Jadi Penulis Produktif? Gampang Kok! —pesan buku wa.me/6281380001149.
Kalau anda memutuskan untuk menjadi penulis buku, maka tidak ada solusi lain kecuali anda harus produktif menulis. Lalu, apa tips-tipsnya jadi penulis produktif?
Pertama, harus punya bank ide penulisan yang banyak dan luas. Setiap hari banyak ide berseliweran di sekitar kita. Catat, rekam, simpan, analisis, pertimbangkan, dan gunakan.
Kedua, harus punya jaringan dan hubungan yang solid dengan penerbit dan pihak-pihak yang terkait dengan industry buku.
Ketiga, miliki manajemen waktu. Menepati janji dan deadline bagi penulis adalah keharusan.
Keempat, miliki partner yang bisa diandalkan dalam menulis: asisten, team work yang solid.
Keenam, berpikir terbuka dan menerima masukan dari berbagai pihak; pembaca, penerbit, distributor, promosi, dan partner-partner di lingkungan perbukuan.
Ketujuh, promosi pribadi. Inti dari semua industry adalah penjualan. Dengan membantu promosi, penjualan akan terus terjaga dalam kondisi baik. Napas buku dan penulis akan lebih panjang.
Kedelapan, terus belajar dan memperbarui kemampuan menulis. Update setiap pengetahuan: baca, ikut workshop, belajar independen, sharing dengan para pakar, dll.
Kesembilan, miliki kepribadian yang baik secara umum. Ramah, friendly, smart, jujur, sopan santun, sederhana, rapi, dll. Jadilah penulis yang baik dan menyenangkan.
Kesepuluh, libatkan kekuatan religious sesuai agama anda masing-masing. Doa, sabar, syukur, tulus, ikhlas.
Gambar hanya sebagai ilustrasi. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Mengapa Saya Sering Terkena Writer’s Block?
Masalah lain yang sering terjadi pada penulis adalah writer’s block atau macet saat menulis. Ini bukan problem pemula saja, yang sudah profesional dan ahli pun sering terkena macet saat menulis. Berikut ini beberapa sebab writer’s block dan solusinya.
1. Tidak senang pada yang ditulisnya. Solusi: tulislah yang anda senangi, kalau anda harus cari uang dari menulis yang tidak anda senangi, cobalah kompromi dan gali info lebih dalam.
2. Hambatan psikologis. Solusi: penulis profesional pun sering mengalami hambatan psikologis, terutama kalau habis “bersengketa” dengan produser, manajer, editor, scripteditor, klien, dll. Yang terbaik, duduk bersama pihak yang bermasalah dan menyelesaikan urusan dengan sejelas-jelasnya.
3. Gangguan Sekitaran. Solusi: gangguan menulis bisa bermacam-macam; internet, komunikasi, teve-music, orang tersayang, hobi, dll. yang membuat anda tergoda untuk berhenti menulis. Sementara waktu, singkirkan atau jauhi itu semua dan menulislah dengan fokus.
4. Kehilangan sikap antusias. Solusi: cobalah break dari pekerjaan menulis sejenak, olahraga, menekuni hobi, dll. agar kembali semangat dan antusias dalam menulis.
5. Rasa takut. Solusi: sadarilah, anda bukan JK Rowling, bukan John Grisham, anda adalah anda dengan segala kelebihan dan keunikan anda dalam menulis.
6. Tidak ada mood. Solusi: berhenti memikirkan mood, buatlah outline dan menulislah secara fokus.
7. Meniru teknik orang lain. Solusi: cari tahu teknik menulis yang paling nyaman versi anda, lalu setialah dan tidak usah mengikuti gaya penulisan orang lain.
8. Tidak ada ide. Solusi: mengembangkan kehidupan intelektual dan emosional dengan membuka diri terus-menerus untuk ide-ide baru dan terus belajar. Hayaaa, sekarang ada banyak AI yang bisa kita gunakan untuk membantu memantik ide dan imajinasi.
9. Data tidak valid. Solusi: miliki data yang akurat dengan penelitian terencana agar fiksi anda valid. Gunakan berbagai aplikasi atau piranti pendukung yang membantu. Ini akan mengurangi kesalahan dari masalah data tidak valid.
10. Merasa tidak tahu harus menulis apa. Solusi: putuskan saja untuk tetap menulis, menulis apa saja dan jalan akan terbuka. Sekarang ini dengan bantuan AI pun bisa membantu menulis. Menulis pun jadi lebih mudah.
Semoga uraian ini membantu mengatasi writer’s block anda. Setiap penulis punya cara yang berbeda. Jadi, coba cari tahu masalah anda dan temukan solusinya untuk anda gunakan secara konsisten.
Gambar sekedar ilustrasi. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
1. Jadi ghostwriter atau menulis biografi memang jalan cepat dapat duit banyak dari menulis. Tapi ya ini dapatnya nggak selalu mudah. Cari kliennya sulit sulit gampang. Tapi kalau sekali dapat, biasanya terus saja. Nah, saya tidak tahu bagaimana cara memilih klien untuk ghostwriter atau biografi, karena setiap kali beda orang beda model pendekatannya.
2. Yang jelas kalau manajer saya oke, umumnya saya oke saja. Tidak banyak keribetan. Baru kalau manajernya setengah yakin setengah enggak, saya perlu bertemu dan bisa lihat niy orang masalah apa enggak.
3. Eh yang namanya masalah klien itu nggak cuma urusan sulit atau nggak bayar lho. Klien beribet revisi bongkar bongkir materi itu juga problem yang bikin emosi jiwa. Klien sulit diajak kompromi, itu juga keribetan.
4. Jadi dalam model kinerja apapun, yang berkaitan dengan ghostwriter dan biografi, pastikan anda senang pada orangnya (kliennya), senang pada materinya, dan asyik duitnya juga. Atau ya pertimbangkan sesuai keperluan anda. Kalau tidak, jangan sekali-kali memaksakan nanti makan hati; bisa langsing mendadak 😂 Meskipun ada banyak penulis yang karena pertimbangan harga tinggi lalu mengabaikan lainnya. Saya wes emoh begitu, berat ujiannya. Karena versi saya kerja menulis, saya pun kudu senang dari awal.
5. Ada model-model klien yang tak terduga yang mungkin tidak saya kenali. Tapi kalau sepanjang semua oke oke saja, ya tidak apa. Meskipun mungkin ada banyak karakter orang yang tidak seide dengan pikiran saya.
6. Yang penting Teman-teman, jangan terima klien karena terpaksa. Sengsara nanti. Karenanya kalau jadi penulis harus bagus mengatur keuangan agar tidak ada alasan terima klien semata mata karena uang.
7. Menulis bukan tukang ketik. Anda harus pake otak; pikiran, hati, energi, waktu dll yang tidak sedikit. Kalau nggak senang nggak ikhlas, percayalah anda hanya akan terbebani 2x atau 3x dari energi yang semestinya sudah cukup untuk merampungkan satu buku. Jadi pilih pilih klien itu penting agar oke semuanya.
Gambar hanya sebagai ilustrasi. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Menjadi penulis lepas (freelance writer) atau lebih sering disebut “freelancer” terlihat sangat menyenangkan, karena hidupnya santai-santai saja. Yach, begitulah bagi mereka yang sudah tahu ritme kerjanya. Hidup akan mudah dan banyak hal bisa dilakukan. Namun tidak cukup mudah bagi mereka yang tak punya disiplin pribadi dan komitmen.
Hal-hal berikut ini dapat jadi pertimbangan, bagi mereka yang mau total berkarir sebagai freelance writer. Selain seru-serunya jadi freelancer, sebenarnya di dalam industri kreatif ada banyak “ruang gelap” yang tidak seglamour dan seindah yang dipikirkan orang.
1. Milikilah KEMAMPUAN MENULIS yang bagus. Itu syarat wajib untuk menjadi penulis lepas, tak peduli jenis tulisan apa yang paling anda kuasai.
2. Cari MEDIA tulis yang paling anda sukai. Ada banyak jenis penulis; ia bisa menjadi penulis di media (koran dan majalah), buku (penerbitan) dengan berbagai jenisnya, penulis iklan, penulis script tv dan film, penulis untuk blog dan web, penulis platform, dll.; tiap orang punya spesifikasi dan kesenangan yang berbeda. Tetapkan media anda, dan totallah di sana. Jangan serakah. Jangan mencoba semuanya dalam waktu bersamaan, hasilnya tak akan maksimal.
3. REALISTIS dengan dunia penulisan. Menulis memang menyenangkan, tetapi di balik itu juga ada banyak masalah; deadline, naskah tak kunjung kelar, writer block, honor tak kunjung cair, royalti yang dikemplang penerbit, produser yang jail, revisi berulang-ulang, kebebasan berkarya yang dipangkas habis oleh industri kapitalis, dll.
4. PROFESIONAL. Percayalah, rata-rata penulis memiliki tingkat “ego” yang sangat tinggi. Diperlukan kebesaran hati untuk menyadari bahwa anda telah masuk industri. Di dunia industri berarti harus siap kompromi dengan ide yang tidak sejalan, waktu yang terbatas, menuruti kata klien (PH, penerbit, media, pihak ketiga, aturan platform) yang sebenarnya tidak cocok dengan kata hati, dll. Begitu anda menerima pekerjaan, kooperatiflah dan jangan mengedepankan ego anda. Sering kali pihak ketiga itu sangat “kejam” dan “membantai” karya yang sudah anda tulis dengan sepenuh hati. Kompromi saja dengan menyelipkan di berbagai tempat “nilai-nilai” yang anda inginkan.
5. Tahan MENTAL. Kalau anda tak punya mental baja menghadapi cercaan, kritikan, permintaan revisi berulang, tengah malam sedang tidur nyenyak digedor pintu untuk revisi script, dll. sepertinya anda tidak pas untuk jadi freelance writer. Cari saja pekerjaan lain yang bisa menggaji anda bulanan, masuk kerja nine to six sabtu minggu libur tiap bulan gajian. Aman dan tak perlu jungkir balik dengan berbagai situasi pekerjaan yang sering unpredictable seperti di industri kreatif.
6. Tidak ada bayaran untuk PENELITIAN. Tulisan tertentu harus dikerjakan dengan riset. Untuk para freelancer, itu sudah jadi tanggung jawabnya dan tidak ada bayaran lagi. Jadi pastikan kalau anda menulis yang memerlukan riset, honor yang anda minta sudah termasuk biaya penelitian. Ini bukan jenis pekerjaan dosen atau peneliti negara yang penelitian pun dibayar dengan cukup.
7. Perjanjian TERTULIS. Umumnya tiap kerja sama, ada perjanjiannya, meskipun dengan tulisan tangan. Pastikan saja semuanya benar dan sesuai. Termasuk pembayaran yang biasanya sering jadi gegeran di belakang. Pastikan pekerjaan anda sudah dibayar selesai saat anda menyelesaikan pekerjaan atau sesuai perjanjian. Untuk berjaga-jaga saja. Saya pribadi, karena sebagian besar sudah klien lama, jadi sudah tahu sama tahu. Kalau orangnya masih itu-itu saja, ya biasanya semuanya berjalan lancar dan baik.
8. Masalah HAKI Dalam penulisan tertentu kita mungkin harus mengambil HAKI milik orang lain, pastikan jelas pengalihannya dengan perjanjian agar tidak menimbulkan masalah di kemudian hari. Ada banyak perizinan pengalihan hak yang cukup dengan surat permohonan tanpa bayar. Tapi ada beberapa yang bersifat komersial dan harus diganti. Itu semua menjadi urusan penulis yang mengerjakan proyek, bukan urusan klien yang memberi pekerjaan.
9. Masalah HONOR Dalam dunia freelancer tak ada yang baku soal honor. Bisa saja untuk tulisan dua lembar anda dibayar 200 juta, tapi untuk berlembar-lembar buku anda dibayar 20 juta. Ada saja cerpen 5 lembar penulis dibayar 2 juta, tapi untuk penulis yang lain hanya dapat 100 ribu, ada penulis script dibayar 700 juta sekali film, ada yang baru 10 juta untuk satu script film, dst. Semua tergantung kualitas penulisan, klien, penulisnya, negosiasi, jenis deadline, tingkat kesulitan, media, dll. Jadi luwes sajalah, kompromi dengan berbagai harga. Penulis yang bawel, itung-itungan, pasang harga, biasanya sulit dapat job. Fleksibel saja, tidak usah pasang tarif. Biasanya klien sudah mengerti sendiri berapa seharusnya membayar. Hanya pastikan semuanya jelas sejak awal agar tidak gegeran di belakang yang merusak hubungan baik.
10. Menguasai BAHASA INTERNASIONAL Tak dapat dipungkiri, penulisan adalah industri kreatif yang dibutuhkan seluruh dunia. Begitu anda memiliki skill menulis, menguasai bahasa internasional (bahasa Inggris), lebih bagus bila didukung bahasa asing dominan lain seperti Mandarin, Jepang, dll; maka anda akan menguasai dunia penulisan dengan mudah. Anda bisa menulis untuk berbagai jaringan media internasional.
Yach, menjadi freelancer harus kuat, belajar terus, sekolah terus, memperbaiki kualitas tulisan secara terus menerus. Kalau mandeg, sesungguhnya anda telah mematikan sumber penghidupan anda sendiri. Jadi, jangan hanya puas hanya jadi penulis. Kalau penulis ya harus penulis yang berkualitas. Seperti nasihat mantan bos saya, kalau kita menulis dan berkarya dengan kapasitas terbaik, reward baik uang atau penghargaan akan datang sendiri tanpa perlu kita kejar.
Happy Writing, be a Good Writer 🙂 Ari Kinoysan Wulandari
Gambar hanya sebagai ilustrasi. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Bagi freelancer, target dan deadline itu sudah jadi keseharian. Ada masanya target sangat banyak dan deadlinenya begitu ketat. Dalam kondisi prima; semua material oke, kayaknya tidak ada masalah. Apalagi kalau rate fee nya juga tinggi 😀
Saya berguru pada banyak orang tentang menulis dan hal yang berkaitan dengan industrinya. Sekali waktu saya bertemu mentor yang sangat high pressure terhadap to do list. Setiap siswa dikenai to do list yang panjang untuk diselesaikan tepat waktu. Tercapai target? Yes. Happy? Tentu saja, saya tidak happy.
Saya pribadi jenis orang yang moody. Kalau males nya kambuh bisa sebulan lho do nothing yang berkaitan dengan kerja menulis. Sehari-hari saya tetap beraktivitas, mencatat pengalaman atau kisah-kisah yang saya temui. Bagaimana dengan target dan deadline saya?
Saya sudah sejak lama tidak pake to do list yang bikin tidak happy. Dalam kerangka kerja tahunan, saya melihat target dan deadline. Ada yang panjang, menengah, pendek. Itu saja yang saya catat lalu bekerja dengan sederhana.
Setiap hari saya melangkah kecil sedikit demi sedikit. Menulis, membaca, nonton, menganalisis, mendiskusikan, mengedit, menyempurnakan naskah. Kapan saja bisa diinterupsi atau dijadwal ulang. Yang tidak bisa dijadwal ulang kalau meeting, mengisi kelas, traveling-writing, dll program yang melibatkan pihak lain; apalagi dengan banyak orang.
Apakah target saya tercapai? Yes. Happy? Absolutly. Dan tidak kemrungsung, harus dari sini ke sini, begini terus begitu. Saya mengatur diri lebih pada bagaimana mengelola tanggung jawab dan kepercayaan. Dan saya pasti menulis, karena kalau tidak ada karya baru berarti tidak ada ATM baru 😍
Tiap orang punya role kerja yang berbeda. Temukan model kerja anda dan jangan berpikir itu buruk karena tidak sesuai dengan model manajemen. Yang terpenting target dan deadline anda terpenuhi.
Versi saya bekerja sedikit demi sedikit dan happy itu hasilnya lebih baik daripada bekerja di bawah tekanan deadline. Hehe… cek lagi deh target dan deadline, serta cara kerja anda. Kan sedih juga kalau malah bikin to do list yang cuma dilist tidak di-to-do! 😂
Gambar hanya sebagai Ilustrasi. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari
Saya menuliskan ini, karena menjawab pertanyaan salah satu warga grup WA Penulisan yang saya buat. Tentang Sertifikasi Penulis yang lagi banyak komentar (lagi) belakangan ini. Antara pro dan kontra dengan sejuta alasan dan pendapat masing-masing. Sah-sah aja, berbeda pendapat itu soal biasa. Apalagi di dunia kreatif. Beberapa hal yang ingin saya catatkan di sini:
1. Sertifikasi Penulis itu bukan issue ya. Ini sudah ada sejak sebelum 2018. Sejak itu semua pihak yang berkepentingan dan berkaitan, beributan dan konflik intrik polemik pun terbangun dengan adanya Sertifikasi Penulis dll pekerja kreatif; yang nggak murah tapi celakanya tidak mengcover mereka yang beneran mumpuni di bidangnya.
2. Saya mengikuti Sertifikasi Penulis tahun 2020 dan karena hanya 3 tahun masanya, serta karena tidak ada apapun yang saya peroleh dari Sertifikasi itu, saya tidak mengikuti lagi. Lha duit jutaan lebih (demi kertas yang versi saya nggak nambah untung) mending duitnya saya pake piknik
3. Bahwa saya tidak sepakat dengan Sertifikasi itu urusan pribadi. Karena toh inisiator, penggiat, pelaku, pekerja, dan mereka yang dapat ratusan milyar dari proyek Sertifikasi itu yo kawan kawan saya juga. Bahkan mereka bergembira bahagia karena terima duit-duit sebagai bagian dari kinerja Sertifikasi itu; mulai dari asesor, pengajar pra kerja, admin admin, penyelenggara, mentoring, dll. Cari aja cerita-cerita bahagia mereka karena duitnya segunung dengan penyelenggaraan sertifikasi itu. Bagi saya pribadi, berbeda pendapat dan haluan itu soal biasa.
Anda boleh kok nggak ikut Sertifikasi kalau bekerja penuh menulis di industri kreatif yang nggak berurusan dengan pemerintah. Karena ya sungguh konyol berbagai hal yang berkaitan proyek penulisan dengan pemerintah kudu wajib Sertifikasi. Termasuk mereka yang ikut beragam penulisan buku sekolah, PT, buku referensi yang didanai pemerintah. Lha kalau nggak punya Sertifikasi? Ya nggak usah ikut Tapi duitnya 20 an juta per buku Bu Ari… Nah kalau begitu yo meluwa ikutlah Sertifikasi. Nggak usah ribut.
5. Versi saya selembar Sertifikasi tidak mengcover semua dari mereka pekerja kreatif yang mumpuni. Lha saya pas tes saja asesornya nulis buku baru beberapa dan saya yo embuh nggak tahu kok… piye jalll… (hanya karena dia itu punya Sertifikasi asesor yang chargenya juta-jutaan itu) Ini juga terjadi di dunia skenario, editor, kameramen, sutradara, dll. Jadi santai saja kalau nggak mau ikutan Sertifikasi. Yo jangan provokasi menolak beribut. Karena setidaknya ada Sertifikasi mengurangi karya-karya yang di bawah standar yang dibiayai pemerintah. Coba baca aja buku buku yang dirilis pemerintah untuk SD, SMP, SMA, pun PT di masa lalu kualitasnya masih embuh dan itu milyaran dananya. Semoga dengan Sertifikasi itu rada mengurangi kebobrokan literasi kita.
6. Jadi saya nggak membahas apapun ketika beributan isu banyak yang menolak Sertifikasi… ya karena ini. Kalau kamu perlu ikutlah, kalau nggak yo wes sini piknik atau nulis saja sama saya
7. Di waktu saya mengikuti Sertifikasi itu, saya pikir nantinya kami ini akan secara otomatis mendapatkan porsi pekerjaan penulisan dari pemerintah bekerja sama dengan Penerbit sesuai major atau bidang yang disertifikasikan. Ternyata enggak tuh.
Mereka yang mo ikutan proyek penulisan pemerintah, masih kudu seleksi administrasi, coaching, dll proses yang jelas lebih ribet daripada sekedar menulis dan menerbitkan buku. Dapat dananya berapa? Range antara 8 sd 50 juta per buku (CMIIW). Tentu saja peminatnya yo membludak melihat angka perolehannya untuk tiap naskah; dibanding katakanlahdi Jogja 1 naskah bisa hanya dihargai 1.5 juta saja. Hei, tapi itu jelas bukan kerja seminggu, berbulan-bulan dan beribet proses yang nggak sederhana. Gayanya saja mereka kayak plesiran piknik di hotel dengan dana pemerintah, yang diambil juga dari bagian pajak-pajak royalti dan buku-buku saya
8. Asesor asesor yang versi saya hanya sekedar punya karya dan ikutan tes dengan charge jutaan itu, mestinya diganti dengan mereka yang direkomendasikan oleh Industri Kreatif, baik Penerbit , PH, dll yang berkaitan; tentang siapa yang layak jadi asesor dan bukannya asal ikut Sertifikasi Asesor Ngenes tenan jadinya kualitas kreativitas kita kalau hanya berdasarkan ujian inyik-inyik bayar lalu bergelar asesor.
Percayalah, gawe disertasi saya di S3 Linguistik FIB UGM itu jauh lebih ekstrem sulitnya daripada sekedar ujian asesor lalu mereka merasa berhak meluluskan atau tidak meluluskan mereka yang mau Sertifikasi Penulis. Nalar logikanya pun nggak jalan di otak saya.
Sekali lagi pro kontra itu biasa. Saya sebagai pribadi nggak memerlukan Sertifikasi Penulis; tapi kalau Penerbit, Media, PH, Sponsor, Klien tempat saya bernaung kerja memerlukan keberadaan Sertifikasi Penulis itu untuk kelangsungan proyek tertentu, pasti saya akan ikuti. Tentu mereka harus sembodo mbayari. Semoga menambah wawasan. Ora usah ribut gegara selembar Sertifikasi. Sertifikasimu bejibun kalau kamu nggak menulis, nggak punya karya yang dijual massal secara bebas; pada hakikatnya di industri kreatif kamu tidak dianggap sebagai penulis, atau pastinya kamu bukan seorang penulis. Naaah….!
Series Panduan Penulisan yang Praktis. Pesan buku cetak bisa wa.me/6281380001149
Promosi buku di media sosial (medsos) adalah strategi yang sangat efektif untuk mencapai audiens yang lebih luas dan membangun komunitas pembaca yang aktif. Sering kali kita sebagai penulis buku merasa enggan untuk mempromosikan karya sendiri.
Hal yang paling sering terdengar saat saya mengajak para penulis buku untuk mempromosikan karya, mereka menolak dengan beragam alasan. Mereka beralasan kalau posting buku atau karya mereka di sosmed, minim tanggapan, nggak ada like, tanda cinta, apalagi komentar. Bahkan sering kali dilewatkan begitu saja.
Padahal sejatinya nggak ada identitas jejak yang tertinggal itu bukan berarti mereka (kawan-kawan dan followers kita di sosmed) itu nggak baca. Mereka mungkin nggak memerlukan atau postingan itu nggak berkaitan dengan sama kepentingan mereka. Tapi dengan promosi, menshare kenalkan karya kita, sekurangnya itu akan mereminder kawan-kawan dan followers bahwa kita itu ada lho. Dan kita nggak sekedar hidup, tapi juga punya karya. Itu…!
Saya pribadi nggak berambisi bahwa setiap postingan akan direspon dengan baik. Tugas saya selesai ketika sudah memposting, menuliskan sesuatu yang versi saya harus dishare. Termasuk promosi buku.
Masalah apakah nanti direspon, ada transaksi, ada permintaan-permintaan lain; itu sangat tergantung pada rezeki masing-masing. Usaha wajib, doa harus, rezeki itu urusan Tuhan yang bagi-bagi. Tapi toh, semua pasti percaya bahwa rezeki itu selalu ada sebab musababnya karena kita semua manusia biasa. Bukan manusia sekelas nabi yang setiap doa terangkat langsung dijawab sempurna.
Jadi, ini ada beberapa tips yang biasa saya lakukan untuk promosi buku di sosmed. Santai saja, nggak usah punya target ini itu. Ntar hidupmu tambah mumet. Nulis saja sudah nggak mudah, hidup banyak urusan, lha kok ketambahan target njelimet. Kapan bahagiamu?!
1. Buat Postingan yang Menarik
Rencanakan postingan yang menarik dan bervariasi. Sertakan cuplikan buku, kutipan menarik, dan informasi unik tentang proses penulisan.
Gunakan visual yang eye-catching seperti desain grafis, video pendek, atau ilustrasi untuk menarik perhatian pembaca potensial.
2. Gunakan Hashtag Khusus:
Ciptakan hashtag khusus untuk buku Anda. Hal ini membantu dalam melacak interaksi dan memudahkan pembaca untuk berpartisipasi dalam percakapan tentang buku tersebut.
Manfaatkan hashtag yang populer di komunitas buku atau industri penerbitan untuk meningkatkan jangkauan dan kehadiran buku Anda di platform medsos.
3. Bangun Komunitas Pembaca:
Buat grup atau halaman khusus di media sosial untuk membahas buku Anda. Hal ini memungkinkan pembaca berbagi pendapat, memberikan ulasan, dan saling bertukar ide. Yang bisa saja anda lakukan. Sekali lagi, nggak usah memaksa. Tapi kalau niat serius, pasti ada banyak postingan tentang buku.
Lakukan acara live chat, tanya jawab, atau diskusi online secara berkala untuk berinteraksi langsung dengan pembaca. Ini wes sering saya lakukan saat mengisi workshop, talkshow, diskusi buku, bedah buku, dll.
4. Manfaatkan Platform Visual:
Gunakan platform visual seperti Instagram atau Pinterest untuk berbagi visual menarik tentang buku Anda. Posting gambar sampul, ilustrasi, dan foto terkait buku dapat memancing minat pembaca.
Buat teaser trailer buku atau video singkat yang memberikan gambaran tentang isi buku dan mempromosikannya di platform seperti YouTube atau TikTok. Tentu kalau Anda punya akun nya ya… Kalau nggak punya, yo ndak apa-apa. Saya juga nggak ada akun ini.
5. Lakukan Giveaway atau Kontes:
Promosikan buku Anda dengan mengadakan giveaway dengan cara peserta harus melakukan beberapa tindakan seperti mengikuti akun, membagikan posting, atau menandai teman. Ini dapat membantu meningkatkan visibilitas buku Anda di media sosial.
Selenggarakan kontes menulis atau fan art terkait buku untuk melibatkan pembaca secara kreatif dan membangun komunitas yang lebih kuat. Pokoknya pilih-pilih cara yang Anda bisa dan tentu saja Anda harus senang melakukannya.
6. Berkolaborasi dengan Influencer atau Blogger Buku:
Identifikasi dan ajak kerja sama dengan influencer atau blogger buku yang memiliki pengikut yang relevan dengan audiens target Anda.
Minta mereka untuk memberikan ulasan atau mengadakan sesi tanya jawab tentang buku Anda. Rekomendasi dari sumber yang terpercaya dapat meningkatkan kepercayaan pembaca.
7. Gunakan Pengiklanan Berbayar:
Manfaatkan iklan berbayar di platform medsos, seperti Facebook Ads atau Instagram Ads, untuk meningkatkan visibilitas buku Anda di antara audiens yang lebih besar.
Sesuaikan target iklan Anda agar mencakup demografi dan minat yang sesuai dengan pembaca potensial. Ini karena iklan berbayar, hitung-hitung pengeluaran dan pemasukan Anda dari transaksi jual beli buku ya…
8. Perbarui secara Konsisten:
Aktiflah di media sosial secara konsisten dengan posting yang terjadwal. Jangan hanya mempromosikan buku, tetapi juga bagikan konten yang relevan dengan minat pembaca Anda, seperti berita industri, ulasan buku, atau tips menulis.
Tanggapilah dengan cepat terhadap komentar, pertanyaan, atau ulasan dari pembaca. Interaksi yang aktif dapat meningkatkan keterlibatan dan kepercayaan.
Hayaaa…. Responden saya hampir nggak ada kalau saya posting buku dll yang berkaitan; toh tetap ada transaksi-transaksi buku dll sekitarnya. Tapi kalau piknik, dolan, makanan, horror, dll kisah drama kehidupan, tahu-tahu responnya banyak… ya kita ambil di tengah-tengah agar semua senang. Win win solution.
9. Gunakan Analytics:
Manfaatkan alat analitik yang disediakan oleh platform medsos untuk melacak kinerja kampanye promosi Anda.
Evaluasi metrik seperti interaksi, jangkauan, dan konversi untuk memahami apa yang berhasil dan membuat penyesuaian yang diperlukan di masa mendatang. Ini agak mumet, Anda bisa belajar dari pakar. Saya mengerti tapi agak kesulitan kalau harus menjelaskan pada orang lain.
10. Lakukan yang Bisa:
Ada banyak cara orang untuk mempromosikan buku atau karyanya di medsos. Mumpung medsos kita free dan boleh posting apa saja, meski dengan beragam aturan dan ketentuan dari platform yang harus kita patuhi.
Lakukan yang bisa. Pilih-pilih yang menurut Anda bisa dan mampu dilakukan dengan beragam kesibukan yang lain. Hal terpenting adalah anda mempromosikan buku atau karya anda, sesuai dengan gaya dan cara masing-masing. Tanpa itu, percayalah sedikit demi sedikit keberadaan kita bisa hilang begitu saja.
Pun, Anda nggak harus memaksa untuk memakai semua jalur promosi. Karena terlalu banyak promosi, akan menambah charge atau pengeluaran. Akan baik-baik saja kalau buku anda laris manis, tapi kalau tidak, anda bisa nyesek sendiri lalu patah semangat dan nggak mau promosi lagi.
Prinsip saya untuk semua hal yang harus saya lakukan: sedikit demi sedikit dan terus menerus saja. Sebisanya. Semampunya. Terlebih kalau promosi anda tidak disokong dana pihak lain, alias kudu bayar dhewe.
Dengan merencanakan dan melaksanakan strategi promosi di media sosial dengan cermat, Anda dapat membangun kehadiran buku Anda secara efektif, meningkatkan penjualan, dan memperkuat hubungan dengan pembaca.