Webinar Ari Kinoysan 2021

Ini adalah webinar gratis yang diselenggarakan berbagai pihak berkaitan dengan penulisan dan buku-buku 🙂 Silakan cek satu per satu, kalau kurang jelas dan ingin memperdalam dengan praktik penulisan, bisa ikut kelas-kelas berbayar: wa.me/6281380001149 🙂

Ini adalah acara internal PBSI UNY, kuliah dengan praktisi atau praktisi mengajar di kampus. Bahasannya tentang editing naskah. Karena internal, rekaman tidak dishare ke publik. 🙂

Ini adalah acara Ratnaningsih Menulis, saya jadi pembahas untuk memberikan ulasan tentang tulisan tersebut. Sabtu, 09.00 -12.00 WIB.  Link youtube Kagama Channel: https://www.youtube.com/watch?v=ClcB676fMv8

Sebagian Slide Penulisan Kreatif

Ini waktu saya memberikan kuliah Penulisan Kreatif untuk Mahasiswa Sejarah Unair, Surabaya. Hari Kamis, 21 Oktober 2021, jam 07.00 sd 08.40 WIB. Bisa diakses:  https://www.youtube.com/watch?v=PCQZ3Jd2uJQ 

Ini acara live IG tentang Fiksi Abadi dengan Penerbit Andi dalam acara Gramedia Online Book Fair.  Jumat, 1 Oktober jam 15.00 sd 16.00 WIB.   Bisa diakses https://www.instagram.com/tv/CUevFwnlKoY/  

Ini Langkah Praktis Menjadi Penulis Fiksi Yang Produktif. Jumat, 17 September 2021 jam 13.00 sd 15.00 WIB. Bisa diakses https://www.youtube.com/watch?v=eTWYaspEkfE  

UGM Virtual Career Class, Rabu 4 Agustus 2021 Jam 13.00-14.00 WIB. Bisa diakses https://www.youtube.com/watch?v=JcAV7jRgEzs pada durasi 3 jam 33 menit 🙂

 

Menulis secara Kreatif adalah bagian penting dari penulisan yang wajib dikuasai oleh siapapun yang ingin masuk ke industri penulisan. Ini saya belum ketemu link nya. Nanti saya susulkan kalau sudah ada ya 🙂

Ini bahasan yang seksi karena banyak orang yang sebenarnya jago menulis nonfiksi, tapi ngotot pingin banget nulis fiksi. Padahal kalau wes nulis nonfiksi dan laris, nerbitin fiksi di penerbit major jadi lebih gampang. Kamis, 1 April 2021 jam 13.30 – 15.30 WIB. Link https://www.youtube.com/watch?v=EK0rQ_wEJ8 

Link youtube: https://www.youtube.com/watch?v=p9kOgUgwhT4

Kagama Writing, Menulis Kisah Sehari-hari yang praktis dan gampang agar bisa menulis dengan produktif. Link: https://www.youtube.com/watch?v=62v0GLgsYVU

Link youtube: https://www.youtube.com/watch?v=MJpkHvbR1wQ

Ini acara untuk perkenalan CWitan, akun saya @arikinoysan. Bagian ini saya juga belum menemukan link nya. Kalau ada teman yang tahu bisa info ke saya di wa.me/6281380001149.

Mengenal Khasiat Herbal Nusantara; buku-buku herbalnya antara lain,  #HerbalNusantara #HerbalBali #HerbalKalimantan #HerbalPapua #SehatCantikNatural #SehatdenganManggis #45LulurAlami #ManfaatKhasiatSehatdariDapur Link youtube: https://www.youtube.com/watch?v=KZZ-33Af1s4

Ini saya membahas “disertasi” lagi, setelah beberapa saat tidak pernah berurusan dengan karya-karya ilmiah. Link belum saya temukan. Pada waktu itu karena masih awal program FIB Seminar Linguistik sepertinya juga belum diformat untuk langsung live streaming youtube. Akan saya susulkan kalau sudah ada linknya.

 

 

 

 

 

Please follow and like us:

Penilaian Naskah di Penerbit


Setiap hari ratusan, mungkin bisa ribuan naskah baru yang diterima oleh penerbit. Semakin besar penerbit, biasanya naskah yang diterima semakin banyak dan semakin lama pula proses penentuan atau penilaian.

Apa saja siy sebenarnya yang dinilai oleh penerbit berkaitan dengan naskah yang kita kirimkan? Uraian berikut kiranya dapat membantu.

Tim Redaksi
Pada umumnya, tim redaksi di penerbit melakukan penilaian dengan melihat hal-hal berikut.

1. Konsep yang diajukan; apakah sesuai dengan visi misi penerbitan atau tidak. Misalnya penerbit konsepnya buku-buku rohani, anda mengirim buku masakan, jelas ditolak.

2. Sistematika penyajian; harus sesuai dengan konsep yang disampaikan.

3. Bahasa; yang baik, benar, taat azas, sesuai dengan keperluan.

4. Pembahasan; apakah mendalam, cukup, atau hanya menempel di permukaan.

5. Kebaruan dan trend masalah. Ini sangat penting. Masalah kebaruan ini tidak mesti segala hal yang baru, tetapi bisa saja hal lama tetapi masih diperlukan oleh pembaca dan target market.

6. Format penulisan; apakah formatnya biasa, luar biasa, sangat menarik, dll.

7. Pesaing; adakah buku sejenis yang sudah beredar di pasaran.

8. Editorial; apakah tulisannya rapi, atau banyak sekali kesalahan-kesalahan pengetikan, ejaan, plagiat atau tidak, dll yang bersifat teknis tulisan.

9. Nama penulis; walaupun tidak ada aturan penulis lama dan penulis baru, senior dan yunior, tapi biasanya redaksi akan mendahulukan mereka yang sudah punya nama atau sudah biasa berurusan dengan redaksi.

10. Sistem kerja sama; ada beberapa penerbitan yang mulai mendahulukan penulis-penulis yang mau membiayai percetakan bukunya sendiri. Jadi, kalau anda mengikuti sistem penerbitan konvensional, sabarlah.

Panduan Penulisan Fiksi


Tim Produksi
Jangan berpikir, naskah diterbitkan di penerbit hanya urusan redaksi. Semua tim terlibat. Termasuk tim produksi.

Tim ini biasanya melakukan penilaian dengan melihat hal-hal berikut.

1. Mudah dan bisa diproduksi dalam waktu cepat.

2. Biaya produksi terjangkau, sesuai standar penerbit.

3. Bisa dijual dengan harga bersaing.

4. Kemasan bisa cantik dan eye catching dengan budget standar.

Tim Pemasaran dan Promosi
Di beberapa penerbitan, tim pemasaran dan promosi kadang digabungkan jadi satu, tetapi ada juga yang memisahkan.

Biasanya tim ini yang “paling bawel” dan “paling ribet” soal naskah yang mau diterbitkan. Karena mereka yang berada di depan, ujung tombak penerbitan, yang setiap bulannya dikenai target penjualan, sehingga sering dianggap tim yang paling “sulit” untuk menerima naskah. Meskipun sebenarnya urusan “sulit” tersebut sangat relatif dan kembali lagi pada naskah yang kita tulis serta kita kirim ke penerbit.

Biasanya, tim ini melakukan penilaian pada:
1. Naskah tersebut layak jual.

2. Ketiadaan pesaing.

3. Formatnya harus berbeda dengan buku yang sudah ada, bila ada pesaing.

4. Harganya bersaing.

5. Penulisnya “bermutu”.

Buku Panduan Penulisan


Nilai Plus untuk Penilaian Naskah
Point atau nilai plus yang bisa ditambahkan agar naskah cepat diterima dan diterbitkan:

1. Naskah yang diperlukan masyarakat luas.

2. Anda sebagai penulis menjamin naskah tersebut dipesan atau dibeli dalam jumlah besar.

3. Ada sponsorship atau kerja sama biaya cetaknya.

4. Sedang trend.

Nah, semoga ini membantu. Jadi penulis jangan bawel. Kalem-kalem saja, sabar, dan tidak usah terlalu ribut dengan naskah anda.

Sepanjang pengelolanya jelas, penerbitnya masih ada dan bisa dikontak, saya tidak pernah ambil pusing berapa lama naskah saya antri di penerbit. Karena toh pada akhirnya akan mendapat kabar juga, baik diterima atau ditolak.

Daripada ribut menunggu proses penilaian yang ngujubileh panjangnya itu, bukankah lebih baik kita menulis lagi.

Merancang buku baru, mungkin untuk penerbit lain. Kita tidak jengkel, dan justru produktif. Tahu-tahu buku kita banyak saja yang beredar 😊

*Jadi Penulis Fiksi
*Jadi Penulis Nonfiksi
*Jadi Penulis Skenario
*Jadi Penulis Produktif
#BukuPanduanPenulisan
.
.
Ari Kinoysan Wulandari

 

Please follow and like us:

Tong Kosong Berbunyi Nyaring

Beliau selalu mengaku kepada saya dan (mungkin) kepada orang lain,
soal pendidikannya yang dapat dua doktor sekaligus dan kehidupannya yang termasuk makmur.

Kadang-kadang beliau “mencela” saya yang dianggap menulis sekedarnya;
“mencela” saya pula karena peduli duit recehan tak seberapa dari kelas-kelas
Griya Kinoysan University yang saya dirikan dan saya kelola. Kadang-kadang pula “mencela” cara dagang buku saya yang dianggapnya tidak elit.🙏

Haaa… Situ Waras?

Sebagai kepatutan karena beliau penulis senior profesional yang ngakunya dibayar puluhan juta dan jadi pembicara di mana-mana itu —saya hanya mengiyakan kehebatannya, dan tak protes dengan celaannya.

Saya tak harus mendebatnya. Saya tahu apa yang dicelanya itu tidak benar. Saya yang menghitung dengan pasti berapa uang yang dihasilkan dari pekerjaan yang dianggapnya remeh temeh.

Beliau mungkin lupa, saya ini penulis yang dididik dan dibesarkan di lingkungan universitas terbaik, lama menulis di media, lama bekerja di penerbitan solid, lama menetap di PH yang sangat industrialis kapitalis; lha kok cuma diomongbesari soal bayaran penulis dan gelar pendidikan.

Ealaaah, lha kok jebulane cuma mau ngutaaang 🤣🙈

*Pingin saya teriakin, Situ Waras 🤔🤣
.
.
Ari Kinoysan Wulandari

 

Please follow and like us:

Menulis Novel Itu Gampang

 Sebenarnya menulis novel itu menceritakan kisah yang kita ketahui dalam tulisan. Ada berapa banyak kisah yang kita ketahui, maka sebanyak itulah pula novel yang bisa kita tulis. Nah, caranya biar menulis novel itu gampang, bagaimana? Berikut ini tips triknya…
1. Mengerti apa yang dimaksud novel Novel itu apa? Tulisan dengan materi fiksi atau sesuatu yang difiksikan (berdasarkan kisah nyata) yang terdiri dari 100-150 halaman. Bisa lebih menurut aturan masing-masing penerbit dan media.
2. Mengerti cara menulis novel Bagaimana cara menulis novel? Novel terdiri dari deskripsi dan dialog yang disusun per paragraf-paragraf, per bab-bab hingga jadi satu kesatuan cerita yang utuh. Caranya menulis dimulai dari IDE yang menarik. SINOPSIS yang rinci untuk MENGEMBANGKAN IDE dan menggambarkan KARAKTER TOKOH. Ikuti sinopsis untuk bisa membuat ALUR CERITA. Alur diolah menjadi ADEGAN-ADEGAN. Ikuti saja semuanya sesuai sinopsis dan selesaikan sampai tamat. PERBAIKI NASKAH sampai rapi dan enak dibaca.
Unforgettable Tokyo
3. Mengerti ide yang brilian Ide yang brilian seperti apa? Yang familiar tapi tidak pasaran. Ada banyak novel yang sudah beredar dan diterbitkan. Jadi penulis mesti cerdas membidik sesuatu yang brilian, familiar tapi tidak pasaran. Tema apa saja boleh asal brilian. Tema cinta, tema religi, tema ilmu pengetahuan, dll. tapi pastikan dibidik dari sisi atau sudut pandang yang berbeda.
4. Mengerti unsur-unsur cerita yang istimewa Apa unsur-unsur cerita yang istimewa? Sesuatu yang hanya ada di dalam novel yang kita tulis. Boleh settingnya, boleh karakternya, boleh dialognya, boleh deskripsinya, boleh kisahnya, dll. Apapun yang ada di dalam novel yang istimewa yang tidak dimiliki novel lain.
5. Mengerti pembagian cerita Novel adalah satu kesatuan yang sebenarnya terdiri dari pendahuluan, isi, dan penutup. Sering disebut opening, inti, dan ending. Mainkan perasaan untuk membaginya. Porsikan bagian inti 50 persen, bagian opening dan ending masing-masing 25 persen. Pikirkan benar-benar bagaimana membagi hal ini. Opening yang kelamaan juga bikin bosan. Ending yang terlalu cepat juga membuat jengkel karena terasa tiba-tiba. Biasakan membuat platform yang jelas, bab mana yang menjadi opening, inti, dan ending. Catatlah yang kita pikirkan, jangan diangan-angankan, karena pasti besok sudah lupa.
Supermarket Supercinta
Tips Penting:
1. Setia pada sinopsis. Jangan melakukan perombakan besar saat menulis.
2. Jangan gampang menyerah saat menulis. Kalau bosan, tinggalkan. Kalau sudah fresh, kembali dan teruskan menulis.
3. Jangan mengedit saat menulis. Kalau ada salah ketik, biarkan saja. Editing nanti kalau sudah kelar.
4. Cari waktu dan tempat yang paling nyaman untuk menulis.
5. Kalau novelnya perlu banyak referensi, pastikan referensi telah tersedia di dekat meja kerja. Kalau perlu post it bagian-bagian yang akan digunakan sebagai referensi.
Menulis novel berapa lama yang normal? 2 bulan untuk 100-150 halaman, dengan target 1-2 halaman sehari; dengan range waktu 30-60 menit per hari.
Bagaimana? Bukankah menulis novel itu gampang? Apa yang membuat ragu-ragu? Pikiran kita sendiri 🙂
Ari Kinoysan Wulandari

 

Please follow and like us:

Uang Tidak Terpakai

#KinoysanStory
Hari gini apa ada uang yang tidak terpakai? Pasti ada 😃 Ini berkaitan dengan manajemen duit. Saya mengatur uang tentu berbeda dengan mereka yang gajian rutin. Setiap bulan saya membuat ancangan belanja dari A-Z, pembayaran ini itu sampai sana sini. Lengkap.  Nah, uang tidak terpakai berarti uang yang tidak saya gunakan di bulan itu. Misalnya, bulan ini saya mau beli daging sapi 2 kg. Tiba-tiba kawan mengirimi 2 kg ikan gurame. Nah uang anggaran belanja daging tidak terpakai, maka saya masukkan ke celengan. Sudah niat beli 5-7 buku, ternyata penerbit mengirim 10 buku baru untuk direview, ya nggak usah beli buku. Uangnya masuk ke celengan. Mo beli kain-kain, ternyata souvenir jadi pemateri berupa kain, ya skip dulu, dan uang masuk celengan. Pembelian pulsa listrik biasanya X rp kok ternyata hanya separoh X, sisanya masuk celengan.
Celengan Ikan
Sekali dua kali mungkin tidak seberapa, tapi coba aja setahun yo lumayan 😃 Celengan tersebut memotivasi saya untuk lebih cermat. Semisal mo beli makanan online atau masak? Mo belanja di supermarket, pasar, atau ke tetangga? Beli ebook atau buku cetak? Langganan nonton atau ke bioskop? Beli paket melukis atau satuan? Dst. . Intinya saya melihat, bahwa berhemat pun tetap bisa dilakukan dari hal-hal yang sudah direncanakan. Uang ini juga bisa digunakan untuk dana darurat, sementara anggaran darurat kita sudah habis.
Bagi saya #FeelGood #FeelBeautiful #FeelHappy #FeelRich itu penting; karena akan melipatgandakan syukur yang mengundang banyak kebaikan dan keberlimpahan 😍💖
#ManajemenDuit #Berhemat #HappyWriter #ILoveMe #AkuCintaPadamu .
Ari Kinoysan Wulandari

 

Please follow and like us:

Tip Trik Publikasi Naskah

Jadi Penulis Fiksi

http://andipublisher.com/produk-1004003351-jadi-penulis-fiksi–gampang-kok-.html

Menerbitkan naskah kita di penerbit major, tentu menjadi kebahagiaan tersendiri. Namun untuk bisa menerbitkan naskah kita, rasanya kok ya tidak semudah membalik telapak tangan. Berikut ini tip dan trik yang mungkin bisa membantu, agar tulisan anda cepat menemukan penerbit yang tepat.

1. Ketahui visi misi media yang anda tuju. Anda bisa mengeceknya lewat terbitan-terbitan mereka dan juga lewat web atau media komunikasi yang mereka miliki.

2. Perhatikan aturan dan teknis publikasi. Setiap penerbit punya aturan berbeda-beda. Di penerbit A, novel mungkin 150 halaman minimal. Di penerbit B, bisa jadi menuntu 200 halaman. Ceklah aturan ini di web mereka atau tanyakan langsung pada editornya.

3. Jangan mengirim naskah yang tidak sesuai. Kalau penerbit A sudah mematok konsentrasi ke buku fiksi berbasis sejarah, ya jangan mengirimkan cerita horor kepada mereka. Pasti nggak berjodoh.

4. Pastikan naskah anda belum dikirim ke media lain. Salah satu alasannya, agar nanti kalau naskah anda diterbitkan di pihak A, anda tidak perlu menariknya dari pihak B atau sebaliknya.

5. Tanyakan pada editor, bagaimana cara yang praktis pengiriman naskah dan kapan akan dimuat. Ini untuk publikasi pemuatan naskah di media massa. Editor biasanya orang kunci yang paling tahu soal ini dan lebih mudah ditanyai, daripada kepala redaksinya —misalnya.

6. Tidak selalu naskah yang tidak dimuat itu buruk, bisa saja tidak cocok. Jangan menganggap naskahmu buruk. Apalagi kalau kamu sudah mengerjakannya dengan sungguh-sungguh, lewat mentoring pula. Saya melihat kebanyakan mereka kurang cocok dengan tulisan anda. Santai saja, masih banyak penerbit lain.

7. Memastikan bahwa tulisan tidak ada salah tanda baca atau salah ketik. Ini siy sering dianggap sepele dan tidak diperhatikan. Tapi tahu nggak siy, ada banyak tulisan bagus ditolak karena pengetikannya yang acakadut dan banyak sekali typo di sana-sini. Jadi, please periksa tulisanmu ya….

8. Bertanya pada orang orang yang sudah pernah mempublikasi di media yang sama untuk menghindari kesalahan. Ini seperti kamu belum pernah ke Jakarta lewat darat bawa mobil pribadi, terus kamu tanya pada mereka yang sudah sering ke Jakarta lewat darat dengan mobil sendiri. Pasti banyak info menarik.

9. Jangan malas membaca buku-buku terbitan dari pihak yang hendak kamu tuju. Kalau kamu mau menuju penerbit A, cek-cek, cermati terbitan mereka, baca sungguh-sungguh. Seenggaknya kamu kenal gaya mereka.

10. Jangan malas ikut acara buku. Banyak hal penting yang berkaitan dengan publikasi dishare pas acara-acara buku; bisa gathering penulis, bedah buku, book signing, workshop penulisan, dll. Siapa tahu kamu jumpa editor penerbit yang cocok dengan naskahmu.

Intinya jangan menyerah kalau naskahmu masih ditolak. Nggak perlu pake dukun siy, karena editornya nggak mempan didukunin 🙂 Tapi kalau naskahmu wes bagus, ya tinggal tunggu waktu saja untuk bertemu penerbit yang pas. Sabar lah sedikit lagi….

Salam,

Ari Kinoysan Wulandari

 

Please follow and like us:

Memaafkan Diri Sendiri

Dalam kehidupan sehari-hari, kita cenderung lebih mudah memaafkan orang lain, tetapi belum tentu memaafkan diri sendiri. Merasa paling bersalah, merasa tidak pantas, merasa belum layak, merasa kenapa tidak berusaha lebih keras, kenapa tidak melakukan abcd dan seterusnya. Ada banyak kesalahan dan kegagalan yang kalau terjadi pada orang lain, kita mudah mentolerirnya; tetapi tidak mudah memaafkan saat terjadi pada diri sendiri.

Padahal semua itu akan menumpuk di alam pikiran bawah sadar kita dan terus menerus meracuni kehidupan kita. Segala yang mengendap itu akhirnya membebani kita dan menghalangi diri dari meraih kehidupan yang lebih baik dan lebih happy. Dalam berbagai hal, saya termasuk yang sulit untuk memaafkan diri sendiri. Ada banyak hal yang tidak sesuai rencana, tidak sesuai dengan harapan, tidak sesuai doa. Lalu perlahan dari sepanjang kehidupan saya, tumpukannya menjadi sangat banyak. Menyalahkan diri sendiri dan sulit memaafkan diri sendiri.

Pada saat saya mulai menjalani sesi terapi, ada hal yang lebih berat daripada memaafkan orang lain, yaitu memaafkan diri sendiri. Satu persatu saya mulai memaafkan semua hal yang pernah terjadi dalam hidup saya. Satu, dua, tiga, empat, lalu jumlahnya menjadi sangat banyak. Melepaskan satu per satu, seperti melepaskan ikatan-ikatan yang membelenggu. Sampai akhirnya ya, sedikit demi sedikit beban-beban kehidupan saya terasa jadi lebih ringan. Banyak hal yang memang tidak bisa saya kendalikan. Tugas saya ya mengikhlaskan semua yang sudah terjadi. Tidak menyimpannya terus di garasi bawah sadar saya.

Rumah Leluhur

Sebagaimana saya menerima bahwa rezeki, jodoh, hidup, mati adalah ketetapan Tuhan yang sudah pasti dan tidak bisa diutak-atik, maka saya belajar untuk mengerjakan hal-hal yang bisa saya kendalikan. Batasan yang harus saya kerjakan adalah mengerjakan semua yang saya bisa lewat jalur baik, doa, dan tawakal. Tidak ada harapan yang berlebihan. Tidak ada keinginan untuk menguasai ataupun memiliki. Mengerjakan satu per satu pekerjaan saya juga tidak dipenuhi khawatir ini kok begini, ini kok begitu. Tugas saya mengerjakan dan mengusahakan yang saya bisa semaksimal mungkin. Rezeki bukan saya yang atur. Begitu pula dengan jodoh, hidup, dan mati saya. Saya mempercayai sepanjang hati dan cara hidup saya baik, Tuhan pasti akan memberi rezeki yang baik, jodoh yang baik, hidup yang baik, pun dengan kematian yang baik pula.

Saya juga menerima semua keberadaan diri saya dengan sempurna. Tidak lagi ada keinginan membandingkan diri saya dengan orang lain. Dulu ya pernah, apalagi kalau bertemu dengan orang-orang cantik yang kayaknya njur hidupnya jadi semudah angin bergerak mendapatkan segala sesuatunya….

Gampang banget suksesnya dengan kecantikan mereka. Tapi sudah lama itu hilang, karena ternyata yang cantik pun masalahnya macam-macam. Bahkan banyak yang kepingin seperti saya, karena hidup kok happy happy aja. Ya, di sosmed happy dan senyatanya saya jauh lebih happy lagi. Kan saya nggak bisa menceritakan semua kejadian seru dalam hidup saya di sosmed.

Dengan begitu saya merasa lebih sempurna dengan “rasa kemanusiaan” saya. Manusia itu tugasnya ya menghadapi dan menyelesaikan masalah. Tidak usah mengeluh. Tidak usah banyak keinginan. Tidak usah banyak harapan. Tidak usah menoleh-noleh kehidupan orang lain. Kalau ada yang belum kepegang, belum bisa dimiliki, ya sudah, nanti pasti ada jalannya. Jadi, di hati lebih ringan.

Saya tidak merasa terganggu dengan banyak perilaku orang lagi. Karena pada dasarnya saya menyadari mereka juga sedang berjuang menyelesaikan urusan dan masalahnya masing-masing. Bisa jadi, orang yang terlihat baik-baik saja sesungguhnya menghadapi masalah yang jauh lebih berat dari kita, hanya mereka nggak mengeluh, nggak curhat —terutama di sosmed yang bisa kamu-kamu nyinyirin.

Yuk, kalau kamu merasa hidupmu berat banget dan banyak bebannya, coba deh. Tiap malam sebelum tidur, duduk manis, memejamkan mata, lalu bilang minta maaf pada dirimu sendiri. Ingat-ingat semua kesalahan, dan memaafkan semua yang sudah terjadi serta menerima semuanya dengan ikhlas. Percaya deh, kalau rutin dilakukan hidupmu pasti jadi lebih baik. Saya begitu kok. Memaafkan diri sendiri, memaafkan orang lain, bersyukur, dan mendoakan semua orang. Mungkin itu kuncinya bisa tertawa lepas.

Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us: