Dasar-Dasar Penulisan

Gambar hanya sebagai ilustrasi. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Menulis itu tidak selalu gampang. Kalau pikiran kita ingin menulis dengan mudah, sekurangnya pakailah dasar-dasar penting dalam menulis:

  1. Lakukan saja: MENULIS. Hanya menulis sebebasnya. Kalau sudah ada outline, ikutilah outline itu semampunya.
  2. BACA; sebanyak dan sesering mungkin. Setiap penulis yang baik pasti dia juga seorang pembaca yang baik.
  3. Buat CATATAN setiap saat sehingga anda dapat menuliskan semua ide brilian anda. Bisa diterjemahkan dengan bentuk lain ya; potret, rekam, voice note, dll sesuai dengan karakter masing-masing.
  4. Pastikan anda punya KAMUS dan TESAURUS untuk menulis. Yach, ini cukup membantu dalam pemilihan kosakata yang baik.
  5. JELI dan CERMAT. Orang-orang dan kegiatan di sekitar anda merupakan inspirasi besar untuk karakter, plot, dan tema. Semua materi cerita ada di kehidupan ini.
  6. BERHENTI MENUNDA. Duduk dan mulailah menulis. Ketika ada keinginan menulis karena ide bagus, segeralah menulis.
  7. Bergabung dengan GRUP PENULIS untuk memperoleh dukungan dari komunitas menulis dan menikmati persaudaraan serta persahabatan. Komunitas kadang jadi support terbesar dalam karir penulisan kita.
  8. Menciptakan RUANG di rumah anda terutama untuk menulis. Kalaupun itu hanya meja kursi dan piranti menulis, siapkan khusus untuk membangun iklim atau suasana menulis.
  9. WAKTU khusus untuk menulis. Pilih pilih yang anda merasa paling produktif dalam menulis.
  10. Biarkan diri menulis buruk; karena menulis baik itu PROSES dari berulang kali menulis buruk. Tidak usah menargetkan hal berat, sesuatu yang baik itu memerlukan waktu dan proses.

Happy Writing, Be A Good Writer 🙂

*Jadi Penulis Fiksi? Gampang Kok!
*Jadi Penulis Skenario? Gampang Kok!
*Jadi Penulis Nonfiksi? Gampang Kok!
*Jadi Penulis Produktif? Gampang Kok!

Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us:

Tips Menulis dari Stephen King

Gambar hanya sebagai ilustrasi. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Stephen King: I have never felt like I was creating anything. For me, writing is like walking through a desert and all at once, poking up through the hardpan, I see the top of a chimney. I know there’s a house under there, and I’m pretty sure that I can dig it up if I want. That’s how I feel. It’s like the stories are already there. What they pay me for is the leap of faith that says: “If I sit down and do this, everything will come out OK.”

Terjemahan Bebas:
Saya tidak pernah merasa seperti menciptakan sesuatu. Bagi saya, menulis seperti berjalan melewati padang pasir dan sekaligus, menyembul melalui kondisi yang paling sulit, saya melihat bagian atas cerobong asap. Saya tahu ada rumah di bawah sana, dan saya yakin bisa menggalinya jika mau. Itulah yang saya rasakan. Perasaan ini seperti cerita tersebut sudah ada. Apa yang mereka bayar untuk saya seperti takdir yang mengatakan: “Jika saya duduk dan menuliskan ini, semuanya akan berhasil dengan baik.”

—Simpelnya, cerita-cerita yang dibuat oleh King, sebenarnya sudah ada di dunia ini dan tinggal menuliskannya.

Stephen King terkenal dengan kisah-kisah HOROR —jenis novel/film yang paling saya malas untuk ikuti, tapi kalau mau jadi penulis, ya harus baca dan nonton.

Karya-karya King antara lain The Body, Rita Hayworth and Shawshank Redemption, (difilmkan jadi Stand By Me dan The Shawshank Redemption), The Green Mile, Hearts in Atlantis, Salem’s Lot, Bag of Bones, Dolores Claiborne, The Stand, Under the Dome, It, The Shining, 11.22.63 —dan anda bisa menambahkan sendiri lainnya bila banyak yang saya tidak tahu. Bagi pencinta dan penggila kisah horor, sudah pasti King layak dibaca dan diikuti perjalanan penulisannya.

Tahukah Anda, King sebelum menjadi penulis kondang adalah seorang pekerja laundry (khusus menjadi tukang setrika). Bertahun-tahun naskahnya ditolak dan ditolak saja, tapi istrinya selalu memberi semangat.

Sampai akhirnya karya perdananya diterima dan jadilah kisah horor klasik CARRIE yang legendaris dan terjual 5 juta eksemplar serta jadi film sukses tahun 1976.

Apapun pekerjaan kita, MENULIS tetaplah PENTING. Menulis setidaknya akan bisa MENGUBAH HIDUP kita.

Jadi, apa anda masih mencari-cari alasan untuk tidak menulis?

Menulis bisa dilakukan siapa saja, asal ada niat dan tidak buta huruf.

Carilah semangat dari siapa saja atau apa saja, karena SEMANGAT itu seperti HARAPAN yang menyimpan KEKUATAN.


Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us:

Workshop Membuat Kalimat Efektif yang Bernyawa

Flyer Workshop Membuat Kalimat Efektif yang Bernyawa.

Kalimat efektif itu seperti apa?

Menurut saya:

  1. Pendek, tidak terlalu panjang.
  2. Mudah dimengerti.
  3. Jelas gagasannya.
  4. Jelas S-P-O-K nya.
  5. Jelas fokus pembicaraannya.
  6. Pengulangan kata tidak berlebihan.
  7. Jelas hubungan kata dengan kata lainnya.
  8. Jelas dan tepat penggunaan kata depan.
  9. Jelas dan benar secara logika dan penalaran.
  10. Jelas maksud dan tujuannya.

Lalu bagaimana cara membuat kalimat efektif yang “bernyawa”? Tentu saja dengan “menghidupkan” kosakata pilihan yang sesuai dengan keperluan.

Kamu mau tahu banyak tentang kalimat efektif yang bernyawa? Yuk ikut kelas penulisan ringan ini ya… Sabtu, 10 Februari 2024 jam 09.00 sd 11.00 wib. Chargenya ringan kok dan pasti ilmunya bermanfaat. Segera daftar dan bergabung ya…😀🙏

Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us:

Kompromi dengan Peluang Penulisan

Cover buku Tahajud Cinta. Pesan buku bisa ke gramedia.com atau amazon.com.

Saya memulai karir menulis dari cerita
anak, cerpen, cerbung di media, dan
mulai menulis novel secara mapan. Lalu bekerja menetap sebagai editor buku dan terakhir yang paling lama sebagai script
editor sinetron dan film.

Saya merasa jiwa penulisan saya ya di
materi fiksi, dan bersikukuh itulah yang
saya bisa. Namun dalam perjalanan industri penulisan, ada masa-masanya pasar fiksi begitu jenuh. Buku fiksi model apapun jeblok di pasaran, bahkan untuk mereka yang sudah punya nama besar.

Saat itu, salah satu penerbit menawarkan
saya, menulis nonfiksi. Apa itu nonfiksi….
Saya tidak tahu dan tidak berminat. Hei,
tapi begitu mendapatkan penjelasannya….
take it easy. Tidak ada salahnya mencoba,
toh ada editor yang bisa saya tanya apa dan
bagaimananya.

Saya pun tidak kepedean. Saat tawaran ini datang, saya sudah di Jakarta. Ada banyak penulis yang saya kenali. Saya pun “berguru” dengan serius untuk menulis buku nonfiksi selama berbulan bulan; mungkin setahunan. Sebelum akhirnya saya mencoba mengadu untung dengan menulis nonfiksi dan menyerahkan naskah saya ke penerbit.

Mana bisa saya prediksi kalau nonfiksi pertama saya “Tahajud Cinta” jadi istimewa dan laris manis…. dan setelah itu, saya lupa menghitung bagaimana buku-buku nonfiksi saya menjadi cukup banyak. Tenang saja, belum 1001 judul. Versi saya ya belum banyak 😃

Lalu, saya belajar dengan cepat. Bahwa dalam penulisan apapun, kadang kita harus berhitung dan kompromi dengan kesempatan dan peluang yang ada. Bisa jadi, siswa-siswa kelas yang ngotot betul “hanya mau menulis ini” sesuai bidangnya, padahal bidang itu jelas tidak dicari, perlu berpikir untuk kompromi dengan peluang.

Mungkin dengan menulis “pesanan” itu bisa jadi “batu loncatan” untuk menulis apa yang diinginkannya. Bagaimanapun, anda harus
tahu dan sadar: media, penerbit, PH, jauh lebih senang “menerima” tulisan dari penulis yang sudah eksis dibandingkan penulis yang belum dikenal, betapapun “sangat baiknya” tulisan anda.

Jadi, jangan alergi pada kesempatan. Ingat, berlian tidak ditemukan di permukaan 😃
Anda harus menggali sangat dalam untuk
bisa memperolehnya.


Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us:

Menulis dengan Hati

Gambar hanya sebagai ilustrasi. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Zaman dulu, saat saya mulai belajar menulis bukan zaman internet seperti sekarang. Nggak ada kelas-kelas penulisan. Nggak ada guru menulis, apalagi di kampung saya yang pelosok –nulisnya pun masih pakai mesin ketik. Suaranya cetak cetok mengganggu kalau malam sunyi.

Kalau kirim naskah ke media harus disertai perangko balasan biar dikembalikan dengan catatan koreksi. Tapi ya tentu saja saya tetap nggak mudeng, di sekolah nggak ada pelajaran menulis.

Saya buangi saja naskah kembalian di tempat sampah ruang belajar, begitu dikembalikan dari redaksi. Jadi saya nggak pikiran sudah nulis begitu banyak. Saya ngitungnya ya tetep satu naskah yang sedang saya kerjakan.

Tahunya pas saya sudah jadi penulis, sudah lama banget, ibunda saya ngasih tuh naskah-naskah yang ditolaki media…. 111 naskah. Bayang pun 🤣🙈 Betapa heroiknya saya menulis dengan membabibuta, tak tahu arah jalan dan cara yang benar.

Terus entah kapan begitu ibu saya menemukan lagi sekitar 10-an, jadi ya 121. Kalau sekarang mengingat lagi, saya bersyukur diberi “mudah lupa” tidak terlalu mengingat apa yang sudah lewat. Nulis terus, dengan satu fokus: dimuat di media 😃💪

Jadi asli, sebel banget kalau ada calon penulis yang baru 3x naskah ditolak sudah teriak menye-menye ke seluruh dunia, hidupnya paling apes…. lah, yang ngerasa apes kan dirinya sendiri 😂

Menulislah dengan sungguh sungguh, pakai hati. Lamban gakpapa yang penting progress.
Buruk gakpapa yang penting jujur dan
tulisan sendiri, bukan plagiat apalagi ketik ulang naskah orang yang sudah publish
dan mengakui sebagai milik sendiri.
Itu sungguh tidak patut!

Menulislah sendiri. Lamban dan buruk itu proses menulis dengan cepat dan baik.
Berlatihlah dan terus belajar hingga menulis
jadi gampang dan menyenangkan 😊😍🤗

Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us:

Webinar Proses Kreatif Menulis Novel

Flyer Webinar Proses Kreatif Menulis Novel.

Monggo Teman-teman yang free luang waktu bisa mengikuti kegiatan ini.

Heru Marwata (STB HM)’s Zoom Meeting Diskusi Sastra Bulanan TISI (2): PROSES KREATIF MENULIS NOVEL, CERPEN, DAN PUISI: Menguak Problema

Sabtu, 17 Februari 2024, pukul 19.30–22.00 WIB

Pemantik:

  1. Ari Kinoysan Wulandari (Novelis)
  2. Fanny Jonathans Poyk (Cerpenis)
  3. Kurnia Effendi (Penyair)

Moderator: Si Tahu Bulat Heru Marwata

Host: Viefa (Nur Khofifah)

Take meeting notes
Start a new document to capture notes
https://ugm-id.zoom.us/j/95401539904?pwd=UVlHRkR1NktFdjhFWHlWY1k2ak1WZz09

Heru Marwata
Organizer
Set your working location
Heru Marwata (STB HM) is inviting you to a scheduled Zoom meeting.

Join Zoom Meeting
https://ugm-id.zoom.us/j/95401539904?pwd=UVlHRkR1NktFdjhFWHlWY1k2ak1WZz09

Meeting ID: 954 0153 9904
Passcode: 616596


One tap mobile
+15074734847,,95401539904#,,,,616596# US +15642172000,,95401539904#,,,,616596# US


Dial by your location
• +1 507 473 4847 US
• +1 564 217 2000 US
• +1 646 931 3860 US
• +1 669 444 9171 US
• +1 669 900 6833 US (San Jose)
• +1 689 278 1000 US
• +1 719 359 4580 US
• +1 929 436 2866 US (New York)
• +1 253 205 0468 US
• +1 253 215 8782 US (Tacoma)
• +1 301 715 8592 US (Washington DC)
• +1 305 224 1968 US
• +1 309 205 3325 US
• +1 312 626 6799 US (Chicago)
• +1 346 248 7799 US (Houston)
• +1 360 209 5623 US
• +1 386 347 5053 US

Meeting ID: 954 0153 9904
Passcode: 616596

Find your local number: https://ugm-id.zoom.us/u/aiCYuRMeW

10 minutes before

Heru Marwata (Si Tahu Bulat)

Please follow and like us:

Dunia Penulis dalam Series Moonlight

Gambar hanya sebagai ilustrasi. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Saya termasuk telat nonton series ini. Moonlight (2021) yang berkisah dengan apik dunia penerbitan sekompleknya. Artinya ya ada penerbit, editor, penulis, ilustrator, marketing, toko buku, award, dll. Series ini berdurasi 45 menit per episode sebanyak 36 episode; produksi Tiongkok, airing tahun 2021; dengan grade point 8.4 dalam skor 1 s/d 10. Artinya ya baik sekali. Layak ditonton.

Secara garis besar, Moonlight ini berkisah tentang Chu Li. Salah satu impiannya adalah bergabung dengan penerbit terkenal. Lulus kuliah, Chu Li berjuang keras hingga diterima di Yuan Yue Publishing House.

Setelah itu, Chu Li selalu berusaha menjadi karyawan yang terbaik. Karirnya melesat sebagai editor eksklusif untuk penulis-penulis terkenal. Chu Li ini memiliki nama samaran, yaitu Monkey yang ia gunakan di situs pertemanan online.

Di situs tersebut, Chu Li memiliki teman virtual dekat yang dikenal dengan inisial L Jun atau nama sebenarnya, Zhou Chuan (Ding Yu Xi). Keduanya hanya tahu satu sama lain dengan nama samaran.

Di dunia nyata, Zhou ternyata seorang penulis yang dikenal sopan, lemah lembut, dan tampan. Suatu hari, Zhou dan Chu Li bertemu. Namun, pertemuan ini sangat berbeda dari citra Zhou yang dikenal oleh masyarakat. Mereka terlibat konflik karena proyek penulisan yang melibatkan Chu Li sebagai editor. Pertikaian di antara Chu Li dan Zhou berlangsung cukup lama tanpa titik temu. Meski begitu, keduanya mulai mencari tahu lebih banyak tentang satu sama lain sehingga Zhou mulai menduga bahwa Chu Li adalah teman online bernama Monkey.

Sementara itu, Chu Li merasa mustahil bahwa Zhou, sang penulis terkenal adalah teman online dengan inisial L Jun. Pasalnya, Zhou di matanya adalah sosok penulis yang sangat mengganggu dan sering membuatnya kesal.

Dibintangi wajah wajah muda rupawan, berikut ini daftar pemain sekaligus penokohan series Moonlight yang mungkin perlu kita ketahui.

1. Yu Shu Xin (Chu Li/”Monkey”)

Yu Shu Xin berperan sebagai Chu Li, gadis biasa yang ingin mengejar impiannya sebagai editor di Yuan Yue Publishing House, penerbit dari banyak novelis ternama.

2. Ding Yu Xi (Zhou Chuan/L Jun/”Mr. Fox”)

Ding Yu Xi memerankan tokoh Zhou Chuan novelis muda yang sangat berbakat dan punya nama samaran L Jun dan Mr. Fox. Punya sifat yang agak arogan, dia cukup dibenci oleh Chu Li sejak pertemuan pertama.

3. Yang Shi Ze (Jiang Yu Cheng)

Jiang Yu Chen adalah sahabat Zhou Chuan yang sama-sama berkarir sebagai penulis novel. Karena berkali-kali gagal, dia memilih untuk berhenti sampai bertemu Chu Li.

4. Wang Ting (Yu Yao)

Tokoh Yu Yao merupakan atasan Chu Li yang sikapnya sangat tegas dan memiliki etos kerja yang sangat baik.

5. Ma Yin Yin (Gu Bai Zhi)

Gu Bai Zhi bekerja sebagai chief editor di perusahaan pesaing, yaitu di penerbitan Xin Dun. Perempuan ini memang memiliki kepribadian yang dingin, ambisius, pekerja keras, tapi tetap memahami etika kerja.

6. Hua Tong (Ah Xiang)

Tokoh Ah Xiang berprofesi sebagai desainer di Yuan Yue Publishing House. Punya usia yang seumuran, dia bisa mudah akrab dengan Chu Li.

7. Zhu Yong Teng (Liang Chong Lang)

Liang Chong Lang adalah pimpinan di bagian distribusi, pria ini dikenal sangat tegas dan perhitungan.

8. Zhou Pu (Miao Jian Ping)

Miao Jian Ping adalah wakil kepala editor, pria inilah yang menjadi atasan langsung dari Chu Li. Berbeda dengan Yu Yao, Miao Jian Ping selalu saja meremehkan Chu Li terutama dalam prestasinya.

9. Xiong Yu Ting (Song Xi/Li Xue Mei)

Song Xi dikenal sebagai seleb terkenal, tapi ternyata punya sifat arogan dan pemarah.

10. He Yun Qing (Zhou Gu Xuan/Ayah Zhou Chuan)

Zhou Gu Xuan merupakan ayah kandung Zhou Chuan. Dia berprofesi sebagai novelis dengan segudang penghargaan. Namun, ternyata dia punya hubungan yang kurang baik dengan sang putra.

Lagu-lagu dalam Moonlight atau OST nya pun enak didengarkan.

1. Chu Li is Here – Yu Shu Xin

2. Heartless Poem – Ding Yu Xi

3. Extreme Day – Ma Shi Hui

4. NiuNiu – Shuang Sheng

5. Yun Hai – Zhang Yuan

6. Paper Airplane – Jin Wen Qi

Nah, itulah sederet hal menarik series Moonlight yang layak untuk diikuti.

Bagi saya pribadi, cerita ini berasa melihat perjalanan hidup sebagai penulis. Bagaimana naskah di tengah tumpukan itu kadang memerlukan insting dan kejelian seorang editor untuk “naik” sekedar dibahas oleh tim redaksi.

Bahwa penulis yang sudah mati suri pun —tidak menulis bertahun-tahun karena penjualan buku yang buruk, kalau bertemu editor yang handal dan bisa memanusiakan penulis, dia akan kembali berjaya. Penulis penulis yang memerlukan tangan dingin editor untuk bisa menghasilkan versi terbaiknya.

Beragam kejahatan dunia perbukuan pun di sini diulas dengan blakblakan; plagiat, keributan antar penulis, booksigning, rebutan kapling atau spot muat, gegeran antar petinggi penerbit, keributan cetak dan distribusi; dll. Siapa yang jadi penjilat, siapa yang nggak kerja, siapa yang sok berkuasa, penulis yang bawel, artis yang mengganggu, dll semua ada. Bagi mereka yang berada di industri kreatif kayaknya sayang kalau melewatkan series ini.

Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us: