Lebaran: Sudah Lebarkah Hati Kita?

Tulisan ini sudah dimuat di penabicara.com hari Kamis, tanggal 5 Mei 2022 dengan link berikut ini: https://www.penabicara.com/ruang-ngopi/pr-2063346820/lebaran-sudah-lebarkah-hati-kita?fbclid=IwAR0NY-xPBf5n-EiMDJyQWxx6LjzCDA5MWGRXl76vKoWlo3yPks-NzsQ4Wng

Mari kita ingat sejenak Ramadan 1443 H, bulan puasa kita tahun ini sebelum lebaran. Ramadan di bulan April 2022 ini, tidak terlalu mudah bagi sebagian orang Indonesia. Kehadiran saat puasa dibarengi dengan kenaikan harga aneka macam kebutuhan. Yach, nyaris sama seperti tahun-tahun sebelumnya. Ramadan adalah bulan ketika banyak orang menganggap sah kenaikan harga segala macam keperluan.

Toh Ramadan tahun ini terasa berbeda dari bulan-bulan puasa sebelumnya. Selain kita masih dalam masa pandemi, sebelumnya kita telah dihebohkan dengan kasus menghilangnya minyak goreng dari pasaran. Kalau pun ada minyak goreng, harganya tidak seperti biasa alias membubung tinggi. Sosial media (sosmed) kita begitu riuh berpantun tentang minyak goreng ini.

Sebaliknya, di tengah hiruk pikuk kelangkaan minyak goreng dengan harga meroket, kenaikan harga BBM (Bahan Bakar Minyak) berlangsung begitu senyap. Dominasi rumpian ibu-ibu terhadap minyak goreng meredam keributan yang biasa timbul kalau BBM naik. Kita pun maklum, begitu BBM naik —naik pulalah semua harga barang kebutuhan pokok.

Kenaikan PPN (Pajak Pertambahan Nilai) dari 10 persen menjadi 11 persen, juga nyaris tidak terdengar. Seolah ini menjadi hal yang wajar saja. Sebagai warga negara yang patuh kepada pemerintah, tentu kita wajib mengikutinya. Protes pun, tidak membuat harga-harga dan ketentuan itu turun.

Semua akan terus berjalan sesuai yang telah ditetapkan. Mau tidak mau. Suka tidak suka. Pilihannya ada pada diri kita masing-masing, mau memakai atau tidak. Kalau pakai ya bayar sesuai harga; kalau tidak pakai, ya sudah diam saja.

Semua proses kenaikan harga itu rasanya teredam dengan keriuhan umat Islam dalam menentukan awal bulan Ramadan. Rupanya isu pencarian hilal atau penampakan bulan sebagai penanda awal Ramadan, jauh lebih seksi di kalangan bangsa Indonesia yang mayoritas muslim. Sudah bisa ditebak, awal Ramadan tidak sama.

Ramadan kali ini pun diwarnai dengan beragam kejadian memilukan. Sejak awal Ramadan, sepanjang Ramadan, hingga akhir Ramadan —telah banyak peristiwa yang menuntut kesabaran kita. Selain kenaikan beragam harga, selama Ramadan kita kali ini tidak lepas dari demo-demo —yang semula dijanjikan berlangsung damai, berubah menjadi anarkhis. Beragam tindak kejahatan pun tidak terhenti sepanjang Ramadan.

Kekerasan dengan beragam bentuk menjadi tontonan live yang memilukan jiwa. Betapa nyeri hati kita, saat ada pihak-pihak yang menganggap kekerasan di negeri kita boleh saja untuk mereka yang dianggap “tidak segolongan”. Astaghfirullah hal adzim…. Lupakah mereka yang membuat pernyataan itu? Bahwa sekalipun tidak bersaudara dalam agama, semua umat itu bersaudara dalam kemanusiaan?

Ramadan yang dianggap sebagai bulan suci dengan seribu berkah dan ampunan, bulan saat setan-setan dipenjara, ternyata tak cukup mampu memenjarakan nafsu angkara murka kita. Betapa banyak kejahatan yang semestinya terhenti karena Ramadan, justru menyeruak dengan hebatnya di padang terang bulan suci.

Apapun kegaduhan kita sepanjang awal hingga akhir Ramadan, alhamdulillah kita sudah melewati masa Ramadan yang penuh suka cita. Gema takbir yang mengalun indah di seluruh negeri, menjadi penanda datangnya Idul Fitri. Lebaran telah tiba.

Allaahu akbar…. Allaahu akbar…. Allaahu akbar. Laa ilaaha illallaahu wallaahu akbar. Allaahu akbar wa lillaahil hamdu….

Ketika suara takbir sudah bersahutan dari satu masjid dengan masjid lain, dari mereka yang takbir keliling, dari lorong-lorong sunyi yang tetiba hidup meriah, pertanda lebaran jelang tiba. Alhamdulillah, lebaran 1443 H berlangsung serentak di Indonesia. Hari Raya Idul Fitri yang jatuh pada tanggal 2 Mei 2022 menggeser dengan  sukses peringatan Hari Buruh Internasional (1 Mei) dan Hari Pendidikan Nasional (2 Mei) di Indonesia.

Semua orang Indonesia nyaris larut dalam kemeriahan lebaran; zakat, THR (Tunjangan Hari Raya), kue-kue khas lebaran, parsel, takbir keliling, mudik, sholat ied, ketupat opor, salam dan salim silaturahmi, bermaafan – memaafkan, baju baru, angpao, dll. Semua terasa begitu meriah dan hidup. Kita berasa baru lebaran lagi.

Yach, terutama karena tahun ini pemerintah mengizinkan kita untuk mudik lebaran. Alhamdulillah, setelah dua tahun kita “diminta” tidak mudik lebaran karena pandemi. Gegap gempita mudik lebaran menjadi begitu riuh. Jumpa peluk cium saudara kerabat di kampung halaman menjadi seperti sesuatu yang “baru” lagi di lebaran kita kali ini.

Hari kemenangan telah tiba. Hari bermaafan telah datang. Hari kembali suci telah menyapa. Saatnya bersilaturahmi dan bermaaf-maafan di hari yang fitri. Urusan minta maaf dan memaafkan sejatinya bukanlah urusan yang mudah. Setiap orang memiliki kesulitan dan permasalahannya masing-masing untuk perkara meminta maaf dan memaafkan.

Perkara meminta maaf dan memaafkan ini memang cukup mudah diucapkan di mulut, tetapi apakah kita benar-benar telah meminta maaf dan memaafkan secara tulus lahir dan batin kita? Wallahua’alam.

Mari kita cermati satu per satu. Ada banyak konflik terjadi di sekitaran kita. Baik itu antara kita dengan saudara, kita dengan menantu – mertua, kita dengan besan, kita sebagai anak dan orang tua, kita sebagai teman, kita dengan tetangga, kita dengan partner kerja, kita dengan anggota komunitas dll. hubungan sosial antar manusia.

Semua hubungan sosial pada prinsipnya rawan masalah. Sedikit saja salah ucap, salah paham, bisa berakibat fatal. Lalu menjadi masalah yang membesar dan tidak selesai bertahun-tahun. Padahal, kalau semuanya mau berbesar hati, menghadapi, meminta maaf dan memaafkan, bisa jadi urusannya akan segera selesai.

Nyatanya ini tidak selalu mudah. Karena minta maaf dan memaafkan bukanlah berarti siapa yang salah dan siapa yang benar. Ini berkaitan dengan siapa yang mau mengalahkan ego dan menghargai hubungan yang telah terjalin sebelumnya. Dan momen lebaran, sebenarnya saat yang tepat untuk sedikit menurunkan ego —meminta maaf dan memaafkan lebih dulu. Terutama meminta maaf dan memaafkan secara batin demi kelapangan hati dan jiwa kita.

Meminta maaf dan memaafkan orang-orang yang tidak pernah terlibat konflik dan masalah dengan kita, tentu hal yang mudah. Namun bagaimana dengan urusan meminta maaf dan memaafkan orang-orang yang merugikan kita? Orang-orang yang menghancurkan hidup kita? Orang-orang yang menjegal usaha kita? Orang-orang yang membuat kita sakit hati, luka hati, hingga berdarah-darah?

Tentu tidak mudah untuk meminta maaf dan memaafkan mereka. Bahkan kalau bisa, seumur hidup kita tidak perlu bertemu atau berurusan dengan mereka. “Kan dia yang salah, kenapa harus saya yang minta maaf duluan?”

Seringkah kita merasa begitu? Kalau kita menjadi pihak yang meminta maaf dan memaafkan, sementara pihak lain tidak mau; kita memang tidak mengubah peristiwa yang telah terjadi. Namun sebenarnya, kita sudah mengizinkan diri kita untuk menapaki hari yang lebih baik. Kita sudah melepaskan ego, dengki, kesal, marah, dll perasaan negatif yang mengganjal langkah kita.

“Tapi kelakuannya itu sungguh menjengkelkan. Gara-gara dia, saya rugi sekian… gara-gara dia saya tidak jadi kuliah…, dll.”

Wait…! Kita minta maaf dan memaafkan itu, bukan berarti kita melupakan kelakuan buruk yang pihak lain lakukan pada kita. Kita tetap perlu mencatatnya dalam hati, bahwa ada hal yang perlu kita pertimbangkan lebih dalam —kalau misalnya nantinya kita perlu berhubungan atau berurusan lagi dengan mereka.

Dengan meminta maaf dan memaafkan, kita sudah tidak menyimpan dendam dan kekecewaan, kita sudah melepaskannya. Kita sudah bisa menerima, bahwa memang itulah yang harus terjadi. Kita harus bersegera move on mengejar masa depan kita yang lain. Bukannya malah terus menerus meratapi kesalahan yang diperbuat orang lain pada kita, atau bahkan kesalahan-kesalahan yang kita lakukan.

Ya, karena urusan minta maaf dan memaafkan itu tidak hanya dari kita kepada orang lain; tetapi juga pada diri kita masing-masing. Coba ingat-ingat, berapa banyak kesalahan yang kita lakukan? Berapa banyak perbuatan yang ternyata kita sesali sepanjang hidup hingga saat ini —yang membuat kita tidak bisa memaafkan diri sendiri? Kesalahan yang membuat kita stuck saja di persoalan itu. Sementara hari-hari sudah berlari sangat cepat dengan kemajuan yang luar biasa. Hidup kita pun menjadi terasa berat dan penuh beban.

Padahal kalau kita mau berbesar hati, mengambil hikmah bahwa yang kita lakukan sudah versi terbaik; lalu mengizinkan kita melakukan kesalahan, kekurangan, tidak sesuai harapan; kemudian bergerak memperbaiki diri, tentu lebih banyak hal baik dan indah yang kita peroleh.

Memaafkan diri sendiri berarti kita membuka ruang seluas-luasnya bahwa kita ini manusia. Tidak ada manusia yang sempurna. Seberapa baik kita merancang atau merencanakan sesuatu, kalau tidak tertulis dalam takdir Tuhan, pasti meleset atau tidak tergenggam juga.

Dengan kesadaran manusiawi tersebut, kita menjadi manusia yang ringan langkah. Hidup terasa membahagiakan dan mudah. Kita juga akan menjadi manusia-manusia yang toleran. Kita tidak akan mudah menghakimi atau menghujat orang lain. Karena kita menyadari, bahwa kemanusiaan tertinggi seorang manusia adalah melakukan kesalahan yang manusiawi. Meskipun hal ini tidak berarti boleh menjadi pembenar setiap kesalahan.

Menyadari adanya kesalahan tersebut, menuntut kita untuk minta maaf dan memaafkan diri sendiri. Berdamai dengan semua peristiwa yang tidak menyenangkan yang pernah kita alami. Kalau kita tahu pasti, Tuhan saja Maha Pengampun, mengapa kita sulit minta maaf dan memaafkan orang lain? Mengapa kita mempersulit diri sendiri dengan tidak memaafkan kesalahan-kesalahan kita?

Lebaran ini, mari kita koreksi diri masing-masing. Sudah lebarkah hati kita? Sudah luaskah pintu maaf kita, untuk semua pihak yang ternyata begitu banyak salah kepada kita? Sudah terbukakah hati kita untuk mendahului minta maaf kepada mereka yang menyakiti dan melukai hati?

Jawabannya ada pada diri kita masing-masing. Semakin lapang hati kita, semakin mudah dan bahagia hidup kita. Semakin ringan langkah kita, semakin cerah masa depan kita. Damai sejahtera di bumi dan di surga.

Selamat berlebaran. Selamat Idul Fitri 1443 H. Mohon Maaf Lahir dan Batin. Bermohon semua amal baik kita sepanjang Ramadan diterima Allah SWT dan tetap sehat, happy, berlimpah rezeki berkah, panjang umur sampai berjumpa Ramadan tahun depan. Amiiin.

#artikelmedia #publikasimedia #mediaonline #ariwulandari #penabicara #kinoysanstory

Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us:

Literasi Digital versi Ibu-ibu Pedagang Online

Tulisan ini dimuat di penabicara.com hari Kamis, 28 April 2022 dengan link berikut

https://www.penabicara.com/ruang-ngopi/pr-2063317051/literasi-digital-versi-ibu-ibu-pedagang-online?fbclid=IwAR2c-sOIDgDZaVL0A_anicOk7uq9uwr2Tql2rV47dIw8SlkM1UcRlxonn_I

Sejak Pemerintah merilis pengumuman pandemi awal Maret 2020 yang lalu, kita sudah menjalani masa pandemi selama tiga tahun berjalan. Adanya kebijakan untuk melakukan segala sesuatu dari rumah; baik kerja, sekolah, kuliah, dll aktivitas —secara tidak langsung telah mengubah perilaku bangsa Indonesia secara umum. Kalau sebelumnya semua hal harus offline atau dilakukan dengan tatap muka, semenjak pandemi semua menjadi “harus bisa online atau dilakukan dengan cara tidak langsung.

Pandemi telah menjadikan sosial media (sosmed) kita mengalami perubahan fungsi yang sangat drastis. Sebelumnya, sosmed memang sudah tidak dapat dilepaskan dari kehidupan kita sehari-hari. Seluruh warga Indonesia, mulai dari anak-anak, remaja, dewasa, orang tua, lelaki atau perempuan; semua menggunakan sosmed. Akibatnya kebutuhan alat pendukung penggunaan sosmed pun meningkat. Mulai dari HP terintegrasi sosmed, laptop, tablet, kuota internet, server yang baik, hingga urusan sinyal yang memadai. Sosmed dalam beragam bentuk, mulai dari Facebook, Twitter, Instagram, Youtube, Tiktok, dll platform digital yang bisa diakses secara bebas, telah menyihir kehidupan warga negeri +62 secara umum.

Pandemi dengan kewajiban beraktivitas dari rumah, telah menjadikan orang-orang yang semula tidak pernah mengulik internet, sekarang pun mulai menilikinya. Mereka ingin turut serta numpang eksis agar tidak ketinggalan zaman. Di Indonesia, sosmed yang semula menjadi ruang saling sapa telah berubah peran menjadi beragam fungsi —dari yang bersifat nonkomersial menjadi komersial.

Sekurangnya, saya melihat bahwa sosmed di Indonesia memiliki lima fungsi, yaitu (1) sekedar bersapa hai dengan kawan dan kerabat —biasanya postingannya kalem dan tidak terlalu banyak frekuensi kemunculannya, (2) memajang karya kreatif —umumnya isinya berupa karya-karya yang dihasilkan, tidak selalu ada proses jual beli, tetapi lebih sering sebagai iklan versi halus, (3) untuk berdagang —bagi mereka yang menggunakan sosmed sebagai sarana berdagang (bukan marketplace), mereka secara sadar memposting dagangan termasuk interaksi dan tata cara transaksi jual belinya, (4) bersosmed hanya untuk ikut-ikutan —ini biasanya punya banyak akun sosmed, tapi nyaris semuanya tidak terurus, (5) hal lain-lain —ini bisa sebaran hoax, informasi dengan tema-tema tertentu, provokasi, dll.

Sosmed di Indonesia tidak dikontrol oleh pemerintah. Negara tidak mengurusi postingan apapun di sosmed. Setiap pengguna sosmed bebas posting apa saja, kapan saja, dari mana saja, di mana saja, modelnya seperti apa, dan untuk kepentingan apa. Namun pada beberapa kasus yang sangat krusial dan mengganggu, seperti fitnahan, pencemaran nama baik, adu domba, ujaran kebencian atau hate speech —dalam beberapa kasus sudah melalui proses jalur hukum.

Artinya, kebebasan bersosmed itu bukanlah kebebasan yang bablas sebebasnya tanpa aturan. Sebagai pengguna sosmed, sebebas apapun postingan anda, sebaiknya tidak menyalahi aturan umum yang berlaku. Tentu saja kalau anda tidak ingin terjerat kasus-kasus yang tidak menyenangkan gegara postingan di sosmed.

Salah satu fungsi medsos yang sangat menarik perhatian saya, adalah penggunaan medsos bukan marketplace untuk jual beli. Produk dagangannya dapat dikatakan hampir semua produk kebutuhan hidup. Mulai dari yang remeh-temeh semacam minyak gosok hingga barang bernilai milyaran seperti rumah dan mobil mewah. Pelakunya pun beragam, dari remaja sampai orang tua, bisa lelaki atau perempuan.

Berdasarkan pengamatan saya sebagai pengguna sosmed —pelaku pedagang online mayoritas adalah perempuan, terutama ibu-ibu. Secara prinsip ibu-ibu ini memiliki aktivitas lain, tetapi juga menggunakan sosmed untuk berdagang atau berjualan.

Saya pribadi sebagai penulis yang memanfaatkan sosmed untuk berbagai hal yang berkaitan —seperti memposting karya-karya terbaru, berbagi tips penulisan, informasi webinar dan kelas-kelas penulisan, bahasan buku dan film, jual beli buku, kadang-kadang juga curhat atau tanggapan terhadap suatu hal; saya tahu ada banyak perempuan lain yang memanfaatkan sosmed untuk sarana seperti ini. Sosmed seolah menggambarkan kegiatan atau aktivitas sehari-hari para penggunanya.

Dalam pandangan manajemen, hal yang beraneka macam seperti yang saya lakukan dan ratusan ribu atau mungkin jutaan ibu-ibu pengguna sosmed di Indonesia bisa jadi kurang pas, tidak benar, tidak sesuai, dan tidak menghasilkan keuntungan maksimal. Namun benarkah demikian? Apakah ini menjadi suatu yang salah dalam penggunaan sosmed?

Jawabannya jelas tidak. Ini bukan sesuatu yang salah. Pandemi telah mengubah potret ibu-ibu ini menjadi lebih berdaya. Mereka yang suaminya atau bahkan dirinya sendiri terkena dampak PHK (Pemutusan Hubungan Kerja) selama pandemi, telah mengubah wajahnya menjadi perempuan-perempuan tangguh Indonesia. Mereka memberdayakan kemampuan atau keterampilannya menghasilkan produk, lalu berjualan di sosmed.

Dari sana, mereka mendapatkan penghasilan demi mempertahankan keberlangsungan hidup dirinya dan keluarganya. Apakah berhasil? Secara umum saya akan mengatakan berhasil. Karena semenjak pandemi, kalaupun banyak korban meninggal akabat virus C-19 —nyaris tidak terdengar korban meninggal karena kelaparan. Artinya, baik secara individu atau kolektif, masyarakat Indonesia tidak pada kondisi rawan ekonomi.

Hal ini justru mengingatkan kita akan adanya suatu potensi yang luar biasa dari perempuan —terutama ibu-ibu pedagang online yang membuka ruang baru dalam dunia literasi digital. Keinginan mereka untuk memperkenalkan produk dan menjualnya sebanyak mungkin, telah membuat mereka ini sekurangnya mau belajar beberapa hal mendasar sebelum mem-posting produk mereka di sosmed.

Keterampilan dasar yang harus dikuasai seorang ibu-ibu pedagang online, adalah prinsip-prinsip copywriting atau bahasa gampangnya adalah bahasa iklan. Ya, copywriting adalah teknik praktis mengiklankan suatu produk, sehingga menarik perhatian calon pembeli untuk menggunakan dan membelinya. Dengan demikian, tujuan ibu-ibu pedagang online mem-posting dagangan di sosmed dapat berakhir pada closing atau penjualan. Inilah yang akan menambah omzet dan penghasilannya.

Teori dan teknik copywriting sangat beragam dan komplek. Keterampilan dasar copywriting meliputi sekurangnya sepuluh aspek penting, yaitu (1) identifikasi produk dengan detail, (2) membuat foto produk yang menarik, (3) menentukan sasaran atau target pasar, (4) membuat caption atau headline postingan, (5) cara menawarkan, (6) penggunaan storytelling, (7) closing atau mendapatkan penjualan, (8) menjawab komentar dengan baik dan cepat, (9) memperhatikan kompetitor, dan (10) monev atau monitoring dan evaluasi.

Pertama, identifikasi produk. Yach, ibu-ibu pedagang online di sosmed kudu sadar, produk yang dijual itu apa. Mereka perlu menjelaskan, mendeskripsikan produknya sebaik mungkin, sedetail mungkin dengan prinsip 5W + 1H (what, who, when, where, why, dan how) yang berarti penjelasan dari apa produk tersebut, siapa penggunanya, kapan bisa digunakan, di mana tempat penggunaannya, mengapa perlu menggunakan produk tersebut, dan bagaimana cara menggunakan. Termasuk menerangkan harga dan cara transaksinya. Identifikasi produk ini akan memberikan informasi yang detail bagi calon pelanggannya.

Kedua, membuat foto produk yang menarik. Tidak dapat dipungkiri bahwa gambar produk yang menarik, akan mendorong calon pembeli untuk mengklik postingan kita. Jadi ibu-ibu pedagang online di sosmed kudu belajar prinsip dasar teknik fotografi yang baik. Ketiga, menentukan sasaran atau target pasar. Yach ini penting. Dengan mengenali target pasar yang tepat, ibu-ibu pedagang online bisa memilih foto dan gaya bahasa yang tepat, sehingga pas di hati audiensnya.

Keempat, membuat caption atau headline postingan. Ini semacam judul yang kudu menarik perhatian, menimbulkan rasa penasaran, sehingga calon pembeli mampir ke postingan kita dan membeli produk. Berikutnya yang kelima, cara menawarkan. Tidak pernah ada aturan baku dalam menawarkan produk di sosmed. Ada banyak ibu yang menggunakan teknik atau gaya iklan pribadinya untuk menggaet pembeli. Ibu-ibu pedagang online kudu menemukan teknik yang pas untuk dirinya sendiri. Tidak bisa copypaste dari orang lain.

Selanjutnya yang keenam, penggunaan storytelling. Teknik bercerita untuk berdagang sudah jamak dilakukan. Dengan cerita, orang atau calon pembeli lebih mudah menerima dan mengidentifikasi produk tersebut cocok atau tidak untuk dirinya. Terlebih kalau ceritanya berdasarkan kisah nyata penggunaan dan manfaat produk, biasanya perhatian audiens cukup besar. Yang ketujuh, closing atau mendapatkan penjualan. Tujuan utama dari copywriting adalah penjualan. Emak-emak pedagang online kudu memperhatikan cara closing, sehingga orang mau membeli, membayar produk kita, demi meningkatkan omzet penjualan.

Berikutnya yang kedelapan, menjawab komentar dengan baik dan cepat. Karena format iklannya di sosmed yang bersifat pribadi bukan marketplace, ibu-ibu pedagang online kudu cepat tangkas merespon komentar. Terlebih bila komentar tersebut berkaitan dengan produk yang dijual. Komentar dan respon yang baik sering membuka penjualan yang besar.

Kesembilan, memperhatikan kompetitor. Berdagang pasti tidak lepas dari persaingan. Ada baiknya para ibu pedagang online tidak membabi buta. Perhatikan kompetitor, tapi jangan merusuh. Jangan merusak pasaran orang dengan komentar agar orang membeli produk kita (yang setipe tetapi harganya lebih murah). Itu kurang sopan. Lebih baik fokus pada kelebihan produk dan melayani pelanggan dengan baik.

Terakhir yang kesepuluh, monev atau monitoring dan evaluasi. Namanya juga berdagang —tujuannya menjual, mendapatkan omzet, meraih keuntungan. Bukan kegiatan iseng-iseng berhadiah. Ibu-ibu pedagang online tetap perlu melakukan monev secara mandiri. Postingan seperti apa yang menghasilkan banyak respon dan penjualan, bagian mana yang tidak. Kemudian dari waktu ke waktu, apakah penjualan efektif menggunakan copywriting gaya tertentu ataukah perlu beralih cara, dll.

Semuanya itu merupakan keterampilan yang berbasis pada literasi digital. Seorang ibu pedagang online yang baik dan ingin sukses, sekurangnya telah turut serta berpartisipasi mentradisikan literasi digital. Mereka ini jumlahnya sangat banyak. Rasanya, hampir setiap ibu yang saya kenal, pasti pernah jualan online menggunakan sosmednya. Entah itu jualan produk yang dibuat sendiri, sebagai reseller, maupun sebagai dropshipper.

Aktivitas ibu-ibu pedagang online ini telah mewarnai dunia literasi digital Indonesia dengan lebih beragam sejak masa pandemi hingga sekarang. Keberadaan mereka ini kalau diberdayakan secara maksimal, akan menjadi kekuatan literasi digital yang besar. Selain itu, mereka juga bisa turut serta mensejahterakan diri dan keluarganya melalui perdagangan online yang mudah, bisa dilakukan oleh siapa saja, kapan saja, di mana saja, dengan beragam sosmed yang sesuai.

Apakah anda juga ibu-ibu pedagang online? Kiranya perlu menambah keterampilan menulis dan mengikuti bahasan copywriting demi kesuksesan penjualan produk anda. Karena saya yakin, tujuan anda berjualan pasti meningkatkan omzet penjualan. Dengan metode copywriting yang tepat, tujuan itu pasti lebih mudah tercapai.

#artikelmedia #ngopi #ariwulandari #penabicara #mediaonline #publikasimedia #literasidigital

Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us:

Lebaran Paling Gado-gado

Ya, lebaran tahun 2022 sudah lewat beberapa waktu. Namun karena masih bulan Syawal, saya pun mengucapkan Selamat Idul Fitri. Mohon Maaf Lahir dan Batin. Bermohon doa semua amal kebaikan kita diterima Allah SWT. Dan kita diberi sehat panjang umur berkah, berjumpa lagi dengan Ramadan tahun depan. Amin.

Saya mencatat hal yang paling gado-gado sepanjang tahun-tahun lebaran yang saya alami. Sebagai pengingat agar saya lebih berhati-hati dan tidak menyepelekan gangguan kecil. Lebaran kali ini berbeda. Sebelumnya kita dilarang mudik karena pandemi. Dua kali kita tidak mudik. Lalu tahun ini boleh mudik. Tentu saja, saya senang. Biasanya kalau sudah disebut “mudik” bagi saya tidak sebentar, karena urusannya jadi ke sini ke situ.

Saya wes berniat mudik dengan kereta. Berangkat lebih awal dan pulang lebih akhir. Namun ya ampun, tiket kereta ke arah timur itu sungguh sudah habis sejak entah kapan hari. Adik saya lalu mengatakan ikut mudik saja bareng dia. Akhirnya saya setuju, meskipun itu berarti cuman berangkat berhenti di rumah ibu lalu balik pulang. Capeknya pasti…  lalu lintas jelas rame.

Hari Kamis sebelum lebaran, tanggal 28 April saya masih beberes urusan kampus. Di rumah, saya mengepel seluruh ruangan dan membersihkan kamar mandi. Setelah beberes, saya kok merasa pusing luar biasa. Saya pikir karena sahur terlalu awal jam 01 an WIB dini hari. Jadi lewat tengah hari sudah laper dan pusing.  Saya pun rebahan menunggu Maghrib. Setelah berbuka, saya minum obat sakit kepala.

Pusing saya tidak kunjung mereda. Lepas jam sembilan malam, saya minum obat pusing lagi dan tidur. Badan rasanya kok tidak karuan. Saya pikir capek karena pekerjaan beruntun. Ya ampun pas sahur, tangan kiri saya bengkak dan nyeri luar biasa saat digerakkan. Saya meneliti tangan saya, tidak ada yang aneh. Saya berusaha mengingat semingguan kerja apa saja. Segera saya mencari minyak rempah,  mengolesi semuanya. Rasa nyeri pun berkurang. Mungkin saya terlalu lelah mengetik. Sekitar satu tahun yang lalu, kedua tangan saya hampir bengkak; tapi karena saya sadar cepat, langsung diolesi minyak rempah dan sembuh.

Hari Jumat, saya masih berusaha bertahan dengan minyak oles. Tapi rasa nyeri dan meriangnya itu tidak keruan. Saya senteri tangan dari ujung ke ujung, lalu tampaklah ada bekas sengatan di ruas jari manis. Entah gigitan apa, tidak jelas. Saya mengingat aktivitas saya, dan benar tidak ingat apa yang menyengat dan di mana disengat.

Adik saya pas dengar cerita saya, mengatakan berarti sengatan itu terjadi saat saya kerja. Kalau saya diam, pasti tidak akan terjadi. Karena kalau hening, suara detak jam aja terdengar. Apalagi saya termasuk orang yang peka enam indera.

Adik saya bertanya apa harus dianter ke dokter. Dia bilang nanti sama dokter pasti diberi obat anti nyeri dan obat mengempiskan bengkak. Saya bilang sepertinya kalau sudah tahu sebabnya, saya di rumah saja dengan minum obat anti nyeri. Puasa-puasa, saya yo mager keluar rumah. Tapi itulah yang bikin sakit ini berkepanjangan. Sabtunya sakit saya wes tidak keruan dan ke dokter juga akhirnya.

Begini begitu, dokter bilang itu disengat kelabang atau lipan. Dia cukup takjub melihat begitu bengkaknya (seperti gajah abuh), saya masih sadar dan tidak pingsan, masih bisa jelas berkomunikasi dengan baik. Katanya lipan cukup besar karena racun cukup banyak. Berarti daya tahan tubuh saya luar biasa kuat. Tetap saja saya meringis dengan nyeri dan badan yang tidak keruan rasanya. Panas, meriang, berasa mual, nyerinya sampai punggung saat tangan digerakkan.

Sudah mendapat obat dari dokter, saya tenang. Meskipun jadi tidak berpuasa di ujung-ujung Ramadan karena kudu minum obatnya per tiga jam. Jumat, Sabtu, Minggu, bener-bener siksaan berat buat saya. Minggu malem pas takbiran, saya wes berniat pokmen kudu berangkat Sholat Ied. Ya, berangkat dengan tangan yang masih bengkak, tidak bisa menggenggam, tidak bisa mengangkat bahkan satu bolpoin. Ya Gustiii… ampunilah hamba-Mu ini dan sehatkanlah aku! Begitulah seru saya berulang-ulang dalam hati.

Lebaran saya masih ikut mider silaturahmi di perumahan yang berasa sunyi karena mayoritas mudik. Hanya beberapa keluarga saja yang tinggal. Itu pun karena daerah mudik mereka di sekitaran DIY. Mereka memilih mudik setelah sholat Ied di masjid komplek. Untunglah di deretan rumah saya, ada tetangga-tetangga yang tidak mudik. Begitu tahu keadaan saya, mereka menanyakan apa saya perlu ini itu dan akan membantunya. Saya bilang obat cukup, makan sudah ada frozen food yang aman, bisa gofood. Tapi tetap, mereka membawakan makanan ini untuk saya. Sungguh berkah juga lho, punya tetangga-tetangga yang baik dan peduli. Alhamdulillah.

Dan saya masih berjibaku dengan pengobatan. Kata dokter mestinya 4-5 hari sudah lebih reda nyerinya, tapi pulih 10-12 hari karena saya telat mengobati. Yo wes, semua jadwal halal bi halal dan unjung-unjung tetua di Jogja; saya skip. Bahkan mengirim ucapan selamat hari raya dan membalasnya pun saya terlewat, karena nyeri yang tidak tertahan kalau salah gerak.

Hari Kamis pagi, 5 Mei, adik dan ipar saya memberi tahu rencana perjalanan. Menanyakan apakah saya cukup sehat. Saya bilang oke. Tangan saya sudah tidak terlalu nyeri, bengkak juga sudah mengempis. Dan kesalahan saya itu, tidak tidur di perjalanan. Ngobrol ini itu sama adik dan ipar. Sampai besok siang beneran tidak tidur dan ada jam saya lupa minum obat.

Siang Jumat di rumah ibu —yach, kalaupun kami bisa membayar hotel, tapi lebaran tetap tidur di rumah ibu. Situasinya jelas  kami dengan krucilan bocil menjadi seperti pindang. Tidur seadanya. Baru sebentar saya tidur, ponakan saya entah ribut apa dan saya pun tidak jadi tidur. Malem pun kami lebih banyak cerita ini itu.

Ealah, nggak biasa-biasanya ipar saya bilang kalau sepanjang ke rumah ibu belum pernah dolan-dolan jauh. Mereka langsung cari browsing ini itu dan mengajak semua ke pantai keesokan harinya. Ada si bocil yang ulang tahun meminta ke KFC, yang gila —kami dua kali datang, antrian mengular panjang; kalau dijabanin itu lebih dari dua jam.

Saat mendengar rencana ke pantai itu, mestinya biar saja mereka pergi dan saya tidur di rumah ibu. Tapi kalau nggak sekarang njur kapan bisa sama saudara-saudara yang jauh-jauh. Yo wes saya ikut. Di pantai lho saya tidak banyak aktivitas. Mung keliling naik perahu dengan keluarga. Ciblon main air pun tidak. Tapi ini yo berasa bising… Pantai Gemah penuh sesak. Selain karena kurang sehat, saya malas berliburan di sesak kerumunan.

Setelah bebersih diri selepas keliling laut, kami nyari souvenir, sambil beli makanan kecil ini itu. Wes pulang. Makan-makan. Beberes njur sore balik Joga. Dan begitulah dosa-dosa saya akibat lupa minum obat yang berdurasi tiga jam itu, malamnya tangan saya luar biasa nyeri. Meriang, panas, beneran wes gak enak di badan. Berusaha tidur tapi nggak bisa tidur. Sampai Jogja lagi, saudara saudara dan ipar saya masih dolan liburan lebaran. Saya wes memutuskan off. Tidur.

Senin Selasa full di kantor, dari pagi hingga sore —sebenarnya ini juga maksain banget karena ada hal penting. Selasa malem, saya panas lagi, demam, nyeri, nggak beres aja badan. Rabu ke dokter lagi. Kena omelan karena wes dibilang istirahat saja sampai sembuh atau obatnya habis, malah pecicilan. Diberi resep dengan catatan kudu istirahat total sekurangnya tiga hari. Wes, Rabu Kamis Jumat saya rebahan gaya sultan, ora kerja. Semua urusan kerja saya skip. Zoom zoom bahkan breifing lomba-lomba. Ketemuan-ketemuan dengan kawan kerabat pun saya batalkan. Pokokmen saya mau sehat dulu. Meskipun tetep, sosmed ya kepegang lah…. namanya rebahan zaman sekarang, HP nggak ikut rebah 😀

Alhamdulillah, sehat. Sabtu pagi saya wes ngepit cukup jauh sekira 7 km pp atau ya 14 an km. Tangan sudah lentur, gerak cepat, kuat memegang, bisa menggenggam. Badan sudah enak segar bugar. Buat lelarian dan menyanyi keras-keras, wes bisa. Alhamdulillah. Malamnya saya bisa ikut halal bi halal di RT dari jam 19 an sd 22 an WIB dengan ikut aktivitas membantu ini itu, tanpa merasa ribet. Sehat itu memang nikmat.

Hal lain yang terjadi tahun ini yang mungkin akan jadi kebiasaan adalah saya menerima THR dan parsel wajib dari institusi saya menetap sebagai dosen. Hahah… dengar THR kayaknya asing banget bagi saya. Meskipun ini tahun ini besaran THR sekira 20% saja dari honor saya mengajar penulisan 2 jam, tetap saja saya gembira. Ora kerja opo-opo, dapat duit 🙂

Tentu lebaran ini juga saatnya saya memberikan THR pada orang-orang yang ngrewangi saya. Membagi angpao pada beberapa pihak. Alhamdulillah. Selain itu juga mengirimkan parsel-parsel pada semua pihak yang berada di sekitaran relasi, gaweyan, kerabat. Tetap saya syukuri semuanya. Alhamdulillah, meskipun tidak menetap bekerja di media, penerbit, atau PH, saya masih menerima angpao dan parsel dari mereka —hampir setiap tahun lebaran, termasuk tahun ini.  Semua itu menandakan tempat-tempat saya bernaung sebagai freelancer masih solid secara ekonomi dan finansial.

Yach, semua peristiwa itulah yang menjadi lebaran tahun ini terasa nano nano atau gado gado bagi saya. Banyak rasanya. Banyak pengalamannya. Saya seperti diingatkan untuk lebih peka pada gejala kecil. Kadang yang sepele itu, nggak sesederhana yang kita kira. Tanda yang sama, tidak selalu referen sakit atau penyakit yang sama. Bisa saja berbeda, hanya gejalanya sama.

Wes, sekarang sehat alhamdulillah. Saya beneran bersyukur wes balik sehat. Bisa gaspol kalau sehat mau makan ini itu enak, tidur nyenyak, kerja juga tenang. Tetep semakin tambah umur, kudu lebih protektif pada tubuh fisik. Imun kita bisa saja kuat, tapi kalau penyerang kekebalan tubuh lebih bebal, tetap kita yang akan jatuh.

Dan percayalah, semua tahu. Sakit itu tidak enak. Makanya, sehat itu butuh investasi. Makan yang sehat, istirahat cukup, olga cukup, hati jiwa pikiran tenang, dekat dengan Tuhan, dll. Mati memang sudah takdir, umur sudah ditentukan. Tapi menjaga jiwa raga segar bugar sehat lahir batin adalah tugas kita masing-masing.

#kinoysanstory #selfreminder #sehat #segarbugar #happywriter #happywriting #happylife #lebaran

Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us:

Doa yang Langsung Dikabulkan

“Budhe Ari, tahu enggak doa apa yang langsung dikabulkan oleh Allah?”
.
Biyuuu…, saya mikir. Sementara si bocil yang berkebaya orange itu nyengir 😂
.
“Nyerah, Budhe?”
.
“Iya deh.”
.
“Doa sebelum makan. Karena kalau abis berdoa, kita pasti langsung makan. Kalau nggak makan, kita nggak perlu berdoa sebelum makan.”
.
Wkwk… saya ngakak, tapi kok ya bener ini bocil 😃😆😂
.

 

Please follow and like us:

Bukan Hidung (Pinokio)

Tadi malam saya mencium aroma semacam bangkai di kamar yang bikin mual pusing, dan akhirnya pindah kamar. Hidung saya —seperti sensor indera keenam, supersensitive.😂 Aroma busuk atau wangi dalam jarak jauh —yang bagi orang lain samar, saya mengidentifikasi dengan baik.
.
Sebelum pindah kamar, saya menyalakan semua lampu; memeriksa tempat-tempat yang tampak. Mungkin saja ada cicak atau “den bagus” yang masuk, terus tidak bisa keluar. Maklum, rumah depan hutan dan sungai; rimbun tanaman di depan rumah —binatang pecicilan ke rumah itu biasa.
.
Beberapa bulan lalu, saya juga terkena gangguan cicak mati meninggalkan bau bangkai di ruang tamu. Sudah dipel bersih pake karbol dan pewangi pun, versi saya baunya belum hilang. Pas adik saya datang, saya tanya apa dia cium bau bangkai cicak. Dia bilang tidak. Wangi katanya.
.
Heleh, hidung sensitive bikin masalah kalau kayak gitu. Akhirnya saya pun mengepel berulang dan menyemprot pewangi tempat bekas bangkai cicak.
.
Sebelumnya saya berasa stres terkena bau bangkai dan meminta semua tempat perabotan dicek dipel wangi. Namanya biang kerok itu belum ketemu. Bhadalah… cicak mati kejepit di jendela. 🤣
.
Hari ini pun ternyata cicak pula yang
bikin ribet. Padahal semua tempat tersembunyi wes saya taruh kapur barus biar cicak dll tidak mendekat. Tapi tetap kalau terlupa dan kapur barus sudah mengecil, mereka yo pecicilan lagi keluar masuk.
.
Saya pun kudu ikhlas bebersih dadakan, sekaligus menata ulang setting kamar 😃 Lumayanlah membakar kalori di saat puasa. Bikin kerjaan lain tertunda 🙏
.
Pict: si bocil —salah satu cucu ibu saya di rumah ibu, sudah bebersih perabotan untuk persiapan lebaran😅 Puasa baru beberapa hari, si bocil udah mo lebaran aja 😄 *seolah wes menghitung angpao yang akan diterima dari para tetuanya, termasuk saya 🤣
.
Please follow and like us:

Sebahagia Kamu, Senyaman Kamu

Pagi tadi saya ditanya kawan; karena membaca postingan saya kemarin di FB; kalau menyiapkan tabungan untuk hidup dua tahun; bukankah itu jumlah yang besar dan sulit bagi PNS?
.
Saya tertawa. Ya kalau PNS nggak perlu. Kan wes gajian rutin tiap bulan. Setahu saya, tidak pernah ada kasus PHK untuk PNS kecuali pemecatan karena tindakan melawan hukum yang sudah diputus sah dengan ketetapan pengadilan/hukum. Mungkin bagi mereka yang aman gajian tiap bulan; cukup mempersiapkan dana darurat untuk hal tidak terduga. Terus besarannya berapa? Ya tergantung masing-masing.
.
Es Krim dari New York
Kalau freelancer, berbeda. Situasinya tidak pasti. Saya mempersiapkan itu juga tidak ujug-ujug. Semula ya 1 bulan, 2 bulan, 4 bulan, dst sampai terkunci 24 bulan (2 tahun). Dan tentu akan saya perpanjang terus, sesuai kemampuan.
.
Karena ini bagian yang membuat saya pribadi tenang, anteng, tidak menerima pekerjaan yang nggak masuk akal (baik deadline maupun fee-nya), tidak disetir orang karena tidak ada urusan utang piutang. Mandiri secara finansial akan membuat seseorang merdeka dalam berpikir, bertindak, bekerja, dan bisa hidup dengan happy damai. 😍
.
Saya sering menganggap bagian itu “tidak ada”. Hanya untuk digunakan saat situasi beneran tidak terprediksi. Tidak diutakatik. Juga bukan untuk dipinjam-pinjamkan.
.
Nah, bagaimana dengan kamu? Setiap orang dan keluarga punya manajemen duit berbeda. Carilah yang bikin kamu bahagia, bikin kamu nyaman. Ada banyak pilihan tabungan dan investasi. Ada banyak cara mempersiapkan diri untuk situasi darurat. Pilih-pilih yang sesuai. 🙏
.
Alhamdulillah, saya hidup dengan baik karena kemandirian finansial dan tidak diribeti urusan utang. Kerja pun tetap tenang. Bisa do the best atau just let it go. Karena versi saya, hidup itu untuk bahagia; bermanfaat bagi sesama dan semesta dengan cara sebaik-baiknya ❤
.
Please follow and like us:

Cinta Di Antara Kami

CINTA DI ANTARA KAMI
.
Saya 7 bersaudara, 4 laki-laki 3 perempuan.
2 saudara laki-laki saya telah berpulang. Jadi sekarang kami 5 bersaudara; ditambah dengan 4 ipar, jadilah kami 9 orang. Nanti bersepuluh kalau saya menikah. 😍
.
Saya dan saudara kandung, seperti lazimnya bersaudara tak selamanya mulus akur-akur. Ada masanya juga ribet riwil gesekan tidak sehaluan. Tapi tetep juga namanya saudara, akhirnya akur lagi 😍
.
Apalagi setelah kami mulai berjauhan, rasanya wes jarang benturan. Lha ketemu aja sesekali. Saya dan 1 saudara di Jogja. 1 lagi di Jakarta. 1 yang lain di Balikpapan. 1 lainnya di Tulungagung/Surabaya. Ketemu jarang mosok mau ribut 😂
.
Sungguh saya berterimakasih pada Bapak Ibu yang telah membesarkan dan mendidik kami sebaik-baiknya. Jatuh bangun perjuangan kami untuk bisa sekolah sampai sarjana, saat Bapak sudah berpulang 16 tahun yang lalu dan Ibu hanya IRT yang tidak bekerja; menjadikan kami bersaudara berasa satu sepenanggungan. Berpegangan tangan kuat saling membantu, demi semua bisa lulus sarjana. Karena kalau sarjana –sekurangnya kami bisa bekerja di ranah kerja formal dengan lebih baik, lebih terjamin secara ekonomi.
.
Dan waktu berlalu, mungkin di antara kami bersaudara sekarang –sayalah yang paling tidak kuat atau tidak jelas ekonominya 😁😆 Freelance writer memang tidak pernah pasti rezekinya. Kadang kecil, sering tidak ada, sering besar pula. Alhamdulillah 😃
.
Dan itu terasa waktu pemerintah merilis pengumuman pandemi Maret 2020 yang bikin saya sempat “menahan nafas” bersaat-saat. Lha piye, toko buku tutup, semua jadwal kerja saya direschedule tanpa batas waktu. Artinya, penghasilan saya berasa tutup tanpa batas waktu. 😭
.
Karena pandemi tidak mungkin 2 minggu, paling cepat 2 tahun. Bisa pulih total 5-7 tahun. Itu yang saya baca dari buku-buku sejarah. Dan betul sampai sekarang pun kita masih pandemi setelah hampir 3 tahun berjalan.
.
Saat itu saya wes berpikir, cukup enggak tabungan untuk hidup 2 tahun dengan anak-anak (asuh)? Cukup. Ya wes, saya tidak terlalu pikiran. Bekerja dengan penyesuaian pandemi, merampungkan yang bisa dibereskan dari rumah. Pendapatan? Yo tetap ada, lewat jalur- jalur yang justru tidak terpikirkan.
.
Bukan bus mudik lebaran.
Tapi saudara-saudara saya yang bekerja menetap gajian itu wes mengkhawatirkan saya. Karena mereka tahu, saya tidak akan berkeluhkesah. Mensyukuri saja yang ada dan berusaha sebisanya. Alhamdulillah, saya dan anak-anak (asuh) baik-baik saja. Saya tetap bekerja. Punya penghasilan. Tidak berhutang dan tidak menggunakan tabungan.
.
Semenjak pandemi, perhatian dan cinta saudara-saudara saya itu, terasa membesarkan hati. Banyak yang di luar dugaan. Adik saya tetiba berpesan mengirim token pulsa listrik dan membayari bpjs saya. Ipar saya tetiba mengirim uang tanpa saya minta, katanya untuk tambahan belanja. Adik dan ipar yang di Jogja bahkan mengirim beras dll sembako, khawatir kalau saya nggak makan —astaga 😂 Adik yang jauh di Balikpapan memesankan ini itu dikirim ke rumah, yang sempat mau saya tolak —karena nggak merasa pesan 🤣 Adik yang di Jakarta berulang datang, untuk memastikan bahwa saya baik-baik saja 😍
.
Saya pun sejak lama terbiasa mengirimkan ini itu kepada mereka. Pokok saya merasa dapat rezeki, ya saya berbagi juga dengan mereka. Mereka pun begitu ke saya. Tapi pandemi dengan situasi ekonomi tak terduga/tak menentu, semua terasa berbeda. Ternyata kami memang begitu sayang dan peduli satu sama lain ❤
.
Itu semua jadi terasa menghangatkan hati. Mengikatkan bahwa kami bersaudara, meski berjauhan tinggal 😀 Saya bersyukur punya saudara dan ipar-ipar yang baik-baik 😍 Alhamdulillah.❤
.
Jadi ya begitu cinta di antara kami semua. Jarang kami berbilang urusan sayang, tapi semua terbentuk tindakan riil untuk saling peduli dan saling menguatkan. Karena sungguh ikatan yang tidak terputus ruang waktu adalah ikatan darah.
.
Jadi baik-baiklah pada saudaramu. Mereka bisa jadi benteng paling tangguh dalam beragam situasi tak terduga. 😍😎
*Pict ini bukan bus untuk mudik lebaran 😅
Yang sedang bagi bagi THR, ojo lali kirim ke saya juga yes 😂😅 Kalau ndak tahu norek nya, japri aja… nanti saya kirimi… hehehe…😂😅
Happy Ramadhan, Happy Lebaran 😊
.
Please follow and like us: