
Saya dengan Uni Noni dari Padang. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Setelah pelunasan ke Sering Travel, saya malah galau mendadak. Galau pertama, guru saya, Uni Noni datang dari Andalas Padang dan 3 hari di Jogja. Terus Prof Iin dari Murray State University (USA) mengisi seminar 5 hari di Jogja. Duh, kalau nggak ada acara, malam mereka free saya bisa mengikuti ke mana saja mereka pergi dan pasti banyak ilmu yang saya dapatkan. Terlebih kalau sudah lama nggak jumpa. Galau kedua, ternyata trip berangkat pagi bukan sore atau malam seperti biasanya trip yang pernah saya ikuti. Jam kerja itu berarti nambah sehari gaweyan yang kudu saya bereskan sebelum pergi.
Syukurlah dengan komunikasi yang baik, saya tetap bisa jumpa dua guru saya tersebut. Sebentar saja, tapi lebih dari cukup melepas rindu. Alhamdulillah. Seminggu sebelum trip saya wes ekstra lembur membereskan gaweyan-gaweyan penulisan ataupun urusan kampus. Meskipun sampai di hari H pun sepagian dini hari s/d jam tujuh saya masih ibuut dengan beberapa gaweyan kecil sampai rampung.

Saya dengan Prof Iin. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Alhamdulillah berangkat ke mepo wes beres kerjaan, tapi masih dalam keadaan lapar. Sampai SPBU Adisutjipto, ngepos sarapan secangkir cokelat dan donat. Lumayan, mengisi perut. Aman, beberes dan segera ke pinggir jalan. Jumpa Mbak Nita dan suaminya yang juga ikut trip ini. Nggak lama, bus pun datang.
Jumpa si TL Kak Mancay dan Fotografer Kak Bebe. Melihat TL nya saya malah ingat si Patkay di serial Sun Gokhong😁😂 Hadeuh kenapa malah lupa si Tabib Sucinya😜 Kalau si Bebe ini mengingatkan pada figur adik lelaki saya belasan tahun silam saat dia kuliah di ITS (Institut Teknologi Sepuluh November) Surabaya. Tinggi jangkung, kurus, putih, berkacamata, gampang tersenyum pelit bicara. Lha beneran, ternyata si Bebe juga masih kuliah😁😂

Bus yang kami pakai. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Di bus, saya dapat pin, snack berat dan air mineral. Tempat duduk lega, AC dingin, bagasi kabin lumayan, ada selimut bantal leher, tempat snack dan minum, lengkap dengan sabuk pengaman. Hanya sandaran kaki yang bikin saya seperti “gantung diri”. Lha model begitu cocok untuk mereka yang kaki panjang. Sementara mereka yang kakinya nggak panjang, itu hanya bikin kaki menggantung dengan sempurna. Kalau menaikkan kaki, melipat kaki di kursi ya tetep nggak nyaman, sakit.
Sungguh bikin sengsara sepanjang perjalanan untuk orang imut-imut seperti saya. Mungkin Sering Travel perlu mempertimbangkan bus non sandaran kaki, tapi ruang tempat duduk cukup lega. Biar mo kaki panjang atau enggak panjang, tetep bisa menapakkan kaki di dasar, nggak menggantung.
Begitu saya sudah meletakkan barang, sebentar saja wes tidur. Jadi saya nggak ingat siapa yang naik bus, kecuali terbangun waktu makan siang di Titin Caruban. Makanan enak, kenyang. Dan seperti biasa waktu ishoma, ya makan sholat, ke toilet, bebersih.

Perahu-perahu yang bersandar di Pantai Lovina. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Balik bus, saya tidur lagi. Beberapa kali melek karena ada kuis-kuis berhadiah. Njur tidur lagi sampai waktunya makan malam. Di mana ya itu? Lupa. Mungkin di Situbondo. Masuk bus ya, saya tidur lagi. 😁😂
Tahu-tahu dibangunin Mbak Fera karena sudah tiba di pelabuhan. Saya berasa berasa limbung tuh kaki kelamaan “digantung”.
Setelah sejam-an kayaknya naik bus lagi dan sampai ke rest area. Ganti baju dll sebelum ke Pantai Lovina.
Sampai di areal Lovina berhenti agak lama nunggu pagi untuk naik perahu. Nggak banyak yang bisa saya ceritakan soal perjalanan, karena saya duduk di sisi tengah non jendela, jadi nggak tahu pemandangan di luar dan kebanyakan saya pake tidur untuk membayar kurang tidur berhari-hari agar selama trip nggak ditagih gaweyan. Yach, begitulah konsekuensi kalau jadi freelancer. Nggak kerja nggak dapat duit 😁

Saya dan teman teman satu perahu untuk melihat lumba-lumba di Lovina. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Saat mau naik perahu di Lovina, saya terkejut dengan banyaknya pengunjung dan perahu yang bersandar di areal itu. Biyuu… lha kalau nanti semua perahu itu turun ke laut, apa iya lumba-lumba mau keluar? Pikir saya. Karena setahu saya, lumba-lumba ini jenis mamalia penolong sekaligus pemalu. Mereka tuh nggak akan muncul di keramaian atau kebisingan.
Pada waktu di Maluku itu, kami “berburu”nya sampai jauh untuk bisa jumpa lumba-lumba. Itu pun di lautan luas dan nggak banyak kapal lalu lalang. Jadi beneran sepi dan lumba-lumba pun muncul dengan atraksi-atraksinya.
Lha kalau begini ramai, apa si lumba-lumba mau muncul? Saya pun mider bertanya pada beberapa orang lokal dan tukang bawa perahu. Kata mereka, lumba-lumba selalu muncul tapi sebentar saja di berbagai tempat. Jadi sebagian orang sempat lihat, sebagian yang lain enggak. Jarang juga ketemu lumba-lumba yang atraksi (melompat di atas laut). Saya mencicil lega. Oh, sekurangnya mereka muncul. Bisa lihat atau enggak itu tergantung amal perbuatan masing-masing… hihi…

Di Lovina saya sudah bisa tertawa lebar, berarti sudah cukup tidur dan pulih energi untuk jalan panjang. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Dan begitulah, kami 29 orang dikelompokkan dalam 2 perahu. Semua memakai pelampung sebelum naik perahu. Yach, namanya juga tetap laut. Sesuatu bisa aja terjadi. Meskipun saat itu laut tenang, nggak gelombang, dan warna airnya gelap cokelat seperti air sungai Mahakam.
Biyuuu… pas sudah di laut tampak bahwa areal ini seperti cendol dhawet di gelas. Persis seperti areal Goa Pindul kalau lagi padat pengunjung. Penuh sesak perahu yang hilir mudik. Ada perahu yang isinya 3 orang, 4 orang, 5 orang, 10 orang, bahkan lebih.
Perahu saya isinya berapa orang ya? Mungkin yang 17 orang? (Cmiiw). Diam-diam saya khusyuk berdoa agar semua selamat, perjalanan lancar, dan bisa jumpa lumba-lumba.

Sunrise cantik di Lovina. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Perjalanan dengan perahu di Lovina ini lebih kurang 2 jam. 30 menit jalan ke tengah, 30 menit eksplore nungguin lumba-lumba, 30 menit jalan kembali, 30 menit untuk lain-lain (antrian, foto-foto, dokumentasi).
Masuk ke areal pantai ini gratis bagi pejalan kaki. Rasah bayar. Tapi kalau bawa mobil parkir resminya 5 rb perak, nggak resminya ya suka-suka kang parkirnya 😁 Terus yang umum untuk naik perahu sharing per gundul 100 rb buat keliling lihat lumba-lumba.
Kalau sewa perahu dengan durasi 1.5 sd 2 jam kisaran 1.5 sd 2.5 juta; ya tergantung nego. 1 perahu dengan kapasitas maks 1500 kg; jadi muat berapa orang itu tergantung kurus langsingnya😜😂 Kalau untuk honeymoon, pasti amanlah… suami istri plus kang perahu dan fotografer pasti jauhlah itu dari 1500 kg😜 Cuman karena ini trip by biro, ya travel agent lah yang urus. Kita mah tahu beres aja.

Ilustrasi kemunculan lumba-lumba di Lovina. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Perahu yang saya tumpangi sudah ke tengah dan mulailah kami bertemu lumba-lumba. “Waaaah…. itu… ituuuu…” teriakan heboh terdengar setiap kali kami melihat lumba-lumba. Mereka datang berombongan.
Namun karena warna air laut keruh cokelat hitam dan lumba-lumbanya juga berwarna cokelat hitam, kehadiran mereka nggak selalu nampak jelas. Itu pun begitu mereka muncul dan langsung ada teriakan heboh, mereka langsung menghilang lagi dalam air dan nggak muncul-muncul lagi di tempat yang sama. Tahu-tahu ada teriakan heboh dari perahu di seberang jauh. Itu artinya lumba-lumba muncul di dekat mereka.
Alhamdulillah. Ternyata begitu model kemunculan lumba-lumba di Lovina. Ada 4 atau 5 kali orang-orang di perahu saya bertemu lumba-lumba. Luar biasa. Semua orang baik dan semoga banyak berlimpahan rezeki kebaikan. Amin YRA.
Alhamdulillah. Terimakasih ya Allah, akhirnya kesampaian niat saya lihat lumba-lumba di Lovina. Terimakasih atas penjagaan-Mu yang luar biasa sepanjang trip ini.
Ari Kinoysan Wulandari
Bersambung







