Prinsip-Prinsip Penyuntingan Naskah. Pesan buku wa.me/6281380001149. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Adaptasi adalah hal yang biasa dalam dunia penulisan dan industri kreatif secara umum. Apa saja yang perlu kita perhatikan berkaitan dengan adaptasi?
1. Adaptasi dan menuliskan kembali itu boleh. Tetapi, yang mesti dihindari adalah menjiplak. Setiap kali kita menjiplak, maka Allah akan mengurangi satu pikiran kreatif kita. Makin sering menjiplak, makin bodohlah diri kita.
2. Aturan adaptasi lebih kurang seperti ini: a. Ide boleh sama, bisa dimiliki siapa saja. b. Seluruh penulisan harus beda. c. Karakter harus dimodifikasi. d. Dialog juga tidak boleh sama. e. Setting harus berbeda.
Intinya: adaptasi untuk cerita adalah pada batasan ide yang sama, tetapi dalam segala hal dari tata cara, sudut pandang, model, karakter harus beda.
3. Ada yang memberi usulan adaptasi dengan cerita mirip-mirip boleh, tetapi batasannya 10 persen saja dari total seluruh naskah yang diadaptasi.
4. Ini berbeda dengan urusan pembelian copyright, lisensi. Banyak pula yang memang kontrak kerja samanya harus dialihkan dengan model (versi) Indonesia saja tanpa boleh mengganti apa pun, termasuk satu kata dialog sekali pun.
5. Kalau adaptasi saja bebas, boleh dalam batas-batas wajar. Tidak ada yang klaim. Permasalahan klaim mengklaim dan gugat menggugat ini biasanya kalau karya adaptasi BOOMING, maka yang terjadi pastilah heboh sampai seret-seretan ke pengadilan segala karena duitnya memang BANYAK.
6. Kalau adaptasinya hanya ide yang sama, sumber tak perlu disebutkan. Tetapi kalau banyak, ya disebutkan. Ada etika tak tertulis untuk memberi surat pemberitahuan pada PENULIS, PENERBIT. Tidak dipungut bayaran kok. Hanya untuk sopan santun saja.
7. Karya adaptasi sering juga sebagai PERSETUJUAN, BANTAHAN, SANGGAHAN, PENYEMPURNAAN suatu karya sebelumnya. Misalnya, Umar Kayam menulis karya legendaris PARA PRIYAYI itu sebetulnya modifikasi dan bantahan untuk karya CLIFFORD GERTZ yang bicara soal Priyayi, Santri Abangan, dan Kalangan Petani. Dan, tidak ada seorang pun yang mengklaim Para Priyayi itu sebagai bantahan untuk karya Gertz.
8. Menjiplak persis biasanya kalau untuk diri sendiri tidak ada yang klaim. Tetapi kalau sudah urusan komersial, diperdagangkan, disiarkan, diakui sebagai karya penjiplak; baru JADI MASALAH.
9. Sebenarnya, kalau mau curang sih bisa saja, asal tidak ketahuan. Tetapi kalau ketahuan, — hari serba internet serba canggih begini, apa yang tidak ketahuan? — SIAP-SIAP saja. Itu MEMATIKAN MASA DEPAN sendiri.
10. Intinya, teman-teman, jangan takut MEMBUAT KARYA ORISINIL. Yang bagus itu tidak harus yang berbau luar negeri kok. Ayolah, kunjungi daerah-daerah Indonesia, berjalanlah. Pasti akan tahu, kita ini lebih kaya dari negeri-negeri jiran di sekitar kita. Mari ciptakan kiblat, bukan berkiblat kepada negeri orang.
Gambar hanya sebagai ilustrasi. Diambil semena-mena dari internet. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Tadi malam sebelum tidur, saya sudah ngelist apa yang mau saya kerjakan hari ini. Penulisan. Revisi naskah. Pembayaran. Ketemu orang. Mengirimkan pakaian sangat layak pakai (saya wes gak bisa pakai lagi semata gegara tambah gemoy🤣).
Pagi-pagi saya wes beberes, berbenah. Menulis beberapa yang harus dibereskan. Lalu beralih ke baju-baju yang mau saya sedekahkan, saya masukkan dus sampai penuh. RT tempat saya tinggal sedang ada acara sambut Ramadan; pengumpulan macam-macam untuk baksos (pakaian dll piranti rumah tangga layak pakai, sembako, uang, dll keperluan) dari awal Januari s/d 7 Februari nanti.
Saya ya wes ikut serta ngumpulin baju itu 2x sebelumnya, ya lebih kurang 2 dus. Sithik-sithik ben gak capek bongkar lemari. Beneran malah sama bebersih lemari baju yang embuh kok rasanya nggak muat teruz 🤣 Hari ini pun demikian. Wes cukup penuh dusnya, langsung saya kirim ke tempat pengumpulan.
Nginguk kulkas, inget ada nasi tadi malam. Saya ambil lagi untuk dikasih ke ayam (tetangga). Ayam-ayam di sini yo pinter-pinter. Kalau nasi atau makanan basi yang dikasih, mereka tuh nggak mau makan. Jadi kalau ngasih nasi ya kudu yang sehat, masih layak makan. Saya (kadang) malez bae manasin lagi, lebih memilih masak nasi baru. Dan ayam-ayam itulah penampungnya😂
Saya sempat inguk-inguk sosmed. Beuuh, iklan piknik dari mana-mana muncul 😆😅 Saya sampai mikir, mungkin enak betul ya kalau duit nggak ada serinya tinggal ambil, transfer, debit, nggak pernah habis bisa untuk piknik bebas sepuasnya ke 200-an negara dengan fasilitas dan kondisi terbaik 😃🤩 Hadeuh, suka banget siy saya mimpi di siang bolong 🙈
Aiih, lupakan sejenak urusan piknik yang belum ada duitnya😅😂 Saya pun menelepon CS bank untuk menanyakan beberapa hal berkaitan dengan pembayaran publikasi artikel di jurnal internasional. Terlebih karena pembayaran pakai USD, beda benua, pasti ada banyak syarat dan ketentuan, termasuk charge pengiriman.
Ya, setelah menunggu beberapa bulan, tentu saya happy banget dong pas terima surat penerimaan artikel. Termasuk pemberitahuan pembayaran, rekening bank, waktu publikasi. Noted, pada saat submit artikel, saya sudah berusaha memastikan bahwa ini jurnal kredibel, terakreditasi internasional, dll pengecekan standar.
Mbak CS yang suaranya renyah seperti keripik emping melinjo itu, menginfokan beberapa hal yang perlu saya siapkan untuk transfer uang; baik menggunakan rek IDR atau rek USD. Saya nggak perlu ke bank. Kalau kesulitan nanti bisa telpon atau WA untuk dibantu. Kalau mau lebih jelas, saya bisa ke bank.
Wah, saya nyicil ayem. Lumayan gampang prosesnya. Saya mikir akan ke bank saja dan membereskan semuanya hari ini. Ben ndang rampung, sisan cetha kalau duit tabungan saya itu berkurang, ojo mung mikirin piknik bae, Riii… Isih banyak yang perlu duit dan kudu bayar-bayar 😁
Lalu si Mbak CS ini nanya saya lagi, akan mau mengirim ke siapa (apakah institusi atau perseorangan), no rek berapa, berapa USD yang akan ditransfer, dan untuk keperluan apa. Dia akan membantu melakukan pengecekan bahwa si penerima adalah “real”. Mungkin kalau sesama bank bisa melakukan crosscheck ya satu sama lain untuk mendapatkan info yang benar.
Saya lalu memberikan detail info yang diminta. Si Mbak CS meminta saya menutup telpon dulu dan nanti maksimal 30 menit akan telpon saya. Teng tong… nggak sampai 15 menit, si Mbak wes telpon lagi.
“Bu Ari, ini nama sama, tapi alamat dan no rek berubah-ubah terindikasi penipuan. Silakan cek link jurnal yang saya kirim via WA, itu yang benar. Link yang ibu kirim untuk cc tembusan alamat pengiriman, itu link palsu yang dibuat sama persis seperti aslinya; hanya beda alamat. Kalau tidak cermat, pasti ketipu. Ibu tidak usah kirim uang karena jurnalnya abal-abal. Jurnal aslinya nama sama, dengan alamat link yang saya kirim, Bu. Itu link yang terintegrasi dengan penerbit dan universitas yang menaunginya.”
Saya wes langsung lemas, bengong beberapa saat. Ya Allah, betapa baiknya Engkau❤❤Maturnuwun atas pertolonganMu❤❤ Kalau saya nggak nanya-nanya dulu, pasti bablas kirim uang via non bank sesuai permintaan officer jurnal abal-abal ini dan sesudah kirim uangnya, pasti gak bisa ditarik balik. Amblazlah uang itu.
Jujurly, saya kecewa dan sedih lho sampai beberapa menit. Ya Allah, saya wes hati-hati saja masih nyaris kena jurnal abal-abal gini. Apalagi mereka yang serampangan buru-buru kemrungsung pokok publikasi njur akhirnya menangis darah kehilangan puluhan juta, duit utangan pula 😭Tapi ya sudah, saya pilih mensyukuri saja kebaikannya. Sekurangnya duit hampir 1000 USD itu terselamatkan. Alhamdulillah.❤
Saya yakin ini bukan karena “kehatian-hatian” saja, tapi jelas lebih karena sedekah pagi-pagi yang saya lakukan. Ikhlas tenan. Dan seperti terngiang-ngiang kata Ustadzah di depan Masjid Nabawi ketika kami berhasil ke Raudah dan selow 30 menitan lebih di areal rumah Nabi Muhammad SAW hingga puas doa, ibadah, nangis-nangis. “Pasti uang yang dipakai berasal dari sumber rezeki yang halal. Kalau uang halal itu mudah untuk ibadah dan biasanya bertahan lama, nggak mudah habis atau hilang.” Wallahua’lam.
Saya njur mikir, publikasi artikel internasional ke mana lagi ya yang waktunya nggak perlu tetahunan dan biayanya (sekurangnya masih cukup sanggup) saya bayar tanpa beribetan dengan sistem administrasi keuangan kampus? Heish, minta ganti charge publikasi ke kampus, laporannya sebejibun mumet, duitnya cair itu embuh kapan suka-suka mereka bae. Pasti diberikan, tapi waktunya itu yang embuh kapan 😅
Eh tapi yang begini, saya yakin nggak cuma kampus saya aja kok. Ada banyak yang lebih parah. Jadi saya slow motion tenan, pilih pilih publikasi internasional yang charge ringan dan kalau kampus menggantinya embuh kapan itu, nggak bikin budgeting saya rieweuh sana sini. Hidup kadang memang mung soal petang-petung uang kan 🤣
Melati Belanda depan rumah. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Pas pemilik rumah datang setelah rumahnya saya beli, beliau bilang, “Rumahnya jadi adem, Mbak Ari.” . Pikir saya beliau berdua dari luar di siang terik. Walau bermobil AC, tetap beda dengan duduk di rumah dengan pintu jendela terbuka.❤ . Berbanyak kawan datang, pun begitu. Adik saya, “Sebelum Mbak Ari tinggal, aku takut ke sini. Serem dan bikin emosi. Sekarang adem, aku bisa tidur pules.”❤ . Alhamdulillah. Dulu, dengan keadaan seadanya dan perabotan urgent, saya pindah. Lha wes beli rumah mosok nggak ditinggali. Tanpa pagar depan, gersang pasir, lantai atas pun terbuka. Orang loncat genteng bisa masuk rumah. Mesin sumur rusak, lampu ndak ada, korden ndak ada, kunci-kunci nggak fungsi dan banyak lagi yang kudu diberesi. Itu semua berarti pengeluaran.😃 . Kok saya beli ndak mikir ini. Belum lagi omongan tetangga tentang kisah horor. Rumah sebelah kosong 10 tahun, bikin saya makin jiper 😆 Saya pun bismillah. Minta perlindungan Gusti Allah.❤ . Pas saya mo beli taneman, nanya temen-temen deket yang harga murah. Mereka bilang nggak usah beli dan janji bawain dari rumahnya. Begitulah tanaman dari mereka tumbuh subur. Beberapa saya minta pas ke rumah teman (tanemannya melimpah dan nggak jualan taneman), beberapa saya barter.❤ . Sedikit demi sedikit saya masang pagar, pelindung lantai atas, pengaman tangga, dll. Isi rumah? Ya diisi pas ada rezeki. Tapi ya gitu, ada temen datang njur beliin meja makan. Ada yang nanya mau rak buku besar dan mengirim. Ada klien dateng, lalu transfer dan minta saya beli kursi teras; dll. Rumah ini seperti memberesi dirinya sendiri.❤ . Rumah saya njelik ndeso, tapi menteri, bupati, rektor, guru besar, dll orang penting datang berkaitan dengan gaweyan saya. Rezeki sering datang tidak terduga. Tetangga pun baik. Alhamdulillah ❤ . Adik saya tanya, rumahnya dikasih apa kok berkah. Saya bilang: selalu bersyukur, dipakai sholat, ngaji; kalau ada orang bertamu, mereka kudu pulang dengan tangan berisi.❤ . Bagaimana dengan rumahmu? Jadikan rumahmu berkah dengan bersyukur tiap saat. Biar rezeki mudah datang. Para penghuni rumah pun sehat dan happy ❤
Gambar hanya sebagai ilustrasi. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Memilih klien itu versi saya juga “jodoh-jodohan”. Kalau jodoh, semua pekerjaan rasanya lempeng saja dan mudah dibereskan. Diskusinya enak, nulisnya lancar, bayarnya besar. Biasanya klien klien begini “menyadari” nulis nggak mudah dan dari awal dia tahu maunya tulisan seperti apa.
Jadi kalau kamu penulis yang biasa terima orderan tulisan, cermati betul calon klienmu. Kadang better menolak daripada bekerja remuk redam makan hati dengan honor nggak seberapa, masih ditawar diulur-ulur diincrit-incrit pula bayarnya. Niy biasanya klien yang saya sebut “BPJS” Banyak Permintaan (kalau diminta bayar) Jawab Sesuk-sesuk 🤣 Westalah, dunia penulisan itu kadang nggak selalu indah seperti yang kamu bayangkan 😅
Yuk kita ulik seputar pilih-pilih klien ini. Kamu boleh tetap bertahan menulis dengan fee kecil, asal yo profesional dan jelas aturan main, job desknya ngapain, revisi berapa kali, kapan bayar. Karena kadang kita sebagai penulis kudu berdamai dengan honor-honor kecil. Pokoknya, kalau saya kliennya jelas harus baik dulu dan kerja nulisnya bikin saya senang. Honor besar itu bagian bonus rezeki.
1. Jadi ghostwriter atau menulis biografi memang jalan cepat dapat duit banyak dari menulis. Tapi ya ini dapatnya nggak selalu mudah. Cari kliennya sulit sulit gampang.
2. Tapi kalau sekali dapat, biasanya terus saja. Nah, saya tidak tahu bagaimana cara memilih klien untuk ghostwriter atau biografi, karena setiap kali beda orang beda model pendekatannya.
3. Yang jelas kalau manajer saya oke, umumnya saya oke saja. Tidak banyak keribetan. Baru kalau manajernya setengah yakin setengah enggak, saya perlu bertemu dan bisa lihat niy orang masalah apa enggak.
4. Eh yang namanya masalah klien itu nggak cuma urusan sulit atau nggak bayar lho. Klien beribet revisi bongkar bongkir materi itu juga problem. Klien sulit diajak kompromi, itu juga keribetan.
5. Jadi dalam model kinerja apapun, yang berkaitan dengan ghostwriter dan biografi, pastikan sampeyan senang dulu dengan kliennya, senang pada materinya, dan syukur-syukur asyik duitnya juga. Kalau tidak, jangan memaksakan nanti makan hati; bisa langsing mendadak 😂
6. Ada model model klien yang tak terduga yang mungkin tidak saya kenali. Tapi kalau sepanjang semua oke oke saja, ya tidak apa-apa. Meskipun mungkin ada banyak karakter orang yang tidak seide dengan pikiran saya.
7. Yang penting Teman-teman, jangan terima klien karena terpaksa. Sengsara nanti. Karenanya kalau jadi penulis harus bagus mengatur keuangan agar nggak ada alasan terima klien semata mata karena uang.
8. Menulis itu bukan sekedar tukang ketik. Sampeyan harus pake otak; pikiran, hati, energi waktu dll yang tidak sedikit. Kalau nggak senang nggak ikhlas, percayalah itu hanya akan bikin sampeyan terbebani 2x atau 3x dari energi yang semestinya sudah cukup untuk merampungkan satu buku. Jadi pilih pilih klien itu penting agar oke semuanya.
Selamat berburu klien penulisan. Kalau proyekmu banyak, berbagi gaweyan dengan saya juga boleh. Jangan lupa contact wa.me/6281380001149😀 Honor? Cincailah, itu bisa diatur 😂
Gambar hanya sebagai ilustrasi. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
20 hal yang sering menyebabkan penulisan tidak selesai:
Kurangnya Perencanaan Tidak ada outline atau rencana yang jelas dapat membuat penulis bingung tentang arah cerita.
Prokrastinasi Menunda-nunda untuk menulis dapat menyebabkan hilangnya momentum dan inspirasi.
Perfeksionisme Terlalu fokus pada kesempurnaan tiap kalimat bisa menghambat kemajuan.
Kehabisan Ide Terkadang penulis mengalami kebuntuan ide di tengah jalan.
Gangguan Eksternal Gangguan dari lingkungan sekitar seperti keluarga, pekerjaan, atau media sosial.
Kritik Diri yang Berlebihan Terlalu keras mengkritik tulisan sendiri dapat mengurangi motivasi.
Tidak Konsisten Tidak menulis secara rutin atau tidak memiliki jadwal yang tetap.
Ketidakpastian Plot Ragu-ragu tentang perkembangan cerita atau akhir cerita.
Masalah Teknis Kesulitan dalam hal-hal teknis seperti tata bahasa, struktur kalimat, atau dialog.
Kurangnya Dukungan Tidak memiliki dukungan dari teman, keluarga, atau komunitas penulis.
Riset yang Berlebihan Menghabiskan terlalu banyak waktu untuk riset tanpa mulai menulis.
Takut Gagal Khawatir bahwa novel/naskah tidak akan diterima dengan baik oleh pembaca atau penerbit.
Tidak Menikmati Proses Menulis lebih karena kewajiban daripada kenikmatan dapat mengurangi semangat.
Kesehatan Mental Masalah kesehatan mental seperti depresi atau kecemasan dapat mempengaruhi produktivitas.
Perubahan Prioritas Kehidupan yang berubah, seperti pekerjaan baru atau keluarga, dapat mengubah prioritas penulis.
Penulisan Ulang yang Terlalu Sering Terus-menerus menulis ulang bagian-bagian yang sudah ditulis tanpa maju ke bagian baru.
Kurangnya Motivasi Tidak memiliki motivasi atau tujuan yang jelas untuk menyelesaikan novel.
Tidak Ada Deadline Tidak menetapkan batas waktu untuk diri sendiri dapat membuat penulis merasa tidak terdesak untuk menyelesaikan.
Menghindari Kesulitan Menghindari menulis bagian yang sulit atau tidak menyenangkan dalam cerita.
Perubahan dalam Cerita/Naskah Mengubah alur cerita atau karakter utama terlalu sering dapat menghambat kemajuan. Membongkar naskah juga meribetkan banyak hal.
Monggo silakan dicermati naskah Anda belum selesai karena apa, termasuk dari 1 s/d 20 di atas kah? Kalau iya, cobalah mencari solusinya 😀
Gambar hanya sebagai ilustrasi. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Sering kali kita bertanya-tanya, kapan waktu yang tepat untuk memulai sesuatu?
Apakah menunggu momen ideal adalah keputusan yang bijak, atau justru kita harus segera bertindak tanpa ragu?
Jawabannya bergantung pada apa yang ingin kita mulai dan bagaimana kita mempersiapkan diri.
Berikut beberapa pertimbangan penting dalam menentukan waktu yang tepat untuk memulai sesuatu, baik itu proyek, bisnis, kebiasaan baru, atau perubahan hidup lainnya.
Jangan Menunggu Sempurna, Mulailah dengan yang Ada
Banyak orang terjebak dalam “paralysis by analysis”—terlalu banyak berpikir dan menunggu momen sempurna hingga akhirnya nggak pernah mulai.
Kenyataannya, momen sempurna jarang datang. Sebagian besar kesuksesan datang dari mereka yang berani mulai dengan sumber daya yang ada, lalu memperbaiki dan beradaptasi seiring perjalanan.
Contoh: Jika ingin memulai bisnis, sampeyan tidak harus menunggu modal besar atau rencana sempurna. Mulailah dengan langkah kecil, uji ide sampeyan, dan kembangkan perlahan.
Awali dengan Motivasi yang Jelas
Sebelum memulai sesuatu, tanyakan pada diri sendiri: Mengapa saya ingin melakukan ini? Motivasi yang kuat akan membantu sampeyan bertahan di saat menghadapi tantangan. Pastikan alasan sampeyan jelas dan cukup kuat untuk menjadi bahan bakar perjalanan.
Contoh: Jika ingin mulai berolahraga, jangan hanya karena tren, tapi karena sampeyan ingin hidup lebih sehat dan bugar dalam jangka panjang.
Manfaatkan Momentum dan Energi
Ada kalanya kita merasa sangat termotivasi untuk memulai sesuatu. Inilah saat terbaik untuk bertindak! Momentum adalah faktor penting yang bisa mempercepat langkah awal dan membantu kita tetap konsisten.
Jangan menunda ketika semangat sedang tinggi, karena semakin lama menunda, semakin sulit untuk mulai.
Contoh: Jika setelah membaca buku inspiratif sampeyan merasa terdorong untuk menulis, segera ambil kertas atau laptop dan mulailah menulis, meskipun hanya beberapa paragraf.
Perhatikan Kondisi dan Kesempatan
Meskipun nggak perlu menunggu momen sempurna, tetap penting untuk memperhitungkan kondisi eksternal yang dapat memengaruhi keberhasilan sampeyan. Beberapa keputusan memerlukan perencanaan yang matang agar lebih efektif.
Contoh: Jika ingin memulai bisnis musiman seperti jualan baju Lebaran, maka waktu terbaik untuk mulai adalah beberapa bulan sebelum Ramadan, bukan setelahnya.
Banyak orang sukses yang memulai sesuatu tanpa perencanaan sempurna, tapi mereka terus belajar dan menyesuaikan diri sepanjang perjalanan.
Jangan takut memulai hanya karena merasa belum siap. Yang penting adalah mengambil langkah pertama dan terus berkembang.
Contoh: Jika ingin belajar bahasa asing, mulailah dengan kosakata dasar dan percakapan sederhana. Jangan menunggu sampai sampeyan merasa siap berbicara dengan lancar.
Waktu terbaik untuk memulai itu ya sekarang Jika sampeyan masih ragu, ingatlah bahwa semakin lama sampeyan menunda, semakin kecil kemungkinan sampeyan untuk benar-benar memulai. Ambil langkah pertama, atur strategi, dan biarkan proses berjalan.
Nggak pernah ada waktu yang benar-benar sempurna, tapi setiap langkah kecil yang sampeyan ambil hari ini akan membawa sampeyan lebih dekat ke tujuan.
Ka’bah yang jadi kiblat ibadah umat Islam. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Hari ini sejak pagi saya wes menulis. Cukup banyak lembaran berganti. Kalau kemarin masih setengah mageran, banyak nonton, sedikit nulis. Saya maklumi saja. Ada masanya yo malez juga 😆
Eh lha pas break nulis kok ya timeline sosmed saya isinya seliweran foto-foto Baitullah. Wah, rindu saya pun menjadi-jadi. Ya Allah, rasanya pingin nangis aja dan ya nggak sadar saya wes nangis beneran. Rasa rindu yang nggak karuan mendesak-desak untuk segera kembali ke Tanah Suci 😭
Saya, seperti juga jutaan umat Islam di seluruh dunia, Baitullah bukan sekadar sebuah tempat fisik. Ini jadi simbol cinta dan kerinduan yang mendalam kepada Sang Pencipta.
Setiap detik, ratusan bahkan ribuan jamaah dari berbagai penjuru dunia berdoa, bersujud, menangis, dan bermunajat di depan Ka’bah, menyampaikan segala harapan, keluh kesah, dan rasa syukur.
Baitullah menjadi pusat spiritual yang memanggil hati setiap Muslim, mengingatkan mereka pada tujuan hidup sejati: kembali kepada Allah.
Kerinduan kepada Baitullah adalah rindu yang tak terdefinisikan. Bagi yang belum pernah menginjakkan kaki di Tanah Suci, Baitullah terasa seperti mimpi yang selalu dirajut dalam doa.
Harapan untuk bisa bersujud di sana, merasakan dinginnya lantai Masjidil Haram, serta menyaksikan keagungan Ka’bah adalah cita-cita yang terpatri dalam hati.
Sementara bagi mereka yang pernah menjadi tamu Allah, kerinduan itu tak pernah pudar, bahkan sering kali semakin membara setelah kepulangan mereka.
Mengapa rindu kepada Baitullah begitu mendalam? Sebagian mungkin berkata bahwa tempat ini adalah pusat dari semua doa, kiblat yang menyatukan seluruh umat Islam di dunia.
Namun lebih dari itu, berada di depan Ka’bah memberikan rasa tenang yang tak tergantikan. Di tengah kesibukan dunia yang sering kali membuat hati gersang, Baitullah hadir sebagai oase yang menyejukkan jiwa.
Beribadah di Tanah Suci juga mengajarkan makna kesetaraan dan kebersamaan. Tidak ada perbedaan antara kaya dan miskin, pejabat atau rakyat biasa.
Semua mengenakan pakaian yang sama, memusatkan hati hanya kepada Allah. Di hadapan Ka’bah, semua manusia berdiri sejajar, merasakan kebesaran Allah yang Maha Esa.
Kerinduan kepada Baitullah bukan hanya soal ingin berada di sana secara fisik, tetapi juga panggilan hati untuk selalu mendekat kepada Allah.
Bahkan, bagi yang belum memiliki kesempatan untuk datang, doa dan zikir yang diucapkan dengan tulus sudah menjadi jalan untuk merasakan kehadiran-Nya.
Baitullah adalah tempat yang mengajarkan kita untuk melepaskan ego, memohon ampunan, dan menemukan ketenangan sejati.
Rindu ini tak akan pernah bertepi, karena ia bersumber dari cinta kepada Sang Pemilik Ka’bah, Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
Semoga kita semua diberikan kesempatan untuk memenuhi panggilan-Nya, menjadi tamu-Nya di Tanah Suci, dan merasakan nikmatnya bersujud di depan Baitullah. Amin.