Penanda pura di Tanah Lot dimuliakan, dianggap luhur. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Kunjungan kami berikutnya ke Tanah Lot. Terletak di Kabupaten Tabanan, sekitar 20 km dari Denpasar, Tanah Lot menjulang kokoh di atas batu karang yang besar. Saat air pasang, pura ini tampak seperti mengapung di tengah laut. Keindahan panorama matahari terbenam di balik siluet pura membuatnya menjadi ikon Bali yang mendunia. Tanah Lot bukan sekadar destinasi wisata. Ini adalah pusat spiritual, tempat di mana mitos, alam, dan keyakinan berpadu.
Sejarah Tanah Lot nggak bisa dilepaskan dari kisah Dang Hyang Nirartha, seorang pendeta dari Jawa yang menyebarkan ajaran Hindu ke Bali pada abad ke-16. Dikisahkan, Nirartha melakukan perjalanan spiritual dan sampai di sebuah pantai dengan batu karang besar yang menjorok ke laut.
Tanah Lot di belakang saya. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Sang Pendeta merasakan aura kesucian di tempat itu, sehingga memutuskan untuk mendirikan pura di atas karang tersebut. Namun, raja setempat saat itu merasa terganggu dan mencoba mengusir Nirartha. Konon, dengan kekuatan spiritualnya, pendeta sakti ini berhasil memindahkan karang ke tengah laut. Selanjutnya karang tersebut menjadi pulau kecil yang kini dikenal sebagai Tanah Lot; yang berarti “tanah di tengah laut”.
Di kaki karang Tanah Lot terdapat sebuah mata air yang unik. Meski dikelilingi air lautan asin, airnya tetap tawar. Umat Hindu percaya air ini adalah tirta suci, lambang pemurnian lahir batin. Saat upacara keagamaan, air suci ini digunakan sebagai sarana penyucian. Sementara wisatawan kerap merasakan kesegarannya dengan membasuh wajah atau meminumnya sedikit. Keajaiban air ini menjadi salah satu bukti bahwa Tanah Lot bukan sekadar tempat wisata, melainkan ruang sakral yang dijaga oleh alam itu sendiri.
Selain air suci, Tanah Lot dikenal dengan ular laut sucinya. Ular-ular ini hidup di celah karang dekat mata air, dipercaya sebagai jelmaan selendang Nirartha. Mereka dianggap sebagai penjaga pura dari energi negatif dan gangguan roh jahat. Meski berwujud ular berbisa, masyarakat meyakini ular ini nggak berbahaya, kecuali diganggu. Keberadaannya justru memperkuat aura mistis sekaligus kesakralan Tanah Lot.
Gua tempat tinggal ular suci di Tanah Lot. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Tanah Lot bukan hanya keindahan yang memanjakan mata, tapi juga kisah spiritual yang menyentuh jiwa. Laut, karang, air tawar, dan ular laut bersatu dalam harmoni, menghadirkan sebuah ruang sakral yang melampaui sekadar panorama.
Inilah sebabnya Tanah Lot nggak pernah kehilangan pesonanya. Ia bukan sekadar tempat untuk menikmati matahari terbit atau terbenam, tapi juga perjalanan batin; sebagai pertemuan antara manusia, alam, dan yang ilahi.
Pada saat kami di sini, suasana ramai sekali. Tumplek byuk orang-orang dari berbagai tempat di penjuru negeri. Antrian di depan tempat air suci mengular panjang. Sementara beberapa orang terlihat di depan sisi gua tempat “ular suci” konon bermukim.
Keramaian Tanah Lot saat kami datang. Makin sore makin penuh. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Saya, selain sudah cukup lelah, keramaian orang juga sering membuat pening mendadak (kekurangan oksigen bersih). Karenanya saya sadar diri, nggak cari perkara dengan urusan kesehatan. Begitu selesai minta foto-foto dari Kak Bebe, mider di beberapa sudut untuk ambil foto. Njur minum dan thenguk-thenguk saja menyaksikan orang lalu lalang dengan aneka dandanan rupa-rupa.
Sebenarnya ada keinginan untuk melihat ular sakti di gua dan antri air suci. Dulu-dulu saya nggak pernah kepikiran tentang dua hal ini. Ke Tanah Lot, datang ya datang aja. Motret sunrise atau sunset, mider keliling, njur pulang. Cuma gegara cerita Mbokde Saori tentang spirit “berkah rezeki dan kebaikan” via pertemuan dengan ular sakti dan minum air suci, saya jadi tergoda.
Iya dong, kalau kamu doyan dolan nggak cukup sekedar “katanya” atau mendengar cerita. Datang dan buktikan keberadaannya. Cuma karena energi saya sudah lumayan tipis, saya mundur teratur. Apalagi ini jelang maghrib, energi “kaum tak nampak” begitu jauh lebih besar daripada kita. Makanya orang Jawa punya istilah “kesurupan” yang berarti dimasuki “makhluk asing” saat surup “maghrib”.
Jelang maghrib menuju tempat pertunjukan Tari Kecak. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Urusan-urusan nggak kasat mata begini, bisa ribet bermasalah kalau kita nggak sedang full energi. Kita bisa kalah lawan kekuatan gaib. Lha celaka kalau kita bisa masuk dunia mereka, nggak bisa balik. Kalau energi kita sedang full siy, aman-aman aja. Kita menang, karena kita “berjiwa dan berfisik”. Versi saya, ternyata menarik juga mendengar kisah-kisah orang lokal Bali tentang betapa sakti dan bertuahnya si ular dan air suci Tanah Lot ini. Wallahu a’lam tergantung mereka yang meyakininya.
Jet ski salah satu wahana water sport di Tanjung Benoa. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Dari Pantai Pandawa, kami bergerak ke Tanjung Benoa. Tempat ini adalah surganya water sport di Indonesia. Sarprasnya paling lengkap, wahananya paling beragam, standar keamanan secara umum sudah mengikuti standar internasional. Kalau kamu belum pernah ikut water sport di sini, datang lagi ke Bali dan cobalah pengalaman serunya.
Dari Sering Travel, di Tanjung Benoa hanya untuk foto-foto dan makan siang. Seluruh wahana water sport exclude biaya yang dibayarkan. Jadi kalau sampeyan mau memanfaatkan waktu 3 jam di sini untuk ikut wahana, semua kudu bayar dhewe. Dan seperti kebanyakan orang tahu, wahana water sport lumayan ada harganya. Foto-foto yang saya posting di sini bukan dokumentasi saat ikut trip dengan Sering Travel. Tapi dokumentasi trip pribadi setahun sebelumnya.
Bali memang nggak hanya dikenal dengan pura, pantai, dan budaya yang memikat, tapi juga dengan segudang atraksi wisata airnya. Salah satu destinasi favorit untuk pecinta adrenalin sekaligus rekreasi keluarga ya water sport di Tanjung Benoa ini. Pantai ini terletak di ujung tenggara Pulau Dewata, dekat Nusa Dua.
Dikenal dengan garis pantainya yang panjang, ombaknya yang relatif tenang, serta pasir putih yang lembut, Tanjung Benoa menjadi pusat water sport yang mendunia. Hampir setiap hari, kawasan ini ramai dikunjungi wisatawan yang ingin mencoba berbagai aktivitas seru, mulai dari yang santai hingga yang memacu jantung.
Mari kita ulik, beberapa wahana water sport yang populer di Tanjung Benoa. Siapa tahu kamu tertarik untuk mencobanya, bisa siap-siap energi dan uang sebanyak wahana yang ingin kamu coba.
Pertama, jet ski Ingin mengendarai kendaraan air seperti motor di daratan? Jet ski memberikan kebebasan untuk melaju kencang di atas permukaan laut. Aktivitas ini cocok untuk mereka yang suka kecepatan sekaligus menikmati percikan air laut.
Versi saya, ini wahana water sport paling gampang digunakan. Kalau kamu biasa pake motor matic, ya wes bayangkan saja seperti itu tapi jalanannya (medannya) air laut. Seru, di sini kita bisa teriakan bebas melepas penat. Satu jet ski bisa untuk berdua, tapi pastikan berat kalian nggak lebih dari kapasitas yang diizinkan. Bisa oleng nggoling jet skinya kalau kelebihan beban. Harga sewanya berapa, googling aja secara mandiri.
Sekarang sudah ada generasi barunya, namanya car ski. Namun wahana ini di Tanjung Benoa belum tersedia. 1 car ski bisa muat 4 orang. Di Indonesia baru tersedia di perairan Batam, dengan charge 1 juta per mobil selama 20 menit (tahun 2025).
Kedua, banana boat Wahana ini menjadi favorit keluarga dan rombongan sahabat. Dengan bentuk perahu pisang yang ditarik speedboat, pengunjung akan diajak berkeliling laut sambil merasakan sensasi digoyang ombak. Tawa dan jeritan seru sudah pasti terdengar sepanjang perjalanan. Versi saya, ini wahana yang pas untuk seru-seruan saja, nggak perlu takut. Chargenya pun lumayan murah.
Parasailing di Tanjung Benoa. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Ketiga, parasailing Bagi yang ingin merasakan sensasi terbang, parasailing adalah pilihan tepat. Dengan payung parasut berwarna-warni, wisatawan akan ditarik speedboat hingga melayang tinggi di udara. Dari atas, pemandangan birunya laut dan hamparan pantai Tanjung Benoa terlihat begitu indah.
Pake wahana ini kamu perlu “mental berani” dan nggak takut suara ombak besar, nggak takut ketinggian. Biayanya lumayan. Satu wahana bisa untuk dua orang. Kalau kamu penakut, jantungan, asma atau sesak nafas, ngeri lihat air bergelombang dan ketinggian, wes mending nggak usah coba-coba. Bisa merepotkan banyak orang.
Ini wahana yang versi saya sangat menyenangkan. Bisa teriakan bebas sampai suara habis tanpa perlu takut didengar orang. Mo maki-maki marah-marahin orang dari ketinggian, juga nggak ada yang dengar😄😁 Dari ketinggian, kita bisa dibuat sadar; betapa kecilnya kita di antara lautan luas, daratan yang membentang, dan langit yang menghampar seolah tanpa batas. Subhanallah. Maha Suci Allah dengan segala ciptaanNya.❤
Keempat, flyboard Biyuuu… ini atraksi “horor” versi saya. Jatuh bangun, jatuh bangun, tetep aja nggak bisa berdiri tegak, apalagi atraksi seperti superhero; nehi, nehi…. nggak gampang. Toh atraksi ini justru banyak “digilai” anak muda. Makin ekstrem, makin seru.
Ya memang wahana ini seru banget, tapi capeknya juga nggak kira-kira. Dan yang pasti, ini wahana yang nggak cuma butuh duitmu; tapi kesiapan fisik mentalmu, energimu, keberanianmu, keseimbangan tubuh, kesabaran dan ketenanganmu sekaligus. Pastikan kamu sehat prima fisik mental saat pake alat ini. Kalau masih ada ragu begini begitu, wes rausah coba-coba.
Nah, kalau kita pake wahana ini; nanti dengan alat khusus yang terhubung ke mesin jet ski, kita bisa melayang di atas air, bahkan melakukan berbagai gaya ekstrem layaknya superhero. Butuh sedikit keseimbangan, tapi sensasi yang didapat benar-benar luar biasa. Tapi percayalah, jatuh bangunnya lebih sering daripada sekedar bisa berdiri tegak seimbang. Jian, atraksi membagongkan tapi yo saya jajal 😄😁
Kelima, rolling donut Kalau versi saya ini mah, wahana untuk seru-seruan bae. Nggak ada tantangannya. Mirip banana boat, tapi bentuknya bulat menyerupai donat. Wahana ini bisa berputar-putar di lautan saat ditarik speedboat, membuatnya jadi salah satu permainan paling banyak diminati pengunjung di Tanjung Benoa.
Keenam, seawalker (Bali Ocean Walker) Yuhuuu… ini wahana yang bikin hati happy. Nggak banyak effort, tapi kita bisa melihat keindahan bawah laut. Nggak perlu bisa menyelam atau berenang untuk menikmati keindahan bawah laut. Dengan helm khusus berisi oksigen, wisatawan bisa berjalan di dasar laut sambil memberi makan ikan-ikan berwarna-warni. Cocok untuk anak-anak hingga orang dewasa.
Seperti namanya seawalker, setelah kita pake helm oksigen, tinggal jalan-jalan aja di bawah air. Kedalamannya antara 5-10 meter di bawah laut. Jadi aman banget untuk mereka yang normal, sehat, nggak takut air.
Di bawah air kita ngapain? Lihat ikan dll binatang, terumbu karang, ngasih makan ikan, dan foto-foto. Sewa layanan ini nggak include dokumentasi bawah air. Jadi pastikan sampeyan sudah pesan bayar dokumentasi nya. Versi saya, seru banget rasanya pas lihat ikan kemruyuk di sekitar saya, bisa menyentuhnya dan wow… “beneran ikan ini…” Haha… kadang kalau ketemu hal baru yang “ajaib”, norak juga saya sebagai ekspresi takjub.
Seawalker di Tanjung Benoa. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Ketujuh, snorkeling dan diving Di banyak tempat di Indonesia, snorkeling dan diving sudah jadi andalan pariwisata laut. Namun kalau kamu sudah biasa snorkeling dan diving di medan-medan yang kondang keren bawah lautnya; di sini bisa sedikit kecewa. Karena ya tentu nggak sebagus di Karimun Jawa, Bunaken, Wakatobu, Maluku, Raja Ampat, dll. Tapi kalau belum banyak turun ke bawah laut dan just for fun tempat ini sangat boleh dicoba. Lautnya tenang, nggak dingin, dan lumayan banyak yang bisa dilihat. Terumbu karang yang masih asri dan ikan-ikan tropis menjadi daya tarik tersendiri.
Kedelapan, glass bottom boat & turtle island Bagi wisata keluarga, naik perahu dengan kaca bening di bagian bawah menjadi pengalaman menarik untuk melihat kehidupan laut tanpa harus basah-basahan.
Biasanya paket ini dilanjutkan dengan kunjungan ke Pulau Penyu, tempat penangkaran penyu hijau, burung langka, dan berbagai satwa lainnya. Kalau ini versi saya wahana “santai-santai bae”. Tinggal ikutin aja arahan guide tanpa kita perlu do something yang berat. Buat anak-anak dan keluarga sangat cocok 😀
Lebih kurang itu siy, water sport yang kondang populer di Tanjung Benoa. Soal harga sampeyan bisa googling mandiri. Di tempat ini ada banyak pemyedia layanan jasa water sport. Silakan pilih-pilih yang menurut sampeyan cocok. Program dan durasi pun beragam. Pilih yang sesuai kemampuan dan budgetmu. Pastikan pula jelas apa yang harus kamu bayar dan dapatkan, durasi, jenis, dokumentasi, asuransi, dll kalau ada force majeur siapa yang bertanggung jawab.
Tanjung Benoa sudah terkenal dengan pelayanan profesional, peralatan yang terawat, dan harga paket yang beragam sesuai kebutuhan. Lokasinya yang strategis, hanya sekitar 20 menit dari Bandara Ngurah Rai, membuatnya mudah diakses. Seluruh layanan kendaraan online bisa langsung tiba di tempat. Makanan beragam juga bisa dipilih di sini. Sungguh tempat ini serasa kombinasi panorama indah, suasana pantai yang hangat, dan adrenalin dari berbagai water sport yang menjadikan Tanjung Benoa sebagai destinasi yang nggak boleh dilewatkan ketika berlibur di Bali.
Saat ditawari oleh Mbokde Saori untuk ikut ini itu di Tanjung Benoa, saya menggeleng. Nggak ikut. Karena semua sudah pernah saya lakukan. Butuh 3-4 harian untuk menikmati seluruh wahana water sport di sini dengan santai-santai, kalem-kalem. Sehari cukup 2-3 wahana saja.
Bisa siy langsungan seharian dari pagi sampai sore. Tapi ya kemrungsung dan capek juga. Kalau santai-santai bisa enjoy, happy; cuman ya jelas makin lama durasi penggunaan, tentu makin banyak cuan yang harus dikeluarkan.
Bagi saya pribadi, pas menikmati wahana di sini yo sudah disiapkan jauh-jauh dan saat itu saya memang ada waktu cukup lama untuk pekerjaan di Bali. Jadi nggak mikirin lagi soal akomodasi, tinggal datang aja ke sini dan pilih-pilih wahana yang sesuai.
Bagaimana, kamu tertarik untuk mencoba water sport di Tanjung Benoa? Kalau kamu menggunakan layanan di sini, pastikan sudah include dokumentasi, termasuk dokumentasi bawah air ya; karena itu ada charge yang nilainya hampir setara dengan harga layanan wahananya. Pinter-pinter nego saja. Apalagi kalau kamu datang berombongan.
Kami di gerbang Pantai Pandawa. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Pada hari berikutnya, tibalah kami di Pantai Pandawa. Ini salah satu pantai yang populer di Bali. Seperti sudah tercermin pada namanya, asal usul pantai ini nggak dapat dilepaskan dari kisah Pandawa dalam cerita Mahabarata.
Dahulu kala, pantai ini sebut dengan Pantai Kutuh, sesuai nama desanya. Pantai indah ini tersembunyi di balik tebing kapur yang menjulang tinggi. Pantai itu begitu sunyi, seakan bersembunyi dari dunia luar, sehingga orang-orang menyebutnya “pantai rahasia”.
Namun, masyarakat Desa Kutuh percaya bahwa pantai itu dijaga oleh roh kesatria agung, yaitu Pandawa Lima dari kisah Mahabharata: Yudistira, Bima, Arjuna, Nakula, dan Sadewa. Mereka diyakini hadir untuk melindungi pantai, menjaga kesucian laut, dan memberikan berkah kepada siapa saja yang menghormati alam.
Di gerbang Pantai Pandawa. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Seiring waktu, masyarakat ingin membuka akses ke pantai itu agar keindahannya dapat dinikmati oleh semua orang. Tetapi tebing kapur yang besar menghalangi jalan. Mereka bekerja siang dan malam, menebas tebing batu, seperti halnya Pandawa Lima yang harus berjuang melewati rintangan dan berperang melawan angkara murka dalam hidup mereka.
Konon, saat masyarakat mulai lelah, mereka mendengar bisikan gaib, “Jangan takut. Kami akan selalu bersamamu. Tebaslah tebing ini, bukalah jalan, karena keindahan yang tersembunyi harus dibagikan untuk semua umat manusia.”
Bisikan itu diyakini sebagai suara Pandawa. Semangat masyarakat desa pun kembali berkobar, dan akhirnya jalan menuju pantai berhasil dibuka. Sebagai tanda terima kasih, masyarakat memahat patung raksasa Pandawa Lima di tebing batu, seolah-olah para ksatria itu menjaga pintu masuk menuju pantai.
Salah satu kecantikan Pantai Pandawa: air biru jernih dan pasir putih menghampar. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Sejak saat itu, pantai tersebut dikenal sebagai Pantai Pandawa, bukan lagi pantai rahasia atau Pantai Kutuh. Kini, siapa pun yang datang ke Pantai Pandawa, nggak hanya disuguhi hamparan pasir putih dan birunya laut, tapi juga diingatkan akan kisah ksatria Pandawa: tentang perjuangan, keberanian, dan kesetiaan, yang diwariskan untuk generasi setelahnya.
Saat tiba di pantai ini, saya foto beberapa kali njur thenguk-thenguk melihat lalu lalang orang yang hilir mudik. Sudah terlalu panas di jam 10-an pagi itu. Lagipula ini pantai sudah berkali-kali saya tengok. Jadi berasa biasa, meskipun tentu (versi saya) tetap lebih bagus dibandingkan dengan pantai-pantai di sekitaran Jogja; terutama birunya air yang sejernih kristal dan putihnya lautan pasir yang begitu bersih.🤩
Iring-iringan warga Hindu Bali untuk upacara Melasti saat baru datang. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Wah, pas kami di sini ternyata ketemu rombongan warga Hindu Bali yang menyelenggarakan acara adat Pelasti, Melasti. Saya mendengar cukup banyak uraian tentang Melasti dari warga lokal yang duduk-duduk di sekitar saya.
Yang pertama saya lihat adalah orang-orang Hindu Bali berjalan beriringan menuju pantai atau sumber mata air. Pakaian adat berwarna putih, bau harum dupa, tabuhan gamelan, umbul-umbul warna-warni, serta aroma sesajian yang mengaur lembut tertiup angin menjadi pemandangan yang begitu magis. Itulah penampakan langsung Upacara Melasti, salah satu tradisi sakral umat Hindu di Bali.
Melasti berasal dari kata “lasti” yang berarti menyucikan. Upacara ini dilakukan dengan tujuan utama membersihkan diri lahir dan batin, sekaligus menyucikan berbagai benda sakral milik pura yang disebut pralingga dan pratima. Semua benda itu diarak menuju laut atau danau sebagai simbol kembali ke sumber kehidupan.
Rombongan peserta upacara Melasti ketika lebih dekat pantai. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Bagi masyarakat Bali, air adalah elemen suci yang menyimbolkan kehidupan. Itu sebabnya, laut, danau, atau mata air dipilih sebagai tempat upacara. Di sana, umat Hindu Bali memohon penyucian diri dari segala kotoran duniawi (mala) agar siap menyongsong sesuatu yang baru dengan hati bersih. Melasti juga mengajarkan harmoni antara manusia, alam, dan Tuhan; sebuah konsep yang sejalan dengan Tri Hita Karana.
Suasana upacara Melasti sangat meriah sekaligus khidmat. Umat Hindu berjalan beriringan dari pura desa menuju pantai dengan membawa sesajen, payung hias, umbul-umbul, serta barisan penabuh gamelan. Aroma dupa berpadu dengan deburan ombak menambah nuansa spiritual yang begitu kuat. Banyak wisatawan yang ikut terpesona dan mengabadikan momen itu.
Melasti bukan sekadar ritual keagamaan, tapi juga warisan budaya yang layak dihargai. Bagi wisatawan, menyaksikan Melasti menjadi kesempatan langka untuk melihat bagaimana masyarakat Bali menjaga tradisi leluhur. Sda baiknya tetap menghormati jalannya upacara: berpakaian sopan, nggak menghalangi prosesi, dan menjaga ketenangan.
Melasti adalah cerminan kearifan lokal Bali yang memadukan spiritualitas, alam, dan kehidupan sosial. Lebih dari sekadar ritual, Melasti mengingatkan kita semua bahwa membersihkan hati sama pentingnya dengan membersihkan tubuh, dan menjaga alam sama pentingnya dengan menjaga diri.
Saya cuma senyum bae ketika membaca chat di grup WA agar kami segera ke bus, karena kalau nungguin selesainya Melasti bisa sampai sore. Waktunya melanjutkan perjalanan.
Kami di gerbang Desa Panglipuran. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Usai dari Bedugul, kami mampir dulu ke pusat oleh-oleh Djoger. Soal belanja saya tuliskan nanti saja bersamaan dengan dua tempat wisata belanja lainnya. Selanjutnya kami ke tempat yang paling saya tunggu lainnya: Desa Panglipuran.
Alhamdulillah, dua tempat yang belum pernah saya datangi akhirnya terwujud di hari itu. Pantai Lovina dan Desa Panglipuran. Sementara tinggal satu tempat yang belum saya tengok, Desa Adat Pegringsingan.
Begitu masuk di areal ini, saya wes antri di seberang gerbang itu untuk foto. Walah antriannya suwe tenan; karena ada rombongan dari Surabaya foto di situ satu per satu. Beuh, akhirnya saya mlipir usai foto-foto grup ya jalan.
Saya berempat dengan Mas Adi, Kak Bebe dan Mbak Maria memakai baju adat Bali. Di sini banyak pilihan banyak tempat. Kalau mau pake baju adat sebaiknya dari awal sehingga bisa dipakai dalam waktu yang lama untuk foto. Sewa baju 50 ribu per set, tapi nggak ada sandalnya, untuk perempuan nggak ada hiasan kepalanya. Di tempat itu ada perlengkapannya tapi kudu beli dan tentu nggak worth it untuk dipakai 30 menitan aja 😁 Toh dengan baju adat yang sebenarnya “seadanya” itu foto kami tetap keren-keren kok.
Mendadak Bali. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Oh iya, nama baju adat untuk perempuan itu kebaya atau kamen dengan kain dan selendang; sementara untuk laki-laki disebut udeng dan kamen (baju dan sarung). Berfoto dengan latar gerbang rumah tradisional atau di jalan utama desa dengan balutan busana adat akan memberikan pengalaman yang nggak terlupakan. Yach sejenak saja “mendadak Bali” seolah benar-benar menyatu dengan suasana Bali tempo dulu. Alhamdulillah. Terimakasih ya Allah atas kesempatan melihat menikmati tempat indah ini.❤️
Bali memang nggak pernah kehabisan cara untuk memikat hati. Desa Panglipuran ini merupakan sebuah desa adat di Kabupaten Bangli yang terkenal dengan keindahan, keteraturan, serta kearifan lokal yang masih terjaga. Saat memasuki desa ini, kita seolah-olah diajak melangkah mundur ke masa lalu, menyaksikan kehidupan Bali yang begitu dekat dengan harmoni dan tradisi leluhur.
Nama Panglipuran diyakini berasal dari kata “pangeling” dan “pura”, yang berarti “tempat untuk mengenang para leluhur.” Warga desa percaya, Panglipuran adalah wujud penghormatan terhadap nenek moyang mereka yang berasal dari daerah Bayung Gede. Hingga kini, masyarakat Panglipuran masih menjaga tata ruang desa berdasarkan filosofi Tri Hita Karana; keseimbangan antara manusia, alam, dan Tuhan. Konsep kosmologi yang mengutamakan keseimbangan dan keselarasan. Kalau orang Jawa bilang “memayu hayuning bawana”.
Foto awal sebelum turun untuk jalan-jalan di lorong Panglipuran. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Konon, ada pula legenda yang menceritakan bahwa keteraturan rumah-rumah di Panglipuran adalah simbol kesatuan warga desa. Nggak ada tembok tinggi yang membatasi antar rumah, melainkan gerbang-gerbang serupa yang sejajar, menandakan kesetaraan dan persaudaraan.
Begitu memasuki area desa, kita akan disambut oleh jalan utama yang rapi dan bersih, diapit rumah-rumah tradisional dengan arsitektur khas Bali. Hampir setiap halaman rumah memiliki taman kecil yang asri. Biasanya kalau pas ada kegiatan atau ritual keagamaan rumah-rumah ini akan dilengkapi dengan penjor-penjor yang cantik (hiasan bambu khas upacara Bali) yang menjulang anggun. Nggak heran, kalau Panglipuran pernah mendapat penghargaan sebagai salah satu desa terbersih di dunia.
Selain berjalan-jalan menikmati suasana, di sini kita juga bisa mencicipi loloh cemcem, minuman herbal khas Desa Panglipuran yang segar dan menyehatkan. Namun buat mereka yang nggak biasa minum jamu, yo gakusah. Karena akan terasa aneh di lidah. Bahan dasarnya kunyit, temulawak, dan kedondong hutan. Yach mirip dengan kunyit asam tapi ini lebih pekat. Sekitar 2018-an saya pernah minum ini karena ada kawan yang bawain. Khasiatnya untuk kesegaran badan dan menghilangkan pegal-pegal atau capek. Kali ini saya nggak mampir ke warung untuk cari minuman itu, wong versi saya itu asam kedondongnya lebih dominan😁
Foto-foto di jalan utama Desa Panglipuran. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Selain jalan-jalan di lorong utama desa, sebenarnya kita bisa mengunjungi hutan bambu yang menjadi bagian nggak terpisahkan dari kehidupan warganya. Di sini, versi orang-orang lokal kita bisa menyaksikan atau bahkan ikut serta dalam aktivitas budaya jika kebetulan bertepatan dengan hari upacara adat. Saya pikir, kaki sudah terlalu pegel untuk jalan dari hulu ke hilir Panglipuran. Jalan dari gerbang sampai ujung.
Meskipun berasa capek, mengunjungi Desa Panglipuran bukan hanya soal melihat keindahan visual. Di sini kita diajak belajar menghargai filosofi hidup sederhana, kebersamaan, dan cinta lingkungan. Dari legenda asal usulnya hingga keramahan warganya, Panglipuran seakan memberi pesan bahwa keindahan sejati lahir dari harmoni antara manusia dan alam.
Jadi bukan hal aneh pula kalau kamu berkunjung di sini ketemu anjing dan kucing berkeliaran secara bebas. Tenang, mereka memang liar (nggak ada pemiliknya), tapi semuanya jinak dan nggak ada yang mengganggu wisatawan, kecuali mungkin kalau kamu jail melemparinya dengan batu… Nah, itu saya nggak tahu risikonya😄😅
Salah satu sisi penampakan Pura Ulun Danu dan Danau Beratan di Bedugul. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Destinasi berikutnya adalah Pura Ulun Danu di Bedugul. Salah satu tujuan wisata yang kondang di Bali karena keindahan alam dan udaranya yang sejuk. Tahukah kamu, Bedugul adalah salah satu tempat dengan kualitas oksigen terbaik di dunia; termasuk satu jenis kualitas dengan oksigen di Swiss dan Hawai.
Itu kenapa kalau ada orang sakit dengan beragam keluhan pernapasan, dokter-dokter yang mempelajari ilmu medis tradisional sering menyarankan untuk “tinggal” di sini beberapa waktu sampai sembuh.
Di Indonesia, tempat yang memiliki kualitas oksigen terbaik lainnya adalah kawasan Candi Gedong Songo, Jawa Tengah; dan Pulau Gili, Sumenep, Madura. Silakan cek-cek masyarakat di ketiga daerah tersebut nyaris nggak pernah sakit. 🤩👍
Rombongan kami di Bedugul. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Mumpung di Bedugul, saya memasukkan oksigen ke thumbler yang saya bawa dan menutupnya. Pas sampai rumah, lagi capek-capeknya, menghirup udara dari thumbler itu langsung lebih fresh. Boleh dicoba lhoooh kalau ke sana lagi atau ke tempat lain yang oksigennya sangat bagus.
Begitu sampai tempat ini, dan teman-teman sudah foto-foto saya merasa kayaknya baru kemarin deh ke sini. Setelah cek agenda, oh sudah Desember 2023. Sudah dua tahun lalu. Perasaan kita memang “berbahaya” kalau nggak dikontrol, suka ke mana-mana. Makanya sering banget kita dengar, “jangan baperan” 😁 Perasaanmu belum tentu mencerminkan realita sesungguhnya.
Saya senang ke tempat ini lagi. Kali ini bunga di mana-mana dan banyak yang sedang mekar. Beuh, kalau saya nggak malu akan minta foto di setiap sisi bunga-bunganya. Lha iya dong, masa kamu bangga pamer bunga tulipnya Amsterdam tapi nggak bangga dengan bunga-bunga Nusantara, eh bunga Bedugul😁
Berbunga-bunga di Bedugul. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Berbagai sisi tempat ini lebih tertata artistik. Beberapa bangunan saya lihat sudah selesai dibenahi. Penambahan ring penanda penjagaan juga lebih terlihat agar kita para pengunjung nggak pecicilan keluar masuk tempat suci seenaknya. Pokmen keren lah.
Air Danau Beratan juga terlihat indah keperakan diterpa matahari pagi. Cantik banget. Memang benar, kalau Jogja terbuat dari rindu dan angkringan; Bali terbuat dari adat tradisi dan keindahan alam. Semua sudut sisi Bali adalah keindahan kecantikan alamiah dan adat budaya yang sangat eksis.
Ada yang tahu awal mula terjadinya Danau Beratan di Bedugul ini? Konon tempat ini dulunya terkena abu vulkanik letusan gunung api. Masyarakat sudah lama mengungsi menghindari bencana letusan gunung api.
Kisah asal mula Danau Beratan terpampang pada ilustrasi timbul di belakang saya. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Setelah letusan gunung mereda, masyarakat yang mengungsi kembali ke daerah ini. Tanahnya ternyata sangat subur. Mereka pun menanam padi dan tanaman pangan lainnya. Hasilnya sangat melimpah. Panen padi dilakukan secara gotong royong, para wanita memanen padi, sementara para pria mengangkutnya ke lumbung.
Namun, terjadi keanehan. Setiap kali mereka selesai memanen di satu area, padi di area lain sudah tumbuh lagi dan siap dipanen. Fenomena ini terjadi berulang-ulang, seolah-olah padi itu nggak pernah habis. Penduduk desa merasa kewalahan karena padi terus tumbuh tanpa henti.
Karena mereka terus-menerus memanen dan nggak ada habisnya, ladang-ladang mereka mulai tergenang oleh air yang meluap dari dalam tanah. Air ini terus bertambah hingga akhirnya menenggelamkan seluruh ladang, mengubahnya menjadi sebuah danau besar.
Bunga-bunga lainnya di Bedugul. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Penduduk desa pun terpaksa pindah dan mencari tempat tinggal baru. Danau yang terbentuk dari kejadian ini kemudian dikenal sebagai Danau Beratan.
Beberapa tahun setelah danau terbentuk, seorang raja Bali yang sedang bermeditasi di Gunung Mangu, nggak jauh dari danau, mendapatkan petunjuk. Ia melihat cahaya di tepi danau yang menandakan bahwa tempat itu suci dan harus didirikan sebuah pura. Raja Bali itu memerintahkan rakyatnya untuk membangun pura di tepi Danau Beratan.
Pura tersebut diberi nama Pura Ulun Danu Beratan, yang secara harfiah berarti “kepala danau” atau “penguasa danau”. Pura ini dibangun sebagai wujud rasa syukur dan penghormatan kepada Dewi Danu, dewi air, sungai, dan danau, yang dipercaya sebagai dewi kesuburan dan kemakmuran.
Bambu kuning (jelmaan atau perwujudan padi), Dewi Danu, di areal yang dilingkari (dijaga atau di bawah kekuasaan) dua naga. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Hingga kini, Danau Beratan dan Pura Ulun Danu menjadi simbol penting bagi masyarakat Bali, terutama dalam menjaga keseimbangan antara manusia dan alam. Bahkan, rumpun bambu kuning yang tumbuh di sisi selatan pura dipercaya sebagai jelmaan dari tangkai padi yang dahulu ditancapkan saat panen, menjadi saksi bisu dari legenda tersebut.
Menarik kan kisahnya? Yach begitu negeri kita, setiap tempat istimewa pasti ada legenda dan asal usulnya. Bahkan mitos-mitosnya.
Di tempat itu juga ada 2 naga melingkari bambu kuning dan Dewi Danu. Saya kurang mengerti makna simbolis ini dalam versi Hindu Bali dan nggak ada yang ditanyai pula. Mbokde Saori (guide lokal Bali) entah ke mana; beberapa orang lokal yang saya tanyai nggak paham tentang naga itu.
Bunga-bunga lainnya. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Secara umum di Nusantara, kita memiliki legenda naga dengan warna “hijau” dan “biru” yang sebenarnya sama saja: sisi kiri dan kanan; sebagai simbol penguasa Nusantara (maritim, khatulistiwa) yang harus kokoh berdiri tegak kuat menjaga Nusantara, terutama dari ancaman naga merah, naga api (kekaisaran Tiongkok, China).
Hal ini sudah terjadi sejak zaman Kertanegara memotong kuping, rambut, merusak wajah utusan China (Meng Ki) yang meminta Singosari tunduk dan mengirim upeti kepada China. Perlakuan itu bentuk simbolis perlawanan dan penolakan. Hingga sekarang pun sebenarnya kita sedang “perang” dalam bentuk yang lain dengan negeri tirai bambu ini.
Kalau sampeyan sering ke mana-mana, pasti akan menemukan simbol-simbol naga biru, hijau, atau emas di seluruh Nusantara. Simbol penguasa yang berdaulat dan menjaga kesejahteraan dan kedamaian rakyatnya dengan melingkari seluruh arealnya menggunakan seluruh badan hingga ekornya.
Ini hanya interpretasi saya pribadi. Butuh sumber dan validasi ahli untuk mengetahui secara pasti makna simbolis dua naga yang melingkari bambu kuning dan perwujudan Dewi Danu.
Sisi lain pura yang banyak dipakai orang foto-foto. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Di sini kami makan siang di areal restoran. Kenyang, enak. Oh iya, untuk Teman-teman muslim yang ikut trip ini, sampeyan kudu secara mandiri mengatur waktu sholat dan mencari tempat sholat ya. Karena ini trip umum, bukan khusus moslem friendly.
Begitu ada waktu istirahat, makan, di rest area; carilah waktu dan tempat untuk sholat. Jangan nungguin teman lainnya. Urusan sama Allah urusanmu pribadi, bukan urusan travel atau orang lain.
Sepanjang trip, saya menggunakan fasilitas kemudahan sholat sebagai musafir (dijamak, diqashar, sholat di bus, di tempat yang saya anggap bersih, dll) sesuai situasi dan keadaan.
Saya dengan Uni Noni dari Padang. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Setelah pelunasan ke Sering Travel, saya malah galau mendadak. Galau pertama, guru saya, Uni Noni datang dari Andalas Padang dan 3 hari di Jogja. Terus Prof Iin dari Murray State University (USA) mengisi seminar 5 hari di Jogja. Duh, kalau nggak ada acara, malam mereka free saya bisa mengikuti ke mana saja mereka pergi dan pasti banyak ilmu yang saya dapatkan. Terlebih kalau sudah lama nggak jumpa. Galau kedua, ternyata trip berangkat pagi bukan sore atau malam seperti biasanya trip yang pernah saya ikuti. Jam kerja itu berarti nambah sehari gaweyan yang kudu saya bereskan sebelum pergi.
Syukurlah dengan komunikasi yang baik, saya tetap bisa jumpa dua guru saya tersebut. Sebentar saja, tapi lebih dari cukup melepas rindu. Alhamdulillah. Seminggu sebelum trip saya wes ekstra lembur membereskan gaweyan-gaweyan penulisan ataupun urusan kampus. Meskipun sampai di hari H pun sepagian dini hari s/d jam tujuh saya masih ibuut dengan beberapa gaweyan kecil sampai rampung.
Saya dengan Prof Iin. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Alhamdulillah berangkat ke mepo wes beres kerjaan, tapi masih dalam keadaan lapar. Sampai SPBU Adisutjipto, ngepos sarapan secangkir cokelat dan donat. Lumayan, mengisi perut. Aman, beberes dan segera ke pinggir jalan. Jumpa Mbak Nita dan suaminya yang juga ikut trip ini. Nggak lama, bus pun datang.
Jumpa si TL Kak Mancay dan Fotografer Kak Bebe. Melihat TL nya saya malah ingat si Patkay di serial Sun Gokhong😁😂 Hadeuh kenapa malah lupa si Tabib Sucinya😜 Kalau si Bebe ini mengingatkan pada figur adik lelaki saya belasan tahun silam saat dia kuliah di ITS (Institut Teknologi Sepuluh November) Surabaya. Tinggi jangkung, kurus, putih, berkacamata, gampang tersenyum pelit bicara. Lha beneran, ternyata si Bebe juga masih kuliah😁😂
Bus yang kami pakai. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Di bus, saya dapat pin, snack berat dan air mineral. Tempat duduk lega, AC dingin, bagasi kabin lumayan, ada selimut bantal leher, tempat snack dan minum, lengkap dengan sabuk pengaman. Hanya sandaran kaki yang bikin saya seperti “gantung diri”. Lha model begitu cocok untuk mereka yang kaki panjang. Sementara mereka yang kakinya nggak panjang, itu hanya bikin kaki menggantung dengan sempurna. Kalau menaikkan kaki, melipat kaki di kursi ya tetep nggak nyaman, sakit.
Sungguh bikin sengsara sepanjang perjalanan untuk orang imut-imut seperti saya. Mungkin Sering Travel perlu mempertimbangkan bus non sandaran kaki, tapi ruang tempat duduk cukup lega. Biar mo kaki panjang atau enggak panjang, tetep bisa menapakkan kaki di dasar, nggak menggantung.
Begitu saya sudah meletakkan barang, sebentar saja wes tidur. Jadi saya nggak ingat siapa yang naik bus, kecuali terbangun waktu makan siang di Titin Caruban. Makanan enak, kenyang. Dan seperti biasa waktu ishoma, ya makan sholat, ke toilet, bebersih.
Perahu-perahu yang bersandar di Pantai Lovina. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Balik bus, saya tidur lagi. Beberapa kali melek karena ada kuis-kuis berhadiah. Njur tidur lagi sampai waktunya makan malam. Di mana ya itu? Lupa. Mungkin di Situbondo. Masuk bus ya, saya tidur lagi. 😁😂
Tahu-tahu dibangunin Mbak Fera karena sudah tiba di pelabuhan. Saya berasa berasa limbung tuh kaki kelamaan “digantung”. Setelah sejam-an kayaknya naik bus lagi dan sampai ke rest area. Ganti baju dll sebelum ke Pantai Lovina.
Sampai di areal Lovina berhenti agak lama nunggu pagi untuk naik perahu. Nggak banyak yang bisa saya ceritakan soal perjalanan, karena saya duduk di sisi tengah non jendela, jadi nggak tahu pemandangan di luar dan kebanyakan saya pake tidur untuk membayar kurang tidur berhari-hari agar selama trip nggak ditagih gaweyan. Yach, begitulah konsekuensi kalau jadi freelancer. Nggak kerja nggak dapat duit 😁
Saya dan teman teman satu perahu untuk melihat lumba-lumba di Lovina. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Saat mau naik perahu di Lovina, saya terkejut dengan banyaknya pengunjung dan perahu yang bersandar di areal itu. Biyuu… lha kalau nanti semua perahu itu turun ke laut, apa iya lumba-lumba mau keluar? Pikir saya. Karena setahu saya, lumba-lumba ini jenis mamalia penolong sekaligus pemalu. Mereka tuh nggak akan muncul di keramaian atau kebisingan.
Pada waktu di Maluku itu, kami “berburu”nya sampai jauh untuk bisa jumpa lumba-lumba. Itu pun di lautan luas dan nggak banyak kapal lalu lalang. Jadi beneran sepi dan lumba-lumba pun muncul dengan atraksi-atraksinya.
Lha kalau begini ramai, apa si lumba-lumba mau muncul? Saya pun mider bertanya pada beberapa orang lokal dan tukang bawa perahu. Kata mereka, lumba-lumba selalu muncul tapi sebentar saja di berbagai tempat. Jadi sebagian orang sempat lihat, sebagian yang lain enggak. Jarang juga ketemu lumba-lumba yang atraksi (melompat di atas laut). Saya mencicil lega. Oh, sekurangnya mereka muncul. Bisa lihat atau enggak itu tergantung amal perbuatan masing-masing… hihi…
Di Lovina saya sudah bisa tertawa lebar, berarti sudah cukup tidur dan pulih energi untuk jalan panjang. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Dan begitulah, kami 29 orang dikelompokkan dalam 2 perahu. Semua memakai pelampung sebelum naik perahu. Yach, namanya juga tetap laut. Sesuatu bisa aja terjadi. Meskipun saat itu laut tenang, nggak gelombang, dan warna airnya gelap cokelat seperti air sungai Mahakam.
Biyuuu… pas sudah di laut tampak bahwa areal ini seperti cendol dhawet di gelas. Persis seperti areal Goa Pindul kalau lagi padat pengunjung. Penuh sesak perahu yang hilir mudik. Ada perahu yang isinya 3 orang, 4 orang, 5 orang, 10 orang, bahkan lebih.
Perahu saya isinya berapa orang ya? Mungkin yang 17 orang? (Cmiiw). Diam-diam saya khusyuk berdoa agar semua selamat, perjalanan lancar, dan bisa jumpa lumba-lumba.
Sunrise cantik di Lovina. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Perjalanan dengan perahu di Lovina ini lebih kurang 2 jam. 30 menit jalan ke tengah, 30 menit eksplore nungguin lumba-lumba, 30 menit jalan kembali, 30 menit untuk lain-lain (antrian, foto-foto, dokumentasi).
Masuk ke areal pantai ini gratis bagi pejalan kaki. Rasah bayar. Tapi kalau bawa mobil parkir resminya 5 rb perak, nggak resminya ya suka-suka kang parkirnya 😁 Terus yang umum untuk naik perahu sharing per gundul 100 rb buat keliling lihat lumba-lumba.
Kalau sewa perahu dengan durasi 1.5 sd 2 jam kisaran 1.5 sd 2.5 juta; ya tergantung nego. 1 perahu dengan kapasitas maks 1500 kg; jadi muat berapa orang itu tergantung kurus langsingnya😜😂 Kalau untuk honeymoon, pasti amanlah… suami istri plus kang perahu dan fotografer pasti jauhlah itu dari 1500 kg😜 Cuman karena ini trip by biro, ya travel agent lah yang urus. Kita mah tahu beres aja.
Ilustrasi kemunculan lumba-lumba di Lovina. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Perahu yang saya tumpangi sudah ke tengah dan mulailah kami bertemu lumba-lumba. “Waaaah…. itu… ituuuu…” teriakan heboh terdengar setiap kali kami melihat lumba-lumba. Mereka datang berombongan.
Namun karena warna air laut keruh cokelat hitam dan lumba-lumbanya juga berwarna cokelat hitam, kehadiran mereka nggak selalu nampak jelas. Itu pun begitu mereka muncul dan langsung ada teriakan heboh, mereka langsung menghilang lagi dalam air dan nggak muncul-muncul lagi di tempat yang sama. Tahu-tahu ada teriakan heboh dari perahu di seberang jauh. Itu artinya lumba-lumba muncul di dekat mereka.
Alhamdulillah. Ternyata begitu model kemunculan lumba-lumba di Lovina. Ada 4 atau 5 kali orang-orang di perahu saya bertemu lumba-lumba. Luar biasa. Semua orang baik dan semoga banyak berlimpahan rezeki kebaikan. Amin YRA.
Alhamdulillah. Terimakasih ya Allah, akhirnya kesampaian niat saya lihat lumba-lumba di Lovina. Terimakasih atas penjagaan-Mu yang luar biasa sepanjang trip ini.
Saya dengan Bu Sri (owner Bali Media Grup) usai siaran tentang Herbal dan Pengobatan Tradisional Bali untuk radio Bali.
Dari seluruh tempat di Indonesia, Bali paling indah dalam versi saya. Sejak belia saya sudah jatuh cinta dengan Bali. Alamnya yang indah, budayanya yang kuat terjaga, masyarakat pekerja seni yang ramah, dan tentu kemajuan zaman nggak membuatnya “berubah” dari adat tradisinya.
Sejak belia pula sudah nggak terhitung berapa kali saya ke Bali. Adik saya pun ada yang kuliah di Udayana, Bali. Beberapa orang dekat dan sahabat saya juga tinggal menetap di Bali. Kalau biaya hidup di Bali nggak mengikuti standar USD, mungkin saya pilih menetap di sini. Selain itu, karena saya muslim, kalau di Bali jelas butuh usaha lebih untuk ibadah. Gema adzan nggak akan bersahutan merdu seperti di Jogja.
Toh negeri seribu pura ini serasa rumah “kedua” yang paling sering saya tinggali selain Jogja. Terlebih ketika saya menetap kerja sebagai script editor ngurusin sinetron dan film di Multivision Plus Jakarta, Bali adalah tempat “menghilang” dari rutinitas kerja yang melelahkan.
Saya akan terbang Sabtu pagi-pagi ke DPS lalu kembali ke JKT Minggu dengan penerbangan paling malam. Hampir tiap bulan begitu selama 12 tahun. Ngapain saja di Bali? Ya suka-suka. Kadang jalan, piknik, wisata kuliner, belanja, melukis, kadang cuma pindah tidur tanpa gangguan. Bali adalah sisi lain yang saya kenali dengan sangat baik setiap sudut wisatanya.
Meskipun begitu, ada tiga tempat yang hampir setengah abad umur saya belum pernah saya tengok di Bali. Pantai Lovina. Desa Panglipuran. Desa Adat Pegringsingan. Entah ada aja sebab nggak jadi ke tempat itu. Terakhir di 2019, saya dengan sahabat wes ngatur piye caranya bisa ke tempat-tempat tersebut secara mandiri.
Saat itu saya ada gaweyan di KL. Karena sahabat saya selow, dari KL saya terbang ke DPS. Tiba jam 22 WITA, mestinya jam 23 WITA saya sudah keluar bandara. Niatnya segera istirahat (rumah sahabat saya di sekitaran bandara) agar besok jam 03 WITA saya dan sahabat sudah bisa memulai perjalanan menuju Lovina.
Ndilalah kok saya kena random check dan njelehi tenan pemeriksaan macam-macam karena saya membawa pil-pil putih nggak bernama (placebo) untuk penelitian, tapi nggak ada keterangan yang bikin pemeriksaan makin ruwet.
Rasa waspada (sampai mungkin paranoid) petugas bandara DPS dengan mereka yang gamisan dan jilbaban lebar juga bikin pemeriksaan identitas saya sangat lama. Saya sampai mengeluarkan kartu Kagama (alumni UGM) agar mereka bisa ngecek konfirmasi kalau saya bukan orang tanpa identitas dari Malaysia. Jelas nggak termasuk DPO atau jaringan teroris internasional.
Setelah kejadian itu, saya nggak pernah lagi terbang antar negara melewati bandara internasional pake gamis kerudungan lebar, kecuali umroh dengan rombongan yang urusan berangkat-pulang wes diurus biro dan TL-nya.
Keluar dari bandara saat itu wes hampir jam 04 pagi. Yo jelas ambyar semua rencana kami 😜 Saat itu kami memilih menertawakan sistem birokrasi bandara kita yang ruwet bin angelo itu dengan wisata kuliner dan belanja-belinji, tuku-tuku sakarepmu. Nggak bisa ke Lovina ditunda besoknya; karena saya sudah harus kembali ke Jogja hari itu. Gaweyan urgent gakbisa ditinggal. Lha kan itu yang bikin kita dapat duit.😁😂
Namanya juga keinginan, kalau belum kesampaian kayak mengganggu pikiran aja. Makanya begitu lihat flyer Sering Travel berseliweran di timeline FB saya dan ada destinasi Pantai Lovina, nggak pake mikir dua kali saya langsung daftar. Waktu itu bulan Februari 2025 (bisa cek kwitansi saya di admin) untuk keberangkatan bulan Juni 2025. Niat tenan dan versi saya biayanya ringan. Nggo beli tiket pesawat pp JOG DPS bae racukup😁
Kenapa Juni, kok nggak bulan sebelumnya? Beuh, jadwal saya wes penuh. Januari saya ke Bromo. Februari ke Ijen. Maret eksplore Gunung Kidul. April piknik keluarga besar di daerah DIY. Mei di sekitaran Trowulan, Jawa Timur. Juni belum ada jadwal. Nah itu sebabnya pilihan di bulan Juni.
Tapi ndilalahnya Juni saya ada tugas delegasi Dialog Sastra Melayu 3 Negara (Indonesia, Malaysia, Brunei Darussalam) di Kalimantan Timur. Biyuh, mundur lagi jadwal saya ke Lovina. Untungnya boleh diganti di bulan September.
Juni saya beneran turun hampir di seluruh kabupaten dan kota di Kalimantan Timur. Juli saya full di Solo bolak balik Jogja. Agustus nggak ke mana-mana karena full dengan lomba-lomba Agustusan dan acara-acara ritual untuk penerimaan mahasiswa baru.
September ke Lovina. Oktober s/d Desember jadwal saya pun sudah penuh. Jadwal piknik (baca: bepergian) saya nyaris sebanyak jadwal mengisi kelas-kelas atau workshop penulisan di seluruh Indonesia; karena banyak juga piknik saya didanai klien atau sponsor.
Itu sebabnya kalau ada temen yang ngajak pergi dadakan, saya langsung setoran bendera putih. Mengganti jadwal nggak semudah membolakbalik tangan, apalagi kalau program yang melibatkan banyak orang. Dan finally, hore akhirnya saya berangkat betulan ke Lovina setelah (rasanya) berabad-abad tertunda melulu 😀🤩
Kenapa pingin sekali ke Lovina? Lihat lumba-lumba di alam aslinya. Di Maluku (tapi kalau secara de facto kayaknya lautan itu sudah masuk wilayah Australia), saya juga sudah pernah melihat lumba-lumba dan itu super “menyenangkan”. Happy dan takjubnya tuh nggak ilang selama berhari-hari.
Lumba-lumba yang saya lihat di Maluku. Sungguh wow… saya masih ingat betul teriakan heboh waktu melihat dua makhluk ini melompat di atas lautan. Sungguh menyenangkan.
Terus ada mitos di kalangan bangsa pelaut atau mereka yang punya tradisi maritim; siapa saja yang bisa melihat (bertemu) lumba-lumba di alam aslinya (adalah orang baik); dan akan mendapatkan beragam kebaikan, kesehatan, keberuntungan, keberlimpahan rezeki, keselamatan, keberkahan, dl.
Makanya saya juga ingin lihat lumba-lumba yang di Lovina. Secara biaya, ke Lovina jelas lebih terjangkau daripada pecicilan lagi ke Maluku. Pokmen kalau wisata Indonesia Timur, kalau nggak ditopang dana sponsor, beneran bisa bikin kantong jebol.
Ke Eropa 7 negara kamu cuma butuh 35 juta 14 hari sudah all in termasuk uang saku pribadi. Ke Maluku 35 juta cuma di Ambon sekitaran dan 7 hari saja, belum kalau laut lagi nggak bersahabat nggak bisa nyeberang, charge hotelmu bisa nambah terus 😂😁 Ke Eropa kalau dibuat flexing di sosmed sering di-like dan di-love banyak follower karena dianggap keren, glamour, kaya; Kalau ke Maluku capek fisik, ribet naik turun perahu, gonta-ganti pesawat kecil, jalan dan sarpras yang belum memadai, diposting di sosmed pun sering dianggap biasa aja😂😁
Wes pokmen, wisata domestik kita (mayoritas) memang masih mahal di ongkos terutama areal Indonesia Timur. Tapi bagi mereka yang doyan piknik; Indonesia Timur adalah “taman surga” yang mengejawantah di bumi. Semua alamnya cantik luar biasa. Biaya mahal, capeknya jalan di medan naik turun, ribetnya gonta-ganti pesawat atau perahu (kadang harus nunggu berhari-hari demi terpenuhi kuota minimal), dll effort besar itu nggak ada bandingannya dengan saat kita bisa berhadapan langsung dengan keindahan alam mahakarya sang Pencipta di muka bumi. Subhanallah ❤
Karena ini ikut open trip 4D3N saya tahu diri. Gakbawa koper, pakaian ganti secukupnya, gak bawa buku-buku yang biasanya selalu ada di tas kalau bepergian, gakbawa bantal pribadi. Lagipula, ini ke Bali; saya tenang aja. Kalau ada apa-apa, ada banyak orang yang bisa ditelponin untuk bala bantuan.
Bagaimana keseruan piknik saya bersama Sering Travel? Ikuti aja catatan saya berikutnya yes. Dan ingat, saya nggak sedang mengendorse biro wisata yes. Saya ikut trip ini bayar mandiri. Walaupun biaya ringan, tetep saya bayar 3x sesuai aturan mereka. Jadi di ingatan saya tuh, serasanya cuma bayar 300 rb (DPnya) sudah piknik ke Bali. Tentu masih banyak item yang kudu bayar dhewe. Ntar saya spill budget kalau sudah selesai ceritanya. Tapi sabar ya… nulisnya dikit-dikit😂