Umroh Istimewa (2): Usai Daftar Umroh, Ujian Pun Beruntun

Saya, Bu Sida, Bu Prapti, Bu Yaya waktu manasik ke-2. Masjid Suciati, 2025. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Dari pengalaman-pengalaman sebelumnya, saya wes “niteni” bahwa saat sudah niat dan daftar bayar untuk umroh, saat itu juga saya kudu siap dengan serangkaian ujian. Sudah bayar pun, kalau nggak dipanggil Allah, bisa nggak jadi umroh haji lho. Sudah banyak contohnya. Termasuk kasus gagal berangkatnya jamaah haji furoda (tanpa antri) dari Indonesia tahun 2025.

Itu beneran peristiwa yang menyadarkan saya, bahwa duitmu (yang banyak pun) nggak akan bisa membawamu ke Baitullah kalau Allah nggak memanggilmu. Jadi ya nggak usah berkecil hati kalau duitmu belum cukup untuk biaya umroh haji. Allah punya 1001 cara untuk memberangkatkan siapa saja yang dipanggil.

Bulan-bulan Januari s/d September saya beneran hectic gaweyan gak berhenti-berhenti. Memang duitnya jadi lebih banyak, tapi capeknya juga nggak kurang-kurang. Terus ketambahan beberapa masalah yang bikin emosi jiwa. Beberapa orang dekat yang biasanya baik-baik tiba tiba rusuh banyak masalah; mau nggak mau terimbas ke saya.

Akhir September saya wes berasa klenger banget. Oktober rencananya saya mung pergi ke Wakatobi 5 hari dan njur anteng siap-siap umroh awal November. Rencana tinggal angan-angan. Jalan Wakatobi itu butuh 8 hari karena perubahan jadwal pesawat dan kapal penyeberangan. Ngepos di rumah ibu di Tulungagung pun molor juga karena ada beberapa urusan.

Jamaah umroh saat manasik ke-2. Masjid Suciati, 2025. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Sedikit istirahat di Jogja, kakak saya dari Manado datang ke Surabaya dan nggak bisa ke Jogja. Karena sudah beberapa tahun nggak jumpa, saya ngalahi pergi ke Surabaya. Ketambahan urusan buku dengan klien di sekitaran Lamongan, Gresik, Tuban beneran bikin habis energi saya.

Selesai urusan? Belum. Tanggal 3 November, saya masih harus ngisi pendampingan dosen-dosen Teknik Informatika, UII Yogyakarta untuk nulis buku. Semula jadwalnya 2 hari, saya pangkas 1 hari saja, pagi sampai sore. Saya ada “kontrak” panjang dengan mereka sejak tahun lalu; mendampingi dosen-dosen dari nggak aktif nulis buku; tiap tahun sekurangnya harus terbit 4 buku (1 buku diisi 10 dosen).

Alhamdulillah tahun lalu wes tercapai target. Tahun ini targetnya 8 buku (1 buku ditulis 5 dosen). Tahun depan 16 buku, dst sampai tiap dosen bisa aktif sekurangnya publish 1 buku tiap 1 atau 2 tahun, nggak nulis keroyokan lagi. Gaweyan yang nggak bisa saya tolak karena wes terjadwal sejak lama.

Capek? Jangan ditanya. Lalu di kampus saya beribetan dengan beberapa mahasiswa urusan administratif, dll seputar urusan gaweyan dosen. Sudah tahu ini ujian dan kuat-kuatan mental sebelum berangkat umroh; saya nggak mengeluh. Weslah, anggap saja sudah selesai.

Dan gong yang bikin saya syok itu mendadak di Jumat pagi tanggal 7 November, gigi saya nyeri sakit luar biasa. Saya nyari klinik gigi terdekat yang buka pagi, zonk. Sementara ngisi kuliah nggak bisa saya tinggal. Wes gitu sore ada manasik umroh. Pokoknya saya wes pingin menyerah saja. Sakit jiwa raga. Lelah fisik mental.

Poli gigi di klinik Sembada yang buka sampai jam 8 malam. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Usai manasik kedua itu, saya nangis sendirian di sudut luar mesjid, sakit gigi saya ampuun. Fisik saya lelah banget. Kayaknya kalau mendadak ada pengumuman nggak jadi berangkat umroh besok lusa pun, akan saya terima dengan senang hati.

Saya masih bisa tersenyum dan terlihat baik-baik saja, itu sebagai penghormatan kepada kawan-kawan baru yang akan bersama saya mulai saat berangkat umroh nanti. Meskipun beneran sakit gigi saya nggak terkira. Baru kali ini sakit gigi begitu dalam 15 an tahun. Heish, sakit gigi bae kok yo nyelo-nyelo lagi repot gitu.

Tapi mengingat begitu banyak orang yang berjuang mati-matian bahkan ada yang menabung puluhan tahun demi ke Baitullah, semangat saya bangkit lagi. Kamu sudah memintanya, Ri. Ada ujian ini itu, Allah pasti tahu kamu sanggup melewatinya.

Saya pun ke RSGM UGM, lah kok wes tutup. Nyari-nyari dulu, baru ketemu klinik Sembada untuk poli gigi yang buka sampai jam 8 malam. Antri suwe. Pas sudah giliran saya, dokternya bilang nggak sanggup menangani masalah gigi saya dan harus ke RS. Gigi saya pecah di tengah dan dalam ke akarnya. Horor tenan.

Sebagian gigi tergantung-gantung, sebagian yang lain masih kokoh kuat tapi akarnya semrawut. Saya ngotot pada dokter untuk mengurus gigi saya dan embuh caranya malam ini harus nggak sakit dan nggak nyeri. Lalu dokter menjelaskan P3K gigi untuk kondisi saya.

Langsung saya bilang iya, iya. Dibersihkan, dibius, dicabut bagian gigi yang guncang atau tergantung-gantung. Saat disuntik bius pun saya wes gak merasa. Saya sadar pas tahu darah keluar banyak; kapas yang saya gigit harus diganti beberapa kali. Dampaknya saya langsung lemes lunglai.

“Bu Ari kalau nyetir sendiri harus istirahat setengah jam, minum air dingin dulu. Repot kalau di jalan ada apa-apa.”

Saya mengangguk saja dan njur pindah ke apotik ambil obat dan bayar, lalu thenguk-thenguk, menghabiskan banyak minuman dingin sampai berasa lebih kuat badan saya. Baru pulang.

Syukur alhamdulillah gigi wes nggak nyeri. Mandi, sholat, njur tidur. Terima kasih ya Allah, saya masih bisa melewati ujian hari ini. Itu beneran hari yang paling rusuh sepanjang hidup saya. Sudah berhenti sekali itu saja, nggak usah ada lain kali.

Bersambung
Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us:

Umroh Istimewa (1): Panggilan Allah (Semestinya) Kita Jemput

Pelataran depan Masjid Nabawi, Madinah. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Alhamdulillah, terima kasih ya Allah atas karunia-Mu perjalanan umroh yang istimewa tahun ini (9-20 November 2025). Allahumma sholi ala sayyidina Muhammad wa ala ali sayyidina Muhammad. Ya Rasulullah saya mohon syafaatmu kelak di hari Kiamat 🙏

Tahun lalu ketika duduk di depan Ka’bah, saya berdoa agar dipanggil (lagi) dengan kondisi dan fasilitas yang lebih baik. Dan percaya atau enggak, saya seperti mendengar jawaban, “Ya, Ari. Tahun depan kamu ke sini (lagi).”

Kenapa saya begitu (berjuang) untuk terus bisa datang umroh? Hanya saat umroh itulah, di Madinah dan Mekkah, saya merasa “hidup” sebagai ciptaan Allah yang patuh untuk beribadah. Di tempat itu, waktu “dunia” seperti terhenti. Serasa hanya menunggu dari saat sholat ke sholat berikutnya. Jeda waktu pun diisi dengan ibadah-ibadah. Dan saat di Madinah, Masyaallah hati begitu tenang, adem, damai. Nggak bisa saya ceritakan seperti apa harunya, sampeyan harus datang dan mengalami sendiri untuk bisa “memahami” apa yang saya rasakan.

Lalu begitu saja, muncul niat di hati, kalaupun saya harus memangkas semua agenda piknik untuk bisa ke sini lagi, itu akan saya lakukan. Semoga lebih dari cukup rezeki untuk semuanya.

Pulang umroh tahun lalu, kembali dengan aktivitas dan rutinitas yang bekejaran di akhir tahun. Desember sering jadi bulan paling sibuk bagi penulis profesional seperti saya. Tutup tahun. Rampungan dan oyak-oyakan deadline. Workshop-workshop penulisan super dadakan. Proyek buku-buku yang nyelo-nyelo. Company profile/film/video/series yang superkilat; dll gaweyan yang intinya program menghabiskan anggaran. Beuuh…

Dulu pas saya masih jadi sandwich generation yang memback up saudara saudara dan orang tua, saya iya-iya saja karena perlu uang yang sangat besar. Setelah urusan itu selesai, saya wes emoh menerima proyek dadakan yang bikin stres jiwa raga, meskipun duitnya gede.

Sudah lebih dari 10 tahun ini, hidup saya ala Jogja banget. Kerja kalem kalem, syukur syukur yang duitnya besar. Kalau enggak, yang penting wes cukup untuk hidup layak dengan seluruh tanggungan saya. Simpel banget. Hidup lebih tenang damai, nggak uber-uberan dan penuh teriakan deadline. Duit saya dengan kerja “santai” memang nggak banyak, tapi alhamdulillah selalu cukup untuk apa saja sesuai keperluan.

Desember tahun lalu pun, saya wes menghitung perkiraan duit saya di tahun 2025. Nggak banyak. Rencana piknik pun saya ganti domestik seluruhnya. Nggak selalu lebih murah daripada piknik luar negeri, tapi jelas lebih hemat waktu dan energi. Menyadari sepenuhnya, tampilan boleh muda belia, tapi saya nggak terlalu muda lagi. Kekuatan fisik wes berkurang.

Ngumpulin duit nggak selalu mudah. Nggak cuma bagi saya, tapi bagi kebanyakan orang. Jadi ketika niat umroh itu sudah muncul di hati, saya yo berusaha ngumpulin uang sekurangnya cukup nggo bayar DP dulu. Dari Nov 2024 baru di April 2025 saya selow uang 5 juta, dan langsung daftar ke Dewangga untuk November 2025.

Total biaya sekira 35-40 an juta; karena saya milih trip via Dubai dan Turki. Untuk yang hanya umroh biasanya dari Jogja sekira 25-30 jutaan. Teman-teman bisa memilih paket umroh yang sesuai dengan kondisi finansial masing-masing. Kalau baru bayar DP 5 juta, njur kekurangannya piye? Ya embuh, nanti sambil jalan.

Untuk Teman-teman yang belum pernah ke Tanah Suci, kalau sudah ada niat, nggak usah mikirin duit atau biayanya dulu. Tapi sambut dan jemput saja niat itu dengan sebaik-baiknya. Bahkan kalau saat itu hanya ada duit luang 10 rb, siapkan saja itu di celengan khusus dengan niat untuk umroh. Ikuti dengan persiapan lainnya. Misalnya nanti pas sudah ada duit 600 rb, urus paspor dulu. Karena ini nggak bisa sehari jadi dan masanya 10 tahun, jadi lumayan kalau sudah diurus. Lalu ya nabung lagi dst. Gpp sedikit demi sedikit. Tahun lalu saya jumpa suami istri (guru SD) berangkat umroh setelah menabung selama 28 tahun. Masyaallah.

Pelataran Kabah, Masjidil Haram, Mekkah, setelah thawaf umroh, 2025. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Karena sudah niat, saya bekerja lebih keras demi memenuhi anggaran untuk umroh. Beberapa gaweyan penulisan skenario, saya kerjakan lagi; termasuk jadi supervisi naskah untuk series. Alhamdulillah, memang Allah itu memampukan yang dipanggil, bukan memanggil yang mampu. Ada saja jalan rezekinya. Dan lebih sering nggak pernah saya pikirkan sebelumnya.

Dari Januari ke Oktober 2025 saya tetep full piknik. Hidup sewajarnya tetap dengan sedekah. Yo ngurusi anak-anak asuh. Dan alhamdulillah tetep bayar 5 jutaan cicil biaya umroh. Alhamdulilah. Jangan mikirin duit untuk ini dari gaji dosen di kampus swasta ya. Lha wes sekarat dari awal itu kalau saya itung-itung; untuk transport dan makan siang saya sebulan bae sering nombok😁🙈 Belum kalau kudu ngrewangi mahasiswa bayar atau nomboki kekurangan ini itu, wes… duit saya dari kampus bablas saja.

Jujurly pas pertama terima gaji sebagai dosen yang begitu rendah, padahal masuk dengan ijazah S-3 yang sekolahnya ya nggak murah, itu saya syok dan stres duluan. Tenan, saya wes berusaha ngotak-atik kalau uang saya mung segitu dari gaji dosen, bagaimana caranya mengatur duit untuk bisa hidup layak di Jogja?

Pokokmen kalau nggak inget-inget ibu yang pingin anaknya guru besar, saya wes belok kiri setelah 2 bulan diminta gabung di kampus tempat saya ngajar. Sekarang saya sudah berdamai, menerima gaweyan dosen sebagai tambahan rutinitas. Rasah diitung-itung duitnya. Versi saya kecil, tapi ada banyak orang yang mati-matian untuk bisa kerja sebagai dosen; dengan segala macam test dan prasyarat.

Saya bae yang ndilalah gaweyan ditawarin, datang sendiri, dan sering saya tolak pula kalau saya sedang nggak mood dengan kerjaannya. Prinsipnya kalau hidupmu sesuai kemampuan, nggak kebanyakan gaya, nggak ada utang atau cicilan beribet, kerja pun nggak perlu ngoyo dan bisa memilih yang “menyenangkan”.

Sekira bulan Juli bayar umroh saya wes lunas. Alhamdulilah, saat itu sekurangnya saya wes menjemput duluan panggilan Allah dari sisi biaya. Sekarang tinggal urusan fisik, mental, spiritual. Latihan fisik, olahraga lebih tertib. Umroh adalah salah satu ibadah yang membutuhkan fisik kuat. Perjalanan jauhnya, prosesi thawaf dan sai-nya, dll aktivitas untuk menyempurnakan rukun dan kewajiban umroh itu sungguh nggak ringan.

Persiapan mental jelas nggak boleh sombong, belagu. Diberi anugerah berangkat umroh tiap tahun itu beneran harus bikin saya makin menunduk patuh taat pada Allah, menyadari sepenuhnya dosa-dosa yang begitu besar, ibadah yang masih bolong-bolong, syukur yang masih kurang-kurang, dll.

Sering juga saya sudah niat sedekah, tergoda beli apa yang nggak penting tapi lucu gitu, njur ambyar. Mo ngaji 1 juz bae, malah milih nonton drakor duluan, dll. Sudah tahu punya anak-anak asuh yang kudu dibayarin biaya sekolahnya, kadang-kadang saya yo masih ngedumel geje. Apalagi kalau ngerasa kenapa ini duitnya jadi perlu banyak. Kadang masih iri sama rezeki dan pencapaian orang lain, merasa kok hidup saya mung gitu-gitu bae, dll.

Persiapan spiritual jelas, ibadah pol-polan biar “target ibadah” pribadi saya di Baitullah saat umroh bisa tercapai. Karena biasanya, seperti apa kita beribadah di rumah sebelum umroh; itu nanti yang terbawa saat kita sudah ada di Tanah Suci.

Akhirnya perlu saya ulang lagi, nggak usah kecil hati kalau kamu belum punya duit untuk umroh. Ada niat untuk pergi umroh aja, itu versi saya sudah bentuk panggilan Allah. Nah, tugas kita berikhtiar, menyempurnakan panggilan itu dengan memenuhi syarat-syaratnya. Berapa lama? Wallahu’alam. Pokoknya kalau belum kesampaian, perbarui terus niatmu dan doa yang banyak agar segera dipanggil ke Baitullah.

Bersambung
Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us:

Menyoal Tata Bahasa untuk Penulisan

Jadi Penulis Produktif. Perlu buku cetak wa.me/6281380001149. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Penulis paling ahli pun sesekali membuat kesalahan tata bahasa. Masalahnya, kesalahan kecil ini dapat merusak kredibilitas Anda dan mengganggu aliran pembacaan. Pembaca yang terusik oleh typo dan tata bahasa yang salah akan kesulitan fokus pada ide besar Anda.

Mengedit tata bahasa adalah tentang disiplin. Berikut adalah tujuh kesalahan paling umum dalam penulisan bahasa Indonesia (dan tip praktis untuk menghindarinya).

  1. Penggunaan Preposisi Di dan Ke yang Terpisah dan Bersambung
    Ini mungkin adalah kesalahan tata bahasa yang paling sering terlihat, terutama dalam penulisan online.

Aturan: Preposisi (kata depan) yang menunjukkan tempat atau arah harus dipisah. Imbuhan pembentuk kata kerja pasif harus disambung.

Contoh Salah: Disana (seharusnya di sana), di tempel (seharusnya ditempel).

Cara Menghindari: Jika Anda bisa mengganti kata tersebut dengan “di samping,” pisahkan. Jika tidak bisa, sambung.

di sana (bisa diganti di samping), di kantor (bisa diganti di samping).

ditulis (tidak bisa diganti di samping tulis).

  1. Penulisan Partikel -Pun dan -Per
    Banyak penulis bingung kapan partikel ini harus digabung atau dipisah.

Partikel -Pun: Ditulis terpisah kecuali untuk 12 kata yang sudah baku (misalnya: adapun, meskipun, walaupun, biarpun, ataupun, kalaupun, kendatipun, siapapun, bagaimanapun, sungguhpun, jangankan, dan sekalipun).

Contoh: Anda pun bisa berhasil. (Pun berarti ‘juga’).

Partikel -Per: Partikel per yang berarti “mulai,” “demi,” atau “tiap” harus dipisah.

Contoh: Mereka bertemu per hari Kamis. Harga naik per dua minggu.

  1. Penggunaan Tanda Koma (,) yang Keliru
    Koma adalah jeda penting dalam kalimat; menggunakannya secara berlebihan atau kurang dapat mengacaukan makna.

Fungsi Koma: Memisahkan unsur-unsur dalam pemerincian (Saya suka kopi, teh, dan susu). Memisahkan anak kalimat dari induk kalimat jika anak kalimat mendahului induk kalimat (Karena sakit, ia tidak masuk).

Kesalahan Umum: Meletakkan koma untuk memisahkan subjek dan predikat yang tidak terlalu panjang (Ani, sedang membaca buku – SALAH).

  1. Kesalahan Penggunaan Kata Di dan Adalah Secara Berlebihan
    Beberapa penulis cenderung menggunakan di (sebagai kata kerja pasif) atau adalah secara berlebihan, yang membuat kalimat terasa pasif dan lemah.

Hindari: “Pekerjaan itu adalah untuk membersihkan.”

Perbaiki: “Pekerjaan itu membersihkan.” (Gunakan kata kerja aktif)

  1. Penulisan Huruf Kapital pada Istilah Unik
    Penulis sering tergoda untuk menggunakan huruf kapital pada setiap istilah yang mereka anggap penting.

Aturan: Gunakan huruf kapital hanya untuk nama diri, nama geografis, singkatan resmi, dan awal kalimat. Jangan gunakan huruf kapital untuk istilah umum, bahkan jika itu adalah istilah kunci dalam tulisan Anda.

Contoh Salah: “Kami membahas tentang Karya Tulis Ilmiah.”

Contoh Benar: “Kami membahas tentang karya tulis ilmiah.”

  1. Penggunaan Kata Penghubung Ganda (Double Conjunctions)
    Kesalahan ini terjadi ketika penulis menggunakan dua kata penghubung yang memiliki fungsi serupa dalam satu kalimat, menyebabkan pemborosan kata (redundancy).

Contoh Salah: “Meskipun dia gagal, tetapi dia akan mencoba lagi.”

Perbaiki: Pilih salah satu. “Meskipun dia gagal, dia akan mencoba lagi.” ATAU “Dia gagal, tetapi dia akan mencoba lagi.”

  1. Penggunaan Tanda Hubung (-) untuk Menghubungkan Semua Kata
    Tanda hubung digunakan untuk menghubungkan unsur yang memiliki hubungan erat atau mengulang kata. Penulis sering salah menggunakannya untuk semua gabungan kata.

Gunakan untuk: Kata ulang (berlari-lari), gabungan unsur dengan imbuhan () di-PHK), atau untuk memperjelas makna (ibu-bapak vs ibu bapak).

Hindari: Menggunakan tanda hubung untuk semua gabungan kata yang sudah padu.

Tata bahasa yang benar adalah bentuk penghormatan kepada pembaca Anda. Dengan secara rutin memeriksa tujuh kesalahan umum ini saat mengedit, Anda akan memastikan bahwa tulisan Anda tidak hanya brilian secara ide, tetapi juga bersih, profesional, dan sangat mudah dipahami.

Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us:

Menulis, Seperti Curhat Tanpa, “Sabar, yaa…!”

Wakatobi, Sulawesi Tenggara. Menulis itu seperti piknik, healing untuk kesehatan mental. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Kamu pernah nggak sih ngerasa kepala lagi penuh banget sama pikiran, hati kayak sesak, tapi bingung mau curhat ke siapa? Kadang kalau cerita ke orang lain, ujung-ujungnya cuma dikasih kalimat klasik: “Sabar ya,” atau “Udah, jangan dipikirin.”. Padahal otak lagi mumet banget, kan? Nah, di titik inilah menulis bisa jadi sahabat terbaik kamu.

Menulis itu bukan cuma soal bikin karya sastra, novel, atau caption Instagram estetik. Lebih dari itu, menulis bisa jadi healing tool alias alat terapi buat kesehatan mental.

Kenapa Menulis Bisa Jadi Terapi? Kayak curhat, tapi aman. Kertas atau layar HP nggak bakal nge-judge kamu. Mau nulis hal receh, marah-marah, atau nangis dalam kata-kata, semuanya bisa. Kamu bebas banget.

Melepas beban pikiran. Kadang isi kepala tuh kayak tabungan yang udah overload. Begitu ditulis, rasanya kayak dipindahin ke luar otak. Lebih plong!

Self-awareness naik level. Dengan nulis, kamu jadi lebih kenal diri sendiri. Apa sih yang bikin kamu sedih, marah, atau bahagia? Dari situ kamu bisa pelan-pelan ngerti cara nge-handle diri.

Jadi memori keeper. Nulis juga bikin kamu inget perjalanan diri sendiri. Kadang baca lagi tulisan lama bikin sadar, “Wah, ternyata aku udah kuat banget ya bisa lewatin masa itu.”

Cara Asik Mulai Menulis Buat Healing: Nggak usah ribet mikir format. Nulis aja kayak lagi curhat sama temen deket. Nggak perlu mikir EYD, tanda baca, apalagi gaya bahasa baku.

Coba journaling. Tulis tiap hari 5–10 menit. Bisa soal apa yang kamu rasain hari itu, hal-hal kecil yang bikin kamu bersyukur, atau sekadar keluhan receh.

Bikin “surat tak terkirim”. Pernah pengen ngomong sesuatu ke orang tapi nggak bisa? Tulis aja surat buat dia (meski nggak dikirim). Trust me, rasanya lega banget.

Gunain HP atau buku. Kamu tim ngetik di notes HP atau tim nulis tangan di buku? Dua-duanya oke, pilih aja yang bikin nyaman.

Efek positif nulis buat kesehatan mental: Tidur bisa lebih nyenyak karena isi kepala udah “dituangin” sebelum tidur.

Stress bisa turun karena kamu punya outlet buat buang energi negatif. Rasa percaya diri bisa naik, soalnya kamu jadi terbiasa jujur sama diri sendiri.

Jadi, kalau kamu lagi ngerasa hidup berat, jangan buru-buru nyalahin diri atau mikirin omongan orang. Coba deh ambil pena atau buka notes di HP, terus tulis semua yang numpuk di pikiran.

Anggep aja menulis itu kayak “spa buat otak” atau piknik untuk healing kesehatan mental. Menulis itu murah meriah, gampang, tapi efeknya bisa bikin jiwa kamu lebih sehat. Karena kadang, yang kita butuhin bukan kata “sabar”, tapi ruang buat cerita. Dan menulis bisa jadi ruang kita cerita tanpa harus melibatkan orang lain.

Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us:

Mempersiapkan Dana untuk Pendidikan Tinggi

Wisuda doktor, GSP, UGM. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Pendidikan itu penting banget, gengs. Apalagi kalau udah ngomongin kuliah S-1, lanjut S-2, bahkan S-3. Tapi jujur aja, biaya kuliah sekarang nggak murah. Dari uang pangkal, UKT (Uang Kuliah Tunggal), biaya hidup, sampai print tugas tebel-tebel; semuanya butuh duit. Nah, biar nggak kaget pas waktunya tiba, kita perlu strategi buat nyiapin dana pendidikan tinggi. Yuk, kita bahas tuntas.

Kenapa dana pendidikan harus dipersiapin dari awal? Ya, bayangin deh, biaya kuliah tiap tahun itu naik kayak harga cabe waktu lebaran. Kalau kita nggak punya perencanaan, bisa-bisa stress duluan sebelum sidang skripsi. Nyiapin dana pendidikan dari awal bikin kita lebih tenang, nggak gampang panik, dan yang paling penting: masa depan pendidikan nggak ketunda gara-gara masalah finansial.

Berikut ini ada tips persiapan untuk dana pendidikan tinggi, yang boleh kamu coba.

Pertama, mulai nabung sejak dini. Jangan nunggu “nanti kalau ada rezeki lebih” baru nabung. Percaya deh, kalau nunggu lebih, ujung-ujungnya malah abis buat jajan atau nongkrong.

Mulailah dari kecil; misalnya tiap bulan sisihin 10% dari gaji/uang jajan khusus buat tabungan pendidikan. Kalau konsisten, lama-lama jadi bukit.

Kedua, bedain pabungan pendidikan sama tabungan jajan. Ini penting banget. Jangan campur aduk antara tabungan buat beli sneakers baru sama tabungan buat biaya kuliah.

Bikin rekening terpisah atau pakai aplikasi keuangan biar lebih gampang tracking. Jadi, dana pendidikan aman dari godaan impulsif.

Ketiga, investasi yang ringan-ringan. Kalau mau lebih serius, coba belajar investasi. Nggak perlu langsung ke saham yang ribet, bisa mulai dari reksa dana atau deposito. Return-nya lumayan buat ngimbangin inflasi biaya pendidikan. Tapi inget, jangan asal ikut-ikutan. Pelajari dulu risikonya biar nggak nyesel.

Keempat, cari info beasiswa. Siapa bilang semua biaya kuliah harus ditanggung sendiri? Banyak kok beasiswa dari kampus, pemerintah, bahkan swasta. Mulai dari beasiswa prestasi, penelitian, sampai beasiswa khusus bidang tertentu. Jadi, sambil nyiapin dana, jangan males riset peluang beasiswa.

Kelima, jangan malu kerja sampingan. Buat yang udah S-1 atau lanjut S-2/S-3, kerja sampingan bisa jadi solusi. Misalnya freelance desain, ngajar les, jadi content creator, atau jualan online. Lumayan banget buat nambahin dana pendidikan tanpa ngerepotin orang tua.

Keenam, diskusiin bareng keluarga. Klau kamu masih di tahap rencana, jangan sungkan ngobrol sama keluarga. Bisa aja ada dukungan finansial atau ide dari mereka. Ingat, pendidikan itu investasi keluarga juga, jadi ngobrolin dari awal bikin lebih ringan.

Ketujuh, potong pengeluaran nggak penting. Ngopi cantik tiap hari? Scroll marketplace terus checkout barang nggak urgent? Coba tahan dulu. Alihin sebagian budget gaya hidup ke tabungan pendidikan. Bukan berarti anti jajan, tapi belajar prioritas.

Kedelapan, manfaatkan teknologi. Sekarang banyak aplikasi finansial yang bisa bantu atur duit, bahkan ada fitur khusus nabung buat pendidikan. Gunain fitur auto-debet biar nggak ada alasan lupa nabung tiap bulan.

Nah, kamu bisa memulai program siap-siap dana pendidikan dengan mengetahui tingkat pendidikan yang ingin kamu tempuh. Mari kita cek. S-1, S-2, atau S-3: itu bedanya apa?

  • S-1: Biaya kuliah biasanya masih bisa dicari part-time, tapi tetep butuh persiapan, apalagi kalau ngekos.
  • S-2: Lebih mahal, tapi biasanya waktunya lebih singkat. Beasiswa S-2 banyak banget, jadi jangan males apply.
  • S-3: Ini level dewa, gengs. Biayanya tinggi banget, tapi banyak juga sponsor dari kampus luar negeri. Kalau minat, persiapannya harus lebih matang dan panjang.

Jadi, boleh dibilang nyiapin dana pendidikan itu kayak nge-build karakter di game. Kalau kamu konsisten nabung, pintar atur duit, dan rajin cari peluang (beasiswa atau kerja sampingan), jalan menuju S-1, S-2, bahkan S-3 bakal lebih mulus. Ingat, pendidikan itu bukan sekadar gelar, tapi investasi jangka panjang buat masa depan.

Dan, jangan tunggu besok untuk siap-siap. Mulai hari ini juga. Karena masa depan kamu nggak bisa nunggu saldo rekening penuh dulu baru dijalanin.

Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us:

Dana Pensiun untuk Freelancer, Pentingkah?

Kutai Kartanegara. Fleksibilitas waktu adalah salah satu keunggulan jadi freelancer. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Kalau ngomongin pensiun, kebanyakan orang langsung mikirnya pegawai kantoran yang tiap bulan dipotong BPJS atau punya dana pensiun dari perusahaan. Tapi gimana kabar para freelancer? Yup, kamu yang kerjanya bebas, bisa di mana aja, jam kerja fleksibel, tapi… nggak ada jaminan pensiun dari kantor.

Pertanyaannya: “Freelancer butuh dana pensiun nggak sih?” Jawabannya: WAJIB BANGET! Karena kalau bukan kamu yang nyiapin, siapa lagi?

Kenapa freelancer harus nyiapin dana pensiun?

Pertama, nggak ada jatah pensiun dari kantor. Karyawan kantor biasanya masih ada pesangon atau tunjangan pensiun. Freelancer? Nggak ada. Duit masuk ya tergantung proyek. Jadi, harus bikin “kantor versi pribadi” yang nyiapin masa depan.

Kedua, pendapatan nggak stabil. Freelancer itu kayak roller coaster: bulan ini bisa banyak proyek, bulan depan bisa sepi. Kalau dari sekarang nggak disiplin nabung, bisa-bisa masa tua malah pusing mikirin dapur.

Ketiga, hidup terus jalan, umur nggak bisa bohong. Sekuat apapun kamu sekarang ngerjain desain, nulis, coding, atau project lain, suatu hari tenaga bakal berkurang. Nah, di situlah dana pensiun jadi penyelamat.

Berikut ini tips menyiapkan dana pensiun ala freelancer.

Paling basic tapi penting, jangan campur aduk duit kerjaan sama duit buat hidup sehari-hari. Bikin rekening khusus “dana pensiun” biar lebih aman dari godaan belanja impulsif.

Terapkan sistem “Bayar Diri Sendiri Dulu”. Begitu ada uang masuk dari klien, langsung sisihin minimal 10–20% buat tabungan pensiun. Jangan tunggu sisa, karena kalau nunggu sisa biasanya habis duluan.

Belajar investasi. Tabungan doang nggak cukup, gengs. Inflasi bisa bikin nilai duit makin kecil. Coba alihin sebagian ke instrumen investasi: reksa dana, emas, atau saham blue chip. Nggak perlu sok jago, mulai kecil-kecilan dulu sambil belajar.

Ikut program pensiun mandiri. Sekarang ada banyak pilihan kayak DPLK (Dana Pensiun Lembaga Keuangan) atau bahkan BPJS Ketenagakerjaan yang bisa diikuti freelancer. Jadi walau nggak kerja kantoran, kamu tetap punya tabungan hari tua yang resmi.

Cari passive income. Selain dari project, coba pikirin cara bikin duit ngalir tanpa harus kerja tiap hari. Bisa dari bikin kelas online, jual template desain, bikin e-book, atau bahkan kontrakan kos-kosan kalau modal ada. Passive income = tabungan pensiun berjalan.

Jangan lupa asuransi. Pensiun nggak cuma soal duit tabungan, tapi juga jaga-jaga kesehatan. Bayar rumah sakit tanpa asuransi bisa bikin tabungan pensiun ludes. Jadi, masukin asuransi kesehatan ke dalam rencana.

Tentuin target pensiun. Bayangin gaya hidup yang kamu mau pas pensiun. Mau hidup tenang di kampung dengan kebun, atau pensiun tetap di kota dengan nongkrong tiap minggu? Dari situ bisa ketahuan berapa besar dana yang harus dikumpulin.

Misal kamu pengen punya dana pensiun Rp1 miliar buat hidup nyaman di umur 60. Kalau kamu mulai nabung/investasi dari umur 30, berarti ada waktu 30 tahun. Dengan nabung rata-rata Rp2-3 juta per bulan (tergantung instrumen investasi), target itu bisa tercapai. Kuncinya: konsisten.

Intinya… jangan karena status freelancer bikin kamu cuek soal pensiun. Justru karena penghasilan nggak stabil, perencanaan pensiun harus lebih rapih daripada pegawai kantor. Anggap aja kamu punya “perusahaan pribadi”, dan kamu sendiri yang harus mikirin masa depan “karyawan utama”: yaitu diri kamu sendiri.

Jadi, mulai sekarang jangan cuma mikirin deadline project, tapi juga deadline masa depan. Karena pensiun nyaman itu bukan buat orang kaya doang, tapi buat siapa aja yang mau disiplin nyiapin dari sekarang.

Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us:

Menulis Itu Menghidupkan Jiwa

Sharing pengalaman tentang penulisan di FIB, UNS, Solo. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Pernah nggak sih kamu ngerasa otak lagi penuh banget; kayak laptop kebanyakan tab, mau meledak? Nah, salah satu cara paling ampuh buat ngerapiin isi kepala itu ya… menulis.

Buat sebagian orang, menulis mungkin keliatan sepele. Tinggal ketik atau coret-coret di kertas. Tapi sebenarnya, menulis itu bukan cuma soal kata-kata. Menulis bisa jadi cara buat ngehidupin jiwa.

Menulis itu terapi murah meriah. Kalau lagi suntuk, capek, atau patah hati, coba deh tulis semua unek-unek. Bisa di buku harian, blog, atau notes HP. Ajaib banget, hati jadi lebih plong. Kayak lagi curhat, tapi sama kertas. Bedanya, kertas nggak bakal nge-judge kamu.

Menulis bikin kenangan nggak hilang. Ingat nggak momen pertama kali kamu jatuh cinta, atau waktu liburan seru bareng sahabat? Kalau cuma disimpen di kepala, lama-lama bisa pudar. Tapi kalau ditulis, kenangan itu bisa kamu “putar ulang” kapan aja. Jadi, menulis itu kayak mesin waktu versi personal.

Menulis berarti mengenal diri sendiri. Seringkali kita nggak sadar apa yang bener-bener kita rasain sampai ditulis. Pas baca ulang, baru deh mikir, “Oh ternyata ini yang aku rasain.” Jadi, menulis bisa jadi cermin buat ngerti siapa diri kita sebenarnya.

Menulis bikin ide jadi nyata. Pernah punya ide keren tiba-tiba, tapi ilang gitu aja karena nggak ditulis? Nah, menulis itu cara paling gampang buat ngabadikan ide. Siapa tahu dari coretan kecil, lahir karya besar: novel, lagu, bahkan bisnis.

Menulis itu warisan jiwa. Buku, blog, puisi, atau bahkan caption panjang di medsos; semua itu bisa jadi jejak yang ditinggalin. Bayangin deh, tulisan kamu bisa dibaca orang lain, bahkan setelah kamu udah nggak ada. Itu artinya, lewat tulisan, jiwa kamu tetap hidup.

Tips Biar Nulis Lebih Hidup

Pertama, nulis apa aja dulu; nggak usah mikirin bagus atau enggak. Tulis aja. Kedua, jangan takut typo; edit belakangan, yang penting ide keluar dulu. Ketiga, bawa notes/HP ke mana-mana; inspirasi suka datang tiba-tiba. Keempat, coba berbagai jenis; puisi, cerita pendek, blog, bahkan catatan random. Kelima, nikmatin proses; menulis itu bukan lomba, tapi perjalanan.

Intinya… Menulis itu bukan cuma aktivitas, tapi cara buat hidup lebih hidup. Setiap kata yang ditulis bisa jadi jalan buat nyembuhin luka, nyimpen kenangan, nemuin jati diri, bahkan ninggalin warisan jiwa.

Jadi, jangan nunggu “siap” dulu baru mulai nulis. Segera ambil kertas, buka laptop, atau ketik di HP. Karena setiap kali kamu menulis, sebenarnya kamu lagi ngasih “napas” baru buat jiwa kamu sendiri. Menulis itu menghidupkan jiwa. Dan jiwa yang hidup, selalu punya cerita.

Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us: