DSBK XVI 2025 (8): Hutang Cinta

Saya di depan Museum Mulawarman. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Cerita saya bagian ini lebih mudah dipahami oleh mereka yang menerima adanya karma dan reinkarnasi. Abaikan saja bila anda tidak mempercayai atau tidak menerima masalah karma dan reinkarnasi. 😀 🙏

Salah satu alasan penting di luar urusan mencari ilmu, silaturahmi di Samarinda; ada hal penting yang harus saya bereskan di Kaltim, tepatnya di Kutai Kartanegara. Hutang cinta yang harus dibayar. Urusan minta maaf dan memaafkan antar generasi yang harus diselesaikan.

Tahun 2018 pas saya ke Kaltim, saya juga pergi ke Tenggarong. Kami berdua (saya dan Uda) motoran dari Samarinda ke areal Kutai Kartanegara (Kukar). Termasuk mengelilingi Pulau Kumala.

Saya agak ngotot waktu itu agar dibawa ke Kukar karena ada urusan “energi” yang harus saya bereskan. Hutang cinta yang harus dibayar. Janji yang harus ditunaikan. Saya pribadi menerima hal tersebut karena adanya peristiwa yang mau nggak mau membuat saya menerima karma dan reinkarnasi. Termasuk ada banyak tempat yang saya tahu pasti belum pernah datang, tapi semua begitu familiar dan dekat. Begitu juga dengan orang-orang tertentu. Belum pernah ketemu, tapi bisa langsung dekat seperti sudah bertahun-tahun mengenal dengan baik.

Jadi, ketika menyadari saya di pastlife bagian dari trah bangsawan Majapahit yang begini begitu dan punya hutang janji pada pihak raja-raja Kutai Kartanegara; kalau dinalar ya nggak logis. Tapi ya begitulah. Dan hutang itu nggak akan pernah beres kalau nggak dibayar. Jadi pada tahun 2018 ketika ada kesempatan ke Kaltim, saya berpikir untuk membersihkan dan membereskan hal tersebut. Tujuannya agar hati jiwa beneran bersih.

Tapi ya ndilalah saat itu, areal yang hendak saya kunjungi sedang ditutup untuk umum. Pokoknya nggak bisa masuk areal makam raja-raja Kutai Kartanegara. Wes begitu saja. Saya lupa dulu kenapa ditutup, entah rehabilitasi atau acara apa. Saya hanya bisa sedih, karena belum tahu kapan lagi akan datang ke tempat itu. Artinya hutang karma itu belum diselesaikan.

Jadi begitu tahu acara di Samarinda tahun 2025, saya juga sudah berniat membereskan utang-utang tersebut. Saya wajib membayar karma. Pikir saya, kalau nggak ada jadwal di acara tujuan ke tempat yang saya maksud, saya akan mengurusinya secara mandiri. Bahkan kalau harus menginap lebih lama.

Jadi alasan tersebut juga menjadi pendorong saya untuk pergi ke Samarinda. Bagaimanapun saya merasa harus membereskan masalah tersebut. Biar nanti nggak perlu “reinkarnasi” terlahir kembali untuk membayar utang-utang tersebut.

Itu hal yang menjadi kesadaran jiwa saya. Bagaimanapun sesuatu itu ada energinya. Energi tidak terbatas ruang dan waktu. Kalau ada janji yang belum ditunaikan, itu ya masih nempel aja energinya. Nanti kalau sudah ditunaikan atau dipenuhi, dibebaskan, pasti akan terbebaskan.

Bersambung
Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us:

DSBK XVI 2025 (7): Ajang Temu Kangen

Saya bersama Mas Amien dan istrinya. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Saya termasuk yang senang ikut beragam acara seminar baik akademis maupun non akademis, karena di tempat itu bisa sekaligus ajang temu kangen. Berjumpa dengan para senior, teman-teman seangkatan, yunior-yunior, atau bahkan relasi baru yang membawa banyak manfaat.

Sudah nggak terhitung berapa banyak saya mendapatkan pekerjaan menulis buku (biografi, company profil, naskah fiksi, buku nonfiksi, skenario, dll) atau mengisi kelas-kelas penulisan dari relasi-relasi baru; yang beneran baru ketemu di acara-acara semacam itu. Nggak terhitung pula berapa banyak buku yang terjual dari pertemuan dengan pihak-pihak baru.

Intinya memang menambah silaturahmi itu menambah rezeki. Makin jauh jalanmu, makin banyak temanmu, makin banyak pula rezekimu. Itu bagian prinsip hidup yang saya anut.

Jadi ya wes biasa saja bagi saya jalan jauh, ikut acara seminar, keluar biaya ini itu…. Tenang, nanti dapat gantinya lebih besar. Selalu begitu prinsip hidup saya berkaitan dengan charge untuk mendapatkan ilmu.

Di acara DSBK XVI 2025 ini saya juga jumpa banyak teman senegeri asal di Sasindo UGM. Sekurangnya ada Mas Amien (panitia kunci DSBK XVI). Saya mengenali beliau sebagai alumni Sasindo UGM karena ada di Facebook. Tetapi selama ini hampir nggak pernah ada komunikasi apapun. Selain ya, sesekali saya like postingannya yang berkaitan dengan sastra, bahasa, budaya.

Pas di acara DSBK ini, hadeuh, jumpa untuk foto sama beliau saja… wes, uangele rek, saking sibuknya 😀 Saya bae bisa foto pas di akhir acara. Itu pun beliau sarapan, masih keganggu ini itu yang mau pamitan, minta foto, minta contact, konfirm… heleh, banyak wes acaranya. Makan sepiring bae gak kelar-kelar gegara kesela-sela terus😄😅 Semoga lelahnya diganti amal jariyah yang membawa kebaikan. Amin YRA.

Beliau ini salah satu kunci kesuksesan acara DSBK ini. Yach, seperti rerata alumni UGM: tenang, kalem, anteng, nggak banyak bicara, tapi banyak kerja dan banyak kontribusi secara luas. Kebanyakan ya begitu kalau saya ketemu sesama alumni UGM dari berbagai latar belakang studi. Kultur kerja keras dalam kondisi kadang serba terbatas, membuat kami cenderung bekerja ekstra dibandingkan rerata alumni kampus lain. Ini siy pendapat saya pribadi ya. Sampeyan boleh nggak sependapat.

Kemudian saya juga ketemu Prof Chairil dari Pontianak, Kalimantan Barat. Ceritanya tentang masa lalu Sasindo UGM, sedikit banyak membuka gambaran bahwa sekolah dulu jauh lebih berat daripada sekarang. Toh, didikan UGM jugalah yang membuat banyak orang survive, eksis, jadi pimpinan di berbagai bidang kerja.

Saya bersama Mbak Erna dan temannya. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Ada pula Mbak Erna dari Universitas Tarakan, Kaltara. Semula saya agak lupa ketika disapa. Lha dulu ketemu masih belia pas studi S-1. Sekarang anaknya aja sudah kuliah. Betapa cepatnya waktu berlalu. Menyenangkan juga berbagi cerita dengan mereka. Memang kalau satu asal itu, berasa ketemu saudara di perantauan.

Kalau nggak di acara begini, pasti sulit lah ketemu mereka. Apalagi kalau sudah ketambahan kata “menjabat”. Wes… urusannya jadi panjang. Tapi kalau di acara begini, gampang jumpanya. Kadang nggak janjian pun bisa jumpa.

Saya ada jumpa pula dengan Prof Ersis dari Kalsel, yang sempat mengatakan ragu-ragu mau menyapa duluan. Karena wajah saya berbeda dari terakhir saat kami jumpa (sekitar 2019 sebelum pandemi di Jogja). Menurut beliau saya makmur sekali sekarang (baca: gemoy, gemuk 😁😅). Saya pun berkelakar ya kalau sudah nggak disertasi, pasti gemuk. Nggak banyak pikiran. Sekolah S-3 memang sering bikin langsing mendadak 🤣

Saya dengan Prof Ersis dari Kalsel. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Tentu juga saya jumpa teman-teman lain di lingkungan Kaltim. Yang walaupun berjauhan kota, kalau masih di provinsi yang sama, kita bela-belain jumpa lah. Kapan lagi ke Kaltim. Pokoknya ada acara begini, kudu banget dimanfaatkan untuk ketemuan. 😀

Bagi saya, acara semacam ini beneran bermanfaat. Itu sebabnya kalau sudah dengar info dari jauh hari dan tahu butuh biaya besar; biasanya saya juga mulai menabung. Selalu begitu, karena ya terbiasa tidak pernah minta ganti uang. Lha kalau kamu penulis, apalagi freelancer, mo minta ganti sama siapa? Jadi kalau kampus nggak kasih uang untuk acara seperti itu, bagi saya yo wes biasa saja. Allah yang Maha Kaya, ngasih rezekinya suka lewat jalan nggak terduga dan biasanya jauh lebih banyak, lebih mudah caranya.

Bersambung
Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us:

DSBK XVI 2025 (6): Menjadi Dosen, Ternyata Begitu Rupa

Sesaat sebelum acara penutupan DSBK XVI 2025. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Acara penutupan seminar berlangsung meriah. Masih banyak yang berjoget dan menyanyi sampai jauh malam. Karena sudah janjian sama Uda, saya langsung undur diri dari ballroom.

Saya dan Uda bercerita banyak tentang banyak hal. Kemudian menyadari bahwa dunia kampus memang penuh dengan beragam kondisi. Tuntutan tridharma PT yang aduhai, orang-orang toxic, tuntutan dan beban administratif, gaji kecil dengan banyak biaya (seminar, publikasi, riset, pengabdian, dll pendukung) yang harus ditanggung oleh dosen ybs (dan seringnya tanpa diganti oleh pihak kampus).

Bagi saya pribadi, mungkin jadi dosen atau enggak ya nggak terlalu ngaruh. Itu kenapa saya yo nggak beribetan dengan gaji dosen yang superkecil. Alhamdulillah saya wes survive sebagai penulis. Menjadi dosen karena saya patuh amanat ibu saya yang ingin anaknya ada yang guru besar; dan biar ilmu saya gegara sekolah tinggi itu lebih banyak tersampaikan kembali pada lebih banyak orang. Caranya ya mengajar terstruktur, menjadi dosen.

Kalau beneran murni sebagai dosen dengan gaji seuprit gitu, jelas nggak mungkin hidup seperti kebiasaan saya yang doyan jalan dan senang dolan. Tahu sendiri berapa gaji pokok dosen baru, di Jogja pula yang kondang UMR paling rendah di Indonesia.

Acara penutupan seminar DSBK XVI 2025 di ballroom Hotel Hariss. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Jadi, saya menganggap operasional saya sebagai dosen ya wes ikut serta operasional harian kerja saya sebagai penulis. Dengan begitu, saya nggak merasa “sakit hati” karena mengeluarkan ini itu, membayar acara ini itu –membawa nama kampus, tapi nggak sepeserpun diganti oleh kampus.

Feel free. Dan itu bikin hati saya lebih ringan mengeluarkan charge investasi beragam ilmu yang berkaitan dengan riset pengabdian bidang penulisan kreatif, seperti ikut acara DSBK XVI 2025 ini.

Uda dengan waktu yang lebih lama sebagai dosen, ya karena memang niat awalnya menjadi dosen; mengatakan sempat bengong dengan gaji yang kecil. Sekolah begitu mahal, capek, waktu, energi, tahu-tahu jadi dosen dengan gaji yang nggak layak dengan ukuran biaya sekolah. Untung lah kemudian banyak gaweyan lain yang mendukung finansial, yang terpenting mencari rezeki yang halal.

Ya, karena kalau mengandalkan gaji dosen, beneran nggak cukup. Hidup perlu rumah, kendaraan, pangan sandang sehari-hari, operasional kerja, belum kalau ada istri anak dll. Biaya menjadi sangat tinggi. Intinya, sekedar menerima uang dari menjadi dosen; rerata tidak cukup untuk hidup. Harus cari sumber lain.

Di situ saya menyadari, betapa beruntungnya saya masuk dunia pendidikan tidak bermotif uang atau cari kerja. Kalau iya, pasti bawaannya kesal melulu. Pemerintah semestinya sadar kalau ingin bangsa ini maju, para pendidik (guru, ustadz, ustadzah, mentor, dosen, coach, trainer, dll sebutan) itu harus digaji dengan layak.

Saya dan Uda, saat sarapan di Hotel Hariss. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Bukannya malah disuruh terima ikhlas dengan alasan itu pekerjaan pengabdian. Sementara gaweyan yang nggak ada hubungan dengan kemajuan generasi penerus malah punya standar gaji yang tinggi. Ironis di tengah slogan mencapai generasi emas.

Acara DSBK XVI 2025 ini versi saya juga sangat luar biasa. Memberikan usulan kepada berbagai pihak, terutama Pemerintah untuk lebih peduli pada sastra. Pembangunan dunia sastra memang nggak serta merta memberikan dampak secara langsung, tapi tanpa sastra jelas kita akan semakin jadi bangsa yang kehilangan budi.

Sastra adalah penyeimbang pembangunan fisik yang berlangsung massif. Sebagai bentuk pembangunan jiwa, tentu tidak fair kalau pemerintah cenderung “mengabaikan”. Saya pribadi berharap, semua usulan saran dll maklumat DSBK XVI 2025 ini bisa ditindaklanjuti Pemerintah dan pihak terkait dengan baik.

Bersambung

Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us:

DSBK XVI 2025 (5): Sastrawan Harus Berdaya

Launching buku saat DSBK XVI 2025. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Sebelum tidur saya berpesan pada resepsionis kalau kawan sekamar saya datang; memberitahu saya lewat telepon kamar. Takutnya nggak dengar kalau hanya telepon HP.

Sebentar saja saya sudah terlelap. Capek lah beraktivitas dari jam tiga pagi sudah hampir pagi lagi. AC yang lumayan dingin, badan segar usai mandi, kamar nyaman. Jam dua dini hari saya terbangun; nggak ada kabar tentang kawan saya. Cek ke resepsionis, memang nggak ada yang datang. Saya tidur lagi sampai pagi.

Acara sarapan, selalu paling heboh. Kebayang kan 200-an orang ngumpul ngobrol, foto-foto, becanda. Weiz…. saya masih beradaptasi dengan Samarinda yang panas. Jogja wes panas, ini terasa lebih panas.

Sebagian peserta DSBK XVI 2025 di lobi Hotel Hariss Samarinda. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Lalu mulailah acara kunci. Seminar marathon, dengan 11 pembentang materi (jadi 9 karena 2 berhalangan) dari 3 negara, Indonesia, Malaysia, Brunai Darussalam. Pas usai nulis naskah untuk DSBK XVI ini, saya sempat kepikiran untuk mengajukan diri sebagai pembentang materi.

Namun mengingat kasus di Sulawesi, saya tahu diri. Saya bukan etnis Melayu, bukan sastrawan Melayu, dan nggak membahas urusan kesastraan Melayu. Saya hendak cari ilmu dan insight baru, bukan cari musuh atau gegeran beda pendapat. Jadi saya wes ikhlas, sukarela datang sebagai peserta.

Presentasi dan diskusi sastra berlangsung meriah, semangat, dan terbuka. Kalau nggak dibatasi waktu, bisa bablas itu yang bertanya. Sastra di Indonesia secara umum kan memang problematis. Lebih banyak masalah dibandingkan dengan sisi manfaat yang diterima oleh mereka yang bergerak di luar sastra.

Peserta DSBK XVI 2025 di halaman Museum Mulawarman, Kutai Kartanegara. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Kita masih sering banget dengar: “Kalau kamu menekuni sastra, mau hidup dari mana?”; “Sastra? Mau makan apa?”, “Kerja tuh yang bener, jangan ngelamun (bersastra) aja!”; “Pilih bidang yang ada duitnya! Sastra mengajak miskin!”; dll. statemen setipe yang mencerminkan betapa masih tidak bijaknya anggapan masyarakat luas terhadap bidang sastra dan penulisan kreatif secara umum.

Itu sebabnya ketika saya tahu, bahwa saya suka menulis sedari belia –dan untungnya juga sudah menghasilkan uang sejak kecil (saya biasa menerima honor dari nulis cerpen di media nasional sejak SMP); saya bertekad kalaupun saya berada di jalur penulisan kreatif, saya akan hidup baik dan layak seperti mereka yang bekerja dari jalur-jalur yang dianggap menjanjikan.

Begitulah. Kesadaran itu yang membuat saya bekerja dengan sangat keras. Menulis sangat banyak. Belajar dengan frekuensi sangat tinggi dan nggak pernah berhenti. Menimba ilmu dari beragam cara —yang kadang-kadang nggak murah; demi agar saya survive sebagai penulis. Penulis juga hidup dengan layak seperti mereka dari bidang kerja lainnya.

Alhamdulillah. Karena saya survive itu, sekurangnya di keluarga besar nggak ada yang mencela pekerjaan saya sebagai penulis. Dan itu yang membuat saya yakin, kalau sampeyan memilih bidang tulis, sastra, dll yang berkaitan dengan penulisan kreatif; survivelah. Sastrawan harus berdaya. Penulis harus survive. Jadikan dirimu berdaya, sehingga nggak ada orang-orang yang memandang sebelah mata: “menulis hanya pekerjaan orang malas yang suka melamun dan nggak menghasilkan uang”.
Bersambung

Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us:

DSBK XVI 2025 (4): Pembukaan, Pesta yang Keren dan Meriah

Saat pembukaan DSBK XVI di ballroom Hotel Hariss. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Wah, pas mau makan malam saya takjub. Sudah lewat jam makan, tapi makanan masih melimpah ruah. Ruang acara di ballroom sudah full orang, banyak yang masih lalu lalang. Rerata mereka berpakaian keren dan meriah khas Melayu. Karena nggak wajib memakai pakaian adat, saya standar saja pakai batik. Ogah ribet jaritan kebaya😂

Pas selesai saya makan, barulah acara dimulai. Bleeer…. berasa masuk ruang pesta. Meriah, semarak, gembira, dan bersuka cita. Parade pantun, tari-tarian, gerak lagu, puisi lirik, sholawatan, dll seni yang khas Melayu disajikan bergantian dengan sangat apik.

Saya dengan anggota DPR RI Komisi Pendidikan dapil Kaltim. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Sampailah pada sambutan-sambutan dan penyerahan sertifikat oleh Wakil Gubernur Kaltim. Oh, orang-orang pentingnya semua “ditodong” baca puisi dan berkenan… Ya kan, nggak setiap orang bisa baca puisi. Toh kalau jadi pejabat tuh ya pokmen harusnya bisa. Menyanyi, berjoget, termasuk keterampilan yang kudu bisa kalau mau jadi pejabat di Indonesia. Nggak terkecuali di Kaltim.

Saya perhatikan desain visual lighting dll penataan ruangnya keren banget. Acara demi acara berlangsung cepat, plek plek, dan nggak banyak jeda. MC di depan menguasai betul apa yang harus mereka kendalikan.

Saya, anggota DPR RI, dan Bu Guru Muhammadiyah. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Cuman versi saya yang agak mengganggu itu teman teman dari media (cmiiw) yang wes tahu acara sebesar itu, lha kok bajunya (maaf) kalau saya sebut seadanya. Banyak yang kaosan oblong, sendalan, terlihat sekenanya, rambut acak-acakan. Bahkan ada juga orang media, perempuan yang nyisir rambut panjangnya di samping saya tanpa etika bilang maaf. Dandan gitu mbokya minggir ke tepi yang nggak ada orang atau ke toilet.

Panitia mestinya juga perlu reminder agar awak media yang meliput juga wajib berpakaian rapi standar. Berbatik, bersepatu, rambut panjang diikat rapi. Itu hal kecil yang tertangkap mata saya karena riwi riwi depan sekitaran saya. Terasa njomplang dengan mereka yang dandan super menunjukkan kebesaran dan marwah Melayu Nusantara.

Meskipun lelah, kena musik saya yo ikut goyang goyang kaki. Sampai akhirnya acara selesai. Foto foto berbagai kelompok di depan panggung utama tuh berasa nggak selesai-selesai. Saya wes nggak mikir duwe foto. Males selfi juga. Untung ada seseibu dari sekolah Muhammadiyah yang mau motoin, ya tapi jangan harap fotonya secanggih fotografer yes😂

Apapun itu, pokmen keren untuk seluruh panitia, peserta, pendukung, dan semua yang terlibat acara malam itu. Keren, Meriah, sukacita, dan happy. Usai dapat foto, wes saya menyalami orang-orang sekitaran dan bergegas ke kamar. Ngantuuuk pol. Terus besok mulai acara inti. Marathon cuy….
Bersambung
Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us:

DSBK XVI 2025 (3): Kunci Kamar Saya Mana?

Saya dengan Prof Chairil di lobi hotel Hariss. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Sampai hotel Hariss, saya diminta langsung ke Lt 5. Di sini kening saya berkerut. Kok aneh. Kenapa nggak ada satu pun panitia di lobi? Tapi saya mengekori petugas karena lift nggak jalan tanpa kartu.

Sebentar saya registrasi wes beres. Panitia sigap. Maturnuwun. Baru ketika saya minta kunci kamar, kami bersitegang. Panitia bilang kunci kamar ada di lobi dan harus registrasi di sana. Padahal tadi saya di lobi nggak ada siapa pun, kecuali resepsionis hotel. Tapi saya pikir, mungkin petugas atau panitia sekarang sudah ada.

Panitia berbaik hati mengantar saya turun ke lobi dan mengizinkan koper saya taruh di lantai 5. Pas sampai lobi, nah baru dia tahu kalau nggak ada satu orang pun. Mo ngekek, tapi saya tahan. Dia sibuk telpon sana sini. Saya info ke Mas Amien, tapi beliau bilang mau cek dulu; karena sedang sibuk beut untuk persiapan pembukaan dan nggak bisa ditemui.

Saya yang sedari dini hari wes aktivitas, berasa lelahnya saat itu. Gerah, panas, nggak nyaman. Pingin langsung mandi dan istirahat. Terpaksa tertunda. Di sini saya jumpa Prof Chairil dari Pontianak. Setipe dengan saya, beliau juga belum bisa mendapatkan kamar. Kami sempat ngobrol tentang asal usul daerah masing-masing. Lho saya jumpa juga dengan alumni Sasindo UGM. Alhamdulillah. Sehat-sehat dan terus kreatif berkarya, Prof. Chairil 🙏

Beberapa saat kemudian, panitia menyarankan saya makan dulu. Beuh, dengan lelah keringetan gitu… makan jelas nggak mood. Pilihan lain saya gabung mandi bebersih di kamar orang, nanti pindah. Malah ribet ntar saya kudu gotong-gotong bongkaran koper. Saya emoh.

Tanya sana sini, itu bagian urusan perkuncian buka selesai maghrib (padahal saat itu wes hampir jam 19 atau 7 malam, maghrib ya sudah selesai to) atau lepas pembukaan ntar malam. Weh, iki bagian kunci kudu ditatar dulu. Apalagi masih banyak peserta yang baru datang dan kondisi lelah, tapi nggak bisa langsung dapat kunci kamar.

Mas Amien ngasih solusi agar saya join dengan temennya yang partner tidurnya belum datang. Nanti tinggal tukar aja. Saya setuju asal nggak disuruh pindah lagi. Oke.

Baru saat itulah, si pengurus kunci datang dan mengurusi saya. Dia ini pake beribetan juga dengan panitia. Entah salah paham apa. Akhirnya saya dapat nomor kamar dan kuncinya. Wes bilang Mas Amien soal itu dan temennya nggak jadi sekamar dengan saya. Maaf ya, Mbak Jannah 🙏

Begitu dapat kunci kamar, saya bergegas. Kami menginap di Hotel Hariss Samarinda. Begitu masuk, sesuai kebiasaan saya cek cek kondisi. Lampu, AC, kamar mandi, air panas, cermin, hidden camera, dll. Semua oke. Standar sesuai aturan hotel bintang 4 lebih, tapi belum 5.

Saya mandi beberes, sholat, dll. Saat itu, benernya mata saya sudah liyer. Ngantuk banget. Masyaallah kalau nggak inget saya ke sini dengan niat mencari ilmu, wes pasti memilih tidur. Baru setelah minum multivitamin, mata saya rada melek.

Jam 20 an saya baru turun. Wes mikir kalau makan malam terlewat yo nanti pesan makan di luar. Ini Nusantara, duitnya isih IDR, bahasanya Indonesia. Samarinda bukan tempat yang benar-benar asing untuk saya. Gampang lah.

Bersambung
Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us:

DSBK XVI 2025 (2): Yuhuuu, ke Samarinda Lagi…

Saya di Bandara Aji Pranoto, Samarinda. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Kali ini ke Samarinda saya juga pikir begitu, wes terserah panitia. Boleh ya mangkat, nggak lolos ya mungkin cari acara seminar lain di sekitaran Samarinda.

Saya masih mengisi workshop penulisan di luar kota, jelang akhir Mei, ketika mendapat pengumuman list nama peserta DSBK XVI. Oh ada nama saya. Yuhuuu, ke Samarinda lagi…! Dan kabar baiknya, peserta hanya perlu menanggung transport berangkat pulang ke lokasi secara mandiri.

Sementara hotel, akomodasi, operasional acara, dll. selama berlangsung kegiatan ditanggung panitia seluruhnya. Plus tiap peserta dapat uang saku harian! Yuhuuu… 🥰 Bling-bling saya gembira betul. Alhamdulillah.

Dari komunikasi dengan Mas Amien (panitia kunci DSBK XVI dan juga alumni Sasindo UGM) saya sempat menanyakan tentang tulisan, apa bisa nyusul. Diperbolehkan dan 2 harian saya serius tenan mempersiapkan materinya. Alhamdulillah ikut dipublikasikan di buku “Perbincangan Sastra Melayu: Estetika, Didaktika” yang ikut jadi isian materi goodie bag acara internasional itu.

Begitu mendapatkan undangan resmi, saya segera mengurus surat tugas (meskipun ya sekedar surat, kampus nggak mbayari biaya saya pergi ke Kalimantan). Saya siy nggak ambil pusing. Lha dulu saja nggak jadi dosen, saya biasa ikut serta berbagai seminar internasional jauh-jauh dari Jogja, kok sekarang nggak mau hanya gegara kampus nggak kasih duit. Kan kemunduran kalau begitu.

Begitu surat resmi sudah aman dan jelas, saya langsung pesen tiket pesawat ke Samarinda, memesan mobil jemputan ke bandara, mengkomunikasikan dengan beberapa pihak di Samarinda, memesan oleh-oleh, menyiapkan sejumlah pakaian untuk kegiatan agar nanti tinggal memasukkan ke koper.

Hari keberangkatan, jam 3 dini hari saya wes bangun, packing, bersiap-siap sampai jam 5 Shubuh. Sarapan dll sampai jam 7 pagi. Lalu berangkat ke Bandara YIA Jogja. Dari rumah saya sekira 2 sd 3 jam kalau macet. Kalau normal siy ya 1 jam lewat. Kali itu saya perlu 2 jam lewat untuk tiba di bandara.

Pesawatnya delay 30 an menit. Jadilah sampai bandara Aji Pranoto Samarinda juga mundur setengah jam. Antri bagasi, praktis jam 15 WITA saya baru keluar bandara. Kawan saya saat studi S3, Pak Arifin yang sudah 30 tahun jadi dosen Unmul dan menetap sebagai warga Samarinda, sudah ada di sana menjemput saya. Untung beliau belum tugas ke desa-desa. Jadi masih bisa menjemput dan mengantar saya. Maturnuwun, Pak Arifin 🤩🙏

Usai makan, kami mampir ke kampus Mulawarman. Wah, model jalanannya seperti di Unsrat Manado, naik turun, dataran tinggi. Intinya, kalau jalan atau ngepit manual, jelas menggos-menggos 😂🤣

Saya dengan Abah dan Mamahnya Uda beserta salah satu cucunya. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Usai itu, sebenarnya saya bisa langsung ke hotel. Kalau begitu, pasti nanti saya males untuk ke rumah Abah Mamah. Ini orang tua Uda, lulusan ISI Jogja; tempat saya pernah nginap beberapa tahun sebelumnya saat dolan di areal Kaltim. Sudah seperti keluarga.

Jadi Pak Arifin bilang bagus ke sana dulu, baru ngedrop saya ke hotel. Biyuu, kesasar tiga kali kami meskipun pake Google Maps🤣 Beuh Samarinda wes progresif cepat dari 7 tahun sebelumnya.

Senangnya jumpa Abah Mamah sehat. Uda masih tengok temen yang sakit. Duh, lama nggak jumpa orang tua itu bagi saya kok serasa anak durhaka yang nggak pernah pulang 😂 Tentu bukan begitu ya. YK ke SMD nggak bisa jalan kaki cuy, butuh cuan untuk terbang. Nah ituuuu….

Sejam lah kami ngobrol, belum cukup lepas kangen, tapi saya harus beranjak karena acara pembukaan DSBK mulai jam 19 sd 23 nanti.
Bersambung

Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us: