Wonderful Umroh (19) Singapura, Negeri Jiran yang Pingin Saya Tinggali

Salah satu kampus di Singapura. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Usai makan minum, saya berdoa dan sholat di pesawat. Meminta air pada pramugari dan kembali tidur. Beneran tidur yang nyenyak. Bangun lagi untuk makan snack dan sholat. Tidur kembali sampai terdengar pemberitahuan pesawat hendak mendarat. Changi, Singapura.

Karena tidur saya tidak tahu apa yang terjadi di kiri kanan saya selama di pesawat. Begitu turun dan masuk areal bandara, saya langsung izin ke toilet. Bebersih badan, ganti baju, dan kembali ke rombongan. Badan saya terasa lebih bugar dan fresh.

Keributan jamaah perkara haus nggak diberi air minum masih saya dengar. Saya mengarahkan mereka untuk ambil air minum yang ada di bandara.

Saya melewati imigrasi rada lama. Di sini imigrasinya sudah otomatis; tinggal scan paspor, foto, sidik jari, dan keluar. Karena badan saya yang belum tinggi itu 😅 kamera otomatis tidak bisa mengidentifikasi keseluruhan wajah saya. Pas berangkat ada petugas, jadi kamera langsung disetel lebih rendah. Kali ini nggak ada petugas. Saya ke office nya, baru kamera disetel seukuran tinggi badab saya dan bisa keluar dari imigrasi. Heish, besok-besok pakai sepatu hak tinggi ya, Ri 😂😅

Kami dijemput TL Singapore, Pak Rusli dan Mbak Mayra. Dibawanya kami ke areal Jewel Changi. Agak lama juga kami di sana. Saya siy happy saja.

Negeri yang nggak ada separohnya kota Surabaya ini, adalah Negeri Jiran pertama yang di tahun 2006-2007 bikin saya jatuh cinta untuk tinggal.

Negeri yang bersih, rapi, tertib, dan cantik. Sempat terpikir kalau biaya hidup di sini setara Jakarta saja, saya wes sejak lama pindah kewarganegaraan.

Sayang, biaya hidup di sini sangat mahal. Kalau Jakarta biaya hidupnya 6-10x biaya hidup di Jogja, maka Singapura 6-10× biaya hidup di Jakarta.

Kalau ada transit internasional; saya lebih memilih Singapura daripada bandara lainnya. Singapura memberi gambaran pada saya tentang tata kota yang sangat efektif.

Lepas dari Jewel, kami menuju restoran Padang sekalian sholat Dhuhur. Saya kira dengan budget yang sangat ringan di Dewangga itu, city tour Singapura akan berlangsung singkat, makan dengan nasi box dan tidak menginap. Ternyata enggak.

City tour seharian sampai jam 8 malam. Makan siang tersaji model orang Padang makan dengan aneka menu di meja. Masih menginap semalem di hotel yang bagus di areal wisata, masih dapat nasi box makan malam dan nasi box sarapan keesokan paginya.

Biyuuu… wes hitunglah sendiri itu… saya merasa ini bonus berlimpahan. Kalau sampeyan biasa jalan atau traveller, westalah bisa menghitung sendiri charge wisata hari itu. Terlebih Singapura bukan tempat yang murah untuk jalan-jalan.

Dari makan siang, kami ke Merlion Park. Tempat patung singa mancur😆😅 (istilah saya sendiri), ikon Singapore yang wes bertebaran di mana mana. Konon nggak ke Singapura kalau kamu nggak foto di situ. Karena wes bolak-balik ke Singapura, saya malahan banyak eksplore sudut-sudut yang sepi pengunjung. Menikmati Singapura dari sisi yang lain.

Usai dari sana, kami ke Universal Studio. Wes, gembira betul saya. Berkeliling dan foto-foto seolah nggak berasa lelah lagi kaki saya. Alhamdulillah. Sebagian kami ada yang belanja belinji. Boneka, sovenir, kaos, dll. Sampai malamlah kami baru keluar areal itu.

Sekitar jam 8 kami tiba di hotel. Pembagian kunci kamar (sekamar berdua) dan nasi box untuk makan malam. Beberapa dari kami masih shopping di sekitaran hotel setelah memasukkan bawaan ke kamar.

Masalah muncul saat saya tahu, kawan sekamar saya (sebut saja Bu J); selain tidurnya mendengkur, harus lampu terang, AC pun harus mati. Pengap sesak rasanya di saya; sementara dia tidur sesengguran mendengkur.

Saya masih belum bisa tidur, ketika Bu J ini bangun dan bolak-balik ke kamar mandi. Lalu dia bilang mau ke sebelah (kawannya ada di kamar sebelah). Nggak lama Bu J balik lagi. Kelihatan resah dan tidak nyaman.

Saya tanya kenapa, Bu J bilang masuk angin. Biasanya dikerok. Saya menawarkan diri mengerokinya. Lama itu sampai sekujur punggungnya merah-merah, lalu dia muntah-muntah. Saya memberinya air minum dan kelihatannya setelah itu dia lebih tenang. Saya menyuruhnya tidur agar cepat sehat.

AC saya nyalakan dengan temperatur paling panas agar tidak pengap. Pas Bu J sudah tidur, saya turunkan ke level dingin.

Baru saja saya tertidur, badan saya sudah diguncang-guncang dengan keras. “Ayo Bu Ari, berangkat. Nanti kita telat!”

Saya melek dan melihat HP, belum jam 2 dini hari. Astaga…!

“Bu, kita keluar kamar jam 4. Boarding jam 7. Nanti saya bangunkan!”

Saya berusaha tidur lagi, tapi wes nggak bisa. Mung bisa scrolling HP sampai pagi. Wes, beneran gangguan tidur. Pagi-pagi saya mandi dan bersiap-siap. Jam 3 lewat saya wes keluar kamar. Membantu ibu ibu yang beribetan ngisi form beacukai, kesehatan, imei.

Kami mendapatkan nasi box lagi pagi itu saat keluar kamar hotel. Tapi saya taruh saja karena rasanya masih kenyang dan ke Jogja nanti sebentar saja, bisa langsung cari makan di YIA.

Begitu masuk pesawat, saya tidur. Membayar gangguan tidur di kamar hotel. Saya bangun ketika sudah mendengar pemberitahuan pesawat hendak mendarat di YIA.

Alhamdulillah, Jogja. Begitu seru saya pas keluar dari pesawat. Proses imigrasi lumayan gampang. Saya nggak bisa langsung pulang. Kudu nungguin bagasi dan air zamzam yang sedang diurus TL.

Ealah, di sini lho sudah mau pulang itu, kami masih diberi nasi box lagi. Alhamdulillah. Niy Dewangga beneran mantap kok support layanannya.

Kali ini saya makan, karena ya wes lapar terus masih rada lama nungguin bagasi. Selesai makan, pas adik saya wes menjemput dengan mertua dan dua tetangganya. Ponakan saya si Mail nanti kami samperin saat mau balik.

Alhamdulillah. Saya pamitan pada semuanya. Saya wes nggak ngelihat keberadaan Bu X. Embuh nggak tahu ke mana. Seinget saya, Bu X juga mo ikut bus rombongan Dewangga yang balik ke kantor.

Saya sempat bilang Bu B kalau foto-foto Bu X di HP saya (yang kalau minta fotonya maksa dan nggak mau pake HP nya sendiri) sudah saya kirim semua ke nomor Bu X. Mbok ya respon oke ajalah kalau nggak mau terimakasih. Bu B bilang, “Kalau Saya takbuang delete saja, Bu Ari. Dia aja nggak peduli kok.”

Saya cuman tersenyum, sebelum mengekori adik saya yang mendorong troli isi barang barang dan bagasi bawaan saya. Mungkin benar kata orang, saya terlalu baik…

Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us:

Wonderful Umroh (18) Lagi-lagi Bawaan Pating Cerentel

Bandara Jeddah. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Perjalanan dari toko pasar murah ke bandara mestinya hanya 40-60 menit saja. Karena hari itu macet total, kami baru tiba di bandara Jeddah setelah perjalanan 3 jam. Saya mengingat betul, Ustad Sule bersyukur begitu kami sampai bandara. Kalau sampai telat, 40 tiket itu jelas harus diganti untuk kepulangan. Padahal kami belum check in bagasi, imigrasi, dll.

Saat turun dari bus inilah, ketahuan kembali tipikal ibu-ibu yang bawaannya pating cerentel tas kresek. Termasuk Bu X, si emak rempong. Bawa tas selempang, koper kabin, tas kresek lebih dari empat.

Seingat saya, sejak pagi saat diminta packing untuk kepulangan, Bu B wes ngingetin Bu X agar nggak bawa cerentelan tas kresek yang merepotkan. Tapi ya gitulah masih berulang lagi.

Dan karena terakhir sebelum masuk bus itu belanja, saya pun memaklumi kalau bawaan tas kresek ibu-ibu (juga bapak-bapak) beranak pinak.

Ustad Jordan meminta semua jamaah yang bawaannya pating cerentel itu mempacking ulang di bagasi besar atau wrapping agar bisa masuk bagasi bawah. Toh ya namanya ibu-ibu, paling emoh to kalau diminta tambahan keluar duit ini itu, meskipun itu ya gegara dia sendiri yang belanja over.

Ustad Jordan dibantu petugas Dewangga menyisihkan koper-koper yang sudah aman; tidak dibuka-buka lagi; dan koper yang masih ditata ulang pemiliknya. Suwe itu, makan waktu sejam lebih sebelum akhirnya semua koper ditata di depan areal check in.

Kalau pas berangkat koper kabin bisa diikutkan di bagasi bawah, pas pulang tidak bisa. Bagasi masing-masing jamaah tambah 5 liter air zamzam dan pasti kopernya juga sudah makin menggendut karena belanjaan.

Saya bae berangkat nggak sampai 20 kg, tapi dengan oleh oleh kruncilan itu sudah pasti 25 kg. Pas lah jatah saya 30 kg dengan 5 liter air zamzam.

Kalau ibu-ibu masih beribetan dengan kopernya, sejak masuk areal bandara saya wes duduk anteng. Koper wes beres sejak keluar hotel. Backpack dan tas selempang yang saya bawa yo ringan saja.

Beres check in dll kami ke imigrasi. Gusti Allah Yang Maha Agung, itu lho emak rempong ya tetep aja dengan bawaan pating cerentel tas kreseknya dan nggak mau wrapping biar ringkas.

Dan ternyata Bu X salah ambil koper kabin pulak. Dia salah ambil punya orang. Koper punya dia masih tertinggal di sekitar areal check in.

Gusti… ya wes TL nya lagi yang balik ke areal check in. Orang lain (entah siapa, saya lupa) yang kopernya diambil Bu X nggak sadar, karena versinya dia sudah mengikutkan koper itu di bagasi bawah (padahal ya wes diberitahu koper kabin dibawa masing-masing). Westalah… salah paham geje. Tapi jelas si Bu X ini yang nggak teliti barang sendiri. Padahal tiap koper kan sudah ada namanya.

Saya cuman bisa geleng-geleng. Berat betul gaweyan TL dan Muthowib di grup rombongan umroh saya kali ini. Tiap sesi, ada aja yang bikin emosi jiwa. Beuh, kalau mereka nggak sabar itu wes pasti perang mulut dengan kelakuan yang nggak disiplin gitu.

Di saat antrian menunggu boarding, Bu X masih bikin ulah lagi. Sudah diberitahu kalau pergi, bahkan ke toilet pun harus izin dan sekurangnya berdua.

Eh, tahu tahu dia nyelonong pergi sendiri aja. Entah ke mana. Padahal toilet di sekitar kami itu ke arah kanan, tapi dia ke kiri. Saya yang melihat, meneriakinya tapi malas mengikutinya.

Satu jamaah laki-laki mendengar teriakan saya, langsung mengejar Bu X. Baru Bu X balik dan ke toilet yang diarahkan. Embuhlah orang kok angel betul diingatkan.

Saya baru merasa lebih lega ketika sudah duduk manis di pesawat. Kali ini saya wes memutuskan untuk tidur lebih awal, istirahat. Saya merasa lelah karena uyuk-uyukan pagi di areal Ka’bah; lelah emosi juga karena kelakuan Bu X yang masih aja mengganggu.

Bolak-balik saya istighfar untuk menetralisir energi negatif gegara emak rempong ini. Dan tahu-tahu saya wes tertidur. Terbangun saat bahu saya diguncang perlahan oleh pramugari, waktunya makan.

Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us:

Menghasilkan Tulisan Terbaik

Gambar hanya sebagai ilustrasi. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Tulisan terbaik tidak terlalu gampang untuk diwujudkan. Karya terbaik tidak lahir dari orang yang super. Publikasi seperti itu lahir dari mereka yang tekun dan berlatih terus menerus. Setiap waktu mau belajar untuk kemajuannya.

Membaca dan menulis tidak bisa dipisahkan bagi seorang penulis. Sekurangnya, untuk menghasilkan tulisan terbaik ada yang bisa kita lakukan:

  1. Baca karya-karya penulis besar.
    Dasar utama menulis adalah belajar langsung dari ahlinya, dengan membaca karya-karya mereka. Semakin banyak membaca semakin kaya kita akan teknik, cara menulis, hingga mengetahui konten-kontennya.
  2. Banyak menulis.
    Tidak bisa tidak, selain banyak membaca, harus banyak menulis. Menulis adalah keterampilan. Semakin banyak berlatih, semakin terampil semakin terasah.
  3. Catat ide.
    Jangan pernah melewatkan ide yang tampak sepele. Hal-hal besar sering dimulai dari hal kecil yang “tampak tidak berharga”. Tidak usah ribet deh, kalau tidak ada peralatan canggih, kertas dan bolpoin pun jadilah.
  4. Menulis sebagai “rutinitas”.
    Cari waktu, tempat, suasana yang tepat untuk menulis. Seperti sekolah itu lho. Masuk pagi, keluar jam istirahat, pulang jam berapa. Menulis juga perlu rutinitas biar terbiasa. Meski hanya 10 menit, kalau rutin misalnya sebelum berangkat kantor, setahun jadi naskah.
  5. Hilangkan semua gangguan.
    Matikan handphone, telepon, nonaktifkan socmed, bersihkan meja dan kamar kerja, pasang musik, dll. kalau dirasa mengganggu. Tapi kalau tidak, silakan saja. Tipikal penulis beda-beda. Ada yang di tengah kebisingan pun, tetap bisa menulis dengan tenang.
  6. Bikin rencana, tulis, dan selesaikan.
    Ini juga satu kesatuan, kalau sudah merencanakan, tuliskan dan selesaikan. Ada banyak pemula yang rencananya keren, tapi tak kunjung ditulis atau tak pernah diselesaikan. Butuh komitmen pribadi untuk menyelesaikan satu naskah.
  7. Revisi itu penting.
    Jangan percaya dengan draft pertama. Kita pikir sudah bagus, kalau pas dibaca pasti banyak bolong-bolongnya. Bijaksanalah. Revisilah karya sendiri. Kalau sudah yakin bagus, cari first reader, editor, atau siapa yang kita percayai untuk membedah karya kita menjadi “sempurna” dalam penilaian naskah.
  8. Menulis sesuai dengan percakapan.
    Banyak orang yang merasakan kesulitan menulis, karena mereka membedakan percakapan dan tulisan. Tulis saja seperti saat kita bicara pada orang lain. Ini akan memudahkan kita, dan juga menjadikan tulisan kita lebih “bersahabat”.
  9. Selalu gunakan kalimat dan paragraf sederhana.
    Kalimat singkat, sederhana, biasanya lebih mudah dipahami dan lebih diterima kalangan luas. Demikian pula dengan paragraf. Makin sederhana sesuatu biasanya makin universal, tetapi sekaligus makin tidak mudah membuatnya.
  10. Opening dan ending yang kuat.
    Kalau opening tulisan kita tidak mengikat pembaca, pasti ditinggalkan. Kalau ending kita tidak surprise, pasti dilupakan. Jadi, rajin-rajinlah belajar soal dua masalah ini agar tulisan kita tetap ditunggu pembaca setia.

Happy Writing, Be A Good Writer 🙂
Griya Kinoysan University
Ari Kinoysan Wulandari
Jadi Penulis Fiksi? Gampang Kok!
Jadi Penulis Skenario? Gampang Kok!

Please follow and like us:

Mulai Menulis Dari Mana?

Gambar hanya sebagai ilustrasi. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Sering banget merasa seperti pertanyaan di atas? Mulai menulis dari mana?

Padahal di otak seperti sudah begitu buanyaaak yang ingin ditulis? Anda bingung dan pusing?

Oke, saya juga lebih bingung dan pusing menjawab pertanyaan seperti itu.

Hehe…. lebih mudah praktek menulis daripada membuat teori menulis. Sebenarnya sederhana saja. Mulailah menulis dari:

  1. Sesuatu yang paling terpikirkan: misalnya keinginan untuk melakukan satu penelitian yang mendalam.
  2. Sesuatu yang anda sukai: misalnya senang makan bakso, oke…. tulis saja tentang bakso.
  3. Sesuatu yang jadi pertanyaan anda: misalnya mengapa saya sudah rajin belajar tapi nilai materi tersebut belum sempurna.
  4. Sesuatu yang jadi headline media: misalnya kenapa narkoba marak di kalangan artis.
  5. Sesuatu yang jadi pilihan teman sekitar: misalnya mengapa mereka memilih makan di kedai A yang kelihatannya lebih buruk dibanding kedai B yang lebih baik.
  6. Sesuatu yang jadi cita-cita: misalnya ingin keliling dunia dengan keluarga.
  7. Sesuatu yang jadi mimpi: misalnya semalam tidur mimpi ketemu nenek yang sudah meninggal.
  8. Sesuatu yang jadi hobby: misalnya membuat gambar fauna di Indonesia.
  9. Sesuatu yang jadi renungan: misalnya mengapa saya terlahir berbeda dengan orang lain, kenapa saya punya indera keenam yang lebih sensitif.
  10. Sesuatu yang jadi peristiwa hari itu: misalnya nonton konser jazz yang tidak biasa, kesasar di rumah hantu, dan lain-lain.

Intinya, ketika mulai menulis…. mulailah saja. Tidak usah mengeditnya. Tidak usah memikirkan terlalu mendalam.

Just write and let it flow…. tahu-tahu sudah sehalaman saja. Masalah kurang bagus, belum benar, ya biarkan saja.

Nanti kalau sudah selesai, baru deh kita edit-edit. Kita betul-betulin, mana yang salah, mana yang kurang, dan seterusnya.

Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us:

Wonderful Umroh (17) “Kalau Saya yang Nemuin Belanjaannya, Nggak Saya Balikin!”

Di salah satu sudut Museum Alamoudi. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Saya lupa persisnya jam berapa kami check out dari hotel Mekkah. Jelas sudah siang. Tujuan kami berikutnya ke museum, belanja oleh-oleh, dan ke bandara untuk balik ke Tanah Air.

Selain kasus permintaan tolong saya untuk memotretkan di museum yang tidak direspon dengan baik, tidak ada hal khusus yang bisa saya ceritakan.

Museum Abubker Alamoudi tentu semakin berbenah dari tahun ke tahun. Baik dari sisi koleksi maupun penataan dan layanannya. Jadi lebih menarik untuk dikunjungi.

Tahun 2017, saya tidak merasa ada guide dan penjaga di setiap koleksinya. Kini hampir setiap koleksi ada penjaga yang bisa dimintain motret dan menjelaskan segala hal dengan bahasa Indonesia. Luar biasa.

Selain itu, model penataan dari pintu masuk kita sudah dihadapkan pada kedai-kedai kecil yang isinya mayoritas “jajanan cemilan” orang Indonesia. Indomie, popmie, kue-kue, aneka minuman sachet, jeruk, buah segar, aneka souvenir, dll. Berasa kek di angkringan Malioboro gitu lah ngeliat tempat ini.

Lalu kita akan diarahkan masuk keliling, berputar dari satu sisi ke bagian yang lain –yang sudah lebih banyak koleksi dengan keterangan yang mudah dipahami. Saya lupa, apakah ada bahasa atau tulisan Indonesianya, tapi pasti ada Arab dan Inggrisnya.

Kalau suka dengan museum, sampeyan bisa mengambil beragam gambar dari berbagai koleksi bersejerah (yang mayoritas tiruan saja dari versi aslinya) di berbagai spot. Gratis.

Di sini ada beberapa orang yang lambat masuk bus, tapi tidak sampai bikin jamaah lain kesal seperti sebelum-sebelumnya.

Setelah itu kami melanjutkan perjalanan ke pasar murah. Toko langganan hampir seluruh biro umroh tanah air. Sebutannya murah, tapi ya nggak murah juga.

Terus ampun, maksainnya untuk belanja ini itu, bikin saya kurang nyaman. Mungkin memang gaya berjualan orang di Arab seperti itu. Hampir di semua tempat, nawarinnya setengah mendesak, memaksa biar kita beli.

Saya mencari barang-barang yang mau saya beli. Beberapa magnet kulkas dengan pict Makkah Madinah yang sangat khas. Aneka manisan, cokelat, permen, dan kue kue kecil kesukaan saya. Tasbih lucu-lucu, yang pasti bukan buatan Indonesia 😅🤣

Ada juga saya beli beberapa souvenir dinding. Tentu saja boneka unta yang cukup besar. Ini saya beli karena saya tuh sukanya kalau koleksi sepasang. Unta sudah ada satu, berarti harus satu lagi. Dan ini sukses bikin backpack saya makin gendut, meskipun nggak berat 😂😅

Sudah selesai belanja, saya thenguk-thenguk saja duduk-duduk di depan toko. Lalu Ustad Sule bilang, sudah boleh makan kalau sudah beres belanja. Makannya di Ayam Bakar Wong Solo, yang ada di sisi belakang toko.

Saya ke tempat itu, meskipun mayoritas ibu-ibu rombongan saya masih belanja. Masuk di Wong Solo, terasa panas, gerah, banyak orang. Karena ini untuk makan jamaah dari berbagai biro umroh tanah air.

Saya duduk di salah satu kursi kosong. Mencari tempat yang dekat kipas angin. Petugas Dewangga memberitahu kalau jadwal kami makan sekira 30an menit lagi. Prasmanan itu masih bagian biro lain.

Saya mengerti dan menikmati saja jajanan dan minuman yang saya bawa. Sambil memperhatikan lalu lalang orang yang beributan makan. Membalas pesan-pesan WA yang masuk. Melihat foto-foto. Jian selow tenan saya 😅😆

Tahu-tahu Bu X datang dan menaruh begitu saja tas belanjaan besar yang isinya entah apa, di meja, di depan saya duduk. Lalu tanpa berkata apa-apa, dia langsung pergi. Saya memicingkan mata mengekori arah perginya. Oh ambil air, pikir saya berarti ya segera balik untuk urus belanjaannya.

Ternyata sampai 40 menitan, saat kami jamaah Dewangga sudah diperbolehkan makan, itu emak rempong nggak kembali. Saya sudah berulang kali pula menjawab pertanyaan bahwa kursi di depan saya ada orangnya.

Mulai kesal saya. Nggak mungkin belanjaan segitu besar saya tinggal. Terpaksa saya gotong (berat juga, entah apa isinya) itu tas berkeliling sambil nanya ibu ibu satu rombongan di mana Bu X.

Sebagian ibu-ibu bertanya kenapa saya cari Bu X. Saya menunjukkan tas besar, “Ini belanjaannya ditinggal begitu saja. Saya mau makan.”

Langsung beberapa menyahut, “Kalau saya yang nemuin belanjaannya, nggak saya balikin, Bu Ari. Orang kok nggak tahu diri banget.” Beribetan macam-macam komentar. Tapi saya belum nemuin Bu X.

Baru itu orang ketemu setelah saya ke ujung-ujung ruangan yang nggak ada rombongan Dewangga. Saya taruh belanjaan berat di meja depan mukanya. Berterimakasih? Jelas enggak.

Saya bergegas untuk makan. Karena wes kesal, mood makan saya sudah ambyar. Apalagi tahu menunya ayam; menu yang kalau ada pilihan lain, pasti saya nggak makan.

Cuman saya ingat, niy nanti perjalanan panjang. Laper haus, harus saya tanggung sendiri kalau sekarang nggak makan. Jadi saya ambil menu non ayam dan berdoa mohon agar kekesalan hati saya dihilangkan.

Alhamdulillah, saya cukup makan minum. Cukup kuat bertahan saya rasa, sampai saatnya nanti makan minum di pesawat. Kami pun keluar dari Wong Solo menunggu kedatangan bus yang akan membawa kami ke bandara.

Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us:

Wonderful Umroh (16) “Mbak, Saya Ikut! Saya Jangan Ditinggal!”

Pintu 84 atau King Abdul Azis Gate, salah satu pintu yang biasa kami gunakan keluar masuk areal Ka’bah. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Ibadah terakhir dari Dewangga adalah thawaf wada’ atau thawaf perpisahan. Acara ini dilakukan di pagi hari. Seluruh jamaah diminta berkumpul usai Shubuh di depan WC 6.

Malamnya sebelum tidur, saya dan Bu B menanyai Bu X akan ikut atau tidak. Karena jawabannya nggak jelas, kami pun tidur.
Pagi-pagi, saya dan Bu B wes bersiap. Kami bertanya lagi pada Bu X, dijawabnya nggak ikut thawaf wada’.

Saya memberitahu Ustad Sule tentang Bu X, dan kami pun berangkat ke Masjidil Haram. Ibadah sampai Shubuh, lalu berkumpul di depan WC 6.

Ealah, uraian Ustad Sule di WAG itu wes sangat jelas; tapi ya tetep aja ada yang bandel. Bikin acara sendiri, minta dijemput di dekat areal Ka’bah, ada yang di areal masjid tapi bingung di mana, ada yang masih di sekitaran hotel. Biyuuu…. mbokya wes keluar dulu, bergabung rombongan. Suwe maneh nungguinnya.

Tiba-tiba, ujug-ujug Bu X muncul mau ikut thawaf. Saya menegur, “Bu, gimana siy? Katanya nggak ikut, ini kok malah datang? Tiwas saya wes lapor Ustad.”

Bu X, entah menjawab apa seperti nggeremeng nggak jelas. Saya laporan Ustad Sule. Niy Bu X ikut thawaf wada’ tanpa kursi roda. Kalau pingsan, jatuh di areal Ka’bah yang full byuuuk orang itu; bisa bikin gawe. Bikin repot semua jamaah.

Saya nggak mau ikut disalahkan kalau ada kasus begitu. Karena mulutnya jamaah rombongan saya yang cukup tajam.
Ustad Sule sabar sekali. Menerima laporan saya dengan senyum dan berdoa semoga semua sehat. Saya wes lebih tenang.

Setelah tunggu-tungguan cukup lama, kami pun berangkat ke areal Ka’bah. Ustad Sule dan Ustad Jordan wes menertibkan dan wanti-wanti kami agar tidak terpisah dari rombongan.

Pas awal-awal, saya yakin betul kalau saya mengikuti rombongan. Pas mau ke arah Ka’bah itu, saya nggak tahu bagaimana ujug-ujug terpisah dari rombongan. Saya celingak celinguk wes nggak ada anggota rombongan.

Saya sempat galau, tapi seperti ada yang mengingatkan saya untuk ke Ka’bah. Tiba-tiba saja saya merasa ada yang memegang pinggang dan tangan saya kuat kuat, sambil teriak, “Mbak, saya ikut! Saya jangan ditinggal!”

Saya menoleh, melihat ibu-ibu dan jelas orang Indonesia, teringat ibu saya. “Oh ya Bu, sini!”

Saya mengawal ibu ini agar bisa maju, berusaha menghalau orang-orang tinggi besar yang menghalangi jalan kami ke Ka’bah. Saya sambil terus menerus berdoa mohon dimudahkan sampai Ka’bah dan bisa berdoa di depan Ka’bah.

Tiba-tiba saja itu jalan seperti terbuka dan tahu-tahu kami berdua sudah di depan Ka’bah. Saya menangis sejadinya. Bisa menyentuh, memegang kuat, mencium, mengusapkan seluruh permukaan tas yang saya bawa ke Ka’bah; agar aroma Ka’bahnya tidak hilang.

Saya berdoa sekomplitnya. Sebisanya di tengah terpaan rasa haru yang luar biasa. Saya merasa tempat itu beneran hening, sunyi, adem, damai, bahagia, sukacita; seperti bukan areal Ka’bah yang membara. Apakah seperti itu kelak suasana surga? Wallahua’lam.

Saya terus berdoa. Sementara si ibu menangis sejadi-jadinya. Bolak-balik menciumi Ka’bah. Saya mengingatkan untuk berdoa, tapi saya malah mendengar isak tangisnya yang lebih keras. Lama rasanya kami di situ.

Saya mengajak si ibu ke Multazam. Wes ini versi saya beneran perjuangan. Orang-orang tinggi-tinggi besar berada di sekitaran kami dan rasanya begitu sulit untuk mengambil celah.

Saya seperti diingatkan kalau ibu ini sangat ingin ke Multazam. Akhirnya saya berdoa dimudahkan sambil menarik tangan ibu tersebut. “Ayo Bu, sini!”

Tapi langkah saya terhalang tangan-tangan yang sedang menggapai-gapai Multazam. Beberapa berusaha menyingkirkan kami. Saya keukeuh berdoa dan tahu-tahu tangan si ibu sudah bisa memegang Multazam. “Berdoa, Bu!” seru saya saat mendengar ibu itu malah menangis lagi.

Alhamdulillah, saya di samping ibu itu bisa memegang Multazam dan berdoa, sekhusyuk yang saya bisa. Sama rasanya saat menciumi Ka’bah. Saya merasakan hening, sunyi, adem, damai, bahagia, sukacita.

Saat saya rasa sudah cukup berdoa, saya ada niat membawa ibu ini ke Hajar Aswad. Tapi melihat tempat itu dipenuhsesaki lelaki tinggi-tinggi besar dan rapat padat sekali, saya wes jiper duluan.

Saya melihat ke sekeliling; wes nggak tampak satu pun jamaah dari rombongan saya. Pas melihat arloji, saya menghitung waktu dari mulai thawaf, mestinya rombongan saya sudah di hotel. Waduh, bisa ribet ntar kalau diteriakin, diomelin jamaah lainnya gegara telat.

Sesaat saya galau, jadi saya tanya si ibu. Mau ke Hajar Aswad atau enggak, dia bilang manut saya. Ya wes, saya menarik tangan ibu itu untuk mendekat ke Hajar Aswad, tentu sambil berdoa; tapi kami malah terdorong menjauh. Saya paham, berarti tidak diizinkan.

Saya memutuskan untuk meninggalkan Ka’bah karena pertimbangan waktu. Untuk ke pinggir ke pintu 79 atau 84, tentu kami harus “miyak” ribuan orang dengan melawan arus. Sementara kami masih beberapa jengkal saja dari Ka’bah.

Saya terus berdoa agar dimudahkan. Beneran, jalan kayak terbuka sendiri; tahu tahu kami sudah di pinggiran sekitaran pintu 79 atau 84 itu. Kami sholat sunnah dua rakaat, baru kemudian keluar areal mesjid. Si ibu entah kenapa menangis lagi dan memeluk saya kuat-kuat.

“Terimakasih ya Mbak, sudah mau saya ikuti! Alhamdulillah. Alhamdulillah saya bisa mencium Ka’bah. Masyaallah. Saya seperti menemukan Allah. Masyaallah, Masyaallah.”
Masih dengan menangis sesenggukan.

Haish, saya malah bingung kudu ngapain. Iya saya mengerti harunya, perasaan guncang saat pertama menyentuh, mencium, memeluk Ka’bah, berdoa dengan jarak begitu rapat di depannya, seperti mendapatkan anugerah berlimpahan yang nggak bisa dijelaskan dengan kata-kata.

“Sudah, Bu. Alhamdulillah. Ayo kita balik. Saya wes ketinggalan rombongan.”

Baru ibu itu mau melepaskan pelukannya dan berhenti menangis. Matanya pun masih memerah. Saya wes memastikan si ibu baik-baik saja dan kembali ke rombongannya.
Saya memberitahu Ustad Sule di WAG posisi saya. Mendapatkan jawaban singkat agar saya langsung ke ruang makan. Saya setengah berlari ke hotel. Nggak sampe 10 menit wes sampai 😆😅

Di restoran, rombongan saya tinggal beberapa orang yang makan. Saya menghitung waktu, rupanya lumayan lama juga saya di depan Ka’bah tadi. Alhamdulillah. Di luar itu, Alhamdulillah saya karena nggak telat jadwal dan nggak jadi sasaran omelan jamaah lain.

Saya yakin, tiap orang yang umroh punya pengalaman spiritual yang berbeda-beda. Beneran, setiap kali berada di areal yang makbul untuk berdoa itu; saya seperti tersedot pusaran arus, lalu dibawa di ruang yang begitu menyejukkan dan mendamaikan jiwa.

Ruang yang terbebas dari segala kekhawatiran dunia. Ruang yang begitu indah dan hening sunyi; padahal kiri kanannya orang ramai berthawaf. Wallahua’lam.

Ya Allah, saya wes rindu lagi ke rumahMu yang Agung. Bawa saya ke sana lagi ya Rabb. Amin YRA.

Ari Kinoysan Wulandari
Please follow and like us:

Wonderful Umroh (15) Ayo, Bu…! Ayo, Bu…! Hajar Aswad!

Hajar Aswad dari jarak dekat. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Tempat-tempat yang ingin dicapai oleh jamaah umroh di sekitaran Ka’bah itu ya mencium dan berdoa di depan Ka’bah, mencium Hajar Aswad, berdoa di Multazam, mencium dan berdoa di Maqam Ibrahim, berdoa di bawah Mirzab (pancuran yang dipasang di atas Ka’bah), berdoa dan sholat di Hijir Ismail. Di sekitarnya lagi tentu ingin melihat dan berdoa di dekat atau sekitaran sumur air zamzam, berdoa di bukit Shafa dan Marwa.

Areal di sekitar Ka’bah itu sungguh perjuangan betul untuk bisa mencapainya. Mencium Ka’bah? Kalau nggak dengan izin ridha Allah, entah bagaimana bisa.

Memikirkan saja saya sudah malas duluan, kudu “miyak” melewati ribuan orang besar kecil dari berbagai negara.

Toh alhamdulillah sudah berulang pula saya menciumi dan berdoa di depan kiblat dari umat Islam ini.

Lalu Multazam, alhamdulillah pokokmen tiap datang pasti kebagian tempat ini. Entah siapa yang bawa saya ke situ.

Pernah juga dibawa orang yang saya tidak kenal, tapi mengarahkan sampai tempat. Bisa berdoa dan lama menangis.

Hajar Aswad, saya termasuk orang yang mudah pasrah. Pertama umroh dulu (tahun 2017), ya seperti keajaiban saja. Mencium, memegang, menyentuh Hajar Aswad, berdoa cukup sampai doa sapu jagad rampung.

Umroh kedua (tahun 2023), dalam kondisi kesehatan yang tiba-tiba memburuk, kok ya masih diberi kesempatan menciumi batu surga itu.

Jadi umroh kali ini (tahun 2024) pun saya wes pasrah aja, diberi alhamdulillah tidak yo tetap alhamdulillah. Karena itu beneran untuk dapat Hajar Aswad seperti berkat Tuhan yang tidak bisa diirikan oleh orang lain. Seperti keajaiban itu bisa mencium Hajar Aswad. Alhamdulillah.

Teman-teman yang pingin ke Hajar Aswad hati-hati ya. Karena banyak calo yang berteriak, “Ayo, Bu…! Ayo, Bu…! Hajar Aswad!” Nah kalau sampeyan terima dan bisa ke Hajar Aswad, ntar sampeyan dimintain fee antara 500 s/d 1500 riyal. Mahal tenan. Dia akan terus nungguin, maksain agar kita bayar.

Jadi hati-hati sajalah. Jangan dikira itu bantuan gratis. Lebih baik pasrah berserah, doa yang sungguh-sungguh biar diberi jalan untuk ke Hajar Aswad. Foto-foto? Itu kalau bejo atau beruntung saja.

Karena sungguh beneran nyaris nggak pernah selow, Hajar Aswad itu kecuali untuk orang-orang yang diberi kemudahan oleh Allah. Ya beda cerita kalau kamu presiden dan keluarganya atau relasi dekat keluarga kerajaan Arab Saudi. Tempat bisa disterilkan untuk kamu. Tapi tetap, Allah yang mengizinkan kita untuk bisa mencapai tempat ini.

Maqam Ibrahim? Nah wes alhamdulillah saya berulang bisa ke sini ya. Saya ngikut Ustad saja, tahu-tahu wes bisa peluk cium dan berdoa di tempat ini.

Kalau umroh (2017), (2023) dulu saya bisa sholat di Hijir Ismail, kali ini nggak bisa. Ya wes, gakpapa. Semoga sholat berulang di pelataran Ka’bah dicatat sebagai amal berlimpah. Semoga itu berarti tahun depan saya dipanggil datang lagi. Amin YRA.

Di bawah Mirzab itu biasanya saya berdoa pas di depan Ka’bahnya. Jadi kayaknya dituntun ke tempat yang berdekatan semuanya itu. Bagaimana caranya, yo embuh saya pun nggak bisa jelasin. Tahu tahu bisa saja.

Sementara di bukit Shafa dan Marwa ya itu pas kita sa’i. Sementara di areal sumur zamzam itu pasti kita lewati setelah beres umroh dan keluar dari areal Masjidil Haram. Biasanya kita di sini juga disunahkan berdoa.

Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us: