dapat mengganggu diri sendiri maupun orang lain di sekitar.

Ingatlah kalau ke masjid harus gunakan pakaian yang bersih, nggak bau, dan nggak kusut. Hindari pakaian yang terlalu ketat atau transparan. Pakaian untuk ke masjid sebaiknya menutup aurat.

Bagi laki-laki bisa memakai baju yang menutup tubuh dengan celana atau sarung yang sopan. Bagi perempuan bisa mengenakan pakaian longgar dan jilbab yang menutup aurat sesuai syariat.

Hal terpenting lainnya, jangan berlebihan.
Hindari pakaian yang terlalu mencolok atau berlebihan dalam berpenampilan.
Jangan memakai parfum yang menyengat, sehingga mengganggu orang lain.

Memakai pakaian terbaik saat ke masjid adalah bentuk penghormatan kepada Allah, masjid sebagai tempat ibadah, serta sesama jamaah. Selain itu, berpakaian rapi dan bersih juga membantu meningkatkan kekhusyukan dalam sholat.

Jadi, ayolah kita biasakan diri tampil baik setiap kali pergi ke masjid, sebagai bentuk pengamalan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari.

Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us:

Rayakan Komitmenmu

Taman Nasional Baluran, Banyuwangi, Jawa Timur. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Sejak pemerintah menggulirkan wacana PPN 12 persen awal November 2024 lalu, hal yang langsung terasa di saya, harga-harga barang wes naik duluan. Saya menandainya dari biaya belanjaan sama, tapi duit yang harus dibayarkan lebih banyak. Kemudian yang paling ekstrem berasa itu pemesanan makanan matang via aplikasi online. Harganya langsung naik kisaran 30-50 persen dari sebelumnya. Uang digital yang saya masukkan habis lebih cepat untuk belanjaan makanan dengan porsi yang lebih kurang sama.

Jadi saya wes berniat mengurangi belanja makanan online itu, kalau mau budget sama untuk makan saya setiap bulannya. Bulan November 2024 saya masih belanja makan online itu, tapi wes mulai membiasakan kembali bahwa pulang dari kantor atau aktivitas di luar, saya wes kudu sekalian beli makan atau sekalian makan di tempat sebelum pulang (terutama kalau saya kudu pulang malam). Dengan begitu saya tidak kena ongkir, PPN, parkir kurir, charge packing atau bungkus makanan seperti kalau pesan makanan online. Atau ya kalau mau dan nggak terlalu capek, ya masak sendiri. Mau bagaimana lagi, harga-harga naik, tapi nggak serta merta duit penghasilan kita ikutan naik.

Lalu dari kebiasaan November itu, saya berniat wes gak pesan makanan online lagi. Kebiasaan ini beneran jadi candu saat pandemi kemarin. Pesan makanan dan belanja online paling mudah dan terindikasi lebih aman daripada beli langsung. Pada waktu itu tentu banyak program promosi, termasuk bebas ongkir. Njur kebiasaan. Lupa kalau itu pemborosan nyata.

Beli makanan dan minuman yang sama kalau kita datang ke lokasi, anggaplah 50 rb, pesan online njur jadi 75-85 rb. Wes sekurangnya saya kudu bayar 25-35 rb itu untuk layanan jasanya. Hitung saja kalau 2x sehari selama sebulan. Nah setelah wacana kenaikan PPN itu jelas lebih tinggi lagi harganya. Sebenarnya PPN makanan itu nggak boleh dikenakan ke konsumen, itu pajak pemilik resto. Tapi mereka nggak mau menanggung dan dibebankan ke konsumen.

Akhir bulan November, saya pun mulai belanja beragam lauk pauk frozenan yang praktis dalam porsi yang saya anggap cukup untuk sebulan: ikan, ayam, daging, udang, cumi, kepiting, tahu bakso, telur, dll —wes komplit tenan. Termasuk beras, kentang, singkong, minyak goreng, gula, kopi, teh, garam, kerupuk, roti tawar, meses, keju, selai, margarin, bumbu-bumbu dapur, sambal, jajanan kering, aneka saus, dll kruncilan kebutuhan pangan dasar.

Saya memilih semua bahan makanan kesukaan saya. Termasuk melengkapinya dengan buah-buahan, sayuran dasar seperti sop, minuman praktis cepat saji, dll. Tentu juga kudu beli gas, sabun cuci piring, dll sebagai konsekuensi kalau memasak sendiri. Bebersih dapur dan nyuci piranti masak.

Coba nanti Desember satu bulan apakah saya berhasil untuk “nggak beli makan online” dengan memasak begitu atau malah gagal total dan tetep kudu beli online atau langsung ke TKP. Kalau gagal, ya saya kudu cari tambahan penghasilan untuk alokasi pangan sebulan.

Kan anggaran lainnya nggak bisa kita comot sesukanya. Ingat, freelancer kudu tertib atur uangnya kalau pingin tetap stabil hidupnya dalam beragam situasi kerja tidak menentu. Sudah biasa dengan penghasilan tidak menentu, membuat saya membuat aturan keuangan sesuai porsi yang menurut saya layak, nggak pelit tapi juga nggak berfoya-foya.

Usai belanja macem-macem kebutuhan masak yang bikin kulkas saya njur penuh, kebak tenan semua ruangnya. Ketahuan biasanya kulkas mung nggo nyimpen buah-buahan dan minuman kemasan, sekarang full. Saya lihat catatan pengeluarannya mung separoh dari biaya belanja makan online 2x sehari selama sebulan. Dan kayaknya bahan-bahan itu nggak bakalan habis sebulan.

Desember berlalu dan saya senang karena pagi sarapan nggak bingung mikir pesan apa ya, bikin apa ya. Wes saya catatin menu tanggal 1-30 untuk 3x makan apa saja. Bergantian. Misal pagi bikin roti panggang, jus, buah, air mineral. Siang makan berat nasi full ikan sayur, buah, dengan teh manis. Malam makan kentang rebus, sayuran rebus, telur, kopi. Dst.

Suka-suka saya untuk mengganti atau mengubah menu dengan model pengaturan porsi sesuai keperluan kalori saya. Mantap tenan. Ternyata gampang dan happy saja saya. Beberapa kali bahkan saya bawa bekal makan siang saat ke kantor, sehingga kerja yo nggak mikir beli makanan di luar atau pesan online. Selain kalau ke luar panas, ternyata juga menyenangkan bawa bekal sehat dari rumah. Jelas minim minyak dan pasti minyak goreng sehat.

Bahan-bahan makanan dari November akhir itu ternyata masih melimpah. Januari 2025 saya nggak banyak belanja, kecuali buah dan sayur. Jian kaget saya, memasak bisa seirit itu. Januari akhir saya baru berbelanja mengisi kulkas lagi untuk Februari. Dan Februari akhir nggak belanja karena Maret puasa. Makan hanya 2x buka dan sahur. Itu pun banyak undangan bukber dan dapat kiriman takjil dari kiri kanan. Wes tenan pasti cukup itu bahan pangannya. Ya kecuali sayur dan buah-buahan kudu beli lagi, karena ini rawan busuk kalau kelamaan disimpan.

Alhamdulillah 3 bulan kemarin saya lalui dengan no pesan makanan online dan hanya 4 atau 5x saya makan di luar untuk menjamu pihak lain saat saya ulang tahun. Ini siy beda kasus. Artinya saya juga tidak bisa bener-bener “nggak makan di luar”. Tetap itu. Lha ketemu saudara, keluarga, teman ya makan; jumpa klien yo makan, ketemu sponsor yo makan, ketemu produser harus makan, ketemu penerbit ya makan lagi. Semuanya jelas makan di luar rumah.

Tapi bahwa saya berhasil menata ulang uang saya untuk makan dengan sedikit effort ini, versi saya “luar biasa”. Dan duit yang tersisa bisa saya gunakan untuk piknik ikut OT tanpa perlu khawatir mencomot anggaran lain atau “ngutang” tabungan.

Alhamdulillah. Saya merayakan komitmen “nggak beli makanan online” yang sudah 3 bulan berhasil tanpa keluhan itu dengan ikut piknik lebih banyak. Januari saya ke Gunung Bromo. Februari saya ke Banyuwangi sampai Kawah Ijen yang luar biasa. Maret full puasa dengan beragam gaweyan sosial yang butuh dana besar, tapi tetep lempeng karena ada “sisa dana makan” itu. Tentu lebaran harus mudik dan kumpul keluarga wes pasti duit lagi. April sampai Juni saya sudah full mendaftar piknik. Alhamdulillah. Juli sampai Desember belum terprogram. Masih iyak-iyuk atur duitnya. Atau kamu mau sponsori saya piknik? Hehe….

Itu bentuk syukur saya atas komitmen sederhana, yang ternyata bikin saya melek lagi tentang uang. Tapi tetep, apapun itu bentuk penghematannya; saya ya harus kerja keras dan cerdas selagi mampu. Karena masa tua nggak ada penjaminnya, ya kudu saya pribadilah yang harus mengusahakan sejak dini agar hidup tetap sehat, nyaman, damai, sejahtera, dan panjang umur yang berkah. Amin YRA.

Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us: