Umroh Istimewa (4): Tidur dan Tidur Lagi

Tagline nya bagus ya. Saya menyambungnya dengan Umroh Happy, (dan) Umroh Lagi 😀 Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Pagi Shubuh saya bangun dengan syukur melimpah. Badan saya terasa full energi. Mandi, sholat Shubuh. Bebersih rumah. Masih sempat membuat review artikel, merekam materi perkuliahan, dll gaweyan sampai adik dan ipar saya datang. Mruput mereka karena nggak bisa antar ke bandara; ada arisan trah.

Kami hanya sebentar ngobrol karena urusan arisan trah 100 an orang ya rada rieweuh. Saya njur melanjutkan gaweyan. Karena hari sudah terang, saya bisa pamitan tetangga kiri kanan secara langsung. Kalau umroh harus berangkat jam 03 dini hari, pamitan mung via grup WA. Ya nggak mungkin lah saya gedor rumah orang pagi pagi gulita 😀🙏

Ya ampun, niy rombongan yang satu bus dengan saya jian rajin-rajin. Lha jadwalnya diminta datang jam 11.00; lha jam 10.30 wes lengkap kecuali saya. Hadeuh berasa telat deh. Untung saya datang tepat waktu. Jam 10.55 setelah saya datang dan duduk, bus langsung berangkat ke bandara. Ustadz Faqih sempat menanyakan tentang koper kecil saya. “Memang nggak dibawa.” Jawab saya. “Hanya backpack itu saja?” Tegasnya lagi. Saya mengangguk.

Bersama adik lelaki dan ipar saya di Bandara Soetta, Jakarta. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Sepertinya Ustadz Faqih ingin memastikan bahwa nggak ada barang bawaan saya yang tertinggal. Kalau dia sempat menenteng tas punggung saya itu pasti terasa ringannya (hanya berisi 2 setel baju dan alat mandi minimalis), power bank, topi payung, dan copy berkas identitas. Paling hanya 3 kg dari kapasitas total 12 kg. Sementara ada banyak orang (terutama ibu-ibu) yang bawaannya mbriyut.

Saya termasuk yang sangat praktis membawa barang saat bepergian. 12 hari ya berarti 12 setel baju lengkap dari ujung rambut ke ujung kaki, plus 3 baju tidur, piranti mandi komplit, 2 setel baju cadangan, 2 mukena plus sajadah, sandal, jas hujan, obat-obatan, makanan kering, gantungan baju, dll kruncilan barang perempuan. Dari 30 kg beban koper, hanya terpakai 15 kg. Itu karena saya wes antisipasi, sebab di penerbangan domestik bagasi hanya dapat 20 kg. Kelebihan yo silakan tanggung sendiri. Lumayanlah kalau masih ada 5 kg nggo oleh-oleh nanti. Kalau kurang, masukkan saja ke backpack. Jadi nggak ada cerita koper beranak dan over bagasi.

Bagi mereka yang wes biasa travelling, itung-itungan begitu sudah otomatis terpetakan di kepala. Tambah bagasi, tambah beban, tambah charge. Kalau ketemu modelan kek bandara Vietnam yang nggak mau dibayar pake mata uang apapun kecuali Dong Dong, itu sudah bikin mumet lagi. Tukar tukar uang dulu, lari sana sini pula… Beuuh😆😅

Dan seperti kebiasaan, setelah menyapa kawan duduk saya, sebentar saja duduk di bus langsung tidur. 😂🙈 Bangun sudah dekat YIA. Turun, mider sebentar. Njur saya makan bekal. Lha orang-orang yang datang baru sedikit, masih lama. Wes beberes foto-foto dll masuk bandara dengan syukur melimpah saya. Ya Rabb, saya penuhi panggilan-Mu. Mudahkan semua urusan kami. Kabulkan semua doa kami. Ampunilah semua dosa-dosa kami. Belum berangkat pun, saya wes ndremimil berdoa. Karena kita nggak pernah tahu doa yang mana, di saat apa yang dikabulkan oleh Allah.

Saya, Mas Donni (Mas Dokter), Mas Indra di Emirates untuk penerbangan Jakarta Dubai. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Nunggu is waiting. Saya bengong bingung mo ngapain. Njur tertidur lagi, sebelum boarding. Alhamdulillah kami dari YIA-YK ke SOETTA- JKT dengan Trans Nusa. Adem. Dapat snack minum. Layanan ramah. Full banget pesawat. Weekend ya. Yang dari Jogja pada pulang Jakarta. Sesuk nyambutgawe.

Sebentar saja wes landing. Jakarta. Wah, senangnya. 12 tahun di Jakarta tentu saya nggak asing dengan bandara ini. Tapi beneran syok dengan perubahannya. Luar biasa. Saya bahkan bingung ketika adik dan ipar saya menanyakan mau jumpa di mana di bandara. Wes saya manut saja dan nanti akan tanya orang. Adik saya bilang di dekat tempat check in Emirates saja.

Iya, penerbangan kami dengan Emirates. Alhamdulillah. Maskapai besar ini kondang sebagai penerbangan dengan full service, full hiburan, full makan minum, dan tentu saja AC nya dingin. Kelas ekonominya pun wes super sekelas Etihad. Apalagi kelas bisnisnya, nyamannya pasti luar biasa. Satu kursi di kelas bisnis itu setara ruang 4-5 kursi di kelas ekonomi. Jadi maklumilah kalau harganya juga 5-10 kali kelas ekonomi.

Umroh kedua saya (tahun 2023) alhamdulillah menggunakan Etihad bisnis, jian nyaman tenan. Versi saya itu tentang mencintai diri sendiri, menghargai hasil kerja keras untuk saya nikmati dengan sukacita. Toh ini untuk perjalanan ibadah, bukan perjalanan aneh-aneh atau maksiat.

Salah satu pramugari Emirates di kelas bisnis. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Dan memang enak betul di kelas bisnis. Check in wes diuruskan, boarding nggak perlu antri, barang dibawain, tempat duduk luas, tidur nyaman serasa di kasur empuk, selimut hangat, makanan melimpah, layanan hiburan beragam, turun duluan nggak perlu nunggu. Beneran pengalaman yang nggak murah, tapi sungguh menambah syukur saya pada Allah yang Maha Memberi Rezeki ❤

Kalau naik first class nya turun dijemput pake limosin 😀 Saya belum kuat untuk naik first classnya 😁 Ya nanti kalau diberi rezeki berlimpahan, sekali-kali bayar first class biar tambah syukurnya. Beda harga memang beda layanan. Saya bekerja sangat keras, salah satunya biar enteng beli atau bayar ini itu tanpa beribetan dengan hitungan duit. Saya hidup sederhana, tapi urusan mencintai diri sendiri sungguh nggak pernah sederhana.😀

Di penerbangan Emirates dari Jakarta ke Dubai ini saya duduk dengan Mas Donni (Mas Dokter) dan Mas Indra. Karena saya wes capek dan ngantuk banget, begitu menyapa mereka berdua, saya langsung pamitan tidur. Dan beneran tidur pules. Hanya terbangun saat guncangan pesawat karena petir hujan, njur tidur lagi. Bangun lagi wes jelang waktu makan.

Saat itu saya belum tahu kalau dokter yang disebut-sebut di grup kami itu ya Mas Donni yang duduk di samping saya. Saya merasa lebih tenang. Kalau ada kedaruratan soal kesehatan saya, sekurangnya ada yang bisa dimintai instruksi P3K standar dokter. Belum-belum saya merasa betapa sayangnya Allah sama saya. Kesehatan saya nggak prima, di grup wes ada dokternya 🤩 Alhamdulillah.

Besoknya pas sudah sampai di Dubai, Mas Donni cerita kalau nggak bisa tidur di pesawat. Hanya bisa ngelihatin kami (saya dan Mas Indra) di kiri kanan, tidurnya pules bener. Hahaha… maafin kami ya Mas Dokter, yang nggak toleran soal tidur 🤣🙈

Bersambung

Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us:

Umroh Istimewa (3): Seberapa Kuat Tekadmu

Kuitansi pembelian paket data umroh dari 3 provider. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Alhamdulillah saya bangun pagi nggak sakit. Sarapan, minum obat nyeri, saya memenuhi saran dokter ke RS gigi. Saya ke RSGM UGM. Searah jalan, saya ngurus paket internet umroh. Beuh iki galeri 3Store jian penuh dan CS nya mung siji ndhil. Mbak Cantik itu terlihat sangat cekatan, tapi yo gak bisa cepet. Antri saya 1,5 jam. Sampai di-WA dari RSGM UGM memastikan jam berapa saya datang.

Untung pas giliran saya, cepet urusannya. Beli kartu, pilih paket, registrasi dan aktivasi. Pembelian ini versi saya lebih mudah dan murah daripada aktivasi langsung dari kartu Halo Pascabayar saya. Teman-teman bisa memilih kuota data dan masa berlaku sesuai jenis kartu dan paket yang diinginkan. Karena saya pergi 12 hari, saya memilih paket 15 hari untuk jaga-jaga maju mundur keberangkatan dan kepulangan. Harga dan pilihan beragam, sekitar 350 s/d 750 rb.

Usai beres dan bayar paket internet, saya njur ke RSGM UGM. Dan drama pun dimulai. Daftar, cek periksa awal. Saya syok tensi saya tinggi itu piye to? Lha semalem aja saya 120/80 normal sehingga dokter berani ambil gigi saya yang guncang. Ini mendadak tinggi banget, apa yang salah? Berulang cek hanya turun di kisaran yang masih tergolong tinggi. Beuuh, masalah apa ini!

Masuk ruang dokter gigi, saya disuruh cerita kronologis nya dan dokter bilang kalau tensi tinggi nggak bisa mengambil tindakan. Tapi mau cek cek dulu, dan setelah dapat gambaran gigi saya, dokter minta Rontgen.

Balik lagi, saya harus turun. Antri. Ambil Rontgen njur suruh bayar dulu, baru bisa ambil foto. Membagongkan kenapa nggak ntar aja bayar jadi satu, karena saya masih ada rangkaian tindakan. Ya wes manut bolak balik. Lalu ke ruang dokter lagi.

Dokter gigi cantik ini jelasin kondisi gigi saya yang problematis dan bilang drg umum nggak sanggup, harus ke spesialis bedah mulut. Jadi harus hari Senin s/d Jumat pas mereka praktik. Alhamdulillah, pikir saya. Ntar aja pas lepas umroh.

Saya menceritakan kondisi saya. Dokter setuju dengan rencana saya. Tapi karena tensi saya yang tinggi, beliau merujuk agar saya periksa lagi ke dokter umum dan minta obat. Hiih, gemes saya disuruh minum obat. Saya bilang kalau tensi tinggi itu pasti karena emosi, kemrungsung, takut dengan segala piranti dokter gigi. Karena biasanya tensi saya ya normal bae.

Rujukan dari dokter gigi untuk penanganan tensi dan bedah mulut dari RSGM UGM. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Dokter bersikeras, karena dengan tensi setinggi itu mestinya saya wes pusing berat, badan nggak keruan rasanya, nggak bisa jalan, nggak bisa lihat, panas, demam atau lain lain kondisi kegawatan. Lha saya masih teges saja, enteng bicara, langkah ringan; dokter bilang malah curiga dan khawatir penyakit lainnya.

Saya nggak mungkin debat sama dokter, akhirnya yo wes periksa ulang dan dikasih obat penurun tensi. Sudah saya ambil juga. Masalah saya minum atau enggak, yo nanti saya pikir lagi. Kayaknya saya perlu alat tensi biar nggak beribetan begitu.

Pulang dari RSGM UGM wes sore, hujan deras pula. Baru saya berasa laper. Mampir Mirota Kampus beli botol spray untuk isian air zamzam saat di Baitullah, biar muka tangan kaki bisa disemprot terus menerus dengan air zamzam dan nggak kering sepanjang musim “dingin”.

Njur melipir makan sekenyangnya baru pulang. Mail ponakan saya mo datang, tapi saya larang karena saya capek banget; dan pinginnya mandi, sholat njur tidur. Dan itu yang saya lakukan. Sungguh baru kali ini, kurang dari 24 jam mo berangkat umroh saya masih berkeliaran di luar rumah. Untuk urusan yang nggak terprediksi.

Beruntung besok itu umrohnya berangkat siang. Nggak kemrungsung esuk-esuk gelap. Jadi lebih entenglah nggak buru-buru.

Bersambung
Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us:

Umroh Istimewa (2): Usai Daftar Umroh, Ujian Pun Beruntun

Saya, Bu Sida, Bu Prapti, Bu Yaya waktu manasik ke-2. Masjid Suciati, 2025. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Dari pengalaman-pengalaman sebelumnya, saya wes “niteni” bahwa saat sudah niat dan daftar bayar untuk umroh, saat itu juga saya kudu siap dengan serangkaian ujian. Sudah bayar pun, kalau nggak dipanggil Allah, bisa nggak jadi umroh haji lho. Sudah banyak contohnya. Termasuk kasus gagal berangkatnya jamaah haji furoda (tanpa antri) dari Indonesia tahun 2025.

Itu beneran peristiwa yang menyadarkan saya, bahwa duitmu (yang banyak pun) nggak akan bisa membawamu ke Baitullah kalau Allah nggak memanggilmu. Jadi ya nggak usah berkecil hati kalau duitmu belum cukup untuk biaya umroh haji. Allah punya 1001 cara untuk memberangkatkan siapa saja yang dipanggil.

Bulan-bulan Januari s/d September saya beneran hectic gaweyan gak berhenti-berhenti. Memang duitnya jadi lebih banyak, tapi capeknya juga nggak kurang-kurang. Terus ketambahan beberapa masalah yang bikin emosi jiwa. Beberapa orang dekat yang biasanya baik-baik tiba tiba rusuh banyak masalah; mau nggak mau terimbas ke saya.

Akhir September saya wes berasa klenger banget. Oktober rencananya saya mung pergi ke Wakatobi 5 hari dan njur anteng siap-siap umroh awal November. Rencana tinggal angan-angan. Jalan Wakatobi itu butuh 8 hari karena perubahan jadwal pesawat dan kapal penyeberangan. Ngepos di rumah ibu di Tulungagung pun molor juga karena ada beberapa urusan.

Jamaah umroh saat manasik ke-2. Masjid Suciati, 2025. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Sedikit istirahat di Jogja, kakak saya dari Manado datang ke Surabaya dan nggak bisa ke Jogja. Karena sudah beberapa tahun nggak jumpa, saya ngalahi pergi ke Surabaya. Ketambahan urusan buku dengan klien di sekitaran Lamongan, Gresik, Tuban beneran bikin habis energi saya.

Selesai urusan? Belum. Tanggal 3 November, saya masih harus ngisi pendampingan dosen-dosen Teknik Informatika, UII Yogyakarta untuk nulis buku. Semula jadwalnya 2 hari, saya pangkas 1 hari saja, pagi sampai sore. Saya ada “kontrak” panjang dengan mereka sejak tahun lalu; mendampingi dosen-dosen dari nggak aktif nulis buku; tiap tahun sekurangnya harus terbit 4 buku (1 buku diisi 10 dosen).

Alhamdulillah tahun lalu wes tercapai target. Tahun ini targetnya 8 buku (1 buku ditulis 5 dosen). Tahun depan 16 buku, dst sampai tiap dosen bisa aktif sekurangnya publish 1 buku tiap 1 atau 2 tahun, nggak nulis keroyokan lagi. Gaweyan yang nggak bisa saya tolak karena wes terjadwal sejak lama.

Capek? Jangan ditanya. Lalu di kampus saya beribetan dengan beberapa mahasiswa urusan administratif, dll seputar urusan gaweyan dosen. Sudah tahu ini ujian dan kuat-kuatan mental sebelum berangkat umroh; saya nggak mengeluh. Weslah, anggap saja sudah selesai.

Dan gong yang bikin saya syok itu mendadak di Jumat pagi tanggal 7 November, gigi saya nyeri sakit luar biasa. Saya nyari klinik gigi terdekat yang buka pagi, zonk. Sementara ngisi kuliah nggak bisa saya tinggal. Wes gitu sore ada manasik umroh. Pokoknya saya wes pingin menyerah saja. Sakit jiwa raga. Lelah fisik mental.

Poli gigi di klinik Sembada yang buka sampai jam 8 malam. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Usai manasik kedua itu, saya nangis sendirian di sudut luar mesjid, sakit gigi saya ampuun. Fisik saya lelah banget. Kayaknya kalau mendadak ada pengumuman nggak jadi berangkat umroh besok lusa pun, akan saya terima dengan senang hati.

Saya masih bisa tersenyum dan terlihat baik-baik saja, itu sebagai penghormatan kepada kawan-kawan baru yang akan bersama saya mulai saat berangkat umroh nanti. Meskipun beneran sakit gigi saya nggak terkira. Baru kali ini sakit gigi begitu dalam 15 an tahun. Heish, sakit gigi bae kok yo nyelo-nyelo lagi repot gitu.

Tapi mengingat begitu banyak orang yang berjuang mati-matian bahkan ada yang menabung puluhan tahun demi ke Baitullah, semangat saya bangkit lagi. Kamu sudah memintanya, Ri. Ada ujian ini itu, Allah pasti tahu kamu sanggup melewatinya.

Saya pun ke RSGM UGM, lah kok wes tutup. Nyari-nyari dulu, baru ketemu klinik Sembada untuk poli gigi yang buka sampai jam 8 malam. Antri suwe. Pas sudah giliran saya, dokternya bilang nggak sanggup menangani masalah gigi saya dan harus ke RS. Gigi saya pecah di tengah dan dalam ke akarnya. Horor tenan.

Sebagian gigi tergantung-gantung, sebagian yang lain masih kokoh kuat tapi akarnya semrawut. Saya ngotot pada dokter untuk mengurus gigi saya dan embuh caranya malam ini harus nggak sakit dan nggak nyeri. Lalu dokter menjelaskan P3K gigi untuk kondisi saya.

Langsung saya bilang iya, iya. Dibersihkan, dibius, dicabut bagian gigi yang guncang atau tergantung-gantung. Saat disuntik bius pun saya wes gak merasa. Saya sadar pas tahu darah keluar banyak; kapas yang saya gigit harus diganti beberapa kali. Dampaknya saya langsung lemes lunglai.

“Bu Ari kalau nyetir sendiri harus istirahat setengah jam, minum air dingin dulu. Repot kalau di jalan ada apa-apa.”

Saya mengangguk saja dan njur pindah ke apotik ambil obat dan bayar, lalu thenguk-thenguk, menghabiskan banyak minuman dingin sampai berasa lebih kuat badan saya. Baru pulang.

Syukur alhamdulillah gigi wes nggak nyeri. Mandi, sholat, njur tidur. Terima kasih ya Allah, saya masih bisa melewati ujian hari ini. Itu beneran hari yang paling rusuh sepanjang hidup saya. Sudah berhenti sekali itu saja, nggak usah ada lain kali.

Bersambung
Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us:

Umroh Istimewa (1): Panggilan Allah (Semestinya) Kita Jemput

Pelataran depan Masjid Nabawi, Madinah. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Alhamdulillah, terima kasih ya Allah atas karunia-Mu perjalanan umroh yang istimewa tahun ini (9-20 November 2025). Allahumma sholi ala sayyidina Muhammad wa ala ali sayyidina Muhammad. Ya Rasulullah saya mohon syafaatmu kelak di hari Kiamat 🙏

Tahun lalu ketika duduk di depan Ka’bah, saya berdoa agar dipanggil (lagi) dengan kondisi dan fasilitas yang lebih baik. Dan percaya atau enggak, saya seperti mendengar jawaban, “Ya, Ari. Tahun depan kamu ke sini (lagi).”

Kenapa saya begitu (berjuang) untuk terus bisa datang umroh? Hanya saat umroh itulah, di Madinah dan Mekkah, saya merasa “hidup” sebagai ciptaan Allah yang patuh untuk beribadah. Di tempat itu, waktu “dunia” seperti terhenti. Serasa hanya menunggu dari saat sholat ke sholat berikutnya. Jeda waktu pun diisi dengan ibadah-ibadah. Dan saat di Madinah, Masyaallah hati begitu tenang, adem, damai. Nggak bisa saya ceritakan seperti apa harunya, sampeyan harus datang dan mengalami sendiri untuk bisa “memahami” apa yang saya rasakan.

Lalu begitu saja, muncul niat di hati, kalaupun saya harus memangkas semua agenda piknik untuk bisa ke sini lagi, itu akan saya lakukan. Semoga lebih dari cukup rezeki untuk semuanya.

Pulang umroh tahun lalu, kembali dengan aktivitas dan rutinitas yang bekejaran di akhir tahun. Desember sering jadi bulan paling sibuk bagi penulis profesional seperti saya. Tutup tahun. Rampungan dan oyak-oyakan deadline. Workshop-workshop penulisan super dadakan. Proyek buku-buku yang nyelo-nyelo. Company profile/film/video/series yang superkilat; dll gaweyan yang intinya program menghabiskan anggaran. Beuuh…

Dulu pas saya masih jadi sandwich generation yang memback up saudara saudara dan orang tua, saya iya-iya saja karena perlu uang yang sangat besar. Setelah urusan itu selesai, saya wes emoh menerima proyek dadakan yang bikin stres jiwa raga, meskipun duitnya gede.

Sudah lebih dari 10 tahun ini, hidup saya ala Jogja banget. Kerja kalem kalem, syukur syukur yang duitnya besar. Kalau enggak, yang penting wes cukup untuk hidup layak dengan seluruh tanggungan saya. Simpel banget. Hidup lebih tenang damai, nggak uber-uberan dan penuh teriakan deadline. Duit saya dengan kerja “santai” memang nggak banyak, tapi alhamdulillah selalu cukup untuk apa saja sesuai keperluan.

Desember tahun lalu pun, saya wes menghitung perkiraan duit saya di tahun 2025. Nggak banyak. Rencana piknik pun saya ganti domestik seluruhnya. Nggak selalu lebih murah daripada piknik luar negeri, tapi jelas lebih hemat waktu dan energi. Menyadari sepenuhnya, tampilan boleh muda belia, tapi saya nggak terlalu muda lagi. Kekuatan fisik wes berkurang.

Ngumpulin duit nggak selalu mudah. Nggak cuma bagi saya, tapi bagi kebanyakan orang. Jadi ketika niat umroh itu sudah muncul di hati, saya yo berusaha ngumpulin uang sekurangnya cukup nggo bayar DP dulu. Dari Nov 2024 baru di April 2025 saya selow uang 5 juta, dan langsung daftar ke Dewangga untuk November 2025.

Total biaya sekira 35-40 an juta; karena saya milih trip via Dubai dan Turki. Untuk yang hanya umroh biasanya dari Jogja sekira 25-30 jutaan. Teman-teman bisa memilih paket umroh yang sesuai dengan kondisi finansial masing-masing. Kalau baru bayar DP 5 juta, njur kekurangannya piye? Ya embuh, nanti sambil jalan.

Untuk Teman-teman yang belum pernah ke Tanah Suci, kalau sudah ada niat, nggak usah mikirin duit atau biayanya dulu. Tapi sambut dan jemput saja niat itu dengan sebaik-baiknya. Bahkan kalau saat itu hanya ada duit luang 10 rb, siapkan saja itu di celengan khusus dengan niat untuk umroh. Ikuti dengan persiapan lainnya. Misalnya nanti pas sudah ada duit 600 rb, urus paspor dulu. Karena ini nggak bisa sehari jadi dan masanya 10 tahun, jadi lumayan kalau sudah diurus. Lalu ya nabung lagi dst. Gpp sedikit demi sedikit. Tahun lalu saya jumpa suami istri (guru SD) berangkat umroh setelah menabung selama 28 tahun. Masyaallah.

Pelataran Kabah, Masjidil Haram, Mekkah, setelah thawaf umroh, 2025. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Karena sudah niat, saya bekerja lebih keras demi memenuhi anggaran untuk umroh. Beberapa gaweyan penulisan skenario, saya kerjakan lagi; termasuk jadi supervisi naskah untuk series. Alhamdulillah, memang Allah itu memampukan yang dipanggil, bukan memanggil yang mampu. Ada saja jalan rezekinya. Dan lebih sering nggak pernah saya pikirkan sebelumnya.

Dari Januari ke Oktober 2025 saya tetep full piknik. Hidup sewajarnya tetap dengan sedekah. Yo ngurusi anak-anak asuh. Dan alhamdulillah tetep bayar 5 jutaan cicil biaya umroh. Alhamdulilah. Jangan mikirin duit untuk ini dari gaji dosen di kampus swasta ya. Lha wes sekarat dari awal itu kalau saya itung-itung; untuk transport dan makan siang saya sebulan bae sering nombok😁🙈 Belum kalau kudu ngrewangi mahasiswa bayar atau nomboki kekurangan ini itu, wes… duit saya dari kampus bablas saja.

Jujurly pas pertama terima gaji sebagai dosen yang begitu rendah, padahal masuk dengan ijazah S-3 yang sekolahnya ya nggak murah, itu saya syok dan stres duluan. Tenan, saya wes berusaha ngotak-atik kalau uang saya mung segitu dari gaji dosen, bagaimana caranya mengatur duit untuk bisa hidup layak di Jogja?

Pokokmen kalau nggak inget-inget ibu yang pingin anaknya guru besar, saya wes belok kiri setelah 2 bulan diminta gabung di kampus tempat saya ngajar. Sekarang saya sudah berdamai, menerima gaweyan dosen sebagai tambahan rutinitas. Rasah diitung-itung duitnya. Versi saya kecil, tapi ada banyak orang yang mati-matian untuk bisa kerja sebagai dosen; dengan segala macam test dan prasyarat.

Saya bae yang ndilalah gaweyan ditawarin, datang sendiri, dan sering saya tolak pula kalau saya sedang nggak mood dengan kerjaannya. Prinsipnya kalau hidupmu sesuai kemampuan, nggak kebanyakan gaya, nggak ada utang atau cicilan beribet, kerja pun nggak perlu ngoyo dan bisa memilih yang “menyenangkan”.

Sekira bulan Juli bayar umroh saya wes lunas. Alhamdulilah, saat itu sekurangnya saya wes menjemput duluan panggilan Allah dari sisi biaya. Sekarang tinggal urusan fisik, mental, spiritual. Latihan fisik, olahraga lebih tertib. Umroh adalah salah satu ibadah yang membutuhkan fisik kuat. Perjalanan jauhnya, prosesi thawaf dan sai-nya, dll aktivitas untuk menyempurnakan rukun dan kewajiban umroh itu sungguh nggak ringan.

Persiapan mental jelas nggak boleh sombong, belagu. Diberi anugerah berangkat umroh tiap tahun itu beneran harus bikin saya makin menunduk patuh taat pada Allah, menyadari sepenuhnya dosa-dosa yang begitu besar, ibadah yang masih bolong-bolong, syukur yang masih kurang-kurang, dll.

Sering juga saya sudah niat sedekah, tergoda beli apa yang nggak penting tapi lucu gitu, njur ambyar. Mo ngaji 1 juz bae, malah milih nonton drakor duluan, dll. Sudah tahu punya anak-anak asuh yang kudu dibayarin biaya sekolahnya, kadang-kadang saya yo masih ngedumel geje. Apalagi kalau ngerasa kenapa ini duitnya jadi perlu banyak. Kadang masih iri sama rezeki dan pencapaian orang lain, merasa kok hidup saya mung gitu-gitu bae, dll.

Persiapan spiritual jelas, ibadah pol-polan biar “target ibadah” pribadi saya di Baitullah saat umroh bisa tercapai. Karena biasanya, seperti apa kita beribadah di rumah sebelum umroh; itu nanti yang terbawa saat kita sudah ada di Tanah Suci.

Akhirnya perlu saya ulang lagi, nggak usah kecil hati kalau kamu belum punya duit untuk umroh. Ada niat untuk pergi umroh aja, itu versi saya sudah bentuk panggilan Allah. Nah, tugas kita berikhtiar, menyempurnakan panggilan itu dengan memenuhi syarat-syaratnya. Berapa lama? Wallahu’alam. Pokoknya kalau belum kesampaian, perbarui terus niatmu dan doa yang banyak agar segera dipanggil ke Baitullah.

Bersambung
Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us:

Menyoal Tata Bahasa untuk Penulisan

Jadi Penulis Produktif. Perlu buku cetak wa.me/6281380001149. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Penulis paling ahli pun sesekali membuat kesalahan tata bahasa. Masalahnya, kesalahan kecil ini dapat merusak kredibilitas Anda dan mengganggu aliran pembacaan. Pembaca yang terusik oleh typo dan tata bahasa yang salah akan kesulitan fokus pada ide besar Anda.

Mengedit tata bahasa adalah tentang disiplin. Berikut adalah tujuh kesalahan paling umum dalam penulisan bahasa Indonesia (dan tip praktis untuk menghindarinya).

  1. Penggunaan Preposisi Di dan Ke yang Terpisah dan Bersambung
    Ini mungkin adalah kesalahan tata bahasa yang paling sering terlihat, terutama dalam penulisan online.

Aturan: Preposisi (kata depan) yang menunjukkan tempat atau arah harus dipisah. Imbuhan pembentuk kata kerja pasif harus disambung.

Contoh Salah: Disana (seharusnya di sana), di tempel (seharusnya ditempel).

Cara Menghindari: Jika Anda bisa mengganti kata tersebut dengan “di samping,” pisahkan. Jika tidak bisa, sambung.

di sana (bisa diganti di samping), di kantor (bisa diganti di samping).

ditulis (tidak bisa diganti di samping tulis).

  1. Penulisan Partikel -Pun dan -Per
    Banyak penulis bingung kapan partikel ini harus digabung atau dipisah.

Partikel -Pun: Ditulis terpisah kecuali untuk 12 kata yang sudah baku (misalnya: adapun, meskipun, walaupun, biarpun, ataupun, kalaupun, kendatipun, siapapun, bagaimanapun, sungguhpun, jangankan, dan sekalipun).

Contoh: Anda pun bisa berhasil. (Pun berarti ‘juga’).

Partikel -Per: Partikel per yang berarti “mulai,” “demi,” atau “tiap” harus dipisah.

Contoh: Mereka bertemu per hari Kamis. Harga naik per dua minggu.

  1. Penggunaan Tanda Koma (,) yang Keliru
    Koma adalah jeda penting dalam kalimat; menggunakannya secara berlebihan atau kurang dapat mengacaukan makna.

Fungsi Koma: Memisahkan unsur-unsur dalam pemerincian (Saya suka kopi, teh, dan susu). Memisahkan anak kalimat dari induk kalimat jika anak kalimat mendahului induk kalimat (Karena sakit, ia tidak masuk).

Kesalahan Umum: Meletakkan koma untuk memisahkan subjek dan predikat yang tidak terlalu panjang (Ani, sedang membaca buku – SALAH).

  1. Kesalahan Penggunaan Kata Di dan Adalah Secara Berlebihan
    Beberapa penulis cenderung menggunakan di (sebagai kata kerja pasif) atau adalah secara berlebihan, yang membuat kalimat terasa pasif dan lemah.

Hindari: “Pekerjaan itu adalah untuk membersihkan.”

Perbaiki: “Pekerjaan itu membersihkan.” (Gunakan kata kerja aktif)

  1. Penulisan Huruf Kapital pada Istilah Unik
    Penulis sering tergoda untuk menggunakan huruf kapital pada setiap istilah yang mereka anggap penting.

Aturan: Gunakan huruf kapital hanya untuk nama diri, nama geografis, singkatan resmi, dan awal kalimat. Jangan gunakan huruf kapital untuk istilah umum, bahkan jika itu adalah istilah kunci dalam tulisan Anda.

Contoh Salah: “Kami membahas tentang Karya Tulis Ilmiah.”

Contoh Benar: “Kami membahas tentang karya tulis ilmiah.”

  1. Penggunaan Kata Penghubung Ganda (Double Conjunctions)
    Kesalahan ini terjadi ketika penulis menggunakan dua kata penghubung yang memiliki fungsi serupa dalam satu kalimat, menyebabkan pemborosan kata (redundancy).

Contoh Salah: “Meskipun dia gagal, tetapi dia akan mencoba lagi.”

Perbaiki: Pilih salah satu. “Meskipun dia gagal, dia akan mencoba lagi.” ATAU “Dia gagal, tetapi dia akan mencoba lagi.”

  1. Penggunaan Tanda Hubung (-) untuk Menghubungkan Semua Kata
    Tanda hubung digunakan untuk menghubungkan unsur yang memiliki hubungan erat atau mengulang kata. Penulis sering salah menggunakannya untuk semua gabungan kata.

Gunakan untuk: Kata ulang (berlari-lari), gabungan unsur dengan imbuhan () di-PHK), atau untuk memperjelas makna (ibu-bapak vs ibu bapak).

Hindari: Menggunakan tanda hubung untuk semua gabungan kata yang sudah padu.

Tata bahasa yang benar adalah bentuk penghormatan kepada pembaca Anda. Dengan secara rutin memeriksa tujuh kesalahan umum ini saat mengedit, Anda akan memastikan bahwa tulisan Anda tidak hanya brilian secara ide, tetapi juga bersih, profesional, dan sangat mudah dipahami.

Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us:

Menulis, Seperti Curhat Tanpa, “Sabar, yaa…!”

Wakatobi, Sulawesi Tenggara. Menulis itu seperti piknik, healing untuk kesehatan mental. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Kamu pernah nggak sih ngerasa kepala lagi penuh banget sama pikiran, hati kayak sesak, tapi bingung mau curhat ke siapa? Kadang kalau cerita ke orang lain, ujung-ujungnya cuma dikasih kalimat klasik: “Sabar ya,” atau “Udah, jangan dipikirin.”. Padahal otak lagi mumet banget, kan? Nah, di titik inilah menulis bisa jadi sahabat terbaik kamu.

Menulis itu bukan cuma soal bikin karya sastra, novel, atau caption Instagram estetik. Lebih dari itu, menulis bisa jadi healing tool alias alat terapi buat kesehatan mental.

Kenapa Menulis Bisa Jadi Terapi? Kayak curhat, tapi aman. Kertas atau layar HP nggak bakal nge-judge kamu. Mau nulis hal receh, marah-marah, atau nangis dalam kata-kata, semuanya bisa. Kamu bebas banget.

Melepas beban pikiran. Kadang isi kepala tuh kayak tabungan yang udah overload. Begitu ditulis, rasanya kayak dipindahin ke luar otak. Lebih plong!

Self-awareness naik level. Dengan nulis, kamu jadi lebih kenal diri sendiri. Apa sih yang bikin kamu sedih, marah, atau bahagia? Dari situ kamu bisa pelan-pelan ngerti cara nge-handle diri.

Jadi memori keeper. Nulis juga bikin kamu inget perjalanan diri sendiri. Kadang baca lagi tulisan lama bikin sadar, “Wah, ternyata aku udah kuat banget ya bisa lewatin masa itu.”

Cara Asik Mulai Menulis Buat Healing: Nggak usah ribet mikir format. Nulis aja kayak lagi curhat sama temen deket. Nggak perlu mikir EYD, tanda baca, apalagi gaya bahasa baku.

Coba journaling. Tulis tiap hari 5–10 menit. Bisa soal apa yang kamu rasain hari itu, hal-hal kecil yang bikin kamu bersyukur, atau sekadar keluhan receh.

Bikin “surat tak terkirim”. Pernah pengen ngomong sesuatu ke orang tapi nggak bisa? Tulis aja surat buat dia (meski nggak dikirim). Trust me, rasanya lega banget.

Gunain HP atau buku. Kamu tim ngetik di notes HP atau tim nulis tangan di buku? Dua-duanya oke, pilih aja yang bikin nyaman.

Efek positif nulis buat kesehatan mental: Tidur bisa lebih nyenyak karena isi kepala udah “dituangin” sebelum tidur.

Stress bisa turun karena kamu punya outlet buat buang energi negatif. Rasa percaya diri bisa naik, soalnya kamu jadi terbiasa jujur sama diri sendiri.

Jadi, kalau kamu lagi ngerasa hidup berat, jangan buru-buru nyalahin diri atau mikirin omongan orang. Coba deh ambil pena atau buka notes di HP, terus tulis semua yang numpuk di pikiran.

Anggep aja menulis itu kayak “spa buat otak” atau piknik untuk healing kesehatan mental. Menulis itu murah meriah, gampang, tapi efeknya bisa bikin jiwa kamu lebih sehat. Karena kadang, yang kita butuhin bukan kata “sabar”, tapi ruang buat cerita. Dan menulis bisa jadi ruang kita cerita tanpa harus melibatkan orang lain.

Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us:

Mempersiapkan Dana untuk Pendidikan Tinggi

Wisuda doktor, GSP, UGM. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Pendidikan itu penting banget, gengs. Apalagi kalau udah ngomongin kuliah S-1, lanjut S-2, bahkan S-3. Tapi jujur aja, biaya kuliah sekarang nggak murah. Dari uang pangkal, UKT (Uang Kuliah Tunggal), biaya hidup, sampai print tugas tebel-tebel; semuanya butuh duit. Nah, biar nggak kaget pas waktunya tiba, kita perlu strategi buat nyiapin dana pendidikan tinggi. Yuk, kita bahas tuntas.

Kenapa dana pendidikan harus dipersiapin dari awal? Ya, bayangin deh, biaya kuliah tiap tahun itu naik kayak harga cabe waktu lebaran. Kalau kita nggak punya perencanaan, bisa-bisa stress duluan sebelum sidang skripsi. Nyiapin dana pendidikan dari awal bikin kita lebih tenang, nggak gampang panik, dan yang paling penting: masa depan pendidikan nggak ketunda gara-gara masalah finansial.

Berikut ini ada tips persiapan untuk dana pendidikan tinggi, yang boleh kamu coba.

Pertama, mulai nabung sejak dini. Jangan nunggu “nanti kalau ada rezeki lebih” baru nabung. Percaya deh, kalau nunggu lebih, ujung-ujungnya malah abis buat jajan atau nongkrong.

Mulailah dari kecil; misalnya tiap bulan sisihin 10% dari gaji/uang jajan khusus buat tabungan pendidikan. Kalau konsisten, lama-lama jadi bukit.

Kedua, bedain pabungan pendidikan sama tabungan jajan. Ini penting banget. Jangan campur aduk antara tabungan buat beli sneakers baru sama tabungan buat biaya kuliah.

Bikin rekening terpisah atau pakai aplikasi keuangan biar lebih gampang tracking. Jadi, dana pendidikan aman dari godaan impulsif.

Ketiga, investasi yang ringan-ringan. Kalau mau lebih serius, coba belajar investasi. Nggak perlu langsung ke saham yang ribet, bisa mulai dari reksa dana atau deposito. Return-nya lumayan buat ngimbangin inflasi biaya pendidikan. Tapi inget, jangan asal ikut-ikutan. Pelajari dulu risikonya biar nggak nyesel.

Keempat, cari info beasiswa. Siapa bilang semua biaya kuliah harus ditanggung sendiri? Banyak kok beasiswa dari kampus, pemerintah, bahkan swasta. Mulai dari beasiswa prestasi, penelitian, sampai beasiswa khusus bidang tertentu. Jadi, sambil nyiapin dana, jangan males riset peluang beasiswa.

Kelima, jangan malu kerja sampingan. Buat yang udah S-1 atau lanjut S-2/S-3, kerja sampingan bisa jadi solusi. Misalnya freelance desain, ngajar les, jadi content creator, atau jualan online. Lumayan banget buat nambahin dana pendidikan tanpa ngerepotin orang tua.

Keenam, diskusiin bareng keluarga. Klau kamu masih di tahap rencana, jangan sungkan ngobrol sama keluarga. Bisa aja ada dukungan finansial atau ide dari mereka. Ingat, pendidikan itu investasi keluarga juga, jadi ngobrolin dari awal bikin lebih ringan.

Ketujuh, potong pengeluaran nggak penting. Ngopi cantik tiap hari? Scroll marketplace terus checkout barang nggak urgent? Coba tahan dulu. Alihin sebagian budget gaya hidup ke tabungan pendidikan. Bukan berarti anti jajan, tapi belajar prioritas.

Kedelapan, manfaatkan teknologi. Sekarang banyak aplikasi finansial yang bisa bantu atur duit, bahkan ada fitur khusus nabung buat pendidikan. Gunain fitur auto-debet biar nggak ada alasan lupa nabung tiap bulan.

Nah, kamu bisa memulai program siap-siap dana pendidikan dengan mengetahui tingkat pendidikan yang ingin kamu tempuh. Mari kita cek. S-1, S-2, atau S-3: itu bedanya apa?

  • S-1: Biaya kuliah biasanya masih bisa dicari part-time, tapi tetep butuh persiapan, apalagi kalau ngekos.
  • S-2: Lebih mahal, tapi biasanya waktunya lebih singkat. Beasiswa S-2 banyak banget, jadi jangan males apply.
  • S-3: Ini level dewa, gengs. Biayanya tinggi banget, tapi banyak juga sponsor dari kampus luar negeri. Kalau minat, persiapannya harus lebih matang dan panjang.

Jadi, boleh dibilang nyiapin dana pendidikan itu kayak nge-build karakter di game. Kalau kamu konsisten nabung, pintar atur duit, dan rajin cari peluang (beasiswa atau kerja sampingan), jalan menuju S-1, S-2, bahkan S-3 bakal lebih mulus. Ingat, pendidikan itu bukan sekadar gelar, tapi investasi jangka panjang buat masa depan.

Dan, jangan tunggu besok untuk siap-siap. Mulai hari ini juga. Karena masa depan kamu nggak bisa nunggu saldo rekening penuh dulu baru dijalanin.

Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us: