Saya ketika di Wahanarata Jogja. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Bulan Agustus sudah berlalu beberapa hari. Bulan kemerdekaan ini menghadirkan nuansa istimewa bagi bangsa Indonesia. Di bulan inilah kita merayakan kemerdekaan dengan segala makna dan refleksinya.
Bendera merah putih berkibar gagah di setiap sudut jalan, lomba-lomba rakyat penuh keceriaan, hingga doa syukur terlantun di berbagai kesempatan. Semua itu mengingatkan kita bahwa kemerdekaan bukanlah hadiah instan, melainkan buah perjuangan panjang yang diperoleh dengan pengorbanan besar.
Menghayati Agustus berarti belajar bersyukur. Bersyukur karena bisa hidup di negeri merdeka yang memberi ruang bagi kita untuk berpendapat, berkarya, dan menggapai mimpi. Bersyukur atas persatuan yang masih terjaga meski perbedaan begitu banyak. Bersyukur karena generasi sekarang bisa menikmati pendidikan, teknologi, dan kebebasan yang dahulu hanya bisa diimpikan para pejuang.
Namun, rasa syukur nggak cukup hanya diucapkan. Syukur sejati harus diwujudkan dalam sikap dan tindakan. Kita bisa menunjukkan rasa syukur dengan menjaga lingkungan tetap lestari, menghargai orang lain tanpa memandang perbedaan, serta berkontribusi sesuai kemampuan untuk kemajuan bersama. Agustus menjadi momentum yang tepat untuk merenungkan peran kita dalam melanjutkan semangat juang, bukan sekadar mengenang sejarah.
Saya pribadi mencatat banyak hal dan peristiwa di bulan Agustus. Dari rutinitas kerja menulis, mengajar, meneliti, juga banyak mengikuti kegiatan lomba-lomba Agustusan di lingkungan, kegiatan sosial, pergi ke beberapa daerah wisata sekitaran tempat tinggal, dll. Bulan Agustus saya lewati dengan banyak syukur dan sukacita.
Sekurangnya di bulan Agustus saya memutuskan untuk lebih produktif berkarya. Lebih banyak belajar hal-hal baru agar hidup lebih bermakna. Bagaimanapun hal yang membuat kita bahagia adalah pembaruan dan perbaikan terhadap hal-hal kecil yang kita lakukan secara terus menerus dan penuh syukur.
Alhamdulillah. Inilah yang membuat saya lebih optimis setiap hari, termasuk menapaki bulan September yang tahu-tahu sudah lewat lima hari. Betapa cepat waktu berlalu. Mari kita isi hidup dengan hal-hal yang bermanfaat dan membahagiakan.
Saya dengan salah satu guru saya, Uni Noni. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Pernah nggak sih, kamu merasa hidupmu “biasa-biasa saja”? Padahal kalau dilihat oleh orang lain, sebenarnya banyak banget hal yang bisa kita syukuri. Misalnya, kita sehat, punya keluarga, punya rumah, baju banyak, bisa makan tiga kali sehari, bisa tertawa bebas, bisa beribadah dengan mudah, punya pekerjaan dan penghasilan, dlsb. Tapi anehnya, hati tetap saja merasa kurang. Nah, kenapa ya kita sering kali nggak mudah bersyukur?
Manusia cenderung membandingkan. Saat teman liburan ke luar negeri, kita merasa liburan ke kota sebelah jadi “nggak ada apa-apanya”. Padahal, kebahagiaan bukan datang dari seberapa mewah tempatnya, tapi bagaimana kita menikmatinya.
Membandingkan terus-menerus bikin hati gampang merasa kurang, seolah apa yang ada sekarang nggak pernah cukup. Kita selalu menghitung-hitung yang belum kesampaian atau belum ada, sampai lupa menikmati semua yang sudah ada.
Sering kali kita mengukur hidup dari standar sosial media: harus punya barang-barang branded, wajah glowing, rumah estetik, piknik serba luar negeri, karier cemerlang, mobil mentereng, anak-anak sekolah di tempat-tempat elite favorit, dll. Kalau belum sampai titik itu, rasanya hidup kita (masih) gagal.
Padahal, standar kebahagiaan tiap orang berbeda. Kalau terus mengejar standar orang lain, kita akan sulit banget merasa cukup. Ibarat kata ukuran sepatu kita 40, tapi memakai sepatu ukuran 45 ya kegeden nggak pernah nyaman atau bahkan kesandung-sandung.
Saat sesuatu sudah jadi kebiasaan, kita sering lupa nilainya. Bisa makan enak, minum air bersih, bisa naik mobil, bisa pesan makanan online, punya rumah sendiri, punya gaweyan mapan, dll; semua itu sebenarnya kemewahan yang nggak semua orang punya. Tapi karena terbiasa, kita merasa itu “biasa saja”. Dan karena menganggap biasa saja, kita jadi lupa bersyukur. Iya apa iya?
Kadang, kita terlalu sibuk mengejar yang berikutnya sampai lupa berhenti sejenak. Hidup terasa seperti lomba tanpa garis finish. Kalau hati terus sibuk mengejar, kapan sempat berhenti dan berkata, “Alhamdulillah. Terimakasih ya Allah untuk semua rezeki dan berkah-Mu hingga hari ini.”
Jadi, bagaimana biar lebih gampang bersyukur?
Belajar sadar momen kecil: nikmati secangkir kopi, obrolan hangat, atau sekadar bisa tidur nyenyak.
Kurangi membandingkan: ingat, highlight hidup orang lain di media sosial bukan cerita penuh mereka. Tampilannya mungkin hanya yang glamour, glossy, happy. Eh, coba ulik kehidupan riil mereka, kita nggak pernah tahu seberapa banyak jatuh bangun, keringat, airmata yang mereka curahkan untuk bisa pada titik itu. Jadi, kalau kamu iri sama “kesuksesan” orang lain, coba tengok perjuangan dan jatuh bangunnya juga.
Tulis jurnal syukur: coba tulis tiga hal yang kamu syukuri setiap malam. Lama-lama, otakmu terbiasa melihat sisi positif.
Berbagi: saat kita memberi, kita sadar bahwa ternyata apa yang kita punya sudah lebih dari cukup. Memberi membawa ruang kebahagiaan.
Bersyukur itu bukan berarti berhenti bermimpi atau pasrah. Bersyukur adalah menikmati apa yang ada sambil tetap berusaha lebih baik. Karena pada akhirnya, kebahagiaan bukan datang dari seberapa banyak yang kita punya, tapi seberapa happy kita menikmati dan menghargai segala yang sudah ada.
Setelah kegiatan-kegiatan Agustusan 2025. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Hidup saya (nggak selalu) mudah. Banyak jatuh bangun kehidupan yang saya lewati hampir setengah abad ini. Beragam keribetan menghadapi kenyinyiran dan kejulidan orang karena keberadaan saya yang lajang nggak sekali dua kali saya hadapi. Kadang-kadang rasanya begitu nggak sabar, tapi beruntung saya sudah terbiasa cuek dengan hal-hal yang versi saya nggak menambah isi saldo saya.
Ketika saya baru mau studi S-2, semua tetua di keluarga besar mencela dan ribut kalau makin tinggi sekolah, makin sulit jodohnya. Saya lempeng saja, sekolah saya yang menjalani, biaya saya yang bayarin. Nggak ada hubungannya dengan mereka. Urusan jodoh, itu seperti urusan kematian. Nggak ada yang tahu kapan datangnya.
Lalu ketika saya mau studi S-3, cercaan keluarga besar lebih ekstrim. Ibu saya sampai mengatakan bahwa mereka keterlaluan, bukannya mendukung keponakannya (saya) terdidik, tapi malah menghalangi kemajuan. Saya menenangkan ibu saya agar nggak menanggapi dengan emosi mereka yang asal bicara. Studi saya lanjut terus sampai selesai, dan saya baik-baik saja dengan tentangan mereka. Lha wong mereka yo nggak nyumbang sepeserpun biaya studi saya kok.
Dari situ saya belajar, untuk maju kita harus punya tekad kuat. Sungguh nggak butuh validasi atau kesepakatan dari pihak lain yang nggak ada kontribusinya dalam hidup kita. Coba kalau saya mendengarkan omongan mereka saat itu, mungkin saya belum sekolah tinggi, jodoh pun belum datang.
Versi saya, hidup saya itu tanggung jawab dan urusan pribadi. Saya memilih sesuatu, berarti harus siap dan sadar atas konsekuensinya. Selama itu sanggup saya jalani, ya lakukan saja. Masih banyak putusan besar lainnya dalam hidup saya, yang dianggap nggak biasa oleh orang lain (terutama di keluarga besar), tapi ya tetap saya lakukan. Karena kemajuan diri saya, kesejahteraan hidup saya nggak tergantung omongan mereka.
Nah, bagaimana denganmu? Pernah nggak sih kamu merasa capek banget karena seolah hidupmu harus selalu dapat lampu hijau dari orang lain? Mau ambil keputusan kecil sampai besar, rasanya masih nunggu komentar, pujian, atau bahkan sekadar “like” di media sosial. Kalau responnya sepi, langsung ragu sama diri sendiri.
Padahal, kalau dipikir baik-baik, kita sungguh nggak butuh validasi orang lain untuk maju. Salah satu jebakan terbesar di zaman sekarang adalah membandingkan diri sendiri dengan orang lain. Kita gampang merasa minder karena melihat orang lain lebih sukses, lebih cantik, lebih kaya, lebih apa saja. Akhirnya, kita mencari-cari pengakuan lewat ucapan orang lain, seakan kalau nggak dipuji, berarti kita gagal.
Padahal hidup ini bukan kompetisi siapa yang paling hebat, bukan ajang pamer pencapaian. Hidup adalah perjalanan personal yang penuh warna. Setiap orang punya jalannya sendiri, punya ritmenya sendiri. Dan yang lebih tahu arah itu siapa? Ya kita sendiri, bukan orang lain.
Orang bisa bilang apa saja tentang kita. Ada yang memuji, ada yang meremehkan, bahkan ada juga yang sekadar mengomentari tanpa tahu ceritanya. Tapi, itu semua sifatnya sementara. Hari ini dipuji, besok bisa dikritik. Kalau kita terus bergantung pada validasi dari luar, kita akan kelelahan.
Validasi yang sejati itu datang dari dalam diri sendiri. Saat kita bisa berkata, “Aku sudah berusaha sebaik mungkin,” atau “Aku puas dengan prosesku,” di situlah sebenarnya kita sudah menang.
Nggak perlu menunggu orang lain berkata, “Kamu hebat,” karena kita sudah tahu dan merasakan sendiri perjuangan yang kita jalani.
Untuk bisa bersikap seperti itu, kita butuh percaya diri yang kuat. Percaya diri bukan berarti keras kepala, menutup diri dari masukan, atau merasa selalu benar. Percaya diri berarti tahu apa yang kita mau, tahu kenapa kita memilih jalan itu, dan berani melangkah walau belum ada yang mendukung.
Masukan atau saran dari orang lain tetap bisa jadi bahan pertimbangan, tapi keputusan akhir tetap ada di tangan kita. Studi S-3 saya itu saya anggap “kecelakaan” karena nggak terencana. Pembimbing saya mengatakan kalau masih mau lanjut sekolah, ya segera saja. Karena UGM makin lama makin mahal dan aturannya makin beragam. Dengan berbagai pertimbangan dan konsekuensi, akhirnya saya memilih mengikuti saran beliau. Dan syukurlah semua terlewati dengan baik. Kalau saat itu saya memilih studi S-3 nanti-nanti, wes mungkin nggak kesampaian juga; karena biaya yang makin tinggi dan seleksi makin ketat karena makin banyak peminat, sementara kapasitas sedikit.
Begitu juga dengan proses. Kadang kita terlalu fokus pada hasil, sehingga lupa menghargai perjalanan. Padahal, setiap langkah kecil yang kita ambil adalah bagian dari kemajuan. Ketika kita berhenti mencari validasi, kita bisa lebih menikmati proses itu tanpa beban.
Saya lebih sering fokus untuk apa yang jadi tujuan. Bayangkan saja kalau energi yang biasanya habis untuk mikirin, “Apa kata orang?” Nah, kalau energi itu kita alihkan untuk belajar hal baru, memperbaiki diri, atau bahkan sekadar menjaga kesehatan mental, hidup pasti jauh lebih ringan. Kita bisa benar-benar berkembang, bukan sekadar berputar-putar tergantung opini orang lain.
Pada akhirnya, yang paling penting adalah bagaimana kita melihat diri kita sendiri. Saat bisa menatap cermin dan berkata: “Aku bangga dengan diriku, dengan segala jatuh-bangun dan proses yang sudah kulalui,” itu jauh lebih berharga daripada seribu tepuk tangan dari luar. Karena pujian orang lain hanya singgah sebentar, tapi penghargaan dari diri sendiri bisa jadi bekal seumur hidup.
Jadi, jangan tunggu validasi orang lain untuk melangkah. Karena kebenarannya, kamu lebih dari tahu dirimu sendiri. Kamu hanya perlu percaya sama dirimu, terus bergerak maju, nikmati prosesnya, dan tetap bahagia.
Sego pecel, Jawa Timur. Gambar hanya sebagai ilustrasi. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Bulan Agustus selalu punya energi khusus. Jalanan rame bendera merah putih, anak-anak teriak semangat ikut lomba, dan suasana kampung jadi hangat. Tapi di tengah semua itu, ada satu pertanyaan yang jarang kita tanya ke diri sendiri: “Aku sudah merdeka atau belum?”
Sekarang nggak ada lagi tentara asing yang datang menjajah. Tapi “penjajah” zaman now bentuknya bisa lebih licin:
Rasa takut gagal
Selalu mikirin penilaian orang
Rutinitas yang bikin kita mati rasa
Kebiasaan nyimpen mimpi cuma di kepala
Kalau kita masih takut melangkah hanya karena “takut salah” atau “takut omongan orang”, berarti kemerdekaan batin kita masih perlu diperjuangkan.
“Merdeka bukan berarti bebas dari aturan, tapi bebas dari ketakutan.”
Ciri-ciri kamu belum sepenuhnya merdeka: Pertama, susah bilang nggak walaupun itu bikin capek. Kedua, selalu minta validasi orang sebelum ambil keputusan. Ketiga, takut mencoba hal baru karena khawatir gagal. Keempat, nggak berani jujur soal apa yang sebenarnya diinginkan.
Merdeka artinya bisa memilih jalan hidup sendiri dan bertanggung jawab penuh atas pilihan itu. Kadang merdeka berarti berani keluar dari zona nyaman, walaupun awalnya bikin keringat dingin. Kadang juga berarti melepas sesuatu yang udah nggak sehat untuk jiwa kita.
“Bebas itu enak. Tapi merdeka itu tenang.”
Selain ikut lomba makan kerupuk atau tarik tambang, coba rayakan juga kemerdekaan pribadi:
Katakan “tidak” tanpa rasa bersalah.
Lakukan hal yang dari dulu cuma jadi wacana.
Lepaskan hubungan atau kebiasaan yang bikin kamu stuck.
Maafkan diri sendiri dan move on.
Karena, ujung-ujungnya… kemerdekaan yang paling mahal itu bebas jadi diri sendiri tanpa rasa takut.
Gambar hanya sebagai ilustrasi. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Kemarin, dengan obrolan panjang dengan kawan lama; saya merekam berapa banyak “orang” yang seringnya “nggak kita kenal” merusak kebahagiaan kita. Mereka menganggap “sepele” pencapaian kita. Sungguh ironis, di Indonesia yang dijuluki negeri damai, negeri bahagia, negeri dewata.
Saya pun, nggak sekali dua kali ngadepin orang-orang model begini. Semua pencapaian saya —yang tentu saja harus dengan effort luar biasa, dianggapnya sepele. Jian nggak mutu betul. Nggak tahu dia, kalau tiap orang punya ujian yang berbeda. Mungkin bagi dia gampang piknik ke kota sebelah saja, tapi bagi orang lainnya, bisa jadi nggak mudah.
Tapi bukankah bagi para pembenci, tukang iri dengki, julidan, nyinyiran, nggak ada satu hal pun yang lolos dari sifatnya itu? Jadi, yo weslah. Saya abaikan saja. Mari kita tetap berfokus pada tujuan dan mencapai hal-hal lain yang lebih besar, biarpun bagi mereka ya nanti direspon dengan celaan lainnya lagi.
Dan saya yakin, sampeyan semua pasti pernah merasa lelah karena terus berusaha bikin semua orang senang, tapi lupa nanya ke diri sendiri, “Aku tuh happy nggak sih?”
Kenyataannya, kita sering banget menomorduakan diri sendiri demi orang lain. Entah itu demi pekerjaan, pasangan, keluarga, anak-anak, atau sekadar memenuhi ekspektasi sosial. Tapi yuk, tarik napas sejenak dan ingat lho, kamu juga butuh bahagia. Bahkan, kamu dulu yang harus bahagia, sebelum bisa bikin happy orang lain.
Selfish? Bukan. Self-love? Iya dong! Seringkali kita merasa bersalah saat memprioritaskan diri sendiri. Padahal, memanjakan diri bukan egois; itu self-love. Kalau hatimu tenang dan pikiranmu bahagia, kamu akan punya energi lebih buat kasih cinta ke sekitar. Bayangin aja kalau kamu terus “kosong”, apa bisa ngisi kebahagiaan orang lain?
Bahagia nggak harus mahal atau heboh. Kadang cuma perlu secangkir kopi pagi tanpa gangguan, baca buku favorit, nonton ulang film yang kamu suka, atau sekadar tidur cukup. Bahkan, berkata “tidak” ke hal-hal yang menguras energi juga bentuk bahagia loh!
Belajar bilang, “Aku penting!” Mulai sekarang, coba bilang ke diri sendiri, “Aku berhak bahagia.” Jangan tunggu pengakuan orang lain untuk merasa happy. Dirimu yang sekarang, dengan segala luka, proses, dan pencapaianmu; itu layak dirayakan.
Percaya deh, dunia tetap berputar meski kamu rehat sejenak. Ambil waktu untuk dirimu. Nggak perlu selalu produktif. Kadang, yang kamu butuhin cuma duduk diam dan menyadari, “Wah, ternyata aku udah sejauh ini ya.”
Yuk, bahagiakan dirimu dulu. Karena ketika kamu bahagia, semua yang kamu lakukan akan terasa lebih ringan. Senyum jadi lebih tulus, niat jadi lebih murni, dan hidup jadi lebih bermakna. Hindari dan sebisa mungkin abaikan saja mereka yang cenderung “merusak” kebahagiaan kita.
Jadi, yuk mulai dari sekarang: bahagiain dirimu dulu. Bukan nanti. Tapi hari ini juga. Apapun itu, sekecil apapun pencapaianmu, tindakanmu, progress usahamu, piknik dekatmu, dll yang bikin kamu bahagia, rayakan saja. Nggak usah terlalu ambil pusing dengan omongan atau komentar orang. Terlebih mereka yang nggak ada saat kamu jatuh dan berjuang mati-matian untuk pencapaian, yang bisa jadi terlihat sepele di mata orang lain.
Hidup kita, tanggung jawab kita. Bahagia kita, kita sendiri yang tentukan. Bukan tergantung omongan atau validasi orang.
Happy Wednesday, Saya penulis, alhamdulillah hidup sehat, layak, sejahtera, dan happy damai dengan penuh syukur pada Allah atas semua peristiwa dan jatuh bangun hidup saya hingga saat ini.❤
Kamu masih merasa sulit bikin dirimu happy? Syukuri hidupmu. Catat dan hitung semua pencapaianmu, sekecil apapun. Yakinkan, bahwa kamu penting. Kamu layak bahagia. ❤️
Singgasana Raja Kutai Kartanegara di Museum Mulawarman. Gambar hanya sebagai ilustrasi. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Di era teknologi yang melesat tanpa ampun, kecerdasan buatan (AI) kini nggak hanya jadi asisten canggih dalam kehidupan sehari-hari, tapi juga mulai merambah wilayah yang dulu dianggap sebagai “wilayah eksklusif” manusia; salah satunya dunia kepenulisan. Dari menghasilkan artikel, puisi, hingga novel, AI seperti ChatGPT dan sejenisnya telah menunjukkan kemampuan yang mengesankan.
Maka, muncul pertanyaan besar: masihkah penulis manusia dibutuhkan?
Penulis dalam Bayang-Bayang Algoritma
Kini siapa pun bisa meminta AI untuk menuliskan apa saja; dalam hitungan detik. Dunia jurnalisme, periklanan, hingga penerbitan digital mulai terguncang. Bahkan profesi penulis konten dianggap “terancam punah” oleh sebagian kalangan.
Namun, di tengah kecemasan itu, muncul pula gelombang penulis tangguh yang memilih untuk beradaptasi, bukan menyerah. Mereka ini layak disebut sebagai survival writer; penulis yang bertahan hidup dan terus berkarya di tengah gempuran teknologi.
Bukan Soal Kecepatan, Tapi Kepekaan
AI mungkin bisa menulis cepat, tetapi ia masih belum bisa merasakan bahagianya pernikahan, gembiranya mendapatkan pekerjaan baru, harunya pertemuan kembali, getirnya patah hati, sakitnya pengkhianatan, rumitnya relasi manusia, atau mendalami budaya dengan kehalusan rasa seperti manusia. Di sinilah survival writer mengambil tempat.
Penulis manusia memiliki keunggulan yang nggak bisa digantikan AI: kepekaan emosi, perspektif pribadi, dan pengalaman hidup. Cerita yang menyentuh, opini yang menggugah, serta gaya bahasa yang khas tetap menjadi kekuatan utama penulis manusia.
Adaptasi Itu Kuncinya
Saya sebagai penulis sejak belia hingga sekarang, hampir 4/5 umur saya lakoni pekerjaan sebagai penulis. Sudah banyak berganti masa, sudah banyak ragam teknologi yang mau nggak mau harus saya ikuti. Pun teknologi yang terasa mengguncang seluruh industri kreatif: AI yang mewabah di semua bidang kerja. Dunia kreatif yang semula punya “keunikan”, langsung ambyar di hadapan AI. AI membuat apa saja yang diciptakan manusia dalam industri kreatif dengan kecepatan yang nggak tertandingi oleh para profesional sekalipun.
Pada awalnya, saya bener-bener galau, sedikit frustasi, dan berasa hilang langsung semua harapan atas dunia tulis menulis. Tapi begitu mengetahui kelemahan dan kekurangan AI, saya optimis kembali. Yach AI justru bisa jadi alat bantu yang memudahkan pekerjaan menulis. Sama persis dengan tahunan silam saat saya mengenal grammar checker, editing text, Google translit, final draft, dll alat bantu yang bikin pekerjaan “sangat sulit” terasa lebih ringan.
Para penulis yang berhasil bertahan bukanlah mereka yang anti-teknologi, melainkan yang mampu memanfaatkan AI sebagai alat bantu, bukan sebagai pengganti. Mereka menggunakan AI untuk riset cepat, penyusunan draft awal, atau sekadar untuk brainstorming ide. Namun, sentuhan akhir tetap diberikan dengan jiwa dan rasa manusiawi.
AI bisa jadi “asisten” yang baik dan canggih, bukan sebagai “penguasa”. Inilah bentuk kolaborasi baru di era digital: manusia + mesin = hasil maksimal.
Revolusi Gaya Hidup Penulis
Survival writer juga harus mulai membangun personal branding yang kuat, aktif di media sosial, membuat newsletter, membuka kelas menulis, bahkan menjual karya dalam bentuk digital seperti e-book atau audiobooks.
Dengan gaya hidup baru ini, mereka nggak hanya jadi penulis, tapi juga pengusaha kreatif, pendidik digital, dan influencer literasi.
Karya Otentik Akan Tetap Dicari
Saya percaya pada akhirnya, pembaca yang cerdas akan tetap mencari karya otentik atau tulisan yang bisa membuat mereka merasa “dilihat” dan “didengar”. AI bisa merangkai kata, tapi belum bisa membangun koneksi emosional yang dalam seperti penulis manusia yang menulis dengan hati.
Jadi Penulis: Mau Bertahan atau Berinovasi?
Era AI bukan akhir bagi para penulis. Justru ini adalah momen pembuktian: siapa yang mampu berinovasi dan terus tumbuh. Survival writer bukan hanya bertahan, tapi mampu menjadikan teknologi sebagai batu loncatan menuju masa depan literasi yang lebih inklusif, cepat, dan menginspirasi.
Menjadi penulis di zaman AI bukan soal kalah atau menang, tapi soal berani menjadi manusia di tengah dunia yang semakin canggih.
Selamat beradaptasi dan berinovasi. Ingat, teknologi dibuat untuk memudahkan hidup kita, gunakan saja dengan bijak.
Gambar hanya sebagai ilustrasi. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Juli ini terasa berlari aja. Rasanya baru tanggal 1, ini sudah 10 hari lewat. Gaweyan dosen yang nggak berenti meskipun mahasiswa liburan, terasa membuat hari-hari penuh dilema. Memenuhi ajakan relasi, teman, keluarga, kerabat untuk berjumpa, makan-makan, piknik (karena mereka liburan), dengan tetap harus bekerja merampungkan tugas-tugas.
Pilihannya tentu harus pandai-pandai mengatur waktu, menyela di tengah kesibukan, memastikan semua rampung, untuk sekedar “mengambil waktu” berbincang dan berjumpa. Menyambung silaturahmi penting, gaweyan juga nggak kalah pentingnya.
Bagi saya pribadi, pekerjaan menumpuk, tenggat waktu kian mendekat, dan notifikasi terus berdatangan; rasanya hal yang biasa saja. Wes jadi makanan sehari-hari. Kadang saya malah bingung kalau harus break sehari saja tanpa aktivitas. Biasanya njur bingewatching, nonton maraton sampai tertidur sendiri😁
Situasi kesibukan dan deadline beruntun seperti itu, saya yakin juga banyak orang (dan sering) mengalaminya. Di tengah tekanan, menjaga ketenangan bukan perkara mudah, tetapi sangat mungkin dilakukan. Bahkan, kemampuan untuk tetap tenang saat sibuk adalah kunci untuk menyelesaikan tugas dengan lebih efektif.
Jadi, apa yang harus kita lakukan pada situasi tersebut?
Kesatu, biasanya siy saya menerima semuanya dengan legawa. Menyadari bahwa banyak gaweyan berarti banyak rezeki. Banyak rezeki berarti bisa banyak piknik, banyak berbagi, banyak ikut workshop dan kelas-kelas baru, dll yang memerlukan uang untuk aksesnya.
Kedua, saat ditagih deadline, tarik napas dan sadari bahwa panik nggak bikin masalah selesai. Menarik napas dalam-dalam selama beberapa detik bisa mengaktifkan respons relaksasi tubuh dan meredakan stres. Beri jeda sejenak. Saat panik, otak sulit berpikir jernih. Jadi, sebelum bergerak menyelesaikan pekerjaan, pastikan diri kita dalam kondisi tenang.
Ketiga, tentukan skala prioritas, jangan kerjakan semua gaweyan sekaligus. Kita bisa kelelahan tanpa hasil maksimal. Buat daftar gaweyan berdasarkan urgensi dan tingkat kesulitan.
Jangan mencoba menyelesaikan semuanya dalam satu waktu. Gunakan metode seperti Eisenhower Matrix atau teknik “prioritas A-B-C” untuk memetakan mana yang harus dikerjakan dulu. Fokuslah pada satu tugas, selesaikan, lalu lanjut ke yang berikutnya.
Keempat, atur waktu dengan cerdas. Gunakan teknik manajemen waktu seperti Pomodoro (kerja 25 menit, istirahat 5 menit) untuk menjaga fokus dan menghindari kelelahan.
Kelima, matikan notifikasi HP atau sosmed yang nggak penting biar kita bisa fokus. Kadang, satu jam kerja tanpa gangguan lebih produktif daripada tiga jam yang terpecah-pecah.
Keenam, belajar berkata “Tidak”. Saat deadline sudah dekat, jangan ragu menolak pekerjaan tambahan atau ajakan yang nggak penting atau mendesak. Menjaga kesehatan mental dan fokus lebih penting daripada menyenangkan semua orang. Prioritaskan yang memang jadi tanggung jawab kita.
Ketujuh, ingatkan diri bahwa kondisi itu hanya sementara. Perasaan tertekan bisa membuat kita lupa bahwa kondisi ini hanya sementara. Deadline akan lewat. Pekerjaan akan selesai.
Kedelapan, kita hanya perlu tetap waras dan berjalan satu langkah demi satu langkah. Setelah semuanya selesai, beri penghargaan pada diri sendiri. Rehat sejenak. Nikmati pencapaian kecil.
Jadi, sibuk bukan alasan untuk kehilangan kendali. Justru di tengah tekanan, ketenangan menjadi kekuatan. Dengan kepala dingin, manajemen waktu yang baik, dan mindset positif, kita nggak hanya bisa menyelesaikan tugas, tapi juga bisa melewatinya dengan gembira dan bahagia.