Kita (Sungguh) Nggak Butuh Validasi Orang Lain untuk Maju

Setelah kegiatan-kegiatan Agustusan 2025. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Hidup saya (nggak selalu) mudah. Banyak jatuh bangun kehidupan yang saya lewati hampir setengah abad ini. Beragam keribetan menghadapi kenyinyiran dan kejulidan orang karena keberadaan saya yang lajang nggak sekali dua kali saya hadapi. Kadang-kadang rasanya begitu nggak sabar, tapi beruntung saya sudah terbiasa cuek dengan hal-hal yang versi saya nggak menambah isi saldo saya.

Ketika saya baru mau studi S-2, semua tetua di keluarga besar mencela dan ribut kalau makin tinggi sekolah, makin sulit jodohnya. Saya lempeng saja, sekolah saya yang menjalani, biaya saya yang bayarin. Nggak ada hubungannya dengan mereka. Urusan jodoh, itu seperti urusan kematian. Nggak ada yang tahu kapan datangnya.

Lalu ketika saya mau studi S-3, cercaan keluarga besar lebih ekstrim. Ibu saya sampai mengatakan bahwa mereka keterlaluan, bukannya mendukung keponakannya (saya) terdidik, tapi malah menghalangi kemajuan. Saya menenangkan ibu saya agar nggak menanggapi dengan emosi mereka yang asal bicara. Studi saya lanjut terus sampai selesai, dan saya baik-baik saja dengan tentangan mereka. Lha wong mereka yo nggak nyumbang sepeserpun biaya studi saya kok.

Dari situ saya belajar, untuk maju kita harus punya tekad kuat. Sungguh nggak butuh validasi atau kesepakatan dari pihak lain yang nggak ada kontribusinya dalam hidup kita. Coba kalau saya mendengarkan omongan mereka saat itu, mungkin saya belum sekolah tinggi, jodoh pun belum datang.

Versi saya, hidup saya itu tanggung jawab dan urusan pribadi. Saya memilih sesuatu, berarti harus siap dan sadar atas konsekuensinya. Selama itu sanggup saya jalani, ya lakukan saja. Masih banyak putusan besar lainnya dalam hidup saya, yang dianggap nggak biasa oleh orang lain (terutama di keluarga besar), tapi ya tetap saya lakukan. Karena kemajuan diri saya, kesejahteraan hidup saya nggak tergantung omongan mereka.

Nah, bagaimana denganmu? Pernah nggak sih kamu merasa capek banget karena seolah hidupmu harus selalu dapat lampu hijau dari orang lain? Mau ambil keputusan kecil sampai besar, rasanya masih nunggu komentar, pujian, atau bahkan sekadar “like” di media sosial. Kalau responnya sepi, langsung ragu sama diri sendiri.

Padahal, kalau dipikir baik-baik, kita sungguh nggak butuh validasi orang lain untuk maju. Salah satu jebakan terbesar di zaman sekarang adalah membandingkan diri sendiri dengan orang lain. Kita gampang merasa minder karena melihat orang lain lebih sukses, lebih cantik, lebih kaya, lebih apa saja. Akhirnya, kita mencari-cari pengakuan lewat ucapan orang lain, seakan kalau nggak dipuji, berarti kita gagal.

Padahal hidup ini bukan kompetisi siapa yang paling hebat, bukan ajang pamer pencapaian. Hidup adalah perjalanan personal yang penuh warna. Setiap orang punya jalannya sendiri, punya ritmenya sendiri. Dan yang lebih tahu arah itu siapa? Ya kita sendiri, bukan orang lain.

Orang bisa bilang apa saja tentang kita. Ada yang memuji, ada yang meremehkan, bahkan ada juga yang sekadar mengomentari tanpa tahu ceritanya. Tapi, itu semua sifatnya sementara. Hari ini dipuji, besok bisa dikritik. Kalau kita terus bergantung pada validasi dari luar, kita akan kelelahan.

Validasi yang sejati itu datang dari dalam diri sendiri. Saat kita bisa berkata, “Aku sudah berusaha sebaik mungkin,” atau “Aku puas dengan prosesku,” di situlah sebenarnya kita sudah menang.

Nggak perlu menunggu orang lain berkata, “Kamu hebat,” karena kita sudah tahu dan merasakan sendiri perjuangan yang kita jalani.

Untuk bisa bersikap seperti itu, kita butuh percaya diri yang kuat. Percaya diri bukan berarti keras kepala, menutup diri dari masukan, atau merasa selalu benar. Percaya diri berarti tahu apa yang kita mau, tahu kenapa kita memilih jalan itu, dan berani melangkah walau belum ada yang mendukung.

Masukan atau saran dari orang lain tetap bisa jadi bahan pertimbangan, tapi keputusan akhir tetap ada di tangan kita. Studi S-3 saya itu saya anggap “kecelakaan” karena nggak terencana. Pembimbing saya mengatakan kalau masih mau lanjut sekolah, ya segera saja. Karena UGM makin lama makin mahal dan aturannya makin beragam. Dengan berbagai pertimbangan dan konsekuensi, akhirnya saya memilih mengikuti saran beliau. Dan syukurlah semua terlewati dengan baik. Kalau saat itu saya memilih studi S-3 nanti-nanti, wes mungkin nggak kesampaian juga; karena biaya yang makin tinggi dan seleksi makin ketat karena makin banyak peminat, sementara kapasitas sedikit.

Begitu juga dengan proses. Kadang kita terlalu fokus pada hasil, sehingga lupa menghargai perjalanan. Padahal, setiap langkah kecil yang kita ambil adalah bagian dari kemajuan. Ketika kita berhenti mencari validasi, kita bisa lebih menikmati proses itu tanpa beban.

Saya lebih sering fokus untuk apa yang jadi tujuan. Bayangkan saja kalau energi yang biasanya habis untuk mikirin, “Apa kata orang?” Nah, kalau energi itu kita alihkan untuk belajar hal baru, memperbaiki diri, atau bahkan sekadar menjaga kesehatan mental, hidup pasti jauh lebih ringan. Kita bisa benar-benar berkembang, bukan sekadar berputar-putar tergantung opini orang lain.

Pada akhirnya, yang paling penting adalah bagaimana kita melihat diri kita sendiri. Saat bisa menatap cermin dan berkata:
“Aku bangga dengan diriku, dengan segala jatuh-bangun dan proses yang sudah kulalui,”
itu jauh lebih berharga daripada seribu tepuk tangan dari luar. Karena pujian orang lain hanya singgah sebentar, tapi penghargaan dari diri sendiri bisa jadi bekal seumur hidup.

Jadi, jangan tunggu validasi orang lain untuk melangkah. Karena kebenarannya, kamu lebih dari tahu dirimu sendiri. Kamu hanya perlu percaya sama dirimu, terus bergerak maju, nikmati prosesnya, dan tetap bahagia.

Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us:

Apakah Dirimu Sudah Merdeka?

Sego pecel, Jawa Timur. Gambar hanya sebagai ilustrasi. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Bulan Agustus selalu punya energi khusus. Jalanan rame bendera merah putih, anak-anak teriak semangat ikut lomba, dan suasana kampung jadi hangat. Tapi di tengah semua itu, ada satu pertanyaan yang jarang kita tanya ke diri sendiri: “Aku sudah merdeka atau belum?”

Sekarang nggak ada lagi tentara asing yang datang menjajah. Tapi “penjajah” zaman now bentuknya bisa lebih licin:

  • Rasa takut gagal
  • Selalu mikirin penilaian orang
  • Rutinitas yang bikin kita mati rasa
  • Kebiasaan nyimpen mimpi cuma di kepala

Kalau kita masih takut melangkah hanya karena “takut salah” atau “takut omongan orang”, berarti kemerdekaan batin kita masih perlu diperjuangkan.

“Merdeka bukan berarti bebas dari aturan, tapi bebas dari ketakutan.”

Ciri-ciri kamu belum sepenuhnya merdeka: Pertama, susah bilang nggak walaupun itu bikin capek. Kedua, selalu minta validasi orang sebelum ambil keputusan. Ketiga, takut mencoba hal baru karena khawatir gagal. Keempat, nggak berani jujur soal apa yang sebenarnya diinginkan.

Merdeka artinya bisa memilih jalan hidup sendiri dan bertanggung jawab penuh atas pilihan itu. Kadang merdeka berarti berani keluar dari zona nyaman, walaupun awalnya bikin keringat dingin. Kadang juga berarti melepas sesuatu yang udah nggak sehat untuk jiwa kita.

“Bebas itu enak. Tapi merdeka itu tenang.”

Selain ikut lomba makan kerupuk atau tarik tambang, coba rayakan juga kemerdekaan pribadi:

  1. Katakan “tidak” tanpa rasa bersalah.
  2. Lakukan hal yang dari dulu cuma jadi wacana.
  3. Lepaskan hubungan atau kebiasaan yang bikin kamu stuck.
  4. Maafkan diri sendiri dan move on.

Karena, ujung-ujungnya… kemerdekaan yang paling mahal itu bebas jadi diri sendiri tanpa rasa takut.

“Negara sudah merdeka, sekarang giliran jiwamu.”

Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us:

Bikin Dirimu Happy Duluan

Gambar hanya sebagai ilustrasi. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Kemarin, dengan obrolan panjang dengan kawan lama; saya merekam berapa banyak “orang” yang seringnya “nggak kita kenal” merusak kebahagiaan kita. Mereka menganggap “sepele” pencapaian kita. Sungguh ironis, di Indonesia yang dijuluki negeri damai, negeri bahagia, negeri dewata.

Saya pun, nggak sekali dua kali ngadepin orang-orang model begini. Semua pencapaian saya —yang tentu saja harus dengan effort luar biasa, dianggapnya sepele. Jian nggak mutu betul. Nggak tahu dia, kalau tiap orang punya ujian yang berbeda. Mungkin bagi dia gampang piknik ke kota sebelah saja, tapi bagi orang lainnya, bisa jadi nggak mudah.

Tapi bukankah bagi para pembenci, tukang iri dengki, julidan, nyinyiran, nggak ada satu hal pun yang lolos dari sifatnya itu? Jadi, yo weslah. Saya abaikan saja. Mari kita tetap berfokus pada tujuan dan mencapai hal-hal lain yang lebih besar, biarpun bagi mereka ya nanti direspon dengan celaan lainnya lagi.

Dan saya yakin, sampeyan semua pasti pernah merasa lelah karena terus berusaha bikin semua orang senang, tapi lupa nanya ke diri sendiri, “Aku tuh happy nggak sih?”

Kenyataannya, kita sering banget menomorduakan diri sendiri demi orang lain. Entah itu demi pekerjaan, pasangan, keluarga, anak-anak, atau sekadar memenuhi ekspektasi sosial. Tapi yuk, tarik napas sejenak dan ingat lho, kamu juga butuh bahagia. Bahkan, kamu dulu yang harus bahagia, sebelum bisa bikin happy orang lain.

Selfish? Bukan. Self-love? Iya dong! Seringkali kita merasa bersalah saat memprioritaskan diri sendiri. Padahal, memanjakan diri bukan egois; itu self-love. Kalau hatimu tenang dan pikiranmu bahagia, kamu akan punya energi lebih buat kasih cinta ke sekitar. Bayangin aja kalau kamu terus “kosong”, apa bisa ngisi kebahagiaan orang lain?

Bahagia nggak harus mahal atau heboh. Kadang cuma perlu secangkir kopi pagi tanpa gangguan, baca buku favorit, nonton ulang film yang kamu suka, atau sekadar tidur cukup. Bahkan, berkata “tidak” ke hal-hal yang menguras energi juga bentuk bahagia loh!

Belajar bilang, “Aku penting!” Mulai sekarang, coba bilang ke diri sendiri, “Aku berhak bahagia.” Jangan tunggu pengakuan orang lain untuk merasa happy. Dirimu yang sekarang, dengan segala luka, proses, dan pencapaianmu; itu layak dirayakan.

Percaya deh, dunia tetap berputar meski kamu rehat sejenak. Ambil waktu untuk dirimu. Nggak perlu selalu produktif. Kadang, yang kamu butuhin cuma duduk diam dan menyadari, “Wah, ternyata aku udah sejauh ini ya.”

Yuk, bahagiakan dirimu dulu. Karena ketika kamu bahagia, semua yang kamu lakukan akan terasa lebih ringan. Senyum jadi lebih tulus, niat jadi lebih murni, dan hidup jadi lebih bermakna. Hindari dan sebisa mungkin abaikan saja mereka yang cenderung “merusak” kebahagiaan kita.

Jadi, yuk mulai dari sekarang: bahagiain dirimu dulu. Bukan nanti. Tapi hari ini juga. Apapun itu, sekecil apapun pencapaianmu, tindakanmu, progress usahamu, piknik dekatmu, dll yang bikin kamu bahagia, rayakan saja. Nggak usah terlalu ambil pusing dengan omongan atau komentar orang. Terlebih mereka yang nggak ada saat kamu jatuh dan berjuang mati-matian untuk pencapaian, yang bisa jadi terlihat sepele di mata orang lain.

Hidup kita, tanggung jawab kita. Bahagia kita, kita sendiri yang tentukan. Bukan tergantung omongan atau validasi orang.

Happy Wednesday,
Saya penulis, alhamdulillah hidup sehat, layak, sejahtera, dan happy damai dengan penuh syukur pada Allah atas semua peristiwa dan jatuh bangun hidup saya hingga saat ini.❤

Kamu masih merasa sulit bikin dirimu happy? Syukuri hidupmu. Catat dan hitung semua pencapaianmu, sekecil apapun. Yakinkan, bahwa kamu penting. Kamu layak bahagia. ❤️

Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us:

Juli Penuh Reuni

Saya dan beberapa kawan Sasindo UGM angkatan 1997. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Juli sudah di ujungnya. Saya mereview laporan kerja dan mengingat sebulan sudah ngapain saja di luar kegiatan produktif komersial untuk menghasilkan uang. Ooh, sungguh menyenangkan karena ketemu banyak teman lama di moment tak terduga.

Saya sudah bilang kalau diundang apapun, kalau bisa, sanggup, nggak benturan jadwal, pasti saya datang. Begitupun undangan ketemu dengan teman-teman lama. Begitu diajak dan bisa, langsung berangkat. Tapi kalau nggak bisa, saya juga menjawab cepat. Biasanya karena jadwal nggak bisa digeser gegara ketemu banyak pihak.

Nah, bagaimana dengan kamu? Kalau dapat undangan ketemu, reuni, lalu bingung mau datang atau nggak? Rasanya campur aduk siy biasanya; antara penasaran, malu, takut dibanding-bandingin, atau malah malas dandan😂 Tenang, kamu nggak sendirian. Tapi jangan buru-buru nolak dulu. Reuni itu nggak selalu soal pamer pencapaian, kok. Banyak manfaat seru yang bisa kamu dapetin. Nih, coba aja simak dari pengalaman saya.

Mbak Kus salah satu senior dan idola saya di kampus UGM. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Ketemu Teman Lama, Bikin Hati Hangat

Apa yang paling menyenangkan daripada ketemu orang yang pernah jadi bagian penting hidupmu? Ketawa bareng sambil ingat masa-masa sekolah atau kuliah bisa jadi obat rindu yang nggak bisa dibeli di apotek mana pun.

Ngobrol Seru, Nambah Energi Positif

Kadang, ngobrol sama teman lama bisa bikin semangat hidup balik lagi. Denger kisah hidup mereka, suka-dukanya, bahkan hal konyol zaman dulu bisa bikin kita mikir, “Wah, hidupku nggak sendirian, ya!”

Saya dengan salah satu sahabat sejak kuliah S-1 di UGM. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Siapa Tahu Jodoh atau Rezeki Datang

Reuni juga bisa jadi ajang rezeki, lho. Nemu partner bisnis? Bisa. Ketemu jodoh yang dulu nggak sempat ditembak? Bisa banget. Dunia kecil, siapa tahu reuni jadi jalan ketemu orang penting dalam hidupmu berikutnya.

Nostalgia Itu Menyegarkan

Kadang kita terlalu sibuk sama urusan kerja, rumah, anak, atau keluarga. Reuni bisa jadi momen jeda buat balik ke masa-masa ringan, saat masalah terbesar cuma PR atau tugas kelompok.

Saya dengan Mbak Susi dkk, salah satu sahabat saat kos S-2 UGM di Bulaksumur. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari

Bisa Refleksi Diri

Ketemu teman-teman lama bisa jadi cermin buat lihat sejauh apa kita berkembang. Bukan buat banding-bandingin, tapi lebih ke, “Eh, ternyata aku udah sejauh ini, ya!” atau “Wah, aku pengin belajar dari dia deh.”

Tertawa Lepas, Nggak Pake Jaim

Nggak ada yang ngerti jokes zaman dulu selain teman lama. Di reuni, kita bisa ketawa ngakak tanpa mikirin citra atau formalitas. Bebas jadi diri sendiri, kayak dulu lagi.

Saya dengan salah satu sahabat saat studi S-3 di UGM. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Karena Waktu Nggak Bisa Diulang

Hidup terus jalan, dan kita nggak pernah tahu kapan bisa kumpul bareng lagi. Jadi, selagi bisa, sempatkan. Reuni itu bukan sekadar acara, tapi momen untuk menghargai waktu dan orang-orang yang pernah ada di hidupmu.


Akhir Kata…
Reuni itu bukan soal “siapa yang paling sukses”, tapi tentang “siapa yang masih mau hadir dan menghargai pertemanan”. Jadi, kalau ada undangan reuni, coba deh datang. Kalau ternyata seru, kamu bakal nyesel kenapa dulu sempat ragu-ragu.

Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us:

“Survival Writer” di Tengah Gempuran Kecerdasan Buatan (AI)

Singgasana Raja Kutai Kartanegara di Museum Mulawarman. Gambar hanya sebagai ilustrasi. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Di era teknologi yang melesat tanpa ampun, kecerdasan buatan (AI) kini nggak hanya jadi asisten canggih dalam kehidupan sehari-hari, tapi juga mulai merambah wilayah yang dulu dianggap sebagai “wilayah eksklusif” manusia; salah satunya dunia kepenulisan. Dari menghasilkan artikel, puisi, hingga novel, AI seperti ChatGPT dan sejenisnya telah menunjukkan kemampuan yang mengesankan.

Maka, muncul pertanyaan besar: masihkah penulis manusia dibutuhkan?

Penulis dalam Bayang-Bayang Algoritma

Kini siapa pun bisa meminta AI untuk menuliskan apa saja; dalam hitungan detik. Dunia jurnalisme, periklanan, hingga penerbitan digital mulai terguncang. Bahkan profesi penulis konten dianggap “terancam punah” oleh sebagian kalangan.

Namun, di tengah kecemasan itu, muncul pula gelombang penulis tangguh yang memilih untuk beradaptasi, bukan menyerah. Mereka ini layak disebut sebagai survival writer; penulis yang bertahan hidup dan terus berkarya di tengah gempuran teknologi.

Bukan Soal Kecepatan, Tapi Kepekaan

AI mungkin bisa menulis cepat, tetapi ia masih belum bisa merasakan bahagianya pernikahan, gembiranya mendapatkan pekerjaan baru, harunya pertemuan kembali, getirnya patah hati, sakitnya pengkhianatan, rumitnya relasi manusia, atau mendalami budaya dengan kehalusan rasa seperti manusia. Di sinilah survival writer mengambil tempat.

Penulis manusia memiliki keunggulan yang nggak bisa digantikan AI: kepekaan emosi, perspektif pribadi, dan pengalaman hidup. Cerita yang menyentuh, opini yang menggugah, serta gaya bahasa yang khas tetap menjadi kekuatan utama penulis manusia.

Adaptasi Itu Kuncinya

Saya sebagai penulis sejak belia hingga sekarang, hampir 4/5 umur saya lakoni pekerjaan sebagai penulis. Sudah banyak berganti masa, sudah banyak ragam teknologi yang mau nggak mau harus saya ikuti. Pun teknologi yang terasa mengguncang seluruh industri kreatif: AI yang mewabah di semua bidang kerja. Dunia kreatif yang semula punya “keunikan”, langsung ambyar di hadapan AI. AI membuat apa saja yang diciptakan manusia dalam industri kreatif dengan kecepatan yang nggak tertandingi oleh para profesional sekalipun.

Pada awalnya, saya bener-bener galau, sedikit frustasi, dan berasa hilang langsung semua harapan atas dunia tulis menulis. Tapi begitu mengetahui kelemahan dan kekurangan AI, saya optimis kembali. Yach AI justru bisa jadi alat bantu yang memudahkan pekerjaan menulis. Sama persis dengan tahunan silam saat saya mengenal grammar checker, editing text, Google translit, final draft, dll alat bantu yang bikin pekerjaan “sangat sulit” terasa lebih ringan.

Para penulis yang berhasil bertahan bukanlah mereka yang anti-teknologi, melainkan yang mampu memanfaatkan AI sebagai alat bantu, bukan sebagai pengganti. Mereka menggunakan AI untuk riset cepat, penyusunan draft awal, atau sekadar untuk brainstorming ide. Namun, sentuhan akhir tetap diberikan dengan jiwa dan rasa manusiawi.

AI bisa jadi “asisten” yang baik dan canggih, bukan sebagai “penguasa”. Inilah bentuk kolaborasi baru di era digital: manusia + mesin = hasil maksimal.

Revolusi Gaya Hidup Penulis

Survival writer juga harus mulai membangun personal branding yang kuat, aktif di media sosial, membuat newsletter, membuka kelas menulis, bahkan menjual karya dalam bentuk digital seperti e-book atau audiobooks.

Dengan gaya hidup baru ini, mereka nggak hanya jadi penulis, tapi juga pengusaha kreatif, pendidik digital, dan influencer literasi.

Karya Otentik Akan Tetap Dicari

Saya percaya pada akhirnya, pembaca yang cerdas akan tetap mencari karya otentik atau tulisan yang bisa membuat mereka merasa “dilihat” dan “didengar”. AI bisa merangkai kata, tapi belum bisa membangun koneksi emosional yang dalam seperti penulis manusia yang menulis dengan hati.

Jadi Penulis: Mau Bertahan atau Berinovasi?

Era AI bukan akhir bagi para penulis. Justru ini adalah momen pembuktian: siapa yang mampu berinovasi dan terus tumbuh. Survival writer bukan hanya bertahan, tapi mampu menjadikan teknologi sebagai batu loncatan menuju masa depan literasi yang lebih inklusif, cepat, dan menginspirasi.

Menjadi penulis di zaman AI bukan soal kalah atau menang, tapi soal berani menjadi manusia di tengah dunia yang semakin canggih.

Selamat beradaptasi dan berinovasi. Ingat, teknologi dibuat untuk memudahkan hidup kita, gunakan saja dengan bijak.

Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us:

Juli Berisi

Salah satu sisi titik nol Kutai Kartanegara. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Hitung kalender, lah sudah Juli aja. Perasaan baru reribetan tahun baru. Ternyata sudah memasuki bulan Juli. Kita seperti diberikan lembaran baru di tengah tahun yang berjalan cepat. Setelah melewati enam bulan pertama dengan berbagai tantangan, keberhasilan, bahkan kegagalan, Juli hadir sepeti titik jeda. Juli memberi ruang bagi kita untuk bernapas, mengevaluasi, dan menumbuhkan kembali harapan.

Harapan bukanlah hal besar yang harus menunggu momen spektakuler. Ia bisa hadir dari hal-hal kecil: pagi yang cerah, pelukan hangat dari orang terkasih, atau keberanian untuk memulai kembali, meski pernah gagal.

Bulan Juli bisa menjadi momentum untuk menumbuhkan harapan-harapan baru; baik dalam pekerjaan, hubungan, kesehatan, atau impian yang sempat terlupakan. Juli memberi kesempatan 6 bulan sebelum berganti tahun.

Juli juga menjadi waktu refleksi. Apa saja yang sudah kita capai hingga pertengahan tahun ini? Apa yang belum berjalan sesuai harapan? Bagaimana pencapaian keseluruhan kita?

Dengan mengevaluasi diri secara jujur, kita bisa memperbaiki arah dan menyusun langkah yang lebih terencana untuk enam bulan ke depan. Ingat ya, nggak pernah ada kata terlambat untuk memulai ulang. Kita selalu bisa memperbarui komitmen kita terhadap sesuatu.

Dunia memang nggak selalu ramah. Ada kalanya hidup terasa sulit dan penuh ketidakpastian. Namun, Juli mengingatkan kita bahwa musim akan terus berganti. Seperti halnya hujan yang akhirnya digantikan oleh pelangi, kesulitan juga akan digantikan oleh kemudahan jika kita terus bergerak dan nggak menyerah.

Bagi banyak orang, Juli adalah bulan liburan, saatnya mengisi ulang energi. Tapi lebih dari itu, Juli bisa menjadi bulan untuk memperkuat mental dan spiritual. Juli bisa jadi titik balik kesuksesan yang kita idamkan.

Mungkin dengan lebih banyak waktu bersama keluarga, merenung di tengah alam, atau menulis rencana hidup yang lebih bermakna. Bisa juga untuk sekedar memperbaiki tubuh yang dirasa mulai nggak ideal. Selalu ada hal yang bisa kita jadikan orientasi kemajuan.

Mari jadikan Juli sebagai bulan penuh harapan. Bulan Juli yang berisi. Bukan sekedar harapan kosong, tetapi harapan yang diiringi tekad, kerja nyata, dan keyakinan bahwa segala sesuatu bisa berubah menjadi lebih baik.

Apa pun yang terjadi di bulan-bulan sebelumnya, Juli mengajak kita untuk bangkit, bergerak, dan percaya bahwa hari-hari indah masih menunggu di depan. Mari terus bergerak maju, menuju impian kita masing-masing.

Selamat datang, bulan Juli. Bawalah semangat baru dan harapan indah ❤️

Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us:

DSBK XVI 2025 (12): Jangan Lewatkan Kepiting Balikpapan

Saya bersama keluarga adik saya di Balikpapan. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Kebiasaan yang sering saya lakukan saat menginap di tempat asing, berkeliaran di waktu malam (lepas jam 12 malam sampai sebelum Shubuh). Ngapain? Ya lihat situasi malam kota tersebut.

Di Samarinda dengan energi yang belum sepenuhnya pulih, saya nyaris membatalkan rencana tersebut. Cuman karena wes pesen mobil dan driver, saya yo tetep mider. Sudah lumayan pulih, kalaupun belum bisa pecicilan lagi: ambil foto, minta foto, nanya dan nyapa-nyapa orang, memeriksa detail tempat, dll.

Samarinda di waktu malam, nggak lagi sesepi dulu. Masih ramai. Di beberapa tempat banyak berdiri kafe yang masih benderang. Kota ini nggak lagi “sunyi”. Sisa-sisa deras hujan masih ada di berbagai sudut.

Ke mana tujuan saya? Nggak ada. Yo mung keliling begitu aja. Tapi karena terbiasa, kecenderungannya saya itu “seperti langsung tahu” harus ke sini, pergi ke situ, dll. Versi saya pribadi, dengan jalan begitu bisa untuk melengkapi tulisan saya bila harus menggambarkan situasi yang nggak biasa.

2 jam kurang saya mider mengikuti jalan karena ngantuuuknya kok ampun. Jadi saya meminta driver segera balik. Bahkan saya menolak pengembalian uang karena hanya sebentar saja keliling. Masuk kamar wes langsung tidur. Pules betul dan kebangun saat alarm Shubuh. Kali ini saya merasa sudah pulih total. Usai mandi pagi, saya wes packing untuk ke Balikpapan.

Pagi itu kami masih sarapan di hotel. Jumpa Mas Amien dengan istrinya. Juga beberapa kawan lain yang masih ikut sarapan. Sebagian sudah pergi sejak semalem atau pagi pagi buta. Saya dengan istri Mas Amien sempat rerasan tentang bermacam lomba penulisan buku anak-anak tingkat nasional. Versi saya pribadi, persyaratan teknisnya wes bikin mumet dan kadang rada membagongkan. Penulis kok dibebani begitu banyak hal teknis yang nggak masuk akal.

Karenanya meskipun saya penulis buku anak, ada lebih dari 30 judul buku anak di penerbit mayor dan sebagian besar masih memberikan royalti hingga saat ini; alhamdulillah; ketambahan saya juga peraih Anugerah Kebudayaan sebagai penulis buku anak yang berdedikasi pada kebudayaan; nggak pernah sekalipun ikut lomba itu. Lha pikir saya, menulis hal cerita singkat tapi kok menghabiskan waktu gegara masalah teknis yang biasanya diurus layouter.

Selain itu slentingan kurang baik ya wes saya dengar sejak bertahun silam. Tentang penentuan juri yang nggak fair, sampai dari tahun ke tahun juri jurinya ya itu itu saja, sehingga pemenangnya bertahun-tahun juga itu itu saja. Mungkin selalu ada siy satu dua penulis baru, tapi silakan cermati pemenangnya dari tahun ke tahun ya kok itu itu saja namanya.

Jadi saya nggak mau habis waktu, bersangka buruk, kesal jengkel kalau ikut lomba lomba ini. Itu sebabnya saya belok kiri, wes gak usah melu-melu. Saya nulis untuk penerbit atau klien bae. Cuman kalau ada praktik-praktik nggak fair kayak gitu, padahal duit yang dipake juga duit negara yang berarti duit rakyat, gemas juga saya. Mudah-mudahan kalau ada pejabat atau pihak berwenang yang membaca tulisan saya ini; bisa meninjau ulang semua kebijakan tentang lomba penulisan buku anak (juga buku-buku lainnya), sehingga menghasilkan buku-buku berkualitas tanpa bikin aturan-aturan yang membagongkan dan menyulitkan banyak penulis. Akhirnya ya kek gitu, penulis penulis yang berkualitas malah hengkang nggak berpartisipasi. Haizh…

Pagi itu saya tahu rombongan peserta DSBK XVI dari Malaysia berangkat dan perginya lewat bandara Balikpapan. Jadi mereka masih banyak yang ikut sarapan pagi itu. Dari mereka saya juga tahu, kalau rombongan Malaysia memberi dua jempol untuk panitia. Versi mereka kalau di Malaysia mereka nggak akan mau menanggung full biaya dari makan, hotel, beragam acara, publikasi, seragam, ATK, s/d uang harian. Bebas biaya publikasi mungkin, tapi keseluruhan jelas tidak.

Dalam hati saya tertawa. Ya jelas kalian orang Malaysia nggak akan mau menanggung kami. Kalian cuma 15 orang, kami 185 orang kok. Lha apa nggak tekor bandar itu kalau menanggung seluruh biaya kami 😂 Entah saya yang baper atau memang begitu adanya, saya menangkap ungkapan rasa iri kawan-kawan Malaysia ini dengan situasi dan keberadaan sastrawan kita di Kaltim. Apapun itu, saya juga sangat mengapresiasi seluruh panitia dalam acara DSBK XVI 2025 ini.

Duit yang saya anggarkan dari Januari 2025, lumayan banyak tersisa; bisa untuk foya-foya selama di Kaltim 😀😁 Itu sebabnya saya mau balik YK dari BPN. Karena ketemu ponakan-ponakan saya, makan-makan dengan mereka pun jelas pakai uang. Angpao pun dengan uang lah bukan kertas 😁😂

Ya begitulah, saya pamitan ke Mas Amien dkk yang masih ketemu hari itu. Dengan mobil charter saya langsung ke BPN, meski sempat pakai drama. Drivernya nggak biasa lewat tol, jadi sempat nyasar, muter-muter. Mestinya kalau lewat tol 2 jam saja, ini ya 3 jam.

Saya jumpa adik, ipar dan trio keponakan yang super pintar. Mereka juara juara di sekolahnya. Hafalan Qurannya juga rerata di atas 5 juz. Alhamdulillah. Semula mereka mo ngajak makan seafood di areal pantai. Tapi mengingat pertimbangan waktu, akhirnya kami memutuskan makan kepiting di sekitaran terdekat.

Saya sempat khawatir nanti kalau nggak enak, bagaimana. Karena sepanjang beberapa kali makan kepiting di BPN jujugan saya pasti ke Da*nd*t*. Jelas enaknya ning harganya juga bunyi 😁😂 Tapi karena adik saya bilang tempat itu rekomendasi, jadi saya ngikut saja. Karena penyuka kepiting dan bukan itu lidahnya beda. Syukurlah masakannya oke, tempat bersih, layanan cepat dan harga cukup bersahabat.

Adik saya masih mau ngajak jalan, saya wes nyerah. Karena nanti malam masih perjalanan panjang. Besok paginya saya ada dua kelas jam 9-11 dan 13-15. Jadi kudu simpan energi. Kami akhirnya ngobrol saja. Terus sempat saya tidur sebentar, sebelum balik ke bandara BPN. Terbang 2 jam, saya tidur. Bangun wes di YIA. Sampai rumah jam 22 malam. Lega. Plong. Alhamdulillah. Beres semua urusan saya di Kaltim.

Terimakasih untuk Mas Amien dan seluruh panitia penyelenggara acara DSBK XVI 2025. Terimakasih untuk seluruh peserta dan pendukung acara ini. Terimakasih untuk seluruh teman, sahabat, relasi, keluarga, dan berbagai pihak di Kaltim yang telah mengawal, membantu, menemani saya selama ada di Kaltim. Semoga semua jadi amalan kebaikan berlimpah berkah. Amin YRA. Sampai jumpa lagi.

Selesai.
Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us: