Apakah Dirimu Sudah Merdeka?

Sego pecel, Jawa Timur. Gambar hanya sebagai ilustrasi. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Bulan Agustus selalu punya energi khusus. Jalanan rame bendera merah putih, anak-anak teriak semangat ikut lomba, dan suasana kampung jadi hangat. Tapi di tengah semua itu, ada satu pertanyaan yang jarang kita tanya ke diri sendiri: “Aku sudah merdeka atau belum?”

Sekarang nggak ada lagi tentara asing yang datang menjajah. Tapi “penjajah” zaman now bentuknya bisa lebih licin:

  • Rasa takut gagal
  • Selalu mikirin penilaian orang
  • Rutinitas yang bikin kita mati rasa
  • Kebiasaan nyimpen mimpi cuma di kepala

Kalau kita masih takut melangkah hanya karena “takut salah” atau “takut omongan orang”, berarti kemerdekaan batin kita masih perlu diperjuangkan.

“Merdeka bukan berarti bebas dari aturan, tapi bebas dari ketakutan.”

Ciri-ciri kamu belum sepenuhnya merdeka: Pertama, susah bilang nggak walaupun itu bikin capek. Kedua, selalu minta validasi orang sebelum ambil keputusan. Ketiga, takut mencoba hal baru karena khawatir gagal. Keempat, nggak berani jujur soal apa yang sebenarnya diinginkan.

Merdeka artinya bisa memilih jalan hidup sendiri dan bertanggung jawab penuh atas pilihan itu. Kadang merdeka berarti berani keluar dari zona nyaman, walaupun awalnya bikin keringat dingin. Kadang juga berarti melepas sesuatu yang udah nggak sehat untuk jiwa kita.

“Bebas itu enak. Tapi merdeka itu tenang.”

Selain ikut lomba makan kerupuk atau tarik tambang, coba rayakan juga kemerdekaan pribadi:

  1. Katakan “tidak” tanpa rasa bersalah.
  2. Lakukan hal yang dari dulu cuma jadi wacana.
  3. Lepaskan hubungan atau kebiasaan yang bikin kamu stuck.
  4. Maafkan diri sendiri dan move on.

Karena, ujung-ujungnya… kemerdekaan yang paling mahal itu bebas jadi diri sendiri tanpa rasa takut.

“Negara sudah merdeka, sekarang giliran jiwamu.”

Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us:

Bikin Dirimu Happy Duluan

Gambar hanya sebagai ilustrasi. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Kemarin, dengan obrolan panjang dengan kawan lama; saya merekam berapa banyak “orang” yang seringnya “nggak kita kenal” merusak kebahagiaan kita. Mereka menganggap “sepele” pencapaian kita. Sungguh ironis, di Indonesia yang dijuluki negeri damai, negeri bahagia, negeri dewata.

Saya pun, nggak sekali dua kali ngadepin orang-orang model begini. Semua pencapaian saya —yang tentu saja harus dengan effort luar biasa, dianggapnya sepele. Jian nggak mutu betul. Nggak tahu dia, kalau tiap orang punya ujian yang berbeda. Mungkin bagi dia gampang piknik ke kota sebelah saja, tapi bagi orang lainnya, bisa jadi nggak mudah.

Tapi bukankah bagi para pembenci, tukang iri dengki, julidan, nyinyiran, nggak ada satu hal pun yang lolos dari sifatnya itu? Jadi, yo weslah. Saya abaikan saja. Mari kita tetap berfokus pada tujuan dan mencapai hal-hal lain yang lebih besar, biarpun bagi mereka ya nanti direspon dengan celaan lainnya lagi.

Dan saya yakin, sampeyan semua pasti pernah merasa lelah karena terus berusaha bikin semua orang senang, tapi lupa nanya ke diri sendiri, “Aku tuh happy nggak sih?”

Kenyataannya, kita sering banget menomorduakan diri sendiri demi orang lain. Entah itu demi pekerjaan, pasangan, keluarga, anak-anak, atau sekadar memenuhi ekspektasi sosial. Tapi yuk, tarik napas sejenak dan ingat lho, kamu juga butuh bahagia. Bahkan, kamu dulu yang harus bahagia, sebelum bisa bikin happy orang lain.

Selfish? Bukan. Self-love? Iya dong! Seringkali kita merasa bersalah saat memprioritaskan diri sendiri. Padahal, memanjakan diri bukan egois; itu self-love. Kalau hatimu tenang dan pikiranmu bahagia, kamu akan punya energi lebih buat kasih cinta ke sekitar. Bayangin aja kalau kamu terus “kosong”, apa bisa ngisi kebahagiaan orang lain?

Bahagia nggak harus mahal atau heboh. Kadang cuma perlu secangkir kopi pagi tanpa gangguan, baca buku favorit, nonton ulang film yang kamu suka, atau sekadar tidur cukup. Bahkan, berkata “tidak” ke hal-hal yang menguras energi juga bentuk bahagia loh!

Belajar bilang, “Aku penting!” Mulai sekarang, coba bilang ke diri sendiri, “Aku berhak bahagia.” Jangan tunggu pengakuan orang lain untuk merasa happy. Dirimu yang sekarang, dengan segala luka, proses, dan pencapaianmu; itu layak dirayakan.

Percaya deh, dunia tetap berputar meski kamu rehat sejenak. Ambil waktu untuk dirimu. Nggak perlu selalu produktif. Kadang, yang kamu butuhin cuma duduk diam dan menyadari, “Wah, ternyata aku udah sejauh ini ya.”

Yuk, bahagiakan dirimu dulu. Karena ketika kamu bahagia, semua yang kamu lakukan akan terasa lebih ringan. Senyum jadi lebih tulus, niat jadi lebih murni, dan hidup jadi lebih bermakna. Hindari dan sebisa mungkin abaikan saja mereka yang cenderung “merusak” kebahagiaan kita.

Jadi, yuk mulai dari sekarang: bahagiain dirimu dulu. Bukan nanti. Tapi hari ini juga. Apapun itu, sekecil apapun pencapaianmu, tindakanmu, progress usahamu, piknik dekatmu, dll yang bikin kamu bahagia, rayakan saja. Nggak usah terlalu ambil pusing dengan omongan atau komentar orang. Terlebih mereka yang nggak ada saat kamu jatuh dan berjuang mati-matian untuk pencapaian, yang bisa jadi terlihat sepele di mata orang lain.

Hidup kita, tanggung jawab kita. Bahagia kita, kita sendiri yang tentukan. Bukan tergantung omongan atau validasi orang.

Happy Wednesday,
Saya penulis, alhamdulillah hidup sehat, layak, sejahtera, dan happy damai dengan penuh syukur pada Allah atas semua peristiwa dan jatuh bangun hidup saya hingga saat ini.❤

Kamu masih merasa sulit bikin dirimu happy? Syukuri hidupmu. Catat dan hitung semua pencapaianmu, sekecil apapun. Yakinkan, bahwa kamu penting. Kamu layak bahagia. ❤️

Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us:

“Survival Writer” di Tengah Gempuran Kecerdasan Buatan (AI)

Singgasana Raja Kutai Kartanegara di Museum Mulawarman. Gambar hanya sebagai ilustrasi. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Di era teknologi yang melesat tanpa ampun, kecerdasan buatan (AI) kini nggak hanya jadi asisten canggih dalam kehidupan sehari-hari, tapi juga mulai merambah wilayah yang dulu dianggap sebagai “wilayah eksklusif” manusia; salah satunya dunia kepenulisan. Dari menghasilkan artikel, puisi, hingga novel, AI seperti ChatGPT dan sejenisnya telah menunjukkan kemampuan yang mengesankan.

Maka, muncul pertanyaan besar: masihkah penulis manusia dibutuhkan?

Penulis dalam Bayang-Bayang Algoritma

Kini siapa pun bisa meminta AI untuk menuliskan apa saja; dalam hitungan detik. Dunia jurnalisme, periklanan, hingga penerbitan digital mulai terguncang. Bahkan profesi penulis konten dianggap “terancam punah” oleh sebagian kalangan.

Namun, di tengah kecemasan itu, muncul pula gelombang penulis tangguh yang memilih untuk beradaptasi, bukan menyerah. Mereka ini layak disebut sebagai survival writer; penulis yang bertahan hidup dan terus berkarya di tengah gempuran teknologi.

Bukan Soal Kecepatan, Tapi Kepekaan

AI mungkin bisa menulis cepat, tetapi ia masih belum bisa merasakan bahagianya pernikahan, gembiranya mendapatkan pekerjaan baru, harunya pertemuan kembali, getirnya patah hati, sakitnya pengkhianatan, rumitnya relasi manusia, atau mendalami budaya dengan kehalusan rasa seperti manusia. Di sinilah survival writer mengambil tempat.

Penulis manusia memiliki keunggulan yang nggak bisa digantikan AI: kepekaan emosi, perspektif pribadi, dan pengalaman hidup. Cerita yang menyentuh, opini yang menggugah, serta gaya bahasa yang khas tetap menjadi kekuatan utama penulis manusia.

Adaptasi Itu Kuncinya

Saya sebagai penulis sejak belia hingga sekarang, hampir 4/5 umur saya lakoni pekerjaan sebagai penulis. Sudah banyak berganti masa, sudah banyak ragam teknologi yang mau nggak mau harus saya ikuti. Pun teknologi yang terasa mengguncang seluruh industri kreatif: AI yang mewabah di semua bidang kerja. Dunia kreatif yang semula punya “keunikan”, langsung ambyar di hadapan AI. AI membuat apa saja yang diciptakan manusia dalam industri kreatif dengan kecepatan yang nggak tertandingi oleh para profesional sekalipun.

Pada awalnya, saya bener-bener galau, sedikit frustasi, dan berasa hilang langsung semua harapan atas dunia tulis menulis. Tapi begitu mengetahui kelemahan dan kekurangan AI, saya optimis kembali. Yach AI justru bisa jadi alat bantu yang memudahkan pekerjaan menulis. Sama persis dengan tahunan silam saat saya mengenal grammar checker, editing text, Google translit, final draft, dll alat bantu yang bikin pekerjaan “sangat sulit” terasa lebih ringan.

Para penulis yang berhasil bertahan bukanlah mereka yang anti-teknologi, melainkan yang mampu memanfaatkan AI sebagai alat bantu, bukan sebagai pengganti. Mereka menggunakan AI untuk riset cepat, penyusunan draft awal, atau sekadar untuk brainstorming ide. Namun, sentuhan akhir tetap diberikan dengan jiwa dan rasa manusiawi.

AI bisa jadi “asisten” yang baik dan canggih, bukan sebagai “penguasa”. Inilah bentuk kolaborasi baru di era digital: manusia + mesin = hasil maksimal.

Revolusi Gaya Hidup Penulis

Survival writer juga harus mulai membangun personal branding yang kuat, aktif di media sosial, membuat newsletter, membuka kelas menulis, bahkan menjual karya dalam bentuk digital seperti e-book atau audiobooks.

Dengan gaya hidup baru ini, mereka nggak hanya jadi penulis, tapi juga pengusaha kreatif, pendidik digital, dan influencer literasi.

Karya Otentik Akan Tetap Dicari

Saya percaya pada akhirnya, pembaca yang cerdas akan tetap mencari karya otentik atau tulisan yang bisa membuat mereka merasa “dilihat” dan “didengar”. AI bisa merangkai kata, tapi belum bisa membangun koneksi emosional yang dalam seperti penulis manusia yang menulis dengan hati.

Jadi Penulis: Mau Bertahan atau Berinovasi?

Era AI bukan akhir bagi para penulis. Justru ini adalah momen pembuktian: siapa yang mampu berinovasi dan terus tumbuh. Survival writer bukan hanya bertahan, tapi mampu menjadikan teknologi sebagai batu loncatan menuju masa depan literasi yang lebih inklusif, cepat, dan menginspirasi.

Menjadi penulis di zaman AI bukan soal kalah atau menang, tapi soal berani menjadi manusia di tengah dunia yang semakin canggih.

Selamat beradaptasi dan berinovasi. Ingat, teknologi dibuat untuk memudahkan hidup kita, gunakan saja dengan bijak.

Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us:

Tetap Tenang di Tengah Kesibukan

Gambar hanya sebagai ilustrasi. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Juli ini terasa berlari aja. Rasanya baru tanggal 1, ini sudah 10 hari lewat. Gaweyan dosen yang nggak berenti meskipun mahasiswa liburan, terasa membuat hari-hari penuh dilema. Memenuhi ajakan relasi, teman, keluarga, kerabat untuk berjumpa, makan-makan, piknik (karena mereka liburan), dengan tetap harus bekerja merampungkan tugas-tugas.

Pilihannya tentu harus pandai-pandai mengatur waktu, menyela di tengah kesibukan, memastikan semua rampung, untuk sekedar “mengambil waktu” berbincang dan berjumpa. Menyambung silaturahmi penting, gaweyan juga nggak kalah pentingnya.

Bagi saya pribadi, pekerjaan menumpuk, tenggat waktu kian mendekat, dan notifikasi terus berdatangan; rasanya hal yang biasa saja. Wes jadi makanan sehari-hari. Kadang saya malah bingung kalau harus break sehari saja tanpa aktivitas. Biasanya njur bingewatching, nonton maraton sampai tertidur sendiri😁

Situasi kesibukan dan deadline beruntun seperti itu, saya yakin juga banyak orang (dan sering) mengalaminya. Di tengah tekanan, menjaga ketenangan bukan perkara mudah, tetapi sangat mungkin dilakukan. Bahkan, kemampuan untuk tetap tenang saat sibuk adalah kunci untuk menyelesaikan tugas dengan lebih efektif.

Jadi, apa yang harus kita lakukan pada situasi tersebut?

Kesatu, biasanya siy saya menerima semuanya dengan legawa. Menyadari bahwa banyak gaweyan berarti banyak rezeki. Banyak rezeki berarti bisa banyak piknik, banyak berbagi, banyak ikut workshop dan kelas-kelas baru, dll yang memerlukan uang untuk aksesnya.

Kedua, saat ditagih deadline, tarik napas dan sadari bahwa panik nggak bikin masalah selesai. Menarik napas dalam-dalam selama beberapa detik bisa mengaktifkan respons relaksasi tubuh dan meredakan stres. Beri jeda sejenak. Saat panik, otak sulit berpikir jernih. Jadi, sebelum bergerak menyelesaikan pekerjaan, pastikan diri kita dalam kondisi tenang.

Ketiga, tentukan skala prioritas, jangan kerjakan semua gaweyan sekaligus. Kita bisa kelelahan tanpa hasil maksimal. Buat daftar gaweyan berdasarkan urgensi dan tingkat kesulitan.

Jangan mencoba menyelesaikan semuanya dalam satu waktu. Gunakan metode seperti Eisenhower Matrix atau teknik “prioritas A-B-C” untuk memetakan mana yang harus dikerjakan dulu. Fokuslah pada satu tugas, selesaikan, lalu lanjut ke yang berikutnya.

Keempat, atur waktu dengan cerdas. Gunakan teknik manajemen waktu seperti Pomodoro (kerja 25 menit, istirahat 5 menit) untuk menjaga fokus dan menghindari kelelahan.

Kelima, matikan notifikasi HP atau sosmed yang nggak penting biar kita bisa fokus. Kadang, satu jam kerja tanpa gangguan lebih produktif daripada tiga jam yang terpecah-pecah.

Keenam, belajar berkata “Tidak”. Saat deadline sudah dekat, jangan ragu menolak pekerjaan tambahan atau ajakan yang nggak penting atau mendesak. Menjaga kesehatan mental dan fokus lebih penting daripada menyenangkan semua orang. Prioritaskan yang memang jadi tanggung jawab kita.

Ketujuh, ingatkan diri bahwa kondisi itu hanya sementara. Perasaan tertekan bisa membuat kita lupa bahwa kondisi ini hanya sementara. Deadline akan lewat. Pekerjaan akan selesai.

Kedelapan, kita hanya perlu tetap waras dan berjalan satu langkah demi satu langkah. Setelah semuanya selesai, beri penghargaan pada diri sendiri. Rehat sejenak. Nikmati pencapaian kecil.

Jadi, sibuk bukan alasan untuk kehilangan kendali. Justru di tengah tekanan, ketenangan menjadi kekuatan. Dengan kepala dingin, manajemen waktu yang baik, dan mindset positif, kita nggak hanya bisa menyelesaikan tugas, tapi juga bisa melewatinya dengan gembira dan bahagia.

Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us:

Anak-anak Super Gunung Kidul

Anak-anak SMP Gunung Kidul setelah kelas penulisan. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.


Alhamdulillah, hari ke-2 Bimtek Kepenulisan Angkatan 2; Selasa s/d Kamis 20-22 Mei sudah terlewati dengan baik. Masih ada 1 hari ekstra esok yang pasti bikin pemateri kudu lebih sabar. Kelas yang bikin saya … haish, ini bocah dikasih tahu belum selesai wes nyicriiis nyolot jawab aja.
.
Ya ampun, hampir semua begitu. Dan saya terperangah bagaimana mereka merasa baik-baik aja; menjawab spontan seolah tanpa sensor dengan ngeyelannya yang aduhai itu… 🤣🤣
.
Tapi ya, itulah anak-anak (cucu atau mungkin cicit) SMP kita. Bandel, ngeyelan, tapi cerdas, kritis, dan sering nggak mau ngalah. Kalau ngomong sama siapa aja, kayaknya kudu menang. Apa aja yang nggak sesuai pikirannya, akan dilawannya.
.
Toh saya tetap mengapresiasi keseriusan mereka mengikuti kelas, mengerjakan tugas menulis, menyimak materi, dan tanya jawab 2 jam tanpa ngantuk di siang bolong yang terik 🤩🥰
.
Kalian semua hebat, mung perlu lebih menjaga sopan santun dan kepatutan bicara saja. Percayalah, nanti kalian akan tahu bahwa ngotot, ngeyel, kadang cuma membuat kita lelah jiwa raga 😄😁
.
Sampai jumpa di kelas-kelas penulisan atau workshop berikutnya 😀🤩
.

Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us:

Cari Rezeki Saat Demo

Gambar hanya sebagai ilustrasi. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Pagi hari kemarin saat saya mau berangkat, saya heran karena tetangga ujung komplek malah sepedaan keliling. Pas saya tanya, jawabnya dia libur kerja karena hari ini ojol mobol (ojek online, mobil online) demo; minta share yang adil dan kenaikan tarif per km (cmiiw).
.
Kagetlah saya. Gakbisa pesan online dong. Ternyata bisa dan saya pun berangkat ke kampus dengan selamat. Si driver bilang kalau tetap narik, tapi nggak pake atribut.
.
Saya ulik lebih jauh, ya tetap cari rezeki Bu. Kan kalau saya nggak berangkat ngangkut penumpang yo gak dapat duit. Penumpangnya juga repot. Anak istri saya kan nggak libur makan meskipun ada demo, Bu.

Saya ikutan ngikik. Ya, demo itu satu hal. Urusan cari rezeki juga lain hal. Sama-sama penting, tapi kadang kita ini sebagai wong cilik kudu nerima saja; patuh dengan aturan kapitalis yang melakukan banyak potongan nggak kira-kira; mulai dari pajak, pungli, iuran-iuran, dana sosial, dll yang bikin pendapatan makin mengecil; ketambahan inflasi, makin bikin daya beli mengkerut.
.
Kalau mikirin gitu malah mumet, makanya wes santai bae. Waktunya kerja ya kerja. Ntar rezeki pasti datang. Seperti kata driver tadi, bagaimanapun yo tetap cari rezeki. Kita ngomelin keadaan pun tetap kudu makan, dan makan itu bisa tersedia kalau ada uang untuk membeli atau membuatnya.
.
Hari Kebangkitan Nasional 20 Mei 1998 saya ikut dengan ribuan mahasiswa untuk melengserkan Pres Soeharto. Hampir 30 tahun sejak Reformasi ternyata “konsep ideal” NKRI malah makin jauh panggang dari api, ada setitik sesal juga bikin beliau lengser. Bukan membela masa lalu, tapi masa kini nggak seindah harapan saat itu.
.
Dulu KKN (Korupsi, Kolusi, Nepotisme) masih samar, kecil-kecilan dan malu-malu; kini justru besar-besaran dan terang-terangan. Banyak pejabat nggak malu-malu flexing hidup hedon, gak peduli duitnya korupsi dari jutaan keringat dan darah rakyat yang dibayar lewat aneka pajak. Beragam aturan ditabrak diubah, dll. kejahatan masif dan kita suruh mengaminkan saja.
.
Duh, negeriku. Semoga Allah menjaga kita semua dengan keselamatan lahir batin dunia akhirat. Amin.
.

Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us:

Apalagi Yang Bisa Dihemat?

Gambar hanya sebagai ilustrasi. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

“Bu Ari, kalau hidup kita sudah hemat dan cenderung kurang dalam beberapa hal, apalagi yang bisa dihemat untuk menabung?”

Jawab saya, “Kalau sulit, nggak usah menghemat lagi. Cari cara untuk mendapatkan uang lebih banyak. Nggak mudah, tapi kalau kita niat pasti ada jalan. Bahkan, menawarkan jasa untuk antar jemput sekolah anak tetangga saja (kalau beruntung) sudah bisa dapat uang lumayan.”

Indonesia secara umum di permukaan terlihat sangat baik. Tapi kalau sampeyan mau turun ke lapangan, berbicara dengan masyarakat luas; kita sebenarnya sedang perang menghadapi masalah ekonomi. Inflasi yang tinggi, tapi selalu diredam dengan berbagai “omongan baik” pemerintah nggak bisa mengelak dari masalah turunnya daya beli masyarakat.

Toko-toko kiri kanan rumah saya, yang seumur-umur saya tinggal di situ nggak pernah mengeluh, tahun ini beberapa kali tercetus sepinya pembeli dan sulitnya membayar cicilan bank atas utang usaha mereka.

Saya pribadi merasa bahwa harga-harga barang kebutuhan pokok menjadi “lebih nggak terkendali” sejak wacana PPN 12% Oktober tahun lalu digulirkan. Harga barang naik duluan dan nggak mau turun ketika wacana itu sudah dibatalkan. Daya beli masyarakat sudah terlanjur menurun.

Di tengah naiknya harga kebutuhan pokok, biaya-biaya jasa yang terus merangkak, dan tagihan yang seakan nggak mau kompromi itu, banyak dari kita mungkin sudah sering bertanya, “Apalagi yang bisa dihemat?”

Pertanyaan ini bukan hanya soal uang, tapi juga soal cara atau gaya hidup. Karena ternyata, banyak hal dalam hidup yang bisa kita hemat; dan bukan semua hanya soal angka atau uang kita di rekening.

Pertama, Uang Jelas Bisa Dihemat. Tapi Bagaimana Caranya?

Masak Sendiri:
Jajan kopi kekinian tiap hari? Bisa hemat ratusan ribu sebulan kalau diganti dengan seduh kopi di rumah. Bawa thumbler isi minuman saat keluar rumah.

Saya yang tetahunan sejak pandemi hingga Oktober tahun lalu; setiap hari beli makanan online 2x-3x sehari, sudah menghentikannya. Charge PPN 12 persen itu bikin pengeluaran makan saya yang mestinya A menjadi 2A, padahal nggak serta merta pendapatan naik 2x lipat.

Sejak Desember tahun lalu saya belajar lagi “memasak” dengan membeli aneka bahan makan mudah olah dan praktis. Ternyata hanya butuh biaya 1/2 A. Tentu saya yo kudu effort sedikit. Mencuci piranti masak, perlu gas, perlu sabun cuci, perlu air, listrik jadi tambah karena penggunaan airfryer, grill, blender, oven, pemanggang roti, dll.

Tapi bahwa total keseluruhan biaya hanya 1/2 A dengan makanan yang sudah 4 sehat 5 sempurna (kadang bahan masih ada banyak, bisa untuk setengah bulan berikutnya), itu sungguh bikin saya takjub. Ngopo kok nggak dulu-dulu, kan saya bisa piknik dekat-dekat lebih sering😂😁

Belanja dengan Daftar:

Iyes banget. Jangan berangkat ke tempat belanja: supermarket/mall/pasar/pameran/ galeri dll tanpa rencana. Impulsif itu musuh utama dompet! Tenan kuy 😀 Lapar mata, godaan diskon, tawaran manis Mbak-Mbak Cantik Sales kosmetik, dll itu bikin kita bisa belok haluan. Membeli yang nggak penting-penting amat. Duitnya keluar nggak bisa ditarik lagi, barangnya ternyata nggak kita perlukan.

Langganan Digital:
Punya lima aplikasi streaming, tapi nonton cuma satu? Saatnya unsubscribe. Pilih yang benar-benar sering dipake nonton. Mo cuma puluhan ribu sebulan, setahun ya cukup ada jumlahnya. Atau pilih layanan yang gratis aja. Baru beli layanan khusus untuk tayangan tertentu yang mau ditonton.

Kedua, Hemat Waktu
Scroll Media Sosial:
Satu jam scroll, lima menit bahagia, sisanya? Entah. Waktu bisa lebih bermanfaat kalau dipakai untuk membaca, olahraga, beberes rumah atau ngobrol dengan orang rumah.

Rapat Nggak Penting:
Hemat waktu dengan berkata jujur, “Ini bisa lewat email nggak, ya?”

Main Game Over Waktu:

Sesekali main game itu perlu, tapi kalau sampai over waktu, bahkan mengabaikan banyak kewajiban, itu perlu dibenahi ulang. Game juga menghabiskan uang kalau mainnya memakai koin atau poin yang harus dibeli dengan uang riil.

Ketiga, Hemat Energi Emosional
Drama Nggak Penting:
Pilih pembicaraan yang memang layak untuk dilakukan. Kadang lebih sehat untuk diam daripada menjelaskan pada mereka yang nggak mau mengerti.

Saya yo wes bolak-balik ditanyain kenapa nggak bawa motor atau mobil, malah pilih pesan motor atau mobil online. Kelihatannya boros versi mereka, tapi bagi saya lebih boros bawa kendaraan sendiri. Karena mereka hanya ngitung uang, nggak ngitung waktu, energi, konsentrasi saya yang hilang kalau saya harus berkendara sendiri.

Kalau bawa mobil sendiri, saya nggak bisa sambil ngetik to? Nggak bisa sambil baca atau ngaji to? Haish, orang memang beda-beda pemikiran. Jadi saya yo wes diam saja. Saya nggak hidup dari makan gengsi atau omongan orang. Nggak perlu juga validasi “mampu” hanya karena bawa mobil sendiri.

Overthinking:
Banyak hal yang kita takutkan ternyata nggak pernah terjadi. Jangan boros energi untuk skenario yang hanya ada di kepala kita. Mumet nanti. Mikir yang baik-baik aja. Nikmati, syukuri hidupmu. Kalau sudah cukup tanpa bisa menghemat, ya terima aja dulu. Sambil berjalannya waktu, cari cara untuk menambah penghasilan.

Keempat, Hemat Berkaitan Dengan Barang-barang Kita
Beli Sesuai Kebutuhan, Bukan Tren:

Lemari penuh tapi tetap merasa ‘nggak punya baju’? Bisa jadi yang dibutuhkan bukan baju baru, tapi mindset baru. Saya kadang mikir, baju mana lagi yang mau dipake. Kadang ini bikin impulsif beli-beli kain untuk dijahit. Tapi dengan adanya plan yang perlu budget tertentu, saya lebih bisa ngerem dan kadang “membarukan” baju lama dengan sedikit tambahan desain atau perubahan itu perlu.

Kelima, Mari Kita Terapkan Hidup Minimalis:
Hemat ruang, hemat waktu beberes, hemat pikiran. Semakin sedikit penampakan, semakin sederhana, semakin ringan beban hidup kita; karena kita hidup sesuai dengan kapasitas dan kemampuan. Nggak perlu panas hati, iri dengki kalau keluarga kita, tetangga kita, kawan kerja kita, tetiba beli barang-barang branded, piknik luar negeri, pesta mewah, dll. Kita kan nggak tahu toh usaha mereka untuk mendapatkan hal itu? Hidup sesuai kemampuan cenderung bikin hati lebih damai, adem ayem, nggak kemrungsung, nggak perlu dikejar-kejar utang pulak!

Keenam, Hemat Kata-kata
Komentar Negatif:
Nggak semua hal perlu dikomentari. Kadang diam adalah bentuk paling elegan dari hemat kata. Setiap orang punya pemikiran yang berbeda. Nggak usah ribet dengan kelakuan orang lain, selama itu nggak melanggar hukum dan aturan secara umum.

Janji Berlebihan:
Hemat janji, supaya nggak boros masalah kepercayaan. Jangan menjanjikan apapun pada anak, keluarga, pasangan, mertua, orang tua, teman, dll kalau sampeyan nggak yakin bisa. Alih-alih janji, kalau mampu saja langsung belikan atau ajak sesuai keinginan mereka. Lebih menyenangkan, lebih surprise.

Pada Akhirnya, Hemat Itu Soal Pilihan
Menghemat bukan berarti pelit. Menghemat adalah seni memilih apa yang benar-benar penting. Hidup bukan tentang punya segalanya, tapi tentang bagaimana kita menikmati segala yang kita miliki dengan tenang, bijak, dan sadar.

Jadi, kalau hari ini kamu merasa masih serba mepet dalam banyak hal: waktu, tenaga, pikiran, dompet; coba tanyakan sekali lagi pada diri sendiri, “Apalagi yang bisa dihemat?”

Jawabannya mungkin lebih dari yang kamu kira. Pasti kamu akan ketemu beragam cara untuk berhemat dalam berbagai aspek kehidupan.

Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us: