Umroh Istimewa (20) Tamat: Alhamdulillah. Terimakasih, Dewangga…

Warmindo seberang hotel tempat kami menginap di Jakarta. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Pas nungguin bus yang akan membawa kami ke hotel, saya rerasan sama Mas Indra dan Mas Donni mo makan (indo)mie rebus yang panas dengan minuman panas. Sebenarnya kami juga diberi nasi box siang itu, tapi saya dengan beberapa jamaah langsung kasih aja ke petugas kebersihan bandara. Perut masih kenyang, tapi (ngidam) masakan warmindo.

Di bandara jelas nggak ada warmindo. Kami juga nggak tahu di sekitar hotel ada atau enggak. Ya nanti dicari. Ealah, syukur alhamdulillah itu warmindo cuman di samping seberang hotel. Mas Donni ngajak makan abiz mandi aja. Lhah kalau usai bebersih badan saya pasti wes milih tidur daripada keluar kamar. Mas Indra ngikut aja. Kami pergi sebelum masuk kamar, setelah memastikan barang-barang aman.

“Mbak Ari tahu tempatnya?” tanya Mas Donni. “Itu lho di seberang.” Cuman karena gelap dan kayaknya mereka berdua nggak yakin, saya memastikan ke satpam dan ditunjukkan di seberang. Pas bus belok ke hotel tadi, saya wes lihat lokasi warmindo 😂 Ya ampun, kalau identifikasi, menandai sesuatu di daerah asing, itu termasuk keahlian saya😀 Kalau solo travelling di manapun, selain maps saya juga menandai tempat dengan beragam hal yang cepat saya ingat; toko, rumah bentuk tertentu, tempat makan, masjid, sekolah, SPBU, pasar dll. yang mudah dikenali. Kadang saya potret juga untuk jaga-jaga kalau hilang arah.

Usai sarapan di lobi hotel, Jakarta. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Saya pesan mie rebus dan minuman jeruk panas. Ya ampun, serindu itu saya sama makanan paling enak sedunia 😁🙈 Rekor 12 hari nggak makan mie instan. Eh enggak ding, saya ada sekali makan (pop)mie di Madinah. Lagi lagi Mas Donni nggak mau saya ikut bayar. Mas Indra bilang, “Nggak apa apa, Mbak. Duit dia banyak kok.” 😀😂 Lha iya dokter kepala RS kalau nggak ada duit malah aneh. Maturnuwun Mas Dokter 😁👏 Dan saya yo tetap seperti biasa, taruh uang tersendiri seharga makan minum, besoknya pindah ke tangan OB bandara yang saya anggap memerlukan. Wes kebiasaan begitu.

Pas kami balik ke hotel, Mas Donni bilang kalau wrapping kami sudah dibongkar; karena Bu Nunu/Bu Neli salah ambil packingan. Jadi tas kami berdua ada di kamar Bu Nunu. Saya ke kamar Bu Nunu ambil backpack. Baru deh saya mandi. Bu Yuli bilang ada urusan (entah apa, saya lupa) ke tempat Bu Nunu. Saya bilang nanti telpon aja kalau udah balik, karena kartu hanya satu.

Setelah itu saya sholat, berdoa, dan langsung tidur pules. Wes nggak dengar apa-apa. Terbangun jam dua pagi, saya langsung panik menyadari bed di samping saya kosong. Berusaha mengingat, lah Bu Yuli ke mana? Saya ambil HP nggak ada WA atau rekam panggilan. Hadeuh, ya ampun pasti saya nggak dengar bel pintu. Saya langsung WA Bu Yuli dan memintanya balik. Khawatir kalau dia nggak nyaman berdempetan tidur bertiga di kamar Bu Nunu.

Di bus dari hotel ke bandara Soetta untuk terbang je YIA. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Pas sudah balik ke kamar Bu Yuli baru cerita kalau Bu Neli pergi ke Parung. Kakaknya meninggal dunia. Innalillahi wa innailaihi rojiun. Ndherek bela sungkawa, Bu Neli. Jadi dia bisa tidur di bed Bu Neli. Katanya dia sempat ngebel tapi nggak ada sahutan dan memilih tidur di kamar Bu Nunu daripada membangunkan saya. 😀🙏

Malam itu kami juga terima makan lagi berupa nasi box dan air mineral. Sama Ustadz Faqih diminta menerima semua. Nasi saya nggak kemakan, tapi Bu Yuli makan pas malam. Kami masih tidur lagi sampai Shubuh. Beberes dan sarapan di hotel. Usai itu saya thenguk-thenguk di lobi hotel. Ada yang foto foto. Ada yang ngobrol. Ada yang warawiri. Ada yang duduk-duduk. Kami menunggu bus yang akan membawa ke bandara.

Setelah beres kami pun terbang dengan Pelita Air menuju YIA. Di sini saya duduk dengan Bu Sida dan suaminya. Mas Donni dan Mas Indra embuh di mana, mungkin di kursi belakang. Sebentar saja kami sudah sampai YIA. Jogja tercinta 😀 Alhamdulillah. Sambil menunggu bagasi dan air Zam-Zam kami masih menerima lagi nasi box dan air mineral. Sebagian ada yang langsung makan. Sebagian sibuk mencari bagasi dan keluarganya. Sebagian ada yang langsung pulang karena sudah dijemput. Sebagian masih menunggu. Sebagian pelukan dan salam salaman sebelum pulang.

Saya dan Bu Yuli di Soetta sebelum terbang ke YIA. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Ya ampun, kayak bestie aja mereka berdua (Mas Indra, Mas Donni) tahu tahu nongol saat saya dan Bu Yuli mau photo 😀 Ini di Soetta. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Saya, Bu Sida dan suaminya, Mas Indra termasuk yang ikut bus arah kantor Dewangga. Dan saya ternyata datang paling akhir, pun pulang paling akhir. Mail yang ikut jemput saya bilang, “Jalanannya macet, Bude. Mobil-mobil antri panjang banget.” Iya, Jakal sungguh nggak terkendali perkembangannya. Alhamdulillah. Usai makan malam, saya dibantu Mail langsung membagikan oleh-oleh umroh yang sudah disiapkan sebelumnya; untuk tetangga kiri kanan. Biar nggak ada tanggungan pikiran.

Terimakasih ya Allah atas segala berkat karunia-Mu; sepanjang perjalanan umroh berangkat hingga kembali ke Tanah Air dengan sehat, selamat nggak ada kurang apapun. Ya Rasulullah, kami mohon syafaatmu kelak di hari Kiamat.

Saya secara pribadi mengucapkan terimakasih kepada Dewangga dan kru yang sudah dengan sangat baik dan profesional mengurus perjalanan umroh ini. Sejak urusan administrasi, pembiayaan, keberangkatan dan kepulangan, makan dan snack yang luar biasa banyak, hotel yang dekat masjid dan nyaman, TL dan kru yang semuanya profesional-ramah-helpfull, destinasi yang lumayan padat tapi tetap bisa bernafas, manajemen ibadah yang baik, pengantaran dan penjemputan jamaah dari kantor ke bandara pp, dokumentasi, handling bandara dan imigrasi, dll yang superbaik. Tentu ada kurang begini begitu, karena banyak orang dengan kondisi yang berbeda-beda.

Saya, Bu Sida dan suaminya di Pelita Air menuju YIA. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Sebagian dari kami di YIA sebelum pulang ke rumah masing-masing. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Toh untuk skoring 0-10, boleh saya memberi nilai 8.5 ya… Jadi untuk Teman-teman yang cari rekomendasi biro travel umroh, monggo tenang saja kalau memilih Dewangga. Saya nggak sedang mengendorse; karena ini umroh bayar mandiri dan hanya menceritakan pengalaman riil. Selain untuk mencatatkan jejak perjalanan dan kenangan, syukur-syukur kalau ada yang baca dan belum umroh, bisa tergerak hatinya untuk segera berangkat. 😀

Terimakasih untuk Ustadz Faqih yang menemani kami dari berangkat sampai pulang dengan baik, sabar, dan sangat membantu. Juga untuk Ustadz Gilang yang menemani kami selama di Madinah dan Mekkah. Terimakasih untuk Teman-teman yang baik selama perjalanan: Bu Yuli kawan sekamar saya di Jakarta, Dubai, dan Turki. Bu Yaya, Bu Prapti, Bu Sida kawan sekamar saya di Madinah dan Mekkah. Kawan-kawan lain yang banyak berinteraksi; Bu Neli, Bu Nunu, Mas Indra, Mas Donni, dkk lainnya yang nggak bisa saya sebutkan satu persatu.

Terimakasih telah mewarnai perjalanan umroh kali ini. Sehat dan happy selalu, banyak rezeki berkah dan panjang umur; hingga bisa umroh lagi di lain kesempatan. Mohon maaf lahir dan batin bila ada ucapan, tindakan atau bahkan salah catatan saya di blog ini 🙏Catatan umroh istimewa saya cukupkan sampai di sini. Sampai jumpa lagi di kisah-kisah perjalanan lainnya. Berikutnya nanti akan saya catat keseruan Soul Conference 10 di Banyuwangi. Terimakasih.

Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us:

Umroh Istimewa (19): Ke Dubai (Lagi)?

Antrian check in di bandara Jeddah. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Saya nggak terlalu perhatian pada rute perjalanan pulang. Saya kira dari Jeddah (King Abdul Aziz Int Airport) langsung ke Jakarta (Soekarno Hatta Int Airport). Lho ternyata rutenya nggak begitu. Berangkat pake Emirates ya baliknya pun pakai maskapai yang sama. Dari Jeddah ke Dubai dulu. Baru nanti transit beberapa jam njur terbang ke Jakarta.

Oalah, baru mudeng saya. Lha kok ya buang-buang waktu. Eits tapi pp dengan maskapai yang sama biasanya memang cukup ngirit banyak dibandingkan beda maskapai. Yo weslah wong tinggal pulang bae. Yang penting sehat, selamat, aman nyaman sampai tujuan.

Kami meninggalkan Garuda Resto di Mekkah yang menjadi persinggahan rasa rindu pada masakan Nusantara. Rombongan bergerak menuju bus yang telah menunggu. Kota Mekkah masih terasa hangat, baik oleh cuaca maupun oleh perasaan. Semacam campuran antara lelah, haru, dan syukur setelah rangkaian ibadah yang panjang.

Bus melaju meninggalkan Mekkah menuju Bandara Internasional King Abdul Aziz, Jeddah. Jalanan membentang lurus, diapit gurun yang sunyi. Di dalam bus, suasana lebih tenang dari biasanya. Sebagian tertidur, sebagian lagi memandangi jalan sambil menyimpan kenangan, mungkin juga doa-doa yang telah dipanjatkan di Tanah Suci. Perjalanan darat itu menjadi semacam jeda: peralihan dari ruang spiritual menuju rutinitas perjalanan panjang.

Ya ampun, nggak sengaja di seberang sana itu kok ya McD 😀 Ini di bandara Jeddah. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Setibanya di Bandara Jeddah, proses check-in dan imigrasi dilalui dengan tertib. Lama proses di sini. Saya yang biasanya membawa sendiri backpack dan tas selempang, memilih memasukkan backpack ke bagasi. Lebih enteng karena transit-transit itu. Meskipun kalau terpaksa membawa sendiri ya tetap ringan.

Antrian panjang di saat ngurusin check-in. Masing-masing orang harus bawa sendiri koper, tiket, paspor dll nya. Setiap urutan sekurangnya berisi tiga orang. Karena sejak awal saya mengekori Mas Indra dan Mas Donni, jadi check-in saya ikut mereka berdua. Ealah, meskipun sudah begitu nomor saya malah nyempal di kursi yang berbeda.

Waktu saya bilang Ustadz Faqih minta tukar yang sekursi dengan mereka berdua, masih disemayani. “Tunggu ya Bu Ari, nanti kita lihat tukarnya itu sama siapa. Orangnya mau atau enggak.” Saya mengangguk saja. Nggak tukar juga nggak apa-apa. Kayaknya saya sudah lumayan sehat, mungkin wes nggak perlu dokter. Tapi kalau darurat kesehatan, sekurangnya saya tahu di mana duduknya Mas Dokter.

Lama menunggu penerbangan, tim Dewangga masih ngurusi bagasi plus air Zam-Zam oleh-oleh. Nah di situlah saya dikasih tahu Ustadz Faqih kalau backpack saya dan juga punya Mas Donni nggak bisa masuk bagasi, terlalu ringan. Suruh nambahin batu katanya 😂😅 Lhah kalau punya saya masih ringan saja dibawa. Kalau punya Mas Donni, biyuu… isinya oleh-oleh (meskipun ringan ukuran bagasi), tetap berat itu kalau kudu digotong-gotong bawa sendiri.

Tapi ya dokter otaknya encer. “Kalau tas saya diwrapping jadi satu satu dengan tas Bu Ari, bisa?” Tanyanya ke Ustadz Faqih. “Oh ya bisa. Wrapping di sana,” Ustadz Faqih menunjukkan lokasi wrapping. Kami bertiga bergerak ke tempat wrapping.

Kami seperti kawan lama saja😀 Ini pas penerbangan ke mana ya? Pokoknya kalau nggak ke Dubai ya ke Jakarta. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Saya lupa bayar wrappingnya berapa riyal karena dibayarin Mas Donni. Saya sodorin uang juga nggak mau. “Sudah ini saja, sekalian buang-buangin riyalnya.”
Maturnuwun yo, Mas Donni.😀 Pokoknya waktu itu langsung saya sisihkan sendiri uang yang seharusnya saya bayarkan. Lupa saya, uang itu pindah tangan ke OB pas di Jeddah atau di mana.

Saya penganut “nggak ada makan siang gratis”. Jadi kalau menerima kebaikan orang dalam bentuk apapun, termasuk non uang (biasanya saya konversikan atau kira-kira sendiri) lalu saya berikan ke orang-orang yang lebih memerlukan. Meneruskan kebaikan. Dan itu cara agar rezeki bagian saya nggak diambil sewaktu-waktu dalam jumlah besar; karena saya menerima hal-hal baik kecil-kecil tanpa mau mengeluarkan atau meneruskan kembali.

Setelah itu kami menyerahkan wrapping itu ke petugas Dewangga yang ngurusi bagasi. Lalu pergi duduk-duduk karena keberangkatan masih lama. Ya ampun, sungguh banyak tenan waktu terbuang. Tapi saya sungguh memakluminya. Pergi rombongan nggak bisa semua orang diajak cepat-cepat, jadi kudu ngikutin garis tengah, rerata kemampuan

Oh di bandara ini sempat saya terbengong dengan ulah Mas Indra. Dia ngasihin satu box Albaik-nya ke orang asing, lalu makan satu box-nya berdua dengan Mas Donni. Lah piye to, tadi katanya mo ikut ngabisin ayam punya saya? Malah mereka cuman makan ayam mereka sendiri. Jadilah tetap ayam saya itu utuh sampai Jogja, bagian si Mail beneran😆 Kalau kentang dan burgernya wes saya makan duluan.

Di bandara ini kami menunggu memang cukup lama. Saya sempat mengekori Mas Indra untuk ngisi air minum dari tempat yang jauh. Sambil ngobrolin a-z sana sini nggak nyambung tapi seru aja. Balik ke kursi tunggu, saya sempat ngelihat keriweuhan Mas Donni laporan gegara Credit Card-nya dibobol orang. Biyuuu…. sungguh nggak menyenangkan kudu laporan di tengah malam. Syukurlah itu bisa segera dibereskan. Tapi kan yo itu bukti bank seolah-olah “nggak memberi proteksi” super untuk membernya.

Mengingatkan saya pada kasus temen lainnya dari bank yang sama. Dulu itu ngurusnya agak ribet karena jumlahnya besar. Yach, keamanan data pribadi di negara kita ini memang sungguh nggak terlindungi. Jadi memang kita sendiri yang kudu ati-ati, waspada, terutama hal-hal yang berurusan dengan duit.

Aula bandara yang luas terasa penuh oleh manusia dari berbagai bangsa, bahasa, dan tujuan. Akhirnya tiba juga saat kami terbang. Dari Jeddah, pesawat lepas landas menuju Dubai. Saya duduk dengan Mas Donni dan Mas Indra. Ternyata kursi saya itu tempat suaminya Bu Sida, jadi bisalah tukar. Kan dia bisa dengan istrinya.

Dari balik jendela, hamparan gurun perlahan menghilang, digantikan oleh langit malam yang luas dan sunyi. Penerbangan ini relatif singkat, cukup untuk memejamkan mata sejenak atau sekadar merenung tentang perjalanan yang hampir usai.

Ini sudah di Soekarno Hatta, nungguin bus yang akan bawa kami ke hotel. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Transit di Bandara Internasional Dubai menjadi pengalaman kedua saya, setelah kedatangan kemarin dulu itu. Bandara ini terang, modern, dan selalu hidup, bahkan di tengah malam. Berasa penuh sesak kayak Bandara Adisutjipto pas liburan panjang gitu. Langkah kaki bergema di lorong-lorong panjang, di antara toko bebas bea, papan petunjuk digital, dan penumpang dari seluruh dunia.

Waktu transit ini saya manfaatkan untuk tidur. Saya lupa saat itu saya duduk dengan Bu Yuli atau Bu Sida ya. Pokoknya begitu dapat kursi di ruang tunggu, saya langsung merem, tidur pulas. Nggak memperhatikan denyut bandara internasional yang nggak pernah benar-benar tidur.

Penerbangan berikutnya membawa rombongan dari Dubai menuju Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Jakarta. Inilah penerbangan terpanjang; jam-jam yang diisi dengan tidur terputus, sajian makanan pesawat, dan sesekali menatap layar penunjuk rute yang perlahan mendekat ke Asia Tenggara. Saat pengumuman bahwa pesawat akan mendarat terdengar, ada perasaan lega sekaligus haru: perjalanan jauh ini akhirnya hampir selesai.

Pesawat mendarat di Jakarta, disambut udara tropis yang akrab. Alhamdulillah, Tanah Air tercinta. Proses imigrasi, pengambilan bagasi, dan langkah pertama keluar dari bandara menandai kepulangan yang sesungguhnya.

Dari Garuda Resto di Mekkah, melewati Jeddah dan Dubai, hingga kembali ke Jakarta, perjalanan ini bukan sekadar perpindahan tempat; melainkan rangkaian kisah, kenangan, dan perasaan yang akan tinggal lama dalam ingatan.

Bersambung
Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us:

Umroh Istimewa (18): Masih Enak Olive

Saya dan Bu Sida sebelum check out hotel di Mekkah. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Kepulangan ke Tanah Air kali ini bikin mata saya mengembun beberapa kali. Ya Allah, panggil saya lagi ke Baitullah dengan kondisi dan fasilitas terbaik. Amin YRA. Rasanya masih nggak mau pulang, tapi ya harus kembali. Sudah hampir habis jadwal perjalanan umroh kami.

Pas balik ini kami harus jalan lumayan jauh dari hotel ke bus; karena bus nggak bisa berhenti, menunggu lama-lama di jalan. Ya karena semua pelataran hotel di ring 1 Masjidil Haram itu langsung jalanan untuk lalu lalang kendaraan. Tempat jualan pedagang kaki lima dari berbagai negara. Kalau jelang waktu sholat, langsung berubah jadi tempat sholat dadakan di semua sisi. Campur baur, nggak laki-laki nggak perempuan dari berbagai ras berbagai negeri, pokmen gelar sajadah, sholat menghadap Ka’bah, arah Masjidil Haram.

Usai balikin kunci hotel. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Beberapa kali karena nggak sanggup jalan ke mesjid, saya yo mung duduk ibadah di sekitaran orang-orang sholat di jalan itu. Kebayang betapa ngedropnya kesehatan saya, padahal jarak hotel ke mesjid itu hanya 300 meteran. Nambahnya banyak meteran kalau kita mau sholat yang langsung hadap Ka’bah. Perluasan Masjidil Haram memang bikin semua jamaah umroh kudu effort lebih banyak untuk bisa sholat di barisan terdepan.

Dalam rangkaian perjalanan pulang ini, kami ke museum dulu setelah meninggalkan hotel. Ngapain? Ya tengok-tengokin masa lalu lah. Sejarah Arab yang cukup panjang, tapi baru diterjemahkan dengan barang-barang kuno yang belum banyak. Kayaknya orang-orang Indonesia bae yang rajin ke museum ini. Petugasnya banyak. Ramah-ramah dan suka memotretkan.

Usai dari museum, kami pergi ke toko-toko oleh-oleh. Haiiizh, belanja lagi. Ya ampun, lupa saya ada berapa kali ya kegiatan belanja dalam perjalanan umroh kali ini? Pokoknya ada beberapa kali, belum mereka yang belanja secara mandiri non program biro. Dan kali ini waktu belanjanya cukup lama. Saya yang wes nggak lagi banyak pegang duit, wes jelas nggak belanja. Ada kerajinan unta dari perak dibingkai kaca yang versi saya cukup bagus, tapi harganya juga bunyi. Nggak saya beli.

Di Museum Alamoudi. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Eh dapat info dari Mas Indra dan Mas Dokter kalau kerajinan perak Kotagede deket rumah Mas Indra bisa pesan aneka kerajinan dengan mumer, murah meriah karena langsung pengrajin nggak ada biaya distribusi, showroom dan pajak-pajak. Lah tapi sampai sekarang saya yo gak ke sana 🙈 Lha nggo apa pesan kerajinan unta dari perak? Memang godaan terbesar saat belanja tuh ya “laper mata”. Apalagi kalau ngerasa uangku masih banyak… haha😄😁 Meskipun nggak belanja, tapi beli cokelat dan makan es krim, tetap saya lakukan 😂😅

Ah iya, es krim di negeri Timur Tengah (termasuk Arab Saudi) itu beda rasanya dengan es krim di Indonesia. Kalau di Indonesia umumnya es krim tuh maniiz dan bikin eneg, kalau di sini tuh gurih, kering, dan krenyez-krenyez. Prosentase keju dan susunya lebih banyak. Jadi mo saya sedang batpil pun, makan es krim di sini ya nggak bikin parah. Santai aja.

Terus gitu harganya siy terjangkau versi saya. Ada yang 2, 5, 7, 10, 15, 20, 25, 30 dan 50 riyal. Dari es krim yang kelas kaki lima sampai bintang lima, saya wes pernah makan 😆😅 Beuuh, sampai hafal saya saking seringnya beli es krim 😂😅 Yang 25, 30, atau 50 riyal itu versi besar kek gelato gitu, jadi puaslah menikmatinya. Makin mahal makin nggak terlupakan rasanya 😂 Pokoknya kalau mo cari es krim di Arab Saudi, ajak saya yes. Lumayan tahulah nyari tempat-tempat orang jualan es krim 😂😅

Beuh Mas Dokter paling glowing. Tukar kulitnya dong Mas, biar saya lebih putih… hihihi😆😅 Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Usai itu kami ngapain ya? Oh makan siang. Kami makan siang di rumah makan Garuda Resto, masih satu areal dengan tempat belanja-belinji oleh-oleh. Isian kulinernya ya masakan Nusantara juga. Cukup lama di sini karena sekalian ishoma, nunggu waktunya ke bandara. Rumah makan ini bersih, makan enak, tapi sarpras toilet dan tempat sholat masih perlu diperbaiki biar lebih nyaman untuk jamaah umroh dari Indonesia.

Di sini saya mung thenguk-thenguk. Do nothing. Nungguin waktunya berangkat ke bandara Jeddah. Usai makan-makan itu, TL kami membagikan ayam Albaik berukuran besar. Setiap orang dapat 1 box. Sebelumnya saya lihat banyak juga jamaah umroh yang berbelanja ayam ini untuk oleh-oleh. Sebagian ada yang beli untuk dimakan karena penasaran.

Isian box ayam Albaik. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Karena bukan pecinta olahan ayam, saya nggak pernah beli ayam ini. Kalau dapat dari biro saya bawa pulang untuk si Mail (ponakan saya yang doyan ayam). Ayam ini kurang cocok dengan lidah saya. Masih lebih enak ayam McD (ini versi saya sungguh ayam mewah. Waktu kuliah S-1 saya kudu nabung dulu untuk beli sepaket komplit nasi, ayam, kentang, minum, dan es krimnya 😆😅). Paling enggak menurut saya harga Albaik ya sebelas dua belas dengan McD. Ealah dengan semena-menanya lho Bu Yuli malah bilang masih lebih enak ayam Olive…. astagaaa…. jatuhlah harga dirimu ayam Albaik 😂🤣

Oh soal Albaik ini saya ingat Ustazd Faqih bilang ada udang Albaik, tapi harganya mahal dan adanya di mana gitu, lupa. Ntarlah kalau ke Mekkah lagi cari tuh udang Albaiknya….. Nah kalau udang, doyanlah. Saya bisa makan banyak.

Bersambung
Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us:

Umroh Istimewa (17): Berserah, Lakukan yang Terbaik

Masjid Nabawi yang akan selalu ada di hati. Ari Kinoysan Wulandari.

Kegiatan ibadah berikutnya adalah thawaf perpisahan. Biasanya pada kesempatan ini, mereka yang “beruntung” bisa mencium Ka’bah, Hajar Aswad, Maqam Ibrahim, Multazam, sholat di Hijir Ismail, dll tempat utama di sekitar Ka’bah. Saya sebut beruntung karena ya memang nggak setiap orang bisa mendapatkannya. Kadang-kadang ada yang sampai berjuang mati-matian pun nggak bisa dapet. Tapi ada yang lempeng, santai aja, langsung bisa mendapatkannya.

Di umroh-umroh sebelumnya karena alhamdulillah wes dapat semua dengan lempeng, saya (masih sering) takjub juga dengan karunia Allah yang luar biasa itu. Karena di tengah kerumunan orang sebegitu banyaknya, kok bisa ya dengan enteng saja mencium Kabah, mencium Hajar Aswad, menyentuh mengusap mencium Maqam Ibrahim, mengusap Multazam, sholat di Hijir Ismail, berdoa sebanyaknya dan nangis puas-puas di areal ini.

Saya pernah rerasan soal ini dengan Mas Dokter; biasanya kalau dalam keseharian kita jadi orang yang “entengan”, gampang menolong, mudah membantu, ndilalah pas di Tanah Suci itu apapun urusan kita ya jadi mudah, gampang saja. Bahkan untuk urusan ambil air Zam-Zam itu, bisa lho di tengah antrian yang begitu banyak orang, tahu-tahu aja satu tempat kosong dan kita bisa mengambilnya dengan mudah.

Kalau yang saya alami malah diambilkan oleh petugasnya, dicukupkan semua thumbler yang saya bawa (saya mengambilkan untuk beberapa orang). Setipe dengan yang dialami Mas Dokter. Padahal nggak sedikit orang yang kesulitan, yang dilarang ambil banyak air Zam-Zam oleh petugas. Wallahu’alam.

Versi saya, kita niy ya memang dituntut berbuat baik terus menerus sepanjang hayat. Mo besar kecil, mari kita terus berbuat baik. Karena “amalan baik” itu nggak cuma ibadah ritual seperti sholat, umroh, zakat, haji, puasa, dll. Tapi juga hal-hal sepele tapi penting, seperti menyingkirkan batu di tengah jalan.

Karena pemikiran itulah, ketika saya nggak bisa maksimal ritual ibadah karena kondisi kesehatan, njur melakukan hal terbaik lainnya dengan totalitas. Uang-uang yang sedianya mau untuk jajan dan belanja, berganti arah untuk berbagi ke OB-OB yang berada di sekitar mesjid. Sebagian saya belikan makanan dan saya bagikan begitu saja ke orang-orang entah dari mana. Sebagian berubah untuk sedekah Al Quran. Dan agak niat juga saya beli makanan burung 😂😅 Selain itu, doa dan dzikir saya jadi lebih banyak.

Areal Kabah. Tempat yang selalu ingin saya kunjungi setiap waktu. Ari Kinoysan Wulandari.

Pokoknya kalau versi saya nggak ada alasan, satu kondisi melemah njur merusakkan semuanya. Yo wes, saya beribadah lainnya yang saya pahami boleh dan bisa. Kita toh nggak pernah dituntut “berhasil”, tapi diminta untuk “berusaha” sekuatnya. Dan sunatullahnya kalau kita berusaha mati-matian, nggak mungkinlah nggak ada hasil baiknya. Sudah hukum alamnya begitu.

Itulah sebabnya pas ditanya oleh Bu Yaya dan Bu Prapti, bahwa saya pasti kesal, marah, jengkel dengan kondisi saya; lempeng saya menjawab, iya normally begitu. Belum bisa saya otomatis nggak jengkel, sudah sampai Mekkah malah ngedrop dan nggak bisa bolak-balik umroh? Tapi setelah menyadari bahwa saya nggak punya “harapan” apapun atas sesuatu, semuanya jadi lebih enteng. Saya tetap bisa mengikuti kegiatan lainnya dengan gembira, senyum lebar. Menyadari sepenuhnya saya nggak bisa “mendikte” takdir. Ditambah keyakinan bahwa Allah sudah mengatur semua dengan sebaik-baiknya. Jadi terasa ringan betul urusan hidup saya.

Setelah semua usaha saya lakukan, versi saya “berserah” adalah kunci kedamaian hati. Terkadang rencana kita memang nggak berjalan mulus; mungkin jatuh sakit, kehilangan barang, atau terjebak kerumunan sehingga nggak bisa mewujudkan rencana kita, dll. Berserah berarti meyakini bahwa apa yang terjadi adalah yang terbaik menurut Allah. Berserah berarti mengakui bahwa kita hanyalah hamba yang kecil dan fakir di hadapan-Nya.

Dibandingkan umroh-umroh sebelumnya, kali ini saya bisa menangkap makna, “Lakukan yang terbaik seolah semua tergantung pada usahamu, lalu berserahlah seolah semua tergantung pada doa-doamu.”

Saya lebih banyak berdiskusi dengan hati saya. Merasakan kalau Allah itu beneran dekat, baik saat khusyuk berdoa maupun saat sedang berdzikir. Semua adalah bagian dari ibadah jika dilakukan dengan ikhlas. Dan baru kali ini, saya terkaget-kaget dengan cepatnya pengabulan doa.

“Ri, HP-ku hilang di Bangkok. Semua data dan foto penting, doakan bisa kembali dengan selamat.” Begitu kata kawan saya yang berada di KL. Begitu saja saya berdoa, dan dalam hitungan nggak sampai sejam, semua sudah terkondisikan dengan baik. HP-nya tertinggal di taksi Bangkok, saat ditelpon ngomongnya bahasa Thai yang tidak dipahami kawan saya; dan baru beres ketika disambung bicara orang Thai yang bisa berbahasa Indonesia. HP akan dibawakan serta saat orang Thai ini ke Indonesia. Subhanallah.

Bersambung
Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us:

Umroh Istimewa (16): Kalau Saya Kuat….

Di depan areal Masjidil Haram. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Jujurly, saat nulis bagian ini; saya wes rindu banget dengan Tanah Suci. Padahal baru beberapa hari rasanya balik Jogja. Memang secandu itu ya Baitullah. Tenan, tempat yang mo disuruh bolak-balik beberapa kali setahun pun kayaknya saya akan iya iya aja 🤩 Ya Allah, panggil saya lagi ke rumahMu segera dengan kondisi dan fasilitas terbaik. Amin YRA.

Usai umroh kedua, jamaah diminta istirahat lagi sehari. Sebagian ibadah lebih banyak di Masjidil Haram. Sebagian berbelanja. Sebagian umroh lagi. Sebagian Thawaf dan Sai sunnah. Sebagian beberes packingan. Macem-macem kegiatan karena esok harinya kami akan mulai perjalanan panjang balik ke Tanah Air.

Bu Yaya dan Bu Prapti sungguh luar biasa hebat semangatnya. Yang saya ingat mereka beberes barang banyak banget; karena termasuk mengurus packingan bagasi suami mereka. Terlebih sudah diwarning oleh TL kalau bagasi di Tanah Air hanya 25 kg, sementara internasional 30 kg. Jadi kalau nggak mau boncos bayar bagasi ya kudu ditata ulang.

Kami di pelataran Masjidil Haram. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Saya nggak banyak beberes. Begitu mandi ganti baju; biasanya baju yang kotor saya angin-anginkan seharian atau semalaman. Setelah itu lipat ringkas rapi masuk kantong pakaian kotor dan dimasukkan lagi ke koper bagasi. Jadi ya nyaris nggak banyak ribet. Biasanya orang-orang masih beberes, saya wes tidur duluan.

Bu Sida, entah ke mana. Ibu muda ini paling rajin ke sana kemari. Macam-macam barang yang dibelinya untuk banyak orang di lingkungan keluarganya. Beuh, saya salut betul dengan semangat luar biasa mereka bertiga.

Pada titik tertentu saya merasa pasti sudah akan “melambaikan tangan” give up untuk mengikuti semua aktivitas fisik mereka. Bahkan saat di Madinah, saat mereka mau belanja via pintu 338 Masjid Nabawi, saya memilih balik hotel. Bukan nggak pingin belanja, tapi kalau saya paksakan jalan belanja, bisa ambyar urusan ibadah saya.

Kami di dalam areal Masjidil Haram. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Usai sarapan, Bu Yaya dan Bu Prapti bilang kalau usai beberes akan ke masjid sampai usai Dhuhur waktunya makan siang. Saya yang saat itu merasa sehat kuat juga ikut berangkat ke masjid. Saya bilang akan mengajak mereka berdua untuk thawaf sunnah, dengan catatan kalau saya kuat….

Kondisi tubuh yang sedang nggak fit, apalagi saat sedang berada di Tanah Suci, memang membawa beban emosional yang berat. Ada rasa rindu yang membuncah untuk menyentuh Baitullah, tapi raga seolah nggak sinkron dengan semangat jiwa. Untunglah saya wes mengikhlaskan saja. Sesuk baleni maneh, besok kembali lagi 🤩💪

Bu Yaya dan Bu Prapti, dua jempol untuk mereka. Semangat tenan. Luar biasa. Sehat-sehat terus ya, Bu-Ibu ❤️ Dan mereka bilang ada satu kakaknya, yang belum bisa ikut umroh. Kalau saja mereka ada uang lebih banyak, pasti kakaknya itu diajaknya serta. Sampai di sini saya merasa seperti Allah sedang mengajak saya berbicara, “Itu lho Ari, ada banyak yang pingin ke sini, tapi belum bisa datang. Jadi kamu kudu semangat, nggak boleh menyerah sama lelahmu.”

Di dalam areal Masjidil Haram. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Dan ya, memang saya jadi lebih semangat; meskipun setiap langkah menuju Masjidil Haram terasa jauh lebih panjang dari biasanya. Ada rasa sesak di dada melihat ribuan jamaah lain berduyun-duyun menuju Ka’bah, sementara saya hanya bisa sholat, beribadah di dalam masjid. Itupun tetap saya syukuri sepenuhnya.

Bagi mereka yang nggak fit, memandang Ka’bah dari lantai atas atau melalui jendela seringkali menjadi obat sementara. Ada getaran hebat saat melihat arus manusia yang berputar tanpa henti seperti pusaran air yang tenang. Di saat itulah muncul doa yang paling tulus: “Labbaik Allahumma Labbaik. Ya Allah, aku datang memenuhi panggilan-Mu, meski langkahku tertatih, meski ibadah terjeda. Mohon beri ampunan yang luas dan pahala yang sempurna.”

Niat baik itu penting, tapi nggak setiap niat baik bisa terwujud. Usai sholat bermacam dan doa panjang di Masjidil Haram, saya mulai merasa ngedrop kembali. Keringat dingin sudah mulai terasa di punggung dan pelipis saya. Jangankan untuk thawaf, saat itu saya wes mikir bagaimana kalau nggak sanggup jalan pulang ke hotel.

Bagian langit-langit Masjidil Haram yang tinggi, bikin adem. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Begitu saja saya memohon agar rasa sakit dan lelah diangkat sementara waktu; demi bisa menyelesaikan sholat jamaah Dhuhur dengan sempurna menyambung sholat bakdiyah dan sholat jenazah, hingga kembali ke hotel dengan baik.

Saya meyakini bahwa Allah Maha Tahu isi hati. Jika pun fisik benar-benar nggak mampu, pahala niat sudah dicatat dengan sempurna. Saya menyadari bahwa bersabar dalam sakit saat di Tanah Suci juga merupakan bentuk ketaatan yang bernilai pahala besar. Jika kondisi memang nggak memungkinkan untuk jalan kaki, saya wes mikir untuk minta bantuan kursi roda sampai hotel.

Syukurlah itu nggak terjadi. Meskipun lamban dan tertatih-tatih melawan lemas, saya kembali ke hotel jalan kaki bersama Bu Yaya dan Bu Prapti. Alhamdulillah. Usai makan siang, saya wes langsung terkapar. Minum obat dan tidur.

Semoga jika sampeyan sedang dalam kondisi seperti ini di Tanah Suci, tetep rileks, terus ikhlaskan saja. Mohon Allah segera angkat penyakitnya, berikan kesembuhan yang paripurna, dan mudahkan langkah untuk mendekap Ka’bah dalam thawaf yang khusyuk. Karena nggak menerima kondisi, hanya bikin kita mau protes saja sama Allah. Padahal pasti ada hikmah di balik sesuatu yang kelihatannya nggak baik.

Bersambung
Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us:

Umroh Istimewa (15): City Tour Mekkah

Sudah banyak areal hijau seperti ini di Mekkah. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Ketika umroh pertama sudah selesai, jamaah diminta istirahat sehari dan konsen beribadah di Masjidil Haram. Setelah itu ada umroh kedua, city tour Mekkah dan kepulangan. Saya yang sudah nglegawa ikhlas menyadari kondisi fisik, nggak memaksakan diri mengikuti semua kegiatan.

Saat badan terasa mampu, saya ikut. Kalau tidak, saya duduk-duduk di bus atau di areal wisata dan nggak ikut ke sana kemari. Rugi? Secara kasat mata mungkin iya. Tapi saya yakin Allah sudah mengatur sebaik-baiknya dan lebih tahu yang saya perlukan dan inginkan daripada siapapun.

Menyenangkan sekali ketemu Bu Neli dan Bu Nunu. Di Jabal Tsur. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Perjalanan city tour Mekkah merupakan wisata spiritual yang sangat kaya dan sarat makna, meliputi beberapa situs paling suci di sekitar Mekah, dan diakhiri mengambil miqat (niat berihram) untuk umroh yang kedua. Perjalanan ini umumnya dilakukan sebagai bagian dari ziarah (kunjungan) di sekitar Mekah, atau sebagai rangkaian pelaksanaan ibadah umroh.

Pertama, kami ke Jabal Tsur (Gunung Tsur). Gunung ini trletak sekitar 4-7 km di selatan Masjidil Haram. Ini adalah tempat bersejarah di mana Nabi Muhammad SAW dan sahabatnya, Abu Bakar As-Shiddiq, bersembunyi dari kejaran kaum Quraisy selama tiga hari tiga malam saat hijrah (migrasi) ke Madinah.

Aslinya hanya mau duduk ben gak capek. Di Jabal Tsur. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Perjalanan mendaki ke puncak untuk melihat Gua Tsur adalah pendakian yang cukup menantang (biasanya memakan waktu 1-2 jam). Jamaah umroh kami nggak ada yang naik dan memang nggak disarpraskan untuk ini. Pemandangan dari sekitar gunung juga indah, tetapi fokus utamanya adalah merenungkan perlindungan Ilahi dan keberanian Nabi Muhammad SAW dan Abu Bakar.

Selanjutnya kami melihat Padang Arafah. Terletak sekitar 20-25 km di timur Mekah. Ini adalah lembah luas yang menjadi puncak dari ibadah haji. Wukuf (berdiam diri) di Arafah pada tanggal 9 Dzulhijjah adalah rukun haji yang menentukan sah atau tidaknya haji.

Jabal Rahmah. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Di luar musim haji, Arafah adalah area yang tenang, tetapi pengunjung bisa merasakan keagungan tempat ini, membayangkan jutaan jemaah yang bersimpuh memohon ampunan. Di sini juga terdapat Masjid Namirah.

Perjalanan berikutnya, kami ke Jabal Rahmah (Bukit Kasih Sayang). Ini merupakan bukit kecil yang berada di tengah Padang Arafah. Menurut riwayat, di sinilah Nabi Adam dan Siti Hawa bertemu kembali setelah berpisah ratusan tahun pasca diturunkan ke bumi, dan diyakini Nabi Muhammad SAW menyampaikan khutbah terakhirnya (Khutbah Wada’) di dekat bukit ini.

Di areal Muzhdalifa. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Banyak jemaah dari rombongan lain yang memilih untuk naik ke puncaknya; ditandai dengan sebuah tugu. Tempat ini populer untuk berdoa dan bermunajat, memohon kasih sayang dan pengampunan Allah. Tapi jamaah umroh kami mayoritas nggak ke atas. Saya sudah pernah naik ke puncaknya pas umroh ke-1 dan 2, cukup perlu energi ekstra dan kaki-kaki yang kokoh.

Setelah itu, kami pergi ke Muzdalifah. Sebuah lembah terbuka yang berada di antara Arafah dan Mina. Jemaah haji akan bermalam (mabit) di sini setelah wukuf di Arafah, mengumpulkan kerikil untuk melempar jumroh. Saat dikunjungi di luar musim haji, kita akan melihat area yang sangat luas dengan fasilitas tenda, dan dapat merenungkan pentingnya persinggahan dan persiapan spiritual sebelum tahap berikutnya dari haji.

Makan siang sebelum umroh kedua. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Setelah itu kami melintasi Mina. Dikenal sebagai “Kota Tenda,” Mina adalah lembah yang berada sekitar 5-8 km di timur laut Masjidil Haram. Jemaah haji bermalam (mabit) di sini dan melakukan ritual lempar jumrah (melontar batu). Di sini kita dapat melihat lokasi Jumrah Ula, Wustha, dan Aqabah (tempat lempar jumrah). Berkunjung ke sini membantu memvisualisasikan bagaimana Nabi Ibrahim AS menghadapi godaan setan.

Perjalanan pun diteruskan ke Ji’ronah. Tempat untuk mengambil miqat kedua. Miqat adalah batas tempat seseorang harus berniat ihram (memulai umroh) dan mengenakan pakaian ihram. Ji’ranah adalah sebuah desa yang terletak sekitar 25 km di timur laut Mekah. Ini adalah salah satu tempat miqat yang direkomendasikan untuk penduduk Mekah atau bagi siapa pun yang ingin melakukan umrah sunnah (umrah kedua) setelah menyelesaikan umroh wajib. Di sana terdapat sebuah masjid kecil (Masjid Miqat Ji’ranah) tempat jemaah melakukan mandi sunnah, berwudu, mengenakan pakaian ihram, dan berniat ihram (talbiyah) untuk umroh sebelum kembali ke Mekah untuk melaksanakan Thawaf dan Sa’i.

Perjalanan yang menggabungkan lokasi-lokasi sejarah kenabian (Jabal Tsur), rukun haji (Arafah, Muzdalifah, Mina), dan praktik umroh (Ji’ranah) ini, memberikan pemahaman tentang sejarah dan ritual Islam.

Bersambung
Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us:

Umroh Istimewa (14): Umroh Pribadi

Saat mau berangkat umroh di seberang lokasi WC 3, Masjidil Haram. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Jujurly, emosi saya wes nggak stabil saat mulai masuk kereta api cepat. Saya dapat copy print tiket dengan nama, no kursi, perhentian, durasi, dll nya. Begitu masuk, tentu dong nyari nomor. Ternyata paling ujung belakang. Lhah wes ditempati. Saya bilang kalau itu kursi saya. Tapi niy lelaki menolak pindah, mungkin dia lebih senang di sisi jendela. Piye toh? Saya tunjukkan tiket, baru mau pindah. Oke, saya kira masalah sudah selesai. Tapi njur ada reribetan di kursi deretan sebelah, seorang perempuan yang duduk di sisi jendela, tidak mau diminta pindah oleh lelaki yang baru datang. Beribetan entah apa dalam bahasa Arab, pokoknya si perempuan akhirnya pindah posisi. Lalu beribetan dengan lelaki di sebelah saya dan akhirnya pindahlah dia di sisi saya.

Saya sebenarnya merasa lega karena sesama perempuan. Tapi di situlah masalahnya. Niy si makhluk betina ya ampun, berisik ngobrol di telepon dengan suara cukup keras. Saya menegurnya agar lebih pelan. Tapi nggak mempan. Hampir dua jam saya di kereta nggak bisa tidur karena omongannya yang ribut berisik melulu di sepanjang perjalanan. Ya Gusti, yang nggak tahu adab dan etika telepon di kendaraan umum nih ternyata nggak cuma di Jakarta (paling sering), tapi juga di Madinah. Dongkol dan jengkelnya saya wes saya redam, istighfar bolak-balik; tapi ya tetep kesal karena saya sensitif dengan suara. Terganggu sangat dengan kelakuannya. Eh dia masih meribeti saya pula dengan menanyakan stasiun-stasiun perhentian kereta. Membagongkan tenan.

Emosi negatif itu berdampak buruk pada kesehatan saya yang (pancen wes nggak prima) sejak sebelum berangkat. Tiba di hotel Mekkah yang mestinya saya gembira karena akan umroh pertama, langsung berubah sedih karena bocor. Sepanjang hidup saya, tanda hitung kalender jadwal haid selalu tepat waktu. Pernah ada satu atau dua kali bergeser mundur sehari.

Sisi lain halaman Masjidil Haram, sebelum umroh. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Jadi saat bepergian ke mana-mana (nggak cuma umroh), saya wes menandai ini dan tahun-tahun berlalu, semuanya oke. Makanya bocor maju 5 hari dari jadwal itu sungguh bikin saya syok. Bingung. Panik. Kesal. Sedih. Campur aduk jadi satu. Saya langsung memberitahu Ustadz Faqih dan tidak bisa ikut umroh malam itu, diminta minum obat dan diterangkan beberapa hal rinci tentang kondisi darurat; yang sebelumnya saya tidak tahu.

Bagian ini, meskipun bersifat pribadi dan sangat perempuan, saya tulis share di sini agar kalau ada jamaah putri yang mengalami kondisi nggak terduga seperti saya, tetap tenang, cari solusinya, dan lanjutkan selesaikan kewajiban sampai rampung. 🙏Saat Bu Sida, Bu Yaya, Bu Prapti sudah meninggalkan kamar untuk umroh; tangis saya meledak.

Ya Allah, sudah sampai Mekkah, nggak jadi umroh? Apa yang salah dengan saya? Uang untuk bayar nggak beres? Saya yakin dan bisa memastikan bahwa uang itu berasal dari hasil kerja halal dan nggak ada tambahan pihak lain. Belum maaf-maafan ibu dan keluarga? Jelas sudah. Dan saya yakin nggak ada yang beribetan saya umroh, karena mereka yo wes umroh nggak cuma sekali dua kali. Jadi itu masalah pun sudah terlewatkan. Hati saya nggak bersih? Ya Robbi, sedari awal mendaftar jelas banget niat saya ibadah, bukan lainnya. Lalu apa?

Situasi pelataran Kabah saat saya umroh, cukup padat. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari

Ujian-ujian. Saya langsung nangis lagi begitu ingat ini. Iya, pahala umroh nggak hanya dari berulangnya (banyaknya, berapa kali) thawaf dan sai, tapi juga sempurnanya hati ikhlas menerima semua ujian-ujian yang ada sejak berangkat sampai pulang ke Tanah Air. Setelah menemukan jawabannya ini, hati saya lebih tenang. Lalu memahami kembali pesan Ustadz Faqih. Mengingat saya nggak pernah sekalipun minum obat penunda/penahan haid, jadi pasti nggak ada obat itu di kantong obat saya.

Ini bukan semata-mata urusan darah nggak menetes, tapi kalau kondisi prei sholat begitu, kekuatan saya tuh kayak “hilang” lebih dari 50 persen. Jadi mending wes gak aktivitas berat. Apalagi dibebani menahan “darah kotor” selama beberapa hari karena minum obat, saya wes kebayang betapa “nggak keruannya” rasa tubuh saya.

Sebenarnya ikhlas-ikhlasan nggak umroh pun versi saya yo tetep oke. Akan saya ikhlaskan daripada saya tumbang, pingsan, drop yang merepotkan diri sendiri dan rombongan. Nanti minta lagi, berdoa sungguh-sungguh, segera dipanggil lagi ke sini. Masalahnya tuh saya wes ambil miqat niat umroh yang harus dibereskan, atau langsung rampung dengan bayar kambing. Bukan sekedar bisa bayar kambingnya, tapi saya ingin dan sudah rindu ke Kabah dan Masjidil Haram. Jadi saya kudu, mau nggak mau minum obat untuk merampungkan urusan umroh itu.

Alhamdulillah, usai thawaf. Pelataran Kabah, Masjidil Haram. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Selain itu, jadwal maju 5 hari, persediaan pembalut juga nggak memenuhi kebutuhan. Oke, Mekkah memang jauh, tapi ini bukan kota asing untuk orang Indonesia. Jadi saya memutuskan untuk segera keluar, mencari dua keperluan saya itu.

Karena mau ke apotek dan supermarket, saya ngecek sekalian obat darurat apa yang wes habis dan perlu beli. Lhah, ternyata di kantong obat ada obat penahan haid. 5 saja dan saya baru ingat kalau ipar saya sempat bilang ada obat tersisa, saya bawa saja untuk jaga-jaga. Mungkin langsung dimasukkan kantong obat tanpa memberitahu saya lagi. Alhamdulillah, saya pikir itu cukup untuk merampungkan urusan satu kali umroh.

Lalu pembalut? 2 biji jelas nggak cukup. Pantyliner pasti jebol untuk kondisi begini. Pikir saya wes tinggal beli pembalut. Setelah beres umroh yang terlanjur niat itu, saya nggak ada niatan lagi untuk memaksakan diri ikut aktivitas fisik berat karena urusan kesehatan. Jadi nggak niat beli obat penahan haid.

Ini usai sholat sunnah thawaf di pelataran Kabah, Masjidil Haram. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Dengan kondisi begitu, saya tetap bersyukur Allah Maha Baik. Pas saya mau ambil uang Riyal untuk beli keperluan itu, kok tangan saya nyentuh plastik di backpack bagian dalam. Lhah pembalut satu plastik isi 12 biji, bahkan saya nggak inget kapan beli atau masukin ke situ. Wah berasa nemu harta karun. Yach, meskipun di Mekkah ada toko obat dan pembalut, harganya tentu nggak semurih di Jogja. Alhamdulillah; kayak blessing in disguise. Cukuplah sampai pulang.

Saya pun berdoa mohon agar diberi pahala sama baiknya dengan kawan-kawan saya yang malam itu umroh dengan sempurna. Berdoa banyak hal, agak lama. Njur saya pergi ke luar hotel. Ngapain? Beli es krim, cokelat, dan jajanan 😂🙈 Saya makan di lobi hotel, nggak ambil pusing dengan lalu lalang orang. Es krim dan cokelat untuk mengembalikan mood saya. Dan begitu wes berasa baik, saya kembali ke kamar. Minum obat, njur tidur pules, sepuasnya tenan. Saya nggak tahu kapan Bu Sida dkk kembali ke kamar. 🙈

Besoknya pagi-pagi saya bekabar Ustadz Faqih tentang kondisi saya. Wes mampet. Njur saya bebersih sesuai aturan, sarapan, dan berangkat umroh pribadi dikawal penuh oleh Ustadz Faqih. Pas awal berangkat, Bu Sida dan suaminya ikut untuk thawaf sunnah, tapi saya nggak ingat kapan kami terpisah.

Situasi saat saya sai, cukup padat tapi masih ada ruang kosong. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Dari hotel ke Masjidil Haram, Ustadz Faqih sempat menanyakan apakah kondisi saya cukup sehat, saya jawab sehat. Mungkin karena sudah tidur lebih banyak malam sebelumnya dan nggak wira wiri ke mesjid. TL kami ini juga mengingatkan saya tentang larangan-larangan selama Ihram dan membaca doa talbiyah dalam perjalanan menuju Masjidil Haram.

Setelah tiba di Masjidil Haram, Ustadz Faqih akan mengarahkan saya ke area Thawaf dengan tenang. Wah, dia ini sabar tenan. Mengantar saya sepenuhnya, meskipun sebelumnya baru pulang umroh bersama rombongan. Kebayang capeknya, lha jamaah saja diminta istirahat sehari kecuali ibadah di mesjid. Kayaknya Ustadz Faqih juga mengukur kemampuan saya yang nggak prima, dengan jalan pelan banget.

Kegiatan umroh saya seperti umroh lainnya. Memasuki masjid dengan mendahulukan kaki kanan dan mengucapkan doa masuk masjid. Lalu memulai thawaf dari Hajar Aswad dengan melakukan Istilam (memberi isyarat pada Hajar Aswad) sambil mengucapkan “Bismillahi Allahu Akbar” dan memulai putaran pertama. Ustadz Faqih terus mendampingi saya, memastikan setiap putaran saya lakukan dengan benar dan khusyuk.

Saya dan Ustadz Faqih di areal sai. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Pada setiap putaran, dia mengajarkan dan mengingatkan doa-doa yang disunnahkan, terutama antara Hajar Aswad dan Rukun Yamani; yang disunnahkan membaca doa sapu jagad: Rabbana atina fiddunya hasanah wafil akhirati hasanah waqina adzabannar.

Ustadz Faqih juga bertindak sebagai “tameng” saat saya nyaris terdesak-desak oleh orang-orang “besar” yang ikut thawaf. Dia mengingatkan agar saya tetap fokus pada ibadah meskipun dalam keramaian. Saya di putaran ke-4 wes mulai merasa klenger, keringat dingin mulai menetes-netes di punggung saya. Padahal Ustadz Faqih jalannya wes superlambat demi saya bisa terus kuat. “Ya Allah kuatkan, sekurangnya sampai saya merampungkan umroh ini dengan sempurna. Amin YRA.”

Alhamdulillah, setelah menyelesaikan 7 putaran thawaf, Ustadz Faqih mengantar saya ke tempat yang memungkinkan untuk sholat. Disunnahkan sholat dua rakaat di belakang Maqam Ibrahim jika memungkinkan, atau di mana saja di area Masjidil Haram. Ini saya sholat penuh tangis; penuh haru; karena ya Allah, maturnuwun Gusti, saya masih diberi kesempatan ini. Doa saya banyak. Doa untuk diri sendiri, keluarga, sahabat, kerabat dan semua titipan doa. Semoga Allah kabulkan. Amin YRA.

Di areal sai. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Oh iya, dua rakaat sholat sunnah thawaf, biasanya dengan membaca Surah Al-Kafirun pada rakaat pertama dan Surah Al-Ikhlas pada rakaat kedua. Kalau mau surat lain ya bebas saja, tapi kalau ikut rombongan kan waktu kita terbatas. Detelah sholat, Ustadz Faqih mengantar saya untuk minum air Zam-Zam sambil memanjatkan doa-doa kebaikan.

Selanjutnya sai (berlari kecil antara Safa dan Marwah). Prosesi ini adalah lari kecil atau berjalan cepat antara bukit Safa dan Marwah, sebanyak 7 kali perjalanan. Permulaannya ke areal bukit Safa, menghadap Ka’bah, dan mengucapkan zikir dan takbir. Hingga berlangsung 7x. Di sini beneran berasa energi saya drop. Langkah saya beneran lambat. Waktu untuk sai mungkin lebih lama dari semestinya.

Alhamdulillah akhirnya rampung. Tahallul (mengakhiri ihram), memotong rambut saya lakukan secara mandiri. Alhamdulillah, haru dan lega plong beneran hati saya. Ya Robb mohon sebaik-baiknya pahala yang sempurna dan undang lagi saya ke sini dengan kondisi dan fasilitas terbaik. Amiiin YRA.

Usai umroh dalam perjalanan balik ke hotel. Masyaallah saya kaget pas lihat foto dan menemukan angka 11 di belakang saya. Selain tanggal kelahiran saya, angka kembar dalam energi sering menjadi tanda terwujudnya doa, terkabulnya harapan, hidup yang lebih baik, dll. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Secara pribadi saya mengucapkan terimakasih sebesar besarnya pada Ustadz Faqih yang mengawal penuh umroh saya dengan sabar, tenang, menyempurnakan semua urusan syariat tanpa kecuali, dan menjaga keselamatan saya dari awal sampai akhir. Semoga Allah membalasnya dengan berlipat kebaikan. Amin YRA. Terima kasih juga kepada Dewangga yang telah memilih TL berkualitas dan profesional untuk mengurus kami dengan sebaik-baiknya 😊🙏

Ustadz Faqih meminta agar saya makan dulu sebelum istirahat; saat kami sudah kembali ke hotel. Percayalah, saya bae agak “takut” ngeliat wajah saya saat itu. Pucat pasi seperti wajah orang mati, nggak ada aliran darah. Ya, dan badan saya wes lemes pool, seperti hilang tulang belulang untuk menopang badan agar kuat berdiri.

Usai makan, saya balik kamar dan nggak butuh waktu lama, saya tertidur pules. Alhamdulillah, sekurangnya umroh kali ini wes saya selesaikan semaksimal, sebaik yang bisa saya lakukan. Sungguh Allah saja yang tahu, betapa inginnya saya bolak-balik umroh saat ada di Mekkah ini.

Bersambung
Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us: