Cinta di Antara Kami

Saya dan dua saudara kandung. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Saya 7 bersaudara, 4 laki-laki 3 perempuan.
2 saudara laki-laki saya telah berpulang. Jadi sekarang kami 5 bersaudara; ditambah dengan 4 ipar, jadilah kami 9 orang. Nanti bersepuluh kalau saya menikah. 😍

Saya dan saudara kandung, seperti lazimnya bersaudara tak selamanya mulus akur-akur. Ada masanya juga ribet riwil gesekan tidak sehaluan. Tapi tetep juga namanya saudara, akhirnya akur lagi 😍

Apalagi setelah kami mulai berjauhan, rasanya wes jarang benturan. Lha ketemu aja sesekali. Saya dan 1 saudara di Jogja. 1 lagi di Jakarta. 1 yang lain di Balikpapan. 1 lainnya di Tulungagung/Surabaya. Ketemu jarang mosok mau ribut 😂

Sungguh saya berterimakasih pada Bapak Ibu yang telah membesarkan dan mendidik kami sebaik-baiknya. Jatuh bangun perjuangan kami untuk bisa sekolah sampai sarjana, saat Bapak sudah berpulang 16 tahun yang lalu dan Ibu hanya IRT yang tidak bekerja; menjadikan kami bersaudara berasa satu sepenanggungan. Berpegangan tangan kuat saling membantu, demi semua bisa lulus sarjana. Karena kalau sarjana –sekurangnya kami bisa bekerja di ranah kerja formal dengan lebih baik, lebih terjamin secara ekonomi.

Dan waktu berlalu, mungkin di antara kami bersaudara sekarang –sayalah yang paling tidak kuat atau tidak jelas ekonominya 😁😆 Freelance writer memang tidak pernah pasti rezekinya. Kadang kecil, sering tidak ada, sering besar pula. Alhamdulillah 😃

Dan itu terasa waktu pemerintah merilis pengumuman pandemi Maret 2020 lalu yang bikin saya sempat “menahan nafas” bersaat-saat. Lha piye, toko buku tutup, semua jadwal kerja saya direschedule tanpa batas waktu. Artinya, penghasilan saya berasa tutup tanpa batas waktu. 😭

Karena pandemi tidak mungkin 2 minggu, paling cepat 2 tahun. Bisa pulih total 5-7 tahun. Itu yang saya baca dari buku-buku sejarah. Dan betul kita baru beranjak pemulihan pasca pandemi tahun ke-4. Tahun 2023 sudah boleh aktivitas normal. 2024 mulai berbenah dengan pekerjaan-pekerjaan yang mulai normal kembali.

Saat itu Maret 2020 saya wes berpikir, cukup enggak tabungan untuk hidup 2 tahun dengan anak-anak (asuh)? Saya berhitung dan berdoa: cukup. Ya wes, saya tidak terlalu pikiran. Bekerja dengan penyesuaian pandemi, merampungkan yang bisa dibereskan dari rumah. Pendapatan? Yo tetap ada, lewat jalur- jalur yang justru tidak terpikirkan.

Tapi saudara-saudara saya yang bekerja menetap gajian itu wes mengkhawatirkan saya. Karena mereka tahu, saya tidak akan berkeluhkesah. Mensyukuri saja yang ada dan berusaha sebisanya. Alhamdulillah, saya dan anak-anak (asuh) baik-baik saja. Saya tetap bekerja. Punya penghasilan. Tidak berhutang dan tidak menggunakan tabungan.

Semenjak pandemi, perhatian dan cinta saudara-saudara saya itu, terasa membesarkan hati. Banyak yang di luar dugaan. Adik saya tetiba berpesan mengirim token pulsa listrik dan membayari bpjs saya. Ipar saya tetiba mengirim uang tanpa saya minta, katanya untuk tambahan belanja.

Adik dan ipar yang di Jogja bahkan mengirim beras dll sembako, khawatir kalau saya nggak makan —astaga 😂 Adik yang jauh di Balikpapan memesankan ini itu dikirim ke rumah, yang sempat mau saya tolak —karena nggak merasa pesan 🤣 Adik yang di Jakarta berulang datang, untuk memastikan bahwa saya baik-baik saja 😍

Saya pun sejak lama terbiasa mengirimkan ini itu kepada mereka. Pokok saya merasa dapat rezeki, ya saya berbagi juga dengan mereka. Mereka pun begitu ke saya. Tapi pandemi dengan situasi ekonomi tak terduga/tak menentu, semua terasa berbeda. Ternyata kami memang begitu sayang dan peduli satu sama lain ❤

Itu semua jadi terasa menghangatkan hati. Mengikatkan bahwa kami bersaudara, meski berjauhan tinggal 😀 Saya bersyukur punya saudara dan ipar-ipar yang baik-baik 😍 Alhamdulillah.❤

Jadi ya begitu cinta di antara kami semua. Jarang kami berbilang urusan sayang, tapi semua terbentuk tindakan riil untuk saling peduli dan saling menguatkan. Karena sungguh ikatan yang tidak terputus ruang waktu adalah ikatan darah.

Jadi baik-baiklah pada saudaramu. Mereka bisa jadi benteng paling tangguh dalam beragam situasi tak terduga. 😍😎

Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us:

Menulis Sebagai Profesi untuk Hidup

Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

“Apakah Kita Bisa Hidup dari Menulis?”

“Kalau menulis sebagai profesi untuk hidup, patokannya apa?”

“Berapa banyak uang yang bisa dihasilkan dari menulis dalam sebulan?”

Pertanyaan-pertanyaan itu kelihatannya mudah dijawab, tapi saya perlu waktu untuk menjawabnya. Banyak orang yang masih saja bertanya bagaimana saya survive dengan menulis, dan seringnya mereka melihat saya dolan-dolan. Yes, gaweyan saya memang dolan dan hobi menulis😍

Sejujurnya saya tidak tahu. Apakah menulis bisa dikategorikan untuk hidup atau tidak, karena standar hidup tiap orang berbeda. Saya memiliki prinsip, kalau kita sungguh-sungguh mengerjakan sesuatu, pasti ada hasil baiknya.

Tuhan memberi saya “skill” menulis, jadilah saya menulis dalam berbagai tema, mengajar tentang penulisan; dan sejauh ini, alhamdulillah baik-baik saja. Saya sekolah S2 dan S3 di UGM tidak dengan beasiswa, uangnya ya dari menulis. Saya sudah mandiri membiayai kuliah S1 dengan menulis sejak usaha ayah bangkrut. Tidak ada alasan saya tidak mandiri setelah lebih dewasa.

Ingat saja, penghasilan menulis itu serba tidak menentu. Bisa banyak sekali, banyak, sedikit, sedikit sekali atau bahkan zonk. Berhentilah bertanya berapa penghasilan saya setiap bulan. Karena ya itu tadi, bisa banyak sekali, atau sama sekali berbulan-bulan tidak ada penghasilan.

Tinggal pinter-pinter mengatur agar duit yang diterima satu kali bisa untuk satu tahun, misalnya. Atau bagaimana mengatur duit-duit “receh” agar tetap bisa survive.

Tidak mudah, apalagi kalau gaya hidup tidak terkontrol. Karena sudah terbiasa dengan ketidakpastian itu, saya menentukan sendiri standar hidup saya. Saya hidup sederhana, tidak foya-foya konsumtif impulsif; tapi saya menikmati dan mensyukuri setiap berkah hidup saya😍

Dengan begitu, saya bisa tetap kalem lempeng saja baik sedang ada duit besar atau tidak. Semua bisa diatur. Semua bisa dikendalikan kalau seluruh uang yang ada itu milik saya. Maksudnya saya tidak terlibat utang dengan pihak lain yang memberatkan atau di luar batas kemampuan.

Saya merasa beruntung karena tidak punya utang pada pihak lain. Itu berkah lho… karena banyak orang yang hidupnya glamour, tapi tiap bulan ribet dikejarkejar penagih utang😎

Bagaimana caranya biar nggak punya utang? Selain hidup sederhana, ya kalau belum mampu untuk beli sesuatu yang besar, nggak usah memaksakan diri. Apalagi hanya demi gengsi gegara teman sebelah rumahnya baru atau mobilnya baru.

Jadi, bagaimana saya harus menjawab pertanyaan tadi? Simpulkan sendiri ya. Saran saya jangan asal banting setir mau jadi penulis demi ego.

Bekerjalah baik-baik, investasi ilmu penulisan terbaik, cari mentor terbaik, alokasikan waktu untuk menulis. Kalau sudah eksis karya dan duitnya dari menulis, anda baru boleh resign dari kantor.

Dan, kalau mau belajar nulis dengan saya juga boleh lho; bisa ikut beragam jenis kelas yang sesuai. Beli buku-buku saya yo boleh. Ada 140 judul kan lumayan… hehe…


Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us:

Tong Kosong Nyaring Bunyinya

Gambar hanya sebagai ilustrasi. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Ini cerita lama. Tapi kalau ingat lagi, saya kok ya geli gimana gitu. Orang sekolahan ternyata belum tentu terdidik dengan baik.

Beliau selalu mengaku kepada saya
dan (mungkin) kepada orang lain,
soal pendidikannya yang dapat dua
doktor sekaligus dan kehidupannya yang termasuk makmur.

Kadang-kadang beliau “mencela” saya
yang dianggap menulis sekedarnya;
“mencela” saya pula karena peduli duit
recehan tak seberapa dari kelas-kelas
Griya Kinoysan University yang saya dirikan dan saya kelola. Kadang-kadang pula “mencela” cara dagang buku saya yang dianggapnya tidak elit.🙏

Sebagai kepatutan karena beliau penulis senior profesional yang ngakunya dibayar puluhan juta dan jadi pembicara di mana-mana itu —saya hanya mengiyakan kehebatannya, dan tidak protes dengan celaannya. Saya tahu, nilai prioritas dari segala sesuatu yang saya kerjakan.

Saya tidak harus mendebatnya. Saya tahu apa yang dicelanya itu tidak benar. Saya yang menghitung dengan pasti berapa uang yang dihasilkan dari pekerjaan yang
dianggapnya remeh temeh.

Beliau mungkin lupa, saya ini penulis yang dididik dan dibesarkan di lingkungan universitas terbaik, lama menulis di media, lama bekerja di penerbitan solid, lama menetap di PH yang sangat industrialis kapitalis; lha kok cuma diomongbesari soal bayaran penulis dan gelar pendidikan.

Ealaaah, lha kok jebulane ujung-ujungnya cuma mau ngutaaang 🤣🙈

*Pingin saya teriakin, Situ Waras 🤔🤣

Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us:

Personal Branding

Weekend telah tiba. Menikmati waktu lebih rileks. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Sebenarnya setiap diri kita itu ada “brand” nya di mata orang lain. Entah baik atau buruk, itu kita tidak bisa mendikte pemikiran orang lain. Versi saya, kalau ingin diidentifikasi sebagai pribadi yang baik, ya kita harus jadi orang baik sesuai standar dan aturan yang berlaku secara umum di tempat kita masing-masing.

Mari kita ingat produk-produk berikut ini. Biasanya kita selalu “salah” menyebutkan identitas mereka 😀

  1. Semua pasta gigi: Odol
  2. Semua kendaraan bermotor: Honda
  3. Semua mie instant: Indomie
  4. Semua pompa air: Sanyo
  5. Semua air mineral kemasan: Aqua
  6. Semua ikan kalengan: Sarden
  7. Semua susu kemasan: Indomilk
  8. Semua pembalut wanita: Softex

Dst.

Ada lagi 🤔 Pasti masih ada banyak ya brand-brand yang digunakan sebagai penyebutan “produk” seperti Aqua Le Mineral… Odol Pepsodent, dll. Tapi apapun itu, sebenarnya ini adalah keberhasilan brand mengangkat dirinya sebagai pelopor produk yang tidak tergantikan, meski pesaingnya terus bermunculan; toh mereka tetap eksis.

Kita pun setipe. Kalau kita bisa membranding diri sebagai orang yang baik, insyaallah hidup kita juga akan lempeng saja. Jadi terkenal (mungkin) penting, tapi dikenali dan diidentifikasi sebagai orang baik, versi saya jauh lebih penting. “Identifikasi baik” adalah modal yang tidak bisa dialihpindahkan ataupun dicuri oleh orang lain.😊🙏

Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us:

Bikin Karakter dalam Novel

Pesan buku cetak dan bertandatangan bisa wa.me/6281380001149.

“Kenapa membuat karakter sulit?”

“Tidak sulit. Hanya belum terbiasa. Kalau mau mudah, ambil karakter-karakter yang ada di sekitar kita. Atau ikuti caranya Alfred Hitchcock berikut ini.”

  1. Ambil setumpuk kartu berukuran 10 x 10 cm (bisa berapa saja sesuai kesenangan).
  2. Tulis masing-masing nama karakter anda di bagian atasnya.
  3. Pikirkan peranan apa yang akan dimainkan mereka dalam cerita anda.
  4. Tipe orang seperti apa mereka: usia, pendidikan, tempat kelahiran, keras kepala, lucu, gemuk, jelek, ganteng, cantik, dll.
  5. Apa kebiasaan unik mereka? Apakah mereka biasa mencuci tangannya setiap ketemu orang? Apa mereka suka melihat sesuatu yang aneh? Apa mereka baik hati terhadap anak-anak, tapi senang menyiksa binatang?
  6. Tuliskan semuanya. Tuliskan sebanyak-banyaknya sampai anda mulai mengenal masing-masing karakter tersebut secara mendalam.

Nah, selesai sudah dalam membuat karakter 🙂

Beberapa dari karakter tersebut akan menjadi tokoh utama, ceritanya akan berkisar di sekitar mereka.

Karakter lainnya akan memainkan sedikit peran, tapi sangat penting. Setiap pemain harus memiliki alasan mengapa mereka hadir dalam cerita tersebut. Jika tidak mempunyai alasan mengapa harus hadir dalam novel anda, mereka akan memperlambat cerita anda.

Hal-hal yang sifatnya lambat akan membuat pembaca bosan.

Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us:

Disiplin untuk Penulis

Buku bisa diakses di amazon.com.

Bukan hal yang mudah untuk disiplin, terlebih di kalangan penulis yang mencintai kebebasan. Namun kita semua tahu, tidak ada satu karya pun yang bisa dihasilkan dari menulis tanpa disiplin yang baik.

Berikut ini hal-hal yang berkaitan dengan disiplin yang dapat kita jadikan acuan untuk “mendisiplinkan” diri sendiri. Terutama bila anda ingin menyelesaikan tulisan-tulisan berat dan berbobot.

  1. Mendisiplinkan orang lain jauh lebih mudah daripada mendisiplinkan diri sendiri. Apalagi untuk menulis.

10-30 menit sebenarnya bukan waktu yang lama untuk menulis setiap hari. Namun toh untuk disiplin itu, sulitnya tidak terbantahkan.

  1. Sementara kita sudah membuat kerangka kerja, kalau kita tidak mau disiplin ya tetap saja naskah tidak jadi.

Disiplin diri ini tidak hanya ketika mulai untuk menulis. Namun dalam proses menulis pun tidak sedikit gangguan disiplin muncul.

Saya pun sering tidak disiplin, telat ini salah itu, tidak tepat ini itu. Toh tidak disiplin yang manusiawi tentu masih bisa ditolerir.

Dan setiap kali saya menyadari, itulah kemanusiaan kita. Disiplin harus dibangun dari diri kita sendiri.

  1. Berapa banyak penulis yang sudah memiliki kerangka kerja yang rapi dan sudah disepakati dengan klien, lalu ketika dalam proses penulisan menjadi mangkir dari draft. Itu terjadi karena dalam menulis, dia memikirkan lagi ini kalau begini mestinya begitu dan seterusnya. Lalu lupa pada kerangka kerja yang disepakati.
  2. Disiplin juga berkaitan dengan masalah revisi. Beuuuh, revisi naskah itu lebih melelahkan dan lebih memusingkan daripada bikin naskahnya.

Kalau anda sudah masuk industry penulisan, revisi adalah hal yang sebisa mungkin dihindari. Toh, tak ada karya yang “sempurna” tanpa revisi.

  1. Sekali anda tidak disiplin dalam revisi atau bahkan tidak merevisi, ya tidak apa-apa.

Naskah anda —kalau buku, mungkin tidak akan diterbitkan atau dipublikasi. Kalau scenario, mungkin direvisi orang lain dan anda tidak akan dipakai lagi. Sesimpel itu kalau di industry.

  1. Disiplin juga berkaitan dengan deadline. Selamanya dalam industry pasti ada yang namanya deadline. Kalau deadline 4 Oktober, sebenarnya itu pasti masih ada 7 Oktober. Namun jadi penulis lebih baik memiliki deadline pribadi. Kalau diminta 4 Oktober, ya deadline lah 1 Oktober.

Anda bisa istirahat satu hari, lalu tanggal 3 Oktober memeriksa salah ketik dan lain lain administrative, baru menyetorkan ke pihak yang berkaitan. Aman dan tenang.

  1. Disiplin juga perlu untuk masalah honor dan uang. Karena sudah terbiasa kerja tidak menentu dengan orang-orang yang sering kali baru juga; saya tidak terbiasa meminta uang muka.

Oke, begitu hitung hitungan disepakati dan naskah selesai, maka saya akan memberitahu klien untuk mengirim uang seluruhnya dan atau sesuai kesepakatan.

Baru naskah akan saya kirim dan proses revisi kami selesaikan. Jadi, tidak ada alasan kita tidak dibayar klien.

Kalau mereka tidak bayar, ya tidak apa-apa. Saya tidak mati karena orang yang mangkir janji.

Naskah bisa disetor untuk model kerja lainnya. Uang royalty yang sering tak seberapa, tetap harus dikelola dengan disiplin.

Karena kalau anda tidak peduli dengan yang sedikit, bagaimana anda bersyukur dan Tuhan akan kasih yang besar?

  1. Sejatinya penulis memang harus disiplin dalam banyak hal. Termasuk urusan kesehatan. Ketidakadaan jaminan dan kepastian semestinya membuat masing masing sadar, bahwa mengatur hidup sebaik baiknya adalah tugas yang tidak bisa dianggap ringan.

Namun kalau terbiasa ya mudah saja, lempeng saja. Tidak ada yang sulit kalau kita melakukan dengan kesadaran pribadi.

  1. Tanpa disiplin, ada peluang seperti apapun bagusnya anda tidak akan bisa memanfaatkan.

Karena peluang di industry penulisan selalu berkaitan dengan naskah yang jadi. Lah, kalau anda tak punya naskah jadi karena tidak disiplin, apa yang mau ditawarkan?

  1. Bukan ranah dan wewenang saya pula untuk mendisiplinkan anda. Karena sudah dewasa dan memiliki kesibukan yang berbeda.

Hanya perlu konsisten saja menulis itu. 10-30 menit setiap hari. Lalu naskah selesai.

  1. Tak usah ngotot seperti yang banyak dituntut mentor penulisan sehari harus menulis sekian halaman. Bahkan menulis ebook dua hari jadi, lhah itu menulis apa? Copas dari mana saja?

Nulis cerpen saja (6-10 hlm), dua hari belum tentu jadi. Terus disuruh pernyataan segala hari ini tanggal itu mo jadi penulis, lha yang begitu itu yo nggo opo kalau versi saya. Untuk apa itu?

Menulis bukan sesuatu yang harus dideklarasikan ke khalayak.

  1. Baru kalau anda sudah punya karya itu harus dideklarasikan ke mana-mana, agar mereka beli dan kantong anda gendut dengan royalty.

Bukan proses menulisnya. Bukannya apa-apa, bisa bisa justru ide ide anda yang dishare di public itu dicuri orang. Anda belum selesai tulis, yang setipe sudah beredar luas di pasaran.

Disiplinlah. Karena itu yang bisa menyelamatkan eksistensi sebagai penulis yang baik dan professional.

Pesan buku-buku Kinoysan bisa wa.me/6281380001149.

Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us:

Tips Menulis dari Salah Satu Guru Saya

Pesan buku cetak dan bertandatangan bisa wa.me/6281380001149.

Sebenarnya, setiap guru selalu memiliki keunikan. Beragam guru yang saya ikuti, selalu saja berbeda caranya satu sama lain dalam menulis. Namun pada intinya, mereka menginginkan hal yang sama: TULISAN BAGUS dan DISUKAI sehingga memiliki NILAI JUAL TINGGI. Berikut ini beberapa tips yang mungkin juga cocok untuk kita.

Miliki buku catatan.
Bukan sekedar “Buku Catatan”, tapi pastikan yang berkualitas sesuai dengan kesenangan anda. Milikilah beberapa buku catatan yang secara khusus hanya membahas satu hal.

Misalnya ada buku catatan khusus tentang IDE, anda bisa mencatat semua ide tersebut di buku A, misalnya. Ketika anda menggarap satu cerita, catatlah semua hal tersebut di buku B, misalnya; dan seterusnya. Bila anda memiliki banyak proyek penulisan, sediakan sejumlah buku yang berbeda.

Pilih topik dan mulailah menulis.
Topik bukan sekedar ide. Anda harus melengkapinya dengan sekitar konflik, plot, setting, dll. Tidak harus kompleks dan rumit. Topik sederhana pun bisa jadi bagus, asal penggarapan luar biasa.

Buatlah garis besar, sinopsis global, kerangka karangan.
Untuk mendapatkan hasil yang baik, anda harus menyempurnakan topik dengan mengisi karakter utama, lokasi, waktu, suasana hati, dll.

Mulai menulis draft pertama.
Ini biasa disebut tulisan “ceroboh” atau asal jadi, asal selesai. Biarkan saja. Tidak pernah ada cerita, tulisan yang besar dan menginspirasi, mega bestseller, ditonton jutaan manusia yang dibuat dan diselesaikan hanya dalam draft pertama. Jadi, santai saja. Selesaikan cepat tulisan anda. Seceroboh apapun, tidak jadi masalah.

Jangan takut dengan ide baru.
Ketika sedang menulis draft pertama, mungkin saja tiba-tiba anda memiliki ide cemerlang tentang bagaimana ending cerita tersebut.

Berhentilah sejenak menulis draft awal anda, dan tuliskan ide ending tersebut di buku ide. Jangan biarkan ide sia-sia.

Biarkan cerita membimbing anda. Ini draft pertama. Segala sesuatu bisa saja tidak terduga, tetapi menjadi sangat menarik. Biarkan saja. Tulislah sampai selesai.

Selesaikan draft pertama sesegera mungkin.
Ini sangat penting agar anda tidak kehilangan “mood” untuk menyelesaikannya. Naskah yang terlalu lama, sering membuat kita malas untuk kembali menyentuhnya.

Rincian cerita.
Setelah selesai draft pertama, anda bisa membaca dan merinci semua cerita. Anda yang akan membuat karakter lebih nyata dan terpercaya. Tulislah sampai akhir.

Pada saat anda selesai dengan draft kedua, anda akan memiliki semua informasi tentang cerita, karakter, plot utama, dan subplot.

Bacalah dengan objektif.
Ada banyak penulis yang TAKUT membaca karyanya. Padahal, ini sangat membantu untuk MENYEMPURNAKAN tulisan.

Kalau tidak bisa objektif, carilah orang terpercaya yang pendapatnya anda hormati dan anda terima dengan senang hati.

Menulis draft akhir.
Menurut sebagian guru saya, sebaiknya naskah sebelum diserahkan kepada pihak lain (media, penerbit, PH, klien, dll) seharusnya lebih kurang sudah disempurnakan tiga kali dalam penulisannya; draft 1 asal selesai, draft 2 untuk merinci dan membenarkan kesalahan cerita, draft 3 untuk penyempurnaan terbaik.

Baru setelah draft 3 itulah naskah boleh diserahkan kepada pihak lain untuk kepentingan komersial. Jangan pernah sekali-kali menyerahkan draft 1 anda kepada pihak lain untuk kepentingan komersial, pasti banyak DITOLAK karena banyaknya lubang (kekurangan) dalam naskah.

Selamat menulis. Semakin banyak anda menulis semakin banyak anda berlatih, keterampilan menulis anda akan semakin baik.

Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us: